Home > Islamic Economy, Islamic Management, Uncategorized > Strategi Bisnis : Strategi Pemasaran

Strategi Bisnis : Strategi Pemasaran


By: M. Suyanto

Strategi pemasaran meliputi segmentasi pasar dan pembidikan pasar, strategi produk, strategi harga, strategi tempat dan strategi promosi. Pasar yang menonjol pada masa Nabi Muhammad s.a.w. adalah pasar konsumen. Untuk pemasaran produk konsumen, variabel segmentasi utama adalah segmentasi geografis, segmentasi demografis, segmentasi psikografi, segmentasi perilaku dan segmentasi manfaat.

1. Segmentasi Pasar dan Pembidikan Pasar.

Segmentasi geografi merupakan pembagian pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda, misalnya wilayah, negara, propinsi, kota, kepulauan dan berdasarkan musim. Surat Quraisy ayat 1-2: Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (yaitu) kebiasaan mereka bepergian (berdagang) pada musim dingin dan musim panas. Pada musim panas biasanya mereka berdagangan sampai Busra (Syiria), sedangkan pada musim dingin mereka berdagang sampai Yaman. Demikian pula yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w., terutama sebelum pada masa kenabian. Pasar yang terkenal pada masa jahiliyah yang terletak di utara Kota Mekah antara meliputi Busra, Dumatul Jandal, dan Nazat. Pasar yang terletak di selatan kota Mekah mencakup Mina, Majinna, Ukaz, Sana’a, Aden, Shihr, Rabiyah, Sohar dan Daba. Sedangkan pasar yang di timur kota Mekah terdiri dari Musyaqqar, Sofa dan Hijar.

Reruntuhan Kota Busra

Segmentasi demografi yang dilakukan Muhammad adalah pasar dikelompokkan berdasarkan keluarga, kewarganegaraan dan kelas sosial. Untuk keluarga, Muhammad menyediakan produk peralatan rumah tangga. Sedangkan produk yang dijual Nabi Muhammad s.a.w. untuk warga negara asing di Busra terdiri dari kismis, parfum, kurma kering, barang tenunan, batangan perak dan ramuan.
Segmentasi psikografi yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. mengelompokkan pasar dalam variabel gaya hidup, nilai dan kepribadian. Gaya hidup ditunjukkan oleh orang-orang menonjol dari pada kelas sosial. Minat terhadap suatu produk dipengaruhi oleh gaya hidup, maka barang yang dibeli oleh orang-orang tersebut untuk menunjukkan gaya hidupnya. Nabi mengetahui kebiasaan orang Bahrain, cara hidup penduduk Bahrain, cara mereka minum dan cara mereka makan.
Segmentasi perilaku yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. membagi kelompok berdasarkan status pemakai, kejadian, tingkat penggunaan, status kesetiaan, tahap kesiapan pembeli, sikap. Pasar dapat dikelompokkan menjadi bukan pemakai, bekas pemakai, pemakai potensial, pemakai pertama kali dan pemakai tetap dari suatu produk. Hashim bin `Abdul Manaf memulai karir bisnisnya dengan memperoleh ijin resmi untuk menjual barang-barang dari kulit di Bizantium di wilayah Syiria. Demikian pula `Amr bin al-`As dan pebisnis Hijaz menjual barang-barang dari kulit di Mesir dan Abissinia.
Segmentasi manfaat mengklasifikasikan pasar berdasarkan atribut (nilai) atau manfaat yang terkandung dalam suatu produk. Konsumen akan mencari produk yang menyediakan manfaat khusus untuk memuaskan kebutuhannya. Nabi Muhammad s.a.w. tidak hanya berdasarkan manfaat material, tetapi lebih dari itu adalah manfaat yang disebut maslahah. Maslahah merupakan kepuasan kebutuhan manusia yang luas mencakup kebutuhan material (al-mal), jiwa (al-nafs), kebenaran (ad-din), kecerdasan (al-aql) dan keluarga (al-nasl). Rasulullah s.a.w. menganjurkan agar mencari nilai maslahah, dengan memberikan do’a sewaktu memasuki pasar. Dari Umar bin Al Khaththab RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa memasuki pasar kemudian mengucapkan ’laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah lahulmulku wa lahulhamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyum laa yamuutu biyadihil khairu wa huwa ’alaa kulli syai in qadir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya kekuasaan dan segala puji milik-Nya, yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha hidup dan tidak pernah akan mati, di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu ) maka Allah tetapkan baginya satu juta kebaikan, Allah menghapus darinya satu juta keburukan, dan Allah mengangkat baginya satu juta derajat.” (HR. At-Tirmidzi).
Setelah melakukan segmentasi pasar, berikutnya, pemasar harus membidik segmen pasar yang terbaik. Untuk melakukannya, pemasar terlebih dulu harus mengevaluasi potensi laba masing-masing segmen. Nabi Muhammad s.a.w. memasarkan barang-barang manufaktur, pakaian, barang mewah dan untuk orang kaya Mekah dan memasarkan peralatan rumah tangga untuk keluarga biasa. Sedangkan warga negara asing di Busra memasarkan kismis, parfum, kurma kering, barang tenunan, batangan perak dan ramuan. Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Wahai manusia ! Sesungguhnya orang yang kaya itu bukan lantaran banyak harta benda, akan tetapi orang kaya adalah orang yang kaya jiwa.” Allah azza wa jalla memberikan bagian rezeki kepada hamba-Nya sesuai yang telah ditetapkan baginya, maka bersikap baiklah dalam menuntut rezeki, ambillah apa yang halal dan tinggalkanlah yang harum.” (HR. Abu Ya’la, sanadnya hasan, dan yang pertama adalah Muttafaq ’Alaih)

2. Penentuan Posisi (Positioning)

Pembidikan pasar juga berarti menentukan pesaing. Pada masa Nabi Muhammad s.a.w. yang menonjol dalam kafilah dagang adalah kesukuan dan kepribadian. Kafilah dagang harus meneliti posisi pesaing dan memutuskan posisinya yang terbaik. Penentuan posisi pedagang adalah tindakan untuk merancang citra pedagang serta nilai yang ditawarkan sehingga pelanggan dalam suatu segmen memahami dan menghargai kedudukan pedagang dalam kaitannya dengan pesaingnya. Tugas penentuan posisi terdiri dari tiga langkah: mengenali keunggulan bersaing yang mungkin untuk dimanfaatkan, memilih yang paling tepat dan secara efektif mengisyaratkan kepada pasar tentang posisi yang dipilih pedagang.
Kafilah dagang Quraisy mempunyai positioning sebagai ”pemelihara Ka’bah”, sehingga keempat putra Abdul Manaf, yaitu Hasyim, Abdul Syam, Muttalib dan Naufal berhasil mengantongi ijin perjalanan dan keamanan dagang yang disebut Aylaf (persetujuan) dari penguasa-penguasa tetangga. Sedangkan Muhammad mempunyai positioning sebagai ”Al Amin” yang berarti orang yang dapat dipercaya.

3. Strategi Produk

Produk pada dalam Al Qur’an dinyatakan dalam dua istilah, yaitu al-tayyibat dan al-rizq. Kata al-tayyibat digunakan 18 kali, sedangkan kata al-rizq digunakan 120 kali dalan Al-Qur’an. Al-tayyibat merujuk pada suatu yang baik, suatu yang murni dan baik, sesuatu yang bersih dan murni, sesuatu yang baik dan menyeluruh serta makanan yang terbaik. Al-rizq merujuk pada makanan yang diberkahi Tuhan, pemberian yang menyenangkan dan ketetapan Tuhan (Ali, 1975). Menurut Islam, produk konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi konsumen. Sesuatu yang tidak berdaya guna dan dilarang dalam Islam bukan merupakan produk dalam pengertian Islam. Dalam barang ekonomi konvensional adalah barang yang dapat dipertukarkan. Tetapi barang dalam Islam adalah barang yang dapat dipertukarkan dan berdaya guna secara moral (Choudhury, 1991). Dari Abu Daarda r.a., ia berkata, ”Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seorang hamba sebagimana kematian mencarinya.” (HR. Ibnu Hibban, Al Bazzar, dan Arth-Thabrani dan lafazhnya, ”Sungguh rezeki itu akan mencari seorang hamba lebih banyak daripada apa yang dicari oleh ajalnya.” Dari Sa’d bin Abi Waqqash RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sebaik-baik dzikir adalah yang samar dan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi.” (HR. Abu Awanah dan Ibnu Hibban).
Produk meliputi kualitas, keistimewaan, desain, gaya, keanekaragaman, bentuk, merek, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan dan pengembalian. Kualitas didefinisikan oleh pelanggan. Kualitas merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Dari Jabir r.a., katanya : ”Nabi s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak.” Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah buah yang masak?” Jawab Nabi s.a.w. :”Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketika.” (Bukhari).
Keistimewaan merupakan karakteristik yang melengkapi fungsi dasar produk. Produk istimewa pada masa jahiliyah adalah perhiasan dari emas, perak dan pakaian sutra. Sebelum Muhammad menjadi Nabi perhiasan emas dan pakaian sutra boleh dipakai oleh pria dan wanita. Dari Ibnu Umar r.a.,Rasulullah s.a.w.memakai cincin dari emas atau perak dan dijadikannya muka cincin itu di sebelah telapak tangan beliau dimana terukir tulisan ”Muhammad Rasulullah”. Orang banyak mulai memakai cincin seperti itu pula. Setelah beliau melihat orang ramai memakaicincin seperti itu, beliau lalu membuang cincin itu dan bersabda :”Saya tidak akan memakainya lagi untuk selama-lamanya.” Kemudian beliau memakai sebuah cincin perak. Orang banyak juga mulai memakai cincin perak. Ibnu Umar berkata : Setelah Nabi s.a.w., orang yang memakai cincin itu adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, sampai cincin itu jatuh dan hilang oleh Utsman ke dalam sumur di Aris.
Produk ini lebih ditujukan kepada wanita dan untuk dijual. Dari Abdullah bin Umar r.a, katanya : “Nabi s.a.w. pernah mengirimkan pakaian sutera atau sutera campuran kepada Umar r.a., kemudian beliau melihat pakaian itu dipakai oleh Umar. Sabda beliau, “Sesungguhnya aku kirimkan pakaian itu kepadamu, bukanlah untuk kau pakai. Yang akan memakainya ialah orang-orang yang tidak beruntung baginya. Kukirimkan kepadamu ialah supaya engkau dapat mengambil manfaat daripadanya, yakni supaya kau jual.”(Bukhari).
Desain merupakan totalitas keistimewaan yang mempengaruhi cara penampilan dan fungsi suatu produk dalam hal kebutuhan pelanggan. Pakaian putih merupakan pakaian terbaik. Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah bersabda, ”Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena pakaian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian dan kafanilah mayit kalian dengannya.”(Abu Daud, Tirmidzi, ibnu Hibban). Ada tambahan : ”Karena sesungguhnya pakaian itu lebih suci dan lebih baik.”(Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Hakim). Dari Aisyah r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. pernah keluar dengan memakai pakaian bulu yang dihiasi dengan gambar pelana unta dari rambut hitam.” (Muslim). Demikian pula kamar Rasulullah s.a.w. mempunyai desain interior yang menawan yang membuat tenteram penghuninya.
Gaya menggambarkan penampilan dan perasaan itu bagi pelanggan. Dari Aiman r.a.,katanya : Saya masuk kerumah Aisyah, di situ ada baju perempuan yang terbikin dari benang seharga lima dirham. Kata Aisyah : ”Lihatlah sahaya perempuan, perhatikanlah dia! Ia merasa megah karena memakai pakaian itu dalam rumah. Saya pernah memakai baju itu pada masa Rasulullah s.a.w. Setiap wanita yang ingin berdandan di Madinah, selalu mengirim utusan kepadaku untuk meminjaminya”(Bukhari).

Desain interior kamar Rasulullah s.a.w.

Produk fisik atau berwujud membutuhkan kemasan agar tercipta manfaat-manfaat tertentu seperti misalnya perlindungan, kemudahan, manfaat ekonomi dan promosi. Pedang Rasulullah s.a.w. mempunyai selongsong yang indah. Demikian pula tempat sikat gigi (siwak) Rasulullah s.a.w. mempunyai kemasan yang cantik.

Tempat sikat gigi Rasulullah s.a.w.

Pelayanan pada pelanggan yang memang diingini oleh para pelanggannya. Nabi Muhammad s.a.w. tetap memberikan pelayanan terbaik, meskipun kadangkala pelanggannya berbuat kasar. Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Seorang laki-laki datang kepada Nabi s.a.w., menagih piutangnya. Dan orang itu menagih dengan sikap kasar. Karena itu timbullah para sahabat hendak memukul orang itu. Beliau bersabda, “Biarkanlah dia ! Dia berhak untuk menagih.” Selanjutnya beliau menambahkan, “Berikanlah kepadanya unta yang sebanding dengan untanya?” Kata mereka, “Ya, Rasulullah !Tidak kami dapati unta yang sebanding dengan untanya, tetapi ada yang lebih daripada untanya.” Sabda beliau, “Berikanlah kepadanya ! Sesungguhnya orang yang paling baik di antaramu, ialah yang paling baik pembayarannya.” (Bukhari).

4. Strategi Penetapan Harga

Strategi harga yang digunakan Nabi Muhammad s.a.w. berdasarkan prinsip suka-sama-suka. Dalam surat An Nisaa’ ayat 29 : ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Demikian pula Anas meriwayatkan bahwa Nabi pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum seraya mengatakan : “Siapakah yang ingin membeli kain pelana dan bejana air minum?” Seorang laki-laki menawarnya seharga satu dirham dan Nabi menanyakan apakah ada orang yang akan membayar lebih mahal. Seorang laki-laki menawar padanya dengan harga dua dirham dan ia menjual barang tersebut padanya (Timidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Dari Anas r.a, katanya Nabi saw. bersabda : “Hai Bani Najjar ! Tetapkanlah harga kebunmu kepadaku didalamnya ada runtuhan dan pohon kurma.” (Bukhari).
Strategi harga yang digunakan Nabi Muhammad s.a.w. yang lain adalah prinsip tidak menyaingi harga orang lain dan tidak menyongsong membeli barang sebelum dibawa ke pasar serta tidak berbohong. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya Rasulullah saw, bersabda ”Janganlah kamu menjual menyaingi penjualan saudaramu.” (Bukhari). Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Rasulullah saw melarang orang kota menjualkan barang (dagangan) orang desa dan janganlah kamu membohongkan harga barang dan janganlah seseorang menjual menyaingi harga jual saudaranya, janganlah menawar sesuatu yang sedang dalam penawaran saudaranya dan jangan seorang wanita minta supaya diceraikan saudaranya (madunya) untuk menunggangkan isi bejananya.” (Bukhari).
Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan strategi harga dengan prinsip membantu orang lain. Dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : “Aku pernah bersama-sama dengan Nabi saw. dalam suatu peperangan tetapi untaku terlambat karena lelah. Nabi saw. datang kepadaku seraya berkata, “Jabir !” Aku menyahut, “Ya, Rasulullah !” Tanya Nabi, “Bagaimana kabarmu ?“ Jawabku, “Untaku lambat dan lelah : makanya aku terlambat.”Lalu dihela beliau untaku itu dengan tongkatknya, dan bersabda : “Nah, naiklah !” Lalu aku naiki unta itu, dan agak kutahan jalannya supaya jangan mendahului Rasulullah saw.” Tanya beliau, “Apakah engkau sudah menikah ?” Jawabku, “Sudah, ya Rasulullah.” Tanya beliau pula, “Apakah gadis atau janda ?” Jawabku, “Dengan janda, ya Rasulullah.” Sabda beliau pula, “Kenapa tidak dengan gadis saja. Engkau dapat bersedagurau dengannya dan dia dapat bersendagurai denganmu.” Jawabku, “Aku mempunyai banyak saudara perempuan. Aku ingin kawin dengan wanita yang mau berkumpul, menyisiri dan mengurus mereka.” Sabda beliau, “Sesungguhnya engkau bakal datang kepada mereka. Apabila engkau tiba, maka senanglah, senanglah !” Selanjutnya beliau bersabda, “Akan engkau jualkah untamu ?” Jawabku, “Ya.” Lalu beliau beli dariku seharga satu uqiyah, Beliau tiba lebih dahulu dariku, dan aku tiba pagi-pagi. Kami pergi ke mesjid, maka di sana aku bertemu dengan beliau di pintu mesjid. Sabda beliau, “Baru tibakah engkau ?” Jawabku, “Ya, benar.” Sabda beliau lagi, “Tinggalkanlah untamu, masuklah dan shalatlah dua raka’at !” Aku masuk ke mesjid, kemudian aku shalat. Beliau menyuruh Bilal supaya menimbang untuk beliau satu uqiyah. Bilal menimbang, dan diberatkannya timbangan untukku. Kemudian aku pergi, Tetapi baru saja aku membelakang, beliau bersabda, “Panggil Jabir !.” Tiba-tiba beliau mengembalikan unta (yang telah dibelinya itu) kepadaku. Belum pernah ada sesuatu lebih kubenci daripada hal itu. Sabda beliau, “Ambillah kembali untamu serta uang harganya untukmu !” (Bukhari).
Nabi Muhammad s.a.w. menetapkan strategi harga meskipun dengan sahabat terdekatnya. Dari ’Aisyah r.a. katanya : ”Sungguh sedikit waktu bagi Nabi saw. Pada hari-hari itu, namun beliau memerlukan datang ke rumah Abu Bakar pagi atau petang. Maka ketika telah diizinkan bagi beliau untuk pergi (hijrah) ke Medinah, kami tidak pernah terkejut melainkan ketika beliau datang ke rumah kami waktu Zuhur, Lalu kedatangan beliau itu diberitahukan kepada Abu Bakar. Kata Abu Bakar, ”Nabi saw, tidak akan datang saat ini melainkan karena ada urusan yang sangat penting.” Ketika Nabi saw. Masuk ke tempat Abu Bakar, beliau bersabda kepadanya ” Suruh keluarlah orang yang ada di dekatmu !” Kata Abu Bakar, ”Ya, Rasulullah ! Hanya ada dua orang anakku, ”Aisyah dan Asma.” Sabda Nabi saw, ”Tahukah engkau bahwa sesungguhnya aku telah diberi izin untuk keluar (hijrah) ?” Kata Abu Bakar, ”Anda perlu teman. Ya Rasulullah !” Sabda beliau, “Ya, kawan.” Kata Abu Bakar, “Ya, Rasulullah ! Aku punya dua ekor unta yang sengaja kusediakan untuk keluar (hijrah), ambillah seekor untuk Anda” Sabda Nabi, “Kuambil seekor dengan harganya.” (Bukhari).
Strategi harga yang ditetapkan dalam jual beli kepada Allah, dicontohkan oleh Ali bin Abu Thalib. Ali bin Abi Thalib. “Wahai wanita, apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dimakan suamimu?” tanya Ali kepada istrinya Fátimah. “Demi Allah aku tidak mempunyai sesuatu sedikitpun, Namur ini ada uang 6 dirham dari hasil upahku memintal bulu. Uang tersebut akan aku belikan makanan untuk Hasan dan Husain” jawab Fatimah. ”Wahai wanita yang mulia, berikan uang 6 dirham itu kepadaku” kata Ali. Fátima lalu memberikan uang 6 dirham itu kepada Ali bin Abi Thalib. Sesudah uang diterima, Ali ke luar rumah dengan maksud membeli makanan untuk kedua putranya. Tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu seorang yang berkata “Siapa yang mau meminjami Allah, Dzat Yang Menguasai dan pasti Dia akan menepati Janji-Nya”. Akhirnya Ali mendekati orang tersebut dengan menyerahkan uang 6 dirham yang dibawanya dari rumah yang sedianya dibelikan makan untuk anaknya. Setelah uang diberikan Ali langsung pulang. Ketika Fátima mengetahui kepulangan suaminya ke rumah tanpa membawa makanan apa-apa, ia terus menangis. Melihat istrinya menangis, Ali langsung bertanya “Wahai wanita mulia, apa yang menyebabkan engkau menangis?”. “Wahai putra paman Rasulullah, aku melihat engkau pulang dengan tanpa membawa makanan sedikitpun” jawab Fátimah. “Wahai wanita mulia, aku telah menghutangkan uang 6 dirham tadi kepada Allah” kata Ali. “Kalau itu yang engkau lakukan aku setuju” kata Fatimah. Kemudian Ali bin Abi Thalib keluar hendak menuju ke tempat Rasulullah saw, tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu seorang Badui yang sedang menuntun unta. Ali lalu mendekati Badui tersebut, maka Badui itu berkata “Wahai ayah Hasan, belilah unta ini”. “Aku tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli untamu itu” kata Ali. Badui :” Aku menjual unta ini dengan cara dihutangkan”. Ali: “Kalau begitu, berapa harga unta ini kamu jual?”. Badui: “Aku menjualnya dengan harga 100 dirham”. Ali:“Baiklah, unta ini aku beli, namun pembayarannya nanti saja setelah aku mendapatkan uang”. Setelah itu Ali bin Abi Thalib menuntun unta yang baru dibelinya. Tetapi tidak begitu jauh Ali dihadang oleh seorang Badui lain, yang bertanya kepadanya “Wahai ayah Hasan, apakah kamu hendak menjual unta yang kamu tuntun itu?”. Ali: “Benar, aku hendak menjual unta ini”. Badui: ” Berapa harganya?”. Ali:“Harga unta ini 300 dirham”. Badui:“Baiklah, aku beli untamu dengan harga tersebut”. Setelah orang Badui itu menyetujui harganya, ia langsung membayar 300 dirham secara tunai kepada Ali. Sesudah menerima pembayaran tersebut, Ali menyerahkan kendali untanya kepada orang Badui tadi. Kemudian ia pulang ke rumahnya. Tatkala Fatimah mengetahui suaminya datang, ia menyambutnya dengan senyum kasih saying, sebagaimana kebiasaan yang ia lakukan setiap kali menyambut kedatangan suaminya. Fatimah lalu bertanya “Wahai ayah Hasan, apa yang engkau bawa hari ini?”. “Wahai putri Rasulullah, aku telah membeli seekor unta dengan dihutang cara pembayarannya seharga 100 dirham. Aku lalu menjual unta tersebut dengan harga 300 dirham secara tunai” jawab Ali. “Aku setuju saja terhadap apa yang kamu lakukan asalkan membawa kemanfaatan dan kemaslahatan” kata Fatimah. Sesudah berbincang-bincang dengan Fatimah dirasa cukup, ia keluar rumah lagi menuju tepat Rasulullah. Pada saat ia memasuki pintu masjid Rasulullah saw melihatnya dengan tersenyum dan ketika Ali sudah mendekat, beliau berkata ““Wahai ayah Hasan, apakah kamu yang bercerita kepadaku, ataukah aku yang memberi kabar kepadamu?”. “Engkau saja yang memberi kabar kepadaku” jawab Ali. Rasulullah berkata ““Wahai ayah Hasan, apakah kamu sudah mengerti, siapa sebenarnya Badui yang menjual unta kepadamu itu, dan siapa Badui kedua yang membelinya?”. Ali: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah: “Beruntung sekali kamu………beruntung ……….beruntung……… Wahai Ali, kamu telah menghutangi Allah dengan 6 dirham, maka Allah memberimu 300 dirham sebagai pengganti setiap dirham mendapat 50 dirham. Adapun orang Badui yang pertama adalah Jibril, sedangkan yang kedua adalah Israfil“. Menurut riwayat lain menyebutkan bahwa orang pertama yang menjual unta adalah Jibril, sedangkan yang kedua adalah Mikail.

Masjid Imam Ali

5. Strategi Tempat

Nabi Muhammad s.a.w. menganjurkan untuk berjual beli di pasar. Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya : Rasulullah s.a.w., bersabda : “Janganlah kamu menjual menyaingi harga jual orang lain, dan janganlah kamu menyongsong membeli barang dagangan sebelum dibawa ke pasar.” (Bukhari). Dari Ibnu Umar r.a., katanya : “Pada masa Rasulullah saw. Orang banyak membeli makanan dari rombongan orang-orang berkendaraan. Nabi saw mengirim utusan kepada mereka supaya melarang mereka menjual makanan di tempat mereka beli, sehingga mereka dipindahkan ke tempat menjual makanan (Bukhari).
Mekah dan Medinah merupakan tempat yang diberkahi. Dari Abdullah bin Zaid r.a. dari Nabi saw, sabdanya : “Sesungguhnya Nabi Ibrahim mengharamkan (menjadikan tanah suci) negeri Mekkah dan mendo’a baginya. Dan aku mengharamkan negeri Madinah seperti Nabi Ibrahim mengharamkan Mekkah dan aku pun mendo’a bagi kemakmurannya sebagaimana Nabi Ibrahim mendo’a bagi kemakmuran negeri Mekkah.” (Bukhari).

Masjid Nabi di Medinah

Pasar Qainuqa merupakan pasar di Medinah. Dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a. katanya : “ketika kami tiba di Madianah, Rasulullah saw, mempersaudarakan saya dengan Sa’ad bin Rabi’. Kata Sa’d bin Rabi’, “Saya orang Anshar yang paling kaya. Aku bagi dua hartaku denganmu. Dan tengoklah mana diantara isteriku yang engkau senangi. Akan saya secarikan dia. Setelah ia halal, engkau boleh mengawininya. Jawab Abdurrahman, “Saya tidak memerlukan demikian. Di manakah pasar di sini ?” Jawab Sa’d, “Pasar Qainuqa’,” Pagi-pagi Abdurrahman pergi ke pasar itu membawa keju dan samin. Dan sesudah itu ia terus menerus pergi ke sana. Tidak lama kemudian, Abdurrahma datang (kepada Nabi saw) dengan kesan pucat (dimukanya). Rasulullah saw. bertanya, “Kawinkah engkau ?” Jawab Abdurrahman, “Benar, ya Rasulullah !” Tanya Nabi, “Dengan seorang wanita Anshar,!” Sabda Nabi, “Berapa engkau beri maharnya ?” Jawabnya, “Emas seberat atau sebesar biji kurna,” Sabda Nabi saw, “Adakanlah pesta, sekalipun dengan seekor domba.” (Bukhari).

6. Strategi Promosi

Promosi yang dilakukan Rasulullah s.a.w. lebih menekankan pada hubungan dengan pelanggan meliputi berpenampilan menawan, membangun relasi, mengutamakan keberkahan, memahami pelanggan, mendapatkan kepercayaan, memberikan pelayanan hebat, berkomunikasi, menjalin hubungan yang bersifat pribadi, tanggap terhadap permasalahan, menciptakan perasaan satu komunitas, berintegrasi, menciptakan keterlibatan dan menawarkan pilihan.
Penampilan Rasulullah s.a.w. sangat menawan dengan wajah yang tampan, muka yang ceria, telapak tangan yang lembut dan bau keringat yang harum. Diriwayatkan dari Al-Barra’ r.a., dia berkata Rasulullah s.a.w. berperawakan sedang, berpundak bidang, rambutnya lebat terurai ke bahu hingga ke kedua cuping telinga. Beliau pernah menggunakan pakaian berwarna merah. Aku tidak pernah sama sekali melihat orang lebih tampan daripada beliau (Bukhari dan Muslim). Demikian pula dari Anas bin Malik r.a., dia berkata : Rasulullah s.a.w. senantiasa ceria, keringatnya bagai kilau mutiara, apabila beliau berjalan langkahnya berayun, sutra yang pernah aku sentuh tidak ada yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah s.a.w. dan minyak misik serta minyak ambar yang pernah aku cium tidak ada yang melebihi bau wangi Rasulullah s.a.w. (Bukhari dan Muslim).
Menurut Al Ghazali, Rasulullah s.a.w. memandang pakaian sebagai penutup aurat dan penghias diri, seperti do’a yang beliau ucapkan ketika mengenakan pakaian dengan mengucapkan :”Segenap puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian padaku sesuatu yang dapat menutupi auratku dan dapat saya gunakan sebagai penghias diri terhadap orang lain.”

Rambut Rasulullah s.a.w.

Pakaian Rasulullah s.a.w.
Nabi Muhammad s.a.w. menyatakan bahwa membangun silaturahim atau membangun relasi merupakan kunci keberhasilan dalam pemasaran. Dari Anas bin Malik r.a., katanya dia mendengar Rasulullah s.a.w., bersabda “Barangsiapa ingin supaya dimudahkan (Allah) rezkinya, atau dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahmi (hubungan kasih sayang)”(Bukhari). Rezki juga akan dilancarkan apabila mempunyai empat sifat sebagai pedagang. Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda :”Sesungguhnya seorang pedagang apabila mempunyai empat sifat pedagang, maka rezkinya akan lancar. Apabila ia membeli barang ia tidak mencela, apabila menjual ia tidak memujinya dengan berlebihan, apabila menjual ia tidak menipu dan apabila menjual atau membeli tidak bersumpah”(Ashbahani).
Nabi Muhammad s.a.w. lebih mengutamakan keberkahan daripada keberhasilan penjualan. Dari Abu Hurarirah r.a., katanya dia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sumpah itu melariskan dagangan, tetapi menghapus keberkahan” (Bukhari). Keberkahan juga dapat diperoleh jika menimbang atau menakar dalam jual beli. Dari Miqdam bin Ma’diytakriba r.a. dari Nabi saw, sabdanya : “Gantanglah (timbanglah) makananmu, kamu akan diberi berkah” (Bukhari).
Nabi Muhammad s.a.w. sangat memahami pelanggannya. Ketika ratusan utusan datang pada Nabi setelah kemenangan kota Mekah, seorang diantaranya Abdul Qais, datang menemui Nabi. Selanjutnya, meminta agar mereka memanggil dan memberitahukan pemimpin mereka, yaitu Al-Ashajj. Ketika menghadap, Nabi pun mengajukan bermacam-macam pertanyaan, tentang penduduk berbagai kota dan urusan-urusan mereka. Secara khusus Nabi juga menyebutkan nama-nama Sofa, Musyaqqar, Hijar dan beberapa kota lainnya. Pemimpin mereka Al-Ashajj, sangat terkesan dengan pengetahuan luas yang dimiliki Nabi tentang negerinya sehingga ia mengatakan “Ayah dan ibuku akan berkorban demi Anda, karena Anda tahu banyak tentang negeriku dibanding aku sendiri dan mengetahui nama-nama lebih banyak kota di negeri kami daripada yang kami ketahui.” Bahkan Nabi mengetahui kebiasaan orang Bahrain, cara hidup penduduk Bahrain, cara mereka minum dan cara mereka makan.
Nabi Muhammad s.a.w. untuk mendapatkan kepercayaan mengandalkan akhlaknya atau budi pekertinya. Dari ‘Atha’ bin Yasar r.a, katanya dia bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, lalu katanya : “Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah saw. Seperti yang tersebut dalam Kitab Taurat”.Jawab Abdullah, “Baiklah ! Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. Telah disebut di dalam Kitab Taurat dengan sebagian sifat beliau yang tersebut didalam Al Qur’an : “Wahai, Nabi ! Sesungguhnya Aku mengutus engkau untuk menjadi saksi, memberi kabar gembira, memberi peringatan dan memelihara orang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan pesuruh-Ku. Aku namakan engkau orang yang tawakkal (berserah diri), tidak jahat budi, tidak kesat hati, tidak pula orang yang suka berteriak di pasar-pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi pemaaf dan memberi ampun. Dan Allah belum akan mencabut nyawanya sehingga dia menegakkan agama selurus-lurusnya, yaitu supaya mereka mengucapkan : “Laa illaaha illallaah” sehingga dengan ucapan itu Allah membukakan mata yang buta dan telinga yang tuli serta hati yang tertutup.” (Bukhari). Kepercayaan juga dibangun dari tidak adanya penipuan. Dari Abdullah bin Umar r.a., katanya : ”Seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah saw. Bahwa dia ditipu orang dalam hal jual beli. Maka sabda beliau ”Apabila engkau berjual beli, maka katakanlah : Tidak boleh ada tipuan.”(Bukhari).
Nabi Muhammad s.a.w. memberikan pelayanan hebat kepada pelanggannya. Djabir r.a. berkata : Rasulullah saw, bersabda :”Allah merahmati kepada orang yang ringan jika menjual atau membeli dan jika menagih hutang.” (Bukhari). Abu Qotadah r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Siapa yang ingin diselamatkan Allah dari kesukaran hari qiyamat harus memberi tempo pada orang yang masih belum dapat membayar hutang atau menguranginya (Muslim). Dari Hudzaifah r.a., katanya Nabi saw, pernah bersabda : “Para malaikat datang bertemu dengan ruh orang-orang yang sebelum kamu. Mereka bertanya, “Amal baik apa sajakah yang telah engkau laksanakan ?” Jawab orang itu, “Aku pernah memerintahkan kepada para pelayanku supaya mereka memberi janji kepada orang miskin dan bersikap lapang kepada orang kaya.”Lantas para malaikat itu memberikan kelapangan kepadanya (Bukhari). Dan juga Hudzaifah r.a. berkata: Ketika dihadapkan kepada Allah seorang hamba yang telah diberiNya kekayaan dan ditanya : “Apakah yang kau lakukan terhadap harta kekayaan yang telah Aku berikan kepada kamu di dunia ?” Hudzaifah berkata : Dan mereka ketika itu tidak dapat menyembunyikan sesuatu apapun dari Allah. Maka jawab orang itu kepada Allah : “Tuhanku saya dahulu telah mendapat karunia berupa harta, maka saya telah melakukan hubungan dagang dengan orang-orang dan kebiasaan saya memaafkan meringankan kepada orang kaya dan memberi tempo orang yang tidak punya. Maka Allah berfirman: “Saya lebih berhak daripadamu untuk demikian. Maafkanlah hambaKu, Keterangan ini disambut oleh Uqbah bin Amir dan Abu Mas’ud bahwa kedua orang ini telah mendengar keterangan itu dari Rasulullah s.a.w. (Muslim).
Nabi Muhammad s.a.w. menjalin hubungan komunikasi (bermusyawarah) dengan baik agar tidak terjadi perselisihan antara orang melaksanakan jual beli. Dari Zaid bin Tsabit r.a. katanya ”Biasanya pada masa Rasulullah saw orang banyak berjual beli buah-buahan, setelah tiba waktu memtik dan bayar membayar, sipembeli mengatakan : buah ini busuk, kena penyakit, layu dan macam-macam kerusakan yang mereka jadikan alasan. Ketika mereka bertengkar sudah demikian rupa, Nabi saw. Bersabda : ’Jika begitu, janganlah Tuan-tuan berjual beli sehingga telah nyata benar buah itu baik.” Selaku orang yang suka bermusyawarah (berkomunikasi secara demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama mereka” (Bukhari).
Nabi Muhammad s.a.w. menjalin hubungan yang bersifat pribadi. Dari Anas bin Malik r.a, katanya ”Pada suatu waktu ketika Nabi saw, sedang berada di pasar, seorang laki-laki memanggil beliau, katanya, ”Hai, Abu Qasim !” Nabi saw, melenggong kepadanya. Maka kata si laki-laki tadi. ”Saya memanggil orang ini.” Sabda Nabi saw. : ”Berilah nama dengan namaku, tetapi jangan kamu bergelar dengan gelarku.”
Nabi Muhammad s.a.w. tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi pelanggan. Rasulullah s.a.w. bersabda :“Allah mengasihi orang yang mudah dalam penjualan, pembelian, pelunasan dan penagihan. Barang siapa memberi penangguhan kepada orang yang dalam kesusahan (untuk membayar hutang) atau membebaskannya, maka Allah akan menghisabnya dengan penghisaban yang ringan. Barang siapa menerima kembali pembelian dari orang-orang yang menyesali pembeliannya, niscaya Allah membatalkan (menghapus) kesalahannya pada hari kiamat.” (Bukhari dan Muslim). Demikian pula permasalah yang terjadi pada orang lain, Nabi Muhammad s.a.w. tetap membantu menyelesaikan permasalah tersebut. Dari Jabir r.a. katanya : “Abdullah bin ‘Amru bin Harani meninggal dunia sedangkan ia mempunyai hutang. Saya minta tolong kepada Nabi saw. Supaya orang-orang yang mempiutanginya sudi meringankan hutangnya. Nabi s.a.w. Menyampaikan permintaan itu kepada mereka, tetapi mereka tidak mau memenuhinya. Nabi saw, bersabda kepadaku, “Pergilah atur kurma engkau bermacam-macam! Ajwah sebagian dan ‘Azqa Zaid. Kemudian beritahukan kepadaku kalau sudah selesai.” Lantas apa yang diperintahkan Nabi saw, itu saya laksanakan, dan setelah selesai kuberitahukan kepada beliau. Beliau duduk diatas atau ditengah tengah kurma itu, lalu beliau bersabda, “Nah, gantanglah untuk kaum yang berpiutang itu.” Lalu saya gantangi dan saya berikan secukupnya kepada mereka masing-masing Ternyata kurmaku yang tinggal tidak kurang satu jua pun dari semula.”
Nabi Muhammad s.a.w. menawarkan pilihan dalam memasarkan produknya. Dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah saw., bahwasanya beliau bersabda : “Apabila dua orang telah melakukan jual beli, maka tiap-tiap orang dari keduanya boleh khiyar (memilih) selama mereka belum berpisah, dan keduanya masih berkumpul, atau salah satu dari keduanya telah memberi khiyar kepada yang lain, dan keduanya telah melakukan jual beli atas dasar khiyar itu, maka sesungguhnya jual beli itu haruslah dilakukan atas yang demikian. Jika keduanya telah berpisah sesudah melakukan jual beli, sedang yang satu lagi belum meninggalkan (tempat) jual beli. Maka jual beli itu harus berlaku demikian.” (Bukhari). Demikian pula dari Ibnu Umar r.a., katanya Nabi saw. Bersabda : “Dua orang yang jual beli boleh khiyar selama keduanya belum berpisah, atau salah satu diantara keduanya mengatakan kepada yang lain, “pilihlah !” Dan boleh jadi juga beliau mengatakan, “Atau jual beli itu dengan khiyar.” Kata Nafi’ : “Pernah Ibnu Umar apabila membeli sesuatu yang disenanginya, dia segera berpisah dengan penjualnya.” (Bukhari).

DAFTAR PUSTAKA

Abbaasi, .M..,K.W. Hollman dan J.H. Murray, 1990. Islamic Economics: Foundations and Practices. International Journal of Social Economics. Vol. V.
Abu `Ubayd, 1975. Kitab al-Amwal, ed. M. Hiras, Cairo: Maktabat al-Kulliyah al-Azhariyah and Dar al-Fikr
Ad-Duwaisy, Syaikh Ahmad bin Abdulrrazak, 1999. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ Al Buyuu’, Riyadh : Daarul ‘Ashimah
Afzalurrahman, 1982. Muhammad : Encyclopedia of Seerah. Vol. 2, No. 3, London : The Muslim School Trust.
Ahmad, Khurshid, 1980. Studies in Islamic Economics. Leicester : Islamic Foundation.
______, 1986. Problems of Reaseach in Islamic Economics with Emphasis on Reasearch Administration and Finance. Leicester: Islamic Foundation.
______, 1992. Nature and Significance of Islamic Economics. Leicester: Islamic Foundation.
Ahmad, Mushtaq, 1995. Business Ethics in Islam. Islamabad : The International Institute of Islamic Thought.
Ahmad, Syeikh Mahmud. 1952. Economic of Islam. Lahore : Institute of Islamic Culture.
Ahmad, Ziauddin. 1998. Islam, Proverty and Income Distribution. Lahore: The Islamic Fondation.
Al-Arabi, Mohammad Abdullah. 1966. Contemporary Banking Transactions and Islam’s views thereon. Islamic Review, London, May
Al-Asqalani, Ibnu Hajar, 1985. Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib, Beirut : Maktab al-Islami.
Al-Azdi, 1967. Ta’rikh al-Mawsil, ed. `A. Habibah, Cairo: Dar Ahya’ al-Turath al-Islami
al-Bakri, 1983. Mu`jam ma Usta`jam min Asma’ al-Bilad wa al-Mawadi`, ed. M. al-Saqqa’, Beirut: `Alam al-Kutub
Al-Baladhuri, 1959. Ansab al-Ashraf, ed. M. Hamidullah, Cairo: Dar al-Ma`arif
Al-Baladhuri, 1978. Futuh al-Buldan, ed. R. Radwan, Beirut: Dar Maktabat al-Hilal
Al-Bukhari, 1979. Sahih Al-Bukhari. Terjemahan oleh Mohammad Muhsin Khan, Islamic University Al-Medina Al-Munawara, Edisi Keempat, Lahore : Kazi Publication, Vol.VII, No.277, hal. 208-209.
Al-Dhahabi, 1990. Ta’rikh al-Islam: al-Maghazi, Beirut: Dar al-Kitab al-`Arabi
Al-Fanjari, Muhammad Shawqi, 1990. Dhatiyat al-siyasiyat al-iqtisadiyat al-islamiyah. Cairo: Markaz al-Iqtisad al-Islami.
Al-Fasi, 1985. Al-`Iqd al-Thamin fi Ta’rikh al-Bilad al-Amin, Beirut: Maktabat al-Risalah
Al-Halabi, 1980. Al-Sirah al-Halabiyah fi Sirat al-Amin al-Ma’mun, Beirut: Dar al-Ma`arif
Al-Hazimi, 1995. Kitab al-Amakin, ed. H. al-Jasir, Riyadh: Dar al-Yamamah
Al-Isfahani, 1974. Kitab al-Aghani, Cairo: Dar al-Kutub al-Misriyah
Al-Jahiz, 1966. Al-Tabassur fi al-Tijarah , Cairo: Dar al-Kitab al-Jadid
Al-Jarjawi, Syehk Ali Ahmad, 1997. Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu. Beirut: Darul El-Fikri.
Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim,1955. A’lamul Muwaqqi’in. Al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, Cairo, vol. III.
Algaoud, Lativa M., Lewis, Mervyn K. 2001. Islamic Banking. Massachusetts: Islamic Edward Elgar
Ali, Syed Ameer. 1949. A short history of the Saracens, London: Macmillan & Co., pp. 63-64.
Ali, A. Yusuf (Penerjemah), 1975. The Holy Qur’an. Lahore : Sh. Muhammad Ashraf.
Al-Hamdani, 1977. Sifat Jazirat al-`Arab, ed. M. al-`Akwa, Riyadh: Dar al-Yamamah
Al-Harbi, 1969. Kitab al-Manasik wa Amakin Turuq al-Hajj wa Ma`alim al-Jazirah, Beirut: Matba`at al-Mutannabi
Al Kattani, Abd al Hay. 1975. Al Taratib al Sultaniyyah. Beirut: Hasan Ju’na and M. Amin Damaj Pub.
Al-Khuza’i, 1980. Takhrij al-Dalalat al-Sam`iyah `ala ma Kana fi Ahd al-Rasul , Cairo: al-Majlis al-A`la li’l Shu’un al-Islamiyah
Al-Maghluts, Sami bin Abdullah bin Ahmad, 2005. Athlas Tarikh al-Anbiyaa wa al-Rusul, Obaikan.
Al-Maqrizy, Taqyuddin Ahmad bin Ali. 1988. Syuzur Al-Uqud fi Zikri Al-Nuqud. Tahqiq Muhammad Bahr Al-Ulum, Beirut : Daar Al-Zahra’.
Al-Maraghiy, Ahmad Mustafa, 1970. Tafsir al-Maraghiy. Penterjemah Muhammad Thalib, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Dan Pustaka.
Al-Marzuqi, 1914. Kitab al-Azminah wa al-Amkinah, Hyderabad: Matba`at Da’irat al-Ma`arif.
Al Mawardi, Abu al Hasan. 1993. Al Ahkam al Sultaniyyah. Cairo: Mustapha al Babi al Halabi.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur-Rahman, 1998. Ar-Rahiq al-Makhtum Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘ala Shahibina as-Shalat was-Salam. Cairo : Dar al-Hadits.
Al-Mushlih, A. ,Ash-Shawi, S. 2001. Ma La Yasa’ut Tajiru Jahluhu. Riyadh : Dar Al-Muslim.
Al-Naqsyabandi, Nashir Al-Sayyid Mahmud, 1953. Al-Dinar Al-Islami Fi Al-Muthaf Al-Iraqi, Beirut : Al-Rabithah.
Al-Qalqashandi, 1980. Nihayat al-Arab fi Ma`rifat Ansab al-`Arab , Beirut: Dar al-Kutub al-Lubnani
Al-Qummi, 1967. Tafsir al-Qummi, ed. T. Al-Jaza’iri, Najaf: Maktabat al-Huda
Al Qu’an dan Terjemahannya, Mekah : Khadim al Haramain asy Syarifain
Al-Qurtubi, 1966. Al-Jami` li-Ahkam al-Qur’an, Cairo: Dar al-Qalam
Al-Qutbi, 1982. I`lam al-`Ulama’ al-A`lam bi-Bina’ al-Masjid al-Haram, Riyadh: Dar al-Rifa`i
Al-Rashid, S, 1980. Darb Zubaydah, Riyadh: Riyadh Univ. Libraries
Al-Ruqqun, M. , 1986. Kiswat al-Ka`bah al-Mu`azzamah `abr al-Ta’rikh, Cairo: Matba`at al-Jiblawi
Al-Samhudi, 1981. Wafa’ al-Wafa’ fi Ta’rikh Dar al-Mustafa, Beirut: Dar Ahya’ al-Turath al-`Arabi
Al-Sayf, A. , 1983. Al-Hayah al-Iqtisadiyah wa al-Ijtima`iyah fi al-Najd wa al-Hijaz fi al-`Asr al-Umawi, Riyadh: Mu’assasat al-Risalah
Al-Shami, Al-Salihi, 1975. Subal al-Hudan wa al-Rashad fi Sirat Khayr al-`Ubbad, ed. `Abd al-`Aziz `Abd al-Haqq, Cairo: Lajnat Ahya’ al-Turath al-Islami
Al-Shawkani, 1979. Fath al-Qadir al-Jami` bayna Fana al-Riwayah wa al-Dirayah min `Ilm al-Tafsir, Beirut: Dar al-Fikr
Al-Sudayli, 1978. Al-Rawd al-Unuf fi Tafsir al-Sirah al-Nabawiyah, Beirut: Dar al-Ma`rifah
Al-Tha’alibi, 1965. Thimar al-Qulub, ed. M. Ibrahim, Cairo: Dar Nahdat Misr
Al-`Umari, 1985. Al-Hiraf wa al-Sina’at fi al-Hijaz fi `Asr Rasul Allah, Riyadh: `A. al-`Umari
Al-Waqidi, 1965. Kitab Maghazi Rasul Allah, ed. M. Jones, London: Oxford University Press
Al-Ya`qubi, 1939. Ta’rikh al-Ya`qubi (Najaf: al-Maktabah al-Murtadawiyah
Al-Zubayr b. Bakkar, 1996. Al-Akhbar al-Muwaffaqiyat, ed. S. al-`Ani, Beirut: `Alam al-Kutub
Anas, Malik b. , 1981. Al-Muwatta’, Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah
Anouar, Hassoune. 2002. Profitability of Islamic Banks. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 4, Number 2, July-Sept .
Ariff, Mohammad, 1982. Monetary and Fiscal Economics of Islam, Jeddah : ICRIE.
______, 1985. Toward a Definition of Islamic Economics : Some Scientific Consideration. Journal of Research in Islamic Economics, Winter.
______, 1988. Islamic Banking, Asian-Pacific Economic Literature, Volume 2, Number 2, September, pp. 48-64.
______, 1989. Islamic Banking in Malaysia : Framework, Performance and Lesson. Journal of Islamic Economics, Volume 2, Number 2.
______ dan Mannan, M.A., 1990. Developing a System of Financial Instruments. Proceeding of Seminar held in Kuala Lumpur, Malaysia, 28 April- 5 Mei.
______, 1997. The Role of the Market in the Islamic Paradigm. IIUM Journal of Economics and Management, Malaysia
Armstrong, Karen. 1996. Muhammad, A Biography of the Prophet, Second Edition, London : Victor Gollancz, The Cassell Group.
Aronsson,T.,Lofgren,K.G. and Backlund, K. 2004. Welfare Measurement In Imperfect Markets : A Growth Theoretical Approach. Cheltenham, Edward Elgar.
Arrow, K.J. and Scitowsky,T. 1969. Readings in Welfare Economics, HomeWood, pp.255-283.
Asheim,G.B. and Buchholz,W. 2004. A General Approach to Welfare Measurement Through National Income Accounting, Scandinavian Journal of Economic 106, pp. 361-384.
Asheim,G.B. and Weitzman,M.L. 2001. Does NNP Growth Indicate Welfare Improvement?, Economics Letters 73, pp. 233-239.
Atkinson, A. 1975. The Economics of Inequality. London: Oxford University Press.
At-Tariqi, Abdullah Abdul Husain. 2004. Al-Iqtishad al-Islami : Ushusun wa muba’un waakhdaf. Terjemahan, Yogyakarta : Magistra Insannia Press.
Awd Allah, A. , 1981. Makkah fi `Asr ma Qabl al-Islam, Riyadh: Da’irat al-Malik `Abd al-`Aziz
Ayati, M.I., 1980. The History of Prophet of Islam. ed. by A. Gordji, Tehran University, Tehran.
Bahjat, Ahmad, 1995. Anbiya’ Allah, Cairo : Daar As-Syuruq.
Bakkar, Al-Zubayr b. , 1961. Jamharat Nasab Quraysh wa Akhbaruha, ed. M. Shakir, Cairo: Maktabat Dar al-`Urubah
Baladhuri., 1966. Kitab Futuh Al-Buldan. Beirut:Terjemahan oleh Philp Khori Hittli.
Bhattacharya, K.M., 2005. Islamic Banking : A Case for Introduction in the Indian Banking System. IBA Bulletin, Mumbai, December, p.1
Blackorby, C. and Donaldson, D. ,1987. Welfare Ratios and Distributionally Sensitive Cost-Benefit Analysis. Journal of Public Economics, 34, pp.265-90
Carbonell, A.F. 2002. Subjective Questions To Measure Welfare and Well-being, Discussion Paper, Tinbergen Institute, Amsterdam, pp 1-5.
Chapra, M. Umer, 1970. The Economic System of Islam : Discussion of its Goal and Nature. London : The Islamic Cultural Centre.
______, 1979. Objectives of the Islamic Economic Order. Leicester, United Kingdom : The Islamic Foundation.
______, 1979. The Islamic Welfare State and its Role in the Economy. Leicester, United Kingdom : The Islamic Foundation.
______, 1985. Toward a Just Monetary System. Leicester, United Kingdom : The Islamic Foundation.
______, 1995. Islam and the Economic Challenge. Leicester, United Kingdom : The Islamic Foundation.
______, 2000. The Future of Economics : An Islamic Perspective. Leicester, United Kingdom : The Islamic Foundation.
Choudhury, M.A. ,1991. Social Choice in an Islamic Economic Framework,
Choudhury, Masudul Alam and Houque, M. Ziaul. 2003 Islamic Finance: A Westen Perspective – Revisited. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 5, Number 1, April-June.
Chowdhury, A. Abdul Mannan. 1999. Resource Allocation, Investment Decision and Economic Welfare : Capitalism, Socialism and Islam. University of Chittagong, Banladesh.
Cizaka, M., 1995. Encyclopedia of Islamic Banking and Insurance. Institute of Islamic Banking and Insurance, London
Cohn, H.H., 1971. Interest, Encyclopedia Judaica. Jerusalem : Keter Publishing House.
Crone, P. 1987. Meccan Trade and Rise of Islam. Oxford : Basil Blackwell.
Dar, Humayon A. and Presley, John R. 2000, Lack of Profit Loss Sharing in Islamic Bankingm : Management and Control Imbalances, International Journal of Islamic Financial Services, Volume 2, Number 2, September, pp. 9-12.
Doi, Abdur Rahman I. 1984. Shariah : The Islamic Law. 3rd Edition, Kuala Lumpur : A.S. Noordeen Publishers.
Donner, F. 1977. Mecca’s Food Supply and Muhammad’s Boycott, JESHO 20 : 249-66;
El-Diwani, Tarek, 2003. The Problem with Interest. 2nd edition, London: Kreatoc, Ltd.,
Elliot, John E.. 1985. Comparative Economic Systems, Wadsworth Publishing Company, Belmont, pp.408-429.
Fabozzi, Frank J Franco, Modigliani, Ferri, Michael G.,1994. Foundations of Financial Markets and Institutios, New York : Prentice-Hall Inc.
Federal Deposit Insurance Corporation, 2004. Bank Failure & Assistance. June 25.
Friedman, Thomas L., 2001. The Lexus and The Olive Tree: Undertanding Globalization, New York : Achor Book.
Ghazali, Imam. 1937. Al-Mustasyfa, Kairo : Al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, Vol.I hlm 139
Gilmore, M. et al., 1985. A Preliminary Report on the First Season of Excavations at al-Mabiyat, an Early Islamic Site in the Northern Hijaz, Atlal: Journal of Saudi Arabian Archaeology 9
Gopal, M.H. 1935. Mauryan Public Finance. London : George Allen & Unwin.
Gordon, B..1982. Lending at Interest : Some Jewish, Greek and Christian approach, 800 BC – AD 100, History of Political Economy, Vol. 14 No.3, pp. 406-26.
Griffin, Keith. 1989. Alternative Strategies for Economic Development, Macmillan, London, pp.218-219.
Grutchy, Allan G. 1977. Comparative Economic Systems. Houghton : Mifflin Company.
Hair, J.F., Black, W.C., Babin, B.J., Anderson,R.E., & Tatham, R.L., 2006. Multivariate Data Analysis. Sixth Edition, New Jersey : Pearson Prentice Hall.
Hanafi, Khaled, 2003. Islamic Gold Dinar Will Minimize Dependency on U.S. Dolla., Money File, The Case for Gold, Cairo, January 8.
Haniffa, Roszaini dan Hudaib, Mohammad, 2004. Disclosure Practices of Islamic Financial Institutions : An Exploratory Study. The Islamic Perspective International Conference V, Brisbane, Australia.
Harahap, Sofyan Syafri, 2004. Akuntansi Islam. Cetakan keempat, Jakarta : Bumi Aksara
Haron, Sudin, 1996. The Effects of Managemet Policy on Performance of Islamic Banks. Asia Pacific Journal of Managemet, Oct, 13,2
Haron, Sudin, 1997. Islamic Banking : Rules & Regulations. Selangor : Pelanduk Publications.
Haron, Sudin and Ahmad, Norafifah. 2000. The Effects of Conventional Interest Rates and Rate of Profit on Funds Deposited with Islamic Banking System In Malaysia. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 1, Number 4, January-March.
Haron, Sudin and Yamirundeng, KuMajdi. 2003. Islamic Banking In Thailand: Prospects and Challenges, International Journal of Islamic Financial Services, Volume 5, Number 2, September.
Hassan, Ahmad, 2004. A-lAuraq Al-Naqdiyah fi Al-Iqtishad Al-Islamy, Terjemahan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Hause,J.C. 1975. The Theory of Welfare Cost Measurement. Journal of Political Economy 83, Juni, pp. 1145-1182.
Heck, G., 1999. Gold Mining in Arabia and the Rise of the Islamic State,JESHO 42 : 363ff
Heilbroner, Robert and Lester Thurow, 1994. Economic Explained. New York:Simon & Schuster.
Henry, Clement M., 1999. Special issue on Islamic Banking and Finance. Thunderbird International Business Review, 41(5/6), pp.355-609, July.
Hibatallah, Abu Baqa’, 1984. Al-Manaqib al-Mazyadiyah (Amman: Maktabat al-Risalah al-Hadithah
Hitti, Philip K., 2002. History of The Arabs, From the Earliest Time to Present, New York : Palgrave Macmillan.
Hodgson, Marshall G.S., 1974. The Venture of Islam, Conscience and History in a World Civilization, Chicago : The University of Chicago Press.
Homby, A.S., 1974. Oxford Avanced Learner’s Dictionary of Current English. Oxford University Press.
Hughes, T. P. , 1982. Dictionary of Islam, New Delhi: Cosmo Publications
Ibn al-Athir, 1985. Al-Kamil fi al-Ta’rikh, Beirut: Dar al-Kitab al-`Arabi.
Ibn Habib, 1942. Kitab al-Muhabbar, ed. I. Lichtenstadter, Hyderabad: Da’iat al-Ma`arif al-`Uthmaniyah
Ibn Habib, 1985. Kitab al-Munammaq, Beirut: `Alam al-Kutub
Ibn Hajar, 1906. Kitab al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Cairo: Matba`at al-Sharifah
Ibn Hazm, 1971. Jamharat Ansab al-`Arab, Cairo: Dar al-Ma`arif
Ibn Hisham, 1955. Kitab Sirat al-Nabi, ed. M. Al-Saqqa, Cairo: Makatabat Mustafa al-Babi al-Halabi
Ibn Ishaq, 1976. Sirat Ibn Ishaq, ed. M. Hamidullah, Rabat: Ma`had al-Dirasat wa al-Abhath
Ibn Ishaq, 1955. The Life of Muhammad, Oxford: Oxford University Press
Ibn Kathir, 1966. Al-Bidayah wa al-Nihayah, Riyadh: Maktabat al-Nasr.
Ibn Khaldun, 1978. Muqaddimat Ibn Khaldun , Beirut: Dar al-Hilal
Ibn Khallikan, 1969. Wafayat al-A`yan, ed. Ahsan `Abbas, Beirut: Dar al-Thaqafah
Ibn Qutaybah, 1966. Al-Shi`r wa al-Shu`ara’, Cairo: Dar al-Ma`arif
Ibrahim, M., 1990. Merchant Capital and Islam. Austin: University of Texas Press.
Ibrahim, Abdullah Lam, 2005. Ahkaamul Aghniyaa fisy Syari’ah Al Islaamiyah wa Atsaaruhu. Amman : Darun Nafais.
Imam-ud-Din, S.M.,1982. A Historical Background of Modern Islamic Banking, Islamic Research Economics Bureau, pp. 175-83.
Iqbal, Z., 2004. Financial Intermediation and Design of Financial System in Islam, Islamic Economic Studies, Vol.11,No.2, March.
Iqbal, Z. and Mirakhor, A. 2004. A Stakeholders Model of Corporate Governance of Firm in Islamic Economic System. International Seminar on Economics, Malaysia, September 22-24.
Iqbal, Z. and Mirakhor, A. 2007. An Introduction to Islamic Finance : Theory and Practice, Singapore : John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd.
International Association of Islamic Banks. 1997. Directory of Islamic Banks and Financial Institutions. Jeddah : International Association of Islamic Banks.
Ismail, A.H., 1986. Islamic Banking In Malaysia : Some Issues, Problems, and Prospects. Kuala Lumpur : Bank Islam Malaysia Berhad.
Janahi, A.L., 1995. Islamic Banking : Concept, Practice and Future. Second Edition, Manama : Bahrain Islamic Bank.
Johnson, Marion, 1968. The Nineteenth-Century Gold ‘Mithqal’ in West and North Africa, The Journal of African History, Vol. 9, No. 4 , pp. 547-569
Kazarian, E. 1991. Finance and Economic Development, Islamic Banking in Egypt. Lund Economic Studies No.45, University of Lund, Lund.
Khalil, Syauqi Abu, 2003. Athlas al-Hadith al-Nabawi, Minal Kutub ash-Shihaah as-Sittah, Damaskus : Dar al Fikr
________________, 2005. Athlas Al Qur’an, Amakin, Aqwam, A’laam, Damaskus : Dar al Fikr
Khan, Muhammad Akram., 1989. Economic teachings of Prophet Muhammad (may peace be upon him): a select anthology of Hadith literature on economics. Islamabad: International Institute of Islamic Economics: Institute of Policy Studies.
Khan, M. Fahim 1999. Financial Modernization in 21st Century and Challenge for Islamic Banking. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 1, Number 3, Oct-Dec.
Khan, M. Mushin 1979. Sahih Al-Bukhari : Arabic-English, Islamic University Al-Medina Al-Munawara, Kazi Publication, Lahore, Vol.7 No.277. pp.208-209
Khan, Mohsin and Mirakhor, Abbas, 1987. Theoretical Studies in Islamic Banking and Finance. Houston : IRIS Books.
Khan, Mohsin and Mirakhor, Abbas, 1992. Islam and the Economic System, Review of Islamic Economics. Vol.2, No.1, pp. 1-29.
Kister, M. 1965. Makkah and Tamim: Some Aspects of Their Relations. JESHO 8 : 117-63
Majid, Fakhry, 1997. A Short Introduction in Islamic Philosophy, Theology and Mysticism. Oxford, England : Oneworld Publications.
Maali, Bassam, Casson, Peter, and Napier, Christopher,2003. Social Reporting by Islamic Banks. Discussion Papers in Accounting and Finance, University of Southampton, September.
Mannan, M. A.,1970. Islamic Economics, Theory and Practic. Leicester, United Kingdom.: The Islamic Foundation.
Mannan, M. A., 1984. The Making of Islamic Economic Society: Islamic Dimensions in Economic Analysis. Cairo: International Association of Islamic Banks.
Maududi, Sayyid Abu A’la. 1963. Economic and Political Teachings of the Quran. Weisbaden, Otto Harasowitz, pp. 178-190.
McKenzie,G.W. 1982. Welfare Measurement : A Syntesis. The American Economic Review 72(4), September, pp. 669-682.
Miles, G. , 1948. Some Early Arab Dinars, Museum Notes, New York: American Numismatic Society
Mohmassani, Sobhi, 1978. Al-Awza’l wa Ta’alimuhu’l Insaniyah wa’l Qanyniyah. Beirut : Dar al-Ilm li’l Mala’in.
Muslim, 1994. Sahih Muslim, Riyadh : Dar Ibni Khuzaimah
Nada, Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid, 2003. Mausuuah al-Adaab al-Islaamiyyah al Murattabah ‘alaa al Huruuf al Hijaa’iyyah, Daar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tawzi.
Nadwi, S.Abu Hasan Ali.1975. The Four Pillars of Islam. Edisi kedua, Karachi : Majlis Nashreyat-e-Islam.
Naqvi, Syed Nawab Haider, 1994. Islam, Economics and Society, London : Kagan Paul International.
Nashif, Syekh Manshur Ali, 1994. Attaajul Jaami’ lil ushuul fii ahaaditsir Rasuul,
Nelson, Benjamin. 1949. The Idea of Usury : From Tribal Brotherhood to Universal Otherhood. Princetone : Princetone University Press.
Neusner, Jacob. 1990. The Talmud of Babylonia : An American Translation. Atlanta: Scholar’s Press.
Patinkin, D.. 1968. Interest, International Encyclopeia of the Social Sciences. London : Macmillan Inc.
Perlman, Richard. 1976. The Economics of Proverty,. New York : Mc Graw Hill.
Petras, James and Veltmeyer, Henry. 2001. Globalization Unmasked : Imperialismin the 21st Century, New York : Zed Books.
Pollack, R.A. and Wales, T.J.,1979. Welfare Comparisons and Equivalence Scales. American Economic Review, 69, pp.216-21.
Qardhawi, Yusuf, 1990. Madkhal Li Dirasah Al-Syari’ah Al-Islamiah. Kaherah : Maktabah Wahbah
Qardhawi, Yusuf, 2003. Fi Fiqh al-Aqaliyyah al-Muslimah. Kaherah : Dar I-Shuruq.
Qureshi, Anwar Iqbal, 1974. Islam and the Theory of Interest. Lahore : Sh. Muhammad Ashraf.
Rahman, Afzalur.,1980. Islamic Doctrine on Banking and Insurance. London : Muslim Trust Company.
Rahman, Fazlur., 1964. Riba and Interest. Islamic Studies, Maret, pp. 1-43
Rahman, Yahia Abdul. 1999. Islamic Instruments for Managing Liquidity,.International Journal of Islamic Financial Services, Volume 1, Number 1, Apr-Jun.
Rangaswami, K. 1927. Aspects of Ancient Indian Economic Thought. Madras law Journal Press, Mylapore.
Ravallion, M. and Lokshin, M. .2000. Subjective Economic Welfare. Development Research Group, World Bank.
Rosly, Saiful Azhar, 2004. The Inseparable Shari’ and Tabi’ Principle in Business Strategy. DinarStandard, Business Strategies for Muslim World, December 3.
Russell, Bertrand. 1946. History of Western Philosophy. London : George Sallen & Unwin.
Sabzwari, MA.1979. Zakah and Ushr with Special Reference to Pakistan. Industries Printing Press, Karachi, p.5.
____________.1982. The Concept of Saving in Islam. An NIT Publication, Karachi, p.1
Sadr, Kazim. 1989. Essays on Iqtishad : The Islamic Approach to Economic Problems, Nur Corp.,MD, USA
Saqar, N. , 1981. Al-Ta’if fi al-`Asr al-Jahili wa Sadr al-Islam, Jiddah: Dar al-Shuruq
Shamma, S., 1976. Al-Madinah: Ma’din Amir al-Mu’minin, Al-Maskukat 7 : 106-9.
Sarker, Abdul Awwal. 1999. Islamic Business Contracts : Agency Problems and The Theory of The Islamic Firms. International Journal of Islamic Financial Services, Volume 1, Number 2, Jul-Sep..
Serjeant, R. B. 1990. Meccan Trade and the Rise of Islam, JAOS 111 : 472.
Shaban, M. 1971. Islamic History: A New Interpretation. London: Cambridge University Press.
Shahid, I.,1956. The Arabs in the Peace Treaty of 561 A.D., Arabica 3 : 185
Sharif, Mohammad, 2003. Application of Islamic Economic System In a Contemporary Economy : An Illustration with Poverty and Inequity in the USA, Humanomics, Patrington, Vol.19, p. 41.
Shibli, Nomani. 1962. Seeratun Nabi. Karachi : Matbee Maarif Azamgarh, Vol.1
Siddiqi, Muhammad Nejatullah.1982. Recent Work on History of Economic Thought in Islamic Survey. International Centre for Research in Islamic Economic, King Abdul Aziz University, Jeddah.
Siddiqui, Amir Hasan.1962. Studies in Islamic History, Karachi: The Jamiyatul Falah Publications, p.102.
Simon, R. , 1989. Meccan Trade and Islam: Problems of Origin and Structure, Budapest: Akademiai Kiado
Subhani, Ja’far, 1984. The Message, Karachi : Foreign Department of Be’that Foundation
Taleqani, Sayyed Mahmood. 1983. Islam and Ownership, Lexington: Mazda Publishers.
Tawney, R. H. , 1926. Relegion and the Rise of Capitalism, London and New York : Harcourt Brace.
Ubaid, Abu. 1353H. Al Amwal. Cairo: Al Maktabah al Tijaryyah al Kubra.
Uzair, Mohammad. 1956. An Outline of Interestless Banking. Karachi : Raihan Publication.
Uzair, Mohammad. 1978. Interest Free Banking. Karachi : Royal Book Company.
Vadillo, Umar I., 1996. The Return of the Gold Dinar : A Study of Money in Islamic Law. Medinah : Medinah Press
Watt, Montgomery, 1953. Muhammad at Makkah. Oxford: Oxford University Press.
________________, 1956. Muhammad at Madinah. Oxford: Oxford University Press.
________________, 1964. Muhammad Prophet and Stateman. Oxford: Oxford University Press
Wolf, E. 1951. The Social Organization of Mecca and the Origins of Islam, Southwest Journal of Anthropology : 334-36
Yadegari, Mohammad. 1983. Ideological revolution in the Muslim world. Bretnwood : IGPS.
Yusuf, Abu. 1302H. Kitab al Kharaj. Cairo : Shaybani’s Al Jami’al Saghir.
Zahra, Muhammad Abu, 1978. Al Imam Zaid, Cairo : Dar al Fikr al‘Araby, pp. 293-295.
Zahra, Muhammad Abu, 1978. Abu Hanifa, Cairo : Dar al Fikr al‘Araby, p. 539.

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: