Archive

Archive for July, 2010

THE ANALYSIS OF COMPANY CHARACTERISTICS INFLUENCE TOWARD CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY IMPLEMENTATION

July 26, 2010 Comments off

Teori Akuntansi

July 26, 2010 1 comment

1
STIE YKPN Yogyakarta
Jl. Seturan, Depok, Sleman, Yogyakarta – 55281
Telp. (0274) 486321, (0274) 486160; Fax (0274) 486081
Website: http://www.stieykpn.ac.id
Teori Akuntansi
Jurusan Akuntansi
Semester 1 Tahun Akademik 2009/2010
A. Tujuan
Mata kuliah ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan rerangka teoritis akuntansi keuangan, sehingga
mampu menjelaskan mengapa praktik akuntansi berjalan seperti sekarang. Setelah mengikuti mata kuliah ini
mahasiswa diharapkan:
1. mempunyai pengetahuan teoritis yang kuat agar pengetahuan teknis yang dimiliki menjadi semakin
bermakna
2. mampu memecahkan berbagai masalah akuntansi dengan cara yang rasional dan berlandaskan pada
penalaran yang jelas dan valid
3. mempunyai wawasan akuntansi yang luas sehingga mampu menerapkan struktur akuntansi
4. mampu memberi kontribusi untuk memperbaiki praktik akuntansi yang sedang berjalan
B. Deskripsi
Mata kuliah ini membahas proses penalaran dalam membentuk rerangka konseptual yang menjadi landasan
praktik akuntansi. Pembahasan meliputi institusionalisasi pembentukan teori akuntansi, penalaran ilmiah dan
proses pengembangan teori akuntansi. Penalaran, perekayasaan dan praktik akuntansi yang berjalan dalam
wilayah tertentu membentuk struktur akuntansi
C. Metode Kuliah
Metode pengajaran dilakukan dengan cara ceramah dan diskusi kelas. Untuk membantu pemahaman setiap
materi yang diajarkan khususnya untuk materi konsep, pada pertemuan awal, didahului dengan ceramah
kemudian diskusi singkat. Pada pertemuan berikutnya kuliah didahului dengan diskusi singkat materi pada
pertemuan sebelumnya. Untuk materi yang perlu pemahaman praktik, dilakukan dengan diskusi kelompok.
Kelas akan dibagi berdasarkan kelompok yang ditugasi menyusun ringkasan mata kuliah dan
mempresentasikannya di depan kelas yang akan dibahas oleh kelompok lain dan seluruh peserta kelas
D. Peraturan Kelas
1. Kehadiran minimum mahasiswa dalam temu muka kelas adalah 75%
2. Apabila kehadiran mahasiswa kurang dari 75% sampai dengan 50% dari jumlah temu muka kelas
(75%>kehadiran =>50%), nilai akhir akan diturunkan satu tingkat
3. Apabila kehadiran kurang dari 50% jumlah temu muka kelas dianggap tidak memenuhi syarat, sehingga
tidak mendapatkan nilai (nilai=”-“)
4. Mahasiswa harus masuk sebelum dosen masuk ke dalam kelas.
5. Sopan santun dalam kelas harus tetap dijaga
6. Mengenakan pakaian formal sopan dan rapi, bersepatu dan baju berkerah
7. Selama kuliah berlangsung dilarang menghidupkan alat komunikasi
8. Tanda tangan presensi tidak boleh diwakilkan oleh orang lain dengan alasan apapaun
9. Setiap kecurangan dalam tes tidak dapat diberi toleransi dan yang bersangkutan dinyatakan gugur
2
E. Evaluasi
Partisipasi Kelas 15%
Ringkasan Materi Kuliah (RMK) 10%
Presentasi 15%
Ujian Tengah Semester 30%
Ujian Akhir Semester 30%
Gradasi Penilaian:
A 81 – 100
B 66 – 80
C 56 – 65
D 41 – 55
E 0 – 40
F. Daftar Pustaka
1. Eldon S Hendriksen, Accounting Theory, 5th Ed, Homewood, Il. Richard D. Irwin. Inc. 1992 (H)
2. WA Patton and AC Littleton, Corporate Accounting Standard, American Accounting Association, 1940
(P)
3. Kam, Vernon, Accounting Theory, 2nd Ed, John Wiley & Sons.Inc. 1990 (K)
4. Belkoui, Ahmed Riahi, Accounting Theory, 5th Ed, South-Western, 2004 (B)
5. Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No.1, High Ridge
Park, Stamford, Connecticut (SFAC No.1)
6. Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No.2, High Ridge
Park, Stamford, Connecticut (SFAC No.2)
7. Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No.5, High Ridge
Park, Stamford, Connecticut (SFAC No.5)
8. Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No.6, High Ridge
Park, Stamford, Connecticut (SFAC No.6)
9. Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan
G. Topik Per Pertemuan
Tatap
Muka
Materi Kuliah Tugas atau Bahan Diskusi Sumber
1 Penjelasan Silabus
Arti Penting Akuntansi dan Lingkungannya
H 1, K 2
2 Metodologi Akuntansi H 1, K 16, B 2
3 Beberapa Pendekatan Teori Akuntansi RMK H 1, K 16, B 2
4 Klasifikasi Pendekatan Teori Akuntansi H 1, K 16, B 2
5 Rerangka Konseptual RMK H 5, B 6
6 Rerangka Konseptual H 5, B 6
7 Tujuan Pelaporan Keuangan bagi
Organisasi Bisnis
SFAC No. 1
8 Karekteristik Kualitatif Laporan Keuangan SFAC No. 2, K 17
9 Elemen Laporan Keuangan SFAC No. 6, K 4
10 Kriteria Pengakuan dan Pengukuran SFAC No. 5
11 Konsep Dasar (Fundamentals) RMK H 5, B 6
12 Standar Akuntansi Keuangan P 1, PSAK, K 18
13 Konsep Dasar Akuntansi RMK P 2, H 5, S 5
14 Konsep Dasar Akuntansi P 2, H 5, S 5
Ujian Tengah Semester
15 Manfaat Informasi Akuntansi bagi Investor K 2
16 Manfaat Informasi Akuntansi bagi Kreditor K 2
17 Konsep Laba: Berbagai Pendekatan Teori H 10, K 7
18 Konsep Laba: Penyajian Informasi Laba H 10, K 7
19 Revenue & Gains: Pengakuan dan Pengukuran H 11, K 8
20 Expenses & Losses: Pengakuan dan Pengukuran H 11, K 9
3
21 Laporan Posisi Keuangan: Beberapa Pendekatan H 13
22 Laporan Posisi Keuangan: Klasifikasi dan Tujuan H 13
23 Aset: Pengakuan dan Pengukuran H 14, K 4, K 5
24 Utang: Pengakuan dan Pengukuran H 19, K 4, K 5
25 Modal: Pengertian dan Teori Modal H 22, K 10
26 Perubahan Modal Peningkatan, Penurunan, EPS H 23, K 10
Ujian Akhir Semester

Categories: Akuntansi Islam Tags:

WHAT FACTORS AFFECT HONG KONG SMALL TO MEDIUM ENTERPRISE (SME) TRADING FIRMS’ SUCCESSFUL EXPANSION OF THEIR BUSINESS TO CHINA?

July 26, 2010 9 comments

Master of Arts in International Accounting
Final Research Proposal
Submit to Dr. Neale G. O’Connor
By Stanley T C Lau
Year one MAIA student
City University of Hong Kong
Mobile: 9026 5409
File Name: RMA-SMEexpandtoChina-Stanley.doc
10 December 2001
Address for correspondence:
Unit A, 23/F., Easy Tower,
609-611 Tai Nan West Street,
Lai Chi Kok, Kowloon.
PHONE : (852) 8208 8928 FAX : (852) 2780 3811
e-mail : stanley.lau.ac@student.cityu.edu.hk
1
Abstract
The concern of the strategic position of Hong Kong trading companies in China market has been a hot topic for business practitioners operating around the Far East Market (Li, 2001). The author is currently a management consultant for some Hong Kong SME trading and manufacturing firms. Most of these firms have, during the past 10 years expanded their business to China. The author uses interview and case study method, draws on internationalization theory (Dunning, 1981) and using the perspectives of network and transaction cost theory to explain and examine the factors that affect the successfulness of Hong Kong SME trading firms when they expand their business to China. By drawing on the independent variables such as firm size, networks, proximity, ethnicity, language, entry mode, knowledge of market and free cash flow, impacts are investigated to the dependent variable – firm performance (expressed in terms of rate of return on assets) in order to evaluate the successfulness of expansion. The study also examines what factors are favorable and pertinent to the expansion and the possibility of further research in giving an answer to the question of how to do a successful business in China by Hong Kong SME trading firms.
2
Introduction & Motivation
China has a very potential market for attracting Foreign Direct Investment (FDI) as evidenced by the high level of investments from different countries showed in Table 1 below. Hong Kong, because of the change of economic environment and its proximity to the mainland China, a lot of companies in Hong Kong have been considering expansion to China.
In Li (1995) cited in Kui-Wai Li’s article: The changing Economic Environment in the People’s Republic of China, he argues that the Austerity plan in 1995 could be boiled down to a few objectives. One of the main targets is to use monetary control and credit restrictions as the chief way to cool down the economy. However, the side effect would be a hindrance to SMEs in Hong Kong when they tried to expand their business to China. Table one shows that Hong Kong is the region that has the highest level of investment in China. However, you can see only stunted growth or even negative growth from the 5 largest investing countries reported from 1993 through 1997.
As a management consultant for some Small Medium Enterprises (SMEs) trading and manufacturing firms in Hong Kong, I found that a lot of my clients consider expansion when they want to increase their competitive advantages or even survivability (see figure 1). However, a quite high percentage of my clients become failure in their course of expansion. For the period from 1993 – 2000, there were 10 out of the 14 SMEs from the portfolio of my clients failed in their China business ventures or even went into company liquidation after their expansion to China (their coded names and industries are listed in appendix 4).
The author was curious by the phenomenon and would like to have a study on the factors affect Hong Kong SME trading firms successful expansion of their business to China.
3
Table 1 – Growth Trend for the five Largest Foreign Direct Investments in China
(US$ Million)
1993
1994
1995
1996
1997
HK/ Macau
17,861.3
20,174.8
20,624.9
21,457.9
21,954.4
Taiwan
3,138.6
3,391.0
3,165.2
3,482.0
3,342.3
USA
2,063.1
2,490.8
3,083.7
3,444.2
3,461.2
Japan
1,324.1
2,075.3
3,212.5
3,692.1
4,390.4
Singapore
490.0
1,179.6
1,860.6
2,247.2
2,607.0
Source: China Statistical Yearbook, Beijing, various years.
Extracted from Oliver H.M. Yau and Henry C. Steele, (2000), China Business
Figure 1 – Decision of Hong Kong SME Trading Firms to expand
Hong Kong
SME Trading Firms
PROFITABLE
LOSS
Stay as it is
Out of Business
Stay as it is
SUCCESS
FAIL
EXPANSION
Lower percentage Higher percentage
4
Brief Literature Review
An examination of the literatures about Hong Kong SME trading firms’ successful expansion to China, there virtually no article around provides a clear avenue towards this direction. Instead, there are quite a lot of articles focused on Internationalization, Competitiveness and Growth on SME trading firms in different jurisdictions found.
Li, 2000 gave the author a basic block to begin with because it illustrated from a various angles about how Western manufacturer would like to access the China market through Hong Kong SME trading firms (as an intermediary). In the research by Li, network (proximity), experience (knowledge of market) and transaction cost (Free cash flow and size) are held out as important independent variables to have effects on the Western manufacturer’s choice of Hong Kong trading firms as an intermediary to China.
Another researchers Sylvie and Desiree (2001) also endorsed that firms will develop network relationships organically to internationalize. Siu (2001) argues that owner-manager’s activities have a bearing on the expansion and marketing in China. Thomas Man et al. (2002) also proposed that entrepreneurs commitment competencies, relationship, opportunity, competitive scope and organizational capabilities have a positive impact on the firm performance. Ahmed (1998) found that the degree of internationalization is positively related to firm performance. However, no literature has mentioned on the factor: language in their studies of expansion or internationalization.
In conclusion, the fundamental question raised in this paper is what factors affect the successfulness of Hong Kong SME trading firms when they expand their business to China. For reference, you may also find a summary of some important literature review in appendix 1 attached at the end.
Theoretical Framework
Li (2001) used three perspectives namely network, transaction cost and resource-based to identify that among the other things (inimitability, flexibility, opportunity costs) experience (knowledge of the market) and transaction costs (e.g. size of the firm, proximity, network and language), are positively related to the tendency that the Western firms will use Hong Kong trading firms as an access to the China market. By the same token, when the Hong Kong SME trading firms consider an expansion to China, the above factors will be favorable to them for expansion.
5
The eclectic theory of Dunning (1981) maintains that the firm possessing ownership and location advantages uses them in conjunction with other factor inputs existing in the foreign country.
Besides, there are a lot of strategic factors (see hypotheses below) I reckon most important to SME trading firms which affect them very much on their successful expansion of their business to China. A detail study and analysis to these factors are considered very useful and helpful for SME trading firms in Hong Kong of which intended an expansion in China.
Hypotheses
On the basis of theoretical approaches presented above, I find that the eight independent variables have great impact on the successfulness of Hong Kong SME trading firms’ expansion of their business to China. Therefore, I wish to hypothesize as follows:
H1: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the stronger the network of the firm with China, the better the performance of the firm would be after expansion.
H2: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the bigger the size of the firm, the better the performance of the firm would be after expansion.
H3: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the more the free cash flow of the firm is available, the better the performance of the firm would be after expansion.
H4: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the nearer of the firm to its place of expansion in China, the better the performance of the firm would be after expansion.
H5: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the closer the place of expansion to the origin of the owner manager (ethnicity), the better the performance of the firm would be after expansion.
H6: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the better the understanding of the language of the place of expansion by the owner manager, the better the performance of the firm would be after expansion.
6
H7: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the simpler of the entry mode (such as sole ownership instead of joint venture), the better the performance of the firm would be after expansion.
H8: Upon expansion of the Hong Kong SME trading firm to China, the more the experience (knowledge of market) of the owner manager towards the place of expansion in China, the better the performance of the firm would be after expansion.
Figure 2 – Framework of Study
Independent Variables
Dependent Variables
1. Networking
2. Size
3. Free Cash Flow
4. Proximity
5. Ethnicity
6. Language
7. Entry Mode
8. Knowledge of Market
• Duration of expansion in China
• Duration of continuous expansion in China
• Firm performance of expanded China business
Extraneous Variables
Environmental Factors
Product
Market
Competition
7
Method of Study
A plan to use case study as the main analysis tool in order to understand the main impact of the factors is considered to be desirable. Interviews to the owner managers of my client firms who has China venture experienced will be conducted (appendix 4). Survey questionnaires (appendix 2) and interview will be used together for data collection. Survey questionnaires are designed in such a way that subject firm’s owner manager or chief executive officer can respond according to their actual experience in the firm. Questionnaires are structured in order to acquire perceptual answers as well as factual answers e.g. rate of return to assets.
A longitudinal study is planned to make sure factors are definitely correlated to the dependent variable (successful expansion) over a period of time.
Referencing
John H. Dunning (1981), Trade, location of economic activity and the multinational enterprise: A search for an eclectic approach, Readings in International Enterprise pp250-274
Kua-Wai Li (2000), The Changing Economic Environment in the People’s Republic of China, China Business: Challenges in the 21st Century edited by Oliver H.M. Yau and Henry C. Steele pp29-67
Peter J. Buckley and Malcolm Chapman (1996), Theory and Method in International Business Research, International Business Review Vol. 5, No. 3, pp233-245
Per-Anders Havnes and Knut Senneseth (2001), A Panel Study of Firm Growth among SMEs in Networks, Small Business Economics 16: pp293-302
Lee Li (2001), Networks, Transactions, and Resources: Hong Kong Trading Companies’ Strategic Position in the China Market, Asia Pacific Journal of Management, 18, pp279-293
Wai-Sum Siu (2001), Small Firm Marketing in China: A Comparative Study, Small Business Economics 16: pp279-292
Sylvie Chetty, Desiree Blankenburg Holm (2000), Internationalization of small to medium-sized manufacturing firms: a network approach, International Business Review 9 pp77-93
8
Thomas W.Y. Man, Theresa Lau and K.F. Chan (2002), The competitiveness of small and medium enterprises: A conceptualization with focus on entrepreneurial competencies, Journal of Business Venturing 17 pp123-142
Torben Pedersen and Bent Petersen (1998), Explaining gradually increasing resources commitment to a foreign market, International Business Review 7 pp483-501
Ahmed Riahi-Belkaoui (1998), The effects of the degree of internationalization on firm performance, International Business Review 7 pp315-321
Dave Crick, Shiv Chaudhry and Stephen Batstone (2001), An Investigation into the Oversea Expansion of Small Asian-Owned U.K. Firms, Small Business Economics 16: pp75-94
George Tesar and A.H. Moini (1998), Longitudinal study of exporters and nonexporters: A focus on smaller manufacturing enterprises, International Business Review 7 pp291-313
Berrin Dosoglu-Guner (2001), Can organizational behavior explain the export intention of firms? The effects of organizational culture and ownership type, International Business Review 10 pp 71-89
9
Appendix 1 – Literature review Table
Article
Theory and Model
Basic research question
Sample
Nations implicated, sectors compared, timeframe etc
Results
1. Networks, Transactions, and Resources: Hong Kong Trading Companies’ Strategic Position in the China Market
Use network, transaction costs and resources base perspectives to hypothesize their relationship towards Western manufacturing firms tendency to use Hong Kong trading firm as export intermediaries
What is the strategic position of Hong Kong Trading companies?
21 cases were collected and dividedinto 4 groups for case study andcomparison purpose.
Results were found to be in support of the hypotheses: Basically, the research wanted to prove that western manufacturers are happy to enter the China market by way of Hong Kong trading companies due to the later’s good networks, and their comparative low transaction costs in using them and their resources.
2. Small Firm Marketing in China: A Comparative Study
Use Chinese cultural value to explain the marketing performance of small firms in China
What are the factors affect the marketing performance of small firms in China
Use semi-structured personalinterview for 20 different cases
The research results approved that the business philosophy of Chinese small firms, is sales or production oriented. The specific politico-economic structure also makes Chinese small firms aware of the importance of good relationship with customers, government officials and other business associates. In short, the factors are Chinese cultural values, politico-economic environment, SEO dominated environment and industry sector.
3. Internationalisationof small to medium-sized manufacturing firms: a network approach
The basic assumption of this paper is that business takes place in a network setting, where different business actors are linked to other through direct and indirect business relationship.
How do firms use business networks when they internationalize?
Based on a longitudinal studyconducted in 1992-1995 of 4manufacturing firms in New Zealand
By using Johnson and Mattsson’s (1988) model as a framework, it provides an understanding of four different ways in which firms internationalize, and how both firm and market characteristics influence this process.
10
Article
Type of Study
Basic research question
Sample
Nations implicated, sectors compared, timeframe etc
Results
4. Hong Kong’s China-invested companies and their reverse investment in China
Descriptive Research – based on field survey results
Non-academic research
What are the characteristics of Hong Kong’s China-invested companies and their reverse investment in China
Filed survey administered byquestionnaires and follow up byinterviews was conducted in 1993. Thirty CICs were identified through personal connections. Only 8 managers among the 22 respondents who returned the questionnaires.
Characteristics are described
5. International management strategies of Chinese multinational firms
Descriptive Research
Non-academic research
What are the characteristics of the International management strategies of Chinese multinational firms
40 of the most frequently quotedChinese companies manufacturing operations abroad were selected on the basis of information collected from the records of unofficial sources (empirical findings)
with Characteristics are described.
11
Appendix 2 – Questionnaire
Questionnaire on what factors affect Hong Kong SMEs trading firms when they expand their business to China?
The following questionnaire will be sent to owner managers of SME trading companies in Hong Kong whom has expanded an operation in China (e.g. representation office or manufacturing plant etc.)
Please answer the following questions:
1. Where is your operation in China? ________________________________
2. What is the nature of your operation in China? ______________________
(e.g. representation office, trading firm or factory etc.)
3. Why do you have to set up an operation in China ____________________
4. What are the rates of return on assets of your company 3 years before the expansion?
____________________________________________________________
5. What are the rates of return on assets of your company 3 years after the expansion?
____________________________________________________________
Please circle a number from the following statements in which you feel appropriate.
1. Strongly Agree 5. Fairly Disagree
2. Agree 6. Disagree
3. Fairly Agree 7. Strongly Disagree
4. Neutral
1.
Good networking enables you to expand more efficiently and effectively to China.
1
2
3
4
5
6
7
2.
Due to the smaller size of your company, you are easy in expanding you business to China.
1
2
3
4
5
6
7
3.
Your understanding of the language gives you an advantage in expanding to China.
1
2
3
4
5
6
7
4.
The situation of your company in Hong Kong does not give you an advantage in expanding to China.
1
2
3
4
5
6
7
5.
As a Chinese in Hong Kong, you think it is not an advantage for you to expand to China.
1
2
3
4
5
6
7 12
6.
Your knowledge of China market gives you more confident in expanding to China.
1
2
3
4
5
6
7
7.
A better free cash flow in your Hong Kong Company gives you better strength in expanding to China. (Free cash flow = net operating income + change of investment on operating assets)
1
2
3
4
5
6
7
8.
A different entry mode for your expansion to China might not affect your growth in China.
1
2
3
4
5
6
7
Thank you for your time
13
Appendix 3 – Comments from Dr. Neale G. O’Connor
Research Question and Motivation
1. Conflicts of motivation and the research question.
2. Clarify whether the study concentrates on factors affect SMEs decision to expand their business to China or factors affect how SMEs expand their business to China.
3. Provide Statistics to support the study. (e.g. how much % of SMEs expand to China failure, or how much % growth of SMEs expand to China.
Framework of Study
1. Some of the independent variables (IV) cited are in fact theory rather than IV (e.g. transaction costs)
2. An example for IV should be size.
3. Suggestion for a better and more interesting dependent variable (DV) would be “the duration of expansion of SMEs to China” or “the duration of continuous expansion of SMEs to China”.
Method of Study
1. For a study of fewer building blocks and more preliminary study like this, only CASE STUDY and INTERVIEW methods are preferred.
2. Longitudinal Study is also recommended if the study of how SMEs’ decisions to expand into China is varied over time.
Revised Research Question
What factors affect Hong Kong SME trading firms’ successful expansion of their business to China?
14
Appendix 4 – List of failed projects in expansion to China 15

MANAJEMEN LABA : BUKTI DARI SET KESEMPATAN INVESTASI, UTANG, KOS POLITIS, DAN KONSENTRASI PASAR PADA PASAR YANG SEDANG BERKEMBANG

July 26, 2010 Leave a comment

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 1

Zaenal Fanani
Universitas Airlangga Surabaya
Email : zaenal_ppsub@yahoo.com
ABSTRACT
The aim of this study is to prove whether manager manage earning for the purpose of informative or target opportunistic. Research also investigate whether investment opportunity set influences choice of manager to report as opportunistic to hide performance or to report earning more informative concerning to debt, political cost, market share and earning.
Sample of this research were chosen by using purposive sampling of 350 manufacturing business listed in the Jakarta Stock Exchange, start from 1997 up to 2002. Structural Equation Modelling (SEM) by using program of Analysis of Moment Structures (AMOS) is the appropriate statistical technique to examine pattern relation of formed model
The results show that earning management, political cost, market share and earning have a significant effect to share price, whereas investment opportunity set does not have a significant effect to share price. From some variables which influence earning management, only the debt having a significant effect while other variable (i.e., invesment opportunity set, political cost, market share) do not show significant outcome. And for the variable influencing earning only debt and the market share which significant while other variable that is invesment opportunity set and political cost do not show influence which significant.
This study indicates that earning management conducted by manager in in Developing Market (Indonesia) represent informative earning management which means all investor have more own belief in earning reporting, but this research cannot prove that company owning high of investment opportunity set tend to conduct informative earning management.
Key Words : Earning Management, Investment Opportunity Set, Debt, Political Cost, and Market Share
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 2
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba, dan laporan ekuitas yang disusun berdasarkan akrual serta laporan arus kas yang berdasarkan dasar kas. Oleh karena itu, dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba (earnings) yang diinginkan. Generally accepted accounting principle (GAAP) atau Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) juga memberikan keleluasaaan bagi manajer untuk memilih metode akuntansi yang akan digunakan dalam menyusun laporan keuangan (Veronica, 2003:328). Pilihan manajerial tersebut dapat memicu manajer untuk melakukan perilaku manajemen laba informatif (informative earning management) atau manajemen laba oportunistik (opportunistic earning management). Pilihan manajer mengenai manajemen laba menggambarkan bahwa set kesempatan investasi (Investment Opportunity Set, dalam tulisan ini untuk selanjutnya disebut sebagai IOS) mempengaruhi peristiwa kontrak, yang pada gilirannya mempengaruhi pilihan manajer atas metode akuntansi yang digunakan (Watts dan Zimmerman, 1986; Zimmer, 1986).
Meskipun perbedaan ex-post yang jelas antara dua motivasi tidaklah mungkin, dalam jangka panjang investor rasional bisa membandingkan pelaporan laba dengan kinerja aktual dengan cara berkesinambungan dan menyaring interpretasinya dari pelaporan laba oleh manajemen. Jika para manajer sebuah perusahaan secara khusus dimotivasi oleh sebuah keinginan untuk memberikan informasi pada para investor, kinerja masa depan dari perusahaan lebih serupa dengan aliran pelaporan laba dan para investor akan lebih memiliki kepercayaan dalam pelaporan laba. Di sisi lain, jika para manajer sebuah perusahaan secara khusus termotivasi oleh keinginan untuk menyembunyikan informasi dari investor, kinerja masa depan dari perusahaan itu nampaknya tidak akan makin serupa dengan aliran pelaporan laba dan para investor akan memberikan kepercayaan yang kurang pada pelaporan laba. Hal ini memberikan cara untuk membedakan motivasi dari manajer. Hal-hal lain menjadi sama, perusahaan yang para investornya menetapkan discretionary accrual secara lebih positif nampaknya memiliki lebih banyak K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 3
manajemen laba oportunistik. Dengan kata lain, perbedaan motivasi manajemen laba oportunistik ini nampaknya memiliki konsekuensi ekonomi berbeda yang secara khusus diukur oleh reaksi investor dalam pasar modal yang efisien. Literatur detail yang telah ditulis oleh DeAngelo (1988) mengesankan bahwa para manajer menggunakan akrual secara oportunistik untuk menyembunyikan kinerja dan hal ini nampaknya mengakibatkan reaksi pasar negatif. Namun, Dechow (1994) menunjukkan bahwa laba berbasis akrual memberikan pengukuran istimewa atas kinerja perusahaan daripada aliran kas. Subramanyam (1996) menunjukkan bahwa, secara rata-rata, nilai pasar discrecionary dan non discrecionary bagian dari akrual. Namun, literatur tersebut tidak menjelaskan apakah perusahaan dengan karakteristik berbeda menampilkan tingkat manajemen laba informatif dan manajemen laba oportunistik yang berbeda. Sementara dalam penelitian ini, akan diselidiki bagaimana pertumbuhan perusahaan, yang disebut set kesempatan investasi, dihubungkan perilaku manajemen laba informatif dan manajemen laba oportunistik berdasarkan hasil penelitian Gul et al., (2003), Riahi-Belkoui (2003), dan Nuswantara (2004) dengan menggunakan perusahaan di Indonesia.
Penelitian ini dimotivasi oleh beberapa alasan sebagai berikut : pertama, menguji kembali teori manajemen laba yang membahas dari sisi set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar pada pasar yang sedang berkembang, khususnya pasar modal di Indonesia. Penelitian ini menindaklanjuti penelitian sebelumnya (Cahan, 1992, Rajgopal, 1999; Gu, 2002; Gul, et al., 2003; Riahi-Belkoui, 2003) yang telah dilakukan di negara yang berkembang, sementara Nuswantara, (2004) menguji di pasar indonesia (pasar yang sedang berkembang), namun Nuswantara (2004) hanya terbatas pada pengaruh konsentrasi pasar dan hutang terhadap manajemen laba dan sekaligus untuk melihat konsistensi hasil dari peneliti sebelumnya dan berdasarkan pada obyek penelitian berbeda yaitu di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini bersifat extended replication, yaitu mereplikasi dari penelitian Gul et al. (2003) dengan menambah variabel baru dari hasil penelitian Nuswantara (2004) dan hipotesis kos politis dalam Cahan (1992). Kedua, peneliti ingin mengetahui pengaruh set kesempatan investasi terhadap manajemen laba yang mengkaitkan variabel set kesempatan investasi dengan kos politis, dan konsentrasi pasar sebagai diterminant penentu set kesempatan investasi dan manajemen laba, ketiga, pengukuran untuk set kesempatan investasi dalam
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 4
penelitian ini merupakan perluasan dari penelitian Gul, et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) dan keempat, penelitian ini menguji pengaruh masing-masing variabel independent terhadap variabel dependen dilakukan secara simultan dengan menggunakan Analysis Moment Structure (AMOS) 4.0
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a) apakah set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontibusi terhadap set kesempatan investasi?, b) apakah manajemen laba, set kesempatan investasi, utang, kos politis, konsentrasi pasar, dan laba berpengaruh terhadap harga saham?, c) apakah set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar berpengaruh terhadap manajemen laba? d) apakah set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar berpengaruh terhadap laba?, e) bagaimanakah pengaruh set kesempatan investasi terhadap utang?, e) bagaimanakah pengaruh hutang terhadap konsentrasi pasar?
1.2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1) Manfaat Teoritis yaitu memberikan bukti secara empirik yang berkaitan dengan teori contracting Watts dan Zimmerman (1986) yang menyatakan bahwa set kesempatan investasi mempengaruhi peristiwa kontrak, yang pada gilirannya mempengaruhi pilihan manajer atas metode akuntansi yang digunakan, dan memberikan bukti secara empirik hubungan manajemen laba dan set kesempatan investasi Gul et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan ber-IOS tinggi mengelola laba lebih sebagai alat untuk menyampaikan informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik, dan 2) Manfaat Praktis . Adapun manfaat praktis yang bisa diperoleh dari penelitian ini a) investor dan Analis Pasar modal. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bagi pelaku pasar modal (investor, pialang, dan para analis sekuritas) serta calon investor dimasa yang akan datang, utamanya dalam menentukan keputusan investasinya, dan b) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Sebagai standard setter melalui DSAK, IAI dapat langsung mengupayakan penyempitan ruang bagi manajemen agar tidak melakukan
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 5
manajemen laba opportunistik yang merugikan perusahaan maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholder)
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 6
2. PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1.Kontribusi Set Kesempatan Investasi Saham, Investasi, dan Varian terhadap Set Kesempatan Investasi.
Baker (1993) menyatakan bahwa perlu selalu dilakukan perbaikan dan pengembangan terhadap proksi-proksi yang telah ada, karena setiap proksi terutama proksi yang digunakan secara individual akan mengandung measurement error (Smith dan Watts, 1992; Gaver dan Gaver, 1993). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bartholomew (1987) dalam Mahfud (2004) bahwa perlu dilakukan pertimbangan untuk melakukan penyederhanaan data dengan menggabungkan variabel-variabel terukur (observed variable) menjadi variabel gabungan (composite variable). Penggabungan variabel-variabel terukur menjadi variabel gabungan dapat membantu dalam memahami fenomena yang sedang diteliti dan dapat digunakan sebagai deskripsi atau dapat pula digunakan dalam analisis lebih lanjut sebagai variabel regresi. Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 = Set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi
2.2. Pengaruh manajemen laba, Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar, Laba terhadap Harga saham.
Pengaruh manajemen laba terhadap harga saham telah dibuktikan oleh hasil penelitian Fudenberg dan Tirole (1995); Hartono, (1998 dan 2000); Gul et al. (2003); Ardiati (2003). Manajemen laba memungkinkan manajer mengkomunikasikan informasi privat mereka dan oleh karena itu meningkatkan kemampuan laba untuk mencerminkan nilai ekonomis perusahaan. Berdasarkan bukti-bukti empiris dan argumen yang telah disebutkan terdahulu, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H2 = Terdapat pengaruh manajemen laba terhadap harga saham
Pengaruh antara set kesempatan investasi (IOS) dengan harga saham dilakukan oleh Smith dan Watts (1992), Riahi-Belkoui (2001) dan Gul et al. (2003). Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara set kesempatan investasi
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 7
(IOS) dengan harga saham. Menurut Smith dan Watts (1992) manajer-manajer perusahaan dengan set kesempatan investasi (IOS) yang relatif tinggi akan lebih mampu melakukan pengambilan keputusan yang bijaksana karena manajer memiliki informasi yang lebih baik mengenai kesempatan investasi daripada para pemegang saham perusahaan. Hal ini mendasari hipotesis sebagai berikut
H3 = Terdapat pengaruh positif set kesempatan investasi terhadap harga saham.
Berdasarkan debt hypothesis bahwa perusahaan yang memiliki hutang yang besar manajer akan memilih kebijakan akuntansi dengan menggeser laba masa depan ke masa sekarang (Watts dan Zimmerman, 1986:216), sehingga menurut Gul et al. (2003:15) hutang memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham karena tingkat hutang lebih tinggi nampaknya akan lebih memberi insentif untuk manajemen laba opportunistik demi memenuhi perjanjian hutang. Berdasarkan argumen ini dapat dibuat dugaan bahwa semakin tinggi utang perusahaan, maka maka harga sahamnya akan semakin menurun. Hipotesis dinyatakan sebagai berikut :
H4 = Terdapat pengaruh negatif perusahaan dengan utang yang tinggi terhadap harga saham.
Berdasarkan size hypothesis bahwa pada perusahaan besar manajer akan memilih kebijakan akuntansi yang menangguhkan laba dari masa sekarang ke masa depan (Watts dan Zimmerman, 1986:235). Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif karena kualitas laba yang lebih besar di dalam perusahaan-perusahaan besar (Gul et al. 2003:15). Diamond dan Verrecchia (1991) dalam komalasari (2000) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar dengan total resiko yang ditanggung oleh investor lebih besar, akan mendapatkan keuntungan per saham yang terbesar (dalam hal ini peningkatan nilai saham). Dari latar belakang tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H5 = Terdapat pengaruh yang positif kos politis terhadap harga saham.
Penelitian yang menguji pengaruh konsentrasi pasar terhadap harga saham dilakukan oleh Nuswantara (2004). Konsentrasi pasar berhubungan positif dengan harga saham karena perusahaan dengan konsentrasi industri tinggi cenderung untuk memilih kebijakan akuntansi yang menurun di masa yang akan datang (Nuswantara, 2004:3). Jika segmen pasar perusahaan besar sehingga perusahaan mempunyai
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 8
posisi kuat dalam kompetisi, maka perusahaan akan memberikan sinyal tentang masa depan perusahaan yang lebih baik sehingga investor akan bereaksi positif terhadap perusahaan. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah :
H6 = Terdapat pengaruh positif kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar terhadap harga saham.
Studi hubungan antara laba dengan harga saham juga telah banyak dilakukan peneliti yang lain seperti Ball dan Brown (1968) Ali (1994), Asyik (1999), Harries (1999), Gunawan (1999), Candrarin dan Tearney (2000). Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara laba dengan harga saham. Berdasarkan bukti-bukti empiris dan beberapa argumen yang telah disebutkan terdahulu, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H7 = Terdapat pengaruh positif perusahaan dengan laba yang tinggi terhadap harga saham
2.3. Pengaruh Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap Manajemen Laba.
Pengaruh antara set kesempatan investasi (IOS) dengan manajemen laba dilakukan oleh Skinner (1993), Gul et al., (2003), Riahi-Belkoui (2003), dan Nuswantara (2004). Beberapa bukti dalam literature terdahulu seperti Skinner (1993) telah membuktikan bahwa perusahaan dengan kesempatan investasi yang lebih tinggi menunjukkan manajemen laba yang lebih besar. Menurut Gul, et al. (2003 :14) para manajer perusahaan yang memiliki pertumbuhan tinggi lebih banyak menggunakan manajemen laba untuk menandai informasi mereka mengenai kesempatan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah
H8= Terdapat pengaruh positif set kesempatan investasi dengan besarnya manajemen laba.
Hasil penelitian Nuswantara (2004), Riahi-belkaoui (2003) menunjukkan adanya pengaruh yang negatif antara utang dengan manajemen laba. Hal ini disebabkan karena monitor kreditor terlalu longgar. Monitor yang longgar akan memotivasi manajemen laba, atau dalam bahasa yang lain mekanisme monitoring tidak dapat mencegah perusahaan melakukan manajemen laba. Namun hasil
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 9
penelitian Defond Dan Jiambalvo (1994), Chau dan Lee (1999), DeAngelo et al. (1994) dan Gul et al. (2003) utang perusahaan mempunyai hubungan positif dengan manajemen laba. Besarnya utang perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan manajemen laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik di mata auditor. Oleh karena itu diharapkan ada pengaruh yang signifikan antara utang dengan manajemen laba.
H9 = Terdapat pengaruh perusahaan dengan utang yang tinggi terhadap besarnya manajemen laba.
Perusahaan besar mempunyai pengungkapan yang lebih lengkap dan dapat diamati oleh auditornya dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Kondisi ini memicu pelaporan akuntansi lebih konservatif dan cenderung memanipulasi laba (Cahan, 1992, Gul, et al. 2003:14, Nuswantara, 2004:175). Hasil penelitian Rajgopal (1999), Gu (2002), Gul, et al. (2003), dan Nuswantara (2004) juga membuktikan bahwa asset berhubungan negatif dengan manajemen laba. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh negatif antara kos politis dengan besarnya manajemen laba.
H10 = Terdapat pengaruh yang negatif kos politis terhadap besarnya manajemen laba.
Sesuai dengan pandangan ini Shleifer& Vishny (1997) dalam Nuswantara (2004:3) menyatakan bahwa kompetisi pasar produk akan menurunkan profitabilitas perusahaan. Jika perusahaan tidak efisien maka akan menurunkan labanya. Oleh karena itu, seorang manajer suatu perusahaan yang memiliki profitabilitas rendah akan memanipulasi laba sedemikian rupa sehingga investor tetap menyertakan modal mereka di perusahaan. Jika segmen pasar perusahaan kecil sehingga perusahaan tidak mempunyai posisi kuat dalam kompetisi, maka perusahaan akan memanipulasi labanya agar kelihatan bagus. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh negatif konsentrasi pasar antara dengan besarnya manajemen laba
H11 = Terdapat pengaruh negatif kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar terhadap praktek manajemen laba.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 10
Perusahaan yang mempunyai kekuatan pasar lebih punya peluang untuk melakukan manajemen laba. Dengan kekuatan pasar yang lebih besar, maka kemungkinan melakukan praktek manajemen laba akan lebih besar khususnya jika pada kondisi monitoring eksternal lebih jarang (utang rendah). Oleh karena itu hipotesis yang di duga adalah :
H12 = Terdapat pengaruh positif utang terhadap kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar.
2.4. Pengaruh Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap relevansi nilai laba.
Manajer menggunakan manajemen laba dengan adanya IOS untuk mengkomunikasikan informasi pribadi mereka secara kredibel kepada para investor. Hal ini membuat laporan laba terkini lebih informatif mengenai masa depan perusahaan dan seharusnya menghasilkan perbaikan dalam relevansi nilai laba. Oleh karena itu diharapkan ada pengaruh positif antara set kesempatan investasi yang tinggi terhadap laba.
H13= Terdapat pengaruh positif antara set kesempatan investasi yang tinggi terhadap laba.
Hasil penelitian sebelumnya (Watts dan Zimmerman, 1978; Zimmerman, 1983; Warfield et al., 1995) menunjukkan bahwa utang terbukti memiliki pengaruh negatif terhadap laba karena tingkat utang lebih tinggi akan lebih memberi insentif untuk manajemen laba oportunistik demi memenuhi perjanjian utang. Hipotesis yang dapat dibentuk oleh peneliti adalah
H14 = Terdapat pengaruh negatif utang yang tinggi terhadap laba.
Perusahaan besar dianggap mempunyai informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Oleh karena itu, jika terdapat inovasi baru maka inovasi tersebut besar pengaruhnya terhadap laba perusahaan berskala kecil dibanding pada perusahaan besar. Chaney dan Jeter (1991) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mempunyai korelasi signifikan dan positif dengan laba. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah
H15 = Terdapat pengaruh positif antara kos politis terhadap laba
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 11
jika segmen pasarnya besar maka laba perusahaan akan semakin besar. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh positif konsentrasi pasar antara dengan besarnya manajemen laba
H16 = Terdapat pengaruh positif antara konsentrasi pasar terhadap laba
2.5. Pengaruh Set Kesempatan Investasi terhadap Utang
Berdasarkan argumen Myers’ (1977) perusahaan yang memiliki rasio nilai buku yang tinggi akan lebih optimal jika rasio utangnya juga tinggi. Menurut Myers’ (1977) keuntungan optimal bisa diperoleh oleh investor jika resiko kebangkrutannya juga tinggi. Perusahaan yang memiliki rasio nilai buku yang tinggi memiliki pengharapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang yang tinggi pula, dengan begitu perusahaan akan mendapatkan keuntungan optimal dengan memanfaatkan keuntungan pajak. Hasil penelitian Chen (2005) membuktikan bahwa pertumbuhan perusahaan berhubungan positif dengan utang perusahaan. Oleh karena itu hipotesis yang dalam penelitian ini adalah
H17 = Terdapat pengaruh yang positif antara perusahaan dengan set kesempatan investasi yang tinggi terhadap besarnya utang.
3. METODA PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam penelitian kausal komparatif (Indriantoro dan Supomo, 1999:29)
3.2. Definisi dan pengkuran variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel dapat dilihat pada tabel 2
3.2. Teknik Analisis Data
Variabel eksogen pada koefisien jalur ini adalah IOS dan KP, sedangkan yang tergolong variabel endogen adalah DEBT, KSP, DA,, EARN, dan AR maka persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut
DEBT = β13 IOS + ε13
KSP = β14 DEBT + ε14
DA = β15 IOS + β16 DEBT + β17 KP + β18 KSP + ε15
EARN = β19 IOS + β20 DEBT + β21 KP + β22 KSP + ε16
AR = β23 DA + β24 IOS + β25 KP + β26 DEBT +
β27 KSP + β28 EARN +ε17
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 12
Dimana :
DEBT = Utang
IOS = Set kesempatan investasi
KSP = Konsentrasi Pasar
KP = Kos Politik
DA = Discretionary Accruals
EARN = Laba
AR = Akumulasi Abnormal Return
β13 – β28 = Loading Factor (Koefisien regresi yang distandarisasi)
ε13 -ε17 = Error Term
Bila digambarkan dalam model untuk diuji unidimensionalitasnya melalui Struktural Equation Modelling (SEM), model diagram jalurnya akan nampak seperti gambar 1:
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Variabel eksogen pada koefisien jalur ini adalah set kesempatan investasi (IOS) dan Kos Politis (KP) yang tergolong variabel endogen adalah utang (DEBT), konsentrasi pasar (KSP), Manajemen laba (DA), Laba (EARN) dan abnormal return (AR). Berdasarkan Tabel 7 maka persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut :
DEBT = 0.330 IOS + ε13
KSP = 0.056 DEBT + ε14
DA = -0.095 IOS + 0.148 DEBT – 0.123 KP + 0.080KSP + ε15
EARN = -0.033 IOS – 0.409 DEBT – 0.066 KP + 0.209 KSP + ε16
AR = 0.086 DA + 0.539 IOS – 0.543 KP – 0.024 DEBT +
0.299 KSP + 0.177 EARN ε17
Potensi pertumbuhan perusahaan yang diukur dengan proksi set kesempatan investasi (IOS). Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Myers (1977), yaitu merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki di masa yang akan datang yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Chung dan Charoenwong (1991); Smith dan Watts (1992); Skinner (1993); Gaver dan Gaver (1993); Cahan dan Hossain (1995); Collins dan Kothari (1989);, Hartono (1999); Kallapur dan Trombley (1999); Sami, et al. (1999), Gul, A. Ferdinand (1999); Fijrianti (2000); Prasetyo (2000); Adam, et al. (2000 & 2003), Subekti dan Kusuma (1999 dan 2001), AI Najjar dan Belkaoui (2001), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones et al. (2001), Subekti dan Kusuma (2001), dan Mira et al. (2002), mereka telah melakukan pengujian terhadap potensi pertumbuhan perusahaan. Namun pada penelitian sebelumnya belum pernah ada
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 13
yang menguji secara statistik bahwa masing-masing indikator memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp) dan set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi). Demikian juga kontibusi set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi) dan set kesempatan investasi berbasis varian (IOSv) terhadap set kesempatan investasi (IOS). Dalam penelitian ini dengan menggunakan confirmatory factor analysis (CFA) telah terbukti bahwa Book to market value of assets (MBVA), Tobin’s Q (TOBIQ), Earnings to price ratios (PER), Ratio of depreciation to firm value (DFV), dan Firm Value to book value of PPE (VPPE) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), Ratio of capital expenditure to book value of assets (CEBVA), Rasio capital expenditure to market of assets (CEMVA), dan Invesment to Net Sales Ratio (INS) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi) dan set kesempatan investasi berbasis varian (IOSv) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi (IOS) yang ditunjukkan dengan nilai semua dimensi diatas nilai kritis.
Hasil temuan sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh negatif terhadap harga saham (Fudenberg dan Tirole, 1995; Hartono, 1998 dan 2000; Gul et al. 2003; dan Ardiati, 2003), set kesempatan investasi (IOS) berpengaruh positif terhadap harga saham (Smith dan Watts, 1992; Riahi-Belkoui, 2001; dan Gul et al. 2003), utang berpengaruh negatif terhadap harga saham (Gul et al., 2003), kos politis berpengaruh positif terhadap harga saham (Marwata, 1999; Diamond dan Verrecchia, 1991, dalam komalasari, 2000 dan Gul et al. 2003), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap harga saham (Nuswantara, 2004). Pengaruh positif variabel set kesempatan investasi (IOS) terhadap manajemen laba telah dilakukan oleh Skinner (1993), Subramanyam (1996), Riahi-Belkoui (2003), Gul (2003) dan Nuswantara (2004), utang berpengaruh positif terhadap manajemen laba (Sweeney, 1994; DeFond dan Jiambalvo, 1994; Watts dan Zimmerman, 1986, 1990, Nuswantara, 2004, kos politis berpengaruh negatif terhadap manajemen laba (Nuswantara, 2004, Riahi Belkoui, 2003, Gul et al. 2003, Rajgopal, 1999, Gu, 2002), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh negatif terhadap manajemen K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 14
laba (Nuswantara, 2004). Pengaruh positif variabel set kesempatan investasi (IOS) terhadap laba telah dilakukan oleh (Smith dan Watts, 1992; Gul, et al, 2003), utang berpengaruh negatif terhadap laba (Dhaliwal et al. 1991; Barclay dan Smith, 1995; Gul, et al, 2003) kos politis berpengaruh positif terhadap laba (Reinganu, 1992; Chaney dan Jeter, 1992; dan Warfield et al. 1995), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap laba (Nuswantara, 2004)
Dalam penelitian ini disamping menguji kembali variabel penelitian sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen laba (DA), kos politis (KP), konsentrasi pasar (KSP) dan laba (EARN) berpengaruh signifikan terhadap harga saham (AR), sementara set kesempatan investasi (IOS) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham (AR). Dari beberapa variabel yang mempengaruhi manajemen laba (DA) hanya utang (DEBT) yang berpengaruh signifikan sedangkan variabel lainnya (set kesempatan investasi (IOS), kos politis (KP), konsentrasi pasar (KSP)) tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Dan untuk variabel yang mempengaruhi Laba (EARN) hanya utang (DEBT) dan Konsentrasi pasar (KSP) yang signifikan sedangkan variabel yang lain yaitu set kesempatan investasi (IOS) dan kos politis (KP) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa berdasarkan analisis SEM dengan jumlah observasi 350 (5 tahun 70 perusahaan) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar Bursa Efek Jakarta (BEJ) menunjukkan sebagai berikut. Pertama, Ada pengaruh negatif antara set kesempatan investasi (IOS) terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan pertumbuhan perusahaan yang pesat tidak diikuti oleh perilaku manajer untuk semakin melakukan perilaku manajemen laba.
Kedua, manajemen laba berpengaruh positif terhadap harga saham (AR). Bukti ini menggambarkan bahwa manajemen laba direaksi positif oleh investor. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen laba yang dilakukan oleh manajer di indonesia merupakan manajemen laba informatif artinya para investor lebih memiliki kepercayaan dalam pelaporan laba, namun penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi (IOS) cenderung untuk melakukan manajemen laba informatif. Hasil ini juga tidak sesuai dengan dugaan bahwa perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi (IOS) K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 15
tinggi mengelola laba lebih sebagai alat informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik.
Ketiga, penelitian ini tidak berhasil mendukung teori manajemen laba Healy (1985) dan DeAngelo (1988) yang menyatakan bahwa para manajer menggunakan akrual secara oportunistik untuk menyembunyikan kinerja yang mengakibatkan reaksi pasar negatif. Dalam penelitian ini meskipun manajer menggunakan akrual secara oportunistik namun tetap direaksi positif oleh pasar oleh karena itu perilaku manajer dikategorikan sebagai manajemen informatif.
Keempat, Penelitian ini juga tidak sesuai dengan hasil penelitian Gul et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan ber-IOS tinggi mengelola laba lebih sebagai alat untuk menyampaikan informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik. Hasil penelitian ini membuktikan ketika set kesempatan investasi tinggi, manajemen laba informatif relatif lebih lazim daripada manajemen laba oportunistik.
5. Kesimpulan Dan Saran
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dibahas pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa a) set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontibusi terhadap set kesempatan investasi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bartholomew (1987) dalam Mahfud (2004) bahwa perlu dilakukan pertimbangan untuk melakukan penyederhanaan data dengan menggabungkan variabel-variabel terukur (observed variable) menjadi variabel gabungan (composite variable), b) Manajemen laba, kos politis, konsentrasi pasar dan laba berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sementara set kesempatan investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, c) utang berpengaruh signifikan manajemen laba sedangkan variabel lainnya (set kesempatan investasi, kos politis, konsentrasi pasar) tidak menunjukkan hasil yang signifikan, d) utang dan Konsentrasi pasar berpengaruh signifikan terhadap Laba sedangkan variabel yang lain yaitu set kesempatan investasi dan kos politis tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, e) Utang tidak berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi pasar,
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 16
dan f) Set kesempatan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap utang
5.2. Saran
Sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut disarankan a) Model gabungan set kesempatan investasi ini masih dapat dikembangkan dengan menambah proksi set kesempatan investas lainnya, seperti ratio of R&D expense to total assets (Smith dan Watts, 1992; Gaver dan Gaver, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999; dan Hartono, 1999), ratio of R&D expense to sales (Skinner, 1993; dan Kallapur dan Trombley, 1999), Ratio of capital additions to firm value (Smith dan Watts, 1992; Kallapur dan Trombley, 1999; dan Jones dan Sharma, 2001), Rasio capital addition to assets book value (Subekti dan Kusuma, 2001; Skinner, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999), Investment to earnings ratio (Hartono, 1999), Ratio of R&D expense to firm value (Skinner, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999), b) model yang digunakan dalam penelitian ini juga bisa dikembangkan dengan menggunakan interaksi set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar dengan manajemen laba untuk melihat efek moderasi manajemen laba terhadap harga saham.
5.3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini jauh dari sempurna karena banyaknya aspek yang belum dimasukkan dalam model penelitian dan banyaknya keterbatasan yang dihadapi dalam melaksanakan penelitian berupa: a) kriteria dalam penelitian ini menggunakan syarat perusahaan yang masuk sebagai responden harus memiliki ekuitas yang positif, akibatnya banyak perusahaan yang di dikeluarkan dari sampel akibat tidak memenuhi persyaratan ini, b) penelitian ini tidak mempertimbangkan resiko pasar sebagai indikator set kesempatan investasi (IOS). Keterbatasan ini dapat mengurangi daya prediksi dalam mengklasifikasikan potensi pertumbuhan perusahaan, c) pemilihan model untuk mengestimasi manajemen laba mengikuti model yang digunakan oleh Jones modified. Jadi tidak dilakukan pengujian terlebih dahulu model mana yang paling tepat dan robust untuk kondisi Indonesia.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 17
DAFTAR REFERENSI
Adam, T., dan V.K. Goyal. 2003. The Investment Opportunity Set and its Proxy and Variables : Theory and Evidence, Departement Of Finance. Hongkong University of Science & Technology.
Ahmed, A.S., B.K. Bilings., dan M. Stanford-Harris. 2002. The Role of Accounting Conservatiem in Mitigating Bondholder-Shareholder Conflicts over Dividend Policy and in Reducing Debt Cost, The Accounting Review. 77. No. 4. Oktober 2002. p. 867-890
Albreght, W.D., F.M. Richardson. 1990. Income Smoothing By Economy Sector, Journal of Bussiness Finance & Accounting. 17.5. winter
Ali, A. 1994. The Incremental Information Content of Earning, Working Capital From Operation, and Cash Flow, Journal of Accounting Research. 32. No. 1 Spring. p. 61-73
AlNajjar, F.K., dan A. Riahi-Belkaoui. 2001. Empirical Validation of A General Model of Growth Opportunities, Managerial Finance. 27. 3. ABI/INFORM Global
Arbuckle, J.L., dan W. Wonthke. 1999. AMOS 4.0 User’s Guide. Chicago : Smallwaters Corporation.
Ardiati, A.Y. 2003. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Return Saham dengan Kualitas Audit sebagai Variabel Pemoderasi, Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya
Asyik, N.F. 1999. Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 2. No. 2 Juli 1999. h. 230 -250
Baker, G.P. 1993. Growth, Corporate Policies, and the Invesment Opportunity Set”, Journal of Accounting and Economics .16. p.161-165.
Baker, M. and J. Wurgler. 2002. Market timing and capital structure, Journal of Finance 57. 1-32.
Ball, R., and P. Brown. 1968. An Empirical Evaluation og Accounting Income Numbers, Journal of Accounting Research (autum). p.159-178
Barclay, M.I., C.W. Smith and R. Watts. 1995. The Determinants of Corporate Leverage and Dividend Policies, Journal of Applied Corporate Finance. 7(4) 4 – 19 .
Bartov, E., dan A. G. Ferdinand. 2000. Discretionary-Accruals Model and Audit Qualifications, Working Paper. University of Rochester. Oktober 2000
Booth, G.G., J.H. Kallunki, and T. Martikainen. 1996. Post Announcement Drift and Income Smoothing : Finnish Evidence, Journal of Bussiness Finance & Accounting. 23. 8. October.
Bowen, R.M., D. Burgstahler, dan L.A. Daley. 1987. The Incremental Information Content of Accrual versus Cash Flows, The Accounting Review. 62. (Okt) 1987. No. 4. p. 723
Budiarto, A. dan Murtanto. 2002. Event Study : Telaah Metodologi Dan Penerapannya di Bidang Ekonomi Dan Keuangan. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi. Desember Vol.4 No.3.
Cahan, S.F. 1992. The effect of Antitrust Investigations on Discretionary Accruals: A Refined Test of The Political-Cost Hypothesis, The Accounting Review. 67. No. 1.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 18
Cahan, S.F., dan M. Hossain. 1996. The Investment Opportunity Set and Disclosure Policy: Some Malaysian Evidence, Asia Pacific Journal of Management. 13. No. 1, p.65-85.
Candrarin, G., dan M.G. Tearney. 2000. The Effect of Reporting of Exchange Rate Losses on The Stock Market Reaction, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 3. No. 1 Januari 2000.
Carlson, S.J., and C.T. Bathala. 1997. Ownership Differences and Firms’ Income Smoothing Behavior, Journal of Business Finance & Accounting. 24. (March). p.179-196.
Chaney, P.K., and D.C. Jeter. 1992. The Effect of Size on The Magnitude of Long-Window Earnings Response Coefficients, Contemporary .Accounting Research. 8. p. 540-560
Chau, D., dan C.J. Lee. 1999. Earning Shaving, Big Bath and Dress up in Chapter 11 reorganization, Working paper. Tulane University. New Orleans. LA
Chen, L dan X, Zhao. 2005. On the Relation Between the Market-to-Book Ratio, Growth Opportunity, and Leverage Ratio, Department of Finance. Michigan State University
Christie, A. 1989. Equity Risk, The Opportunity Set, Production Cost, and Debt, Working Paper. University of Rochester.
Christie, A.A., and J.L. Zimmerman. 1994. Efficient and Opportunistic Choices of Accounting Procedures: Corporate Control Contests, The Accounting Review. 69.(October).p.539-566
Chung, K.H., dan C. Charoenwong. 1991. Invesment Options, Assets in Place, and the Risk of Stocks, Financial Management – Autumn. p. 21-33.
Copeland, R.M., R.D.Licastro. 1968. A note on Income Smoothing, The Accounting Review. July
Collins, D.W., dan S.P. Kothari. 1989. An Analysis of Intertemporal and Crossectional Determinant of Earning Response Coefficient, Journal of Accounting and Economics. 12. July 1989. p. 35-52
DeAngelo, L. 1988. Managerial Competition, Information Costs, and Corporate Governance: The Use of Accounting Performance Measures in Proxy Contests, Journal of Accounting and Economics. (January).p. 3-36
DeAngelo, H., L. DeAngelo, dan D. Skinner. 1994. Accounting Choice in Troubled Companies, Journal Accounting and Economics.17.p. 3-42
Dechow, P. 1994. Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accruals, Journal of Accounting and Economics. 17. p. 3-42.
Dechow, P., R. Sloan, and A. Sweeney. 1996. Causes and Consequences of Earnings Manipulations: an Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by SFC, Contemporary Accounting Research. 13. Iss:l (spring). P. 1-36
Dechow, P., R. Sloan, and A. Sweeney. 1995. Detecting Earnings Management, The Accounting Review . 70. (April).p. 193-225.
DeFond, M.L., and J. Jiambalvo. 1994. Debt Covenant Violation and Manipulation of Accruals, Journal of Accounting and Economics. 17. (January). p. l45-176.
Demski, J.S.. 1998. Performance Measure Manipulation, Contemporary Accounting Research. 15. (Fall). p. 261-285.
Dhaliwal, D.S., K.J. Lee, dan N.L. Fargher. 1991. The assosiation between Unexpected Earnings and Abnormal Security Returns in the Presence of Financial Leverage, Contemporary Accounting Research. 8. No. 1. p. 20-41.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 19
Easton, P.D. and M.E. Zmijewski. 1995. Cross-Sectional Variation in The Stock Market Response to Accounting Earning Announcements, Journal of Accounting and Economics. 11 (July’). p. 117-141.
Eckel, N. 1981. The Income Smoothing Hypothesis Revisited, ABACUS, 17. 1. 1981
Evans, J.H., and S.S. Sridhar. 1996. Multiple Control Systems, Accrual Accounting, and Earnings Management, journal of Accounting Research. 34. (Spring). p. 45-65.
Ferdinand, A. 2002. Structural Equation Modelling dalam Penelitian Manajemen. Aplikasi Model-Model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis S-2 dan Disertasi S-3, Semarang. BP Universitas Diponegoro.
Finger, C.A. 1994. The Ability of Earnings to Predict Future Earnings and Cash Flow, Journal of Accounting Research. 32. No. 2.
Fischer, M., dan K. Rosenzweig. 1995. Attitudes of Student and Accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptibility of Earning Management, Journal of Business Ethics. 14. p. 433-444
Fishman, M.J., and K.M. Hagerty. 1989. Disclosure Decisions by Firms and the Competition for Price Efficiency, Journal of Finance. 54. No.3. (July). p. 633-646
Freeman, R.N. 1987. The Association Between Accounting Earnings and Security Returns for Large and Small Firms, Journal of Accounting and Economics. 9. (July). p. 195-228.
Freeman, R.N., dan S.Y. Tse. 1992. A Non Linear Model of Security Price Response to Unexpected Earning, Journal of Accounting Research. 30. No. 2. p. 185
Fudenberg, D., and J.Tirole. 1995. A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbency Rents, Journal of Political Economy. 103. no.l. p. 75-93
Gaver, J.J., and K.M. Gaver. 1993. Additional Evidence on The Association Between The Investment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend and Compensation Policies, Journal of Accounting and Economics. 16. p. 125-160.
Greer, D.E. 1992. Industrial Organization and Public Policy, 3rd Edition, USA. McMillan Publishing Company.
Gu, Z. C.W.J. Lee., dan J.G. Rosett. 2002. Information Environment and Accrual Volatility, JEL. Classification M41;C21
Guay, W.R., S.P. Kothari, and R.L. Watts. 1996. A Market-Based Evaluation of Discretionary Accrual Models, Journal of Accounting Research. 34 (Supplement).p. 83-105.
Gujarati, D.N. 1997. Ekonometrika Dasar, Mc. Graw Hill. Inc. Massachussetts.
Gul, F.A., S. Leung, dan B. Srinidhi. 2003. Informative and Opportunistic Earnings Management and the value relevance of earnings : Some Evidence on The Role of IOS, Working Paper. City University of Hong Kong. Departement of Accountancy.
Gul, F.A. 1999. Capital Structure and Dividend Policies in Japan, Journal of Corporate Finance. 5. (Spring).p. 141-168
Gul, F.A., S. Lynn, and J. Tsui. 2001. Audit Quality. Management Ownership And The Informativeness Of Accounting Earnings, Journal of Accounting. Auditing and Finance. forthcoming.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 20
Gunawan. 1999. Analisis Kandungan Informasi Laporan Arus Kas, Simposium Nasional Akuntansi III. Jakarta
Hair, Joseph F., R.E. Anderson, R.L. Tatham, dan W.C. Black. 1995. Multivariate Data Analysis; With Reading, fourth edition. Mc Millan Publishing Company.
Hang, J., dan W.S. Wang. 1998. Political Costs and Earnings Management Oil Companies during the 1990 Persian Gulf Crisis, Accounting Review. January. p. 103-118
Harries, H., dan H. Manao. 1999. Asosiasi Laba Tahunan Emiten dengan Harga Saham ditinjau dari Ukuran dan Debt-Equity Ratio Perusahaan, Simposium Nasional Akuntansi III. Jakarta
Hartono, J. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta: BPFE.
Hartono, J. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
Healy, P. 1985. The Impact of Bonus Schemes on The Selection of Accounting Principles, Journal of Accounting and Economics. 7. p . 85-107.
Healy, P.M., and J.M. Wahlen. 1998. .A Review of The Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting, Accounting Horizons. 13(4). p. 365-383.
Healy, P.M., and K.G. Palepu. 1993. The Effect Of Firms’ Financial Disclosure Policies on Stock Prices, Accounting Horizons. 7. p. 1-11.
Hendriksen, E., and M.V. Breda. 1992. Accounting Theory, 5Th edition. Homewood. : Irwin.
Hunt, A., SE. Moyer. dan T. Shevlin. 1996. Managing Interacting Accounting Measures to Meet Multiple Objectives : A Study of LIFO Firms, Journal of Accounting and Economics. 21. Juni . p. 39-374
Jaggi, B., and F.A. Gul. 1999. An Analysis Joint Effects of Invesment Opportunity Set, Free Cash Flows and Size on Corporate Debt Policy. Review of Quantitative Finance and Accounting; Jun 1999; 12, 4; ABI/INFORM Global
Jogiyanto. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE Yogyakarta
Jones, Jennifer J.. 1991. Earnings Management During Import Relief Investigation, Journal of Accounting Research. 29. p. 193-228
Jones, S., dan R. Sharma. 2001. The Association Between The Investment Opportunity Set and Corporate Financing and Dividen Decision : Some Austalian Evidence, Managerial Finance. 27. 3; ABI/INFORM Global.p. 48
Kallapur, S., dan M.A. Trombley. 1999. The Association Between Invesment Opportunity Set Proxies and Realized Growth, Journal of Business & Accounting. 26. April/May. p. 505-519.
Kallapur, S., dan M.A. Trombley. 2001. The Investment Opportunity Set: Determinants, Consequences and Measurement, Managerial Finance. 27. 3; p. 3
Key, K. G. 1997. Political Cost Incentives For Earnings Management in The Cable Television Industry. Journal of Accounting and Economics. Vol. 23, No.3: 375-400.
Kothari, S.P., dan R.G. Sloan. 2001. Information In Prices About Future Earnings : Impliations For Earnings Response Coefficients, Journal Accounting and Economics. North-Holland. 15. p. 143-171.
Komalasari, P.P. 2000. Asimetri dan Cost of equity Capital, Teis S2, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 21
Kusuma, I.W. 1998. Comparing the Effect of Income Smoothing Practices on the Earning-Prices Ratios of Japanese and U.S Firms, Disertation. Kent State University. August
Mahfud, N. 2004. Interdependensi Antara Kebijakan Perusahaan. Struktur Pasar Dan Profitabilitas Dengan Potensi Pertumbuhan Perusahaan Go Publik Di Indonesia, Disertasi. Universitas Brawijaya Malang
Marwata, 2000, Hubungan antara karakteristik Perusahaan dan kualitas ungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia, Tteis S2, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
McNichols, M., and G.P. Wilson. 1988. Evidence of Earnings Management From The Provision for Bad Debts, Journal of Accounting Research. 26 (Supplement). p. 1-31.
Midiastuty, P. P. dan M. Mas’ud 2003. Analisis Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba. ”Seminar Nasional Akuntansi VI. Surabaya: 176-199.
Mira, T., C.M. Yap, dan Y.K. Ho. 2002. The Impact of Firm Size. Concentration and Financial Leverage on The Effectiveness of R&D Invesment in Generating Growth Opportunities for Firm, Working paper. Faculty of Business administration. Singapore
Moses, O.D. 1987. Income Smoothing and Incentive : Empirical Test Using Accounting Changes, The Accounting Review. April.
Myers, S. 1977. Determinants of Corporate Borrowing, Journal of Financial Economics. 5. p. 147-175.
Naim, A. dan J. Hartono. 1996. The Effect Antitrust Investigations on the Management of Earning : A Further Empirical Test Of Political Cost Hypothesis, Kelola. 13. p. 126-141
Nunally, J.C., and I.H. Bernstein. 1994. Psychometric Theory, (3 rd edition ), New York : McGraw-Hill.
Nuswantara, D.A. 2004. The Effect of Market Share and Leverage Interaction Toward Earnings Management Practices, Simposium Nasional Akuntansi VII . Bali. h. 170 – 185
Pakaryaningsih, E. 2004. Tax Position. Investment Opportunity Set (IOS). and Signaling Effect as A Determinant of Leverage and Dividend Policy Simultanity : An Empirical Study on Jakarta Stock Exchange, Simposium Nasional Akuntansi VII. Bali
Parawiyati, dan Z. Baridwan. 1998. Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntan Indonesia. 1. No. 1.
Penman. S.H., dan X.J. Zhang. 2002. Accounting Conservatism the Quality of Earnings and Stock Returns, Accounting Review. 77. No.2: p. 237-264.
Rajgopal, S., M. Venkatachalam, dan J.Jiambalvo. 1999. Is Institutional Ownership Associated with Earning Management and the extent to which Stock Prices Reflect Future Earning?, Working Paper. Departement of Accounting University of Washington Seattle
Riahi-Belkaoui, A. 2003. Anticipatory income smoothing and the investment opportunity set: An empirical Test of The Fudenderg and Tirole (1995) Model, Review of Accounting & Finance. 2. 2; ABI/INFORM Global
Robert, l.E., dan D.A. Frisbie. 1991. Essential of Educational Measuremen, Englewood Cliffs. Prentice – Hall. Inc. p. 89
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 22
Rones, J., and S. Sadan. 1975. Classficatory Smoothing : Alternative Income Models, Journal of Accounting Research. Spring.
Sami, H., S.M.S. Ho, dan C.K.K. Lam. 1999. “Association between the Invesment Opportunity Set and Corporation Financing. Dividend. Leasing. and Compensation Policies: Some Evidence from an Emerging Market, kertas kerja dipresentasikan pada Program MSi-Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada tanggal 2 Agustus 1999.
Saputro, J.A., dan L. Setiawati. 2004. Kesempatan bertumbuh dan manajemen laba : Uji Hipotesis Political Cost, Simposium Nasional Akuntansi VI. Bali.
Scherer, F dan R, David. 1990.Industrial Market Structure and Economic Performance, 3rd Edition. Boston. Houghton-Mifflin Company.
Schipper. K. 1989. Commentary on Earnings Management, Accounting Horizons. .3. No. 4. p. 91-102.
Scott, W.R. 1997. Financial Accounting Theory, Prentice Hall. Inc.
Skinner, D.J. 1993. The investment opportunity set and accounting procedure choice: Preliminary evidence, Journal of Accounting and Economics. 16 (October). p. 407-455.
Smith, Jr., W. Clifford, dan R.L. Watts. 1992. The Invesment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies. Journal of Financial Economics. 32. p. 263-292.
Stein, J. 1998. Effect Capital Markets and Inefficient Firms, A Model of Myopic Corporate Behaviour, Quarterly, Journal of Economics. 104. p. 655-669
Subekti, I., dan I.W. Kusuma. 1999. Asosiasi antara set kesempatan investasi Dengan Kebijakan Pendanaan Dan Dividen Perusahaan serta implikasinya pada perubahan harga saham, Simposium Nasional Akuntansi III. h. 820-845
Subekti, I. 2001. Bukti Tambahan atas Asosiasi antara The Investment Opportunity Set dengan Kebijakan Pendanaan dan Dividen Perusahaan pada Pasar Sedang Berkembang, TEMA. II. Nomor 1. Maret 2001
Subramanyam, K.R.. 1996. The pricing of discretionary accruals, Journal of Accounting and Economics. 22. (August-December). 249-282.
Sugiri, S. 1998. Earning Management : Teori, Model, dan Bukti Empiris, Telaah. h. 1-15.
Sutrisno. 2001. Studi Analitikal Pengaruh Bentuk Manajemen Laba (Earning Managemen terhadap Hubungan antara Return-Laba, Jurnal Lintasan Ekonomi. 17. No. 2. Juli 2001.
Sweeney, A. 1994. Debt Covenant Violations and Managers’ Responses, Journal of Accounting and Economics. 17 (May). p. 281-308.
Veronica, S. dan Bachtiar, Y. 2003. Hubungan manajemen laba dengan tingkat pengungkapan laporan keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya
Verrechia, R.E., 1986. Managerial Discretion in The Choice Among Financial Reporting Alternatives, Journal of Accounting and Economics 8 (October). p. 175-195
Warfield, T.D., L.J. Wild ,and K.L. Wild. 1995. Managerial Ownership, Accounting Choices, and Informativeness of Earnings, Journal of Accounting and Economics. 20 (July). p. 61-92.
Watts. R.L. and J.L. Zimmerman. 1978. Towards A Positive Theory of The Determination of Accounting Standards, The Accounting Review. 53 (January). p. 112-134.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 23
Watts. R.L., and J.L. Zimmerman. 1986. Positive accounting theory, Prentice-Hall. Englewood Cliffs.
Widayat, dan Amirullah. 2002. Riset Bisnis, Edisi Pertama. Graha Ilmu – Yogyakarta.
Wild, J.J. and S.S. Kwon. 1994. Earnings Expectations, Firm Size. And The Informativeness Of Stock Prices, Journal of Business Finance & Accounting. 21. (October). p. 975-996.
Worthy, F.S. 1984. Manipulating Profits, How It Done, Fortune. June 25. p. 50-54
Zimmer, I.. 1986. Accounting for Interest by Real Estate Developers, Journal of Accounting and Economics. 8 (1). p. 37-51.
Zimmerman, J.L. 1983. Taxes and Firm Size, Journal of Accounting and Economics. 5 (August). p. 119-149.
Lampiran
Tabel 1 Proses Pemilihan Sampel
Keterangan
Jumlah perusahaan
Perusahaan manufaktur yang go publik sampai dengan 31 Desember 1997
147
Perusahaan manufaktur yang tidak go publik berturut-turut selama 5 tahun (tahun 1997 s.d 2002)
17
Perusahaan yang memiliki ekuitas negatif
42
Laporan Keuangan Tidak Lengkap
18
Perusahaan publik yang masuk dalam pemilihan sampel
70
Sumber : Data sekunder diolah (Lampiran )
Tabel 2 Pengukuran variabel dan peneliti yang pernah menggunakannya
No
Proksi IOS
Pengukuran
Peneliti
1
Market to book value of equity (MBVE)
MBVE = [Jumlah saham beredar x harga penutupan saham] : Total Ekuitas]
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Subekti dan kusuma (1999), Subekti (2001), AI Najjar dan Belkaoui (2001), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Mira, Chee, dan Yew (2002), Collins dan Kothari (1989), Hartono (1999), Fijrianti (2000), dan Prasetyo (2000)
2
Book to market value of assets (MBVA)
MBVA = [Total Aktiva – Total Ekuitas + Jumlah Saham Beredar x Harga Penutupan Saham] dibagi Total Aktiva
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts, (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Subekti dan kusuma (1999), Subekti(2001), AINajjar dan Belkaoui (2001), Mira, Chee, dan Yew (2002), Fijrianti (2000),
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 24
dan Mahfud (2004)
3
Tobin’s Q (TOBIQ)
Tobin’s Q = {[Jumlah saham beredar x harga penutupan saham] + Total utang + sediaan] – Jumlah aktiva lancar} dibagi total aktiva.
Skinner (1993), Chung, dan Charoenwong (1998), Kallapur dan Trombley (1999), dan Mahfud (2004)
4
Earnings to price ratios (PER)
PER = [Harga penutupan saham per lembar] : Laba bersih per saham (EPS)]
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Subekti dan Kusuma (1999), Subekti (2001), AINajjar dan Belkaoui (2001), Prasetyo (2000), Hartono (1999), Fijrianti (2000), dan Mahfud (2004)
Lanjutan tabel 2
5
Ratio of property, plant, and equipment to firm value of the assets (PPEFVA)
[Total Asset-Total Ekuitas+ Lembar saham beredar*Harga Penutupan saham] dibagi dengan aktiva tetap bersih.
Skinner (1993), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2003), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), dan Mahfud (2004)
6
Ratio of depreciation to firm value (DFV)
DFV = Total Aset – Total Ekuitas + [Lembar Saham Beredar x Harga Penutupan Saham] dibagi Biaya Depresiasi.
Smith dan Watts, (1992), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), dan Mahfud (2004)
7
Ratio of capital expenditure to book value of assets (CEBVA)
CEBVA = [Nilai Buku Aktiva Tetap t – Nilai Buku Aktiva Tetap t-1] : [Total Aktiva]
Jones dan Sharma (2001), dan Fijrianti (2000)
8
Rasio capital expenditure to market of assets (CEMVA)
CEMVA = (Nilai buku aktiva tetapt – Nilai buku Aktiva Tetapt-1): [ Total Asset – Total Ekuitas + (Lembar Saham Beredar * Harga Penutupan Saham) ]
Jones dan Sharma (2001), Fijrianti (2000), Prasetyo (2000), Subekti dan Kusuma (1999), dan Subekti (2001)
9
Rasio Investment to Net Sales (INS)
INS = Investasi / Net Sales
Kallapur dan Trombley (1999), dan Hartono (1999)
10
Risiko sistimatis (RS)
Beta koreksi Beta Fowler & Rorke (1983)
Hartono (1998), Prasetyo (2000)
11
Ukuran Perusahaan (SIZE)
logaritma nilai total aktiva perusahaan perusahaan
Mira, Chee dan Yew (2002), Gul et al. (2003)
12
Konsentrasi pasar (KSP)
KSP = (Penjualan perusahaan / Penjualan industri) x 100%
Mira, Chee dan Yew (2002), Nuswantara (2004)
13
Utang (DEBT)
Utang = (Jumlah Total utang perusahaan i pada periode t) : (Total aktiva yang dimiliki perusahaan i pada periode t)
Suciwati dan Mas’ud (2001), Mira, Chee dan Yew (2002), Gul et al. (2003), Nuswantara (2004), Pakaryaningsih (2004)
14
Laba
laba bersih tahunan sebelum extraordinary items
Bowen, et al. (1987), Ali (1994), Finger (1994), Parawiyati dan Baridwan (1998)
15
Discretionary Accruals (DA)
Jones (1991) yang dimodifikasi
Healy (1985), DeAngelo (1986), Jones, (1991); Dechow et al, (1995), Cahan (1992), Healy dan Wahlen (1998), Bartov, 2000, AINajjar dan
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 25
BeIkaoui (2001), Gul et al. (2003), Nuswantara (2004),
16
Abnormal Return
market adjusted model
ARi,t = Ri,t – E(Ri,t)
Σ===nttitARCAR1
Gul et al. (2003) Ali (1994), Asyik (1999), Harries (1999), Gunawan (1999) dan Jogiyanto (2003)
Tabel 3. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Variabel Set Kesempatan Investasi
Goodness of fit index
Cut-off Value
Hasil Model *)
Keterangan
χ2 – Chi-square
Diharapkan kecil
13.752
Baik
Sign.Probability
≥ 0.05
0.999
Baik
CMIN/DF
≤ 2.00
0.404
Baik
GFI
≥ 0.90
0.992
Baik
AGFI
≥ 0.90
0.987
Baik
TLI
≥ 0.95
1.010
Baik
CFI
≥ 0.95
1.000
Baik
RMSEA
≤ 0.08
0.000
Baik
Sumber: *) Lampiran 5
Tabel 4 Pengukuran Variabel Set Kesempatan Investasi
Variabel indikator konstruk
Loading Faktor
CR
T Tabel (α=5%)
Prob
Keterangan
IOSp IOS ←
-0.150
-3.461
1.98
0.000
Signifikan
IOSi ← IOS
0.035
Fix
1.98
Signifikan
IOSv IOS ←
0.518
Fix
1.98
Signifikan
Tabel 5. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Overall Model Tahap Akhir
Goodness of fit index
Cut-off Value
Hasil Model *)
Keterangan
χ2 – Chi-square
Diharapkan kecil
54.139*
Baik
Sign.Probability
≥ 0.04
0.952*
Baik
CMIN/DF
≤ 2.00
0.742*
Baik
GFI
≥ 0.90
0.982*
Baik
AGFI
≥ 0.90
0.966*
Baik
TLI
≥ 0.94
1.009*
Baik
CFI
≥ 0.94
1.000*
Baik
RMSEA
≤ 0.08
0.000*
Baik
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 26
Tabel 7. Uji Model Pengaruh Kausal Set Kesempatan Investasi (IOS), Utang (DEBT), Kos Politis (KP), dan Konsentrasi Pasar (KSP) terhadap Manajemen Laba (DA) dan Nilai Laba (EARN) serta pengaruhnya terhadap harga saham (AR)
Efek
H
Variabel indikator konstruk
Loading Faktor
Direct
Indirect
Total
CR
Prob
Keterangan
H2
AR
<–
DA
0.086
0.086
0.000
0.086
1.648***
0.099
Signifikan
H3
AR
<–
IOS
0.539
0.539
-0.035
0.504
Fix
Signifikan
H4
AR
<–
DEBT
-0.024
-0.024
-0.041
-0.064
-0.313
0.754
Tidak Signifikan
H5
AR
<–
KP
-0.543
-0.543
-0.022
-0.565
-4.954*
0.000
Signifikan
H6
AR
<–
KSP
0.299
0.299
0.044
0.343
2.929*
0.003
Signifikan
H7
AR
<–
EARN
0.177
0.177
0.000
0.177
3.078*
0.002
Signifikan
H8
DA
<–
IOS
-0.095
-0.095
0.050
-0.045
-1.007
0.314
Tidak Signifikan
H9
DA
<–
DEBT
0.148
0.148
0.004
0.152
2.616*
0.009
Signifikan
H10
DA
<–
KP
-0.123
-0.123
0.000
-0.123
-1.076
0.282
Tidak Signifikan
H11
DA
<–
KSP
0.080
0.080
0.000
0.080
0.870
0.384
Tidak Signifikan
H12
KSP
<–
DEBT
0.056
0.056
0.000
0.056
1.110
0.267
Tidak Signifikan
H13
EARN
<–
IOS
-0.033
-0.033
-0.131
-0.164
-0.351
0.726
Tidak Signifikan
H14
EARN
<–
DEBT
-0.409
-0.409
0.012
-0.397
-7.984*
0.000
Signifikan
H15
EARN
<–
KP
-0.066
-0.066
0.000
-0.066
-0.592
0.554
Tidak Signifikan
H16
EARN
<–
KSP
0.209
0.209
0.000
0.209
2.318**
0.020
Signifikan
H17
DEBT
<–
IOS
0.330
0.330
0.000
0.330
3.288*
0.001
Signifikan
*Signifikan Pada Level 1 %, Nilai t table level 1% = 2.57
** Signifikan pada level 5%, Nilai t table level 5% = 1.98
*** Signifikan pada level 10%, Nilai t table level 10% = 1.64
Gambar 1. Analisis Structural Equation Modelling Model Pengukuran Diagram Jalur Model Konseptual Pengaruh kausal Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap manajemen laba dan Laba dan pengaruhnya terhadap harga saham
IOSIOSpIOSiMVABVAe21TOBIQe31PERe41DFVe51VPPEe611CEBVAe71CEMVAe81INSe91IOSve101MVEBVAe11e11e1211DEBTKP
EARNe131H13H14H16H151DAARe17e151H9H8H10H11H3H4H5H6H2H7H17H121
K-AKPM 11

ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI INVESTOR

July 26, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
SKRIPSI
Oleh :
Nama : Min Rohmatillah
NIM : 01620298
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AGUSTUS 2005
ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI
INVESTOR
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
Nama : Min Rohmatillah
NIM : 01620298
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AGUSTUS 2005

i
KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan Rahmad,
Petunjuk dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI
INVESTOR”.
Penyusunan skripsi ini dengan maksud untuk memenuhi sebagian
persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dan juga sebagai penerapan
teori-teori yang telah didapatkan penulis selama duduk di bangku kuliah.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan
baik berupa dukungan, kritik dan saran serta tak lupa kasih sayang, perhatian dan juga
do’a untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kapada :
1. Bapak dan Ema’ tercinta, cacak serta adikku yang tiada henti-hentinya
mendo’akan, memberi kasih sayang dan bimbingan disetiap langkahku.
2. Bapak Drs. H. Bambang Widagdo, MM. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Bapak Drs. Waluyo Jati, MM. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Bapak Drs. Setu Setyawan, MM. selaku Ketua Laboratorium Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
ii
5. Para Staff Laboratorium Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Malang (Pak Ipoel yang selalu humoris, Pak Ulum yang
selalu cekatan, dan Pak Djoko).
6. Ibu Dra. Endang Dwi Wahyuni, MM.Ak. dan Ibu Dra. Hj. Siti Zubaidah,
MM. Ak. Selaku dosen pembimbing, yang dengan penuh kesabaran telah
bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dalam memberikan kritik,
saran yang membangun untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini (maaf
ibu bila selama ini sering bandel dan menyusahkan).
7. Ibu Dra. Eny Suprapti, MM.Ak. yang senantiasa memberikan nasihat dan
masukan dalam segala hal (terima kasih Ibu untuk meyakinkan saya ikut
ujian).
8. Ibu Masiyah Kholmi, MM. Ak. selaku dosen wali angkatan 2001 kelas F.
9. Ibu Nasiyah Hasanah, SE yang telah memberi tahu makna kebahagiaan dalam
memberi.
10. Bapak Adi Prasetyo, SE. Msi. yang tidak bosan-bosannya memberikan
motivasi dan do’a.
11. Ibu Sri Nastiti, yang selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi masalah
statistik.
12. Pak Andi (pegawai pojok BEJ Brawijaya) yang telah sudi mengorbankan
waktu liburnya untuk mengantarkan data tepat waktu.
13. Pak Venus dan Mas Amin (PIPM) yang senantiasa meluangkan waktu untuk
berdiskusi mengenai pasar modal.
iii
14. Bapak/Ibu dosen pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah
Malang.
15. Teman-teman angkatan 2001 kelas F.
16. Teman-teman di Laboratorium Akuntansi.
17. Teman-teman di Kost Jl. Tlogomas 81.
18. Sahabat-sahabat baikku yang telah banyak memberi arti dalam hidup ini.
Juga bagi kawan-kawan yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena tidak akan cukup lembaran ini untuk
melukiskan isi hati dan terima kasih penulis terhadap sumbangsih kalian. Penulis
berdo’a semoga segala amal Shaleh dan ibadah ikhlas kalian semua diterima Allah
SWT.
Akhir kata penulis berharap semoga hasil pemikiran yang tertuang dalam
skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana yang dharapkan.
Malang, 17 Agustus 2005
Min Rohmatillah
iv
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ………………..……………………………………….……………. iv
DAFTAR TABEL …………. ……………………………………………………… vii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………..….…. viii
ABSTRAKSI …..…………………………………………………………..…….. ix
ABSTRACTION ………….……………………………………………….….… x
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………..……………..………………………………. 1
B. Perumusan Masalah ………….………………..…………….…………… 4
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian………………………………………..… 4
1. Tujuan Penelitian …………………………………..…………… 4
2. Manfaat Penelitian …………………………………………………5
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori ………………………………………..…..…..……… 6
1. Pengungkapan (Disclosure) Dalam Laporan Tahunan …..…… 6
a. Definisi pengungkapan …………………………..…………… 6
b. Tujuan pengungkapan ………………………………..……..…7
c. Informasi yang harus diungkapkan ……………………..…. 8
v
d. Pengungkapan wajib (Mandator disclosure) dan pengungkapan
sukarela (Voluntary disclosure) …………………………….… 12
2. Perhitungan Indeks Pengungkapan …………………………….… 14
3. Hubungan Antara Pengungkapan Dengan Reaksi Investor ….…… 16
4. Hubungan Antara Pengungkapan Dengan Efisiensi Pasar..………… 17
5. Reaksi Investor ……………………….……………………… 19
B. Review Penelitian Terdahulu ….…………………………………… 22
C. Hipotesis …………………….………………………………………… 24
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian …………………………………….…….…..……… 25
B. Variabel Penelitian Dan Pengkurannya ……………………….……… 25
C. Populasi Dan Sampel ………………………………….…..….…… 28
D. Data Dan Sumber Data ……………………………………….……… 29
E. Teknik Pengumpulan Data ……………………….…….…..…… 30
F. Teknik Analisis Data …………………………………………….… 31
IV. HASIL PENELITIAN
A. Indeks Pengungkapan (Disclosure) Dalam Laporan Tahunan…………. 33
B. Indeks Unexpected Trading Volume ……………………………… 36
C. Uji Hipotesis ………………………………….…………………… 38
1. Uji Normalita Data ……………………………….……………… 38
vi
2. Uji Regresi ………………………………………………..….…..39
3. Interpretasi Hasil Pengujian …………………………………….… 39
V. PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………. 43
B. Implikasi hasil penelitian ………………………………………………. 44
C. Keterbatasan Penelitian ……………………………………….……… 45
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..…..
LAMPIRAN …………………………………………………………………………
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
TABEL 1 Indeks Pengungkapan Laporan Keuangan Tahun 2003 ……….……… 35
TABEL 2 Indeks Unexpected trading Volume Tahun 2004 ……. …………….… 37
TABEL 3 Grafik Normal Probability Plot ………………………….…………… 39
TABEL 4 Nilai R, R Square, SEE untuk pengujian Hipotesis ….…………… 39
TABEL 5 Konstanta, Koefisien Regresi, T Test dan Signifikansi untuk Pengujian
Hipotesis ……………………….……………………………… 39
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
LAMPIRAN 1 Daftar Pengungkapan Dalam Laporan Keuangan …………
LAMPIRAN 2 Indeks Pengungkapan …………………………………………
LAMPIRAN 3 Daftar Perusahaan Sampel beserta Tanggal Publikasi Laporan
Keuangan Tahunan …………………………………………
LAMPIRAN 4 Perhitungan Unexpected Trading Volume Selama 5 Hari
Sebelum Dan Sesudah Tanggal Publikasi ………….………
LAMPIRAN 5 Indeks Unexpected Trading Volume ……………….…………
LAMPIRAN 6 Hasil Regressi dan Normal Probability Plot ….………..………
Daftar Pustaka
Aviliani dan Hidayat, Usman. Penafsiran Informasi Publik di Pasar Modal.
Kompas, 4 April 2005. Hal. 27
Belkoui, Ahmed. 1987. Teori Akuntansi. Jilid Satu. Edisi Kedua. Terjemahan
Herman Wibowo dan Marianus Sinaga. Jakarta: Erlangga.
Belkoui, Ahmed Riahi. 2000. Teori Akuntansi. Buku Satu. Edisi Pertama.
Terjemahan Marwata dkk. Jakarta: Salemba Empat.
Chariri, A. dan Ghozali I. 2003. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Fitriany. 2001. Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Wajib
Dan Sukarela Pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi IV. Hal.133-154.
Gunawan, Y. 2000. Analisis Pengungkapan Informasi Laporan Tahunan Pada
Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional
Akuntansi III. Hal. 78-98
Indriantoro, N. dan Supomo, B. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi Dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Jogiyanto. 2000. Teori Portofolio Dan Analisis Investasi. Edisi Dua. Yogyakarta:
BPFE.
Juniarti dan Yunita F. 2003. Pengaruh Tingkat Disclosure Terhadap Biaya Ekuitas.
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol.5. No.2. Hal.150-168 (Online) Http:
//puslit.petra.ac.id/journal/accounting/ (diakses 30 April 2005).
Kieso, D.E. dan Weygandt, J.J. 1995. Akuntansi Intermediate. Buku Tiga. Edisi
Ketujuh. Jakarta: Binarupa Aksara.
Kieso, D.E. et. al. 2002. Akuntansi Intermediate. Buku Satu. Edisi kesepuluh.
Jakarta: Salemba Empat.
Mardiyah, A. A. 2001. Pengaruh Informasi Asimetri dan Disclosure Terhadap Cost
of Capital. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 787-820.
Surat Edaran Ketua Bapepam. 2002. Pedoman Penyajian dan Pengungkapan
Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur.
Badan Pengawas Pasar Modal. (Online) Http: //bapepam.go.id/ (diakses 30
April 2005).
Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT. Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia.
Sidarta, A. dan Juniarti. 2003. Pengaruh Kualitas Disclosure Terhadap Biaya
Hutang. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 1287-1298.
Satya, Yuri Chandra D. 2004. Pengaruh Publikasi Laporan Keuangan Arus Kas
Terhadap Volume Perdagangan Saham (Studi pada Bursa Efek Jakarta).
Skripsi Universitas Brawijaya Malang.
Warsono. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama.
Malang: UM Press.
Wahyuni, Endang D. 2005. Hubungan Pengungkapan Laporan Keuangan, Asimetri
Informasi Dan Cost of Capital. Lembaga Penelitian Universitas Muhammaiyah
Malang.
Zuhroh, D. dan Sukmawati, I Putu Pande Heri. 2003. Analisis Pengaruh Luas
Pengungkapan Sosial Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi
Investor (Studi Kasus pada Perusahaan-Perusahaan High Profile di BEJ).
Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 1314-1334.

The Influence of Intellectual Capital to Financial Performance at Insurance Companies in Jakarta Stock Exchange (JSE)

July 26, 2010 10 comments

Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399

Sri Iswatia* and Muslich Anshoria
a Faculty of Economics Airlangga University
Abstract
To overcome the competition, a company not only focuses on physical capital, but also focuses on intellectual capital.
Company can achieve a competitive advantage and earn profit by owing intellectual capital. Intellectual capital rests on a potential
link between intellectual capital on one hand and corporate performance on the other hand. A company will grow up if a growing
number of physical capitals in the same line with a growing number of intellectual capitals.
The purpose of this empirical study is to investigate the influence of intellectual on insurance company’s performance,
especially financial performance. This study uses empirical data from Indonesia Capital Market Directory 2005 that issued of
Jakarta Stock Exchange (JSE). This research use quantitative analysis. The population of the research is insurance companies at
listed in JSE. The hypothesis test conducted by regression analysis model with the degree of significant at 0.05. The main
conclusion from this particular study is intellectual capital has influence on bank’s performance.
Keywords: Intellectual capital; Insurance companies; Financial performance
1. Introduction*
Human being is a central attention in twentieth
century. It relates to the progress of the economic
development sciences and sociology. The experts of
those sciences agree on one thing that human capital
takes a significant role or even more important than
technological factor driving the economic growth.
Human capital concern not only on quantity sector but
more importantly is qualification sector. The new
perspectives of the productivity growth started at the
end of 1980’s lead by the pioneers like Paul Roomer
and Robert Lucas who emphasized on the development
of human capital aspects (Roos and Rylander, 2000).
Human capital refers to the individual knowledge and
skill. Education is one the ways to increase human
capital. It is expected that the higher an individual
takes the education, his human capital also increases.
In modern economic perspectives, the progress of
economic growth refers to knowledge-base economic
and the implementation of knowledge management.
This system shares opinion that conventional capitals
such as natural resources, financial resources, and other
tangible assets resources are meaningless without
knowledge-base and technological base capital. The
implementation of knowledge-base and technologicalbase
capital in a company will accelerate the efficiency
* Corresponding author. E-mail: iswati@fe.unair.ac.id
and effectiveness of the implementation of other
resources, so that they will affect to the competitive
advantage of the company.
The great gaps between market value of the
company and its book value have successfully drawn
the researchers attention to study and investigate the
missing value which have not been reported in the
financial reports (Daniel and De Jonge, NY)
Monetary industry is a knowledge intensive
industry where its activity more using intellectual
capital compared to physical asset in manufacturing
business. One of the monetary industries is the
Insurance companies companies. Because of the
importance of intellectual capital, companies need
information about it. Beside that, management of
intellectual capital effectively will push growth of
performance which is on finally will be able to
improve market value.
The intellectual-base companies will have totally
different financial structures with tangible asset-base
companies. The comparison of IBM and Microsoft can
be used to convince the opinion. Eventhough IBM
selling was greater, Microsof was a company with
higher value. Since November 1996, total market
capitalization owned by IBM was $ 70,7 billion, while
Microsoft was $ 85,5 billion. The assets served as a
basis of those capital is totally different. In early of
1996, net value of asset of IBM was $ 16,6 billion
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1394
while net value of asset Microsoft was $ 930 million
(Steward, 2002)
2. Literature Review and Hypothesis
2.1. Financial Performance
Company performance is very essential to
management as it is an outcome which has been
achieved by an individual or a group of individuals in
an organization related to its authority and
responsibility in achieving the goal legally, not against
the law, and conforming to the morale and ethic.
Performance is the function of the ability of an
organization to gain and manage the resources in
several different ways to develop competitive
advantage. There are two kinds of performance,
financial performance and non-financial performance
(Hansen and Mowen, 2005). Financial performance
emphasizes on variables related directly to financial
report. Company’s performance is evaluated in three
dimensions. The first dimension is company’s
productivity, or processing input into output efficiently.
The second is profitability dimension, or the level of
which company’s earning is bigger than its cost. The
third dimension is market premium, or the level of
which company’s market value is exceeding its book
value (Walker, 2001).
2.2. Profitability
In this study, financial performance only focused
on one dimension as stated by Walker (2001),
profitability. The reason choosing the standard are:
a. The implementation of net profit before tax
eliminates the effects of converting of tax
structure to profitability level.
b. Identifying of the company’s effectiveness in
managing the resources.
In SFAC No.1 is stated that the profit information
is prime attention in appraising performance or
responsibility of the management, and profit
information helps the owner of stake holders appraise
the company’s profitability in the long run. In financial
report, profits also functions as parameter to evaluate
management performances, so that the investor’s
attention only on profit information without paying
attention the procedure which is applied by the
company to produce profit. This concern urges
managers in maximizing the ratio of profitability.
2.3. Intellectual Capital
Intellectual capital is also known as intellectual
property, intellectual assets, and knowledge assets.
However, the concepts are different among them
(McConnachie, 1997). Intellectual capital is considered
as a potentially valuable knowledge. When the
intellectual declared for the proprietorship as the same
time it turns into intellectual property which value can
be measured depends on its implementation.
Knowledge with definite value and specific
implementation for definite goal has become
intellectual assets to the proprietor. Intellectual capital
reveals transformed knowledge into valuable one to
company, while intellectual asset is the changing form
for knowledge transformation product. Therefore, in
accounting terms the intellectual asset is on the debit
side such as patent, while intellectual capital is on the
credit side which is total capital invested in intellectual
asset.
Society of Management Accountants Canada
(SMAC) defines intellectual capital as item of
knowledge held by individuals which then joining to
the company to gain for future benefit. According to
Stewart (1997), intellectual capital is as follows:
1. Intellectual capital is wholly things known
and given by individuals to the company
which result the competitive advantage.
2. Intellectual capital is intellectual material such
as knowledge, information, intellectual
proprietary right, and experiences which
creating wealth. Intellectual capital is
essential for it is affirming that:
a. The transformation from industrial
era to information era,
b. The main contributor to the
company’s value is intangible asset,
and
c. Knowledge and information keep
growing.
Intellectual capital possesses different uniqueness
refers to its core business and core competency. The
value which is assembled from the intellectual
elements shown in the financial report will reflect the
uniqueness of the company.
2.4. The Intellectual Capital Measurement and
Disclosure.
The effort to develop intellectual capital
measurement and disclosure has long time treated with
several approach. According Stewart (1997) there are
three methods to measure intellectual capital that is:
a. Market-to-book value (MBV)
The Market to book value is deference
between market value and book value. The
disadvantage are: (1) obey external factor can
influence market value, (2) The book value
and market value sometimes not represent real
value of firms, caused of the difference of
accounting method which used by the firms.
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1395
b. Tobin’s “q”
The method compare between market value of
assets with replacement cost. The advantage
of this method is has inflation factor.
c. Calculated Intangible Value (CIV)
The CIV method count the return over from
tangible assets, than used it for based for
certain effect return portion from intangible
assets.
According Rodov and Leliaert (2002) and Pablos
(2003) intellectual capital measurement can calculate
by the following methods:
a. The invisible balance-sheet (IBS)
The invisible balance sheet divided
intellectual capital in individual capital and
structural capital. The indicator individual
capital is professional competition, company
strategy, education, experience, size of worker
which related by customer and stated project.
b. The intangible assets monitor (IAM)
The IAM purpose to measure intangible assets
in similar model with the balanced scorecard,
that is used three indicators to measure
intellectual capital. The indicator are client
(external assets structure), organization
(internal assets structure), and human being
(worker competition assets).
c. The balanced scorecard (BSC)
The balanced scorecard is measurement
system which show how far company strategy
has implemented in four perspectives. The
perspective is financial, customer, business
internal, and innovation and growth.
d. Economic Value Added (EVA™)
EVA is a comprehensive performance
measurement which uses capital budgeting
variable and financial, goal setting,
performance measurement, stock holder
communication, and incentive compensation
which get to improve or decreasing company
value.
e. IC-index
The IC-index tries to consolidate among
individual indicator in single index. Beside
that, the IC-index tries to correlate intellectual
capital change in the market. This approach
combine strategy, non financial size, and
management value added.
f. Technology broker (TB)
The model explains that market value of
company consists of two elements, there are:
tangible assets and intangible assets. The TB
approach perform split in intellectual capital
practice because company possibility to count
dollar value intellectual capital.
g. The return on assets (ROA) method
The ROA is ratios between average
company’s incomes divided by average
tangible assets during five average years. This
ratio compare with industry average to count
the difference. If the different are zero or
negative, than the company have no over
intellectual capital, therefore the company
intellectual capital is zero. If the difference is
positive, company assumption have over
intellectual capital from industries.
h. Market capitalization method (MCM)
The MCM method gives market size of
intellectual capital. The assumption of this
method is market capitalization over stock
holder’s equity as intellectual capital. This
method based on market premium and quote
stock price.
i. The direct intellectual capital method (DIC)
The DIC method focus on value of intellectual
capital measurement which identification
several part and further evaluation. The
component of market asset such as: customer
loyalty, intellectual property (such as: patent,
copyright), technology assets, human being
assets (such as: education, training), and
structural capital (such as: information system)
as focus of the DIC. After measure all
component, will obtain total intellectual
capital.
j. Skandia AFS Business Navigator (SBN)
The SBN’s model explains value of
component which performs intellectual capital.
It’s consisting of the role and development
report method. Design of SBN used for
balance visualization from financial capital
and intellectual capital. The Skandia monitor
its performance based on 30 key
predominance indicators in several areas.
k. Financial method of intangible assets
measuring (FiMIAM)
According this model, the company
intellectual capital consists of human being,
customers, and structure. It’s method to make
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1396
possible somebody to estimate monetary
value part of relevant intellectual capital and
to estimate the company balance sheet.
In this research, Intellectual capital counted by
market to book value. The advantage this method that
is:
a. the information to count intellectual capital
prepared for public
b. suitable for management decision
c. Suitable for external user because the
indicator which used common know and the
information easy to obtain.
2.5. The Influence of Intellectual Capital to
Organization Performance
Several research indicate significant prove if
intellectual capital influence to organization
performance. In globalization era, all organization
effort has to competitive advantage. To achieved
competitive advantage needs both physical capital and
intellectual capital. The study result of Hitt et al. (2001)
proved the role intangible capital more dominant
compare with tangible capital. Another research
indicate that intellectual capital recognized as
important resources which give use for create
organization efficiency, effectively, productivity, and
innovative better than physical capital and financial
capital (Najibullah, 2005).
The research result by Pulic (1999) show that
intellectual capital can create value added for
organization. Its study support the idea if intellectual
capital as very important resources for organization.
Consistent with research before, intellectual capital has
potential as wealth creator in business organization
(Walker, 2001; Usoff et al., 2002; and Karp, 2003).
The ability intellectual capital as strategic resources
can see through its role as a driver in increasing
business performance. In this case, the intellectual
capital is an important key to achieve competitive
advantage. The opposite research result before, studied
by Iswati (2007) show that no influence between
intellectual to bank’s performance in Jakarta Stock
Exchange.
Interest for depth further, the Peña (2002) result
proved his hypothesis, that the new organization
performance depend on intellectual capital
management which achieved by entrepreneur in
preparation period. This result strongly support about
intellectual capital role in business life cycle, start from
preparation stage till maturity stage.
Breman (2001) has test the influence of
intellectual capital to business performance for
organization which go public in Ireland. The
performance variables consist of productivity, skill,
and organization profitability. Its result show that the
influence of intellectual influence profitability variable.
Besides that, Walker (2001) did research the relation
between intellectual capitals with three dimension of
organization performance; there are profitability,
productivity, and market price. Walker’s result there is
significant positive relation between human being
capital and organization performance in both yang low
knowledge base organization and high knowledge-base
organization. Based on literature review which
explains before, this leads to the following hypothesis.
Hypothesis: “Intellectual Capital has influence to
organization performance in Insurance companies in
Jakarta Stock Exchange”.
.3. Research Methodology
3.1 Research Framework
According to the description at the literature
review, the hypothesis perform is “Intellectual Capital
has influence to organization performance in Insurance
companies in Jakarta Stock Exchange”. This research
uses the quantitative paradigm. To examine the
hypothesis used simple regression analysis. All test
conducted by software SPSS version 11.5 for Windows
program. The degree of significant is 5%. The prime
research which used model is Brennan (2001). It’s test
the influence of intellectual capital to business
performance which goes public in Ireland. The result
of this research is intellectual Capital has influence to
organization performance. Beside that, in this study
combined research which conduct by Walker (2001).
Its result there is significant positive relation between
human being capital and organization performance in
both yang low knowledge base organization and high
knowledge-base organization.
3.2. The Research Population and Sample
The research population is all companies which
go public in Jakarta Stock Exchange (JSE), totally 10
units. All companies processed in statistical model,
without sample. All companies use same fiscal period.
3.3. The Variables and Operational Definition
The research analyzes the relationship between
independent variable and dependent variable. There are:
a. Intellectual Capital (IC) is a independent
variable
Intellectual capital as a market value which
above tangible asset value in the balanced
sheet. IC determined by market-to-book value
formula (Stewart, 2002:247)
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1397
IC = the average from five years of
market value – The average
from five years of book
Market value = the price of per-peace of
stock X outstanding stock
b. Financial Performance (FP) is a dependent
variable. Financial performance is
achievement insurance companies which
measured by profitability. The profitability
used to measure effectively measurement of
asset.
3.4. Analysis Model
The analysis model which used by this research is:
FP = b0 + b1 IC + e, which:
FP = Financial Performance of Insurance
Companies
IC = Intellectual Capital
b0 = constant
b1 = slope, the score of intellectual capital
influence to Financial performance
e = error, the score of error factor out of
model
4. Research Results, Findings and Discussion
The data which process is 10 insurance companies.
From 10 companies be evident three companies
experience deficit (negative income) in 2004 and 2005
there are Asuransi Bina Dana Artha Company and
Asuransi Bintang Company. Further, in 2003 Lippo
General Insurance companies, there for three
companies expelled from that statistical process.
The Insurance companies which used in this
research namely:
a. PT. Asuransi Dayin Mitra
b. PT. Asuransi Harta Aman Pratama
c. PT. Asuransi Jasa Tania
d. PT. Asuransi Ramayana
e. PT. Maskapai Reasuransi Indonesia
(Marein)
f. PT. Panin Insurance
g. PT. Panin Life
Table 1. Insurance Companies with Negative Income Year 2001-2005
The Name Insurance Companies Negative Income (in billion Rupiah)
2005 2004 2003
1
2
3
PT. Asuransi Bina Dana Arta
PT. Asuransi Bintang
PT. Lippo General Insurance
14,228
1,358
-
6,097
965
-
-
-
20,346
Source: Indonesian Capital Market Directory 2005, processed
Table 2. Regression Coefficient and Level of Significant for
Financial Performance as Independent Variable, and Intellectual Capital as Dependent Variable.
Coefficients
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
Model B Std.Error Beta
t
Sig.
1 (Constant)
Intellectual capital
3.640
.126
.276
.076
.169
11.741
1.907
.000
.077
Depended Variable: Financial Performance
Source: Regression result
4.1. The Reliabilities and Validities test
Cronbach’s alpha was used to test the reliability
and validity of data. The results show that all alpha
scores more than 0.05. Its mean, that all the data were
reliable. The validity testing used the rank
spearman’s rho correlation. The results show that all
variables have the significant less than 0.05. Its mean,
that all the data were valid. The results of normality,
multicollinearity, and heteroscedasticity test show that
model preparations comply with the classic
assumption (the data didn’t included in the article).
4.2 Analyses and Hypotheses Test
The data test use SPSS version 11.5 for window
program. The results of data preparation can be seen
at Table 2. At the level of significant 0.05, Table 2
shows that the intellectual capital has influence to
financial performance in insurance companies. Based
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1398
on the estimation from regression model, the
regression model was:
Y = 3.640 + 0.169X + 0.276,
Or
Financial Performance = 3.640 + 0.169
Intellectual capital +
0.276
The regression coefficient 3.640 means the
relation between intellectual capital and financial
performance is positive. The model indicated every
added of intellectual capital which added positively
significant of financial performance. Every increasing
one point of intellectual capital value will increase
0.169 point of financial performance. Based on
regression output show that value of significance less
than 5% (p < 0.005), its mean intellectual capital
influence to financial performance. The R value
0.637 mean there are correlation among variables. The
R-square value 4.058 mean intellectual can used to
predict financial performance 4% among variables
which influence profitability. Based on statistically
result the level of influence intellectual capital to
financial performance only four percent, and 96%
which predict profitability determined by another
variables. Although the influence small relatively but
significant, so the organization can obey this finding.
There are many methods to measure financial
performance such as the level of profitability, earning
after taxes, residual income, return on assets, return on
earning, return on investment, economic value added,
etc. All method which a mention before is financial
perspective. Until now, profitability as often used by
researcher cause of very famous and common
measurement for external user’s although has no
accounting background. So, this indicator can
understood for every body in business society.
4.3. Discussion
Based on data analysis which explained above,
we know that the research hypotheses approved. Its
mean intellectual capital has influence to financial
performance in insurance industries in Jakarta’s Stock
Exchange (JSE).
This research supports the Brennan (2001)
research. It’s statistically proved has influence to
financial performance in insurance industries in
Ireland. Besides that, the research result also supports
Walker (2001) which uses three dimensions to
measure financial performance. The one’s is corporate
profitability. There is positive relationship between
human capital and financial performance for both low
knowledge based corporate and high knowledge based
corporate. In other side, the research result also
supports Bontis (2000) and Belkaoui (2002). In their
research proved that intellectual capital as important
component to support organization wealth.
Interest for depth further, the Peña (2002) result
proved his hypothesis, that the new organization
performance depend on intellectual capital
management which achieved by entrepreneur in
preparation period. This result strongly support about
intellectual capital role in business life cycle, start
from preparation stage till maturity stage.
Intellectual capital which used in this study was
market to book value (MBV). The advantages of this
method are easier to use, data can be access from
capital market and the cost relatively cheap. In other
side, the disadvantages of this method are obey
external factor can influence market value. The book
value and market value sometimes not represent real
value of firms, caused of the difference of accounting
method which used by the firms. The explain above
we know several method to measure intellectual
capital, Stewart (1977) besides market to book value
over Tobin’s “q” and Calculated Intangible Value
(CIV). RodovandLeliaert (2002) and Pablos (2003)
offer several method for intellectual capital measure,
there are the invisible balance-sheet (IBS), The
intangible assets monitor (IAM), the balanced
scorecard (BSC), Economic Value Added (EVA™),
IC-index, Technology broker (TB), The return on
assets (ROA) method, Market capitalization method
(MCM), The direct intellectual capital method (DIC),
Skandia AFS Business Navigator (SBN), and
Financial method of intangible assets measuring
(FiMIAM).Although no perfect method, we necessary
to prove several methods to make confidence with
research result.
5. Conclusion and Recommendation
The research result can prove that intellectual
capital influence to insurance’s financial performance
in Jakarta Stock Exchange. Notice to the method that
used to count capital intellectual, therefore necessary
developed other research that used different method.
The intellectual capital concept is new relatively,
not only in Indonesian but in global business
environment. Therefore only the developed countries
have applied apply those concepts in business. The
business society facing suitable measurement problem
of intellectual capital therefore it’s make challenge for
science society.
In traditional paradigm, economic science only
emphasis and examine physical capital. Human
capital as main resources in an organization for
support productivity and economic activity often
abandon (Nahapiet and Ghosal, 1998). Several
Proceedings of the 13th Asia Pacific Management Conference, Melbourne, Australia, 2007, 1393-1399
1399
researches which done by researcher in intellectual
capital sector can give enlighten specially in human
being side (McConnachie, 1997; Roos and Roos,
1997; Roos and Rylander, 2000; Bontis, 2000;
Brennan, 2001; Pablos. 2002; Rodov, Irena and
Leliaert. 2002; Belkoui 2002; Tseng and James, 2005).
As it’s found by several disadvantages from
accounting measurement side which focus on
monetary, the study about intellectual capital gives a
new inspiring. It’s can explore and appear if
intellectual capital as a most important capital in all
business for both profit oriented and non profit
oriented. In turns, the more human studies will
appears.
References
Belkoui, Ahmed Riahi. (2002). “Intellectual Capital and Firm
Performance of U.S. Multinational Firms: A Study of the
Resource-Based and Stakeholder views”. http:/papers.ssrn.com.
Bontis, Nick. (1998). Intellectual Capital: an Exploratory Study that
Develops Measures and Models. Management Decision, 36 (2),
63-76.
Bontis, Nick, William Chua Chong Keow, and Stanley Richardson.
(2000). Intellectual Capital and Business Performance in
Malaysian Industries. Journal of Intellectual Capital, 1 (1),85-
100.
Brennan, Niamh. (2001). Reporting Intellectual Capital in Annual
Reports: Evidence from Ireland. Accounting, Auditing &
Accountability Journal, 14 (4), 423-436.
Daniel, Henry and De Jonge, Tanpa Tahun (NY). Project Selection
in Knowledge Intensive Organizations Based on Intellectual
Scorecards. Netherlands: Tilburg University and Erasmus
University, Rotterdam
Firer, Steven and S. Mitchell Williams. (2003). Intellectual Capital
and Traditional Measures of Corporate Performance. Journal
of Intellectual Capital, 4 (3), 348-360.
Hansen, Don R., and Maryanne M. Mowen. (2005). Management
Accounting, 7th Edition. Singapore: South-Western, a Division
of Thomson Learning Inc.
Hitt, Michael A. et all. (2001). Direct and moderating Effects of
human Capital on Strategy and Performance in Professional
Service Firms: A Resource-Based Perspective. Academy of
Management Journal, 44 (1), 13-28.
Iswati, Sri, (2007). Memprediksi Kinerja Keuangan dengan Modal
Intelektual pada Perusahaan Perbankan Terbuka di Bursa Efek
Jakarta. Ekuitas, XI (2), 159-174
Karp, Tom. (2003). Is Intellectual Capitalism the Future Wealth of
Organizations? Foresight, 5 (4),20-27.
McConnachie, Gordon. (1997). The Management of Intellectual
Assets: Delivering Value to the Business. The Journal of
Knowledge Management, 1(1), 56-62.
Najibullah, Syed, (2005). An Empirical Investigation of the
Relationship between Intellectual Capital and Firms’ Market
Value and Financial Performance. Independent University,
Bangladesh.
Nahapiet, Janine and Sumantra Ghosal. (1998). Social Capital
Intellectual Capital and the Organizational Advantage.
Academy of Management review, 23 (22), 242-266.
Niswonger, Rollin C, Carl S. Warren, James M. Reeve, and Philip
E. Fees. (2005). Accounting Principles. 21st Edition. New
York: South-Western College Publishing.
Pablos, Patricia Ordoñez. (2002). Evidence of Intellectual Capital
Measurement from Asia, Europe and the Middle East. Journal
of Intellectual Capital, 3 (3), 287-302.
Peña, Iñaki. (2002). Intellectual Capital and Business Start-Up
Success. Journal of Intellectual Capital, 3 (2), 80-198.
Prager, Jonas, (1992). Fundamental of Money, Banking, and
Financial Institution. New York: Harper and Row Publisher.
Pulic, Ante and Manfred Bornemann. (1999). The Physical and
intellectual Capital of Austrian Bank. http:/www.measuringip.
at.
Rodov, Irena and Philippe Leliaert. (2002). FiMIAM: Financial
Method of Intangible Assets Measurement. Journal of
Intellectual Capital, 3 (3),323-336.
Roos, Goran and Roos, Johan, (1997). Measuring your Company’s
Intellectual Performance. International Journal of Strategic
Management: Long Range Planning, 30 (3), 413-426.
Roos, G., Kristine Jacobsen, and Anna Rylander, (2000). Towards
Improved Information Disclosure on Intellectual
Capital,.International Journal of Technology Management, 20
(5/6/7/8), London, United Kingdom.
Stewart, Thomas A. (2002). Modal Intelektual: Kekayaan Baru
Organisasi. Jakarta: PT Elex Media komputindo.
Tseng, Chun-Yao and Goo, Yeong-Jia James, (2005). Intellectual
Capital and Corporate Value in an Emerging Economy:
Empirical Study of Taiwanese Manufacturers. R & D
Management,187-201.
Us off, Chaterine A., Jay C. Thibodeau, Priscilla Burnaby. (2002).
The Importance of Intellectual Capital and Its Effect on
Performance Measurement Systems. Managerial auditing
Journal, 17/1/2, 9-15.
Walker, Dana Charles. (2001). Exploring the Human Capital
Contribution to Productivity, Profitability, and the Market
Evaluation of the Firm.
http:/wwwlib.umi.com/dissertations/preview_all/3010003.

Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2002

July 26, 2010 Leave a comment

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Hal
1. Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2002….. 60
2. Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2003…… 61
3. Analisis Regresi Dan Perhitungan Asumsi Klasik Dengan
Program SPSS……………………………………………………………………………….. 62
4. Daftar Kritik Uji F ………………………………………………………………………… 67
5. Daftar Kritik Uji t …………………………………………………………………………. 68
6. Laporan Keuangan Bank Di BEJ Tahun 2002-2003…………………………… 69
7. Surat Ijin Penelitian……………………………………………………………………….. 109
8. Surat Keterangan…………………………………………………………………………… 110
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
1.1 Likuiditas, Profitabilitas Dan Return Saham Bank di BEJ
Tahun 2000……………………………………………………………………………. 3
3.1 Bank Yang Dijadikan Obyek Penelitian…………………………………….. 29
4.1 Data Likuiditas Bank di BEJ Tahun 2002- 2003………………………… 42
4.2 Data Likuiditas Profitabilitas Dan Return Saham Bank Di BEJ
Tahun 2002-2003…………………………………………………………………….. 43
4.3 Data Return Saham Bank di BEJ Tahun 2002-2003…………………… 45
4.4 Ringkasan Perhitungan Analisis Regresi Berganda…………………….. 46
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
1. Kerangka Berfikir…………………………………………………………………. 27
xi
4.2.1 Likuiditas………………………………………………………. 41
4.2.2 Profitabilitas…………………………………………………. 42
4.2.3 Return Saham………………………………………………… 44
4.3 Analisis Statistik……………………………………………………. 45
4.4 Evaluasi Ekonometri……………………………………………… 49
4.5 Pembahasan………………………………………………………….. 50
BAB V. PENUTUP…………………………………………………………………. 56
5.1 Simpulan………………………………………………………………. 56
5.2 Saran……………………………………………………………………. 56
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………. 58
LAMPIRAN………………………………………………………………………………. 60
x
2.1.2 Jenis Pasar Modal…………………………………………… 10
2.1.3 Peranan Pasar Modal………………………………………. 11
2.1.4 Pasar Modal Indonesia……………………………………. 13
2.1.5 Sistem Perdagangan di Bursa Efek Jakarta………… 17
2.2 Laporan Keuangan…………………………………………………. 18
2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan…………………………. 18
2.3 Profitabilitas…………………………………………………………. 21
2.4 Likuiditas……………………………………………………………… 21
2.5 Return Saham………………………………………………………… 23
2.6 Kerangka Berpikir…………………………………………………. 25
2.7 Hipotesis………………………………………………………………. 28
BAB III. METODE PENELITIAN…………………………………………… 29
3.1 Populasi dan Sampel……………………………………………….. 29
3.2 Variabel Penelitian………………………………………………….. 30
3.3 Metode Pengumpulan Data……………………………………… 30
3.4 Metode Analisis Data…………………………………………….. 31
3.5 Analisis Regresi…………………………………………………….. 31
3.6 Pengujuan Asumsi Klasik……………………………………….. 34
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………… 37
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………. 37
4.1.1 Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan………. 37
4.1.2 Pengertian Bank dan Lembaga Keuangan Lain….. 40
4.2 Deskripsi Variabel…………………………………………………… 41
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………… i
PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………………………………. ii
PENGESAHAN KELULUSAN…………………………………………………. iii
PERNYATAAN…………………………………………………………………………. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………………….. v
PRAKATA………………………………………………………………………………… vi
SARI………………………………………………………………………………………….. viii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… ix
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………….. xii
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………. xiii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………….. xiv
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………….. 1
1.2 Perumusan Masalah……………………………………………….. 5
1.3 Penegasan Istilah……………………………………………………. 5
1.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian……………………………… 7
1.5 Sistematika Skripsi………………………………………………… 8
BAB II. LANDASAN TEORI………………………………………………….. 9
2.1 Pasar Modal…………………………………………………………… 9
2.1.1 Pengertian Pasar Modal…………………………………… 9
viii
SARI
Ariyadi Primandoko, 2005, “Pengaruh Likuiditas Dan Profitabilitas Terhadap
Return Saham Bank Di BEJ”, Skripsi. Pendidikan Ekonomi Akuntansi Fakultas
Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 110 Halaman.
Suatu bank harus memiliki likuiditas dan profitabilitas yang baik agar
bank tersebut mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, likuiditas diperlukan
agar dana selalu tersedia saat nasabah ingin menarik dana dari bank, sedangkan
profitabilitas menunjukkan tingkat laba suatu bank, salah satu cara untuk
memperkuat posisi likuiditas adalah dengan menerbitkan saham. Yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh likuiditas dan
profitabilitas terhadap return saham ?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap return
saham bank di BEJ
Populasi dari penelitian ini berjumlah 26 bank yang terdaftar di BEJ.
Sampel yang diambil berjumlah 19 bank. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan Purposive Sampling. Data yang diambil berupa laporan keuangan
bank selama dua tahun (2002 dan 2003) dari 19 bank yang termasuk dalam
sampel, sehingga n berjumlah 38. Metode analisis data yang digunakan adalah
analisis regresi, yang untuk memudahkannya digunakan program komputer SPSS.
dan metode pengumpulan datanya adalah metode dokumentasi. Variabel bebasnya
adalah likuiditas dan profitabilitas sedangkan variabel terikatnya adalah return
saham.
Hasil penelitian secara parsial diperoleh nilai thitung untuk likuiditas sebesar
2,405 sedang nilai ttabel = 1,691. Dari hasil perbandingan tersebut terlihat thitung <
ttabel maka Ho ditolak artinya ada pengaruh likuiditas dengan return saham. Untuk
profitabilitas nilai thitung = 2,390 sedang ttabel = 1,691. Dari perhitungan tersebut
diperoleh kesimpulan bahwa thitung > ttabel maka Ha diterima artinya ada pengaruh
antara profitabilitas dengan return saham. Sedangkan secara simultan diperoleh
nilai Fhitung = 5,56 dan Ftabel = 5,25. Jadi Fhitung > Ftabel artinya likuiditas dan
profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham bank di
BEJ.
Berdasarkan penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa likuiditas dan
profitabilitas memiliki pengaruh terhadap return saham. Saran yang diberikan
adalah apabila suatu bank ingin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat baik
para penabung maupun investor hendaknya memiliki tingkat likuiditas dan
profitabilitas yang tinggi sehingga masyarakat akan menaruh kepercayaan
terhadap bank tersebut.
vii
9. Novi Titisari dan teman-temanku (Welry, Jenal, Patur, Mazda,
Rully”Bagong”, Gogon dan Joko) atas dukungan dan bantuan yang telah
diberikan.
10. Kru Arial. Com terima kasih atas semuannya.
11. Semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para
pembaca.
Penulis
vi
PRAKATA
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH
SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun
skripsi ini dalam rangka mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri
Semarang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas
dari dukungan, bimbingan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. H. A. T Sugito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang.
2. Drs. Sunardi, MM, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
3. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Ketua Jurusan Ekonomi FIS UNNES.
4. Dra. Sri Kustini, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Muhammad Khafid, S.Pd. M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Drs. Subkhan, Dosen Penguji yang telah menguji serta memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Pihak pojok BEJ UNDIP, yang telah menyediakan data yang mendukung
skripsi ini.
8. Bapak, ibu dan saudara-saudaraku yang telah memberikan bantuan dan
dukungan baik material maupun spiritual, sehingga penulis mampu
menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana pendidikan.
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Mengalah bukan berarti kalah tapi tak selamanya harus mengalah,
maka peganglah dengan teguh pendirianmu apabila
hati nuranimu mengatakan bahwa hal itu pantas untuk dipertahankan.
(Penulis)
Persembahan
Skripsi ini aku persembahkan untuk :
Keluarga besarku yang tercinta
Novi Titisari yang tersayang
Teman – teman pendidikan Akuntansi angkatan 2000
Sahabat-sahabatku di Pemalang
yang telah memberikan kenangan masa kecil yang tidak dapat aku lupakan
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar – benar hasil karya
saya sendiri, bukan buatan orang lain dan bukan jiplakan dari karya tulis orang
lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat dan temuan orang lain yang
terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juli 2005
Ariyadi Primandoko
NIM. 3364000184
iii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Negeri Semarang pada :
Hari :
Tanggal :
Penguji Skripsi
Drs. Subkhan
NIP.131687738
Anggota I Anggota II
Dra. Sri Kustini Muhammad Khafid, S.Pd, M.Si
NIP.130795082 NIP.130795082
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial
Drs. Sunardi, MM
NIP. 130367998
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian
skripsi pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Sri Kustini. Muhammad Khafid, S.Pd M.Si
NIP. NIP.
Mengetahui,
Ketua Jurusan Ekonomi
Drs. Kusmuriyanto, M.Si.
NIP. 131404309
PENGARUH LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP
RETURN SAHAM BANK DI BURSA EFEK JAKARTA
S K R I P S I
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Ekonomi Akuntansi
pada Universitas Negeri Semarang
Oleh :
Ariyadi Primandoko
NIM 3364000184
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
8
1.5. Sistematika Skripsi
Penulisan skripsi ini terbagi dalam lima bab. Bagian pendahuluan
skripsi berisi judul skripsi, abstrak, pengesahan, motto dan persembahan,
kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar atau grafik.
Bab I : Pendahuluan, berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah.
Bab II : Landasan teori, berisi tinjauan pustaka yang membahas teoriteori
yang melandasi permasalahan
Bab III : Metode penelitian, menjelaskan tentang populasi, variabel,
metode dan teknik pengumpulan data, serta analisis data.
Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan, mengemukakan tentang
hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V : Penutup, berisi tentang simpulan tentang hasil penelitian dan
pembahasan hasil penelitian.
Bagian akhir dari skripsi meliputi daftar pustaka, lampiran dan
pengesahan.
7
1.4. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
A. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
memperoleh bukti empiris mengenai likuiditas dan profitabilitas
terhadap return saham bank di bursa efek Jakarta.
B. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Kegunaan praktis
a) Bagi Perusahaan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam mengambil kebijakan perusahaan khususnya bagi bank
b) Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam pengambilan investasi saham di pasar
modal
2. Kegunaan teoritis
Bagi Lembaga Perguruan Tinggi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu ekonomi. Hasil penelitian ini juga diharapkan
dapat sebagai tambahan informasi karya ilmiah bagi pembaca di
perpustakaan dan sebagai rujukan bagi peneliti yang akan
mengembangkan penelitian sejenis.
6
x100%
total deposit
Securities
IPR =
(Abdullah,2004:269)
3. Return saham
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi (Jogiyanto,
2000:107). Konsep return yang digunakan adalah return realisasi (actual
return) yang dapat berupa capital gain maupun capital loss. Dalam
penelitian ini return saham diukur berdasarkan harga saham awal tahun
2002 dan harga saham akhir tahun 2002.
Return realisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
capital gain /loss yang sering juga disebut actual return. Besarnya
actual return dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
1
1( )
-
– -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t (periode penutupan/
terakhir)
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000:10)
5
1.2. Perumusan Permasalahan
Dari uraian di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah
Bagaimana pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap return saham
pada bank yang terdaftar di bursa efek jakarta?
1.3. Penegasan Istilah
Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan di teliti
serta untuk menyamakan persepsi terhadap judul penelitian ini perlu di
jelaskan pengertian dari istilah-istilah yang digunakan yaitu:
1. Profitabilitas
Profitabilitas yaitu kemampuan suatu bank dalam menghasilkan
laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan
untuk menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 1998:36). Dalam penelitian
ini profitabilitas dihitung berdasarkan laba setelah dikurangi pajak
(profit after taxes )
2. Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan bank dalam melunasi kewajiban
yang ditagih sewaktu-waktu (Rakub, 2003:58). Likuiditas sangat penting
bagi kreditor jangka panjang dan para pemegang saham yang akhirnya
ingin mengetahui prospek dari deviden dan pembayaran bunga di masa
yang akan datang. Dalam penelitian ini likuiditas diukur berdasarkan
infesting policy ratio yang dihitung dengan rumus:
4
berbagai sektor telah banyak dilakukan dengan hasil beragam dan tidak
sedikit yang kontradiktif.
Penelitian tentang hubungan rasio profitabilitas yang dikaitkan
dengan return saham antara lain dilakukan oleh Sunarto (2002) dengan
judul “Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return Saham
Perusahaan Manufaktur di BEJ” menunjukkan bahwa Profitabilitas secara
signifikan berpengaruh positif terhadap return saham di bursa. Penelitian
sejenis juga dilakukan oleh Syahib Natarsyah (2000) menunjukkan bahwa
profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif terhadap harga saham di
pasar sekunder. Hasil penelitiannya adalah konsisten dengan peneliti
terdahulu .
Penelitian lain yang dilakukan oleh Sugeng Sulistiono 1994;
Sulaiman 1995; Leki Rofinus 1997 (dalam Sunarto, 2002) menunjukkan
bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial
terhadap harga saham.
Oleh karena itu dengan mengetahui latar belakang tersebut dan
bertitik tolak pada uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
“PENGARUH LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP
RETURN SAHAM BANK DI BURSA EFEK JAKARTA”. Pemilihan
objek bank di bursa efek Jakarta karena peranan likuiditas dan profitabilitas
sangat berpengaruh terhadap kinerja suatu bank, berbeda dengan perusahaan
manufaktur atau perusahaan yang bergerak dalam bidang lain dimana
pengaruh posisi likuiditas tidak sebesar pada sektor perbankan.
3
Namun pada kenyataannya banyak bank yang mengalami return
saham negatif sehingga mengakibatkan bank tersebut kurang diminati oleh
para investor. Menurut teori, likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh
terhadap harga saham, oleh karena itu perusahaan perlu meningkatkan
likuiditas dan profitabilitas bank untuk menarik para investor agar
menanamkan modal di bank tersebut, dengan banyaknya investor yang
mencari saham perusahaan tersebut akan berimbas pada peningkatan return
saham bank tersebut. Sehingga penelitian untuk mengukur pengaruh
likuiditas dan profitabilitas terhadap return saham bank sangat perlu untuk
dilakukan.
Berdasarkan studi pendahuluan berikut ini akan disajikan beberapa
kondisi return saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ pada
tahun 2000 agar diperoleh gambaran yang lebih jelas.
Tabel.1.1
Tabel likuiditas, profitabilitas dan return saham bank di BEJ tahun 2000
Bank Y (return saham)
P0 P1 Return saham
Bank Danpac 900 750 -17%
Bank Global 150 110 -26%
Bank Pan Indonesia 475 170 -64%
Bank Pikko 475 400 -16%
Bank Victoria Internasional 100 70 -30%
Berdasarkan tabel 1.1 diketahui bahwa semua bank mengalami
penurunan nilai saham, hal ini bisa dipengaruhi oleh apa saja, baik faktor
fundamental maupun tehnikal. Penelitian untuk menganalisis pengaruh
berbagai faktor fundamental terhadap harga maupun return saham pada
2
Manajemen bank harus dapat menekan biaya seefektif dan
seefisien mungkin dan dapat mengembangkan penghasilan dari asset
(earning asset) masing-masing secara penuh, agar didapat keuntungan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup bank. Salah satu cara pengelolaan
bank yang baik adalah dengan memperhatikan likuiditas, solvabilitas, dan
profitabilitas bank tersebut.
Bank harus dapat mengatur likuiditasnya agar dapat mengamankan
jaminan utangnya dan dapat membayarkan tabungan nasabah yang diminta
nasabahnya sewaktu-waktu sehingga bank tersebut dapat dipercaya
masyarakat, bank juga harus dapat mengatur profitabilitasnya agar mereka
memperoleh laba dan dapat bertahan dalam persaingan yang ketat serta
berkembang mengikuti perkembangan pasar, yang berimbas pada bertambah
banyaknya nasabah dan penanam modal pada bank tersebut, dengan
tingginya harga dan return saham dan banyaknya penanam modal akan
memperkuat solvabilitas bank tersebut.
Menurut Suad Husnan dalam “Dasar-dasar Teori Portofolio dan
Analisis Sekuritas” jika profitabilitas perusahaan meningkat maka dampak
akhirnya adalah peningkatan profitabilitas pemegang saham. Sedang
likuiditas sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi
modal kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi pemegang
saham yang ingin mengetahui prospek dari deviden di masa datang.
(Munawir,1998:71)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sejak adanya kebijakan pemerintah untuk melikuidasi bank-bank
yang kurang sehat, sangat dirasakan adanya persaingan yang kian tajam
dalam dunia perbankan, terutama pada bank-bank yang go public. Bankbank
tersebut terus melakukan pengembangan. Pengembangan dilakukan
baik pada manajemen bank maupun pelayanan pada para nasabah. Kita
ketahui bahwa kegiatan pokok Bank adalah memberikan kredit kepada
masyarakat dan menyimpan dana dari masyarakat, oleh karena itu para
banker harus pandai-pandai mengelola bank tersebut agar tetap dipercaya
masyarakat dan tidak terlikuidasi.
Menurut Fabozzi dalam bukunya Manajemen Investasi ada tiga
sumber dana bank yaitu simpanan (deposit), pinjaman bukan simpanan
(non-deposit), dan saham biasa dan laba ditahan sehingga selain dengan cara
menarik dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, bank juga
memperoleh tambahan modal yang cukup besar dengan penerbitan saham,
semakin banyak jumlah saham yang diterbitkan semakin besar dana yang
diperoleh dari masyarakat untuk mengembangkan usaha bank tersebut dan
menutup kerugian-kerugian yang bisa dialami bank sewaktu-waktu,
sehingga sampai saat ini banyak bank yang memasarkan sahamnya baik di
bursa lokal maupun di bursa-bursa dunia
1
28
2.7 Hipotesis
Dengan mengacu pada rumusan masalah, tinjauan teoritis dan
beberapa penelitian terdahulu yang telah diuraikan maka hipotesis yang
diajukan adalah:
Ha : ada pengaruh antara profitabilitas dan likuiditas terhadap return
saham Bank di Bursa Efek Jakarta.
27
meningkat, maka dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang
dimiliki pemegang saham.
Likuditas menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Semakin besar likuiditas Bank maka semakin baik pula
kinerja jangka pendek Bank tersebut, sehingga investor dan nasabah Bank
tersebut akan semakin percaya kepada bank tersebut, hal tersebut akan
berimbas pada peningkatan harga saham, dan akan berakibat pada naiknya
return saham. Likuiditas sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek
efisiensi modal kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi
pemegang saham yang ingin mengetahui prospek dari deviden dimasa yang
akan datang. (Munawir,1998:71)
Penelitian tentang hubungan rasio profitabilitas yang dikaitkan dengan
return saham antara lain dilakukan oleh Sunarto (2002) dengan judul
“Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return Saham
Perusahaan Manufaktur di BEJ” menunjukkan bahwa profitabilitas secara
signifikan berpengaruh positif terhadap return saham di bursa.
Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Syahib Natarsyah (2000)
menunjukkan bahwa profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif
terhadap harga saham di pasar sekunder. Hasil penelitiannya konsisten dengan
peneliti terdahulu
Berdasarkan uraian diatas maka hubungan antar variabel dalam
penelitian ini dapat dinyatakan dalam model sebagai berikut:
Profitabilitas
Likuiditas
RETURN
SAHAM
26
Dari pernyataan diatas maka profitabilitas dan likuiditas mempengaruhi
investor dalam menanamkan modalnya, sehingga berpengaruh juga pada
return saham
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham secara
langsung adalah:
1) Kondisi fundamental perusahaan
2) Hukum permintaan dan penawaran
3) Suku bunga
4) Kurs valas
5) Dana asing di bursa
6) Indeks harga saham
7) News and rumors
8) Deviden
9) Laba
10) Faktor lain
(Arifin,2001,110-128)
Profitabilitas menunjukkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan
laba. Jika kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba meningkat
maka hal ini akan menunjukkan daya tarik bagi investor dan calon investor
dalam menanamkan modalnya ke perusahaan. Jika permintaan saham
meningkat maka harga saham akan cenderung meningkat. Hal ini akan
berakibat pada naiknya return saham. Pernyataan tersebut sesuai dengan
pendapat Suad Husnan dalam bukunya “Dasar-dasar Teori Portofolio dan
Analisis Sekuritas” yang menyatakan bahwa apabila profitabilitas perusahaan
25
2.6 Kerangka Berpikir
Informasi yang diperlukan oleh para investor di pasar modal tidak
hanya informasi yang bersifat fundamental saja, tetapi juga informasi yang
bersifat teknikal. Informasi yang bersifat fundamental diperoleh dari kondisi
intern perusahaan, dan informasi yang bersifat teknikal diperoleh dari luar
perusahaan, seperti ekonomi, polotik, finansial, dan faktor-faktor lainnya.
Informasi yang diperoleh dari kondisi intern perusahaan yang lazim
digunakan adalah informasi laporan keuangan. Informasi fundamental dan
teknikal tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memprediksi return
bagi investor, resiko atau ketidakpastian, jumlah, waktu, dan faktor lain yang
berhubungan dengan aktivitas investasi pada modal. Dari laporan keuangan
tersebut investor akan memperoleh informasi tentang likuiditas, profitabilitas,
solvabilitas, dan rasio lain yang berhubungan dengan pasar.
Dengan berbekal proyeksi ekonomi yang lengkap, analis mulai menilai
kinerja suatu perusahaan dengan cara memproyeksikan pada lingkungan
bisnis, analisis ini mencakup evaluasi perusahaan mengenai:
1) Manajemen
2) Program riset dan pengembangan
3) Kekuatan finansial
4) Likuiditas
5) Hubungan perburuhan
6) Efisiensi dan kemampuan menghasilkan laba
7) Prospek pertumbuhan
8) Goodwill
(Sitompul , 2000:85)
24
investor dimasa datang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya
sudah terjadi, return ekspektasi sifatnya belum terjadi.
Return yang diperoleh dari pemilikan saham dapat berupa deviden
dan capital gain/loss. capital gain/loss adalah selisih lebih atau kurang
dari harga saham. Deviden digunakan untuk mengukur kinerja saham
berdasarkan deviden yang dibagikan, semakin besar deviden maka saham
tersebut semakin menarik bagi investor. Semakin tinggi harga saham
menunjukkan bahwa saham tersebut semakin diminati investor karena
dengan semakin tinggi harga saham akan menghasilkan capital gain yang
besar pula.
Return realisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah capital
gain /loss yang sering juga disebut actual return. Besarnya actual return
dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
1
( 1)
-
– -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t ( periode penutupan/
terakhir).
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000: 108)
23
2.5 Return Saham
a. Saham
Saham adalah salah satu bentuk efek yang diperdagangkan dalam
pasar modal. Saham merupakan surat berharga sebagai tanda pemilikan
atas perusahaan penerbitnya (Ang,1997:11). Saham juga berarti sebagai
tanda penyertaan atau pemilikan seorang atau badan dalam suatu
perusahaan terbuka (Tjiptono Darmaji dan Hendi M. Fakhrudin, 2001:5).
Saham menarik bagi investor karena berbagai alasan. Bagi beberapa
investor, membeli saham merupakan cara untuk mendapatkan kekayaan
besar (capital gain) yang relatif cepat. Sementara bagi investor yang lain,
saham memberikan penghasilan yang berupa deviden.
Adapun jenis-jenis saham antara lain saham biasa (common stock)
saham preferen (preferren stock) dan saham komulatif preferen
(commulative preferren stock) (Riyanto, 1999:240).
b. Return Saham
Return merupakan pengembalian suatu hasil yang diperoleh dari
suatu infestasi. Return saham dibagi menjadi dua macam yaitu return
realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return
realisasi merupakan return yang telah terjadi dan dihitung berdasarkan
data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu
pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis juga berguna sebagai
sebagai dasar penentuan return ekspektasi dimasa yang akan datang.
Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh
22
informasi ini juga membantu manager dalam mengawasi efisiensi modal kerja
yang digunakan dalam perusahaan, informasi ini juga dibutuhkan oleh kreditor
jangka panjang dan pemegang saham yang ingin mengetahui prospek dari
pembayaran deviden dan pembayaran bunga dimasa yang akan datang.
Suatu perusahaan dikatakan memiliki kondisi keuangan yang kuat
apabila mampu memenuhi:
1. Memenuhi kewajiban-kewajibanya tepat waktu
2. Memelihara modal kerja yang cukup untuk biaya operasional
3. Membayar bunga dan deviden yang dibutuhkan
4. Memelihara tingkat kredit yang menguntungkan
(Munawir, 1998;72)
Dalam penelitian ini yang diukur untuk mengukur likuiditas adalah infesting
policy ratio
Infesting policy ratio
Infesting policy ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban
kepada para deposannya dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang
dimilikinya, semakin tinggi IPR akan semakin tinggi likuiditas bank terhadap
deposannya. IPR dihitung dengan rumus :
x100%
total deposit
Securities
IPR =
(Abdullah,2004:269)
21
3) Dapat diuji kebenarannya, hasil-hasil akuntansi dibenarkan
oleh ukuran-ukuran yang independen, menggunakan metode
pengukuran yang sama.
4) Netral, informasi akuntansi diarahkan pada kebutuhan umum
dan bukan kebutuhan khusus pemakai.
5) Tepat waktu, dilakukan untuk menghindari keterlambatan
pembuatan keputusan ekonomi.
6) Dapat diperbandingkan, perbedaan-perbedaan seharusnya
tidak mengakibatkan perlakuan akuntansi yang berbeda.
7) Kelengkapan, semua informasi yang memenuhi persyaratan
tujuan kualitatif lain harus dipaparkan.
2.3 Profitabilitas
Profitabilitas yaitu kemampuan suatu bank dalam menghasilkan laba
usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk
menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 1999:36).
Dalam penelitian ini yang akan dianalisis pengaruhnya terhadap return saham
adalah laba setelah pajak.
2.4 Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan Bank dalam melunasi kewajiban yang
ditagih sewaktu-waktu (Rakub, 2003:58). Tidak hanya nasabah dan kreditor
saja yang membutuhkan informasi tentang likuiditas perusahaan, namun
20
2) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang
hubungan sumber daya bersih sebagai hasil dari aktivitasaktivitas
perusahaan yang menghasilkan profit dengan tujuan
untuk:
a) Menunjukkan tingkat kembalian deviden harapan bagi
investor.
b) Menunjukkan kemampuan operasi untuk membayar
kreditor dan pemasok.
c) Menyediakan informasi bagi manajemen untuk
perencanaan dan pengendalian.
d) Menunjukkan provitabilitas jangka panjang.
3) Menyediakan informasi keuangan yang dapat digunakan
untuk mengestimasi earning potensial perusahaan.
4) Menyediakan informasi lain yang dibutuhkan tentang
perubahan sumber daya ekonomi dan kewajiban.
5) Menyediakan informasi lain yang sesuai dengan kebutuhan
pemakai.
c. Tujuan kualitatif
Tujuan kualitatif dari laporan keuangan adalah:
1) Relevan, memilih informasi yang mungkin membantu
pemakai dalam pembuatan keputusan ekonomi.
2) Dapat dipahami, selain harus jelas informasi yang dipilih juga
harus dapat dipahami pemakai.
19
antar data keuangan perusahaan atau aktivitas suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas
perusahaan (Munawir, 1998:2).
Dalam SAK disebutkan bahwa laporan keuangan merupakan
bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang
lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan
perubahan posisi keuangan, dan bagian lain yang integral dari laporan
keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul segmen industri dan
geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan (IAI, 2002:07).
Jadi, dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi
yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan.
Tujuan laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan seperti dinyatakan dalam Bab 4
accounting principle board statemen No. 4 adalah (Riahi-Belkauli,
2000:126):
a. Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar
sesuai prinsip akuntansi berterima umum, posisi keuangan, hasil
operasi dan perubahan lain dalam posisi keuangan.
b. Tujuan umum laporan keuangan adalah :
1) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang sumber
daya ekonomi dan kewajiban suatu usaha bisnis.
18
hanya broker yang dapat melakukan transaksi di lantai bursa
berdasarkan order dari investor.
Dengan sistem lelang kontinyu maksudnya harga transaksi
ditentukan oleh penawaran dan permintaan dari investor. Untuk sistem
manual harga penawaran terrendah (ask price) dan harga pembelian
tertinggi (bid price) dari investor diteriakkan oleh broker di lantai
bursa. Untuk sistem otomasi dengan JATS, broker memasukkan order
dari investor ke workstation JATS di lantai bursa. Kemudian akan
diproses oleh komputer dan akan menemukan harga transaksi yang
cocok dengan pertimbangan waktu urutan dari order. Sistem lelang ini
akan terus dilakukan selama jam kerja sampai ditemukan harga
kesepakatan.
PT. BEJ merupakan perusahaan swasta yang menyediakan
jasa fasilitas perdagangan sekuritas. Untuk membiayai aktivitasnya,
salah satu sumber penghasilan BEJ adalah komisi dari broker akibat
terjadinya transaksi. Broker membayar komisi ke BEJ karena
menggunakan fasilitas yang disediakan oleh BEJ dan broker menerima
komisi dari investor karena melakukan order yang diinginkan investor.
2.2 Laporan Keuangan
2.2.1 Pengertian Laporan keuangan.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses
akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi
17
menyelenggarakan bursa. Karena 3 kebijakan inilah pasar modal
menjadi aktif untuk periode 1988 hingga sekarang.
Bursa efek (pasar modal) yang terbesar di Indonesia adalah
bursa efek Jakarta (BEJ) yang juga dikenal dengan nama asingnya
sebagai Jakarta stock exchange (JSX). Bursa efek terbesar setelah BEJ
adalah Bursa efek Surabaya (BES) atau Surabaya Stock Exchange
(SSX). Sekuritas yang terdaftar di BEJ juga diperdagangkan di BES.
Era pasar modal di Indonesia dapat dibagi menjadi enam periode,
yaitu:
a. Periode pertama (1912-1942): periode jaman belanda
b. Periode kedua (1952-1960): periode orde lama
c. Periode ketiga (1977-1988): periode orde baru
d. Periode keempat (1988-1995): periode bangun dari tidur yang
panjang
e. Periode kelima (mulai 1995): periode otomatisasi
f. Periode keenam (mulai Agustus 1997): krisis moneter
2.1.5 Sistem Perdagangan di Bursa Efek Jakarta
Transaksi perdagangan di BEJ menggunakan order-driven
market system dan sistem lelang kontinyu (continous auction system).
Dengan order-driven market sistem berarti bahwa pembeli dan penjual
sekuritas yang ingin melakukan transaksi harus melalui broker.
Investor tidak dapat langsung melakukan transaksi di lantai bursa,
16
Pada masa pemerintahan Orde Baru kepercayaan masyarakat
terhadap mata uang Rupiah mulai pulih. Tanggal 10 Agustus 1977
berdasar Keppres RI No. 52 tahun 1976 pasar modal diaktifkan
kembali dan go public nya di beberapa perusahaan. Perkembangan
pasar modal selama tahun 1977-1987 mengalami kelesuan meski
pemerintah telah memberikan fasilitas kepada perusahaan-perusahaan
yang memanfaatkan dana dari bursa efek.
Untuk menyempurnakan sistem pasar modal saat itu,
pemerintah mengeluarkan beberapa deregulasi yang berkaitan dengan
perkembangan pasar modal, paket kebijakan Desember 1987 (pakdes
87), paket kebijakan Oktober 1988 (pakto 88)dan paket kebijakan
Desember 1988 (pakdes 88).
PAKDES 87 merupakan penyederhanaan persyaratan proses
emisi saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelum
dipungut oleh BAPEPAM, seperti biaya pendaftaran emisi efek.
Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli
efek maksimal 49% dari total emisi, serta menghapus batasan fluktuasi
harga saham di bursa efek.
PAKTO 88 ditujukan untuk sektor perbankan, namun
mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal.
PAKDES 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih
jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk
15
Hindia Belanda. Dengan demikian, dapat dikatakan pecahnya perang
Dunia II menandai berakhirnya aktivitas pasar modal pada jaman
penjajahan Belanda.
Setahun setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI,
tepatnya pada tahun 1950, obligasi Republik Indonesia dikeluarkan
oleh pemerintah. Peristiwa ini menandai mulai aktifnya kembali pasar
modal Indonesia. Diterbitkannya Undang-Undang Darurat No. 13
tanggal 1 September 1951 yang kemudian ditetapkan sebagai Undang-
Undang No. 15 tahun 1952 tentang bursa pemerintah RI membuka
kembali BEJ pada tanggal 31 Juni 1952. Penyelenggaraannya
diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek ( PPUE )
yang terdiri dari 3 bank negara dan beberapa makelar efek lainnya
dengan Bank Indonesia sebagai penasihat.
Sejak itu bursa efek berkembang dengan pesat, meskipun efek
yang diperdagangkan adalah efek yang dikeluarkan sebelum Perang
Dunia II. Para pelaku pasar masih didominasi oleh pemodal asing dari
Belanda. Pada tahun 1958 mulai terjadi kemunduran bursa akibat
hubungan politik Indonesia-Belanda yang semakin memburuk. Dan
memuncak ketika semua perusahaan Belanda di Indonesia diambil
alih, sesuai dengan UU Nasionalisasi No 86 tahun 1958. Tingkat
inflasi yang tinggi ketika itu, makin mengurangi kepercayaan
masyarakat terhadap pasar uang dan pasar modal, juga terhadap
Rupiah yang mencapai puncaknya pada tahun 1966.
14
memulai perdagangan. Di tingkat Asia, bursa Batavia tersebut
merupakan yang tertua ke-4 setelah Bombay, Hongkong, dan Tokyo.
Pada masa-masa permulaan hanya terdapat 13 anggota bursa
yang aktif dan memperdagangkan saham serta obligasi
perusahaan/perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia serta
obligasi yang diterbitkan pemerintah (propinsi dan kotapraja),
sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan
oleh pemerintah Belanda.
Perkembangan pasar modal di Batavia tersebut begitu pesat
sehingga menarik masyarakat kota lainnya. Untuk menampung minat
tersebut, pada tanggal 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus
1925 di kota Semarang resmi didirikan bursa. Perkembangan pasar
modal saat itu juga tidak terlepas dari tingginya permintaan rempahrempah
di Eropa. Hal ini menjadi daya tarik bagi para penanam modal
untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan perkebunan yang
mendominasi bursa pasar modal di Indonesia.
Pada permulaan tahun 1939, suhu politik di Eropa
menghangat. Melihat keadaan ini, pemerintah Hindia Belanda
mengambil kebijakan untuk memusatkan perdagangan efeknya di
Batavia serta menutup bursa di Surabaya dan Semarang namun pada
tanggal 17 Mei 1940 secara keseluruhan kegiatan perdagangan efek
ditutup dan dikeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa semua
efek-efek harus disimpan didalam bank yang ditunjuk oleh pemerintah
13
adanya penurunan nilai mata uang untuk menginvestasikan
dananya.
b. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)
Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan jangka
panjang dan jangka pendek sampai kekayaan tersebut dapat
dipergunakan kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan itu
tidak mengalami depresiasi (penyusutan) seperti aktiva lain.
c. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat berharga, bisa dilikuidasi
melalui pasar modal dengan resiko yang lebih kecil dibandingkan
dengan aktiva lain. Proses likuidasi surat berharga dengan biaya
relatif murah dan lebih cepat.
d. Fungsi Pinjaman (Credit Function)
Pasar modal bagi suatu perekonomian Negara merupakan sumber
pembiayaan pembangunan dari pinjaman yang dihimpun dari
masyarakat. Perusahaan juga menjual obligasi di pasar modal
untuk mendapatkan dana dari masyarakat.
2.1.4 Pasar Modal Indonesia
Sekitar awal abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai
membangun perkebunan secara besar-besaran di Indonesia. Atas dasar
itulah maka pemerintah kolonial waktu itu mendirikan pasar modal
sebagai sarana penggalangan dana. Pada tanggal 14 Desember 1912,
Amserdame effectebueuers mendirikan cabang bursa efek di Batavia
bernama Vereniging voor de effectehandel ( bursa efek) dan langsung
12
keperluan industri dan keseluruhan entitas dalam memenuhi
permintaan dan penawaran modal.
Seberapa besar peranan pasar modal pada suatu Negara dapat
dilihat dari lima aspek berikut ini:
a. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan
penjual untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang
diperjualbelikan.
b. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk
memperoleh hasil (return) yang diharapkan.
c. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual
kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
d. Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian.
e. Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat
berharga. Karena biaya informasi ditanggung oleh semua pelaku
bursa, dengan demikian biayanya akan lebih murah.
Kelima aspek diatas memperlihatkan aspek mikro yang
ditinjau dari sisi kepentingan para pelaku pasar modal. Peranan pasar
modal dalam perekonomian nasional suatu Negara adalah sebagai
berikut:
a. Fungsi Tabungan (Saving Function)
Menabung dapat dilakukan di bawah bantal, celengan atau di
bank. Para penabung perlu memikirkan alternatif selain menabung
yaitu investasi. Surat berharga yang diperdagangkan di pasar
modal memberi jalan yang begitu murah dan mudah, tanpa resiko
11
a. Pasar perdana (primary market)
Pasar perdana adalah penawaran dari perusahaan yang
menerbitkan saham (emiten) kepada investor selama waktu yang
ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut
diperdagangkan di pasar sekunder.
b. Pasar sekunder (secondary market)
Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah
melewati masa penawaran pada pasar perdana.
c. Pasar ketiga (third market)
Pasar ketiga adalah tempat perdagangan saham atau sekuritas di
luar bursa (over the counter market). Di Indonesia bursa ketiga
disebut bursa paralel.
d. Pasar keempat (fourth market)
Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar investor
atau dengan kata lain pengalihan saham di suatu pemegang saham
ke pemegang saham lainnya tanpa melalui perantara pedagang
efek.
2.1.3 Peranan Pasar Modal
Pasar modal mempunyai peranan penting dalam suatu negara,
yang pada dasarnya peranan tersebut mempunyai kesamaan antara
satu negara dengan negara yang lain. Hampir semua negara di dunia
ini mempunyai pasar modal, yang bertujuan menciptakan fasilitas bagi
10
dengan mekanisme resmi untuk mempertemukan penjual dan pembeli
efek secara langsung atau melalui wakil-wakilnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah pasar yang
mempertemukan penjual dan pembeli sekuritas jangka panjang baik
dalam bentuk utang maupun modal sendiri secara langsung atau
melalui wakil-wakilnya. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual
beli sekuiritas disebut bursa efek. Oleh karena itu bursa efek
merupakan arti pasar modal secara fisik. Di Indonesia terdapat dua
bursa efek yaitu bursa efek Jakarta (BEJ) dan bursa efek Surabaya
(BES).
Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana yang efektif
untuk menarik dana dari masyarakat yang kemudian disalurkan ke
sektor-sektor produktif. Pasar modal juga dapat dikatakan sebagai
wadah yang dapat menghilangkan monopoli sumber modal dan
monopoli kepemilikan perusahaan.
2.1.2 Jenis Pasar Modal
Penjualan saham kepada masyarakat dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Umumnya penjualan dilakukan sesuai dengan jenis
ataupun bentuk pasar modal dimana sekuritas tersebut
diperjualbelikan. Jenis-jenis pasar modal tersebut ada beberapa macam
(Tandelilian, 2001: 31), yaitu:
9
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pasar Modal
2.1.1 Pengertian Pasar Modal
Secara formal pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar
untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang
yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal
sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities,
maupun perusahaan swasta (Husnan, 2000: 3).
Dalam Keppres No. 60 tahun 1998 pasal 1, yang dimaksud
pasar modal adalah bursa yang merupakan sarana untuk
mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang
dalam bentuk efek. Selanjutnya dalam Undang-Undang Pasar Modal
No. 8 tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan efek yang berkaitan dengan efek yang diterbitkan, serta
lembaga profesi yang berkaitan dengan efek.
Menurut Ahmad (1996: 18) pasar modal adalah pasar abstrak
sekaligus pasar konkret dengan barang diperjualbelikan adalah dana
yang bersifat abstrak, dan bentuk konkretnya adalah lembar surat-surat
berharga di bursa efek. Sedang bursa efek menurut J. Bogem (dalam
Ahmad, 1996: 18) pasar modal adalah suatu sistem yang terorganisasi
36
plot menunjukan pola tertentu maka model regresi dinyatakan memiliki
gejala heterokedastisitas
c. Autokorelasi
Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model
regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode
tertentu dengan kesalahan pengganggu periode sebelumnya. Autokorelasi
dapat terdeteksi dengan Durbin Watson Test.
d. Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah
model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya
memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah
distribusi data normal atau mendekati normal dengan menggunakan grafik
normal probability plot pada program SPSS. Jika data menyebar disekitar
garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas, sedangkan jika data menyebar jauh dari
garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model
regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
35
tidaknya gejala multikolinieritas dengan melihat harga VIF (Variance
Inflation Factor) melalui SPSS.
Untuk mengetahui adanya multikolinieritas menurut Santoso (2003:200)
dapat dilihat dari:
1) Besarnya VIF (Variance Inflation Vactor) dan Tolerance.
Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah
mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 dan mempunyai angka
Tolerance mendekati 1 ( tolerance=1 /VIF atau VIF=1/ tolerance ).
2) Besaran korelasi antar variabel independent
Pedoman suatu model regresi yang bebas multikoliinieritas
adalah koefisien korelasi antar variabel independent haruslah
lemah (dibawah 0,5). Jika korelasi kuat, maka terjadi problem
multikolinieritas.
b. Heterokedastisitas
Uji heterokedaskisitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam
sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan
ke pengamatan lain sama maka disebut homokedaskisitas dan jika varian
berbeda disebut heterokedaskisitas. Model regresi yang baik adalah jika
tidak terjadi heterokedaskisitas.
Agar di dalam model regresi didapat penaksir yang efisien baik dalam
sampel besar maupun kecil maka dilakukan uji heterokedastisitas. Melalui
SPSS dapat dilihat pola yang dihasilkan dari scater plot. Apabila scater
34
Hipotesis untuk uji t:
H0 : b1,b2=0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara
parsial dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat
Ha : , 0 1 2 b b ¹ , artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara
parsial dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat
Kriteria uji yang digunakan adalah :
Jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak
Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima
d. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur sejauh mana
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terkait. Nilai
R2 berada antara 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati 1 maka
variabel bebas hampir memberikan semua informasi untuk
memprediksi variabel terkait.
3.6 Pengujian Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah penaksir dalam
regresi merupakan penaksir linier tak bias terbalik. Untuk membuktikannya
dilakukan uji terhadap multikolinieritas, outokorelasi , heterokedastisitas dan
normalitas.
a. Multikolinieritas
Multikolinieritas menunjukan adanya hubungan yang sempurna antar
variabel bebas yang terdapat dalam regresi. Untuk mengetahui ada atau
33
Di mana:
Fh : Harga statistik F
KRR : Kuadrat rata-rata regresi
KRS : Kuadrat rata-rata simpangan
Hipotesis untuk uji F:
H0 : b1=b2=0, artinya tidak ada pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat
Ha : 1 2 0 b ¹ b ¹ , artinya terdapat pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat
Kriteria uji yang digunakan adalah :
Jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak
Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima
c. Uji t (secara parsial )
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
bebas (likuiditas dan profitabilitas bank) secara parsial terhadap
variabel terikat (return saham ). Rumus uji t adalah sebagai berikut
tan ( )
( )
s dar error i
Koefisienregresi i
t hitung
b
= b
Untuk menentukan t tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar
5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df= (n-k) dan (k-1)
dimana n adalah jumlah observasi, k adalah jumlah variabel termasuk
intersep.
32
3.5 Analisis Regresi
Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui apakah suatu persamaan
regresi yang dapat dihasilkan adalah baik untuk mengestimasi nilai
variabel dependent. Oleh karena itu diperlukan uji F dan t.
a. Uji-t
Rumus:
Sbi
bi
t =
Di mana:
bi : koefisien regresi
Sbi : Standard Error Estimasi
Kriteria untuk menguji hipotesis adalah:
H0 : b1, b2 = 0, artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel
bebas dan variabel terikat.
Ha : b1, b2 ¹ 0, maka terdapat pengaruh signifikan antara variabel
bebas dan variabel terikat
b. Uji-F
Digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat.
Rumus:
KRS
KRR
Fh =
31
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
a. Metode dokumentasi
Melalui metode dokumentasi didapat laporan keuangan bank yang
terdaftar di bursa efek Jakarta.
b. Metode studi pustaka
Pengumpulan data dengan membaca buku-buku, majalah, jurnal dan
sumber bacaan lain yang relevan
3.4 Metode Analisis Data
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah maka
teknik analisis yang digunakan adalah tehnik analisis kuantitatif dengan
metode analisis regresi berganda sebagai berikut:
Y = a + b X + b X + e 1 1 2 2
Y = Return saham
X1 = IPR
X2 = Profit after tax
b1,b2 = Koefisien X1,X2
a = Konstanta
e = Kesalahan Penggangu
( Algifari, 2000: 85)
30
Sedangkan bank yang tidak termasuk dalam sampel penelitian adalah
bank Artha Niaga Kencana, Bank Bumiputera, Bank Eksekutif Internasional,
Bank Kesawan, Bank Mandiri, BRI, dan bank Swadesi.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian adalah:
a. Variabel Independen (X), terdiri dari:
– Likuiditas X1 yang diukur dengan Infesting policy ratio
– Profitabilitas X2 yang diukur dengan laba setelah dikurangi pajak.
x100%
total deposit
Securities
IPR =
b. Variabel Dependen (Y),terdiri dari:
– Return Saham. Yang dihitung dengan:
1
1( )
-
– -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t ( periode penutupan/
terakhir)
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000: 108)
29
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Populasi Dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bank yang terdaftar di
BEJ periode 2002-2003 dan berjumlah 26 bank.
Dalam penelitian ini sampel diambil secara purposive sampling yaitu
pengambilan sampel yang berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan
keperluan penelitian dimana kriteria tersebut harus dipenuhi oleh sampel.
Kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah:
a. Bank tersebut menyampaikan laporan keuangan secara berturut-turut pada
tahun 2002-2003
b. Bank terdaftar di BEJ sebelum 2002
Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel sebanyak 19 bank, berikut ini
disajikan data bank yang dijadikan objek penelitian
Tabel 3.1
Daftar bank yang dijadikan objek penelitian
NO BANK
NO
BANK
1 Bank Buana 11 BNI
2 BCA 12 Bank Niaga
3 Bank CIC 13 Bank NISP
4 Bank Danamon 14 BNP
5 Bank Danpac 25 Bank Pan Indonesia
6 Bank Global 26 Bank Permata
7 BII 17 Bank Pikko
8 Bank Lippo 18 Bank Victoria Intl
9 Bank Mayapada 19 Inter Pacific Bank
10 Bank Mega
5 5
investor pada bank tersebut. Dengan pengembangan usaha yang
dilakukan bank akan menambah sumber penghasilan bank dan
hasilnya akan dipetik investor pada masa datang dalam bentuk deviden
yang lebih besar maupun return saham yang lebih tinggi.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian-penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Sunarto (2002) dan Syahib Natarsyah
(2000), hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori Suad Husnan yang
menyatakan bahwa jika profitabilitas meningkat maka akan berdampak
pada peningkatan profitabilitas pemegang saham, juga sejalan dengan
teori Arifin yang menyatakan bahwa profitabilitas merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi return saham
5 4
berpengaruh terhadap return saham. Hal ini mungkin terjadi karena
investor mencari perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi
sehingga diharapkan dapat membagikan deviden yang tinggi pula hal
ini menyebabkan saham bank tersebut banyak dicari oleh investor yang
berimbas pada tingginya return saham bank tersebut.
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa profitabilitas yang dimiliki
oleh bank sangat bervariasi, ada bank yang mencapai tingkat
profitabilitas tinggi, ada yang naik tajam, turun tajam, stabil bahkan
ada yang terus merugi. Dengan profitabilitas yang tinggi tersebut bank
akan memiliki nilai saham yang semakin tinggi karena pembagian
deviden akan semakin besar, hal ini akan berpengaruh terhadap return
saham bank tersebut karena saham bank tersebut kemungkinan besar
akan dicari oleh para investor.
Alasan lain investor mencari saham bank dengan profitabilitas
tinggi adalah karena apabila suatu bank memiliki profitabilitas tinggi
tentunya bank tersebut akan lebih mudah mengalokasikan dananya
untuk memperkuat posisi likuiditas, mengembangkan usaha dan
tentunya sebagian dibagikan kepada para pemegang saham dalam
bentuk deviden. Dengan posisi likuiditas yang kuat, para pemegang
saham akan merasa aman menginvestasikan dananya pada bank
tersebut karena bank tersebut akan memiliki dana yang cukup apabila
ada penarikan dana dalam jumlah besar. Sehingga sangat kecil
kemungkinan bank tersebut mengalami krisis likuiditas yang akan
sangat berpengaruh buruk terhadap investasi saham yang dilakukan
5 3
yang rendah maka bank tersebut akan sangat membutuhkan dana dan
salah satu cara untuk mempertahankan dana yang masih ada adalah
dengan tidak membagikan deviden kepada para pemegang saham. Hal
inilah yang akan dihindari oleh investor sehingga menjadikan return
saham bank rendah.
Penting bagi perusahaan untuk memiliki tingkat likuiditas yang
tinggi sehingga perusahaan tersebut dapat membagikan deviden kepada
para pemegang sahamnya agar para pemegang saham tetap
mempunyai kesan baik terhadap bank tersebut. Perusahaan dengan
tingkat likuiditas yang tinggi kemungkinan besar akan membagikan
deviden dan bank yang memiliki likuiditas yang tinggi dianggap
memiliki prospek yang baik, keuntungan yang baik sehingga return
saham akan mengikuti naik turunnya likuiditas suatu perusahaan .
Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Sitompul
(2000:85) yang menyebutkan bahwa likuiditas merupakan salah satu
dari 8 faktor yang mempengaruhi return saham, maupun Arifin
(2001:110-128) yang menyatakan bahwa likuiditas merupakan salah
satu dari faktor fundamental yang mempengaruhi return saham.
b. Profitabilitas terhadap return saham
Nilai t hitung untuk variabel profitabilitas sebesar 2,390 di
konsultasikan dengan t tabel sebesar 1,691 sehingga tampak bahwa t
hitung lebih besar daripada t tabel yang berarti bahwa profitabilitas
5 2
a. Likuiditas terhadap return saham
Nilai t hitung sebesar 2,405 dikonsultasikan dengan nilai t tabel
sebesar 1,691 sehingga tampak bahwa variabel likuiditas berpengaruh
terhadap return saham. Hal ini kemungkinan terjadi karena investor
mencari bank yang memiliki modal dan likuiditas kuat sehingga
apabila terjadi penarikan dana secara besar-besaran di bank tersebut,
bank tersebut mampu menyediakan dana sebesar yang diminta. Karena
investor ingin memastikan investasi mereka aman investor akan
mencari bank dengan tingkat likuiditas yang tinggi sehingga saham
bank yang memiliki likuiditas tinggi tersebut banyak dicari oleh
investor yang menyebabkan tingginya tingkat return saham bank
tersebut.
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa tingkat likuiditas suatu bank
sangat bervariasi, hal ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan suatu bank.
Ada berbagai alasan mengapa suatu bank memiliki tingkat likuiditas
rendah salah satunya adalah bank ingin mengembangkan usahanya
sehingga mereka tidak perlu mencari sumber dana dari luar dengan
menekan tingkat likuiditas mereka. Karena bila mereka ingin memiliki
likuiditas yang tinggi maka mereka harus memiliki dana cadangan
yang besar pula.
Alasan lain mengapa investor mencari bank dengan likuiditas
yang tinggi adalah investor ingin memastikan bahwa mereka akan
mendapatkan deviden, karena apabila suatu bank memiliki likuiditas
5 1
Berdasarkan hasil penghitungan SPSS pada Normal probability
plot dapat dilihat bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan
mengikuti arah garis diagonal, sehingga model regresi memenuhi
asumsi normalitas.
4.5. Pembahasan
Berdasarkan penghitungan analisis regresi berganda dengan
program SPSS seperti pada lampiran diperoleh regresi linear berganda
sebagai berikut:
Y= 26,396+0,677 X1 + 8,547 X2
Yang berarti bahwa:
1) Koefisien konstanta a = 26,369
Yang berarti bahwa jika likuiditas dan profitabilitas bank=0 maka
return saham sebesar 26,369 %
2) Koefisien regresi X1 ( likuiditas)
Jika X1 naik satu poin sementara X2 tetap maka return saham akan
naik 0,677%
3) Koefisien regresi X2 ( Profitabilitas)
Jika X2 naik satu poin sementara X1 tetap maka return saham akan
naik sebesar 8,547%
Pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat
adalah sebagai berikut :
5 0
Dari grafik scatterplot pada lampiran terlihat titik-titik
menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola yang jelas, serta
tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini
berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga
model regresi layak dipakai untuk memprediksi return saham berdasar
masukan variabel independennya.
c. Uji Autokorelasi
Penyimpangan asumsi model klasik yang ketiga adalah adanya
autokorelasi. Hal ini untuk mengetahui apakah model regresi yang
dihasilkan dapat digunakan untuk menaksir nilai variabel dependen
pada nilai variabel tertentu.
Berdasarkan hasil penghitungan SPSS nilai uji Durbin Watson
yang diperoleh sebesar 1,842. tidak berada diantara D0 dan DL, yang
bernilai 1,416 sampai 1,530. Serta tidak berada pada nilai 4- D0 dan 4-
DL yang berada pada angka 2,37 sampai 2,583, nilai uji Durbin Watson
1,842 berada pada daerah yang tidak ada otokorelasi, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat
autokorelasi.
d. Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam
sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau
keduanya memiliki distribusi normal atau tidak.
4 9
4.4. Evaluasi ekonometri
a. Uji Multikiolinieritas
Penyimpangan asumsi klasik yang pertama adalah adanya
multikolinieritas pada model regresi yang dihasilkan dalam menaksir
nilai-nilai variabel independen.
Berdasarkan analisis data pada bagian coefficient pada lampiran
diketahui untuk kedua variabel independen, angka VIF ada di sekitar
angka 1 yaitu 1,001 demikian juga nilai tolerance yang mendekati
angka 1 yaitu 0,999.
Pada analisis data bagian coeficient terlihat semua angka
korelasi antar variabel independen jauh di bawah 0,5 yaitu -0,33.
Dengan demikian dapat disimpulkan model regresi tersebut tidak
terdapat multikolinieritas.
b. Uji Heterokedastisitas
Penyimpangan model asumsi klasik yang kedua adalah adanya
heteroskedaskisitas. Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk
mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan
varian dari residual pengamatan yang satu ke residual pengamatan
yang lain. Jika varian residual dari pengamatan satu ke pengamatan
yang lain tetap, maka disebut homokedaskisitas, dan jika varian
berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah
tidak terjadi heteroskedastisitas (Santoso,2000:208).
4 8
Nilai t hitung untuk X2= 2,390 dibandingkan dengan t tabel sebesar
1,691 dari data tersebut tampak bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (t hitung >
ttabel) yang berarti bahwa variabel profitabilitas berpengaruh terhadap
return saham bank di Bursa Efek Jakarta.
c. Koefisien determinasi
Dalam uji regresi linear berganda ini dianalisis pula besarnya
koefisien determinasi (R2) secara keseluruhan. Berdasarkan hasil
penghitungan SPSS seperti pada lampiran diperoleh hasil koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,241. Hal ini berarti bahwa presentase
kontribusi X1 dan X2 terhadap Y sebesar 24,1% sedangkan 75,9%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain likuiditas dan profitabilitas baik
faktor yang bersifat teknikal maupun fundamental yang tidak diungkap
dalam penelitian ini.
Koefisien determinasi sebesar 0,241 menunjukkan bahwa korelasi
atau hubungan antara return saham dengan likuiditas dan profitabilitas
adalah lemah karena angka tersebut dibawah 0,5. Selain koefisien
determinasi secara simultan dicari pula besarnya koefisien determinasi (r2)
parsialnya untuk masing-masing variabel bebas. Berdasarkan analisis data
pada lampiran pengaruh likuiditas(X1) secara parsial terhadap return
saham (Y) adalah 0,376 dikuadratkan menjadi 14,1%, sedangkan pengaruh
profitabilitas(X2) secara parsial terhadap return saham (Y) adalah 0,374
dikuadratkan menjadi 14%.
4 7
a. Uji simultan (Uji F)
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis, peneliti menggunakan uji
F yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel X1 dan X2 mampu
menjelaskan atau berkontribusi terhadap variabel return saham dengan
cara membandingkan Fhitung dengan Ftabel,. Berdasarkan perhitungan
komputer dengan program SPSS pada lampiran diperoleh Fhitung sebesar
5,566 sedangkan Ftabel pada taraf signifikan 5% sebesar 5,25 sehingga dari
hasil penghitungan tampak bahwa Fhitung lebih besar dari Ftabel (Fhitung >
Ftabel), sehingga menolak H0 dengan demikian likuiditas dan profitabilitas
berpengaruh terhadap return saham bank yang terdaftar pada Bursa Efek
Jakarta.
b. Uji parsial (uji t)
Untuk menguji kemaknaan koefisien parsial digunakan uji t.
Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan perbandingan nilai t hitung
masing-masing koefisien regresi dengan nilai t tabel ( nilai kritis ) sesuai
dengan taraf signifikansi yang digunakan.
Berdasarkan penghitungan dengan program SPSS pada komputer
seperti pada lampiran diperoleh t hitung untuk X1 adalah 2,405 kemudian
thitung untuk X2 sebesar 2,390 sedangkan t tabel pada taraf signifikan 5%
sebesar 1,691. nilai t hitung untuk X1 adalah 2,405 dibandingkan dengan ttabel
sebesar 1,691 dari data tersebut tampak bahwa t hitung lebih besar dari t tabel
(t hitung>t tabel) yang berarti bahwa variabel likuiditas berpengaruh terhadap
return saham bank pada Bursa Efek Jakarta.
4 6
Yang berarti bahwa:
1) Koefisien konstanta a = 26,369
Yang berarti bahwa jika likuiditas dan profitabilitas bank=0 maka return
saham sebesar 26,369 %
2) Koefisien regresi X1 ( likuiditas)
Jika X1 naik satu poin sementara X2 tetap maka return saham akan naik
0,677%
3) Koefisien regresi X2 ( Profitabilitas)
Jika X2 naik satu poin sementara X1 tetap maka return saham akan naik
sebesar 8,547%
Analisis statistik yang digunakan adalah Uji F, Uji T, koefisien
determinasi (R2) pada tahap selanjutnya dilakukan evaluasi ekonometri
untuk menguji model regresi yang digunakan.
Tabel 4.4
Ringkasan perhitungan analisis regresi berganda
Keterangan Nilai
Konstanta
Koefisien X1( Likuiditas)
X2 (Profitabilitas)
Fhitung
R2
t hitung X1 (Likuiditas)
X2 (Profitabilitas)
r2 X1 (Likuiditas)
X2 (profitabilitas)
26,396
0,677
8,547
5,566
0,241
2,405
2,390
0,141
0,14
4 5
Pada tabel 4.3 mengenai return saham bank pada tahun 2002-
2003 terlihat jelas perkembangan return saham bank pada tahun
tersebut, dimana pada tahun tersebut perbankan Indonesia sedang
berusaha bangkit dari masa krisis pada akhir era 1990 an. Pada tahun
2002, sebagian bank yang kami teliti mengalami return saham yang
positif, hanya ada tujuh bank (37%) yang mengalami return saham
negatif yaitu Bank CIC, Bank Danpac, Bank Niaga, Bank Pan
Indonesia, Bank Permata, Bank Pikko dan Inter Pacific Bank.
Sementara bank yang mencapai return saham paling tinggi adalah
Bank Lippo.
Sementara pada tahun 2003, 53% bank mengalami
peningkatan return saham dan hanya tiga (16%) bank yang
mengalami return saham negatif, yaitu Bank Buana, Bank Global
dan Bank NISP. Sedangkan bank yang mengalami return saham
negatif pada tahun 2002 dapat mencapai return saham positif
kenaikan return saham paling fenomenal dicapai oleh Inter Pacific
Bank setelah mengalami return saham negatif pada tahun 2002, pada
tahun 2003 bank tersebut mengalami kenaikan yang signifikan.
4.3. Analisis Statistik
Dalam penelitian ini yang menggunakan bantuan komputer program
SPSS dapat diperoleh regresi linear berganda
Y= 26,396+0,677 X1 + 8,547 X2
4 4
masyarakat dapat memperoleh laba yang cukup besar seperti BCA,
BNI dan Bank Buana.
Pada tahun 2003 63% bank yang mengalami peningkatan
laba dan hanya 2 bank yang mengalami kerugian yaitu bank CIC
Intl, dan Bank Lippo. Kenaikan laba terbesar dialami oleh bank
permata.
4.2.3. Return Saham
Data mengenai return saham bank pada tahun 2002-2003
dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 4.3
DATA RETURN SAHAM BANK DI BEJ TAHUN 2002 2003
NO BANK
RETURN SAHAM
2002
RETURN SAHAM
2003
P0 P1 Y P0 P1 Y
1 Bank Buana 900 1425 58% 675 550 -19%
2 BCA 1950 2500 28% 2250 3325 48%
3 Bank CIC 140 75 -46% 70 125 79%
4 Bank Danamon 275 350 27% 800 2025 153%
5 Bank Danpac 600 450 -25% 500 500 0%
6 Bank Global 90 120 33% 110 105 -4%
7 BII 20 50 15% 45 110 144%
8 Bank Lippo 45 260 478% 215 450 109%
9 Bank Mayapada 120 135 13% 135 135 0%
10 Bank Mega 850 1000 18% 1000 1150 15%
11 BNI 105 110 5% 95 1300 1268%
12 Bank Niaga 55 35 -36% 35 35 0%
13 Bank NISP 220 400 45% 425 365 -14%
14 BNP 650 675 4% 675 725 7%
15 Bank Pan Indonesia 255 180 -29% 170 285 68%
16 Bank Permata 40 25 -38% 20 30 50%
17 Bank Pikko 300 185 -38% 175 200 14%
18 Bank Victoria Intl 25 35 4% 50 50 0%
19 Inter Pacific Bank 80 10 -88% 15 120 700%
4 3
Tabel 4.2
DATA PROFITABILITAS BANK DI BEJ TAHUN 2002-2003
NO BANK PROFITABILITAS
%Kenaikan/
penurunan
PROFIT AFTER TAXES
2002 2003
1 Bank Buana 259.900 251.248 -33%
2 BCA 3.129.291 2.541.631 -18,5%
3 Bank CIC -125.521 -624.803 -398%
4 Bank Danamon 722.9 948.034 31%
5 Bank Danpac 12.316 9.016 -26.8%
6 Bank Global -12.342 12.99 105%
7 BII -4.130.540 4.376 100%
8 Bank Lippo 270.569 -506.455 -287%
9 Bank Mayapada -21.379 6.594 131%
10 Bank Mega 28.524 180.302 532%
11 BNI 1.756.660 2.508.046 43%
12 Bank Niaga 200.18 141.119 29,5%
13 Bank NISP 71.893 92.916 29%
14 BNP 18.238 18.245 0,0004%
15 Bank Pan Indonesia 2.207 100.809 447%
16 Bank Permata 5.388 808.211 1490%
17 Bank Pikko 13.345 7.549 -43%
18 Bank Victoria Intl -1.259.177 6.139 100%
19 Inter Pacific Bank 24.484 3.735 -85%
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa Besarnya profit
bank sangatlah fluktuatif dan bukan hanya dipengaruhi oleh modal
kerja bank yang besar, namun juga dipengaruhi oleh banyak hal baik
yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan.
Pada tahun 2002 ada 26% bank mengalami kerugian, namun banyak
juga bank yang mendapat laba yang cukup besar, kebanyakan bank
mengalami kerugian karena tidak mampu menutup biaya operasional
bank tersebut. Sedangkan bank-bank besar yang dipercaya
4 2
tahun 2002 ada 36% bank yang memiliki likuiditas dibawah 5%
seperti Bank Nusantara Parahiangan yang memiliki investing policy
ratio hanya 0.5% namun keuntungan mereka mencapai 18,238
miliar, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa BNP lebih
mengutamakan untuk mendapatkan laba daripada memperkuat posisi
likuiditas perusahaan. Hal ini berbeda dengan Bank Global yang
lebih mengutamakan posisi likuiditas mereka sehingga mereka
menderita rugi yang cukup besar. Namun ada juga bank yang
memiliki likuiditas dan profitabilitas yang seimbang dikarenakan
posisi keuangan mereka yang kuat seperti Bank Buana dan BCA.
Pada tahun 2003 ada 44% bank yang meningkatkan likuiditasnya
termasuk BNP yang meningkatkan likuiditasnya hingga 10%, hal
tersebut juga dilakukan oleh Bank Mayapada yang berakibat Bank
tersebut mengalami kerugian. Pada tahun 2003 Bank Buana dan
BCA menurunkan likuiditas mereka dengan memindahkan dana
mereka untuk melakukan investasi maupun pengembangan agar
mendapatkan peningkatan laba. Hal yang menarik adalah posisi
likuiditas Bank Victoria Internasional yang mengalami peningkatan
tingkat likuiditas diatas 200%
4.2.2. Profitabilitas
Pada tabel 4.2 ditampilkan data mengenai profitabilitas bank pada
tahun 2002-2003
4 1
4.2. Deskripsi Variabel
4.2.1. Likuiditas
Dalam tabel 4.1 berikut ini akan kami sajikan data likuiditas bank di
BEJ tahun 2002-2003
Tabel 4.1
DATA LIKUIDITAS BANK DI BEJ TAHUN 2002- 2003
TAHUN 2002 TAHUN 2003
NO BANK LIKUIDITAS LIKUIDITAS
SECURITIES
TOTAL
DEPOSIT
INVESTING
POLICY
RATIO SECURITIES
TOTAL
DEPOSIT
INVESTING
POLICY
RATIO
1 Bank Buana 7.441.569 10.968.927 68% 6.863.839 10.968.927 62%
2 BCA 62.439.765 90.433.035 69% 53.223.884 103.902.961 53%
3 Bank CIC 2.300.146 400.972 57.40% 3.399.027 3.137.786 108%
4 Bank Danamon 2.462.692 39.799.052 6% 3.558.481 34.898 240 10%
5 Bank Danpac 17.674 572.113 3% 33.536 725.142 5%
6 Bank Global 481.279 750.474 64.10% 871.745 1.282.367 68%
7 BII 569.935 24.986.957 2% 647.128 29.222.246 2%
8 Bank Lippo 907.434 20.027.996 4% 816 200 22.664.887 4%
9 Bank Mayapada 281 1.309.216 0.20% 281 1.910.631 0.10%
10 Bank Mega 1.289.845 10.115.151 12% 600.053 9.941.328 6%
11 BNI 4.666.612 100.474.707 4.60% 4.281.313 96.990.299 4%
12 Bank Niaga 1.117.902 17.279.102 6.50% 1.034.705 17.905.808 6%
13 Bank NISP 1.214.417 4.7437.536 25% 1.1217.810 7.489.131 15%
14 BNP 8.878 1.498.215 0.50% 141.171 1.430.363 10%
15
Bank Pan
Indonesia 957.807 17.461.991 5.40% 1.690.223 11.000.829 15%
16 Bank Permata 12.269.847 21.449.386 5.50% 13.476.870 21.894.456 62%
17 Bank Pikko 332.874 860.168 40% 663.488 1.627.634 40%
18
Bank Victoria
Intl 1.087.430 1.200.124 90% 753.198 1.361.640 55%
19
Inter Pacific
Bank 151.144 650.005 251% 188 760 25.098 726%
( Sumber: Laporan Keuangan Bank )
Berdasarkan laporan keuangan bank diatas, penulis
menyampaikan data likuiditas bank tahun 2002-2003 yang dihitung
melalui investing policy ratio, investing policy ratio setiap bank
berbeda-beda tergantung dari kebijakan dari bank tersebut.pada
4 0
Bank Umum, Bank Tabungan Negara dan Bank Pembangunan.
Disamping itu banyak juga Bank-bank Swasta Nasional maupun
Bank Swasta Asing. Terakhir saat sekarang kita kenal jenis Bank
berdasarkan UU RI tentang perbankan No. 10 Tahun 1998 yang
merupakan perubahan dari UU No. 7 Tahun 1992 yaitu : Bank
Indonesia (Sentral) bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat
(BPR). Khusus Bank Indonesia diatur lebih rinci dalam UU RI No.
23 Tahun 1999.
4.1.2 Pengertian Bank dan Lembaga Keuangan Lain
Menurut surat Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia No 79 tahun 1990, lembaga keuangan adalah semua badan
yang kegiatannya dibidang keuangan, melakukan penghimpunan dan
penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai
investasi perusahaan. Walaupun dalam batasannya hanya untuk
investasi, tetapi dalam kenyataannya dapat dimanfaatkan untuk
berbagai kegiatan seperti distribusi barang jasa dan konsumsi.
Lembaga keuangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu bank (bank
sentral, bank umum, bank perkreditan rakyat) dan lembaga keuangan
bukan bank termasuk leasing, pegadaian, asuransi, dana pensiun.
3 9
wesel berjangka pendek, sedang kredit laut termasuk kredit yang
berjangka panjang.
Dinamika dalam kehidupan ekonomi yang terus bergerak
maju, perkembangan perbankan selalu mengikutinya. Namun suatu
kegiatan perbankan tidak dapat lepas dari permasalahan terutama
cara pengaturan sistem keuangan yang terkait dengan mekanisme
penentuan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Muncullah
beberapa paham seperti paham merkantilisme dan paham liberalisme
ekonomi yang menjawab permasalahan tersebut di atas.
Bagaimana perkembangan perbankan di Indonesia ?
Kita awali jaman penjajahan Belanda, terdapat beberapa bank
yang dibentuk oleh pemerintah belanda seperti : 1) De Javanche
N.V.; 2) De Post Paar Bank; 3) Nederland Handles Moatschappij
(NHM); 4) Nasional Handles Bank (NHB); 5) De Segemene Volks
Crediet Bank dan 6) De Escomto Bank N.V. Disamping itu terdapat
pula bank-bank milik pribumi, China, Jepang dan Eropa lainnya,
antara lain : Bank Nasional Indonesia, NV Bank Bumi, Batavia
Bank, The Bank of China dll.
Pada Zaman Kemerdekaan, beberapa bank Belanda di
nasionalisir oleh pemerintah Indonesia, antara lain : Bank Negara
Indonesia 1946, Bank Dagang Negara, Bank Rakyat Indonesia, Bank
Dagang Nasional dll. Kemudian berdasarkan Undang-Undang No.
14 Tahun 1967 tentang perbankan, di Indonesia ada Bank Sentral,
3 8
Pada abad ke 16 era perbankan modern mulai dilakukan di
Inggris, Belanda dan Belgia. Para tukang emas bersedia juga
menerima uang logam (emas dan perak untuk di simpan). Penyimpan
emas memperoleh tanda bukti penyimpanan dengan syarat yang
disebut Goldsmith’s Noot yang dapat digunakan sebagai alat
pembayaran. Kemudian tukang emas bersedia mengeluarkan
Goldsmith’s Noot tanpa didukung cadangan emas atau perak dan
diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah terutama
dalam transaksi jual beli. Mulai saat itulah cikal bakal muncul uang
kertas. Banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan perbankan
seperti konsumen, produsen, para raja-raja serta organisasi gereja.
Untuk memperlancar transaksi jangka pendek maupun jangka
panjang lembaga-lembaga keuangan menjadi semakin penting
keberadaannya karena menyediakan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayarannya.
Pada awal era perbankan modern, pengaturan kredit dikenal 3
macam yaitu : perjanjian penjualan wesel dan pinjaman kontan. (J.
Sri Susilo dkk, 2000: 2). Perjanjian penjualan khusus untuk
membantu pembelian hasil-hasil panen dan membantu para
produsen. Wesel (bill of exchange) digunakan untuk pengiriman ke
luar negeri. Sedang pinjaman laut untuk para pembuat kapal.
Terakhir ini seperti KMKP yang pernah dilakukan/diberikan oleh
pemerintah Indonesia pada para pengusaha. Kredit penjualan dan
3777
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1 Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan
Sejarah mencatat asal mula adanya kegiatan perbankan sejak
jaman Babylonia, Yunani dan Romawi kemudian berkembang di
Asia Barat. (kurang lebih tahun 2000 sebelum Masehi). Pada waktu
itu praktek perbankan didominasi dengan transaksi peminjaman
emas dan perak pada kalangan pengusaha. Bank yang melakukan
praktek pinjam meminjam emas dan perak dikenal dengan nama
Temples of Babylon. Perkembangan selanjutnya (± tahun 500
sebelum Masehi) praktek perbankan menerima simpanan uang dari
masyarakat dan menyalurkannya pada para pengusaha. Bank
menarik biaya sebagai balas jasa pada masyarakat dan pengusaha.
Praktek perbankan tersebut disusul oleh Yunani dikenal
dengan nama Greek Tample yang menerima simpanan dan
meminjamkan uang pada masyarakat dengan menarik biaya
penyelenggaraannya. Perkembangan perbankan lebih lanjut, usaha
bank melayani masyarakat sudah lebih luas, selain sebagai tempat
simpanan dan memberi kredit juga deposito berjangka dan transfer
dana.
57
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka peneliti
memberikan saran sebagai berikut:
1. Hendaknya perusahaan meningkatkan likuiditas dan profitabilitasnya
apabila ingin menarik investor untuk menanamkan saham pada bank
tersebut.
2. Mengingat kecilnya prosentase pengaruh likuiditas dan profitabilitas yang
hanya 24,1% maka diperlukan penelitian lanjutan yang meneliti faktorfaktor
yang mempengaruhi return saham seperti Kondisi fundamental
perusahaan, Hukum permintaan dan penawaran, Suku bunga, Kurs valas,
Dana asing di bursa, Indeks harga saham, News and rumors, Deviden dan
berbagai Faktor lain.
3. Sebaiknya masyarakat menabung di bank yang memiliki likuiditas yang
baik sehingga ketika akan menarik dana secara tunai dari bank tidak
mengalami kesulitan.
56
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Likuiditas dan profitabilitas berpengaruh terhadap return saham pada bank
yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2002-2003. Besarnya
pengaruh yang diberikan oleh variabel likuiditas dan variabel profitabilitas
terhadap return saham sebesar 24,1% sedangkan 75,9% dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain selain likuiditas dan profitabilitas baik faktor yang
bersifat teknikal maupun fundamental yang tidak diungkap dalam
penelitian ini. Secara parsial variabel likuiditas berpengaruh sebesar 14,1%
terhadap return saham, sedangkan variabel profitabilitas berpengaruh
sebesar 14% terhadap return saham.
2. Variabel likuiditas mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap return
saham dibandingkan dengan variabel profitabilitas.
5 9
Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan Statistika Parametrik. Jakarta : PT Elek
Media Komputindo Gramedia
Santoso, Singgih. 2003. SPSS 11.00 For Windows. PT Elekmedia Komputindo
Gramedia
Sitompul, Anwar. 2000. Pasar Modal (Penawaran Umum Dan Masalahnya).
Bandung: Citra Aditya Bhakti.
Sunarto. 2001. Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return
Saham Perusahaan Manufaktur Di BEJ. Gema Stikubank. Edisi 33;
No 3 Hal. 63-82
Tandelilian, Eduardus. 2001.Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio Edisi
Pertama. Yogyakarta: BPFE
5 8
DAFTAR PUSTAKA
Abdulah, Faisal. 2004 Manajemen Perbankan (Teknik Analisis Kinerja
Keuangan Bank). Malang:UMM Press
Ahmad, Kamaruddin. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja. Jakarta:
Rineka Cipta
Algifari. 2000. Analisis Regresi Teori Kasus Dan Solusi. Yogyakarta: BPFE
Arifin, Ali. 2001. Membaca Saham. Yogyakarta : Andi Offset
Ang, Robert. 1997. Pasar Modal Indonesia. Jakarta : Mediasoft Indonesia
Arikunto, Suharsimi.1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta: Rineka cipta
Belkauli. 2000. Teori Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat.
Darmaji, Tjiptono dan Fakhrudin. 2001. Pasar Modal Di Indonesia. Jakarta:
Salemba Empat
Fabozzi. 2001. Manajemen Investasi. Jakarta : Salemba Empat
Husnan, Suad. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas.
Yogyakarta: UMP YKPN.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat
Jogiyanto. 2000. Analisis Sekuritas Dan Analisis Portofolio. Yogyakarta: BPFE
Munawir. 1998. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE
Natarsyah, Syahib. 2000. Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental
Dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham.Jurnal Ekonomi Dan
Bisnis Indonesia. Volume 15. No 3, Juli. Hal. 394-412.
Rakub, Niswatin. 2003. Kelembagaan Perbankan. Semarang: IKIP Press
Riyanto, Bambang.1999. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers