Archive

Archive for the ‘Akuntansi Islam’ Category

ANALISIS PENGARUH PENGUNGKAPAN SOSIAL DALAM LAPORAN TAHUNAN TERHADAP VOLUME PERDAGANGAN SAHAM

July 26, 2010 Leave a comment

(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Termasuk Dalam
Indeks LQ 45)
SKRIPSI
Untuk Memenuhi salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : Widi Dayan
NIM : 01.620.393
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
ANALISIS PENGARUH PENGUNGKAPAN SOSIAL DALAM LAPORAN
TAHUNAN TERHADAP VOLUME PERDAGANGAN SAHAM
(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Termasuk Dalam
Indeks LQ 45)
SKRIPSI
Untuk Memenuhi salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : Widi Dayan
NIM : 01.620.393
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrohim
Assalamualaikum Wr.Wb
Syukur alhamdulillah kehadirat Allah, karena atas petunjuk dan kehendak
Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Maksud dan tujuan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk mencapai
derajat gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah
Malang.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis menyadari bahwa banyak pihak
yang ikut membantu dan memberikan bantuan moril dan spirituil baik langsung
maupun tidak langsung, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayahnya penulis bisa menyelesaikan
skripsi ini dengan baik.
2. Ayahanda Drs.Dikut dan ibunda Sumiati tercinta atas petuah, doa-doa serta
kasih sayang yang tulus sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini
3. Kakak-kakakku (Mbak Dini, Mas Faisal) terima kasih atas dorongan dan
pengertiannya selama ini.
4. Ibu Dra. Eny Suprapti, MM. Ak. dan Ibu Dra.Hj. Endang D.W. Msi, Ak
selaku dosen pembimbing I dan II yang telah meluangkan waktu, fikiran dan
tenaga untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada saya mulai dari
judul sampai terselesaikannya skripsi ini.
5. Bapak/ Ibu petugas BEJ Brawijaya yang tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu, terima kasih banyak telah mengijinkan penulis melakukan penelitian
dan pemberian data yang diperlukan.
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
6. Seseorang yang selama ini telah memberikan banyak dorongan, masukan,
semangat serta kasih sayangnya, Ningsih
7. Teman-temanku senasib sepenanggungan (Mex “Brewox”, Sofyan “Beng-
Beng”, Dian “Celeng”, Diky “Ticuz-Wadji”, Lany “Bagong”) Kapan neng
gone “Mbah Mo?” thanks for all the joy the good times and the bad,
goodbye wh****y
8. Teman-teman akuntansi “01” kelas G (Dedy, Imam, Hary, Deni, Fadhil,
Endro, Ari, Arik, Culiez, Vivi, Erna, Luluk, Lita, Furi, Roxete, Desi, Azima)
Thanks Untuk kebersamaannya selama ini, semoga ini adalah awal bukan
akhir dari segalanya.
9. Teman-teman KKN kel. 48 (Awank, Tyo, Kucing, Kartolo, Windy, Rexy,
Udin, Saleho, Ocha, Itax, Wati, dan semuanya)
10. Semua teman-teman dan fihak yang telah membantu penulis selama ini dan
tidak bisa kami sebutkan satu per satu, terima kasih atas semua bantuannya.
Dengan segala keterbatasan, penulis menginginkan masukan dan
kritikan dari berbagai pihak, krtitikan dan masukan yang membangun sehingga
skripsi ini bisa lebih sempurna lagi.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Malang, Desember 2006
Penulis
Widi Dayan
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR KONSULTASI
BERITA ACARA
SURAT KETERANGAN PENELITIAN
PERNYATAAN
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………. ii
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………………………….. iii
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………………………… iv
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………. 1
B. Perumusan Masalah …………………………………………………………………. 5
C. Batasan Masalah ……………………………………………………………………… 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………………………… 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu ………………………………………………………………… 8
B Landasan Teori………………………………………………………………………… 10
1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan……………………………………….. 10
2. Pengungkapan………………………………………………………………………. 12
2.1 Definisi Pengungkapan……………………………………………………… 12
2.2 Tujuan Pengungkapan……………………………………………………… 14
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
2.3 Kualitas Informasi Yang Seharusnya Digunakan………………… 15
2.4 Metode Pengungkapan……………………………………………………………18
3. Pengungkapan sosial (social disclosure)……………………………… 21
4. Pengukuran Dan Pelaporan Dalam Akuntansi
Pertanggung Jawaban Sosial…………………………………………. 23
5. Indeks Pengungkapan………………………………………………… 27
6. Volume Perdagangan Saham…………………………………………. 27
7. Hubungan Pengungkapan Sosial Dengan Volume
Perdagangan Saham…………………………………………………… 30
C. Hipotesis…………………………………………………………………… 31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian…………………………………………………………………………. 32
B. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya ……………………… 32
C. Populasi dan Sampel ……………………………………………………………….. 36
D. Data dan Sumber Data …………………………………………………………….. 37
E. Tehnik Pengumpulan Data………………………………………………………… 38
F. Tehnik Analisis Data…………………………………………………………………. 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Hasil Penelitian………………………………………………………… 42
1. Menghitung Proporsi Masing-Masing Sub Tema ……………………… 42
2. Menghitung Indeks Pengungkapan Sosial Secara Keseluruhan….. 49
B. Volume Perdagangan Saham……………………………………………………… 51
C. Uji Hipotesis …………………………………………………………………………….. 52
1. Deskriptif Statistik…………………………………………………………………. 52
2. Normalitas Data…………………………………………………………………….. 53
3. Simple Regresi (Analisa Regresi Sederhana) …………………………….. 54
a. Tabel Model Summary………………………………………………………… 54
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
b. Koefisien Regresi………………………………………………………………… 55
c. Uji t (t Test) ……………………………………………………………………….. 56
D Pembahasan……………………………………………………………………………… 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ……………………………………………………………………………… 59
B. Saran ………………………………………………………………………………………. 61
DAFTAR PUSTAKA
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
DAFTAR TABEL
Tabel 1. populasi dan Sampel……………………………………………………………….. 36
Tabel 2. Tema Kemasyarakatan …………………………………………………………… 42
Tabel 3. Tema Produk dan Konsumen ………………………………………. 44
Tabel 4. Tema Ketenagakerjaan ……………………………………………… 45
Tabel 5. Tema Lingkungan Hidup …………………………………………… 47
Tabel 6. Indeks Pengungkapan sosial ………………………………………… 49
Tabel 7. Volume Perdagangan Saham ………………………………………… 51
Tabel 8. Deskriptif Statistik …………………………………………………… 52
Tabel 9. One Sample Kolmogorov-Smirnov Test……………………………. 53
Tabel 10. Variables Entered/Removedb …………………………………………. 54
Tabel 11. Model Summary ………………………………………………………. 54
Tabel 12. ANOVAb ……………………………………………………………… 55
Tabel 13. Coefficientsa…………………………………………………………… 55
Tabel 14. Uji t (T Test)…………………………………………………………. 56
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pengaruh pengungkapan sosial terhadap volume perdagangan
saham……………………………………………………………… 30
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Tema Kemasyarakatan
Lampiran 2. Tema Produk dan Konsumen
Lampiran 3. Tema Ketenagakerjaan
Lampiran 4. Tema Lingkungan Hidup
Lampiran 5. Indeks Pengungkapan sosial
Lampiran 6. Volume Perdagangan Saham
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
DAFTAR PUSTAKA
Adi, Puguh Siswanto, 2005. Pengaruh Pengungkapan Sosial dalam Laporan
Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi Investor (Studi Kasus Pada
Perusahaan High Profile Yang Listing di BEJ). Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan Balance Vol. 2 No. 4 Universitas Muhammadiyah Malang
Belkoui, Ahmed Riahi, 2000. Teori Akuntansi. Buku Satu, Edisi Satu. Salemba
Empat. Jakarta
Chiriri, Anis, dan Ghozali, Imam, 2003. Teori Akuntansi. Edisi Revisi.
Eldon, S, Hendriksen, 1998. Teori Akuntansi. Penerbit Ak Group. Yogyakarta.
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Edisi
Ke Dua. Undip. Semarang
Harahap, Sofyan Syafri, 1999. Teori Akuntansi. Cetakan Ketiga. PT Raja Grafindo
Persada. Jakarta.]
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2004). Standart Akuntansi Keuangan. Buku Satu.
Salemba Empat. Jakarta
Indriantono, N dan Supomo B, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi
Dan Manajemen. Edisi Satu. BPFE. Yogyakarta.
Kieso and Weygrandt, 1995. Akuntansi Intermediete. Edisi Ketujuh. Jilid Tiga. Bina
Rupa Aksara. Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi. Erlangga. Jakarta
Lutfi, Andi P.I, 2001. Analisis Praktek Pengungkapan Sosial Terhadap Harga
Saham Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di BEJ. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. FE. UB. Malang. Malang
Maghfiroh, Rosyidatul Diana, 2004. Analisis Aktivitas Sosial Perusahaan Serta
Pelaporannya Dalam Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan Balance Vol. 1 No. 2 Universitas Muhammadiyah Malang
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com
Purwati, Indah, 2001. Analisis Pengaruh Pengungkapan Sosial Dalam Laporan
Tahunan Perusahan Terhadap Reaksi Investor (Studi Kasus Pada
Perusahan High Profile Yang Listing Di BEJ dan BES). Skripsi Tidak
Dipublikasikan. FE. UB Malang. Malang
Santoso, Singgih, 2002. Buku latihan SPSS Statistik Parametrik. PT Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia Jakarta.
2004. Mengatasi Berbagai Masalah Statistik Dengan SPSS
versi 11.5. PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta
Utomo, Muhammad Muslim, 2000. Praktek pengungkapan Sosial Pada Laporan
Tahunan Perusahaan Di Indonesia (Studi Perbandingan Antara
Perusahaan-Perusahaan High Profile dan Low Profile). Makalah
disajikan pada SNA III.
Widiatmojo, Sawidji, 1996. Cara Sehat Investasi DI Pasar Modal Pengetahuan
Dasar. Cetakan Ke Tiga PT. Jurnalindo Aksara Grafika. Jakarta.
Wijanarko, Bambang. 2003. Analisis Pengaruh Stock Spilit Terhadap Volume
Perdagangan (TVA) (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar di BEJ Tahun 200-2002). Skripsi Tidak Dipublikasikan. FE.
UB malang. Malang
Yuningsih, 2004. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Praktek
Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan perusahaan
Publik. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Balance Vol. 1 No. 2 Universitas
Muhammadiyah Malang
Zulhawati, 2000. Aktivitas Volume Perdagangan di Pasar Modal Indonesia Tahun
Laporan Keuangan 1996. Kompak, No. 22. Jakarta
Zuhroh, Diana, dan Sukmawati Heri IP, 2003. Analisis Pengaruh Luas
Pengungkapan Sosial Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap
Reaksi Investor (Studi Kasus Pada Perusahaan High Profile di BEJ).
Makalah Disajikan Pada SNA VI.
PDF created with FinePrint pdfFactory Pro trial version http://www.pdffactory.com

PENGARUH RISIKO LITIGASI DAN TIPE STRATEGI TERHADAP HUBUNGAN ANTARA KONFLIK KEPENTINGAN DAN KONSERVATISMA AKUNTANSI

July 26, 2010 Comments off

DR. AHMAD JUANDA, AK, MM
Universitas Muhammadiyah Malang
ABSTRACT
This research studies existence and determinant of accounting conservatism, especially related to conflict of interest between investor and creditor considering manager incentive due litigation risk and firm strategy typess. The objectives of this research are: (1) to investigate the effect of conflict of interest on accounting conservatism; (2) to investigate the effect of litigation risk on the relation between conflict of interest and accounting conservatism; (3) to investigate the effect of strategy types on the relation between conflict of interest and accounting conservatism.
Result of the research shows that there are variation accounting conservatism level inter-firm. The first testing hypothesis result shows that conflict of interest influence positively on accounting conservatism. The second testing hypothesis result shows litigation risk moderate the relation between conflict of interest and accounting conservatism, but the moderation role is weaken. This result is not support predicted hypothesis. The third testing hypothesis result shows firm strategy types moderate the relation between conflict of interest and accounting conservatism. The result shows when firm strategy is prospector, the positive relation conflict of interest and accounting conservatism is weaker. When firm strategy is defender, the positive relation conflict of interest and accounting conservatism is stronger. The result support predicted hypothesis.
This research shows litigation risk and strategy types can be assumed as condition that motivate manager in responding conflict of interest between investor and creditor related to conservative financial report. By unsupported the second hypothesis, possible reason for this matter because of the weakness of law enforcement in Indonesia, that influence manager in anticipating litigation risk.
Key words: conservatism, conflict of interest, litigation risks, strategy types
AKPM‐10   2
A. PENDAHULUAN
Konservatisma merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka laba dan aset cenderung rendah, serta angka-angka biaya dan utang cenderung tinggi. Kecenderungan seperti itu terjadi karena konservatisma menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Akibatnya, laba yang dilaporkan cenderung terlalu rendah (understatement).
Di kalangan para peneliti, prinsip konservatisma akuntansi masih dianggap sebagai prinsip yang kontroversial. Di satu sisi, konservatisma akuntansi dianggap sebagai kendala yang akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan. Di sisi lain, konservatisma akuntansi bermanfaat untuk menghindari perilaku oportunistik manajer berkaitan dengan kontrak-kontrak yang menggunakan laporan keuangan sebagai media kontrak (Watts, 2003).
Perkembangan yang terjadi justru menunjukkan bahwa eksistensi praktik konservatisma akuntansi semakin meningkat. Eksistensi konservatisma yang dipraktikkan masing-masing perusahaan bisa berbeda, karena adanya berbagai alternatif pilihan metoda akuntansi. Disamping itu, disebabkan pula oleh adanya perbedaan kondisi masing-masing perusahaan.
Salah satu determinan yang dapat menjelaskan adanya variasi praktik konservatisma antarperusahaan adalah adanya konflik kepentingan antara investor dan kreditor. Konflik kepentingan di antara mereka dapat terjadi karena investor berusaha mengambil keuntungan dari dana kreditor melalui pembayaran dividen yang berlebihan, transfer aktiva, perolehan aktiva, dan penggantian aktiva. Sementara itu, pihak kreditor mempunyai kepentingan terhadap keamanan dananya yang diharapkan akan menghasilkan keuntungan bagi dirinya di masa mendatang. Untuk menghindari transfer kekayaan yang dilakukan pihak investor, maka pihak kreditor menginginkan pelaporan keuangan yang konservatif.
Hasil penelitian yang menyatakan bahwa konflik kepentingan antara investor dan kreditor berhubungan dengan konservatisma akuntansi belum konsisten. Ahmed et al. (2002) menyatakan bahwa konflik kepentingan antara investor dan kreditor berpengaruh positif terhadap tingkat konservatisma akuntansi. Namun, mereka tidak menyangkal adanya kemungkinan bagi perusahaan untuk tidak menggunakan akuntansi konservatif karena
AKPM‐10   3
untuk menerapkannya akan mengorbankan aspek lainnya, yakni kinerja laba yang dilaporkan akan lebih rendah yang menyebabkan penilaian dari pihak luar kurang baik [Sari (2004); Watt dan Zimmerman (2003)].
Untuk memperjelas hasil yang masih belum konsisten tersebut, perlu mempertimbangkan posisi manajer sebagai pihak yang berperan sebagai agen bagi investor dan kreditor, yang sudah barang tentu memiliki kepentingan sendiri. Posisi yang diperankan oleh manajer akan mempengaruhi dorongan mereka dalam menyikapi risiko ketidakpastian di masa mendatang. Jika mekanisma kontrak lebih berorientasi pada terciptanya kontrak efisien maka manajer akan mengambil jalan tengah yang bisa mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang ada, termasuk kepentingan dirinya sendiri.
Dorongan manajer untuk memenuhi kepentingan investor dan kreditor akan semakin kondusif bila terdapat kondisi baik internal maupun eksternal yang mendukung terciptanya mekanisma kontrak efisisen. Penelitian ini mencoba untuk mempertimbangkan risiko litigasi sebagai faktor kondisi eksternal dan tipe strategi perusahaan sebagai faktor kondisi internal yang mempengaruhi dorongan manajer dalam menyikapi konflik kepentingan antara investor dan kreditor, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada konservatisma akuntansi.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Secara umum, beberapa literatur akuntansi antara lain [Belkaoui (1985); Hendriksen dan Van Breda (1995); dan Wolk et al. (1997)] mendefinisi konservatisma sebagai preferensi terhadap metoda-metoda akuntansi yang menghasilkan nilai paling rendah untuk aset dan pendapatan di satu sisi, dan menghasilkan nilai paling tinggi untuk utang dan biaya, di sisi lain. Atau dengan kata lain, konservatisma menghasilkan nilai buku ekuitas yang paling rendah.
Konservatisma dapat timbul pada kondisi yang didalamnya perusahaan melakukan investasi pada projek yang NPV-nya positif. Kelebihan present value seharusnya bisa direfleksikan dalam aliran kas dan laba, tapi historical cost accounting tidak memperbolehkan peng-akuan terhadap kelebihan tersebut pada saat perolehan. Dengan demikian terjadi keterlambatan dalam mengakui keuntungan ekonomis.
AKPM‐10   4
Menurut Beaver (1998), akuntansi berbasis historical cost akan mendorong adanya penundaan pengakuan (delayed recognition) nilai buku dibandingkan nilai pasarnya. Delayed recognition dapat mendorong adanya lag angka-angka akuntansi dengan harga sahamnya. Akibatnya, kandungan informasi harga saham lebih cepat dalam merespon peristiwa ekonomi dibanding laba akuntansi. Jika penundaan pengakuan laba tersebut berlangsung terus-menerus dalam beberapa perioda, maka akan terjadi bias pengakuan yang berakibat pada perbedaan nilai buku dan nilai pasarnya. Bias pengakuan tersebut merupakan indikator terjadinya praktik konservatisma.
Banyak kritik mengenai kegunaan konsep konservatisma berkaitan dengan kualitas laporan keuangan, karena penggunaan metoda yang konservatif akan menghasilkan angka-angka yang cenderung bias dan tidak mencerminkan realita. Namun, akhir-akhir ini banyak peneliti yang melihat konservatisma dari sisi manfaatnya, khususnya eksistensi konservatisma pada level perusahaan.
Salah satu penjelasannya adalah bahwa konservatisma muncul karena merupakan bagian dari mekanisma kontrak yang efisien antara perusahaan dengan berbagai pihak (Watts 2003). Atas dasar penjelasan kontrak, konservatisma akuntansi dapat digunakan untuk meng-hindari moral hazard yang disebabkan oleh pihak-pihak yang mempunyai informasi asimetris, pembayaran asimetris, harison waktu yang terbatas, dan tanggung jawab yang terbatas. Misalnya, konservatisma dapat menahan perilaku oportunistik manajer dalam melaporkan ukuran-ukuran akuntansi yang digunakan dalam kontrak. Kwon (2005) menyatakan bahwa laba akuntansi yang dijadikan media kontrak akan lebih bermanfaat untuk mengurangi biaya keagenan yang timbul dari moral hazard, jika disajikan secara konservatif.
Di Indonesia, studi konservatisma masih terbatas. [Mayangsari dan Wilopo (2002), dan Wibowo (2003)] menyatakan bahwa hubungan kontraktual yang diproksi dengan struktur kepemilikan, struktur utang, dan ukuran perusahaan mempengaruhi konservatisma akuntansi. Selain itu penelitian-penelitian tersebut memberikan bukti terjadinya praktik konservatisma akuntansi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sari (2004) membuktikan bahwa konservatisma akuntansi bermafaat untuk mengatasi konflik kepentingan di seputar kebijakan dividen. Selain itu dia membuktikan juga bahwa konservatisma berpengaruh terhadap penurunan biaya modal utang yang ditunjukkan dengan
AKPM‐10   5
meningkatnya rating obligasi. Widya (2004) membuktikan bahwa pilihan kebijakan akuntansi yang cenderung konservatif dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, tingkat leverage, ukuran perusahaan dan tingkat kepemilikan.
Dari uraian beberapa hasil penelitian tersebut di atas, penelitian yang mempelajari tentang konservatisma akuntansi dengan berbagai determinannya, masih belum mempertimbangkan dorongan manajer sebagai pihak yang mempunyai posisi sentral dalam proses penyu-sunan laporan keuangan. Misalnya, Ahmed et al. (2002), mereka meneliti tentang hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma tapi mengabaikan posisi manajer yang mempunyai dorongan dan kepentingan yang bisa jadi berbeda dengan pihak prinsipal.
Upaya manajer untuk menjalankan fungsinya sebagai agen tidak terlepas dari dorongan mereka yang dipengaruhi kondisi eksternal dan internal perusahaan. Kondisi eksternal yang mendorong manajer adalah risiko litigasi, sedangkan kondisi internal yang mendorong manajer adalah tipe strategi perusahaan.
Risiko litigasi sebagai faktor kondisi eksternal, didasarkan pada pandangan bahwa investor dan kreditor adalah pihak yang memperoleh perlindungan secara hukum. Investor maupun kreditor dalam memperjuangkan hak dan kepentingannya dapat melakukan litigasi dan tuntutan hukum kepada perusahaan. Johnson et al. (2000) dan Qiang (2003) menyatakan bahwa risiko potensial terjadinya litigasi dipicu oleh potensi yang melekat pada perusahaan berkaitan dengan tidak terpenuhinya kepentingan investor dan kreditor.
Tuntutan litigasi dapat timbul dari pihak kreditor, investor atau pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Bagi perusahaan, upaya untuk menghindari tuntutan dan ancaman litigasi mendorong manajer mengungkapkan informasi yang cenderung mengarah pada: (i) pengungkapan berita buruk dengan segera dalam laporan keuangan, (ii) menunda berita baik, (iii) memilih kebijakan akuntansi yang cenderung konservatif (Seetharaman et al. 2002).
Tipe strategi perusahaan dapat dikaitkan dengan sistem akuntansi yang diterapkannya, bahkan strategi menjadi salah satu komponen untuk melengkapi penelilaian kinerja perusahaan. Beberapa studi telah membuktikan bahwa tipe strategi yang berbeda akan menghasilkan sistem pengendalian akuntansi yang berbeda pula, termasuk dalam hal pemilihan metoda akuntansinya apakah cenderung konservatif atau tidak
AKPM‐10   6
C. PERUMUSAN HIPOTESIS PENELITIAN
1. Konservatisma dan Konflik Kepentingan
Teori keagenan menyatakan bahwa pihak investor dan kreditor mempunyai konflik kepentingan. Konflik tersebut tercermin dari kebijakan dividen, pendanaan, dan kebijakan investasi (Jensen and Meckling 1976; Begley 1994). Ketiga kebijakan tersebut dapat digunakan oleh investor untuk mengatur manajer dan mentransfer keuntungan dari kekayaan kreditor. Myer (1977) dan Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa investor dapat mengambil keuntungan dari kekayaan kreditor dengan cara menerima sejumlah deviden yang berlebihan. Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Eastterbrook (1984), Jensen (1986), Hart dan Moore (1994), Ziewel (1996), dan Fluck (1998, 1999) yang menyatakan tentang potensi terjadinya konflik kepentingan antara kreditor dan investor maupun manajer. Investor melalui manajernya, dapat menggunakan sumberdaya perusahaan atas kepentingan dirinya dibanding untuk kepentingan kreditor.
Pemilihan metoda akuntansi yang lebih konservatif adalah salah satu cara yang dapat mengurangi risiko kepada kreditor yakni menghindari pembayaran dividen secara berlebihan. Pengurangan risiko tersebut semakin penting ketika konflik antara kepentingan investor dan kreditor berkaitan dengan kebijakan dividen semakin tinggi dan melebar pada bentuk konflik lainnya, seperti kebijakan pendanaan utang baru dan kebijakan investasi. Ahmed et.al (2002) meneliti tentang pengaruh konflik kepentingan terhadap konservatisma, namun konflik yang dimaksudkan masih bersifat parsial dan lebih ditekankan pada konflik kebijakan dividen. Atas dasar penjelasan tersebut, hipotesis yang diajukan adalah:
H1: Semakin tinggi intensitas konflik kepentingan antara kreditor dan investor, maka semakin tinggi kecenderungan diterapkannya konservatisma akuntansi.
2. Konflik Kepentingan, Konservatisma, dan Litigasi
Lingkungan hukum yang berlaku pada suatu wilayah tertentu mempunyai dampak yang signifikan terhadap kebijakan diskresioner manajer dalam melaporkan keuangannya (Ball et al. 1999 dan 2000). Manajer akan melakukan penyeimbangan antara kos litigasi yang akan timbul dengan keuntungan yang akan diperoleh karena akuntansi yang agresif.
AKPM‐10   7
Pada lingkungan hukum yang sangat ketat, kecenderungan manajer untuk melaporkan keuangan secara konservatif semakin tinggi. Pada lingkungan hukum yang longgar dorongan untuk melaporkan keuangan secara konservatif akan berkurang (Francis et al. 1994). Hal yang hampir sama, Ball et al. (2000) menyatakan bahwa pada negara common law yang di dalamnya penyedia modal tergantung pada laporan publikasian, tuntutan pengungkapan yang tepat waktu lebih tinggi daripada di negara code law yang konsekuensi hukum dan aturan pengungkapan informasi kepada publik relatif rendah.
Berbagai peraturan dan penegakan hukum yang berlaku dalam lingkungan akuntansi, menuntut manajer untuk lebih mencermati praktik-praktik akuntansi agar terhindar dari ancaman ketentuan hukum. Tuntutan penegakan hukum yang semakin ketat inilah akan berpotensi menimbulkan litigasi bila perusahaan melakukan pelanggaran sehingga akan semakin mendorong manajer untuk bersikap hati-hati dalam menerapkan akuntansinya. Demikian juga, bagi akuntan yang menyiapkan maupun yang memeriksa laporan keuangan akan cenderung lebih konservatif.
Karena kesalahan dalam memperkirakan kemungkinan keuntungan lebih berbahaya dibanding kesalahan karena memperkirakan kemungkinan rugi. Jadi semakin tinggi risiko litigasi yang akan dialami perusahaan, maka semakin besar pengaruh positif konflik kepentingan terhadap konservatisma akuntansi. Atas dasar hal tersebut, maka hipotesis kedua dirumuskan sebagai berikut:
H2 : Pada kondisi perusahaan berisiko litigasi tinggi, hubungan positif antara
konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin kuat.
3. Konflik Kepentingan, Konservatisma, dan Tipe Strategi
Konservatisma adalah reaksi yang hati-hati (prudent-reaction) dalam menghadapi ketidakpastian yang melekat dalam perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko yang inheren dalam lingkungan bisnis sudah cukup diper-timbangkan (Dewi 2003). Selain merupakan konvensi penting dalam akuntansi, konservatisma berimplikasi pada strategi perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian. Bukti empiris yang mengkaitkan antara strategi perusahaan dalam kaitannya dengan konflik kepentingan dan konservatisma masih terbatas.
AKPM‐10   8
Bushman et al. (2003) menemukan bahwa mekanisma corporate governance berhubungan erat dengan konservatisma dan strategi perusahaan. Mereka menemukan bahwa variasi ketepatan waktu akuntansi dengan kondisi sekarang sebagian dapat dijelaskan oleh struktur governance, pertumbuhan perusahaan, fluktuasi return, ukuran perusahaan, umur perusahaan, masa jabatan manajer, strategi diversifikasi dan kinerja masa lalu.
Keterkaitan konservatisma akuntansi dengan strategi dapat dilihat dari orientasi srategi yang diterapkan dalam memprioritaskan efisiensi dan inovasi. Perusahaan dengan strategi prospektor memiliki karakter inovasi produk-produk baru, variasi dan diversi-fikasi produk. Untuk menopang strategi tersebut, investasi di bidang pengembangan tenaga kerja, pengeluaran riset dan pengembangan, dan pengeluaran modal relatif lebih tinggi dibanding perusahann defender (Ittner dan Larcker 1997).
Hamid (2000), yang mengembangkan risetnya dari Ittner & Larcker (1997) dan Anthony & Ramesh (1992), menunjukan bahwa strategi yang berbeda akan menghasilkan rata-rata pertumbuhan laba dan penjualan yang berbeda pula. Rata-rata pertumbuhan perusahaan bertipe prospektor lebih besar dibanding dengan rata-rata pertumbuhan penjualan perusahaan bertipe defender. Demikian juga, rata-rata pertumbuhan laba perusahaan bertiplogi prospektor lebih besar dibanding dengan rata-rata pertumbuhan laba pada perusahaan bertipe defender.
Bagi manajer, dorongan untuk memilih kebijakan akuntansi harus disesuaikan dengan tipe strategi perusahaan yang sedang dijalankan. Perusahaan bertipe prospektor cenderung memiliki rata-rata pertumbuhan laba dan penjualan tinggi dibanding perusahaan bertipe defender. Jadi, ketika perusahaan bertipe defender, hubungan konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi akan cen-derung menguat karena searah dengan dorongan manajer yang cenderung memeprtahankan laba dan penjualannya. Sebaliknya, ketika perusahaan bertipe prospektor hubungan konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi akan cenderung melemah karena berlawanan dengan dorongan manajer yang ingin meningkatkan pertumbuhan penjualan dan labanya. Atas dasar penjelasan tersebut, penelitian ini mengajukan hipotesis:
H3: Pada kondisi perusahaan bertipe prospektor, hubungan positif antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin lemah.
AKPM‐10   9
atau
Pada kondisi perusahaan bertipe defender, hubungan positif antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin kuat.
D. METODA PENELITIAN
1. Definisi dan Pengukuran Variabel
Penelitian ini menggunakan variabel-variabel sebagai berikut: 1) konservatisma akuntansi, 2) konflik kepentingan, 3) risiko litigasi, dan 4) tipe strategi.
Konservatisma akuntansi adalah perbedaan antara nilai buku dan nilai pasar yang terjadi secara persisten selama jangka waktu beberapa perioda atau dikenal dengan bias permanen. Untuk mengukur konservatisma mengacu pada Beaver dan Ryan (2000) yang mengukur komponen bias dan lag dengan cara meregresi rasio BTM (book to market) pada return saham perioda sekarang dan perioda lag. Model regresi tersebut bertujuan untuk mencari pengaruh tetap antar-perusahaan (fixed effect).
Konflik kepentingan merupakan gambaran konflik yang terjadi antara kreditor dan investor. Proksi yang digunakan untuk mengukur konflik tersebut mengacu pada Ahmed, et al. (2002) yakni terdiri atas tiga proksi: operating uncertainty, level of dividend, dan leverage. Karena masing-masing proksi tidak bisa dilihat secara parsial, maka ketiga proksi tersebut digabung dengan melakukan analisis faktor untuk mencari satu indeks intensitas konflik kepentingan yang terjadi dalam perusahaan.
Risiko litigasi diartikan sebagai risiko yang melekat pada perusahaan yang memungkinkan terjadinya ancaman litigasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang merasa dirugikan. Pihak-pihak yang berpentingan terhadap perusahaan meliputi kreditor, investor, dan regulator. Risiko litigasi dapat diukur dari berbagai indikator keuangan yang menjadi determinan kemungkinan terjadinya litigasi. Penelitian ini mengacu pada Qiang (2003) dan Johnson et al. (2001), yang mengukur biaya atau risiko litigasi dari sisi ex-ante yakni mengukur beberapa indikator yang dapat menimbulkan litigasi. Untuk mengukur risiko litigasi, penelitian ini melakukan analisis faktor (component factor analysis) terhadap variabel-variabel: (1) beta saham dan perputaran volume saham, keduanya merupakan proksi volatilitas saham; (2) likuiditas dan solvabilitas, keduanya
AKPM‐10   10
merupakan proksi dari risiko keuangan; (3) ukuran perusahaan yang merupakan proksi dari risiko politik.
Klasifikasi Strategi yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada konsep Miles dan Snow (1978) untuk merepresentasi tipe strategi perusahaan, yakni tipe prospektor dan tipe defender. Penentuan sampel yang tergolong prospektor dan defender meng-gunakan model yang dikembangkan oleh Ittner dan Larcker (1997), Skinner (1993), dan Kallapur dan Trombbley (1999). Tipe strategi diukur dengan melakukan komposit melalui analisis faktor komponen terhadap variabel-veriabel yang menjadi proksi ukuran strategi, yakni: 1) rasio jumlah karyawan dibagi dengan total penjualan (KARPENJ); 2) rasio nilai pasar ekuitas dibandingkan dengan nilai buku ekuitas (PBV); 3) rasio pengeluaran modal dibagi dengan nilai pasar ekuitas (CEMVE); 4) rasio pengeluran modal dibagi dengan total asset (CETA).
2. Model Analisis
Penelitian ini mengunakan tiga model. Pertama, model yang digunakan untuk menguji pengaruh konflik kepentingan terhadap konservatisma. Kedua, model yang digunakan untuk menguji pengaruh variabel moderasi yakni litigasi terhadap hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma. Ketiga, model yang digunakan untuk menguji pengaruh variabel moderasi yakni tipe strategi terhadap hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma. Adapun model keempat merupakan model analisis tambahan. Tahapan model analisisnya sebagai berikut:
Model (1): KONit = β0 + β1 KONFLit + ei
Model (2a): KONi t= β0 + β1KONFLit + β2LITit + ei
Model(2b): KONit =β0+β1KONFLit+β2LITit+β3KONFL*LITit+ei
Model (3a): KONit= β0 + β1KONFLit + β2STRit + ei
Model (3b): KONit= β0+ β1KONFLit +β2STRit +β3KONFL* STRit +ei
KON adalah konservatisma akuntansi; KONFL adalah konflik kepentingan antara investor dan kreditor; LIT adalah risiko litigasi perusahaan; dan STR adalah tipe strategi
AKPM‐10   11
perusahaan. Hipotesis H1, H2, dan H3 diuji dengan menguji signifikansi koefisien β1 pada (model 1); koefisien β3 (model 2b), koefisien β3 (model 3b).
3. Data dan Pemilihan Sampel
Data akuntansi dikutip dari laporan keuangan tahunan yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan yang mempublik di Bursa Efek Jakarta, untuk periode 1995 sampai 2003. Data laporan keuangan diperoleh dari berbagai sumber antara lain, Data Pasar Modal UGM, Pojok BEJ FE-UMM. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan pemanufakturan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Sampel penelitian dipilih dari seluruh populasi dengan menggunakan metoda penyampelan bersasaran (purposive sampling), dengan kriteria-kriteria: 1) termasuk dalam sektor industri manufaktur sesuai dengan klasifikasi sektor industri yang ada dalam Indonesian Capital Market Directory selama 9 tahun yakni mulai tahun 1995-2003, 2) memiliki akhir tahun fiskal 31 Desember dan laporan keuangan auditan, 3) memiliki data return yang ada dalam Data Pasar Modal–UGM, 4) memiliki data dividen. Sampel dibatasi hanya pada perusahaan yang berada dalam kelompok industri pemanufakturan. Pembatasan ini dimaksudkan untuk mengendalikan variabilitas sifat aset perusahaan yang disebabkan oleh karakteristik industri sehingga tidak dapat menggambarkan sifat pertumbuhan perusahaan dengan tepat. Analisis didasarkan pada 972 observasi dari 98 perusahaan-perusahaan pemanufakturan yang memenuhi kriteria untuk dianalisis.
E. HASIL PENELITIAN
1. Hasil Pengukuran Konservatisma Akuntansi
Konservatisma akuntansi berkaitan dengan bias yang sifatnya permanen yang tercermin dari koefisien intersep hubungan return saham dengan perbedaan nilai buku dan nilai pasar. Untuk menentukan bias permanen, diperlukan data gabungan time series dan crossection yang dianalisis dengan cara regresi BTM dengan RET pada tahun yang sama maupun tahun-tahun sebelumnya (lag). Penentuan panjangnya lag, didasarkan pada pertimbangan nilai signifikansi variabel lag terhadap BTM. Dalam penelitian ini, panjangnya lag ditentukan selama 3 tahun sebelumnya, sedangkan lag lebih dari tiga tahun akan menghasilkan nilai t yang tidak signifikan.
AKPM‐10   12
Tujuan dari analisis regresi tersebut adalah untuk mencari nilai koefisien fixed effect yang merupakan intersep dari masing-masing perusahaan sampel yang berasal dari data panel yang ada. Langkah-langkah dalam melaksanakan regresi fixed effect mengikuti tahapan dalam Gujarati (1995). Penggunaan model ini menggunakan asumsi bahwa intersep antarperusahaan akan berbeda sedangkan slopenya tetap sama. Koefisisen fixed effect yang dihasilkan dari model regresi dijadikan surogat untuk indeks konservatisma akuntansi dengan cara mengalikan nilai koefisien tersebut dengan (-1).
2. Hasil Pengukuran Konflik Kepentingan, Risiko Litigasi, dan tipe strategi.
Pengukuran variabel konflik kepentingan, risiko litigasi dan tipe strategi menggunakan analisis faktor. Konflik kepentingan (KONFL) diperoleh dari komposit beberapa ukuran antara lain deviasi standar ROA (std_ROA), level dividen (level_dvd), dan tingkat leverage (totlev). Risiko litigasi (LIT) diperoleh dari komposit beberapa ukuran antara lain risiko saham (BETA), rata-rata perputaran volume saham (TOS), likuiditas (LIKUID), solvabilitas (LEV), dan ukuran perusahaan (LG_aset). Tipe strategi (STR) diperoleh dari komposit beberapa ukuran antara lain rasio pengeluaran modal dengan nilai pasar (CEMVE), rasio pengeluaran modal dengan total aset (CETA), rasio jumlah karyawan dengan penjualan (KARPENJ), dan rasio nilai pasar dengan nilai buku (PBV).
Tahapan dalam melakukan analisis mengikuti tahapan analisis faktor dalam Hair et al. (1995) khususnya yang menggunakan pendekatan component factor analisys. Pendekatan ini dapat digunakan untuk menentukan satu ukuran nilai variabel dari komposit berbagai ukuran. Pertama, adalah menaksir signifikansi keseluruhan matrik korelasi dengan menggunakan Bartlett’s Test of Sphericity. Korelasi keseluruhan set variabel harus signifikan dan besarnya measure of sampling adequacy (MSA) harus bernilai minimal 0,50. Apabila MSA secara keseluruhan masih kurang dari 0,50 maka variabel yang mempunyai MSA terkecil atau kurang dari 0,50 harus tidak disertakan dalam analisis. Kedua, menghitung faktor matriks dan memilih jumlah faktor yang akan dipertahankan. Kemampuan penjelas relatif masing-masing faktor yang ditunjukkan oleh eigenvalue. Faktor yang dipilih sebagai wakil adalah faktor yang mempunyai eigenvalue sama dengan atau lebih besar dari satu (Hair et al. 1995).
3. Statistik Diskriptif
AKPM‐10   13
Nilai rata-rata untuk konservatisma akuntansi menunjukkan nilai –1,677. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan secara umum melakukan praktik konservatisma akuntansi, walaupun masih tergolong rendah karena nilai maksimumnya -0,270. Nilai rata-rata variabel konflik kepentingan sebesar –0,113. Hal ini menunjukkan perusahaan dalam sampel secara umum mengalami konflik kepentingan yang masih rendah. Nilai rata-rata LIT sebesar -0,0485 menunjukkan bahwa secara umum perusahaan sampel tidak memiliki risiko litigasi yang besar. Nilai rata-rata variabel STR sebesar 0,049. Nilai indeks cukup bervariasi berkisar dari nilai –2,094 sampai dengan 3,587. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tipe strategi dalam sampel bervariasi.
4. Hasil Pengujian Hipotesis
a. Hipotesis 1
Hasil pengujian pada model 1, berhasil mendukung hipotesis 1, artinya konflik kepentingan berpengaruh positif terhadap konservatisma akuntansi yang ditunjukkan dengan nilai signifikansi t lebih kecil dari α yang ditetapkan (α=0,05), yaitu 0,028 atau nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2,236 > 1,980). Dari hasil analisis diperoleh nilai Adj R2 = 0.040. Angka ini menunjukkan bahwa variasi nilai konservatisma akuntansi (Y) yang dapat dijelaskan oleh model regresi sebesar 4% sedangkan sisanya, yaitu 96%, dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
b. Hipotesis 2
Pada model 2b, pengaruh utama konflik kepentingan terhadap konservatisma ditunjukkan oleh β1 sebesar 2,852 dan nilai t-hitung sebesar 5,083 dengan nilai probabilitas 0,000 berarti secara statistik signifikan pada α 1%. Hipotesis 2 (H2) diuji dengan t-test yaitu menguji secara parsial siginifikansi koefisien LIT*KONFL pada model 2b. Pengaruh pemoderasian atau interaksi variabel LIT ditunjukkan oleh koefisien LIT*KONFL (β3). Koefisien interaksi antara risiko litigasi dan konflik kepentingan (β3) adalah negatif -0,526. Nilai statistik t-hitung dari koefisien ini adalah -4,398 dengan nilai probabilitas sebesar 0,000.
Dari hasil interaksi pada model 2b, dapat dijelaskan bahwa pengaruh risiko litigasi sebagai variabel pemoderasi bersifat memperlemah yang ditunjukkan dari nilai koefisien (β3) sebesar -0,526. Hal ini ditunjukkan pula oleh pengaruh bersih dari model tersebut
AKPM‐10   14
yakni sebesar 2,326 (2,852 – 0,526), yang berarti bahwa pengaruh konflik kepentingan terhadap konservatisma semakin melemah. Hasil pengujian ini tidak berhasil mendukung hipotesis 2 yang menyatakan bahwa ketika risiko litigasi tinggi hubungan positif antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin kuat. Hasil temuan justru menunjukkan sebaliknya, yakni ketika risiko litigasi tinggi, hubungan positif antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin lemah.
c. Hipotesis 3
Hipotesis (H3) diuji dengan t-test yaitu menguji secara parsial siginifikansi koefisien KONFL*STR pada model 3b. Pengaruh pemode-rasian atau interaksi variabel STR pada hubungan KONFL dengan KON ditunjukkan oleh koefisien KONFL*STR (β3). Koefisien interaksi antara tipe strategi dan konflik kepentingan (β3) adalah -0,760. Nilai statistik t dari koefisien ini adalah -2,177 dengan nilai probabilitas sebesar 0,032.
Hasil pengujian ini berhasil mendukung hipotesis 3 bahwa tipe strategi berpengaruh terhadap hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi. Dalam kondisi tipe strategi prospector, hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin lemah, bahkan mengarah pada hubungan yang negatif. Demikian untuk sebaliknya, pada kondisi perusahaan bertipe strategi defender, hubungan positif antara konflik kepentingan dan konser-vatisma akuntansi semakin kuat.
F. SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian ini mendukung argumen bahwa konservatisma akuntansi merupakan praktik umum yang dilakukan perusahaan secara diskresioner. Selanjutnya, terkait dengan pola hubungan yang diteliti, dapat disimpulkan bahwa, pertama, bukti empiris menunjukkan bahwa konflik kepentingan berpengaruh positif terhadap konservatisma akuntansi. Hal ini mendukung prediksi bahwa semakin tinggi intensitas konflik kepentingan, maka semakin tinggi kecenderungan penerapan konservatisma akuntansi. Hasil ini mendukung penelitian Ahmed et al. (2002).
Kedua, pengaruh pemoderasian risiko litigasi terhadap hubungan konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi bersifat memperlemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi risiko litigasi perusahaan, maka hubungan positif konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin lemah. Hasil ini tidak mendukung
AKPM‐10   15
hipotesis yang diprediksi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh masih lemahnya penegakan hukum (law enforcement) di Indonesia, yang berakibat pada lemahnya antisipasi manajer terhadap risiko litigasi.
Ketiga, pengaruh pemoderasian tipe strategi perusahaan terhadap hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi bersifat memper-lemah. Hal ini menunjukkan bahwa ketika perusahaan bertipe pros-pektor, maka hubungan positif konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin lemah. Demikian sebaliknya, ketika perusahaan bertipe defender, maka hubungan positif konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi semakin kuat. Hasil ini berhasil mendukung hipotesis yang diprediksikan. Hasil ini konsisten dengan penelitian Hamid (2000) yang menyatakan bahwa rata-rata pertumbuhan laba perusahaan prospektor lebih tinggi dibanding perusahaan defender.
Hasil penelitian ini memberi kontribusi memperluas literatur terkait melalui pengujian dampak risiko litigasi dan tipe strategi perusahaan terhadap hubungan antara konflik kepentingan investor versus kreditor dan konservatisma akuntansi. Dampak dari kedua faktor kondisional tersebut akan semakin mempertegas eksistensi dan determinan konservatisma pada level perusahaan yang telah didukung oleh banyak penelitian dengan menggunakan teori hubungan keagenan dan mekanisma kontrak efisien.
Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi regulator dalam mempertimbangkan penetapan persyaratan pengungkapan laporan keuangan yang tidak saja mempertimbangkan kepentingan investor, tapi juga kepentingan kreditor maupun manajer. Juga, bukti empiris ini diharapkan bermanfaat bagi profesi auditor sebagai pendorong untuk ikut bertanggungjawab meningkatkan kualitas laporan keuangan perusahaan.
Berkaitan dengan risiko litigasi yang memperlemah hubungan antara konflik kepentingan dan konservatisma akuntansi, maka informasi ini sangat bermanfaat bagi regulator pasar modal (BAPEPAM) untuk lebih meningkatkan penegakan hukum agar risiko litigasi akan diapresiasi oleh manajer dan berdampak positif terhadap praktik konservatisma akuntansi.
Perbaikan atas penelitian ini dapat dilakukan dengan cara: 1) menggunakan ukuran konservatisma selain Beaver dan Ryan (2000); 2) meneliti potensi konflik
AKPM‐10   16
kepentingan selain konflik antara investor dan kreditor; 3) membedakan sampel perusahaan antara jenis perusahaan regulated dan unregulated, 4) mempertimbangkan faktor tingkat kesulitan keuangan perusahaan; 5) mempertimbangkan kualitas auditor.
AKPM‐10   17
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, AS., R.M. Morton and T.F. Schaefer, 2000. Accounting Conservatism and The Valuation of Accounting Numbers: Evidence on The Feltham-Ohlson (1996) Model. Journal of Accounting, Auditing and Finance (summer): 271-293.
Ahmed, AS., B. Billing, M.S. Haris, and R.M. Morton, 2002. The Role of Accounting Conservatism in Mitigating Bondholder-Shareholder Conflicts over Dividens Policy and In Reducing Debt Costs. The Accounting Review 77 No. 4 pp 867-890.
Anthony, H.J., and Ramesh, K., 1992. Association Between Accounting Performance Measures and Stock Prices: Corporate Life Cycle Perspective. Journal of Accounting and Economics 15:203-227.
Ball, R., Robin A., and Wu Y., 2000. Incentives Versus Standard: Properties of Accounting Income in Four East Asian Countries, and Implication for Acceptance of IAS. Working Paper, University of Chicago.
Ball, R., Kothari SP., and Robin A., 2002. The Effect of International Institution Factors on Properties of Accounting Earnings. Journal of Accounting and Economics 29:1-51.
Basu, Sudipta, 1997. The Conservatism Principle and The Asymetric Timeliness of Earnings. Journal of Accounting and Economis, 24: 3-37.
Beaver, WH., 1998. Financial Reporting: An Accounting Revolution. 3th Prentice Hall International, Inc.
Beaver WH., Clarke R., and Wright W., 1979. The Assosiation Between Asymetric Security Return And The Magnitude Of Earnings Forcast Errors. Journal of Accounting Research 17: 316-340.
_________, W., and S. Ryan, 2000. Biases and Lags In Book Value and Their Effect on Adibility of The Book-To-Market Rasio to Predict Book Return on Equity. Journal of Accounting Research 38 (1):127-148
AKPM‐10   18
Begley, J., 1994. Restrictive Covenants Included In Public Debt Agreements: An Empirical Investigation. Working paper, University of British Columbia.
Belkoui, Ahmed Riahi, Accounting Theory. Forth Worth: The Dryden Press, 1993
Bourgeois, L.J, 1980. Strategy and Environment : A Conceptual Integration. Academy of Management Review.
Brown S., Hillegeist S.A., and Lo, K., 2004. Management Forecasts and Litigation Risk. Working Paper, Goizueta Business School, Emory University
Bushman, R.M., and Piotroski, E., 2004. Encouraging Pessimism or Discouraging Optimism: The Influence of Legal, Political and Financial Institutions on Accounting Conservatism. Working Papers, the Kenan-Flagler Business School.
Cao, Z., and Narayanamoorthy, G., 2005. Accounting and Litigation Risk. Working Paper, Yale School of Management.
Dewi, Ratna AAA., 2003. Pengaruh Konservatisma Laporan Keuangan Terhadap Earnings Response Coefficient. Makalah SNA VI
Easterbrook, Frank, 1984. Two Agency Cost Expalanations of Dividens. American Economic Review 74, 650-659
Fluck, Z., 1998. Optimal Financing Contracts: Debt versus Outside Equity. Review of Financial Study 11, 383-418.
Fluck, Z., 1999. The Dynamics of The Management Shareholder Conflict. Review of Financial Study 12, 347-377.
Francis, J., D. Philbrick and K. Schipper, 1994, Shareholder Litigation and Corporate
Disclosures, Journal of Accounting Research, 32, 2, 137-164
Francis, J., LaFond, R.Z., Ohlson, P., and K. Schipper, 2003. Costs of Capital and Earnings Attributes. Working Paper, Duke University.
Gujarati, D., 1995. Essenetial Of Econometrics, International Editions, McGrawHill, Inc.
AKPM‐10   19
Hamid, H.A., 2000. Studi Terhadap Pengukuran Kinerja Akuntansi Perusahaan Prospektor And Defender, dan Hubungannya Dengan Harga Saham. SNA II. Jakarta.
Hart, oliver and J. Moore, 1994. A Theory of Debt Based on Inalienability of Human Capital, Quarterly Journal of Economis 109: 841-880.
Hendriksen ES., and Van Breda MF., 1992. Accounting Theory, 5th Edition, Irwin, Homewood, Boston.
Ittner, DC., Larcker D.F., and Rajan MV., 1997. The Choice Of Performance Measure In Annual Bonus Contract. The Accounting Review, 72, April, 231-255.
Jensen MC., and Meckling WH., 1976. Theory of The Firm: Managerial Behaviour, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics (Oktober), 193-228.
Johnson, M.F., Kasznik, R., and Nelson, K.K., 2001. The Impact of Securities Litigation Reform on the Disclosure of Forward-Looking Information by High Technology Firms. Journal of Accounting Research 39 (2): 297-327.
Kalay, A., 1982. Stockholder-bondholder Conflict and Dividend Constraints. Journal of Financial Economics 10 (2): 211-33.
Kam, Vernon, 1990. Accounting Theory. New York: John Wiley & Sons.
Kasznik, R. and Lev, B. 1995. To Warn or Not to Warn: Management Disclosures in the Face of an Earnings Surprise. Accounting Review 70 (1): 113-34.
Kellogg, R.L., 1984. Accounting Activities, Security Prices, and Class Action Lawsuits. Journal of Accounting & Economics 6 (3): 185-204.
Kim Langfield & Smith. Management Control System and Strategy : A Critical Review. Accounting, Organization and Society, Vol. 22, 1997.
Kormendi R., and Lipe R., 1987. Earnings Innovations, Earnings Persistence and Stock Returns. Journal of business, 323-346.
AKPM‐10   20
Kothari SP., 1992. Price-Earnings Regression in The Presence of Price Leading Earnings: Earnings Level versus Change Specification and Alternative Deflators. Journal of Accounting and Economics 15, 173-202.
__________., and Sloan RG., 1992. Information in Earnings about Future Earnings : Implication for Earnings Responses Coefficients. Journal of Accounting and Economics 15, 143-171.
__________., and Zimmerman L., 1995. Price and Return Model. Journal of Accounting and Economics, 20, 155-192.
Kwon YK., Newman DP., and Suh Y., 2001. The Demand for Accounting Conservatism for Management Control. Reviev of Accounting Studies, 6, 29-51
Kwon, S. S., 2002. Value Relevance of Financial Information and Conservatism: High-Tech versus Low-Tech Stocks. Working Paper, Rutgers University- Camden.
Kwon, Y. P., 2005. Accounting Conservatism and Managerial Incentives, Forthcoming in Management Science.
Kothari, S. P., and R. G. Sloan, 1992, Information in Prices About Future Earnings:
Implications for Earnings Response Coefficients, Journal of Accounting an Economics 15: 143-171
Mayangsari, S.,and Wilopo, 2002. Konservatisma Akuntansi, Value Relevance And Discretionery Accruals: Implikasi Empiris Model Feltham and Ohlson (1996). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 5, No. 3 (September): 229-310.
Mile, R., and Snow, 1978. Organizational Strategi, Structure And Process. New York, NY: McGraw-Hill.
Miler. D., and Friesen, P.H., 1982. Inovation in Conservative and Entrepreneurial Firm : Two Models of Strategic Momentum. Strategic Management Journal.
Monahan, 1999. Conservatism, Growth and the Role of Accounting Numbers in the Equity Valuation Process. Working Paper, the University of North Carolina.
Penman,S., and X. Zhang, 2002. Accounting Conservatism, Quality of Earnings, and Stock Returns. The Accounting Review, 77 (2): 237 –264.
AKPM‐10   21
Qiang, Xinrong, 2003. The Economic Determinants of Self-imposed Accounting Conservatism. Disertation, Ph.D. Candidate in Accounting Department of Accounting and Law School of Management State University of New York at Buffalo.
Rezaee, Z., and Jain, P.K., 2004. The Sarbanse-Oxley Act and Accounting Conservatism. Working paper. University of Memphis.
Sari, Dahlia, 2004. Hubungan Antara Konservatisma Akuntansi Dengan Konflik Bondholder-Shareholder Seputar Kebijakan Dividen dan Peringkat Obligasi Perusahaan. SNA IV , Denpasar
Seetharaman,A., B. Srinidhi., Zane, Swanson, 2002. The Effect of the Private Securities Litigation Reform Act of 1995 on Accounting Conservatism. Working Paper, Saint Louis University.
Smith CW., Jr., and Warner M., 1979. On Financial Contracting: An Analysis of Bond Covenants. Journal of Financial Economics (June), 117-161.
Sterling RR., 1967. Conservatism : The Fundamental Principle of Valuation in Traditional Accounting. Abacus, June:109-132.
Suko Priyono, B., 2004. Analisis Pengaruh Hubungan Ideal Tipologi Strategi and Budaya Organisasi Terhadap Kinerja. Jurnal Bisnis and Ekonomi, Vol 11 No. 1, UGM. Jogjakarta
Watts RL., 2003. Conservatism In Accounting Part I : Explanation and Implication. Accounting Horizons, September 17 No 3, 207-221.
Watts RL., 2003. Conservatism In Accounting Part II : Evidence and Research Opportunities. Accounting Horizons, Desember Vol. 17 No. 4, 287-302.
Watts RL., and Zimmerman JL., 1986. Positive Accounting Theory. Pretice Hall, Englewood Cliff, New Jersey.
Warfield, T., and J. Wild, 1992. Accounting Recognition And The Relevance Of Earnings As An Explanatory Variable For Returns. The Accounting Review 67, 821-842.
AKPM‐10   22
Wibowo, Joko, 2002. Implikasi Konservatisme Dalam Hubungan Laba-Return And Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Thesis, PPS Akuntansi UGM.
Widya, 2004. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pilihan Perusahaan Terhadap Akuntansi Konservatif. Thesis, PPS-UGM.
Wolk, Harry I., Michael G Tearney, and James L.D., 2001. Accounting Theory: A Conceptual and Institutional Approach. South Western College Publishing
Zwiebel, J., 1996. Dynamic Capital Structure Under Managerial Entrenchment. American Economic Review 86, 1197-1215.
AKPM‐10   23
LAMPIRAN:
1. Statistik Deskriptif
2. Hasil Regresi Pengujian H1: konflik kepentingan dan konservatisma
3. Hasil Regresi Pengujian H2: interaksi konflik kepentingan dan risiko litigasi
4. Hasil Regresi Pengujian H3: interaksi konflik kepentingan dan tipologi strategi
Tabel 1: statistik deskriptif
KON
KONFL
STR
LIT
Valid
96
96
96
96
N
Missing
0
0
0
0
Mean
-1,677
-,113
,049
-,0485
Median
-1,483
-,133
,029
-,190
Std. Deviation
1,031
,247
,877
,866
Minimum
-6,140
-1,154
-2,094
-1,680
Maximum
-,270
1,635
3,587
3,965
Keterangan:
KON = Konservatisma akuntansi , KONFL = Konflik kepentingan, LIT= Risiko litigasi, STR= tipologi strategi
Tabel 2: hasil regresi pengujian H1
Model 1: KONit = β0 + β1 KONFLit + ei
Variabel
koefisien
T hitung
Sig.
Keterangan
intercept
-1,623
-15,130
0,000
KONFL
0,238
2,236
0,028
Signifikan
R
Adj R Square
F hitung
Sign. F
= 0,225
= 0,040
= 5,000
= 0,028
AKPM‐10   24
Tabel 3: hasil regresi pengujian H2
Model 2a: KONit = β0 + β1KONFLit + β2LITit + ei
Model 2b: KONit = β0 + β1KONFLit + β2LITit + β3KONFL*LITit+ ei
Variabel
koefisien
T hitung
Sig.
Keterangan
Model 2a
Intercept
-1,620
KONFL
0,433
3,570
0,001
Signifikan
LIT
-0,367
-2,987
0,004
Signifikan
R
Adj R Square
F hitung
Sign. F
= 0,366
= 0,115
= 7,172
= 0,000
α
Model 2b
= 0,05
intercept
-1,304
KONFL
2,852
5,083
0,000
Signifikan
LIT
-0,342
-3,046
0,003
Signifikan
KONFL*LIT
-0,526
-4,398
0,000
Signifikan
R
Adj R Square
= 0,533
= 0,261
F hitung
= 12,173
Sign. F
= 0,000
α
= 0,05
AKPM‐10   25
Tabel 4: hasil regresi pengujian H3
Model 3a: KONit = β0 + β1KONFLit + β2STRit + ei
Model 3b: KONit = β0+ β1KONFLit + β2STRit + β3KONFL* STRit + ei
Variabel
koefisien
T hitung
Sig.
Keterangan
Model 3a
Intercept
-1,623
KONFL
0,246
2,322
0,022
Signifikan
STR
-0,149
-1,386
0,169
Tidak Signifikan
R
Adj R Square
F hitung
Sign. F
α
Model 3b
= 0,264
= 0,050
= 3,485
= 0,035
= 0,05
Intercept
-1,578
KONFL
0,382
3,151
0,002
Signifikan
STR
-0,198
-1,835
0,078
Tidak Signifikan
KONFL*STR
-0,760
-2,177
0,032
Signifikan
R
Adj R Square
F hitung
= 0,340
= 0,086
= 3,997
Sign. F
= 0,010
α
= 0,05

ADVANCE PRICING AGREEMENT DALAM KAITANNYA DENGAN UPAYA MEMINIMALISASI POTENTIAL TAX RISK

July 26, 2010 Leave a comment

JURNAL AKUNTANSI PEMERINTAH
Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
Hal 1 – 12
ADVANCE PRICING AGREEMENT DALAM KAITANNYA
DENGAN UPAYA MEMINIMALISASI POTENTIAL TAX RISK
Mardiasmo*
A b s t r a c t
Transfer pricing has been discussed as a serious problem in multinational company
business. It is not only related with the price determination among members of groups,
but also includes the obligation on taxation. Transactions commited within members of
multinational corporation involve cross border transaction. Thus, these transactions
might create an opportunity to shift the tax burden from one country to another.
In such way, potential losses on national revenues from corporate tax might be existed.
To overcome the problem, the government has attempted to minimize the potential tax
risk by introducing an Advance Pricing Agreement (APA). The APA gives authority to
tax officials to redetermine arm’s length prices over the transactions made among
related parties. Therefore, there is certainty in assessing tax liability for each transaction
made by groups of multinational company.
To what extent that the APA will be effective to minimize potential losses on revenue
collection, and what kind of risks that might be faced by the companies if they do not
make any contract arrangement with the tax authority? To answer these questions, this
paper tries to develop a tax planning with the study case on PT XYZ.
Keywords: transfer pricing, potential tax risk, tax planning, Advance Pricing Agreement,
* Prof. Dr. Mardiasmo, Ak., MBA saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan,
Departemen Keuangan
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
2
PENDAHULUAN
Pesatnya pertumbuhan kegiatan
ekonomi internasional turut merangsang
berkembangnya korporasi multinasional
(multinational company). Kegiatan korporasi
multinasional sebagai group-group
perusahaan telah menembus batas-batas
negara berkembang sehingga menjadi
unit-unit bisnis yang besar dan berkuasa,
dengan konsep dan strategi yang lebih
meluas.
Ada beberapa alasan utama yang
mendorong munculnya korporasi multinasional.
Brigham dan Houston (2003)
mengidentifikasi alasan utama pertumbuhan
korporasi multinasional yaitu untuk
memperluas pasar, mencari sumber bahan
baku, mencari teknologi baru, mencapai
efisiensi, menghindari peraturan atau
kebijakan pemerintah, dan diversifikasi.
Namun demikian, terdapat tiga
permasalahan khusus yang dihadapi
korporasi multinasional (Anthony dan
Govindarajan, 2004), yaitu :
1. perbedaan budaya (cultural differences)
2. transfer pricing
3. nilai tukar mata uang (exchange rate)
Sebagian besar transaksi yang terjadi
antar anggota group korporasi multinasional
dapat dikategorikan dalam
beberapa transaksi, seperti penjualan
barang dan jasa, lisensi, royalti, paten
dan know-how, penjaminan hutang,
penjualan komponen untuk kegiatan
produksi, dan seterusnya.
Penentuan harga atas berbagai
transaksi antar anggota group korporasi
multinasional tersebut dikenal dengan
sebutan transfer pricing (harga transfer).
Transfer pricing dapat ditentukan berbeda
dengan harga wajar atau harga
yang berlaku di pasaran bebas, serta
dapat pula ditetapkan lebih tinggi atau
lebih rendah.
Transfer pricing merupakan isu
klasik di bidang perpajakan, khususnya
menyangkut transaksi internasional yang
dilakukan oleh korporasi multinasional.
John Neighbour (2002) menyatakan bahwa
transfer pricing pada awalnya hanya
merupakan isu utama bagi administrasi
perpajakan dan ahli perpajakan saja,
akan tetapi pada masa sekarang ini
transfer pricing telah menjadi pembicaraan
para politisi, ahli ekonomi dan juga
lembaga-lembaga swadaya masyarakat
menyangkut kewajiban pembayaran
pajak atas aktivitas bisnis korporasi
multinasional.
Survey yang dilakukan oleh Ernst
and Young International pada tahun
1995 menunjukkan bahwa lebih dari
80% responden mengindikasikan transfer
pricing sebagai masalah utama dalam
perpajakan yang dihadapi oleh korporasi
multinasional (Ernst and Young, 1996).
Responden tersebut terdiri dari korporasi
multinasional di delapan negara termasuk
Kanada, Amerika Serikat, Jepang dan
Inggris.
Sementara itu, berdasarkan penelitian
tim UNTC PBB yang diketuai Silvain
Plasschaert sebagaimana dinyatakan
kembali oleh Gunadi (1999) disebutkan
bahwa motivasi transfer pricing di
Indonesia terkait dengan beberapa hal
antara lain: (i) Pengurangan objek pajak,
terutama pajak penghasilan; (ii) Pelonggaran
pengaruh pembatasan kepemilikan
luar negeri; (iii) Penurunan pengaruh
depresiasi rupiah; (iv) Menguatkan tuntutan
kenaikan harga atau proteksi terhadap
saingan impor; (v) Mempertahankan
sikap low profile tanpa mempedulikan
tingkat keuntungan usaha; (vi)
Mengamankan perusahaan dari tuntutan
atas imbalan atau kesejahteraan karyawan
dan kepedulian lingkungan; dan
(vii) Memperkecil akibat pembatasan
dan risiko bisnis di luar negeri.
Advance Pricing Agreement dalam Kaitannya
dengan Upaya Meminimalisasi Potential Risk
3
Dari uraian di atas nampak bahwa
pada prinsipnya praktik transfer pricing
dapat didorong oleh alasan pajak (tax
motive) maupun alasan bukan pajak
(non-tax motive).
Transaksi-transaksi yang terjadi antar
unit bisnis group korporasi multinasional
kebanyakan merupakan cross border
transaction yang menyebabkan otoritas
pajak menduganya sebagai salah satu
bentuk pengalihan (shifting) beban pajak
dari suatu negara yang mempunyai tarif
tinggi (high tax countries) ke negara
lainnya yang mempunyai tarif pajak
lebih rendah (low tax countries). Dengan
demikian, perlu kiranya untuk menentukan
berapa besar penghasilan kena pajak
yang wajar dari unit bisnis atau cabangcabang
perusahaan dari satu group yang
beroperasi di wilayah yurisdiksinya.
Untuk mengurangi terjadinya praktik
penyalahgunaan transfer pricing oleh
korporasi multinasional, Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan memberikan
kewenangan otoritas pajak untuk
menentukan kembali harga wajar transaksi
antar pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa (associated enterprise/
related parties) dan mewajibkan Wajib
Pajak yang mempunyai transaksi dengan
pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa agar membuat perjanjian dengan
Direktur Jenderal Pajak dalam bentuk
Advance Pricing Agreement/APA (kesepakatan
harga transfer) mengenai harga
wajar produk dalam transaksi mereka.
Terkait dengan pengaturan tersebut,
paper ini akan membahas mengenai
implikasi APA terhadap perencanaan
pajak, khususnya untuk meminimalkan
potensi risiko naiknya pajak terhutang.
Selain itu, paper ini juga akan membahas
mengenai risiko yang mungkin
dihadapi perusahaan bila tidak mengadakan
kesepakatan tersebut dengan
Direktorat Jenderal Pajak.
Dengan demikian, output dari
penulisan paper ini adalah sebuah ide
tentang tax planning (perencanaan pajak)
dalam upaya meminimalisasi potential
tax risk perusahaan. Sebagai gambaran
atas implementasi dan implikasi APA,
paper ini akan mendeskripsikannya
dengan menggunakan studi kasus terhadap
PT XYZ.
Transaksi-transaksi hubungan istimewa
PT XYZ dengan related party-nya
yang berkaitan dengan penjualan, pembelian
bahan baku dan transaksitransaksi
yang terkait seperti pembayaran
royalti, paten, dan sales commission
menjadi objek permasalahan yang
dianalisis dalam paper ini dengan
mempergunakan data time series laporan
keuangan dan kontrak perjanjian
(contract agreement) dalam kaitannya
dengan tax planning sebagai upaya
meminimalisasi potential tax risk yang
berkaitan dengan transaksi hubungan
istimewa.
TAHAPAN-TAHAPAN DALAM TAX
PLANNING
Tax planning (perencanaan pajak)
merupakan bagian dari perencanaan
strategis (strategic planning) yang apabila
dikelola dengan baik akan menambah
nilai positif suatu perusahaan, begitu
pula sebaliknya, apabila tidak dikelola
dengan baik dapat menurunkan nilai
suatu perusahaan.
Dalam memformulasi tax planning,
tahapan-tahapan yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Analisis profil/topografi bisnis perusahaan.
Tahapan ini menggambarkan karakteristik
bisnis perusahaan dengan
menggali sumber data internal yang
berupa laporan keuangan dan dokumendokumen
pendukungnya, serta kontrakkontrak
perjanjian.
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
4
2. Analisis transaksi hubungan istimewa.
Tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan
gambaran mengenai transaksitransaksi
hubungan istimewa dan
perilaku transaksi-transaksi tersebut.
3. Analisis mengenai potential tax risk.
Tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan
gambaran mengenai potential
tax risk atas transaksi-transaksi hubungan
istimewa, baik pengaruh internal
maupun eksternal.
4. Penyusunan tax planning untuk mereduksi
atau mengeliminasi potential tax
risk.
Pada tahapan ini akan mencari
alternatif solusi untuk meminimalisasi
potential tax risk.
ANALISIS TOPOGRAFI BISNIS DAN
TRANSAKSI HUBUNGAN ISTIMEWA
PT XYZ
PT XYZ adalah perusahaan PMA
yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh
SG Co yang berkedudukan di Singapura
dan merupakan anak perusahaan dari
MNE Co yang berkedudukan di Jepang.
PT XYZ merupakan unit bisnis
manufaktur yang sangat bergantung pada
mitra bisnis utamanya yaitu:
1. MNE Sales & Marketing Co, adalah
unit bisnis pemasaran MNE Co yang
berkedudukan di Jepang, berperan
sebagai pemesan/pembeli (buyer)
produk PT XYZ sekaligus sebagai
pemasok utama bahan baku.
2. HKG Co, merupakan unit bisnis MNE
Co Ltd yang berkedudukan di Hongkong.
Perusahaan ini sebagai pemasok
bahan baku kedua terbesar
setelah MNE Sales & Marketing Co.
3. MNE Co berkedudukan di Jepang dan
merupakan pemilik hak paten,
informasi teknologi, know-how atau
hak intelektual lainnya dalam kegiatan
manufakturing yang dilaksanakan
oleh PT XYZ.
Laporan keuangan PT XYZ dapat dilihat
pada tabel berikut:
2004 2003 2002
(unit: US$)
Purchase of Material 397,851,796 4 28,162,194 2 02,947,429
Third parties 1 1,587,916 2.9% 1 8,072,951 4.2% 3 ,979,361 2.0%
Related parties 3 86,263,880 97.1% 410,089,243 95.8% 198,968,068 98.0%
Net Sales 542,994,892 5 19,857,898 2 95,648,222
Third parties 3 0,358,870 5.6% 4 0,489,955 7.8% 4 4,197,620 14.9%
Related parties 5 12,636,022 94.4% 479,367,943 92.2% 251,450,602 85.1%
Royalty and Patent 17,612,267 1 6,581,997 9 ,863,274
Third parties 36,986 0.2% 3 4,822 0.2% 2 0,713 0.2%
Related parties 1 7,575,281 99.8% 1 6,547,175 99.8% 9 ,842,561 99.8%
Sales Commission 110,062 1 87,512 2 95,156
Third parties 7,869 7.2% 1 5,207 8.1% 3 2,880 11.1%
Related parties 102,193 92.9% 1 72,305 91.9% 2 62,276 88.9%
Tabel 1 : Transaksi-Transaksi Hubungan Istimewa
Advance Pricing Agreement dalam Kaitannya
dengan Upaya Meminimalisasi Potential Risk
5
Income Statements
(Unit: US$) 2004 2003 2002
Net sales 5 42,994,892 5 19,857,898 2 95,648,222
Operating costs 5 26,153,692 5 09,031,028 2 80,021,033
EBITDA 1 6,841,200 1 0,826,870 1 5,627,189
Depreciation and amortization 1 1,897,040 1 2,306,877 1 3,161,741
EBIT 4 ,944,160 ( 1,480,007) 2 ,465,448
Less interest 8 76,227 9 45,140 1 ,423,198
EBT 4 ,067,933 ( 2,425,147) 1 ,042,250
Income tax credit/(expense) ( 949,173) 2 ,740,240 ( 3,030,018)
Net Profit / (Loss) 3 ,118,760 3 15,093 ( 1,987,768)
Estimated income tax 1 ,469,764 3 40,434 1 ,675,247
Tabel 2 : Laporan Rugi Laba PT XYZ
Dalam Tabel 2 tersebut di atas,
estimated income tax dikalkulasi berdasarkan
angka-angka laporan keuangan
komersial yang telah disesuaikan dengan
Undang-undang Pajak Penghasilan.
Dari Tabel 1 dan Tabel 2 di atas
dapat diturunkan suatu grafik yang
menggambarkan tren antara variabelvariabel
analisis terhadap pajak penghasilan
sebagai berikut:
Grafik 1 : Tren Variabel-variabel Analisis Terhadap PPh
Angka penjualan tahun 2003
mencapai US$519,857,898 atau naik
1.76 kali dibandingkan dengan angka
penjualan tahun 2002 yang berjumlah
US$295,648,222. Operating cost tahun
2003 naik 1.82 kali dibandingkan tahun
sebelumnya yaitu dari US$280,021,033
menjadi US$509,031,028. Jumlah pem-
-
100,000,000
200,000,000
300,000,000
400,000,000
500,000,000
600,000,000
Net sales Op cost s HAKI Inc tax
2004
2003
2002
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
6
bayaran HAKI -termasuk dalam operating
cost- tahun 2003 meningkat 1.68 kali
dibandingkan tahun 2002 yaitu dari
US$9,865,274 menjadi US$16,581,997.
Sebaliknya pajak penghasilan tahun
2003 hanya US$340,434 atau 0.2 kali
dibandingkan tahun 2002 yang berjumlah
US$1,675,247.
Penjualan tahun 2004 adalah
sebesar US$542,994,892 atau 1.04 kali
angka penjualan tahun 2003. Operating
cost 2004 sebesar US$526,153,692 atau
mengalami kenaikan 1.03 kali dibandingkan
tahun 2003 termasuk di
dalamnya pembayaran HAKI 2004 sebesar
US$17,612,267 yang meningkat
1.06 kali dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara pajak penghasilan
tahun 2004 mencapai US$1,469,764
atau meningkat 4.32 kali lebih besar
dibandingkan tahun 2003.
Dari Grafik 1 tersebut dapat ditarik
suatu kesimpulan terkait dengan
variabel-variabel analisis yaitu bahwa
naiknya jumlah penjualan selalu diikuti
dengan naiknya operating cost termasuk
di dalamnya pembayaran HAKI akan
tetapi tidak selalu diikuti dengan dengan
kenaikan pajak penghasilan.
ANALISIS POTENTIAL TAX RISK
Banyak korporasi multinasional
mengabaikan ketentuan-ketentuan formal
dalam transaksi cross border, seperti
pembuatan kontrak atau perjanjian yang
melandasi transaksi antar mereka sehingga
banyak biaya, tenaga dan waktu dikeluarkan
jika terjadi audit pajak hanya
untuk menjelaskan formalitas dari suatu
transaksi (Enrique Macgregor, 2004).
Walaupun Undang-undang PPh
yang mengatur hal-hal yang bersifat
materiil mempunyai kedudukan lebih
tinggi (lex specialis) daripada Undangundang
KUP yang mengatur ketentuan
formal (lex generalis), kontrak atau perjanjian
antar pihak yang mendasari suatu
transaksi sangat diperlukan. Terlebih lagi
apabila transaksi tersebut melibatkan
pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa yang besarannya amat signifikan
sehingga akan menarik perhatian (eye
catching) fiskus.
Dari studi kasus pada PT XYZ, hasil
analisis terhadap potential tax risk dapat
dijabarkan berikut ini.
§ Tidak Ada Kontrak Perjanjian
– Perolehan Bahan Baku Free of Charge
Dalam penentuan harga jual assembled
product harga negosiasi yang di buat
antara PT XYZ dengan MNE Sales &
Marketing Co tidak mengikutsertakan
unsur bahan baku free of charge yang
dipergunakan dalam proses produksi
yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari finished goods sehingga
harga jual dalam purchase contract
menjadi lebih rendah daripada yang seharusnya
(under valued) dan bila dibandingkan
dengan produk sejenis yang
dijual di Indonesia dapat menimbulkan
dugaan adanya transfer pricing sehingga
tidak tertutup kemungkinan fiskus akan
melakukan koreksi positif yang dapat
berakibat pada naiknya jumlah pajak
terhutang yaitu dengan menentukan
kembali harga jual produk tersebut.
– Revaluasi Nilai Persediaan
Terkait dengan sifat assembled product
yang cepat mengalami perubahan baik
model, features maupun teknologinya
sehingga mengakibatkan harga jualnya
mempunyai kecenderungan semakin
menurun. Dampak dari menurunnya
harga jual adalah nilai persediaan menjadi
over valued dan oleh karenanya harus
direvaluasi. Selisih nilai revaluasi persediaan
yang over valued setara dengan
aliran kas masuk ke PT XYZ dari MNE
Co.
Advance Pricing Agreement dalam Kaitannya
dengan Upaya Meminimalisasi Potential Risk
7
Revaluasi nilai persediaan yang dilakukan
secara rutin tiap akhir triwulan secara
potensial dapat menimbulkan dugaan
adanya praktik transfer pricing yang
tercermin dari adanya aliran kas ke PT
XYZ dari MNE Co sementara transaksi
pembelian bahan baku dilakukan dengan
MNE Sales & Marketing Co dan HKG Co.
Oleh karenanya ada kemungkinan harga
perolehan bahan baku akan dikoreksi
negatif oleh fiskus sesuai dengan arm’s
length price yang akan berdampak pada
menurunnya operating cost yang pada
akhirnya jumlah pajak terhutang akan
naik.
§ Variasi Tarif HAKI
Transaksi cross border dengan related
party seperti pembayaran royalti dan
management fee adalah salah satu target
pemeriksaan pajak. Untuk itu, kondisi
demikian harus menjadi salah satu
prioritas yang harus dipertimbangkan
dalam menyusun suatu tax planning
(Enrique Macgregor, 2004). Hal yang
sering menjadi sumber konflik antara
wajib pajak dengan fiskus dalam penggunaan
intangible assets tersebut adalah
besaran tarifnya (Glenn Desouza, 1997).
Banyaknya beban yang harus ditanggung
oleh PT XYZ berkaitan dengan penggunaan
HAKI termasuk juga perbedaan
tarif royalti yang ditetapkan dalam royalty
agreement. Terlebih untuk assembled
product, secara potensial dapat menimbulkan
dugaan adanya excessed burden
dan upaya pengalihan keuntungan dari
PT XYZ kepada MNE Co Ltd atau unit
bisnisnya sehingga fiskus dapat saja
melakukan koreksi negatif terhadap
pembayaran HAKI tersebut. Fiskus juga
akan memiliki pembenaran yang cukup
mendasar untuk melakukan koreksi
fiskal karena menduga adanya praktik
transfer pricing yang tercermin dari
meningkatnya angka penjualan secara
signifikan akan tetapi tidak diikuti oleh
meningkatnya jumlah pajak penghasilan.
§ Kewajiban Pengungkapan
Pengungkapan transaksi hubungan istimewa
dalam SPT sedikitnya memuat
informasi mengenai jenis dan besaran
transaksi serta pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa tesebut. Jika
informasi tersebut tidak diungkapkan
dalam SPT dapat berakibat SPT tersebut
dianggap tidak lengkap dan perusahaan
dapat dikira menyampaikan informasi
yang tidak benar.
§ Penetapan Kembali Jumlah Pajak
Terhutang
Direktur Jenderal Pajak diberikan kewenangan
oleh undang-undang untuk
menentukan kembali besarnya penghasilan
dan/atau biaya sesuai dengan keadaan
seandainya di antara para Wajib Pajak
tersebut tidak terdapat hubungan istimewa.
Kewenangan ini dirumuskan di Pasal 18
ayat (3) Undang-undang PPh Tahun
2000, yang berbunyi sebagai berikut:
“Direktur Jenderal Pajak berwenang
menentukan kembali besarnya penghasilan
dan pengurangan serta menentukan utang
sebagai modal untuk menghitung besarnya
penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak
yang mempunyai hubungan istimewa
dengan Wajib Pajak lainnya sesuai
dengan kewajaran dan kelaziman usaha
yang tidak dipengaruhi oleh hubungan
istimewa”.
Dalam menentukan kembali jumlah
penghasilan dan/atau biaya tersebut
dapat dipakai beberapa pendekatan,
misalnya data pembanding, alokasi laba
berdasar fungsi atau peran serta Wajib
Pajak yang mempunyai hubungan istimewa
dan indikasi serta data lainnya.
Sampai dengan saat ini belum ada peraturan
pelaksanaan tentang ketentuan di
atas sehingga berpotensi besar adanya
perbedaan penafsiran terhadap pasal
tersebut.
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
8
§ Potensi Denda Pajak dan Pajak
Berganda
Dalam Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor
SE-01/PJ.7/2003 tentang Kebijakan
Pemeriksaan Pajak disebutkan bahwa
untuk kasus-kasus transfer pricing jangka
waktu pemeriksaan ditetapkan selama 8
bulan dan dapat diperpanjang menjadi 2
tahun. Selain itu, disebutkan pula adanya
pemeriksaan yang didasarkan permintaan
khusus Direktur P4 yang waktunya
penyelesaiannya tidak disebutkan.
Secara umum semua jenis pemeriksaan
pajak akan daluwarsa selama 10 tahun.
Memang tidak mudah untuk mendefinisikan
dan menjabarkan angka-angka
koreksi fiskal yang menyangkut hubungan
istimewa sebagaimana juga halnya yang
terjadi di dalam transaksi-transaksi antara
PT XYZ dengan mitra bisnisnya. Akan
tetapi dengan mengacu kepada surat
edaran tersebut di atas diperkirakan
denda pajak yang harus ditanggung oleh
PT XYZ akan mencapai maksimum 48%
dari pajak yang kurang dibayar sebagai
akibat dilakukannya koreksi oleh fiskus
terhadap transaksi-transaksi hubungan
istimewa.
Disamping untuk menghindari pengenaan
pajak berganda, ketentuan tersebut juga
memberikan kewenangan apabila terjadi
masalah transfer pricing yang menurut
salah satu negara tidak mencerminkan
transaksi yang arm’s length, maka harga
transaksi dimaksud dapat dikoreksi oleh
otoritas pajak negara tersebut.
Pajak berganda dapat terjadi apabila atas
objek yang sama dikenakan pajak lebih
dari satu kali. Dalam hal ini sebagai
contoh adalah pembayaran HAKI
kepada MNE Co dan MNE Sales &
Marketing Co telah dipotong pajak
penghasilan (withholding tax) pasal 26
tapi kemudian biaya-biaya tersebut dikoreksi
oleh fiskus. Di lain pihak MNE
Co dan MNE Sales & Marketing Co
melaporkan pembayaran HAKI yang diterima
dalam laporan pajak mereka dan
withholding tax pasal 26 dijadikan uang
muka pajak (tax credit). Jika penetapan
pajak dimaksud merupakan hasil dari
koreksi terhadap transfer pricing, maka
negara lainnya, dalam hal ini Jepang,
wajib melakukan correlative adjustment.
Apabila Jepang menolak melakukannya
maka yang akan terjadi adalah pengenaan
pajak berganda yang harus ditanggung
oleh MNE Co dan MNE Sales &
Marketing Co.
Pada tahap ini, sesuai dengan ketentuan
pasal 9 dari OECD Model, kedua
competent authorities akan membahasnya.
Bila pembahasan antara competent
authorities tersebut tidak mencapai titik
temu maka tidak ada upaya hukum lain
untuk menyelesaikan masalah tersebut
kecuali mengajukan keberatan dan banding
atas putusan tersebut kepada Badan
Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Jika
ada pajak yang masih kurang dibayar
sebelum banding diajukan ke BPSP maka
50% dari kekurangannya tersebut harus
dilunasi terlebih dulu. Paling sedikit dibutuhkan
waktu selama 2 tahun untuk
mengajukan perkara ini, dimana satu
tahun diperlukan untuk pemeriksaan pajak
dan satu tahun lagi untuk proses keberatan.
Keputusan BPSP bersifat final dan sementara
itu kapan putusan harus dibuat dan
dikeluarkan oleh BPSP tidak ada peraturan
yang mengaturnya, sehingga kepastian
hukumnya menjadi tidak menentu
(uncertainty).
ADVANCE PRICING AGREEMENT
(APA) SEBAGAI SOLUSI TRANSFER
PRICING
Undang-undang PPh Tahun 2000
Pasal 18 ayat (3a) menyatakan, “Direktur
Jenderal Pajak berwenang melakukan
perjanjian dengan Wajib Pajak dan
bekerja sama dengan otoritas pajak
negara lain untuk menentukan harga
Advance Pricing Agreement dalam Kaitannya
dengan Upaya Meminimalisasi Potential Risk
9
transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (4), yang berlaku
selama suatu periode tertentu dan mengawasi
pelaksanaannya serta melakukan
renegosiasi setelah periode tertentu tersebut
berakhir”.
Dalam penjelasan pasal tersebut
disebutkan “kesepakatan harga transfer
(Advance Pricing Agreement / APA)
adalah kesepakatan antara Wajib Pajak
dengan Direktur Jenderal Pajak mengenai
harga jual wajar produk yang dihasilkannya
kepada pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa (related parties)
dengannya. Tujuan diadakannya APA
adalah untuk mengurangi terjadinya
praktik penyalahgunaan transfer pricing
oleh perusahaan multinasional.
Persetujuan antara wajib pajak
dengan Direktur Jenderal Pajak dapat
mencakup beberapa hal antara lain
harga jual produk yang dihasilkan,
jumlah royalti, dan lain-lain, tergantung
pada kesepakatan. Keuntungan dari APA
selain memberikan kepastian hukum
dan kemudahan penghitungan pajak,
fiskus tidak perlu melakukan koreksi
atas harga jual dan keuntungan produk
yang dijual wajib pajak kepada perusahaan
dalam group yang sama. APA
dapat bersifat unilateral, yaitu merupakan
kesepakatan antara Direktur Jenderal
Pajak dengan wajib pajak atau bilateral,
yaitu kesepakatan antara Direktur Jenderal
Pajak dengan otoritas perpajakan negara
lain yang menyangkut wajib pajak yang
berada di wilyah yurisdiksinya”.
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan
pembahasan data sebagaimana telah
diuraikan di atas, dapat dibuat beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Potential tax risk dapat diakibatkan
karena faktor-faktor internal, antara
lain:
– Metode transfer pricing yang dipergunakan
mengakibatkan harga jual
produk, terutama produk OEM, lebih
rendah dari yang seharusnya karena
tidak menambahkan unsur bahan
baku free of charge sebagai komponen
produksi. Penetapan harga
jual yang lebih rendah tersebut dapat
mengakibatkan timbulnya koreksi
pajak pada sisi penjualan.
– Aliran kas masuk yang diterima
dari MNE Co Ltd atau sebaliknya
aliran kas keluar kepada MNE Co
Ltd sebagai konsekuensi dari revaluasi
persediaan yang disebabkan
oleh fluktuasi harga, dapat menimbulkan
adanya koreksi pajak terutama
pada sisi pembelian.
– Transaksi hubungan istimewa yang
tidak dilengkapi dengan dokumendokumen
perjanjian akan menimbulkan
beban pembuktian yang
sangat berat apabila terjadi pemeriksaan
pajak karena bagaimanapun
suatu transaksi yang terjadi yang
melibatkan pihak-pihak yang mempunyai
hubungan istimewa terlebih
lagi yang bersifat cross border
kelengkapan dokumen sangatlah
penting untuk dipersiapkan sebelum
transaksi tersebut dilaksanakan.
2. Sementara faktor-faktor eksternal yang
dapat menimbulkan potential tax risk,
antara lain:
– Penetapan kembali transaksitransaksi
PT XYZ berkaitan dengan
related party yang dapat mengakibatkan
naiknya jumlah pajak
terhutang.
– Denda kenaikan beban pajak
maksimum 48% dari pajak terhutang
sebagai akibat koreksi pajak oleh
fiskus.
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
10
– Waktu audit pajak untuk transaksi
transfer pricing paling sedikit membutuhkan
waktu 8 bulan dan dapat
diperpanjang sampai 2 tahun.
– Apabila Wajib Pajak keberatan atas
hasil koreksi pajak oleh fiskus,
keberatan dapat diajukan dan
dapat diteruskan dengan banding
ke BPSP apabila keberatan Wajib
Pajak di tolak. Pengajuan banding
tidak menunda kewajiban pembayaran
pajak yang diakibatkan oleh
koreksi fiskus sementara jangka
waktu penyelesaian sengketa dan
keputusan hakim BPSP tidak dapat
dipastikan.
– Kemungkinan terjadi double taxation
apabila koreksi fiskal yang dilakukan
oleh otoritas pajak Indonesia
tidak diikuti dengan correlative
adjustment dari mitra P3B lainnya.
3. Undang-undang nomor 17 Tahun
2000 tentang Pajak Penghasilan pasal
18 ayat (4) telah memuat ketentuan
tentang APA, akan tetapi dari pihak
otoritas fiskal tidak pernah mengeluarkan
peraturan pelaksanaannya sehingga
membuat para Wajib Pajak tidak
mempunyai keyakinan dan kemauan
untuk membuat APA dengan Direktur
Jenderal Pajak. Walaupun demikian
para ahli dan praktisi perpajakan
yakin bahwa APA dapat mengeliminasi
potential tax risk akibat transaksi
hubungan istimewa.
4. Secara yuridis fiskal manfaat membuat
APA dengan Direktur Jenderal Pajak
akan memberikan manfaat-manfaat
antara lain:
– Adanya kepastian hukum sehingga
manajemen perusahaan dapat menjalankan
bisnisnya dengan lebih
tenang dan tidak khawatir mengenai
status transaksinya karena fiskus
tidak akan melakukan koreksi terhadap
transaksi-transaksi yang melibatkan
related party.
– Sengketa pajak yang disebabkan
oleh adanya perbedaan persepsi
atas suatu transaksi maupun peraturan
tertentu yang dapat berdampak
pada dikoreksinya pajak
terhutang dapat dieliminasi.
– Mudah dalam melakukan penghitungan
pajak, karena adanya
kepastian bahwa fiskus tidak akan
melakukan penghitungan atau penetapan
pajak terhutang yang diakibatkan
oleh adanya transaksitransaksi
yang melibatkan related
party.
– Jangka waktu pemeriksaan pajak
lebih singkat karena transaksitransaksi
yang melibatkan related
party tidak termasuk objek pemeriksaan
sehingga waktu yang dibutuhkan
hanya 2 bulan.
– Dimungkinkan melakukan renegosiasi
dengan otoritas pajak terhadap
APA yang pernah disepakati
sebelumnya sesuai dengan dinamika
usaha perusahaan.
b. Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan
di atas, diusulkan beberapa saran untuk
dipertimbangkan oleh manajemen PT
XYZ untuk meminimalisasi potential tax
risk, antara lain:
1. Memperbaiki bentuk contract agreement
yang ada terutama yang
berkaitan dengan related party.
Contract agreement tersebut sebaiknya
memuat secara jelas definisi dan
dasar transaksi, sehingga tidak menimbulkan
pemahaman lain selain
apa yang tertulis di dalam contract
agreement tersebut.
2. Dokumentasi yang dapat menjelaskan
transaksi OEM dan hubungannya
dengan pembayaran royalti. Hal
Advance Pricing Agreement dalam Kaitannya
dengan Upaya Meminimalisasi Potential Risk
11
ini penting dilakukan karena konsep
OEM yang diaplikasikan oleh PT
XYZ jarang terjadi. Kebanyakan
produk OEM bersifat parsial dan
kontrak putus dalam arti produk
tersebut di pesan dan dipasarkan
tanpa ada kewajiban pembayaran
royalti.
3. Audit pajak yang berkaitan dengan
transfer pricing sangat erat hubungannya
dengan dokumentasi,
kekurangan atau ketiadaan dokumen
pendukung yang berkaitan dengan
transaksi tersebut dapat menjadi
objek koreksi fiskal. Disarankan agar
perusahaan mempersiapkan dokumendokumen
yang berkaitan dengan:
– Gambaran umum tentang bisnis
perusahaan dan hubungan keterkaitan
bisnis antar group korporasi.
– Jenis-jenis transaksi yang berkaitan
dengan related party.
– Metode transfer pricing yang dipergunakan.
– Informasi pendukung terkait
transaksi hubungan istimewa
berikut analisisnya termasuk
perbandingannya jika memungkinkan.
– Kondisi-kondisi khusus yang
mendorong terjadinya transfer
pricing seperti strategi penetrasi
pasar, dampak dari transfer pricing
terhadap perusahaan dan
related party-nya.
4. APA sebagai alternatif untuk menghindari
koreksi fiskal atas transaksi
hubungan istimewa layak untuk dipertimbangkan.
Disarankan sebelum
memutuskan membuat APA dengan
Direktur Jenderal Pajak, sebaiknya
PT XYZ berkonsultasi terlebih dahulu
dengan pihak-pihak related party
agar dapat tercipta kesamaan pandangan
serta manfaat yang maksimal
dari APA. Dikarenakan transaksi
antara PT XYZ dengan related partynya
merupakan cross border
transaction, penggunaan Mutual
Agreement Procedure sangat
disarankan untuk mengeliminasi
potential tax risk secara maksimal.
JAP Vol. 3, No. 1, Oktober 2008
12
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N. and Govindarajan,
Vijay, 2003, Management Control
System. eleventh edition, Mc.
Graw-Hill.
Brigham, Eugene F. and Houston, F. Joel.,
2003, Fundamentals of Financial
Management, tenth edition,
Mc.Graw-Hill.
Desai, Nishith, 2002, Transfer Pricing
Problems, Strategies and Documentation:
Recent International
Case Law on Transfer Pricing,
White paper, Nishsith Desai
Associated, India, …………………….

http://www.nishithdesai.com

Gunadi, 1994, Transfer Pricing: Suatu
Tinjauan Akuntansi Manajemen
dan Pajak, Bina Rena Pariwara,
Jakarta
______ , 1997, Pajak Internasional, Edisi
Revisi. Lembaga Penerbit FEUI,
Jakarta.
Feinschreiber, Robert, 1992, Advance
Pricing Agreements: Advantageous
or Not?, CPA Journal Online,

http://www.luca.com/cpajournal/ol

d/12650269.htm
Hansen, Fay, 2004, Best Practices in Tax
Planning, International Transfer
Pricing Journal,…………………………

http://www.businessfinancemag.co

m
Henshall, John, 2006, Transfer Pricing
and Intellectual Property.
International Transfer Pricing
Journal,

http://www.buildingpvalue.com

Macgregor, Enrique, 2004, Transfer
Pricing: A Roadmap for CEOs.
International Transfer Pricing
Journal,

http://www.findarticles.com/p/articl

es/
Neubig, Tom, 2004, Tax Risk and Strong
Corporate Governance.
International Transfer Pricing
Journal,

http://www.findarticles.com/p/articl

es/
OECD, 1995, Transfer Pricing Guidelines
for Multinational Enterprises and
Tax Administrations, OECD, Paris
Santoso, Iman, 2004, Advance Pricing
Agreement dan Problematika
Transfer Pricing Dari Perspektif
Perpajakan Indonesia, Jurnal
Akuntansi dan Keuangan,
Universitas Kristen Petra,

http://puslit.petra.ac.id

Widiyanto, Agus, 2006, “Advance
Pricing Agreement Dan Implikasinya
Terhadap Perencanaan Pajak
Dalam Rangka Meminimalisasi
Potensi Risiko Kerugian Akibat
Beban Pajak (Studi Kasus Pada PT
XYZ)” 、Tesis Program MM,
Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Zain, Mohammad, 2003, Manajemen
Perpajakan, Salemba Empat,
Jakarta.

SUMBER DAYA MANUSIA

July 19, 2010 1 comment

Laporan Tahunan 2005

SUMBER DAYA MANUSIA

Dalam menghadapi persaingan perbankan yang makin tajam dan tuntutan akan kualitas
pelayanan yang baik, sumber daya manusia yang bermutu dan profesional merupakan
kunci utama kinerja dan pertumbuhan Bank. Oleh karena itu, sumber daya manusia
merupakan asset yang sangat berharga bagi PT. Bank Ekonomi Raharja. Hasil usaha
yang telah dicapai hingga saat ini tidak terlepas dari peranan besar sumber daya
manusia yang ada. Oleh karena itu, faktor sumber daya manusia ini mendapatkan
perhatian yang besar.
Dalam rangka meningkatkan kualitas
sumber daya manusia, manajemen PT.
Bank Ekonomi Raharja secara
berkesinambungan terus mengembangkan
program – program pendidikan dan
pelatihan yang ditujukan untuk
pengembangan segenap lapisan karyawan
PT. Bank Ekonomi Raharja yang meliputi
pengembangan general knowledge and
skill, technical knowledge and skill dan
leadership managerial supervisory.
Jumlah karyawan yang diikutsertakan
dalam program pendidikan dan pelatihan
maupun jenis serta kualitas pendidikan
dan pelatihan akan terus ditingkatkan dari
waktu ke waktu sesuai dengan semakin
meningkatnya kebutuhan akan sumber
daya manusia yang berkualitas.
Pada tahun 2005, jumlah karyawan Bank
Ekonomi mencapai 2.149 orang atau
meningkat 16,79% dibandingkan tahun
2004 dengan komposisi berdasarkan
tingkat pendidikan yaitu:
• S2 = 17 orang
• S1 = 1.115 orang
• D3 = 276 orang
• D1–D2 = 49 orang
• SMA = 604 orang
• SMP = 88 orang.
Stuktur Karyawan Berdasarkan Tingkat
Pendidikan Tahun 2005
53%
15%
28%
4%
Sarjana
Diploma
SMA
Lainnya
Laporan Tahunan 2005
25
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Beberapa langkah strategi engembangan
sumber daya manusia untuk memenuhi
kebutuhan personal dalam rangka
ekspansi jaringan kantor dan menghadapi
persiapan rencana menuju proses IPO atau
Go Public adalah sebagai berikut :
• Mempersiapkan tenaga kerja
operasional bank (teller, customer
service dan sundries) melalui redeployment
atau program pengalihan
(alokasi) kelebihan tenaga kerja di
suatu unit berkaitan dengan
dilakukannya proses otomasi terhadap
suatu kegiatan operasional Bank yakni
sebesar 40%, sisanya akan dipenuhi
melalui proses rekruitmen dari
eksternal.
• Mempersiapkan tenaga kerja
Frontline/Marketing melalui :
– Rekrutmen sumber daya manusia
yang berlatar belakang bukan dari
bank yang memiliki pengalaman
dan kemampuan dibidang penjualan
(sales) untuk ditraining menjadi
tenaga frontline/marketing.
– Program pengalihan (alokasi)
kelebihan tenaga kerja di suatu unit
berkaitan dengan dilakukannya
proses otomasi terhadap suatu
kegiatan operasional Bank untuk
ditraning kembali menjadi tenaga
frontline/marketing.
• Untuk memenuhi kebutuhan akan
Kepala Cabang, PT. Bank Ekonomi
Raharja akan melaksanakan program
pengembangan pelatihan dan
ketrampilan terhadap Team Leader dan
Account Officer melalui training dengan
modul banking operation, risk
management, decision making, product
knowledge, leadership dan jenis
pelatihan lainnya. Kemudian
pelaksanaan training tersebut akan
dilanjutkan dengan mentoring program
untuk menentukan calon kandidat
Pimpinan Cabang/Capem yang tepat.
• Untuk memenuhi kebutuhan akan
Kepala Operasi, calon kepala operasi
akan dikembangkan dari tenaga
internal yang sudah ada yaitu dengan
program rotasi terhadap petugas back
office. Selanjutnya akan dilakukan
program training dengan modul risk
management, communication skill,
time management, leadership maupun
jenis pelatihan lainnya.
• Melaksanakan program pengembangan
sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kompetensi dan keahlian
di bidang Manajemen Risiko melalui
training persiapan ujian sertifikasi
manajemen risiko. Training tersebut
mulai dilaksanakan bulan Februari
2006 dan selanjutnya dilakukan secara
bertahap. Adapun peserta dari training
tersebut meliputi: Seluruh Kepala
Wilayah, Kepala Divisi, Kepala Bagian,
Koordinator Operasional Support,
Satuan Kerja Manajemen Risiko,
Satuan Kerja Audit Intern dan Satuan
Kerja Kepatuhan.
• Mewajibkan seluruh pejabat bank
dengan level sampai jenjang jabatan
dan struktur organisasi 4 (empat)
tingkat dibawah Direksi pada Core
Risk Taking Unit, Supporting Risk
Taking Unit, Satuan Kerja Manajemen
Risiko, Satuan Kerja Audit Intern dan
Satuan Kerja Kepatuhan mengikuti
“Sertifikasi Manajemen Risiko“
sebagaimana diatur dalam Peraturan
Bank Indonesia.
Laporan Tahunan 2005
26
1,600
1,700
1,800
1,900
2,000
2,100
2,200
Tahun 2004 Tahun 2005
Jumlah Karyawan

AUDIT OPERASIONAL ATAS FUNGSI SDM (STUDI KASUS: PT TOYOTA ASTRA FINANCIAL SERVICES) PERIODE MEI 2006-MARET 2007

July 19, 2010 1 comment

Abstrak

Tujuan dari penelitian yang diadakan pada PT Toyota Astra Financial Services adalah untuk mengevaluasi SPM fungsi SDM (Sumber Daya Manusia) melalui pelaksanaan audit operasional yang mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan memberikan rekomendasi yang diperlukan. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian literatur dan penelitian lapangan. Adapun penelitian lapangan dilakukan melalui inquiries of the client, analytical procedures, observation, documentation, dan confirmation. Dari hasil evaluasi atas SPM fungsi SDM perusahaan diketahui adanya beberapa permasalahan sebagai berikut: lamaran yang masuk melalui email belum diproses lebih lanjut oleh HR Services Staff; divisi HR belum mempunyai database pelamar; pemeriksaan referensi dari calon karyawan yang potensial belum dilakukan secara cermat; perusahaan belum memiliki job descriptions dan job requirements secara tertulis; perusahaan belum mempunyai program orientasi formal; perusahaan belum mempunyai prosedur dan aturan terkait dengan career path untuk karyawannya; perusahaan belum mempunyai prosedur promosi, transfer, dan demosi jabatan secara tertulis; perusahaan belum memiliki Key Performance Indicator (KPI); hasil penilaian kinerja belum disampaikan perusahaan kepada karyawan yang telah menyelesaikan masa percobaan; perusahaan belum melakukan test awal, test akhir, dan post training test untuk internal trainig; perusahaan belum melakukan exit interview terhadap karyawan yang mengundurkan diri; terdapat perangkapan jabatan HRGA Division Head dengan HR Director; posisi Industrial Relations Staff belum ada yang menempati; dan perusahaan belum melakukan survei atas kepuasan karyawan. Penulis memberikan saran untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan sebagai berikut: perusahaan sebaiknya menambah karyawan yang akan membantu untuk menangani aktivitas perekrutan; membuat database pelamar; menyusun job descriptions dan job requirements sesegera mungkin; memberikan program orientasi formal kepada karyawan baru; menyusun prosedur dan aturan terkait dengan career path dan promosi, transfer, serta demosi jabatan; membuat KPI; menyampaikan hasil penilaian kinerja kepada karyawan yang telah mengikuti masa percobaan; mengadakan pretest, test akhir, dan post training tes untuk internal training; menyelenggarakan exit interview; merekrut karyawan untuk menempati posisi HRGA Division Head; dan merekrut karyawan untuk mengisi kekosongan posisi Industrial Relations Staff; serta melaksanakan survei atas kepuasan karyawan secara teratur. Kata kunci : audit operasional, manajemen sumber daya manusia, sistem pengendalian manajemen

KONSEP DAN TANTANGAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

July 19, 2010 1 comment

BAB 1
KONSEP DAN TANTANGAN
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
1.1. PENGERTIAN MSDM
Keberadaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi sangat penting artinya bagi organisasi. Dalam perkembangannya, organisasi akan menghadapi permasalahan tenaga kerja yang semakin kompleks, dengan demikian pengelolaan sumber daya manusia harus dilakukan secara profesional oleh departemen tersendiri dalam suatu organisasi, yaitu Human Resource Departement.
SDM sebagai salah satu unsur penunjang organisasi, dapat diartikan sebagai manusia yang bekerja di lingkungan suatu organisasi (disebut personil, tenaga kerja, pekerja/karyawan); atau potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya; atau potensi yang merupakan asset & berfungsi sebagai modal non-material dalam organisasi bisnis, yang dpt diwujudkan menjadi potensi nyata secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi (Nawawi, 2000).
Pada organisasi yang masih bersifat tradisional, fokus terhadap SDM belum sepenuhnya dilaksanakan. Organisasi tersebut masih berkonsentrasi pada fungsi produksi, keuangan, dan pemasaran yang cenderung berorientasi jangka pendek. Mengingat betapa pentingnya peran SDM untuk kemajuan organisasi, maka organisasi dengan model yang lebih moderat menekankan pada fungsi SDM dengan orientasi jangka panjang.
Mengelola SDM di era globalisasi bukan merupakan hal yang mudah. Oleh karena itu, berbagai macam suprastruktur dan infrastruktur perlu disiapkan untuk mendukung proses terwujudnya SDM yang berkualitas. Perusahaan yang ingin tetap eksis dan memiliki citra positif di mata masyarakat tidak akan mengabaikan aspek pengembangan kualitas SDM-nya. Oleh karena itu peran manajemen sumber daya manusia dalam organisasi tidak kecil, bahkan sebagai sentral pengelola maupun penyedia SDM bagi departemen lainnya.
Manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan
1
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi dan masyarakat (Flippo, 1996). Atau dengan kata lain, secara lugas MSDM dapat diartikan sebagai kegiatan perencanaan, pengadaan, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan SDM dalam upaya mencapai tujuan individual maupun organisasional.
Secara historis, perkembangan pemikiran tentang MSDM tidak terlepas dari perkembangan pemikiran manajemen secara umum, dimulai dari gerakan manajemen ilmiah (dengan pendekatan mekanis) yang banyak didominasi oleh pemikiran dari F.W. Taylor. Pandangan-pandangan yang muncul berkaitan dengan SDM dalam era tersebut adalah :
• SDM sebagai salah satu faktor produksi yang dipacu untuk bekerja lebih produktif seperti mesin;
• Bekerja sesuai dengan spesialisasi yang telah ditentukan;
• Yang tidak produktif harus diganti/dibuang;
• Kondisi di atas memunculkan : pengangguran, tidak adanya jaminan dalam bekerja, berkurangnya rasa bangga terhadap pekerjaan, dan tumbuhnya serikat pekerja.
Gerakan human relation (dengan pendekatan paternalis), era ini ditandai dengan adanya pemikiran tentang peran SDM terhadap kemajuan organisasi. Pandangan-pandangan yang muncul adalah :
• SDM harus dilindungi dan disayangi, tidak hanya dianggap sebagai faktor produksi belaka tapi juga sebagai pemilik perusahaan;
• Mulai disediakannya berbagai fasilitas pemenuhan kebutuhan karyawan, seperti tempat ibadah, tempat istirahat, jaminan kesehatan, kantin, perumahan, dan sebagainya sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap tingkat kesejahteraan karyawan.
Gerakan kontemporer (dengan pendekatan sistem sosial), di era ini pemikiran tentang pentingnya peran SDM dan perlunya perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan serta kepastian dalam bekerja semakin berkembang. Pandangan-pandangan yang muncul bahwa :
2
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
• Pencapaian tujuan organisasi tidak terlepas dari kontribusi SDM;
• Munculnya teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow (1940-an) sebagai landasan motivasi individu menjadi pendorong adanya pemikiran tentang perlunya memotivasi SDM dengan melihat tingkat kebutuhan yang dimilikinya;
• Adanya kecenderungan baru yang berdampak positif terhadap perkembangan efektivitas organisasi, yaitu :
a. Meningkatnya kepentingan terhadap MSDM;
b. Adanya perubahan arah pengawasan dan kebijakan secara sentral, dan pelaksanaan yang terdesentralisasi;
c. Meningkatnya otomatisasi dan pengembangan Sistem Informasi SDM;
d. Munculnya program MSDM yang terintegrasi;
e. Adanya perubahan menuju sistem merit dan akuntabilitas;
f. Meningkatnya perhatian terhadap perilaku kerja karyawan;
g. Meningkatnya perhatian terhadap budaya dan nilai organisasi;
h. Adanya perluasan program peningkatan produktivitas.
Sejalan dengan adanya pemikiran tentang semakin pentingnya peran SDM dalam organisasi, maka posisi MSDM dalam organisasi adalah mengelola SDM yang ada di seluruh bagian organisasi.
Gambar 1.1. Posisi MSDM dalam organisasi
MSDM
PEMASARAN
KEUANGAN
PRODUKSI
AKUNTANSI
ORGA
NI
SAS
I
L
INGKUNGAN
3
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
1.2. PENDEKATAN MSDM
Mengelola SDM bukan merupakan hal yang mudah, karena manusia merupakan unsur yang unik dan memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Beberapa pendekatan yang digunakan dalam MSDM, yaitu :
a. Pendekatan SDM, menekankan pengelolaan dan pendayagunaan yang memperhatikan hak azasi manusia;
b. Pendekatan Manajerial, menekankan pada tanggungjawab untuk menyediakan dan melayani kebutuhan SDM departemen lain;
c. Pendekatan Sistem, menekankan pada tanggungjawab sebagai sub-sistem dalam organisasi;
d. Pendekatan Proaktif, menekankan pada kontribusi terhadap karyawan, manajer dan organisasi dalam memberikan pemecahan masalah.
1.3. PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN MSDM
• Orientasi pada pelayanan, dengan berupaya memenuhi kebutuhan dan keinginan SDM dimana kecenderungannya SDM yang puas akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan para konsumennya;
• Membangun kesempatan terhadap SDM untuk berperan aktif dalam perusahaan, dengan tujuan untuk menciptakan semangat kerja dan memotivasi SDM agar mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik;
• Mampu menumbuhkan jiwa intrapreneur SDM perusahaan, yang mencakup :
a. Menginginkan adanya akses ke seluruh sumber daya perusahaan;
b. Berorientasi pencapaian tujuan perusahaan;
c. Motivasi kerja yang tinggi;
d. Responsif terhadap penghargaan dari perusahaan;
e. Berpandangan jauh ke depan;
f. Bekerja secara terencana, terstruktur, dan sistematis;
g. Bersedia bekerja keras;
h. Mampu menyelesaikan pekerjaan;
i. Percaya diri yang tinggi;
j. Berani mengambil resiko;
4
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
k. Mampu menjual idenya di luar/di dalam perusahaan;
l. Memiliki intuisi bisnis yang tinggi;
m. Sensitif terhadap situasi dan kondisi, baik di dalam maupun di luar perusahaan;
n. Mampu menjalin hubungan kerja sama dengan semua pihak yang berkepentingan;
o. Cermat, sabar dan kompromistis.
1.4. FUNGSI DAN AKTIVITAS MSDM
MSDM secara fungsional memiliki beberapa fungsi, dimana fungsi-fungsi tersebut terkait satu dengan lainnya, dan aktivitas yang dijalankan oleh MSDM sesuai dengan fungsi yang dimilikinya, dengan tujuan peningkatan produktivitas, kualitas kehidupan kerja dan pelayanan. Fungsi perencanaan (planning) merupakan fungsi MSDM yang dinilai esensial, karena menyangkut rencana pengelolaan SDM organisasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dimana hal tersebut berkaitan erat dengan operasionalisasi organisasi dan kelancaran kerja yang ada di dalamnya.
Fungsi pengadaan (procurement) merupakan fungsi MSDM dalam usaha untuk memperoleh jenis dan jumlah SDM yang tepat, yang diperlukan untuk mencapai sasaran organisasi.
Fungsi Pengembangan (development) berkaitan erat dengan peningkatan ketrampilan dan kemampuan yang diupayakan melalui jalur pelatihan maupun pendidikan terhadap SDM yang ada. Juga berbagai bentuk pengembangan diri untuk para karyawan yang berprestasi.
Fungsi Pemeliharaan (maintenance) berkaitan dengan upaya mempertahankan kemauan dan kemampuan kerja karyawan melalui penerapan beberapa program yang dapat meningkatkan loyalitas dan kebanggaan kerja.
Fungsi Penggunaan (use) menekankan pada pelaksanaan berbagai tugas dan pekerjaan oleh karyawan serta jenjang peningkatan posisi karyawan. Selain itu berkaitan pula dengan kontraprestasi untuk karyawan yang telah berhenti bekerja, baik yang sementara atau permanen maupun akibat pemutusan hubungan kerja sepihak.
5
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
Gambar 1.2. Fungsi dan aktivitas MSDM yang terintegrasi
PERENCANAAN
PENGGUNAAN
• Analisis pekerjaan
• Evaluasi pekerjaan
• Desain pekerjaan
• Uraian pekerjaan
• Spesifikasi pekerjaan
• Penarikan karyawan
• Seleksi
• Pengangkatan
• Penempatan
• Orientasi
PENGADAAN
• Penilaian prestasi kerja
• Pendidikan dan Pelatihan
• Penugasan, Mutasi dan Promosi
• Motivasi dan Disiplin
PENGEMBANGAN
• Kompensasi
• Kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja
• Hubungan industrial
PEMELIHARAAN
• Perencanaan karir
• Perluasan pekerjaan
• Pemerkayaan pekerjaan
• Pemberhentian
TUJUAN
• Produktivitas
• Kualitas kehidupan kerja
• Pelayanan
1.5. MANFAAT PENERAPAN MSDM
Pengimplementasian Manajemen SDM akan memberikan berbagai manfaat bagi kegiatan pengorganisasian, antara lain (Nawawi,2000) :
a. Organisasi/perusahaan akan memiliki Sistem Informasi SDM yang akurat.
b. Organisasi/perusahaan akan memiliki hasil analisis pekerjaan/jabatan, berupa diskripsi dan atau spesifikasi pekerjaan/jabatan yang terkini (up-to-date).
c. Organisasi/perusahaan memiliki kemampuan dalam menyusun dan menetapkan Perencanaan SDM yang mendukung kegiatan bisnis.
d. Organisasi/perusahaan akan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas rekrutmen dan seleksi tenaga kerja.
6
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
e. Organisasi/perusahaan dapat melakukan kegiatan orientasi/sosialisasi secara terarah.
f. Organisasi/perusahaan dapat melaksanakan pelatihan secara efektif dan efisien.
g. Organisasi/perusahaan dapat melaksanakan penilaian karya secara efektif dan efisien.
h. Organisasi/perusahaan dapat melaksanakan program pembinaan dan pengembangan karier sesuai kondisi dan kebutuhan.
i. Organisasi/perusahaan dapat melakukan kegiatan penelitian/riset.
j. Organisasi/perusahaan dapat menyusun skala upah (gaji) dan mengatur kegiatan berbagai keuntungan/manfaat lainnya dalam mewujudkan sistem balas jasa bagi para pekerja
Penerapan MSDM yang efektif, selain bermanfaat bagi perusahaan, juga memberikan dampak positif terhadap para karyawan, antara lain :
• Pekerja memperoleh rasa aman dan puas dalam bekerja.
• Pekerja memperoleh jaminan keselamatan dan kesehatan kerja.
• Manajemen SDM memungkinkan dan mempermudah pekerja memperoleh keadilan dari perlakuan yang tidak menguntungkan.
• Manajemen SDM memungkinkan pekerja memperoleh penilaian karya yang obyektif.
• Para pekerja melalui Manajemen SDM akan memperoleh upah/gaji dan pembagian keuntungan/manfaat lainnya secara layak.
• Manajemen SDM menciptakan dan memberikan suasana atau iklim kerja yang menyenangkan (Nawawi, 2000).
1.6. SASARAN MSDM : MELAYANI BERBAGAI STAKEHOLDERS
Stakeholders merupakan lembaga dan manusia yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh seberapa baik SDM dikelola oleh suatu organisasi melalui penerapan MSDM. Stakeholders dapat mencakup :
7
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
Gambar 1.3. Stakeholders dan MSDM
PERUSAHAAN
• Produktivitas
• Laba
• Kelangsungan hidup
PEMASOK
Penilaian kualitas dan kuantitas
INVESTOR
Pengembalian modal
PELANGGAN
• mutu layanan
• mutu produk
• kecepatan respon
• biaya rendah
• inovasi
MSDM
SERIKAT PEKERJA
Mediator
MASYARAKAT
• Tanggung jwb sosial
• Praktek manajemen etis
PEMERINTAH
Kepastian hukum
KARYAWAN
• Perlakuan adil
• Kepusan kerja
• Pemberdayaan
• Pendayagunaan
• Kesehatan dan keselamatan
1.7. TANTANGAN TERHADAP MSDM
A. Tantangan eksternal
a. Perubahan Lingkungan Bisnis yang cepat.
Untuk keperluan tersebut perusahaan dalam menghadapi perubahan lingkungan/iklim bisnis yang cepat, perlu menetapkan kebijaksanaan SDM sebagai berikut:
• Menghindari pengaruh negatif berupa perasaan tidak puas pada kondisi yang telah dicapai perusahaan.
• Dalam menghadapi perubahan yang mengharuskan penambahan pembiayaan (cost), perusahaan harus berusaha mengatasinya, agar dapat mempertahankan pasar/keuntungan yang sudah diraih.
• Memberikan imbalan yang cukup tinggi pada pekerja yang mampu melakukan improvisasi yang kreatif.
8
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
b. Keragaman Tenaga Kerja
Di Indonesia keragaman tenaga kerja bersifat terbatas, terutama yang agak menonjol adalah perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Namun perusahaan di Indonesia harus siap dalam mengantisipasi keragaman tenaga kerja dalam rangka globalisasi, karena keragaman akan meluas dengan masuknya modal asing yang berarti juga masuknya tenaga kerja asing dari berbagai etnis atau bangsa.
c. Globalisasi
Dari sudut MSDM berarti mengharuskan dilakukannya usaha mengantisipasi sebagai berikut :
• Perusahaan harus berusaha memiliki SDM yang mampu mengatasi pengaruh perkembangan bisnis/ekonomi internasional seperti resesi, penurunan/kenaikan nilai uang.
• Perusahaan harus berusaha memiliki SDM dengan kemampuan ikut serta dalam bisnis global/internasional dan perdagangan bebas.
d. Peraturan Pemerintah
Setiap perusahaan harus memiliki SDM yang mampu membuat keputusan dan kebijaksanaan dan bahkan melakukan operasional bisnis, sesuai dengan peraturan perundang-undangan dari pemerintah. Untuk itu diperlukan SDM yang memiliki kemampuan mengarahkan agar perusahaan terhindar dari situasi konflik, keresahan/kegelisahan, komplen, dan lain-lain khususnya dari para pekerja dengan atau tanpa keikutsertaan serikat sekerja.
e. Perkembangan pekerjaan dan peranan keluarga
Semakin banyak pasangan suami isteri yang bekerja, sehingga sering terjadi kesulitan untuk bertanggung jawab secara optimal, karena sebagian waktunya digunakan untuk melaksanakan tanggung jawabnya di lingkungan keluarga masing-masing.
f. Kekurangan Tenaga Kerja yang Terampil
Tenaga kerja terampil semakin banyak diperlukan, baik untuk melaksanakan pekerjaan teknis, maupun untuk pekerjaan manajerial dan pelayanan, yang tidak mudah mendapatkan yang kompetitif di antara yang tersedia di pasar tenaga kerja.
9
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
B. Tantangan Internal
a. Posisi Organisasi dalam Bisnis yang Kompetitif
Untuk mewujudkan organisasi/perusahaan yang kompetitif , diperlukan berbagai kegiatan MSDM yang dapat meningkatkan kemampuan SDM. Usaha itu dapat dilakukan dengan mendesain sistem pemberian ganjaran yang mampu memotivasi berlangsungnya kompetisi prestasi antar para pekerja.
b. Fleksibelitas
Organisasi / perusahaan memerlukan pengembangan sistem desentralisasi yang mengutamakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab secara berjenjang. Fleksibilitas juga menyangkut penggunaan tenaga kerja, dengan mengurangi kecenderungan mengangkat pekerja reguler (pekerja tetap). Pengangkatan sebaiknya lebih difokuskan pada penggunaan tenaga kerja temporer (tidak tetap).
c. Pengurangan Tenaga Kerja
Manajemen SDM suatu perusahaan sering dihadapkan dengan keharusan mengurangi secara besar-besaran tenaga kerja, karena berbagai sebab, seperti resessi, berkurangnya aktivitas bisnis, dan lain-lain harus diatasi dengan cara memperbaiki struktur pekerja lini dari tingkat bawah, dengan mendesain kembali proses produksi.
d. Tantangan Restrukturisasi
Tantangan restrukturisasi adalah usaha menyesuaikan struktur organisasi/perusahaan karena dilakukan perluasan atau penambahan dan sebaliknya juga pengurangan kegiatan bisnisnya.
e. Bisnis Kecil
Bisnis kecil seperti dikemukakan diatas yang terdiri dari banyak anak perusahaan, yang saling memiliki ketergantungan dalam produk berupa barang atau jasa yang dihasilkan sebagai perwujudan net work (jaringan kerja) dalam berbisnis, sebagai perusahaan besar/raksasa yang tersebar di banyak lokasi.
f. Budaya Organisasi
Budaya perusahaan akan mewarnai dan menghasilkan perilaku atau kegiatan berbisnis secara operasional, yang tanpa disadari akan menjadi kekuatan yang
10
Konsep dan Tantangan Manajemen Sumber Daya Manusia
mampu atau tidak mampu menjamin kelangsung eksistensi organisasi/perusahaan.
g. Teknologi
Tantangan teknologi tidak sekedar menyangkut pembiayaan (cost), karena bagi Manajemen SDM hubungannya terkait pada keharusan menyediakan tenaga kerja yang terampil mempergunakannya, baik dari luar maupun melalui pengembangan tenaga kerja di dalam organisasi/perusahaan.
Pada giliran berikutnya tantangan teknologi berhubungan juga dengan pengembangan sikap dalam menerima perubahan cara bekerja.
h. Serikat Pekerja
Dengan kerjasama, perusahaan/organisasi setidak-tidaknya harus berusaha agar serikat pekerja tidak menjadi penghambat proses produksi, dengan tidak menempatkanya sebagai lawan.
Soal latihan
1. Jelaskan pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia !
2. Jelaskan pendekatan dan prinsip yang digunakan dalam MSDM !
3. Jelaskan fungsi-fungsi dalam MSDM !
4. Uraikan perbedaan manfaat MSDM bagi perusahaan dan bagi karyawan !
5. Uraikan faktor-faktor eksternal yang menjadi tantangan bagi MSDM !
6. Uraikan faktor-faktor internal yang menjadi tantangan bagi MSDM !
11

Sistem Informasi Sumber Daya Manusia, Pertemuan Ke 1

July 19, 2010 Leave a comment

Noviyanto, ST Halaman 1

Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) dalam konteks bisnis, adalah orang yang bekerja dalam
suatu organisasi yang sering pula disebut karyawan. Sumber Daya Manusia merupakan
aset yang paling berharga dalam perusahaan, tanpa manusia maka sumber daya
perusahaan tidak akan dapat mengahasilkan laba atau menambah nilainya sendiri.
Manajemen Sumber Daya Manusia didasari pada suatu konsep bahwa setiap karyawan
adalah manusia, bukan mesin, dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis.
Manajemen Sumber Daya Manusia berkaitan dengan kebijakan dan praktek-praktek yang
perlu dilaksanakan oleh manajer, mengenai aspek-aspek Sumber Daya Manusia dari
Manajemen Kerja.
Tidak ada definisi yang sama tentang Manajemen Sumber Daya Manusia, 3 (tiga) definisi
sebagai perbandingan dapat dikemukakan sebagai berikut:
Bagaimana orang-orang dapat dikelola dengan cara yang terbaik dalam kepentingan
organisasi, Amstrong (1994).
Suatu metode memaksimalkan hasil dari sumber daya tenaga kerja dengan
mengintergrasikan MSDM kedalam strategi bisnis, Kenooy (1990).
Pendekatan yang khas, terhadap manajemen tenaga kerja yang berusaha mencapai
keunggulan kompetitif, melalui pengembangan strategi dari tenaga kerja yang mampu
dan memiliki komitmen tinggi dengan menggunakan tatanan kultur yang integrated,
struktural dan teknik-teknik personel, Storey (1995).
Dari ke-3 definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, Manajemen Sumber Daya Manusia
berkaitan dengan cara pengelolaan sumber daya insani, dalam organisasi dan lingkungan
yang mempengaruhinya, agar mampu memberikan kontribusi secara optimal bagi
pencapaian organisasi.
Sistem Informasi Sumber Daya Manusia, Pertemuan Ke 1
Noviyanto, ST Halaman 2
Fungsi MSDM
Manajemen Sumberdaya Manusia terdiri dari dua fungsi, yaitu fungsi manajemen dan
fungsi operasional .
Fungsi Manajemen (FM) terdiri atas:
1. Fungsi Perencanaan
2. Fungsi Pengorganisasian
3. Fungsi Pengarahan
4. Fungsi Pengkoordinasian
5. Fungsi Pengontrolan/Pengawasan
Fungsi Operasional (FO) terdiri atas:
1. Fungsi Pengadaan
2. Fungsi Pengembangan
3. Fungsi Pemberi Kompensasi
4. Fungsi Integrasi
5. Fungsi Pemeliharaan
Fungsi Manajemen
Fungsi Perencanaan
Menentukan terlebih dulu program yang akan membantu mencapai tujuan perusahaan
yang telah ditetapkan
Fungsi Pengorganisasian\Organize
Merancang susunan dari berbagai hubungan antara jabatan, personalia, dan faktor-faktor
fisik
Fungsi Pengarahan (Actuating\Directing)
Melaksanakan pekerjaan, mengusahakan agar karyawan mau bekerjasama secara efektif
Fungsi Pengkoordinasian
Silahkan lihat gambar di bawah ini:
Sistem Informasi Sumber Daya Manusia, Pertemuan Ke 1
Noviyanto, ST Halaman 3
Tingkat kesiapan bawahan, penugasan dan kepemimpinan
Fungsi Pengendalian/Controlling
Mengamati dan membandingkan pelaksanaan dengan rencana dan mengoreksinya
apabila terjadi penyimpangan, atau kalau perlu menyesuaikan kembali rencana yang telah
dibuat.
Fungsi Operasional
Fungsi Pengadaan
Penentuan jenis/mutu karyawan dan jumlah (menentukan keberhasilan rekruitmen melalui
prosedur yang tepat). Sewaktu menarik karyawan baru, manajemen haruslah
mempertimbangkan:
Keadaan pasar tenaga kerja/Jenis-jenis karyawan yang diinginkan dan bagaimana
yang tersedia
Jumlah tenaga kerja yang akan ditarik
Analisa jabatan merupakan suatu proses untuk mempelajari dan mengumpulkan
berbagai informasi yang berhubungan dengan berbagai operasi dan kewajiban suatu
jabatan, terdiri dari :
1. Deskripsi jabatan dan
2. Spesifikasi jabatan
DESKRIPSI JABATAN merupakan suatu statement yang teratur, dari berbagai tugas
dan kewajiban suatu jabatan tertentu.
Indentifikasi jabatan,
Ringkasan jabatan,
Tugas yang dilaksanakan,
Pengawasan yang diberikan dan yang diterima,
Hubungan dengan jabatan-jabatan lain,
Bahan-bahan, alat-alat dan mesin-mesin yang dipergunakan,
Kondisi kerja,
Penjelasan istilah-istilah yang tidak lazim,
Komentar tambahan untuk melengkapi penjelasan di atas.
Spesifikasi jabatan
Pada umumnya isi suatu spesifikasi jabatan terdiri dari:
Identifikasi jabatan :
o Nama :
o Kode :
o Bagian :
Sistem Informasi Sumber Daya Manusia, Pertemuan Ke 1
Noviyanto, ST Halaman 4
Persyaratan kerja :
o Pendidikan (SD, SLTP, SLTA
ataukah PT?).
o Tingkat kecerdasan minimal
yang diperlukan,
o Pengalaman yang diperlukan,
o Pengetahuan dan ketrampilan,
o Persyaratan fisik,
o Status perkawinan,
o Jenis kelamin,
o Usia,
o Kewarganegaraan (Penduduk)
Fungsi Pengembangan
Untuk perbaikan efektivitas kerja dengan cara memperbaiki pengetahuan, ketrampilan
maupun sikap karyawan.
Metode Pelatihan Operasional
1. On-the job training . memberikan tugas kepada atasan langsung yang baru dilatih,
untuk melatih mereka.
2. Vestibule school . merupakan bentuk latihan dimana pelatihnya bukanlah atasan
langsung, tetapi pelatih-pelatih khusus ( Staff specialist ).
3. Apprenticeship (magang). Metode ini biasa dipergunakan untuk pekerjaan-pekerjaan
yang membutuhkan keterampilan yang relatif lebih tinggi.
4. Kursus Khusus. Merupakan bentuk pengembangan yang lebih mirip pendidikan dari
pada latihan. Kursus ini biasanya diadakan untuk memenuhi minat dari para karyawan
dalam bidang-bidang pengetahuan tertentu (diluar bidang pekerjaannya) seperti kursus
bahasa asing, komputer dan lain sebagainya.
Fungsi Pemberi Kompensasi
Balas jasa, berwujud uang atau yang lainnya sesuai pengorbanan/kontribusi karyawan.
Upah adalah bagian dari kompensasi, dapat pula berbentuk fasilitas-fasilitas yang dapat
dinilai dengan uang.
Perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini:
1. Memenuhi kebutuhan minimal
2. Dapat mengikat
3. Dapat menimbulakan semangat dan
kegairahan kerja
4. Adil
5. Tidak boleh bersifat statis
Fungsi Integrasi
Tercapainya sinergi antara karyawan dan perusahaan untuk tujuan masingmasing
yang berbeda. (Teori kebutuhan Maslow dan motivasi XY Mc Gregor dan Mc Lelland)
Fungsi Pemeliharaan
Perusahaan memelihara kemampuan dan sikap karyawan melalui program keselamatan ,
kesehatan dan pelayanan. Setiap program keselamatan dapat terdiri dari salah satu atau
lebih elemen-elemen berikut ini:
1. Didukung oleh manajemen puncak (top management)
2. Menunjukkan seorang direktur keselamatan
3. Pembuatan pabrik dan operasi yang bertindak secara aman
4. Mendidik para karyawan untuk bertindak dengan aman
5. Menganalisa kecelakaan
6. Menyelenggarakan perlombaan atau keselamatan kerja
7. Menjalankan peraturan-peraturan untuk keselamatan kerja
Referensi:

http://one.indoskripsi.com/node/2508

http://dspace.widyatama.ac.id/bitstream/handle/10364/991/bab2a.pdf?sequence=9

http://j_widodo.staff.uns.ac.id/files/2009/05/materi-msdm.pdf

Catatan:
ing ngarso sung tulodo = yang di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso = yang di tengah memberi tuntunan/ikut membantu
tut wuri handayano = yang di belakang memberi semangat/mensupport yang didepannya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers