Home > Ekonometrik > PENAWARAN EKSPOR KAKAO INDONESIA

PENAWARAN EKSPOR KAKAO INDONESIA


(Persoalan Dummy)

NURHIDAYANI1)

AUGUSTINA KURNIASIH2)

ANIK HERMININGSIH3)

Abstract

This study analyze some factors that influence Indonesian’s export of cacao, the size of the impact, and the elasticity of each variables. Using linier multivariate regression we find that cacao’s exports supply were influenced by domestic production, domestic price, and exchange rate.

  1. Pendahuluan

Kakao merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan dan juga salah satu komoditas ekspor utama sektor pertanian di Indonesia.  Pengembangan kakao ke depan secara global diarahkan pada upaya mewujudkan agribisnis kakao yang efisien dan efektif sehingga tercipta peningkatan pendapatan petani (khususnya petani kakao) dan hasil kakao yang berdaya saing.

Indonesia merupakan produsen kakao dunia pada urutan ke-tiga (lihat Tabel l.) Produksi kako Indonesia menurun pada tahun 2002, namun terus meningkat hingga 2004/2005.

Tabel 1.  Produksi Kakao Dunia, 2001-2005 (000 ton)

Kelompok Negara 2001-2002 2002-2003 2003-2004 2004-2005
Cote d”Ivoire 1.264,7 1.351,5 1.407,2 1.273,0
Ghana 340,6 497,0 737,0 586,0
Indonesia 455,0 410,0 420,0 435,0
Nigeria 185,0 173,2 175,0 190,0
Total Dunia 2.868,4 3.166,7 3.521,6 3.289,0

Sumber           : International Cocoa Organization,  2005

Selain produsen ke-tiga dunia, Indonesia juga merupakan negara pengekpor kakao dunia. Pada tahun 2003/4 Indonesia merupakan pengekspor ke-tiga dunia.

Tabel 2. Eksportir Biji Kakao, 2000/1 – 2003/2004

No. Negara Eksportir Jumlah Ekspor ( 000 ton)
2000/01 2001/02 2002/03 2003/04
1 Cameroon 101,56 95,63 108,19 136,08
2 Pantai Gading 903,39 1.019,25 1.070,98 1.039,48
3 Ghana 306,83 284,68 310,33 608,10
4 Nigeria 149,37 160,29 145,09 161,84
5 Brazil 2,48 3,50 3,59 1,56
6 Rep. Dominika 33,81 40,25 38,39 40,44
7 Equador 57,19 58,86 57,37 85,88
8 Venezuela 7,59 8,20 8,30 7,39
9 Indonesia 326,46 364,81 365,65 314,10
10 Malaysia 17,17 18,45 21,11 11,84
11 Papua New Guinea 38,80 37,92 39,07 38,70
12 Lainnya 42,07 46,80 47,92 74,38
Total 1.986,72 2.138,62 2.215,97 2.519,80

Sumber : International Cocoa Organization, 2004

Jumlah produksi kakao Indonesia pada tahun 2002/2003 menurut Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (2004), sebesar 425.000 ton sedangkan konsumsinya sebesar 12.000 ton, kelebihan produksi ini ditawarkan Indonesia kepada negara lain melalui kegiatan ekspor.  Oleh karena itu secara spesifik masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah :

1)        Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penawaran ekspor kakao Indonesia ?

2)        Seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap penawaran ekspor kakao Indonesia ?

3)        Seberapa besar elastisitas masing-masing faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor kakao ?

II.  TINJAUAN TEORITIS

2.1. Kakao

Kakao merupakan tanaman tropis tahunan yang berasal dari Amerika Selatan.  Dari Amerika Selatan tanaman ini menyebar ke Amerika Utara, Afrika, dan Asia (Anonymous, 2005). Di Indonesia, budidaya kakao diusahakan oleh perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat.  Lokasi perusahaan  perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan Jawa timur.

Beberapa produk olahan yang dapat dihasilkan dari kakao yaitu, cocoa liquor, cocoa butter, cocoa cake dan cocoa powder. Produk tersebut dapat dijelaskan melalui pohon industri kakao, pada Gambar 1.

2.2 Teori Penawaran

Penawaran suatu komoditas, baik barang atau jasa merupakan jumlah komoditas yang ingin dijual pada berbagai tingkat harga di pasar pada jangka waktu tertentu.  Hukum penawaran menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang maka akan semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan oleh para produsen.  Sebaliknya, jika harga rendah maka semakin berkurang jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen.  Hal ini dapat diartikan adanya hubungan searah (positif) antara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang yang akan dijual, ceteris paribus (Gilarso, 1993).

Banyaknya suatu komoditas yang akan dihasilkan dan ditawarkan oleh perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tesebut antara lain : 1) Harga barang itu sendiri, 2)  Harga barang substitusi, 3) Harga faktor produksi, 4) Teknologi , dan 5) Harapan produsen terhadap harga produksi di masa mendatang.

2.3.      Teori Perdagangan Internasional

Menurut Gonarsyah dalam Safitri (2004), ada beberapa faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional (ekspor-impor) suatu negara dengan negara lain.  Faktor-faktor tersebut antara lain, 1) keinginan untuk memperluas pemasaran komoditas ekspor, 2) memperbesar penerimaan devisa negara bagi kegiatan pembangunan, 3) adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditas tertentu, serta 4) adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara karena tidak semua negara mampu menyediakan kebutuhan masyarakatnya.

Adam Smith dalam Tatakomara (2004), menyatakan bahwa perdagangan antar dua negara didasarkan pada keunggulan absolut (absolut advantage).  Jika

SHEEL &

PULP

BAHAN BAKAR
ASSENCE

(FLAVOUR)

PLASTIK FILLER
SINGLE CEEL PROTEIN
COCOA BUTTER
OLEO CHEMICAL
JELLY
ALKOHOL
PEKTIN
GAS BIO
PUPUK HIJAU
VITAMIN D
FATTY ACID
PEKTIN
TAMMIN
LECITHIN
Rumah Tangga
Industri Kimia
Industri Kimia
Industri Kimia
Industri Kimia
Rumah Tangga
Pakan Ternak
Rumah Tangga
In.Kimia/Farmasi
Industri Kimia
Obat-obatan
Industri Kimia
Makanan
Industri Kimia
Industri Kimia
Obat-obatan
Makanan
CONCENTRATE
Kosmetika
Minuman
Makanan
Obat-obatan
POWDER
PASTE
Minuman
Rice
Bars
Confectionary

Gambar 1.  Pohon Industri Kakao

Sumber : Departemen Pertanian, 2001

sebuah negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi sebuah komoditas, namun kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi komoditas lainnya, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditas yang memiliki keunggulan absolut, dan menukarkannya dengan komoditas lain yang memiliki kerugian absolut.

Sedangkan Ricardo dalam Salvatore (2004), menyatakan bahwa perdagangan antar dua negara didasarkan pada keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditas, namun masih tetap  terdapat dasar untuk melakukan  perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.  Negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (ini merupakan komoditas dengan keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih besar (komoditas ini memiliki kerugian komparatif).

2.4. Teori Ekspor

Ekspor suatu negara merupakan selisih antara jumlah komoditas yang tersedia untuk ditawarkan dengan permintaan dalam negeri dan stok pada tahun berjalan.  Menurut Soekartawi (2005), ekspor sebagai bagian dari perdagangan internasional bisa dimungkinkan oleh beberapa kondisi, antara lain :

1)         Adanya kelebihan produksi dalam negeri, sehingga kelebihan tersebut dapat dijual ke luar negeri melalui kebijaksanaan ekspor.

2)        Adanya permintaan luar negeri untuk suatu produk walaupun produk tersebut hanya tersedia sedikit karena adanya kekurangan produk dalam negeri.

3)         Adanya keuntungan yang lebih besar dari penjualan ke luar negeri daripada penjualan di dalam negeri, dikarenakan harga di pasar dunia yang lebih menguntungkan.

4)        Adanya kebijaksanaan ekspor yang bersifat politik.

5)        Adanya barter antarproduk tertentu dengan produk lain yang diperlukan dan tak dapat diproduksi di dalam negeri.

Besarnya ekspor suatu komoditas di pasar internasional dalam perdagangan internasional akan sama dengan besarnya impor komoditas tersebut.  Harga yang terjadi pada pasar internasional merupakan keseimbangan antara penawaran dan permintaan dunia.  Perubahan dalam produksi dunia akan mempengaruhi penawaran dunia dan perubahan dalam konsumsi dunia akan mempengaruhi permintaan dunia.  Kedua perubahan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi harga (Salvatore, 2004).

Banyak faktor yang mempengaruhi penampilan ekspor. Menurut Darmansyah dalam Soekartawi (2005), faktor-faktor ini adalah harga internasional komoditas tersebut, nilai tukar uang (exchange rate), kuota ekspor-impor, kuota, dan tarif serta nontarif.

2.5 Kerangka Pemikiran Operasional

Penawaran ekspor kakao Indonesia dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.  Faktor-faktor tersebut diperkirakan adalah produksi kakao Indonesia, konsumsi kakao domestik, jumlah ekspor kakao tahun sebelumnya, harga kakao domestik, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, serta situasi perekonomian (dummy).  Produksi kakao Indonesia diduga berpengaruh karena bila produksi dalam negeri berlebih maka kelebihan ini dapat ditawarkan ke negara lain melalui kegiatan ekspor. Naik-turunnya jumlah konsumsi kakao domestik diduga berpengaruh terhadap jumlah penawaran ekspor kakao Indonesia. Harga kakao internasional dan harga kakao domestik digunakan dalam penelitian ini, karena dalam hukum penawaran maupun permintaan, harga dapat mempengaruhi jumlah penawaran dan permintaan. Jumlah ekspor kakao pada tahun sebelumnya digunakan sebagai faktor yang mempengaruhi, karena naik turunnya jumlah ekspor kakao pada saat ini dapat diperkirakan oleh jumlah ekspor kakao pada tahun sebelumnya. Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika merupakan faktor pendukung yang memungkinkan terjadinya perdagangan Internasional. Serta Situasi perekonomian sebelum dan setelah terjadinya krisis moneter (Dummy), karena diduga mempengaruhi jumlah penawaran ekspor kakao.  Kerangka pemikiran operasional ditunjukkan pada Gambar 3.

Diolah dengan Program SPSS
Ekspor Kakao Indonesia

Gambar 3. Skema Kerangka Pemikiran Operasional

2.6. Hasil Penelitian Terdahulu

Kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Sambudi (2005), faktor-faktor  yang mempengaruhi ekspor kopi Arabika Indonesia adalah harga ekspor kopi Arabika, harga domestik kopi Arabika, nilai tukar rupiah terhadap dollar, trend waktu, pendapatan perkapita, lag ekspor, produksi, dan dummy.  Semua variabel yang terdapat dalam model ekspor masing-masing berpengaruh nyata terhadap ekspor kecuali pendapatan perkapita dan trend waktu.  Dalam jangka pendek semua variabel dalam model ekspor memiliki nilai elastisitas kurang dari satu.  Sedangkan dalam jangka panjang ekspor kopi Arabika Indonesia responsif  terhadap perubahan harga domestik, nilai tukar, produksi, dan lag ekspor.  Sedangkan ekspor kopi Arabika Indonesia tidak responsif terhadap perubahan harga ekspor.  Peningkatan jumlah ekspor ini disebabkan oleh faktor kurs, yaitu terdepresiasinya rupiah terhadap dollar Amerika yang membuat harga kopi Arabika Indonesia relatif lebih murah (variabel dummy).

Karabain (2001), mengkaji perdagangan kakao Indonesia ke Malaysia.  Ekspor kakao Indonesia ke Malaysia dipengaruhi secara nyata oleh harga kakao Indonesia ke Malaysia, konsumsi kakao Indonesia, dan tidak dipengaruhi secara nyata oleh produksi Indonesia. Sedangkan impor kakao Malaysia dari Indonesia secara nyata dipengaruhi oleh produksi kakao Malaysia, konsumsi kakao Malaysia, dan pendapatan per kapita Malaysia.

III. METODE PENELITIAN

3.1.  Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan menggunakan data deret waktu  (time series).  Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), Departemen Pertanian, dan Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia.

3.2. Analisis Data

Data dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif.  Metode deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan produksi dan perkembangan ekspor kakao Indonesia, sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penawaran ekspor kakao Indonesia.

Metode kuantitatif yang digunakan adalah model ekonometrika dengan menggunakan persamaan tunggal (single equation) dalam persamaan model regresi linier berganda.  Model penawaran ekspor untuk kakao dalam penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut :

JEK = bo+  b1 PDt +  b2 KDt + b3 JEt-1 + b4 HIt + b5 HDt- +  b6 NTt- + b7 D + ε … (1)

Dimana :

PDt = Produksi Domestik Kakao Indonesia (ton) pada tahun t

KDt = Konsumsi Kakao Domestik (ton) pada tahun t

JEt-1 = Jumlah Ekspor Kakao (ton) pada tahun sebelumnya t-1

HIt = Harga Kakao Internasional (US $/ton) pada tahun t

HDt = Harga Kakao Domestik (Rp/ton) pada tahun t

NTt = NIlai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS (Rp/US$) pada tahun t

D       = Situasi Perekonomian, sebelum (0) dan setelah (1) krisis ekonomi

JEK     = Jumlah Ekspor Kakao Indonesia (ton)

ε          = Variable pengganggu

b0 = intersep

b1-b6 = parameter

Tanda parameter yang diharapkan adalah :

b1 > 0, b2 < 0,  b3 > 0, b4 > 0, b5 < 0, b6 > 0, b7 > 0

3.3. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pengelompokan data, perhitungan penyesuaian yang dilakukan dengan program Microsof Excel, kemudian ditabulasikan sesuai dengan keperluan. Data  ditabulasikan  untuk diolah dan dianalisis dengan program komputer SPSS 12.0.

3.4. Pengujian Statistik

Untuk menguji apakah  secara statistik peubah-peubah bebas yang dipilih berpenguruh nyata atau tidak terhadap peubah tidak bebas, digunakan uji statistik-F dan uji statistik-t.  Pengujian statistik-F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel dependen (Gujarati, 2005).  Tingkat signifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 1% dan 5%.  Pengujian juga dapat dilakukan menggunakan distribusi F dengan membandingkan antara nilai kritis F dengan nilai Fhitung yang terdapat pada tabel Analysis of Variance (ANOVA) dari hasil perhitungan komputer.

Mekanisme yang digunakan untuk menguji hipotesis dari koefisien regresi secara serentak adalah :

Ho : b1 = b2 = b3 = …. = bi = 0

(tidak ada pengaruh peubah-peubah dalam persamaan)

Hi : paling sedikit ada satu nilai bi ¹ 0

(paling sedikit ada satu peubah yang mempengaruhi)

Kriteria Uji : Fhitung ≤ Ftabel = terima H0

Fhitung > Ftabel = tolak H0

Jika hasil pengujian menolak H0 berarti minimal ada satu peubah yang berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas.  Sebaliknya jika hasil pengujian menerima H0, maka secara bersama-sama peubah yang digunakan tidak dapat menjelaskan variasi dari peubah tidak bebas.

Pengujian statistik-t digunakan untuk menguji koefisien regresi dari masing-masing peubah apakah secara terpisah peubah ke-i berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas (Gujarati, 2005).  Pengujian statistik-t dilakukan dengan menguji hipotesis terhadap koefisien regresi semua variabel independen. Pengujuian hipotesis dari koefisien regresi masing-masing dilakukan dengan menggunakan uji-t, yaitu dengan hipotesis :

Ho : bi = 0

Hi : bi ≠ 0

Kriteria Uji : thitung ≤ ttabel = terima H0

thitung > ttabel = tolak H0

Jika hipotesis nol ditolak berarti peubah bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas. Sebaliknya jika hipotesis nol diterima maka peubah yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas.

3.5. Pengukuran Elastisitas

Koefisien-koefisien yang diperoleh dari hasil perhitungan regresi selanjutnya dijadikan bahan perhitungan untuk menentukan nilai dugaan elastisitas.  Nilai elastisitas tersebut digunakan untuk mengetahui derajat kepekaan suatu fungsi terhadap perubahan yang terjadi pada variabel-variabel yang mempengaruhi.  Besarnya nilai elastisitas penawaran ekspor kakao pada penelitian ini  ditentukan sebagai berikut :

_    _

E (x) = b ( X / Y )  …………………………………………………………………………………..(6)

Dimana :   E (x) = Elastisitas Y terhadap X

b       = koefisien regresi

_

X      = rata-rata variabel bebas

_

Y      = rata-rata variabel tidak bebas

Apabila nilai elastisitas lebih besar dari satu (E > 1) dikatakan elastis (peka), karena perubahan satu persen peubah bebas mengakibatkan perubahan peubah tidak  bebas lebih  dari satu persen.  Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E <1) dikatakan inelastis, karena perubahan satu persen peubah bebas mengakibatkan perubahan peubah tidak bebas kurang dari satu persen.  Jika elastisitas sama dengan nol artinya inelastis sempurna, jika tak terhingga artinya elastisitas sempurna, dan jika sama dengan satu disebut unitary elastis.

3.6. Hipotesis Penelitian

1)        Produksi kakao diduga berpengaruh positif terhadap jumlah ekspor, karena semakin meningkatnya produksi, maka jumlah yang ditawarkan untuk ekspor akan semakin besar.

2)        Konsumsi kakao domestik diduga berpengaruh negatif terhadap jumlah ekspor kakao, karena jika konsumsi dalam negeri tinggi maka produksi kakao terlebih dahulu digunakan untuk memenuhi permintaan kakao dalam negeri.

3)        Jumlah ekspor kakao pada tahun sebelumnya diduga berpengaruh positif terhadap jumlah ekspor kakao pada saat ini, karena semakin besar jumlah ekspor kakao Indonesia pada tahun sebelumnya, maka akan semakin besar pula jumlah penawaran ekspor kakao Indonesia pada tahun berikutnya.

4)        Harga kakao internasional diduga berpengaruh positif terhadap jumlah ekspor Indonesia, karena semakin semakin tinggi harga kakao di pasar internasional, maka jumlah penawaran ekspor kakao Indonesia akan semakin besar.

5)        Harga kakao domestik diduga berpengaruh negatif terhadap jumlah ekspor kakao Indonesia, karena jika harga domestik meningkat, maka produksi kakao yang dihasilkan akan ditawarkan terlebih dahulu untuk keperluan dalam negeri (meningkatnya penawaran domestik terhadap kakao) yang mengakibatkan penawaran ekspor kakao berkurang.

6)        Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diduga berpengaruh positif terhadap jumlah ekspor kakao Indonesia, dimana peningkatan nilai tukar dollar AS menyebabkan penawaran kakao Indonesia meningkat.

7)        Situasi perekonomian (Dummy) diduga berpengaruh positif terhadap jumlah penawaran ekspor kakao Indonesia, dimana situasi perekonomian yang kondusif dapat meningkatkan jumlah penawaran ekspor kakao Indonesia.

IV. PERKEMBANGAN KAKAO INDONESIA

4.I.  Produksi

Produksi biji kakao Indonesia pernah mengalami penurunan pada tahun 1997 dan 1999, hal tersebut disebabkan terjadinya musim panas dan penurunan luas areal tanaman kakao itu sendiri.  Jika sebelum tahun 1987, produksi biji kakao Indonesia didominasi oleh perkebunan besar Negara dengan porsi 50 sampai 80%, maka semenjak tahun 1987 (lebih dari 50%) pangsa pasar terbesar untuk produksi kakao diduduki oleh Perkebunan Rakyat.

Tabel 3. Perkembangan   Produksi    Tanaman   Kakao   Indonesia  Menurut

Status Pengusahaan, Tahun 1980-2004

Tahun

Perkebunan

Rakyat (PR)

Perkebunan Besar

Negara (PBN)

Perkebunan Besar

Swasta (PBS)

Total

Produksi

(Ton) (%) (Ton) (%) (Ton) (%) (Ton) (%)
1980 1.058 10,29 8.410 81,78 816 7,93 10.284 100
1981 1.437 10,94 10.429 79,39 1.271 9,67 13.137 100
1982 3.787 21,94 11.464 66,42 2.009 11,64 17.260 100
1983 5.401 27,50 11.738 59,77 2.501 12,73 19.640 100
1984 6.229 23,50 16.561 62,49 3.712 14,01 26.502 100
1985 8.997 26,62 20.512 60,69 4.289 12,69 33.798 100
1986 11.761 34,26 18.288 53,28 4.278 12,46 34.327 100
1987 25.841 51,48 17.658 35,18 6.700 13,35 50.199 100
1988 39.757 50,11 24.112 30,39 15.466 19,49 79.335 100
1989 68.259 61,77 26.975 24,41 15.275 13,82 110.509 100
1990 97.418 68,44 27.016 18,98 17.913 12,58 142.347 100
1991 119.284 68,20 35.463 20,28 20.152 11,52 174.899 100
1992 145.563 70,27 35.993 17,38 25.591 12,35 207.147 100
1993 187.529 72,67 40.638 15,75 29.892 11,58 258.059 100
1994 198.001 73,34 42.086 15,59 29.894 11,07 269.981 100
1995 231.992 76,10 40.933 13,43 31.941 10,48 304.866 100
1996 304.013 81,29 36.456 9,748 33.530 8,96 373.999 100
1997 263.846 79,90 35.644 10,79 30.729 9,31 330.219 100
1998 369.887 82,39 46.307 10,32 32.733 7,29 448.927 100
1999 304.549 82,88 37.064 10,09 25.862 7,04 367.475 100
2000 363.628 86,34 34.790 8,26 22.724 5,40 421.142 100
2001 476.924 88,85 33.905 6,32 25.975 4,84 536.804 100
2002 511.379 89,53 34.083 5,97 25.693 4,50 571.155 100
2003 634.877 90,85 32.075 4,59 31.864 4,56 698.816 100
2004* 585.955 90,03 32.881 5,05 32.042 4,92 650.878 100

Sumber : Ditjen Perkebunan, 2005. Statistik Kakao. Departemen Pertanian

Ket   : *) Sementara0

4.2. Perdagangan Kakao Indonesia

Pengembangan tanaman kakao di Indonesia hingga tahun 2003 telah mencapai 964.223 ha dengan produksi 698.816 ton biji kakao kering yang diperkirakan pada tahun 2005 naik menjadi 992.448 ha dengan produksi 652.396 ton biji kakao kering, tersebar di 31 propinsi. Indonesia pada saat ini sebagai negara produsen kakao terbesar ke-tiga dunia setelah Cote d’Ivoire dan Ghana.  Jumlah petani kakao mencakup 1,098 juta kepala keluarga. Ekspor komoditi kakao mencapai nilai US $ 546,56 juta dengan volume 0,367 juta ton pada tahun 2004 (Departemen Pertanian, 2006).

Kelembagaan yang menangani perkakaoan di Indonesia  meliputi Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) yang mewakili petani, Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) yang mewakili pengusaha, Direktorat Jenderal Perkebunan yang mewakili pemerintah, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) yang mewakili lembaga penelitian.

Menurut Askindo 2006, sebagian besar petani kakao belum menjual langsung  hasil panennya kepada perusahaan.  Hal ini disebabkan antara lain, (1) tempat tinggal petani relatif tersebar dan (2) jumlah produksi kakao seorang petani setiap kali panen relatif sedikit (satu sampai lima kilogram per dua minggu).  Mata rantai perdagangan kakao dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Petani kakao yang bertempat tinggal jauh dari Ibukota Kecamatan/Kabupaten biasanya menjual kakao mereka kepada para pedagang pengumpul, karena jumlah kakao yang akan dijual petani tidak lebih dari 20 kg (Departeman Pertanian dalam Karabain, 2001), sehingga menjual langsung kepada para pedagang menjadi tidak efisien, karena memerlukan ongkos angkut  relatif besar. Hal ini akan terus berlangsung selama pengetahuan petani terhadap informasi mengenai kualitas, mutu, serta harga jual kurang.  Oleh karena itu pemerintah perlu memberikan informasi atau penyuluhan mengenai penanganan pascapanen agar hasil produksi mereka menjadi lebih baik sehingga akan memperoleh harga jual yang lebih tinggi.

Pedagang antarkota disini adalah para pedagang yang membeli kakao pada suatu daerah kemudian menjualnya kembali ke luar kota/daerah yang

Gambar 4. Mata Rantai Tataniaga Kakao

Sumber           : Askindo, 2006

membutuhkan suplai barang.  Usaha dagang yang dimaksud adalah usaha yang bergerak pada jual beli biji kakao, sedangkan pedagang perantara dapat diartikan sebagai pedagang kecil, yang umumnya mereka tidak khusus berusaha sebagai pedagang hasil pertanian artinya hanya sebagai usaha sampingan.

4.3. Perdagangan Kakao Dunia

Perdagangan kakao dunia didominasi oleh biji kakao dan produk akhir (cokelat), sedangkan produk antara (cacao butter, cocoa powder, dan cocoa paste) volumenya relatif kecil. Tahun 2001/02, volume ekspor biji kakao mencapai   2,12 juta ton dan re-ekspor 235 ribu ton. Pada periode yang sama, volume ekspor produk akhir (cokelat) mencapai 2,9 juta ton. Sementara volume ekspor kakao butter, kakao powder, dan kakao paste masing-masing sebesar 528 ribu ton,      594 ribu ton, dan 341 ribu ton (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2004).

Eksportir utama biji kakao dunia tahun 2003/04 ditempati oleh Pantai Gading dengan total ekspor 1 juta ton. Eksportir terbesar berikutnya adalah Ghana, Indonesia, dan Nigeria dengan volume masing-masing 608 ribu ton,     314 ribu ton, dan 161 ribu ton. Di sisi lain, importir terbesar biji kakao dunia adalah Belanda dengan volume 561 ribu ton, diikuti Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Prancis, Belgia, dan Inggris dengan volume impor masing-masing    488 ribu ton, 212 ribu ton, 181 ribu ton, 154 ribu ton, 139 ribu ton dan 138 ribu ton. Belanda sebagai importir terbesar biji kakao sekaligus berperan sebagai re-ekspor terbesar biji kakao dunia dengan volume 78,2 ribu ton.

4.4. Perkembangan Konsumsi Kakao Dunia

Konsumsi kakao dapat dibedakan antara konsumsi biji kakao dan konsumsi cokelat. Konsumsi biji kakao dihitung berdasarkan kapasitas pengolahan atau grinding capacity, sedangkan konsumsi cokelat dihitung berdasarkan indeks per kapita.

Dalam perdagangan kakao, konsumsi biji kakaolah yang berkaitan langsung dengan produksi dan interaksi keduanya menentukan harga kakao dunia. Harga kakao bergerak naik jika konsumsi biji kakao lebih besar dari produksinya dan sebaliknya harga kakao akan merosot apabila konsumsi biji kakao lebih kecil dari produksi.

Konsumsi biji kakao dunia sedikit berfluktuasi dengan kecenderungan terus meningkat. Negara konsumen utama biji kakao dunia adalah Belanda yang mengkonsumsi 445 ribu ton pada tahun 2000/01. Konsumsi negara ini menurun menjadi 418 ribu ton tahun 2001/02 dan 440 ribu ton tahun 2002/03.  Namun kembali meningkat pada tahun 2003/04 menjadi 445 ribu ton.

Konsumen besar lainnya adalah Amerika Serikat, diikuti Pantai Gading, Jerman, dan Brazil yang masing masing mengkonsumsi 440 ribu ton, 265 ribu ton, 225 ribu ton, dan 205 ribu ton pada tahun 2000/01. Tahun 2001/02 dan 2002/03 konsumsi negara-negara konsumen utama kakao dunia ini relatif stabil, dan sedikit mengalami penurunan.

Sementara itu konsumsi cokelat dunia masih didominasi oleh negara-negara maju terutama masyarakat Eropa yang tingkat konsumsi rata-ratanya sudah lebih dari 1,87kg per kapita per tahun. Konsumsi per kapita tertinggi ditempati oleh Belgia dengan tingkat konsumsi 5,34 kg/kapita/tahun, diikuti Eslandia, Irlandia, Luxembur, dan Austria masing-masing 4,88 kg, 4,77 kg, 4,36 kg dan 4,05 kg/kapita/tahun (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2004) .

V. HASIL PENELITIAN

5.1. Hasil Analisis Regresi

Hasil analisis regresi menunjukkan adanya beberapa masalah seperti nilai yang dihasilkan tidak sesuai dengan hipotesis yang dibuat, nilai koefisien korelasi personal yang besar dan dapat menimbulkan masalah multikolinieritas, serta adanya autokorelasi yang ditunjukkan oleh nilai Durbin Watson sebesar 3,060.  Adanya masalah tersebut, maka variabel yang tidak sesuai dengan hipotesis dan yang memiliki koefisien personal bernilai besar tidak dimasukkan ke dalam model, dengan menghilangkan variabel tersebut satu-persatu.

Hasil analisis regresi yang dihasilkan pada akhirnya menyisakan hanya 3 variabel yang berpengaruh nyata sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4, dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,892  atau 89,2 %. Nilai ini menunjukkan bahwa 89,2% keragaman ekspor kakao Indonesia dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas tersebut, sedangkan sisanya sebesar 10,8% dijelaskan oleh variable-variabel lain yang tidak masuk ke dalam model. Model persamaan regresi linier berganda yang terdapat pada tabel adalah sebagai berikit.

JEK   =   199.697,003 + 0,255 PD –  0,041 HD + 19,913 NT

Tabel 4. Hasil Analisis Regresi dari Analisis Penawaran Ekspor Kakao Indonesia

NO. Variabel Independent Koefisien

Regresi

thitung

Elastisitas

1 PD 0,255 *1,813 0,327
2 HD -0,041 **-2,712 0,543
3 NT 19,913 * 2,590 0,376
Intercept =    199.697,003

ttabel

(α 1%) = 2,650
R2 =   0,892 Fhit =  44,249 (α 5%) = 1,771
Durbin Watson =   1,782 Ftab (α 1%) =  6,70

Variabel Dependent  :  Penawaran Ekspor Kakao Indonesia

Keterangan                 :  *    (tingkat kepercayaan 95%)

**  (tingkat kepercayaan 99%)

Berdasarkan Uji ANOVA atau nilai Fhitung sebesar 44,249 lebih besar dari Ftabel pada taraf kepercayaan 99%, yang menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.  Hal ini berarti bahwa variable-variabel bebas yang digunakan yaitu produksi domestik, harga domestik, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara bersama-sama mempengaruhi jumlah ekspor kakao Indonesia.

5.2. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor Kakao Indonesia

Berdasarkan penjelasan hasil analisis regresi di atas, maka model penawaran ekspor kakao Indonesia merupakan model yang telah memenuhi asumsi metode kuadrat terkecil biasa (OLS = Ordinary Least Square).

1) Produksi Kakao Domestik

Variabel produksi kakao Indonesia memiliki pengaruh yang positif dengan nilai koefisien  sebesar 0,255 dan nilai thitung sebesar 1,813 (lebih besar dari ttabel 1,771) nyata pada taraf kepercayaan 95%. Koefisien regresi tersebut berarti jika terjadi peningkatan produksi kakao domestik sebesar satu ton dengan asumsi variabel bebas lainnya tidak berubah (ceteris paribus), maka akan meningkatkan volume penawaran ekspor kakao Indonesia sebesar 0,255 ton.

Nilai elastisitas produksi kakao domestik Indonesia adalah sebesar 0,327, artinya apabila produksi kakao domestik ditingkatkan sebesar 1 persen, maka penawaran ekspor kakao Indonesia akan meningkat sebesar 0,327 persen. Nilai elastisitas sebesar 0,327 (< 1) menunjukkan bahwa produksi kakao domestik bersifat inelastis, artinya apabila produksi kakao domestik ditingkatkan maka peningkatan ekspor kakao Indonesia tidak terlalu besar. Keadaan ini menunjukkan bahwa volume penawaran ekspor kakao Indonesia bersifat tidak responsif terhadap produksi kakao domestik.

2) Harga Kakao Domestik

Koefisien regresi dari variabel harga domestik adalah sebesar -0,041 dan nilai thitung sebesar 2,712 (lebih besar dari ttabel 2,650), nyata pada taraf kepercayaan 99%.  Tanda koefisien regresi yang bersifat negatif ini memberi arti bahwa jika terjadi peningkatan harga kakao domestik sebesar Rp. 1 per ton dengan asumsi variabel bebas lainnya tidak berubah (ceteris paribus), maka akan menurunkan volume penawaran ekspor kakao Indonesia sebesar 2,712 ton.

Tanda negatif (-) dari variabel ini sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan sebelumnya. Harga kakao domestik bila dibandingkan dengan harga kakao internasional dapat dikatakan rendah, apalagi ditambah dengan adanya automatic detention yang diberlakukan oleh Amerika terhadap kakao Indonesia. Jika harga kakao domestik tinggi maka akan menurunkan penawaran ekspor kakao Indonesia ataupun sebaliknya.  Oleh karena itu harga kakao Indonesia yang rendah menarik minat para negara pengimpor dan para eksportir akan meningkatkan penawaran ekspor kakao ke negara-negara lain.

Nilai elastisitas harga kakao domestik Indonesia adalah sebesar -0,543, artinya apabila harga kakao domestik ditingkatkan sebesar 1 persen, maka penawaran ekspor kakao Indonesia akan berkurang sebesar    0,543 persen. Nilai elastisitas sebesar 0,543 (lebih kecil dari 1) menunjukkan bahwa harga kakao domestik bersifat inelastis.  Keadaan ini menunjukkan ekspor kakao Indonesia   tidak terlalu responsif terhadap harga kakao domestik.

3) Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS

Variabel nilai tukar memiliki pengaruh yang positif terhadap penawaran ekspor kakao Indonesia dengan nilai koefisien  sebesar 19,913 dan nilai thitung sebesar 2,590 (lebih besar dari ttabel 1,771), nyata pada taraf kepercayaan 95%.  Tanda koefisien regresi yang bersifat positif ini mengartikan bahwa jika terjadi penguatan nilai tukar sebesar satu satuan dengan asumsi variabel bebas lainnya tidak berubah (ceteris paribus), maka akan meningkatkan volume penawaran ekspor kakao Indonesia sebesar 19,913 satuan.  Atau dengan kata lain nilai tukar rupiah memiliki pengaruh yang nyata terhadap jumlah ekspor kakao Indonesia, pada taraf kepercayaan 95%.

Tanda positif (+) dari variabel ini sesuai dengan hipotesis yang dikemukakan sebelumnya. Keadaan ekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari krisis moneter serta situasi politik yang bergejolak menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah.  Terdepresiasinya nilai tukar rupiah memungkinkan harga komoditas dalam negeri menjadi lebih murah sehingga daya saing komoditas pertanian Indonesia di pasar luar negeri menjadi semakin meningkat. Oleh karena itu penawaran ekspor kakao Indonesia dapat meningkat.

Elastisitas sebesar 0,376 (lebih kecil dari 1) menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah bersifat inelastis terhadap volume penawaran ekspor kakao Indonesia. Ini dapat diartikan bahwa peningkatan volume ekspor kakao Indonesia tidak responsif terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :

1)        Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap penawaran ekspor kakao Indonesia adalah produksi kakao domestik, harga kakao domestik, dan nilai tukar.

2)        Koefisien regresi variabel produksi kakao domestik, harga kakao domestik, dan nilai tukar, masing-masing adalah  +0,255, -0,041, dan + 19.913.

3)        Nilai elastisitas dari variabel produksi kakao domestik, harga kakao domestik, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara berturut-turut adalah sebesar 0,327, 0,543, dan 0,376

6.2. Saran

Saran untuk meningkatkan penawaran ekspor kakao Indonesia di masa yang akan datang, adalah 1) pemerintah perlu mempertimbangkan kembali  pemberlakuan pajak ekspor untuk kakao, 2)menghapus  beberapa pungutan yang bermasalah, seperti pungutan antar pulau, pungutan antar daerah, dan sumbanganpihak ke-tiga

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2005. “Sejarah Singkat Kakao (Theobroma cacao L)”. Cocoa and Chocolate News.  Edisi 1, Juni.  Jakarta. Halaman 26 – 27

Assosiasi Kakao Indonesia. 2005.  Prospek Agroindustri Kakao Indonesia Di Pasaran Dunia Sampai Dengan 2010.  ASKINDO.  Jakarta

Bun.  2005.  Kakao Dunia Kurang Sempurna Tanpa Kakao Indonesia.  http: //www.kapanlagi.com

Departemen Pertanian. 2001.  Kebijaksanaan Strategis dan Program Pengembangan Produksi Perkebunan (Rencana Strategis dan Program Kerja tahun 2001-2004).  Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Deptan.  Jakarta

—————————-      2005.  Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao.  http: //www.litbang.Deptan.go.id

Downey, W. David dan Steven P. Erickson. 1992. Manajemen Agribisnis. Erlangga. Jakarta

Gilarso, T.  2003.  Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Mikro (jilid 1).  Kanisius.  Yogyakarta

Gujarati, Damodar.  2005.  Ekonometrika Dasar (terjemahan).  Erlangga.  Jakarta

International Cocoa Organization. 2005.  Quarterly Buletin of Cocoa Statistic.  ICCO. London

Karabain, Ahmad Petri Bin.  2001.  Kajian Perdagangan Kakao Indonesia Ke Malaysia .  Skripsi (tidak dipublikasikan).  Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.  IPB.  Bogor

Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2004. Kakao Indonesia Dikancah Perkakaoan Dunia. November 2004. Jakarta

Safitri, Hilda.  2004.  Analisis Penawaran Ekspor Komoditi Pertanian Indonesia ke Singapura, Malaysia dan Thailand. Skripsi (tidak dipublikasi).  Jurusan Departemen Ilmu-ilmu Ekonomi Pertanian.  Fakultas Pertanian.  IPB.  Bogor

Salvatore.  2004.  Ekonomi Internasional (jilid 1).  Erlangga.  Jakarta

Sambudi, Selo.  2005.  Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi dan Ekspor Kopi Arabika Indonesia.  Skripsi (tidak dipublikasikan).  Jurusan Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.  IPB.  Bogor

Soekartawi.  2005.  Agribisnis Teori dan Aplikasinya.  RajaGrafindo Persada.  Jakarta

Tatakomara, Edwin.  2004.  Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ekspor Komoditi Teh Indonesia, Serta Daya Saing Komoditi Teh Di Pasar Internasional. Skripsi (tidak dipublikasikan).  Jurusan Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.  Fakultas Pertanian.  IPB

About these ads
  1. ahmad petri
    July 24, 2010 at 6:57 pm

    saya sangat berterima kasih karna mengunakan tesis saya sebagai rujukan,gw ngak tau gaimana nak publikasi tesis saya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: