Home > Finance and Moneter, Islamic Banking, Islamic Economy > ANALISIS DAMPAK DEPRESIASI NILAI RUPIAH TERHADAP NILAI TUKAR DAGANG (TERM OF TRADE) DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

ANALISIS DAMPAK DEPRESIASI NILAI RUPIAH TERHADAP NILAI TUKAR DAGANG (TERM OF TRADE) DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA


(Pendekatan Analisis Jalur/ Path Analysis)

Oleh:  Muhammad Husaini

1.  Latar Belakang

Dalam menganalisis permaslahan khususnya dalam bidang ekonomi banyak dijumpai model-model kuantitatif seperti  model simultan, regresi berganda, dan model non parametrik lainnya.  Salah satu model kuantitatif yang masih jarang dipakai dalam penelitian kasus-kasus ekonomi adalah model Analisis Jalur (Path Analysis).  Dalam analisis jalur akan diungkapkan apakah suatu variabel akan berpengaruh secara langsung dengan variabel lain, atau pengaruh tersebut harus memlalui variabel antara. Tulisan ini akan mencoba mengaplikasikan alat  analisis jalur pada kasus penurunan nilai mata uang rupiah dan dampaknya terhadap term of trade dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Periode waktu yang dipilih antara tahun 19980 hingga tahun 1995.  Dipilihnya periode waktu ini mengingat antara tahun 1980 hingga tahun 1995 penurunan nilai rupiah murni akibat dari permintaan dan penawaran di pasar.  Sedangkan periode setelah itu penurunan nilai rupiah lebih diakibatkan oleh gejolak politik dan kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil.

Jika diamati perkonomian Indonesia sejak   masa Orde Baru, sudah bersifat  terbuka. Keterbukaan ini dapat dilihat dari  beberapa   aspek.  Dari  sisi  pengeluaran  Produk  Domestik   Bruto  (PDB),  terdapat besaran angka yang cukup menonjol dari  nilai ekspor  maupun  impor. Selain itu,   setiap   saat   terdapat   transaksi   penerimaan   dan  pengeluaran  antara Indonesia dengan negara lain, baik  berupa uang, modal,  komoditas, maupun teknologi. Dilihat dari sistem pengaturan  devisa, sejak tahun 1968 Indonesia telah  menganut sistem  devisa  bebas,  dalam arti tidak  ada  larangan  untuk membawa,  menyimpan, atau menggunakan devisa dalam jumlah  berapapun.  Hal ini menunjukkan kemudahan aliran uang dan  modal asing  untuk masuk maupun keluar dari Indonesia. Dilihat  dari  sistem   penyusunan  Anggaran  Pendapatan dan  Belanja  Negara (APBN),   Indonesia masih  mengandalkan  bantuan dan  pinjaman dari luar negeri sebagai upaya menambah  penerimaan  negara untuk membiayai pembangunan.

Implikasi dari adanya  keterbukaan  tersebut, maka perkembangan perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian internasional. Hal ini tercermin dari pola perdagangan Indonesia yang mengalami  fluktuasi  sebagai akibat  perkembangan  nilai ekspor dan  impor  yang  mengalami fluktuasi.

Ditinjau  dari komposisi nilai ekspor Indonesia  terlihat bahwa pada  awal pembangunan di Idonesia  dominasi minyak bumi dan gas alam  masih cukup  besar. Namun perkembangan  selanjutnya nampak peranan ekspor migas semakin menurun,  bahkan sejak tahun 1987 terlihat terjadi pergeseran komposisi ekspor dari migas ke non migas. Keadaan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor non migas guna  menggantikan posisi migas sebagai penyumbang utama devisa negara. Walaupun posisi ekspor non migas  telah  berhasil  menggeser posisi ekspor migas, namun  bila  ditinjau dari keadaan transaksi berjalan dalam neraca pembayaran yang  terus menerus mengalami defisit akibat pengeluaran  jasa yang semakin besar, menunjukkan bahwa  penerimaan ekspor terutama non migas belum mampu untuk menutupi kebutuhan impor dan pembayaran  jasa-jasa  seperti pada masa kejayaan harga minyak bumi.

Kondisi transaksi berjalan dalam neraca pembayaran yang  mengalami  defisit  terus menerus,  dan  menyadari  harga minyak bumi  yang  kian  tidak menentu,  maka upaya untuk meningkatkan penerimaan ekspor  non migas  mutlak diperlukan. Salah satu upaya  untuk  mendorong peningkatan ekspor adalah dengan mempengaruhi nilai tukar mata uang (Branson, W, 1978).

Atas  dasar inilah pemerintah Indonesia sejak  tahun 1986 (devaluasi terakhir) mengambil kebijakan untuk  mengambangkan nilai mata uang rupiah. Jika pada periode sebelumnya kurs rupiah masih menggunakan mata uang dolar Amerika  Serikat sebagai  standar utama, maka sejak tahun 1986 nilai mata  uang rupiah  sudah dikaitkan dengan beberapa mata uang  dunia  yang kuat  (basket  currencies). Tujuan utama kebijakan ini  adalah agar nilai tukar rupiah menjadi lebih realistis, karena  tingkat kurs yang berlaku ditetapkan atas permintaan dan penawaran pasar.  Dalam  sistem ini nilai mata uang  akan  mengalami  kenaikan  (apresiasi) dan penurunan (depresiasi), sehingga  daya saing ekspor akan dapat dipertahankan.

Namun  dalam kenyataannya sejak diberlakukannya kebijakan tersebut nilai rupiah cenderung mengalami penurunan terus menerus (depresiasi).  Keadaan ini walaupun mungkin memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan ekspor, namun demikian belum tentu  menimbulkan dampak yang baik  terhadap kegiatan   ekonomi lainnya, seperti nilai tukar dagang  (terms of trade), neraca pembayaran, dan bahkan pada laju pertumbuhan ekonomi  dalam negeri. .

Mengacu pada kondisi di atas, maka tulisan ini akan  membahas dampak penurunan nilai mata uang rupiah  (depresiasi)  tersebut terhadap nilai tukar dagang (terms of  trade) dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

  1. 2. Perumusan Masalah

Berdasarkan   uraian pada latar belakang di  atas,  maka yang menjadi pokok permasalahan dalam tulisan ini adalah:

1.2.1      Apakah depresiasi nilai rupiah berpengaruh terhadap  nilai tukar dagang (Terms  of Trade) Indonesia.

1.2.2      Bagaimana pengaruh depresiasi nilai  rupiah   terhadap  tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia

3.   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

3.1         Menganalisis pengaruh  penurunan (depresiasi) nilai rupiah  terhadap  perkembangan  nilai  tukar  dagang  (terms  of trade).

3.2                  Menganalisis  pengaruh penurunan  (depresiasi)  nilai  rupiah terhadap laju  pertumbuhan ekonomi Indonesia

4.   Kegunaan Penelitian

Penelitian  ini  diharapkan dapat memberi gambaran tentang mekanisme engaruh dpresiasi nilai rupiah terhadap nilai tukar dagang (terms of trade) dan laju  pertumbuhan  ekonomi. Dengan demikian  diharapkan  dapat memberikan  sumbangan pemikiran dalam mengambil kebijakan lebih lanjut khususnya yang  berkaitan dengan penentuan sistem kurs yang berlaku, sehingga dapat mendorong laju pembangunan. Bagi kalangan akademis terutama bagi mahasiswa, diharapkan tulisan ini dapat menjadi bahan kajian ilmiah sehingga dapat menambah pengetahuan dan refrensi dalam penulisan karya ilmiah lebih lanjut.

5,   Landasan Teori

Nilai  tukar  mata  uang (exchange  rate) suatu  negara adalah jumlah satuan mata uang domestik yang dapat dipertukarkan dengan satu unit  mata uang  negara lain (Levi.M, 1983:13). Ini berarti  bahwa  nilai tukar  mata uang suatu negara menunujukkan daya beli internasional  negara yang bersangkutan, sehingga perubahan di  dalam nilai  tukar mata uang menunjukkan perubahan daya beli  negara tersebut  (Scott,  1978:  218). Secara  umum  terdapat  tiga  pilihan  sistem  nilai  tukar yang  dapat  dianut  oleh  suatu negara (Lindert, P.Kindleberger, 1986: 542) yaitu: (1) sistem nilai tukar mengambang murni, (2) sistem nilai tukar mengambang  terkendali, dan (3) sistem nilai tukar tetap.

Sistem mengambang murni dan mengambang terkendali, sejak tahun 1971 lebih banyak dipakai terutama oleh  negara-negara  berkembang.  Alasan  utamanya adalah pertimbangan dampak hubungan luar negeri, dimana  gejolak perdagangan luar negeri sangat berpengaruh pada  perekonomian secara keseluruhan. Misalnya pada kasus terjadi peralihan permintaan di dalam negeri terhadap produk-produk luar  negeri  akibat naiknya pendapatan masyarakat. Dalam sistem  kurs tetap keadaan ini akan menyebabkan depresi di dalam negeri sebagai akibat turunnya kegiatan ekspor sehingga akan  memperburuk neraca perdagangan dan akan mempengaruhi cadangan  devisa, mengurangi  jumlah  uang beredar dan pada akhirnya akan memperberat depresi itu sendiri.

Di  lain pihak dalam sistem kurs mengambang, dengan menurunnya  penerimaan ekspor akan menyebabkan mata uang negara tersebut  mengalami penurunan nilai tukarnya relatif  terhadap mata uang negara-negara lain.  Penurunan ini akan  menyebabkan harga barang-barang negara yang bersangkutan menjadi lebih murah  dinilai dengan  mata uang negara asing.  Dengan  demikian permintaan luar negeri terhadap produk-produk negara yang bersangkutan akan meningkat. Ini berarti akan memperbaiki   depresi yang terjadi.

Dalam  sistem kurs mengambang, kurs mata uang  yang  berlaku akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar.  Perubahan pada variabel-variabel  permintaan dan penawaran akan merubah tingkat kurs  yang  berlaku. Terdapat  beberapa  faktor  yang mempengaruhi  fluktuasi  kurs mata uang yang berlaku pada suatu negara (Kindleberger,  1986: 359), yaitu:  (1) jumlah uang beredar, (2)  pendapatan  nyata (riel  income),  (3)  perbedaan tingkat suku  bunga,  dan  (4) harapan nilai tukar.

Pengaruh jumlah uang beredar terhadap nilai tukar  dapat dijelaskan melalui Gambar  berikut:

r ($/£

Mf/M

1,32                                            A

B

1,20

Stok uang (j/…)

0                                 0,045      0,050

Gambar 1        Pengaruh Perubahan Jumlah  Uang Beredar Terhadap           Nilai Tukar

Sumber: Kindleberger,  1986:370

Dalam gambar tersebut  dianggap bahwa  kurva penawaran merupakan rasio jumlah uang beredar  di Inggeris  dengan negara lainnya (Mƒ/M), misalkan  dengan  mata  uang US $.  Titik A adalah permintaan relatif untuk  menguasai saldo pounsterling dibanding dengan keinginan menguasi  dolar (Lƒ/L) yang sama dengan penawaran pounsterling secara  relatif terhadap dolar (Mƒ/M) dengan nilai ekuilibrium poundsterling sebesar  $1,20.  Misalkan  penawaran poundsterling dikurangi sebesar 10 persen, maka  nilai poundsterling akan  meningkat.  Pengurangan jumlah uang beredar sebesar 10 persen ini akan menaikkan nilai mata uang pounsterling sebesar 10 persen atau US $1,32. Pergeseran  dari titik A ke titik B pada kurva tersebut menunjukkan bahwa jumlah uang dolar yang beredar juga meningkat  sebesar 10 persen.  Apabila kenaikan jumlah uang dolar yang beredar tersebut dibiarkan begitu saja, maka harga-harga yang terkait dengan dolar akan meningkat, sehingga  permintaan internasional terhadap produk-produk yang dinilai dalam  dolar akan bergeser. Ini berarti akan menurunkan permintaan terhadap mata uang dolar.

Pengaruh  pendapatan  nyata terhadap nilai  tukar  dapat dijelaskan dengan menggunakan gambar berikut:

r ($/£)

Mf/M

1,32                                      C

A

1,20

0                                  0,050    0,055

Jumlah uang beredar (£/$)

Gambar 1.2   Pengaruh Pendapatan riel Terhadap Nilai Tukar

Sumber: Kindleberger, 1986:371

Dari gambar tersebut misalkan pendapatan nyata di Inggeris bergeser dengan  tingkat pertumbuhan sebesar 10 persen. Titik A menunjukkan peningkatan permintaan terhadap poundsterling dari 0,050 menjadi 0,055 dari  persediaan dolar pada titik B. Akan tetapi permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi  karena persediaan masih berada pada  0,050.  Keadaan ini  akan meningkatkan nilai poundsterling dari $1.20  menjadi $1,33 pada titik B. Walaupun demikian terdapat kesimpulan yang kontradiktif  tentang pengaruh pergeseran  tingkat  pendapatan nyata  terhadap nilai tukar.  Di satu pihak jika kenaikan  pendapatan  tersebut sebagai akibat bertambahnya kemampuan  untuk  melakukan  penawaran  ke luar negeri baik barang  maupun  jasa (ekspor), maka nilai tukar mata uang (r) negara yang  bersangkutan akan meningkat.

Di  lain pihak jika tambahan pendapatan tersebut sebagai  akibat  meningkatnya permintaan dalam negeri  (demand  domestic), maka nilai tukar mata uang (r) negara yang bersangkutan justeru akan merosot.  Oleh karena masih terdapat kontroversi tentang  pengaruh pendapatan riel terhadap kurs mata uang suatu negara, maka beberapa peneliti mengabaikan faktor tersebut. Beberapa peneliti di  Indonesia, misalnya Rustian Kamaludin (1985)  dalam  menganalisis  fluktuasi  nilai  rupiah  dalam  hubungannya  dengan perubahan  mata uang asing; memasukkan variabel  laju  pertumbuhan  ekonomi sebagai variabel yang ikut  mempengaruhi  fluktuasi  nilai  rupiah. Sejalan pula dengan  pandangan  di  atas Anwar  Nasution (1985), dalam menganalisis  dampak  perubahan kurs  beberapa  mata uang asing terhadap  nilai  rupiah;  juga mengabaikan tingkat pendapatan riel dan menggantikan variabel tersebut dengan laju pertumbuhan ekonomi.

Perbedaan tingkat suku bunga di  dalam negeri dan di luar negeri  juga  akan  mempengaruhi nilai tukar  mata  uang  yang berlaku  pada  suatu  negara. Jika tingkat  suku  bunga  dalam negeri  relatif lebih tinggi dari tingkat suku bunga  di  luar negeri,  maka para pemilik modal akan melihat adanya  tambahan pendapatan dengan membeli dolar di pasar valas dan dijual pada beberapa waktu kemudian dengan tingkat suku bunga yang berlaku pada saat menjual. Jelasnya jika suku bunga di Amerika Serikat lebih  tinggi  dari  negara lain,  para  pemilik  modal  lebih tertarik  untuk  menguasai  dolar,  dan  pada  akhirnya   akan meningkatkan nilai  dolar.

Faktor  lain  yang mempengaruhi nilai tukar  suatu  mata uang adalah ekspektasi nilai  tukar. Ekspektasi  nilai  tukar ini biasanya dianalogikan oleh para spekulator dengan  melihat perkembangan   jumlah  uang beredar dan  kebijakan  pemerintah terutama  di bidang moneter. Ekspektasi nilai tukar ini  sulit untuk diukur, sehingga dalam pembahasan secara kuantitatif sering diabaikan.  Uraian di atas dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut:

Jumlah uang beredar
Pendapatan nyata
Kurs yang berlaku
Perbedaan sk.bunga
Ekspektasi Kurs

Gambar 1.     Skema Faktor-faktor  Yang Mempengaruhi Nilai Tukar Suatu Mata Uang.

Dalam tulisan ini hanya akan  membahas dampak  penurunan nilai tukar mata uang (depresiasi)  terhadap nilai  tukar dagang (terms of trade) dan  pertumbuhan  ekonomi sesuai dengan tujuan penelitian.  Dampak depresiasi nilai mata uang  terhadap terms of trade dan  pertumbuhan ekonomi  suatu negara  dapat dianalisis sebagai dampak  penurunan nilai  mata uang akibat kebijakan devaluasi. Hal ini mengingat dalam  sistem  kurs mengambang, baik devaluasi maupun  depresiasi  dalam jangka  panjang mempunyai dampak yang sama, bahkan  depresiasi dalam jangka panjang sering disebut sebagai devaluasi terselubung.

Dampak  depresiasi maupun devaluasi  terhadap  terms  of trade (Px/Pm) dapat ditelusuri dengan melihat apakah kemampuan mengimpor negara yang mengalami depresiasi tersebut meningkat sebagai akibat perolehan ekspor atau justeru kemampuan  tersebut semakin menurun. Jika kemampuan mengimpor ini semakin  menurun,  maka terms of trade semakin memburuk. Hal ini  berarti kenaikan harga impor akibat depresiasi lebih tinggi dari harga ekspor yang terjadi. Semakin membaik atau semakin  memburuknya terms of trade akibat depresiasi sangat tergantung pada elastisitas  permintaan dan penawaran terhadap impor dan  terhadap ekspor. Elastisitas ini dapat ditentukan dengan melihat dampak depresiasi  tersebut  terhadap harga ekspor dan  harga  impor. Secara matematis dapat diukur dengan rumus:

dPx/Px – dPm/Pm Sm dm Sx Sm – dx dm
E(Px/Pm)r =                               =              –               =
dr/r                       dx - Sx Sm  – dm (dx – Sx)(Sm – dm)

Dari  rumus  di atas nampak bahwa  penyebutnya  memiliki tanda  negatif, sehingga untuk memdapatkan hasil yang  positif pembilangnya  harus  bertanda negatif juga.  Dengan  demikian semakin elastis permintaan secara relatif terhadap  penawaran, semakin  baik  efek  depresiasi  terhadap  rasio  perdagangan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa:

(a)     Nilai tukar perdagangan (Px/Pm) akan semakin baik   akibat depresiasi apabila dxdm > SxSm.

(b)          Rasio perdagangan (Px/Pm) akan lebih buruk akibat depresiasi apabila dxdm < SxSm.

(c)     Rasio perdagangan (Px/Pm) tidak terpengaruh oleh depresiasi jika dxdm = SxSm

Dampak depresiasi nilai tukar mata uang terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dilihat melalui pengaruhnya terhadap pendapatan nasional. Secara sepintas nampaknya depresiasi  akan mendorong kenaikan volume ekspor dan menekan volume impor negara  yang mengalami depresiasi sehingga akan  meningkatkan pendapatan.

Namun  dalam kenyataan dampak depresiasi tersebut  tidaklah sejelas seperti yang dikemukan di atas, karena tiga alasan pokok (Kindleberger, 1986:475) yaitu: Pertama, depresiasi akan mempengaruhi neraca perdagangan melalui perubahan pada  terms of  trade, dan pengaruh ini tidak selamanya bersifat  positif. Pengaruh depresiasi terhadap neraca perdagangan sangat   tergantung  pada   elastisitas  permintaan  terhadap  ekspor  dan permintaan  terhadap impor. Semakin elastis  permintaan  impor  dan  permintaan ekspor, maka pengaruh neraca perdagangan  akan semakin  stabil (positif).  Kedua, depresiasi  mungkin  akan memperburuk  nilai  tukar perdagangan  (Px/Pm)  internasional. Memburuknya nilai  tukar dagangan ini  akan menyebabkan pengurangan cadangan devisa dan pada akhirnya akan  menurunkan pendapatan nasional.

Secara  skema pengaruh depresiasi  terhadap  pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat digambarkan sebagai berikut:

Jumlah uang beredar  (X1.1) Sk.bunga relatif (X1.2 )
Kurs uang rupiah

( X1)

Harga ekspor

(X2.1)

Harga impor     (X2.2)
Terms of trade

(X2)

Ekspor

(X3.1)

Impor

(X3.2)

Neraca perdagangan    (X3)
Laju pertumbuhan ekonomi (Y)

Gambar 1.4  Skema Pengaruh  Nilai  Tukar Terhadap Pertumbuhan                     Ekonomi Suatu Negara

6.     Metode Penelitian

6.1  Data

Data  yang  digunakandalam penelitian ini   adalah  data  sekunder  yang  disusun  berdasarkan   urut waktu (time series) dari tahun 1980  sampai dengan  tahun  1995. Data yang digunakan meliputi data tentang:

(a)          Produk Domestik Bruto  (PDB)  berdasarkan harga harga konstan 1983, periode 1980 hingga 1995.

(b)          Nilai  ekspor dan impor  Indonesia  tahun 1980 hingga tahun 1995.

(c)          Perkembangan  volume dan nilai ekspor  impor  Indonesia tahun 1980 hingga tahun 1995.

(d)          Nilai transaksi  berjalan  dalam   Neraca Pembayaran Indonesia tahun 1980 sampai tahun 1995.

(e)          Tingkat suku bunga deposito, kurs  rupiah terhadap mata uang beberapa  negara patner dagang Indonesia tahun 1980 sampai dengan tahun 1995.

6.2  Model Analisis

Dalam  penelitian ini yang dimaksud dengan variabel bebas adalah depresiasi nilai mata uang rupiah (X1), nilai tukar dagang (terms  of trade) (X2) dan neraca perdagangan (X3). Sedangkan pertumbuhan ekonomi  (Y) adalah variabel terikat. Masing-masing  variabel bebas  tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Ini berarti bahwa depresiasi nilai rupiah tidak secara  langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, melainkan harus  melalui  variabel  antara.  Bentuk umum  persamaan  simultan  yang digunakan  dalam menganalisis dampak depresiasi nilai rupiah terhadap nilai tukar dagang dan pertumbuhan ekonomi adalah:

Y  = ƒ(X1, X2,X3) X2 = ƒ(X1, X2.1, X2.2)
X1 = ƒ(X1.1, X1.2) X3 = ƒ(X2 )

dimana:

Y    = Pertumbuhan ekonomi

X1 = Kurs rupiah

X2 = Nilai tukar dagang (terms of trade)

X3 = Transaksi berjalan dalam neraca pembayaran

X1.1 = Jumlah uang beredar

X1.2 = Tingkat suku bunga

X2.1 = Harga ekspor

X2.2 = Harga impor

Oleh karena itu alat analisis yang akan digunakan adalah analisis  jalur  (path analysis). Bentuk  umum  diagram  jalur pengaruh  variabel-variabel  bebas terhadap  variabel  terikat tersebut adalah sebagai berikut:

ÎX1 ÎY
X1.1     PX1x1.1
Rx1.1×1.2 X1 PYX1 Y
PX1x1.2 rX1x2.1 PX2X1            PYX2 PYX3
X1.2 rX1x2.2 X2.1 X2 PX3X2 X3
rx2.1×2.2 PX2x2.2
X2.2
ÎX2 ÎX3

Gambar 1.5        Diagram keterkaitan Depresiasi Nilai Rupiah terhadap Nilai Tukar   Dagang dan Pertumbuhan Ekonomi

Gambar  1.5 di atas merupakan satu struktur yang  terdiri dari 3 sub struktur dengan masing-masing variabel penyebab dan variabel akibatnya.  Sub struktur tersebut adalah:

6.2.1 Hubungan  struktural antara variabel jumlah uang  ber-edar  (X1.1) dan variabel suku bunga  (X1.2)  terhadap variabel fluktuasi kurs mata uang rupiah (X1)

Sub struktur ini merupakan sub struktur yang lengkap yang terdiri  dari dua buah variabel penyebab (X1.1 dan  X1.2)  dan sebuah  variabel  akibat  (X1). Persamaan  struktural  dari  hubungan di  atas  dapat  ditulis sebagai berikut

X1 = PaX1.1 + PbX1.2 + e

Sedangkan bentuk diagram jalurnya adalah:

X1.1 PX1x1.1
rx1.1×1.2 X1
X1.2 PX1x1.2
eX1

Gambar 1.6  Hubungan Struktural Variabel X1.1, X1.2, dan X1

6.2.2 Hubungan  struktural  antara variabel kurs  (X1),  va-riabel  harga ekspor (X2.1) dan variabel  harga  impor (X2.1) terhadap variabel nilai tukar dagang (terms  of trade) (X2)

Sub  struktur  ini merupakan struktur yang  lengkap  yang terdiri dari tiga buah variabel penyebab (X1, X2.1, X2.2)  dan sebuah variabel akibat (X2).  Bentuk persamaan struktural dari hubungan ini adalah:

X2 = PaX1 + PbX2.1 + PcX2.2 + e

Sehingga bentuk diagram jalurnya adalah

X1 PX2X1
rX1x2.2 rX1x2.1 PX2x2.1
X2.1 X2
rx2.1×2.2 PX2x2.2
X2.2
ex2

Gambar 1.7  Hubungan Struktural Variabel X1, X2.1, X2.2,dan X2

6.2.3 Hubungan  struktural  antara variabel kurs  (X1),  variabel  terms of trade (X2), dan variabel neraca  perdagangan (X3) terhadap pertumbuhan ekonomi (Y).

Sub  struktur  ini  juga merupakan  suatu  struktur  yang lengkap yang terdiri dari tiga buah variabel penyebab (X1, X2, X3) dan sebuah variabel akibat yaitu Y.  Bentuk umum persamaan struktural dari hubungan tersebut adalah:     Y = PaX1 + PbX2 + PcX3 + e

Berdasarkan persamaan tersebut, maka digram jalurnya adalah:

eY
X1 PYX1
X2 PYX2 Y
X3 PYX3

Gambar 1.8  Hubungan Struktural Variabel X1, X2, X3, dan Y

Untuk menghitung besarnya  koefisien regresi dari masing-masing  hubungan  struktural  di  atas  akan  digunakan  rumus sebagai berikut:

n n
bYxi = Ci1 S  X1hYh + …. + Cik S XkhYh
h=1 h=1

yang mempunyai hubungan  kausal.   Dengan demikian  koefisien  jalur  variabel-variabel  yang mempunyai hubungan kausal dari  bentuk  diagram sebelumnya dapat ditentukan dengan  rumus sebagai  berikut:

n
S Xih2
h=1
PYXi = bYXi ¾¾ i = 1, 2, …., k
n
S Yh2
h=1

Sedangkan  pengaruh variabel yang lainnya di luar model  dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

PYe = Ö 1- R2Yxi

Dalam hal ini: n
R2YXi = å PYXi rYxi
i=1

Untuk mengukur besarnya koefisien jalur yang bersifat hubungan korelatif digunakan rumus:

N N n
N S XihXjh S Xih S Xjh
H=1
rXiXj = ; i=j =1..,k
N n n N
[nSXih2 (SXih)2] [nSXjh2 (SXjh)2]
h=1 h=1 h=1 h=1

Dari  diagram  jalur sebelumnya,  maka  variabel-vriabel  yang memiliki  hubungan  korelatif adalah : X1.1 dengan  X1.2,  X1 dengan X2.1, dan X2.2 ,X2 dengan X3.1 dan X3.2.

Untuk  menguji  keberartian  koefisien  jalur   tersebut secara ke-seluruhan dilakukan uji Fisher (Uji F) dengan  rumus sebagai berikut:

k
(n-k-1)S PYXi rYxi
i=1
F   =
k
k (1- å PYXirYXi)
i=1

Selanjutnya untuk menghitung keberartian masing-masing  koefisien jalur tersebut digunakan student test (uji t) dengan  rumusan sebagai berikut:

PYXi

ti =

(1- R2YXI-Xk) Cii

—————–

n – k – 1

Selanjutnya  setelah dihitung koefisien jalur  tersebut, maka  bagi koefisien jalur yang tidak bermakna (non   signifikan) akan dihapuskan dan akan dibuat jalur yang baru.   Dari hasil  penyesuaian  tersebut akan dihitung  kembali  koefisien jalurnya dengan menggunakan rumus:

RXiXii = R-1PXi

Dari  hasil  perhitungan  dengan  cara  di  atas,   maka diharapkan  permasalahan seperti yang dikemukakan  sebelumnya akan  dapat terjawab, terutama mengenai arah laju  pertumbuhan ekonomi dengan memperhitungkan pengaruh nilai tukar dagang.

About these ads
  1. July 15, 2013 at 2:33 am

    If you think that you do not have enough time to
    eat breakfast, then you might want to consider waking up an extra fifteen or
    twenty minutes early. Instead of performing a very difficult long workout
    in which you burn many calories and end up hungry, with short burst high intensity exercises your body uses fat as an energy
    source and not carbohydrates. This metabolic rate will usually remain high up to 18
    hours or more after each exercise.

  2. August 4, 2013 at 5:37 am

    Hi there! I just would like to give an enormous thumbs up for
    the nice data you will have right here on this post.
    I will be coming back to your blog for extra soon.

  3. August 26, 2013 at 11:58 am

    What’s up Dear, are you truly visiting this web page on a regular basis, if so after that you will definitely obtain fastidious know-how.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: