Archive

Archive for the ‘Islamic Economy’ Category

Membangun Brand Image BMT

July 29, 2010 Leave a comment

Oleh: Sugianto
Walaupun masih tertutupi oleh gegap gempitanya berita kasus YZ dan Aa Gym,
perhelatan bernama Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil
(PINBUK) di Medan, 8 – 10 Desember lalu telah menghasilkan sebuah konsep besar,
ABI. ABI atau Arsitektur Baitul Maal wat Tamwil Indonesia merupakan salah satu factor
penting dalam mendorong perkembangan bisnis keuangan mikro syariah yang diharapkan
dimulai pada tahun 2007.
Arsitektur BMT Indonesia ini mencakup 6 pilar. Keenam pilar tersebut adalah
program perkuatan struktur BMT nasional, program peningkatan fungsi pengawasan
BMT, program peningkatan kualitas manajemen dan operasional BMT, program
pengembangan infrastruktur BMT, dan program perlindungan nasabah BMT. ABI ini
diharapkan menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.
ABI tersebut menjadi sangat penting, karena BMT bersentuhan langsung pada
masyarakat (sektor ril) yang paling bawah, yaitu usaha mikro dan kecil (UMK). Kedua
sektor usaha ini mengkomposisi sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia.
Berdasarkan laporan perkembangan perekonomian daerah Sumatera Utara BI,
triwulan III (November 2006), pangsa kredit perbankan umum kepada UMK menurun
dari 14,73 % pada periode yang sama tahun 2005 menjadi 14, 51 %. Masih pada periode
yang sama, tingkat loan to deposit rasio/LDR (rasio penyaluran kredit terhadap
simpanan/dana pihak ketiga) perbankan umum ternyata 66,64 %. Sebuah angka yang
menunjukkan bahwa lembaga perbankan kelebihan likuiditas. Dibandingkan dengan
perbankan syariah, ternyata perbankan syariah lebih baik, yaitu 49,10 % per Juli 2006
dengan LDR 226,20 %, walaupun secara total baru menyumbang 6,37 %.
Alasan utama sulitnya UMK memperoleh kredit adalah mayoritas pengusaha
UMK tidak bankable (tidak memenuhi syarat memperoleh kredit). Oleh karena itu
Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS), termasuk di dalamnya BMT adalah
lembaga yang tepat dan mampu menyerap persoalan utama UMK ini.
Imej BMT
Persoalan pertama setelah berdirinya BMT adalah mempertahankan eksistensi
kelembagaan BMT. Plesetan BMT (baru mulai tutup) merupakan indikator dari
persoalan ini. Dari empat ratusan BMT di Sumatera Utara, oleh Pinbuk Sumatera Utara,
dapat dikategorikan kepada BMT aktif, BMT tidak aktif, BMT tinggal nama dan BMT
tidak berkantor.
Salah satu tugas berat Pinbuk Sumatera Utara adalah merubah imej BMT ini.
Apalagi, beberapa waktu yang lalu Pinbuk mencanangkan seribu BMT di Sumatera Utara
yang dicanangkan oleh Gubernur Sumatera Utara, pada waktu itu T. Rizal Nurdin.
Berbagai program telah mereka lakukan untuk mencapai target tersebut. Antara lain
kerjasama dengan IAIN SU dalam pembinaan SDM melalui pembukaan program D1
Manajemen Lembaga Keuangan Mikro Syariah dan dengan BKPRMI untuk program
BMT Remaja Mesjid.
Beberapa persoalan utama BMT dan LKMS lainnya yang dapat diidentifikasi
antara lain lemahnya sumber daya manusia dan lemahnya penghimpunan dana. Persoalan
pertama terkait dengan membangun citra BMT sebagai lembaga kepercayaan yang
mendapatkan amanah penabung untuk mengelola dana berdasarkan prinsip syariah.
Sedangkan persoalan lemahnya penghimpunan dana berkaitan dengan larangan
menghimpun dana publik, cakupan wilayah yang terbatas dan tidak adanya jaminan
pemerintah atas simpanan penabung. Namun hal ini tidak berarti menutup kesempatan
BMT menarik tambahan simpanan anggota dan memberi pembiayaan.
Mengukuhkan Brand Image BMT
Citra atau imej BMT pada dasarnya bagaimana pencitraan yang dilakukan oleh
penabung terhadap BMT di satu pihak dan oleh penerima pembiayaan terhadap BMT di
lain pihak. Brand image BMT dari kaca mata penabung bahwa BMT merupakan lembaga
yang amanah, transparan dan profesional sesuai dengan prinsip syariah. Sedangkan dari
kaca mata UMK dan masyarakat penerima pembiayaan bahwa BMT merupakan lembaga
yang dapat dipercaya untuk membantu mengatasi permasalahan mereka dengan
pendekatan yang manusiawi dan saling menguntungkan.
Harmonisasi kedua aspek inilah penentu BMT mempunyai brand image yang
kuat, mudah diingat karena kesannya begitu mendalam dan dipercaya karena
profesionalitas dan amanah pengelolanya. Kuncinya terletak pada pengelolaan dana
tabungan untuk jasa pembiayaan permodalan usaha mikro dengan putaran pengembalian
pinjaman cepat (harian atau mingguan).
Terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian manajemen BMT untuk
mengukuhkan brand imagenya. Pertama, tingkat bagi hasil bersaing adalah konsideran
penting bagi kebanyakan penabung selain keamanan tabungan. Promosi tentang
pengelolaan syariah untuk memperluas jaringan mutlak dilakukan BMT. Dengan pola
jemput bola, BMT memiliki kemampuan untuk menjangkau calon penabung potensial
hingga ke pelosok daerah. Kedua, masih berkaitan dengan yang pertama, pengelolaan
dana dengan menyalurkan pada sektor riil (UMK) berdasarkan sistem syariah
memungkinkan tingkat pembagian pengelolaan lebih tinggi. Hal ini disebabkan dengan
sistem bagi hasil menggunakan akad mudharabah atau musyarakah kedua belah pihak
(BMT dan UMK) mempunyai rasa tanggung jawab yang sama akan keberhasilan usaha,
karena BMT dan UMK pada posisi yang sama sebagai partner. Untung dan rugi dari
usaha UMK juga untung dan rugi pihak BMT. Bagi BMT kemacetan pembiayaan UMK
berakibat pada pendapatan BMT yang pada gilirannya berakibat pada return (bagi hasil)
yang diperoleh penabung. Karena itu penyadaran sistem ini kepada kedua pihak adalah
prasyarat keberhasilan usaha UMK dan BMT.
Ketiga, penjangkauan kepada nasabah UMK menjadi suatu keharusan bagi
manajemen BMT. Mengembangkan dana yang terhimpun dengan menjual jasa
pembiayaan yang bersaing memerlukan strategi dan pendekatan-pendekatan tersendiri.
Hal ini karena pada umumnya pembiayaan UMK menggunakan plafon yang kecil.
Promosi yang tepat dilakukan adalah menggunakan pendekatan yang sangat individual
agar putaran dana tersebut juga cepat.
Keempat, kualitas pelayanan, kesederhanaan prosedur dan waktu pemrosesan
pembiayaan yang cepat menjadi tolok ukur peminjam atas bagi hasil pembiayaan yang
tidak murah. Ini berarti membutuhkan kualitas SDM. Karena itu manajemen harus
senantiasa meningkatkan kualitas karyawannya (kualitas syariah dan manajemen modern)
secara rutin.
Harapan BMT menjadi tulang punggung peningkatan kualitas dan kuantitas usaha
UMK yang pada gilirannya berperan dalam mengurangi kemiskinan dapat menjadi
kenyataan. Tampaknya peran Pinbuk dengan ABInya sangat ditunggu oleh masyarakat
dalam membangun brand image BMT.
(Penulis adalah Sekretaris Jurusan Ekonomi Islam Fak Syariah IAIN SU &
Sekretaris Umum IAEI Sumatera Utara)

EVALUASI ATAS PENGGUNAAN METODE PENGAKUAN PENDAPATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PADA PERSERO PT INDRA KARYA CABANG I MALANG

July 29, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : APRILIA USWATUN INSANI
NIM : 00.620.240
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESEMBER 2004
EVALUASI ATAS PENGGUNAAN METODE PENGAKUAN
PENDAPATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PADA
PERSERO PT INDRA KARYA CABANG I MALANG
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu PersyaratanMencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : APRILIA USWATUN INSANI
NIM : 00.620.240
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESEMBER 2004

KATA PENGANTAR
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik atas limpahan karunia-Nya
dengan judul “Evaluasi Atas Penggunaan Metode Pengakuan Pendapatan dan
Pengaruhnya Terhadap Laba pada Persero PT Indra Karya Cabang I Malang”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk
memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan
tanpa bantuan, bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat:
1. Drs. Wahyu Hidayat R., MM, selaku Dekan FE UMM.
2. Drs. A. Waluyo Jati, MM, selaku Ketua Jurusan Akuntansi FE UMM sekaligus
selaku Dosen Pembimbing I yang telah berkenan membimbing dan mengarahkan
penulis dengan penuh kesabaran sampai terselesaikannya skripsi ini.
3. Drs. Adi Prasetyo, MSi, selaku Dosen Pembimbing II yang telah berkenan
membimbing dan memberikan banyak masukan yang berharga dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Dra. Sri Wibawani W. A. Ak. MSi, selaku Dosen Wali yang telah banyak
memberikan bantuan moril bagi penulis.
5. Bapak dan Ibu Dosen, atas limpahan ilmunya.
6. Bapak Idris, selaku manajer keuangan yang telah memberikan ijin kepada penulis
untuk melakukan penelitian guna menunjang penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Syaiful yang telah meluangkan waktunya untuk mendampingi selama
penelitian berlangsung.
8. Bapak, Ibu tercinta dan adik-adikku terima kasih atas support serta kasih
sayangnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman-teman senasib dalam menghadapi ujian kompre, terima kasih telah saling
memberikan dukungan.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Dalam hal ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna,
untuk kritik maupun saran sangat penulis harapkan guna kesempurnaan labih lanjut.
Akhir kata, tiada lain harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi
seluruh pihak yang membutuhkan.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Malang, Desember 2004
Penulis
RENUNGAN DIRI
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengajarkan amal shaleh
dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehatmenasehati
supaya menetapi kesabaran”
(Al’Ashr)
“Memuliakan orang tua adalah kunci utama untuk dapat membuka
selapang-lapangnya keridhoan ALLAH SWT”
“Sekecil apapun amalan yang kita perbuat, jagalah mutunya, baik mutu
syariat berupa kesempurnaan pengetahuan tentang hokum fiqihnya
maupun mutu hakikat berupa keikhlasan dan kekhusukannya”
“Karunia Iman dan Islam, itulah karunia terbesar yang tidak diberikan
kepada sembarang manusia”
“…..Niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat….”
(Al Mujaadilah)
“Orang-orang yang sudah sampai hatinya kepada suatu titik puncak
pengenalan terhadap ALLAH, dimana saja dia akan selalu merasakan
kelezatan bersama ALLAH”
(Pesan H. Aa Gym)
“Seseorang tidak menjadi bijak hanya karena ia pandai berbicara. Ia yang
sabar dan bebas dari rasa benci maupun takut sungguh bijak”
(Anand Krishna)
“Iman seseorang belum sempura, apabila ia tidak mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
(HR. Bukhari dan Muslim)
KASIH SAYANG
Kasih sayang itu titi
Kasih sayang penghubung hati
Kasih sayang itu tali
Kasih sayang pengikat diri
Dari kasih timbul simpati
Dengan sayang ada persaudaraan
Kerana kasih ingin berbakti
Saling sayang maaf-memaafkan
Kasih sayang itu baja
Kasih sayang penyubur jiwa
Kasih sayang itu penawar
Penguat cinta penghapus duka
Kasih manusia sering bermusim
Sayang manusia tiada abadi
Kasih TUHAN tiada bertepi
Sayang TUHAN janji-NYA pasti
Tanpa kasih sayang TUHAN
Tiada simpati tiada persaudaraan
Tanpa kasih sayang TUHAN
Tiada bakti tiada kemaafan
Kasih sayang pada semua
Kasih sayang sesama kita
Kasih sayang O… dunia
Moga selamat di akhirat sana
By: Raihan “Demi Masa”
PERSEMBAHAN
This little creation I present to:
· My parent, who always loves me and care
Of me, thanks a lot for the support,
leading and advices, and also for a
pray for me.
· My sisters (Ana & Tina), thanks for
giving me a good lesson.
Without all of you, I
wouldn’t be able to do
anything and being
nothing
WHEN THERE IS A WILL, THERE IS A WAY
SPECIAL THANK’S TO:
Ø ALLAH SWT, atas limpahan hidayah, rahmat serta karunia-Nya.
Ø All of my family, tanpa mereka aku tidak bisa menyelesaikan
semua ini.
Ø My Best Friend:
QQ alias Risky Afriana, sahabat sejatiku di saat suka dan susah.
Ya…maap kalo banyak susahnya, ta….u. Alhamdulillah akhirnya kita
bisa selese bareng. Thanks berat ya Q atas kebersamaannya selama
mengarungi dunia perkuliahan di kampus tercinta. Moga
persahabatan kita sejak awal kuliah akan tetap erat walau kita
sudah dengan jalannya masing-masing. OCHE…….!!!!!
Ø Een alias Endang Retnowati, teman karibku. Suwu…..n ingkang
kuathah, sepuntene bilih enten kelepatan amargi kulo kathah
klejingane he…Makasih juga, cozzz u buat aku jadi makin dewasa.
Ojo lali yo…karo cah Tegal iki, awas nek lali……!!!!!
Ø Seluruh penghuni Al- Paradise yang cantik-cantik, koyoto..Vita
thanks atas rentalnya 24 jam nonstop meski kadang komputernya
minta dimanjakan, EQ & Nova thanks atas suaranya yg merdu &
buat aq t’bangun dr tidur to ngerjakan skripsiku (jgn lupa
kaoskakinya dicuci dulu sebelum buat mainan), 2-tik & Ike ngomong
donk ngomong..u boleh kok ngomong…, Enggar msh inget kan jalan ke
kostan, Helen alias Nuning skr aq siap tempur kapan saja dgn music
rockmu..!!, Mba Kiyas met hidup baru dng sang arjunanya moga
cepet dikasih momongan, Acces thanks suaranya indah & lembut sbg
pengantar tidurku, si kecil Arul, Ali & Arung jng b’tengkar terus
yach…klo siang, biar mb Li bs istirahat dng tenang. HIDUP ALPARADISE..!!!
smoga tetep menjadi kost-kostan tercantik
diantara kost-kostan yang gagah.
Ø Seluruh alumni penghuni Al-Wonder yang cakep-cakep,
koyoto…Mas Heru ga’popo…a !!, Mas Ajik cepet gede ya…!!, Pak Lek
alias Mas Ipoeng Buli’e ndek mana..??, Mas Ikhwan yang tambah
endhut ae.., encret alias Mas Nur ojo nyangkruk ae ndek DPR (di
bawah pohon rindang), Mas Dar ndang muliyo jemputen si Pingkan,
and Haryy Potter alias Mas Ali ojo sampe’ muter-muter.
Ø Temen-temen seperjuangan KKN-T Kel.8 di PUJON kaya’ Shofie
si Bu Dokter and Tomy si Pasiennya, Tanzil, Lucky ama Restu mogamoga
tetep langgeng aja, Mughis yang doyan banget ama kue
DHONAT awas jangan kebanyakan lho ntar aq kaget klo liat muka
kamu kok ada kue donat kembarnya he…., Afif, si Ony LOHAN,
Gendhut alias Ilham, Juni yang naik Pick-Up, Ivon & Mamih yang
suka latah, Hanipeh, Lya, Ustadz Nanang gimana kabarnya si kecil?
Elok bersama kucing2nya, Kirun alias Fahmi, Faris yang suka maen
PS mbok yo.. leren po….oh, dsb. Ojo sampe lali rek karo sapine Pak
Wo yo…Oh iya adek kecilku Via yang manis yang selalu bikin aq
kangen ‘N pengen maen ke Pujon lagi.
Ø Temen2 campuz Accounting ’00 class E,kaya’ Mbak Titin SE, Tuty
SE, Eta SE, Ulum SE, Andri SE (cie….wis sarjana ni ye….), Wulan
jng nangis terus ya..ntar air matanya abis, Wardah, Fery, Septy
cepet selesai ya…, Indah, Sinchan alias Ratna, Yuli cs, Ely cs,
Yayoek dsb.
Ø Adek2 kosku Sumber Sari, kaya’ Menik…yang mau KKN, Ayu…jng
belajar terus sekali2 refreshing donk…!! & Dhony…ayo dah dapet
cowok belum…!!!
Ø Mas Andy SE, gimana kabarnya sekarang?masih tetep coling2 kan?
Ø Chimot….!!! makasih atas do’anya t’nyata manjur juga lho….!!!
Ø Sonic alias Roedy makasich atas bantuannya pinjemin aq computer
meski Cuma bentar cozzz komputernya aneh bin ajaib mintanya ama
yang punya trusss…!!!!!! Makasih juga buat less computer gratisnya
he….moga amal baikmu diterima di sisi-Nya ech..ada yang
membalasnya. Amien….1000X
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………. iii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………… v
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………. vi
ABSTRAK……………………………………………………………………………………….. vii
ABSTRACTION……………………………………………………………………………….. viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………………. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………………………………… 4
C. Pembatasan Masalah……………………………………………………….. 4
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………………….. 4
1. Tujuan Penelitian ………………………………………………………. 4
2. Manfaat Penelitian…………………………………………………….. 5
BAB II TINJAUAN TEORI dan STUDI PUSTAKA
A. Landasan Penelitian Terdahulu ………………………………………….. 6
B. Landasan Teori ………………………………………………………………. 7
1. Pengertian Pendapatan………………………………………………… 7
2. Sifat dan Karakteristik Pendapatan………………………………… 8
3. Sumber-sumber Pendapatan…………………………………………. 9
4. Pengukuran Pendapatan………………………………………………. 11
5. Pengakuan Pendapatan………………………………………………… 11
6. Pengertian Biaya………………………………………………………… 12
7. Pengukuran Biaya………………………………………………………. 14
8. Pengakuan Biaya ………………………………………………………… 16
9. Penyajian Laporan Laba Rugi……………………………………… 16
10. Pengertian Perusahaan Kontraktor …………………………………. 17
11. Pendapatan Kontrak……………………………………………………. 20
12. Biaya Kontrak …………………………………………………………… 20
13. Metode Pengakuan Pendapatan pada Perusahaan Kontraktor. 22
BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian ……………………………………………………………. 27
B. Jenis Penelitian ………………………………………………………………. 27
C. Data dan Sumber Data……………………………………………………… 27
D. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………….. 27
E. Teknik Analisis Data ……………………………………………………….. 28
BAB IV ANALISIS DATA
A. Gambaran Umum Perusahaan……………………………………………. 31
1. Sejarah Perusahaan ……………………………………………………. 31
2. Lokasi Perusahaan…………………………………………………….. 32
3. Struktur Organisasi Perusahaan ……………………………………. 33
B. Kegiatan Usaha Perusahaan………………………………………………. 35
C. Aktifitas Perusahaan……………………………………………………….. 38
1. Cara memperoleh kontrak……………………………………………. 38
2. Pengakuan dan perlakuan pendapatan pada PT Indra Karya.. 39
3. Penentuan jumlah piutang …………………………………………… 41
D. Analisis Data …………………………………………………………………. 43
1. Masalah yang dihadapi perusahaan ……………………………….. 43
2. Sebab dan Akibat Masalah ………………………………………….. 44
a. Sebab Masalah …………………………………………………….. 44
b. Akibat Masalah……………………………………………………. 45
3. Alternatif Pemecahan…………………………………………………. 52
4. Perbandingan Penggunaan Metode Persentase
Penyelesaian dengan Metode Kontrak Selesai…………………. 53
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 63
B. Saran …………………………………………………………………………… 64
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Kalkulasi Pendapatan dan Biaya Proyek Tahun 2002 ……………… 46
Tabel 2 : Laporan Laba-Rugi Tahun 2002 …………………………………………. 47
Tabel 3 : Neraca Tahun 2002 ………………………………………………………….. 48
Tabel 4 : Kalkulasi Pendapatan dan Biaya Proyek Tahun 2003 ……………… 49
Tabel 5 : Laporan Laba-Rugi Tahun 2003 …………………………………………. 50
Tabel 6 : Neraca Tahun 2003 ………………………………………………………….. 51
Tabel 7 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Pendapatan dan Biaya
Proyek Tahun 2002 ………………………………………………………….. 54
Tabel 8 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Pendapatan dan Biaya
Proyek Tahun 2003 ………………………………………………………….. 55
Tabel 9 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Laporan Laba-Rugi
Tahun 2002…………………………………………………………………….. 57
Tabel 10 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada
Neraca Tahun 2002 …………………………………………………………… 58
Tabel 11 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Laporan
Laba-Rugi Tahun 2003……………………………………………………… 59
Tabel 12 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada
Neraca Tahun 2003 …………………………………………………………… 60
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Struktur Organisasi Persero PT Indra Karya…………………….. 34
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Rincian Biaya Proyek SWS Benanain Per 31 Desember 2002
Lampiran 2 : Rincian Biaya Proyek SWS Benanain Per 31 Desember 2003
Daftar Pustaka
Baridwan, Zaki. 1996. Intermediate Accounting; edisi ketujuh, BPFE, Yogyakarta.
Chariri, Anis dan Imam Ghozali. 2003. Teori Akuntansi; edisi revisi, Undip,
Semarang.
Dyckman, Thomas R., Roland E. Dukes dan Charles J. Davis. 1996. Akuntansi
Intermediate; jilid 1, edisi ketiga,, Erlangga, Jakarta.
Fauzi. 1993. Prinsip Akuntansi Keuangan: Proses Penyusunan Laporan
Keuangan; edisi pertama, Indah Surabaya, Surabaya.
Hansen, Don R. dan Maryanne M. Mowen. 1999. Akuntansi Manajemen; jilid 1,
edisi keempat, Erlangga, Jakarta.
Harahap, Sofyan Syafri. 1999. Teori Akuntansi; edisi pertama, Rajagrafindo,
Jakarta.
Harnanto. 2003. Akuntansi Keuangan Menengah; buku dua, edisi pertama, BPFE,
Yogyakarta.
Hendriksen, Eldon S. dan Michael F. Van Breda. 2000. Teori Akuntansi; buku satu,
edisi kelima, Interaksara, Batam.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan; Salemba Empat,
Jakarta.
Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. 1995. Akuntansi Intermediate; jilid dua,
edisi ketujuh, Binarupa Aksara, Jakarta.
Munandar, M. 1983. Pokok-Pokok Intermediate Accounting; edisi kelima, Liberty,
Yogyakarta.
Permana, Budy. 1997. Prinsip Pengakuan Pendapatan dan Beban Perusahaan
Kontraktor. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.
Poerwanti, Endang. 2000. Dimensi-Dimensi Riset Ilmiah; edisi pertama, UMM
Press, Malang.
Rosjidi. 1999. Teori Akuntansi; edisi pertama, FE UI, Jakarta.
Smith, Jay M. dan K. Fred Skousen. 1995. Akuntansi Intermediate: Volume
Komprehensif; jilid dua, edisi kesembilan, Erlangga, Jakarta.
Suwardjono. 1986. Teori Akuntansi: No. 1 Pokok-pokok Pikiran Paton dan
Littleton tentang Prinsip Akuntansi untuk Perseroan; edisi pertama,
BPFE, Yogyakarta.
Swety, Syamsul B. 2000. Evaluasi terhadap Metode Pengakuan Pendapatan pada
Perusahaan. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.
Wijiarto, Teguh. 2000. Aplikasi Akuntansi Pengakuan Pendapatan dengan
Metode Persentase Penyelesaian Guna Menyajikan Kewajaran Laporan
Keuangan. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.

Berbisnis dengan Hati

July 28, 2010 Comments off

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 1 dari 48
Berbisnis
denganHati

The 10 Credos of
Compassionate Marketing
KH. ABDULLAH GYMNASTIAR
&
HERMAWAN KARTAJAYA
EDITOR :
YUSWOHADY
SUNARTO
MarkPlus&Co
Jakarta, 2004
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 2 dari 48
BAGIAN I
PENGANTAR
HERMAWAN KARTAJAYA
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 3 dari 48
KEJUJURAN SEBAGAI
KEUNGGULAN BERSAING
Oleh : Hermawan Kartajaya
Saya memikirkan compassionate marketing sejak tiga tahunan yang lalu saat
skandal keuangan merebak di Amerika yang memuncak dengan tumbangnya
perusahaan – perusahaan raksasa seperti Enron, Worldcom, atau Global Crossing.
Kasus manipulasi akuntansi terbesar dalam sejarah bisnis Amerika tersebut
menunjukkan keadaan kita betapa semakin tingginya kompleksitas bisnis,
semakin canggihnya tool – tool manajemen, dan semakain majunya perangkat
regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktek bisnis kita menjadi semakin
dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin kebablasan tanpa etika, tanpa
nilai – nilai moral, tanpa pegangan.
Saya berpikir apakah ini tanda akan datangnya akhir jaman. Bisnis telah kian
terpuruk oleh tangan – tangan orang yang tidak punya etika dan moral. Bisnis
tidak lagi dijalankan dengan semangat kejujuran dan keadilan. Apa yang kita lihat
dari skandal tersebut adalah betapa para pebisnis semakin membabi – buta
menghalalkan cara apapun untuk mengeruk keuntungan pribadi tanpa peduli hal
itu merugikan pihak lain. Para pebisnis semakin kehilangan nuraninya.
Kejadian di Amerika tersebut sesungguhnya bukanlah konsern utama saya.
konsern dan keprihatinan saya justru pada praktek bisnis yang sudah berjalan
bertahun – tahun di negeri ini. Kalau mau jujur, sesungguhnya apa yang terjadi di
Amerika itu sudah menjadi keseharian kita selama ini. Secara kebetulan berita
skandal itu di blow up besar – besaran media massa di seluruh dunia sehingga kita
tahu dan tersentak karenanya.
Tapi bagi kita yang di Indonesia skandal tersebut adalah biasa saja. Karena di
negeri ini praktek bisnis yang sepuluh kali lipat lebih kotor dari praktek bisnis
yang dijalankan para eksekutif Enron itu begitu banyak dan telah membudaya
selama tiga puluh tahun lebih.
Kongkalikong politisi – pengusaha!
Bisnis “nginjak kaki”!
Praktek suap dan mark – up!
Sogok – menyogok pejabat untuk memenangkan proyek!
Mendirikan bank untuk mengeruk duit masyarakat untuk mendanai bisnis grup!
Mengelabui bank untuk menguras koceknya!
Kolusi pejabat untuk mendapatkan monopoli!
Dan masih banyak lagi.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 4 dari 48
Kalau mau lebih detail lagi bacalah artikel, Saya Bermimpi Menjadi Konglomerat
– nya Pak Kwik Kian Gie.
Semula saya berpikir bahwa dengan bergantinya pemerintahan Orde Baru politik
di negeri ini akan lebih jujur dan adil. Sehingga kalau politiknya oke diharapkan
praktek bisnisnya juga oke. Tapi seperti kita tahu semua, wajah politik pasca Orde
Baru bukannya lebih baik malah lebih compang – camping.
Kalau dulu korupsi bisa secara rapi “dipusatkan” di pusat – pusat pemerintahan,
maka kini korupsi tersebut semakin meluas dan merajalela di tingkat kabupaten
bahkan kecamatan. Kalau dulu kongkalikong pengusaha – pejabat hanya terbatas
di Jakarta maka kini hal yang sama dilakukan di secara massif di tingkat
kabupaten – kecamatan. Tak heran jika negeri kita ini tak bergeming posisinya
sebagai negara terkorup di dunia. Praktek bisnis kotor yang selama puluhan tahun
melingkupi keseharian kita semakin menyadarkan saya bahwa kejujuran dan etika
bisnis kini sudah menjadi suatu yang langka di negeri ini.
Di negeri yang compang – camping etika bisnisnya, kejujuran merupakan
“resources” yang semakin langka bagi perusahaan. Dan tak bisa di-leverage
menjadi komponen penting keunggulan bersaing perusahaan. Karena godaan
untuk berbisnis secara tidak jujur itu demikian kuat di negeri ini, maka tak banyak
perusahaan yang mampu melakukannya.
Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa kejujuran bisa menjadi sumber keunggulan
bersaing yang sangat kokoh. Kenapa kokoh? Karena tak banyak perusahaan yang
mampu melakukannya dan kemampuan tersebut sulit ditiru pesaing. Dalam teori
manajemen, kalau sebuah perusahaan mampu melakukan sesuatu yang sulit ditiru
oleh pesaing maka ia akan memiliki daya saing yang kuat dan sustainable dalam
jangka panjang.
Saya melihat praktek bisnis dan marketing bergeser dan mengalami transformasi
dari level intelektual menuju ke emosional, dan akhirnya ke spiritual. Level
intelektual ditandai dengan penggunaan tool – tool marketing ampuh seperti
marketing mix, branding, positioning, dan sebagainya.
Lalu sejak sekitar sepuluh tahunan yang lalu konsep emotional marketing muncul
dan kini makin mendominasi praktek pemasaran yang dijalankan oleh para pelaku
bisnis. Saat ini varian dari emotional marketing ini sudah berkembang demikian
luas dan telah menjadi buzzword marketing yang popular. Sebut saja beberapa di
antaranya seperti : customer relationship management, experiential marketing,
emotional branding, dan sebagainya.
Tapi kini dan di masa datang, apalagi setelah pecahnya skandal keuangan yang
saya sebut di depan, saya melihat eranya akan bergeser kearah spiritual. Sehebat
apapun strategi bisnis yang Anda punyai, secanggih apapun tool marketing yang
Anda jalankan, semuanya tak akan ada gunanya kalau tidak dilandasi spiritualitas
yang kokoh, Mau bukti? Buktinya Enron, raksasa energi yang praktis habis dalam
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 5 dari 48
semalam karena tidak jujur kepada stakeholders-nya. Apapun bisnis Anda, rohnya
akan terletak pada kejujuran dan etika.
Saya sangat terkesan dengan logika yang dipakai Aa Gym mengenai berbisnis
yang jujur. Berikut ini ada perkataan Aa Gym, “Logikanya sederhana, Allah yang
menyuruh jujur, Allah yang memberi rezeki, untuk apa harus tidak jujur?”
Bisa dikatakan Aa Gym sudah seperti Raja Midas, apapun yang disentuhnya
menjadi emas. Maksudnya, apapun bisnis yang dimasukinya selalu membawa
kesuksesan. Kini beliau sudah mengelola 19 perusahaan dan semuanya
merupakan bisnis yang menguntungkan.
Semua kesuksesan tersebut kuncinya menurut Aa Gym cuma satu : Jujur.
Dalam tulisan ini berisi uraian Saya dan Aa Gym mengenai bisnis yang dilandasi
oleh kejujuran, etika, dan profesionalitas. Isinya sendiri merupakan rangkuman
dari butir – butir pemikiran Saya dan Aa Gym mengenai berbisnis yang jujur dan
beretika yang kami kemukakan dalam sebuah acara talk show dalam rangka
pengajian bulan Ramadhan tahun 2003 lalu.
Dalam tulisan ini Aa gym menguraikan prinsip – prinsip dasar bisnis yang
berlandaskan kejujuran dan Islam, tentu saja dalam konteks Manajemen Qolbu.
sementara saya menguraikan sebuah konsep terbaru yang sudah sejak setahun ini
saya gagas bersama rekan – rekan di MarkPlus&Co. yaitu apa yang saya sebut,
The 10 Credos of Compassionate Marketing.
Akhirnya saya berharap bahwa di negeri tercinta ini akan semakin banyak
perushaan yang mampu tumbuh, berkembang, dan memiliki daya saing kuat
karena prinsip kejujuran dan etika yang dipegang teguh. Betapa indah kalau
bisnis itu dijalankan dengan nurani.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 6 dari 48
BAGIAN II
PRINSIP – PRINSIP
COMPASSIONATE
MARKETING
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 7 dari 48
PRINSIP – PRINSIP BISNIS
DALAM ISLAM
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
“BUTA HATI, LEBIH BERBAHAYA, BUTA MATA
TIDAK NAMPAK DUNIA, BUTA HATI TIDAK NAMPAK
KEBENARAN, BUTA HATI DITIPU NAFSU
DAN SYAITAN.”

Saudara – saudaraku, andaikata tujuan sudah ditetapkan sepelan apapun kita
bergerak insyaallah merupakan suatu kemajuan. Tapi bagi orang yang tujuannya
tidak tetap, segigih apapun bergerak bisa jadi menuju kehancuran.
Oleh karena itu kalau kita berbicara bisnis itu tergantung tujuannya apa. Ada yang
tujuannya hanya uang, ada yang tujuannya kepuasan. Tapi sebagai muslim paling
tidak ada tiga tujuan yang harus kita pahami sebagai manusia yang diciptakan
Allah.
Pertama, kita diciptakan oleh Allah untuk menjadikan segala aktifitas kita
sebagai ibadah. Itu artinya bisnis bagi kita adalah ibadah, bukan semata – mata
mencari uang.
Kedua, tugas hidup kita menjadi khalifah. Kita diberi kesempatan hidup di dunia
satu kali oleh karena itu kita harus berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat
kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat
bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.
Ketiga, tugas kita dalam bahasa agama disebut dakwah. Artinya apapun aktifitas
yang kita lakukan harus menjadi pencerminan pribadi pribadi yang menjadi
teladan dalam kebenaran.
ini penting, ibadah, khalifah dan dakwah.
Saudaraku, ada orang yang sibuk dengan membanting tulang demi mencari sesuap
nasi. Ini rugi, sudah tulang yang dibanting hanya sesuap yang dicari.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 8 dari 48
Imam Ali pernah mengatakan , barang siapa yang memang kesibukannya hanya
untuk mencari isi perut, maaf derajatnya tidak jauh beda dengan apa yang keluar
dari perut.
Kalau hanya mencari makan apa bedanya dengan kambing?
Kalau hanya sekedar mencari uang, garong juga mencari uang.
Maka kita harus tahu bahwa kita tidak disuruh mencari uang.
Tetapi kita disuruh untuk menjemput rezeki karena setiap makhluk sudah
disiapkan rezekinya masing – masing.
Ada perbedaan mendasar antara “mencari” dan “menjemput”. Kalau “mencari itu
ada kemungkinan tidak mendapatkan apa yang dicari. Tapi kalau
“menjemput”,pasti ada. Maka itu sebabnya saya dalam bisnis tidak cemas lagi
dengan rezeki, dengan gaji karyawan, sebanyak apapun karyawan termasuk yang
cacat.
Kenapa? Karena setiap orang sudah ada rezekinya. Saya kasih contoh, mencari
istri itu belum tentu dia punya istri. tetapi menjemput istri pasti sudah punya istri
kecuali mancari yang lain. Ini penting. “Waman yatawakkal ‘ala Allah fahuwa
hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3, artinya “Dan barang siapa yang bertawakkal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.”
Maaf kalau saya mengambil sudut pandang Islam, karena itu yang saya pahami.
Seorang Muslim, dikatakan professional kalau dia memenuhi dua hal. Pertama,
didalam mencari, dia sangat menjaga nilai – nilai kejujuran, tepat janji, etos kerja,
sehingga kalau dia mendapatkan uang maka dirinya lebih bernilai dari sebanyak
apapun uang yang didapatkan. Karena dia mencari dalam rangka untuk
membangun nilai – nilai.
Kedua, dalam mencari nafkah atau “menjemput rezekinya” dia sangat menjaga
sehingga terbangun nama baiknya. Dengan demikian, dia tidak pernah takut
kehilangan apapun.
Mau pensiun, mati uangnya habis, tidak ada masalah. Karena bukan itu yang dia
cari, tapi nilai – nilailah yang dia cari. Kalau uangnya banyak, dia lebih kaya dari
uangnya. Tapi maaf, kalau koruptor uangnya banyak, rumah berharga, mobil
berharga, tanah berharga, tapi yang tidak berharga adalah dirinya.
Maka tidak heran kalau koruptor sering minta – minta, segalanya dicolok. Maaf,
jangan ada yang merasa tersinggung, kecuali koruptor sendiri.
Bayangkan ada orang yang mencari, dia telah mendapat dunianya, tapi dia tidak
mendapatkan dirinya. Makanya dia takut sekali kehilangan jabatannya, karena itu
yang dia anggap sukses.
Kenapa orang takut turun dari jabatannya?
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 9 dari 48
Karena itu topeng dia. Jadi kalau orang bersembunyi di balik topeng, takut
diambil topengnya. Tapi kalau orang membangun dirinya, dia tidak pernah takut
kehilangan apapun.
Maka orang – orang yang pecinta dunia takut melihat pesaing. Padahal pesaing
adalah saudara kita juga. Tanpa pesaing hidup kita tidak bermutu. Persaingan itu
karunia Allah agar bisa memompa kemampuan kita secara optimal.
Saudara mau balap karung sendirian? Tidak bermutu walaupun meraih juara
umum. Begitu juga apabila balap karung dengan anak TK, walau juara dunia
tetapi tetap tidak ada harga karena lawannya adalah anak TK. Tapi balap karung
dengan petarung tangguh, walau kita menjadi juara kelima, tidak ada masalah.
Tapi kita sudah memompa kemampuan kita secara optimal.
Pesaing tidak akan mengurangi rezeki kita, kalau kita bertarung dengan keyakinan
bahwa Allah yang membagikan rezeki.
Mempunyai pesaing itu nikmat.
Bukankah tidak akan bisa menjadi pahlawan kalau tidak ada penjahatnya?
Yang menjadi masalah siapa yang menjadi penjahat? Itu saja.
Mencari rezeki, sekaligus menjaga nilai sehingga nama terbangun. kalau hal ini
dilakukan harga diri terbangun. Kalau hal ini dilakukan walau sudah pensiun, tua
atau mendapat mutasi, orang tersebut tidak pernah berkurang kemuliaannya
karena telah melekat pada dirinya, kekayaan pribadinya.
Kalau sudah mendapat rezeki, seorang professional yang baik dan berhati nurani
akan mendistribusikan rezekinya. Maka disebutkan oleh Nabi Muhammad,
“Khairunnas anfa’uhum linnas,” Hadits Riwayat Bukhari. Artinya, “Sebaik –
baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.”
Jadi kita bekerja keras, menjemput rezeki kita, nama kita terbangun, rezeki kita
dapatkan, lalu kita distribusikan. Makin banyak kekayaan, makin banyak orang
lapar tersantuni, makin banyak orang bodoh bisa belajar, makin banyak orang
yang tidak berpakain bisa memiliki baju, makin banyak orang yang tidak
mempunyai rumah bisa berteduh. dan ini akan membuat kita semakin
bersemangat dalam bekerja.
Dan luar biasa, kita bisa menikmati bagaimana kita mendistribusikan rezeki kita
ini. Sehingga kalau kita mati nanti, kita sudah puas. Nama insyaallah baik, orang
banyak manfaatnya. Kita tunggu saja saat kematian seperti ini. mau apa lagi,
dunia tidak pernah bisa kita bawa. Siapa orang kaya di dunia ini, bawa apa dia
mati? Tidak ada yang dibawa.
Kadang kita salah, melihat orang kaya itu yang banyak tabungannya. Padahal dia
hanya penunggu saja. Kalau menurut saya, orang yang kaya adalah orang yang
banyak mendistribusikan rezekinya.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 10 dari 48
Jadi maaf, menurut saya, para koruptor itu benar – benar orang yang miskin.
Tidak aad apa – apanya, walaupun jasnya bagus, dasinya bagus. Padahal kalau
mau jujur, dia ke atas menjilat, ke bawah menginjak, ke samping menyikut. Sudah
punya istri berzina, segala diangkut dari kantor ke rumah. Sampai – sampai
jepitan buku pun diangkut. Ini benar – benar miskin.
Makanya nanti ke depan kalau kita memilih pejabat itu harus orang yang kaya.
Bukan kaya dengan uang, tapi kaya batinnya. Tidak suka minta – minta. Orang
yang minta – minta itu orang miskin. Misalnya minta proyek. Salah kita memilih
orang yang miskin batinnya. Memiliki jabatan tetapi kerjanya minta – minta.
Saudara – saudaraku, kalau kita sudah tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah,
untuk apa kita berbuat licik? Yang menyuruh jujur Allah, yang membagikan
rezeki juga Allah. Maaf mungkin kita pernah dengar perumpamaan ini. saya
pernah mendapat nasehat dari anak saya. “Pak, kita mah malu kalau hidup
mengeluh. Lihat nyamuk, untuk mencari sesuap makan saja dia harus bertarung
dengan nyawanya.”
Nyamuk itu mencari makan saja sudah terancam. Dan sudah berapa banyak
nyamuk tewas di tangan kita, ketika dia mencari nafkah. Anak saya bilang, “Lihat
ketika nyamuk itu makan, Pak. Makan saja terancam.” Berapa banyak nyamuk
yang terbunuh ketika makan, juga ditangan kita? Sudah selesai makan tangki
sudah penuh, mau terbang rasanya berat. malu jadi manusia kalau kita terus –
menerus mengeluh. Lihat nyamuk itu dari awal sampai akhir. mencari sesuap
darah saja nyawanya terancam.
Makanya orang – orang yang licik, mereka betul – betul menghinakan dirinya
sendiri. Orang yang bekerja cerdas bukan orang yang menjadi untung dengan
banyak liang, tapi sekali dayung dua, tiga empat pulau terlampaui. Ibarat sambil
menyelam minum air, memungut mutiara, ketemu dengan puteri duyung. Orang –
orang yang korupsi itu benar – benar, maaf, bodoh. Saya tidak menyebut dungu
ya, tapi apa bedanya?
Saya ini merasa gemas. Bayangkan dia mengambil tapi dan menghancurkan
dirinya dan nama baiknya. Dia memberi makan keluarga dengan harta haram, di
mana kecerdasannya? Bayangkan, nama itu tidak terbeli oleh harta. Mati dalam
aib, orang tua malu, anak tertekan, makanan yang dimakan pun haram. padahal
harta tidak dibawa kalau mati.
Saya pernah mendengar ada koruptor yang pusing. Menyimpan uang di bank,
karena takut ketahuan, maka dia memakai nama orang lain. Punya mobil bagus
takut ketahuan, akhirnya disimpan di kampung. Punya rumah, sertifikat dia atas
namakan orang lain. Jadi dia punya apa? Punya dosa. Apalagi sekarang ada
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu semakin membuat dia tertekan. sudah
tidak bisa menikmati tapi tetap saja korupsi. Na’udzubillahi min dzalik.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 11 dari 48
Mungkin ini yang disebut buta hati. Negara kita menjadi seperti ini karena
pebisnisnya bukan professional. Kalau professional pasti bagus. Jadi yang
professional itu selalu menggunakan basis moral. karena nilai keuntungan tidak
dilihat dari jumlah uang.
Bagi kami dalam bisnis, uang itu nomor sekian.
Pertama, yang namanya untung itu kalau bisnis ini menjadi amal. karena kita
semua pasti mati dan yang dibawa ke akhirat itu bukan uangnya tapi amalnya.
Oleh karena itu sejak mulai dari niat harus benar kalau niat sudah salah, cara juga
salah, tindakan kita tidak akan menjadi amal walaupun mungkin menghasilkan
uang. Namun untuk apa itu semua, karena uang tidak bisa kita bawa mati.
Kedua, yang disebut untung adalah, kalau dalam bisnis, nama kita menjadi
semakin lebih baik. Nabi Muhammad itu benar – benar menjadi orang yang sangat
credible, Al Amien seorang yang sangat – sangat terpercaya. Orang tidak ragu
saja kepada perkatannya. Makanya bagi kami bisnis itu kecil, tapi nama baik itu
yang sangat penting.
Ketiga, yang namanya untung itu ketika dalam bisnis, kita bisa manambah ilmu,
karena tanpa penambahan ilmu, pengalaman dan wawasan, keuntungan yang
didapat bisa menjadi bumerang. Segalanya berubah dalam hidup ini, bagaimana
mungkin menyikapinya tanpa kemampuan yang berubah. Saat ini untung, tapi
besok lusa bisa jadi keuntungan ini akan menjadi sumber kerugian. Makanya
keuntungan berupa uang yang tidak meng – upgrade diri kita, itu sebetulnya tidak
untung.
Yang keempat, keuntungan adalah ketika dengan bisnis, menambah silaturahmi,
menambah saudara, karena persaudaraan itu mahal. Buat apa mempunyai uang
banyak kalau musuh juga bertambah. sekali digarong, atau dibui, harta akan habis
dan percuma.
Jadi orientasi dalam bisnis itu adalah bagaimana semakin menambah saudara.
Tidak begitu untung barangkali tidak apa – apa, tetapi saudara bertambah. Kalau
orang sudah sayang ke kita, dia akan menajdi tim marketing kita.
Dan yang kelima, yang disebut keuntungan bagi bisnis yang bernuansa religi
adalah bagaimana dengan bisnis makin banyak orang yang mendapatkan
keuntungan. Karena setiap orang yang beruntung, yang menjadi bagian dari bisnis
kita, itu akan menjadikan kebagian diri kita pula.
Konsep – konsep tersebut di atas tidak hanya ideal, tapi realistis karena kita sudah
menjalani dan terbukti untung besar, kami tidak tertarik pada uang haram, untuk
apa? Logikanya sederhana, Allah yang menyuruh jujur, Allah yang memberi
rezeki, untuk apa harus tidak jujur?
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 12 dari 48
Kami membangun perusahaan dengan konsep ini. Beberapa waktu yang lalu kami
mencoba untuk membangun perumahan, hanya dalam tempo satu bulan sudah
laku 495 rumah. Bahkan belum diumumkan sudah habis. Ya mudah – mudahan
Allah menerima
Saya sendiri pribadi mengelola 19 perusahaan dengan konsep bisnis di atas. Bisnis
di perusahaan tersebut terus saja beranak pinak. Jadi konsep yang sudah saya
kemukakan di atas bukan saja ideal, tapi konsep yang realistis dan benar – benar
menguntungkan.
Logiknya sederhana. Dimana – mana orang akan selalu mencari rekanan yang
jujur dan bisa dipercaya. Karena berusaha untuk jujur, tentu kitalah yang mereka
cari. Para investor yang punya uang mencari orang yang bisa mengelola uangnya
dengan jujur. Para pembeli ingin pedagang yang jujur. Kita tinggal tampil saja,
karena mungkin menjadi barang langka.
Ini kisah nyata. Ada sekelompok warga punya tanah menawarkan kepada kami
agar tanahnya dibeli. Tapi dari mana uangnya. Kemudian datang investor pada
kami. Mereka mencari pengelola yang amanah. Kemudian masyarakat juga ingin
membeli dari pengelola yang jujur. Akhirnya tanpa modal, tanah terbeli dan
setelah jadi, perumahan segera terjual habis.
Jadi yang mengherankan, kenapa masih ada orang yang tidak jujur?
Contoh lain, beberapa waktu yang lalu kita menyelenggarakan pelatihan. Ada
peserta yang ingin me – mark up anggaran pelatihan tersebut. Kita tegas – tegas
menolak. silakan mencari tempat pelatihan lain, kita tidak kurang peserta.
Antriannya bertahun – tahun. Kita juga punya hotel yang ternyata bookingnya
sampai 3 – 4 bulan.
Dari contoh – contoh tersebut, menjadi aneh kenapa harus tidak jujur?
Tidak jujur itu karena kurang iman.
Kalau sudah yakin rezeki dari Allah, kenapa kita tidak jujur.
Nabi Muhammad telah memberikan teladan dalam bisnis semasa hidupnya
dengan julukan Al Amien. Al Amien itu komponennya tiga :
Pertama jujur terpercaya, tidak pernah bohong sekecil apapun.
Kedua, Sigma kepuasan, jadi ketemu puas bicara puas, terus menerus
memberikan kepuasan, semakin banyak titik kepuasan itu orang tersebut semakin
credible
Ketiga, inovatif dan solutif. Kalau orang terus meng – upgrade dirinya dan terus
menerus berinovasi, serta menjadi solusi, dia akan menjadi credible.
Orang yang tidak jujur, tidak memuaskan, tidak punya inovasi dia akan terkubur.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 13 dari 48
THE 10 CREDOS OF
COMPASSIONATE
MARKETING
Oleh : Hermawan Kartajaya
“CAN YOU PRACTICE WHAT YOU PREACH, AND
WOULD YOU TURN THE OTHER CHEEK?”
WHERE IS THE LOVE, BLACK EYED PEAS
***
Saya merasa terhormat ketika diundang untuk berceramah bersama dengan KH
Abdullah Gymnastiar. Bagi saya, Aa Gym adalah asset nasional. Dan kalau orang
di seluruh dunia tahu, sebetulnya Aa Gym sudah merupakan asset dunia.
Karena itu ketika saya mendapat undangan untuk mengisi ceramah bersama Aa
Gym, saya langsung membentuk tim di MarkPlus&Co yang terdiri dari teman –
teman Muslim. Saya minta mereka mempelajari buku – buku Aa Gym,
berkonsultasi dengan pakar bisnis Islam, dan mempelajari kitab suci untuk
memperkaya konsep yang sedang saya kembangkan.
Inilah konsep Compassionate Marketing yang pertama kali saya share bersama
Aa Gym di Bandung beberapa waktu yang lalu.
Saya melihat, dengan berkembangnya IT yang semakin meningkat, informasi
semakin banyak, ternyata orang menjadi semakin bingung. Tidak seperti yang
dulu diharapkan, kalau informasi semakin banyak, kita semakin pasti. Akibatnya,
sekarang orang lebih membutuhkan spiritualitas dari pada dulu.
Dalam pikiran saya ada tiga era perkembangan spiritual.
Era pertama ketika orang melakukan polaris, antara spiritual itu sendiri dan
bisnis. Saya masih ingat ada salah satu bos yang tidak perlu saya sebutkan
namanya. Dia adalah salah satu bos besar dalam bisnis di Indonesia. Bos ini
mengatakan pada saya “Hermawan, kalau kamu mau berbisnis jangan berpikir
soal agama. Bisnismu itu di kiri, agama itu di kanan. Kalau kamu mau mendalami
agama, pelajarilah betul – betul, jadilah kiai, jadilah pendeta, jadilah biarawan.”
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 14 dari 48
Inilah yang saya sebut sebagai era pertama ketika orang benar- benar memisahkan
antara urusan spiritual dengan urusan bisnis.
Kemudian muncul era kedua, yang dimulai ketika keadaan makin tidak menentu.
Ketika lanskap bisnis semakin berubah terus, tidak stabil, orang mulai bingung,
orang mulai melakukan yang namanya balancing. Mereka berbisnis dengan cara
dunia, mereka tidak segan – segan meminta – minta, berkolusi ataupun melakukan
tindakan – tindakan yang tidak etis. Tidak malu – malu, karena pada umumnya
semua pebisnis melakukan hal seperti itu. Bahkan kalau pebisnis tidak melakukan
hal seperti itu, mereka dianggap bukan pebisnis.
Namun ada sejumlah pebisnis yang menyumbangkan sebagian hasil binisnya yang
dilakukan secara kurang etis tersebut untuk kepentingan spiritual. Jadi semacam
Robin Hood. Di era tersebut orang akan berpikir, saya binisnya boleh menyuap,
boleh menerima hasil korupsi asal uangnya disumbangkan lagi untuk kegiatan –
kegiatan kemanusian, social dan keagamaan.
Saya melihatnya era ini sudah berlalu. kita mesti masuk pada era ketiga, bukan
lagi era balancing tetapi masuk pada era integration. Menurut pendapat saya
sekarang sudah tiba saatnya, bahwa kita harus melakukan 100% bisnis, 100%
spiritual.
Jadi tidak perlu lagi ada polarisasi : kalau saya berbisnis, tidak perlu spiritualitas,
kalau saya mandalami spiritualitas, tidak boleh lagi berbisnis. Atau dengan cara
kedua, balancing, saya berbisnis dengan cara yang tidak spiritual. Boleh korupsi
asal hasilnya saya sumbangkan untuk kegiatan spiritual.
Menurut saya, sekarang the ultimate stage adalah stage ketiga. Kita bisa
melakukan 100% bisnis dan spiritual sekaligus. Dan kalau kita persempit dalam
dunia marketing, orang akan bertanya – Tanya, apa bisa kita menjalankan 100%
marketing 100% spiritual?
Keraguan ini muncul karena banyak orang salah mengerti, yang dimaksud dengan
marketing hanyalah selling. Dan kebanyakan salesman adalah orang yang omong
besar dan manis. Yang dijanjikan seperti ini, tapi yang diserahkan bukan itu. Hal
ini membuat banyak orang salah mengerti. Marketing diidentikkan dengan selling.
Sedangkan selling itu diidentikkan dengan cheating. Ini yang keliru!
Kalau kita telusuri lebih mendalam akar – akar marketing yang sebenarnya, saya
menemukan sepuluh hal yang saya pikir sama sekali tidak boleh dipertentangkan,
bahkan tidak boleh diseimbangkan, tetapi harus diintegrasikan dengan nilai – nilai
spiritual. Dari telusuran saya bersam tim, ternyata di dalam Kitab Suci dan Hadist
banyak sekali ditemukan nilai – nilai spiritual dalam bisnis. Perkenankanlah saya
untuk mengutarakan konsep “The 10 Credos of Compassionate Marketing”
berikut ini satu per satu, mudah – mudahan ada inspirasi untuk kita semua.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 15 dari 48
PRINSIP # 1
LOVE YOUR CUSTOMER,
RESPECT YOUR COMPETITOR
Cintailah pelanggan Anda, dan hormatlah pada competitor Anda. Tim saya
menemukan ada disuatu hadist: “Allah tidak akan berbelas kasih pada seseorang
bila ia tidak mengasihi sesamanya,” Hadist riwayat Bukhari, dan Thabrani. Dan
tim saya juga menemukan suatu quotation, “Dan janganlah sekali – sekali
kebencianmu terhadap kamu untuk berlaku tidak adil,” Al Qur’an surat Al Maidah
: 8
Aa Gym sudah jelas mengatakan, mengapa harus takut bersaing? Bersaing itu
bagus. Kalau tidak ada lawannya kita selalu menjadi juara, tapi apa artinya juara?
Bagi orang marketing kita harus melihat hal – hal sebagai berikut :
Pertama, competitor akan memperbesar pasar, sebab tanpa competitor industri
tidak akan berkembang. Sebagai contoh, orang yang menjual martabak di suatu
tempat, kalau tidak ada orang yang menjual martabak di sebelah – sebelahnya,
maka pasar permartabakan mungkin tidak akan besar. Jadi your competitor will
increase your market.
Kedua, competitor Anda sebetulnya perlu dibenchmark, mana yang bagus dan
mana yang jelek. Yang bagus harus ditiru, namanya benchmarking. Dalam istilah
manajemen, mempelajari competitor itu tidak ada yang salah, malah dianjurkan.
Ketiga, kalau Anda tahu competitor Anda melakukan strategi, barangkali belum
tentu Anda harus meniru dia. Ada yang perlu ditiru, tapi justru ada yang harus
dilakukan diferensiasi, yakni dengan menciptakan hal yang berbeda dengan apa
yang telah dimiliki oleh competitor.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 16 dari 48
PRINSIP # 2
BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO
TRANSFORM
Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.
Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi. Globalisasi dan
teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar. Kalau kita tidak sensitive dan
tidak cepat – cepat mengubah diri, maka kita akan habis. Tim saya menemukan,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka akan
mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri,” Al Qur’an Surat Ar – Ra’d :
11.
Dan saya ingat cerita yang indah Nabi Nuh yang dibisiki Tuhan bahwa akan ada
banjir besar, tapi Nabi adalah orang yang sensitif. Lalu Nabi Nuh membuat kapal.
Kita bukan Nabi, tidak munngkin Tuhan itu dengan gampang membisiki kita
kalau kita tidak sangat dekat dengan Tuhan. Karena itu kita harus mendekatkan
diri pada Tuhan secara terus menerus mengasah sensitifitas terhadap perubahan,
sehingga kita lebih siap menghadapi persaingan.
PRINSIP # 3
GUARD YOUR NAME, BE CLEAR AND
WHO YOUR ARE
Aa Gym sebelumnya telah mengatakan dengan jelas tentang pentingnya menjaga
nama baik. Menjadi koruptor termasuk orang yang tidak bisa menjaga nama baik.
padahal di dalam marketing diajarkan, “brand name is every thing”. Seringkali
orang membeli barang yang brand name bagus, walaupun secara kualitas, barang
tersebut sama dengan yang lain. Guard your name be clear of who your are.
Tim saya melihat, menyelidiki, dan memaparkan kepada saya bahwa sebelum
diangkat menjadi rasul, profesi Nabi adalah berdagang yang dia lakukan sejak
usia 12 tahun. Dalam berdagang Nabi dikenal jujur sehingga mendapat julukan Al
Amien. Mister Clean, Mister Trusty. Jadi dengan demikian Nabi Muhammad
sudah memberikan contoh, bahwa positioning dan diferensiasinya berbeda
dibanding dengan pedagang – pedagang lain.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 17 dari 48
PRINSIP # 4
CUSTOMER ARE DIFFERS, GO FIRST TO WHOM
REALLY NEED YOU
Sebetulnya ini adalah prinsip segmentation. Anda tidak perlu pergi ke semua
orang yang businessman, tetapi pergilah ke orang yang betul – betul
membutuhkan Anda. Tim saya menemukan ayat : “Hai manusia sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan perempuan, dan menjadikan
kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku, supaya saling kenal mengenal,” Al-
Qur’an Surat Al Hujuraat : 13
Jadi kita berbisnis harus menentukan siapa target pasar kita. Be honest kalau Anda
tidak bisa melayani suatu segmen karena Anda tidak mampu, jangan masuk ke
situ. Layanilah orang – orang yang betul – betul menjadi priority target market
Anda.
PRINSIP # 5
ALLWAYS OFFER GOOD PACKAGE AT A FAIR PRICE
Dalam prinsip ini, kita tidak boleh menjual barang jelek dengan harga yang tinggi,
Sekali lagi tim saya menemukan kata – kata yang sangat bagus sekali, “Tidak
dihalalkan bagi seorang muslim menjual barang yang cacat, kecuali ia
memberitahukannya,” Hadist Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hanbal.
Saya juga membaca sendiri cerita di mana Nabi Muhammad menemukan ada
seorang pedagang menjual jagung basah yang ditaruh tersembunyi. Nabi
menyuruh pedagang itu menaruh jagung tersebut di luar supaya orang tahu kalau
jagung itu basah.
Dan karena itu saya pikir, marketing yang benar adalah marketing yang fair, di
mana harga dan produk harus sesuai. Kalau kita menipu orang dengan
memberikan produk yang jelek lama – lama akan ketahuan dan akhirnya kita akan
ditinggalkan orang. Nabi sudah mengajarkan itu sejak dulu ketika beliau masih
menjadi seorang pedagang.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 18 dari 48
PRINSINP # 6
ALWAYS MAKE YOURSELF AVAILABLE, AND
SPREAD THE GOOD NEWS
Pada dasarnya, marketing harus menyebarkan kabar gembira, tapi kabar gembira
yang baik. Tim saya menemukan suatu kata – kata yang bagus, “Ketika
Rasulullah mengutus sahabatnya untuk menyelesaikan suatu urusan, beliau akan
bersabda, sampaikanlah kabar gembira dan janganlah menakut – nakuti, serta
permudahlah jangan mempersulit,” Hadist riwayat Abu Musa ra. Tim saya juga
menambahkan, pada Al Qur’an terdapat ayat : “Dan tiadalah Kami mengutus
kamu melainkan rahmat bagi semesta alam,” Al Qur’an surat Al Anbiyaa : 107.
Bagi saya, marketing adalah good news. Anda jangan menjual dengan menodong,
janganlah menjual dengan surat rekomendasi. Kalau Anda melakukan monopoli,
atau mendapatkan proyek dengan surat rekomendasi pejabat, ya mereka akan
membeli tapi Karena todongan. Dan yakinlah, hal itu tidak akan bertahan lama.
PRINSIP # 7
GET YOUR CUTOMER, KEEP, AND GROW THEM
Sekali Anda mendapatkan pelanggan, peliharalah hubungan yang baik dengan
mereka. Anda harus memastikan bahwa mereka selalu puas dengan layanan yang
Anda berikan, sehingga mereka menjadi loyal kepada Anda. Ini yang namanya
keep the customer. Keep the customer saja tidak cukup, seterusnya Anda juga
harus grow the customer. Artinya, Anda harus meningkatkan value yang Anda
tawarkan sehingga pelanggan berkembang, maka otomatis value yang Anda
terima dari mereka juga akan berkembang.
Tim saya menemukan kata – kata yang juga sering dikutip oleh Aa Gym :
“Barang siapa ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka
hendaklah dia bersilahturahmi,” Hadist riwayat Muttafaqun Alaih. Itu yang
dinamakan customer relationship marketing atau apa yang kita sebut CRM.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 19 dari 48
PRINSIP # 8
WHATEVER YOUR BUSINESS, IT IS A SERVICE
BUSINESS
Service business bukan hanya diterapkan pada bisnis hotel. Service business
bukan hanya diterapkan pada bisnis retoran, tapi what ever your business Anda
harus mempunyai jiwa melayani pelanggan.
Tim saya menemukan lagi : “Karena tangan yang di atas atau yang memberi lebih
utama dari tangan yang dibawah, atau yang menerima. Dan mulailah dengan
orang yang kau tanggung,” Hadist riwayat Abu Hurairah ra. di dalam marketing,
customer satisfaction Anda tidak melakukan marketing.
PRINSIP # 9
ALWAYS REFINE YOUR BUSINESS PROCESS
IN TERM OF QUALITY, COST, AND DELIVERY
Tugas sebagai marketer adalah untuk selalu meningkatkan QCD : Quality, Cost,
and Delivery. Kasihan pelanggan kalau kita memberikan barang yang rongsokan.
Tim saya menemukan : “Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta
pertanggungjawabannya,” Al Qur’an Surat Al Israa : 34. Saya membaca, di dalam
Islam, dilarang melakukan tadlis, yaitu penipuan. Dalam bisnis, penipuan itu
banyak macamnya, baik yang menyangkut kualitas, kuantitas, dan waktu
penyerahan serta harga.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 20 dari 48
PRINSIP # 10
GATHER RELEVANT INFORMATION, BUT USE
WISDOM IN FINAL DECISION
Prinsip ini mengingkatkan kita untuk terus menerus belajar, belajar, dan belajar.
Karena dunia ini berubah terus, Anda tidak bisa menjadi businessman, atau
seorang marketer yang hanya menggunakan pendekatan – pendekatan lama,
walaupun pendekatan itu dulunya bagus. Tapi sekarang, pendekatan – pendekatan
itu harus terus – menerus diubah atau diperbaharui.
Tim saya menemukan bahwa : “Allah akan meninggikan orang – orang yang
beriman di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat,” Al Qur’an surat Al Mujadalah : 11
Menurut tim saya, dalam hadist juga disebutkan bahwa,” Menuntut ilmu
hukumnya wajib bagi muslim”, Hadist riwayat Ibnu Majah dan Baihaki. Bahkan
Nabi pernah bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina.”

Saya belum berani mengatakan bahwa saya berbisnis dengan jujur itu karena
iman, karena saya merasa iman saya belum sekuat Aa gym. Tapi dalam bahasa
marketing, saya sering mengatakan begini kepada 140 orang anak buah saya,
MarkPlus&Co harus benar – benar menjadi konsultan yang mendapatkan proyek
tidak boleh menyuap.
Dan saya berani menjamin bahwa dalam mendapatkan klien, MarkPlus&Co selalu
mendapatkan proyek dengan bersih, termasuk di banyak BUMN. setiap saat saya
selalu menekankan pentingnya kejujuran. Kalau harus sampai kalah dalam tender,
tidak menjadi masalah, karena kita sudah berani bermain secara fair. Tetapi saya
belum berani mengatakan bahwa hal itu karena iman, tapi lebih karena apa yang
kita sebut sebagai diferensiasi.
Di dalam marketing kita mengatakan bahwa to be different is very important, jadi
jangan menjadi me too atau peniru. Sebetulnya ajaran marketing terbesar bukan
berarti berjualan dengan menipu. ajaran marketing terbesar adalah kenalilah
competitor Anda, dan jadilah different. Dan jagalah diferensiasi Anda kepada
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 21 dari 48
pelanggan sehingga mereka menghargai diferensiasi Anda. Dia membeli dengan
jujur. Dia membeli dengan senang.
MarkPlus&Co sudah dikenal barangkali karena sudah 15 tahun berkiprah di
Indonesia. MarkPlus&Co menjadi pioneer marketing sejak 15 tahun yang lalu,
ketika Pak Harto masih memiliki power. Saat itu tidak ada orang yang percaya
pada marketing, karena berbisnis itu gampang asal dekat dengan kekuasaan.
Tetapi kondisi persaingan telah membuat orang butuh marketing. Karena
MarkPlus&Co yang memulai terlebih dahulu, dari positioningnya jelas, tidak
boleh menyuap dalam bentuk apapun. Akhirnya semua orang tahu. Jadi orang
yang menghubungi kami sudah tahu, walaupun dia kepala proyek dia tidak bakal
mendapatkan apa – apa. Kalau dia menginginkan sesuatu dari proyeknya karena
kebetulan dia memegang anggaran besar, tak mungkin mereka minta dari kami.
Saya melihat tren dunia sebetulnya juga ke arah itu. Walupun mungkin terdapat
70% atau bahkan lebih orang yang melakukan bisnis dengan mengikuti arus. Di
dalam bisnis internasional, kita harus belajar dari kasus keterpurukan Enron.
Good corporate governance (GCG) saat ini sudah menjadi syarat mutlak
perusahaan, apalagi perusahaan public. Kalau perusahaan tidak menjalankan GCG
dengan bagus, tidak transparan kepada shareholder, main – main di belakang
dengan melakukan pembukuan ganda dan sebagainya, maka harga sahamnya akan
turun.
Dan pada waktu kami beberapa tahun yang lalu diminta membantu sebuah bank
syariah untuk merancang strategi marketingnya, ketika bank syariah untuk
pertama kalinya dibuka untuk umum, saya percaya bahwa bank syariah sesudah
momen krisis ini saatnya muncul. Hal ini mengingat positioning dari bank syariah
sebagai bank yang jujur, bank yang menerima simpanan orang tetapi diusahakan
secara jujur, dan keuntungan bersama.
Karena itu sekarang kita lihat di Indonesia bank syriah itu berkembeng dengan
pesat. Itu berkaitan dengan kebutuhan setiap orang untuk berhubungan dengan
bank – bank yang jujur. Jadi menurut keyakinan saya, sudah saatnya kita
melakukan bisnis dengan dilandasi semangat spiritual. Jadi 100% bisnis, 100%
spiritual, bukan balancing, bikan juga polaris, tetapi integrasi antara bisnis dan
spiritual.
Kalau kita betul – betul menjalankan integrasi, menjalankan bisnis kita dengan
cara jujur, secara iman mungkin seperti yang dikatakan Aa Gym, akan
mendapatkan rezeki dari Tuhan. Tetapi secara marketing benar, karena kita sedikit
dari sekian orang yang melakukan itu. Kita akan menjadi different, menjadi
semacam berlian dalam Lumpur.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 22 dari 48
Terakhir saya ingin menambahkan, bahwa semua topic yang menjadi tema Aa
Gym keyword-nya adalah hati. Hati yang bening hati yang bersih, karena hati
kelihatannya sudah banyak yang hilang untuk saat ini.
Dan itu bukan Cuma tren Indonesia atau tren agama – agama tertentu tapi saya
kira tren universal. Sehingga salah satu lagu yang menjadi hit di dunia
dinyanyikan oleh kelompok Black Eyed Peas, anak – anak muda dengan gaya
R&B berjudul “Where is the love.” Dimanakah cinta? Katanya, kebenaran masih
tersimpan di bawah karpet, jika kita tidak mengerti tentang kebenaran, maka kita
tidak akan pernah menemukan cinta.
Kebenaran, cinta dan moralitas, bermuara pada hati.
Mudah – mudahan kali ini Anda menemukan hati itu kembali.
Dan mulai berbisnis dengan hati.

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 23 dari 48
BAGIAN III
KOLOM
HERMAWAN KARTAJAYA
MENGENAI
COMPASSIONATE
MARKETING
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 24 dari 48
PENGUTIL KERAH PUTIH
DAN MASA DEPAN
CORPORATE GOVERNANCE
Awalnya, stock option diciptakan dengan tujuan yang sangat indah dan mulia.
Intinya, manajer dan eksekutif perusahaan diberi opsi kepemilikan saham yang
nyaris risk – free untuk jangka waktu tertentu; opsi itu bisa di exercise ketika,
misalnya, harga saham tersebut sedang bagus.
Tujuannya apa? Tujuan mulianya adalah agar si eksekutif bisa bertindak layaknya
pemilik alias shareholder. Dengan demikian, akan terwujud “company of
owners”. Karena eksekutif bertindak layaknya pemilik, maka misi utama eksekutif
akan sama dan sebangun dengan misi pemilik, yaitu value creation. Atau
gampangnya, setiap jengkal pikiran dan tindakan eksekutif akan selalu mengarah
ke duit, duit, dan duit. Wajar saja, karena misi utama perusahaan memang value
creation atau mesin duit
Namun tujuan yang begitu mulia itu menjadi amburadul ketika kita melihat
kenyataan skandal keuangan yang terjadi beruntun beberapa bulan terakhir. Kira –
kira dua minggu lalu saya membaca survey majalah Fortune Hasil survey.
Ini menarik sekaligus menyedihkan. Melalui survey ini, Fortune berhasil
mengungkapkan, di tengah – tengah bangkrut dan hancurnya perusahaan –
perusahaan seperti Enron, Qwest Communications, Global Crossing, Tyco,
WorldCom (sebut saja mereka, the America’s Losingest Companies), terdapat
segelintir eksekutif yang mengambil keuntungan, dan bisa dipastikan mereka
mendadak kaya raya tak hanya sekadar kaya raya, tapi amat sangat kaya raya.
Kenapa mereka kaya raya? Karena, mereka berhasil meng-exercise opsi saham
mereka di tingkat harga saat posisi perusahaan tersebut di Wall Street berada di
puncak – puncaknya. Kita tahu perusahaan – perusahaan macam Enron,
WorldCom. Qwest, atau Global Crossing adalah perusahaan balon (bubble
companies) yang dimasa jayanya begitu perkasa di Wall Street karena ditiup
sebesar – besarnya oleh eksekutif puncak mereka. Namanya saja perusahaan
balon, dari luar memang kelihatan gemuk, perkasa, dan molek, tapi sesungguhnya
dalamnya kosong melompong dan rapuh. Umumnya, para eksekutif menjual opsi
saham mereka saat harga di puncak – puncaknya, kira – kira detik – detik
menjelang balon mau meletus.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 25 dari 48
Keuntungan yang mereka raup nggak kepalang tanggung. Philip Anschultz,
Direktur Qwest Communication, meraup tak kurang dari US$2,26 miliar; Lou Pai,
Kepala Divisi Enron meraup US$994 juta; Gary Winnick, Chairman Global
Crossing meraup US$951 juta. Fortune menghitung total transaksi opsi saham ini
selama setahun terakhir di perusahaan balon yang nilai sahamnya terjun bebas
minimal 75%. Anda mau tahu berapa angka yang dihasilkan survey fortune?
sangat fantastis, sekitar US$66 Miliar atau kira – kira setengah GDP kita
Apa artinya ini? Artinya, ketika investor public di Wall Street menangis meraung
– raung atau bahkan bunuh diri karena 70%, 90%, atau seluruh hartanya ludes,
segelintir eksekutif ini berhasil meraup dana segar US$66 miliar. Ketika investor
public jatuh miskin, mereka menimbun kekayaan yang tak habis tujuh turunan.
Pertanyaannya, apa salah mereka meng – exercise opsi saham mereka saat harga
sedang bagus – bagusnya? Sama Sekali tak salah. Yang salah adalah, ketika
dengan sadar mereka “meniup” kinerja palsu dari perusahaan balon yang mereka
kelola, kemudian mempercantiknya, dan setelah cantik kemudian mereka
mengedarkannya ke investor public, si investor kepincut dan jatuh cinta setengah
mati, si investor kemudian berburu saham perusahaan tersebut, harga saham
meroket, dan akhirnya ketika saham berada di puncak, inilah kesempatan emas
bagi si eksekutif meraup kekayaan. Jadi masalah etik yang sangat serius di sini
adalah, si eksekutif tamak ini tahu persis bahkan sengaja menjual dagangan yang
tampak luarnya saja cantik molek, tapi dalamnya busuk penuh ulat.
Yang menarik, cara para eksekutif ini mempercanrik perusahaan balon. Mereka
membawanya ke salon dan me-makeup-nya habis – habisan : diluluri, dibedaki,
dilipstiki. Bagaimana cara mereka me-makeup? Pertama, melalui creative
accounting: kapitalisasi expense, transaksi off-balance sheet; transfer pricing ke
account – account yang merupakan “tax heaven area”, dan sebagainya. Kedua,
dengan mengundang konsultan top dunia untuk membikinkan cetak biru strategi
dan model bisnis yang solid, yang laku keras ketika dijual di Wall Street.
Dan ketiga, berkongkalikong dengan para analis dari perushaan investment bank
top dunia untuk meroketkan harga saham. Kita tahu para analis ini adalah orang
kuat di Wall Street. Merekalah sesungguhnya yang berkuasa mempengaruhi,
membentuk, dan menaikturunkan harga saham, melalui nasihat dan laporan riset
mereka kepada investor. Seharusnya nasihat dan laporan riset tersebut jujur dan
obyektif, tapi karena mereka dibayar, ya nasihat dan laporan riset itu kemudian
menjadi alat mereka untuk mendongkrak harga saham perusahaan balon di atas.
Kasus di atas adalah bagian kecil saja dari gambaran muram praktik corporate
governance. Kasus tersebut menunjukkan kepada kita betapa semakin tingginya
kompleksitas bisnis, semakin canggihnya tools manajemen bisnis, dan semakin
majunya perangkat regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktik corporate
governance semakin dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin
kebablasan tanpa etika, tanpa nilai – nilai moral, tanpa pegangan.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 26 dari 48
Karena itu, era pasca – Enron membutuhkan model perusahaan yang berbeda dari
masa – masa sebelumnya. Era ini membutuhkan tak hanya value – based
corporation, tapi juga values – based corporation. Yang pertama merupakan
model perusahaan yang fokusnya value creation alias cari duit, cari duit, dan cari
duit. Sementara yang kedua, fokusnya adalah nilai – nilai (values) moral dan etik.
Yang pertama akan menjadikan manajemen sebagai economic animal, sementara
yang kedua akan menjadikan manajemen sebagai etchical human. Alangkah
indahnya jika kedua model itu disintesiskan, karena dengan demikian perusahaan
tak akan keblinger seperti yang terjadi dalam kasus di atas.
(Ditulis oleh Yuswohady di majalah SWA. 24 Oktober – 4 November 2002)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 27 dari 48
GANJARAN BAGI YANG
MEMBOHONGI PELANGGAN
Selama tahun tahun 2002 lalu kita diguncang oleh peristiwa demi peristiwa
rontoknya perusahaan – perusahaan top dunia yang tak hanya disegani oleh para
pakar manajemen karena kesolidan model bisnisnya.
Enron, Worldcom, Kmart, Global Crossing dinyatakan bangkrut oleh pengadilan
karena salah strategi dan melakukan manipulasi akuntansi. Arthur Andersen seprti
mati suri karena diduga bersama – sama dengan beberapa perusahaan tersebut
melakukan rekayasa laporan keuangan. Perusahaan itu limbung karena hilangnya
kredibilitas. Kalau kredibilitas hilang, maka ekuitas merek mereka rontok, dan
matinya perusahaan – perusahaan tersebut tinggal tunggu waktu saja.
Yang kita lihat adalah, bahwa hanya beberapa hari sebelum perusahaan –
perusahaan tersebut limbung dan akhirnya bangkrut, mereka memiliki ekuitas
merek yang kuat, nahkan sangat – sangat kuat, Enron adalah raksasa energi yang
dimasa puncaknya pernah dihargai Wall Street lebih dari $60 miliar – kira – kira
separoh GDP Indonesia. Arthur Andersen adalah anggota Big Five perusahaan
akuntansi terkemuka dunia dengan klien – klien besar sekelas GE dan IBM.
Sementara dibawah kepemimpinan CEO-nya yang flamboyant Bernie Ebbers,
Worldcom adalah raksasa telekomunikasi global dengan reputasi mengagumkan.
Namun ekuitas merek yang begitu tinggi dan kokoh tersebut bisa habis hanya
dalam semalam. Ada semacam ledakan disruptive, layaknya ledakan sebuah bom
atom, yang mampu memusnahkan bangunan merek tuntas hingga ke akar –
akarnya.
Bagaimana tidak disruptive? Coba saja kita lihat indicator – indicator berikut :
Sebelumnya Enron pernah bernilai $50-an miliar, begitu skandal terkuak
perusahaan ini praktis tak punya nilai, sebelum akhirnya bangkrut.
Sebelum terkena skandal, harga saham Worldcom masih berkisar $60-an per
saham, namun hanya dalam ukuran jam nilai saham ini terjun bebas tinggal
beberapa sen; Andersen lain lagi, walaupun tak sampai ditutup, hanya dalam
beberapa hari ia ditinggalkan oleh lebih dari 170 klien loyalnya, termasuk
Colgate-Palmolive yang telah menjadi kliennya selama 80 tahun. Bisa saya
katakana, sebagai sebuah merek Andersen saat ini sudah mati karena “jantung”
operasinya, yaitu integritas dan kredibilitas, sudah tidak dimilikinya lagi.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 28 dari 48
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus ini? Yang kita lihat adalh bahwa
Enron, Worldcom dan Global Crossing mencoba membohongi pelanggannya
dengan memanipulasi dan menyembunyikan informasi keuangannya.
Siapa pelanggan Enron, Worldcom, dan Global Crossing dalam hal ini?
Tak lain adalah para investor di Wall Street. Mereka ini adalah para “investor
customer” yang menanam dananya ke perusahaan – perusahaan tersebut. (Ingat
kita memiliki tiga jenis pelanggan: “external customer” , “internal customer”
yaitu para karyawan, dan “investor customer” yang menanam dananya di
perusahaan)
Begitu semua kebohongan itu terungkap akhir 2002 lalu, maka apa yang
kemudian terjadi? Pelanggan di Wall Street ini marah besar, dan wajar saja kalau
kemudian mereka melakukan rush, menarik dananya. Hasilnya, harga saham
perusahaan tersebut terjun bebas, dan dalam hitungan jam menjadi hampir tak
bernilai sama sekali.
Itulah ganjaran bagi perusahaan yang berbohong kepada pelanggannya!!!!!
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 29 dari 48
BRAND GOES SPIRITUAL
Apa yang membedakan merek – merek terkemuka seperti Singapore Airlines,
Harley Davidson, The Body Shop, Hard Rock Café, Starbucks dengan merek –
merek lainnya?
Merek – merek diatas memiliki charisma. Sebuah merek yang kharismatik tidak
hanya mengandung unsure emosional, intelektual atau functional value saja.
Tetapi merek tersebut juga mengandung spiritual value yang menjadi pengikat
antara merek dengan customer-nya
Ini pulalah yang dikemukakan oleh sejumlah raksasa bisnis dunia pada Global
Brand Forum di Singapore tanggal 1 dan 2 Desember 2003 lalu. Saya hadir
langsung pada acara yang diorganisir oleh The Ogilvy Group dan International
Enterprise Singapore ini. Pesertanya sangat ramai, sekitar 700 pimpinan
perusahaan terkemuka dari seluruh dunia menghadiri acara tahunan ini.
Memang, di lanskap bisnis baru saat ini, merek bukan lagi tugas dan tanggung
jawab brand managers atau marketing managers semata. Namun sesungguhnya
tanggung jawab seorang CEO. Ingat keputusan yang keliru bisa merusak value
corporate secara keseluruhan.
Bagi para pemasar dan pebisnis, Global Brand Forum yang dilangsungkan tiap
tahun di Davos, Swiss. Sejumlah nama kondang menjadi pembicara di acara ini,
mulai dari Scott Bedbury, mantan chief marketing strategist di Nike dan
Starbucks sampai Tom Peters, yang disebut sebagai the “Ur-Guru” (gurunya guru)
bidang manajemen oleh majalah Fortune, hadir mengungkapkan pandangan –
pandangannya tentang isu kritis menyangkut masalah merek dan bisnis di masa
depan.
Menurut Tom Peters, produk adalah sejarah. Perusahaan harus memasarkannya ke
hati (consumer’s heart) bukan ke pikirannya (consumer’s mind). Branding
bukanlah mensosialisasikan karakter mengenai siapa sesungguhnya saya. Kata
Tom Peters, “Branding is about our story and why it’s persuasive. Emotion, after
all, is the one ability that cannot be automated.”
Sementara Ho Kwon Ping, Chairman dari Banyan Tree Group, yang juga menjadi
pembicara, mengatakan lain lagi, bahwa sebuah merek harus mengandung
universal values yang membuat pelanggan dan karyawan merasa bangga
diasosiasikan dengan merek itu. Kata Ho, “Consumers have grown cynical about
slick advertising and are drawn to brands with deeply held values.”
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 30 dari 48
Pembicara lainnya, Naryana Murthy, Chairman of Infosys Technologies,
mengatakan bahwa merek adalah “a mark of trust.” Kata Murthy, kalau Anda
mau menciptakan merek, maka Anda harus menciptakan trust, confort dan
confidence ke pelanggan Anda. Dan untuk melakukannya Anda harus
menciptakan relationship jangka panjang berdasarkan integritas, kejujuran,
moralitas terpuji.
Saya sendiri merasa sangat beruntung, karena bisa makan siang bersama dengan
dua pembicara lainnya, Anita Roddick, pendiri The Body Shop, dan Deepak
Chopra, mind body Guru dan penulis buku best-seller dunia. Saya terkesan
dengan ucapan Deepak Chopra,”Leaders who look only for external goals, such
as money, will fail.”
Nah dari deretan pembicara dan materi yang mereka sajikan, bisa kita lihat bahwa
konsep mereka sudah menuju ke spiritual. Merek yang kokoh bukan hanya lagi
merek yang berbeda dari yang lain, memberikan value unggul, dan memberikan
kualitas nomor satu kepada pelanggan, namun juga harus mampu memberikan dan
memancarkan spiritual values kepada semua pihak, terutama pelanggan dan
karyawan.
Spiritual brand bukan bermakna merek yang berhubungan dengan agama. Bukan,
bukan itu. Mirip dengan yang dikatakan Murthy, spiritual brand artinya merek
yang berhasil membangun dirinya dengan penuh integritas, kejujuran dan estetika.
Merek dengan spiritual values inilah yang disebut spiritual brand.
Tentu saja, membangun spiritual brand membutuhkan waktu yang lama dan
upaya yang konsisten. Serangkain skandal keuangan yang terjadi di Amerika
Serikat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa merek yang sangat
kokoh seperti Enron bisa hancur dalam sekejap jika tidak menerapkan good
corporate governance dan business ethics dalam perusahaan itu. Kedua hal –
inilah good corporate governance dan business ethics – yang merupakan fondasi
utama dalam pembangunan spiritual brands.
Spiritual values harus benar – benar dihayati oleh seluruh karyawan yang terlibat
dalam proses brand building. Spiritual values harus menjadi kultur perusahaan.
Tugas top executive-lah – terutama CEO – untuk mengkomunikasikan spiritual
values yang dianut perusahaan kepada seluruh karyawan. Sppritual brands tidak
akan berbentuk jika spiritual values yang telah ditetapkan tidak “dibeli” terlebih
dahulu oleh seluruh karyawan (istilah karennya adalah: selling the brand inside).
pada akhirnya, spiritual brand mampu mebuat pelanggannya menjadi sangat
percaya kepada merek itu. Pelanggan ini tidak akan lagi melihat offering dari
merek itu. Secara otomatis, apapun yang ditawarkan akan dibelinya. Tidak heran
jika para pelanggan ini juga mau membayar dengan harga premium untuk
spiritual brands ini. Anda bisa lihat, harga secangkir kopi Starbucks atau tiket
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 31 dari 48
penerbangan Singapore Airlines misalnya, bisa beberapa kali lipat di atas para
pemain lain.
Pelanggan jenis ini juga akan mendukung upaya apapun yang dilakukan spiritual
brands itu. Bahkan jika ada yang mengkritik, pelanggan inilah yang akan maju
membela merek itu tanpa diminta. Inilah yang saya sebut sebagai spiritual
advocate customers. Pelanggan seperti inilah yang diidam – idamkan oleh seluruh
perusahaan, karena mereka merupakan pelanggan loyal kita seumur hidup.
(Dimuat di Asia Inc. edisi Maret 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 32 dari 48
POSITIONING
ADALAH JANJI
Dalam buku saya terbaru Marketing in Venus, saya menulis bahwa pelanggan
semakin lama menjadi semakin emosional layaknya wanita. Saya menulis di situ
bahwa dalam hal kejujuran, trust, dan kepercayaan karakteristik pelanggan di
Venus ini sudah mirip dengan wanita. Kita tahu bahwa wanita itu paling
menghargai yang namanya trust dan kepercayaan. Begitu ia tidak percaya kepada
Anda karena barangkali Anda bohong kepadanya, maka sampai kapanpun ia tak
akan mempercayai Anda. Akan sulit sekali Anda melakukan recovery untuk
memulihkan kepercayaannya.
Suatu kali Shakepeare, pujangga kenamaan Inggris, pernah memperingatkan agar
jangan sekali – kali kita membohongi wanita. Kenapa? Karena sekali Anda
membohongi wanita maka selamanya ia tak akan mempercayai Anda. Dan tak
hanya itu, ia juaga akan marah besar dan bahkan menjadikan Anda musuh tak
termaafkan. “Hell hathno fury like a woman scorned,” kata Sang Pujangga.
Karena itu dalam buku tersebut pun tegas saya mengatakan, “Jangan sekali – kali
Anda membohongi pelanggan Venus!!!!” Sekali saja Anda ketahuan membohongi
pelanggan Venus, untuk selamanya mereka akan meninggalkan Anda. Dan ingat!
Memusuhi Anda selamanya. Anda jangan berpikir bahwa pelanggan Venus itu
maksudnya pelanggan dari planet Venus nun jauh di sana. Pelanggan Venus itu ya
pelanggan yang sehari – hari kita hadapi. Pelanggan yang karena pengaruh
teknologi informasi menjadi semakin emosional dan sensitive terhadap value yang
Anda berikan.
Di dunia yang semakin emosional (“Dunia Venus”) tersebut Anda harus ekstra
hati – hati. Kenapa? Karena pelanggan Venus memiliki “indra keenam”, semacam
kemampuan “supranatural” yang memungkinkan mereka mengetahui apakah
Anda bohong atau tidak. Bukan melalui dari kata – kata, tapi terutama suara,
ekpresi wajah, dan bahasa tubuh Anda.
Anda barangkali tidak tahu bahwa dalam komunikasi face to face, ucapan dan
kata – kata hanya 7 – 10 persen saja menerangkan informasi yang Anda
sampaikan kepada orang lain. Sekitar 20 – 30 persen diterangkan oleh sinyal –
sinyal non verbal, apakah itu roman muka, gerak mata, atau bahasa tubuh yang
lain. Dengan kemampuan alat sensor yang canggih di otak pelanggan Venus bisa
menangkap dan menganalisa informasi ini, baik verbal maupun nonverbal, dengan
sangat baik.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 33 dari 48
Apa ini artinya? Artinya, pelanggan Venus akan tahu kalau Anda berbohong
katakan Anda mengatakan A padahal yang sesungguhnya B, Atau bilang mangga
yang Anda jual manis – manis padahal didalamnya banyak ulatnya. Mereka akan
tahu bukan dari perkataan Anda, tapi dari sinyal – sinyal nonverbal apakah itu
roman muka, emosi ataupun gerak mata Anda.
Artinya lagi, Anda tidak boleh main – main membohongi pelanggan Venus.
Serapi apapun Anda menyembunyikan kebohongan Anda, pada akhirnya mereka
akan mampu mengungkapkanya.
Sejak lebih dari sepuluh tahun lalu saat saya mengeluarkan model saya yang
pertama, Marketing Plus 2000, Saya sudah mengatakan bahwa positioning adalah
janji :
Kalau Dell mengatakan positioningnya adalah, “The world’s most customerfocused
comuter company,” maka sesungguhnya Dell mengumbar janji kepada
seluruh pelanggannya bahwa ia adalah perusahaan computer yang paling peduli
dengan pelanggannya.
Kalau BCA mengatakan positioningnya diwakili oleh satu kata “convenience”
maka sesungguhnya ia berjanji bahwa pelanggan akan mendapatkan seribu
kemudahan dari layanan – layanan BCA apakah iu layanan ATM, Klik BCA,
Mobile Banking, hingga kartu debit dan kredit.
Kalau Kijang memposisikan diri sebagai “Mobil Keluarga” maka sesungguhnya ia
sedang berjanji kepada semua keluarga di Indonesia bahwa mereka tak perlu
punya dua atau tiga mibil di rumah, karena hanya dengan satu Kijang, bapak-ibu,
anak-anak, kakek-nenek, teteh, bisa terangkut kalau mau liburan di Puncak.
Namanya saja janji, maka Anda harus memenuhinya. Tidak boleh tidak!
Kalau Dell mengatakan dirinya perusahaan computer yang paling focus ke
pelanggan maka ia harus paling peduli kepada pelanggan di banding raksasa
computer yang lain. Kalau BCA mengatakan dirinya adalah “convenience” maka
ia tak boleh membiarkan nasabahnya antri bermeter-meter di depan mesin ATMnya.
Kalau Kijang menyebut dirinya mobil keluarga maka ia harus mampu
menciptakan mobil yang pas untuk keluarga Indonesia. Kalau Anda janji ke
pelanggan untuk memberikan A, maka Anda harus meberikan A, tak boleh B atau
C.
Positioning adalah pertaruhan Anda ke pelanggan. Begitu Anda meleset
memenuhinya, maka habislah Anda. Begitu Anda ketahuan ingkar janji, maka
sesungguhnya nyawa merek Anda tinggal 5 Persen.
Dulu di Bumi yang pelanggannya rasional, barangkali nyawa Anda masih 20 atau
30 persen. Namun kini di Venus yang pelanggannya sangat emosional nyawa
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 34 dari 48
merek Anda betul – betul tinggal lima persen, atau barangkali malah habis sama
sekali.
Kenapa?
Karena seperti kata Shakespeare tadi, pelanggan Venus tak hanya meninggalkan
merek Anda untuk selama – lamanya, tapi jauh lebih buruk dari itu, memusuhi
merek Anda untuk selama – lamanya.
Dan ingat!!!
Pelanggan Venus paling suka ngobrol, bercerita, dan berbagi rasa dengan
sesamanya. Begitu seorang pelanggan Venus memproklamirkan bahwa merek
Anda menjadi musuhnya, maka ia akan cerita ke semua orang keburukan –
keburukannya. Ia akan menjadi advocator Anda – bukan advocator yang baik, tapi
advocator yang membawa merek Anda ke jurang kehancuran.
Karena itu saran saya : Jangan sekali kali janji kepada mereka kalau Anda masih
ragu – ragu untuk bisa memenuhinya. Lebih baik Anda bersabar untuk memenuhi
dulu apa – apa saja yang akan Anda janjikan. Begitu seratus duapuluh lima persen
Anda yakin mampu memenuhinya, pada saat itulah Anda boleh mengatakan janji
Anda dan tidak seharusnya mengatakan janji Anda ke pelanggan Venus bukanlah
persoalan kecil dan sepele. Itu adalah persoalan sangat – sangat besar, karena akan
menentukan mati – hidupnya merek Anda.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 35 dari 48
AA GYM :
THE SPIRITUAL
MARKETER
Saya pertama kali bertemu Aa Gym pada September 2003 lalu. Sebelumnya, saya
memang sudah sering membaca berbagai tulisan tentangnya dan sesekali
menonton acaranya di berbagai media massa. Staf dan klien saya pun sering
membicarakan sosok yang satu ini. Makanya saya jadi penasaran seperti apakah
Aa Gym ini in person?
Nah, waktu kebetulan saya ada di Bandung, saya langsung saja berkunjung ke
Pesantren Daarut Tauhiid yang diasuh oleh Aa Gym. Bersama beberapa staf saya,
kami disambut dengan sangat ramah dan hangat oleh Aa gym beserta para
santrinya. Kami pun lalu ngobrol banyak tentang berbagai hal. Salah satunya yang
membuat saya terkesan adalah pandangan Aa Gym tentang bisnis dan
kewirausahaan.
Memang saya saksikan sendiri, Pesantren Daarut Tauhid ini berbeda dari
bayangan saya semula. Pesantren ini membaur dengan masyarakat sekitarnya,
tidak ada tembok ataupun gerbang yang membatasi lingkungan pesantren. Para
santri tinggal dirumah – rumah penduduk sekitar. Mereka pun memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan membeli berbagai barang dari penduduk sekitar itu.
Maka, dengan sendirinya, ekonomi masyarakat pun akan tumbuh dan mampu
memicu semangat kewirausahaan di sekitar wilayah itu.
Aa Gym ngomong kalau ia selalu menekankan kepada setiap orang agar mampu
menumbuhkan semangat wirausaha. Orang akan lebih memiliki rasa percaya diri
dan kehormatan jika mampu menjaga diri dari meminta – minta. Selain itu, Aa
Gym juga berpandangan bahwa dalam berbisnis pun niat dan caranya lah yang
paling penting. Niat kita haruslah bersih, caranya pun haruslah benar.
Saya nilai, dari sisi pemasaran, apa yang dilakukan oleh Aa Gym inilah yang saya
sebut sebagai spiritual marketing. Spiritual marketing bukan berarti bahwa kita
melakukan bisnis yang berhubungan dengan agama, yang berhubungan dengan
perangkat ibadah misalnya. Spiritual marketing berarti kita mampu memberikan
kebahagian kepada setiap orang yang terlibat dalam berbisnis, baik diri kita
maupun orang lain seperti pelanggan, pemasok, distributor, dan bahkan para
pesaing kita. Kita harus mencintai pelanggan dan sekaligus juga menghargai para
pesaing kita.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 36 dari 48
Nah, walaupun kita bergerak dalam bisnis yang berhubungan dengan agama,
namun jika tidak mampu memberikan kebahagian kepada semua pihak, berarti
kita belum melaksanakan spiritual marketing. Sebaliknya, jika dalam berbisnis
kita sudah mampu memberikan kebahagian ini, pada dasarnya kita sudah
menjalankan spiritual marketing, apapun bidang bisnis yang kita geluti.
Mungkin timbul pertanyaan, lho, kok bisa kita ikut membahagiakan para pesaing?
Bagi saya, persaingan itu baik, karena persaingan turut, membesarkan pasar. Jika
kita sukses, berarti permintaan pasar terhadap penawaran kita juga membesar.
Tentu saja kita memiliki keterbatasan – keterbatasan, sehingga tidak semua
permintaan yang ada dapat kita penuhi. Nah, permintaan pasar inilah yang
nantinya akan dipenuhi oleh para pesaing kita.
Selain itu, kita juga dapat belajar sesuatu dari para pesaing kita itu untuk
memperbaiki diri kita sendiri. Persaingan memberikan kita inspirasi dan semangat
untuk terus berusaha. Maka, pada akhirnya, terjadilah hubungan yang saling
menguntungkan antara kita dengan para pesaing.
Begitu pula dengan pelanggan. Jika pelanggan sudah sangat percaya kepada kita,
ia akan menjadi seseorang yang saya sebut Spiritual advocate. Ia bukan hanya
akan membeli produk atau servis yang kita tawarkan. Lebih jauh, ia akan
mendukung usaha apapun yang kita lakukan. Bahkan, jika ada yang mengkritik
kita, orang inilah yang akan maju membela kita tanpa diminta.
Bagi saya, pemasaran itu memiliki tiga dimensi, yaitu Strategy, Tactic, dan Value.
Strategy berorientasi pada cara memenangkan long – term mind share di benak
pelanggan. Tactic berorientasi pada short – term market share. Sedangkan Value
berorientasi pada lifetime heart – share. Nah, spiritual advocade inilah yang akan
kita dapatkan jika kita sudah mampu memenangkan lifetime heart – share.
Sikap empati kepada orang lain – baik pelanggan maupun pesaing – inilah yang
harus kita miliki. Kita harus selalu mencoba untuk menempatkan diri pada situasi
yang dialami orang tersebut. Kita pun harus memperlakukan mereka seperti
layaknya kita ingin diperlakukan oleh mereka. Jika kita tidak ingin membeli
produk yang kelihatannya bagus namun ternyata berkualitas buruk, tentunya kita
tidak boleh melakukan hal yang sama kepada pelanggan kita.
Memang, bagi sebagian orang, pemasaran itu masih sering disalah artikan.
Pemasaran sering disamakan dengan membujuk pelanggan atau konsumen.
Marketing is cheating, demikian anggapan sebagian orang. Namun, bagi saya,
marketing is not cheating. Marketing is about how to get customer and grow them
with your business.
Saat ini, pelanggan menjadi semakin pintar sekaligus emosional. Emosi adalah
pintu masuk bagi pelanggan. Mereka harus merasa enak (feel good) dulu dan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 37 dari 48
sesudah itu mereka akan tetap ‘menyaring’ informasi yang masuk dengan
menggunakan rasionya. Jika secara emosional sudah tidak terbangun minat dalam
diri pelanggan, maka produk atau jasa yang kita tawarkan nantinya tidak akan
dapat masuk ke hati mereka.
Konsumen sekarang cenderung menggunakan EQ-nya dulu dan setelah itu baru
IQ-nya. Bahkan pada akhirnya mereka juga akan menggunakan SQ-nya.
Konsumen akan mempertimbangkan kesesuaian produk dan jasa terhadap nilai –
nilai spiritual yang diyakininya. Pemasaran itu bukan sekadar penjualan, tetapi
membuat pelanggan selalu berpikir tentang kita, membuat pelanggan jatuh cinta
kepada kita.
Sebelum jatuh cinta, tentunya kita harus membuat orang itu percaya kepada kita
terlebih dahulu. Kepercayaan orang adalah fondasi dasar dalam berbisnis.
Semakin orang itu percaya kepada kita, maka semakin mereka bersedia
menyerahkan segalanya kepada kita. Karena itu, di tengah – tengah era yang
semakin tidak pasti saat ini, integritas justru semakin meragukan banyak hal,
maka kecakapan, profesionalitas, dan yang terpenting, kejujuran, akan menjadi hal
– hal yang makin dibutuhkan.
Banyak orang berpendapat, bagaimana bisa berwirausaha, lha wong modalnya
sendiri tidak ada. Bagi saya, seperti yang sudah saya lihat sendiri pada diri Aa
Gym, modal pertama dan terbesar bukanlah materi, bukanlah uang atau harta –
benda, namun semangat dan keyakinan.
Begitu juga bicara masalah keuntungan. Banyak yang merasa bahwa menjadi
wirausahawan pendapatannya lebih kecil daripada pekerja kantoran misalnya.
Sekali lagi saya nyatakan, makna keuntungan (profit) di era spiritual marketing
bukanlah uang, harta, atau jabatan semata. Yang lebih penting adalah timbulnya
rasa kebahagiaan, rasa kedamaian dalam diri. Inilah jugalah yang saya lihat pada
diri Aa Gym. Walaupun sudah sangat sukses seperti sekarang ini, ia tidak memilih
hidup bermewah diri. Ia lebih merasa bahagia dengan hidupnya yang bersahaja
serta terus – menerus memimpin para santrinya untuk juga bersikap serupa
dengannya.
Memang, spiritual marketing bertujuan untuk mencapai sebuah solusi yang adil
dan transparan bagi semua pihak yang terlibat. Tidak akan ada pihak yang merasa
dirugikan. Tidak akan ada pula pihak yang berburuk sangka. Nilai – nilai spiritual
dalam berbisnis ini juga akan mampu memperbaiki inner – side kita. Sebaliknya,
semakin spiritual seseorang, ia pun akan lebih mampu menjalankan bisnisnya
dengan lebih tenang dan dicintai oleh semua pihak.
Aa Gym bukan hanya sekedar memberikan teori, tetapi ia pun telah
mempraktikkannya dan terbukti sangat sukses.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 38 dari 48
Maka, rasanya tidak salah kalau saya menjuluki Aa Gym sebagai seorang spiritual
marketer. Ia merupakan contoh paling nyata dan sempurna dari pelaksanaan
spiritual marketing. Mudah – mudahan akan muncul semakin banyak lagi spiritual
marketer – spiritual marketer Indonesia di masa depan, mengikuti jejak Aa Gym.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 39 dari 48
LIFE WITH A MISSION
Beberapa waktu lalu, saya terbang naik Garuda Indonesia dari Singapura ke
Jakarta. Selama penerbangan, saya dilayani oleh seorang pramugari cantik.
Namanya Dewi Sahyanti.
Saya terkesan dengannya. Saya lihat, pramugari yang satu ini beda dengan yang
lain. Wajahnya wajah senyum, smile face, atau sumeh kata orang Jawa. Sikapnya
pun sangat baik dalam melayani. Keramahan yang ditunjukkannya terkesan
natural dan memang berasal dari hati, tidak dibuat – buat atau sekedar sikap
professional semata.
Saya lantas ngobrol dengannya. Saya Tanya, sudah berapa tahun jadi pramugari ?
17 tahun katanya. Lho, biasanya kalau sudah 17 tahun begitukan sudah capek dan
sudah pension ? Jawabnya lagi, menjadi pramugari ini sudah meerupakan calling,
panggilan jiwa, bukan lagi dianggap pekerjaan. Dia senang melihat pramugari
yang selalu bepergian ke mana – mana dan selalu malayani orang. Jadi, walaupun
mungkin kadang – kadang terasa capek, ia tetap bisa menikmati. Ada kepuasan
batin tersendiri yang tidak bisa diukur dengan materi.
Wah, saya benar – benar terkesan dengan ucapannya ini. Jarang saya temui orang
yang menajalani pekerjaannya karena memang sesuai dengan panggilan jiwanya.
Saya langsung teringat dengan konsep progression of commitment value.
Memang, setiap saya mendapatkan masukan dari orang lain, selalu coba saya
hubungkan dengan berbagai konsep bisnis yang ada di kepala saya. DAlam
konsep progression of commitment value ada 4 tingkatan komitmen. Yaitu
berturut – turut dari mulai yang terendah tingkatannya : political commitment,
intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Tingkatan terendah adalah political commitment. Pada tingkatan ini, orang hanya
memiliki komitment terhadap sesuatu karena sifatnya yang terpaksa, misalnya
karena tuntutan pekerjaan atau pengaruh kekuasaan. Tingkatan selanjutnya adalah
intellectual commitment. Orang memiliki komitmen terhadap sesuatu karena hal
itu dipandang mampu memenuhi kebutuhan intelektualnya. Misalnya seseorang
yang dalam situasi apapun selalu menyempatkan diri untuk membaca buku.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah emotional commitment. Komitmen orang yang
ada di tingkatan ini sudah bersifat emosional, sukarela dan tidak lagi memikirkan
untung – rugi. Misalnya saja adalah para pengikut tokoh tertentu yang selalu
mengikuti apa yang diucapkan pemimpinnya. Sedangkan spiritual commitment
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 40 dari 48
merupakan tingkatan komitmen tertinggi; seseorang akan berkomitmen dengan
apa yang dikerjakannya karena hal itu memang merupakan panggilan jiwanya.
Orang ini sudah tidak lagi terikat kepada hal – hal yang bersifat duniawi.
Bagi saya, hubungan antara Sahyanti dengan pekerjaannya ini sudah sampai
tingkatan spiritual commitment. Ia memiliki komitmen terhadap pekerjaannya
sebagai pramugari karena memang merupakan impiannya sejak kecil dan sesuai
dengan penggilan jiwanya.
Nah, kisah Sahyanti ini juga mirip dengan kisah pribadi saya sendiri.
Saat perayaan tahun baru Cina lalu, saya menyaksikan kisah Confusius di salah
satu stasiun televise. Anda tentu tahu, filsuf Cina yang hidup sekitar 2500 tahun
lalui ini selalau menginspirasi orang – orang untuk tidak hanya bekerja keras,
namun juga untuk selalu belajar setiap saat.
Confusius berkata, “Anda harus terus belajar sampai saat tutup peti mati Anda
ditutup!” Memang, Confusius dikenal sebagai seorang yang selalu belajar
(learning), membagi pengetahuan dan pengalamannya (sharing), serta
mengajarkannya (teaching) kepada siapapun sepanjang hidupnya. Dia juga tidak
pernah menyerah dan tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya.
Nah, pada hari itu juga, sore hari, tiba – tiba hati saya merasa sangat tersentuh.
Saat itu, salah satu sahabat saya bercerita tentang pesan dari alamarhum ayah
saya. Walaupun kami telah bersahabat sangat lama, namun sahabat saya ini justru
lebih banyak ngobrol dengan ayah saya daripada dengan saya sendiri. Kisah ini
bahkan belum pernah disampaikan kepada saya oleh ayah saya.
Suatu malam, kepada sahabat saya itu, almarhum ayah saya menunjukkan gambar
Confusius yang berada disamping foto saya. Ayah saya bilang bahwa dia ingin
saya bisa menjadi seperti Confusius. Itulah sebabnya mengapa saya diberi nama
Tan Tjiu Shiok (nama kecil saya) yang berarti saya harus terus belajar setiap saat.
Rupanya, impian ayah saya ini tercapai. Waktu muda, saya mengajar murid SMP
untuk membiayai sekolah, karena keluarga saya sangat miskin. Saya sudah
menjadi guru matematika dan fisika sejak usia yang masih sangat muda, 17 tahun.
Bahkan, sebelum berusia 20 tahun saya sudah menjadi kepala sekolah SMP!
Secara keseluruhan, saya menjadi guru SMP, SMA, dan bahkan SD selama 20
tahun! Saya memang sangat menikmati pekerjaan mengajar ini. Saya itu selalu
berpikir dalam keadaan apapun. Saya selalu berpikir ketika saya bicara, berjalan,
berbelanja, mandi dan bahkan tidur! Dengan berpikir, saya menciptakan berbagai
model pemasaran saya, mulai dari Marketing Plus 2000, Sustainable Market-ing
Enterprise sampai Marketing in Venus.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 41 dari 48
Inilah yang namanya life with a mission. Dalam menjalani hidup ini, kita harus
tahu apa misi hidup kita. Lalu, apakah yang kita lakukan sesuai dengan misi hidup
kita itu banyak orang yang mengerjakan sesuatu, namun sebenarnya tidak tahu
untuk apa dia mengerjakan itu. Banyak pula orang yang bekerja keras, namun
tidak mendapatkan kebahagiaan. Ini semua karena tidak ada keselarasan antara
apa yang mereka kerjakan dengan tujuan hidup mereka.
Jadi, seperti kisah Sahyanti dan saya tadi. Kerjakanlah semua hal sesuai dengan
panggilan jiwa Anda. Niscaya, Anda pun akan mendapatkan kenikmatan batin
yang tidak akan tergantikan oleh apa pun!
(Dimuat di Garuda In-Flight Magazine edisi Mei 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 42 dari 48
BERBISNIS DENGAN CINTA
Tahukah Anda, apa kekuatan utama dalam bisnis ?
Uang ? Bukan
Kekuasaan ? Juga bukan
Lalu, apa ?
Cinta!!!!
Ya, kekuatan utama yang mampu menggerakkan bisnis kita hingga mencapai
kesuksesan adalah cinta. Dalam berbisnis, kita sering lupa bahwa yang kita hadapi
setiap hari sebenarnya adalah manusia, bukan mesin atau computer. Sukses
tidaknya kita berbisnis banyak bergantung dari dukungan orang – orang sekitar
kita. Jika mereka mencintai kita, tentu mereka akan dengan sepenuh hati
memberikan segalanya buat diri kita.
Bayangkan saja jika Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang. Anda tentu selalu
berusaha menyenangkan Sang Kekasih, bukan ? Apapun yang dimintanya, pasti
akan diupayakan sekuat tenaga untuk dipenuhi Anda.
Selain itu, kita pun tentu harus mencintai apa yang kita kerjakan. Dengan
demikian, kita akan melakukan pekerjaan itu dengan tulus, penuh komitmen, dan
berusaha memberikan yang terbaik dari diri kita.
Maka, cinta bukan hanya elemen paling penting dalam kehidupan pribadi kita.
Dalam kehidupan professional atau bisnis, cinta juga sangat berperan penting.
Ini pulalah yang dikemukakan Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!,
dalam bukunya Love is the Killer App. Untuk berhasil dalam bisnis, seseorang
harus menjadi apa yang disebut oleh Tim Sanders sebagai ‘lovecat’. ‘Lovecat’
adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai
apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati.
Seorang ‘lovecat’ akan terus berupaya menambah pengetahuannya (knowledge)
dalam berbagai bidang. Namun, pengetahuan ini baru akan menjadi berguna jika
ia membaginya dengan orang lain. Karena itu, jika harus terus menjalin dan
mengembangkan relasi dengan semua orang (network). Seorang ‘lovecat’ juga
harus bisa menunjukkan rasa empati kepada orang lain dan tidak segan – segan
membantu jika diperlukan (compassion). Orang akan mengingat perlakuan baik
kita ini. Dan jangan lupa, sikap ini juga akan membuat orang lebih mudah
memaafkan jika kita membuat kesalahan.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 43 dari 48
Ketiga asset tidak terlihat (intangible assets) inilah – pengetahuan (knowledge),
menjalin relasi (network), serta raa empati dan keinginan untuk selalu membantu
(compassion) – yang harus terus dikembangkan dalam diri kita. Inilah aspek –
aspek penting yang akan membuat kita mampu mempengaruhi orang lain, dan
akhirnya membuat mereka menghargai kita sebagai seorang rekan ataupun
pimpinan.
Kita juga harus menyadari, bisnis sebenarnya adalah sebuah permainan. Tentu
saja, kita semua ingin memenangkan ‘permainan bisnis’ ini. Pemenang permainan
ini adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan –
aturan permainan secara baik.
Namun, jika dibandingkan dengan pria, wanita tidak mengetahui dan memahami
sebagian besar aturan itu. Akibatnya, mereka kurang berhasil dalam ‘permainan
bisnis’ ini. Bisa kita lihat, hanya sedikit wanita yang berhasil menduduki posisi
puncak di berbagai perusahaan. Mengapa ? Pria tahu dan paham aturan – atuaran
ini karena mereka menciptakannya. ‘Permainan bisnis’ ini telah dimainkan oleh
para pria sejak mereka masih sangat muda. Di lain pihak, wanita tidak pernah
diajarkan bagaimana cara memainkan ‘permainan bisnis’ ini.
Dalam bukunya Play Like A Man, win Like A Woman, Gail Evans, seorang
Executive Vice President di CNN, mengatakan bahwa memang sudah dari
sononya, pria lebih agresif, lebih terus – terang, berani mempromosikan diri,
‘berkulit badak’ , dan lebih mementingkan mencapai kemenangan daripada
menjaga hubungan baik.
Sebaliknya, wanita diajarkan untuk lebih bersikap koorperatif daripada kompetitif,
lebih menikmati proses daripada hasil, dan lebih mencari persetujuan daripada
mencari kesuksesan. Wanita juga cenderung tidak berani mengungkapkan
pendapatnya, karena takut dianggap salah atau tidak sopan. Sifat – sifat dan sikap
– sikap yang kelihatannya saling bertolak belakang inilah yang membuat sebagian
besar wanita kurang berhasil menjadi pemimpin di lingkungan bisnis yang
didominasi pria ini.
Jangan salah, wanita tidak harus ‘menjadi’ pria untuk berhasil dalam bisnis.
Memang, wanita harus mengetahui dan memahami aturan – aturan ‘permainan
bisnis’ ini. Namun, ia harus tetap bersikap sebagai seorang wanita. Dengan kata
lain, seorang wanita harus mencintai ‘permainan bisnis’ ini dan sekaligus
mencintai dirinya sendiri.
Lantas, apa hubungannya semua ini dengan lanskap bisnis Venus seperti yang
sudah saya ceritakan bulan lalu ?
Di dunia Venus ini, keunggulan kompetitif utama kita sebagian besar berasal dari
feel benefit, bukan think benefit. Feeling atau perasaan merupakan akar yang
dalam banyak hal mempengaruhi semua perilaku, karena perasaan terkait dengan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 44 dari 48
emosi. Emosi sangat mempengaruhi pemikiran seseorang. Emosi membentuk dan
mempengaruhi penilaian. Emosi pula yang membentuk perilaku.
Ingatlah pula, emosi ini ‘menular’. Maksudnya, jika karyawan perusahaan tidak
mersa nyaman dengan apa yang dikerjakannya, tentu ia tidak akan mampu
memberikan perasaan nyaman pula kepada pelanggan. Sebaliknya, jika karyawan
itu mencintai apa yang dikerjakannya, tentu ia akan dengan senang hati melayani
pelanggan dan membuat pelanggan merasa nyaman pula.
Maka, perhatikanlah hal ini dengan sungguh – sungguh!
Pemenang utama dalam ‘permainan bisnis’ adalah orang yang mencintai apa yang
dikerjakannya. Kita tidak dapat bermain dengan baik jika kita tidak
menikmatinya. Maka, cintailah sebenarnya kebutuhan utama dan satu – satunya
bagi kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun professional. Ingat apa yang
diakatan The Beatles, band legendaries yang juga merupakan band favorit saya,
All You Need is Love ?
Bagaimana pendapat Anda ?
(Dimuat di Jawa Pos edisi Februari 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 45 dari 48
LEADERSHIP IN VENUS :
“I DID IT MY WAY”
Saya sudah berkeliling dunia untuk mengahadiri berbagai leadership forum dan
bertemu dengan berbagai pemimpin kelas dunia. Tapi, bagi saya, opening speech
Mahathir Mohamad pada acara Asia Inc Forum on Leadership for Southeast Asia
di Putrajaya, Malaysia tanggal 9 – 10 Juni 2003 lalu memang benar – benar
mengesankan.
Secara singkat, pemimpin Malaysia ini dalam kata – kata bijaknya mengatakan,
“If you do things that are expected of you, then that’s not a decision at all. You’re
not a leader, you are just follower …..As I have said, we [leaders] do not just
follow. We think about doing things our own way. You know the song My Way ?
People like to sing that song when I’m present because they say that I like to do
things my way.”
Luar biasa! Inilah gaya kepemimpinan Mahatir. Mari kita lihat kebelakang
sejenak beberapa langkah yang telah diambilnya sebagai Perdana Menteri
Malaysia.
Mahatir berhasil menciptakan sebuah kelas menengah Melayu melalui affirmative
action policies di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi. Berbagai proyek
juga dikerjakan untuk membangkitkan kebanggaan Melayu yang selama ini
dianggap sebagai ras kelas dua; antara lain dengan membangun Menara Kembar
Petronas, yang merupakan gedung tertinggi di dunia, dan juga mengembangkan
“Multimedia Super Corridor” untuk menyaingi Silicon Valley di California.
Walaupun menerapkan kebijakan diskriminasi positif ini, tidak ada gejolak yang
berarti di negaranya. Ia berhasil mempertahankan keseimbangan dan keserasian di
antara tiga ras utama di Malaysia, yaitu Melayu, Cina, dan India.
Di lain pihak, Mahatir juga controversial. Ia kerap mengkritik secara keras dan
terbuka mengenai standar ganda yang diterapkan pihak Barat, padahal pihak Barat
ini jugalah yang banyak berinvesati di Malaysia. Di dalam negeri, ia juga tidak
segan – segan bertindak tegas terhadap berbagai pihak yang dianggap tidak
sejalan dengan dirinya.
Mahatir juga dengan berani mengubah system yang sudah berlaku selama puluhan
tahun. Misalnya, ia mengeluarkan kebijakan yang mengurangi kekuasaan (curbed
the powers of) sultan – sultan, sehingga mereka tidak lagi kebal hokum dan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 46 dari 48
mendapatkan berbagai kemudahan dalam berbisnis seperti yang sudah dinimati
selama puluhan tahun.
Saat krisis Asia di tahun 1998, pemimpin Mahatir yang berusia 77 tahun ini
dengan berani mengambil langkah yang bertentangan dengan kebijakan
konvensional (conventional wisdom) saat itu. Ia tidak meminta bantuan IMF
seperti lazimnya negara – negara Asia lain yang terkena krisis. Ia pun mensuspend
perdagangan ringgit Malaysia dengan menerapkan kebijakan capital
control. Walaupun langkah ini ditentang IMF dan dikritik banyak pihak, nyatanya
ekonomi Malaysia bisa pulih lebih cepat daripada negara – negara tetangganya
yang justru meminta bantuan IMF.
Saya lihat, walaupun ia seorang intelektual, berbagai langkahnya ini terkadang
justru tidak dapat diterima secara logis. Jika berdasarkan pertimbangan –
pertimbangan rasional semata, para pemimpin lain mungkin tidak akan
mengambil langkah menentang system yang ada. Namun, di samping berbagai
pertimbangan rasional, Mahatir juga memiliki keyakinan emosional dan spiritual
bahwa yang dilakukannya adalah yang terbaik bagi rakyatnya. Keyakinan inilah
yang akhirnya melahirkan berbagai langkah yang kerap dipandang controversial.
Semua hal tersebut menunjukkan bahwa Mahatir berani challenged the process
dan mengambil resiko mengambil keputusan yang sulit dan tidak popular. Inilah
karakteristik utama seorang leader seperti yang diutarakan James M. Kouzes and
Barry Z. Posner dalam bukunya yang popular, The Leadership Challenge, yang
dipakai sebagai text book leadership di IBM.
Pemimpin adalah orang yang aktif, memilih bertindak daripada berdiam diri
menunggu inisiatif orang lain. Pemimpin adalah mereka yang berani melakukan
tindakan – tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka
melakukan inovasi dan eksperimen untuk menemukan cara – cara baru dan lebih
baik dalam melakukan suatu hal. Pendeknya, mereka adalah orang – orang yang
berani melakukan dan mengahadapi perubahan.
Pemimpin juga berusaha agar para pengikutnya siap untuk berubah. Pendekatan
yang dilakukan pun bukan hanya pendekatan rasional, namun juga emosonal.
Seperti yang dikatakan John P. Kotter dan Dan S. Cohen dalam bukunya The
Heart of Change, analisis rasional diberikan oleh pemimpin agar para pengikutnya
berpikir tentang perubahan yang terjadi, dan akhirnya mampu menyesuaikan diri
dengan perubahan itu (analysis – think – chage). Namun yang lebih penting,
pemimpin juga harus membantu pengikutnya untuk melihat perubahan yang ada,
merasakan pentingnya perubahan itu, dan akhirnya secara emosional mau
menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada (see – feel – change).
Dengan bekal emosional dan spiritual competence itu, Mahatir sukses memimpin
dan memasarkan Malaysia. Selama 22 tahun masa kekuasaannya, ia berhasil
membawa Malaysia dari sekedar negara pengekspor karet dan timah menjadi
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 47 dari 48
salah satu negara industri modern yang memproduksi peralatan elektronik, besi
baja, dan mobil. Brand “Malaysia” pun dihormati berbagai kalangan dan mampu
memikat customers di berbagai penjuru dunia.
Maka untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses di lanskap bisnis baru yang
semakin emosional ini, atau istilah saya “Venus landscape”, intellectual
competence saja tidaklah cukup. Ia terutama harus memiliki emotional
competence dan spiritual competence agar mampu menjadi great leader di dunia
Venus ini.
(Dimuat di Asia Inc. edisi Agustus 2003)

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 48 dari 48
TENTANG PENULIS
KH. Abdullah Gymnastiar, akrab disapa Aa Gym adalah dai sekaligus
penceramah yang paling popular di Indonesia. Beliau membawakan konsep baru
dalam dakwah dengan mengajak orang memahami hati atau qalbu, untuk
mengenali diri sendiri. Konsep ini dikenal dengan Manajemen Qolbu.
Pemimpin Ponpes Daarut Tauhiid Bandung itu pernah tampil di acara Sixty
Minutes di TV NBC, AS, bulan November 2002. Media televise di AS itu tertarik
menampilkan Aa Gym karena ia dinilai menghadirkan sebuah nuansa Islam yang
sejuk dan damai. Time bahkan menjuluki beliau sebagai The Holly Man.
Selain penceramah yang disegani, Aa Gym adalah marketer yang tangguh. Beliau
menjalankan bisnis sebagai ibadah. Konsep yang beliau jalankan adalah
menyatukan antara dzikir, piker dan ikhtiar. Selain berhasil mengelola Yayasan
Pesantren Daarut Tauhiid di Bandung, ia juga berhasil dalam mengelola kelompok
bisnisnya di bawah bendera Manajemen Qolbu. Holding company ini membawahi
sekitar 19 anak perusahaan yang bergerak di bidang mini market, warung
telekomunikasi, kafe, penerbitan, stasiun radio, televise local, pembuatan kaset,
dan VCD. Omzetnya mencapai miliaran rupiah.
Hermawan Kartajaya, adalah Founder dan President MarkPlus&Co dan
President Worl Marketing Association (WMA). Hermawan adalah pembicara
seminar serta penulis kolom dan buku yang produktif. Buku terakhirnya :
Repositioning Asia: Forum Bubble to Sustainable Economy (John Wiley&Son,
2000), Rethinking Market-ing:Sustainable Marketing Enterprise in Asia (Prentice
Hall, 2002), keduanya ditulis bersama Prof. Philip Kotler, Hermawan Kartajaya
on Marketing (Gramedia Pustaka Utama, 2003), Marketing in Venus (Gramedia
Pustaka Utama, 2003) dan On Becoming a Customer-Centric Company
(Gramedia Pustaka Utama, 2004). Pada tahun 2003, dianugrahi gelar sebagai “50
gurus who have shaped the future of marketing” oleh CIM-UK, bersama satu
orang wakil Asia yang lain, yakni Kenichi Ohmae dari Jepang.

ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN

July 28, 2010 Comments off

ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh:
IRMA NOVIA S
B 200 050 019
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertandatangan dibawah ini telah membaca Skripsi dengan judul:
ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
Yang ditulis oleh IRMA NOVIA S dengan NIM : B 200 050 019
Penandatanganan berpendapat bahwa skripsi tersebut memenuhi syarat untuk
diterima.
Surakarta, 2009
Pembimbing Utama
(Drs. Suyatmin, M.Si)
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi UMS
(Drs. H. Syamsudin, MM.)
iii
IRMA NOVIA S
05.6.106.02030.50019
AKUNTANSI
“ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN
IRMA NOVIA S
KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
ii i
iv
MOTO
“Allah SWT meninggikan drajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan”
( Qs. Al, Muajaadilah II )
“Kemulian itu tidak datang dari apapun dan siapapun, melainkan dari ketaatan dan
ketakwaan kita kepada allah SWT”
(AA, Gym ).
“Doa adalah nyanyian hati yang selalu membuka jalan kesinggasana tuhan walaupun
terhimpit nyanyian seribu jiwa”
( Kahlil Gibran )
“Mencintai seseorang adalah keindahan, Dicintai seseorang adalah lebih indah
Dicintai orang yang kau cintai adalah segalanya”
( Julie Withey )
Memperoleh kepercayaan sangatlah mudah, lebih mudah lagi menghianatinya, kepercayaan
yang telah kau miliki
( Penulis )
“A Friend is atreasura more precious than gold.
For love shared is princeless and never coreows old”.
Setiap detik kematian selalu menghampiri kita namun mengapa sang waktu dapat melupakan
kita akan kedatangannya.
( Penulis )
v
PERSEMBAHAN
Setiap lembar dan goresan tinta ini merupakan wujud dari keagungan dan kasih
sayang diberikan allah SWT kepadanya. Setiap detik penyelesaian skripsi ini merupakan hasil
getaran Do’a Bunda-ku yang tercinta, Ayah, serta saudara ku yang selama ini memberikan
perhatian yang tiada pernah henti.
Kupersembahkan karya sederhana ini untuk ;
􀂙 Bapakku dan Ibuku tercinta, yang telah memberiku support, doa, dan kasih sayang.
􀂙 Untuk seseorang yang aku cinta, terima kasih atas segala pengertian dan suportnya.
􀂙 Almamaterku, jembatan masa depanku.
v
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji hanyalah bagi mu ya Allah ya Tuhan ku. Tuhan semesta alam
yang menguasai hari pembalasan, engkau senantiasa menganugrahkan bagiku
banyak nikmat kepada kami hingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN (Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)”
sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung hingga
selesainya skripsi ini. Ucapan terimakasih penghargaan yang tulus penulis
ucapkan kepada :
1. Bapak Drs. Syamsudin, MM. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi UMS.
2. Bpak Drs. Suyatmin, M.Si. Selaku dosen pembimbing utama yang selalu
dengan bijaksana, penuh kesabaran berkenan untuk membaca, mengoreksi,
membimbing dan mengarahkan hingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang telah berkorban dengan segala dukungan
dan Do’a restu sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
4. Seseorang yang aku cinta, mas Grenda, terima kasih atas dukungan, motivasi
dan kasih sayang yang diberikan hingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
vi
vii
5. Sahabatku, momon, anik dan bang edi terima kasih atas dorongan dan
motivasi yang kalian berikan, semoga persahabatan kita abadi.
6. Teman-teman Akuntansi kelas A yang tidak dapat disebutkan satu persatu
yang telah membantu memberikan motivasi kepada penulis.
Meskipun segenap kemampuan penulis telah dikerahkan, namun penulis
menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, namun ketidaksempurnaan ini
masih tetap dapat memberi manfaat bagi pihak yang memerlukan.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, hidayahNya kepada kita, dan
semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas segala nikmatNya Amin
ya robbal a’lamin…
Surakarta, Juni 2009
PENULIS
vii
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………. i
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………………….. ii
HALAMAN KEASLIAN SKRIPSI ………………………………………………………. iii
HALAMAN MOTTO………………………………………………………………………….. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………………………. v
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. vi
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………. xiii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………….. x
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………… xi
ABSTRAKSI ……………………………………………………………………………………… xii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………. 1
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………….. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………………………….. 2
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 3
D. Manfaat Penelitian ……………………………………………………. 3
E. Sistematika Penelitian ……………………………………………….. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………….. 6
A. Pengertian Kesejahteraan Karyawan…………………………… 6
B. Pengertian Kinerja ……………………………………………………. 11
C. Pengaruh Kesejahteraan karyawan terhadap Kinerja
Karyawan ………………………………………………………………… 28
viii
ix
D. Kerangka pemikiran ………………………………………………….. 28
E. Penelitian Terdahulu ………………………………………………… 29
F. Hipotesis ………………………………………………………………… 30
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………… 31
A. Populasi ………………………………………………………………….. 31
B. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ……………………. 31
C. Jenis Data dan Sumber Data ………………………………………. 32
D. Metode Pengumpulan Data ………………………………………… 33
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran…………… 34
F. Uji Kualitas Pengumpulan Data…………………………… 35
G. Uji Asumsi Klasik………………………………………… 36
H. Metode Analisis Data……………………………………… 37
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN…………………. 41
A. Gambaran Umum Perusahaan…………………………………….. 41
B. Deskripsi Responden Penelitian………………………………….. 61
C. Analisis Data……………………………………………… 65
D. Pembahasan ……………………………………………………………. 72
BAB V PENUTUP…………………………………………………………………….. 75
A. Simpulan …………………………………………………………………. 75
B. Keterbatasan Penelitian……………………………………………… 76
C. Saran-Saran ……………………………………………………………… 76
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ix
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel IV. 1. Jumlah Tenaga Kerja PT. Air Mancur Palur ……………………… 52
Tabel IV. 2. Karakterisik Responden Berdasarkan Usia………………………… 61
Tabel IV. 3. Karakterisik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………….. 62
Tabel IV. 4. Karakterisik Responden Berdasarkan Pendidikan………………. 63
Tabel IV. 5. Karakterisik Responden Berdasarkan Jumlah Keluarga………. 63
Tabel IV. 6. Deskripsi Statistik ………………………………………………………….. 64
Tabel IV.7. Rangkuman Uji Validitas Tunjangan Kesejahteraan
Karyawan …………………………………………………………………….. 65
Tabel IV.8. Rangkuman Uji Validitas Kinerja Karyawan ……………………. 66
Tabel IV.9. Hasil Uji Reliabilitas ……………………………………………………… 67
Tabel IV.10. Hasil Uji Regresi Linear Berganda ………………………………….. 68
Tabel IV.11. Hasil Uji Normalitas ……………………………………………………… 71
Tabel IV.12. Hasil Uji Heteroskedastisitas ………………………………………….. 72
x
xi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar III.1. Grafik Uji F …………………………………………………………………… 38
Gambar III.2. Grafik Uji t …………………………………………………………………… 40
Gambar IV.1. Struktur Organisasi PT. Air Mancur …………………………………. 45
Gambar IV.2. Skema Saluran Distribusi ………………………………………………… 59
xi
xii
ABSTRAKSI
Prestasi kerja karyawan merupakan salah satu indakator keberhasilan
dalam operasional perusahaan dalam mencapai tujuan dari perusahaan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan karyawan dengan
kinerja karyawan di PT. AIR MANCUR Palur.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan. Jumlah sampel
yang diambil 88 responden. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner
dan metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda, uji t, uji F dan
koefisien determinasi.
Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini dapat disimpulkan
sebagai berikut: Hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi variabel
tunjangan kesejahteraan sebesar 0,507 bernilai positif, hal ini menunjukkan
bahwa tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja
karyawan. Artinya tunjangan kesejahteraan yang diberikan perusahaan semakin
baik, akan meningkatkan kinerja karyawan. Hasil uji t menunjukkan bahwa
meliputi variabel tunjangan kesejahteraan berpengaruh signifikan terhadap
kinerja karyawan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.
Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program SPSS 10.0, dalam
analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien determinasi atau R2 sebesar
0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi perubahan kinerja karyawan dijelaskan oleh
variasi perubahan tunjangan kesejahteraan. Sementara sisanya sebesar 65,7%
diterangkan oleh faktor lain yang tidak ikut terobservasi
Kata kunci: kesejahteraan karyawan, kinerja karyawan
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia merupakan aset paling penting dalam suatu
organisasi serta mempertahankan dan mengembangkan organisasi dalam
berbagai tuntutan masyarakat dan jaman. Kinerja sumber daya yang baik
merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup organisasi. Jika organisasi
ingin berkembang dengan pesat, organisasi harus mempunyai sumber daya
manusia yang mampu menampilkan kinerja yang baik. Penilaian kinerja
sesungguhnya merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam
melaksanakan peran yang mereka mainkan didalam organisasi karena pada
dasarnya organisasi dijalankan oleh manusia.
Dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia
unsur kesejahteraan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena
kesejahteraan karyawan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
memacu semangat kerja serta produktivitas kerja karyawan. Dengan
meningkatnya kinerja karyawan itu dapat pula menunjang atau mempengaruhi
kesejahteraan karyawan tersebut, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung yaitu dengan naiknya gaji karyawan, pemberian
bonus, pemberian tunjangan keluarga maupun bonus, sedangkan secara tidak
langsung yaitu bisa dengan memberikan kesempatan promosi jabatan kepada
karyawan yang berprestasi baik. Dengan demikian prestasi kerja karyawan
1
2
yang baik itu akan memberikan sumbangan atau dapat mendorong untuk
memajukan perusahaan yang lebih baik. Selain itu promosi jabatan bagi
karyawan yang berprestasi baik itu akan dapat menguntungkan bagi karyawan
itu sendiri, dimana dengan promosi jabatan itu akan memperbaiki posisi atau
kedudukan seorang karyawan tersebut di dalam perusahaan.
Selain dari pada itu jika dilihat dari segi keuntungan perusahaan,
dengan adanya kinerja karyawan yang baik itu dapat memajukan perusahaan
tersebut. Dengan demikian akan dapat meningkatkan keuntungan atau dapat
meningkatkan tingkat rentabilitas perusahaan tersebut.Untuk meningkatkan
produksi masing-masing unit perlu ditingkatkan kinerja para karyawan
sehingga prestasi kerja karyawan ini dapat menigkat. Peningkatan prestasi
kerja karyawan akan meningkatkan produksi jamu PT Air Mancur di daerah
Palur. Prestasi kerja karyawan merupakan salah satu indakator keberhasilan
dalam operasional perusahaan dalam mencapai tujuan dari perusahaan
Berdasarkan permasalahan dan latar belakang diatas, maka penulis
mengambil judul : ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN
KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Empiris di PT
Air Mancur Palur).
B. Perumusan Masalah
Apakah terdapat pengaruh kesejahteraan karyawan terhadap kinerja
karyawan di PT AIR MANCUR Palur”
3
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari permasalahan dalam penelitian ini maka yang
menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kesejahteraan karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
2. Untuk mengetahui tentang Kinerja karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
3. Untuk mengetahui pengaruh kesejahteraan karyawan terhadap kinerja
karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
D. Manfaat Penelitian
Bedasarkan perumusan masalah, pada dasarnya peneliti akan
mengharapkan penelitian ini nantinya dapat member manfaat bagi pihak-pihak
yang berkepentingan:
1. Bagi PT AIR MANCUR
Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pemimpin atau
pengurus koperasi didalam mengambil beberapa tindakan untuk
meningkatkan kinerja karyawan.
2. Bagi Masyarakat Umum
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk meningkatkan
pegetahuan praktis dan memperluas wawasan mereka tentang
kesejahteraan karyawan pada khususnya serta ketenagakerjaan pada
umumnya.
4
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat digunakan untuk mempeluas wawasan tentang
ketenagakerjaan.
E. Sistematika Penelitian
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang isi skripsi ini,
peneliti sajikan uraian dari sistematika skripsi yaitu:
BAB I Pendahuluan
Pendahuluan peneliti sajikan pada bagian pertama isi skripsi
yang didalamnya merupakan uraian dari Latar Belakang Masalah,
Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan
Sistematika Skripsi.
BAB II Landasan Teori
Dalam landasan teori ini berisi tentang, Pengertian
Kesejahteraan Karyawan, Cara Mengklasifikasikan Kesejahteraan
Karyawan, Usaha-Usaha Untuk Memenuhi Kebutuhan Karyawan Atau
Program Kesejahteraan Ekonomi Karyawan, Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kesejahteraan Karyawan, Pengertian Kinerja,
Penilaian Kinerja, Hubungan Kesejahteraan Karyawan Dengan Kinerja
Karyawan serta Perumusan Hipotesis.
5
BAB III Metode Penelitian
Dalam bab ini berisi tentang: Pengertian dan Jenis-Jenis
Penelitian, Penetapan Populasi dan Variabel Penelitian, Metode
Pengumpulan Data dan Analisis Data.
BAB IV Laporan Penelitian
Bab ini diuraikan tentang: Persiapan, Pelaksanaan
Pengumpulan Data, Pengolahan Data dan Interpretasi Data.
BAB V Penutup
Yang didalamnya berisi tentang Simpulan, Implikasi Penelitian
dan Saran-saran.
Daftar Pustaka
Lampiran
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kesejahteraan Karyawan
Setiap orang yang hidup selalu menginginkan kesejahteraan hidup
sebab dengan sejahtera hidupnya akan menjadi tenang dan tentram. Menurut
WJS Poerwodarminto (1984;492), Kesejahteraan adalah suatu kondisi aman
sentosa dan makmur terhindar dari berbagai ancaman dan kesulitan yang
dirasakan seseorang yang telah melakukan suatu pekerjaan di suatu tempat
atau perusahaan.
1. Cara mengklasifikasi kesejahteraan karyawan
Program kesejahteraan karyawan telah menjadi bagian integral dari
kebanyakan paket kompensasi. Program asuransi jiwa dan kesehatan dan
cuti yang dibayar adalah sedikit dari banyak tipe kesejahteraan karyawan
yang biasa ditemui dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Ini dapat
terlihat dari atau dalam Undang-undang ketenagakerjaan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah serta ketentuan tentang upah minimum
regional yang setiap kali sesuai dengan kondisi.
Dengan memberikan sederetan kesejahteraan untuk karyawan akan
membantu organisasi untuk menarik karyawan yang berkualitas tinggi,
disamping sebagai usaha untuk mempertinggi moral, dan kepuasan kerja
karyawan. Dengan demikian terjaminnya kesejahteraan karyawan itu
6
7
sangat menguntungkan bagi karyawan itu sendiri maupun perusahaan
tersebut.
Menurut Moekijat (1989;167), ada beberapa cara untuk
mengklasifikasikan kesejahteraan karyawan yaitu:
a. Pelayanan karyawan
b. Pembayaran untuk waktu tidak bekerja
c. Keamanan pegawai atau karyawan
2. Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau program
kesejahteraan ekonomi karyawan.
Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau pegawai
merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau
pegawai adalah sebagai berikut :
a. Pemberian gaji atau upah yang adil.
Dalam pemberian gaji ini disesuaikan dengan tugas yang telah
dikerjakan dengan hasil yang memuaskan dengan waktu tertentu.
Sedangkan untuk tercapainya keadilan tersebut, maka ada beberapa
factor penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan tingkat upah
seorang pegawai atau karyawan adalah pendidikan, pengalaman,
tanggungan keluarga, kemampuan perusahaan, daan kondisi pekerja.
b. Asuransi
Dalam lingkungan kerja dimanapun pasti menginginkan keselamatan,
keamanan dan kesehatan kerja. Karena bagaimanapun juga manusia
8
menginginkan ketiga hal itu dan sanggup mengorbankan apa saja asal
dapat sehat, aman dan selamat.
Sedangkan program asuransi ini bisa berbentuk Asuransi Jiwa,
Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kecelakaan. Disini perusahaan bisa
melakukan kerja sama dengan Perusahaan Asuransi untuk
menanggung asuransi karyawannya.
Lingkungan kerja yang aman dan sehat sangat diperlukan oleh semua
orang karena ditempat kerja yang demikian seseorang dapat bekerja
dengan tenang sehingga dapat memperoleh seperti yang diharapkan
oleh perusahaan atau organisasi tersebut.
c. Melalui promosi atau kenaikan jenjang
Pihak perusahaan atau suatu organisasi biasanya menyenangi dasar
promosi adalah kecakapan kerja, karena kecakapan kerja atau kinerja
yang baik adalah merupakan dasar kemajuan. Sedangkan pihak
karyawan menghendaki unsure seniorisasi lebih ditekankan dalam
promosi, karena dengan makin lama masa kerja, maka makin
berpengalaman seseorang, sehingga kecakapan kerja mereka makin
baik.
Tetapi pada umumnya didalam menentukan dasar untuk promosi
sering digunakan keduanya yaitu dasar kecakapan kerja dan senioritas
jadi apabila ada karyawan atau pegawai yang mempunyai kecakapan
yang sama, maka karyawan atau pegawai yang lebih seniorlah yang
akan dipromosikan.
9
Sebagai salah satu pengembangan, promosi sangat diharapkan oleh
setiap karyawan atau pegawai dimanapun berada. Oleh karena itu dia
akan mendapatkan hak-hak yang lebih baik daripada yang diperoleh
sebelum promosi baik material maupun non material. Hak-hak yang
bersifat material misalnya kenaikan pendapatan, perbaikan fasilitas
sedangkan hak yang bersifat non material misalnya status sosial, dan
rasa bangga.
d. Program Rekreasi
Dengan adanya kesempatan rekreasi itu diharapkan para pegawai atau
karyawan selalu bergairah atau mempunyai semangat dalam bekerja.
Salah satu program rekreasi adalah mengadakan tour ke tempattempat
wisata bersama keluarga.
e. Pemberian Fasilitas
Yang dimaksud dengan fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan,
dipakai, ditempati dan dinikmati oleh pegawai baik dalam hubungan
langsung dengan pekerjaan seperti termasuk didalamnya semua alat
kerja di perusahaan dan secara tidak langsung untuk kelancaran
pekerjaan seperti gedung, alat komunikasi, ruangan kerja yang
memadai dan lain sebagainya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan.
a. Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan karyawan meliputi :
10
1) Gaji dan upah yang baik
Gaji bisa dipakai untuk kebutuhan psikologis dan sosial
2) Rekan kerja yang kompak.
Keinginan ini merupakan cermin dari kebutuhan sosial.
Seorang karyawan mungkin berkeberatan untuk dipromosikan,
hanya karena tidak menginginkan kehilangan rekan kerja yang
kompak.
3) Kondisi kerja yang aman, nyaman dan menarik.
Kondisi kerja yang aman berasal dari kebutuhan akan rasa aman
disamping itu juga tempat kerja yang nyaman dan menarik.
b. Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan pimpinan :
1) Pimpinan yang adil dan bijaksana.
Pimpinan yang baik menjamin bahwa pekerjaan akan tetap bisa
dipertahankan, demikian juga pimpinan yang tidak berat sebelah
akan menjadi ketenangan kerja.
2) Melengkapi para karyawan dengan sumber dana yang diperlukan
untuk menjalankan tugasnya.
3) Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang
diharapkan dari mereka.
4) Memberikan penghargaan untuk mendorong kinerja.
Dari uraian tentang teori kesejahteraan karyawan di atas, maka
dalam peneliti ini, kesejahteraan karyawan yang dimaksud adalah:
11
a. Keamanan
Meliputi rasa aman terhadap suasana kerja, pemberian jaminan
asuransi dan pelayanan usaha kesehatan.
b. Kesenangan
Meliputi pemberian waktu rekreasi bersama, pemberian cuti dan
sebagainya.
c. Kemakmuran
Meliputi pemberian gaji yang sesuai, pemberian tunjangan kepada
karyawan, atau kantin bagi karyawan, pemberian seragam kerja kepada
karyawan.
Kesemuanya itu merupakan unsur-unsur kesejahteraan yang akan diteliti
di PT AIR MANCUR Palur. Dan unsur-unsur kesejahteraan karyawan
tersebut diatas akan diukur melalui angket yang disediakan oleh peneliti untuk
diisi responden, dalam hal ini responden tersebut adalah karyawan di PT AIR
MANCUR Palur.
B. Pengertian Kinerja
Pengertian kinerja berasal dari kata job performance/actual performance
yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh
seseorang. Menurut Mangkunegara (2001;67) kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut As’ad (1999;48) prestasi kerja adalah hasil yang dicapai
12
seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Pendapat diatas dapat diterangkan bahwa untuk dapat meraih keberhasilan
dalam pekerjaan seseorang perlu memenuhi kemampuan yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan yang baik menyangkut pengetahuan dan
ketrampilan. Pelaksanaan pekerjaan akan lebih efektif apabila didukung
dengan keyakinan dan motivasi yang tinggi. Dengan adanya keyakinan akan
mendorong seseorang untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaannya
sehingga dapat mengarahkan perilaku kerjanya demi tercapainya tujuan yang
diinginkan.
Menurut Kalbers dan Forgaty dalam David Effendi dan Sujono (2004)
kinerja adalah evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan lewat atasan,
teman, dirinya sendiri dan bawahan. Sedangkan menurut Dessler (1992) dalam
Bambang Guritno dan Waridin (2005) menyatakan bahwa kinerja adalah
prestasi kerja yakni perbandingan antara hasil kerja yang secara nyata dengan
standar kerja yang ditetapkan. Berdasarkan pengertian kinerja dari beberapa
pendapat diatas, kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh
karyawan dengan standar yang telah ditentukan.
John Witmore dalam Coaching for Performance (1997:104) dalam
Wikipedia “kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari
seorang atau suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum
ketrampilan”. Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan
dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian
hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi
13
atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu
kebijakan operasional.
Beberapa pengertian kinerja karyawan selain tersebut diatas adalah
sebagai berikut :
1. Kinerja adalah banyaknya upaya yang dikeluarkan individu pada
pekerjaannya.
2. Kinerja adalah dapat dinilai dengan kinerja sesungguhnya masa sekarang,
serta dengan periode yang akan datang dalam lingkup tertentu, misalnya :
kinerja operasi, kinerja keuangan, kinerja sumber daya manusia, serta
kinerja perusahaan secara keseluruhan
3. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
kelompok organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang
berangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral
atau etika.
4. Kinerja merupakan hasil kerja seseorang yang menggambarkan kualitas
dan kuantitas atas kerja yang telah dilakukan
Indicator kinerja adalah sebagai berikut:
1. Loyalitas
Yaitu kesetiaan pegawai terhadap organisasi dan semangat berkorban demi
tercapainya tujuan organisasi.
14
2. Tanggungjawab
Yaitu rasa memiliki organisasi dan kecintaan terhadap pekerjaan yang
dilakukan dan ditekuni serta berani menghadapi segala konsekuensi dan
resiko dari pekerjaan tersebut.
3. Ketrampilan
Yaitu kemampuan pegawai untuk melaksanakan tugas serta menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.
4. Pengetahuan
Yaitu kemampuan pagawai untuk menguasai semua hal yang berhubungan
dengan pekerjaannya.
Pada dasarnya kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut adalah :
1. Motivasi
Motivasi adalah daya gerak yang mendorong untuk bertindak. Jika
motivasi kuat maka daya dorong untuk terciptanya kinerja yang baik akan
kuat pula.
2. Pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan pelatihan adalah upaya untuk meningkatkan berbagai
pengetahuan dan ketrampilan. Disamping itu pendidikan dan pelatihan
merupakan usaha untuk memungkinkan perubahan sikap yang dilandasi
motivasi untuk berprestasi.
15
3. Pengalaman
Pengalaman pada dasarnya membuat individu lebih mengenal dan
memahami proses kerjanya sehingga diharapkan dapat meningkatkan
kinerjanya.
4. Teknologi
Pengetahuan teknologi modern pada dasarnya akan menghasilkan
kinerjanya lebih banyak dibandingkan penggunaan peralatan tradisional.
Kinerja antara satu organisasi dengan yang lainnya dapat saja berbeda,
karena faktor pendorong yang berbeda. Beberapa faktor tersebut antara lain
factor lingkungan, kemampuan, budaya, pendidikan, kepemimpinan dan
organisasi. Dessler (2000) menyatakan beberapa syarat penilaian atas kerja
yang harus dipenuhi agar mendapatkan hasil kerja yang baik yaitu : relevan,
dapat diterima, dapat dipercaya, peka, dan dapat mendukung tujuan usaha.
Simmamora (1995) menyatakan bahwa kinerja adalah tingkat kerja yang
dicapai oleh seseorang dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
Kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Faktor individual yang terdiri dari : kemampuan dan faktor demografi.
2. Faktor psikologis yang terdiri dari : sikap, motivasi, persepsi, personality
dan pembelajaran.
3. Faktor organisasi yang terdiri dari : sumber daya, kepemimpinan,
penghargaan, struktur dan job design.
Kinerja menggambarkan tentang apa yang telah dicapai oleh individu
atau dengan kata lain hasil aktualyang telah dicapai (Riyadiningsih, 2001,
16
dalam Widyastuti dan Wahyuni, 2003). Ketika individu menetapkan tujuan
dan berusaha untuk mencapai tujuan itu, maka individu ini akan memperoleh
dan melihat hasil dari apa yang telah dilakukannya atau diusahakannya itu.
Nantinya hasil tersebut akan dinilai dan dibandingkan dengan tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Gibson et al (1996;280) menyatakan bahwa performance berkaitan
dengan evaluasi kinerja, dimana evaluasi kinerja merupakan prestasi individu
yang merupakan cerminan prestasi organisasi, oleh karena itu prestasi pegawai
yang tinggi sangat penting artinya bagi keberhasilan organisasi. Bernadin dan
Beatty(1984;46) mendefinisikan kinerja sebagai catatan hasil yang berhasil
diproduksi pekerjaan khusus, seperti fungsi, aktivitas/perilaku hingga periode
waktu khusus, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja organisasi
adalah prestasi dari suatu organisasi dan mengandung beberapa hal seperti
adanya target tertentu yang dicapai, memiliki jangka waktu dalam pencapaian
target dan terwujudnya efisiensi dan efektivitas.
Penilaian Kinerja
Pengukuran tentang kinerja tergantung dari jenis pekerjaan dan tujuan
dari organisasi perusahaan yang bersangkutan. Kriteria yang diinginkan dalam
pengukuran kinerja menurut As’ad (1999;63) adalah kuantitas, kualitas,waktu
yang dipakai, jabatan yang dipegang, absensi dan keselamtan dalam
menjalankan tugas pekerjaan. Pernyataan yang hamper sama dikemukakan
oleh Heidrachman dan Suad Husnan (1994;125) Bahwa kriteria kualitas dan
17
kuantitas pekerjaan, kerja sama, kepemimpinan, kehati-hatian, pengetahuan
mengenai jabatan, kerajinan, kesetiaan dan inisiatif
Menurut Dessler (1997) dalam Bambang Guritno dan Waridin (2005)
penilaian kinerja adalah memberikan umpan balik kepada karyawan dengan
tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan kinerja
atau berkinerja lebih baik lagi. Menurut Mahoney,et al dalam David Effendi
dan Sujono (2004) dalam proses penlaian kinerja ada lima prinsip dasar yang
harus dipenuhi dalam proses penilaian kinerja yakni :
1. Melibatkan orang yang tepat dalam penilaian .
2. Penilaian harus dilihat sebagai suatu subsystem dari system yang
kompleks.
3. Belajar dari proses implementasi.
4. Fleksibilitas harus terjaga.
5. Bersikap sabar.
6. Unsur-unsur yang digunakan dalam penilaian kinerja pegawai
Tolok ukur atau ukuran penilaian kinerja pegawai berbeda tergantung
dari tujuan penilaian prestasi kerjaitu sendiri. Sejalan dengan hal tersebut,
faktor-faktor pembentuk prestasi kerja dapat dijabarkan dalam beberapa unsur
yang selanjutnya dapat digunakan sebagai tolok ukur penilaian kinerja.
Adapun unsur-unsur yang dimiliki menurut Malayu Hasibuan (2001;95)
adalah sebagai berikut :
18
1. Kesetiaan
Unsur kesetiaan dalam hal ini menyangkut loyalitas karyawan terhadap
pekerjaannya, jabatan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh
kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi didalam maupun
diluar organisasi yang tidak bertanggung jawab.
2. Kedisiplinan
Penilai menilai disiplin dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan
melakukan pekerjaan sesuai dengan instruktur yang diberikan kepadanya.
3. Kejujuran
Penilai menilai kejujurandalam melaksanakan dalam melaksanakan
4. Kerja sama
Penilai menilai hasil kerja yang baik kualitas/kuantitas dapat dihasilkan
karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.
5. Kreativitas
Peniali menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan
kreativitasnyauntuk menyelesaikan pekerjaan sehingga bekerja lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
6. Kepemimpinan
Penilai menilai kemampuan untuk memimpin berpengaruh, mempunyai
perbedaan yang kuat, dihormati, berwibawa dan dapat memotivasi orang
lain/bawahannya/bekerja secara aktif.
19
7. Kepribadian
Penilai menilai karyawan dan sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai,
memberi kesan menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik serta
berpenampilan simpatik dan wajar.
Kriteria penilaian kinerja dibagi menjadi 3 tipe:
1. Penilaian kinerja berdasarkan hasil (result-based performance appraisal)
Tipe kriteria ini merumuskan pekerjaan berdasarkan pencapaian tujuan
organisasi, atau mengukur hasil akhir (end-result). Jajaran kinerja bisa
ditetapkan oleh manajemen atau kelompok kerja, tetapi jika menginginkan
agar pegawai meningkatkan kinerja mereka, maka penetatap sasaran
secara partisipasi dengan melibatkan para pegawai akan jauh berdampak
positif terhadap peningkatan kinerja organisasi.
2. Penilaian kinerja berdasarkan perilaku (behavior based performance
appraisal)
Tipe kriteria ini mengukur sarana (means) pencapaian sasaran (goals) dan
bukannya hasil akhir (end result).
3. Penilaian kinerja berdasarkan judgement (judgement based performance
appraisal)
Tipe kriteria ini menilai atau mengevaluasi kinerja pegawai berdasarkan
deskripsi perilaku yang spesifik yaitu:
a. Jumlah kerja yang dilakukan dalam satu periode yang ditentukan.
b. Kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan
kesiapan.
20
c. Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaannya dan keterampilannya.
d. Kesetiaan untuk kerja sama dengan orang lain (sesama anggota
organisasi).
e. Kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian
kerja.
f. Mengukur kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan dan integritas
pribadi.
Dalam penilaian kerja karyawan sering terjadi kekeliruan (gibson,
1997:20) mengungkapkan 5 (lima) masalah utama dalam skala/penilaian
kinerja dan pemecahannya, yaitu:
1. Standar kinerja yang tidak jelas
Standar kinerja yang tidak jelas adalah skala penilaian yang selalu terbuka
terhadap interprestasi sebagai gantinya memasukkan ungkapan-ungkapan
positif masing-masing ciri dan apa yang dimaksud dengan standar-standar
seperti “baik” atau “tidak memuaskan”.
2. Efek Hallo
Masalah yang dapat terjadi dalam kinerja bila penilain seorang penyelia
terhadap seorang bawahan pada satu ciri membiaskan penilain atas orang
itu pada ciri lainnya. Kesadaran pada masalah ini merupakan kangkah
utama untuk dapat menghindarinya. Selain itu pelatihan kepenyeliaan jadi
dapat mengurangi masalah.
21
3. Kecenderungan sentral
Suatu kecenderungan untuk menilai semua karyawannya dengan cara yang
sama, seperti menilai mereka dalam tingkat rata-rata. Sebagai gantinya
peningkatan karyawan dengan menggunakan skala grafik dapat
menghindari masalah kecenderungan sentral karena semua karyawan harus
diperingatkan dengan demikian tidak dapat terjadi dinilai rata-rata.
4. Terlalu keras atau terlalu longgar
Masalah lain yang mungkin terjadi ketika seorang penyelia
berkecenderungan untuk menilai semua bawahannya entah terlalu tinggi
atau terlalu rendah. Jika skala penilaian grafik yang harus digunakan,
maka perlu untuk mengandalkan satu distribusi kinerja, upayakan untuk
membuat penyebaran.
5. Prasangka
Kecenderungan untuk mengikuti perbedaan individual seperti usia, ras dan
jenis kelamin untuk mempengaruhi tingkat penilaian yang diterima
karyawan. Penting bila penilain dilakukan secara objektif dan usahakan
untuk membendung pengaruh dan dari faktor-faktor seperti kinerja
terdahulu usia, ras dan lainnya.
Penilaian kinerja pada seluruh karyawan merupakan kegiatan yang
harus secara rutin dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja
organisasi secara objektif tepat dan didokumentasikan secara baik cenderung
menurunkan potensi penyimpanan yang dilakukan karyawan sehingga kinerja
karyawan sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.
22
Penilaian kinerja yang sistematik akan sangat bermanfaat untuk
berbagai kepentingan yaitu:
1. Mendorong peningkatan kinerja karyawan
Dengan mengetahui hasil penilaian karyawan maka pihak-pihak yang
terlibat dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kinerja
karyawan dapat lebih meningkat lagi di masa yang akan datang.
2. Bahan pertimbangan keputusan dalam pemberian imbalan
Imbalan yang diberikan perusahaan tidak terbatas hanya pada upah atau
gaji saja akan tetapi juga berbagai imbalan lain seperti bonus akhir tahun,
hadiah pada hari raya atau bahkan ada perusahaan yang memperbolehkan
karyawannya yang memiliki sejumlah saham perusahaan sebagai denean
hasil penilaian kinerja dapat ditentukan siapa-siapa yang berhak menerima
berbagai imbalan tersebut.
3. Kepentingan mutasi karyawan
Hasil penilaian kinerja karyawan dimasa lalu dapat dijadikan dasar
pengambilan keputusan mutasi baginya dimasa depan. Mutasi tersebut
dapat berupa promosi dan alih wilayah.
4. Guna menyusun program pendidikan dan pelatihan
Guna mengatasi berbagai kekurangan dan kelemahan ataupun untuk
mengembangkan potensi karyawan yang sebelumnya belum tergaris
sepenuhnya, hal tersebut dapat terungkap pada hasil penilaian kinerja.
23
5. Membantu para pegawai menentukan rencana kariernya
Dengan hasil penilaian kinerja maka bagian personalia dapat membantu
karyawan dalam menyusun program pengembangan karier yang paling
tepat guna kepentingan karyawan dan perusahaan yang bersangkutan.
Tujuan Penilaian dan Pengukuran Kinerja
Tujuan dari penilaian kinerja dalam hal ini, tidak hanya berfokus pada
tujuan yang bersifat administrasi, tetapi juga terfokus pada tujuan strategi
pengembangan. Tujuan yang bersifat administrasi menunjukkan tanggung
jawab penilaian kinerja untuk melakukan pencatatan terhadap perilaku atau
prestasi karyawan selama periode tertentu sehingga berdasarkan dokumen itu
dapat ditentukan kompensasi yang harus diterima oleh karyawan. Dokumen
ini berfungsi pula sebagai sumber informasi bagi manajemen untuk
menjalankan kebijakan promosi atau pelatihan. Penilaian kinerja harus mampu
mengaitkan tugas-tugas dan karakteristik kemampuan karyawan dengan tujuan
strategi organisasi. Sedangkan tujuan pengembangan menunjukkan bagaimana
pengembangan kinerja menjadikan efektifnya tugas dan tanggung jawab
karyawan dalam melaksanakan perkerjaannya.
Penilaian kinerja penting untuk dilakukan sehubungan dengan individu
yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan perbedaan hasil
kerja, oleh karena itu dibutuhkan standarisasi dalam penilaian. Penilaian
kinerja sebagaimana diungkapkan oleh Pigordan Myers (dalam Kurniawan,
1999) meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut:
24
1. Pengetahuan kerja
2. Kualitas kerja dan kuantitas kerja
3. Kemampuan mempelajari tugas-tugas baru
4. Inisiatif
5. Kerja sama
6. Pertimbangan dan akal sehat
Menurut Ahmad S. Ruki (2001) penilaian kinerja dapat dilihat dengan
menggunakan 6 faktor karakteristik pribadi sebagai objek penilaian yaitu
1. Kuantitas pekerjaan
2. Kualitas hasil kerja
3. Kejujuran
4. Ketaatan
5. Inisiatif
6. Kecerdasan
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Flippo (dalam Kurniawan, 1999)
menyebutkan bahwa penilaian kinerja mencakup
1. Kualitas pekerjaan: ketepatan, keterampilan, ketelitian, kerapian.
2. Kuantitas kerja: output
3. Ketangguhan: disiplin, inisiatif, ketepatan waktu dan kehadiran.
4. Sikap: terhadap perubahan pekerjaan dan lingkungan kerja.
Handoko (2001;135) menyatakan bahwa penilaian kinerja adalah proses
melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kinerja
karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia
25
dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang pelaksanaan
kerja mereka. Kegunaan-kegunaan penilaian kinerja dapat dirinci sebagai
berikut:
1. Perbaikan prestasi atau kinerja
Umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan karyawan, manajer dan
departemen personalia dapat membetulkan kegiatan-kegiatan mereka
untuk memperbaiki kinerja atau prestasi.
2. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
Evaluasi kerja atau prestasi kerja membantu para pengambil keputusan
dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus, dan bentuk
kompensasi lainnya.
3. Keputusan-keputusan penempatan
Promosi, transfer biasanya didasarkan pada kinerja atau prestasi kerja
masa lalu atau antisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk
penghargaan terhadap kinerja atau prestasi kerja masa lalu.
4. Kebutuhan-kebutuhan latihan dan pengembangan
Prestasi atau kinerja yang jelek mungkin menunjukkan kebitihan latihan.
Demikian juga prestasi yang baik mungkin mencerminkan potensi yang
harus dikembangkan.
5. Penyimpangan-penyimpangan proses staffing
Kinerja atau prestasi kerja yang baik atau jelek mencerminkan kekuatan
atau kelemahan prosedur steffing departemen personalia.
26
6. Ketidak akuratan informasional
Kinerja atau prestasi yang jelek mungkin menunjukkan kesalahankesalahan
dalam informasi analisis jabatan, rencana-rencana sumber daya
manusia atau komponen-komponen lain sistem informasi manajemen
personalia. Menggantungkan informasi pada informasi yang tidak akurat
dapat menyebabkan keputusan-keputusan yang tidak tepat.
7. Kelemahan-kelemahan desain pekerjaan
Kinerja atau prestasi yang jelek mungkin merupakan suatu tanda kesalahan
dalam desain pekerjaan.
8. Kesempatan kerja yang adil
Penilaian kinerja atau prestasi secara akurat akan menjamin keputusankeputusan
penempatan internal diambil tanpa diskriminasi.
9. Tantangan-tantangan eksternal
Kadang-kadang kinerja atau prestasi kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor
diluar lingkungan kerja seperti keluarga, kesehatan, kondisi finansial atau
masalah-masalah pribadi lainnya.
Masalah pengukuran kinerja dapat terjadi pada tahap penilaian kinerja
seperti yang diungkapkan oleh Olifer (dalam Dessler, 1997) adalah sebagai
berikut:
1. Kekuarangan standar
Tanpa adanya standar tidak ada penilaian yang objekif hanya ada dugaan
atau perasaan subjektif tentang kinerja.
27
2. Standar yang tidak relevan atau subjektif
Standar-standar hendaknya ditetapkan dengan menganalisis hasil
pekerjaan untuk memastikan bahwa pekerjaan-pekerjaan itu berhubungan
dengan pekerjaan.
3. Standar yang realitis
Standar-standar adalah tujuan untuk memberikan motivasi. Standarstandar
yang masuk akal dan menentang itu paling berpotensi untuk
memotivasi keryawan untuk bekerja lebih baik.
4. Ukuran yang jelek atas kinerja
Objektivitas dan perbandingan menuntut bahwa kemajuan kearah standar
atau pencapaian standar yang dapat diukur.
5. Umpan balik yang jelek terhadap karyawan
Standar dan atau penilaian harus dikomunikasikan kepada karyawan agar
evaluasi kinerja bias efektif.
6. Komunikasi yang efektif
Proses evaluasi itu dihalangi oleh komunikasi yang bersifat negatif, seperti
ketidakluwesan, pembelaan diri, dan pendekatan yang tidak bersifat
mengembangkan.
7. Kegagalan untuk menerapkan data evaluasi
Kegagalan untuk menggunakan evaluasi dalam pengambilan keputusan
personil meniadakan tujuan utama evaluasi kinerja. Penggunaan dan
pertimbangan berbagai ragam kriteria juga frekwensi evaluasi ikut
menimbulkan masalah.
28
Kesejahteraan
Karyawan
Kinerja
Karyawan
C. Pengaruh Kesejahteraan Karyawan terhadap Kinerja Karyawan
Kesejahteraan karyawan itu selalu menjadi keinginan setiap orang
karena dengan hidup sejahtera orang akan dapat menikmati hidupnya.
Demikian juga dengan karyawan disuatu Perusahaan, jika kesejahteraan
karyawan itu terjamin maka akan dapat meningkatakan prestasi kerja
karyawan.
Adapun manfaat yang diperoleh dengan diselenggarakan program
kesejahteraan karyawan adalah sebagai berikut :
1. Memperbaiki semangat dan kesejahteraan karyawan
2. Penarikan tenaga kerja atau karyawan yang lebih efektif
3. Menurunkan tingkat absensi
Disisi lain dengan semangat kerja atau prestasi kerja karyawan yang
baik itu dapat meningkatkan usaha dan juga akan meningkatkan
rentabilitasnya. Oleh sebab itu dengan meningkatnya tingkat rentabilitas suatu
perusahaan, maka dalam pemberian kesejahteraan kepada karyawan akan
bertambah atau meningkat.
D. Kerangka Pemikiran
Untuk dapat memahami permasalahan yang akan dibahas, maka perlu
suatu skema yang menunjukkan hubungan masing-masing variable yang
diteliti, kerangka ini penulis sajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut :
29
H1 : Diduga kesejahteraan karyawan mempunyai pengaruh terhadap kinerja
karyawan
E. Penelitian Terdahulu
Sukir (2004) pernah melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh
Disiplin Kerja dan Pemberian Insentif Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Bagian PT. Batik Keris Sukoharjo Tahun 2002-2003”. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian insentif terhadap
produktivitas kerja karyawan bagian produksi PT. Batik Keris Sukoharjo
Tahun 2002-2003. Berdasarkan analisis regresi linear berganda diperoleh hasil
bahwa disiplin kerja dan pemberian insentif secara parsial maupun bersamasama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja
karyawan bagian produksi PT. Batik Keris Sukoharjo Tahun 2002-2003.
Suhari dan Tjokroamidjojo (2002) pernah melakukan penelitian
dengan judul: “Analisis Pengaruh Pemberian Kompensasi Terhadap Kinerja
Pada Perusahaan Perhotelan Di Surakarta”. Berdasarkan hasil analisis regresi
linear berganda diperoleh temuan bahwa variabel kompensasi yang diukur dari
gaji, tunjangan dan kesejahteraan karyawan secara individual maupun
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja pada Perusahaan
Perhotelan di Surakarta.
Novi (2004) pernah melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh
Gaji, Absensi Kerja dan Jaminan Sosial Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Pada PT. Triangga Dewi Di Surakarta”. Menyimpulkan bahwa gaji
30
dan jaminan sosial berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja karyawan
sedangkan absensi kerja berpengaruh negatif terhadap produktivitas kerja.
Masnurhadi (2003) meneliti tentang pengaruh iklim organisasi dan
kompensasi terhadap produktivitas kerja karyawan di Rumah Sakit Dr.
Moewardi Surakarta. Hasil penelitian data terbukti bahwa kedua variabel
independen secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap produktifitas kerja karyawan. Besarnya koefisien determinasi 68,3%,
hal ini menunjukkan bahwa 68,3% produktivitas kerja karyawan dapat
dijelaskan oleh variabel independen dan sisanya 31,7% diterangkan variabel
lain.
Prastowo (2002) meneliti tentang pengaruh kepemimpinan, motivasi,
dan kepuasan terhadap kinerja karyawan di STSI Surakarta. Hasil penelitian
data terbukti bahwa ketiga variabel independen secara bersama-sama
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Besarnya
koefisien determinasi 66,8%, hal ini menunjukkan bahwa 66,6% kinerja
karyawan dapat dijelaskan oleh variabel independen dan sisanya 33,4%
diterangkan variabel lain.
F. Hipotesis
Agar diperoleh suatu pandangan untuk menganalisis data selanjutnya,
maka dikemukakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap
pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah. Untuk selanjutunya akan
dilakukan pengujian atau pembuktian atas kebenaran secara empiris.
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi
Menurut Djarwanto (1994;107) populasi adalah keseluruhan objek
yang karakteristiknya hendak diduga. Sebagai populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh karyawan.
B. Sampel & Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak
diduga dianggap mewakili populasinya (Djarwanto, 1994;109). Metode
pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan Conviniance
sampling. Pengambilan sampel berdasarkan rumus Slovin, yaitu sejumlah 88
responden,dengan rumus sebagai berikut :
n = ( 2 ) 1 N d
N
+
Keterangan :
n : Besarnya sampel
N : Jumlah populasi
d : estimasi penyimpangan 0,1 (Notoatmojo, 2005)
Adapun perhitungannya :
n = ( 2 ) 1 N d
N
+
31
32
= ( 2 ) 1 723 0,1
723
+
= ( ) 1 723 0,01
723
+
=
1 7,23
723
+
=
8,23
723
= 88
Dengan perhitungan tersebut maka dapat diambil sampel sejumlah 88
responden.
C. Jenis Data dan Sumber Data
Data penelitian ini pada dasarnya jenis data dikelompokkan menjadi:
1. Data kualitatif
Merupakan data yang banyak diinginkan dalam penelitian filosofis dan
sebagian juga terdapat dalam penelitian diskriptif dan penelitian historis.
Data kualitatif terdiri dari gambaran umum dan struktur organisasi.
2. Data kuantitatif
Merupakan data hasil transformasi dari data yang berjenjang dengan
memberikan simbol angka secara berjenjang. Data kuantitatif ini
didapatkan dari jawaban responden yang berupa pengisian angket.
33
Dengan menganalisa hubungan antaravariabel bebas dan variable
terikat diperlukan data-data. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui
sumber-sumber data sebagai berikut:
1. Data primer: adalah data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian.
Dalam hal ini beberapa jawaban angket dari karyawan yang disebarkan
oleh penulis tentang analisis hubungan antara kesejahteraan karyawan
dengan kinerja karyawan di Air Mancur Wonogiri.
2. Data sekunder: yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung. Data ini
meliputi gambaran umum perusahaan, data jumlah karyawan dan literatur
yang berhubungan dengan penelitian.
D. Metode pengumpulan data
Pengumplan data penelitian ini menggunakan metode survey, dimana
alat pengumpulan data yang pokok dari sumber primer adalah kuisioner.
Metode kuisioner adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan
data dengan cara memakai daftar pertanyaan yang disebarkan kepada
responden. Peneliti menyusun dan membagikan daftar pertanyaan untuk
memperoleh data primer mengenai permasalahan yang diteliti dan responden
diminta mengisi sesuai pendapatnya.
34
E. Devinisi Operasional Variabel dan Pengukuran
1. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan mempunyai arti aman sentosa dan makmur, selamat,
terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya(WJS.
Poerwodarminto,1984;492). Sedangkan karyawan adalah tiap orang yang
melakukan pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan karyawan
adalah suatu kondisi aman sentosa dan makmur terhindar dari berbagai
ancaman dan kesulitan yang dirasakan seseorang yang telah melakukan
suatu pekerjaan di suatu tempat. Adapun manfaat yang diperoleh bila
diselenggarakan kesejahteraan karyawan antara lain dapat memperbaiki
semangat dan kesejahteraan karyawan dan dapat menarik tenaga kerja atau
karyawan yang lebih efektif. Indikator kesejahteraan diukur dari
keamanan,kesenangan, dan kemakmuran.
2. Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya(As ad,1999;63).
Pelaksanaan pekerjaan akan lebih efektif apabila didukung dengan
keyakinan dan motivasi yang tinggi. Dengan adanya keyakinan akan
mendorong seseorang untuk bertanggung jawab terhadap
pekerjaannyasehingga dapat mengarahkan perilaku kerjanya demi
tercapainya tujuan yang diinginkan. Indikator kinerja karyawan diukur dari
sikap kerja, kedisiplinan kerja, kerja sama, dan kualitas kerja.
35
Adapun dalam penilaian kuisioner tersebut digunakan standar penilaian ):
1, 2, 3, 4 (Suharsini Arikunto) yang peneliti uraikan sebagai berikut :
1) Nilai 4, apabila responden menjawab alternatif a.
2) Nilai 3, apabila responden menjawab alternatif b.
3) Nilai 2, apabila responden menjawab alternatif c.
4) Nilai 1, apabila responden menjawab alternatif d.
F. Uji Kualitas Pengumpulan Data
Untuk menguji data yang diperoleh digunakan dua teknik yaitu :
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh alat
pengukur dapat mengungkap dengan jitu gejala yang hendak diukur
sehingga alat pengukur benar-benar mengukur apa yang diukur. Menurut
Sutrisno Hadi (1999;19) cara mengukur variable adalah dengan
mengkorelasikan antar skor items & skor total. Untuk uji validitas ini
menggunakan teknik korelasi product moment yang rumusnya :
Rxy =
( )( )
{N 2 2}{N 2 2}
N XY -
ΣΧ −ΣΧ ΣΥ −ΣΥ
Σ ΣΧ ΣΥ
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu pengukuran
dapat dipercaya untuk mencari reliabilitas instrument yang skornya berupa
skala bertingkat (ranting scale) dapat diuji dengan menggunakan teknik
cronbach alpha. Menurut Suharsini Arikunto (1993;165) metode ini dipilih
36
karena dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keterkaitan antara butir
pernyataan dalam suatu instrument penelitian.
Penjabaran rumusnya adalah :
r =  


 
 Σ
−  


 

2
2
1
K-1
K
t
b
ρ
ρ
Dimana :
r = Reliabilitas instrument
k = Banyaknya butir pertanyaan /banyaknya soal
Σρb2 = Jumlah varians butir
ρt2 = Varians total
G. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan analisis regresi sederhana maka perlu adanya
persyaratan yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Uji asumsi klasik dilakukan
untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan dalam model regresi.
Pegujian ini meliputi :
1. Uji Normalitas
Kenormalan data diperlukan untuk menguji keselarasan akan kepastian
data yang diperoleh. Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan
program SPSS. Uji normalitas menggunakan kolmogarov smirnov (k-1).
Hasil dari uji normalitas adalah :
a. Nilai signifikan ≤ 0,05 maka Ho ditolak, hal ini berarti bahwa data
tidak berdistribusi normal.
37
b. Nilai signifikan ≥0,05 maka Ho diterima, hal ini berarti bahwa data
berdistribusi normal.
H. Metode Analisis Data
Untuk membuktikan hubungan antara variabel dalam penelitian ini
penulis menggunakan alat analisis:
1. Analisis regresi sederhana
Analisis regresi sederhana adalah suatu teknik yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Rumus yang digunakan sebagai berikut (Djarwanto Ps, 1994;230)
Y = a + bX + e
Dimana : Y = kinerja karyawan
X = kesejahteraan karyawan
b = koefisien regresi
a = bilangan konstan
e = variabel pengganggu
2. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah membuktikan adanya
pengaruh variabel bebas (kinerja) terhadap variabel terikat (kesejahteraan)
digunakan perhitungan uji F dan uji t.
38
a. Uji F
Uji F diperlukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (X)
terhadap variabel dependen (Y) secara simultan. Adapun langkahlangkahnya
(Djarwanto Ps, 1991:246).
2) Menentukan hipotesis nihil dan hipetesis alternaif
Ho : β1 = 0, tidak ada pengaruh dari variabel independen secara
serentak terhadap variabel dependen.
H1 : β1 ≠ 0, ada pengaruh dari variabel independen secara serentak
terhadap variabel dependen.
3) Menentukan level of signifikan (α = 5%), derajat kebebasan
(dF1 = k – 1 dan dF2 = n – k)
4) Menentukan kriteria pengujian
Ho diterima Fhitung ≤ Ftabel
Ho ditolak Fhitung ≥ Ftabel
Ho diterima Ho ditolak
F (α; n-k; k-1)
Gambar III.1. Grafik Uji F
5) Menentukan nilai Fhitung
Fhitung =
( )
(1 r )/ (n k 1)
r / k 1
2
2
− − −

Dimana: r 2 = koefisien determinasi
k = banyaknya variabel bebas (x)
39
n = jumlah sampel
6) Nilai Fhitung yang diperoleh dibandingkan dengan nilai Ftabel apabila
Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh yang signifikan antara variabel-variabel independen
dengan variabel dependen. Apabila F hitung < Ftabel, maka Ho
diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh
yang signifikan antara variabel independen dengan variabel
dependen.
a. Uji t (t-test)
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen secara individual. Adapun langkahlangkahnya
(Djarwanto Ps, 19947:246)
1) Menentukan hipotesis nihil dan hipetesis alternaif
Ho : β1 = 0, tidak berpengaruh yang signifikan dari masing-masing
variabel independen terhadap variabel dependen.
H1 : β1 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan dari masing-masing
variabel independen terhadap variabel dependen.
2) Menentukan level of signifikan (α = 5%), dan tingkat kebebasan
(dF = n – 1)
3) Menentukan kriteria pengujian
Ho diterima apabila Ftabel ≤ Fhitung
Ho ditolak apabila Fhitung ≥ Ftabel
40
Gambar III.2
Grafik uji t
4) Menentukan nilai thitung dengan rumus:
thitung =
Sb
b
Dimana: b = koefisien regresi variabel
Sb = standar error koefisien regresi variabel
5) Setelah diperoleh nilai thitung kemudian dibandingkan dengan ttabel.
Apabila thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak, berarti ada pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila
thitung ≤ ttabel maka Ho diterima berarti tidak ada pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel dependen.
-t(α/2;n-1) Ho ditolak Diterima Ho ditolak t(α/2;n-1)
41
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Sejarah dan perkembangan perusahaan
PT AIR MANCUR dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah
perusahaan jamu tradisional yang besar, dan modern di Indonesia. Selaras
dengan perkembangan dunia pengobatan secara tradisional tidak kalah
dengan perkembangan pengobatan secara modern. Bahkan pengobatan
yang berasal dari bahan tradisional ini selalu mendapat tempat di hati
masyarakat Indonesia. Kecenderungan ini pada dasarnya bukan hanya
sekedar karena masyarakat Indonesia konsumeris terhadap jamu, tetapi
lebih dari itu ada kepercayaan dari masyarakat bahwa obat tradisional
tidak mempunyai efek samping secara serius dibanding dengan obat
medis. PT AIR MANCUR bukanlah suatu perusahaan yang didirikan
dengan modal besar, melainkan perusahaan home industri yang tidak
dikenal sama sekali.
a. Dari Home Industri Sampai Menjadi Perseroan Terbatas (PT)
Perusahaan jamu PT AIR MANCUR adalah salah satu
perusahaan yang ada di Indonesia dan menempati tempat ternama
diantara perusahaan penghasil jamu lainnya. Mula pertama perusahaan
jamu ini hanyalah merupakan home industri dengan menggunakan 11
orang tenaga kerja dan menggunakan alat yang sangat sederhana.
41
42
Namun demikian ternyata hasil produksinya tidak mengecewakan,
bahkan dapat dikatakan tidak kalah dengan hasil produksi jamu yang
menggunakan mesin modern. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil
penjualan yang tinggi. Dan hasil penjualan yang tinggi ini terus
meningkat.
PT AIR MANCUR berdiri pada tanggal 23 Maret 1963 tepatnya
di Desa Pucang Sawit oleh Bapak L. Wonosantoso bersama dengan
dua temannya yaitu Bapak Rudi Hendrotanoyo dan Ongkosanjoyo.
Nama air mancur dipakai sebagai merek produk yang dihasilkan
mendapat hasil penjualan yang tinggi di kota Jakarta. Khususnya di
Jalan Moh. Husni Thamrin dimana terdapat air yang mancur dan nama
itu menjadi sangat popular. Kemudian mulai saat itu sampai sembilan
bulan pertama perkembangan usaha dapat dilihat sekaligus dapat
dirasakan hasilnya.
Melihat perkembangan usahanya, maka perlu dibentuk suatu
perusahaan yang berbadan hukum. Dan pada tanggal 23 Desember
1963, perusahaan ini berubah menjadi perusahaan yang berbadan
hokum Perseroan Terbatas (PT) dengan nama Perusahaan Jamu PT
AIR MANCUR dengan Akte Notaris Tan Sioe di Semarang No. 65,
serta Akte Pembetulan No. 65 yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli
1964, dan L. Wonosantoso menjadi direkturnya. Pada saat itu lokasi
perusahaan sudah pindah dari Pucang Sawit ke Wonogiri, yaitu pada
43
tanggal 11 Januari 1964. Ditempat baru ini produksi diperbesar dengan
jumlah tenaga kerja sebanyak 50 orang.
b. Perkembangan PT AIR MANCUR
Perkembangan yang dicapai semakin pesat, hal ini ditandai
dengan semakin meningkatnya jumlah karyawan yang dibutuhkan,
dengan bertambahnya jumlah karyawan mengakibatkan lokasi pabrik
semakin sempit, sehingga pada tahun 1973 perusahaan mempersiapkan
perluasan pabrik dilakukan di lokasi baru yaitu di daerah Palur yang
terletak di tepi jalan raya Solo-Sragen. Beberapa tahun kemudian
perusahaan dapat mendirikan pabrik baru:
1) Pda tahun 1976, mendirikan pabrik baru lagi di Daerah Jajar. Pabrik
ini digunakan untuk kegiatan logistik.
2) Pada tahun 1978, memperluas lagi pabrik baru di Klampisan dan
Salak.
3) Pada tahun 1995, memperluas lagi pabrik baru di Celep dan Jetis
sebagai produksi kosmerika.
2. Lokasi unit kerja perusahaan
PT AIR MANCUR mempunyai tiga daerah unit kerja yaitu:
a. Unit kerja Wonogiri (3 sayap produksi) yaitu di Wonogiri, Klampisan,
dan Salak.
b. Unit kerja Karanganyar (3 sayap produksi) yaitu di Palur, Celep dan
Jetis.
44
c. Sampai saat ini tenaga kerja yang dimiliki telah berjumlah 723 orang.
Perusahaan Jamu PT. AIR MANCUR semakin hari semakin
berkembang baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
3. Visi dan misi PT AIR MANCUR
a. Visi
Visi PT AIR MANCUR adalah menjadi perusahaan terdepan di
Indonesia yang menghasilkan produk alami bagi kesehatan.
b. Misi
Misi PT AIR MANCUR adalah:
1) Memproduksi dan memasyarakatkan obat alami, minuman
kesehatan, kosmetika, dan suplemen berbahan baku alami yang
inovatif, memberi nilai tambah tinggi dan menyehatkan
masyarakat.
2) Memuaskan pelangan dan konsumen melalui manfaat yang lebih
tinggi dari harapannya.
3) Memuaskan para “stakeholders” melalui kinerja perusahaan yang
prima dan di atas rata-rata industri sejenis.
4) Selalu tumbuh di atas rata-rata industri sejenis sehingga selalu
meningkatkan market share di setiap kategori produk.
5) Membangun Sumber Daya Manusia yang handal dan kompeten di
bidangnya.
45
Gambar IV. 1
STRUKTUR ORGANISASI PT. AIR MANCUR
4. Struktur Organisasi Perusahaanisasi
Direktur Utama
RUPS
Staff Ahli Staff Ahli
Direktur Muda
Administrasi
Keuangan
Keagenan
Pembukuan
Logistik
Gudang
Bhn Baku
Seleksi
Cuci / Oven
Peracikan
Laboratorium
Produk
Development
Produksi
Giling
Ayak
Aduk
Gudang jamu setengah jadi
Etiket Bungkus
Sales Promotion
Perencanaan
Reklame
Potografi
Bengkel
reklame
Pengawas
Penghubung
Penyalur
Penjualan
Mobil-mobil
Propaganda
Pengawas
Penghubung
Penyalur
Umum
Humas
Personalia
Bengkel
Mobil
Direktur Muda
46
Tugas Masing-Masing Struktur Organisasi
Dalam rangka menjalankan usahanya agar perusahaan dapat
tercapai, maka perlu adanya suatu sistem organisasi yang baik, karena
dengan suatu sistem organisasi yang baik maka efisiensi kerja akan lebih
baik.
Sistem organisasi yang jelas dapat diketahui wewenang, tugas serta
tanggung jawab dari masing-masing bagian maka tidak akan menimbulkan
kesimpangsiuran dalam menjalankan tugas dari masing-masing bagian
tersebut.
Secara garis besar, sebagian tugas dan tanggung jawab beberapa
bagian yang terdapat struktur organisasi perusahaan sebagai berikut:
a. Rapat Persero
Bertugas:
1) Memegang kekuasaan tertinggi pada perusahaan
2) Memilih Komisaris dan Direktur
b. Komisaris
Bertugas:
1) Sebagai penasehat Direktur bila terjadi hal-hal yang bersifat khusus
dan membutuhkan pertimbangan-pertimbangan.
2) Mengawasi dan mamahami serta mengamati cara kerja Direktur
dalam memimpin perusahaan.
c. Direktur
Bertugas:
1) Merumuskan kebijakan yang dikepalainya.
47
2) Mengadakan koordinasi dan singkronisasi di berbagai aktivitas
kepala bagian yang berada di dalam wewenangnya sehingga
tercipta kerjasama yang baik.
3) Bertanggung jawab terhadap persero yang menangani hasil
operasional perusahaan.
4) Melaksanakan koordinasi, singkronisasi dan pengawasan terhadap
aktivitas perusahaan.
5) Menangani masalah di bagian pemasaran dan bagian umum dengan
merumuskan kebijakan mengenai bagian tersebut berdasar mufakat
dengan kepala bagian.
6) Selalu mengusahakan efisiensi kepada kepala pemasaran dan
umum serta menerima laporan kerja dari bagian pemasaran dan
umum.
d. Bagian Administrasi
Bertugas menyelenggarakan tugas-tugas administrasi perusahaan
secara keseluruhan.
1) Keuangan
Bertugas:
a) Menyusun laporan keuangan.
b) Membantu direksi dalam mengelola dan mengendalikan
keuangan.
2) Keagenan
Bertugas:
Meminta barang dan hasil produksi kepada gudang pengiriman.
48
3) Pembukuan
Bertugas:
a) Bertanggung jawab dalam pembukuan selama satu tahun.
b) Mengadakan tutup pembukuan.
c) Bertanggung jawab atas laporan yang dibuatnya.
e. Bagian Logistik
Bertugas membuat perencanaan bahan-bahan yang akan dibeli dengan
persetujuan bagian pembelian dan pengelolaan bahan baku yang ada di
gudang.
1) Gudang bahan baku
Bertugas:
a. Menampung bahan baku.
b. Menyimpan di samping proses seleksi dilakukan.
2) Seleksi
Bertugas:
Memisahkan bahan baku dari benda-benda lain yang tidak
berfungsi.
3) Cuci dan Oven
Bertugas:
a. Membersihkan bahan baku dengan proses mencuci.
b. Mengeringkan bahan baku proses mesin.
49
4) Racikan
Bertugas:
a. Meramu bahan baku yang ada menjdi ramuan jamu sesuai
dengan formula perusahaan.
b. Mengirim ke gudang racikan yang siap digiling.
f. Bagian Laboratorium
Bertugas:
1) Meningkatkan produk yang dihasilkan.
2) Mencari sistem pengembangan produk.
3) Mengadakan penelitian yang intensif.
g. Bagian Produksi
Bertugas memproduksi jamu, baik secara kuantitas maupun kualitas.
1) Giling
Bertugas:
Menggiling bahan jamu yang sudah diracik sesuai dengan formula
perusahaan.
2) Ayak
Bertugas:
Mengayak bahan-bahan yang sudah digiling supaya mendapatkan
hasil yang memuaskan.
3) Aduk
Bertugas:
Mengaduk jamu yang sudah diayak, supaya lebih homogen.
50
4) Gudang jamu dan setengah jadi
Bertugas:
Menyimpan jamu sementara waktu sampai proses pembungkusan.
5) Etiket dan bungkus
Bertugas:
Membungkus jamu sekaligus mengemas dalam bentuk kemasan
kardus besar dan kemasan kecil.
h. Bagian Marketing
Bertugas:
1) Memasarkan dan menyalurkan barang hasil produksi.
2) Memberi saran dan pertimbangan pada Direktur utama dalam
penentuan pasar yang akan dilaksanan.
3) Mengkoordinasi dan mengurusi seluruh kegiatan yang berada di
bawah wewenangnya.
Pada bagian marketing terdapat sales promotion yang bertugas untuk:
1) Merencanakan kegiatan.
2) Menentukan obyek dan media untuk melaksanakan program
promosi penjualan.
3) Menentukan tujuan dan kegiatan.
4) Mengadakan perbandingan antara hasil kegiatan dengan
direncanakan untuk mendapat perbaikan.
5) Menyusun rencana anggaran untuk biaya promosi penjualan.
51
i. Bagian Umum
Bertugas:
1) Membantu direksi dalam mengolah dan menampung masalah yang
berhubungan dengan masalah perusahaan.
2) Membantu direksi dalam tugas komunikasi.
3) Menyusun usulan rencana anggaran untuk biaya produksi.
5. Personalia
Sampai saat ini perkembangan perusahaan dapat dilihat secara
nyata. Hal ini tidak lepas dari manusia sebagai Sumber Daya Manusia
yang penting bagi perusahaan.
a. Jumlah Tenaga Kerja
Di bawah ini perincian mengenai tenaga kerja PT AIR
MANCUR sesuai dengan jabatannya masing-masing.
No Jabatan Banyaknya Jumlah
1. Komisaris 3 orang 3
2. Direktur 1 orang 1
3. Staf Ahli
- Bidang Personalia
- Bidang Administrasi
- Bidang Produksi
1 orang
4 orang
1 orang
6
4. Departemen Pemasaran
- Manajer
- Sales Promotion
- Bagian Penjualan
1 orang
35 orang
156 orang
192
5. Departemen Produksi
- Manajer
- Logistik
- Laboratorium
- Pabrik
1 orang
22 orang
14 orang
341 orang
378
6. Departemen Adminstrasi
- Manajer 1 orang
52
- Bidang Keuangan
- Bidang Pembukuan
- Bagian Keagenan
3 orang
10 orang
75 orang
89
7. Departemen Umum
- Manajer
- Bidang Keuangan
- Personalia
1 orang
16 orang
37 orang
54
Jumlah
Tabel IV.1
Jumlah Tenaga Kerja PT. Air Mancur Palur
Kabupaten Karanganyar
b. Jam Kerja Karyawan
Dalam melaksanakan tugas operasional perusahaan
menggunakan sistem kerja sendiri yang sudah menjadi Kesepakatan
Kerja Bersama (KKB). Perusahaan merasa sudah cukup dengan
menggunakan sistem kerja perusahaan. Karena dalam memenuhi
permintaan pasar terhadap jamu, tidak hanya dilayani oleh unit Kerja
Palur saja tetapi juga dilayani oleh cabang-cabang produksi yang ada
dibawah naungan PT Air Mancur. Dengan demikian dalam
melaksanakan kegiatan operasional menggunakan sistem kerja
perusahaan yaitu sistem kerja yang sesuai dengan KKB perusahaan
yang mengatur mengenai hari dan jam karyawan yaitu:
1) Dalam satu hari bekerja selama 8 jam penuh
2) Bekerja dimulai pukul 07.30 – 16.00 WIB
3) Hari kerja dimulai dari Senin sampai dengan hari Jum’at
4) Istirahat kerja mulai pukul 11.00 – 11.30 WIB
53
Ketentuan ini berlaku bagi semua karyawan baik dari tingkat
yang atas sampai dengan tingkat bawah kecuali satpam harus selalu
ada di tempat dengan bergantian. Sistem pembagian kerja ini efektif
selama 8 jam kerja, sedangkan waktu istirahat hanya ½ jam. Memang
istirahat yang hanya setengah jam ini secara fisik melelahkan namun
demikian ternyata perusahaan juga memberikan perhatiannya melalui
pemberian waktu istirahat selama 2 hari yaitu pada hari Sabtu dan
Minggu dan diharapkan dengan diberikannya waktu istirahat ini dapat
memulihkan stamina tubuh karyawan untuk bisa kembali bekerja
selama 5 hari kerja.
c. Pengupahan bagi karyawan
Sistem pemberian upah pada perusahaan jamu PT. Air Mancur
diterimakan setiap akhir bulan, sedang status karyawan dibagi menjadi
dual golongan:
1) Karyawan Kontrak yaitu karyawan yang penerimaannya diadakan
perjanjian kontrak antara perusahaan dan karyawan tersebut, dan
kontrak ini bisa diperpanjang 1 kali lagi maksimal dua tahun.
2) Karyawan Tetap yaitu Karyawan yang penerimaan pertama kalinya
diberlakukan masa percobaan selama 3 bulan, setelah dinilai
mampu baru diangkat menjadi karyawan tetap atau dijadikan
karyawan kontak terlebih dahulu.
Pemberian upah bagi karyawan harian tetap dilaksanakan
sesuai dengan status karyawan yang telah ditetapkan oleh perusahaan
54
ada yang lewat Bank BCA dan secara langsung diterimakan. Besar
kecilnya upah disesuaikan dengan prestasi kerja dan kemampuan
perusahaan serta peraturan-peraturan perusahaan.
Kerja lembur yang berlaku dalam perusahaan ini berlaku
maksimal 2 jam perhari dan upah kerja lembur dibayar pada hari
Jum’at. Pekerjaan lembur ini biasanya dikerjakan pada bagian giling.
Kerja lembur ini dilakukan kalau memang perusahaan tidak dapat
memenuhi kapasitas produksi untuk permintaan pasar.
d. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan menyangkut harkat karyawan untuk
saling menghormati antara satu dengan yang lain; serta kenyamanan
karyawan dalam bekerja. Fasilitas-fasilitas yang diberikan untuk
kesejahteraan karyawan adalah:
1) KB (Keluarga Berencana)
Karyawan yang mengikuti program KB mendapat kesejahteraan
berupa uang.
a) KB suntik mendapatkan Rp. 20.000,00
b) KB inflan mendapatkan Rp. 20.000,00
c) IUD mendapatkan Rp. 25.000,00
d) MOW mendapatkan Rp. 100.000,00
2) Melahirkan
a) Mendapatkan Rp. 100.000,00
b) Minyak kayu putih 100 cc
55
c) Jamu bersalin super 1 kaleng
3) Menikah mendapat Rp. 75.000,00
Insentif ini diberikan apabila karyawan menikah pertama kali atau
pernikahan pertama, dan tidak diberikan apabila karyawan
menikah lagi dikarenakan cerai.
4) Menikahkan anak mendapatkan Rp. 50.000,00
Insentif ini diberikan apabila karyawan menikahkan anaknya
sampai dengan anak ketiga, tidak berlaku apabila pernikahan
anaknya nikah kedua.
5) Mengkhitankan atau membaptiskan anak mendapatkan Rp,
40.000,00.
Insentif ini diberikan apabila karyawan mengkhitankan anaknya/
baptis bagi anaknya sampai dengan anak ketiga.
6) Meninggal dunia mendapatkan Rp. 100.000,00
Diberikan apabila keluarga karyawan atau karyawan itu sendiri
meninggal dunia. Dan bagi karyawan mendapatkan uang pesangon
sesuai ketentuan yang berlaku di perusahaan selain bantuan ini.
7) Poliklinik dengan dua dokter.
Selain JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) yang diterapkan di
Perusahaan, karyawan juga bisa periksa/berobat di perusahaan
kepada dokter perusahaan yang jadwal kedatangannya sudah
ditentukan oleh perusahaan.
8) Tunjangan natura:
a) Beras 20 kg
56
b) Minyak tanah 10 liter
c) Sabun cuci 1 kg
9) Transportasi setiap karyawan mendapat Rp. 33.000,00
Uang transport diberikan bersama-sama dengan penerimaan gaji
akhir bulan, dan besarnya tetap tidak terpengaruh dengan kehadiran
karyawan.
10) Makan satu kali
Karyawan diberi makan oleh perusahaan satu kali yaitu pada jam
istirahat yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan
perusahaan.
11) Asuransi kecelakaan 24 jam dari Bank Bumi Putera
Asuransi ini adalah asuransi bagi karyawan, dengan keuntungan
karyawan diasuransikan selama 24 jam diluar jam kerja.
6. Produksi
Jenis produksi jamu memang sangat banyak ragamnya termasuk
PT. Air Mancur telah memproduksi 120 macam jamu rata-rata kapasitas
produksi sebanyak 400.000 pak/hari. Dari keseluruhan jenis jamu tersebut
masing-masing terbagi 5 jenis jamu yang di olah dalam bentuk serbuk,
tablet, kapsul dan cair.
Kelima jenis jamu tersebut antara lain meliputi:
1) Jamu-jamu untuk memelihara kesehatan
2) Jamu-jamu penyembuh sakit
3) Jamu-jamu obat luar
4) Tablet jamu dan kapsul jamu
57
5) Jamu-jamu cair
7. Produk Yang Dihasilkan
Secara garis besar, produk yang dihasilkan dikelompokkan
menjadi lima jenis, sebagai berikut:
a. Jamu-jamu untuk memelihara kesehatan
Untuk kelompok ini terbagi yaitu:
1) Untuk pria contohnya: jamu kuat manjur, sehat lelaki, jamu
kolesom dan sebagainya.
2) Untuk wanita contohnya: jamu sehat perempuan super, sari asih
super, dan sebagainya.
3) Untuk wanita haid, hamil, dan bersalin, contohnya: jamu cocok
bulan, terlambat bulan, bersalin dan sebagainya.
b. Jamu-jamu pengobatan, terbagi menjadi:
1) Untuk pria, contohnya: jamu klingsir super.
2) Untuk wanita, contohnya: jamu delima putih.
3) Untuk pria dan wanita, contohnya: jamu rematik.
c. Jamu-jamu obat luar, yaitu:
Contohnya: param kocok, bedak nirmala sari.
d. Jamu dalam bentuk Tablet jamu, pil dan kapsul
1) Kapsul ekstrak, contohnya: kuat manjur, galian singset, patmosari
dan mustika sari.
2) Tablet ekstrak, contohnya: terlambat bulan, kuat manjur, galian
singset, pegel linu.
58
3) Pil ekstrak, contohnya: sehat pria, galian putri langsing, encok,
galian param.
e. Lain-lain
Contohnya: madurasa, bubuk serbat.
8. Pemasaran
a. Dareah Pemasaran
Daerah pemasaran perusahaan Air Mancur bukan hanya didalam
negeri, tetapi juga telah menjangkau ke luar negeri yang meliputi
Singapura, Taiwan dan Malaysia, diutamakan yang berbentuk kapsul
dan tablet. Untuk pemasaran dalam negeri daerahnya meliputi wilayah
Indonesia, antara lain:
1) Daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta
2) Daerah Jawa Tengah
3) Daerah Istimewa Yogyakarta
4) Daerah Jawa Timur
Daerah Luar Jawa, meliputi: Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku
dan Irian Jaya.
b. Saluran Distribusi
Arus barang dari pensuplai atau gudang produk agar sampai
kepada konsumen melalui perantara dagang yaitu agen dan depo. Agen
bisa mempunyai sub agen bisa jadi tidak (tergantung kebijakan agen).
Agen atau sub agen mempunyai sales yang bertugas mendistribusikan
barang pada out lets dan konsumen. Sedangkan untuk depo sistemnya
sama dengan agen hanya perbedaannya depo digunakan untuk produk59
produk baru saja. Masing-masing depo dan agen ditempatkan seorang
pengawasan dari perusahaan. Hal ini untuk menghindari adanya halhal
yang tidak diinginkan terjadi. Setiap hari mereka harus melaporkan
barang-barang yang sudah terjual dan toko-toko mana yang sudah
didatangi dalam mendistribusikan barang.
Biasanya barang didistribusikan melalui dua cara, yaitu:
1) Distribusi pendek
Yaitu langsung dari perusahaan kepada konsumen melalui mobil
propaganda. Misalnya pada waktu pada pasar murah.
2) Distribusi panjang
Dari perusahaan ke agen tunggal, sub agen, kemudian sales dan
konsumen. Dan bila digambarkan sebagai berikut:
Gambar IV.2
Skema Saluran Distribusi
Produk
Agen
Sub Agen
Salesman
Out Lets
Konsumen
Depo
Salesmen
Out Lets
Konsumen
60
c. Promosi
Agar masyarakat dapat mengenal produk jamu, maka perusahaan
mempunyai sebuah program yang mengarah ke tujuan tersebut yaitu
dengan menggunakan program promosi, yang nantinya dapat dilakukan
dengan menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1) Periklanan
a) Media Massa
Perusahaan memasang iklan pada media massa mengenai produk
yang bersangkutan.
b) Papan reklame
Pemasangan papan reklame atau layar dari perusahaan mengenai
produk yang bersangkutan pada tempat yang strategis.
c) Radio
d) Televisi
2) Personal Selling
Kegiatan yang dilakukan dalam personal selling yaitu dengan
menggunakan sales-sales yang berlangsung menjual ke toko-toko
kecil/pengecer (sub riding). Selain itu perusahaan juga menggunakan
sales Blitz yang langsung bertatap muka dengan konsumen.
3) Publikasi
Berkaitan dengan kegiatan perusahaan atau kegiatan yang lainnya
dimana perusahaan ikut andil sebagai sponsor pendukung dalam iveniven
tertentu, sehingga akan mengundang minat pihak pers untuk
mempublikasikan perusahaan.
61
4) Promosi penjualan
Dalam kegiatan promosi penjualan perusahaan melakukan dengan cara
memberikan sampel, memberikan potongan pembelian, memberikan
kupon, dan memberikan bonus.
B. Deskripsi Responden Penelitian
1. Karakteristik Responden
Populasi yang diteliti adalah karyawan PT. Air Mancur. Jumlah
sampel yang diambil 88 responden. Berdasarkan informasi yang diperoleh
dari kuesioner yang diberikan, responden digolongkan kedalam beberapa
kelompok yang berdasarkan atas usia, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan dan pendapatan.
a. Usia
Usia menunjukkan umur mereka pada saat penelitian
dilakukan. Karakteristik usia responden dapat dilihat pada tabel IV.2
berikut ini :
Tabel IV.2
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN USIA
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 < 30 tahun 23 26,1
2 30 – 35 tahun 36 40,9
3 36 – 40 tahun 21 23,9
4 41 – 45 tahun 3 3,4
5 ≥ 45 tahun 5 5,7
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
62
Pada tabel IV.2 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden
paling banyak adalah berusia antara 30-35 tahun yaitu 40,9%, diikuti
responden dengan usia kurang dari 30 tahun (26,1%), kemudian usia
antara 36-40 tahun 23,9%, responden yang berusia lebih dari 40 tahun
sebanyak 5,7% dan responden yang paling sedikit adalah responden
yang berusia antara 41-45 tahun sebesar 3,4%.
b. Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat
dilihat pada tabel IV.3 dibawah ini.
Tabel IV.3
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS
KELAMIN
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 Perempuan 51 58
2 Laki-Laki 37 42
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.3 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden paling
banyak adalah perempuan sebanyak 51 responden (58%) dan
responden perempuan sebanyak 37 orang atau 42%.
c. Pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat
pada tabel IV.4 dibawah ini.
63
Tabel IV.4
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN
PENDIDIKAN
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 SD 19 21,6
2 SLTP 11 12,5
3 SLTA 32 36,4
4 Akademi 6 6,8
5 PT 20 22,7
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.4 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden paling
banyak adalah yang berpendidikan SLTA sebanyak 32 responden
(36,4%), diikuti responden berpendidikan PT sebanyak 20 responden
(22,7%), responden dengan pendidikan SD sebanyak 19 responden
(21,6%), responden dengan pendidikan SLTP sebanyak 11 responden
(12,5%) dan paling sedikit adalah responden dengan pendidikan
Akademi sebanyak 6 responden (6,8%).
d. Jumlah Keluarga
Karakteristik responden berdasarkan jumlah keluarga dapat
dilihat pada tabel IV.5 dibawah ini.
Tabel IV.5
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JUMLAH
KELUARGA
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 2 orang 17 19,3
2 3 orang 27 30,7
3 4 orang 31 35,2
4 5 orang 13 14,8
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
64
Pada tabel IV.5 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden
paling banyak adalah yang mempunyai keluarga 4 orang sebanyak 31
responden (40%), diikuti responden yang memiliki keluarga 3 orang
sebanyak 27 responden (34%), kemudian responden yang memiliki
keluarga 2 orang sebanyak 17 responden (19,3%) dan yang paling
sedikit adalah responden yang memiliki keluarga 5 orang sebanyak 13
responden atau 14,8%.
2. Deskripsi Statistik
Deskripsi data digunakan untuk memberikan gambaran mengenai
data yang diperoleh dari hasil penelitian. Deskripsi data ini melputi mean,
standar deviasi, minimum dan nilai maksimumnya. Hasil perhitungan
deskripsi data dengan komputer program SPSS 10.0 dapat dilihat pada
tabel IV.6 dibawah ini.
Tabel IV.6
DESKRIPSI STATISTIK
Variabel Minimum Maksimum Mean Std deviasi
Tunjangan
kesejahteraan
Kinerja karyawan
22
42
52
58
43,76
50,76
3,90
3,38
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.6 di atas diperoleh nilai rata-rata variabel tunjangan
kesejahteraan adalah sebesar 43,76 dengan standar deviasi sebesar 3,90,
sedangkan nilai minimum sebesar 22 dan nilai maksimum sebesar 52 dan
nilai rata-rata variabel kinerja karyawan adalah sebesar 50,76 dengan
standar deviasi sebesar 3,38, sedangkan nilai minimum sebesar 42 dan nilai
maksimum sebesar 58.
65
C. Analisa Data
1. Pengujian Instrumen Penelitian
Sebelum dilakukan analisis terhadap data primer maka perlu
dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuesiner yang dipakai
dalam penelitian ini.
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu
alat ukur dapat mengungkapkan ketepatan gejala yang dapat diukur.
Validitas alat ukur dicari dengan menguji korelasi antar skor butir
dengan skor faktor yang diperoleh dari jawaban terhadap kuesioner.
Korelasi antara skor pertanyaan dengan skor totalnya signifikan. Hal
ini ditunjukkan oleh ukuran statistik tertentu yaitu angka korelasi.
Angka korelasi yang diperoleh harus lebih besar dari critical value
yang diisyaratkan. Tehnik pengukuran yang digunakan adalah tehnik
Product Moment dari Pearson.
Tabel IV.7
RANGKUMAN HASIL UJI VALIDITAS TUNJANGAN
KESEJAHTERAAN
Variabel Butir r-hitung r-tabel Keterangan
Tunjangan
kesejahteraan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
0.4579
0.5911
0.2842
0.5455
0.2351
0.5837
0.5077
0.4815
0.2950
0.4723
0.3386
0.3123
0.2513
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Keterangan : Data primer yang diolah
66
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas, maka dapat
dikemukakan bahwa hasil uji r-hitung pada setiap item pertanyaan
lebih besar daripada r-tabel. Dengan demikian, semua item pertanyaan
yang digunakan dalam kuesioner tunjangan kesejahteraan adalah valid.
Tabel IV.8
RANGKUMAN HASIL UJI VALIDITAS KINERJA KARYAWAN
Variabel Butir r-hitung r-tabel Keterangan
Kinerja
karyawan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
0.2545
0.2667
0.3277
0.4594
0.2436
0.2482
0.2784
0.3774
0.2918
0.3212
0.2412
0.3572
0.2994
0.3092
0.2727
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Keterangan : Data primer yang diolah
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas, maka dapat
dikemukakan bahwa hasil uji r-hitung pada setiap item pertanyaan
lebih besar daripada r-tabel. Dengan demikian, semua item pertanyaan
yang digunakan dalam kinerja karyawan adalah valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu
alat ukur dapat digunakan, dipercaya, dan diandalkan untuk meneliti
suatu obyek. Dalam penelitian ini, dilakukan uji reliabilitas terhadap
67
kuesioner dengan mengetahui sejauh mana kuesioner tersebut dapat
digunakan, dipercaya, dan diandalkan.
Tehnik yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Alpha
Cronbach. Kuesioner dapat dikatakan reliabel jika mempunyai
koefisien korelasi lebih dari 0,6. Hasil yang diperoleh dari uji
reliabilitas terhadap kuesioner pada masing-masing variabel adalah
sebagai berikut :
Tabel IV.9
RANGKUMAN HASIL UJI RELIABILITAS
Variabel Koefisien
Alpha
Critical
Value
Keterangan
Tunjangan
kesejahteraan
0,7843 0,6 Reliabel
Kinerja karyawan 0,6981 0,6 Reliabel
Keterangan : Data primer yang diolah
Berdasarkan perhitungkan yang dilakukan dengan
menggunakan program SPSS 10.0, hasil perhitungan terhadap variabel
tunjangan kesejahteraan sebesar 0,7843 dan kinerja karyawan sebesar
0,6981. Dari hasil tersebut terlihat bahwa reliabilitas masing-masing
variabel menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,6 maka kuesioner
dinyatakan reliabel.
2. Pengujian Hipotesis
Analisis data pada pengujian hipotesis dimaksudkan untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh tunjangan kesejahteraan terhadap
kinerja karyawan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan analisis
regresi linear sederhana. Hasil analisis dapat dilihat sebagai berikut.
68
Tabel IV.10
RANGKUMAN HASIL REGRESI LINIER BERGANDA
Variabel Koef.
regresi
Std.
Error
t-hitung Sign
Konstanta
Tunjangan
kesejahteraan
28,584
0,507
3,326
0,076
8,595
6,695
0,000
0,000
R 0,585
R-Squared 0,343
Adj. R-Squared 0,335
F-Hitung 44,821
Probabilitas F 0,000
Keterangan : Data primer yang diolah
a. Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil pengolahan data untuk regresi linier berganda dengan
menggunakan program SPSS 10.0 dapat dilihat pada tabel IV.10 di
atas. Berdasarkan tabel tersebut dapat disusun persamaan regresi linier
berganda sebagai berikut :
Y = 28,584 + 0,507X
Berdasarkan persamaan regresi linier berganda di atas dapat
diuraikan sebagai berikut:
1) Nilai konstanta bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa apabila
variabel tunjangan kesejahteraan konstan, maka kinerja karyawan
bernilai positif.
2) Koefisien regresi variabel 0,507 (b1) bernilai positif, hal ini
menunjukkan bahwa tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh
positif terhadap kinerja karyawan. Artinya setiap ada peningkatan
tunjangan kesejahteraan, maka mengakibatkan kinerja karyawan
naik.
69
b. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing
variabel independen secara individu. Pengujian regresi digunakan
pengujian dua arah (two tailed test) dengan menggunakan α = 5% yang
berarti bahwa tingkat keyakinan adalah sebesar 95%. Perhitungan
besarnya t-tabel menggunakan rumus :
t-tabel = t α/2, n-1
= 0,05/2; 88-1
= 0,025; 87
= 1,960
Langkah-langkah prosedur pengujian :
a. Pengujian terhadap variabel tunjangan kesejahteraan
1) Formulasi hipotesis nol dan hipotesis alternatif
Ho: b1 = 0 (tunjangan kesejahteraan tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
karyawan)
Ha: b1 ≠ 0 (tunjangan kesejahteraan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kinerja karyawan)
2) Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,05
3) Nilai kritis = 1,960
Ho diterima apabila = -1,960 ≤ t-hitung ≤ 1,960
Daerah terima
Daerah tolak Daerah tolak
-1,960 1,960 6,695
70
Ho ditolak apabila = t-hitung > 1,960 atau t-hitung < -1,960
4) Hasil uji statistik
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai thitung
sebesar 6,695.
5) Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai thitung
sebesar 6,695. Oleh karena hasil uji t statistik (t-hitung)
lebih besar dari nilai t tabel (6,695 > 1,960) atau Pobabilitas t
lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak pada taraf
signifikansi 0,05. Artinya bahwa variabel tunjangan
kesejahteraan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan.
c. Uji R2
Tingkat ketepatan regresi dinyatakan dalam koefisien
determinasi yang besarnya antara nol dan 1 (satu). Jika koefisien
determinasi mendekati satu maka variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen dengan sempurna atau terdapat suatu
kecocokan yang sempurna (variabel bebas yang dipakai dapat
menerangkan dengan baik variabel tidak bebasnya). Namun jika
koefisien determinasi adalah 0 (nol) bararti independen tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen.
Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program
SPSS 10.0, dalam analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien
determinasi atau R2 sebesar 0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi
71
perubahan kinerja karyawan dijelaskan oleh variasi perubahan faktorfaktor
tunjangan kesejahteraan. Sementara sisanya sebesar 65,7%
diterangkan oleh faktor lain yang tidak ikut terobservasi.
3. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov.
Cara menguji normalitas yaitu dengan membandingkan probabilitas
(p) yang diperoleh dengan taraf signifikansi (α) 0,05. Apabila nilai p >
α maka distribusi data normal atau sebaliknya (Singgih, 2000: 179).
Hasil uji normalitas terhadap nilai residual model persamaan dengan
program SPSS 10.0 diperoleh nilai probabilitas di atas 0,05, hal ini
menunjukkan bahwa data berdistribusi secara normal ( p > 0,05).
Secara rinci hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah
ini.
Tabel IV.11
HASIL UJI NORMALITAS
Variabel Sign Kesimpulan
Residual 0,995 Normal
Sumber : Hasil pengolahan data
b. Uji Heterokedastisitas
Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika
72
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk menguji
ada tidaknya heteroskedastisitas di dalam penelitian ini menggunakan
uji Glejser yaitu dengan cara meregresikan nilai absolute residual
terhadap variabel independen. Ada tidaknya heteroskedastisitas
diketahui dengan melihat signifikansinya terhadap derajat kepercayaan
5%. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terjadi
heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat
pada tabel 4.18 dibawah ini.
Tabel IV.12
HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS
Variabel t hitung Prob Kesimpulan
Tunjangan
kesejahteraan
1,023 0,309 Bebas Heteroskedastisitas
Sumber : Hasil pengolahan data
Pada tabel IV.12 diketahui bahwa probabilitas masing-masing
variabel lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa variabel
tersebut bebas dari masalah heteroskedastisitas.
D. Pembahasan
Kesejahteraan karyawan itu selalu menjadi keinginan setiap orang
karena dengan hidup sejahtera orang akan dapat menikmati hidupnya.
Demikian juga dengan karyawan disuatu Perusahaan, jika kesejahteraan
karyawan itu terjamin maka akan dapat meningkatakan prestasi kerja
73
karyawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tunjangan kesejahteraan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, hal ini
ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 ( p < 0,05). Pengaruh positif
menunjukkan bahwa semakin tinggi tunjangan kesejahteraan yang diberikan
perusahaan dapat meningkatkan kinerja karyawan konsumen. Usaha-usaha
untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau pegawai merupakan suatu usaha
untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau pegawai adalah dengan
pertama, pemberian gaji atau upah yang adil, dalam pemberian gaji ini
disesuaikan dengan tugas yang telah dikerjakan dengan hasil yang memuaskan
dengan waktu tertentu. Sedangkan untuk tercapainya keadilan tersebut, maka
ada beberapa factor penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan tingkat
upah seorang pegawai atau karyawan adalah pendidikan, pengalaman,
tanggungan keluarga, kemampuan perusahaan, daan kondisi pekerja. Kedua,
asuransi. Dalam lingkungan kerja dimanapun pasti menginginkan
keselamatan, keamanan dan kesehatan kerja. Karena bagaimanapun juga
manusia menginginkan ketiga hal itu dan sanggup mengorbankan apa saja asal
dapat sehat, aman dan selamat. Sedangkan program asuransi ini bisa
berbentuk Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kecelakaan.
Disini perusahaan bisa melakukan kerja sama dengan Perusahaan Asuransi
untuk menanggung asuransi karyawannya. Ketiga, lingkungan kerja yang
aman dan sehat sangat diperlukan oleh semua orang karena ditempat kerja
yang demikian seseorang dapat bekerja dengan tenang sehingga dapat
memperoleh seperti yang diharapkan oleh perusahaan atau organisasi tersebut.
Keempat, melalui promosi atau kenaikan jenjang. Pihak perusahaan atau
74
suatu organisasi biasanya menyenangi dasar promosi adalah kecakapan kerja,
karena kecakapan kerja atau kinerja yang baik adalah merupakan dasar
kemajuan. Sedangkan pihak karyawan menghendaki unsure seniorisasi lebih
ditekankan dalam promosi, karena dengan makin lama masa kerja, maka
makin berpengalaman seseorang, sehingga kecakapan kerja mereka makin
baik. Tetapi pada umumnya didalam menentukan dasar untuk promosi sering
digunakan keduanya yaitu dasar kecakapan kerja dan senioritas jadi apabila
ada karyawan atau pegawai yang mempunyai kecakapan yang sama, maka
karyawan atau pegawai yang lebih seniorlah yang akan dipromosikan. Sebagai
salah satu pengembangan, promosi sangat diharapkan oleh setiap karyawan
atau pegawai dimanapun berada. Oleh karena itu dia akan mendapatkan hakhak
yang lebih baik daripada yang diperoleh sebelum promosi baik material
maupun non material. Hak-hak yang bersifat material misalnya kenaikan
pendapatan, perbaikan fasilitas sedangkan hak yang bersifat non material
misalnya status social, dan rasa bangga.
Kelima, Program Rekreasi. Dengan adanya kesempatan rekreasi itu
diharapkan para pegawai atau karyawan selalu bergairah atau mempunyai
semangat dalam bekerja. Salah satu program rekreasi adalah mengadakan tour
ke tempat-tempat wisata bersama keluarga. Keenam, Pemberian Fasilitas.
Yang dimaksud dengan fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan,
dipakai, ditempati dan dinikmati oleh pegawai baik dalam hubungan langsung
dengan pekerjaan seperti termasuk didalamnya semua alat kerja di perusahaan
dan secara tidak langsung untuk kelancaran pekerjaan seperti gedung, alat
komunikasi, ruangan kerja yang memadai dan lain sebagainya.
75
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya,
hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi variabel tunjangan
kesejahteraan sebesar 0,507 bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa
tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja
karyawan. Artinya tunjangan kesejahteraan yang diberikan perusahaan
semakin baik, akan meningkatkan kinerja karyawan.
2. Hasil uji t menunjukkan bahwa meliputi variabel tunjangan kesejahteraan
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Hal ini ditunjukkan
oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 Berarti hipotesis yang
menyatakan “Diduga kesejahteraan karyawan mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja karyawan”, terbukti.
3. Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program SPSS 10.0,
dalam analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien determinasi atau
R2 sebesar 0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi perubahan kinerja
karyawan dijelaskan oleh variasi perubahan tunjangan kesejahteraan.
Sementara sisanya sebesar 65,7% diterangkan oleh faktor lain yang tidak
ikut terobservasi.
75
76
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan ini mempunyai keterbatasan, oleh karena itu
keterbatasan ini perlu lebih diperhatikan untuk peneliti-peneliti berikutnya.
Keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena penelitian ini
hanya dibatasi pada karyawan PT. Air Mancur. Hasil penelitian ini
kemungkinan akan berbeda jika dilakukan pada instansi lain.
2. Keterbatasan yang melekat pada metode survey yaitu peneliti tidak dapat
mengontrol jawaban responden, dimana responden bisa saja tidak jujur
dalam responnya dan kemungkinan respon bias dari responden.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Variabel tunjangan kesejahteraan demokratik berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan, oleh karena itu pihak PT. Air Mancur
sebaiknya memperhatikan faktor tersebut untuk meningkatkan kinerja
karyawannya.
2. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dengan memperluas responden
tidak hanya pada PT. Air Mancur saja, tetapi dapat memperluas sampel
pada instansi yang lain sehingga daya generalisasi hasil penelitian dapat
diperbesar.
3. Penelitian selanjutnya sebaiknya mengembangkan variabel-variabel yang
diteliti, sebab tidak menutup kemungkinan bahwa dengan penelitian yang
77
mencakup lebih banyak variabel akan dapat menghasilkan kesimpulan
yang lebih baik.
4. Penelitian lain disarakan untuk menggunakan metode wawancara atau
observasi langsung kepada responden, sehingga jawaban responden dapat
dikontrol sehingga tidak terjadi bias atau salah persepsi dari responden
terhadap instrumen penelitian yang digunakan.
78
DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 1997. Statistik Induktif Untuk Ekonomi Dan Bisnis. Yogyakarta:UPP
AMP YKPN.
Heidjrachman dan Suad Husnan.2002. Manajemen Personalia. Yogyakarta:
BPFE
Djarwanto.1992. Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta :
Erlangga.
Djarwanto, Ps 1994. Statistik Induktif. BPFE .Yogyakarta.
Malayu Hasibuan. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta; CV. Haji
Masagung.
Mangkunegara . 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung
; PT. Remaja.
Moekijat. 1984. Manajemen Kepegawaian. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.
Moh As’ad. 1999. Seri Ilmu Sumber Daya Manusia-Psikologi Industri.
Yogyakarta : BPFE.
Poerdarminto W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
. 1972. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris.
Jakarta: Penerbit Hasta.
Suharsini Arikunto. Prosedur Penelitian suatu Pedekatan Praktik. Yogyakarta:
Penerbit Reneka Cipta.
79
IDENTITAS RESPONDEN
Nama Responden :
Umur :
Jenis kelamin :
Pendidikan :
Jumlah anggota keluarga :
Status di keluarga : a. Kepala Keluarga
b. Anak
c. Lain-lain, sebutkan
PETUNJUK PENGISIAN ANGKET PENELITIAN:
1. Isilah identitas anda
2. Untuk menjawab angket penelitian ini anda cukup member tanda (X) pada
salah satu jawaban (a, b, c, d) yang sesuai dengan keadaan anda.
I. VARABEL KESEJAHTERAAN KARYAWAN
1. Bagaimana menurut anda tentang kondisi kenyamanan kerja yang anda
rasakan di dalam kantor?
a. Sangat nyaman
b. Cukup nyaman
c. Kurang nyaman
d. Tidak nyaman
2. Bagaimana menurut anda tentang jaminan asuransi yang diberikan oleh
AIR MANCUR Palur (Seperti jaminan kecelakaan kerja)
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
3. Apakah pimpinan anda dalam menempatkan karyawan pada job-jobnya
sudah obyektif berdasarkan kinerja karyawan?
a. Ya, sangat obyektif
b. Ya, cukup obyektif
c. Ya, kurang obyektif
d. Tidak obyektif
80
4. Bagaimana tentang fasilitas kesehatan yang disediakan oleh AIR
MANCUR pada karyawan. Menurut pendapat anda?
a. Berfungsi, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dan tidak dipungut
biaya.
b. Berfungsi, baik untuk diri sendiri maupun keluarga tetapi dipungut
biaya
c. Berfungsi tetapi hanya untuk diri sendiri
d. Tidak berfungsi, karena belum pernah menggunakan.
5. Jika ada karyawan yang sakit dan harus dirawa di Rumah Sakit,
bagaimana menurut anda tentang banyuan biaya yang diberikan?
a. Sangat memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuasakan
d. Tidak memuaskan
6. Bagaimana menurut pendapat anda tentang program rekreasi bagi
karyawan yang diadakan oleh AIR MANCUR setiap setahun sekali?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak setuju
7. Bagaimana pendapat anda tentang cuti yang diberikan kepada karyawan
dalam satu tahun masa kerja?
a. Sangat menyenangkan
b. Cukup menyenangkan
c. Kurang menyenangkan
d. Tidak berpendapat
8. Apakah gaji atau imbalan yang anda terima itu sudah sesuai dengan
golongan masa kerja anda ?
a. Sangat sesuai
b. Cukup sesuai
c. Kurang sesuai
d. Tidak sesuai
81
9. Bagaimana menurut anda tentang potongan atas gaji atau intensif yang
anda terima atas alas an tertentu misalnya saat anda tidak masuk?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
10. Bagaimana menurut anda dengan tunjangan hari raya yang diberikan AIR
MANCUR kepada karyawan?
a. Sangat memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuaskan
d. Tidak memuaskan
11. Bagaimana tentang pelayanan bimbingan dan penyuluhan yang diberikan
kepada karyawan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
12. Bagaimana menurut anda tentang penghasilan yang anda terima?
a. Dapat mencukupi kebutuhan sehari hari, menabung dan investasi.
b. Dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung
c. Hanya bisa mencukupi kebutuha sehari-hari
d. Kurang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari
13. Bagaiman seragam kerja yang diberikan kepada karyawan di AIR
MANCUR
a. Diberikan dan sangat memuaskan
b. Diberikan dan cukup memuaskan
c. Diberikan dan kurang memuaskan
d. Diberikan tetapi tidak memuaskan
82
II. VARIABEL KINERJA KARYAWAN
14. Bagaiman anda menyelesaikan pekerjaan di pabrik?
a. Bersedia melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas-tugas yang
diberikan dan melakukan tugas-tugas tambahan
b. Melakukan pekerjaan rutin tanpa menunggu perintah
c. Melakukan pekerjaan dengan menunggu perintah
d. Melakukan pekerjaan rutin dengan menunggu perintah
15. Bagaiman sikap anda terhadap pekerjaan yang anda hadapi?
a. Sangat antusias atau bersemangat terhadap pekerjaan yang dihadapi
b. Menunjukkan perhatian yang normal dan umum dalam menghadapi
pekerjaan
c. Cukup perhatian terhadap pekerjaan yang dihadapi
d. Kurang perhatian terhadap pekerjaan yang dihadapi
16. Bagaimana dengan motivasi atau dorongan yang dilakukan pimpinan
tentang pelaksanaan pekerjaan agar supaya karyawan dapat bekerja
dengan baik?
a. Sangat baik
b. Baik
c. Cukup baik
d. Tidak baik
17. Bagaimana menurut anda tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
anda apa sudah sesuai dengan bidangnya?
a. Sangat sesuai
b. Sudah sesuai
c. Kurang sesuai
d. Tidak sesuai
18. Bagaimana menurut anda tentang kenaikan jabatan yang berdasarkan pada
seniorotas karyawan atau berdasarkan masa kerja?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
83
19. Bagaimana menurut anda dengan penentuan jam kerja (jumlah jam kerja)
bagi karyawan dalam waktu 1 hari?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
20. Bagaiman dengan waktu istirahat kerja yang diberikan kapada karyawan?
a. Waktunya sangat mencukupi
b. Cukup digunakan untuk istirahat
c. Kurang mencukupi waktunya
d. Tidak mencukupi waktunya
21. Bagaimana dengan waktu istirahat kerja yang diberikan kepada karyawan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
22. Bagaimana menurut anda tentang tindakan yang diambil pemimpin apabila
anda sering tidak masuk kerja?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
23. Bagaiman sikap anda tentang kedisiplinan yang dterapkan oleh pimpinan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
24. Bagaimana menurut anda tentang hubungan antara sesame teman kerja?
a. Sangat baik
b. Cukup baik
c. Kurang baik
d. Tidak baik
84
25. Bagaimana menurut anda apabila teman kerja anda diberi peluang untuk
promosi atau kenaikan jabatan?
a. Sangat mendukung
b. Kurang mendukung
c. Tidak mendukung
d. Tidak berpendapat
26. Kerja sama antara karyawan dengan karyawan lain dan karyawan dengan
pihak pimpinan penting artinya dalam menaikkan produktivitas kerja,
bagaiman pendapat anda?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
27. Untuk mempertinggi mutu karyawan, baik pengetahuan, kemampuan dan
ketrampilan kepada karyawan perlu diberikan berbagai macam latihan dan
pendidikan, bagaiman pendapat anda?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
28. Kualitas hasil kerja anda mengenai katepatan, ketelitian, katrampilan dan
keberhasilan yang dinilai oleh pimpinan, bagaimana menurut anda?
a. Selalu memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuaskan
d. Tidak memuaskan
85
Frequency Table
Usia
23 26.1 26.1 26.1
36 40.9 40.9 67.0
21 23.9 23.9 90.9
3 3.4 3.4 94.3
5 5.7 5.7 100.0
88 100.0 100.0
< 30 tahun
30 – 35 tahun
36 – 40 tahun
41 – 45 tahun
> 45 tahun
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Jenis Kelamin
51 58.0 58.0 58.0
37 42.0 42.0 100.0
88 100.0 100.0
Laki-laki
Perempuan
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Pendidikan
19 21.6 21.6 21.6
11 12.5 12.5 34.1
32 36.4 36.4 70.5
6 6.8 6.8 77.3
20 22.7 22.7 100.0
88 100.0 100.0
SD
SLTP
SLTA
Diploma
S1
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Jumlah Keluarga
17 19.3 19.3 19.3
27 30.7 30.7 50.0
31 35.2 35.2 85.2
13 14.8 14.8 100.0
88 100.0 100.0
2
3
4
5
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
86
Descriptives
Descriptive Statistics
88 22 52 43.76 3.90
88 42 58 50.76 3.38
88
Tunjangan
Kesejahteraan
Kinerja Karyawan
Valid N (listwise)
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
87
Validity & Reliability Test : Tunjangan Kesejahteraan
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis
******
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Mean Std Dev Cases
1. B1 3.4432 .6925 88.0
2. B2 3.1591 .5443 88.0
3. B3 3.3295 .5616 88.0
4. B4 3.3182 .5580 88.0
5. B5 3.4205 .5408 88.0
6. B6 3.4318 .5631 88.0
7. B7 3.4318 .6214 88.0
8. B8 3.3068 .5541 88.0
9. B9 3.4432 .5644 88.0
10. B10 3.3409 .5850 88.0
11. B11 3.3750 .4869 88.0
12. B12 3.4545 .5232 88.0
13. B13 3.3068 .5745 88.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 43.7614 15.2412 3.9040 13
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
B1 40.3182 12.5183 .4579 .7661
B2 40.6023 12.6561 .5911 .7538
B3 40.4318 13.7424 .2842 .7820
B4 40.4432 12.7554 .5455 .7577
B5 40.3409 13.9974 .2351 .7858
B6 40.3295 12.5913 .5837 .7539
B7 40.3295 12.6143 .5077 .7605
B8 40.4545 13.0094 .4815 .7639
B9 40.3182 13.6907 .2950 .7811
B10 40.4205 12.9131 .4723 .7644
B11 40.3864 13.7800 .3386 .7766
B12 40.3068 13.7554 .3123 .7790
B13 40.4545 13.8370 .2513 .7852
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Reliability Coefficients
N of Cases = 88.0 N of Items = 13
Alpha = .7843
88
Validity & Reliability Test : Kinerja Karyawan
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis
******
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P
H A)
Mean Std Dev Cases
1. B14 3.4205 .4965 88.0
2. B15 3.3068 .4638 88.0
3. B16 3.4659 .5663 88.0
4. B17 3.4091 .5172 88.0
5. B18 3.4205 .5191 88.0
6. B19 3.4659 .5017 88.0
7. B20 3.3977 .4922 88.0
8. B21 3.2727 .4729 88.0
9. B22 3.4432 .4996 88.0
10. B23 3.5114 .5027 88.0
11. B24 3.4432 .5437 88.0
12. B25 3.3182 .5370 88.0
13. B26 3.3409 .5227 88.0
14. B27 3.2841 .5017 88.0
15. B28 3.2614 .5772 88.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 50.7614 11.4252 3.3801 15
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
B14 47.3409 10.3652 .2545 .6889
B15 47.4545 10.4117 .2667 .6874
B16 47.2955 9.9347 .3277 .6801
B17 47.3523 9.6791 .4594 .6637
B18 47.3409 10.3422 .2436 .6904
B19 47.2955 10.3715 .2482 .6897
B20 47.3636 10.3030 .2784 .6861
B21 47.4886 10.0688 .3774 .6750
B22 47.3182 10.2424 .2918 .6846
B23 47.2500 10.1437 .3212 .6811
B24 47.3182 10.2884 .2412 .6911
B25 47.4432 9.9278 .3572 .6763
B26 47.4205 10.1545 .2994 .6837
B27 47.4773 10.1834 .3092 .6825
B28 47.5000 10.0920 .2727 .6876
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Reliability Coefficients
N of Cases = 88.0 N of Items = 15
Alpha = .6981
89
Regression
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Model Summaryb
.585a .343 .335 2.76
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
ANOVAb
340.552 1 340.552 44.821 .000a
653.436 86 7.598
993.989 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Coefficientsa
28.584 3.326 8.595 .000
.507 .076 .585 6.695 .000
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
90
Autocorrelation test :
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Model Summaryb
.585a .343 .335 2.76 1.503
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
Durbin-W
atson
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
ANOVAb
340.552 1 340.552 44.821 .000a
653.436 86 7.598
993.989 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Coefficientsa
28.584 3.326 8.595 .000
.507 .076 .585 6.695 .000
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
91
Normality test :
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
88
4.402616E-09
2.7405767
.106
.080
-.106
.995
.275
N
Mean
Std. Deviation
Normal Parametersa,b
Absolute
Positive
Negative
Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz
ed Residual
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
92
Heteroskedasticity test :
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: ABSRES
Model Summary
.110a .012 .001 1.8497
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
ANOVAb
3.581 1 3.581 1.047 .309a
294.240 86 3.421
297.821 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: ABSRES
Coefficientsa
-.264 2.232 -.118 .906
5.196E-02 .051 .110 1.023 .309
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: ABSRES
46
Tabel Nilai F0,05
Degrees of freedom for Nominator
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 15 20 24 30 40 60 120
1 161 200 216 225 230 234 237 239 241 242 244 246 248 249 250 251 252 253 254
2 18,5 19,0 19,2 19,2 19,3 19,3 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,5 19,5 19,5 19,5 19,5 19,5
3 10,1 9,55 9,28 9,12 9,01 8,94 8,89 8,85 8,81 8,79 8,74 8,70 8,66 8,64 8,62 8,59 8,57 8,55 8,53
4 7,71 6,94 6,59 6,39 6,26 6,16 6,09 6,04 6,00 5,96 5,91 5,86 5,80 5,77 5,75 5,72 5,69 5,66 5,63
5 6,61 5,79 5,41 5,19 5,05 4,95 4,88 4,82 4,77 4,74 4,68 4,62 4,56 4,53 4,50 4,46 4,43 4,40 4,37
6 5,99 5,14 4,76 4,53 4,39 4,28 4,21 4,15 4,10 4,06 4,00 3,94 3,87 3,84 3,81 3,77 3,74 3,70 3,67
7 5,59 4,74 4,35 4,12 3,97 3,87 3,79 3,73 3,68 3,64 3,57 3,51 3,44 3,41 3,38 3,34 3,30 3,27 3,23
8 5,32 4,46 4,07 3,84 4,69 3,58 3,50 3,44 3,39 3,35 3,28 3,22 3,15 3,12 3,08 3,04 3,01 2,97 2,93
9 5,12 4,26 3,86 3,63 3,48 3,37 3,29 3,23 3,18 3,14 3,07 3,01 2,94 2,90 2,86 2,83 2,79 2,75 2,71
10 4,96 4,10 3,71 3,48 3,33 3,22 3,14 3,07 3,02 2,98 2,91 2,85 2,77 2,74 2,70 2,66 2,62 2,58 2,54
11 4,84 3,98 3,59 3,36 3,20 3,09 3,01 2,95 2,90 2,85 2,79 2,72 2,65 2,61 2,57 2,53 2,49 2,45 2,40
12 4,75 3,89 3,49 3,26 3,11 3,00 2,91 2,85 2,80 2,75 2,69 2,62 2,54 2,51 2,47 2,43 2,38 2,34 2,30
13 4,67 3,81 3,41 3,13 3,03 2,92 2,83 2,77 2,71 2,67 2,60 2,53 2,46 2,42 2,38 2,34 2,30 2,25 2,21
14 4,60 3,74 3,34 3,11 2,96 2,85 2,76 2,70 2,65 2,60 2,53 2,46 2,39 2,35 2,31 2,27 2,22 2,18 2,13
15 4,54 3,68 3,29 3,06 2,90 2,79 2,71 2,64 6,59 2,54 2,48 2,40 2,33 2,29 2,25 2,20 2,16 2,11 2,07
16 4,49 3,63 3,24 3,01 2,85 2,74 2,66 2,59 2,54 2,49 2,42 2,35 2,28 2,24 2,19 2,15 2,11 2,06 2,01
17 4,45 3,59 3,20 2,96 2,81 2,70 2,61 2,55 2,49 2,45 2,38 2,31 2,23 2,19 2,15 2,10 2,06 2,01 1,96
18 4,41 3,55 3,16 2,93 2,77 2,66 2,58 2,51 2,46 2,41 2,34 2,27 2,19 2,15 2,11 2,06 2,02 1,97 1,92
19 4,38 3,52 3,13 2,90 2,74 2,63 2,54 2,48 2,42 2,38 2,31 2,23 2,16 2,11 2,07 2,03 1,98 1,93 1,88
20 4,35 3,49 3,10 2,87 2,71 2,60 2,51 2,45 2,39 2,35 2,28 2,20 2,12 2,08 2,04 1,99 1,95 1,90 1,84
21 4,32 3,47 3,07 2,84 2,68 2,57 2,49 2,42 2,37 2,32 2,25 2,18 2,10 2,05 2,01 1,96 1,92 1,87 1,81
22 4,30 3,44 3,05 2,82 2,66 2,55 2,46 2,40 2,34 2,30 2,23 2,15 2,07 2,03 1,98 1,94 1,89 1,84 1,78
23 4,28 3,42 3,03 2,80 2,64 2,53 2,44 2,37 2,32 2,27 2,20 2,13 2,05 2,01 1,96 1,91 1,86 1,81 1,76
24 4,26 3,40 3,01 2,78 2,62 2,51 2,42 2,36 2,30 2,25 2,18 2,11 2,03 1,98 1,94 1,89 1,84 1,79 1,73
25 4,24 3,39 2,99 2,76 2,60 2,49 2,40 2,34 2,28 2,24 2,16 2,09 2,01 1,96 1,92 1,87 1,82 1,77 1,71
30 4,17 3,32 2,92 2,69 2,53 2,42 2,33 2,27 2,21 2,16 2,09 2,01 1,93 1,89 1,84 1,79 1,74 1,68 1,62
40 4,08 3,23 2,84 2,61 2,45 2,34 2,25 2,18 2,12 2,08 2,00 1,92 1,84 1,79 1,74 1,69 1,64 1,58 1,51
60 4,00 3,15 2,76 2,53 2,37 2,25 2,17 2,10 2,04 1,99 1,92 1,84 1,75 1,70 1,65 1,59 1,53 1,47 1,39
120 3,92 3,07 2,68 2,45 2,29 2,18 2,09 2,02 1,96 1,91 1,83 1,75 1,66 1,61 1,55 1,50 1,43 1,35 1,22
Degrees of freedom for Denominator
3,84 3,00 2,60 2,37 2,21 2,10 2,01 1,94 1,88 1,83 1,75 1,67 1,57 1,52 1,46 1,39 1,32 1,22 1,00
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
46
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
1 3.078 6.314 12.706 31.821 63.657 1
2 1.886 2.920 4.303 6.965 9.925 2
3 1.638 2.353 3.182 4.541 5.841 3
4 1.533 2.132 2.776 3.747 4.604 4
5 1.476 2.015 2.571 3.365 4.032 5
6 1.440 1.943 2.447 3.143 3.707 6
7 1.415 1.895 2.365 2.998 3.499 7
8 1.397 1.860 2.306 2.896 3.355 8
9 1.383 1.833 2.262 2.821 3.250 9
10 1.372 1.812 2.228 2.764 3.169 10
11 1.363 1.796 2.201 2.718 3.106 11
12 1.356 1.782 2.179 2.681 3.055 12
13 1.350 1.771 2.160 2.650 3.012 13
14 1.345 1.761 2.145 2.624 2.977 14
15 1.341 1.753 2.131 2.602 2.947 15
16 1.337 1.746 2.120 2.583 2.921 16
17 1.333 1.740 2.110 2.567 2.898 17
18 1.330 1.734 2.101 2.552 2.878 18
19 1.328 1.729 2.093 2.539 2.861 19
20 1.325 1.725 2.086 2.528 2.845 20
21 1.323 1.721 2.080 2.518 2.831 21
22 1.321 1.717 2.074 2.508 2.819 22
23 1.319 1.714 2.069 2.500 2.807 23
24 1.318 1.711 2.064 2.492 2.797 24
25 1.316 1.708 2.060 2.485 2.787 25
26 1.315 1.706 2.056 2.479 2.779 26
27 1.314 1.703 2.052 2.473 2.771 27
28 1.313 1.701 2.048 2.467 2.763 28
29 1.311 1.699 2.045 2.462 2.756 29
30 1.310 1.697 2.042 2.457 2.750 30
31 1.309 1.696 2.040 2.453 2.744 31
32 1.309 1.694 2.037 2.449 2.738 32
33 1.308 1.692 2.035 2.445 2.733 33
34 1.307 1.691 2.032 2.441 2.728 34
35 1.306 1.690 2.030 2.438 2.724 35
36 1.306 1.688 2.028 2.434 2.719 36
37 1.305 1.687 2.026 2.431 2.715 37
38 1.304 1.686 2.024 2.429 2.712 38
39 1.304 1.685 2.023 2.426 2.708 39
40 1.303 1.684 2.021 2.423 2.704 40
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
47
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
41 1.303 1.683 2.020 2.421 2.701 41
42 1.302 1.682 2.018 2.418 2.698 42
43 1.302 1.681 2.017 2.416 2.695 43
44 1.301 1.680 2.015 2.414 2.692 44
45 1.301 1.679 2.014 2.412 2.690 45
46 1.300 1.679 2.013 2.410 2.687 46
47 1.300 1.678 2.012 2.408 2.685 47
48 1.299 1.677 2.011 2.407 2.682 48
49 1.299 1.677 2.010 2.405 2.680 49
50 1.299 1.676 2.009 2.403 2.678 50
51 1.298 1.675 2.008 2.402 2.676 51
52 1.298 1.675 2.007 2.400 2.674 52
53 1.298 1.674 2.006 2.399 2.672 53
54 1.297 1.674 2.005 2.397 2.670 54
55 1.297 1.673 2.004 2.396 2.668 55
56 1.297 1.673 2.003 2.395 2.667 56
57 1.297 1.672 2.002 2.394 2.665 57
58 1.296 1.672 2.002 2.392 2.663 58
59 1.296 1.671 2.001 2.391 2.662 59
60 1.296 1.671 2.000 2.390 2.660 60
61 1.296 1.670 2.000 2.389 2.659 61
62 1.295 1.670 1.999 2.388 2.657 62
63 1.295 1.669 1.998 2.387 2.656 63
64 1.295 1.669 1.998 2.386 2.655 64
65 1.295 1.669 1.997 2.385 2.654 65
66 1.295 1.668 1.997 2.384 2.652 66
67 1.294 1.668 1.996 2.383 2.651 67
68 1.294 1.668 1.995 2.382 2.650 68
69 1.294 1.667 1.995 2.382 2.649 69
70 1.294 1.667 1.994 2.381 2.648 70
71 1.294 1.667 1.994 2.380 2.647 71
72 1.293 1.666 1.993 2.379 2.646 72
73 1.293 1.666 1.993 2.379 2.645 73
74 1.293 1.666 1.993 2.378 2.644 74
75 1.293 1.665 1.992 2.377 2.643 75
76 1.293 1.665 1.992 2.376 2.642 76
77 1.293 1.665 1.991 2.376 2.641 77
78 1.292 1.665 1.991 2.375 2.640 78
79 1.292 1.664 1.990 2.374 2.640 79
80 1.292 1.664 1.990 2.374 2.639 80
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
48
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
81 1.292 1.664 1.990 2.373 2.638 81
82 1.292 1.664 1.989 2.373 2.637 82
83 1.292 1.663 1.989 2.372 2.636 83
84 1.292 1.663 1.989 2.372 2.636 84
85 1.292 1.663 1.988 2.371 2.635 85
86 1.291 1.663 1.988 2.370 2.634 86
87 1.291 1.663 1.988 2.370 2.634 87
88 1.291 1.662 1.987 2.369 2.633 88
89 1.291 1.662 1.987 2.369 2.632 89
90 1.291 1.662 1.987 2.368 2.632 90
91 1.291 1.662 1.986 2.368 2.631 91
92 1.291 1.662 1.986 2.368 2.630 92
93 1.291 1.661 1.986 2.367 2.630 93
94 1.291 1.661 1.986 2.367 2.629 94
95 1.291 1.661 1.985 2.366 2.629 95
96 1.290 1.661 1.985 2.366 2.628 96
97 1.290 1.661 1.985 2.365 2.627 97
98 1.290 1.661 1.984 2.365 2.627 98
99 1.290 1.660 1.984 2.365 2.626 99
Inf. 1.290 1.660 1.984 2.364 2.626 Inf.
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
49
TABLE VALUES OF rproduct moment
N The5 %Le vel of Sign1if%ic ant N The5 %Le vel of Sign1if%ic ant
3 0.997 0.999 38 0.320 0.413
4 0.950 0.990 39 0.316 0.408
5 0.878 0.959 40 0.312 0.403
6 0.811 0.917 41 0.308 0.398
7 0.754 0.874 42 0.304 0.393
8 0.707 0.834 43 0.301 0.389
9 0.666 0.798 44 0.297 0.384
10 0.632 0.765 45 0.294 0.380
11 0.602 0.735 46 0.291 0.376
12 0.576 0.708 47 0.288 0.372
13 0.553 0.684 48 0.284 0.368
14 0.532 0.661 49 0.281 0.364
15 0.514 0.641 50 0.279 0.361
16 0.497 0.623 55 0.266 0.345
17 0.482 0.606 60 0.254 0.330
18 0.468 0.590 65 0.244 0.317
19 0.456 0.575 70 0.235 0.306
20 0.444 0.561 75 0.227 0.296
21 0.433 0.549 80 0.220 0.286
22 0.432 0.537 85 0.213 0.278
23 0.413 0.526 90 0.207 0.267
24 0.404 0.515 95 0.202 0.263
25 0.396 0.505 100 0.195 0.256
26 0.388 0.496 125 0.176 0.230
27 0.381 0.487 150 0.159 0.210
28 0.374 0.478 175 0.148 0.194
29 0.367 0.470 200 0.138 0.181
30 0.361 0.463 300 0.113 0.148
31 0.355 0.456 400 0.098 0.128
32 0.349 0.449 500 0.088 0.115
33 0.344 0.442 600 0.080 0.105
34 0.339 0.436 700 0.074 0.097
35 0.334 0.430 800 0.070 0.091
36 0.329 0.424 900 0.065 0.086
37 0.325 0.418 1000 0.062 0.081
Sumber: Prosedur Penelitian (Prof. Dr. Suharsimi Arikunto)

PERANAN AUDIT INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PEMBERIAN KREDIT

July 28, 2010 1 comment

ABSTRAK

(Studi Kasus pada PT. Bank Mega Cabang Bandung)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana peranan audit internal dalam menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit. Objek dari penelitian ini adalah PT. Bank Mega Cabang Bandung yang terletak di jalan Gatot Subroto Bandung. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data untuk kemudian diproses dan dianalisis lebih lanjut serta diambil suatu kesimpulan. Sedangkan untuk melakukan analisa data, penulis melakukan analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik yang menggunakan kriteria penilaian kuesioner menurut Champion.
Dalam memberikan kredit, bank berusaha menghindari risiko yang terjadi yaitu kredit macet. Oleh karena itu dilakukan pengendalian internal terhadap pemberian kredit. Namun pengendalian internal memiliki keterbatasan seperti kelemahan, manusia dalam melaksanakan prosedur, persekongkolan, pelanggaran terhadap prosedur. Sehingga pengendalian internal perlu diperiksa, dikaji, dan dinilai oleh bagian audit internal. Yang berfungsi untuk memberikan analisis, penilaian, saran, dan informasi mengenai kegiatan yang diperiksanya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa audit internal yang dilakukan secara memadai dapat berperan dalam menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit.
Dari hasil penelitian dan penilaian persentase hasil jawaban kuesioner tampak bahwa audit internal telah dilaksanaknan secara memadai, Pengendalian internal pemberian kredit telah efektif, dan audit internal dapat menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit. Namun sebaiknya PT Bank Mega Cabang Bandung meningkatkan kualitas auditor internal dengan keberadaan auditor internal yang bersertifikat Qualified Internal Auditor. Dan meningkatkan pengetahuan perbankan dan perkreditan kepada petugas perkreditan melalui pelatihan-pelatihan.
V
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat dan karunia-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
Mengingat keterbatasan dan kemampuan serta keterbatasan penulis, disadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak-pihak yang memperhatikan penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan, bantuan, dan saran serta dukungan dalam proses penyusunan skripsi ini hingga dapat terselesaikan, terutama kepada :
1. Bapak H. Supriyanto Ilyas S.E., M.Si. Ak., selaku dosen pembimbing I yang telah menyediakan waktu, tenaga serta pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Rusmin S.E., Ak. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga serta pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Bachtiar Asikin, S.E., M.M., selaku Ketua Program Studi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
4. Bapak Prof., Dr. Hiro Tugiman S.E, Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
5. Ibu Prof. Dr. Hj. Koesbandijah, AK., S.E., M.S., Ak., selaku Ketua Pembina Yayasan Widyatama Bandung.
6. Bapak dan Ibu dosen pengajar, staf administrasi, staf umum dan staf perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
7. Keluargaku tercinta, Papa, Mama, Bang Iir, Teh Neng, Arin, dan Helmi, Bang Ricky, Teh Inne, Uni Venny, Bang Deddy, Eky, dan Caca, Uni Novy, A Asep, Naya, dan Naufal, Bang Very, dan Teh Ica, dan juga Bang Herry.
V
8. Seluruh staf PT. Bank Mega Cabang Bandung terutama kepada bapak Wicky Hernadi, bapak Ridwan Imadudin dan Ibu Rissa Dwi Antari yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian ini.
9. Sayangku Sisca Cynthya untuk perhatian, nasihat, bantuan, dorongan, bahkan paksaan dan untuk segala-galanya. Beserta keluarga bapak Siswadi, Ibu Siswadi, Mba Mirna, Mas Yudi, A Qiqi dan Azmi.
10. Sahabat-sahabatku Joz, Iwan, Salman, Ricky, Giribeo, Johny, Rezacau, Sofyan, Panji, Phindy, BM, Uci, Uli, Ita, Ai dan lain-lain.
11. Anak-anak Benteng Ruang 1.110 Albar, Fany, Fey, Dedy, Isty, Didi, Imong, Dinda, Ruby, Iqbal, Firman, Lea, Yaya, Harles, Feby, Dina, Rani, Butet, Yayang, Selly, Inu, Onos, Gia, Mbot, Boyke, Mamet, Chunil dan lain-lain.
12. Para manajer, pemain, ofisial dan senior Singa Lapar FC. Echi, Jessy, Novel, Maria, Irwan, Junjun, A Ade, A Dody, A Asepbola, dan lain-lain
13. Teman-teman Angkatan 2000, serta angkatan lain yang bersama-sama menuntut ilmu dan berjuang di Universitas Widyatama. Masyarakat dan pedagang di sekitar kampus. Serta teman-teman baruku, Aline, Deasy, Ina, Sari, Cocow dan teman Sisca lainnya.
14. Komunitas distro dan indie Bandung RudyDong, Acing, Fajar, Eky, Bu Rika, Harlan, Mas Ronald, Mba Myrna, Doddy, dan lain-lain yang secara langsung dan tak langsung telah banyak membantu penulis.
15. Adit, Acong, Yungky, Rio dan teman-teman V2K lainnya, keluarga baret Chevy, Harry, Dikky, Deva, keluarga Bali6, Rudy, Ajo dan lain-lain, keluarga Kalimantan11 Pa Erwin, Ilham, Yari, Anton, Pa Bowo, Pupung dan lain-lain.
16. Teman-teman Fakultas Hukum UNPAD 2002 Yudi, Zaky, Rully, Husin SH dan lain-lain. Dirrito FC. Ateng, Alex, Daniel, Lippi, Chandra, dan lain-lain.
17. Teman-teman alumni SMPN 4 Bandung ‘97 Eva, Rose, Echa, Bondan, Teguh dan lain-lain, alumni SD Nilem 1 ‘94, Rama, Riza, Jerry, Pamor, Eka, Arif, Pharov, Agus, Adit, Mona, Wida, Yadi, Wandi, Egy, Bigan dan lain-lain.
18. Terima kasih kepada Erwin SkyNet dan rekan atas bantuannya dalam pencetakan, dan pengeditan skripsi ini. Kepada semua buku-buku, komputer, printer yang telah penulis pergunakan. Juga mobil, motor, angkot dan lain-lain
V
yang telah mengantar penulis ke setiap tujuan. Kepada semua grup musik dan penyanyi yang telah menemani dan memberi inspirasi dalam penulisan skripsi ini, Weezer, King of Convinience, Interpol, Morrisey, The Smiths, The Beatles, New Order, Postal Service, Mandalay, Royskoop, Ash, RATM, Smahing Pumpkins, Divine Comedy, Ride, The Cure, The Killers, D C, The Arrogants, The Cardigans, Oasis, NOFX, Sex Pistols, Ramones, Rancid, The Clash, Pure Saturday, The Milo, The Adams, Seringai, Padi, Dewa, Gigi, Slank, Vina Panduwinata, Audi, Tere, dan lain-lain. Serta sumber-sumber inspirasiku Liverpool FC, PERSIB Bandung, Siput Turbo FC, Steven Gerrard, Alessandro Nesta, Laetitia Casta, Azumi Kawashima, Monica Belluci, Natalie Portman, Al Pacino, Robert De Niro, AA Gym, Kang Ibing dan lain-lain.
Sebelum penulis akhiri, penulis ingin meminta maaf kepada semua pihak atas segala kesalahan-kesalahan yang tidak berkenan selama ini. Dan harap maklum atas panjangnya kata pengantar ini, karena bagian ini lah yang paling menyenangkan bagi penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa berkenan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk membalas kebaikan semua pihak yang telah banyak membantu penulis selama ini.
Bandung, Maret 2006
Rahmat Firdaus V

INTERNATIONAL SYAMPOSIUM ON GREENHOUSES, ENVIROMENTAL CONTROLS AND IN- HOUSE MECHANIZATION FOR CROP PRODUCTION IN THE TROPICS AND SUB-TROPICS

July 26, 2010 Leave a comment

INTERNATIONAL SYAMPOSIUM ON GREENHOUSES, ENVIROMENTAL CONTROLS AND

IN- HOUSE MECHANIZATION FOR CROP PRODUCTION IN THE TROPICS AND SUB-TROPICS

EQUATORIAL HILL RESORT, CAMERON HIGHLANDS, PAHANG, MALAYSA

15-17 JUNE 2004

LIST OF ABSTRACTS ACCEPTED

REFERENCE

TITLE

PRESENTER & ADDRESS

STATUS

DESIGN, CONSTRUCTION AND MAINTANANCE OF GREENHOUSE STRUCTURES

Keynote 1(1) Design, Construction and Maintenance of Greenhouse Structures by Ir. Dries Waaijenberg (Netherlands).

Ir. Dries Waaijenberg

Institute of Environmental and Agricultural Engineering IMAG b.v, P. O. Box 43,6700 AA Wageningen, The Netherlands

E-mail: dries.waaijenberg@wur.nl

Telephone: +31 317 476556

Fax: +31 317 425670

Invited Lecture 1
Paper 1(2) Performance and Selection of Greenhouse Coverings by G Connellan (Australia) G. Connellan

Burnley College, Institute of Land and Food Resources, University of Melbourne, 500 Yarra Boulevard Richmond Victoria 3121 Australia

E-mail: geoffc@unimelb.edu.au

Telephone: +61 3 9250 6800

Fax: +61 3 9250 6885

Oral Paper
Paper 1(3) Development of a Greenhouse System for Tropical Lowland in Indonesia by Silke Hemming, Dries Waaijenberg, Gerard Bot and Jouke Campen.  (Netherlands) Silke Hemming, Dries Waaijenberg, Gerard P.A. Bot and Jouka B. Campen

Agrotechnology & Food Innovations b.v. (A&F)(formerly known as IMAG) P.O. Box 43,6700 AA Wageningen, The Netherlands

E-mail: dries.waaijenberg@wur.nl

Telephone: +31 317 476556

Fax: +31 317 425670

Oral Paper
Paper 1(4) Design and Construction of Greenhouse for Commercial Cultivation of Flowers and Vegetables under Banglore Conditions in India by S.C. Mandhar, A. Carolin Rathinakumari, B.S. Prabhakar, and K.P. Singh. (India) S.C. Mandhar, A. Carolin Rathinakumari, B.S. Prabhakar, and K.P. Singh

Indian Institute of Horticultural Research, Hessaraghatta Lake, Bangalore – 560 089, India.

Tel: 0091-80-28466420 ext 234 (O)

0091-80-23633986 (R)

E-mail: mandhar@iihr.res.in

Oral Paper
Paper 1(5) Development of Naturally Ventilated Crop Protection Structure  in Malaysia.  Rezuwan Kamaruddin, (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster paper
Paper 1(6) A study of mechanical Properties Deterioration for Polyethylene Covering of Greenhouses in Saudi Arabia by Abdullah M. Alhamdan and Ibrahim M. Alhelal (Saudi Arabia). Abdulah M. Alhamdan and Ibrahim M. Alhelal

Agric. Eng. Department,

King Saud University,

Riyadh,

Saudi Arabia

Tel:/Fax: 966-1-4678458

Email: alhamdan@ksu.edu.sa

Oral paper
Paper 1(7) Green House production in Tropical Climate Conditions by Shaul Gilan (Australia). Shaul Gilan

Agro-Technical Dep.  Netafim  NAP.

Tel: 61-3-93698777

Fax: 61-419-675503

W-mail: sgilan@netafim.com.au

Oral paper
Paper 1(8) Design and Development of Fully Controlled Environment Greenhouse for the Production of Selected Temperate Crops in Lowland Tropics

by .Mat Sharif,  C.H. Mahamoud  and S.Abd Kahar ( Malaysia)

Mat Sharif Ismail, Mahamoud Che Hussein and Abd. Kahar Sandrang.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, P.O. Box 12301 General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437546

Fax: 603 89482961

E-mail: masharif@mardi.my

Oral  paper

NATURAL AND MECHANICAL MICRO CLIMATE  CONTROLS

Keynote 2(1) Natural and Mechanical Greenhouse Climate Control by Dr. Bernard Bailey. (United Kingdom) Dr. Bernard Bailey

Formerly at Research Institute, Wrest Park, Silsoe, Bedfordshire MK45 4HS,UK.

E-mail: bernad.bailey@whsmithnet.co.uk

Invited Lecture 2
Paper 2(2) Calculation of Wind Pressure Coefficients for Continuous Flap Vents in a Parral Greenhouse using Wind Tunnel Measurements and Computational Fluid Dynamics. By Parez-Parra,J.J,  Montero, J.J., and  Baeza ,E.J.  (Spain) Parez-Parra,J.J,  Montero, J.J., and  Baeza ,E.J.

Estacion Experimental de Cajamar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km.416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain.

E-mail: ejbr@cajamar.es

Fax: +34 950580450

Oral paper
Paper 2(3) Determination of Global Wind Coefficients for use in Mathematical models to Calculate Ventilation Rates in Parral Type Multi-Span Greenhouse by Parez-Parra,J.J,Montero,J.J, Baeza,E.J.:Lopez-Hernandez, J.C. and Anton, A,. (Spain) Parez-Parra,J.J,Montero,J.J, Baeza,E.J.:Lopez-Hernandez, J.C. and Anton,A

Estacion Experimental de Cajabar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km.416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain

E-mail: jpparra@cajamar.es

Fax: +34 950580450

Oral Paper
Paper 2(4) Air and Leaf Temperatures and Relative Humidity in a Naturally Ventilated Single-Span Greenhouse with a Fogging System for Cooling  by Handarto, Makio Hayashi, Toyiki Kozai.  (Japan) Handarto, Makio Hayashi, Toyiki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan.

School of High-Technology for Human Welfare, Tokai University, Numazu, Shizuoka 410-0395, Japan

E-mail: m01u8311@green.h.chiba-u.ac.jp

Telephone: +81-47-308-8846

Fax: +81-47-308-8841

Poster Paper
Paper 2(5) Applicability of Forced-Air and Ridge Ventilation for Cooling of Side Net-Covered Tropical Greenhouse by W.A.P Weerakkody , K.S.P. Amaratunge and P.A.S.K. Kumara. (Sri Lanka) W.A.P Weerakkody , K.S.P. Amaratunge and P.A.S.K. Kumara.

Department of Crop Science, Faculty of Agriculture, P.O Box 37, University Of Peradeniya,Peradeniya 20400, Sri Lanka

E-mail: palithaw@pdn.ac.lk

Telephone/fax: 94 8 388239

Oral Paper
Paper 2(6) Soil Solariza Studies using  Innovatory Plastic films by Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove, Cosimo Marano and Martino Basile. (Italy) Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove, Cosimo Marano and Martino Basile.

UNIVERSITY OF BASILICATA Technical-Economic Department

Crop Production Department

Plant Protection Institute- C.N.R. Bari, Nuovo Polo Universitario-C/da Macchia Romana 85100 Potenza (Italy)

E-mail: manera@unibas.it

Telephone: +39 0971/205405

Fax: +39 0971/205429

Oral Paper
Paper 2(7) Controlling Environment for  Tissue Cultured Plants in Desert Areas. By Nasser S. Al- Khalifah. (Saudi Arabia) Nasser S. Al-Khalifah

P.O.Box 6086 Riadh 11442, King Abdulaziz City for Science & Technology

E-mail: abujawad@kacst.edu.sa

Telephone: 96655418524

Fax: 966 1 4820278

Oral Paper
Paper 2(8) Natural Ventilation Rate Quantification in A Large-Scale Crop Protection Structure by Rezuwan Kamaruddin. (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster Paper
Paper 2(9) A Study of Evaporative Cooling Pad Performance for  Photovoltaic Powered Greenhouse by Ibrahim Al-Helal, Naif Al-Abbadi and Al-Ibrahim. (Saudi Arabia) Ibrahim Al-Helal, Naif Al-Abbadi and Al-Ibrahim

King Saud University, College of Agriculture, P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia.

King  Abdulaziz City for Science and Technology, Energy Research Institute, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

E-mail: imhelal@ksu.edu.sa

Oral Paper
Paper 2(10) Shading and Air Velocity Influence on Greenhouse Microclimate by Ibrahim Al-Arifi. (Saudi Arabia) Ibrahim Al-Arifi

King Abdul Aziz City for Science and Technology, Energy Research Institute, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia.

E-mail: ialarifi@kacst.edu.sa

Oral Paper
Paper 2(11) Velocity Fields and Ventilation Rates on A Crop Protection Structure for The Tropics by Means of CFD Simulations by Baeza E.J., Montero J.J. Perez Parra E.J and Kamaruddin R. (Spain) Baeza E.J., Montero J.J. Perez Parra E.J and Kamaruddin R.

Estacion Experimental de Cajamar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km 416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain.

Irta. Centre de Cabrils.08348, Cabrils, Barcelona, Spain

Mardi Headquartes,43400 Serdang Selangor, Malaysia

E-mail: ejbr@cajamar.es

Oral Paper
Paper 2(12) Performance of an Energy-Conserving Greenhouse by Mathala J. Gupta and  Pitman Chandra. (India) Mathala J. Gupta and  Pitman Chandra

Scientist, Division of Agricultural Engineering, Indiana Agricultural Research Institute, New Delhi 110012, India

Assistant Director General (Process Engineering), Indian Council of Agricultural Research, New Delhi 110012

E-mail: neha_7759@yahoo.com

Oral Paper
Paper 2(13) SMART Environmental Control System for the Production of Strawberry in Lowland Tropics by

I.Mat Sharif, S.Abd Kahar and C.H. Mahamoud (Malaysia)

Mat Sharif Ismail, Mahamoud Che Hussein and Abd. Kahar Sandrang.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, P.O. Box 12301 General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437546

Fax: 603 89482961

E-mail: masharif@mardi.my

Poster Paper
Paper 2(14) Ventilation Rate from Naturally Ventilated Crop Protection Structures of Various Floor Areas

By Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd. Soom and Julia Jamaluddin (Malaysia)

Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd So0m and Julia Jamaluddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Biological and Agricultural Engineering Department

Faculty of Engineering, University Putra Malaysia

43400 Serdang, Selangor, Malaysia

Tel:   603  89466427      Fax:   603  89466425     Email: amin@eng.upm.edu.my

Poster Paper
Paper 2(15) Microclimate inside Tunnel-Roof and Jack-Roof Tropical Greenhouses Structures by Faisal Mohammed Seif Al-Shamiry, Abdul Rashid Mohamed Sharif, Rezuwan Kamaruddin, Desa Ahmad, Rimfiel Janius and Mohd Yusri Mohamad

(Yamen)

Faisal Mohammed Seif Al-Shamiry, Abdul Rashid Mohamed Sharif, Rezuwan Kamaruddin, Desa Ahmad, Rimfiel Janius and Mohd Yusri Mohamad

Faculty of Engineering, Universiti Putra Malaysia, 43400 Serdang, Selangor,  Malaysia.

Tel:   603 86567126    Fax: 603 89466425

E-mail: faisalupm@yahoo.com

Poster Paper

MECHANIZATION AND AUTOMATION

Keynote 3(1) Trends in Mechanization for Greenhouse Crop Production by Dr. Ir. E.J. van Henten. (Netherlands) Dr. Ir. E.J. van Henten.

Institute of Agricultural and Environmental Engineering (IMAG B.V.),P.O. Box 43,NL-6700 AA Wageningen, The Netherlands.

E-mail: eldert.vanhenten@wur.nl

Fax: +31 (0)317425670

Invited Lecture 3
Paper 3(2) An Embedded Controller for Greenhouse Shade Curtain by A.K Dogra, K. Parsad, Kapil Suri and Narendra Kumar. (India) A.K Dogra, K. Parsad, Kapil Suri and Narendra Kumar

Division of Agricultural Engineering, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110 012

E-mail: anildogra@yahoo.com

Oral Paper
Paper 3(3) Manually Operated Tomato Harvesting Tool for Greenhouse by D.V.K. Samuel. (India) D.V.K. Samuel

Division of Agricultural Engineering, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110012, India

E-mail: dvksamuel@yahoo.com

Oral Paper
Paper 3(4) Performance of 4- Wheel Tractor and Implements for Vegetable Production under Rain Shelter Structure by Rezuwan Kamaruddin. (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin and Md. Akhir Hamid

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster Paper
Paper 3(5) PV Greenhouse System: System Description, Performance and Lesson Learned by  A.Al-Ibrahim,Naif Al-Abbadi, and Ibrahim Al-Helal. (Saudi Arabia) A.Al-Ibrahim,Naif Al-Abbadi, and Ibrahim Al-Helal

King Abdulaziz City for Science and Technology, Energy Research Institute P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

King Saud University, College of Agriculture, Department of Agricultural Engineering P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia

E-mail:   aibrahim@kacst.edu.sa

Oral Paper
Paper 3(6) Thermometry in Medium-scale Greenhouse using a Small Number of acoustic Sensors by Kousuke Kudo, Koichi Mitzutani, Riku Futamata, Kazuya Itoga, and Sadanori Sase. (Japan) Kousuke Kudo, Koichi Mitzutani, Riku Futamata, Kazuya Itoga, and Sadanori Sase

Graduate School of System and Information Engineering, University of Tsukuba, Tsukuba Science City, 305-8573 Japan.

E-mail: kudo@aclab.esys.tsukuba.ac.jp

Tel: +81-29-853-5468

Fax: + 81-29-853-5207

Oral Paper
Paper 3(7) Nondestructive Detection of Plant Water Stress Using Microwave Sensing by Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura. (Japan) Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura.

College of Environmental Studies, Nagasaki University, Nagasaki

852-8521 Japan

Fax: + 81-95-819-2716

E-mail: simomati@net.nagasaki-u.ac.jp

Oral Paper
Paper 3(8) Evaluation of Soft X-Ray Irradiated Pollen and CPPU for Diploid Seedless watermelon Production by Kwon, S.W., M.J. Jaskani, B.R.KO and Y.G. Choi. (South Korea) Kwon, S.W., M.J. Jaskani, B.R.KO and Y.G. Choi.

Gochang Watermelon Experiment Station, Chonbuk 585-863, south Korea

Tel: 82635612312

Fax: 82635613385

E-mail: sung5706@hanmail.net

Oral Paper
Paper 3(9) Application of Computer Vision System to Monitor Crops Growth and Weeds under Rain Shelter by A.R.M. Syaifudin, Teoh Chin Chuang and O. Muhamad Isa (Malaysia) Mohd Syaifudin Abdul Rahman, Teoh Chin Chuang, Muhamad Isa Othman

Mechanization and Automation Research Center

MARDI Headquarters, 43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Email: saifudin @Mardi.my

Tel: +603-89434453

Fax: +603-89482961

Poster Paper

IRRIGATION SYSTEM AND CULTURAL PRACTICES

Keynote 4 (1) Irrigation System and Cultural Practices by Prof. M.A. Nichols. (New Zealand) Prof. M.A. Nichols

Institute of Natural Resources, Massey University, Palmerston North, New Zealand

E-mail: m.Nichols@massey.ac.nz

Fax: +64 6 350 5679

Invited Lecture 4
Paper 4(2) The Effect of Calcium Chloride irrigation on Mushroom Yield and Quality by Hossein Riahi. (Republic of Iran) Hossein Riahi

Department of Biology, University of Shahid Behashti,  Evin, Tehran, Iran Malard Mushroom Research Center, Malard, Karaj.

E-mail: H-Riahi@cc.sbu.ac.ir

Oral Paper
Paper 4(3) Effect of Different Irrigation Schedules and Substrates on Some Quantitative and Qualitative Characteristics of Greenhouse Tomato (cv. Hamra) by H. Aroiee, K.Davary,  B. Ghahraman, G.A. Peyvast, H. Nematy  and P. Shahinrokhsar. (Republic of Iran) H. Aroiee, K.Davary,  B. Ghahraman, G.A. Peyvast, H. Nematy  and P. Shahinrokhsar

Horticultural Department, Agriculture Faculty, Ferdwosi University, Mashhad, Iran

E-mail: aroiee_h@yahoo.com

Oral Paper
Paper 4(4) Effects of Straw and Wood Shavings on Conserving of Soil Moisture Under Arid Condition by Khalid Mohamed Al-Barrak. (Saudi Arabia) Khalid Mohamed Al-Barrak

Soils and Water Department, College of Agriculture and Food Science, King Faisal Univrsity, Al-Hassa, 31982, Saudi Arabia

E-mail: kalbarrak@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000 /1436

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper
Paper 4(5) The Effect of Fertigating Different Levels of Nitrogen, Phosphorus, and Potassium on Greenhouse Cucumber Yield by A.A. Aljaloud, M.A. Errebhi, A.H. AbdelGadir, M.S. Baig and H.B. Sarhan. (Saudi Arabia) A.A. Aljaloud, M.A. Errebhi, A.H. Abdel Gadir, M.S. Baig and H.B. Sarhan

King Abdulaziz City for Science and Technology,NRERI, P.O. Box 6086 Riyadh 114442, K.S.A

E-mail: aljaloud@kacst.edu.sa

Fax: 96614813611

Oral Paper
Paper 4(6)

Fertigation as a Toll to Improve Nitrogen use Efficiency and Yield by Al-Wabel, M. I., A. A. Al-Jaloud, G. Hussain, and S. Karimula. (Saudi Arabia)

Al-Wabel, M. I., A. A. Al-Jaloud, G. Hussain, and S. Karimula. Saudi Arabia.

Soil Science Dept. College of agriculture, King Saud University P. O. Box 92274, Riyadh 11653, Saudi Arabia.

Natural Resources and Environmental Research Institute. Riyadh, KACST, P. O. Box 6086 Riyadh 11442, Riyadh Saudi Arabia.

E-mail: malwabel@ksu.edu.sa

Oral Paper

Paper 4(7) Effect of Different Irrigation Schedules and Substrates on some Quantitative and Qualitative Characteristics of Greenhouse Tomato (cv. Hamra) by H. Aroiee, K. Davary, B. Ghahraman, Gh. Peyvast, H. Nematy and P. Shahinrokhsar (Republic of Iran) H. Aroiee, K. Davary, B. Ghahraman, Gh. Peyvast, H. Nematy and P. Shahinrokhsar

Horticultural Department, Agriculture Faculty, Guilan University, Rasht, Iran.

Tel: +98 (0) 131-7725326

Fax: +98 (0) 131-7757261

Email: gpeyvast@yahoo.com

Oral Paper
Paper 4(8) Response of Fertigation on Capsicum Growth under Naturally Ventilated Tropical Greenhouse by

Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd. Soom,

Mahamud Shahid and Fazlina Abdullah (Malaysia)

Rezuwan Kamaruddin and Mahamud Shahid

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Mohd. Amin Mohd Soom and Fazlina Abdullah

Biological and Agricultural Engineering Department

Faculty of Engineering, University Putra Malaysia

43400 Serdang, Selangor, Malaysia

Tel:   603  89466427      Fax:   603  89466425     Email: amin@eng.upm.edu.my

Poster Paper
Paper 4(9)

Subsurface Irrigation System for Vegetable Under Rainshelter on Clay Soils in the Lowlands by

Mohammud, C.H ., Mahmad Nor, J ., Abd. Munir, J ., Salbiah, H. and Illias, K . (Malaysia)

Mohammud Che Husain

Strategic Research Centre

Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89487639

Fax; 603 89482961

E-mail: mch@mardi.my

Poster Paper
Paper 4(10)

Fertigation  in Green House Production by Shaul Gilan (Australia)

Shaul Gilan

Agro-Technical Dep.  Netafim  NAP.

Tel: 61-3-93698777

Fax: 61-419-675503

W-mail: sgilan@netafim.com.au

Oral Paper

PLANT PHYSIOLOGY AND PRODUCTION  PRACTICES

Keynote 5 (1)

Plant Physiological and Production Practices under Controlled Environment Greenhouse Systems by Prof. Dr.  Marry M. Peet. (United States of America)

Professor Dr. Mary M. Peet

Department of Horticultural Science

P.O.Box  7609, North Carolina State University,

Raleigh, North Carolina

27695-7609 USA

E-mail: mary_peet@ncsu.edu

Telephone: 919-515-5362

Fax: 919-515-2505

Invited Lecture 5
Paper 5(2)

Evaluation of Some Strawberry Varieties under Greenhouse Conditions in Kingdom of Saudi Arabia by A.A. Al-Khateeb (Saudi Arabia)

A.A. Al-Khateeb

Dept. of Horticulture, College of Agricultural and Food Sciences, King Faisal University, Alhassa 31982, Kingdom of Saudi Arabia

E-mail: akhateeb@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5816630

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper

Paper 5(3)

Growth Promotion and Root Colonization by Various Rhizobacteria Strains Applied in Cucumber Grown Soil by

Kim J. K., Lee. Y. H., Kim. Y. C., Kim. K. S. (South Korea)

Kim J. K., Lee. Y. H., Kim. Y. C., Kim. K. S.  Cucumber Exp. Station, Jeonnam, 542-821. Korea

Chonnam National Univ. Kwangju, 550-757. Korea

Tae Rim Pharm. Co., LTD. Seoul, 135-270. Korea

E-mail : oeoekim@jares.go.kr

Tel: 82617815230

Fax : 82617815231

Poster Paper

Paper 5(4)

Effect of Leaf Minor Liriomyza trifollii (Burgess) on Gas Exchange Capacity of Cucumber Cucumis Sativus L. Grown Under Greenhouse Conditions by Al-Khateeb, S. A. and A.M. Al-Jabr. (Saudi Arabia)

Al-Khateeb, S. A. and A.M. .Al-Jabr

Crops & Range Department, Plant Protection Department, College of Agricultural and Food Science, King Faisal University, P.O. Box 420, Al- Hassa 31982,KSA

E-mail: Skhateeb@KFU.EDU.SA and

AJABR@KFU.EDU.SA

Oral Paper

Paper 5(5)

Protected Agricultural Production in Kuwait by M.Abdal and M. Suleiman. (Kuwait)

M.Abdal and M. Suleiman

Aridland Agricultural Department, Kuwait Institute for Science Research. Kuwait

E-mail: mabdal@kisr.edu.kwt

Oral Paper

Paper 5(6)

Controlled-Environment Tulip Forcing in Malaysia by Thohirah Abdullah, Johari Endan and Flora Chin Lee Sa. (Malaysia)

Thohirah Abdullah, Johari Endan and Flora Chin Lee Sa. Department of Crop Science, Faculty of Engineering, University Putra Malaysia, 43400 UPM Serdang, Selangor Darul Ehsan

E-mail: thohirah@agri.upm.edu.my

Fax: +603 8943 5973

Oral Paper

Paper 5(7)

Standardization of Agro-Techniques for Production of Chrysanthemum under Low Cost Polyhouse by T.Janakiram. Mahantesh, I.Murgod and B.S.Prabhakar. (India)

T.Janakiram. Mahantesh, I.Murgod and B.S.Prabhakar.

Division of Ornamental Crops

Indian Institute of Horticultural research

Hessaraghatta Lake Post, Bangalore – 560089. India

E-mail: janaki62@yahoo.com

Oral Paper

Paper 5(8)

Mulching Studies in Greenhouse Using Innovatory Plastic Films by Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove. (Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical- Economic Department

Crop Production Department

Nuovo Polo Universitario-C/da Macchia Romana 85100 Potenza (Italy)

E-mail: manera@unibas.it

Telephone: +39 0971/205405

Fax: +39 0971/205429

Oral Paper

Paper 5(9)

Growing Protential of Two Varieties of Sweet Basil (Ocimum Basilicum L.) in Deep Flow Technique for Leaf and Seed Production by Jaenaksorn,T., and Kongtragoul, P. (Thailand)

Jaenaksorn,T., and Kongtragoul, P.

Faculty of Agricultural Technology, King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang, Bangkok 10520, Thailand

E-mail: kjtanimn@kmitl.ac.th

Fax: +662-3267347

Oral Paper

Paper 5(10)

Observations on Growth Performance and Morphology of Costus Speciosus ‘Variegatus’ Variants by Shakinah Salleh, Shuhaimi Shamsudin, Zaiton Ahmad & Mohd. Nazir Basiran (Malaysia)

Shakinah Salleh, Shuhaimi Shamsudin, Zaiton Ahmad & Mohd. Nazir Basiran

Malaysian Institute for Nuclear Technology Research (MINT), Bangi 43000 Kajang, Selangor, Malaysia.

Email: Shakinah@mint.gov.my    Tel: +603-8925 0510   Fax: +603-8928 2956

Poster Paper

Paper 5(11)

Technical Efficiency of Phalaenopsis Production under Protected Facilities in Taiwan by Lee Chaur Shyan  and Evie  Yi Wei Lin. (Taiwan)

Lee Chaur Shyan   and Evie Yi Wei Lin

College of Management , The Overseas Chinese Institute of Technology, Taiwan

Email: cslee@ocit.edu.tw ; linyiwei@seed.net.tw

Fax: 886-4-24527583

Oral Paper

Paper 5(12)

Effect of Ammonium – and Nitrate Nitrogen – Ratio on Glucosinolate Content in Rocket by Kim, Sun-Ju, and Ishii, G. (Japan)

Kim, Sun-Ju, and Ishii, G.

Crop Quality Physiology Laboratory, National Agricultural Research Center for Hokkaido Region, Hitsujigaoka 1, Toyohira-ku, Sapporo, 062-8555, Japan

E-mail: kimsunju@rb4.so-net.ne.jp

Telephone: +81-11-857-9301

Fax:  +81-11-859-278

Oral Paper

Paper 5(13)

Production of Sweet potato Plug Transplants under Artificial Light at a Relatively High Planting Density by Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai. (Japan).

Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan

Department of Biotechnology, Faculty of Science, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand

E-mail: d00u5204@green.h.chiba-u.ac.jp

Tel. & Fax.:+81-47-308-8841

Oral Paper

Paper 5(14)

Acclimatization of Dracaena reflexa ‘Song of India’ for Simulated Shipping Conditions by Mahmud, T.M.M., Faridah, M.Y. and Awang, Y. (Malaysia)

Mahmud, T.M.M., Faridah, M.Y. and Awang, Y

Department of Crop Science, Universiti Putra Malaysia, 43400 UPM Serdang, Selangor, Malaysia.

Station Office, MARDI HQ, P.O. Box 12301, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

E-mail: mahmood@agri.upm.edu.my

Fax: +603 89424076

Poster Paper

Paper 5(15)

Evaluation of Cabbage Cultivars (Brassica oleracea var. capitata) under Plastic Rain-shelter on Mineral Soils in the Lowlands by  P.Y.Yau, M.K. Illias, K.Ganisan and S. Ahmad. (Malaysia)

P.Y.Yau, M.K. Illias, K.Ganisan and S. Ahmad

Horticulture Research Centre, MARDI Kluang, Locked Bag 525, 86009 Kluang, Johor, Malaysia.

Email: pyyau@mardi.my

Telephone: +607 7891311

Fax: +607 7891184

Oral Paper

Paper 5(16)

Production of Sweetpotato Plug Transplants under Artificial Light at a Relatively High Planting Density by Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai. (Japan)

Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan.

Department of Biotechnology, faculty of Science, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand

E-mail: d00u5204@green.h.chiba-u.ac.jp

Telephone & fax: +81-47-308-8841

Oral Paper

Paper 5(17)

Protected Cultivation: A Technology Alternative to Boost Indian Horticulture by B.S. Prabhakara. (India)

B.S. Prabhakara

Indian Institute of Horticultural Research, Hessaraghatta Lake, Bangalore – 560 089, India.

Tel: 0091-80-28466420 ext 234 (O)

0091-80-23633986 (R)

E-mail: mandhar@iihr.res.in

Oral Paper

Paper 5(18)

Effect of GA3 and IAA Sprays on Vegetative Growth, Total Yield and Photosynthetic Pigments in Strawberry (Fragaria ananassa) by A.A. Al-Khateeb. (Saudi Arabia)

A.A. Al-Khateeb.

Dept. of Horticulture, College of Agricultural and Food Sciences, King Faisal University, Alhassa 31982, Kingdom of Saudi Arabia

E-mail: akhateeb@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000/1431

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper

Paper 5(19)

Effect of Salinity  on the Growth Gas Exchange Rate and Ion Content of Faba Bean Cultivars (seedling stage to Flowering) by S.S. Al-Thabet. (Saudi Arabia)

S.S. Al-Thabet

Crops & Range Department, College of Agriculture and Food Sciences, King Faisal University, Al-Hassa, 31982, Saudi Arabia

E-mail: salthabet@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000/1857

Fax: ++966 3 5801778

Oral Paper

Paper 5(20)

Fatty Acid Composition and Fad 3 Gene Expression in Roots of Watermelon and Gourd under Low Temperature by Ko, Bok R, Sung W. Kwon and Jung S. Choi. (South Korea)

Ko, Bok R, Sung W. Kwon and Jung S. Choi

Gochang Watermelon Experimental Station, Chonbuk 585-863, South Korea

Tel: 82-63-561-2312

Fax: 82-63-561-3385

E-mail: sung5706@hanmail.net

Poster Paper

Paper 5(21) Effects of Nitrogen Forms on the Growth and Ionic Content of Lowland Cauliflower under Tropical Greenhouse by Asiah Ahmad, Mohd Razi Ismail, Mohd Khanif Yusop, Marziah Mahmood and Shaharuddin Mohd . (Malaysia)

Asiah Ahmad, Mohd Razi Ismail, Mohd Khanif Yusop, Marziah Mahmood and Shaharuddin Mohd

Agrotechnology and Biosciences Division,

Malaysian Institute For Nuclear Technology Research (MINT), Bangi 43000 Kajang Selangor, Malaysia.

E-mail : asiah@mint.gov.my

Tel. :  +603 8925 0510

Fax : +603 8920 2968

Poster Paper
Paper 5 (22) Performance of Sweet Pepper under Semi-Climate Controlled Greenhouse Conditions of Northen India by Balraj singh and Mahesh Kumar (India) Balraj Singh and Mahesh Kumar

Indi-Israel Project, Indian Agricultural Research Institute

New Delhi – 110012

Tel: +91-11-25841063

Telefax: +91-11-25842481

Email: drbsingh2000@yahoo.com

Poster Paper
Paper 5(23) Effect of Rates of Organic Fertilizer on Growth, Yield and Nutrient Content of Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) Grown Under Shelter by P. Vimala, M.K. Illias and H. Salbiah. (Malaysia) P. Vimala, M.K. Illias and H. Salbiah

Malaysian Agricultural Research and Development Institute, MARDI Headquarters,

43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Tel: 603 89437939

Fax: 603 89487639

Email: vimala@mardi.my

Poster Paper
Paper 5(24) Growth and Nutritional Quality of African Night Shade Accessions (Solanum Spp) at Different Developmental Stages by Agong S.G. And S.V. Muchiri (Kenya) Agong S.G. And S.V. Muchiri,                                                                                                              Department of Horticulture, Jomo Kenyatta University of Agriculture & Technology, P. O. Box 00200 – 62000, Nairobi, Kenya.

Tel:  002546752047   Fax: 002546752192                                                                                       E-mail: sgagong@nbnet.co.ke;sgagong@jkuat.ac.ke

Poster Paper
Paper 5(25) Carbon Dioxide Enrichment Technology for Improved Productivity under Controlled Environment System in the Tropics by Hawa Z.E. Jaafar (Malaysia) Hawa Z.E. Jaafar

Strategic Resources Research Centre

MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor

MALAYSIA

Tel: 603 89437390

Fax: 89487639

Email: hawazj@mardi.my

Oral Paper
Paper 5(26)

Performance of Kacip Fatimah Production Under Shade House by Mohd Noh bin Jalil and Rezuwan Kamaruddin (Malaysia)

Mohd Noh bin Jalil and Rezuwan Kamaruddin

Rice and Industrial Crop Research Center

MARDI, P.O. Box 12301

50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437140

Fax: 0689425786

Poster Paper

POST HARVEST HANDLING AND PACKAGING

Keynote 6 (1)

Post-harvest Handling and Packaging by Prof. Dr. Errol. W. Hewett. (New Zealand)

Prof. Dr. Errol W. Hewett

Professor of Horticultural Science

College of Sciences

Massey University, PBag 102904

North Shore Mail Ctr. – Auckland

New Zealand

Tel: (64)94439648

Fax (64)94439640

E-mail e.w.hewett@massey.ac.nz

Invited Lecture 6

Paper 6(2)

Effect of Plastic and Paper packaging on Hydroponically Grown Tomato Fruits Stored at Different temperatures and High Relative Humidity. I. Quality Attributes, Shelf Life and Chemical Properties by Abdullah A. Alsadon, Abdullah M. Alhamdan and Mahmoud A. Obied. (Saudi Arabia)

Abdullah A. Alsadon, Abdullah M. Alhamdan and Mahmoud A. Obied

Department of Plant Production and Department Of Agricultural Engineering, College of Agriculture, King Saud University, P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia.

E-mail: Alsadon@ksu.edu.sa

Telephone: (966)1-4678466

Fax: (966)1-4678467

Oral Paper

Paper 6(3)

Handling of Chrysanthemum Flowers for Export by Sea Shipment by Latifah, M.N., Abdullah, H., Dhiauddin, M.N., Ab Kahar, S., Mohd Redzuan, M.S., Hamidah, S., Noor Auni, H. and Rahim, M. (Malaysia)

by Latifah, M.N., Dhiauddin, M.N., Ab Kahar, S., Mohd Redzuan, M.S., Hamidah, S., Noor Auni, H. and Rahim, M.

Horticulture Research Centre

MARDI Serdang, 43400 Selangor, Malaysia.

Tel: + 603 89437545

Fax: + 603 89422906

E-mail: lmn@mardi.my

Oral Paper

Paper 6(4)

Use of Image analysis for Grading Size of Manggo by Teoh Chin Chuang and Mohd Syaifuddin Abdul Rahman. (Malaysia)

Teoh Chin Chuang and Mohd Syaifuddin Abdul Rahman

Mechanization and Automation Research Center,

Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) Serdang 43400, Selangor, Malaysia

Email: cchin@mardi.my

Tel: 603-89431287

Fax: 603-89482961

Poster Paper

Paper 6(5)

Postharvest Handling, Packaging and Marketing of Hydroponically-Grown Greenhouse Tomatoes in Mauritius by Rohit Brizmohun and John L Griffis, Jr. (Mauritius)

Rohit Brizmohun

Brizcom International, Ltd., 10 Prosper D’Epinay St., Curepipe Road, Mauritius

E-mail: shriyan@intnet.mu

Tel: 230-212-5247

Fax: 230-212-5245

John L Griffis, Jr.

Tropical Plant and Soil Sciences, CTAHR, University of Hawaii-Manoa, Honolulu, Hawaii, USA

E-mail: jgriffis@hawaii.edu

Tel: 1-808-956-7902  Fax: 1-808-956-3894

Poster Paper

Paper 6(6)

Establishment of Harvest within the Year and Constant Yield of Strawberry (Fragaria x Ananassa Duch.) on Okinawa under Subtropical Climate by ARAKI Yoichi and Hirotaka YAMAGUCHI. (Japan)

ARAKI Yoichi and Hirotaka YAMAGUCHI.

National Agricultural Research Center for Kyusyu Okinawa Region, Kurume, Fukuoka 839-8503, Japan,

E-mail: yochan@affrc.go.jp

Fax:+81-942-43-7014

Poster Paper

Paper 6(7)

Methyl Bromide Fumigation of Cut Chrysanthemum for Export by M. Rahim. (Malaysia)

M. Rahim

Rice and Industrial Crop Research Center

MARDI, P.O. Box 12301

50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437140

Fax: 0689425786

Email: mrahim@mardi.my

Poster Paper
Paper 6(8)

Methods of Disinfestation of Cut Flowers by

Hamidah, S, Mohd Shamsudin Osman, Zainon, O and Mohd Ridzuan,l (Malaysia).

Hamidah, S, Mohd Shamsudin Osman, Zainon, O and Mohd Ridzuan,l

Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI), P.O.Box 12301, General Post Office, Kuala Lumpur, Malaysia.

Poster Paper

PEST AND DISEASES MANAGEMENT

Keynote 7(1)

Pest and Diseases Management under Greenhouses Production System Syed Abdul Rahman Syed Abdul Rashid. (Malaysia)

Syed Abdul Rahman Syed Abdul Rashid

Principal Research Officer

MARDI Cameron Highlands,

39007 Tanah Rata, Cameron Highlands, Pahang, Malaysia.

Tel: 605 4911255/5945

Fax: 605 4912170

Email: dsar@mardi.my

Invited  Lecture 7
Paper 7(2)

Effect of Some Bio-Rational pesticides on the Whitefly, Bemisia Tabaci (Gennadius) by Mohammed Al-Doghairi, Suloiman Al-Rehiayani, Eltayeb Elhag and Khalid Osman. (Saudi Arabia)

Mohammed Al-Doghairi, Suloiman Al-Rehiayani, Eltayeb Elhag and Khalid Osman

Collage of Agriculture & Veterinary Medicine, Buriydah, P.O box 1482, Saudi Arabia

E-mail: mdoghair@hotmail.com

Fax:0096663800040 or 0096663801360

Oral Paper

Paper 7(3)

Scope of Low Cost House for Lac Crop Production by Niranjan Prasad, K.K Kumar and A. Bhattacharya. (India)

Niranjan Prasad, K.K Kumar and A. Bhattacharya

Indian Lac Research Institute, Namkun, Ranchi, India-834 010

E-mail: nprasad@vitalmail.com

Fax: +91 651 2260202

Oral Paper

Paper 7(4)

Trapping Efficiency of Various Colored Traps for Inserts in Cucumber Crop Under Greenhouse Conditions in Riyadh, Saudi Arabia by Al-Ayedh Hassan and Al-Doghairi Mohammed. (Saudi

Arabia)

Al-Ayedh Hassan and Al-Doghairi Mohammed

Natural Resources and Environment Research Institute (NRERI), King Abdulaziz City for Science3 and Technology (KACST), P.O. Box No.6068-Riyadh 11442-saudi Arabia

Department of plant protection, College of Agriculture, King Saud Univesity, Buradah P.O Box 1482, Saudi Arabia

E-mail: alayedh@kacst.edu.sa

Telephone: ++966-1-4813614

Fax: ++966-1-4813611

Poster Paper

Paper 7(5)

Environmentally Safe Method for Soil-Borne Pest Control in Greenhouse by Ahmed A. Almasoum, (United Arab Emirates)

Ahmed A. Almasoum

Dept. of Arid Land Agriculture, College of Food Systems, UAE University, Al-Ain, UAE

P.O.Box 1755 Al-Ain,UAE

E-mail: almasoum@uaeu.ac.ae

Tel +9713-7051451

Fax: +9713-7614430

E-mail: almasoum@uaeu.ac.ae

Web: http://www.geocities.com/capecanaveral/lab/7072

Oral paper
Paper 7(6)

Evaluation of Cucumber Insert Pests Under Greenhouse Condition in Riyadh, Saudi Arabia by Hassan Y. Al-Ayedh. (Saudi Arabia)

Hassan Y. Al-Ayedh,

Natural Resources and Environment Research Institute (NRERI), King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST), P. O Box 6086 Riyadh 11442, Saudi Arabia

E-mail: alayedh@kacst.edu.sa

Telephone: 001-966-1-481-3614

Fax: 001-966-1-481-3611

Oral Paper

Paper 7(7)

Effect of Essential Oils of Medicinal Plants on Control of Greenhouse Whitefly (Trialeurodes vaporariorum) by H. Aroiee, S. Mosapour, S.M. Hossani, M. Shakiby, H. karim Zadeh and E. Hoshmand. (Republic of Iran)

H. Aroiee, S. Mosapour, S.M. Hossani, M. Shakiby, H. karim Zadeh and E. Hoshmand.

Horticultural Department, Agricultural Faculty, Ferdwosi University, Mashland, Iran.

Aroiee_h@yahoo.com

Oral Paper

Paper 7(8) Spatial Pattern of Whitefly Infestation on Solanaceous Crops Under Protective Structures and Open Field Conditions by Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman. (Malaysia) Mohd. Norowi H., Mohamad Roff M.N. and Md. Touhidur Rahman.

Horticulture Research Centre

MARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala Lumpur

Malaysia.

Tel: 603 89437073

Fax: 603 89487639

Email: norowi@mardi.my

Oral Paper
Paper 7(9) Dynamics of aphis Gossypii Population and Spatial Distribution of Aphid Borne Virus Diseases on Bell Pepper Planted Under Protective Structures and Open Field by Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H. and Md. Touhidur Rahman. (Malaysia) Mohamad Roff M.N., Mohd. Norowi H., and Md. Touhidur Rahman.

Strategic Research Centre

MARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala Lumpur

Malaysia.

Tel: 603 89437453

Fax: 603 89437590

Email: roff@mardi.my

Poster Paper
Paper 7(10)

Dynamics of Aphis gossypii population and spatial distribution of aphid borne virus diseases on bell pepper planted under protective structures and open field by Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H., Md. Touhidur Rahman

and Green, S.K (Malaysia).

Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H., Md. Touhidur Rahman and Green, S.K

Horticulture Research Centre, MARDI Headquarters, P.O. Box 12301, GPO, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Poster Paper

Paper 7(11)

Spatial Pattern of Whitefly Counts in Tomato Field

and Its Relationship to the Spread of Whitefly Transmitted Virus by Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman (Malaysia)

Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman

Research CentreMARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala LumpurMalaysia.

Tel: 603 89437073

Fax: 603 89487639

Email: norowi@mardi.my

Poster Paper

Paper 7(12)

From Minor to Being a Major Pest of Carambola Under Netted Structure: A Case of the Flower Moth, Sphenaches caffer Zell. (Lepidoptera: Pterophoridae) by Mohd. Shamsudin Osman, Norsiah M.J., and Anthonysamy M (Malaysia)

Mohd. Shamsudin Osman, Norsiah M.J., and Anthonysamy M.

Horticulture Research Center, MARDI, Serdang, P.O. Box 12301, G.P.O. 50774  KUALA LUMPUR, MALAYSIA

shamos@mardi.my

Oral  paper

MARKETING TRENDS AND STRATEGIES

Keynote 8(1)

Marketing Trends and Strategies by Prof. David Hughes. (United Kingdom)

Professor David Hughes

Westfield, The Parade Monmounth

Monmouthshire NP25 3PA

United Kingdom

profdavidhughes@aol.com

Invited Lecture 8
Paper 8(2)

Financial Analysis of Greenhouse Vegetable Specialized  Projects in Saudi Arabia by Ahmed Mohammed Al-Abdulkader. (Saudi Arabia)

Ahmed Mohammed Al-Abdulkader

King Abdulaziz City for Science and Technology, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

Email: akader@kacst.edu.sa

Telephone: 0096614813302

Fax: 0096614813878

Oral Paper

Paper 8(3) Techno-economic feasibility of Israeli and Indigenously Designed Naturally Ventilated Greenhouses for Year Round Cucumber Cultivation by Balraj singh and Mahesh Kumar (India) Balraj Singh and Mahesh Kumar

Indi-Israel Project, Indian Agricultural Research Institute

New Delhi – 110012

Tel: +91-11-25841063

Telefax: +91-11-25842481

Email: drbsingh2000@yahoo.com

Oral Paper
Paper 8(4)

Market Survey and the Prospect of the Anthurium Industry in Malaysia by H. Noor Auni and M. A. Khairol (Malaysia)

H. Noor Auni and M. A. Khairol

Economic and Technological Management Research Center, MARDI HQ, P.O. Box 12301, G.P.O., 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Oral Paper
Paper 8(5)

The prospect of Japanese Flower Market and the Potential of Exporting Malaysian Cut Chrysanthemums by Sea Shipment by

H. Noor Auni, M. N. Latifah, and M.A. Khairol (Malaysia)

H. Noor Auni, M. N. Latifah, and M.A. Khairol

MARDI Serdang, 43400 Serdang,

Selangor, Malaysia

Poster  Paper
Paper 8(6) The Prospect of Tomato Production under Rainshelter in Malaysia by M. A. Khairol , H. Noor Auni , A. Roslina  and M.S. Redzuan (Malaysia)

M. A. Khairol , H. Noor Auni , A. Roslina  and M.S. Redzuan

Business Development Unit, MARDI HQ, P.O. Box 12301, G.P.50774 Kuala Lumpur.

Malaysia.

Khairol@mardi.my

Tel: 603 89437190

Fax: 603 8943 5840

Poster Paper

EMERGING TECHNOLOGIES

Keynote 9(1)

Emerging Technologies in Control Environment Production Systems by  Prof. Dr. Tadashi Takakura. (Japan)

Prof. Dr. Tadashi Takakura

Fukuoka International University

Fukuoka Womens Junior College

Gojyo 4-16-1, Dazaifu, Fukuoka 818-0193, JAPAN

Tel and FAX: 092-922-6879

E-mail: takakura@net.nagasaki-u.ac.jp;

takakura@ag.arizona.edu

Invited Lecture 9
Paper 9(2)

Nondestructive Detection of Plant Water Stress by Microwave Sensing by Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura. (Japan)

Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura.

Collage of Environmental Studies, Nagasaki 852-8521, Japan

Graduate School of Agricultural and Life science, The University of Tokyo, Bunkyo-ku, Tokyo 113-8657, Japan

College of Digital Media and Communication, Fukuoka International University, 4-16-1 Gojyo, Dazaifu, Fukuoka 818-0193, Japan

E-mail:  simomati@net.nagasaki-u.ac.jp

Fax: +81-95-819-2716

Poster Paper

Paper 9(3)

Protected Cultivation of Vegetables in India: Problem and Future Prospects by Balraj Singh and N.P.S. Sirohi. (India)

Balraj Singh and N.P.S. Sirohi

Indo-Israel, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110012 (India)

E-mail: drbsingh2000@yahoo.com

Telephone/fax: 091-11-25824481

Oral Paper

Paper 9(4)

Integrated Production and Protection Management (IPPM) Program for Greenhouse Crops in The Arabian Peninsula by Ahmed T.Moustafa, Yousuf Al-Raeesy, Amal Abdul Kareem and Amin Al-Kirshi. (United Arab Emirates)

Ahmed T.Moustafa, Yousuf Al-Raeesy, Amal Abdul Kareem and Amin Al-Kirshi.

International Center for Agricultural Research in the Dry (ICRADA), Arabian Peninsula Regional Program (APRP), P.O Box 13979, Dubai, UAE.

E-mail: a.moustafa@cgiar.org

Fax: +971 4 2958216

Oral Paper

Paper 9(5)

Influence of Water Salinity on Growth, Water Relations and Mineral Contents of Distichlis Spicata by Saad Farhan Alshammary. (Saudi Arabia)

Saad Farhan Alshammary

Natural Resources and Environment Research Institute

King Abdulaziz City for Science and Technology

P.O.Box 6086 Riyadh 11442, Saudi Arabia, 2004

Phone: 96614813598

E-mail: sshammary@kacst.edu.sa

Oral Paper

Paper 9(6)

Soil Solarization Studies using Innovatory Plastics Films by  Carlo Manera, Vito Miccolis,  Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo, Cosimo Marono, Martino Basile. (Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis,  Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo, Cosimo Marono, Martino Basile

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical-Economic Department,

Crop Production Department ,

Plant Protection Institute – C.N.R. Bari

Nuovo Polo Universitario – C/da Macchia Romana  85100 Potenza (Italy)

Tel. + 39 0971/205405;

fax +39 0971/205429;

E-mail: manera@unibas.it

Oral Paper

Paper 9(7)

Mulching Studies in Greenhouses using Innovatory Plastic Films by

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo.(Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo.

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical-Economic Department,

Crop Production Department,

Nuovo Polo Universitario – C/da Macchia Romana  85100 Potenza (Italy)

Tel. + 39 0971/205405; fax +39 0971/205429;

E-mail: manera@unibas.it

Oral Paper

Paper 9(8)

Determination of the Optical Properties of Plastics Films used as Cladding Materials in Novel Energy Efficient Greenhouse by B. Chunnasit, P. Hadley. (United Kingdom)

B. Chunnasit and P. Hadley,

Department of Horticulture & Landscape, School of Plant Science, The University of Reading, Whiteknights PO Box 221 Reading RG6 6AS, UK

E-mail: b.chunnasit@reading.ac.uk

Poster Paper

Paper 9(9)

Salinity Management of Media Grown Hydroponics Tomatoes by R.A.J.White. (New Zealand)

R.A.J.White.

Horticultural Consultants, P.O.Box 1014, Levin, New Zealand.

Email JWHortcons@xtra.co.nz

Fax: +64 6 3689694

Oral Paper

Paper 9(10)

Qualitative and Chemical Analysis of Different Cultivars of Cucumbers

By Kim H.W, J. K. Kim, I. T. Hwang, J. B. Seo and G.J. Choi. (Korea)

Kim H.W, J. K. Kim, I. T. Hwang, J. B. Seo and G.J. Choi.

Cucumber Exp. Station, Jeonnam 542-821, Korea

Jeonnam ARES, Naju City, Jeonnam 570-180, Korea

E-mail: hyunwoo@jares.go.kr

Fax: 82617815231

Poster Paper

Paper 9(11)

Effect of Different Propagating Structures on Rooting of Hardwood Cuttings in Grape Varieties by C. Ravindran, S. Jaganath and R. Krishnamanohar. (India)

C. Ravindran, S. Jaganath and R. Krishnamanohar.

Division of Horticulture, UAS, GKVK,

Bangalore-560 065, India.

E-mail: ravi_hort@yahoo.com

Oral Paper

Paper 9(12)

Heat Pipe as an Energy Saver in Aeroponic System by  N. Srihajong, S. Ruamrungsri, P. Terdtoon, P. Kamonpet,and T. Ohyama. (Japan)

N. Srihajong, S. Ruamrungsri, P. Terdtoon, P. Kamonpet,and T. Ohyama.

Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Chiang Mai University 50200, Thailand

Faculty of Horticulture, Niigata University, Japan

E-mail: narong­_sri@hotmail.com;

G4566427@cm.edu

Oral Paper

Paper 9(13)

Acoustical Measurement for Vertical Temperature Profile in Alley Between Rows of Tomato Plants by Koichi Mizutani, Riku Futamata, Kousuke Kudo, Yasuyuki Hirayama and Limi Okushima. (Japan)

Koichi Mizutani, Riku Futamata, Kousuke Kudo, Yasuyuki Hirayama and Limi Okushima

Graduate School of Systems and Information Engineering, University of Tsukuba

Tsukuba Science City, 305-8573, Japan.

E-mail : futamata@aclab.esys.tsukuba.ac.jp

Tel. +81-29-853-5468

Fax. +81-29-853-5207

Oral Paper

Paper 9(14) Application of  Precision Agriculture Technologies in the Tropical Greenhouse Environment by Chan Chee Wan. (Malaysia) Chan Chee Wan

Mechanization and Automation Research Center

MARDI,  P.O.Box 12301

General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89416851

Fax:603 89482961

Email: cwchan@mardi.my

Oral Paper
Paper 9(15) Design and Development of Kenaf Seed Thresher Machine for Kenaf Seed Production Under Rain Shelter by C.C. Wong and S.T. Ten (Malaysia)

C.C. Wong and S.T. Ten

Rice and Industrial Crops Research Centre, MARDI, P.O. Box 12301, GPO, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel:603 89437740

Fax: 603 89425786

Email: ccwong@mardi.my

Poster Paper
Paper 9(16)

Application of Computer Vision System to Monitor Crops Growth and Weeds Under Rain Shelter by A.R. M Syaifudin, Teoh Chin Chuang, O.Muhamad Isa (Malaysia)

A.R. M Syaifudin, Teoh Chin Chuang, O.Muhamad Isa.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Poster paper

Analisis Hubungan Perataan Laba (Income Smoothing) dengan Ekspektasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

July 26, 2010 1 comment

Syahril Djaddang

ABSTRACT

The purposes of this thesis are to analyze the relativity between income smoothing (net earnings, leverage, total asset, and discretionary accrual) and earning future expectation (expected earning) for manufactured companies in Indonesia, and also to prove whether income smoothing influences earning future expectation. This research use 36 manufactured companies data, listed in The Jakarta Stock Exchange, that been chosen by the purposive sampling method. Modified Jones model is use in this thesis as an income smoothing assumption. The data analysis method that been used are One Sample Kolmogorov-Smirnov, Multicollinearity Test, Durbin-Watson Test, Scatterplot, Pearson Correlation, Multiple Regression, F Test, and T-Test.

Based on the test done, it is shown that the net earnings, leverage, and total asset variables are significantly positive related to expected earning variable (earning future expectation), while discretionary accrual variable is not significantly positive related to expected earning variable. The relations between net earnings, leverage, and total asset to expected earning are weak positive correlation. Another result of the test done is that all independent variables (income smoothing), together, are significantly influencing their dependent variable, earning future expectation (expected earning).

Keywords: income smoothing, expected earning, Jones model

  1. I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pihak manajemen perusahaan sangat menyadari peranan informasi laba dalam income statement. Oleh karena itu, pihak manajemen cenderung memberikan kebijakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu yang biasanya bersifat jangka pendek (Kusuma & Sari, 2003). Pilihan kebijakan akuntansi yang dilakukan manajemen untuk tujuan spesifik itulah yang disebut dengan manajemen laba (Scott, 2000). Hal ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang timbul antara pihak manajemen dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholder) (Sugiarto, 2003). Berbagai penelitian lainnya untuk membuktikan bahwa manajemen laba dilakukan untuk mencapai tujuan spesifik dan bersifat jangka pendek, juga telah dilakukan oleh Rahman dan Bakar (2002); Burgsahler dan Dichev (1997); Dechow, et. al (1995); serta Perry dan William (1994). Tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2000) mengatakan bahwa fenomena manajemen laba tidak selamanya terbukti, walaupun secara teoritis memungkinkan atau ada peluang bagi manajemen untuk me-manage laba yang dilaporkan.

Para manajer melakukan tindakan ini karena biasanya laba yang stabil dan tidak banyak fluktuasi dari satu periode ke periode yang lain, dinilai sebagai prestasi yang baik. Akuntansi konvensional membatasi manajer untuk membuat “discretionary accounting” untuk meratakan laba yang dilaporkan (reported earnings). Tetapi tidak semua negara melarang dilakukannya perataan laba. Misalnya Swedia, yang membenarkan tindakan ini, sepanjang dilakukan dengan transparan. (Harahap, 2005).

Di Indonesia, beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan memperlihatkan hasil yang tidak konsisten. Ilmainir (1993) menemukan bukti bahwa perataan laba didorong oleh harga saham, perbedaan antara laba aktual dan laba normal dan pengaruh perubahan kebijakan akuntansi yang dipilih oleh manajemen. Zuhroh (1996) menemukan bukti bahwa faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba adalah leverage operasi. Naim dan Hartono (1996) menemukan manajer yang menghadapi investigasi pelanggaran undang-undang antitrust akan menurunkan laba untuk menghindari pinalti pelanggaran antitrust. Wimbari (1998) mendapatkan hasil bahwa perataan laba disebabkan oleh faktor profitabilitas dan jenis industri. Jin (1998) menemukan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap praktek perataan laba adalah ukuran perusahaan, tingkat profitabilitas, sektor industri dan leverage-nya.

B.  Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas penulis dalam penelitian ini, adalah:

  1. Apakah praktik perataan laba dan ekspektasi kinerja masa depan mempunyai hubungan yang positif (kuat)?
  2. Apakah praktik perataan laba mempunyai pengaruh signifikan terhadap ekspektasi kinerja masa depan perusahaan?

C.  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan penulis, ialah:

  1. Untuk mengetahui dan menganalisa hubungan antara perataan laba dan ekspektasi kinerja di masa depan.
  2. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh perataan laba (variabel bebas) terhadap kinerja masa depan perusahaan (variabel terikat).

II.        Tinjauan Pustaka

2.1.      Laporan Keuangan

Menurut Pedoman Etika Akuntan IAI, laporan keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atau perubahan atas aktiva dan atau kewajiban selama suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.2. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement digolongkan sebagai berikut (Harahap, 2001: 42) :

  1. Tujuan Khusus

Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principle).

  1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi, dan kewajiban perusahaan.
  2. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.
  3. Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
  4. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
  5. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan.
  6. Tujuan Kualitatif

Tujuan kualitatif yang dirumuskan APB Statements No. 4 adalah sebagai berikut:

  1. Relevan.
  2. Dapat dimengerti
  3. Dapat dicek kebenarannya
  4. Netral
  5. Tepat waktu & Dapat diperbandingkan
  6. Lengkap

2.3. Jenis Laporan Keuangan

Sedangkan dalam definisi laporan keuangan menurut peraturan      Bapepam Nomor : VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan dijelaskan bahwa laporan keuangan terdiri dari:

  1. Neraca
  2. Laporan Rugi Laba
  3. Laporan Perubahan Ekuitas
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan

2.         Earning Management (Manajemen Laba)

Earning management adalah suatu konsep yang dilakukan perusahaan dalam mengelola laporan keuangan supaya laporan keuangan tampak terlihat memiliki kualitas (quality of financial reporting) (Suhendah, 2005). Laporan keuangan yang paling sering dimanipulasi oleh perusahaan adalah laporan rugi laba.

Menurut Jumingan (2003) seperti yang dikutip oleh Suhendah (2005), earning management merupakan suatu proses yang disengaja, menurut standar akuntansi keuangan untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu. Yang termasuk dalam kategori earning management ialah:

  1. Discretionary accrual
  2. Income smoothing
  3. Manipulasi alokasi pendapatan/biaya.
  4. Perubahan metode akuntansi dan struktur modal.

Earning management (manajemen laba) memiliki cakupan yang lebih luas daripada income smoothing (perataan laba), karena manajemen percaya bahwa reaksi pasar didasarkan pada pengungkapan informasi akuntansi sehingga perilaku laba merupakan aspek penentuan resiko pasar entitas usaha.

Suhendah (2005) mengutip Ayres (1994) yang menyatakan bahwa ada 3 faktor yang dapat dikaitkan dengan munculnya praktik manajemen laba oleh manajer demi menunjukkan prestasinya, yaitu:

  1. Manajemen akrual (accruals management).
  2. Penerapan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib (adoption of mandatory accounting changes).
  3. Perubahan akuntansi secara sukarela (voluntary accounting changes).

Gambar 1

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Manajemen Laba

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

  1. Manajemen akrual
  2. Penerapan suatu kebijaksanaan                                                                                                                                                                                                                          Praktik

akuntansi yang wajib                                                                                                                                                                                                                                                                                   Manajemen Laba

  1. Perubahan metode akuntansi

secara sukarela

Sumber : Jurnal Akuntansi/Th.IX/02/Mei/2005, Earning Management

3.         Income Smoothing (Perataan Laba)

3.1. Definisi Perataan Laba

Pengertian awal mengenai income smoothing ialah moderates year-to-year fluctuations in income by shifting earnings from peak years to less successful periods (Riahi-Belkaoui, 2004). Sedangkan pengertian yang lebih modern adalah the process of manipulating the time profile of earnings or earning reports to make the reported income less variable, while not increasing reported earnings over the long run (Riahi-Belkaoui, 2004).

Income smoothing (perataan laba) adalah a form of earnings management in which revenues and expenses are shifted between periods to reduce fluctuations in earnings (Arens, et. al, 2005: 310). Selain itu, menurut Harahap (2005) perataan laba adalah upaya yang dilakukan oleh manajemen untuk menstabilkan laba.

Definisi lainnya tentang perataan laba menurut Beidleman adalah (Riahi-Belkaoui, 2004):

The intentional dampening or fluctuations about some level of earnings that is currently considered to be normal for a firm., atau an attempt on the part of the firm’s management to reduce abnormal variations in earnings to extent allowed under sound accounting and management principles.”

3.2. Jenis Perataan Laba

Ada dua jenis perataan laba, yaitu (Riahi-Belkaoui, 2004) :

  1. Intentional atau designed smoothing

Intentional atau designed smoothing ialah keputusan atau pilihan yang dibuat untuk mengatur fluktuasi earnings pada level yang diinginkan.

  1. Natural smoothing

Natural smoothing adalah income generating process yang natural, bukan hasil dari tindakan yang diambil oleh manajemen.

3.3. Faktor Pendorong Perataan Laba

Tidak semua negara melarang dilakukannya perataan laba (Harahap, 2005). Seperti Swedia misalnya, di negara ini perataan laba diperbolehkan, asalkan perataan laba ini dilakukan dengan transparan.

Beberapa faktor yang mendorong manajemen melakukan perataan laba adalah (Sugiarto, 2003):

  1. Kompensasi bonus

Pada penelitiannya, Healy menemukan bukti bahwa manajer yang tidak dapat memenuhi target laba yang ditentukan akan memanipulasi laba agar dapat mentransfer laba masa kini menjadi laba masa depan. Selain itu, menurut Harahap (2005), pentingnya laporan keuangan mengundang manajemen untuk meratakan laba demi mendapatkan bonus yang tinggi.

  1. Kontrak utang

Defond dan Jimbalvo (1994) dengan menggunakan model Jones, mengevaluasi tingkat akrual perusahaan yang tidak dapat memenuhi target laba. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang melanggar perjanjian utang telah merekayasa labanya, satu periode sebelum perjanjian utang itu dibuat.

  1. Faktor politik

Jones (1991) meneliti perusahaan yang sedang diinvestigasi oleh International Trade Commision (ITC). Ia menemukan bukti bahwa produsen domestik cenderung menurunkan laba dengan teknik discretionary accrual untuk mempengaruhi keputusan regulasi impor. Naim dan Hartono (1996) meneliti perusahaan yang diduga melakukan monopoli dan menemukan bahwa manajer perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari UU Anti-Trust.

  1. Pengurangan pajak

Perusahaan melakukan perataan laba untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah (Arens, Elder, Beasley, 2005).

  1. Perubahan CEO

Pourciao (1993) menemukan bukti bahwa perekayasaan laba dilakukan dengan meningkatkan unexpected accruals pada periode satu tahun sebelum penggantian eksekutif tak rutin.

  1. Penawaran saham perdana

Clarkson et al (1992) menyatakan ada reaksi positif dari pengumuman earnings forecast yang ada di prospektus dengan tingkat penjualan saham, karena publik hanya melihat laporan keuangan yang dilaporkan pada regulator. Banyak perusahaan yang melakukan perataan laba demi mendapatkan dan mempertahankan investor (Jones, 2005).

Faktor yang diasumsikan menyebabkan manajer melakukan perataan laba menurut buku Accounting Theory (Riahi-Belkaoui, 2004: 451), ialah:

  1. Mekanisme pasar kompetitif, yang mengurangi pilihan-pilihan yang tersedia untuk manajemen.
  2. Skema kompensasi manajemen, yang terkait langsung dengan kinerja perusahaan.
  3. Ancaman pergantian manajemen.

3.4. Teknik Perataan Laba

Berbagai teknik yang dilakukan dalam perataan laba, diantaranya ialah (Sugiarto, 2003) :

  1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi. Pihak manajemen dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen sendiri (accruals) misalnya: pengeluaran biaya riset dan pengembangan. Selain itu banyak juga perusahaan yang menggunakan kebijakan diskon dan kredit, sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada bulan terakhir tiap kuarter dan laba kelihatan stabil pada periode tertentu.
  2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer mempunyai wewenang untuk mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya: jika penjualan meningkat, maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan pengembangan serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk menstabilkan laba.
  3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya: jika pendapatan non-operasi sulit untuk didefinisikan, maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non-operasi.

Keleluasaan untuk memakai teknik-teknik akuntansi dalam mencatat terbukti telah disalahgunakan oleh manajemen untuk melakukan perataan laba. Bahkan disinyalir bahwa perataan laba banyak dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik akuntansi yaitu dengan merubah kebijakan akuntansi (Koeh, 1981). Berdasarkan hal tersebut maka penelitian tentang perataan laba ini dilakukan dengan mengambil perubahan kebijakan akuntansi sebagai objek dihubungkan dengan antisipasi laba masa depan untuk menghindari pemecatan.

4.         Expected Earnings

Expected earnings ialah perkiraan dan ekspektasi laba yang ingin dicapai perusahaan di masa mendatang (Sugiarto, 2003). Expected earning diambil dari lembaran prospektus yang biasanya dikeluarkan perusahaan ketika ingin terdaftar di Bursa Efek Jakarta, selain itu juga terdapat di laporan keuangan tahunan perusahaan.

Tujuan laporan keuangan menurut SFAC No 1. Sesuai dengan UU no. 8 tahun 1995 BAB IX pasal 78 dan 79 dan dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan BAPEPAM NO. IX C.2, mengumumkan earnings projection dipandang perlu agar menjadi sinyal positif bagi investor tentang keterbukaan informasi perusahaan (Sugiarto, 2003).

Expected earnings yang tercantum di prospektus merupakan tantangan bagi manajer untuk mencapainya, karena jika manajer tidak bisa mencapainya atau kinerjanya atau kinerjanya di bawah rata-rata industri maka kemungkinan tindakan pemecatan akan semakin besar (Blackwell, 1994).

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menganalisa perataan laba dan hubungannya dengan laba masa depan perusahaan, dilakukan oleh Sopa Sugiarto (2003). Penelitian ini mengambil indikator perataan laba (variabel bebas) berupa net earnings (sebelum pos luar biasa), leverage, total asset, total accrual, dan discretionary accrual. Variabel terikatnya adalah expected earning. Sampel yang digunakan adalah 41 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, yang dipilih dengan metode purposive sampling.

Hasil penelitian tersebut mengindikasikan (1) Tidak terdapat hubungan antara peningkatan discretionary accrual dengan kinerja masa kini yang buruk dan ekspektasi kinerja masa depan yang bagus; (2) Terdapat hubungan antara penurunan discretionary accrual dengan kinerja masa kini yang bagus dan ekspektasi kinerja masa depan yang buruk.

C.        Kerangka Pemikiran

Gambar 2

Hubungan dan Pengaruh antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat

Variabel Bebas                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Variabel Terikat

X                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Y

X1

Net Earnings

X2

Leverage

Y

Expected Earning

X3

Total Asset

X4

Discretionary Accrual

X5

Perataan Laba

Sumber : Data diolah penulis, 2006

D.        Pengembangan Hipotesis

Sugiarto (2003) mengutip penelitian Fudenberg dan Tirole (1995) yang mengembangkan model teori yang mendorong manajer memperkirakan laba masa depan dengan berdasarkan pada pemakaian discretionary accounting.

2.         Hipotesis

Maka hipotesis penelitian yang dapat disimpulkan dari ketiga asumsi di atas adalah:

H1 :     Tingkat net earnings mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H2 :     Tingkat leverage mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H3 :   Tingkat total asset mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja  masa depan perusahaan.

H4 :     Tingkat discretionary accrual mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H5 :    Perataan laba mempunyai pengaruh signifikan terhadap ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

METODE PENELITIAN

A.        Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian yang bersifat korelatif, yaitu mencari hubungan antara perataan laba (discretionary accruals) dengan kinerja masa kini dan ekspektasi kinerja masa depan.

B.        Variabel dan Pengukurannya

1.         Variabel

Variabel yang digunakan dibagi menjadi 2, yaitu variabel bebas (tidak terikat) dan variabel terikat.

1.1       Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang nilainya mempengaruhi perilaku dari variabel terikat (dependent variable). Dalam penelitian ini, variabel bebasnya ialah perataan laba (income smoothing) yang faktornya terdiri dari:

  1. Net Earnings
  2. Leverage (LEV)
  3. Total Aset (ASSET)
  4. Discretionary Accrual (DA)

1.2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi oleh perilaku variabel bebas (independent variable). Dalam penelitian ini, variabel terikat yang digunakan, ialah expected earnings.

C.        Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Net Earnings (X1)

Net earnings ialah laba bersih yang bisa dilihat di dalam income statement. Dalam penelitian ini net earnings yang digunakan adalah net earnings before extraordinary item.

  1. Leverage (X2)

Leverage adalah bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang. Leverage ini dapat dihitung dengan rumus:

LEV = Total Utang / Total Equity

  1. Total Asset (X3)

Total asset adalah seluruh harta perusahaan yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, yaitu dari current asset sampai dengan fixed asset dan juga tangible asset. Data total asset ini dapat dilihat di dalam balance sheet perusahaan.

  1. Discretionary Accrual (X4)

Discretionary accrual adalah komponen accrual yang berada dalam kebijakan manajemen, artinya manajemen memberikan intervensinya dalam proses pelaporan keuangan. Perhitungan untuk mendapatkan discretionary accrual, ialah:

Keterangan:

=                      total accrual

=                      total asset

=                      total revenue

=                      piutang

=                      perubahan revenue dengan basis kas

=                      jumlah kotor nilai bangunan dan peralatan

=                      tingkat kesalahan

Setelah konstantanya didapat, dimasukkan ke dalam rumus:

Kemudian dicari discretionary accrual (DA)-nya dengan rumus:

  1. Expected Earnings (Y)

Expected earning adalah ekspektasi laba yang ingin dicapai perusahaan di masa depan. Expected earning ini dianggap dapat menggambarkan kinerja suatu perusahaan. Expected earning dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan:

=                      expected earning

=                      current earning

=     growth

D.        Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dalam pengumpulan datanya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan tahunan dan prospektus yang didapat dari Bursa Efek Jakarta (BEJ).

E.        Metode Pemilihan Sample

Pemilihan sample dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sample dengan berbagai kriteria. Kriteria yang digunakan dalam penelitian adalah:

  1. Perusahaan yang telah go public sebelum 31 Desember 2005.
  2. Emiten yang telah menyertakan laporan keuangan audit per 31 Desember 2002–2005.
  3. Perusahaan yang transaksi sahamnya masih aktif diperdagangkan selama tahun 2002–2005.
  4. Perusahaan yang tahun bukunya 31 Desember untuk tahun 2002–2005.
  5. Perusahaan dengan data ekstrem yang berhubungan dengan discretionary accrual, arus kas dan non-discretionary accrual akan dikeluarkan dari sample.

F.         Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: Statistik Deskriptif, Uji Normalitas, Uji Asumsi Klasik, Uji Hipotesis.

1.         Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan proses data penelitian dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diintepretasikan.

2.         Uji Normalitas

Dalam penelitian ini, uji normalitas data menggunakan Kolmogrov-Smirnov test. Tujuan pengujian tersebut adalah untuk menentukan apakah data-data dari masing-masing variabel terdistribusi normal atau tidak.

Perumusan hipotesa untuk uji normalitas, yaitu :

  1. H0 :           data normal
  2. Ha : data tidak normal

Dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas :

  1. Signifikansi >        0,05 (H0 diterima : data normal)
  2. Signifikansi <        0,05 (H0 ditolak : artinya data tidak normal)

3.  Uji Asumsi Klasik

Analisa mengenai hubungan dan pengaruh perataan laba dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan (expected earning) dapat dilakukan bila data yang diteliti memenuhi asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik yang dilakukan, yaitu:

3.1.      Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang berarti antara masing-masing variabel independen dalam model regresi. Metode untuk menguji adanya multikolinieritas dilihat pada tolerance value atau Variance Inflation Factor (VIF). Batas dari tolerance value adalah 0,10 dan batas VIF adalah 10. Jika Variance Inflation Factor (VIF) diatas 10 dan tolerance value dibawah 0,10 (Hair et, al, 1998).

Perumusan hipotesa untuk uji multikolinearitas adalah :

  1. Ho :                       tidak ada multikolinearitas
  2. Ha :                       terjadi multikolinearitas

Pengambilan keputusan :

  1. Jika  VIF > 0,10 (Ho ditolak: terjadi multikolinearitas)
  2. Jika  VIF < 0,10 (Ho diterima: tidak ada multikolinearitas)

3.2.      Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menunjukkan adanya korelasi antara error dengan error periode sebelumnya. Pada asumsi klasik, hal ini tidak boleh terjadi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Durbin–Watson (DW). Jika nilai Durbin–Watson terletak diantara dU dan 4-dU maka disimpulkan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi. Data yang baik adalah data yang memiliki hasil uji tidak terdapat autokorelasi. Sebenarnya penelitian ini tidak memerlukan uji autokorelasi, karena data yang digunakan adalah data pooling.

Dasar pengambilan keputusan uji autokorelasi (DW) sebagai berikut :

  1. Jika 0 < DW < dL, maka terdapat positif autokorelasi
  2. Jika dL ≤ DW ≤ dU, maka tidak ada keputusan
  3. Jika dU < DW < 4-dU, maka tidak terdapat autokorelasi
  4. Jika 4-dU ≤ DW ≤ 4-dL, maka tidak ada keputusan
  5. Jika 4-dL < DW <4, maka terdapat negatif autokorelasi

3.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan mengandung variasi residual yang bersifat heteroskedastisitas (varians dari setiap error bersifat heterogen). Model regresi yang baik tidak terjadi heteroskedastisitas (bersifat homogen). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan uji dengan scatterplot.

4.         Uji Hipotesis

4.1. Uji Korelasi

Analisis korelasi berfungsi untuk menyatakan derajat keeratan hubungan dan arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya. Semakin tinggi nilai korelasi, semakin tinggi derajat keeratan hubungan kedua variabel tersebut. Nilai korelasi memiliki rentang antara 0 sampai 1 atau 0 sampai -1. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan. Tanda positif menunjukkan hubungan searah. Jika 1 variabel naik, variabel yang lain naik. Tanda negatif menunjukkan hubungan berlawanan. Jika 1 variabel naik, variabel yang lain akan turun.

Dalam penelitian ini, analisis korelasional yang digunakan adalah analisis korelasi Pearson. Metode tersebut digunakan karena data yang diteliti adalah data dengan skala rasio.

Perhitungan koefisien korelasi adalah menggunakan formula:

Keterangan :

=                      variabel bebas

=                      variabel terikat

=                      banyaknya sampel

4.2.      Uji Regresi Berganda

Untuk menganalisa pengaruh variabel bebas, yaitu perataan laba, terhadap variabel terikat, yaitu ekspektasi kinerja masa depan perusahaan (expected earning), penulis menggunakan regresi berganda dengan model sebagai berikut:

Dimana Y adalah variabel terikat, yaitu expected earning, dan X adalah variabel bebas, yaitu net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual, yang diujikan dalam penelitian. Bila Y dan X diganti dengan nama masing-masing variabel, maka rumus regresi bergandanya akan menjadi:
Keterangan:

=                      expected earning perusahaan

=                      konstanta

=                      koefisien regresi

=                      net earnings perusahaan

=                      leverage perusahaan

=                      total asset perusahaan

=                      discretionary accrual perusahaan

=                      tingkat kesalahan (error)

Analisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat di penelitian ini menggunakan regresi berganda, karena baik variabel bebas maupun variabel terikat, keduanya berskala rasio.

4.2.1.   Uji F (Uji Serentak)

Uji F atau Uji Serentak merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan seluruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikatnya. Pengujian ini membandingkan antara nilai F hitung dengan nilai F tabel pada tingkat keyakinan tertentu, dengan ketentuan bahwa interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Uji F menggunakan rumus (untuk perhitungan manual):

Keterangan:

=                      rata-rata jumlah kuadrat (mean sum of square)

=                      jumlah kuadrat regresi (explain sum of square)

=                      jumlah kuadrat sisa (residual sum of square)

Perumusan hipotesa untuk Uji F adalah, sebagai berikut :

Ho :   Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (expected earning).

Ha :    Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan untuk Uji F adalah :

  1. Jika F hitung > F tabel (Ho ditolak : mempunyai pengaruh signifikan)
  2. Jika F hitung < F tabel (Ho diterima : tidak mempunyai pengaruh) atau
  3. Jika sig. F statistik < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  4. Jika sig. F statistik > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

4.2.2.   Uji T (Uji Individu)

Uji-t ini digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Uji-t membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel, dengan ketentuan interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Rumus yang digunakan dalam Uji-t (perhitungan secara manual), ialah:

Keterangan:

=                      koefisien regresi

=                      derajat kesalahan (standard error)

Perumusan hipotesa untuk Uji-t, adalah:

Ho :   Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Ha :    Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Dasar pengambilan keputusan pada Uji-t, yaitu:

  1. Jika t-hitung < t-tabel (Ho diterima : tidak ada pengaruh signifikan)
  2. Jika t-hitung > t-tabel (Ho ditolak : ada pengaruh signifikan)

atau

  1. Jika nilai Sig. < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  2. Jika nilai Sig, > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.        Deskripsi Objek Penelitian

Deskripsi data yang disajikan adalah deskripsi data variabel penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari satu variabel terikat (Y), yaitu  expected earning; dan 5 variabel bebas (X), yaitu net earnings (X1), leverage (X2), total asset (X3), discretionary accrual (X4), dan perataan laba (X5). Jumlah perusahaan yang digunakan sebagai sampel adalah 36 perusahaan, dengan periode laporan keuangan tahun 2002 sampai dengan 2005, yang secara lengkap dapat dilihat di lampiran 1.

B.        Analisis dan Pembahasan

1.         Statistik Deskriptif

Tabel 1

Statistik Deskriptif

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah data yang digunakan sebagai sampel berjumlah 36 perusahaan, dengan 6 variabel penelitian (total asset, net earnings, expected earning, discretionary accrual, dan leverage). Variabel total asset memiliki nilai minimum (terendah) sebesar Rp 38.926.037.291,- dan nilai maksimum (tertinggi) sebesar Rp 15.669.007.629.752,-. Nilai rata-ratanya (mean) sebesar Rp 2.130.275.595.505,- dengan standar deviasi sebesar                                Rp 3.291.406.897.483,8,-.

Variabel net earnings (sebelum pos luar biasa) memiliki nilai terendah sebesar Rp (792.946.330.000),- serta nilai terendah sebesar Rp 1.468.445.000.000,-. Nilai rata-rata dan standar deviasinya sebesar Rp 83.440.463.042,97,- dan                        Rp 328.560.969.219,054,-.

Ekspektasi kinerja masa depan, yang dipresentasikan dengan variabel expected earning, memiliki nilai terendah Rp (22.703.196.165.120,0),- dan nilai tertinggi      Rp 26.925.814.065.823,3,-. Nilai rata-ratanya adalah Rp 950.436.190.427,0,- dengan nilai standar deviasi Rp 5.937.224.225.678,1,-.

Variabel discretionary accrual memiliki nilai terendah                                      Rp (7.104.389.596.998,69),- serta nilai tertinggi Rp 1.241.805.000.000,05,-. Nilai rata-rata dan standar deviasinya adalah sebesar Rp (162.999.655.213) dan               Rp 889.335.989.040,23

Rasio pengukuran perusahaan, yang dipresentasikan dengan variabel leverage, memiliki nilai terendah sebesar -18,54 dan nilai tertinggi sebesar 53,28. Nilai rata-ratanya adalah sebesar 2,4446; sedangkan standar deviasinya adalah sebesar 8,08879.

2.         Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian yang digunakan, memiliki distribusi yang normal atau tidak. Analisis Kolmogorov–Smirnov merupakan suatu pengujian untuk menguji keselarasan data, dimana suatu sampel dikatakan berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal.

Perumusan hipotesa untuk uji normalitas ialah :

  1. Ho :           data normal
  2. Ha : data tidak normal

Dasar pengambilan keputusannya, yaitu :

  1. Signifikansi > 0,05 (Ho diterima : data normal)
  2. Signifikansi < 0,05 (Ho ditolak : data tidak normal)

Berikut ini adalah hasil pengolahan data statistik untuk uji normalitas Kolmogorov-Smirnov:

Tabel 2

Tabel Uji Normalitas Kolmogorov–Smirnov

Sumber : Data diolah, 2006

Tabel 3

Tabel Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov

Variabel Sig Kesimpulan
Total Asset 0.000 Ho ditolak
Net Earnings 0.000 Ho ditolak
Expected Earnings 0.000 Ho ditolak
Total Accrual 0.000 Ho ditolak
DA 0.000 Ho ditolak
Leverage 0.000 Ho ditolak

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa variabel total asset, net earnings, expected earning, total accrual, DA (discretionary accrual), dan leverage memiliki tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0,05. Maka seluruh variabel, baik bebas maupun terikat, memiliki kesimpulan bahwa Ho ditolak, yang berarti data berdistribusi tidak normal.

Gambar 3

Grafik Distribusi Data

Sumber : Data diolah, 2006

3.         Uji Asumsi Klasik

3.1.      Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya hubungan langsung (korelasi) antar variabel bebas. Multikolinearitas terjadi jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih besar dari 10 atau nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 (Hair et, al, 1998).

Perumusan hipotesa untuk uji multikolinearitas :

  1. Ho :  tidak ada multikolinearitas
  2. Ha :  ada multikolinearitas

Dasar pengambilan keputusan :

  1. VIF > 10 (Ho ditolak : ada multikolinearitas)
  2. VIF < 10 (Ho diterima : tidak ada multikolinearitas)

Tabel 4

Tabel Uji Multikolinieritas

Sumber: Data diolah, 2006

Tabel 5

Tabel  Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel VIF Keputusan
Total Asset 1.149 Tidak ada multikolinearitas
Net Earnings 1.067 Tidak ada multikolinearitas
DA 1.089 Tidak ada multikolinearitas
Leverage 1.008 Tidak ada multikolinearitas

Sumber : Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa seluruh variabel bebas memiliki VIF < 10. Oleh karena itu, Ho diterima, yang berarti tidak ada multikolinearitas. Maka dapat dikatakan bahwa di antara sesama variabel bebas tidak mempunyai hubungan langsung (tidak berkorelasi), sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

3.2.      Uji Autokorelasi

Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi antara error dengan error periode sebelumnya, dimana pada asumsi klasik hal ini tidak boleh terjadi. Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan Durbin–Watson. Jika nilai Durbin–Watson berkisar diantara nilai batas atas (dU) dan 4-dU maka diperkirakan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi.

Dasar pengambilan keputusan uji autokorelasi :

Tabel 6

Keputusan Autokorelasi

Hipotesa Nol (Ho) Keputusan Kriteria
Tidak ada Positif Autokorelasi Ho ditolak 0 < DW < dL
Tidak ada Positif Autokorelasi Tidak ada keputusan dL ≤ DW ≤ dU
Tidak ada Autokorelasi Ho diterima dU < DW < 4-dU
Tidak ada Negatif Autokorelasi Tidak ada keputusan 4-dU ≤ DW ≤ 4-dL
Tidak ada Negatif Autokorelasi Ho ditolak 4-dL < DW < 4

Berikut ini adalah tabel dan gambar hasil pengujian autokorelasi :

Tabel 7

Tabel Hasil Durbin–Watson

Sumber: Data diolah, 2006

Gambar 4

Hasil Uji Autokorelasi

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas, diketahui nilai Durbin–Watson untuk hipotesa sebesar 2,154. Nilai Durbin–Watson tersebut berada pada daerah dU < DW < 4-dU, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi pelanggaran autokorelasi (model bebas dari autokorelasi). Sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa model hipotesis diatas terbebas dari permasalahan autokorelasi, sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

Pada penelitian ini, sebenarnya, uji autokorelasi ini tidak diperlukan. Hal ini disebabkan karena, data penelitian yang digunakan adalah data pooling. Data pooling adalah data yang, misalnya, banyak perusahaan (lebih dari 1) dengan pengamatan beberapa tahun (lebih dari 1).

3.3.      Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan mengandung variasi residual yang bersifat heterogen. Model regresi yang baik tidak terjadi heteroskedastisitas (harus bersifat homogen).

Heteroskedastisitas dalam model regresi dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 5

Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Scatterplot

Sumber : Data diolah, 2006

Dari gambar grafik pada gambar 4, dapat dilihat bahwa sebaran titik terjadi secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan.

3.4.      Uji Fit Model (R²)

Hasil yang didapatkan dari uji normalitas adalah bahwa data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itulah, penulis melakukan uji fit model, untuk melihat apakah model yang digunakan dalam regresi layak untuk dilanjutkan.

Tabel 8

Tabel Fit Model

Sumber : Data diolah, 2006

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa model yang digunakan layak untuk dilanjutkan. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi R²-nya adalah sebesar 0,246. Artinya, bahwa variasi dari variabel perataan laba (variabel bebas) mampu menjelaskan variasi dari variabel expected earning (variabel terikat) sebesar 24,6%. Sisanya (75,4%) adalah variasi dari variabel bebas lainnya yang tidak dimasukkan ke dalam model. Maka, model yang digunakan layak dilanjutkan penelitiannya.

4.         Uji Hipotesis

4.1.      Uji Korelasional

Analisis korelasi berfungsi untuk menyatakan derajat keeratan hubungan dan arah hubungan antara 2 variabel. Semakin tinggi nilai korelasi, semakin tinggi keeratan hubungan kedua variabel. Nilai korelasi memiliki rentang antara 0 sampai +1 atau 0 sampai -1. Tanda positif (+) dan negatif (-) menunjukkan arah hubungan kedua variabel tersebut.

Gambar 6

Hubungan Korelasi

(-)        kuat                                                                                         (-)            lemah                                                   (+)       lemah                                                               (+)       kuat

-1                                                                                                                                 -0,5                                                                                                                  0                                                                                                                                              0,5                                                                                                                               1

Berikut adalah tabel hasil pengujian korelasi masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat:

Tabel 9

Tabel Korelasi

Sumber : Data diolah, 2006

4.1.1.   Analisis Net Earnings

Hipotesis pertama menguji adanya hubungan positif signifikan antara net earnings (variabel X1) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesis :

Ho1 :  Tidak adanya hubungan positif antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha1 :  Adanya hubungan positif antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan :

  1. Sig. (1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8. Dari tabel tersebut diketahui net earnings dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,000 < 0,05), dengan angka korelasi sebesar 0,354.

Dari hasil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Ho1 ditolak, yang berarti terdapat hubungan positif antara net earnings dengan expected earning (kinerja masa depan). Hubungannya dinamakan korelasi positif lemah karena angka korelasinya (0,354) menunjukkan nilai positif (+) yang mendekati 0,5.

4.1.2.   Analisis Leverage

Hipotesis kedua menguji adanya hubungan positif antara leverage (variabel X2) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesisnya, yaitu :

Ho2 :  Tidak adanya hubungan positif antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha2 :  Adanya hubungan positif antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig.(1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8. Leverage dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,001 < 0,05), dan angka korelasi positif 0,298.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa Ho2 ditolak, sehingga dapat disimpulkan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning) mempunyai hubungan signifikan yang positif. Hubungan tersebut dinamakan korelasi positif lemah, karena angka korelasinya positif dan mendekati 0,5 (angka korelasi : 0,298)

4.1.3.   Analisis Total Asset

Penyusunan hipotesisnya yaitu:

Ho3 :  Tidak adanya hubungan positif antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha3 :  Adanya hubungan positif antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig.(1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat di dalam tabel 8 di atas. Total asset dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,002 < 0,05), serta angka koefisien korelasinya positif 0,283.

Dari hasil di atas, dapat diketahui bahwa Ho3 ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas, total asset, mempunyai hubungan signifikan positif dengan variabel terikatnya, yaitu expected earning. Hubungannya adalah korelasi positif lemah, karena angka korelasinya (0,283) mendekati positif 0,5.

4.1.4.   Analisis Discretionary Accrual

Hipotesis keempat menguji adanya hubungan positif antara discretionary accrual (variabel X4) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatifnya (Ha), yaitu:

Ho4 :  Tidak adanya hubungan positif antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha4 :  Adanya hubungan positif antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig. (1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelasi negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan angka korelasi positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8 di atas. Discretionary accruals dengan expected earning mempunyai hubungan yang tidak signifikan (0,110 > 0,05).

Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ho4 diterima. Hasil tersebut berarti di antara variabel bebas, discretionary accrual, dengan variabel terikatnya, expected earning, tidak terdapat hubungan yang signifikan.

4.2.      Uji Regresi Berganda (Analisis H5)

Uji Regresi Berganda ini dilakukan untuk menganalisa pengaruh perataan laba (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) terhadap ekspektasi kinerja masa depan (expected earning). Pengujian dilakukan dengan tingkat signikansi 5%.

4.2.1.   Uji F

Uji F merupakan pengujian yang dipakai untuk menganalisa pengaruh seluruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikatnya. Uji F ini membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel pada tingkat keyakinan tertentu, untuk melihat tingkat signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Perumusan hipotesa :

Ho5 :  Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual), secara bersama-sama, tidak mempunyai pengaruh signifikan dengan variabel terikat (expected earning).

Ha5 :  Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual), secara bersama-sama, mempunyai pengaruh signifikan dengan variabel terikat (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan :

  1. Jika F hitung > F tabel (Ho ditolak)
  2. Jika F hitung < F tabel (Ho diterima) atau
  3. Jika sig. F statistik < 0,05 (Ho ditolak : signifikan secara statistik)
  4. Jika sig. F statistik > 0,05 (Ho ditolak : tidak signifikan secara statistik)

Tabel 10

Tabel Hasil Uji F

Sumber : Data diolah, 2006

Dari tabel anova di atas, dapat diketahui bahwa nilai sig. F statistik (0,000) < 0,05. Selain itu, nilai F hitungnya (8,394) > nilai F tabel (2,45). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ho5 ditolak, artinya seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, discretionary accrual), secara bersama-sama, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya (expected earning).

4.2.3.   Uji T

Uji-t digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antara masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji-t ini membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel, dengan ketentuan interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Perumusan hipotesa untuk Uji-t, adalah :

Ho :   Tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Ha :    Terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Dasar pengambilan keputusan pada Uji-t, yaitu :

  1. Jika t-hitung < t-tabel (Ho diterima : tidak ada pengaruh signifikan)
  2. Jika t-hitung > t-tabel (Ho ditolak : ada pengaruh signifikan) atau
  3. Jika nilai Sig. < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  4. Jika nilai Sig. > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

Tabel 11

Tabel Uji T

Sumber : Data diolah, 2006

Berdasarkan pada hasil uji-t pada tabel di atas, pengaruh variabel perataan laba, yang terdiri dari net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual, terhadap expected earning, ialah:

  1. Variabel Net Earnings

Dari hasil uji-t, diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05. Kesimpulannya ialah Ho ditolak, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara net earnings terhadap expected earnings.

  1. Variabel Leverage

Dari hasil uji-t pada tabel 11, diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, yang artinya ada pengaruh yang signifikan antara leverage terhadap expected earning.

  1. Variabel Total Asset

Dari hasil uji-t, dapat diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05. Maka Ho ditolak, yaitu ada pengaruh yang signifikan antara total asset terhadap expected earning.

  1. Variabel Discretionary Accrual

Dari hasil uji-t, dapat diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,495 lebih besar dari 0,05. Maka Ho diterima, yang artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara discretionary accrual terhadap expected earning.

4.3.      Interpretasi Hasil Penelitian

  1. Hubungan antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif (+) lemah yang nilainya mendekati 0,5. Hal ini terjadi karena ekspetasi kinerja masa depan (expected earning) didapatkan dengan memperhitungkan net earnings tahun ini dengan growth (tingkat pertumbuhan pendapatan). Jadi, ada faktor lain selain net earnings yang berhubungan dengan expected earning. Faktor lain tersebut adalah faktor ekonomi, faktor politik, dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi dan berhubungan dengan penerimaan pendapatan suatu perusahaan.
    1. Hubungan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif  (+) lemah, yang nilai korelasinya mendekati 0,5. Leverage merupakan salah satu pengukuran dalam keuangan, yang menghitung bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang. Ada kalanya perusahaan, dalam rangka mendapatkan hal-hal yang mendukung kegiatan operasional perusahaan, harus berhutang kepada pihak lain (pemasok, bank, dll). Pihak-pihak lain tersebut tidak akan memberikan hutang, bila perusahaan tidak mempunyai modal yang cukup agar hutang-hutang tersebut dapat terbayarkan. Bila pihak-pihak tersebut tidak mempercayai perusahaan sehingga pendukung kegiatan operasional terganggu, maka pengaruhnya akan terlihat pada ekspektasi pendapatan perusahaan (expected earning).
    2. Hubungan antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif lemah. Hal ini disebabkan karena total asset mempunyai hubungan dengan kelangsungan kegiatan operasional perusahaan. Produksi barang maupun penjualannya tidak dapat terlaksana tanpa didukung oleh asset perusahaan, namun asset ini hanyalah sebagian kecil pendukung kegiatan operasional. Karena itulah, hubungannya adalah korelasi (+) lemah. Faktor yang lebih dominan hubungannya dengan expected earning adalah omzet penjualan perusahaan.
    3. Variabel discretionary accrual tidak mempunyai hubungan (korelasi) dengan ekspektasi kinerja masa depan. Hasil tersebut tidak konsisten dengan penelitian sebelumnya (Sugiarto, 2003), dalam penelitian itu disebutkan bahwa ada hubungan antara discretionary accrual dengan ekspektasi kinerja masa depan. Hal ini mungkin terjadi karena penulis tidak membedakan kinerja masa depan yang buruk dengan kinerja masa depan yang baik.
    4. Pengaruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikat dengan menggunakan Uji F adalah signifikan. Jika secara individu, yang berpengaruh hanya variabel net earnings, leverage, dan total asset. Sementara variabel discretionary accrual tidak berpengaruh signifikan terhadap expected earning. Hal ini terjadi karena efek dari discretionary accrual dapat terlihat jika ekspektasi kinerja (laba) perusahaan dibagi ke dalam kinerja yang baik dan kinerja yang buruk.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earnings) perusahaan. Hubungannya disebut dengan korelasi positif lemah, karena angka korelasinya sebesar 0,354.
  2. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan. Hubungan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan adalah korelasi positif lemah, dengan angka korelasi 0,298..
  3. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning) perusahaan. Hubungan yang terjadi adalah korelasi positif lemah, dengan angka korelasi sebesar 0,283.
  4. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan. Hal ini disebabkan karena menurut hasil uji korelasi, angka signifikansinya sebesar 0,110 dan angka korelasinya negatif 0,119.
  5. Hasil analisis regresi berganda, dengan uji F, menyatakan bahwa variabel bebas perataan laba, secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya. Hal tersebut disebabkan karena nilai F hitungnya (8,394) > nilai F tabel (2,45) dan nilai sig. F statistiknya (0,000) < 0,05.

B.        Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang apabila mampu diatasi akan dapat memperbaiki hasil penelitian selanjutnya. Keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kurang besarnya jumlah sampel, yaitu 36 perusahaan.
  2. Data pengamatan hanya 3 tahun (2002–2005), sehingga hasil penelitian yang dilakukan sebaran datanya terbatas.
  3. Variabel penelitian yang digunakan hanya variabel: (a) net earnings; (b) leverage; (c) total asset; dan (d) discretionary accrual..

C.        Saran

Beberapa saran yang disarankan oleh peneliti, ialah:

  1. Perlunya menambah jumlah sampel penelitian, yang mungkin akan meningkatkan hasil penelitian.
  2. Perlunya menambah periode pengamatan agar dapat meningkatkan kualitas penelitian selanjutnya.
  3. Perlunya menambah variabel penelitian, terutama dari segi size (ukuran) perusahaan dan lainnya, agar dapat meningkatkan hasil penelitian berikutnya.
  4. Mencoba melakukan pengujian per tahun data, bukan secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., Randal J. Elder, Mark S. Beasley (2005). Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, Tenth Edition, Prentice Hall International.

Gitman, Lawrence J. (2003). Principles of Managerial Finance, Tenth Edition, Addison Wesley.

Harahap, Sofyan Syafri (2005). Teori Akuntansi, Jakarta: Rajawali Pers.

Harahap, Sofyan Syafri (2004). Akuntansi Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Harahap, Sofyan Syafri (2001). Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, Jakarta: Pustaka Quantum.

IAI (2005). Pedoman Etika Akuntan. (www document) http://www.iaiglobal.or.id (diakses 8 Agustus 2006).

Jakaria; Berlianti, Dita Oki dan Soeryaputri, Rossje V.M. (2005). Modul Laboratorium Alat Analisis, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.

Jones, Charles P. (2004). Investments Analysis & Management, Ninth Edition, Prentice Hall International.

Kusuma, Hadri dan Wigiya A. U. Sari (2003). Manajemen Laba Oleh Perusahaan Pengakuisisi Sebelum Merger dan Akuisisi di Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia Volume 7, No.1, Juni 2003, p. 21-36.

Riahi, Ahmed dan Belkaoui (2004). Accounting Theory, Fifth Edition, Thomson Learning.

Sucipto (2003). Analisis PSAK No.23 Tentang Pendapatan. (www document) http://www.google.com (diakses 8 Agustus 2006).

Tim Studi Analisis Laporan Keuangan Secara Elektronik (2005). Studi tentang Analisis Laporan Keuangan Secara Elektronik. (www document) http://www.bapepam.go.id (diakses 8 Agustus 2006).

Scott, William R (2000). Financial Accounting Theory, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Suhendah, Rousilita (2005). Earning Management, Jurnal Akuntansi/Th.IX/02/Mei/2005, p. 195-205.

Sugiarto, Sopa (2003). Perataan Laba Dalam Mengantisipasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Makalah dipresentasikan dalam Simposium Nasional Akuntansi VI.

Suryaputri, Rossje V. dan Christina Dwi A. (2003). Pengaruh Faktor Leverage, Devidend Payout, Size, Earning Growth and Country Risk Terhadap Price Earnings Ratio, Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi,Vol.3, No.1 April 2003, p. 1-23.

Trihendradi, Cornelius (2005). Step by Step SPSS 13 : Analisis Data Statistik, Yogyakarta: Penerbit Andi.

MANAJEMEN LABA : BUKTI DARI SET KESEMPATAN INVESTASI, UTANG, KOS POLITIS, DAN KONSENTRASI PASAR PADA PASAR YANG SEDANG BERKEMBANG

July 26, 2010 Leave a comment

SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 1

Zaenal Fanani
Universitas Airlangga Surabaya
Email : zaenal_ppsub@yahoo.com
ABSTRACT
The aim of this study is to prove whether manager manage earning for the purpose of informative or target opportunistic. Research also investigate whether investment opportunity set influences choice of manager to report as opportunistic to hide performance or to report earning more informative concerning to debt, political cost, market share and earning.
Sample of this research were chosen by using purposive sampling of 350 manufacturing business listed in the Jakarta Stock Exchange, start from 1997 up to 2002. Structural Equation Modelling (SEM) by using program of Analysis of Moment Structures (AMOS) is the appropriate statistical technique to examine pattern relation of formed model
The results show that earning management, political cost, market share and earning have a significant effect to share price, whereas investment opportunity set does not have a significant effect to share price. From some variables which influence earning management, only the debt having a significant effect while other variable (i.e., invesment opportunity set, political cost, market share) do not show significant outcome. And for the variable influencing earning only debt and the market share which significant while other variable that is invesment opportunity set and political cost do not show influence which significant.
This study indicates that earning management conducted by manager in in Developing Market (Indonesia) represent informative earning management which means all investor have more own belief in earning reporting, but this research cannot prove that company owning high of investment opportunity set tend to conduct informative earning management.
Key Words : Earning Management, Investment Opportunity Set, Debt, Political Cost, and Market Share
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 2
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba, dan laporan ekuitas yang disusun berdasarkan akrual serta laporan arus kas yang berdasarkan dasar kas. Oleh karena itu, dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba (earnings) yang diinginkan. Generally accepted accounting principle (GAAP) atau Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) juga memberikan keleluasaaan bagi manajer untuk memilih metode akuntansi yang akan digunakan dalam menyusun laporan keuangan (Veronica, 2003:328). Pilihan manajerial tersebut dapat memicu manajer untuk melakukan perilaku manajemen laba informatif (informative earning management) atau manajemen laba oportunistik (opportunistic earning management). Pilihan manajer mengenai manajemen laba menggambarkan bahwa set kesempatan investasi (Investment Opportunity Set, dalam tulisan ini untuk selanjutnya disebut sebagai IOS) mempengaruhi peristiwa kontrak, yang pada gilirannya mempengaruhi pilihan manajer atas metode akuntansi yang digunakan (Watts dan Zimmerman, 1986; Zimmer, 1986).
Meskipun perbedaan ex-post yang jelas antara dua motivasi tidaklah mungkin, dalam jangka panjang investor rasional bisa membandingkan pelaporan laba dengan kinerja aktual dengan cara berkesinambungan dan menyaring interpretasinya dari pelaporan laba oleh manajemen. Jika para manajer sebuah perusahaan secara khusus dimotivasi oleh sebuah keinginan untuk memberikan informasi pada para investor, kinerja masa depan dari perusahaan lebih serupa dengan aliran pelaporan laba dan para investor akan lebih memiliki kepercayaan dalam pelaporan laba. Di sisi lain, jika para manajer sebuah perusahaan secara khusus termotivasi oleh keinginan untuk menyembunyikan informasi dari investor, kinerja masa depan dari perusahaan itu nampaknya tidak akan makin serupa dengan aliran pelaporan laba dan para investor akan memberikan kepercayaan yang kurang pada pelaporan laba. Hal ini memberikan cara untuk membedakan motivasi dari manajer. Hal-hal lain menjadi sama, perusahaan yang para investornya menetapkan discretionary accrual secara lebih positif nampaknya memiliki lebih banyak K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 3
manajemen laba oportunistik. Dengan kata lain, perbedaan motivasi manajemen laba oportunistik ini nampaknya memiliki konsekuensi ekonomi berbeda yang secara khusus diukur oleh reaksi investor dalam pasar modal yang efisien. Literatur detail yang telah ditulis oleh DeAngelo (1988) mengesankan bahwa para manajer menggunakan akrual secara oportunistik untuk menyembunyikan kinerja dan hal ini nampaknya mengakibatkan reaksi pasar negatif. Namun, Dechow (1994) menunjukkan bahwa laba berbasis akrual memberikan pengukuran istimewa atas kinerja perusahaan daripada aliran kas. Subramanyam (1996) menunjukkan bahwa, secara rata-rata, nilai pasar discrecionary dan non discrecionary bagian dari akrual. Namun, literatur tersebut tidak menjelaskan apakah perusahaan dengan karakteristik berbeda menampilkan tingkat manajemen laba informatif dan manajemen laba oportunistik yang berbeda. Sementara dalam penelitian ini, akan diselidiki bagaimana pertumbuhan perusahaan, yang disebut set kesempatan investasi, dihubungkan perilaku manajemen laba informatif dan manajemen laba oportunistik berdasarkan hasil penelitian Gul et al., (2003), Riahi-Belkoui (2003), dan Nuswantara (2004) dengan menggunakan perusahaan di Indonesia.
Penelitian ini dimotivasi oleh beberapa alasan sebagai berikut : pertama, menguji kembali teori manajemen laba yang membahas dari sisi set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar pada pasar yang sedang berkembang, khususnya pasar modal di Indonesia. Penelitian ini menindaklanjuti penelitian sebelumnya (Cahan, 1992, Rajgopal, 1999; Gu, 2002; Gul, et al., 2003; Riahi-Belkoui, 2003) yang telah dilakukan di negara yang berkembang, sementara Nuswantara, (2004) menguji di pasar indonesia (pasar yang sedang berkembang), namun Nuswantara (2004) hanya terbatas pada pengaruh konsentrasi pasar dan hutang terhadap manajemen laba dan sekaligus untuk melihat konsistensi hasil dari peneliti sebelumnya dan berdasarkan pada obyek penelitian berbeda yaitu di Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini bersifat extended replication, yaitu mereplikasi dari penelitian Gul et al. (2003) dengan menambah variabel baru dari hasil penelitian Nuswantara (2004) dan hipotesis kos politis dalam Cahan (1992). Kedua, peneliti ingin mengetahui pengaruh set kesempatan investasi terhadap manajemen laba yang mengkaitkan variabel set kesempatan investasi dengan kos politis, dan konsentrasi pasar sebagai diterminant penentu set kesempatan investasi dan manajemen laba, ketiga, pengukuran untuk set kesempatan investasi dalam
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 4
penelitian ini merupakan perluasan dari penelitian Gul, et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) dan keempat, penelitian ini menguji pengaruh masing-masing variabel independent terhadap variabel dependen dilakukan secara simultan dengan menggunakan Analysis Moment Structure (AMOS) 4.0
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a) apakah set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontibusi terhadap set kesempatan investasi?, b) apakah manajemen laba, set kesempatan investasi, utang, kos politis, konsentrasi pasar, dan laba berpengaruh terhadap harga saham?, c) apakah set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar berpengaruh terhadap manajemen laba? d) apakah set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar berpengaruh terhadap laba?, e) bagaimanakah pengaruh set kesempatan investasi terhadap utang?, e) bagaimanakah pengaruh hutang terhadap konsentrasi pasar?
1.2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan akan memberikan manfaat sebagai berikut : 1) Manfaat Teoritis yaitu memberikan bukti secara empirik yang berkaitan dengan teori contracting Watts dan Zimmerman (1986) yang menyatakan bahwa set kesempatan investasi mempengaruhi peristiwa kontrak, yang pada gilirannya mempengaruhi pilihan manajer atas metode akuntansi yang digunakan, dan memberikan bukti secara empirik hubungan manajemen laba dan set kesempatan investasi Gul et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan ber-IOS tinggi mengelola laba lebih sebagai alat untuk menyampaikan informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik, dan 2) Manfaat Praktis . Adapun manfaat praktis yang bisa diperoleh dari penelitian ini a) investor dan Analis Pasar modal. Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan bagi pelaku pasar modal (investor, pialang, dan para analis sekuritas) serta calon investor dimasa yang akan datang, utamanya dalam menentukan keputusan investasinya, dan b) Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Sebagai standard setter melalui DSAK, IAI dapat langsung mengupayakan penyempitan ruang bagi manajemen agar tidak melakukan
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 5
manajemen laba opportunistik yang merugikan perusahaan maupun pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholder)
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 6
2. PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1.Kontribusi Set Kesempatan Investasi Saham, Investasi, dan Varian terhadap Set Kesempatan Investasi.
Baker (1993) menyatakan bahwa perlu selalu dilakukan perbaikan dan pengembangan terhadap proksi-proksi yang telah ada, karena setiap proksi terutama proksi yang digunakan secara individual akan mengandung measurement error (Smith dan Watts, 1992; Gaver dan Gaver, 1993). Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bartholomew (1987) dalam Mahfud (2004) bahwa perlu dilakukan pertimbangan untuk melakukan penyederhanaan data dengan menggabungkan variabel-variabel terukur (observed variable) menjadi variabel gabungan (composite variable). Penggabungan variabel-variabel terukur menjadi variabel gabungan dapat membantu dalam memahami fenomena yang sedang diteliti dan dapat digunakan sebagai deskripsi atau dapat pula digunakan dalam analisis lebih lanjut sebagai variabel regresi. Berdasarkan uraian di atas diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 = Set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi
2.2. Pengaruh manajemen laba, Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar, Laba terhadap Harga saham.
Pengaruh manajemen laba terhadap harga saham telah dibuktikan oleh hasil penelitian Fudenberg dan Tirole (1995); Hartono, (1998 dan 2000); Gul et al. (2003); Ardiati (2003). Manajemen laba memungkinkan manajer mengkomunikasikan informasi privat mereka dan oleh karena itu meningkatkan kemampuan laba untuk mencerminkan nilai ekonomis perusahaan. Berdasarkan bukti-bukti empiris dan argumen yang telah disebutkan terdahulu, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H2 = Terdapat pengaruh manajemen laba terhadap harga saham
Pengaruh antara set kesempatan investasi (IOS) dengan harga saham dilakukan oleh Smith dan Watts (1992), Riahi-Belkoui (2001) dan Gul et al. (2003). Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara set kesempatan investasi
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 7
(IOS) dengan harga saham. Menurut Smith dan Watts (1992) manajer-manajer perusahaan dengan set kesempatan investasi (IOS) yang relatif tinggi akan lebih mampu melakukan pengambilan keputusan yang bijaksana karena manajer memiliki informasi yang lebih baik mengenai kesempatan investasi daripada para pemegang saham perusahaan. Hal ini mendasari hipotesis sebagai berikut
H3 = Terdapat pengaruh positif set kesempatan investasi terhadap harga saham.
Berdasarkan debt hypothesis bahwa perusahaan yang memiliki hutang yang besar manajer akan memilih kebijakan akuntansi dengan menggeser laba masa depan ke masa sekarang (Watts dan Zimmerman, 1986:216), sehingga menurut Gul et al. (2003:15) hutang memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham karena tingkat hutang lebih tinggi nampaknya akan lebih memberi insentif untuk manajemen laba opportunistik demi memenuhi perjanjian hutang. Berdasarkan argumen ini dapat dibuat dugaan bahwa semakin tinggi utang perusahaan, maka maka harga sahamnya akan semakin menurun. Hipotesis dinyatakan sebagai berikut :
H4 = Terdapat pengaruh negatif perusahaan dengan utang yang tinggi terhadap harga saham.
Berdasarkan size hypothesis bahwa pada perusahaan besar manajer akan memilih kebijakan akuntansi yang menangguhkan laba dari masa sekarang ke masa depan (Watts dan Zimmerman, 1986:235). Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif karena kualitas laba yang lebih besar di dalam perusahaan-perusahaan besar (Gul et al. 2003:15). Diamond dan Verrecchia (1991) dalam komalasari (2000) menyatakan bahwa perusahaan yang lebih besar dengan total resiko yang ditanggung oleh investor lebih besar, akan mendapatkan keuntungan per saham yang terbesar (dalam hal ini peningkatan nilai saham). Dari latar belakang tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H5 = Terdapat pengaruh yang positif kos politis terhadap harga saham.
Penelitian yang menguji pengaruh konsentrasi pasar terhadap harga saham dilakukan oleh Nuswantara (2004). Konsentrasi pasar berhubungan positif dengan harga saham karena perusahaan dengan konsentrasi industri tinggi cenderung untuk memilih kebijakan akuntansi yang menurun di masa yang akan datang (Nuswantara, 2004:3). Jika segmen pasar perusahaan besar sehingga perusahaan mempunyai
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 8
posisi kuat dalam kompetisi, maka perusahaan akan memberikan sinyal tentang masa depan perusahaan yang lebih baik sehingga investor akan bereaksi positif terhadap perusahaan. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah :
H6 = Terdapat pengaruh positif kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar terhadap harga saham.
Studi hubungan antara laba dengan harga saham juga telah banyak dilakukan peneliti yang lain seperti Ball dan Brown (1968) Ali (1994), Asyik (1999), Harries (1999), Gunawan (1999), Candrarin dan Tearney (2000). Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara laba dengan harga saham. Berdasarkan bukti-bukti empiris dan beberapa argumen yang telah disebutkan terdahulu, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H7 = Terdapat pengaruh positif perusahaan dengan laba yang tinggi terhadap harga saham
2.3. Pengaruh Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap Manajemen Laba.
Pengaruh antara set kesempatan investasi (IOS) dengan manajemen laba dilakukan oleh Skinner (1993), Gul et al., (2003), Riahi-Belkoui (2003), dan Nuswantara (2004). Beberapa bukti dalam literature terdahulu seperti Skinner (1993) telah membuktikan bahwa perusahaan dengan kesempatan investasi yang lebih tinggi menunjukkan manajemen laba yang lebih besar. Menurut Gul, et al. (2003 :14) para manajer perusahaan yang memiliki pertumbuhan tinggi lebih banyak menggunakan manajemen laba untuk menandai informasi mereka mengenai kesempatan pertumbuhan perusahaan di masa depan. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah
H8= Terdapat pengaruh positif set kesempatan investasi dengan besarnya manajemen laba.
Hasil penelitian Nuswantara (2004), Riahi-belkaoui (2003) menunjukkan adanya pengaruh yang negatif antara utang dengan manajemen laba. Hal ini disebabkan karena monitor kreditor terlalu longgar. Monitor yang longgar akan memotivasi manajemen laba, atau dalam bahasa yang lain mekanisme monitoring tidak dapat mencegah perusahaan melakukan manajemen laba. Namun hasil
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 9
penelitian Defond Dan Jiambalvo (1994), Chau dan Lee (1999), DeAngelo et al. (1994) dan Gul et al. (2003) utang perusahaan mempunyai hubungan positif dengan manajemen laba. Besarnya utang perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan manajemen laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik di mata auditor. Oleh karena itu diharapkan ada pengaruh yang signifikan antara utang dengan manajemen laba.
H9 = Terdapat pengaruh perusahaan dengan utang yang tinggi terhadap besarnya manajemen laba.
Perusahaan besar mempunyai pengungkapan yang lebih lengkap dan dapat diamati oleh auditornya dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Kondisi ini memicu pelaporan akuntansi lebih konservatif dan cenderung memanipulasi laba (Cahan, 1992, Gul, et al. 2003:14, Nuswantara, 2004:175). Hasil penelitian Rajgopal (1999), Gu (2002), Gul, et al. (2003), dan Nuswantara (2004) juga membuktikan bahwa asset berhubungan negatif dengan manajemen laba. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh negatif antara kos politis dengan besarnya manajemen laba.
H10 = Terdapat pengaruh yang negatif kos politis terhadap besarnya manajemen laba.
Sesuai dengan pandangan ini Shleifer& Vishny (1997) dalam Nuswantara (2004:3) menyatakan bahwa kompetisi pasar produk akan menurunkan profitabilitas perusahaan. Jika perusahaan tidak efisien maka akan menurunkan labanya. Oleh karena itu, seorang manajer suatu perusahaan yang memiliki profitabilitas rendah akan memanipulasi laba sedemikian rupa sehingga investor tetap menyertakan modal mereka di perusahaan. Jika segmen pasar perusahaan kecil sehingga perusahaan tidak mempunyai posisi kuat dalam kompetisi, maka perusahaan akan memanipulasi labanya agar kelihatan bagus. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh negatif konsentrasi pasar antara dengan besarnya manajemen laba
H11 = Terdapat pengaruh negatif kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar terhadap praktek manajemen laba.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 10
Perusahaan yang mempunyai kekuatan pasar lebih punya peluang untuk melakukan manajemen laba. Dengan kekuatan pasar yang lebih besar, maka kemungkinan melakukan praktek manajemen laba akan lebih besar khususnya jika pada kondisi monitoring eksternal lebih jarang (utang rendah). Oleh karena itu hipotesis yang di duga adalah :
H12 = Terdapat pengaruh positif utang terhadap kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar.
2.4. Pengaruh Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap relevansi nilai laba.
Manajer menggunakan manajemen laba dengan adanya IOS untuk mengkomunikasikan informasi pribadi mereka secara kredibel kepada para investor. Hal ini membuat laporan laba terkini lebih informatif mengenai masa depan perusahaan dan seharusnya menghasilkan perbaikan dalam relevansi nilai laba. Oleh karena itu diharapkan ada pengaruh positif antara set kesempatan investasi yang tinggi terhadap laba.
H13= Terdapat pengaruh positif antara set kesempatan investasi yang tinggi terhadap laba.
Hasil penelitian sebelumnya (Watts dan Zimmerman, 1978; Zimmerman, 1983; Warfield et al., 1995) menunjukkan bahwa utang terbukti memiliki pengaruh negatif terhadap laba karena tingkat utang lebih tinggi akan lebih memberi insentif untuk manajemen laba oportunistik demi memenuhi perjanjian utang. Hipotesis yang dapat dibentuk oleh peneliti adalah
H14 = Terdapat pengaruh negatif utang yang tinggi terhadap laba.
Perusahaan besar dianggap mempunyai informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Oleh karena itu, jika terdapat inovasi baru maka inovasi tersebut besar pengaruhnya terhadap laba perusahaan berskala kecil dibanding pada perusahaan besar. Chaney dan Jeter (1991) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mempunyai korelasi signifikan dan positif dengan laba. Oleh karena itu hipotesis yang akan diuji adalah
H15 = Terdapat pengaruh positif antara kos politis terhadap laba
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 11
jika segmen pasarnya besar maka laba perusahaan akan semakin besar. Berdasarkan argumen ini, diharapkan terjadi pengaruh positif konsentrasi pasar antara dengan besarnya manajemen laba
H16 = Terdapat pengaruh positif antara konsentrasi pasar terhadap laba
2.5. Pengaruh Set Kesempatan Investasi terhadap Utang
Berdasarkan argumen Myers’ (1977) perusahaan yang memiliki rasio nilai buku yang tinggi akan lebih optimal jika rasio utangnya juga tinggi. Menurut Myers’ (1977) keuntungan optimal bisa diperoleh oleh investor jika resiko kebangkrutannya juga tinggi. Perusahaan yang memiliki rasio nilai buku yang tinggi memiliki pengharapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang yang tinggi pula, dengan begitu perusahaan akan mendapatkan keuntungan optimal dengan memanfaatkan keuntungan pajak. Hasil penelitian Chen (2005) membuktikan bahwa pertumbuhan perusahaan berhubungan positif dengan utang perusahaan. Oleh karena itu hipotesis yang dalam penelitian ini adalah
H17 = Terdapat pengaruh yang positif antara perusahaan dengan set kesempatan investasi yang tinggi terhadap besarnya utang.
3. METODA PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian ini dapat diklasifikasikan ke dalam penelitian kausal komparatif (Indriantoro dan Supomo, 1999:29)
3.2. Definisi dan pengkuran variabel
Definisi operasional dan pengukuran variabel dapat dilihat pada tabel 2
3.2. Teknik Analisis Data
Variabel eksogen pada koefisien jalur ini adalah IOS dan KP, sedangkan yang tergolong variabel endogen adalah DEBT, KSP, DA,, EARN, dan AR maka persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut
DEBT = β13 IOS + ε13
KSP = β14 DEBT + ε14
DA = β15 IOS + β16 DEBT + β17 KP + β18 KSP + ε15
EARN = β19 IOS + β20 DEBT + β21 KP + β22 KSP + ε16
AR = β23 DA + β24 IOS + β25 KP + β26 DEBT +
β27 KSP + β28 EARN +ε17
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 12
Dimana :
DEBT = Utang
IOS = Set kesempatan investasi
KSP = Konsentrasi Pasar
KP = Kos Politik
DA = Discretionary Accruals
EARN = Laba
AR = Akumulasi Abnormal Return
β13 – β28 = Loading Factor (Koefisien regresi yang distandarisasi)
ε13 -ε17 = Error Term
Bila digambarkan dalam model untuk diuji unidimensionalitasnya melalui Struktural Equation Modelling (SEM), model diagram jalurnya akan nampak seperti gambar 1:
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Variabel eksogen pada koefisien jalur ini adalah set kesempatan investasi (IOS) dan Kos Politis (KP) yang tergolong variabel endogen adalah utang (DEBT), konsentrasi pasar (KSP), Manajemen laba (DA), Laba (EARN) dan abnormal return (AR). Berdasarkan Tabel 7 maka persamaan strukturalnya adalah sebagai berikut :
DEBT = 0.330 IOS + ε13
KSP = 0.056 DEBT + ε14
DA = -0.095 IOS + 0.148 DEBT – 0.123 KP + 0.080KSP + ε15
EARN = -0.033 IOS – 0.409 DEBT – 0.066 KP + 0.209 KSP + ε16
AR = 0.086 DA + 0.539 IOS – 0.543 KP – 0.024 DEBT +
0.299 KSP + 0.177 EARN ε17
Potensi pertumbuhan perusahaan yang diukur dengan proksi set kesempatan investasi (IOS). Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Myers (1977), yaitu merupakan keputusan investasi dalam bentuk kombinasi aktiva yang dimiliki di masa yang akan datang yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Chung dan Charoenwong (1991); Smith dan Watts (1992); Skinner (1993); Gaver dan Gaver (1993); Cahan dan Hossain (1995); Collins dan Kothari (1989);, Hartono (1999); Kallapur dan Trombley (1999); Sami, et al. (1999), Gul, A. Ferdinand (1999); Fijrianti (2000); Prasetyo (2000); Adam, et al. (2000 & 2003), Subekti dan Kusuma (1999 dan 2001), AI Najjar dan Belkaoui (2001), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones et al. (2001), Subekti dan Kusuma (2001), dan Mira et al. (2002), mereka telah melakukan pengujian terhadap potensi pertumbuhan perusahaan. Namun pada penelitian sebelumnya belum pernah ada
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 13
yang menguji secara statistik bahwa masing-masing indikator memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp) dan set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi). Demikian juga kontibusi set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi) dan set kesempatan investasi berbasis varian (IOSv) terhadap set kesempatan investasi (IOS). Dalam penelitian ini dengan menggunakan confirmatory factor analysis (CFA) telah terbukti bahwa Book to market value of assets (MBVA), Tobin’s Q (TOBIQ), Earnings to price ratios (PER), Ratio of depreciation to firm value (DFV), dan Firm Value to book value of PPE (VPPE) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), Ratio of capital expenditure to book value of assets (CEBVA), Rasio capital expenditure to market of assets (CEMVA), dan Invesment to Net Sales Ratio (INS) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa set kesempatan investasi berbasis harga (IOSp), set kesempatan investasi berbasis investasi (IOSi) dan set kesempatan investasi berbasis varian (IOSv) memberikan kontribusi terhadap set kesempatan investasi (IOS) yang ditunjukkan dengan nilai semua dimensi diatas nilai kritis.
Hasil temuan sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen laba berpengaruh negatif terhadap harga saham (Fudenberg dan Tirole, 1995; Hartono, 1998 dan 2000; Gul et al. 2003; dan Ardiati, 2003), set kesempatan investasi (IOS) berpengaruh positif terhadap harga saham (Smith dan Watts, 1992; Riahi-Belkoui, 2001; dan Gul et al. 2003), utang berpengaruh negatif terhadap harga saham (Gul et al., 2003), kos politis berpengaruh positif terhadap harga saham (Marwata, 1999; Diamond dan Verrecchia, 1991, dalam komalasari, 2000 dan Gul et al. 2003), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap harga saham (Nuswantara, 2004). Pengaruh positif variabel set kesempatan investasi (IOS) terhadap manajemen laba telah dilakukan oleh Skinner (1993), Subramanyam (1996), Riahi-Belkoui (2003), Gul (2003) dan Nuswantara (2004), utang berpengaruh positif terhadap manajemen laba (Sweeney, 1994; DeFond dan Jiambalvo, 1994; Watts dan Zimmerman, 1986, 1990, Nuswantara, 2004, kos politis berpengaruh negatif terhadap manajemen laba (Nuswantara, 2004, Riahi Belkoui, 2003, Gul et al. 2003, Rajgopal, 1999, Gu, 2002), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh negatif terhadap manajemen K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 14
laba (Nuswantara, 2004). Pengaruh positif variabel set kesempatan investasi (IOS) terhadap laba telah dilakukan oleh (Smith dan Watts, 1992; Gul, et al, 2003), utang berpengaruh negatif terhadap laba (Dhaliwal et al. 1991; Barclay dan Smith, 1995; Gul, et al, 2003) kos politis berpengaruh positif terhadap laba (Reinganu, 1992; Chaney dan Jeter, 1992; dan Warfield et al. 1995), kekuatan pasar yang dicerminkan oleh konsentrasi pasar berpengaruh positif terhadap laba (Nuswantara, 2004)
Dalam penelitian ini disamping menguji kembali variabel penelitian sebelumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen laba (DA), kos politis (KP), konsentrasi pasar (KSP) dan laba (EARN) berpengaruh signifikan terhadap harga saham (AR), sementara set kesempatan investasi (IOS) tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham (AR). Dari beberapa variabel yang mempengaruhi manajemen laba (DA) hanya utang (DEBT) yang berpengaruh signifikan sedangkan variabel lainnya (set kesempatan investasi (IOS), kos politis (KP), konsentrasi pasar (KSP)) tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Dan untuk variabel yang mempengaruhi Laba (EARN) hanya utang (DEBT) dan Konsentrasi pasar (KSP) yang signifikan sedangkan variabel yang lain yaitu set kesempatan investasi (IOS) dan kos politis (KP) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa berdasarkan analisis SEM dengan jumlah observasi 350 (5 tahun 70 perusahaan) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar Bursa Efek Jakarta (BEJ) menunjukkan sebagai berikut. Pertama, Ada pengaruh negatif antara set kesempatan investasi (IOS) terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan pertumbuhan perusahaan yang pesat tidak diikuti oleh perilaku manajer untuk semakin melakukan perilaku manajemen laba.
Kedua, manajemen laba berpengaruh positif terhadap harga saham (AR). Bukti ini menggambarkan bahwa manajemen laba direaksi positif oleh investor. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen laba yang dilakukan oleh manajer di indonesia merupakan manajemen laba informatif artinya para investor lebih memiliki kepercayaan dalam pelaporan laba, namun penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi (IOS) cenderung untuk melakukan manajemen laba informatif. Hasil ini juga tidak sesuai dengan dugaan bahwa perusahaan yang memiliki set kesempatan investasi (IOS) K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 15
tinggi mengelola laba lebih sebagai alat informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik.
Ketiga, penelitian ini tidak berhasil mendukung teori manajemen laba Healy (1985) dan DeAngelo (1988) yang menyatakan bahwa para manajer menggunakan akrual secara oportunistik untuk menyembunyikan kinerja yang mengakibatkan reaksi pasar negatif. Dalam penelitian ini meskipun manajer menggunakan akrual secara oportunistik namun tetap direaksi positif oleh pasar oleh karena itu perilaku manajer dikategorikan sebagai manajemen informatif.
Keempat, Penelitian ini juga tidak sesuai dengan hasil penelitian Gul et al. (2003) dan Riahi-Belkoui (2003) yang menyatakan bahwa perusahaan ber-IOS tinggi mengelola laba lebih sebagai alat untuk menyampaikan informasi privat yang memiliki relevansi nilai dari pada menyembunyikan kinerja buruk yang oportunistik. Hasil penelitian ini membuktikan ketika set kesempatan investasi tinggi, manajemen laba informatif relatif lebih lazim daripada manajemen laba oportunistik.
5. Kesimpulan Dan Saran
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dibahas pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa a) set kesempatan investasi berbasis saham, investasi dan varian memberikan kontibusi terhadap set kesempatan investasi. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Bartholomew (1987) dalam Mahfud (2004) bahwa perlu dilakukan pertimbangan untuk melakukan penyederhanaan data dengan menggabungkan variabel-variabel terukur (observed variable) menjadi variabel gabungan (composite variable), b) Manajemen laba, kos politis, konsentrasi pasar dan laba berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sementara set kesempatan investasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, c) utang berpengaruh signifikan manajemen laba sedangkan variabel lainnya (set kesempatan investasi, kos politis, konsentrasi pasar) tidak menunjukkan hasil yang signifikan, d) utang dan Konsentrasi pasar berpengaruh signifikan terhadap Laba sedangkan variabel yang lain yaitu set kesempatan investasi dan kos politis tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan, e) Utang tidak berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi pasar,
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 16
dan f) Set kesempatan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap terhadap utang
5.2. Saran
Sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut disarankan a) Model gabungan set kesempatan investasi ini masih dapat dikembangkan dengan menambah proksi set kesempatan investas lainnya, seperti ratio of R&D expense to total assets (Smith dan Watts, 1992; Gaver dan Gaver, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999; dan Hartono, 1999), ratio of R&D expense to sales (Skinner, 1993; dan Kallapur dan Trombley, 1999), Ratio of capital additions to firm value (Smith dan Watts, 1992; Kallapur dan Trombley, 1999; dan Jones dan Sharma, 2001), Rasio capital addition to assets book value (Subekti dan Kusuma, 2001; Skinner, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999), Investment to earnings ratio (Hartono, 1999), Ratio of R&D expense to firm value (Skinner, 1993; Kallapur dan Trombley, 1999), b) model yang digunakan dalam penelitian ini juga bisa dikembangkan dengan menggunakan interaksi set kesempatan investasi, utang, kos politis, dan konsentrasi pasar dengan manajemen laba untuk melihat efek moderasi manajemen laba terhadap harga saham.
5.3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini jauh dari sempurna karena banyaknya aspek yang belum dimasukkan dalam model penelitian dan banyaknya keterbatasan yang dihadapi dalam melaksanakan penelitian berupa: a) kriteria dalam penelitian ini menggunakan syarat perusahaan yang masuk sebagai responden harus memiliki ekuitas yang positif, akibatnya banyak perusahaan yang di dikeluarkan dari sampel akibat tidak memenuhi persyaratan ini, b) penelitian ini tidak mempertimbangkan resiko pasar sebagai indikator set kesempatan investasi (IOS). Keterbatasan ini dapat mengurangi daya prediksi dalam mengklasifikasikan potensi pertumbuhan perusahaan, c) pemilihan model untuk mengestimasi manajemen laba mengikuti model yang digunakan oleh Jones modified. Jadi tidak dilakukan pengujian terlebih dahulu model mana yang paling tepat dan robust untuk kondisi Indonesia.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 17
DAFTAR REFERENSI
Adam, T., dan V.K. Goyal. 2003. The Investment Opportunity Set and its Proxy and Variables : Theory and Evidence, Departement Of Finance. Hongkong University of Science & Technology.
Ahmed, A.S., B.K. Bilings., dan M. Stanford-Harris. 2002. The Role of Accounting Conservatiem in Mitigating Bondholder-Shareholder Conflicts over Dividend Policy and in Reducing Debt Cost, The Accounting Review. 77. No. 4. Oktober 2002. p. 867-890
Albreght, W.D., F.M. Richardson. 1990. Income Smoothing By Economy Sector, Journal of Bussiness Finance & Accounting. 17.5. winter
Ali, A. 1994. The Incremental Information Content of Earning, Working Capital From Operation, and Cash Flow, Journal of Accounting Research. 32. No. 1 Spring. p. 61-73
AlNajjar, F.K., dan A. Riahi-Belkaoui. 2001. Empirical Validation of A General Model of Growth Opportunities, Managerial Finance. 27. 3. ABI/INFORM Global
Arbuckle, J.L., dan W. Wonthke. 1999. AMOS 4.0 User’s Guide. Chicago : Smallwaters Corporation.
Ardiati, A.Y. 2003. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Return Saham dengan Kualitas Audit sebagai Variabel Pemoderasi, Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya
Asyik, N.F. 1999. Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 2. No. 2 Juli 1999. h. 230 -250
Baker, G.P. 1993. Growth, Corporate Policies, and the Invesment Opportunity Set”, Journal of Accounting and Economics .16. p.161-165.
Baker, M. and J. Wurgler. 2002. Market timing and capital structure, Journal of Finance 57. 1-32.
Ball, R., and P. Brown. 1968. An Empirical Evaluation og Accounting Income Numbers, Journal of Accounting Research (autum). p.159-178
Barclay, M.I., C.W. Smith and R. Watts. 1995. The Determinants of Corporate Leverage and Dividend Policies, Journal of Applied Corporate Finance. 7(4) 4 – 19 .
Bartov, E., dan A. G. Ferdinand. 2000. Discretionary-Accruals Model and Audit Qualifications, Working Paper. University of Rochester. Oktober 2000
Booth, G.G., J.H. Kallunki, and T. Martikainen. 1996. Post Announcement Drift and Income Smoothing : Finnish Evidence, Journal of Bussiness Finance & Accounting. 23. 8. October.
Bowen, R.M., D. Burgstahler, dan L.A. Daley. 1987. The Incremental Information Content of Accrual versus Cash Flows, The Accounting Review. 62. (Okt) 1987. No. 4. p. 723
Budiarto, A. dan Murtanto. 2002. Event Study : Telaah Metodologi Dan Penerapannya di Bidang Ekonomi Dan Keuangan. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi. Desember Vol.4 No.3.
Cahan, S.F. 1992. The effect of Antitrust Investigations on Discretionary Accruals: A Refined Test of The Political-Cost Hypothesis, The Accounting Review. 67. No. 1.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 18
Cahan, S.F., dan M. Hossain. 1996. The Investment Opportunity Set and Disclosure Policy: Some Malaysian Evidence, Asia Pacific Journal of Management. 13. No. 1, p.65-85.
Candrarin, G., dan M.G. Tearney. 2000. The Effect of Reporting of Exchange Rate Losses on The Stock Market Reaction, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. 3. No. 1 Januari 2000.
Carlson, S.J., and C.T. Bathala. 1997. Ownership Differences and Firms’ Income Smoothing Behavior, Journal of Business Finance & Accounting. 24. (March). p.179-196.
Chaney, P.K., and D.C. Jeter. 1992. The Effect of Size on The Magnitude of Long-Window Earnings Response Coefficients, Contemporary .Accounting Research. 8. p. 540-560
Chau, D., dan C.J. Lee. 1999. Earning Shaving, Big Bath and Dress up in Chapter 11 reorganization, Working paper. Tulane University. New Orleans. LA
Chen, L dan X, Zhao. 2005. On the Relation Between the Market-to-Book Ratio, Growth Opportunity, and Leverage Ratio, Department of Finance. Michigan State University
Christie, A. 1989. Equity Risk, The Opportunity Set, Production Cost, and Debt, Working Paper. University of Rochester.
Christie, A.A., and J.L. Zimmerman. 1994. Efficient and Opportunistic Choices of Accounting Procedures: Corporate Control Contests, The Accounting Review. 69.(October).p.539-566
Chung, K.H., dan C. Charoenwong. 1991. Invesment Options, Assets in Place, and the Risk of Stocks, Financial Management – Autumn. p. 21-33.
Copeland, R.M., R.D.Licastro. 1968. A note on Income Smoothing, The Accounting Review. July
Collins, D.W., dan S.P. Kothari. 1989. An Analysis of Intertemporal and Crossectional Determinant of Earning Response Coefficient, Journal of Accounting and Economics. 12. July 1989. p. 35-52
DeAngelo, L. 1988. Managerial Competition, Information Costs, and Corporate Governance: The Use of Accounting Performance Measures in Proxy Contests, Journal of Accounting and Economics. (January).p. 3-36
DeAngelo, H., L. DeAngelo, dan D. Skinner. 1994. Accounting Choice in Troubled Companies, Journal Accounting and Economics.17.p. 3-42
Dechow, P. 1994. Accounting Earnings and Cash Flows as Measures of Firm Performance: The Role of Accounting Accruals, Journal of Accounting and Economics. 17. p. 3-42.
Dechow, P., R. Sloan, and A. Sweeney. 1996. Causes and Consequences of Earnings Manipulations: an Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by SFC, Contemporary Accounting Research. 13. Iss:l (spring). P. 1-36
Dechow, P., R. Sloan, and A. Sweeney. 1995. Detecting Earnings Management, The Accounting Review . 70. (April).p. 193-225.
DeFond, M.L., and J. Jiambalvo. 1994. Debt Covenant Violation and Manipulation of Accruals, Journal of Accounting and Economics. 17. (January). p. l45-176.
Demski, J.S.. 1998. Performance Measure Manipulation, Contemporary Accounting Research. 15. (Fall). p. 261-285.
Dhaliwal, D.S., K.J. Lee, dan N.L. Fargher. 1991. The assosiation between Unexpected Earnings and Abnormal Security Returns in the Presence of Financial Leverage, Contemporary Accounting Research. 8. No. 1. p. 20-41.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 19
Easton, P.D. and M.E. Zmijewski. 1995. Cross-Sectional Variation in The Stock Market Response to Accounting Earning Announcements, Journal of Accounting and Economics. 11 (July’). p. 117-141.
Eckel, N. 1981. The Income Smoothing Hypothesis Revisited, ABACUS, 17. 1. 1981
Evans, J.H., and S.S. Sridhar. 1996. Multiple Control Systems, Accrual Accounting, and Earnings Management, journal of Accounting Research. 34. (Spring). p. 45-65.
Ferdinand, A. 2002. Structural Equation Modelling dalam Penelitian Manajemen. Aplikasi Model-Model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis S-2 dan Disertasi S-3, Semarang. BP Universitas Diponegoro.
Finger, C.A. 1994. The Ability of Earnings to Predict Future Earnings and Cash Flow, Journal of Accounting Research. 32. No. 2.
Fischer, M., dan K. Rosenzweig. 1995. Attitudes of Student and Accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptibility of Earning Management, Journal of Business Ethics. 14. p. 433-444
Fishman, M.J., and K.M. Hagerty. 1989. Disclosure Decisions by Firms and the Competition for Price Efficiency, Journal of Finance. 54. No.3. (July). p. 633-646
Freeman, R.N. 1987. The Association Between Accounting Earnings and Security Returns for Large and Small Firms, Journal of Accounting and Economics. 9. (July). p. 195-228.
Freeman, R.N., dan S.Y. Tse. 1992. A Non Linear Model of Security Price Response to Unexpected Earning, Journal of Accounting Research. 30. No. 2. p. 185
Fudenberg, D., and J.Tirole. 1995. A Theory of Income and Dividend Smoothing Based on Incumbency Rents, Journal of Political Economy. 103. no.l. p. 75-93
Gaver, J.J., and K.M. Gaver. 1993. Additional Evidence on The Association Between The Investment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend and Compensation Policies, Journal of Accounting and Economics. 16. p. 125-160.
Greer, D.E. 1992. Industrial Organization and Public Policy, 3rd Edition, USA. McMillan Publishing Company.
Gu, Z. C.W.J. Lee., dan J.G. Rosett. 2002. Information Environment and Accrual Volatility, JEL. Classification M41;C21
Guay, W.R., S.P. Kothari, and R.L. Watts. 1996. A Market-Based Evaluation of Discretionary Accrual Models, Journal of Accounting Research. 34 (Supplement).p. 83-105.
Gujarati, D.N. 1997. Ekonometrika Dasar, Mc. Graw Hill. Inc. Massachussetts.
Gul, F.A., S. Leung, dan B. Srinidhi. 2003. Informative and Opportunistic Earnings Management and the value relevance of earnings : Some Evidence on The Role of IOS, Working Paper. City University of Hong Kong. Departement of Accountancy.
Gul, F.A. 1999. Capital Structure and Dividend Policies in Japan, Journal of Corporate Finance. 5. (Spring).p. 141-168
Gul, F.A., S. Lynn, and J. Tsui. 2001. Audit Quality. Management Ownership And The Informativeness Of Accounting Earnings, Journal of Accounting. Auditing and Finance. forthcoming.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 20
Gunawan. 1999. Analisis Kandungan Informasi Laporan Arus Kas, Simposium Nasional Akuntansi III. Jakarta
Hair, Joseph F., R.E. Anderson, R.L. Tatham, dan W.C. Black. 1995. Multivariate Data Analysis; With Reading, fourth edition. Mc Millan Publishing Company.
Hang, J., dan W.S. Wang. 1998. Political Costs and Earnings Management Oil Companies during the 1990 Persian Gulf Crisis, Accounting Review. January. p. 103-118
Harries, H., dan H. Manao. 1999. Asosiasi Laba Tahunan Emiten dengan Harga Saham ditinjau dari Ukuran dan Debt-Equity Ratio Perusahaan, Simposium Nasional Akuntansi III. Jakarta
Hartono, J. 1998. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta: BPFE.
Hartono, J. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi 2. Yogyakarta: BPFE.
Healy, P. 1985. The Impact of Bonus Schemes on The Selection of Accounting Principles, Journal of Accounting and Economics. 7. p . 85-107.
Healy, P.M., and J.M. Wahlen. 1998. .A Review of The Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting, Accounting Horizons. 13(4). p. 365-383.
Healy, P.M., and K.G. Palepu. 1993. The Effect Of Firms’ Financial Disclosure Policies on Stock Prices, Accounting Horizons. 7. p. 1-11.
Hendriksen, E., and M.V. Breda. 1992. Accounting Theory, 5Th edition. Homewood. : Irwin.
Hunt, A., SE. Moyer. dan T. Shevlin. 1996. Managing Interacting Accounting Measures to Meet Multiple Objectives : A Study of LIFO Firms, Journal of Accounting and Economics. 21. Juni . p. 39-374
Jaggi, B., and F.A. Gul. 1999. An Analysis Joint Effects of Invesment Opportunity Set, Free Cash Flows and Size on Corporate Debt Policy. Review of Quantitative Finance and Accounting; Jun 1999; 12, 4; ABI/INFORM Global
Jogiyanto. 2003. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, BPFE Yogyakarta
Jones, Jennifer J.. 1991. Earnings Management During Import Relief Investigation, Journal of Accounting Research. 29. p. 193-228
Jones, S., dan R. Sharma. 2001. The Association Between The Investment Opportunity Set and Corporate Financing and Dividen Decision : Some Austalian Evidence, Managerial Finance. 27. 3; ABI/INFORM Global.p. 48
Kallapur, S., dan M.A. Trombley. 1999. The Association Between Invesment Opportunity Set Proxies and Realized Growth, Journal of Business & Accounting. 26. April/May. p. 505-519.
Kallapur, S., dan M.A. Trombley. 2001. The Investment Opportunity Set: Determinants, Consequences and Measurement, Managerial Finance. 27. 3; p. 3
Key, K. G. 1997. Political Cost Incentives For Earnings Management in The Cable Television Industry. Journal of Accounting and Economics. Vol. 23, No.3: 375-400.
Kothari, S.P., dan R.G. Sloan. 2001. Information In Prices About Future Earnings : Impliations For Earnings Response Coefficients, Journal Accounting and Economics. North-Holland. 15. p. 143-171.
Komalasari, P.P. 2000. Asimetri dan Cost of equity Capital, Teis S2, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 21
Kusuma, I.W. 1998. Comparing the Effect of Income Smoothing Practices on the Earning-Prices Ratios of Japanese and U.S Firms, Disertation. Kent State University. August
Mahfud, N. 2004. Interdependensi Antara Kebijakan Perusahaan. Struktur Pasar Dan Profitabilitas Dengan Potensi Pertumbuhan Perusahaan Go Publik Di Indonesia, Disertasi. Universitas Brawijaya Malang
Marwata, 2000, Hubungan antara karakteristik Perusahaan dan kualitas ungkapan sukarela dalam laporan tahunan perusahaan di Indonesia, Tteis S2, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
McNichols, M., and G.P. Wilson. 1988. Evidence of Earnings Management From The Provision for Bad Debts, Journal of Accounting Research. 26 (Supplement). p. 1-31.
Midiastuty, P. P. dan M. Mas’ud 2003. Analisis Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba. ”Seminar Nasional Akuntansi VI. Surabaya: 176-199.
Mira, T., C.M. Yap, dan Y.K. Ho. 2002. The Impact of Firm Size. Concentration and Financial Leverage on The Effectiveness of R&D Invesment in Generating Growth Opportunities for Firm, Working paper. Faculty of Business administration. Singapore
Moses, O.D. 1987. Income Smoothing and Incentive : Empirical Test Using Accounting Changes, The Accounting Review. April.
Myers, S. 1977. Determinants of Corporate Borrowing, Journal of Financial Economics. 5. p. 147-175.
Naim, A. dan J. Hartono. 1996. The Effect Antitrust Investigations on the Management of Earning : A Further Empirical Test Of Political Cost Hypothesis, Kelola. 13. p. 126-141
Nunally, J.C., and I.H. Bernstein. 1994. Psychometric Theory, (3 rd edition ), New York : McGraw-Hill.
Nuswantara, D.A. 2004. The Effect of Market Share and Leverage Interaction Toward Earnings Management Practices, Simposium Nasional Akuntansi VII . Bali. h. 170 – 185
Pakaryaningsih, E. 2004. Tax Position. Investment Opportunity Set (IOS). and Signaling Effect as A Determinant of Leverage and Dividend Policy Simultanity : An Empirical Study on Jakarta Stock Exchange, Simposium Nasional Akuntansi VII. Bali
Parawiyati, dan Z. Baridwan. 1998. Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Publik di Indonesia, Jurnal Riset Akuntan Indonesia. 1. No. 1.
Penman. S.H., dan X.J. Zhang. 2002. Accounting Conservatism the Quality of Earnings and Stock Returns, Accounting Review. 77. No.2: p. 237-264.
Rajgopal, S., M. Venkatachalam, dan J.Jiambalvo. 1999. Is Institutional Ownership Associated with Earning Management and the extent to which Stock Prices Reflect Future Earning?, Working Paper. Departement of Accounting University of Washington Seattle
Riahi-Belkaoui, A. 2003. Anticipatory income smoothing and the investment opportunity set: An empirical Test of The Fudenderg and Tirole (1995) Model, Review of Accounting & Finance. 2. 2; ABI/INFORM Global
Robert, l.E., dan D.A. Frisbie. 1991. Essential of Educational Measuremen, Englewood Cliffs. Prentice – Hall. Inc. p. 89
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 22
Rones, J., and S. Sadan. 1975. Classficatory Smoothing : Alternative Income Models, Journal of Accounting Research. Spring.
Sami, H., S.M.S. Ho, dan C.K.K. Lam. 1999. “Association between the Invesment Opportunity Set and Corporation Financing. Dividend. Leasing. and Compensation Policies: Some Evidence from an Emerging Market, kertas kerja dipresentasikan pada Program MSi-Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada tanggal 2 Agustus 1999.
Saputro, J.A., dan L. Setiawati. 2004. Kesempatan bertumbuh dan manajemen laba : Uji Hipotesis Political Cost, Simposium Nasional Akuntansi VI. Bali.
Scherer, F dan R, David. 1990.Industrial Market Structure and Economic Performance, 3rd Edition. Boston. Houghton-Mifflin Company.
Schipper. K. 1989. Commentary on Earnings Management, Accounting Horizons. .3. No. 4. p. 91-102.
Scott, W.R. 1997. Financial Accounting Theory, Prentice Hall. Inc.
Skinner, D.J. 1993. The investment opportunity set and accounting procedure choice: Preliminary evidence, Journal of Accounting and Economics. 16 (October). p. 407-455.
Smith, Jr., W. Clifford, dan R.L. Watts. 1992. The Invesment Opportunity Set and Corporate Financing, Dividend, and Compensation Policies. Journal of Financial Economics. 32. p. 263-292.
Stein, J. 1998. Effect Capital Markets and Inefficient Firms, A Model of Myopic Corporate Behaviour, Quarterly, Journal of Economics. 104. p. 655-669
Subekti, I., dan I.W. Kusuma. 1999. Asosiasi antara set kesempatan investasi Dengan Kebijakan Pendanaan Dan Dividen Perusahaan serta implikasinya pada perubahan harga saham, Simposium Nasional Akuntansi III. h. 820-845
Subekti, I. 2001. Bukti Tambahan atas Asosiasi antara The Investment Opportunity Set dengan Kebijakan Pendanaan dan Dividen Perusahaan pada Pasar Sedang Berkembang, TEMA. II. Nomor 1. Maret 2001
Subramanyam, K.R.. 1996. The pricing of discretionary accruals, Journal of Accounting and Economics. 22. (August-December). 249-282.
Sugiri, S. 1998. Earning Management : Teori, Model, dan Bukti Empiris, Telaah. h. 1-15.
Sutrisno. 2001. Studi Analitikal Pengaruh Bentuk Manajemen Laba (Earning Managemen terhadap Hubungan antara Return-Laba, Jurnal Lintasan Ekonomi. 17. No. 2. Juli 2001.
Sweeney, A. 1994. Debt Covenant Violations and Managers’ Responses, Journal of Accounting and Economics. 17 (May). p. 281-308.
Veronica, S. dan Bachtiar, Y. 2003. Hubungan manajemen laba dengan tingkat pengungkapan laporan keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI. Surabaya
Verrechia, R.E., 1986. Managerial Discretion in The Choice Among Financial Reporting Alternatives, Journal of Accounting and Economics 8 (October). p. 175-195
Warfield, T.D., L.J. Wild ,and K.L. Wild. 1995. Managerial Ownership, Accounting Choices, and Informativeness of Earnings, Journal of Accounting and Economics. 20 (July). p. 61-92.
Watts. R.L. and J.L. Zimmerman. 1978. Towards A Positive Theory of The Determination of Accounting Standards, The Accounting Review. 53 (January). p. 112-134.
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 23
Watts. R.L., and J.L. Zimmerman. 1986. Positive accounting theory, Prentice-Hall. Englewood Cliffs.
Widayat, dan Amirullah. 2002. Riset Bisnis, Edisi Pertama. Graha Ilmu – Yogyakarta.
Wild, J.J. and S.S. Kwon. 1994. Earnings Expectations, Firm Size. And The Informativeness Of Stock Prices, Journal of Business Finance & Accounting. 21. (October). p. 975-996.
Worthy, F.S. 1984. Manipulating Profits, How It Done, Fortune. June 25. p. 50-54
Zimmer, I.. 1986. Accounting for Interest by Real Estate Developers, Journal of Accounting and Economics. 8 (1). p. 37-51.
Zimmerman, J.L. 1983. Taxes and Firm Size, Journal of Accounting and Economics. 5 (August). p. 119-149.
Lampiran
Tabel 1 Proses Pemilihan Sampel
Keterangan
Jumlah perusahaan
Perusahaan manufaktur yang go publik sampai dengan 31 Desember 1997
147
Perusahaan manufaktur yang tidak go publik berturut-turut selama 5 tahun (tahun 1997 s.d 2002)
17
Perusahaan yang memiliki ekuitas negatif
42
Laporan Keuangan Tidak Lengkap
18
Perusahaan publik yang masuk dalam pemilihan sampel
70
Sumber : Data sekunder diolah (Lampiran )
Tabel 2 Pengukuran variabel dan peneliti yang pernah menggunakannya
No
Proksi IOS
Pengukuran
Peneliti
1
Market to book value of equity (MBVE)
MBVE = [Jumlah saham beredar x harga penutupan saham] : Total Ekuitas]
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Subekti dan kusuma (1999), Subekti (2001), AI Najjar dan Belkaoui (2001), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Mira, Chee, dan Yew (2002), Collins dan Kothari (1989), Hartono (1999), Fijrianti (2000), dan Prasetyo (2000)
2
Book to market value of assets (MBVA)
MBVA = [Total Aktiva – Total Ekuitas + Jumlah Saham Beredar x Harga Penutupan Saham] dibagi Total Aktiva
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts, (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Abbott, J. Lawrence (2001), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Subekti dan kusuma (1999), Subekti(2001), AINajjar dan Belkaoui (2001), Mira, Chee, dan Yew (2002), Fijrianti (2000),
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 24
dan Mahfud (2004)
3
Tobin’s Q (TOBIQ)
Tobin’s Q = {[Jumlah saham beredar x harga penutupan saham] + Total utang + sediaan] – Jumlah aktiva lancar} dibagi total aktiva.
Skinner (1993), Chung, dan Charoenwong (1998), Kallapur dan Trombley (1999), dan Mahfud (2004)
4
Earnings to price ratios (PER)
PER = [Harga penutupan saham per lembar] : Laba bersih per saham (EPS)]
Chung dan Charoenwong (1991), Smith dan Watts (1992), Skinner (1993), Gaver dan Gaver (1993), Cahan dan Hossain (1995), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Gul, A. Ferdinand (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2000 & 2003), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), Subekti dan Kusuma (1999), Subekti (2001), AINajjar dan Belkaoui (2001), Prasetyo (2000), Hartono (1999), Fijrianti (2000), dan Mahfud (2004)
Lanjutan tabel 2
5
Ratio of property, plant, and equipment to firm value of the assets (PPEFVA)
[Total Asset-Total Ekuitas+ Lembar saham beredar*Harga Penutupan saham] dibagi dengan aktiva tetap bersih.
Skinner (1993), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Adam, Tim & Vidhan, K. Goyal (2003), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), dan Mahfud (2004)
6
Ratio of depreciation to firm value (DFV)
DFV = Total Aset – Total Ekuitas + [Lembar Saham Beredar x Harga Penutupan Saham] dibagi Biaya Depresiasi.
Smith dan Watts, (1992), Kallapur dan Trombley (1999), Sami, Heibatollah, S.M. Simon Ho, dan C.K. Kevin Lam (1999), Jones, Stewart & Rohit Sarma (2001), dan Mahfud (2004)
7
Ratio of capital expenditure to book value of assets (CEBVA)
CEBVA = [Nilai Buku Aktiva Tetap t - Nilai Buku Aktiva Tetap t-1] : [Total Aktiva]
Jones dan Sharma (2001), dan Fijrianti (2000)
8
Rasio capital expenditure to market of assets (CEMVA)
CEMVA = (Nilai buku aktiva tetapt – Nilai buku Aktiva Tetapt-1): [ Total Asset – Total Ekuitas + (Lembar Saham Beredar * Harga Penutupan Saham) ]
Jones dan Sharma (2001), Fijrianti (2000), Prasetyo (2000), Subekti dan Kusuma (1999), dan Subekti (2001)
9
Rasio Investment to Net Sales (INS)
INS = Investasi / Net Sales
Kallapur dan Trombley (1999), dan Hartono (1999)
10
Risiko sistimatis (RS)
Beta koreksi Beta Fowler & Rorke (1983)
Hartono (1998), Prasetyo (2000)
11
Ukuran Perusahaan (SIZE)
logaritma nilai total aktiva perusahaan perusahaan
Mira, Chee dan Yew (2002), Gul et al. (2003)
12
Konsentrasi pasar (KSP)
KSP = (Penjualan perusahaan / Penjualan industri) x 100%
Mira, Chee dan Yew (2002), Nuswantara (2004)
13
Utang (DEBT)
Utang = (Jumlah Total utang perusahaan i pada periode t) : (Total aktiva yang dimiliki perusahaan i pada periode t)
Suciwati dan Mas’ud (2001), Mira, Chee dan Yew (2002), Gul et al. (2003), Nuswantara (2004), Pakaryaningsih (2004)
14
Laba
laba bersih tahunan sebelum extraordinary items
Bowen, et al. (1987), Ali (1994), Finger (1994), Parawiyati dan Baridwan (1998)
15
Discretionary Accruals (DA)
Jones (1991) yang dimodifikasi
Healy (1985), DeAngelo (1986), Jones, (1991); Dechow et al, (1995), Cahan (1992), Healy dan Wahlen (1998), Bartov, 2000, AINajjar dan
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 25
BeIkaoui (2001), Gul et al. (2003), Nuswantara (2004),
16
Abnormal Return
market adjusted model
ARi,t = Ri,t – E(Ri,t)
Σ===nttitARCAR1
Gul et al. (2003) Ali (1994), Asyik (1999), Harries (1999), Gunawan (1999) dan Jogiyanto (2003)
Tabel 3. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Variabel Set Kesempatan Investasi
Goodness of fit index
Cut-off Value
Hasil Model *)
Keterangan
χ2 – Chi-square
Diharapkan kecil
13.752
Baik
Sign.Probability
≥ 0.05
0.999
Baik
CMIN/DF
≤ 2.00
0.404
Baik
GFI
≥ 0.90
0.992
Baik
AGFI
≥ 0.90
0.987
Baik
TLI
≥ 0.95
1.010
Baik
CFI
≥ 0.95
1.000
Baik
RMSEA
≤ 0.08
0.000
Baik
Sumber: *) Lampiran 5
Tabel 4 Pengukuran Variabel Set Kesempatan Investasi
Variabel indikator konstruk
Loading Faktor
CR
T Tabel (α=5%)
Prob
Keterangan
IOSp IOS ←
-0.150
-3.461
1.98
0.000
Signifikan
IOSi ← IOS
0.035
Fix
1.98
Signifikan
IOSv IOS ←
0.518
Fix
1.98
Signifikan
Tabel 5. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices Overall Model Tahap Akhir
Goodness of fit index
Cut-off Value
Hasil Model *)
Keterangan
χ2 – Chi-square
Diharapkan kecil
54.139*
Baik
Sign.Probability
≥ 0.04
0.952*
Baik
CMIN/DF
≤ 2.00
0.742*
Baik
GFI
≥ 0.90
0.982*
Baik
AGFI
≥ 0.90
0.966*
Baik
TLI
≥ 0.94
1.009*
Baik
CFI
≥ 0.94
1.000*
Baik
RMSEA
≤ 0.08
0.000*
Baik
K-AKPM 11
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANG
Padang, 23-26 Agustus 2006 26
Tabel 7. Uji Model Pengaruh Kausal Set Kesempatan Investasi (IOS), Utang (DEBT), Kos Politis (KP), dan Konsentrasi Pasar (KSP) terhadap Manajemen Laba (DA) dan Nilai Laba (EARN) serta pengaruhnya terhadap harga saham (AR)
Efek
H
Variabel indikator konstruk
Loading Faktor
Direct
Indirect
Total
CR
Prob
Keterangan
H2
AR
<–
DA
0.086
0.086
0.000
0.086
1.648***
0.099
Signifikan
H3
AR
<–
IOS
0.539
0.539
-0.035
0.504
Fix
Signifikan
H4
AR
<–
DEBT
-0.024
-0.024
-0.041
-0.064
-0.313
0.754
Tidak Signifikan
H5
AR
<–
KP
-0.543
-0.543
-0.022
-0.565
-4.954*
0.000
Signifikan
H6
AR
<–
KSP
0.299
0.299
0.044
0.343
2.929*
0.003
Signifikan
H7
AR
<–
EARN
0.177
0.177
0.000
0.177
3.078*
0.002
Signifikan
H8
DA
<–
IOS
-0.095
-0.095
0.050
-0.045
-1.007
0.314
Tidak Signifikan
H9
DA
<–
DEBT
0.148
0.148
0.004
0.152
2.616*
0.009
Signifikan
H10
DA
<–
KP
-0.123
-0.123
0.000
-0.123
-1.076
0.282
Tidak Signifikan
H11
DA
<–
KSP
0.080
0.080
0.000
0.080
0.870
0.384
Tidak Signifikan
H12
KSP
<–
DEBT
0.056
0.056
0.000
0.056
1.110
0.267
Tidak Signifikan
H13
EARN
<–
IOS
-0.033
-0.033
-0.131
-0.164
-0.351
0.726
Tidak Signifikan
H14
EARN
<–
DEBT
-0.409
-0.409
0.012
-0.397
-7.984*
0.000
Signifikan
H15
EARN
<–
KP
-0.066
-0.066
0.000
-0.066
-0.592
0.554
Tidak Signifikan
H16
EARN
<–
KSP
0.209
0.209
0.000
0.209
2.318**
0.020
Signifikan
H17
DEBT
<–
IOS
0.330
0.330
0.000
0.330
3.288*
0.001
Signifikan
*Signifikan Pada Level 1 %, Nilai t table level 1% = 2.57
** Signifikan pada level 5%, Nilai t table level 5% = 1.98
*** Signifikan pada level 10%, Nilai t table level 10% = 1.64
Gambar 1. Analisis Structural Equation Modelling Model Pengukuran Diagram Jalur Model Konseptual Pengaruh kausal Set Kesempatan Investasi, Utang, Kos politis, dan Konsentrasi pasar terhadap manajemen laba dan Laba dan pengaruhnya terhadap harga saham
IOSIOSpIOSiMVABVAe21TOBIQe31PERe41DFVe51VPPEe611CEBVAe71CEMVAe81INSe91IOSve101MVEBVAe11e11e1211DEBTKP
EARNe131H13H14H16H151DAARe17e151H9H8H10H11H3H4H5H6H2H7H17H121
K-AKPM 11

ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI INVESTOR

July 26, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
SKRIPSI
Oleh :
Nama : Min Rohmatillah
NIM : 01620298
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AGUSTUS 2005
ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI
INVESTOR
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
Nama : Min Rohmatillah
NIM : 01620298
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
AGUSTUS 2005

i
KATA PENGANTAR
Segala Puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan Rahmad,
Petunjuk dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“ANALISIS PENGARUH LUAS PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEJ TERHADAP REAKSI
INVESTOR”.
Penyusunan skripsi ini dengan maksud untuk memenuhi sebagian
persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dan juga sebagai penerapan
teori-teori yang telah didapatkan penulis selama duduk di bangku kuliah.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan bimbingan
baik berupa dukungan, kritik dan saran serta tak lupa kasih sayang, perhatian dan juga
do’a untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kapada :
1. Bapak dan Ema’ tercinta, cacak serta adikku yang tiada henti-hentinya
mendo’akan, memberi kasih sayang dan bimbingan disetiap langkahku.
2. Bapak Drs. H. Bambang Widagdo, MM. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Bapak Drs. Waluyo Jati, MM. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Bapak Drs. Setu Setyawan, MM. selaku Ketua Laboratorium Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
ii
5. Para Staff Laboratorium Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Malang (Pak Ipoel yang selalu humoris, Pak Ulum yang
selalu cekatan, dan Pak Djoko).
6. Ibu Dra. Endang Dwi Wahyuni, MM.Ak. dan Ibu Dra. Hj. Siti Zubaidah,
MM. Ak. Selaku dosen pembimbing, yang dengan penuh kesabaran telah
bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dalam memberikan kritik,
saran yang membangun untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi ini (maaf
ibu bila selama ini sering bandel dan menyusahkan).
7. Ibu Dra. Eny Suprapti, MM.Ak. yang senantiasa memberikan nasihat dan
masukan dalam segala hal (terima kasih Ibu untuk meyakinkan saya ikut
ujian).
8. Ibu Masiyah Kholmi, MM. Ak. selaku dosen wali angkatan 2001 kelas F.
9. Ibu Nasiyah Hasanah, SE yang telah memberi tahu makna kebahagiaan dalam
memberi.
10. Bapak Adi Prasetyo, SE. Msi. yang tidak bosan-bosannya memberikan
motivasi dan do’a.
11. Ibu Sri Nastiti, yang selalu meluangkan waktu untuk berdiskusi masalah
statistik.
12. Pak Andi (pegawai pojok BEJ Brawijaya) yang telah sudi mengorbankan
waktu liburnya untuk mengantarkan data tepat waktu.
13. Pak Venus dan Mas Amin (PIPM) yang senantiasa meluangkan waktu untuk
berdiskusi mengenai pasar modal.
iii
14. Bapak/Ibu dosen pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah
Malang.
15. Teman-teman angkatan 2001 kelas F.
16. Teman-teman di Laboratorium Akuntansi.
17. Teman-teman di Kost Jl. Tlogomas 81.
18. Sahabat-sahabat baikku yang telah banyak memberi arti dalam hidup ini.
Juga bagi kawan-kawan yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu
mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena tidak akan cukup lembaran ini untuk
melukiskan isi hati dan terima kasih penulis terhadap sumbangsih kalian. Penulis
berdo’a semoga segala amal Shaleh dan ibadah ikhlas kalian semua diterima Allah
SWT.
Akhir kata penulis berharap semoga hasil pemikiran yang tertuang dalam
skripsi ini dapat bermanfaat sebagaimana yang dharapkan.
Malang, 17 Agustus 2005
Min Rohmatillah
iv
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ………………..……………………………………….……………. iv
DAFTAR TABEL …………. ……………………………………………………… vii
DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………..….…. viii
ABSTRAKSI …..…………………………………………………………..…….. ix
ABSTRACTION ………….……………………………………………….….… x
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………..……………..………………………………. 1
B. Perumusan Masalah ………….………………..…………….…………… 4
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian………………………………………..… 4
1. Tujuan Penelitian …………………………………..…………… 4
2. Manfaat Penelitian …………………………………………………5
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori ………………………………………..…..…..……… 6
1. Pengungkapan (Disclosure) Dalam Laporan Tahunan …..…… 6
a. Definisi pengungkapan …………………………..…………… 6
b. Tujuan pengungkapan ………………………………..……..…7
c. Informasi yang harus diungkapkan ……………………..…. 8
v
d. Pengungkapan wajib (Mandator disclosure) dan pengungkapan
sukarela (Voluntary disclosure) …………………………….… 12
2. Perhitungan Indeks Pengungkapan …………………………….… 14
3. Hubungan Antara Pengungkapan Dengan Reaksi Investor ….…… 16
4. Hubungan Antara Pengungkapan Dengan Efisiensi Pasar..………… 17
5. Reaksi Investor ……………………….……………………… 19
B. Review Penelitian Terdahulu ….…………………………………… 22
C. Hipotesis …………………….………………………………………… 24
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian …………………………………….…….…..……… 25
B. Variabel Penelitian Dan Pengkurannya ……………………….……… 25
C. Populasi Dan Sampel ………………………………….…..….…… 28
D. Data Dan Sumber Data ……………………………………….……… 29
E. Teknik Pengumpulan Data ……………………….…….…..…… 30
F. Teknik Analisis Data …………………………………………….… 31
IV. HASIL PENELITIAN
A. Indeks Pengungkapan (Disclosure) Dalam Laporan Tahunan…………. 33
B. Indeks Unexpected Trading Volume ……………………………… 36
C. Uji Hipotesis ………………………………….…………………… 38
1. Uji Normalita Data ……………………………….……………… 38
vi
2. Uji Regresi ………………………………………………..….…..39
3. Interpretasi Hasil Pengujian …………………………………….… 39
V. PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………………. 43
B. Implikasi hasil penelitian ………………………………………………. 44
C. Keterbatasan Penelitian ……………………………………….……… 45
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..…..
LAMPIRAN …………………………………………………………………………
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
TABEL 1 Indeks Pengungkapan Laporan Keuangan Tahun 2003 ……….……… 35
TABEL 2 Indeks Unexpected trading Volume Tahun 2004 ……. …………….… 37
TABEL 3 Grafik Normal Probability Plot ………………………….…………… 39
TABEL 4 Nilai R, R Square, SEE untuk pengujian Hipotesis ….…………… 39
TABEL 5 Konstanta, Koefisien Regresi, T Test dan Signifikansi untuk Pengujian
Hipotesis ……………………….……………………………… 39
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
LAMPIRAN 1 Daftar Pengungkapan Dalam Laporan Keuangan …………
LAMPIRAN 2 Indeks Pengungkapan …………………………………………
LAMPIRAN 3 Daftar Perusahaan Sampel beserta Tanggal Publikasi Laporan
Keuangan Tahunan …………………………………………
LAMPIRAN 4 Perhitungan Unexpected Trading Volume Selama 5 Hari
Sebelum Dan Sesudah Tanggal Publikasi ………….………
LAMPIRAN 5 Indeks Unexpected Trading Volume ……………….…………
LAMPIRAN 6 Hasil Regressi dan Normal Probability Plot ….………..………
Daftar Pustaka
Aviliani dan Hidayat, Usman. Penafsiran Informasi Publik di Pasar Modal.
Kompas, 4 April 2005. Hal. 27
Belkoui, Ahmed. 1987. Teori Akuntansi. Jilid Satu. Edisi Kedua. Terjemahan
Herman Wibowo dan Marianus Sinaga. Jakarta: Erlangga.
Belkoui, Ahmed Riahi. 2000. Teori Akuntansi. Buku Satu. Edisi Pertama.
Terjemahan Marwata dkk. Jakarta: Salemba Empat.
Chariri, A. dan Ghozali I. 2003. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Fitriany. 2001. Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Wajib
Dan Sukarela Pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi IV. Hal.133-154.
Gunawan, Y. 2000. Analisis Pengungkapan Informasi Laporan Tahunan Pada
Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional
Akuntansi III. Hal. 78-98
Indriantoro, N. dan Supomo, B. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi Dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Jogiyanto. 2000. Teori Portofolio Dan Analisis Investasi. Edisi Dua. Yogyakarta:
BPFE.
Juniarti dan Yunita F. 2003. Pengaruh Tingkat Disclosure Terhadap Biaya Ekuitas.
Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol.5. No.2. Hal.150-168 (Online) Http:
//puslit.petra.ac.id/journal/accounting/ (diakses 30 April 2005).
Kieso, D.E. dan Weygandt, J.J. 1995. Akuntansi Intermediate. Buku Tiga. Edisi
Ketujuh. Jakarta: Binarupa Aksara.
Kieso, D.E. et. al. 2002. Akuntansi Intermediate. Buku Satu. Edisi kesepuluh.
Jakarta: Salemba Empat.
Mardiyah, A. A. 2001. Pengaruh Informasi Asimetri dan Disclosure Terhadap Cost
of Capital. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 787-820.
Surat Edaran Ketua Bapepam. 2002. Pedoman Penyajian dan Pengungkapan
Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Manufaktur.
Badan Pengawas Pasar Modal. (Online) Http: //bapepam.go.id/ (diakses 30
April 2005).
Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT. Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia.
Sidarta, A. dan Juniarti. 2003. Pengaruh Kualitas Disclosure Terhadap Biaya
Hutang. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 1287-1298.
Satya, Yuri Chandra D. 2004. Pengaruh Publikasi Laporan Keuangan Arus Kas
Terhadap Volume Perdagangan Saham (Studi pada Bursa Efek Jakarta).
Skripsi Universitas Brawijaya Malang.
Warsono. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama.
Malang: UM Press.
Wahyuni, Endang D. 2005. Hubungan Pengungkapan Laporan Keuangan, Asimetri
Informasi Dan Cost of Capital. Lembaga Penelitian Universitas Muhammaiyah
Malang.
Zuhroh, D. dan Sukmawati, I Putu Pande Heri. 2003. Analisis Pengaruh Luas
Pengungkapan Sosial Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Terhadap Reaksi
Investor (Studi Kasus pada Perusahaan-Perusahaan High Profile di BEJ).
Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 1314-1334.

Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2002

July 26, 2010 Leave a comment

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Hal
1. Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2002….. 60
2. Data Likuiditas, Profitabilitas, Dan Return Saham Bank Tahun 2003…… 61
3. Analisis Regresi Dan Perhitungan Asumsi Klasik Dengan
Program SPSS……………………………………………………………………………….. 62
4. Daftar Kritik Uji F ………………………………………………………………………… 67
5. Daftar Kritik Uji t …………………………………………………………………………. 68
6. Laporan Keuangan Bank Di BEJ Tahun 2002-2003…………………………… 69
7. Surat Ijin Penelitian……………………………………………………………………….. 109
8. Surat Keterangan…………………………………………………………………………… 110
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
1.1 Likuiditas, Profitabilitas Dan Return Saham Bank di BEJ
Tahun 2000……………………………………………………………………………. 3
3.1 Bank Yang Dijadikan Obyek Penelitian…………………………………….. 29
4.1 Data Likuiditas Bank di BEJ Tahun 2002- 2003………………………… 42
4.2 Data Likuiditas Profitabilitas Dan Return Saham Bank Di BEJ
Tahun 2002-2003…………………………………………………………………….. 43
4.3 Data Return Saham Bank di BEJ Tahun 2002-2003…………………… 45
4.4 Ringkasan Perhitungan Analisis Regresi Berganda…………………….. 46
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
1. Kerangka Berfikir…………………………………………………………………. 27
xi
4.2.1 Likuiditas………………………………………………………. 41
4.2.2 Profitabilitas…………………………………………………. 42
4.2.3 Return Saham………………………………………………… 44
4.3 Analisis Statistik……………………………………………………. 45
4.4 Evaluasi Ekonometri……………………………………………… 49
4.5 Pembahasan………………………………………………………….. 50
BAB V. PENUTUP…………………………………………………………………. 56
5.1 Simpulan………………………………………………………………. 56
5.2 Saran……………………………………………………………………. 56
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………. 58
LAMPIRAN………………………………………………………………………………. 60
x
2.1.2 Jenis Pasar Modal…………………………………………… 10
2.1.3 Peranan Pasar Modal………………………………………. 11
2.1.4 Pasar Modal Indonesia……………………………………. 13
2.1.5 Sistem Perdagangan di Bursa Efek Jakarta………… 17
2.2 Laporan Keuangan…………………………………………………. 18
2.2.1 Pengertian Laporan Keuangan…………………………. 18
2.3 Profitabilitas…………………………………………………………. 21
2.4 Likuiditas……………………………………………………………… 21
2.5 Return Saham………………………………………………………… 23
2.6 Kerangka Berpikir…………………………………………………. 25
2.7 Hipotesis………………………………………………………………. 28
BAB III. METODE PENELITIAN…………………………………………… 29
3.1 Populasi dan Sampel……………………………………………….. 29
3.2 Variabel Penelitian………………………………………………….. 30
3.3 Metode Pengumpulan Data……………………………………… 30
3.4 Metode Analisis Data…………………………………………….. 31
3.5 Analisis Regresi…………………………………………………….. 31
3.6 Pengujuan Asumsi Klasik……………………………………….. 34
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………… 37
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………. 37
4.1.1 Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan………. 37
4.1.2 Pengertian Bank dan Lembaga Keuangan Lain….. 40
4.2 Deskripsi Variabel…………………………………………………… 41
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………… i
PERSETUJUAN PEMBIMBING………………………………………………. ii
PENGESAHAN KELULUSAN…………………………………………………. iii
PERNYATAAN…………………………………………………………………………. iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………………….. v
PRAKATA………………………………………………………………………………… vi
SARI………………………………………………………………………………………….. viii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… ix
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………….. xii
DAFTAR TABEL………………………………………………………………………. xiii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………….. xiv
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………….. 1
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………….. 1
1.2 Perumusan Masalah……………………………………………….. 5
1.3 Penegasan Istilah……………………………………………………. 5
1.4 Tujuan dan Kegunaan Penelitian……………………………… 7
1.5 Sistematika Skripsi………………………………………………… 8
BAB II. LANDASAN TEORI………………………………………………….. 9
2.1 Pasar Modal…………………………………………………………… 9
2.1.1 Pengertian Pasar Modal…………………………………… 9
viii
SARI
Ariyadi Primandoko, 2005, “Pengaruh Likuiditas Dan Profitabilitas Terhadap
Return Saham Bank Di BEJ”, Skripsi. Pendidikan Ekonomi Akuntansi Fakultas
Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. 110 Halaman.
Suatu bank harus memiliki likuiditas dan profitabilitas yang baik agar
bank tersebut mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, likuiditas diperlukan
agar dana selalu tersedia saat nasabah ingin menarik dana dari bank, sedangkan
profitabilitas menunjukkan tingkat laba suatu bank, salah satu cara untuk
memperkuat posisi likuiditas adalah dengan menerbitkan saham. Yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh likuiditas dan
profitabilitas terhadap return saham ?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap return
saham bank di BEJ
Populasi dari penelitian ini berjumlah 26 bank yang terdaftar di BEJ.
Sampel yang diambil berjumlah 19 bank. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan Purposive Sampling. Data yang diambil berupa laporan keuangan
bank selama dua tahun (2002 dan 2003) dari 19 bank yang termasuk dalam
sampel, sehingga n berjumlah 38. Metode analisis data yang digunakan adalah
analisis regresi, yang untuk memudahkannya digunakan program komputer SPSS.
dan metode pengumpulan datanya adalah metode dokumentasi. Variabel bebasnya
adalah likuiditas dan profitabilitas sedangkan variabel terikatnya adalah return
saham.
Hasil penelitian secara parsial diperoleh nilai thitung untuk likuiditas sebesar
2,405 sedang nilai ttabel = 1,691. Dari hasil perbandingan tersebut terlihat thitung <
ttabel maka Ho ditolak artinya ada pengaruh likuiditas dengan return saham. Untuk
profitabilitas nilai thitung = 2,390 sedang ttabel = 1,691. Dari perhitungan tersebut
diperoleh kesimpulan bahwa thitung > ttabel maka Ha diterima artinya ada pengaruh
antara profitabilitas dengan return saham. Sedangkan secara simultan diperoleh
nilai Fhitung = 5,56 dan Ftabel = 5,25. Jadi Fhitung > Ftabel artinya likuiditas dan
profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham bank di
BEJ.
Berdasarkan penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa likuiditas dan
profitabilitas memiliki pengaruh terhadap return saham. Saran yang diberikan
adalah apabila suatu bank ingin mendapatkan kepercayaan dari masyarakat baik
para penabung maupun investor hendaknya memiliki tingkat likuiditas dan
profitabilitas yang tinggi sehingga masyarakat akan menaruh kepercayaan
terhadap bank tersebut.
vii
9. Novi Titisari dan teman-temanku (Welry, Jenal, Patur, Mazda,
Rully”Bagong”, Gogon dan Joko) atas dukungan dan bantuan yang telah
diberikan.
10. Kru Arial. Com terima kasih atas semuannya.
11. Semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para
pembaca.
Penulis
vi
PRAKATA
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH
SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun
skripsi ini dalam rangka mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri
Semarang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak lepas
dari dukungan, bimbingan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. H. A. T Sugito, SH. MM, Rektor Universitas Negeri Semarang.
2. Drs. Sunardi, MM, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
3. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Ketua Jurusan Ekonomi FIS UNNES.
4. Dra. Sri Kustini, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak Muhammad Khafid, S.Pd. M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Drs. Subkhan, Dosen Penguji yang telah menguji serta memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Pihak pojok BEJ UNDIP, yang telah menyediakan data yang mendukung
skripsi ini.
8. Bapak, ibu dan saudara-saudaraku yang telah memberikan bantuan dan
dukungan baik material maupun spiritual, sehingga penulis mampu
menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana pendidikan.
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Mengalah bukan berarti kalah tapi tak selamanya harus mengalah,
maka peganglah dengan teguh pendirianmu apabila
hati nuranimu mengatakan bahwa hal itu pantas untuk dipertahankan.
(Penulis)
Persembahan
Skripsi ini aku persembahkan untuk :
Keluarga besarku yang tercinta
Novi Titisari yang tersayang
Teman – teman pendidikan Akuntansi angkatan 2000
Sahabat-sahabatku di Pemalang
yang telah memberikan kenangan masa kecil yang tidak dapat aku lupakan
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar – benar hasil karya
saya sendiri, bukan buatan orang lain dan bukan jiplakan dari karya tulis orang
lain, baik sebagian maupun seluruhnya. Pendapat dan temuan orang lain yang
terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Juli 2005
Ariyadi Primandoko
NIM. 3364000184
iii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan didepan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Negeri Semarang pada :
Hari :
Tanggal :
Penguji Skripsi
Drs. Subkhan
NIP.131687738
Anggota I Anggota II
Dra. Sri Kustini Muhammad Khafid, S.Pd, M.Si
NIP.130795082 NIP.130795082
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial
Drs. Sunardi, MM
NIP. 130367998
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian
skripsi pada :
Hari :
Tanggal :
Pembimbing I Pembimbing II
Dra. Sri Kustini. Muhammad Khafid, S.Pd M.Si
NIP. NIP.
Mengetahui,
Ketua Jurusan Ekonomi
Drs. Kusmuriyanto, M.Si.
NIP. 131404309
PENGARUH LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP
RETURN SAHAM BANK DI BURSA EFEK JAKARTA
S K R I P S I
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Ekonomi Akuntansi
pada Universitas Negeri Semarang
Oleh :
Ariyadi Primandoko
NIM 3364000184
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
8
1.5. Sistematika Skripsi
Penulisan skripsi ini terbagi dalam lima bab. Bagian pendahuluan
skripsi berisi judul skripsi, abstrak, pengesahan, motto dan persembahan,
kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar atau grafik.
Bab I : Pendahuluan, berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah.
Bab II : Landasan teori, berisi tinjauan pustaka yang membahas teoriteori
yang melandasi permasalahan
Bab III : Metode penelitian, menjelaskan tentang populasi, variabel,
metode dan teknik pengumpulan data, serta analisis data.
Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan, mengemukakan tentang
hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V : Penutup, berisi tentang simpulan tentang hasil penelitian dan
pembahasan hasil penelitian.
Bagian akhir dari skripsi meliputi daftar pustaka, lampiran dan
pengesahan.
7
1.4. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
A. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk
memperoleh bukti empiris mengenai likuiditas dan profitabilitas
terhadap return saham bank di bursa efek Jakarta.
B. Kegunaan Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Kegunaan praktis
a) Bagi Perusahaan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam mengambil kebijakan perusahaan khususnya bagi bank
b) Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam pengambilan investasi saham di pasar
modal
2. Kegunaan teoritis
Bagi Lembaga Perguruan Tinggi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu ekonomi. Hasil penelitian ini juga diharapkan
dapat sebagai tambahan informasi karya ilmiah bagi pembaca di
perpustakaan dan sebagai rujukan bagi peneliti yang akan
mengembangkan penelitian sejenis.
6
x100%
total deposit
Securities
IPR =
(Abdullah,2004:269)
3. Return saham
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi (Jogiyanto,
2000:107). Konsep return yang digunakan adalah return realisasi (actual
return) yang dapat berupa capital gain maupun capital loss. Dalam
penelitian ini return saham diukur berdasarkan harga saham awal tahun
2002 dan harga saham akhir tahun 2002.
Return realisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
capital gain /loss yang sering juga disebut actual return. Besarnya
actual return dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
1
1( )
-
- -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t (periode penutupan/
terakhir)
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000:10)
5
1.2. Perumusan Permasalahan
Dari uraian di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah
Bagaimana pengaruh likuiditas dan profitabilitas terhadap return saham
pada bank yang terdaftar di bursa efek jakarta?
1.3. Penegasan Istilah
Untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan di teliti
serta untuk menyamakan persepsi terhadap judul penelitian ini perlu di
jelaskan pengertian dari istilah-istilah yang digunakan yaitu:
1. Profitabilitas
Profitabilitas yaitu kemampuan suatu bank dalam menghasilkan
laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan
untuk menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 1998:36). Dalam penelitian
ini profitabilitas dihitung berdasarkan laba setelah dikurangi pajak
(profit after taxes )
2. Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan bank dalam melunasi kewajiban
yang ditagih sewaktu-waktu (Rakub, 2003:58). Likuiditas sangat penting
bagi kreditor jangka panjang dan para pemegang saham yang akhirnya
ingin mengetahui prospek dari deviden dan pembayaran bunga di masa
yang akan datang. Dalam penelitian ini likuiditas diukur berdasarkan
infesting policy ratio yang dihitung dengan rumus:
4
berbagai sektor telah banyak dilakukan dengan hasil beragam dan tidak
sedikit yang kontradiktif.
Penelitian tentang hubungan rasio profitabilitas yang dikaitkan
dengan return saham antara lain dilakukan oleh Sunarto (2002) dengan
judul “Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return Saham
Perusahaan Manufaktur di BEJ” menunjukkan bahwa Profitabilitas secara
signifikan berpengaruh positif terhadap return saham di bursa. Penelitian
sejenis juga dilakukan oleh Syahib Natarsyah (2000) menunjukkan bahwa
profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif terhadap harga saham di
pasar sekunder. Hasil penelitiannya adalah konsisten dengan peneliti
terdahulu .
Penelitian lain yang dilakukan oleh Sugeng Sulistiono 1994;
Sulaiman 1995; Leki Rofinus 1997 (dalam Sunarto, 2002) menunjukkan
bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial
terhadap harga saham.
Oleh karena itu dengan mengetahui latar belakang tersebut dan
bertitik tolak pada uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
“PENGARUH LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP
RETURN SAHAM BANK DI BURSA EFEK JAKARTA”. Pemilihan
objek bank di bursa efek Jakarta karena peranan likuiditas dan profitabilitas
sangat berpengaruh terhadap kinerja suatu bank, berbeda dengan perusahaan
manufaktur atau perusahaan yang bergerak dalam bidang lain dimana
pengaruh posisi likuiditas tidak sebesar pada sektor perbankan.
3
Namun pada kenyataannya banyak bank yang mengalami return
saham negatif sehingga mengakibatkan bank tersebut kurang diminati oleh
para investor. Menurut teori, likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh
terhadap harga saham, oleh karena itu perusahaan perlu meningkatkan
likuiditas dan profitabilitas bank untuk menarik para investor agar
menanamkan modal di bank tersebut, dengan banyaknya investor yang
mencari saham perusahaan tersebut akan berimbas pada peningkatan return
saham bank tersebut. Sehingga penelitian untuk mengukur pengaruh
likuiditas dan profitabilitas terhadap return saham bank sangat perlu untuk
dilakukan.
Berdasarkan studi pendahuluan berikut ini akan disajikan beberapa
kondisi return saham perusahaan perbankan yang terdaftar di BEJ pada
tahun 2000 agar diperoleh gambaran yang lebih jelas.
Tabel.1.1
Tabel likuiditas, profitabilitas dan return saham bank di BEJ tahun 2000
Bank Y (return saham)
P0 P1 Return saham
Bank Danpac 900 750 -17%
Bank Global 150 110 -26%
Bank Pan Indonesia 475 170 -64%
Bank Pikko 475 400 -16%
Bank Victoria Internasional 100 70 -30%
Berdasarkan tabel 1.1 diketahui bahwa semua bank mengalami
penurunan nilai saham, hal ini bisa dipengaruhi oleh apa saja, baik faktor
fundamental maupun tehnikal. Penelitian untuk menganalisis pengaruh
berbagai faktor fundamental terhadap harga maupun return saham pada
2
Manajemen bank harus dapat menekan biaya seefektif dan
seefisien mungkin dan dapat mengembangkan penghasilan dari asset
(earning asset) masing-masing secara penuh, agar didapat keuntungan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup bank. Salah satu cara pengelolaan
bank yang baik adalah dengan memperhatikan likuiditas, solvabilitas, dan
profitabilitas bank tersebut.
Bank harus dapat mengatur likuiditasnya agar dapat mengamankan
jaminan utangnya dan dapat membayarkan tabungan nasabah yang diminta
nasabahnya sewaktu-waktu sehingga bank tersebut dapat dipercaya
masyarakat, bank juga harus dapat mengatur profitabilitasnya agar mereka
memperoleh laba dan dapat bertahan dalam persaingan yang ketat serta
berkembang mengikuti perkembangan pasar, yang berimbas pada bertambah
banyaknya nasabah dan penanam modal pada bank tersebut, dengan
tingginya harga dan return saham dan banyaknya penanam modal akan
memperkuat solvabilitas bank tersebut.
Menurut Suad Husnan dalam “Dasar-dasar Teori Portofolio dan
Analisis Sekuritas” jika profitabilitas perusahaan meningkat maka dampak
akhirnya adalah peningkatan profitabilitas pemegang saham. Sedang
likuiditas sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi
modal kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi pemegang
saham yang ingin mengetahui prospek dari deviden di masa datang.
(Munawir,1998:71)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sejak adanya kebijakan pemerintah untuk melikuidasi bank-bank
yang kurang sehat, sangat dirasakan adanya persaingan yang kian tajam
dalam dunia perbankan, terutama pada bank-bank yang go public. Bankbank
tersebut terus melakukan pengembangan. Pengembangan dilakukan
baik pada manajemen bank maupun pelayanan pada para nasabah. Kita
ketahui bahwa kegiatan pokok Bank adalah memberikan kredit kepada
masyarakat dan menyimpan dana dari masyarakat, oleh karena itu para
banker harus pandai-pandai mengelola bank tersebut agar tetap dipercaya
masyarakat dan tidak terlikuidasi.
Menurut Fabozzi dalam bukunya Manajemen Investasi ada tiga
sumber dana bank yaitu simpanan (deposit), pinjaman bukan simpanan
(non-deposit), dan saham biasa dan laba ditahan sehingga selain dengan cara
menarik dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, bank juga
memperoleh tambahan modal yang cukup besar dengan penerbitan saham,
semakin banyak jumlah saham yang diterbitkan semakin besar dana yang
diperoleh dari masyarakat untuk mengembangkan usaha bank tersebut dan
menutup kerugian-kerugian yang bisa dialami bank sewaktu-waktu,
sehingga sampai saat ini banyak bank yang memasarkan sahamnya baik di
bursa lokal maupun di bursa-bursa dunia
1
28
2.7 Hipotesis
Dengan mengacu pada rumusan masalah, tinjauan teoritis dan
beberapa penelitian terdahulu yang telah diuraikan maka hipotesis yang
diajukan adalah:
Ha : ada pengaruh antara profitabilitas dan likuiditas terhadap return
saham Bank di Bursa Efek Jakarta.
27
meningkat, maka dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang
dimiliki pemegang saham.
Likuditas menunjukkan kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Semakin besar likuiditas Bank maka semakin baik pula
kinerja jangka pendek Bank tersebut, sehingga investor dan nasabah Bank
tersebut akan semakin percaya kepada bank tersebut, hal tersebut akan
berimbas pada peningkatan harga saham, dan akan berakibat pada naiknya
return saham. Likuiditas sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek
efisiensi modal kerja yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi
pemegang saham yang ingin mengetahui prospek dari deviden dimasa yang
akan datang. (Munawir,1998:71)
Penelitian tentang hubungan rasio profitabilitas yang dikaitkan dengan
return saham antara lain dilakukan oleh Sunarto (2002) dengan judul
“Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return Saham
Perusahaan Manufaktur di BEJ” menunjukkan bahwa profitabilitas secara
signifikan berpengaruh positif terhadap return saham di bursa.
Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Syahib Natarsyah (2000)
menunjukkan bahwa profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif
terhadap harga saham di pasar sekunder. Hasil penelitiannya konsisten dengan
peneliti terdahulu
Berdasarkan uraian diatas maka hubungan antar variabel dalam
penelitian ini dapat dinyatakan dalam model sebagai berikut:
Profitabilitas
Likuiditas
RETURN
SAHAM
26
Dari pernyataan diatas maka profitabilitas dan likuiditas mempengaruhi
investor dalam menanamkan modalnya, sehingga berpengaruh juga pada
return saham
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham secara
langsung adalah:
1) Kondisi fundamental perusahaan
2) Hukum permintaan dan penawaran
3) Suku bunga
4) Kurs valas
5) Dana asing di bursa
6) Indeks harga saham
7) News and rumors
8) Deviden
9) Laba
10) Faktor lain
(Arifin,2001,110-128)
Profitabilitas menunjukkan kinerja perusahaan dalam menghasilkan
laba. Jika kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba meningkat
maka hal ini akan menunjukkan daya tarik bagi investor dan calon investor
dalam menanamkan modalnya ke perusahaan. Jika permintaan saham
meningkat maka harga saham akan cenderung meningkat. Hal ini akan
berakibat pada naiknya return saham. Pernyataan tersebut sesuai dengan
pendapat Suad Husnan dalam bukunya “Dasar-dasar Teori Portofolio dan
Analisis Sekuritas” yang menyatakan bahwa apabila profitabilitas perusahaan
25
2.6 Kerangka Berpikir
Informasi yang diperlukan oleh para investor di pasar modal tidak
hanya informasi yang bersifat fundamental saja, tetapi juga informasi yang
bersifat teknikal. Informasi yang bersifat fundamental diperoleh dari kondisi
intern perusahaan, dan informasi yang bersifat teknikal diperoleh dari luar
perusahaan, seperti ekonomi, polotik, finansial, dan faktor-faktor lainnya.
Informasi yang diperoleh dari kondisi intern perusahaan yang lazim
digunakan adalah informasi laporan keuangan. Informasi fundamental dan
teknikal tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memprediksi return
bagi investor, resiko atau ketidakpastian, jumlah, waktu, dan faktor lain yang
berhubungan dengan aktivitas investasi pada modal. Dari laporan keuangan
tersebut investor akan memperoleh informasi tentang likuiditas, profitabilitas,
solvabilitas, dan rasio lain yang berhubungan dengan pasar.
Dengan berbekal proyeksi ekonomi yang lengkap, analis mulai menilai
kinerja suatu perusahaan dengan cara memproyeksikan pada lingkungan
bisnis, analisis ini mencakup evaluasi perusahaan mengenai:
1) Manajemen
2) Program riset dan pengembangan
3) Kekuatan finansial
4) Likuiditas
5) Hubungan perburuhan
6) Efisiensi dan kemampuan menghasilkan laba
7) Prospek pertumbuhan
8) Goodwill
(Sitompul , 2000:85)
24
investor dimasa datang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya
sudah terjadi, return ekspektasi sifatnya belum terjadi.
Return yang diperoleh dari pemilikan saham dapat berupa deviden
dan capital gain/loss. capital gain/loss adalah selisih lebih atau kurang
dari harga saham. Deviden digunakan untuk mengukur kinerja saham
berdasarkan deviden yang dibagikan, semakin besar deviden maka saham
tersebut semakin menarik bagi investor. Semakin tinggi harga saham
menunjukkan bahwa saham tersebut semakin diminati investor karena
dengan semakin tinggi harga saham akan menghasilkan capital gain yang
besar pula.
Return realisasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah capital
gain /loss yang sering juga disebut actual return. Besarnya actual return
dapat dihitung dengan formula sebagai berikut.
1
( 1)
-
- -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t ( periode penutupan/
terakhir).
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000: 108)
23
2.5 Return Saham
a. Saham
Saham adalah salah satu bentuk efek yang diperdagangkan dalam
pasar modal. Saham merupakan surat berharga sebagai tanda pemilikan
atas perusahaan penerbitnya (Ang,1997:11). Saham juga berarti sebagai
tanda penyertaan atau pemilikan seorang atau badan dalam suatu
perusahaan terbuka (Tjiptono Darmaji dan Hendi M. Fakhrudin, 2001:5).
Saham menarik bagi investor karena berbagai alasan. Bagi beberapa
investor, membeli saham merupakan cara untuk mendapatkan kekayaan
besar (capital gain) yang relatif cepat. Sementara bagi investor yang lain,
saham memberikan penghasilan yang berupa deviden.
Adapun jenis-jenis saham antara lain saham biasa (common stock)
saham preferen (preferren stock) dan saham komulatif preferen
(commulative preferren stock) (Riyanto, 1999:240).
b. Return Saham
Return merupakan pengembalian suatu hasil yang diperoleh dari
suatu infestasi. Return saham dibagi menjadi dua macam yaitu return
realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return
realisasi merupakan return yang telah terjadi dan dihitung berdasarkan
data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu
pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis juga berguna sebagai
sebagai dasar penentuan return ekspektasi dimasa yang akan datang.
Return ekspektasi merupakan return yang diharapkan akan diperoleh
22
informasi ini juga membantu manager dalam mengawasi efisiensi modal kerja
yang digunakan dalam perusahaan, informasi ini juga dibutuhkan oleh kreditor
jangka panjang dan pemegang saham yang ingin mengetahui prospek dari
pembayaran deviden dan pembayaran bunga dimasa yang akan datang.
Suatu perusahaan dikatakan memiliki kondisi keuangan yang kuat
apabila mampu memenuhi:
1. Memenuhi kewajiban-kewajibanya tepat waktu
2. Memelihara modal kerja yang cukup untuk biaya operasional
3. Membayar bunga dan deviden yang dibutuhkan
4. Memelihara tingkat kredit yang menguntungkan
(Munawir, 1998;72)
Dalam penelitian ini yang diukur untuk mengukur likuiditas adalah infesting
policy ratio
Infesting policy ratio
Infesting policy ratio merupakan kemampuan bank dalam melunasi kewajiban
kepada para deposannya dengan cara melikuidasi surat-surat berharga yang
dimilikinya, semakin tinggi IPR akan semakin tinggi likuiditas bank terhadap
deposannya. IPR dihitung dengan rumus :
x100%
total deposit
Securities
IPR =
(Abdullah,2004:269)
21
3) Dapat diuji kebenarannya, hasil-hasil akuntansi dibenarkan
oleh ukuran-ukuran yang independen, menggunakan metode
pengukuran yang sama.
4) Netral, informasi akuntansi diarahkan pada kebutuhan umum
dan bukan kebutuhan khusus pemakai.
5) Tepat waktu, dilakukan untuk menghindari keterlambatan
pembuatan keputusan ekonomi.
6) Dapat diperbandingkan, perbedaan-perbedaan seharusnya
tidak mengakibatkan perlakuan akuntansi yang berbeda.
7) Kelengkapan, semua informasi yang memenuhi persyaratan
tujuan kualitatif lain harus dipaparkan.
2.3 Profitabilitas
Profitabilitas yaitu kemampuan suatu bank dalam menghasilkan laba
usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk
menghasilkan laba tersebut (Riyanto, 1999:36).
Dalam penelitian ini yang akan dianalisis pengaruhnya terhadap return saham
adalah laba setelah pajak.
2.4 Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan Bank dalam melunasi kewajiban yang
ditagih sewaktu-waktu (Rakub, 2003:58). Tidak hanya nasabah dan kreditor
saja yang membutuhkan informasi tentang likuiditas perusahaan, namun
20
2) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang
hubungan sumber daya bersih sebagai hasil dari aktivitasaktivitas
perusahaan yang menghasilkan profit dengan tujuan
untuk:
a) Menunjukkan tingkat kembalian deviden harapan bagi
investor.
b) Menunjukkan kemampuan operasi untuk membayar
kreditor dan pemasok.
c) Menyediakan informasi bagi manajemen untuk
perencanaan dan pengendalian.
d) Menunjukkan provitabilitas jangka panjang.
3) Menyediakan informasi keuangan yang dapat digunakan
untuk mengestimasi earning potensial perusahaan.
4) Menyediakan informasi lain yang dibutuhkan tentang
perubahan sumber daya ekonomi dan kewajiban.
5) Menyediakan informasi lain yang sesuai dengan kebutuhan
pemakai.
c. Tujuan kualitatif
Tujuan kualitatif dari laporan keuangan adalah:
1) Relevan, memilih informasi yang mungkin membantu
pemakai dalam pembuatan keputusan ekonomi.
2) Dapat dipahami, selain harus jelas informasi yang dipilih juga
harus dapat dipahami pemakai.
19
antar data keuangan perusahaan atau aktivitas suatu perusahaan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas
perusahaan (Munawir, 1998:2).
Dalam SAK disebutkan bahwa laporan keuangan merupakan
bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang
lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan
perubahan posisi keuangan, dan bagian lain yang integral dari laporan
keuangan. Disamping itu juga termasuk skedul segmen industri dan
geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan (IAI, 2002:07).
Jadi, dari pengertian-pengertian diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi
yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan.
Tujuan laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan seperti dinyatakan dalam Bab 4
accounting principle board statemen No. 4 adalah (Riahi-Belkauli,
2000:126):
a. Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar
sesuai prinsip akuntansi berterima umum, posisi keuangan, hasil
operasi dan perubahan lain dalam posisi keuangan.
b. Tujuan umum laporan keuangan adalah :
1) Menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang sumber
daya ekonomi dan kewajiban suatu usaha bisnis.
18
hanya broker yang dapat melakukan transaksi di lantai bursa
berdasarkan order dari investor.
Dengan sistem lelang kontinyu maksudnya harga transaksi
ditentukan oleh penawaran dan permintaan dari investor. Untuk sistem
manual harga penawaran terrendah (ask price) dan harga pembelian
tertinggi (bid price) dari investor diteriakkan oleh broker di lantai
bursa. Untuk sistem otomasi dengan JATS, broker memasukkan order
dari investor ke workstation JATS di lantai bursa. Kemudian akan
diproses oleh komputer dan akan menemukan harga transaksi yang
cocok dengan pertimbangan waktu urutan dari order. Sistem lelang ini
akan terus dilakukan selama jam kerja sampai ditemukan harga
kesepakatan.
PT. BEJ merupakan perusahaan swasta yang menyediakan
jasa fasilitas perdagangan sekuritas. Untuk membiayai aktivitasnya,
salah satu sumber penghasilan BEJ adalah komisi dari broker akibat
terjadinya transaksi. Broker membayar komisi ke BEJ karena
menggunakan fasilitas yang disediakan oleh BEJ dan broker menerima
komisi dari investor karena melakukan order yang diinginkan investor.
2.2 Laporan Keuangan
2.2.1 Pengertian Laporan keuangan.
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses
akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi
17
menyelenggarakan bursa. Karena 3 kebijakan inilah pasar modal
menjadi aktif untuk periode 1988 hingga sekarang.
Bursa efek (pasar modal) yang terbesar di Indonesia adalah
bursa efek Jakarta (BEJ) yang juga dikenal dengan nama asingnya
sebagai Jakarta stock exchange (JSX). Bursa efek terbesar setelah BEJ
adalah Bursa efek Surabaya (BES) atau Surabaya Stock Exchange
(SSX). Sekuritas yang terdaftar di BEJ juga diperdagangkan di BES.
Era pasar modal di Indonesia dapat dibagi menjadi enam periode,
yaitu:
a. Periode pertama (1912-1942): periode jaman belanda
b. Periode kedua (1952-1960): periode orde lama
c. Periode ketiga (1977-1988): periode orde baru
d. Periode keempat (1988-1995): periode bangun dari tidur yang
panjang
e. Periode kelima (mulai 1995): periode otomatisasi
f. Periode keenam (mulai Agustus 1997): krisis moneter
2.1.5 Sistem Perdagangan di Bursa Efek Jakarta
Transaksi perdagangan di BEJ menggunakan order-driven
market system dan sistem lelang kontinyu (continous auction system).
Dengan order-driven market sistem berarti bahwa pembeli dan penjual
sekuritas yang ingin melakukan transaksi harus melalui broker.
Investor tidak dapat langsung melakukan transaksi di lantai bursa,
16
Pada masa pemerintahan Orde Baru kepercayaan masyarakat
terhadap mata uang Rupiah mulai pulih. Tanggal 10 Agustus 1977
berdasar Keppres RI No. 52 tahun 1976 pasar modal diaktifkan
kembali dan go public nya di beberapa perusahaan. Perkembangan
pasar modal selama tahun 1977-1987 mengalami kelesuan meski
pemerintah telah memberikan fasilitas kepada perusahaan-perusahaan
yang memanfaatkan dana dari bursa efek.
Untuk menyempurnakan sistem pasar modal saat itu,
pemerintah mengeluarkan beberapa deregulasi yang berkaitan dengan
perkembangan pasar modal, paket kebijakan Desember 1987 (pakdes
87), paket kebijakan Oktober 1988 (pakto 88)dan paket kebijakan
Desember 1988 (pakdes 88).
PAKDES 87 merupakan penyederhanaan persyaratan proses
emisi saham dan obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelum
dipungut oleh BAPEPAM, seperti biaya pendaftaran emisi efek.
Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli
efek maksimal 49% dari total emisi, serta menghapus batasan fluktuasi
harga saham di bursa efek.
PAKTO 88 ditujukan untuk sektor perbankan, namun
mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal.
PAKDES 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih
jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk
15
Hindia Belanda. Dengan demikian, dapat dikatakan pecahnya perang
Dunia II menandai berakhirnya aktivitas pasar modal pada jaman
penjajahan Belanda.
Setahun setelah pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI,
tepatnya pada tahun 1950, obligasi Republik Indonesia dikeluarkan
oleh pemerintah. Peristiwa ini menandai mulai aktifnya kembali pasar
modal Indonesia. Diterbitkannya Undang-Undang Darurat No. 13
tanggal 1 September 1951 yang kemudian ditetapkan sebagai Undang-
Undang No. 15 tahun 1952 tentang bursa pemerintah RI membuka
kembali BEJ pada tanggal 31 Juni 1952. Penyelenggaraannya
diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek ( PPUE )
yang terdiri dari 3 bank negara dan beberapa makelar efek lainnya
dengan Bank Indonesia sebagai penasihat.
Sejak itu bursa efek berkembang dengan pesat, meskipun efek
yang diperdagangkan adalah efek yang dikeluarkan sebelum Perang
Dunia II. Para pelaku pasar masih didominasi oleh pemodal asing dari
Belanda. Pada tahun 1958 mulai terjadi kemunduran bursa akibat
hubungan politik Indonesia-Belanda yang semakin memburuk. Dan
memuncak ketika semua perusahaan Belanda di Indonesia diambil
alih, sesuai dengan UU Nasionalisasi No 86 tahun 1958. Tingkat
inflasi yang tinggi ketika itu, makin mengurangi kepercayaan
masyarakat terhadap pasar uang dan pasar modal, juga terhadap
Rupiah yang mencapai puncaknya pada tahun 1966.
14
memulai perdagangan. Di tingkat Asia, bursa Batavia tersebut
merupakan yang tertua ke-4 setelah Bombay, Hongkong, dan Tokyo.
Pada masa-masa permulaan hanya terdapat 13 anggota bursa
yang aktif dan memperdagangkan saham serta obligasi
perusahaan/perkebunan Belanda yang beroperasi di Indonesia serta
obligasi yang diterbitkan pemerintah (propinsi dan kotapraja),
sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang diterbitkan
oleh pemerintah Belanda.
Perkembangan pasar modal di Batavia tersebut begitu pesat
sehingga menarik masyarakat kota lainnya. Untuk menampung minat
tersebut, pada tanggal 11 Januari 1925 di kota Surabaya dan 1 Agustus
1925 di kota Semarang resmi didirikan bursa. Perkembangan pasar
modal saat itu juga tidak terlepas dari tingginya permintaan rempahrempah
di Eropa. Hal ini menjadi daya tarik bagi para penanam modal
untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan perkebunan yang
mendominasi bursa pasar modal di Indonesia.
Pada permulaan tahun 1939, suhu politik di Eropa
menghangat. Melihat keadaan ini, pemerintah Hindia Belanda
mengambil kebijakan untuk memusatkan perdagangan efeknya di
Batavia serta menutup bursa di Surabaya dan Semarang namun pada
tanggal 17 Mei 1940 secara keseluruhan kegiatan perdagangan efek
ditutup dan dikeluarkan peraturan yang menyatakan bahwa semua
efek-efek harus disimpan didalam bank yang ditunjuk oleh pemerintah
13
adanya penurunan nilai mata uang untuk menginvestasikan
dananya.
b. Fungsi Kekayaan (Wealth Function)
Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan jangka
panjang dan jangka pendek sampai kekayaan tersebut dapat
dipergunakan kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan itu
tidak mengalami depresiasi (penyusutan) seperti aktiva lain.
c. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function)
Kekayaan yang disimpan dalam surat berharga, bisa dilikuidasi
melalui pasar modal dengan resiko yang lebih kecil dibandingkan
dengan aktiva lain. Proses likuidasi surat berharga dengan biaya
relatif murah dan lebih cepat.
d. Fungsi Pinjaman (Credit Function)
Pasar modal bagi suatu perekonomian Negara merupakan sumber
pembiayaan pembangunan dari pinjaman yang dihimpun dari
masyarakat. Perusahaan juga menjual obligasi di pasar modal
untuk mendapatkan dana dari masyarakat.
2.1.4 Pasar Modal Indonesia
Sekitar awal abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai
membangun perkebunan secara besar-besaran di Indonesia. Atas dasar
itulah maka pemerintah kolonial waktu itu mendirikan pasar modal
sebagai sarana penggalangan dana. Pada tanggal 14 Desember 1912,
Amserdame effectebueuers mendirikan cabang bursa efek di Batavia
bernama Vereniging voor de effectehandel ( bursa efek) dan langsung
12
keperluan industri dan keseluruhan entitas dalam memenuhi
permintaan dan penawaran modal.
Seberapa besar peranan pasar modal pada suatu Negara dapat
dilihat dari lima aspek berikut ini:
a. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan
penjual untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang
diperjualbelikan.
b. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk
memperoleh hasil (return) yang diharapkan.
c. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual
kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
d. Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian.
e. Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat
berharga. Karena biaya informasi ditanggung oleh semua pelaku
bursa, dengan demikian biayanya akan lebih murah.
Kelima aspek diatas memperlihatkan aspek mikro yang
ditinjau dari sisi kepentingan para pelaku pasar modal. Peranan pasar
modal dalam perekonomian nasional suatu Negara adalah sebagai
berikut:
a. Fungsi Tabungan (Saving Function)
Menabung dapat dilakukan di bawah bantal, celengan atau di
bank. Para penabung perlu memikirkan alternatif selain menabung
yaitu investasi. Surat berharga yang diperdagangkan di pasar
modal memberi jalan yang begitu murah dan mudah, tanpa resiko
11
a. Pasar perdana (primary market)
Pasar perdana adalah penawaran dari perusahaan yang
menerbitkan saham (emiten) kepada investor selama waktu yang
ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut
diperdagangkan di pasar sekunder.
b. Pasar sekunder (secondary market)
Pasar sekunder didefinisikan sebagai perdagangan saham setelah
melewati masa penawaran pada pasar perdana.
c. Pasar ketiga (third market)
Pasar ketiga adalah tempat perdagangan saham atau sekuritas di
luar bursa (over the counter market). Di Indonesia bursa ketiga
disebut bursa paralel.
d. Pasar keempat (fourth market)
Pasar keempat merupakan bentuk perdagangan efek antar investor
atau dengan kata lain pengalihan saham di suatu pemegang saham
ke pemegang saham lainnya tanpa melalui perantara pedagang
efek.
2.1.3 Peranan Pasar Modal
Pasar modal mempunyai peranan penting dalam suatu negara,
yang pada dasarnya peranan tersebut mempunyai kesamaan antara
satu negara dengan negara yang lain. Hampir semua negara di dunia
ini mempunyai pasar modal, yang bertujuan menciptakan fasilitas bagi
10
dengan mekanisme resmi untuk mempertemukan penjual dan pembeli
efek secara langsung atau melalui wakil-wakilnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah pasar yang
mempertemukan penjual dan pembeli sekuritas jangka panjang baik
dalam bentuk utang maupun modal sendiri secara langsung atau
melalui wakil-wakilnya. Sedangkan tempat di mana terjadinya jual
beli sekuiritas disebut bursa efek. Oleh karena itu bursa efek
merupakan arti pasar modal secara fisik. Di Indonesia terdapat dua
bursa efek yaitu bursa efek Jakarta (BEJ) dan bursa efek Surabaya
(BES).
Pasar modal dipandang sebagai salah satu sarana yang efektif
untuk menarik dana dari masyarakat yang kemudian disalurkan ke
sektor-sektor produktif. Pasar modal juga dapat dikatakan sebagai
wadah yang dapat menghilangkan monopoli sumber modal dan
monopoli kepemilikan perusahaan.
2.1.2 Jenis Pasar Modal
Penjualan saham kepada masyarakat dapat dilakukan dengan
beberapa cara. Umumnya penjualan dilakukan sesuai dengan jenis
ataupun bentuk pasar modal dimana sekuritas tersebut
diperjualbelikan. Jenis-jenis pasar modal tersebut ada beberapa macam
(Tandelilian, 2001: 31), yaitu:
9
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pasar Modal
2.1.1 Pengertian Pasar Modal
Secara formal pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar
untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang
yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal
sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities,
maupun perusahaan swasta (Husnan, 2000: 3).
Dalam Keppres No. 60 tahun 1998 pasal 1, yang dimaksud
pasar modal adalah bursa yang merupakan sarana untuk
mempertemukan penawaran dan permintaan dana jangka panjang
dalam bentuk efek. Selanjutnya dalam Undang-Undang Pasar Modal
No. 8 tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai kegiatan yang
bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan efek yang berkaitan dengan efek yang diterbitkan, serta
lembaga profesi yang berkaitan dengan efek.
Menurut Ahmad (1996: 18) pasar modal adalah pasar abstrak
sekaligus pasar konkret dengan barang diperjualbelikan adalah dana
yang bersifat abstrak, dan bentuk konkretnya adalah lembar surat-surat
berharga di bursa efek. Sedang bursa efek menurut J. Bogem (dalam
Ahmad, 1996: 18) pasar modal adalah suatu sistem yang terorganisasi
36
plot menunjukan pola tertentu maka model regresi dinyatakan memiliki
gejala heterokedastisitas
c. Autokorelasi
Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model
regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode
tertentu dengan kesalahan pengganggu periode sebelumnya. Autokorelasi
dapat terdeteksi dengan Durbin Watson Test.
d. Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah
model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya
memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah
distribusi data normal atau mendekati normal dengan menggunakan grafik
normal probability plot pada program SPSS. Jika data menyebar disekitar
garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas, sedangkan jika data menyebar jauh dari
garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model
regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
35
tidaknya gejala multikolinieritas dengan melihat harga VIF (Variance
Inflation Factor) melalui SPSS.
Untuk mengetahui adanya multikolinieritas menurut Santoso (2003:200)
dapat dilihat dari:
1) Besarnya VIF (Variance Inflation Vactor) dan Tolerance.
Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah
mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 dan mempunyai angka
Tolerance mendekati 1 ( tolerance=1 /VIF atau VIF=1/ tolerance ).
2) Besaran korelasi antar variabel independent
Pedoman suatu model regresi yang bebas multikoliinieritas
adalah koefisien korelasi antar variabel independent haruslah
lemah (dibawah 0,5). Jika korelasi kuat, maka terjadi problem
multikolinieritas.
b. Heterokedastisitas
Uji heterokedaskisitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam
sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual satu pengamatan
ke pengamatan lain sama maka disebut homokedaskisitas dan jika varian
berbeda disebut heterokedaskisitas. Model regresi yang baik adalah jika
tidak terjadi heterokedaskisitas.
Agar di dalam model regresi didapat penaksir yang efisien baik dalam
sampel besar maupun kecil maka dilakukan uji heterokedastisitas. Melalui
SPSS dapat dilihat pola yang dihasilkan dari scater plot. Apabila scater
34
Hipotesis untuk uji t:
H0 : b1,b2=0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara
parsial dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat
Ha : , 0 1 2 b b ¹ , artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara
parsial dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat
Kriteria uji yang digunakan adalah :
Jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak
Jika t hitung < t tabel maka H0 diterima
d. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur sejauh mana
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terkait. Nilai
R2 berada antara 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati 1 maka
variabel bebas hampir memberikan semua informasi untuk
memprediksi variabel terkait.
3.6 Pengujian Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertujuan untuk mengetahui apakah penaksir dalam
regresi merupakan penaksir linier tak bias terbalik. Untuk membuktikannya
dilakukan uji terhadap multikolinieritas, outokorelasi , heterokedastisitas dan
normalitas.
a. Multikolinieritas
Multikolinieritas menunjukan adanya hubungan yang sempurna antar
variabel bebas yang terdapat dalam regresi. Untuk mengetahui ada atau
33
Di mana:
Fh : Harga statistik F
KRR : Kuadrat rata-rata regresi
KRS : Kuadrat rata-rata simpangan
Hipotesis untuk uji F:
H0 : b1=b2=0, artinya tidak ada pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat
Ha : 1 2 0 b ¹ b ¹ , artinya terdapat pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat
Kriteria uji yang digunakan adalah :
Jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak
Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima
c. Uji t (secara parsial )
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
bebas (likuiditas dan profitabilitas bank) secara parsial terhadap
variabel terikat (return saham ). Rumus uji t adalah sebagai berikut
tan ( )
( )
s dar error i
Koefisienregresi i
t hitung
b
= b
Untuk menentukan t tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar
5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df= (n-k) dan (k-1)
dimana n adalah jumlah observasi, k adalah jumlah variabel termasuk
intersep.
32
3.5 Analisis Regresi
Analisis regresi bertujuan untuk mengetahui apakah suatu persamaan
regresi yang dapat dihasilkan adalah baik untuk mengestimasi nilai
variabel dependent. Oleh karena itu diperlukan uji F dan t.
a. Uji-t
Rumus:
Sbi
bi
t =
Di mana:
bi : koefisien regresi
Sbi : Standard Error Estimasi
Kriteria untuk menguji hipotesis adalah:
H0 : b1, b2 = 0, artinya tidak ada pengaruh signifikan antara variabel
bebas dan variabel terikat.
Ha : b1, b2 ¹ 0, maka terdapat pengaruh signifikan antara variabel
bebas dan variabel terikat
b. Uji-F
Digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh secara bersama-sama
antara variabel bebas dan variabel terikat.
Rumus:
KRS
KRR
Fh =
31
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
a. Metode dokumentasi
Melalui metode dokumentasi didapat laporan keuangan bank yang
terdaftar di bursa efek Jakarta.
b. Metode studi pustaka
Pengumpulan data dengan membaca buku-buku, majalah, jurnal dan
sumber bacaan lain yang relevan
3.4 Metode Analisis Data
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah maka
teknik analisis yang digunakan adalah tehnik analisis kuantitatif dengan
metode analisis regresi berganda sebagai berikut:
Y = a + b X + b X + e 1 1 2 2
Y = Return saham
X1 = IPR
X2 = Profit after tax
b1,b2 = Koefisien X1,X2
a = Konstanta
e = Kesalahan Penggangu
( Algifari, 2000: 85)
30
Sedangkan bank yang tidak termasuk dalam sampel penelitian adalah
bank Artha Niaga Kencana, Bank Bumiputera, Bank Eksekutif Internasional,
Bank Kesawan, Bank Mandiri, BRI, dan bank Swadesi.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian adalah:
a. Variabel Independen (X), terdiri dari:
- Likuiditas X1 yang diukur dengan Infesting policy ratio
- Profitabilitas X2 yang diukur dengan laba setelah dikurangi pajak.
x100%
total deposit
Securities
IPR =
b. Variabel Dependen (Y),terdiri dari:
- Return Saham. Yang dihitung dengan:
1
1( )
-
- -
=
t
t t
it P
P P
R
Rit : Tingkat keuntungan saham i pada periode t.
P : Harga penutupan saham i pada periode t ( periode penutupan/
terakhir)
Pt-1 : Harga penutupan saham i pada periode sebelumnya.
(Jogiyanto, 2000: 108)
29
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Populasi Dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bank yang terdaftar di
BEJ periode 2002-2003 dan berjumlah 26 bank.
Dalam penelitian ini sampel diambil secara purposive sampling yaitu
pengambilan sampel yang berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan
keperluan penelitian dimana kriteria tersebut harus dipenuhi oleh sampel.
Kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah:
a. Bank tersebut menyampaikan laporan keuangan secara berturut-turut pada
tahun 2002-2003
b. Bank terdaftar di BEJ sebelum 2002
Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel sebanyak 19 bank, berikut ini
disajikan data bank yang dijadikan objek penelitian
Tabel 3.1
Daftar bank yang dijadikan objek penelitian
NO BANK
NO
BANK
1 Bank Buana 11 BNI
2 BCA 12 Bank Niaga
3 Bank CIC 13 Bank NISP
4 Bank Danamon 14 BNP
5 Bank Danpac 25 Bank Pan Indonesia
6 Bank Global 26 Bank Permata
7 BII 17 Bank Pikko
8 Bank Lippo 18 Bank Victoria Intl
9 Bank Mayapada 19 Inter Pacific Bank
10 Bank Mega
5 5
investor pada bank tersebut. Dengan pengembangan usaha yang
dilakukan bank akan menambah sumber penghasilan bank dan
hasilnya akan dipetik investor pada masa datang dalam bentuk deviden
yang lebih besar maupun return saham yang lebih tinggi.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian-penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Sunarto (2002) dan Syahib Natarsyah
(2000), hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori Suad Husnan yang
menyatakan bahwa jika profitabilitas meningkat maka akan berdampak
pada peningkatan profitabilitas pemegang saham, juga sejalan dengan
teori Arifin yang menyatakan bahwa profitabilitas merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi return saham
5 4
berpengaruh terhadap return saham. Hal ini mungkin terjadi karena
investor mencari perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi
sehingga diharapkan dapat membagikan deviden yang tinggi pula hal
ini menyebabkan saham bank tersebut banyak dicari oleh investor yang
berimbas pada tingginya return saham bank tersebut.
Dari tabel 4.2 dapat dilihat bahwa profitabilitas yang dimiliki
oleh bank sangat bervariasi, ada bank yang mencapai tingkat
profitabilitas tinggi, ada yang naik tajam, turun tajam, stabil bahkan
ada yang terus merugi. Dengan profitabilitas yang tinggi tersebut bank
akan memiliki nilai saham yang semakin tinggi karena pembagian
deviden akan semakin besar, hal ini akan berpengaruh terhadap return
saham bank tersebut karena saham bank tersebut kemungkinan besar
akan dicari oleh para investor.
Alasan lain investor mencari saham bank dengan profitabilitas
tinggi adalah karena apabila suatu bank memiliki profitabilitas tinggi
tentunya bank tersebut akan lebih mudah mengalokasikan dananya
untuk memperkuat posisi likuiditas, mengembangkan usaha dan
tentunya sebagian dibagikan kepada para pemegang saham dalam
bentuk deviden. Dengan posisi likuiditas yang kuat, para pemegang
saham akan merasa aman menginvestasikan dananya pada bank
tersebut karena bank tersebut akan memiliki dana yang cukup apabila
ada penarikan dana dalam jumlah besar. Sehingga sangat kecil
kemungkinan bank tersebut mengalami krisis likuiditas yang akan
sangat berpengaruh buruk terhadap investasi saham yang dilakukan
5 3
yang rendah maka bank tersebut akan sangat membutuhkan dana dan
salah satu cara untuk mempertahankan dana yang masih ada adalah
dengan tidak membagikan deviden kepada para pemegang saham. Hal
inilah yang akan dihindari oleh investor sehingga menjadikan return
saham bank rendah.
Penting bagi perusahaan untuk memiliki tingkat likuiditas yang
tinggi sehingga perusahaan tersebut dapat membagikan deviden kepada
para pemegang sahamnya agar para pemegang saham tetap
mempunyai kesan baik terhadap bank tersebut. Perusahaan dengan
tingkat likuiditas yang tinggi kemungkinan besar akan membagikan
deviden dan bank yang memiliki likuiditas yang tinggi dianggap
memiliki prospek yang baik, keuntungan yang baik sehingga return
saham akan mengikuti naik turunnya likuiditas suatu perusahaan .
Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan oleh Sitompul
(2000:85) yang menyebutkan bahwa likuiditas merupakan salah satu
dari 8 faktor yang mempengaruhi return saham, maupun Arifin
(2001:110-128) yang menyatakan bahwa likuiditas merupakan salah
satu dari faktor fundamental yang mempengaruhi return saham.
b. Profitabilitas terhadap return saham
Nilai t hitung untuk variabel profitabilitas sebesar 2,390 di
konsultasikan dengan t tabel sebesar 1,691 sehingga tampak bahwa t
hitung lebih besar daripada t tabel yang berarti bahwa profitabilitas
5 2
a. Likuiditas terhadap return saham
Nilai t hitung sebesar 2,405 dikonsultasikan dengan nilai t tabel
sebesar 1,691 sehingga tampak bahwa variabel likuiditas berpengaruh
terhadap return saham. Hal ini kemungkinan terjadi karena investor
mencari bank yang memiliki modal dan likuiditas kuat sehingga
apabila terjadi penarikan dana secara besar-besaran di bank tersebut,
bank tersebut mampu menyediakan dana sebesar yang diminta. Karena
investor ingin memastikan investasi mereka aman investor akan
mencari bank dengan tingkat likuiditas yang tinggi sehingga saham
bank yang memiliki likuiditas tinggi tersebut banyak dicari oleh
investor yang menyebabkan tingginya tingkat return saham bank
tersebut.
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa tingkat likuiditas suatu bank
sangat bervariasi, hal ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan suatu bank.
Ada berbagai alasan mengapa suatu bank memiliki tingkat likuiditas
rendah salah satunya adalah bank ingin mengembangkan usahanya
sehingga mereka tidak perlu mencari sumber dana dari luar dengan
menekan tingkat likuiditas mereka. Karena bila mereka ingin memiliki
likuiditas yang tinggi maka mereka harus memiliki dana cadangan
yang besar pula.
Alasan lain mengapa investor mencari bank dengan likuiditas
yang tinggi adalah investor ingin memastikan bahwa mereka akan
mendapatkan deviden, karena apabila suatu bank memiliki likuiditas
5 1
Berdasarkan hasil penghitungan SPSS pada Normal probability
plot dapat dilihat bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan
mengikuti arah garis diagonal, sehingga model regresi memenuhi
asumsi normalitas.
4.5. Pembahasan
Berdasarkan penghitungan analisis regresi berganda dengan
program SPSS seperti pada lampiran diperoleh regresi linear berganda
sebagai berikut:
Y= 26,396+0,677 X1 + 8,547 X2
Yang berarti bahwa:
1) Koefisien konstanta a = 26,369
Yang berarti bahwa jika likuiditas dan profitabilitas bank=0 maka
return saham sebesar 26,369 %
2) Koefisien regresi X1 ( likuiditas)
Jika X1 naik satu poin sementara X2 tetap maka return saham akan
naik 0,677%
3) Koefisien regresi X2 ( Profitabilitas)
Jika X2 naik satu poin sementara X1 tetap maka return saham akan
naik sebesar 8,547%
Pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat
adalah sebagai berikut :
5 0
Dari grafik scatterplot pada lampiran terlihat titik-titik
menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola yang jelas, serta
tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini
berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga
model regresi layak dipakai untuk memprediksi return saham berdasar
masukan variabel independennya.
c. Uji Autokorelasi
Penyimpangan asumsi model klasik yang ketiga adalah adanya
autokorelasi. Hal ini untuk mengetahui apakah model regresi yang
dihasilkan dapat digunakan untuk menaksir nilai variabel dependen
pada nilai variabel tertentu.
Berdasarkan hasil penghitungan SPSS nilai uji Durbin Watson
yang diperoleh sebesar 1,842. tidak berada diantara D0 dan DL, yang
bernilai 1,416 sampai 1,530. Serta tidak berada pada nilai 4- D0 dan 4-
DL yang berada pada angka 2,37 sampai 2,583, nilai uji Durbin Watson
1,842 berada pada daerah yang tidak ada otokorelasi, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada persamaan regresi tersebut tidak terdapat
autokorelasi.
d. Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam
sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau
keduanya memiliki distribusi normal atau tidak.
4 9
4.4. Evaluasi ekonometri
a. Uji Multikiolinieritas
Penyimpangan asumsi klasik yang pertama adalah adanya
multikolinieritas pada model regresi yang dihasilkan dalam menaksir
nilai-nilai variabel independen.
Berdasarkan analisis data pada bagian coefficient pada lampiran
diketahui untuk kedua variabel independen, angka VIF ada di sekitar
angka 1 yaitu 1,001 demikian juga nilai tolerance yang mendekati
angka 1 yaitu 0,999.
Pada analisis data bagian coeficient terlihat semua angka
korelasi antar variabel independen jauh di bawah 0,5 yaitu -0,33.
Dengan demikian dapat disimpulkan model regresi tersebut tidak
terdapat multikolinieritas.
b. Uji Heterokedastisitas
Penyimpangan model asumsi klasik yang kedua adalah adanya
heteroskedaskisitas. Uji Heteroskedastisitas digunakan untuk
mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan
varian dari residual pengamatan yang satu ke residual pengamatan
yang lain. Jika varian residual dari pengamatan satu ke pengamatan
yang lain tetap, maka disebut homokedaskisitas, dan jika varian
berbeda disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah
tidak terjadi heteroskedastisitas (Santoso,2000:208).
4 8
Nilai t hitung untuk X2= 2,390 dibandingkan dengan t tabel sebesar
1,691 dari data tersebut tampak bahwa t hitung lebih besar dari t tabel (t hitung >
ttabel) yang berarti bahwa variabel profitabilitas berpengaruh terhadap
return saham bank di Bursa Efek Jakarta.
c. Koefisien determinasi
Dalam uji regresi linear berganda ini dianalisis pula besarnya
koefisien determinasi (R2) secara keseluruhan. Berdasarkan hasil
penghitungan SPSS seperti pada lampiran diperoleh hasil koefisien
determinasi (R2) sebesar 0,241. Hal ini berarti bahwa presentase
kontribusi X1 dan X2 terhadap Y sebesar 24,1% sedangkan 75,9%
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain likuiditas dan profitabilitas baik
faktor yang bersifat teknikal maupun fundamental yang tidak diungkap
dalam penelitian ini.
Koefisien determinasi sebesar 0,241 menunjukkan bahwa korelasi
atau hubungan antara return saham dengan likuiditas dan profitabilitas
adalah lemah karena angka tersebut dibawah 0,5. Selain koefisien
determinasi secara simultan dicari pula besarnya koefisien determinasi (r2)
parsialnya untuk masing-masing variabel bebas. Berdasarkan analisis data
pada lampiran pengaruh likuiditas(X1) secara parsial terhadap return
saham (Y) adalah 0,376 dikuadratkan menjadi 14,1%, sedangkan pengaruh
profitabilitas(X2) secara parsial terhadap return saham (Y) adalah 0,374
dikuadratkan menjadi 14%.
4 7
a. Uji simultan (Uji F)
Untuk membuktikan kebenaran hipotesis, peneliti menggunakan uji
F yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel X1 dan X2 mampu
menjelaskan atau berkontribusi terhadap variabel return saham dengan
cara membandingkan Fhitung dengan Ftabel,. Berdasarkan perhitungan
komputer dengan program SPSS pada lampiran diperoleh Fhitung sebesar
5,566 sedangkan Ftabel pada taraf signifikan 5% sebesar 5,25 sehingga dari
hasil penghitungan tampak bahwa Fhitung lebih besar dari Ftabel (Fhitung >
Ftabel), sehingga menolak H0 dengan demikian likuiditas dan profitabilitas
berpengaruh terhadap return saham bank yang terdaftar pada Bursa Efek
Jakarta.
b. Uji parsial (uji t)
Untuk menguji kemaknaan koefisien parsial digunakan uji t.
Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan perbandingan nilai t hitung
masing-masing koefisien regresi dengan nilai t tabel ( nilai kritis ) sesuai
dengan taraf signifikansi yang digunakan.
Berdasarkan penghitungan dengan program SPSS pada komputer
seperti pada lampiran diperoleh t hitung untuk X1 adalah 2,405 kemudian
thitung untuk X2 sebesar 2,390 sedangkan t tabel pada taraf signifikan 5%
sebesar 1,691. nilai t hitung untuk X1 adalah 2,405 dibandingkan dengan ttabel
sebesar 1,691 dari data tersebut tampak bahwa t hitung lebih besar dari t tabel
(t hitung>t tabel) yang berarti bahwa variabel likuiditas berpengaruh terhadap
return saham bank pada Bursa Efek Jakarta.
4 6
Yang berarti bahwa:
1) Koefisien konstanta a = 26,369
Yang berarti bahwa jika likuiditas dan profitabilitas bank=0 maka return
saham sebesar 26,369 %
2) Koefisien regresi X1 ( likuiditas)
Jika X1 naik satu poin sementara X2 tetap maka return saham akan naik
0,677%
3) Koefisien regresi X2 ( Profitabilitas)
Jika X2 naik satu poin sementara X1 tetap maka return saham akan naik
sebesar 8,547%
Analisis statistik yang digunakan adalah Uji F, Uji T, koefisien
determinasi (R2) pada tahap selanjutnya dilakukan evaluasi ekonometri
untuk menguji model regresi yang digunakan.
Tabel 4.4
Ringkasan perhitungan analisis regresi berganda
Keterangan Nilai
Konstanta
Koefisien X1( Likuiditas)
X2 (Profitabilitas)
Fhitung
R2
t hitung X1 (Likuiditas)
X2 (Profitabilitas)
r2 X1 (Likuiditas)
X2 (profitabilitas)
26,396
0,677
8,547
5,566
0,241
2,405
2,390
0,141
0,14
4 5
Pada tabel 4.3 mengenai return saham bank pada tahun 2002-
2003 terlihat jelas perkembangan return saham bank pada tahun
tersebut, dimana pada tahun tersebut perbankan Indonesia sedang
berusaha bangkit dari masa krisis pada akhir era 1990 an. Pada tahun
2002, sebagian bank yang kami teliti mengalami return saham yang
positif, hanya ada tujuh bank (37%) yang mengalami return saham
negatif yaitu Bank CIC, Bank Danpac, Bank Niaga, Bank Pan
Indonesia, Bank Permata, Bank Pikko dan Inter Pacific Bank.
Sementara bank yang mencapai return saham paling tinggi adalah
Bank Lippo.
Sementara pada tahun 2003, 53% bank mengalami
peningkatan return saham dan hanya tiga (16%) bank yang
mengalami return saham negatif, yaitu Bank Buana, Bank Global
dan Bank NISP. Sedangkan bank yang mengalami return saham
negatif pada tahun 2002 dapat mencapai return saham positif
kenaikan return saham paling fenomenal dicapai oleh Inter Pacific
Bank setelah mengalami return saham negatif pada tahun 2002, pada
tahun 2003 bank tersebut mengalami kenaikan yang signifikan.
4.3. Analisis Statistik
Dalam penelitian ini yang menggunakan bantuan komputer program
SPSS dapat diperoleh regresi linear berganda
Y= 26,396+0,677 X1 + 8,547 X2
4 4
masyarakat dapat memperoleh laba yang cukup besar seperti BCA,
BNI dan Bank Buana.
Pada tahun 2003 63% bank yang mengalami peningkatan
laba dan hanya 2 bank yang mengalami kerugian yaitu bank CIC
Intl, dan Bank Lippo. Kenaikan laba terbesar dialami oleh bank
permata.
4.2.3. Return Saham
Data mengenai return saham bank pada tahun 2002-2003
dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 4.3
DATA RETURN SAHAM BANK DI BEJ TAHUN 2002 2003
NO BANK
RETURN SAHAM
2002
RETURN SAHAM
2003
P0 P1 Y P0 P1 Y
1 Bank Buana 900 1425 58% 675 550 -19%
2 BCA 1950 2500 28% 2250 3325 48%
3 Bank CIC 140 75 -46% 70 125 79%
4 Bank Danamon 275 350 27% 800 2025 153%
5 Bank Danpac 600 450 -25% 500 500 0%
6 Bank Global 90 120 33% 110 105 -4%
7 BII 20 50 15% 45 110 144%
8 Bank Lippo 45 260 478% 215 450 109%
9 Bank Mayapada 120 135 13% 135 135 0%
10 Bank Mega 850 1000 18% 1000 1150 15%
11 BNI 105 110 5% 95 1300 1268%
12 Bank Niaga 55 35 -36% 35 35 0%
13 Bank NISP 220 400 45% 425 365 -14%
14 BNP 650 675 4% 675 725 7%
15 Bank Pan Indonesia 255 180 -29% 170 285 68%
16 Bank Permata 40 25 -38% 20 30 50%
17 Bank Pikko 300 185 -38% 175 200 14%
18 Bank Victoria Intl 25 35 4% 50 50 0%
19 Inter Pacific Bank 80 10 -88% 15 120 700%
4 3
Tabel 4.2
DATA PROFITABILITAS BANK DI BEJ TAHUN 2002-2003
NO BANK PROFITABILITAS
%Kenaikan/
penurunan
PROFIT AFTER TAXES
2002 2003
1 Bank Buana 259.900 251.248 -33%
2 BCA 3.129.291 2.541.631 -18,5%
3 Bank CIC -125.521 -624.803 -398%
4 Bank Danamon 722.9 948.034 31%
5 Bank Danpac 12.316 9.016 -26.8%
6 Bank Global -12.342 12.99 105%
7 BII -4.130.540 4.376 100%
8 Bank Lippo 270.569 -506.455 -287%
9 Bank Mayapada -21.379 6.594 131%
10 Bank Mega 28.524 180.302 532%
11 BNI 1.756.660 2.508.046 43%
12 Bank Niaga 200.18 141.119 29,5%
13 Bank NISP 71.893 92.916 29%
14 BNP 18.238 18.245 0,0004%
15 Bank Pan Indonesia 2.207 100.809 447%
16 Bank Permata 5.388 808.211 1490%
17 Bank Pikko 13.345 7.549 -43%
18 Bank Victoria Intl -1.259.177 6.139 100%
19 Inter Pacific Bank 24.484 3.735 -85%
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa Besarnya profit
bank sangatlah fluktuatif dan bukan hanya dipengaruhi oleh modal
kerja bank yang besar, namun juga dipengaruhi oleh banyak hal baik
yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan.
Pada tahun 2002 ada 26% bank mengalami kerugian, namun banyak
juga bank yang mendapat laba yang cukup besar, kebanyakan bank
mengalami kerugian karena tidak mampu menutup biaya operasional
bank tersebut. Sedangkan bank-bank besar yang dipercaya
4 2
tahun 2002 ada 36% bank yang memiliki likuiditas dibawah 5%
seperti Bank Nusantara Parahiangan yang memiliki investing policy
ratio hanya 0.5% namun keuntungan mereka mencapai 18,238
miliar, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa BNP lebih
mengutamakan untuk mendapatkan laba daripada memperkuat posisi
likuiditas perusahaan. Hal ini berbeda dengan Bank Global yang
lebih mengutamakan posisi likuiditas mereka sehingga mereka
menderita rugi yang cukup besar. Namun ada juga bank yang
memiliki likuiditas dan profitabilitas yang seimbang dikarenakan
posisi keuangan mereka yang kuat seperti Bank Buana dan BCA.
Pada tahun 2003 ada 44% bank yang meningkatkan likuiditasnya
termasuk BNP yang meningkatkan likuiditasnya hingga 10%, hal
tersebut juga dilakukan oleh Bank Mayapada yang berakibat Bank
tersebut mengalami kerugian. Pada tahun 2003 Bank Buana dan
BCA menurunkan likuiditas mereka dengan memindahkan dana
mereka untuk melakukan investasi maupun pengembangan agar
mendapatkan peningkatan laba. Hal yang menarik adalah posisi
likuiditas Bank Victoria Internasional yang mengalami peningkatan
tingkat likuiditas diatas 200%
4.2.2. Profitabilitas
Pada tabel 4.2 ditampilkan data mengenai profitabilitas bank pada
tahun 2002-2003
4 1
4.2. Deskripsi Variabel
4.2.1. Likuiditas
Dalam tabel 4.1 berikut ini akan kami sajikan data likuiditas bank di
BEJ tahun 2002-2003
Tabel 4.1
DATA LIKUIDITAS BANK DI BEJ TAHUN 2002- 2003
TAHUN 2002 TAHUN 2003
NO BANK LIKUIDITAS LIKUIDITAS
SECURITIES
TOTAL
DEPOSIT
INVESTING
POLICY
RATIO SECURITIES
TOTAL
DEPOSIT
INVESTING
POLICY
RATIO
1 Bank Buana 7.441.569 10.968.927 68% 6.863.839 10.968.927 62%
2 BCA 62.439.765 90.433.035 69% 53.223.884 103.902.961 53%
3 Bank CIC 2.300.146 400.972 57.40% 3.399.027 3.137.786 108%
4 Bank Danamon 2.462.692 39.799.052 6% 3.558.481 34.898 240 10%
5 Bank Danpac 17.674 572.113 3% 33.536 725.142 5%
6 Bank Global 481.279 750.474 64.10% 871.745 1.282.367 68%
7 BII 569.935 24.986.957 2% 647.128 29.222.246 2%
8 Bank Lippo 907.434 20.027.996 4% 816 200 22.664.887 4%
9 Bank Mayapada 281 1.309.216 0.20% 281 1.910.631 0.10%
10 Bank Mega 1.289.845 10.115.151 12% 600.053 9.941.328 6%
11 BNI 4.666.612 100.474.707 4.60% 4.281.313 96.990.299 4%
12 Bank Niaga 1.117.902 17.279.102 6.50% 1.034.705 17.905.808 6%
13 Bank NISP 1.214.417 4.7437.536 25% 1.1217.810 7.489.131 15%
14 BNP 8.878 1.498.215 0.50% 141.171 1.430.363 10%
15
Bank Pan
Indonesia 957.807 17.461.991 5.40% 1.690.223 11.000.829 15%
16 Bank Permata 12.269.847 21.449.386 5.50% 13.476.870 21.894.456 62%
17 Bank Pikko 332.874 860.168 40% 663.488 1.627.634 40%
18
Bank Victoria
Intl 1.087.430 1.200.124 90% 753.198 1.361.640 55%
19
Inter Pacific
Bank 151.144 650.005 251% 188 760 25.098 726%
( Sumber: Laporan Keuangan Bank )
Berdasarkan laporan keuangan bank diatas, penulis
menyampaikan data likuiditas bank tahun 2002-2003 yang dihitung
melalui investing policy ratio, investing policy ratio setiap bank
berbeda-beda tergantung dari kebijakan dari bank tersebut.pada
4 0
Bank Umum, Bank Tabungan Negara dan Bank Pembangunan.
Disamping itu banyak juga Bank-bank Swasta Nasional maupun
Bank Swasta Asing. Terakhir saat sekarang kita kenal jenis Bank
berdasarkan UU RI tentang perbankan No. 10 Tahun 1998 yang
merupakan perubahan dari UU No. 7 Tahun 1992 yaitu : Bank
Indonesia (Sentral) bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat
(BPR). Khusus Bank Indonesia diatur lebih rinci dalam UU RI No.
23 Tahun 1999.
4.1.2 Pengertian Bank dan Lembaga Keuangan Lain
Menurut surat Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia No 79 tahun 1990, lembaga keuangan adalah semua badan
yang kegiatannya dibidang keuangan, melakukan penghimpunan dan
penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai
investasi perusahaan. Walaupun dalam batasannya hanya untuk
investasi, tetapi dalam kenyataannya dapat dimanfaatkan untuk
berbagai kegiatan seperti distribusi barang jasa dan konsumsi.
Lembaga keuangan dibagi menjadi dua kelompok yaitu bank (bank
sentral, bank umum, bank perkreditan rakyat) dan lembaga keuangan
bukan bank termasuk leasing, pegadaian, asuransi, dana pensiun.
3 9
wesel berjangka pendek, sedang kredit laut termasuk kredit yang
berjangka panjang.
Dinamika dalam kehidupan ekonomi yang terus bergerak
maju, perkembangan perbankan selalu mengikutinya. Namun suatu
kegiatan perbankan tidak dapat lepas dari permasalahan terutama
cara pengaturan sistem keuangan yang terkait dengan mekanisme
penentuan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat. Muncullah
beberapa paham seperti paham merkantilisme dan paham liberalisme
ekonomi yang menjawab permasalahan tersebut di atas.
Bagaimana perkembangan perbankan di Indonesia ?
Kita awali jaman penjajahan Belanda, terdapat beberapa bank
yang dibentuk oleh pemerintah belanda seperti : 1) De Javanche
N.V.; 2) De Post Paar Bank; 3) Nederland Handles Moatschappij
(NHM); 4) Nasional Handles Bank (NHB); 5) De Segemene Volks
Crediet Bank dan 6) De Escomto Bank N.V. Disamping itu terdapat
pula bank-bank milik pribumi, China, Jepang dan Eropa lainnya,
antara lain : Bank Nasional Indonesia, NV Bank Bumi, Batavia
Bank, The Bank of China dll.
Pada Zaman Kemerdekaan, beberapa bank Belanda di
nasionalisir oleh pemerintah Indonesia, antara lain : Bank Negara
Indonesia 1946, Bank Dagang Negara, Bank Rakyat Indonesia, Bank
Dagang Nasional dll. Kemudian berdasarkan Undang-Undang No.
14 Tahun 1967 tentang perbankan, di Indonesia ada Bank Sentral,
3 8
Pada abad ke 16 era perbankan modern mulai dilakukan di
Inggris, Belanda dan Belgia. Para tukang emas bersedia juga
menerima uang logam (emas dan perak untuk di simpan). Penyimpan
emas memperoleh tanda bukti penyimpanan dengan syarat yang
disebut Goldsmith’s Noot yang dapat digunakan sebagai alat
pembayaran. Kemudian tukang emas bersedia mengeluarkan
Goldsmith’s Noot tanpa didukung cadangan emas atau perak dan
diterima oleh masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah terutama
dalam transaksi jual beli. Mulai saat itulah cikal bakal muncul uang
kertas. Banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan perbankan
seperti konsumen, produsen, para raja-raja serta organisasi gereja.
Untuk memperlancar transaksi jangka pendek maupun jangka
panjang lembaga-lembaga keuangan menjadi semakin penting
keberadaannya karena menyediakan jasa-jasa dalam lalu lintas
pembayarannya.
Pada awal era perbankan modern, pengaturan kredit dikenal 3
macam yaitu : perjanjian penjualan wesel dan pinjaman kontan. (J.
Sri Susilo dkk, 2000: 2). Perjanjian penjualan khusus untuk
membantu pembelian hasil-hasil panen dan membantu para
produsen. Wesel (bill of exchange) digunakan untuk pengiriman ke
luar negeri. Sedang pinjaman laut untuk para pembuat kapal.
Terakhir ini seperti KMKP yang pernah dilakukan/diberikan oleh
pemerintah Indonesia pada para pengusaha. Kredit penjualan dan
3777
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1 Sejarah Perkembangan Lembaga Keuangan
Sejarah mencatat asal mula adanya kegiatan perbankan sejak
jaman Babylonia, Yunani dan Romawi kemudian berkembang di
Asia Barat. (kurang lebih tahun 2000 sebelum Masehi). Pada waktu
itu praktek perbankan didominasi dengan transaksi peminjaman
emas dan perak pada kalangan pengusaha. Bank yang melakukan
praktek pinjam meminjam emas dan perak dikenal dengan nama
Temples of Babylon. Perkembangan selanjutnya (± tahun 500
sebelum Masehi) praktek perbankan menerima simpanan uang dari
masyarakat dan menyalurkannya pada para pengusaha. Bank
menarik biaya sebagai balas jasa pada masyarakat dan pengusaha.
Praktek perbankan tersebut disusul oleh Yunani dikenal
dengan nama Greek Tample yang menerima simpanan dan
meminjamkan uang pada masyarakat dengan menarik biaya
penyelenggaraannya. Perkembangan perbankan lebih lanjut, usaha
bank melayani masyarakat sudah lebih luas, selain sebagai tempat
simpanan dan memberi kredit juga deposito berjangka dan transfer
dana.
57
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka peneliti
memberikan saran sebagai berikut:
1. Hendaknya perusahaan meningkatkan likuiditas dan profitabilitasnya
apabila ingin menarik investor untuk menanamkan saham pada bank
tersebut.
2. Mengingat kecilnya prosentase pengaruh likuiditas dan profitabilitas yang
hanya 24,1% maka diperlukan penelitian lanjutan yang meneliti faktorfaktor
yang mempengaruhi return saham seperti Kondisi fundamental
perusahaan, Hukum permintaan dan penawaran, Suku bunga, Kurs valas,
Dana asing di bursa, Indeks harga saham, News and rumors, Deviden dan
berbagai Faktor lain.
3. Sebaiknya masyarakat menabung di bank yang memiliki likuiditas yang
baik sehingga ketika akan menarik dana secara tunai dari bank tidak
mengalami kesulitan.
56
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Likuiditas dan profitabilitas berpengaruh terhadap return saham pada bank
yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2002-2003. Besarnya
pengaruh yang diberikan oleh variabel likuiditas dan variabel profitabilitas
terhadap return saham sebesar 24,1% sedangkan 75,9% dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain selain likuiditas dan profitabilitas baik faktor yang
bersifat teknikal maupun fundamental yang tidak diungkap dalam
penelitian ini. Secara parsial variabel likuiditas berpengaruh sebesar 14,1%
terhadap return saham, sedangkan variabel profitabilitas berpengaruh
sebesar 14% terhadap return saham.
2. Variabel likuiditas mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap return
saham dibandingkan dengan variabel profitabilitas.
5 9
Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan Statistika Parametrik. Jakarta : PT Elek
Media Komputindo Gramedia
Santoso, Singgih. 2003. SPSS 11.00 For Windows. PT Elekmedia Komputindo
Gramedia
Sitompul, Anwar. 2000. Pasar Modal (Penawaran Umum Dan Masalahnya).
Bandung: Citra Aditya Bhakti.
Sunarto. 2001. Pengaruh Rasio Profitabilitas Dan Leverage Terhadap Return
Saham Perusahaan Manufaktur Di BEJ. Gema Stikubank. Edisi 33;
No 3 Hal. 63-82
Tandelilian, Eduardus. 2001.Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio Edisi
Pertama. Yogyakarta: BPFE
5 8
DAFTAR PUSTAKA
Abdulah, Faisal. 2004 Manajemen Perbankan (Teknik Analisis Kinerja
Keuangan Bank). Malang:UMM Press
Ahmad, Kamaruddin. 1996. Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja. Jakarta:
Rineka Cipta
Algifari. 2000. Analisis Regresi Teori Kasus Dan Solusi. Yogyakarta: BPFE
Arifin, Ali. 2001. Membaca Saham. Yogyakarta : Andi Offset
Ang, Robert. 1997. Pasar Modal Indonesia. Jakarta : Mediasoft Indonesia
Arikunto, Suharsimi.1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,
Jakarta: Rineka cipta
Belkauli. 2000. Teori Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat.
Darmaji, Tjiptono dan Fakhrudin. 2001. Pasar Modal Di Indonesia. Jakarta:
Salemba Empat
Fabozzi. 2001. Manajemen Investasi. Jakarta : Salemba Empat
Husnan, Suad. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas.
Yogyakarta: UMP YKPN.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta:
Salemba Empat
Jogiyanto. 2000. Analisis Sekuritas Dan Analisis Portofolio. Yogyakarta: BPFE
Munawir. 1998. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE
Natarsyah, Syahib. 2000. Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental
Dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham.Jurnal Ekonomi Dan
Bisnis Indonesia. Volume 15. No 3, Juli. Hal. 394-412.
Rakub, Niswatin. 2003. Kelembagaan Perbankan. Semarang: IKIP Press
Riyanto, Bambang.1999. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta:
BPFE

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.