Archive

Archive for the ‘Islamic Management’ Category

Berbisnis dengan Hati

July 28, 2010 Comments off

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 1 dari 48
Berbisnis
denganHati

The 10 Credos of
Compassionate Marketing
KH. ABDULLAH GYMNASTIAR
&
HERMAWAN KARTAJAYA
EDITOR :
YUSWOHADY
SUNARTO
MarkPlus&Co
Jakarta, 2004
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 2 dari 48
BAGIAN I
PENGANTAR
HERMAWAN KARTAJAYA
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 3 dari 48
KEJUJURAN SEBAGAI
KEUNGGULAN BERSAING
Oleh : Hermawan Kartajaya
Saya memikirkan compassionate marketing sejak tiga tahunan yang lalu saat
skandal keuangan merebak di Amerika yang memuncak dengan tumbangnya
perusahaan – perusahaan raksasa seperti Enron, Worldcom, atau Global Crossing.
Kasus manipulasi akuntansi terbesar dalam sejarah bisnis Amerika tersebut
menunjukkan keadaan kita betapa semakin tingginya kompleksitas bisnis,
semakin canggihnya tool – tool manajemen, dan semakain majunya perangkat
regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktek bisnis kita menjadi semakin
dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin kebablasan tanpa etika, tanpa
nilai – nilai moral, tanpa pegangan.
Saya berpikir apakah ini tanda akan datangnya akhir jaman. Bisnis telah kian
terpuruk oleh tangan – tangan orang yang tidak punya etika dan moral. Bisnis
tidak lagi dijalankan dengan semangat kejujuran dan keadilan. Apa yang kita lihat
dari skandal tersebut adalah betapa para pebisnis semakin membabi – buta
menghalalkan cara apapun untuk mengeruk keuntungan pribadi tanpa peduli hal
itu merugikan pihak lain. Para pebisnis semakin kehilangan nuraninya.
Kejadian di Amerika tersebut sesungguhnya bukanlah konsern utama saya.
konsern dan keprihatinan saya justru pada praktek bisnis yang sudah berjalan
bertahun – tahun di negeri ini. Kalau mau jujur, sesungguhnya apa yang terjadi di
Amerika itu sudah menjadi keseharian kita selama ini. Secara kebetulan berita
skandal itu di blow up besar – besaran media massa di seluruh dunia sehingga kita
tahu dan tersentak karenanya.
Tapi bagi kita yang di Indonesia skandal tersebut adalah biasa saja. Karena di
negeri ini praktek bisnis yang sepuluh kali lipat lebih kotor dari praktek bisnis
yang dijalankan para eksekutif Enron itu begitu banyak dan telah membudaya
selama tiga puluh tahun lebih.
Kongkalikong politisi – pengusaha!
Bisnis “nginjak kaki”!
Praktek suap dan mark – up!
Sogok – menyogok pejabat untuk memenangkan proyek!
Mendirikan bank untuk mengeruk duit masyarakat untuk mendanai bisnis grup!
Mengelabui bank untuk menguras koceknya!
Kolusi pejabat untuk mendapatkan monopoli!
Dan masih banyak lagi.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 4 dari 48
Kalau mau lebih detail lagi bacalah artikel, Saya Bermimpi Menjadi Konglomerat
– nya Pak Kwik Kian Gie.
Semula saya berpikir bahwa dengan bergantinya pemerintahan Orde Baru politik
di negeri ini akan lebih jujur dan adil. Sehingga kalau politiknya oke diharapkan
praktek bisnisnya juga oke. Tapi seperti kita tahu semua, wajah politik pasca Orde
Baru bukannya lebih baik malah lebih compang – camping.
Kalau dulu korupsi bisa secara rapi “dipusatkan” di pusat – pusat pemerintahan,
maka kini korupsi tersebut semakin meluas dan merajalela di tingkat kabupaten
bahkan kecamatan. Kalau dulu kongkalikong pengusaha – pejabat hanya terbatas
di Jakarta maka kini hal yang sama dilakukan di secara massif di tingkat
kabupaten – kecamatan. Tak heran jika negeri kita ini tak bergeming posisinya
sebagai negara terkorup di dunia. Praktek bisnis kotor yang selama puluhan tahun
melingkupi keseharian kita semakin menyadarkan saya bahwa kejujuran dan etika
bisnis kini sudah menjadi suatu yang langka di negeri ini.
Di negeri yang compang – camping etika bisnisnya, kejujuran merupakan
“resources” yang semakin langka bagi perusahaan. Dan tak bisa di-leverage
menjadi komponen penting keunggulan bersaing perusahaan. Karena godaan
untuk berbisnis secara tidak jujur itu demikian kuat di negeri ini, maka tak banyak
perusahaan yang mampu melakukannya.
Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa kejujuran bisa menjadi sumber keunggulan
bersaing yang sangat kokoh. Kenapa kokoh? Karena tak banyak perusahaan yang
mampu melakukannya dan kemampuan tersebut sulit ditiru pesaing. Dalam teori
manajemen, kalau sebuah perusahaan mampu melakukan sesuatu yang sulit ditiru
oleh pesaing maka ia akan memiliki daya saing yang kuat dan sustainable dalam
jangka panjang.
Saya melihat praktek bisnis dan marketing bergeser dan mengalami transformasi
dari level intelektual menuju ke emosional, dan akhirnya ke spiritual. Level
intelektual ditandai dengan penggunaan tool – tool marketing ampuh seperti
marketing mix, branding, positioning, dan sebagainya.
Lalu sejak sekitar sepuluh tahunan yang lalu konsep emotional marketing muncul
dan kini makin mendominasi praktek pemasaran yang dijalankan oleh para pelaku
bisnis. Saat ini varian dari emotional marketing ini sudah berkembang demikian
luas dan telah menjadi buzzword marketing yang popular. Sebut saja beberapa di
antaranya seperti : customer relationship management, experiential marketing,
emotional branding, dan sebagainya.
Tapi kini dan di masa datang, apalagi setelah pecahnya skandal keuangan yang
saya sebut di depan, saya melihat eranya akan bergeser kearah spiritual. Sehebat
apapun strategi bisnis yang Anda punyai, secanggih apapun tool marketing yang
Anda jalankan, semuanya tak akan ada gunanya kalau tidak dilandasi spiritualitas
yang kokoh, Mau bukti? Buktinya Enron, raksasa energi yang praktis habis dalam
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 5 dari 48
semalam karena tidak jujur kepada stakeholders-nya. Apapun bisnis Anda, rohnya
akan terletak pada kejujuran dan etika.
Saya sangat terkesan dengan logika yang dipakai Aa Gym mengenai berbisnis
yang jujur. Berikut ini ada perkataan Aa Gym, “Logikanya sederhana, Allah yang
menyuruh jujur, Allah yang memberi rezeki, untuk apa harus tidak jujur?”
Bisa dikatakan Aa Gym sudah seperti Raja Midas, apapun yang disentuhnya
menjadi emas. Maksudnya, apapun bisnis yang dimasukinya selalu membawa
kesuksesan. Kini beliau sudah mengelola 19 perusahaan dan semuanya
merupakan bisnis yang menguntungkan.
Semua kesuksesan tersebut kuncinya menurut Aa Gym cuma satu : Jujur.
Dalam tulisan ini berisi uraian Saya dan Aa Gym mengenai bisnis yang dilandasi
oleh kejujuran, etika, dan profesionalitas. Isinya sendiri merupakan rangkuman
dari butir – butir pemikiran Saya dan Aa Gym mengenai berbisnis yang jujur dan
beretika yang kami kemukakan dalam sebuah acara talk show dalam rangka
pengajian bulan Ramadhan tahun 2003 lalu.
Dalam tulisan ini Aa gym menguraikan prinsip – prinsip dasar bisnis yang
berlandaskan kejujuran dan Islam, tentu saja dalam konteks Manajemen Qolbu.
sementara saya menguraikan sebuah konsep terbaru yang sudah sejak setahun ini
saya gagas bersama rekan – rekan di MarkPlus&Co. yaitu apa yang saya sebut,
The 10 Credos of Compassionate Marketing.
Akhirnya saya berharap bahwa di negeri tercinta ini akan semakin banyak
perushaan yang mampu tumbuh, berkembang, dan memiliki daya saing kuat
karena prinsip kejujuran dan etika yang dipegang teguh. Betapa indah kalau
bisnis itu dijalankan dengan nurani.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 6 dari 48
BAGIAN II
PRINSIP – PRINSIP
COMPASSIONATE
MARKETING
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 7 dari 48
PRINSIP – PRINSIP BISNIS
DALAM ISLAM
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
“BUTA HATI, LEBIH BERBAHAYA, BUTA MATA
TIDAK NAMPAK DUNIA, BUTA HATI TIDAK NAMPAK
KEBENARAN, BUTA HATI DITIPU NAFSU
DAN SYAITAN.”

Saudara – saudaraku, andaikata tujuan sudah ditetapkan sepelan apapun kita
bergerak insyaallah merupakan suatu kemajuan. Tapi bagi orang yang tujuannya
tidak tetap, segigih apapun bergerak bisa jadi menuju kehancuran.
Oleh karena itu kalau kita berbicara bisnis itu tergantung tujuannya apa. Ada yang
tujuannya hanya uang, ada yang tujuannya kepuasan. Tapi sebagai muslim paling
tidak ada tiga tujuan yang harus kita pahami sebagai manusia yang diciptakan
Allah.
Pertama, kita diciptakan oleh Allah untuk menjadikan segala aktifitas kita
sebagai ibadah. Itu artinya bisnis bagi kita adalah ibadah, bukan semata – mata
mencari uang.
Kedua, tugas hidup kita menjadi khalifah. Kita diberi kesempatan hidup di dunia
satu kali oleh karena itu kita harus berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat
kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat
bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.
Ketiga, tugas kita dalam bahasa agama disebut dakwah. Artinya apapun aktifitas
yang kita lakukan harus menjadi pencerminan pribadi pribadi yang menjadi
teladan dalam kebenaran.
ini penting, ibadah, khalifah dan dakwah.
Saudaraku, ada orang yang sibuk dengan membanting tulang demi mencari sesuap
nasi. Ini rugi, sudah tulang yang dibanting hanya sesuap yang dicari.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 8 dari 48
Imam Ali pernah mengatakan , barang siapa yang memang kesibukannya hanya
untuk mencari isi perut, maaf derajatnya tidak jauh beda dengan apa yang keluar
dari perut.
Kalau hanya mencari makan apa bedanya dengan kambing?
Kalau hanya sekedar mencari uang, garong juga mencari uang.
Maka kita harus tahu bahwa kita tidak disuruh mencari uang.
Tetapi kita disuruh untuk menjemput rezeki karena setiap makhluk sudah
disiapkan rezekinya masing – masing.
Ada perbedaan mendasar antara “mencari” dan “menjemput”. Kalau “mencari itu
ada kemungkinan tidak mendapatkan apa yang dicari. Tapi kalau
“menjemput”,pasti ada. Maka itu sebabnya saya dalam bisnis tidak cemas lagi
dengan rezeki, dengan gaji karyawan, sebanyak apapun karyawan termasuk yang
cacat.
Kenapa? Karena setiap orang sudah ada rezekinya. Saya kasih contoh, mencari
istri itu belum tentu dia punya istri. tetapi menjemput istri pasti sudah punya istri
kecuali mancari yang lain. Ini penting. “Waman yatawakkal ‘ala Allah fahuwa
hasbuh,” Q.S. At Thalaq (65) : 3, artinya “Dan barang siapa yang bertawakkal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.”
Maaf kalau saya mengambil sudut pandang Islam, karena itu yang saya pahami.
Seorang Muslim, dikatakan professional kalau dia memenuhi dua hal. Pertama,
didalam mencari, dia sangat menjaga nilai – nilai kejujuran, tepat janji, etos kerja,
sehingga kalau dia mendapatkan uang maka dirinya lebih bernilai dari sebanyak
apapun uang yang didapatkan. Karena dia mencari dalam rangka untuk
membangun nilai – nilai.
Kedua, dalam mencari nafkah atau “menjemput rezekinya” dia sangat menjaga
sehingga terbangun nama baiknya. Dengan demikian, dia tidak pernah takut
kehilangan apapun.
Mau pensiun, mati uangnya habis, tidak ada masalah. Karena bukan itu yang dia
cari, tapi nilai – nilailah yang dia cari. Kalau uangnya banyak, dia lebih kaya dari
uangnya. Tapi maaf, kalau koruptor uangnya banyak, rumah berharga, mobil
berharga, tanah berharga, tapi yang tidak berharga adalah dirinya.
Maka tidak heran kalau koruptor sering minta – minta, segalanya dicolok. Maaf,
jangan ada yang merasa tersinggung, kecuali koruptor sendiri.
Bayangkan ada orang yang mencari, dia telah mendapat dunianya, tapi dia tidak
mendapatkan dirinya. Makanya dia takut sekali kehilangan jabatannya, karena itu
yang dia anggap sukses.
Kenapa orang takut turun dari jabatannya?
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 9 dari 48
Karena itu topeng dia. Jadi kalau orang bersembunyi di balik topeng, takut
diambil topengnya. Tapi kalau orang membangun dirinya, dia tidak pernah takut
kehilangan apapun.
Maka orang – orang yang pecinta dunia takut melihat pesaing. Padahal pesaing
adalah saudara kita juga. Tanpa pesaing hidup kita tidak bermutu. Persaingan itu
karunia Allah agar bisa memompa kemampuan kita secara optimal.
Saudara mau balap karung sendirian? Tidak bermutu walaupun meraih juara
umum. Begitu juga apabila balap karung dengan anak TK, walau juara dunia
tetapi tetap tidak ada harga karena lawannya adalah anak TK. Tapi balap karung
dengan petarung tangguh, walau kita menjadi juara kelima, tidak ada masalah.
Tapi kita sudah memompa kemampuan kita secara optimal.
Pesaing tidak akan mengurangi rezeki kita, kalau kita bertarung dengan keyakinan
bahwa Allah yang membagikan rezeki.
Mempunyai pesaing itu nikmat.
Bukankah tidak akan bisa menjadi pahlawan kalau tidak ada penjahatnya?
Yang menjadi masalah siapa yang menjadi penjahat? Itu saja.
Mencari rezeki, sekaligus menjaga nilai sehingga nama terbangun. kalau hal ini
dilakukan harga diri terbangun. Kalau hal ini dilakukan walau sudah pensiun, tua
atau mendapat mutasi, orang tersebut tidak pernah berkurang kemuliaannya
karena telah melekat pada dirinya, kekayaan pribadinya.
Kalau sudah mendapat rezeki, seorang professional yang baik dan berhati nurani
akan mendistribusikan rezekinya. Maka disebutkan oleh Nabi Muhammad,
“Khairunnas anfa’uhum linnas,” Hadits Riwayat Bukhari. Artinya, “Sebaik –
baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya.”
Jadi kita bekerja keras, menjemput rezeki kita, nama kita terbangun, rezeki kita
dapatkan, lalu kita distribusikan. Makin banyak kekayaan, makin banyak orang
lapar tersantuni, makin banyak orang bodoh bisa belajar, makin banyak orang
yang tidak berpakain bisa memiliki baju, makin banyak orang yang tidak
mempunyai rumah bisa berteduh. dan ini akan membuat kita semakin
bersemangat dalam bekerja.
Dan luar biasa, kita bisa menikmati bagaimana kita mendistribusikan rezeki kita
ini. Sehingga kalau kita mati nanti, kita sudah puas. Nama insyaallah baik, orang
banyak manfaatnya. Kita tunggu saja saat kematian seperti ini. mau apa lagi,
dunia tidak pernah bisa kita bawa. Siapa orang kaya di dunia ini, bawa apa dia
mati? Tidak ada yang dibawa.
Kadang kita salah, melihat orang kaya itu yang banyak tabungannya. Padahal dia
hanya penunggu saja. Kalau menurut saya, orang yang kaya adalah orang yang
banyak mendistribusikan rezekinya.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 10 dari 48
Jadi maaf, menurut saya, para koruptor itu benar – benar orang yang miskin.
Tidak aad apa – apanya, walaupun jasnya bagus, dasinya bagus. Padahal kalau
mau jujur, dia ke atas menjilat, ke bawah menginjak, ke samping menyikut. Sudah
punya istri berzina, segala diangkut dari kantor ke rumah. Sampai – sampai
jepitan buku pun diangkut. Ini benar – benar miskin.
Makanya nanti ke depan kalau kita memilih pejabat itu harus orang yang kaya.
Bukan kaya dengan uang, tapi kaya batinnya. Tidak suka minta – minta. Orang
yang minta – minta itu orang miskin. Misalnya minta proyek. Salah kita memilih
orang yang miskin batinnya. Memiliki jabatan tetapi kerjanya minta – minta.
Saudara – saudaraku, kalau kita sudah tahu bahwa rezeki datangnya dari Allah,
untuk apa kita berbuat licik? Yang menyuruh jujur Allah, yang membagikan
rezeki juga Allah. Maaf mungkin kita pernah dengar perumpamaan ini. saya
pernah mendapat nasehat dari anak saya. “Pak, kita mah malu kalau hidup
mengeluh. Lihat nyamuk, untuk mencari sesuap makan saja dia harus bertarung
dengan nyawanya.”
Nyamuk itu mencari makan saja sudah terancam. Dan sudah berapa banyak
nyamuk tewas di tangan kita, ketika dia mencari nafkah. Anak saya bilang, “Lihat
ketika nyamuk itu makan, Pak. Makan saja terancam.” Berapa banyak nyamuk
yang terbunuh ketika makan, juga ditangan kita? Sudah selesai makan tangki
sudah penuh, mau terbang rasanya berat. malu jadi manusia kalau kita terus –
menerus mengeluh. Lihat nyamuk itu dari awal sampai akhir. mencari sesuap
darah saja nyawanya terancam.
Makanya orang – orang yang licik, mereka betul – betul menghinakan dirinya
sendiri. Orang yang bekerja cerdas bukan orang yang menjadi untung dengan
banyak liang, tapi sekali dayung dua, tiga empat pulau terlampaui. Ibarat sambil
menyelam minum air, memungut mutiara, ketemu dengan puteri duyung. Orang –
orang yang korupsi itu benar – benar, maaf, bodoh. Saya tidak menyebut dungu
ya, tapi apa bedanya?
Saya ini merasa gemas. Bayangkan dia mengambil tapi dan menghancurkan
dirinya dan nama baiknya. Dia memberi makan keluarga dengan harta haram, di
mana kecerdasannya? Bayangkan, nama itu tidak terbeli oleh harta. Mati dalam
aib, orang tua malu, anak tertekan, makanan yang dimakan pun haram. padahal
harta tidak dibawa kalau mati.
Saya pernah mendengar ada koruptor yang pusing. Menyimpan uang di bank,
karena takut ketahuan, maka dia memakai nama orang lain. Punya mobil bagus
takut ketahuan, akhirnya disimpan di kampung. Punya rumah, sertifikat dia atas
namakan orang lain. Jadi dia punya apa? Punya dosa. Apalagi sekarang ada
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu semakin membuat dia tertekan. sudah
tidak bisa menikmati tapi tetap saja korupsi. Na’udzubillahi min dzalik.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 11 dari 48
Mungkin ini yang disebut buta hati. Negara kita menjadi seperti ini karena
pebisnisnya bukan professional. Kalau professional pasti bagus. Jadi yang
professional itu selalu menggunakan basis moral. karena nilai keuntungan tidak
dilihat dari jumlah uang.
Bagi kami dalam bisnis, uang itu nomor sekian.
Pertama, yang namanya untung itu kalau bisnis ini menjadi amal. karena kita
semua pasti mati dan yang dibawa ke akhirat itu bukan uangnya tapi amalnya.
Oleh karena itu sejak mulai dari niat harus benar kalau niat sudah salah, cara juga
salah, tindakan kita tidak akan menjadi amal walaupun mungkin menghasilkan
uang. Namun untuk apa itu semua, karena uang tidak bisa kita bawa mati.
Kedua, yang disebut untung adalah, kalau dalam bisnis, nama kita menjadi
semakin lebih baik. Nabi Muhammad itu benar – benar menjadi orang yang sangat
credible, Al Amien seorang yang sangat – sangat terpercaya. Orang tidak ragu
saja kepada perkatannya. Makanya bagi kami bisnis itu kecil, tapi nama baik itu
yang sangat penting.
Ketiga, yang namanya untung itu ketika dalam bisnis, kita bisa manambah ilmu,
karena tanpa penambahan ilmu, pengalaman dan wawasan, keuntungan yang
didapat bisa menjadi bumerang. Segalanya berubah dalam hidup ini, bagaimana
mungkin menyikapinya tanpa kemampuan yang berubah. Saat ini untung, tapi
besok lusa bisa jadi keuntungan ini akan menjadi sumber kerugian. Makanya
keuntungan berupa uang yang tidak meng – upgrade diri kita, itu sebetulnya tidak
untung.
Yang keempat, keuntungan adalah ketika dengan bisnis, menambah silaturahmi,
menambah saudara, karena persaudaraan itu mahal. Buat apa mempunyai uang
banyak kalau musuh juga bertambah. sekali digarong, atau dibui, harta akan habis
dan percuma.
Jadi orientasi dalam bisnis itu adalah bagaimana semakin menambah saudara.
Tidak begitu untung barangkali tidak apa – apa, tetapi saudara bertambah. Kalau
orang sudah sayang ke kita, dia akan menajdi tim marketing kita.
Dan yang kelima, yang disebut keuntungan bagi bisnis yang bernuansa religi
adalah bagaimana dengan bisnis makin banyak orang yang mendapatkan
keuntungan. Karena setiap orang yang beruntung, yang menjadi bagian dari bisnis
kita, itu akan menjadikan kebagian diri kita pula.
Konsep – konsep tersebut di atas tidak hanya ideal, tapi realistis karena kita sudah
menjalani dan terbukti untung besar, kami tidak tertarik pada uang haram, untuk
apa? Logikanya sederhana, Allah yang menyuruh jujur, Allah yang memberi
rezeki, untuk apa harus tidak jujur?
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 12 dari 48
Kami membangun perusahaan dengan konsep ini. Beberapa waktu yang lalu kami
mencoba untuk membangun perumahan, hanya dalam tempo satu bulan sudah
laku 495 rumah. Bahkan belum diumumkan sudah habis. Ya mudah – mudahan
Allah menerima
Saya sendiri pribadi mengelola 19 perusahaan dengan konsep bisnis di atas. Bisnis
di perusahaan tersebut terus saja beranak pinak. Jadi konsep yang sudah saya
kemukakan di atas bukan saja ideal, tapi konsep yang realistis dan benar – benar
menguntungkan.
Logiknya sederhana. Dimana – mana orang akan selalu mencari rekanan yang
jujur dan bisa dipercaya. Karena berusaha untuk jujur, tentu kitalah yang mereka
cari. Para investor yang punya uang mencari orang yang bisa mengelola uangnya
dengan jujur. Para pembeli ingin pedagang yang jujur. Kita tinggal tampil saja,
karena mungkin menjadi barang langka.
Ini kisah nyata. Ada sekelompok warga punya tanah menawarkan kepada kami
agar tanahnya dibeli. Tapi dari mana uangnya. Kemudian datang investor pada
kami. Mereka mencari pengelola yang amanah. Kemudian masyarakat juga ingin
membeli dari pengelola yang jujur. Akhirnya tanpa modal, tanah terbeli dan
setelah jadi, perumahan segera terjual habis.
Jadi yang mengherankan, kenapa masih ada orang yang tidak jujur?
Contoh lain, beberapa waktu yang lalu kita menyelenggarakan pelatihan. Ada
peserta yang ingin me – mark up anggaran pelatihan tersebut. Kita tegas – tegas
menolak. silakan mencari tempat pelatihan lain, kita tidak kurang peserta.
Antriannya bertahun – tahun. Kita juga punya hotel yang ternyata bookingnya
sampai 3 – 4 bulan.
Dari contoh – contoh tersebut, menjadi aneh kenapa harus tidak jujur?
Tidak jujur itu karena kurang iman.
Kalau sudah yakin rezeki dari Allah, kenapa kita tidak jujur.
Nabi Muhammad telah memberikan teladan dalam bisnis semasa hidupnya
dengan julukan Al Amien. Al Amien itu komponennya tiga :
Pertama jujur terpercaya, tidak pernah bohong sekecil apapun.
Kedua, Sigma kepuasan, jadi ketemu puas bicara puas, terus menerus
memberikan kepuasan, semakin banyak titik kepuasan itu orang tersebut semakin
credible
Ketiga, inovatif dan solutif. Kalau orang terus meng – upgrade dirinya dan terus
menerus berinovasi, serta menjadi solusi, dia akan menjadi credible.
Orang yang tidak jujur, tidak memuaskan, tidak punya inovasi dia akan terkubur.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 13 dari 48
THE 10 CREDOS OF
COMPASSIONATE
MARKETING
Oleh : Hermawan Kartajaya
“CAN YOU PRACTICE WHAT YOU PREACH, AND
WOULD YOU TURN THE OTHER CHEEK?”
WHERE IS THE LOVE, BLACK EYED PEAS
***
Saya merasa terhormat ketika diundang untuk berceramah bersama dengan KH
Abdullah Gymnastiar. Bagi saya, Aa Gym adalah asset nasional. Dan kalau orang
di seluruh dunia tahu, sebetulnya Aa Gym sudah merupakan asset dunia.
Karena itu ketika saya mendapat undangan untuk mengisi ceramah bersama Aa
Gym, saya langsung membentuk tim di MarkPlus&Co yang terdiri dari teman –
teman Muslim. Saya minta mereka mempelajari buku – buku Aa Gym,
berkonsultasi dengan pakar bisnis Islam, dan mempelajari kitab suci untuk
memperkaya konsep yang sedang saya kembangkan.
Inilah konsep Compassionate Marketing yang pertama kali saya share bersama
Aa Gym di Bandung beberapa waktu yang lalu.
Saya melihat, dengan berkembangnya IT yang semakin meningkat, informasi
semakin banyak, ternyata orang menjadi semakin bingung. Tidak seperti yang
dulu diharapkan, kalau informasi semakin banyak, kita semakin pasti. Akibatnya,
sekarang orang lebih membutuhkan spiritualitas dari pada dulu.
Dalam pikiran saya ada tiga era perkembangan spiritual.
Era pertama ketika orang melakukan polaris, antara spiritual itu sendiri dan
bisnis. Saya masih ingat ada salah satu bos yang tidak perlu saya sebutkan
namanya. Dia adalah salah satu bos besar dalam bisnis di Indonesia. Bos ini
mengatakan pada saya “Hermawan, kalau kamu mau berbisnis jangan berpikir
soal agama. Bisnismu itu di kiri, agama itu di kanan. Kalau kamu mau mendalami
agama, pelajarilah betul – betul, jadilah kiai, jadilah pendeta, jadilah biarawan.”
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 14 dari 48
Inilah yang saya sebut sebagai era pertama ketika orang benar- benar memisahkan
antara urusan spiritual dengan urusan bisnis.
Kemudian muncul era kedua, yang dimulai ketika keadaan makin tidak menentu.
Ketika lanskap bisnis semakin berubah terus, tidak stabil, orang mulai bingung,
orang mulai melakukan yang namanya balancing. Mereka berbisnis dengan cara
dunia, mereka tidak segan – segan meminta – minta, berkolusi ataupun melakukan
tindakan – tindakan yang tidak etis. Tidak malu – malu, karena pada umumnya
semua pebisnis melakukan hal seperti itu. Bahkan kalau pebisnis tidak melakukan
hal seperti itu, mereka dianggap bukan pebisnis.
Namun ada sejumlah pebisnis yang menyumbangkan sebagian hasil binisnya yang
dilakukan secara kurang etis tersebut untuk kepentingan spiritual. Jadi semacam
Robin Hood. Di era tersebut orang akan berpikir, saya binisnya boleh menyuap,
boleh menerima hasil korupsi asal uangnya disumbangkan lagi untuk kegiatan –
kegiatan kemanusian, social dan keagamaan.
Saya melihatnya era ini sudah berlalu. kita mesti masuk pada era ketiga, bukan
lagi era balancing tetapi masuk pada era integration. Menurut pendapat saya
sekarang sudah tiba saatnya, bahwa kita harus melakukan 100% bisnis, 100%
spiritual.
Jadi tidak perlu lagi ada polarisasi : kalau saya berbisnis, tidak perlu spiritualitas,
kalau saya mandalami spiritualitas, tidak boleh lagi berbisnis. Atau dengan cara
kedua, balancing, saya berbisnis dengan cara yang tidak spiritual. Boleh korupsi
asal hasilnya saya sumbangkan untuk kegiatan spiritual.
Menurut saya, sekarang the ultimate stage adalah stage ketiga. Kita bisa
melakukan 100% bisnis dan spiritual sekaligus. Dan kalau kita persempit dalam
dunia marketing, orang akan bertanya – Tanya, apa bisa kita menjalankan 100%
marketing 100% spiritual?
Keraguan ini muncul karena banyak orang salah mengerti, yang dimaksud dengan
marketing hanyalah selling. Dan kebanyakan salesman adalah orang yang omong
besar dan manis. Yang dijanjikan seperti ini, tapi yang diserahkan bukan itu. Hal
ini membuat banyak orang salah mengerti. Marketing diidentikkan dengan selling.
Sedangkan selling itu diidentikkan dengan cheating. Ini yang keliru!
Kalau kita telusuri lebih mendalam akar – akar marketing yang sebenarnya, saya
menemukan sepuluh hal yang saya pikir sama sekali tidak boleh dipertentangkan,
bahkan tidak boleh diseimbangkan, tetapi harus diintegrasikan dengan nilai – nilai
spiritual. Dari telusuran saya bersam tim, ternyata di dalam Kitab Suci dan Hadist
banyak sekali ditemukan nilai – nilai spiritual dalam bisnis. Perkenankanlah saya
untuk mengutarakan konsep “The 10 Credos of Compassionate Marketing”
berikut ini satu per satu, mudah – mudahan ada inspirasi untuk kita semua.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 15 dari 48
PRINSIP # 1
LOVE YOUR CUSTOMER,
RESPECT YOUR COMPETITOR
Cintailah pelanggan Anda, dan hormatlah pada competitor Anda. Tim saya
menemukan ada disuatu hadist: “Allah tidak akan berbelas kasih pada seseorang
bila ia tidak mengasihi sesamanya,” Hadist riwayat Bukhari, dan Thabrani. Dan
tim saya juga menemukan suatu quotation, “Dan janganlah sekali – sekali
kebencianmu terhadap kamu untuk berlaku tidak adil,” Al Qur’an surat Al Maidah
: 8
Aa Gym sudah jelas mengatakan, mengapa harus takut bersaing? Bersaing itu
bagus. Kalau tidak ada lawannya kita selalu menjadi juara, tapi apa artinya juara?
Bagi orang marketing kita harus melihat hal – hal sebagai berikut :
Pertama, competitor akan memperbesar pasar, sebab tanpa competitor industri
tidak akan berkembang. Sebagai contoh, orang yang menjual martabak di suatu
tempat, kalau tidak ada orang yang menjual martabak di sebelah – sebelahnya,
maka pasar permartabakan mungkin tidak akan besar. Jadi your competitor will
increase your market.
Kedua, competitor Anda sebetulnya perlu dibenchmark, mana yang bagus dan
mana yang jelek. Yang bagus harus ditiru, namanya benchmarking. Dalam istilah
manajemen, mempelajari competitor itu tidak ada yang salah, malah dianjurkan.
Ketiga, kalau Anda tahu competitor Anda melakukan strategi, barangkali belum
tentu Anda harus meniru dia. Ada yang perlu ditiru, tapi justru ada yang harus
dilakukan diferensiasi, yakni dengan menciptakan hal yang berbeda dengan apa
yang telah dimiliki oleh competitor.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 16 dari 48
PRINSIP # 2
BE SENSITIVE TO CHANGE AND BE READY TO
TRANSFORM
Dunia tidak akan selamanya seperti ini. Lanskap bisnis akan terus berubah.
Kompetisi yang semakin sengit tidak mungkin dihindari lagi. Globalisasi dan
teknologi akan membuat pelanggan semakin pintar. Kalau kita tidak sensitive dan
tidak cepat – cepat mengubah diri, maka kita akan habis. Tim saya menemukan,
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka akan
mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri,” Al Qur’an Surat Ar – Ra’d :
11.
Dan saya ingat cerita yang indah Nabi Nuh yang dibisiki Tuhan bahwa akan ada
banjir besar, tapi Nabi adalah orang yang sensitif. Lalu Nabi Nuh membuat kapal.
Kita bukan Nabi, tidak munngkin Tuhan itu dengan gampang membisiki kita
kalau kita tidak sangat dekat dengan Tuhan. Karena itu kita harus mendekatkan
diri pada Tuhan secara terus menerus mengasah sensitifitas terhadap perubahan,
sehingga kita lebih siap menghadapi persaingan.
PRINSIP # 3
GUARD YOUR NAME, BE CLEAR AND
WHO YOUR ARE
Aa Gym sebelumnya telah mengatakan dengan jelas tentang pentingnya menjaga
nama baik. Menjadi koruptor termasuk orang yang tidak bisa menjaga nama baik.
padahal di dalam marketing diajarkan, “brand name is every thing”. Seringkali
orang membeli barang yang brand name bagus, walaupun secara kualitas, barang
tersebut sama dengan yang lain. Guard your name be clear of who your are.
Tim saya melihat, menyelidiki, dan memaparkan kepada saya bahwa sebelum
diangkat menjadi rasul, profesi Nabi adalah berdagang yang dia lakukan sejak
usia 12 tahun. Dalam berdagang Nabi dikenal jujur sehingga mendapat julukan Al
Amien. Mister Clean, Mister Trusty. Jadi dengan demikian Nabi Muhammad
sudah memberikan contoh, bahwa positioning dan diferensiasinya berbeda
dibanding dengan pedagang – pedagang lain.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 17 dari 48
PRINSIP # 4
CUSTOMER ARE DIFFERS, GO FIRST TO WHOM
REALLY NEED YOU
Sebetulnya ini adalah prinsip segmentation. Anda tidak perlu pergi ke semua
orang yang businessman, tetapi pergilah ke orang yang betul – betul
membutuhkan Anda. Tim saya menemukan ayat : “Hai manusia sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan perempuan, dan menjadikan
kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku, supaya saling kenal mengenal,” Al-
Qur’an Surat Al Hujuraat : 13
Jadi kita berbisnis harus menentukan siapa target pasar kita. Be honest kalau Anda
tidak bisa melayani suatu segmen karena Anda tidak mampu, jangan masuk ke
situ. Layanilah orang – orang yang betul – betul menjadi priority target market
Anda.
PRINSIP # 5
ALLWAYS OFFER GOOD PACKAGE AT A FAIR PRICE
Dalam prinsip ini, kita tidak boleh menjual barang jelek dengan harga yang tinggi,
Sekali lagi tim saya menemukan kata – kata yang sangat bagus sekali, “Tidak
dihalalkan bagi seorang muslim menjual barang yang cacat, kecuali ia
memberitahukannya,” Hadist Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hanbal.
Saya juga membaca sendiri cerita di mana Nabi Muhammad menemukan ada
seorang pedagang menjual jagung basah yang ditaruh tersembunyi. Nabi
menyuruh pedagang itu menaruh jagung tersebut di luar supaya orang tahu kalau
jagung itu basah.
Dan karena itu saya pikir, marketing yang benar adalah marketing yang fair, di
mana harga dan produk harus sesuai. Kalau kita menipu orang dengan
memberikan produk yang jelek lama – lama akan ketahuan dan akhirnya kita akan
ditinggalkan orang. Nabi sudah mengajarkan itu sejak dulu ketika beliau masih
menjadi seorang pedagang.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 18 dari 48
PRINSINP # 6
ALWAYS MAKE YOURSELF AVAILABLE, AND
SPREAD THE GOOD NEWS
Pada dasarnya, marketing harus menyebarkan kabar gembira, tapi kabar gembira
yang baik. Tim saya menemukan suatu kata – kata yang bagus, “Ketika
Rasulullah mengutus sahabatnya untuk menyelesaikan suatu urusan, beliau akan
bersabda, sampaikanlah kabar gembira dan janganlah menakut – nakuti, serta
permudahlah jangan mempersulit,” Hadist riwayat Abu Musa ra. Tim saya juga
menambahkan, pada Al Qur’an terdapat ayat : “Dan tiadalah Kami mengutus
kamu melainkan rahmat bagi semesta alam,” Al Qur’an surat Al Anbiyaa : 107.
Bagi saya, marketing adalah good news. Anda jangan menjual dengan menodong,
janganlah menjual dengan surat rekomendasi. Kalau Anda melakukan monopoli,
atau mendapatkan proyek dengan surat rekomendasi pejabat, ya mereka akan
membeli tapi Karena todongan. Dan yakinlah, hal itu tidak akan bertahan lama.
PRINSIP # 7
GET YOUR CUTOMER, KEEP, AND GROW THEM
Sekali Anda mendapatkan pelanggan, peliharalah hubungan yang baik dengan
mereka. Anda harus memastikan bahwa mereka selalu puas dengan layanan yang
Anda berikan, sehingga mereka menjadi loyal kepada Anda. Ini yang namanya
keep the customer. Keep the customer saja tidak cukup, seterusnya Anda juga
harus grow the customer. Artinya, Anda harus meningkatkan value yang Anda
tawarkan sehingga pelanggan berkembang, maka otomatis value yang Anda
terima dari mereka juga akan berkembang.
Tim saya menemukan kata – kata yang juga sering dikutip oleh Aa Gym :
“Barang siapa ingin dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka
hendaklah dia bersilahturahmi,” Hadist riwayat Muttafaqun Alaih. Itu yang
dinamakan customer relationship marketing atau apa yang kita sebut CRM.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 19 dari 48
PRINSIP # 8
WHATEVER YOUR BUSINESS, IT IS A SERVICE
BUSINESS
Service business bukan hanya diterapkan pada bisnis hotel. Service business
bukan hanya diterapkan pada bisnis retoran, tapi what ever your business Anda
harus mempunyai jiwa melayani pelanggan.
Tim saya menemukan lagi : “Karena tangan yang di atas atau yang memberi lebih
utama dari tangan yang dibawah, atau yang menerima. Dan mulailah dengan
orang yang kau tanggung,” Hadist riwayat Abu Hurairah ra. di dalam marketing,
customer satisfaction Anda tidak melakukan marketing.
PRINSIP # 9
ALWAYS REFINE YOUR BUSINESS PROCESS
IN TERM OF QUALITY, COST, AND DELIVERY
Tugas sebagai marketer adalah untuk selalu meningkatkan QCD : Quality, Cost,
and Delivery. Kasihan pelanggan kalau kita memberikan barang yang rongsokan.
Tim saya menemukan : “Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta
pertanggungjawabannya,” Al Qur’an Surat Al Israa : 34. Saya membaca, di dalam
Islam, dilarang melakukan tadlis, yaitu penipuan. Dalam bisnis, penipuan itu
banyak macamnya, baik yang menyangkut kualitas, kuantitas, dan waktu
penyerahan serta harga.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 20 dari 48
PRINSIP # 10
GATHER RELEVANT INFORMATION, BUT USE
WISDOM IN FINAL DECISION
Prinsip ini mengingkatkan kita untuk terus menerus belajar, belajar, dan belajar.
Karena dunia ini berubah terus, Anda tidak bisa menjadi businessman, atau
seorang marketer yang hanya menggunakan pendekatan – pendekatan lama,
walaupun pendekatan itu dulunya bagus. Tapi sekarang, pendekatan – pendekatan
itu harus terus – menerus diubah atau diperbaharui.
Tim saya menemukan bahwa : “Allah akan meninggikan orang – orang yang
beriman di antaramu dan orang – orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat,” Al Qur’an surat Al Mujadalah : 11
Menurut tim saya, dalam hadist juga disebutkan bahwa,” Menuntut ilmu
hukumnya wajib bagi muslim”, Hadist riwayat Ibnu Majah dan Baihaki. Bahkan
Nabi pernah bersabda “Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina.”

Saya belum berani mengatakan bahwa saya berbisnis dengan jujur itu karena
iman, karena saya merasa iman saya belum sekuat Aa gym. Tapi dalam bahasa
marketing, saya sering mengatakan begini kepada 140 orang anak buah saya,
MarkPlus&Co harus benar – benar menjadi konsultan yang mendapatkan proyek
tidak boleh menyuap.
Dan saya berani menjamin bahwa dalam mendapatkan klien, MarkPlus&Co selalu
mendapatkan proyek dengan bersih, termasuk di banyak BUMN. setiap saat saya
selalu menekankan pentingnya kejujuran. Kalau harus sampai kalah dalam tender,
tidak menjadi masalah, karena kita sudah berani bermain secara fair. Tetapi saya
belum berani mengatakan bahwa hal itu karena iman, tapi lebih karena apa yang
kita sebut sebagai diferensiasi.
Di dalam marketing kita mengatakan bahwa to be different is very important, jadi
jangan menjadi me too atau peniru. Sebetulnya ajaran marketing terbesar bukan
berarti berjualan dengan menipu. ajaran marketing terbesar adalah kenalilah
competitor Anda, dan jadilah different. Dan jagalah diferensiasi Anda kepada
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 21 dari 48
pelanggan sehingga mereka menghargai diferensiasi Anda. Dia membeli dengan
jujur. Dia membeli dengan senang.
MarkPlus&Co sudah dikenal barangkali karena sudah 15 tahun berkiprah di
Indonesia. MarkPlus&Co menjadi pioneer marketing sejak 15 tahun yang lalu,
ketika Pak Harto masih memiliki power. Saat itu tidak ada orang yang percaya
pada marketing, karena berbisnis itu gampang asal dekat dengan kekuasaan.
Tetapi kondisi persaingan telah membuat orang butuh marketing. Karena
MarkPlus&Co yang memulai terlebih dahulu, dari positioningnya jelas, tidak
boleh menyuap dalam bentuk apapun. Akhirnya semua orang tahu. Jadi orang
yang menghubungi kami sudah tahu, walaupun dia kepala proyek dia tidak bakal
mendapatkan apa – apa. Kalau dia menginginkan sesuatu dari proyeknya karena
kebetulan dia memegang anggaran besar, tak mungkin mereka minta dari kami.
Saya melihat tren dunia sebetulnya juga ke arah itu. Walupun mungkin terdapat
70% atau bahkan lebih orang yang melakukan bisnis dengan mengikuti arus. Di
dalam bisnis internasional, kita harus belajar dari kasus keterpurukan Enron.
Good corporate governance (GCG) saat ini sudah menjadi syarat mutlak
perusahaan, apalagi perusahaan public. Kalau perusahaan tidak menjalankan GCG
dengan bagus, tidak transparan kepada shareholder, main – main di belakang
dengan melakukan pembukuan ganda dan sebagainya, maka harga sahamnya akan
turun.
Dan pada waktu kami beberapa tahun yang lalu diminta membantu sebuah bank
syariah untuk merancang strategi marketingnya, ketika bank syariah untuk
pertama kalinya dibuka untuk umum, saya percaya bahwa bank syariah sesudah
momen krisis ini saatnya muncul. Hal ini mengingat positioning dari bank syariah
sebagai bank yang jujur, bank yang menerima simpanan orang tetapi diusahakan
secara jujur, dan keuntungan bersama.
Karena itu sekarang kita lihat di Indonesia bank syriah itu berkembeng dengan
pesat. Itu berkaitan dengan kebutuhan setiap orang untuk berhubungan dengan
bank – bank yang jujur. Jadi menurut keyakinan saya, sudah saatnya kita
melakukan bisnis dengan dilandasi semangat spiritual. Jadi 100% bisnis, 100%
spiritual, bukan balancing, bikan juga polaris, tetapi integrasi antara bisnis dan
spiritual.
Kalau kita betul – betul menjalankan integrasi, menjalankan bisnis kita dengan
cara jujur, secara iman mungkin seperti yang dikatakan Aa Gym, akan
mendapatkan rezeki dari Tuhan. Tetapi secara marketing benar, karena kita sedikit
dari sekian orang yang melakukan itu. Kita akan menjadi different, menjadi
semacam berlian dalam Lumpur.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 22 dari 48
Terakhir saya ingin menambahkan, bahwa semua topic yang menjadi tema Aa
Gym keyword-nya adalah hati. Hati yang bening hati yang bersih, karena hati
kelihatannya sudah banyak yang hilang untuk saat ini.
Dan itu bukan Cuma tren Indonesia atau tren agama – agama tertentu tapi saya
kira tren universal. Sehingga salah satu lagu yang menjadi hit di dunia
dinyanyikan oleh kelompok Black Eyed Peas, anak – anak muda dengan gaya
R&B berjudul “Where is the love.” Dimanakah cinta? Katanya, kebenaran masih
tersimpan di bawah karpet, jika kita tidak mengerti tentang kebenaran, maka kita
tidak akan pernah menemukan cinta.
Kebenaran, cinta dan moralitas, bermuara pada hati.
Mudah – mudahan kali ini Anda menemukan hati itu kembali.
Dan mulai berbisnis dengan hati.

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 23 dari 48
BAGIAN III
KOLOM
HERMAWAN KARTAJAYA
MENGENAI
COMPASSIONATE
MARKETING
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 24 dari 48
PENGUTIL KERAH PUTIH
DAN MASA DEPAN
CORPORATE GOVERNANCE
Awalnya, stock option diciptakan dengan tujuan yang sangat indah dan mulia.
Intinya, manajer dan eksekutif perusahaan diberi opsi kepemilikan saham yang
nyaris risk – free untuk jangka waktu tertentu; opsi itu bisa di exercise ketika,
misalnya, harga saham tersebut sedang bagus.
Tujuannya apa? Tujuan mulianya adalah agar si eksekutif bisa bertindak layaknya
pemilik alias shareholder. Dengan demikian, akan terwujud “company of
owners”. Karena eksekutif bertindak layaknya pemilik, maka misi utama eksekutif
akan sama dan sebangun dengan misi pemilik, yaitu value creation. Atau
gampangnya, setiap jengkal pikiran dan tindakan eksekutif akan selalu mengarah
ke duit, duit, dan duit. Wajar saja, karena misi utama perusahaan memang value
creation atau mesin duit
Namun tujuan yang begitu mulia itu menjadi amburadul ketika kita melihat
kenyataan skandal keuangan yang terjadi beruntun beberapa bulan terakhir. Kira –
kira dua minggu lalu saya membaca survey majalah Fortune Hasil survey.
Ini menarik sekaligus menyedihkan. Melalui survey ini, Fortune berhasil
mengungkapkan, di tengah – tengah bangkrut dan hancurnya perusahaan –
perusahaan seperti Enron, Qwest Communications, Global Crossing, Tyco,
WorldCom (sebut saja mereka, the America’s Losingest Companies), terdapat
segelintir eksekutif yang mengambil keuntungan, dan bisa dipastikan mereka
mendadak kaya raya tak hanya sekadar kaya raya, tapi amat sangat kaya raya.
Kenapa mereka kaya raya? Karena, mereka berhasil meng-exercise opsi saham
mereka di tingkat harga saat posisi perusahaan tersebut di Wall Street berada di
puncak – puncaknya. Kita tahu perusahaan – perusahaan macam Enron,
WorldCom. Qwest, atau Global Crossing adalah perusahaan balon (bubble
companies) yang dimasa jayanya begitu perkasa di Wall Street karena ditiup
sebesar – besarnya oleh eksekutif puncak mereka. Namanya saja perusahaan
balon, dari luar memang kelihatan gemuk, perkasa, dan molek, tapi sesungguhnya
dalamnya kosong melompong dan rapuh. Umumnya, para eksekutif menjual opsi
saham mereka saat harga di puncak – puncaknya, kira – kira detik – detik
menjelang balon mau meletus.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 25 dari 48
Keuntungan yang mereka raup nggak kepalang tanggung. Philip Anschultz,
Direktur Qwest Communication, meraup tak kurang dari US$2,26 miliar; Lou Pai,
Kepala Divisi Enron meraup US$994 juta; Gary Winnick, Chairman Global
Crossing meraup US$951 juta. Fortune menghitung total transaksi opsi saham ini
selama setahun terakhir di perusahaan balon yang nilai sahamnya terjun bebas
minimal 75%. Anda mau tahu berapa angka yang dihasilkan survey fortune?
sangat fantastis, sekitar US$66 Miliar atau kira – kira setengah GDP kita
Apa artinya ini? Artinya, ketika investor public di Wall Street menangis meraung
– raung atau bahkan bunuh diri karena 70%, 90%, atau seluruh hartanya ludes,
segelintir eksekutif ini berhasil meraup dana segar US$66 miliar. Ketika investor
public jatuh miskin, mereka menimbun kekayaan yang tak habis tujuh turunan.
Pertanyaannya, apa salah mereka meng – exercise opsi saham mereka saat harga
sedang bagus – bagusnya? Sama Sekali tak salah. Yang salah adalah, ketika
dengan sadar mereka “meniup” kinerja palsu dari perusahaan balon yang mereka
kelola, kemudian mempercantiknya, dan setelah cantik kemudian mereka
mengedarkannya ke investor public, si investor kepincut dan jatuh cinta setengah
mati, si investor kemudian berburu saham perusahaan tersebut, harga saham
meroket, dan akhirnya ketika saham berada di puncak, inilah kesempatan emas
bagi si eksekutif meraup kekayaan. Jadi masalah etik yang sangat serius di sini
adalah, si eksekutif tamak ini tahu persis bahkan sengaja menjual dagangan yang
tampak luarnya saja cantik molek, tapi dalamnya busuk penuh ulat.
Yang menarik, cara para eksekutif ini mempercanrik perusahaan balon. Mereka
membawanya ke salon dan me-makeup-nya habis – habisan : diluluri, dibedaki,
dilipstiki. Bagaimana cara mereka me-makeup? Pertama, melalui creative
accounting: kapitalisasi expense, transaksi off-balance sheet; transfer pricing ke
account – account yang merupakan “tax heaven area”, dan sebagainya. Kedua,
dengan mengundang konsultan top dunia untuk membikinkan cetak biru strategi
dan model bisnis yang solid, yang laku keras ketika dijual di Wall Street.
Dan ketiga, berkongkalikong dengan para analis dari perushaan investment bank
top dunia untuk meroketkan harga saham. Kita tahu para analis ini adalah orang
kuat di Wall Street. Merekalah sesungguhnya yang berkuasa mempengaruhi,
membentuk, dan menaikturunkan harga saham, melalui nasihat dan laporan riset
mereka kepada investor. Seharusnya nasihat dan laporan riset tersebut jujur dan
obyektif, tapi karena mereka dibayar, ya nasihat dan laporan riset itu kemudian
menjadi alat mereka untuk mendongkrak harga saham perusahaan balon di atas.
Kasus di atas adalah bagian kecil saja dari gambaran muram praktik corporate
governance. Kasus tersebut menunjukkan kepada kita betapa semakin tingginya
kompleksitas bisnis, semakin canggihnya tools manajemen bisnis, dan semakin
majunya perangkat regulasi, ternyata bukannya menjadikan praktik corporate
governance semakin dewasa dan beradab. Justru sebaliknya, ia semakin
kebablasan tanpa etika, tanpa nilai – nilai moral, tanpa pegangan.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 26 dari 48
Karena itu, era pasca – Enron membutuhkan model perusahaan yang berbeda dari
masa – masa sebelumnya. Era ini membutuhkan tak hanya value – based
corporation, tapi juga values – based corporation. Yang pertama merupakan
model perusahaan yang fokusnya value creation alias cari duit, cari duit, dan cari
duit. Sementara yang kedua, fokusnya adalah nilai – nilai (values) moral dan etik.
Yang pertama akan menjadikan manajemen sebagai economic animal, sementara
yang kedua akan menjadikan manajemen sebagai etchical human. Alangkah
indahnya jika kedua model itu disintesiskan, karena dengan demikian perusahaan
tak akan keblinger seperti yang terjadi dalam kasus di atas.
(Ditulis oleh Yuswohady di majalah SWA. 24 Oktober – 4 November 2002)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 27 dari 48
GANJARAN BAGI YANG
MEMBOHONGI PELANGGAN
Selama tahun tahun 2002 lalu kita diguncang oleh peristiwa demi peristiwa
rontoknya perusahaan – perusahaan top dunia yang tak hanya disegani oleh para
pakar manajemen karena kesolidan model bisnisnya.
Enron, Worldcom, Kmart, Global Crossing dinyatakan bangkrut oleh pengadilan
karena salah strategi dan melakukan manipulasi akuntansi. Arthur Andersen seprti
mati suri karena diduga bersama – sama dengan beberapa perusahaan tersebut
melakukan rekayasa laporan keuangan. Perusahaan itu limbung karena hilangnya
kredibilitas. Kalau kredibilitas hilang, maka ekuitas merek mereka rontok, dan
matinya perusahaan – perusahaan tersebut tinggal tunggu waktu saja.
Yang kita lihat adalah, bahwa hanya beberapa hari sebelum perusahaan –
perusahaan tersebut limbung dan akhirnya bangkrut, mereka memiliki ekuitas
merek yang kuat, nahkan sangat – sangat kuat, Enron adalah raksasa energi yang
dimasa puncaknya pernah dihargai Wall Street lebih dari $60 miliar – kira – kira
separoh GDP Indonesia. Arthur Andersen adalah anggota Big Five perusahaan
akuntansi terkemuka dunia dengan klien – klien besar sekelas GE dan IBM.
Sementara dibawah kepemimpinan CEO-nya yang flamboyant Bernie Ebbers,
Worldcom adalah raksasa telekomunikasi global dengan reputasi mengagumkan.
Namun ekuitas merek yang begitu tinggi dan kokoh tersebut bisa habis hanya
dalam semalam. Ada semacam ledakan disruptive, layaknya ledakan sebuah bom
atom, yang mampu memusnahkan bangunan merek tuntas hingga ke akar –
akarnya.
Bagaimana tidak disruptive? Coba saja kita lihat indicator – indicator berikut :
Sebelumnya Enron pernah bernilai $50-an miliar, begitu skandal terkuak
perusahaan ini praktis tak punya nilai, sebelum akhirnya bangkrut.
Sebelum terkena skandal, harga saham Worldcom masih berkisar $60-an per
saham, namun hanya dalam ukuran jam nilai saham ini terjun bebas tinggal
beberapa sen; Andersen lain lagi, walaupun tak sampai ditutup, hanya dalam
beberapa hari ia ditinggalkan oleh lebih dari 170 klien loyalnya, termasuk
Colgate-Palmolive yang telah menjadi kliennya selama 80 tahun. Bisa saya
katakana, sebagai sebuah merek Andersen saat ini sudah mati karena “jantung”
operasinya, yaitu integritas dan kredibilitas, sudah tidak dimilikinya lagi.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 28 dari 48
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus ini? Yang kita lihat adalh bahwa
Enron, Worldcom dan Global Crossing mencoba membohongi pelanggannya
dengan memanipulasi dan menyembunyikan informasi keuangannya.
Siapa pelanggan Enron, Worldcom, dan Global Crossing dalam hal ini?
Tak lain adalah para investor di Wall Street. Mereka ini adalah para “investor
customer” yang menanam dananya ke perusahaan – perusahaan tersebut. (Ingat
kita memiliki tiga jenis pelanggan: “external customer” , “internal customer”
yaitu para karyawan, dan “investor customer” yang menanam dananya di
perusahaan)
Begitu semua kebohongan itu terungkap akhir 2002 lalu, maka apa yang
kemudian terjadi? Pelanggan di Wall Street ini marah besar, dan wajar saja kalau
kemudian mereka melakukan rush, menarik dananya. Hasilnya, harga saham
perusahaan tersebut terjun bebas, dan dalam hitungan jam menjadi hampir tak
bernilai sama sekali.
Itulah ganjaran bagi perusahaan yang berbohong kepada pelanggannya!!!!!
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 29 dari 48
BRAND GOES SPIRITUAL
Apa yang membedakan merek – merek terkemuka seperti Singapore Airlines,
Harley Davidson, The Body Shop, Hard Rock Café, Starbucks dengan merek –
merek lainnya?
Merek – merek diatas memiliki charisma. Sebuah merek yang kharismatik tidak
hanya mengandung unsure emosional, intelektual atau functional value saja.
Tetapi merek tersebut juga mengandung spiritual value yang menjadi pengikat
antara merek dengan customer-nya
Ini pulalah yang dikemukakan oleh sejumlah raksasa bisnis dunia pada Global
Brand Forum di Singapore tanggal 1 dan 2 Desember 2003 lalu. Saya hadir
langsung pada acara yang diorganisir oleh The Ogilvy Group dan International
Enterprise Singapore ini. Pesertanya sangat ramai, sekitar 700 pimpinan
perusahaan terkemuka dari seluruh dunia menghadiri acara tahunan ini.
Memang, di lanskap bisnis baru saat ini, merek bukan lagi tugas dan tanggung
jawab brand managers atau marketing managers semata. Namun sesungguhnya
tanggung jawab seorang CEO. Ingat keputusan yang keliru bisa merusak value
corporate secara keseluruhan.
Bagi para pemasar dan pebisnis, Global Brand Forum yang dilangsungkan tiap
tahun di Davos, Swiss. Sejumlah nama kondang menjadi pembicara di acara ini,
mulai dari Scott Bedbury, mantan chief marketing strategist di Nike dan
Starbucks sampai Tom Peters, yang disebut sebagai the “Ur-Guru” (gurunya guru)
bidang manajemen oleh majalah Fortune, hadir mengungkapkan pandangan –
pandangannya tentang isu kritis menyangkut masalah merek dan bisnis di masa
depan.
Menurut Tom Peters, produk adalah sejarah. Perusahaan harus memasarkannya ke
hati (consumer’s heart) bukan ke pikirannya (consumer’s mind). Branding
bukanlah mensosialisasikan karakter mengenai siapa sesungguhnya saya. Kata
Tom Peters, “Branding is about our story and why it’s persuasive. Emotion, after
all, is the one ability that cannot be automated.”
Sementara Ho Kwon Ping, Chairman dari Banyan Tree Group, yang juga menjadi
pembicara, mengatakan lain lagi, bahwa sebuah merek harus mengandung
universal values yang membuat pelanggan dan karyawan merasa bangga
diasosiasikan dengan merek itu. Kata Ho, “Consumers have grown cynical about
slick advertising and are drawn to brands with deeply held values.”
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 30 dari 48
Pembicara lainnya, Naryana Murthy, Chairman of Infosys Technologies,
mengatakan bahwa merek adalah “a mark of trust.” Kata Murthy, kalau Anda
mau menciptakan merek, maka Anda harus menciptakan trust, confort dan
confidence ke pelanggan Anda. Dan untuk melakukannya Anda harus
menciptakan relationship jangka panjang berdasarkan integritas, kejujuran,
moralitas terpuji.
Saya sendiri merasa sangat beruntung, karena bisa makan siang bersama dengan
dua pembicara lainnya, Anita Roddick, pendiri The Body Shop, dan Deepak
Chopra, mind body Guru dan penulis buku best-seller dunia. Saya terkesan
dengan ucapan Deepak Chopra,”Leaders who look only for external goals, such
as money, will fail.”
Nah dari deretan pembicara dan materi yang mereka sajikan, bisa kita lihat bahwa
konsep mereka sudah menuju ke spiritual. Merek yang kokoh bukan hanya lagi
merek yang berbeda dari yang lain, memberikan value unggul, dan memberikan
kualitas nomor satu kepada pelanggan, namun juga harus mampu memberikan dan
memancarkan spiritual values kepada semua pihak, terutama pelanggan dan
karyawan.
Spiritual brand bukan bermakna merek yang berhubungan dengan agama. Bukan,
bukan itu. Mirip dengan yang dikatakan Murthy, spiritual brand artinya merek
yang berhasil membangun dirinya dengan penuh integritas, kejujuran dan estetika.
Merek dengan spiritual values inilah yang disebut spiritual brand.
Tentu saja, membangun spiritual brand membutuhkan waktu yang lama dan
upaya yang konsisten. Serangkain skandal keuangan yang terjadi di Amerika
Serikat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa merek yang sangat
kokoh seperti Enron bisa hancur dalam sekejap jika tidak menerapkan good
corporate governance dan business ethics dalam perusahaan itu. Kedua hal –
inilah good corporate governance dan business ethics – yang merupakan fondasi
utama dalam pembangunan spiritual brands.
Spiritual values harus benar – benar dihayati oleh seluruh karyawan yang terlibat
dalam proses brand building. Spiritual values harus menjadi kultur perusahaan.
Tugas top executive-lah – terutama CEO – untuk mengkomunikasikan spiritual
values yang dianut perusahaan kepada seluruh karyawan. Sppritual brands tidak
akan berbentuk jika spiritual values yang telah ditetapkan tidak “dibeli” terlebih
dahulu oleh seluruh karyawan (istilah karennya adalah: selling the brand inside).
pada akhirnya, spiritual brand mampu mebuat pelanggannya menjadi sangat
percaya kepada merek itu. Pelanggan ini tidak akan lagi melihat offering dari
merek itu. Secara otomatis, apapun yang ditawarkan akan dibelinya. Tidak heran
jika para pelanggan ini juga mau membayar dengan harga premium untuk
spiritual brands ini. Anda bisa lihat, harga secangkir kopi Starbucks atau tiket
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 31 dari 48
penerbangan Singapore Airlines misalnya, bisa beberapa kali lipat di atas para
pemain lain.
Pelanggan jenis ini juga akan mendukung upaya apapun yang dilakukan spiritual
brands itu. Bahkan jika ada yang mengkritik, pelanggan inilah yang akan maju
membela merek itu tanpa diminta. Inilah yang saya sebut sebagai spiritual
advocate customers. Pelanggan seperti inilah yang diidam – idamkan oleh seluruh
perusahaan, karena mereka merupakan pelanggan loyal kita seumur hidup.
(Dimuat di Asia Inc. edisi Maret 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 32 dari 48
POSITIONING
ADALAH JANJI
Dalam buku saya terbaru Marketing in Venus, saya menulis bahwa pelanggan
semakin lama menjadi semakin emosional layaknya wanita. Saya menulis di situ
bahwa dalam hal kejujuran, trust, dan kepercayaan karakteristik pelanggan di
Venus ini sudah mirip dengan wanita. Kita tahu bahwa wanita itu paling
menghargai yang namanya trust dan kepercayaan. Begitu ia tidak percaya kepada
Anda karena barangkali Anda bohong kepadanya, maka sampai kapanpun ia tak
akan mempercayai Anda. Akan sulit sekali Anda melakukan recovery untuk
memulihkan kepercayaannya.
Suatu kali Shakepeare, pujangga kenamaan Inggris, pernah memperingatkan agar
jangan sekali – kali kita membohongi wanita. Kenapa? Karena sekali Anda
membohongi wanita maka selamanya ia tak akan mempercayai Anda. Dan tak
hanya itu, ia juaga akan marah besar dan bahkan menjadikan Anda musuh tak
termaafkan. “Hell hathno fury like a woman scorned,” kata Sang Pujangga.
Karena itu dalam buku tersebut pun tegas saya mengatakan, “Jangan sekali – kali
Anda membohongi pelanggan Venus!!!!” Sekali saja Anda ketahuan membohongi
pelanggan Venus, untuk selamanya mereka akan meninggalkan Anda. Dan ingat!
Memusuhi Anda selamanya. Anda jangan berpikir bahwa pelanggan Venus itu
maksudnya pelanggan dari planet Venus nun jauh di sana. Pelanggan Venus itu ya
pelanggan yang sehari – hari kita hadapi. Pelanggan yang karena pengaruh
teknologi informasi menjadi semakin emosional dan sensitive terhadap value yang
Anda berikan.
Di dunia yang semakin emosional (“Dunia Venus”) tersebut Anda harus ekstra
hati – hati. Kenapa? Karena pelanggan Venus memiliki “indra keenam”, semacam
kemampuan “supranatural” yang memungkinkan mereka mengetahui apakah
Anda bohong atau tidak. Bukan melalui dari kata – kata, tapi terutama suara,
ekpresi wajah, dan bahasa tubuh Anda.
Anda barangkali tidak tahu bahwa dalam komunikasi face to face, ucapan dan
kata – kata hanya 7 – 10 persen saja menerangkan informasi yang Anda
sampaikan kepada orang lain. Sekitar 20 – 30 persen diterangkan oleh sinyal –
sinyal non verbal, apakah itu roman muka, gerak mata, atau bahasa tubuh yang
lain. Dengan kemampuan alat sensor yang canggih di otak pelanggan Venus bisa
menangkap dan menganalisa informasi ini, baik verbal maupun nonverbal, dengan
sangat baik.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 33 dari 48
Apa ini artinya? Artinya, pelanggan Venus akan tahu kalau Anda berbohong
katakan Anda mengatakan A padahal yang sesungguhnya B, Atau bilang mangga
yang Anda jual manis – manis padahal didalamnya banyak ulatnya. Mereka akan
tahu bukan dari perkataan Anda, tapi dari sinyal – sinyal nonverbal apakah itu
roman muka, emosi ataupun gerak mata Anda.
Artinya lagi, Anda tidak boleh main – main membohongi pelanggan Venus.
Serapi apapun Anda menyembunyikan kebohongan Anda, pada akhirnya mereka
akan mampu mengungkapkanya.
Sejak lebih dari sepuluh tahun lalu saat saya mengeluarkan model saya yang
pertama, Marketing Plus 2000, Saya sudah mengatakan bahwa positioning adalah
janji :
Kalau Dell mengatakan positioningnya adalah, “The world’s most customerfocused
comuter company,” maka sesungguhnya Dell mengumbar janji kepada
seluruh pelanggannya bahwa ia adalah perusahaan computer yang paling peduli
dengan pelanggannya.
Kalau BCA mengatakan positioningnya diwakili oleh satu kata “convenience”
maka sesungguhnya ia berjanji bahwa pelanggan akan mendapatkan seribu
kemudahan dari layanan – layanan BCA apakah iu layanan ATM, Klik BCA,
Mobile Banking, hingga kartu debit dan kredit.
Kalau Kijang memposisikan diri sebagai “Mobil Keluarga” maka sesungguhnya ia
sedang berjanji kepada semua keluarga di Indonesia bahwa mereka tak perlu
punya dua atau tiga mibil di rumah, karena hanya dengan satu Kijang, bapak-ibu,
anak-anak, kakek-nenek, teteh, bisa terangkut kalau mau liburan di Puncak.
Namanya saja janji, maka Anda harus memenuhinya. Tidak boleh tidak!
Kalau Dell mengatakan dirinya perusahaan computer yang paling focus ke
pelanggan maka ia harus paling peduli kepada pelanggan di banding raksasa
computer yang lain. Kalau BCA mengatakan dirinya adalah “convenience” maka
ia tak boleh membiarkan nasabahnya antri bermeter-meter di depan mesin ATMnya.
Kalau Kijang menyebut dirinya mobil keluarga maka ia harus mampu
menciptakan mobil yang pas untuk keluarga Indonesia. Kalau Anda janji ke
pelanggan untuk memberikan A, maka Anda harus meberikan A, tak boleh B atau
C.
Positioning adalah pertaruhan Anda ke pelanggan. Begitu Anda meleset
memenuhinya, maka habislah Anda. Begitu Anda ketahuan ingkar janji, maka
sesungguhnya nyawa merek Anda tinggal 5 Persen.
Dulu di Bumi yang pelanggannya rasional, barangkali nyawa Anda masih 20 atau
30 persen. Namun kini di Venus yang pelanggannya sangat emosional nyawa
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 34 dari 48
merek Anda betul – betul tinggal lima persen, atau barangkali malah habis sama
sekali.
Kenapa?
Karena seperti kata Shakespeare tadi, pelanggan Venus tak hanya meninggalkan
merek Anda untuk selama – lamanya, tapi jauh lebih buruk dari itu, memusuhi
merek Anda untuk selama – lamanya.
Dan ingat!!!
Pelanggan Venus paling suka ngobrol, bercerita, dan berbagi rasa dengan
sesamanya. Begitu seorang pelanggan Venus memproklamirkan bahwa merek
Anda menjadi musuhnya, maka ia akan cerita ke semua orang keburukan –
keburukannya. Ia akan menjadi advocator Anda – bukan advocator yang baik, tapi
advocator yang membawa merek Anda ke jurang kehancuran.
Karena itu saran saya : Jangan sekali kali janji kepada mereka kalau Anda masih
ragu – ragu untuk bisa memenuhinya. Lebih baik Anda bersabar untuk memenuhi
dulu apa – apa saja yang akan Anda janjikan. Begitu seratus duapuluh lima persen
Anda yakin mampu memenuhinya, pada saat itulah Anda boleh mengatakan janji
Anda dan tidak seharusnya mengatakan janji Anda ke pelanggan Venus bukanlah
persoalan kecil dan sepele. Itu adalah persoalan sangat – sangat besar, karena akan
menentukan mati – hidupnya merek Anda.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 35 dari 48
AA GYM :
THE SPIRITUAL
MARKETER
Saya pertama kali bertemu Aa Gym pada September 2003 lalu. Sebelumnya, saya
memang sudah sering membaca berbagai tulisan tentangnya dan sesekali
menonton acaranya di berbagai media massa. Staf dan klien saya pun sering
membicarakan sosok yang satu ini. Makanya saya jadi penasaran seperti apakah
Aa Gym ini in person?
Nah, waktu kebetulan saya ada di Bandung, saya langsung saja berkunjung ke
Pesantren Daarut Tauhiid yang diasuh oleh Aa Gym. Bersama beberapa staf saya,
kami disambut dengan sangat ramah dan hangat oleh Aa gym beserta para
santrinya. Kami pun lalu ngobrol banyak tentang berbagai hal. Salah satunya yang
membuat saya terkesan adalah pandangan Aa Gym tentang bisnis dan
kewirausahaan.
Memang saya saksikan sendiri, Pesantren Daarut Tauhid ini berbeda dari
bayangan saya semula. Pesantren ini membaur dengan masyarakat sekitarnya,
tidak ada tembok ataupun gerbang yang membatasi lingkungan pesantren. Para
santri tinggal dirumah – rumah penduduk sekitar. Mereka pun memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan membeli berbagai barang dari penduduk sekitar itu.
Maka, dengan sendirinya, ekonomi masyarakat pun akan tumbuh dan mampu
memicu semangat kewirausahaan di sekitar wilayah itu.
Aa Gym ngomong kalau ia selalu menekankan kepada setiap orang agar mampu
menumbuhkan semangat wirausaha. Orang akan lebih memiliki rasa percaya diri
dan kehormatan jika mampu menjaga diri dari meminta – minta. Selain itu, Aa
Gym juga berpandangan bahwa dalam berbisnis pun niat dan caranya lah yang
paling penting. Niat kita haruslah bersih, caranya pun haruslah benar.
Saya nilai, dari sisi pemasaran, apa yang dilakukan oleh Aa Gym inilah yang saya
sebut sebagai spiritual marketing. Spiritual marketing bukan berarti bahwa kita
melakukan bisnis yang berhubungan dengan agama, yang berhubungan dengan
perangkat ibadah misalnya. Spiritual marketing berarti kita mampu memberikan
kebahagian kepada setiap orang yang terlibat dalam berbisnis, baik diri kita
maupun orang lain seperti pelanggan, pemasok, distributor, dan bahkan para
pesaing kita. Kita harus mencintai pelanggan dan sekaligus juga menghargai para
pesaing kita.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 36 dari 48
Nah, walaupun kita bergerak dalam bisnis yang berhubungan dengan agama,
namun jika tidak mampu memberikan kebahagian kepada semua pihak, berarti
kita belum melaksanakan spiritual marketing. Sebaliknya, jika dalam berbisnis
kita sudah mampu memberikan kebahagian ini, pada dasarnya kita sudah
menjalankan spiritual marketing, apapun bidang bisnis yang kita geluti.
Mungkin timbul pertanyaan, lho, kok bisa kita ikut membahagiakan para pesaing?
Bagi saya, persaingan itu baik, karena persaingan turut, membesarkan pasar. Jika
kita sukses, berarti permintaan pasar terhadap penawaran kita juga membesar.
Tentu saja kita memiliki keterbatasan – keterbatasan, sehingga tidak semua
permintaan yang ada dapat kita penuhi. Nah, permintaan pasar inilah yang
nantinya akan dipenuhi oleh para pesaing kita.
Selain itu, kita juga dapat belajar sesuatu dari para pesaing kita itu untuk
memperbaiki diri kita sendiri. Persaingan memberikan kita inspirasi dan semangat
untuk terus berusaha. Maka, pada akhirnya, terjadilah hubungan yang saling
menguntungkan antara kita dengan para pesaing.
Begitu pula dengan pelanggan. Jika pelanggan sudah sangat percaya kepada kita,
ia akan menjadi seseorang yang saya sebut Spiritual advocate. Ia bukan hanya
akan membeli produk atau servis yang kita tawarkan. Lebih jauh, ia akan
mendukung usaha apapun yang kita lakukan. Bahkan, jika ada yang mengkritik
kita, orang inilah yang akan maju membela kita tanpa diminta.
Bagi saya, pemasaran itu memiliki tiga dimensi, yaitu Strategy, Tactic, dan Value.
Strategy berorientasi pada cara memenangkan long – term mind share di benak
pelanggan. Tactic berorientasi pada short – term market share. Sedangkan Value
berorientasi pada lifetime heart – share. Nah, spiritual advocade inilah yang akan
kita dapatkan jika kita sudah mampu memenangkan lifetime heart – share.
Sikap empati kepada orang lain – baik pelanggan maupun pesaing – inilah yang
harus kita miliki. Kita harus selalu mencoba untuk menempatkan diri pada situasi
yang dialami orang tersebut. Kita pun harus memperlakukan mereka seperti
layaknya kita ingin diperlakukan oleh mereka. Jika kita tidak ingin membeli
produk yang kelihatannya bagus namun ternyata berkualitas buruk, tentunya kita
tidak boleh melakukan hal yang sama kepada pelanggan kita.
Memang, bagi sebagian orang, pemasaran itu masih sering disalah artikan.
Pemasaran sering disamakan dengan membujuk pelanggan atau konsumen.
Marketing is cheating, demikian anggapan sebagian orang. Namun, bagi saya,
marketing is not cheating. Marketing is about how to get customer and grow them
with your business.
Saat ini, pelanggan menjadi semakin pintar sekaligus emosional. Emosi adalah
pintu masuk bagi pelanggan. Mereka harus merasa enak (feel good) dulu dan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 37 dari 48
sesudah itu mereka akan tetap ‘menyaring’ informasi yang masuk dengan
menggunakan rasionya. Jika secara emosional sudah tidak terbangun minat dalam
diri pelanggan, maka produk atau jasa yang kita tawarkan nantinya tidak akan
dapat masuk ke hati mereka.
Konsumen sekarang cenderung menggunakan EQ-nya dulu dan setelah itu baru
IQ-nya. Bahkan pada akhirnya mereka juga akan menggunakan SQ-nya.
Konsumen akan mempertimbangkan kesesuaian produk dan jasa terhadap nilai –
nilai spiritual yang diyakininya. Pemasaran itu bukan sekadar penjualan, tetapi
membuat pelanggan selalu berpikir tentang kita, membuat pelanggan jatuh cinta
kepada kita.
Sebelum jatuh cinta, tentunya kita harus membuat orang itu percaya kepada kita
terlebih dahulu. Kepercayaan orang adalah fondasi dasar dalam berbisnis.
Semakin orang itu percaya kepada kita, maka semakin mereka bersedia
menyerahkan segalanya kepada kita. Karena itu, di tengah – tengah era yang
semakin tidak pasti saat ini, integritas justru semakin meragukan banyak hal,
maka kecakapan, profesionalitas, dan yang terpenting, kejujuran, akan menjadi hal
– hal yang makin dibutuhkan.
Banyak orang berpendapat, bagaimana bisa berwirausaha, lha wong modalnya
sendiri tidak ada. Bagi saya, seperti yang sudah saya lihat sendiri pada diri Aa
Gym, modal pertama dan terbesar bukanlah materi, bukanlah uang atau harta –
benda, namun semangat dan keyakinan.
Begitu juga bicara masalah keuntungan. Banyak yang merasa bahwa menjadi
wirausahawan pendapatannya lebih kecil daripada pekerja kantoran misalnya.
Sekali lagi saya nyatakan, makna keuntungan (profit) di era spiritual marketing
bukanlah uang, harta, atau jabatan semata. Yang lebih penting adalah timbulnya
rasa kebahagiaan, rasa kedamaian dalam diri. Inilah jugalah yang saya lihat pada
diri Aa Gym. Walaupun sudah sangat sukses seperti sekarang ini, ia tidak memilih
hidup bermewah diri. Ia lebih merasa bahagia dengan hidupnya yang bersahaja
serta terus – menerus memimpin para santrinya untuk juga bersikap serupa
dengannya.
Memang, spiritual marketing bertujuan untuk mencapai sebuah solusi yang adil
dan transparan bagi semua pihak yang terlibat. Tidak akan ada pihak yang merasa
dirugikan. Tidak akan ada pula pihak yang berburuk sangka. Nilai – nilai spiritual
dalam berbisnis ini juga akan mampu memperbaiki inner – side kita. Sebaliknya,
semakin spiritual seseorang, ia pun akan lebih mampu menjalankan bisnisnya
dengan lebih tenang dan dicintai oleh semua pihak.
Aa Gym bukan hanya sekedar memberikan teori, tetapi ia pun telah
mempraktikkannya dan terbukti sangat sukses.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 38 dari 48
Maka, rasanya tidak salah kalau saya menjuluki Aa Gym sebagai seorang spiritual
marketer. Ia merupakan contoh paling nyata dan sempurna dari pelaksanaan
spiritual marketing. Mudah – mudahan akan muncul semakin banyak lagi spiritual
marketer – spiritual marketer Indonesia di masa depan, mengikuti jejak Aa Gym.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 39 dari 48
LIFE WITH A MISSION
Beberapa waktu lalu, saya terbang naik Garuda Indonesia dari Singapura ke
Jakarta. Selama penerbangan, saya dilayani oleh seorang pramugari cantik.
Namanya Dewi Sahyanti.
Saya terkesan dengannya. Saya lihat, pramugari yang satu ini beda dengan yang
lain. Wajahnya wajah senyum, smile face, atau sumeh kata orang Jawa. Sikapnya
pun sangat baik dalam melayani. Keramahan yang ditunjukkannya terkesan
natural dan memang berasal dari hati, tidak dibuat – buat atau sekedar sikap
professional semata.
Saya lantas ngobrol dengannya. Saya Tanya, sudah berapa tahun jadi pramugari ?
17 tahun katanya. Lho, biasanya kalau sudah 17 tahun begitukan sudah capek dan
sudah pension ? Jawabnya lagi, menjadi pramugari ini sudah meerupakan calling,
panggilan jiwa, bukan lagi dianggap pekerjaan. Dia senang melihat pramugari
yang selalu bepergian ke mana – mana dan selalu malayani orang. Jadi, walaupun
mungkin kadang – kadang terasa capek, ia tetap bisa menikmati. Ada kepuasan
batin tersendiri yang tidak bisa diukur dengan materi.
Wah, saya benar – benar terkesan dengan ucapannya ini. Jarang saya temui orang
yang menajalani pekerjaannya karena memang sesuai dengan panggilan jiwanya.
Saya langsung teringat dengan konsep progression of commitment value.
Memang, setiap saya mendapatkan masukan dari orang lain, selalu coba saya
hubungkan dengan berbagai konsep bisnis yang ada di kepala saya. DAlam
konsep progression of commitment value ada 4 tingkatan komitmen. Yaitu
berturut – turut dari mulai yang terendah tingkatannya : political commitment,
intellectual commitment, emotional commitment, dan spiritual commitment.
Tingkatan terendah adalah political commitment. Pada tingkatan ini, orang hanya
memiliki komitment terhadap sesuatu karena sifatnya yang terpaksa, misalnya
karena tuntutan pekerjaan atau pengaruh kekuasaan. Tingkatan selanjutnya adalah
intellectual commitment. Orang memiliki komitmen terhadap sesuatu karena hal
itu dipandang mampu memenuhi kebutuhan intelektualnya. Misalnya seseorang
yang dalam situasi apapun selalu menyempatkan diri untuk membaca buku.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah emotional commitment. Komitmen orang yang
ada di tingkatan ini sudah bersifat emosional, sukarela dan tidak lagi memikirkan
untung – rugi. Misalnya saja adalah para pengikut tokoh tertentu yang selalu
mengikuti apa yang diucapkan pemimpinnya. Sedangkan spiritual commitment
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 40 dari 48
merupakan tingkatan komitmen tertinggi; seseorang akan berkomitmen dengan
apa yang dikerjakannya karena hal itu memang merupakan panggilan jiwanya.
Orang ini sudah tidak lagi terikat kepada hal – hal yang bersifat duniawi.
Bagi saya, hubungan antara Sahyanti dengan pekerjaannya ini sudah sampai
tingkatan spiritual commitment. Ia memiliki komitmen terhadap pekerjaannya
sebagai pramugari karena memang merupakan impiannya sejak kecil dan sesuai
dengan penggilan jiwanya.
Nah, kisah Sahyanti ini juga mirip dengan kisah pribadi saya sendiri.
Saat perayaan tahun baru Cina lalu, saya menyaksikan kisah Confusius di salah
satu stasiun televise. Anda tentu tahu, filsuf Cina yang hidup sekitar 2500 tahun
lalui ini selalau menginspirasi orang – orang untuk tidak hanya bekerja keras,
namun juga untuk selalu belajar setiap saat.
Confusius berkata, “Anda harus terus belajar sampai saat tutup peti mati Anda
ditutup!” Memang, Confusius dikenal sebagai seorang yang selalu belajar
(learning), membagi pengetahuan dan pengalamannya (sharing), serta
mengajarkannya (teaching) kepada siapapun sepanjang hidupnya. Dia juga tidak
pernah menyerah dan tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapainya.
Nah, pada hari itu juga, sore hari, tiba – tiba hati saya merasa sangat tersentuh.
Saat itu, salah satu sahabat saya bercerita tentang pesan dari alamarhum ayah
saya. Walaupun kami telah bersahabat sangat lama, namun sahabat saya ini justru
lebih banyak ngobrol dengan ayah saya daripada dengan saya sendiri. Kisah ini
bahkan belum pernah disampaikan kepada saya oleh ayah saya.
Suatu malam, kepada sahabat saya itu, almarhum ayah saya menunjukkan gambar
Confusius yang berada disamping foto saya. Ayah saya bilang bahwa dia ingin
saya bisa menjadi seperti Confusius. Itulah sebabnya mengapa saya diberi nama
Tan Tjiu Shiok (nama kecil saya) yang berarti saya harus terus belajar setiap saat.
Rupanya, impian ayah saya ini tercapai. Waktu muda, saya mengajar murid SMP
untuk membiayai sekolah, karena keluarga saya sangat miskin. Saya sudah
menjadi guru matematika dan fisika sejak usia yang masih sangat muda, 17 tahun.
Bahkan, sebelum berusia 20 tahun saya sudah menjadi kepala sekolah SMP!
Secara keseluruhan, saya menjadi guru SMP, SMA, dan bahkan SD selama 20
tahun! Saya memang sangat menikmati pekerjaan mengajar ini. Saya itu selalu
berpikir dalam keadaan apapun. Saya selalu berpikir ketika saya bicara, berjalan,
berbelanja, mandi dan bahkan tidur! Dengan berpikir, saya menciptakan berbagai
model pemasaran saya, mulai dari Marketing Plus 2000, Sustainable Market-ing
Enterprise sampai Marketing in Venus.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 41 dari 48
Inilah yang namanya life with a mission. Dalam menjalani hidup ini, kita harus
tahu apa misi hidup kita. Lalu, apakah yang kita lakukan sesuai dengan misi hidup
kita itu banyak orang yang mengerjakan sesuatu, namun sebenarnya tidak tahu
untuk apa dia mengerjakan itu. Banyak pula orang yang bekerja keras, namun
tidak mendapatkan kebahagiaan. Ini semua karena tidak ada keselarasan antara
apa yang mereka kerjakan dengan tujuan hidup mereka.
Jadi, seperti kisah Sahyanti dan saya tadi. Kerjakanlah semua hal sesuai dengan
panggilan jiwa Anda. Niscaya, Anda pun akan mendapatkan kenikmatan batin
yang tidak akan tergantikan oleh apa pun!
(Dimuat di Garuda In-Flight Magazine edisi Mei 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 42 dari 48
BERBISNIS DENGAN CINTA
Tahukah Anda, apa kekuatan utama dalam bisnis ?
Uang ? Bukan
Kekuasaan ? Juga bukan
Lalu, apa ?
Cinta!!!!
Ya, kekuatan utama yang mampu menggerakkan bisnis kita hingga mencapai
kesuksesan adalah cinta. Dalam berbisnis, kita sering lupa bahwa yang kita hadapi
setiap hari sebenarnya adalah manusia, bukan mesin atau computer. Sukses
tidaknya kita berbisnis banyak bergantung dari dukungan orang – orang sekitar
kita. Jika mereka mencintai kita, tentu mereka akan dengan sepenuh hati
memberikan segalanya buat diri kita.
Bayangkan saja jika Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang. Anda tentu selalu
berusaha menyenangkan Sang Kekasih, bukan ? Apapun yang dimintanya, pasti
akan diupayakan sekuat tenaga untuk dipenuhi Anda.
Selain itu, kita pun tentu harus mencintai apa yang kita kerjakan. Dengan
demikian, kita akan melakukan pekerjaan itu dengan tulus, penuh komitmen, dan
berusaha memberikan yang terbaik dari diri kita.
Maka, cinta bukan hanya elemen paling penting dalam kehidupan pribadi kita.
Dalam kehidupan professional atau bisnis, cinta juga sangat berperan penting.
Ini pulalah yang dikemukakan Tim Sanders, Chief Solutions Officer di Yahoo!,
dalam bukunya Love is the Killer App. Untuk berhasil dalam bisnis, seseorang
harus menjadi apa yang disebut oleh Tim Sanders sebagai ‘lovecat’. ‘Lovecat’
adalah seseorang yang pintar, mampu menyenangkan orang lain, dan mencintai
apa yang dikerjakannya dengan sepenuh hati.
Seorang ‘lovecat’ akan terus berupaya menambah pengetahuannya (knowledge)
dalam berbagai bidang. Namun, pengetahuan ini baru akan menjadi berguna jika
ia membaginya dengan orang lain. Karena itu, jika harus terus menjalin dan
mengembangkan relasi dengan semua orang (network). Seorang ‘lovecat’ juga
harus bisa menunjukkan rasa empati kepada orang lain dan tidak segan – segan
membantu jika diperlukan (compassion). Orang akan mengingat perlakuan baik
kita ini. Dan jangan lupa, sikap ini juga akan membuat orang lebih mudah
memaafkan jika kita membuat kesalahan.
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 43 dari 48
Ketiga asset tidak terlihat (intangible assets) inilah – pengetahuan (knowledge),
menjalin relasi (network), serta raa empati dan keinginan untuk selalu membantu
(compassion) – yang harus terus dikembangkan dalam diri kita. Inilah aspek –
aspek penting yang akan membuat kita mampu mempengaruhi orang lain, dan
akhirnya membuat mereka menghargai kita sebagai seorang rekan ataupun
pimpinan.
Kita juga harus menyadari, bisnis sebenarnya adalah sebuah permainan. Tentu
saja, kita semua ingin memenangkan ‘permainan bisnis’ ini. Pemenang permainan
ini adalah orang yang mencintai apa yang ia kerjakan dengan memahami aturan –
aturan permainan secara baik.
Namun, jika dibandingkan dengan pria, wanita tidak mengetahui dan memahami
sebagian besar aturan itu. Akibatnya, mereka kurang berhasil dalam ‘permainan
bisnis’ ini. Bisa kita lihat, hanya sedikit wanita yang berhasil menduduki posisi
puncak di berbagai perusahaan. Mengapa ? Pria tahu dan paham aturan – atuaran
ini karena mereka menciptakannya. ‘Permainan bisnis’ ini telah dimainkan oleh
para pria sejak mereka masih sangat muda. Di lain pihak, wanita tidak pernah
diajarkan bagaimana cara memainkan ‘permainan bisnis’ ini.
Dalam bukunya Play Like A Man, win Like A Woman, Gail Evans, seorang
Executive Vice President di CNN, mengatakan bahwa memang sudah dari
sononya, pria lebih agresif, lebih terus – terang, berani mempromosikan diri,
‘berkulit badak’ , dan lebih mementingkan mencapai kemenangan daripada
menjaga hubungan baik.
Sebaliknya, wanita diajarkan untuk lebih bersikap koorperatif daripada kompetitif,
lebih menikmati proses daripada hasil, dan lebih mencari persetujuan daripada
mencari kesuksesan. Wanita juga cenderung tidak berani mengungkapkan
pendapatnya, karena takut dianggap salah atau tidak sopan. Sifat – sifat dan sikap
– sikap yang kelihatannya saling bertolak belakang inilah yang membuat sebagian
besar wanita kurang berhasil menjadi pemimpin di lingkungan bisnis yang
didominasi pria ini.
Jangan salah, wanita tidak harus ‘menjadi’ pria untuk berhasil dalam bisnis.
Memang, wanita harus mengetahui dan memahami aturan – aturan ‘permainan
bisnis’ ini. Namun, ia harus tetap bersikap sebagai seorang wanita. Dengan kata
lain, seorang wanita harus mencintai ‘permainan bisnis’ ini dan sekaligus
mencintai dirinya sendiri.
Lantas, apa hubungannya semua ini dengan lanskap bisnis Venus seperti yang
sudah saya ceritakan bulan lalu ?
Di dunia Venus ini, keunggulan kompetitif utama kita sebagian besar berasal dari
feel benefit, bukan think benefit. Feeling atau perasaan merupakan akar yang
dalam banyak hal mempengaruhi semua perilaku, karena perasaan terkait dengan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 44 dari 48
emosi. Emosi sangat mempengaruhi pemikiran seseorang. Emosi membentuk dan
mempengaruhi penilaian. Emosi pula yang membentuk perilaku.
Ingatlah pula, emosi ini ‘menular’. Maksudnya, jika karyawan perusahaan tidak
mersa nyaman dengan apa yang dikerjakannya, tentu ia tidak akan mampu
memberikan perasaan nyaman pula kepada pelanggan. Sebaliknya, jika karyawan
itu mencintai apa yang dikerjakannya, tentu ia akan dengan senang hati melayani
pelanggan dan membuat pelanggan merasa nyaman pula.
Maka, perhatikanlah hal ini dengan sungguh – sungguh!
Pemenang utama dalam ‘permainan bisnis’ adalah orang yang mencintai apa yang
dikerjakannya. Kita tidak dapat bermain dengan baik jika kita tidak
menikmatinya. Maka, cintailah sebenarnya kebutuhan utama dan satu – satunya
bagi kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun professional. Ingat apa yang
diakatan The Beatles, band legendaries yang juga merupakan band favorit saya,
All You Need is Love ?
Bagaimana pendapat Anda ?
(Dimuat di Jawa Pos edisi Februari 2004)
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 45 dari 48
LEADERSHIP IN VENUS :
“I DID IT MY WAY”
Saya sudah berkeliling dunia untuk mengahadiri berbagai leadership forum dan
bertemu dengan berbagai pemimpin kelas dunia. Tapi, bagi saya, opening speech
Mahathir Mohamad pada acara Asia Inc Forum on Leadership for Southeast Asia
di Putrajaya, Malaysia tanggal 9 – 10 Juni 2003 lalu memang benar – benar
mengesankan.
Secara singkat, pemimpin Malaysia ini dalam kata – kata bijaknya mengatakan,
“If you do things that are expected of you, then that’s not a decision at all. You’re
not a leader, you are just follower …..As I have said, we [leaders] do not just
follow. We think about doing things our own way. You know the song My Way ?
People like to sing that song when I’m present because they say that I like to do
things my way.”
Luar biasa! Inilah gaya kepemimpinan Mahatir. Mari kita lihat kebelakang
sejenak beberapa langkah yang telah diambilnya sebagai Perdana Menteri
Malaysia.
Mahatir berhasil menciptakan sebuah kelas menengah Melayu melalui affirmative
action policies di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi. Berbagai proyek
juga dikerjakan untuk membangkitkan kebanggaan Melayu yang selama ini
dianggap sebagai ras kelas dua; antara lain dengan membangun Menara Kembar
Petronas, yang merupakan gedung tertinggi di dunia, dan juga mengembangkan
“Multimedia Super Corridor” untuk menyaingi Silicon Valley di California.
Walaupun menerapkan kebijakan diskriminasi positif ini, tidak ada gejolak yang
berarti di negaranya. Ia berhasil mempertahankan keseimbangan dan keserasian di
antara tiga ras utama di Malaysia, yaitu Melayu, Cina, dan India.
Di lain pihak, Mahatir juga controversial. Ia kerap mengkritik secara keras dan
terbuka mengenai standar ganda yang diterapkan pihak Barat, padahal pihak Barat
ini jugalah yang banyak berinvesati di Malaysia. Di dalam negeri, ia juga tidak
segan – segan bertindak tegas terhadap berbagai pihak yang dianggap tidak
sejalan dengan dirinya.
Mahatir juga dengan berani mengubah system yang sudah berlaku selama puluhan
tahun. Misalnya, ia mengeluarkan kebijakan yang mengurangi kekuasaan (curbed
the powers of) sultan – sultan, sehingga mereka tidak lagi kebal hokum dan
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 46 dari 48
mendapatkan berbagai kemudahan dalam berbisnis seperti yang sudah dinimati
selama puluhan tahun.
Saat krisis Asia di tahun 1998, pemimpin Mahatir yang berusia 77 tahun ini
dengan berani mengambil langkah yang bertentangan dengan kebijakan
konvensional (conventional wisdom) saat itu. Ia tidak meminta bantuan IMF
seperti lazimnya negara – negara Asia lain yang terkena krisis. Ia pun mensuspend
perdagangan ringgit Malaysia dengan menerapkan kebijakan capital
control. Walaupun langkah ini ditentang IMF dan dikritik banyak pihak, nyatanya
ekonomi Malaysia bisa pulih lebih cepat daripada negara – negara tetangganya
yang justru meminta bantuan IMF.
Saya lihat, walaupun ia seorang intelektual, berbagai langkahnya ini terkadang
justru tidak dapat diterima secara logis. Jika berdasarkan pertimbangan –
pertimbangan rasional semata, para pemimpin lain mungkin tidak akan
mengambil langkah menentang system yang ada. Namun, di samping berbagai
pertimbangan rasional, Mahatir juga memiliki keyakinan emosional dan spiritual
bahwa yang dilakukannya adalah yang terbaik bagi rakyatnya. Keyakinan inilah
yang akhirnya melahirkan berbagai langkah yang kerap dipandang controversial.
Semua hal tersebut menunjukkan bahwa Mahatir berani challenged the process
dan mengambil resiko mengambil keputusan yang sulit dan tidak popular. Inilah
karakteristik utama seorang leader seperti yang diutarakan James M. Kouzes and
Barry Z. Posner dalam bukunya yang popular, The Leadership Challenge, yang
dipakai sebagai text book leadership di IBM.
Pemimpin adalah orang yang aktif, memilih bertindak daripada berdiam diri
menunggu inisiatif orang lain. Pemimpin adalah mereka yang berani melakukan
tindakan – tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Mereka
melakukan inovasi dan eksperimen untuk menemukan cara – cara baru dan lebih
baik dalam melakukan suatu hal. Pendeknya, mereka adalah orang – orang yang
berani melakukan dan mengahadapi perubahan.
Pemimpin juga berusaha agar para pengikutnya siap untuk berubah. Pendekatan
yang dilakukan pun bukan hanya pendekatan rasional, namun juga emosonal.
Seperti yang dikatakan John P. Kotter dan Dan S. Cohen dalam bukunya The
Heart of Change, analisis rasional diberikan oleh pemimpin agar para pengikutnya
berpikir tentang perubahan yang terjadi, dan akhirnya mampu menyesuaikan diri
dengan perubahan itu (analysis – think – chage). Namun yang lebih penting,
pemimpin juga harus membantu pengikutnya untuk melihat perubahan yang ada,
merasakan pentingnya perubahan itu, dan akhirnya secara emosional mau
menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada (see – feel – change).
Dengan bekal emosional dan spiritual competence itu, Mahatir sukses memimpin
dan memasarkan Malaysia. Selama 22 tahun masa kekuasaannya, ia berhasil
membawa Malaysia dari sekedar negara pengekspor karet dan timah menjadi
Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 47 dari 48
salah satu negara industri modern yang memproduksi peralatan elektronik, besi
baja, dan mobil. Brand “Malaysia” pun dihormati berbagai kalangan dan mampu
memikat customers di berbagai penjuru dunia.
Maka untuk menjadi seorang pemimpin yang sukses di lanskap bisnis baru yang
semakin emosional ini, atau istilah saya “Venus landscape”, intellectual
competence saja tidaklah cukup. Ia terutama harus memiliki emotional
competence dan spiritual competence agar mampu menjadi great leader di dunia
Venus ini.
(Dimuat di Asia Inc. edisi Agustus 2003)

Kumpulan Pustaka IKA ITT-STTT Periode 2004-2007 BLest 48 dari 48
TENTANG PENULIS
KH. Abdullah Gymnastiar, akrab disapa Aa Gym adalah dai sekaligus
penceramah yang paling popular di Indonesia. Beliau membawakan konsep baru
dalam dakwah dengan mengajak orang memahami hati atau qalbu, untuk
mengenali diri sendiri. Konsep ini dikenal dengan Manajemen Qolbu.
Pemimpin Ponpes Daarut Tauhiid Bandung itu pernah tampil di acara Sixty
Minutes di TV NBC, AS, bulan November 2002. Media televise di AS itu tertarik
menampilkan Aa Gym karena ia dinilai menghadirkan sebuah nuansa Islam yang
sejuk dan damai. Time bahkan menjuluki beliau sebagai The Holly Man.
Selain penceramah yang disegani, Aa Gym adalah marketer yang tangguh. Beliau
menjalankan bisnis sebagai ibadah. Konsep yang beliau jalankan adalah
menyatukan antara dzikir, piker dan ikhtiar. Selain berhasil mengelola Yayasan
Pesantren Daarut Tauhiid di Bandung, ia juga berhasil dalam mengelola kelompok
bisnisnya di bawah bendera Manajemen Qolbu. Holding company ini membawahi
sekitar 19 anak perusahaan yang bergerak di bidang mini market, warung
telekomunikasi, kafe, penerbitan, stasiun radio, televise local, pembuatan kaset,
dan VCD. Omzetnya mencapai miliaran rupiah.
Hermawan Kartajaya, adalah Founder dan President MarkPlus&Co dan
President Worl Marketing Association (WMA). Hermawan adalah pembicara
seminar serta penulis kolom dan buku yang produktif. Buku terakhirnya :
Repositioning Asia: Forum Bubble to Sustainable Economy (John Wiley&Son,
2000), Rethinking Market-ing:Sustainable Marketing Enterprise in Asia (Prentice
Hall, 2002), keduanya ditulis bersama Prof. Philip Kotler, Hermawan Kartajaya
on Marketing (Gramedia Pustaka Utama, 2003), Marketing in Venus (Gramedia
Pustaka Utama, 2003) dan On Becoming a Customer-Centric Company
(Gramedia Pustaka Utama, 2004). Pada tahun 2003, dianugrahi gelar sebagai “50
gurus who have shaped the future of marketing” oleh CIM-UK, bersama satu
orang wakil Asia yang lain, yakni Kenichi Ohmae dari Jepang.

ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN

July 28, 2010 Comments off

ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh:
IRMA NOVIA S
B 200 050 019
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertandatangan dibawah ini telah membaca Skripsi dengan judul:
ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
Yang ditulis oleh IRMA NOVIA S dengan NIM : B 200 050 019
Penandatanganan berpendapat bahwa skripsi tersebut memenuhi syarat untuk
diterima.
Surakarta, 2009
Pembimbing Utama
(Drs. Suyatmin, M.Si)
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi UMS
(Drs. H. Syamsudin, MM.)
iii
IRMA NOVIA S
05.6.106.02030.50019
AKUNTANSI
“ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN
IRMA NOVIA S
KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN
(Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)
ii i
iv
MOTO
“Allah SWT meninggikan drajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan”
( Qs. Al, Muajaadilah II )
“Kemulian itu tidak datang dari apapun dan siapapun, melainkan dari ketaatan dan
ketakwaan kita kepada allah SWT”
(AA, Gym ).
“Doa adalah nyanyian hati yang selalu membuka jalan kesinggasana tuhan walaupun
terhimpit nyanyian seribu jiwa”
( Kahlil Gibran )
“Mencintai seseorang adalah keindahan, Dicintai seseorang adalah lebih indah
Dicintai orang yang kau cintai adalah segalanya”
( Julie Withey )
Memperoleh kepercayaan sangatlah mudah, lebih mudah lagi menghianatinya, kepercayaan
yang telah kau miliki
( Penulis )
“A Friend is atreasura more precious than gold.
For love shared is princeless and never coreows old”.
Setiap detik kematian selalu menghampiri kita namun mengapa sang waktu dapat melupakan
kita akan kedatangannya.
( Penulis )
v
PERSEMBAHAN
Setiap lembar dan goresan tinta ini merupakan wujud dari keagungan dan kasih
sayang diberikan allah SWT kepadanya. Setiap detik penyelesaian skripsi ini merupakan hasil
getaran Do’a Bunda-ku yang tercinta, Ayah, serta saudara ku yang selama ini memberikan
perhatian yang tiada pernah henti.
Kupersembahkan karya sederhana ini untuk ;
􀂙 Bapakku dan Ibuku tercinta, yang telah memberiku support, doa, dan kasih sayang.
􀂙 Untuk seseorang yang aku cinta, terima kasih atas segala pengertian dan suportnya.
􀂙 Almamaterku, jembatan masa depanku.
v
vi
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji hanyalah bagi mu ya Allah ya Tuhan ku. Tuhan semesta alam
yang menguasai hari pembalasan, engkau senantiasa menganugrahkan bagiku
banyak nikmat kepada kami hingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul
“ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN KARYAWAN TERHADAP
KINERJA KARYAWAN (Studi empiris di PT. AIR MANCUR Palur)”
sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung hingga
selesainya skripsi ini. Ucapan terimakasih penghargaan yang tulus penulis
ucapkan kepada :
1. Bapak Drs. Syamsudin, MM. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi UMS.
2. Bpak Drs. Suyatmin, M.Si. Selaku dosen pembimbing utama yang selalu
dengan bijaksana, penuh kesabaran berkenan untuk membaca, mengoreksi,
membimbing dan mengarahkan hingga terselesaikannya skripsi ini.
3. Ayahanda dan Ibunda tercinta, yang telah berkorban dengan segala dukungan
dan Do’a restu sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
4. Seseorang yang aku cinta, mas Grenda, terima kasih atas dukungan, motivasi
dan kasih sayang yang diberikan hingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
vi
vii
5. Sahabatku, momon, anik dan bang edi terima kasih atas dorongan dan
motivasi yang kalian berikan, semoga persahabatan kita abadi.
6. Teman-teman Akuntansi kelas A yang tidak dapat disebutkan satu persatu
yang telah membantu memberikan motivasi kepada penulis.
Meskipun segenap kemampuan penulis telah dikerahkan, namun penulis
menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, namun ketidaksempurnaan ini
masih tetap dapat memberi manfaat bagi pihak yang memerlukan.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, hidayahNya kepada kita, dan
semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur atas segala nikmatNya Amin
ya robbal a’lamin…
Surakarta, Juni 2009
PENULIS
vii
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………. i
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………………….. ii
HALAMAN KEASLIAN SKRIPSI ………………………………………………………. iii
HALAMAN MOTTO………………………………………………………………………….. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………………………. v
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. vi
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………. xiii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………….. x
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………… xi
ABSTRAKSI ……………………………………………………………………………………… xii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………. 1
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………….. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………………………….. 2
C. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 3
D. Manfaat Penelitian ……………………………………………………. 3
E. Sistematika Penelitian ……………………………………………….. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………….. 6
A. Pengertian Kesejahteraan Karyawan…………………………… 6
B. Pengertian Kinerja ……………………………………………………. 11
C. Pengaruh Kesejahteraan karyawan terhadap Kinerja
Karyawan ………………………………………………………………… 28
viii
ix
D. Kerangka pemikiran ………………………………………………….. 28
E. Penelitian Terdahulu ………………………………………………… 29
F. Hipotesis ………………………………………………………………… 30
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………… 31
A. Populasi ………………………………………………………………….. 31
B. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ……………………. 31
C. Jenis Data dan Sumber Data ………………………………………. 32
D. Metode Pengumpulan Data ………………………………………… 33
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran…………… 34
F. Uji Kualitas Pengumpulan Data…………………………… 35
G. Uji Asumsi Klasik………………………………………… 36
H. Metode Analisis Data……………………………………… 37
BAB IV GAMBARAN UMUM DAN PEMBAHASAN…………………. 41
A. Gambaran Umum Perusahaan…………………………………….. 41
B. Deskripsi Responden Penelitian………………………………….. 61
C. Analisis Data……………………………………………… 65
D. Pembahasan ……………………………………………………………. 72
BAB V PENUTUP…………………………………………………………………….. 75
A. Simpulan …………………………………………………………………. 75
B. Keterbatasan Penelitian……………………………………………… 76
C. Saran-Saran ……………………………………………………………… 76
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ix
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel IV. 1. Jumlah Tenaga Kerja PT. Air Mancur Palur ……………………… 52
Tabel IV. 2. Karakterisik Responden Berdasarkan Usia………………………… 61
Tabel IV. 3. Karakterisik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………….. 62
Tabel IV. 4. Karakterisik Responden Berdasarkan Pendidikan………………. 63
Tabel IV. 5. Karakterisik Responden Berdasarkan Jumlah Keluarga………. 63
Tabel IV. 6. Deskripsi Statistik ………………………………………………………….. 64
Tabel IV.7. Rangkuman Uji Validitas Tunjangan Kesejahteraan
Karyawan …………………………………………………………………….. 65
Tabel IV.8. Rangkuman Uji Validitas Kinerja Karyawan ……………………. 66
Tabel IV.9. Hasil Uji Reliabilitas ……………………………………………………… 67
Tabel IV.10. Hasil Uji Regresi Linear Berganda ………………………………….. 68
Tabel IV.11. Hasil Uji Normalitas ……………………………………………………… 71
Tabel IV.12. Hasil Uji Heteroskedastisitas ………………………………………….. 72
x
xi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar III.1. Grafik Uji F …………………………………………………………………… 38
Gambar III.2. Grafik Uji t …………………………………………………………………… 40
Gambar IV.1. Struktur Organisasi PT. Air Mancur …………………………………. 45
Gambar IV.2. Skema Saluran Distribusi ………………………………………………… 59
xi
xii
ABSTRAKSI
Prestasi kerja karyawan merupakan salah satu indakator keberhasilan
dalam operasional perusahaan dalam mencapai tujuan dari perusahaan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan karyawan dengan
kinerja karyawan di PT. AIR MANCUR Palur.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan. Jumlah sampel
yang diambil 88 responden. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner
dan metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda, uji t, uji F dan
koefisien determinasi.
Berdasarkan hasil analisis data, hasil penelitian ini dapat disimpulkan
sebagai berikut: Hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi variabel
tunjangan kesejahteraan sebesar 0,507 bernilai positif, hal ini menunjukkan
bahwa tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja
karyawan. Artinya tunjangan kesejahteraan yang diberikan perusahaan semakin
baik, akan meningkatkan kinerja karyawan. Hasil uji t menunjukkan bahwa
meliputi variabel tunjangan kesejahteraan berpengaruh signifikan terhadap
kinerja karyawan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.
Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program SPSS 10.0, dalam
analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien determinasi atau R2 sebesar
0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi perubahan kinerja karyawan dijelaskan oleh
variasi perubahan tunjangan kesejahteraan. Sementara sisanya sebesar 65,7%
diterangkan oleh faktor lain yang tidak ikut terobservasi
Kata kunci: kesejahteraan karyawan, kinerja karyawan
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sumber daya manusia merupakan aset paling penting dalam suatu
organisasi serta mempertahankan dan mengembangkan organisasi dalam
berbagai tuntutan masyarakat dan jaman. Kinerja sumber daya yang baik
merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup organisasi. Jika organisasi
ingin berkembang dengan pesat, organisasi harus mempunyai sumber daya
manusia yang mampu menampilkan kinerja yang baik. Penilaian kinerja
sesungguhnya merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam
melaksanakan peran yang mereka mainkan didalam organisasi karena pada
dasarnya organisasi dijalankan oleh manusia.
Dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia
unsur kesejahteraan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh karena
kesejahteraan karyawan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
memacu semangat kerja serta produktivitas kerja karyawan. Dengan
meningkatnya kinerja karyawan itu dapat pula menunjang atau mempengaruhi
kesejahteraan karyawan tersebut, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung yaitu dengan naiknya gaji karyawan, pemberian
bonus, pemberian tunjangan keluarga maupun bonus, sedangkan secara tidak
langsung yaitu bisa dengan memberikan kesempatan promosi jabatan kepada
karyawan yang berprestasi baik. Dengan demikian prestasi kerja karyawan
1
2
yang baik itu akan memberikan sumbangan atau dapat mendorong untuk
memajukan perusahaan yang lebih baik. Selain itu promosi jabatan bagi
karyawan yang berprestasi baik itu akan dapat menguntungkan bagi karyawan
itu sendiri, dimana dengan promosi jabatan itu akan memperbaiki posisi atau
kedudukan seorang karyawan tersebut di dalam perusahaan.
Selain dari pada itu jika dilihat dari segi keuntungan perusahaan,
dengan adanya kinerja karyawan yang baik itu dapat memajukan perusahaan
tersebut. Dengan demikian akan dapat meningkatkan keuntungan atau dapat
meningkatkan tingkat rentabilitas perusahaan tersebut.Untuk meningkatkan
produksi masing-masing unit perlu ditingkatkan kinerja para karyawan
sehingga prestasi kerja karyawan ini dapat menigkat. Peningkatan prestasi
kerja karyawan akan meningkatkan produksi jamu PT Air Mancur di daerah
Palur. Prestasi kerja karyawan merupakan salah satu indakator keberhasilan
dalam operasional perusahaan dalam mencapai tujuan dari perusahaan
Berdasarkan permasalahan dan latar belakang diatas, maka penulis
mengambil judul : ANALISIS PENGARUH KESEJAHTERAAN
KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Empiris di PT
Air Mancur Palur).
B. Perumusan Masalah
Apakah terdapat pengaruh kesejahteraan karyawan terhadap kinerja
karyawan di PT AIR MANCUR Palur”
3
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari permasalahan dalam penelitian ini maka yang
menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui kesejahteraan karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
2. Untuk mengetahui tentang Kinerja karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
3. Untuk mengetahui pengaruh kesejahteraan karyawan terhadap kinerja
karyawan di PT AIR MANCUR Palur.
D. Manfaat Penelitian
Bedasarkan perumusan masalah, pada dasarnya peneliti akan
mengharapkan penelitian ini nantinya dapat member manfaat bagi pihak-pihak
yang berkepentingan:
1. Bagi PT AIR MANCUR
Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pemimpin atau
pengurus koperasi didalam mengambil beberapa tindakan untuk
meningkatkan kinerja karyawan.
2. Bagi Masyarakat Umum
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk meningkatkan
pegetahuan praktis dan memperluas wawasan mereka tentang
kesejahteraan karyawan pada khususnya serta ketenagakerjaan pada
umumnya.
4
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat digunakan untuk mempeluas wawasan tentang
ketenagakerjaan.
E. Sistematika Penelitian
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang isi skripsi ini,
peneliti sajikan uraian dari sistematika skripsi yaitu:
BAB I Pendahuluan
Pendahuluan peneliti sajikan pada bagian pertama isi skripsi
yang didalamnya merupakan uraian dari Latar Belakang Masalah,
Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan
Sistematika Skripsi.
BAB II Landasan Teori
Dalam landasan teori ini berisi tentang, Pengertian
Kesejahteraan Karyawan, Cara Mengklasifikasikan Kesejahteraan
Karyawan, Usaha-Usaha Untuk Memenuhi Kebutuhan Karyawan Atau
Program Kesejahteraan Ekonomi Karyawan, Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kesejahteraan Karyawan, Pengertian Kinerja,
Penilaian Kinerja, Hubungan Kesejahteraan Karyawan Dengan Kinerja
Karyawan serta Perumusan Hipotesis.
5
BAB III Metode Penelitian
Dalam bab ini berisi tentang: Pengertian dan Jenis-Jenis
Penelitian, Penetapan Populasi dan Variabel Penelitian, Metode
Pengumpulan Data dan Analisis Data.
BAB IV Laporan Penelitian
Bab ini diuraikan tentang: Persiapan, Pelaksanaan
Pengumpulan Data, Pengolahan Data dan Interpretasi Data.
BAB V Penutup
Yang didalamnya berisi tentang Simpulan, Implikasi Penelitian
dan Saran-saran.
Daftar Pustaka
Lampiran
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Kesejahteraan Karyawan
Setiap orang yang hidup selalu menginginkan kesejahteraan hidup
sebab dengan sejahtera hidupnya akan menjadi tenang dan tentram. Menurut
WJS Poerwodarminto (1984;492), Kesejahteraan adalah suatu kondisi aman
sentosa dan makmur terhindar dari berbagai ancaman dan kesulitan yang
dirasakan seseorang yang telah melakukan suatu pekerjaan di suatu tempat
atau perusahaan.
1. Cara mengklasifikasi kesejahteraan karyawan
Program kesejahteraan karyawan telah menjadi bagian integral dari
kebanyakan paket kompensasi. Program asuransi jiwa dan kesehatan dan
cuti yang dibayar adalah sedikit dari banyak tipe kesejahteraan karyawan
yang biasa ditemui dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Ini dapat
terlihat dari atau dalam Undang-undang ketenagakerjaan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah serta ketentuan tentang upah minimum
regional yang setiap kali sesuai dengan kondisi.
Dengan memberikan sederetan kesejahteraan untuk karyawan akan
membantu organisasi untuk menarik karyawan yang berkualitas tinggi,
disamping sebagai usaha untuk mempertinggi moral, dan kepuasan kerja
karyawan. Dengan demikian terjaminnya kesejahteraan karyawan itu
6
7
sangat menguntungkan bagi karyawan itu sendiri maupun perusahaan
tersebut.
Menurut Moekijat (1989;167), ada beberapa cara untuk
mengklasifikasikan kesejahteraan karyawan yaitu:
a. Pelayanan karyawan
b. Pembayaran untuk waktu tidak bekerja
c. Keamanan pegawai atau karyawan
2. Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau program
kesejahteraan ekonomi karyawan.
Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau pegawai
merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau
pegawai adalah sebagai berikut :
a. Pemberian gaji atau upah yang adil.
Dalam pemberian gaji ini disesuaikan dengan tugas yang telah
dikerjakan dengan hasil yang memuaskan dengan waktu tertentu.
Sedangkan untuk tercapainya keadilan tersebut, maka ada beberapa
factor penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan tingkat upah
seorang pegawai atau karyawan adalah pendidikan, pengalaman,
tanggungan keluarga, kemampuan perusahaan, daan kondisi pekerja.
b. Asuransi
Dalam lingkungan kerja dimanapun pasti menginginkan keselamatan,
keamanan dan kesehatan kerja. Karena bagaimanapun juga manusia
8
menginginkan ketiga hal itu dan sanggup mengorbankan apa saja asal
dapat sehat, aman dan selamat.
Sedangkan program asuransi ini bisa berbentuk Asuransi Jiwa,
Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kecelakaan. Disini perusahaan bisa
melakukan kerja sama dengan Perusahaan Asuransi untuk
menanggung asuransi karyawannya.
Lingkungan kerja yang aman dan sehat sangat diperlukan oleh semua
orang karena ditempat kerja yang demikian seseorang dapat bekerja
dengan tenang sehingga dapat memperoleh seperti yang diharapkan
oleh perusahaan atau organisasi tersebut.
c. Melalui promosi atau kenaikan jenjang
Pihak perusahaan atau suatu organisasi biasanya menyenangi dasar
promosi adalah kecakapan kerja, karena kecakapan kerja atau kinerja
yang baik adalah merupakan dasar kemajuan. Sedangkan pihak
karyawan menghendaki unsure seniorisasi lebih ditekankan dalam
promosi, karena dengan makin lama masa kerja, maka makin
berpengalaman seseorang, sehingga kecakapan kerja mereka makin
baik.
Tetapi pada umumnya didalam menentukan dasar untuk promosi
sering digunakan keduanya yaitu dasar kecakapan kerja dan senioritas
jadi apabila ada karyawan atau pegawai yang mempunyai kecakapan
yang sama, maka karyawan atau pegawai yang lebih seniorlah yang
akan dipromosikan.
9
Sebagai salah satu pengembangan, promosi sangat diharapkan oleh
setiap karyawan atau pegawai dimanapun berada. Oleh karena itu dia
akan mendapatkan hak-hak yang lebih baik daripada yang diperoleh
sebelum promosi baik material maupun non material. Hak-hak yang
bersifat material misalnya kenaikan pendapatan, perbaikan fasilitas
sedangkan hak yang bersifat non material misalnya status sosial, dan
rasa bangga.
d. Program Rekreasi
Dengan adanya kesempatan rekreasi itu diharapkan para pegawai atau
karyawan selalu bergairah atau mempunyai semangat dalam bekerja.
Salah satu program rekreasi adalah mengadakan tour ke tempattempat
wisata bersama keluarga.
e. Pemberian Fasilitas
Yang dimaksud dengan fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan,
dipakai, ditempati dan dinikmati oleh pegawai baik dalam hubungan
langsung dengan pekerjaan seperti termasuk didalamnya semua alat
kerja di perusahaan dan secara tidak langsung untuk kelancaran
pekerjaan seperti gedung, alat komunikasi, ruangan kerja yang
memadai dan lain sebagainya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan.
a. Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan karyawan meliputi :
10
1) Gaji dan upah yang baik
Gaji bisa dipakai untuk kebutuhan psikologis dan sosial
2) Rekan kerja yang kompak.
Keinginan ini merupakan cermin dari kebutuhan sosial.
Seorang karyawan mungkin berkeberatan untuk dipromosikan,
hanya karena tidak menginginkan kehilangan rekan kerja yang
kompak.
3) Kondisi kerja yang aman, nyaman dan menarik.
Kondisi kerja yang aman berasal dari kebutuhan akan rasa aman
disamping itu juga tempat kerja yang nyaman dan menarik.
b. Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan pimpinan :
1) Pimpinan yang adil dan bijaksana.
Pimpinan yang baik menjamin bahwa pekerjaan akan tetap bisa
dipertahankan, demikian juga pimpinan yang tidak berat sebelah
akan menjadi ketenangan kerja.
2) Melengkapi para karyawan dengan sumber dana yang diperlukan
untuk menjalankan tugasnya.
3) Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang
diharapkan dari mereka.
4) Memberikan penghargaan untuk mendorong kinerja.
Dari uraian tentang teori kesejahteraan karyawan di atas, maka
dalam peneliti ini, kesejahteraan karyawan yang dimaksud adalah:
11
a. Keamanan
Meliputi rasa aman terhadap suasana kerja, pemberian jaminan
asuransi dan pelayanan usaha kesehatan.
b. Kesenangan
Meliputi pemberian waktu rekreasi bersama, pemberian cuti dan
sebagainya.
c. Kemakmuran
Meliputi pemberian gaji yang sesuai, pemberian tunjangan kepada
karyawan, atau kantin bagi karyawan, pemberian seragam kerja kepada
karyawan.
Kesemuanya itu merupakan unsur-unsur kesejahteraan yang akan diteliti
di PT AIR MANCUR Palur. Dan unsur-unsur kesejahteraan karyawan
tersebut diatas akan diukur melalui angket yang disediakan oleh peneliti untuk
diisi responden, dalam hal ini responden tersebut adalah karyawan di PT AIR
MANCUR Palur.
B. Pengertian Kinerja
Pengertian kinerja berasal dari kata job performance/actual performance
yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh
seseorang. Menurut Mangkunegara (2001;67) kinerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut As’ad (1999;48) prestasi kerja adalah hasil yang dicapai
12
seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang bersangkutan.
Pendapat diatas dapat diterangkan bahwa untuk dapat meraih keberhasilan
dalam pekerjaan seseorang perlu memenuhi kemampuan yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan yang baik menyangkut pengetahuan dan
ketrampilan. Pelaksanaan pekerjaan akan lebih efektif apabila didukung
dengan keyakinan dan motivasi yang tinggi. Dengan adanya keyakinan akan
mendorong seseorang untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaannya
sehingga dapat mengarahkan perilaku kerjanya demi tercapainya tujuan yang
diinginkan.
Menurut Kalbers dan Forgaty dalam David Effendi dan Sujono (2004)
kinerja adalah evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan lewat atasan,
teman, dirinya sendiri dan bawahan. Sedangkan menurut Dessler (1992) dalam
Bambang Guritno dan Waridin (2005) menyatakan bahwa kinerja adalah
prestasi kerja yakni perbandingan antara hasil kerja yang secara nyata dengan
standar kerja yang ditetapkan. Berdasarkan pengertian kinerja dari beberapa
pendapat diatas, kinerja merupakan perbandingan hasil kerja yang dicapai oleh
karyawan dengan standar yang telah ditentukan.
John Witmore dalam Coaching for Performance (1997:104) dalam
Wikipedia “kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari
seorang atau suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum
ketrampilan”. Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan
dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian
hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi
13
atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu
kebijakan operasional.
Beberapa pengertian kinerja karyawan selain tersebut diatas adalah
sebagai berikut :
1. Kinerja adalah banyaknya upaya yang dikeluarkan individu pada
pekerjaannya.
2. Kinerja adalah dapat dinilai dengan kinerja sesungguhnya masa sekarang,
serta dengan periode yang akan datang dalam lingkup tertentu, misalnya :
kinerja operasi, kinerja keuangan, kinerja sumber daya manusia, serta
kinerja perusahaan secara keseluruhan
3. Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
kelompok organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi yang
berangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral
atau etika.
4. Kinerja merupakan hasil kerja seseorang yang menggambarkan kualitas
dan kuantitas atas kerja yang telah dilakukan
Indicator kinerja adalah sebagai berikut:
1. Loyalitas
Yaitu kesetiaan pegawai terhadap organisasi dan semangat berkorban demi
tercapainya tujuan organisasi.
14
2. Tanggungjawab
Yaitu rasa memiliki organisasi dan kecintaan terhadap pekerjaan yang
dilakukan dan ditekuni serta berani menghadapi segala konsekuensi dan
resiko dari pekerjaan tersebut.
3. Ketrampilan
Yaitu kemampuan pegawai untuk melaksanakan tugas serta menyelesaikan
masalah yang berhubungan dengan pekerjaan.
4. Pengetahuan
Yaitu kemampuan pagawai untuk menguasai semua hal yang berhubungan
dengan pekerjaannya.
Pada dasarnya kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor
tersebut adalah :
1. Motivasi
Motivasi adalah daya gerak yang mendorong untuk bertindak. Jika
motivasi kuat maka daya dorong untuk terciptanya kinerja yang baik akan
kuat pula.
2. Pendidikan dan pelatihan
Pendidikan dan pelatihan adalah upaya untuk meningkatkan berbagai
pengetahuan dan ketrampilan. Disamping itu pendidikan dan pelatihan
merupakan usaha untuk memungkinkan perubahan sikap yang dilandasi
motivasi untuk berprestasi.
15
3. Pengalaman
Pengalaman pada dasarnya membuat individu lebih mengenal dan
memahami proses kerjanya sehingga diharapkan dapat meningkatkan
kinerjanya.
4. Teknologi
Pengetahuan teknologi modern pada dasarnya akan menghasilkan
kinerjanya lebih banyak dibandingkan penggunaan peralatan tradisional.
Kinerja antara satu organisasi dengan yang lainnya dapat saja berbeda,
karena faktor pendorong yang berbeda. Beberapa faktor tersebut antara lain
factor lingkungan, kemampuan, budaya, pendidikan, kepemimpinan dan
organisasi. Dessler (2000) menyatakan beberapa syarat penilaian atas kerja
yang harus dipenuhi agar mendapatkan hasil kerja yang baik yaitu : relevan,
dapat diterima, dapat dipercaya, peka, dan dapat mendukung tujuan usaha.
Simmamora (1995) menyatakan bahwa kinerja adalah tingkat kerja yang
dicapai oleh seseorang dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
Kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Faktor individual yang terdiri dari : kemampuan dan faktor demografi.
2. Faktor psikologis yang terdiri dari : sikap, motivasi, persepsi, personality
dan pembelajaran.
3. Faktor organisasi yang terdiri dari : sumber daya, kepemimpinan,
penghargaan, struktur dan job design.
Kinerja menggambarkan tentang apa yang telah dicapai oleh individu
atau dengan kata lain hasil aktualyang telah dicapai (Riyadiningsih, 2001,
16
dalam Widyastuti dan Wahyuni, 2003). Ketika individu menetapkan tujuan
dan berusaha untuk mencapai tujuan itu, maka individu ini akan memperoleh
dan melihat hasil dari apa yang telah dilakukannya atau diusahakannya itu.
Nantinya hasil tersebut akan dinilai dan dibandingkan dengan tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Gibson et al (1996;280) menyatakan bahwa performance berkaitan
dengan evaluasi kinerja, dimana evaluasi kinerja merupakan prestasi individu
yang merupakan cerminan prestasi organisasi, oleh karena itu prestasi pegawai
yang tinggi sangat penting artinya bagi keberhasilan organisasi. Bernadin dan
Beatty(1984;46) mendefinisikan kinerja sebagai catatan hasil yang berhasil
diproduksi pekerjaan khusus, seperti fungsi, aktivitas/perilaku hingga periode
waktu khusus, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja organisasi
adalah prestasi dari suatu organisasi dan mengandung beberapa hal seperti
adanya target tertentu yang dicapai, memiliki jangka waktu dalam pencapaian
target dan terwujudnya efisiensi dan efektivitas.
Penilaian Kinerja
Pengukuran tentang kinerja tergantung dari jenis pekerjaan dan tujuan
dari organisasi perusahaan yang bersangkutan. Kriteria yang diinginkan dalam
pengukuran kinerja menurut As’ad (1999;63) adalah kuantitas, kualitas,waktu
yang dipakai, jabatan yang dipegang, absensi dan keselamtan dalam
menjalankan tugas pekerjaan. Pernyataan yang hamper sama dikemukakan
oleh Heidrachman dan Suad Husnan (1994;125) Bahwa kriteria kualitas dan
17
kuantitas pekerjaan, kerja sama, kepemimpinan, kehati-hatian, pengetahuan
mengenai jabatan, kerajinan, kesetiaan dan inisiatif
Menurut Dessler (1997) dalam Bambang Guritno dan Waridin (2005)
penilaian kinerja adalah memberikan umpan balik kepada karyawan dengan
tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan kinerja
atau berkinerja lebih baik lagi. Menurut Mahoney,et al dalam David Effendi
dan Sujono (2004) dalam proses penlaian kinerja ada lima prinsip dasar yang
harus dipenuhi dalam proses penilaian kinerja yakni :
1. Melibatkan orang yang tepat dalam penilaian .
2. Penilaian harus dilihat sebagai suatu subsystem dari system yang
kompleks.
3. Belajar dari proses implementasi.
4. Fleksibilitas harus terjaga.
5. Bersikap sabar.
6. Unsur-unsur yang digunakan dalam penilaian kinerja pegawai
Tolok ukur atau ukuran penilaian kinerja pegawai berbeda tergantung
dari tujuan penilaian prestasi kerjaitu sendiri. Sejalan dengan hal tersebut,
faktor-faktor pembentuk prestasi kerja dapat dijabarkan dalam beberapa unsur
yang selanjutnya dapat digunakan sebagai tolok ukur penilaian kinerja.
Adapun unsur-unsur yang dimiliki menurut Malayu Hasibuan (2001;95)
adalah sebagai berikut :
18
1. Kesetiaan
Unsur kesetiaan dalam hal ini menyangkut loyalitas karyawan terhadap
pekerjaannya, jabatan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh
kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi didalam maupun
diluar organisasi yang tidak bertanggung jawab.
2. Kedisiplinan
Penilai menilai disiplin dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan
melakukan pekerjaan sesuai dengan instruktur yang diberikan kepadanya.
3. Kejujuran
Penilai menilai kejujurandalam melaksanakan dalam melaksanakan
4. Kerja sama
Penilai menilai hasil kerja yang baik kualitas/kuantitas dapat dihasilkan
karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.
5. Kreativitas
Peniali menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan
kreativitasnyauntuk menyelesaikan pekerjaan sehingga bekerja lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
6. Kepemimpinan
Penilai menilai kemampuan untuk memimpin berpengaruh, mempunyai
perbedaan yang kuat, dihormati, berwibawa dan dapat memotivasi orang
lain/bawahannya/bekerja secara aktif.
19
7. Kepribadian
Penilai menilai karyawan dan sikap perilaku, kesopanan, periang, disukai,
memberi kesan menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik serta
berpenampilan simpatik dan wajar.
Kriteria penilaian kinerja dibagi menjadi 3 tipe:
1. Penilaian kinerja berdasarkan hasil (result-based performance appraisal)
Tipe kriteria ini merumuskan pekerjaan berdasarkan pencapaian tujuan
organisasi, atau mengukur hasil akhir (end-result). Jajaran kinerja bisa
ditetapkan oleh manajemen atau kelompok kerja, tetapi jika menginginkan
agar pegawai meningkatkan kinerja mereka, maka penetatap sasaran
secara partisipasi dengan melibatkan para pegawai akan jauh berdampak
positif terhadap peningkatan kinerja organisasi.
2. Penilaian kinerja berdasarkan perilaku (behavior based performance
appraisal)
Tipe kriteria ini mengukur sarana (means) pencapaian sasaran (goals) dan
bukannya hasil akhir (end result).
3. Penilaian kinerja berdasarkan judgement (judgement based performance
appraisal)
Tipe kriteria ini menilai atau mengevaluasi kinerja pegawai berdasarkan
deskripsi perilaku yang spesifik yaitu:
a. Jumlah kerja yang dilakukan dalam satu periode yang ditentukan.
b. Kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan
kesiapan.
20
c. Luasnya pengetahuan mengenai pekerjaannya dan keterampilannya.
d. Kesetiaan untuk kerja sama dengan orang lain (sesama anggota
organisasi).
e. Kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian
kerja.
f. Mengukur kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan dan integritas
pribadi.
Dalam penilaian kerja karyawan sering terjadi kekeliruan (gibson,
1997:20) mengungkapkan 5 (lima) masalah utama dalam skala/penilaian
kinerja dan pemecahannya, yaitu:
1. Standar kinerja yang tidak jelas
Standar kinerja yang tidak jelas adalah skala penilaian yang selalu terbuka
terhadap interprestasi sebagai gantinya memasukkan ungkapan-ungkapan
positif masing-masing ciri dan apa yang dimaksud dengan standar-standar
seperti “baik” atau “tidak memuaskan”.
2. Efek Hallo
Masalah yang dapat terjadi dalam kinerja bila penilain seorang penyelia
terhadap seorang bawahan pada satu ciri membiaskan penilain atas orang
itu pada ciri lainnya. Kesadaran pada masalah ini merupakan kangkah
utama untuk dapat menghindarinya. Selain itu pelatihan kepenyeliaan jadi
dapat mengurangi masalah.
21
3. Kecenderungan sentral
Suatu kecenderungan untuk menilai semua karyawannya dengan cara yang
sama, seperti menilai mereka dalam tingkat rata-rata. Sebagai gantinya
peningkatan karyawan dengan menggunakan skala grafik dapat
menghindari masalah kecenderungan sentral karena semua karyawan harus
diperingatkan dengan demikian tidak dapat terjadi dinilai rata-rata.
4. Terlalu keras atau terlalu longgar
Masalah lain yang mungkin terjadi ketika seorang penyelia
berkecenderungan untuk menilai semua bawahannya entah terlalu tinggi
atau terlalu rendah. Jika skala penilaian grafik yang harus digunakan,
maka perlu untuk mengandalkan satu distribusi kinerja, upayakan untuk
membuat penyebaran.
5. Prasangka
Kecenderungan untuk mengikuti perbedaan individual seperti usia, ras dan
jenis kelamin untuk mempengaruhi tingkat penilaian yang diterima
karyawan. Penting bila penilain dilakukan secara objektif dan usahakan
untuk membendung pengaruh dan dari faktor-faktor seperti kinerja
terdahulu usia, ras dan lainnya.
Penilaian kinerja pada seluruh karyawan merupakan kegiatan yang
harus secara rutin dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja
organisasi secara objektif tepat dan didokumentasikan secara baik cenderung
menurunkan potensi penyimpanan yang dilakukan karyawan sehingga kinerja
karyawan sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan.
22
Penilaian kinerja yang sistematik akan sangat bermanfaat untuk
berbagai kepentingan yaitu:
1. Mendorong peningkatan kinerja karyawan
Dengan mengetahui hasil penilaian karyawan maka pihak-pihak yang
terlibat dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kinerja
karyawan dapat lebih meningkat lagi di masa yang akan datang.
2. Bahan pertimbangan keputusan dalam pemberian imbalan
Imbalan yang diberikan perusahaan tidak terbatas hanya pada upah atau
gaji saja akan tetapi juga berbagai imbalan lain seperti bonus akhir tahun,
hadiah pada hari raya atau bahkan ada perusahaan yang memperbolehkan
karyawannya yang memiliki sejumlah saham perusahaan sebagai denean
hasil penilaian kinerja dapat ditentukan siapa-siapa yang berhak menerima
berbagai imbalan tersebut.
3. Kepentingan mutasi karyawan
Hasil penilaian kinerja karyawan dimasa lalu dapat dijadikan dasar
pengambilan keputusan mutasi baginya dimasa depan. Mutasi tersebut
dapat berupa promosi dan alih wilayah.
4. Guna menyusun program pendidikan dan pelatihan
Guna mengatasi berbagai kekurangan dan kelemahan ataupun untuk
mengembangkan potensi karyawan yang sebelumnya belum tergaris
sepenuhnya, hal tersebut dapat terungkap pada hasil penilaian kinerja.
23
5. Membantu para pegawai menentukan rencana kariernya
Dengan hasil penilaian kinerja maka bagian personalia dapat membantu
karyawan dalam menyusun program pengembangan karier yang paling
tepat guna kepentingan karyawan dan perusahaan yang bersangkutan.
Tujuan Penilaian dan Pengukuran Kinerja
Tujuan dari penilaian kinerja dalam hal ini, tidak hanya berfokus pada
tujuan yang bersifat administrasi, tetapi juga terfokus pada tujuan strategi
pengembangan. Tujuan yang bersifat administrasi menunjukkan tanggung
jawab penilaian kinerja untuk melakukan pencatatan terhadap perilaku atau
prestasi karyawan selama periode tertentu sehingga berdasarkan dokumen itu
dapat ditentukan kompensasi yang harus diterima oleh karyawan. Dokumen
ini berfungsi pula sebagai sumber informasi bagi manajemen untuk
menjalankan kebijakan promosi atau pelatihan. Penilaian kinerja harus mampu
mengaitkan tugas-tugas dan karakteristik kemampuan karyawan dengan tujuan
strategi organisasi. Sedangkan tujuan pengembangan menunjukkan bagaimana
pengembangan kinerja menjadikan efektifnya tugas dan tanggung jawab
karyawan dalam melaksanakan perkerjaannya.
Penilaian kinerja penting untuk dilakukan sehubungan dengan individu
yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan perbedaan hasil
kerja, oleh karena itu dibutuhkan standarisasi dalam penilaian. Penilaian
kinerja sebagaimana diungkapkan oleh Pigordan Myers (dalam Kurniawan,
1999) meliputi dimensi-dimensi sebagai berikut:
24
1. Pengetahuan kerja
2. Kualitas kerja dan kuantitas kerja
3. Kemampuan mempelajari tugas-tugas baru
4. Inisiatif
5. Kerja sama
6. Pertimbangan dan akal sehat
Menurut Ahmad S. Ruki (2001) penilaian kinerja dapat dilihat dengan
menggunakan 6 faktor karakteristik pribadi sebagai objek penilaian yaitu
1. Kuantitas pekerjaan
2. Kualitas hasil kerja
3. Kejujuran
4. Ketaatan
5. Inisiatif
6. Kecerdasan
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Flippo (dalam Kurniawan, 1999)
menyebutkan bahwa penilaian kinerja mencakup
1. Kualitas pekerjaan: ketepatan, keterampilan, ketelitian, kerapian.
2. Kuantitas kerja: output
3. Ketangguhan: disiplin, inisiatif, ketepatan waktu dan kehadiran.
4. Sikap: terhadap perubahan pekerjaan dan lingkungan kerja.
Handoko (2001;135) menyatakan bahwa penilaian kinerja adalah proses
melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kinerja
karyawan. Kegiatan ini dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia
25
dan memberikan umpan balik kepada para karyawan tentang pelaksanaan
kerja mereka. Kegunaan-kegunaan penilaian kinerja dapat dirinci sebagai
berikut:
1. Perbaikan prestasi atau kinerja
Umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan karyawan, manajer dan
departemen personalia dapat membetulkan kegiatan-kegiatan mereka
untuk memperbaiki kinerja atau prestasi.
2. Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
Evaluasi kerja atau prestasi kerja membantu para pengambil keputusan
dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus, dan bentuk
kompensasi lainnya.
3. Keputusan-keputusan penempatan
Promosi, transfer biasanya didasarkan pada kinerja atau prestasi kerja
masa lalu atau antisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk
penghargaan terhadap kinerja atau prestasi kerja masa lalu.
4. Kebutuhan-kebutuhan latihan dan pengembangan
Prestasi atau kinerja yang jelek mungkin menunjukkan kebitihan latihan.
Demikian juga prestasi yang baik mungkin mencerminkan potensi yang
harus dikembangkan.
5. Penyimpangan-penyimpangan proses staffing
Kinerja atau prestasi kerja yang baik atau jelek mencerminkan kekuatan
atau kelemahan prosedur steffing departemen personalia.
26
6. Ketidak akuratan informasional
Kinerja atau prestasi yang jelek mungkin menunjukkan kesalahankesalahan
dalam informasi analisis jabatan, rencana-rencana sumber daya
manusia atau komponen-komponen lain sistem informasi manajemen
personalia. Menggantungkan informasi pada informasi yang tidak akurat
dapat menyebabkan keputusan-keputusan yang tidak tepat.
7. Kelemahan-kelemahan desain pekerjaan
Kinerja atau prestasi yang jelek mungkin merupakan suatu tanda kesalahan
dalam desain pekerjaan.
8. Kesempatan kerja yang adil
Penilaian kinerja atau prestasi secara akurat akan menjamin keputusankeputusan
penempatan internal diambil tanpa diskriminasi.
9. Tantangan-tantangan eksternal
Kadang-kadang kinerja atau prestasi kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor
diluar lingkungan kerja seperti keluarga, kesehatan, kondisi finansial atau
masalah-masalah pribadi lainnya.
Masalah pengukuran kinerja dapat terjadi pada tahap penilaian kinerja
seperti yang diungkapkan oleh Olifer (dalam Dessler, 1997) adalah sebagai
berikut:
1. Kekuarangan standar
Tanpa adanya standar tidak ada penilaian yang objekif hanya ada dugaan
atau perasaan subjektif tentang kinerja.
27
2. Standar yang tidak relevan atau subjektif
Standar-standar hendaknya ditetapkan dengan menganalisis hasil
pekerjaan untuk memastikan bahwa pekerjaan-pekerjaan itu berhubungan
dengan pekerjaan.
3. Standar yang realitis
Standar-standar adalah tujuan untuk memberikan motivasi. Standarstandar
yang masuk akal dan menentang itu paling berpotensi untuk
memotivasi keryawan untuk bekerja lebih baik.
4. Ukuran yang jelek atas kinerja
Objektivitas dan perbandingan menuntut bahwa kemajuan kearah standar
atau pencapaian standar yang dapat diukur.
5. Umpan balik yang jelek terhadap karyawan
Standar dan atau penilaian harus dikomunikasikan kepada karyawan agar
evaluasi kinerja bias efektif.
6. Komunikasi yang efektif
Proses evaluasi itu dihalangi oleh komunikasi yang bersifat negatif, seperti
ketidakluwesan, pembelaan diri, dan pendekatan yang tidak bersifat
mengembangkan.
7. Kegagalan untuk menerapkan data evaluasi
Kegagalan untuk menggunakan evaluasi dalam pengambilan keputusan
personil meniadakan tujuan utama evaluasi kinerja. Penggunaan dan
pertimbangan berbagai ragam kriteria juga frekwensi evaluasi ikut
menimbulkan masalah.
28
Kesejahteraan
Karyawan
Kinerja
Karyawan
C. Pengaruh Kesejahteraan Karyawan terhadap Kinerja Karyawan
Kesejahteraan karyawan itu selalu menjadi keinginan setiap orang
karena dengan hidup sejahtera orang akan dapat menikmati hidupnya.
Demikian juga dengan karyawan disuatu Perusahaan, jika kesejahteraan
karyawan itu terjamin maka akan dapat meningkatakan prestasi kerja
karyawan.
Adapun manfaat yang diperoleh dengan diselenggarakan program
kesejahteraan karyawan adalah sebagai berikut :
1. Memperbaiki semangat dan kesejahteraan karyawan
2. Penarikan tenaga kerja atau karyawan yang lebih efektif
3. Menurunkan tingkat absensi
Disisi lain dengan semangat kerja atau prestasi kerja karyawan yang
baik itu dapat meningkatkan usaha dan juga akan meningkatkan
rentabilitasnya. Oleh sebab itu dengan meningkatnya tingkat rentabilitas suatu
perusahaan, maka dalam pemberian kesejahteraan kepada karyawan akan
bertambah atau meningkat.
D. Kerangka Pemikiran
Untuk dapat memahami permasalahan yang akan dibahas, maka perlu
suatu skema yang menunjukkan hubungan masing-masing variable yang
diteliti, kerangka ini penulis sajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut :
29
H1 : Diduga kesejahteraan karyawan mempunyai pengaruh terhadap kinerja
karyawan
E. Penelitian Terdahulu
Sukir (2004) pernah melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh
Disiplin Kerja dan Pemberian Insentif Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Bagian PT. Batik Keris Sukoharjo Tahun 2002-2003”. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian insentif terhadap
produktivitas kerja karyawan bagian produksi PT. Batik Keris Sukoharjo
Tahun 2002-2003. Berdasarkan analisis regresi linear berganda diperoleh hasil
bahwa disiplin kerja dan pemberian insentif secara parsial maupun bersamasama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja
karyawan bagian produksi PT. Batik Keris Sukoharjo Tahun 2002-2003.
Suhari dan Tjokroamidjojo (2002) pernah melakukan penelitian
dengan judul: “Analisis Pengaruh Pemberian Kompensasi Terhadap Kinerja
Pada Perusahaan Perhotelan Di Surakarta”. Berdasarkan hasil analisis regresi
linear berganda diperoleh temuan bahwa variabel kompensasi yang diukur dari
gaji, tunjangan dan kesejahteraan karyawan secara individual maupun
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja pada Perusahaan
Perhotelan di Surakarta.
Novi (2004) pernah melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh
Gaji, Absensi Kerja dan Jaminan Sosial Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan Pada PT. Triangga Dewi Di Surakarta”. Menyimpulkan bahwa gaji
30
dan jaminan sosial berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja karyawan
sedangkan absensi kerja berpengaruh negatif terhadap produktivitas kerja.
Masnurhadi (2003) meneliti tentang pengaruh iklim organisasi dan
kompensasi terhadap produktivitas kerja karyawan di Rumah Sakit Dr.
Moewardi Surakarta. Hasil penelitian data terbukti bahwa kedua variabel
independen secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap produktifitas kerja karyawan. Besarnya koefisien determinasi 68,3%,
hal ini menunjukkan bahwa 68,3% produktivitas kerja karyawan dapat
dijelaskan oleh variabel independen dan sisanya 31,7% diterangkan variabel
lain.
Prastowo (2002) meneliti tentang pengaruh kepemimpinan, motivasi,
dan kepuasan terhadap kinerja karyawan di STSI Surakarta. Hasil penelitian
data terbukti bahwa ketiga variabel independen secara bersama-sama
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Besarnya
koefisien determinasi 66,8%, hal ini menunjukkan bahwa 66,6% kinerja
karyawan dapat dijelaskan oleh variabel independen dan sisanya 33,4%
diterangkan variabel lain.
F. Hipotesis
Agar diperoleh suatu pandangan untuk menganalisis data selanjutnya,
maka dikemukakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap
pertanyaan yang diajukan dalam perumusan masalah. Untuk selanjutunya akan
dilakukan pengujian atau pembuktian atas kebenaran secara empiris.
31
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi
Menurut Djarwanto (1994;107) populasi adalah keseluruhan objek
yang karakteristiknya hendak diduga. Sebagai populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh karyawan.
B. Sampel & Teknik Pengambilan Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak
diduga dianggap mewakili populasinya (Djarwanto, 1994;109). Metode
pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan Conviniance
sampling. Pengambilan sampel berdasarkan rumus Slovin, yaitu sejumlah 88
responden,dengan rumus sebagai berikut :
n = ( 2 ) 1 N d
N
+
Keterangan :
n : Besarnya sampel
N : Jumlah populasi
d : estimasi penyimpangan 0,1 (Notoatmojo, 2005)
Adapun perhitungannya :
n = ( 2 ) 1 N d
N
+
31
32
= ( 2 ) 1 723 0,1
723
+
= ( ) 1 723 0,01
723
+
=
1 7,23
723
+
=
8,23
723
= 88
Dengan perhitungan tersebut maka dapat diambil sampel sejumlah 88
responden.
C. Jenis Data dan Sumber Data
Data penelitian ini pada dasarnya jenis data dikelompokkan menjadi:
1. Data kualitatif
Merupakan data yang banyak diinginkan dalam penelitian filosofis dan
sebagian juga terdapat dalam penelitian diskriptif dan penelitian historis.
Data kualitatif terdiri dari gambaran umum dan struktur organisasi.
2. Data kuantitatif
Merupakan data hasil transformasi dari data yang berjenjang dengan
memberikan simbol angka secara berjenjang. Data kuantitatif ini
didapatkan dari jawaban responden yang berupa pengisian angket.
33
Dengan menganalisa hubungan antaravariabel bebas dan variable
terikat diperlukan data-data. Data-data tersebut dapat diperoleh melalui
sumber-sumber data sebagai berikut:
1. Data primer: adalah data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian.
Dalam hal ini beberapa jawaban angket dari karyawan yang disebarkan
oleh penulis tentang analisis hubungan antara kesejahteraan karyawan
dengan kinerja karyawan di Air Mancur Wonogiri.
2. Data sekunder: yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung. Data ini
meliputi gambaran umum perusahaan, data jumlah karyawan dan literatur
yang berhubungan dengan penelitian.
D. Metode pengumpulan data
Pengumplan data penelitian ini menggunakan metode survey, dimana
alat pengumpulan data yang pokok dari sumber primer adalah kuisioner.
Metode kuisioner adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan
data dengan cara memakai daftar pertanyaan yang disebarkan kepada
responden. Peneliti menyusun dan membagikan daftar pertanyaan untuk
memperoleh data primer mengenai permasalahan yang diteliti dan responden
diminta mengisi sesuai pendapatnya.
34
E. Devinisi Operasional Variabel dan Pengukuran
1. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan mempunyai arti aman sentosa dan makmur, selamat,
terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya(WJS.
Poerwodarminto,1984;492). Sedangkan karyawan adalah tiap orang yang
melakukan pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan karyawan
adalah suatu kondisi aman sentosa dan makmur terhindar dari berbagai
ancaman dan kesulitan yang dirasakan seseorang yang telah melakukan
suatu pekerjaan di suatu tempat. Adapun manfaat yang diperoleh bila
diselenggarakan kesejahteraan karyawan antara lain dapat memperbaiki
semangat dan kesejahteraan karyawan dan dapat menarik tenaga kerja atau
karyawan yang lebih efektif. Indikator kesejahteraan diukur dari
keamanan,kesenangan, dan kemakmuran.
2. Kinerja Karyawan
Kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya(As ad,1999;63).
Pelaksanaan pekerjaan akan lebih efektif apabila didukung dengan
keyakinan dan motivasi yang tinggi. Dengan adanya keyakinan akan
mendorong seseorang untuk bertanggung jawab terhadap
pekerjaannyasehingga dapat mengarahkan perilaku kerjanya demi
tercapainya tujuan yang diinginkan. Indikator kinerja karyawan diukur dari
sikap kerja, kedisiplinan kerja, kerja sama, dan kualitas kerja.
35
Adapun dalam penilaian kuisioner tersebut digunakan standar penilaian ):
1, 2, 3, 4 (Suharsini Arikunto) yang peneliti uraikan sebagai berikut :
1) Nilai 4, apabila responden menjawab alternatif a.
2) Nilai 3, apabila responden menjawab alternatif b.
3) Nilai 2, apabila responden menjawab alternatif c.
4) Nilai 1, apabila responden menjawab alternatif d.
F. Uji Kualitas Pengumpulan Data
Untuk menguji data yang diperoleh digunakan dua teknik yaitu :
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk mengukur seberapa jauh alat
pengukur dapat mengungkap dengan jitu gejala yang hendak diukur
sehingga alat pengukur benar-benar mengukur apa yang diukur. Menurut
Sutrisno Hadi (1999;19) cara mengukur variable adalah dengan
mengkorelasikan antar skor items & skor total. Untuk uji validitas ini
menggunakan teknik korelasi product moment yang rumusnya :
Rxy =
( )( )
{N 2 2}{N 2 2}
N XY -
ΣΧ −ΣΧ ΣΥ −ΣΥ
Σ ΣΧ ΣΥ
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu pengukuran
dapat dipercaya untuk mencari reliabilitas instrument yang skornya berupa
skala bertingkat (ranting scale) dapat diuji dengan menggunakan teknik
cronbach alpha. Menurut Suharsini Arikunto (1993;165) metode ini dipilih
36
karena dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keterkaitan antara butir
pernyataan dalam suatu instrument penelitian.
Penjabaran rumusnya adalah :
r =  


 
 Σ
−  


 

2
2
1
K-1
K
t
b
ρ
ρ
Dimana :
r = Reliabilitas instrument
k = Banyaknya butir pertanyaan /banyaknya soal
Σρb2 = Jumlah varians butir
ρt2 = Varians total
G. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan analisis regresi sederhana maka perlu adanya
persyaratan yang harus terpenuhi terlebih dahulu. Uji asumsi klasik dilakukan
untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan dalam model regresi.
Pegujian ini meliputi :
1. Uji Normalitas
Kenormalan data diperlukan untuk menguji keselarasan akan kepastian
data yang diperoleh. Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan
program SPSS. Uji normalitas menggunakan kolmogarov smirnov (k-1).
Hasil dari uji normalitas adalah :
a. Nilai signifikan ≤ 0,05 maka Ho ditolak, hal ini berarti bahwa data
tidak berdistribusi normal.
37
b. Nilai signifikan ≥0,05 maka Ho diterima, hal ini berarti bahwa data
berdistribusi normal.
H. Metode Analisis Data
Untuk membuktikan hubungan antara variabel dalam penelitian ini
penulis menggunakan alat analisis:
1. Analisis regresi sederhana
Analisis regresi sederhana adalah suatu teknik yang digunakan untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
Rumus yang digunakan sebagai berikut (Djarwanto Ps, 1994;230)
Y = a + bX + e
Dimana : Y = kinerja karyawan
X = kesejahteraan karyawan
b = koefisien regresi
a = bilangan konstan
e = variabel pengganggu
2. Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah membuktikan adanya
pengaruh variabel bebas (kinerja) terhadap variabel terikat (kesejahteraan)
digunakan perhitungan uji F dan uji t.
38
a. Uji F
Uji F diperlukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (X)
terhadap variabel dependen (Y) secara simultan. Adapun langkahlangkahnya
(Djarwanto Ps, 1991:246).
2) Menentukan hipotesis nihil dan hipetesis alternaif
Ho : β1 = 0, tidak ada pengaruh dari variabel independen secara
serentak terhadap variabel dependen.
H1 : β1 ≠ 0, ada pengaruh dari variabel independen secara serentak
terhadap variabel dependen.
3) Menentukan level of signifikan (α = 5%), derajat kebebasan
(dF1 = k – 1 dan dF2 = n – k)
4) Menentukan kriteria pengujian
Ho diterima Fhitung ≤ Ftabel
Ho ditolak Fhitung ≥ Ftabel
Ho diterima Ho ditolak
F (α; n-k; k-1)
Gambar III.1. Grafik Uji F
5) Menentukan nilai Fhitung
Fhitung =
( )
(1 r )/ (n k 1)
r / k 1
2
2
− − −

Dimana: r 2 = koefisien determinasi
k = banyaknya variabel bebas (x)
39
n = jumlah sampel
6) Nilai Fhitung yang diperoleh dibandingkan dengan nilai Ftabel apabila
Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada pengaruh yang signifikan antara variabel-variabel independen
dengan variabel dependen. Apabila F hitung < Ftabel, maka Ho
diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh
yang signifikan antara variabel independen dengan variabel
dependen.
a. Uji t (t-test)
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen secara individual. Adapun langkahlangkahnya
(Djarwanto Ps, 19947:246)
1) Menentukan hipotesis nihil dan hipetesis alternaif
Ho : β1 = 0, tidak berpengaruh yang signifikan dari masing-masing
variabel independen terhadap variabel dependen.
H1 : β1 ≠ 0, ada pengaruh yang signifikan dari masing-masing
variabel independen terhadap variabel dependen.
2) Menentukan level of signifikan (α = 5%), dan tingkat kebebasan
(dF = n – 1)
3) Menentukan kriteria pengujian
Ho diterima apabila Ftabel ≤ Fhitung
Ho ditolak apabila Fhitung ≥ Ftabel
40
Gambar III.2
Grafik uji t
4) Menentukan nilai thitung dengan rumus:
thitung =
Sb
b
Dimana: b = koefisien regresi variabel
Sb = standar error koefisien regresi variabel
5) Setelah diperoleh nilai thitung kemudian dibandingkan dengan ttabel.
Apabila thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak, berarti ada pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila
thitung ≤ ttabel maka Ho diterima berarti tidak ada pengaruh antara
variabel independen terhadap variabel dependen.
-t(α/2;n-1) Ho ditolak Diterima Ho ditolak t(α/2;n-1)
41
BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Sejarah dan perkembangan perusahaan
PT AIR MANCUR dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah
perusahaan jamu tradisional yang besar, dan modern di Indonesia. Selaras
dengan perkembangan dunia pengobatan secara tradisional tidak kalah
dengan perkembangan pengobatan secara modern. Bahkan pengobatan
yang berasal dari bahan tradisional ini selalu mendapat tempat di hati
masyarakat Indonesia. Kecenderungan ini pada dasarnya bukan hanya
sekedar karena masyarakat Indonesia konsumeris terhadap jamu, tetapi
lebih dari itu ada kepercayaan dari masyarakat bahwa obat tradisional
tidak mempunyai efek samping secara serius dibanding dengan obat
medis. PT AIR MANCUR bukanlah suatu perusahaan yang didirikan
dengan modal besar, melainkan perusahaan home industri yang tidak
dikenal sama sekali.
a. Dari Home Industri Sampai Menjadi Perseroan Terbatas (PT)
Perusahaan jamu PT AIR MANCUR adalah salah satu
perusahaan yang ada di Indonesia dan menempati tempat ternama
diantara perusahaan penghasil jamu lainnya. Mula pertama perusahaan
jamu ini hanyalah merupakan home industri dengan menggunakan 11
orang tenaga kerja dan menggunakan alat yang sangat sederhana.
41
42
Namun demikian ternyata hasil produksinya tidak mengecewakan,
bahkan dapat dikatakan tidak kalah dengan hasil produksi jamu yang
menggunakan mesin modern. Hal ini dibuktikan dengan adanya hasil
penjualan yang tinggi. Dan hasil penjualan yang tinggi ini terus
meningkat.
PT AIR MANCUR berdiri pada tanggal 23 Maret 1963 tepatnya
di Desa Pucang Sawit oleh Bapak L. Wonosantoso bersama dengan
dua temannya yaitu Bapak Rudi Hendrotanoyo dan Ongkosanjoyo.
Nama air mancur dipakai sebagai merek produk yang dihasilkan
mendapat hasil penjualan yang tinggi di kota Jakarta. Khususnya di
Jalan Moh. Husni Thamrin dimana terdapat air yang mancur dan nama
itu menjadi sangat popular. Kemudian mulai saat itu sampai sembilan
bulan pertama perkembangan usaha dapat dilihat sekaligus dapat
dirasakan hasilnya.
Melihat perkembangan usahanya, maka perlu dibentuk suatu
perusahaan yang berbadan hukum. Dan pada tanggal 23 Desember
1963, perusahaan ini berubah menjadi perusahaan yang berbadan
hokum Perseroan Terbatas (PT) dengan nama Perusahaan Jamu PT
AIR MANCUR dengan Akte Notaris Tan Sioe di Semarang No. 65,
serta Akte Pembetulan No. 65 yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli
1964, dan L. Wonosantoso menjadi direkturnya. Pada saat itu lokasi
perusahaan sudah pindah dari Pucang Sawit ke Wonogiri, yaitu pada
43
tanggal 11 Januari 1964. Ditempat baru ini produksi diperbesar dengan
jumlah tenaga kerja sebanyak 50 orang.
b. Perkembangan PT AIR MANCUR
Perkembangan yang dicapai semakin pesat, hal ini ditandai
dengan semakin meningkatnya jumlah karyawan yang dibutuhkan,
dengan bertambahnya jumlah karyawan mengakibatkan lokasi pabrik
semakin sempit, sehingga pada tahun 1973 perusahaan mempersiapkan
perluasan pabrik dilakukan di lokasi baru yaitu di daerah Palur yang
terletak di tepi jalan raya Solo-Sragen. Beberapa tahun kemudian
perusahaan dapat mendirikan pabrik baru:
1) Pda tahun 1976, mendirikan pabrik baru lagi di Daerah Jajar. Pabrik
ini digunakan untuk kegiatan logistik.
2) Pada tahun 1978, memperluas lagi pabrik baru di Klampisan dan
Salak.
3) Pada tahun 1995, memperluas lagi pabrik baru di Celep dan Jetis
sebagai produksi kosmerika.
2. Lokasi unit kerja perusahaan
PT AIR MANCUR mempunyai tiga daerah unit kerja yaitu:
a. Unit kerja Wonogiri (3 sayap produksi) yaitu di Wonogiri, Klampisan,
dan Salak.
b. Unit kerja Karanganyar (3 sayap produksi) yaitu di Palur, Celep dan
Jetis.
44
c. Sampai saat ini tenaga kerja yang dimiliki telah berjumlah 723 orang.
Perusahaan Jamu PT. AIR MANCUR semakin hari semakin
berkembang baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
3. Visi dan misi PT AIR MANCUR
a. Visi
Visi PT AIR MANCUR adalah menjadi perusahaan terdepan di
Indonesia yang menghasilkan produk alami bagi kesehatan.
b. Misi
Misi PT AIR MANCUR adalah:
1) Memproduksi dan memasyarakatkan obat alami, minuman
kesehatan, kosmetika, dan suplemen berbahan baku alami yang
inovatif, memberi nilai tambah tinggi dan menyehatkan
masyarakat.
2) Memuaskan pelangan dan konsumen melalui manfaat yang lebih
tinggi dari harapannya.
3) Memuaskan para “stakeholders” melalui kinerja perusahaan yang
prima dan di atas rata-rata industri sejenis.
4) Selalu tumbuh di atas rata-rata industri sejenis sehingga selalu
meningkatkan market share di setiap kategori produk.
5) Membangun Sumber Daya Manusia yang handal dan kompeten di
bidangnya.
45
Gambar IV. 1
STRUKTUR ORGANISASI PT. AIR MANCUR
4. Struktur Organisasi Perusahaanisasi
Direktur Utama
RUPS
Staff Ahli Staff Ahli
Direktur Muda
Administrasi
Keuangan
Keagenan
Pembukuan
Logistik
Gudang
Bhn Baku
Seleksi
Cuci / Oven
Peracikan
Laboratorium
Produk
Development
Produksi
Giling
Ayak
Aduk
Gudang jamu setengah jadi
Etiket Bungkus
Sales Promotion
Perencanaan
Reklame
Potografi
Bengkel
reklame
Pengawas
Penghubung
Penyalur
Penjualan
Mobil-mobil
Propaganda
Pengawas
Penghubung
Penyalur
Umum
Humas
Personalia
Bengkel
Mobil
Direktur Muda
46
Tugas Masing-Masing Struktur Organisasi
Dalam rangka menjalankan usahanya agar perusahaan dapat
tercapai, maka perlu adanya suatu sistem organisasi yang baik, karena
dengan suatu sistem organisasi yang baik maka efisiensi kerja akan lebih
baik.
Sistem organisasi yang jelas dapat diketahui wewenang, tugas serta
tanggung jawab dari masing-masing bagian maka tidak akan menimbulkan
kesimpangsiuran dalam menjalankan tugas dari masing-masing bagian
tersebut.
Secara garis besar, sebagian tugas dan tanggung jawab beberapa
bagian yang terdapat struktur organisasi perusahaan sebagai berikut:
a. Rapat Persero
Bertugas:
1) Memegang kekuasaan tertinggi pada perusahaan
2) Memilih Komisaris dan Direktur
b. Komisaris
Bertugas:
1) Sebagai penasehat Direktur bila terjadi hal-hal yang bersifat khusus
dan membutuhkan pertimbangan-pertimbangan.
2) Mengawasi dan mamahami serta mengamati cara kerja Direktur
dalam memimpin perusahaan.
c. Direktur
Bertugas:
1) Merumuskan kebijakan yang dikepalainya.
47
2) Mengadakan koordinasi dan singkronisasi di berbagai aktivitas
kepala bagian yang berada di dalam wewenangnya sehingga
tercipta kerjasama yang baik.
3) Bertanggung jawab terhadap persero yang menangani hasil
operasional perusahaan.
4) Melaksanakan koordinasi, singkronisasi dan pengawasan terhadap
aktivitas perusahaan.
5) Menangani masalah di bagian pemasaran dan bagian umum dengan
merumuskan kebijakan mengenai bagian tersebut berdasar mufakat
dengan kepala bagian.
6) Selalu mengusahakan efisiensi kepada kepala pemasaran dan
umum serta menerima laporan kerja dari bagian pemasaran dan
umum.
d. Bagian Administrasi
Bertugas menyelenggarakan tugas-tugas administrasi perusahaan
secara keseluruhan.
1) Keuangan
Bertugas:
a) Menyusun laporan keuangan.
b) Membantu direksi dalam mengelola dan mengendalikan
keuangan.
2) Keagenan
Bertugas:
Meminta barang dan hasil produksi kepada gudang pengiriman.
48
3) Pembukuan
Bertugas:
a) Bertanggung jawab dalam pembukuan selama satu tahun.
b) Mengadakan tutup pembukuan.
c) Bertanggung jawab atas laporan yang dibuatnya.
e. Bagian Logistik
Bertugas membuat perencanaan bahan-bahan yang akan dibeli dengan
persetujuan bagian pembelian dan pengelolaan bahan baku yang ada di
gudang.
1) Gudang bahan baku
Bertugas:
a. Menampung bahan baku.
b. Menyimpan di samping proses seleksi dilakukan.
2) Seleksi
Bertugas:
Memisahkan bahan baku dari benda-benda lain yang tidak
berfungsi.
3) Cuci dan Oven
Bertugas:
a. Membersihkan bahan baku dengan proses mencuci.
b. Mengeringkan bahan baku proses mesin.
49
4) Racikan
Bertugas:
a. Meramu bahan baku yang ada menjdi ramuan jamu sesuai
dengan formula perusahaan.
b. Mengirim ke gudang racikan yang siap digiling.
f. Bagian Laboratorium
Bertugas:
1) Meningkatkan produk yang dihasilkan.
2) Mencari sistem pengembangan produk.
3) Mengadakan penelitian yang intensif.
g. Bagian Produksi
Bertugas memproduksi jamu, baik secara kuantitas maupun kualitas.
1) Giling
Bertugas:
Menggiling bahan jamu yang sudah diracik sesuai dengan formula
perusahaan.
2) Ayak
Bertugas:
Mengayak bahan-bahan yang sudah digiling supaya mendapatkan
hasil yang memuaskan.
3) Aduk
Bertugas:
Mengaduk jamu yang sudah diayak, supaya lebih homogen.
50
4) Gudang jamu dan setengah jadi
Bertugas:
Menyimpan jamu sementara waktu sampai proses pembungkusan.
5) Etiket dan bungkus
Bertugas:
Membungkus jamu sekaligus mengemas dalam bentuk kemasan
kardus besar dan kemasan kecil.
h. Bagian Marketing
Bertugas:
1) Memasarkan dan menyalurkan barang hasil produksi.
2) Memberi saran dan pertimbangan pada Direktur utama dalam
penentuan pasar yang akan dilaksanan.
3) Mengkoordinasi dan mengurusi seluruh kegiatan yang berada di
bawah wewenangnya.
Pada bagian marketing terdapat sales promotion yang bertugas untuk:
1) Merencanakan kegiatan.
2) Menentukan obyek dan media untuk melaksanakan program
promosi penjualan.
3) Menentukan tujuan dan kegiatan.
4) Mengadakan perbandingan antara hasil kegiatan dengan
direncanakan untuk mendapat perbaikan.
5) Menyusun rencana anggaran untuk biaya promosi penjualan.
51
i. Bagian Umum
Bertugas:
1) Membantu direksi dalam mengolah dan menampung masalah yang
berhubungan dengan masalah perusahaan.
2) Membantu direksi dalam tugas komunikasi.
3) Menyusun usulan rencana anggaran untuk biaya produksi.
5. Personalia
Sampai saat ini perkembangan perusahaan dapat dilihat secara
nyata. Hal ini tidak lepas dari manusia sebagai Sumber Daya Manusia
yang penting bagi perusahaan.
a. Jumlah Tenaga Kerja
Di bawah ini perincian mengenai tenaga kerja PT AIR
MANCUR sesuai dengan jabatannya masing-masing.
No Jabatan Banyaknya Jumlah
1. Komisaris 3 orang 3
2. Direktur 1 orang 1
3. Staf Ahli
- Bidang Personalia
- Bidang Administrasi
- Bidang Produksi
1 orang
4 orang
1 orang
6
4. Departemen Pemasaran
- Manajer
- Sales Promotion
- Bagian Penjualan
1 orang
35 orang
156 orang
192
5. Departemen Produksi
- Manajer
- Logistik
- Laboratorium
- Pabrik
1 orang
22 orang
14 orang
341 orang
378
6. Departemen Adminstrasi
- Manajer 1 orang
52
- Bidang Keuangan
- Bidang Pembukuan
- Bagian Keagenan
3 orang
10 orang
75 orang
89
7. Departemen Umum
- Manajer
- Bidang Keuangan
- Personalia
1 orang
16 orang
37 orang
54
Jumlah
Tabel IV.1
Jumlah Tenaga Kerja PT. Air Mancur Palur
Kabupaten Karanganyar
b. Jam Kerja Karyawan
Dalam melaksanakan tugas operasional perusahaan
menggunakan sistem kerja sendiri yang sudah menjadi Kesepakatan
Kerja Bersama (KKB). Perusahaan merasa sudah cukup dengan
menggunakan sistem kerja perusahaan. Karena dalam memenuhi
permintaan pasar terhadap jamu, tidak hanya dilayani oleh unit Kerja
Palur saja tetapi juga dilayani oleh cabang-cabang produksi yang ada
dibawah naungan PT Air Mancur. Dengan demikian dalam
melaksanakan kegiatan operasional menggunakan sistem kerja
perusahaan yaitu sistem kerja yang sesuai dengan KKB perusahaan
yang mengatur mengenai hari dan jam karyawan yaitu:
1) Dalam satu hari bekerja selama 8 jam penuh
2) Bekerja dimulai pukul 07.30 – 16.00 WIB
3) Hari kerja dimulai dari Senin sampai dengan hari Jum’at
4) Istirahat kerja mulai pukul 11.00 – 11.30 WIB
53
Ketentuan ini berlaku bagi semua karyawan baik dari tingkat
yang atas sampai dengan tingkat bawah kecuali satpam harus selalu
ada di tempat dengan bergantian. Sistem pembagian kerja ini efektif
selama 8 jam kerja, sedangkan waktu istirahat hanya ½ jam. Memang
istirahat yang hanya setengah jam ini secara fisik melelahkan namun
demikian ternyata perusahaan juga memberikan perhatiannya melalui
pemberian waktu istirahat selama 2 hari yaitu pada hari Sabtu dan
Minggu dan diharapkan dengan diberikannya waktu istirahat ini dapat
memulihkan stamina tubuh karyawan untuk bisa kembali bekerja
selama 5 hari kerja.
c. Pengupahan bagi karyawan
Sistem pemberian upah pada perusahaan jamu PT. Air Mancur
diterimakan setiap akhir bulan, sedang status karyawan dibagi menjadi
dual golongan:
1) Karyawan Kontrak yaitu karyawan yang penerimaannya diadakan
perjanjian kontrak antara perusahaan dan karyawan tersebut, dan
kontrak ini bisa diperpanjang 1 kali lagi maksimal dua tahun.
2) Karyawan Tetap yaitu Karyawan yang penerimaan pertama kalinya
diberlakukan masa percobaan selama 3 bulan, setelah dinilai
mampu baru diangkat menjadi karyawan tetap atau dijadikan
karyawan kontak terlebih dahulu.
Pemberian upah bagi karyawan harian tetap dilaksanakan
sesuai dengan status karyawan yang telah ditetapkan oleh perusahaan
54
ada yang lewat Bank BCA dan secara langsung diterimakan. Besar
kecilnya upah disesuaikan dengan prestasi kerja dan kemampuan
perusahaan serta peraturan-peraturan perusahaan.
Kerja lembur yang berlaku dalam perusahaan ini berlaku
maksimal 2 jam perhari dan upah kerja lembur dibayar pada hari
Jum’at. Pekerjaan lembur ini biasanya dikerjakan pada bagian giling.
Kerja lembur ini dilakukan kalau memang perusahaan tidak dapat
memenuhi kapasitas produksi untuk permintaan pasar.
d. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan menyangkut harkat karyawan untuk
saling menghormati antara satu dengan yang lain; serta kenyamanan
karyawan dalam bekerja. Fasilitas-fasilitas yang diberikan untuk
kesejahteraan karyawan adalah:
1) KB (Keluarga Berencana)
Karyawan yang mengikuti program KB mendapat kesejahteraan
berupa uang.
a) KB suntik mendapatkan Rp. 20.000,00
b) KB inflan mendapatkan Rp. 20.000,00
c) IUD mendapatkan Rp. 25.000,00
d) MOW mendapatkan Rp. 100.000,00
2) Melahirkan
a) Mendapatkan Rp. 100.000,00
b) Minyak kayu putih 100 cc
55
c) Jamu bersalin super 1 kaleng
3) Menikah mendapat Rp. 75.000,00
Insentif ini diberikan apabila karyawan menikah pertama kali atau
pernikahan pertama, dan tidak diberikan apabila karyawan
menikah lagi dikarenakan cerai.
4) Menikahkan anak mendapatkan Rp. 50.000,00
Insentif ini diberikan apabila karyawan menikahkan anaknya
sampai dengan anak ketiga, tidak berlaku apabila pernikahan
anaknya nikah kedua.
5) Mengkhitankan atau membaptiskan anak mendapatkan Rp,
40.000,00.
Insentif ini diberikan apabila karyawan mengkhitankan anaknya/
baptis bagi anaknya sampai dengan anak ketiga.
6) Meninggal dunia mendapatkan Rp. 100.000,00
Diberikan apabila keluarga karyawan atau karyawan itu sendiri
meninggal dunia. Dan bagi karyawan mendapatkan uang pesangon
sesuai ketentuan yang berlaku di perusahaan selain bantuan ini.
7) Poliklinik dengan dua dokter.
Selain JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) yang diterapkan di
Perusahaan, karyawan juga bisa periksa/berobat di perusahaan
kepada dokter perusahaan yang jadwal kedatangannya sudah
ditentukan oleh perusahaan.
8) Tunjangan natura:
a) Beras 20 kg
56
b) Minyak tanah 10 liter
c) Sabun cuci 1 kg
9) Transportasi setiap karyawan mendapat Rp. 33.000,00
Uang transport diberikan bersama-sama dengan penerimaan gaji
akhir bulan, dan besarnya tetap tidak terpengaruh dengan kehadiran
karyawan.
10) Makan satu kali
Karyawan diberi makan oleh perusahaan satu kali yaitu pada jam
istirahat yang telah ditentukan sesuai dengan kemampuan
perusahaan.
11) Asuransi kecelakaan 24 jam dari Bank Bumi Putera
Asuransi ini adalah asuransi bagi karyawan, dengan keuntungan
karyawan diasuransikan selama 24 jam diluar jam kerja.
6. Produksi
Jenis produksi jamu memang sangat banyak ragamnya termasuk
PT. Air Mancur telah memproduksi 120 macam jamu rata-rata kapasitas
produksi sebanyak 400.000 pak/hari. Dari keseluruhan jenis jamu tersebut
masing-masing terbagi 5 jenis jamu yang di olah dalam bentuk serbuk,
tablet, kapsul dan cair.
Kelima jenis jamu tersebut antara lain meliputi:
1) Jamu-jamu untuk memelihara kesehatan
2) Jamu-jamu penyembuh sakit
3) Jamu-jamu obat luar
4) Tablet jamu dan kapsul jamu
57
5) Jamu-jamu cair
7. Produk Yang Dihasilkan
Secara garis besar, produk yang dihasilkan dikelompokkan
menjadi lima jenis, sebagai berikut:
a. Jamu-jamu untuk memelihara kesehatan
Untuk kelompok ini terbagi yaitu:
1) Untuk pria contohnya: jamu kuat manjur, sehat lelaki, jamu
kolesom dan sebagainya.
2) Untuk wanita contohnya: jamu sehat perempuan super, sari asih
super, dan sebagainya.
3) Untuk wanita haid, hamil, dan bersalin, contohnya: jamu cocok
bulan, terlambat bulan, bersalin dan sebagainya.
b. Jamu-jamu pengobatan, terbagi menjadi:
1) Untuk pria, contohnya: jamu klingsir super.
2) Untuk wanita, contohnya: jamu delima putih.
3) Untuk pria dan wanita, contohnya: jamu rematik.
c. Jamu-jamu obat luar, yaitu:
Contohnya: param kocok, bedak nirmala sari.
d. Jamu dalam bentuk Tablet jamu, pil dan kapsul
1) Kapsul ekstrak, contohnya: kuat manjur, galian singset, patmosari
dan mustika sari.
2) Tablet ekstrak, contohnya: terlambat bulan, kuat manjur, galian
singset, pegel linu.
58
3) Pil ekstrak, contohnya: sehat pria, galian putri langsing, encok,
galian param.
e. Lain-lain
Contohnya: madurasa, bubuk serbat.
8. Pemasaran
a. Dareah Pemasaran
Daerah pemasaran perusahaan Air Mancur bukan hanya didalam
negeri, tetapi juga telah menjangkau ke luar negeri yang meliputi
Singapura, Taiwan dan Malaysia, diutamakan yang berbentuk kapsul
dan tablet. Untuk pemasaran dalam negeri daerahnya meliputi wilayah
Indonesia, antara lain:
1) Daerah Jawa Barat dan DKI Jakarta
2) Daerah Jawa Tengah
3) Daerah Istimewa Yogyakarta
4) Daerah Jawa Timur
Daerah Luar Jawa, meliputi: Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Maluku
dan Irian Jaya.
b. Saluran Distribusi
Arus barang dari pensuplai atau gudang produk agar sampai
kepada konsumen melalui perantara dagang yaitu agen dan depo. Agen
bisa mempunyai sub agen bisa jadi tidak (tergantung kebijakan agen).
Agen atau sub agen mempunyai sales yang bertugas mendistribusikan
barang pada out lets dan konsumen. Sedangkan untuk depo sistemnya
sama dengan agen hanya perbedaannya depo digunakan untuk produk59
produk baru saja. Masing-masing depo dan agen ditempatkan seorang
pengawasan dari perusahaan. Hal ini untuk menghindari adanya halhal
yang tidak diinginkan terjadi. Setiap hari mereka harus melaporkan
barang-barang yang sudah terjual dan toko-toko mana yang sudah
didatangi dalam mendistribusikan barang.
Biasanya barang didistribusikan melalui dua cara, yaitu:
1) Distribusi pendek
Yaitu langsung dari perusahaan kepada konsumen melalui mobil
propaganda. Misalnya pada waktu pada pasar murah.
2) Distribusi panjang
Dari perusahaan ke agen tunggal, sub agen, kemudian sales dan
konsumen. Dan bila digambarkan sebagai berikut:
Gambar IV.2
Skema Saluran Distribusi
Produk
Agen
Sub Agen
Salesman
Out Lets
Konsumen
Depo
Salesmen
Out Lets
Konsumen
60
c. Promosi
Agar masyarakat dapat mengenal produk jamu, maka perusahaan
mempunyai sebuah program yang mengarah ke tujuan tersebut yaitu
dengan menggunakan program promosi, yang nantinya dapat dilakukan
dengan menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1) Periklanan
a) Media Massa
Perusahaan memasang iklan pada media massa mengenai produk
yang bersangkutan.
b) Papan reklame
Pemasangan papan reklame atau layar dari perusahaan mengenai
produk yang bersangkutan pada tempat yang strategis.
c) Radio
d) Televisi
2) Personal Selling
Kegiatan yang dilakukan dalam personal selling yaitu dengan
menggunakan sales-sales yang berlangsung menjual ke toko-toko
kecil/pengecer (sub riding). Selain itu perusahaan juga menggunakan
sales Blitz yang langsung bertatap muka dengan konsumen.
3) Publikasi
Berkaitan dengan kegiatan perusahaan atau kegiatan yang lainnya
dimana perusahaan ikut andil sebagai sponsor pendukung dalam iveniven
tertentu, sehingga akan mengundang minat pihak pers untuk
mempublikasikan perusahaan.
61
4) Promosi penjualan
Dalam kegiatan promosi penjualan perusahaan melakukan dengan cara
memberikan sampel, memberikan potongan pembelian, memberikan
kupon, dan memberikan bonus.
B. Deskripsi Responden Penelitian
1. Karakteristik Responden
Populasi yang diteliti adalah karyawan PT. Air Mancur. Jumlah
sampel yang diambil 88 responden. Berdasarkan informasi yang diperoleh
dari kuesioner yang diberikan, responden digolongkan kedalam beberapa
kelompok yang berdasarkan atas usia, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan dan pendapatan.
a. Usia
Usia menunjukkan umur mereka pada saat penelitian
dilakukan. Karakteristik usia responden dapat dilihat pada tabel IV.2
berikut ini :
Tabel IV.2
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN USIA
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 < 30 tahun 23 26,1
2 30 – 35 tahun 36 40,9
3 36 – 40 tahun 21 23,9
4 41 – 45 tahun 3 3,4
5 ≥ 45 tahun 5 5,7
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
62
Pada tabel IV.2 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden
paling banyak adalah berusia antara 30-35 tahun yaitu 40,9%, diikuti
responden dengan usia kurang dari 30 tahun (26,1%), kemudian usia
antara 36-40 tahun 23,9%, responden yang berusia lebih dari 40 tahun
sebanyak 5,7% dan responden yang paling sedikit adalah responden
yang berusia antara 41-45 tahun sebesar 3,4%.
b. Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat
dilihat pada tabel IV.3 dibawah ini.
Tabel IV.3
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JENIS
KELAMIN
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 Perempuan 51 58
2 Laki-Laki 37 42
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.3 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden paling
banyak adalah perempuan sebanyak 51 responden (58%) dan
responden perempuan sebanyak 37 orang atau 42%.
c. Pendidikan
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat
pada tabel IV.4 dibawah ini.
63
Tabel IV.4
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN
PENDIDIKAN
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 SD 19 21,6
2 SLTP 11 12,5
3 SLTA 32 36,4
4 Akademi 6 6,8
5 PT 20 22,7
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.4 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden paling
banyak adalah yang berpendidikan SLTA sebanyak 32 responden
(36,4%), diikuti responden berpendidikan PT sebanyak 20 responden
(22,7%), responden dengan pendidikan SD sebanyak 19 responden
(21,6%), responden dengan pendidikan SLTP sebanyak 11 responden
(12,5%) dan paling sedikit adalah responden dengan pendidikan
Akademi sebanyak 6 responden (6,8%).
d. Jumlah Keluarga
Karakteristik responden berdasarkan jumlah keluarga dapat
dilihat pada tabel IV.5 dibawah ini.
Tabel IV.5
KARAKTERISTIK RESPONDEN BERDASARKAN JUMLAH
KELUARGA
No Keterangan Jumlah Persentase (%)
1 2 orang 17 19,3
2 3 orang 27 30,7
3 4 orang 31 35,2
4 5 orang 13 14,8
Jumlah 88 100
Keterangan : Data primer yang diolah
64
Pada tabel IV.5 di atas menunjukkan bahwa jumlah responden
paling banyak adalah yang mempunyai keluarga 4 orang sebanyak 31
responden (40%), diikuti responden yang memiliki keluarga 3 orang
sebanyak 27 responden (34%), kemudian responden yang memiliki
keluarga 2 orang sebanyak 17 responden (19,3%) dan yang paling
sedikit adalah responden yang memiliki keluarga 5 orang sebanyak 13
responden atau 14,8%.
2. Deskripsi Statistik
Deskripsi data digunakan untuk memberikan gambaran mengenai
data yang diperoleh dari hasil penelitian. Deskripsi data ini melputi mean,
standar deviasi, minimum dan nilai maksimumnya. Hasil perhitungan
deskripsi data dengan komputer program SPSS 10.0 dapat dilihat pada
tabel IV.6 dibawah ini.
Tabel IV.6
DESKRIPSI STATISTIK
Variabel Minimum Maksimum Mean Std deviasi
Tunjangan
kesejahteraan
Kinerja karyawan
22
42
52
58
43,76
50,76
3,90
3,38
Keterangan : Data primer yang diolah
Pada tabel IV.6 di atas diperoleh nilai rata-rata variabel tunjangan
kesejahteraan adalah sebesar 43,76 dengan standar deviasi sebesar 3,90,
sedangkan nilai minimum sebesar 22 dan nilai maksimum sebesar 52 dan
nilai rata-rata variabel kinerja karyawan adalah sebesar 50,76 dengan
standar deviasi sebesar 3,38, sedangkan nilai minimum sebesar 42 dan nilai
maksimum sebesar 58.
65
C. Analisa Data
1. Pengujian Instrumen Penelitian
Sebelum dilakukan analisis terhadap data primer maka perlu
dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuesiner yang dipakai
dalam penelitian ini.
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu
alat ukur dapat mengungkapkan ketepatan gejala yang dapat diukur.
Validitas alat ukur dicari dengan menguji korelasi antar skor butir
dengan skor faktor yang diperoleh dari jawaban terhadap kuesioner.
Korelasi antara skor pertanyaan dengan skor totalnya signifikan. Hal
ini ditunjukkan oleh ukuran statistik tertentu yaitu angka korelasi.
Angka korelasi yang diperoleh harus lebih besar dari critical value
yang diisyaratkan. Tehnik pengukuran yang digunakan adalah tehnik
Product Moment dari Pearson.
Tabel IV.7
RANGKUMAN HASIL UJI VALIDITAS TUNJANGAN
KESEJAHTERAAN
Variabel Butir r-hitung r-tabel Keterangan
Tunjangan
kesejahteraan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
0.4579
0.5911
0.2842
0.5455
0.2351
0.5837
0.5077
0.4815
0.2950
0.4723
0.3386
0.3123
0.2513
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Keterangan : Data primer yang diolah
66
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas, maka dapat
dikemukakan bahwa hasil uji r-hitung pada setiap item pertanyaan
lebih besar daripada r-tabel. Dengan demikian, semua item pertanyaan
yang digunakan dalam kuesioner tunjangan kesejahteraan adalah valid.
Tabel IV.8
RANGKUMAN HASIL UJI VALIDITAS KINERJA KARYAWAN
Variabel Butir r-hitung r-tabel Keterangan
Kinerja
karyawan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
0.2545
0.2667
0.3277
0.4594
0.2436
0.2482
0.2784
0.3774
0.2918
0.3212
0.2412
0.3572
0.2994
0.3092
0.2727
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
0,195
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Keterangan : Data primer yang diolah
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas, maka dapat
dikemukakan bahwa hasil uji r-hitung pada setiap item pertanyaan
lebih besar daripada r-tabel. Dengan demikian, semua item pertanyaan
yang digunakan dalam kinerja karyawan adalah valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu
alat ukur dapat digunakan, dipercaya, dan diandalkan untuk meneliti
suatu obyek. Dalam penelitian ini, dilakukan uji reliabilitas terhadap
67
kuesioner dengan mengetahui sejauh mana kuesioner tersebut dapat
digunakan, dipercaya, dan diandalkan.
Tehnik yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Alpha
Cronbach. Kuesioner dapat dikatakan reliabel jika mempunyai
koefisien korelasi lebih dari 0,6. Hasil yang diperoleh dari uji
reliabilitas terhadap kuesioner pada masing-masing variabel adalah
sebagai berikut :
Tabel IV.9
RANGKUMAN HASIL UJI RELIABILITAS
Variabel Koefisien
Alpha
Critical
Value
Keterangan
Tunjangan
kesejahteraan
0,7843 0,6 Reliabel
Kinerja karyawan 0,6981 0,6 Reliabel
Keterangan : Data primer yang diolah
Berdasarkan perhitungkan yang dilakukan dengan
menggunakan program SPSS 10.0, hasil perhitungan terhadap variabel
tunjangan kesejahteraan sebesar 0,7843 dan kinerja karyawan sebesar
0,6981. Dari hasil tersebut terlihat bahwa reliabilitas masing-masing
variabel menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,6 maka kuesioner
dinyatakan reliabel.
2. Pengujian Hipotesis
Analisis data pada pengujian hipotesis dimaksudkan untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh tunjangan kesejahteraan terhadap
kinerja karyawan. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan analisis
regresi linear sederhana. Hasil analisis dapat dilihat sebagai berikut.
68
Tabel IV.10
RANGKUMAN HASIL REGRESI LINIER BERGANDA
Variabel Koef.
regresi
Std.
Error
t-hitung Sign
Konstanta
Tunjangan
kesejahteraan
28,584
0,507
3,326
0,076
8,595
6,695
0,000
0,000
R 0,585
R-Squared 0,343
Adj. R-Squared 0,335
F-Hitung 44,821
Probabilitas F 0,000
Keterangan : Data primer yang diolah
a. Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil pengolahan data untuk regresi linier berganda dengan
menggunakan program SPSS 10.0 dapat dilihat pada tabel IV.10 di
atas. Berdasarkan tabel tersebut dapat disusun persamaan regresi linier
berganda sebagai berikut :
Y = 28,584 + 0,507X
Berdasarkan persamaan regresi linier berganda di atas dapat
diuraikan sebagai berikut:
1) Nilai konstanta bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa apabila
variabel tunjangan kesejahteraan konstan, maka kinerja karyawan
bernilai positif.
2) Koefisien regresi variabel 0,507 (b1) bernilai positif, hal ini
menunjukkan bahwa tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh
positif terhadap kinerja karyawan. Artinya setiap ada peningkatan
tunjangan kesejahteraan, maka mengakibatkan kinerja karyawan
naik.
69
b. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing
variabel independen secara individu. Pengujian regresi digunakan
pengujian dua arah (two tailed test) dengan menggunakan α = 5% yang
berarti bahwa tingkat keyakinan adalah sebesar 95%. Perhitungan
besarnya t-tabel menggunakan rumus :
t-tabel = t α/2, n-1
= 0,05/2; 88-1
= 0,025; 87
= 1,960
Langkah-langkah prosedur pengujian :
a. Pengujian terhadap variabel tunjangan kesejahteraan
1) Formulasi hipotesis nol dan hipotesis alternatif
Ho: b1 = 0 (tunjangan kesejahteraan tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
karyawan)
Ha: b1 ≠ 0 (tunjangan kesejahteraan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kinerja karyawan)
2) Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,05
3) Nilai kritis = 1,960
Ho diterima apabila = -1,960 ≤ t-hitung ≤ 1,960
Daerah terima
Daerah tolak Daerah tolak
-1,960 1,960 6,695
70
Ho ditolak apabila = t-hitung > 1,960 atau t-hitung < -1,960
4) Hasil uji statistik
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai thitung
sebesar 6,695.
5) Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh nilai thitung
sebesar 6,695. Oleh karena hasil uji t statistik (t-hitung)
lebih besar dari nilai t tabel (6,695 > 1,960) atau Pobabilitas t
lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak pada taraf
signifikansi 0,05. Artinya bahwa variabel tunjangan
kesejahteraan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
kinerja karyawan.
c. Uji R2
Tingkat ketepatan regresi dinyatakan dalam koefisien
determinasi yang besarnya antara nol dan 1 (satu). Jika koefisien
determinasi mendekati satu maka variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen dengan sempurna atau terdapat suatu
kecocokan yang sempurna (variabel bebas yang dipakai dapat
menerangkan dengan baik variabel tidak bebasnya). Namun jika
koefisien determinasi adalah 0 (nol) bararti independen tidak
berpengaruh terhadap variabel dependen.
Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program
SPSS 10.0, dalam analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien
determinasi atau R2 sebesar 0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi
71
perubahan kinerja karyawan dijelaskan oleh variasi perubahan faktorfaktor
tunjangan kesejahteraan. Sementara sisanya sebesar 65,7%
diterangkan oleh faktor lain yang tidak ikut terobservasi.
3. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov.
Cara menguji normalitas yaitu dengan membandingkan probabilitas
(p) yang diperoleh dengan taraf signifikansi (α) 0,05. Apabila nilai p >
α maka distribusi data normal atau sebaliknya (Singgih, 2000: 179).
Hasil uji normalitas terhadap nilai residual model persamaan dengan
program SPSS 10.0 diperoleh nilai probabilitas di atas 0,05, hal ini
menunjukkan bahwa data berdistribusi secara normal ( p > 0,05).
Secara rinci hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.16 di bawah
ini.
Tabel IV.11
HASIL UJI NORMALITAS
Variabel Sign Kesimpulan
Residual 0,995 Normal
Sumber : Hasil pengolahan data
b. Uji Heterokedastisitas
Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika
72
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk menguji
ada tidaknya heteroskedastisitas di dalam penelitian ini menggunakan
uji Glejser yaitu dengan cara meregresikan nilai absolute residual
terhadap variabel independen. Ada tidaknya heteroskedastisitas
diketahui dengan melihat signifikansinya terhadap derajat kepercayaan
5%. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka tidak terjadi
heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat
pada tabel 4.18 dibawah ini.
Tabel IV.12
HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS
Variabel t hitung Prob Kesimpulan
Tunjangan
kesejahteraan
1,023 0,309 Bebas Heteroskedastisitas
Sumber : Hasil pengolahan data
Pada tabel IV.12 diketahui bahwa probabilitas masing-masing
variabel lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa variabel
tersebut bebas dari masalah heteroskedastisitas.
D. Pembahasan
Kesejahteraan karyawan itu selalu menjadi keinginan setiap orang
karena dengan hidup sejahtera orang akan dapat menikmati hidupnya.
Demikian juga dengan karyawan disuatu Perusahaan, jika kesejahteraan
karyawan itu terjamin maka akan dapat meningkatakan prestasi kerja
73
karyawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tunjangan kesejahteraan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, hal ini
ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 ( p < 0,05). Pengaruh positif
menunjukkan bahwa semakin tinggi tunjangan kesejahteraan yang diberikan
perusahaan dapat meningkatkan kinerja karyawan konsumen. Usaha-usaha
untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau pegawai merupakan suatu usaha
untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau pegawai adalah dengan
pertama, pemberian gaji atau upah yang adil, dalam pemberian gaji ini
disesuaikan dengan tugas yang telah dikerjakan dengan hasil yang memuaskan
dengan waktu tertentu. Sedangkan untuk tercapainya keadilan tersebut, maka
ada beberapa factor penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan tingkat
upah seorang pegawai atau karyawan adalah pendidikan, pengalaman,
tanggungan keluarga, kemampuan perusahaan, daan kondisi pekerja. Kedua,
asuransi. Dalam lingkungan kerja dimanapun pasti menginginkan
keselamatan, keamanan dan kesehatan kerja. Karena bagaimanapun juga
manusia menginginkan ketiga hal itu dan sanggup mengorbankan apa saja asal
dapat sehat, aman dan selamat. Sedangkan program asuransi ini bisa
berbentuk Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kecelakaan.
Disini perusahaan bisa melakukan kerja sama dengan Perusahaan Asuransi
untuk menanggung asuransi karyawannya. Ketiga, lingkungan kerja yang
aman dan sehat sangat diperlukan oleh semua orang karena ditempat kerja
yang demikian seseorang dapat bekerja dengan tenang sehingga dapat
memperoleh seperti yang diharapkan oleh perusahaan atau organisasi tersebut.
Keempat, melalui promosi atau kenaikan jenjang. Pihak perusahaan atau
74
suatu organisasi biasanya menyenangi dasar promosi adalah kecakapan kerja,
karena kecakapan kerja atau kinerja yang baik adalah merupakan dasar
kemajuan. Sedangkan pihak karyawan menghendaki unsure seniorisasi lebih
ditekankan dalam promosi, karena dengan makin lama masa kerja, maka
makin berpengalaman seseorang, sehingga kecakapan kerja mereka makin
baik. Tetapi pada umumnya didalam menentukan dasar untuk promosi sering
digunakan keduanya yaitu dasar kecakapan kerja dan senioritas jadi apabila
ada karyawan atau pegawai yang mempunyai kecakapan yang sama, maka
karyawan atau pegawai yang lebih seniorlah yang akan dipromosikan. Sebagai
salah satu pengembangan, promosi sangat diharapkan oleh setiap karyawan
atau pegawai dimanapun berada. Oleh karena itu dia akan mendapatkan hakhak
yang lebih baik daripada yang diperoleh sebelum promosi baik material
maupun non material. Hak-hak yang bersifat material misalnya kenaikan
pendapatan, perbaikan fasilitas sedangkan hak yang bersifat non material
misalnya status social, dan rasa bangga.
Kelima, Program Rekreasi. Dengan adanya kesempatan rekreasi itu
diharapkan para pegawai atau karyawan selalu bergairah atau mempunyai
semangat dalam bekerja. Salah satu program rekreasi adalah mengadakan tour
ke tempat-tempat wisata bersama keluarga. Keenam, Pemberian Fasilitas.
Yang dimaksud dengan fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan,
dipakai, ditempati dan dinikmati oleh pegawai baik dalam hubungan langsung
dengan pekerjaan seperti termasuk didalamnya semua alat kerja di perusahaan
dan secara tidak langsung untuk kelancaran pekerjaan seperti gedung, alat
komunikasi, ruangan kerja yang memadai dan lain sebagainya.
75
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya,
hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil analisis regresi diperoleh koefisien regresi variabel tunjangan
kesejahteraan sebesar 0,507 bernilai positif, hal ini menunjukkan bahwa
tunjangan kesejahteraan mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja
karyawan. Artinya tunjangan kesejahteraan yang diberikan perusahaan
semakin baik, akan meningkatkan kinerja karyawan.
2. Hasil uji t menunjukkan bahwa meliputi variabel tunjangan kesejahteraan
berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Hal ini ditunjukkan
oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 Berarti hipotesis yang
menyatakan “Diduga kesejahteraan karyawan mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap kinerja karyawan”, terbukti.
3. Hasil perhitungan untuk nilai R2 dengan bantuan program SPSS 10.0,
dalam analisis regresi berganda diperoleh angka koefisien determinasi atau
R2 sebesar 0,343. Hal ini berarti 34,3% variasi perubahan kinerja
karyawan dijelaskan oleh variasi perubahan tunjangan kesejahteraan.
Sementara sisanya sebesar 65,7% diterangkan oleh faktor lain yang tidak
ikut terobservasi.
75
76
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan ini mempunyai keterbatasan, oleh karena itu
keterbatasan ini perlu lebih diperhatikan untuk peneliti-peneliti berikutnya.
Keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena penelitian ini
hanya dibatasi pada karyawan PT. Air Mancur. Hasil penelitian ini
kemungkinan akan berbeda jika dilakukan pada instansi lain.
2. Keterbatasan yang melekat pada metode survey yaitu peneliti tidak dapat
mengontrol jawaban responden, dimana responden bisa saja tidak jujur
dalam responnya dan kemungkinan respon bias dari responden.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Variabel tunjangan kesejahteraan demokratik berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan, oleh karena itu pihak PT. Air Mancur
sebaiknya memperhatikan faktor tersebut untuk meningkatkan kinerja
karyawannya.
2. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dengan memperluas responden
tidak hanya pada PT. Air Mancur saja, tetapi dapat memperluas sampel
pada instansi yang lain sehingga daya generalisasi hasil penelitian dapat
diperbesar.
3. Penelitian selanjutnya sebaiknya mengembangkan variabel-variabel yang
diteliti, sebab tidak menutup kemungkinan bahwa dengan penelitian yang
77
mencakup lebih banyak variabel akan dapat menghasilkan kesimpulan
yang lebih baik.
4. Penelitian lain disarakan untuk menggunakan metode wawancara atau
observasi langsung kepada responden, sehingga jawaban responden dapat
dikontrol sehingga tidak terjadi bias atau salah persepsi dari responden
terhadap instrumen penelitian yang digunakan.
78
DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 1997. Statistik Induktif Untuk Ekonomi Dan Bisnis. Yogyakarta:UPP
AMP YKPN.
Heidjrachman dan Suad Husnan.2002. Manajemen Personalia. Yogyakarta:
BPFE
Djarwanto.1992. Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta :
Erlangga.
Djarwanto, Ps 1994. Statistik Induktif. BPFE .Yogyakarta.
Malayu Hasibuan. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta; CV. Haji
Masagung.
Mangkunegara . 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung
; PT. Remaja.
Moekijat. 1984. Manajemen Kepegawaian. Bandung: Penerbit CV. Mandar Maju.
Moh As’ad. 1999. Seri Ilmu Sumber Daya Manusia-Psikologi Industri.
Yogyakarta : BPFE.
Poerdarminto W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
. 1972. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris.
Jakarta: Penerbit Hasta.
Suharsini Arikunto. Prosedur Penelitian suatu Pedekatan Praktik. Yogyakarta:
Penerbit Reneka Cipta.
79
IDENTITAS RESPONDEN
Nama Responden :
Umur :
Jenis kelamin :
Pendidikan :
Jumlah anggota keluarga :
Status di keluarga : a. Kepala Keluarga
b. Anak
c. Lain-lain, sebutkan
PETUNJUK PENGISIAN ANGKET PENELITIAN:
1. Isilah identitas anda
2. Untuk menjawab angket penelitian ini anda cukup member tanda (X) pada
salah satu jawaban (a, b, c, d) yang sesuai dengan keadaan anda.
I. VARABEL KESEJAHTERAAN KARYAWAN
1. Bagaimana menurut anda tentang kondisi kenyamanan kerja yang anda
rasakan di dalam kantor?
a. Sangat nyaman
b. Cukup nyaman
c. Kurang nyaman
d. Tidak nyaman
2. Bagaimana menurut anda tentang jaminan asuransi yang diberikan oleh
AIR MANCUR Palur (Seperti jaminan kecelakaan kerja)
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
3. Apakah pimpinan anda dalam menempatkan karyawan pada job-jobnya
sudah obyektif berdasarkan kinerja karyawan?
a. Ya, sangat obyektif
b. Ya, cukup obyektif
c. Ya, kurang obyektif
d. Tidak obyektif
80
4. Bagaimana tentang fasilitas kesehatan yang disediakan oleh AIR
MANCUR pada karyawan. Menurut pendapat anda?
a. Berfungsi, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dan tidak dipungut
biaya.
b. Berfungsi, baik untuk diri sendiri maupun keluarga tetapi dipungut
biaya
c. Berfungsi tetapi hanya untuk diri sendiri
d. Tidak berfungsi, karena belum pernah menggunakan.
5. Jika ada karyawan yang sakit dan harus dirawa di Rumah Sakit,
bagaimana menurut anda tentang banyuan biaya yang diberikan?
a. Sangat memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuasakan
d. Tidak memuaskan
6. Bagaimana menurut pendapat anda tentang program rekreasi bagi
karyawan yang diadakan oleh AIR MANCUR setiap setahun sekali?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang Setuju
d. Tidak setuju
7. Bagaimana pendapat anda tentang cuti yang diberikan kepada karyawan
dalam satu tahun masa kerja?
a. Sangat menyenangkan
b. Cukup menyenangkan
c. Kurang menyenangkan
d. Tidak berpendapat
8. Apakah gaji atau imbalan yang anda terima itu sudah sesuai dengan
golongan masa kerja anda ?
a. Sangat sesuai
b. Cukup sesuai
c. Kurang sesuai
d. Tidak sesuai
81
9. Bagaimana menurut anda tentang potongan atas gaji atau intensif yang
anda terima atas alas an tertentu misalnya saat anda tidak masuk?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
10. Bagaimana menurut anda dengan tunjangan hari raya yang diberikan AIR
MANCUR kepada karyawan?
a. Sangat memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuaskan
d. Tidak memuaskan
11. Bagaimana tentang pelayanan bimbingan dan penyuluhan yang diberikan
kepada karyawan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
12. Bagaimana menurut anda tentang penghasilan yang anda terima?
a. Dapat mencukupi kebutuhan sehari hari, menabung dan investasi.
b. Dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung
c. Hanya bisa mencukupi kebutuha sehari-hari
d. Kurang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari
13. Bagaiman seragam kerja yang diberikan kepada karyawan di AIR
MANCUR
a. Diberikan dan sangat memuaskan
b. Diberikan dan cukup memuaskan
c. Diberikan dan kurang memuaskan
d. Diberikan tetapi tidak memuaskan
82
II. VARIABEL KINERJA KARYAWAN
14. Bagaiman anda menyelesaikan pekerjaan di pabrik?
a. Bersedia melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas-tugas yang
diberikan dan melakukan tugas-tugas tambahan
b. Melakukan pekerjaan rutin tanpa menunggu perintah
c. Melakukan pekerjaan dengan menunggu perintah
d. Melakukan pekerjaan rutin dengan menunggu perintah
15. Bagaiman sikap anda terhadap pekerjaan yang anda hadapi?
a. Sangat antusias atau bersemangat terhadap pekerjaan yang dihadapi
b. Menunjukkan perhatian yang normal dan umum dalam menghadapi
pekerjaan
c. Cukup perhatian terhadap pekerjaan yang dihadapi
d. Kurang perhatian terhadap pekerjaan yang dihadapi
16. Bagaimana dengan motivasi atau dorongan yang dilakukan pimpinan
tentang pelaksanaan pekerjaan agar supaya karyawan dapat bekerja
dengan baik?
a. Sangat baik
b. Baik
c. Cukup baik
d. Tidak baik
17. Bagaimana menurut anda tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
anda apa sudah sesuai dengan bidangnya?
a. Sangat sesuai
b. Sudah sesuai
c. Kurang sesuai
d. Tidak sesuai
18. Bagaimana menurut anda tentang kenaikan jabatan yang berdasarkan pada
seniorotas karyawan atau berdasarkan masa kerja?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
83
19. Bagaimana menurut anda dengan penentuan jam kerja (jumlah jam kerja)
bagi karyawan dalam waktu 1 hari?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
20. Bagaiman dengan waktu istirahat kerja yang diberikan kapada karyawan?
a. Waktunya sangat mencukupi
b. Cukup digunakan untuk istirahat
c. Kurang mencukupi waktunya
d. Tidak mencukupi waktunya
21. Bagaimana dengan waktu istirahat kerja yang diberikan kepada karyawan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
22. Bagaimana menurut anda tentang tindakan yang diambil pemimpin apabila
anda sering tidak masuk kerja?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
23. Bagaiman sikap anda tentang kedisiplinan yang dterapkan oleh pimpinan?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
24. Bagaimana menurut anda tentang hubungan antara sesame teman kerja?
a. Sangat baik
b. Cukup baik
c. Kurang baik
d. Tidak baik
84
25. Bagaimana menurut anda apabila teman kerja anda diberi peluang untuk
promosi atau kenaikan jabatan?
a. Sangat mendukung
b. Kurang mendukung
c. Tidak mendukung
d. Tidak berpendapat
26. Kerja sama antara karyawan dengan karyawan lain dan karyawan dengan
pihak pimpinan penting artinya dalam menaikkan produktivitas kerja,
bagaiman pendapat anda?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
27. Untuk mempertinggi mutu karyawan, baik pengetahuan, kemampuan dan
ketrampilan kepada karyawan perlu diberikan berbagai macam latihan dan
pendidikan, bagaiman pendapat anda?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
28. Kualitas hasil kerja anda mengenai katepatan, ketelitian, katrampilan dan
keberhasilan yang dinilai oleh pimpinan, bagaimana menurut anda?
a. Selalu memuaskan
b. Cukup memuaskan
c. Kurang memuaskan
d. Tidak memuaskan
85
Frequency Table
Usia
23 26.1 26.1 26.1
36 40.9 40.9 67.0
21 23.9 23.9 90.9
3 3.4 3.4 94.3
5 5.7 5.7 100.0
88 100.0 100.0
< 30 tahun
30 – 35 tahun
36 – 40 tahun
41 – 45 tahun
> 45 tahun
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Jenis Kelamin
51 58.0 58.0 58.0
37 42.0 42.0 100.0
88 100.0 100.0
Laki-laki
Perempuan
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Pendidikan
19 21.6 21.6 21.6
11 12.5 12.5 34.1
32 36.4 36.4 70.5
6 6.8 6.8 77.3
20 22.7 22.7 100.0
88 100.0 100.0
SD
SLTP
SLTA
Diploma
S1
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Jumlah Keluarga
17 19.3 19.3 19.3
27 30.7 30.7 50.0
31 35.2 35.2 85.2
13 14.8 14.8 100.0
88 100.0 100.0
2
3
4
5
Total
Valid
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
86
Descriptives
Descriptive Statistics
88 22 52 43.76 3.90
88 42 58 50.76 3.38
88
Tunjangan
Kesejahteraan
Kinerja Karyawan
Valid N (listwise)
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
87
Validity & Reliability Test : Tunjangan Kesejahteraan
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis
******
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Mean Std Dev Cases
1. B1 3.4432 .6925 88.0
2. B2 3.1591 .5443 88.0
3. B3 3.3295 .5616 88.0
4. B4 3.3182 .5580 88.0
5. B5 3.4205 .5408 88.0
6. B6 3.4318 .5631 88.0
7. B7 3.4318 .6214 88.0
8. B8 3.3068 .5541 88.0
9. B9 3.4432 .5644 88.0
10. B10 3.3409 .5850 88.0
11. B11 3.3750 .4869 88.0
12. B12 3.4545 .5232 88.0
13. B13 3.3068 .5745 88.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 43.7614 15.2412 3.9040 13
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
B1 40.3182 12.5183 .4579 .7661
B2 40.6023 12.6561 .5911 .7538
B3 40.4318 13.7424 .2842 .7820
B4 40.4432 12.7554 .5455 .7577
B5 40.3409 13.9974 .2351 .7858
B6 40.3295 12.5913 .5837 .7539
B7 40.3295 12.6143 .5077 .7605
B8 40.4545 13.0094 .4815 .7639
B9 40.3182 13.6907 .2950 .7811
B10 40.4205 12.9131 .4723 .7644
B11 40.3864 13.7800 .3386 .7766
B12 40.3068 13.7554 .3123 .7790
B13 40.4545 13.8370 .2513 .7852
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Reliability Coefficients
N of Cases = 88.0 N of Items = 13
Alpha = .7843
88
Validity & Reliability Test : Kinerja Karyawan
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis
******
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P
H A)
Mean Std Dev Cases
1. B14 3.4205 .4965 88.0
2. B15 3.3068 .4638 88.0
3. B16 3.4659 .5663 88.0
4. B17 3.4091 .5172 88.0
5. B18 3.4205 .5191 88.0
6. B19 3.4659 .5017 88.0
7. B20 3.3977 .4922 88.0
8. B21 3.2727 .4729 88.0
9. B22 3.4432 .4996 88.0
10. B23 3.5114 .5027 88.0
11. B24 3.4432 .5437 88.0
12. B25 3.3182 .5370 88.0
13. B26 3.3409 .5227 88.0
14. B27 3.2841 .5017 88.0
15. B28 3.2614 .5772 88.0
N of
Statistics for Mean Variance Std Dev Variables
SCALE 50.7614 11.4252 3.3801 15
Item-total Statistics
Scale Scale Corrected
Mean Variance Item- Alpha
if Item if Item Total if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted
B14 47.3409 10.3652 .2545 .6889
B15 47.4545 10.4117 .2667 .6874
B16 47.2955 9.9347 .3277 .6801
B17 47.3523 9.6791 .4594 .6637
B18 47.3409 10.3422 .2436 .6904
B19 47.2955 10.3715 .2482 .6897
B20 47.3636 10.3030 .2784 .6861
B21 47.4886 10.0688 .3774 .6750
B22 47.3182 10.2424 .2918 .6846
B23 47.2500 10.1437 .3212 .6811
B24 47.3182 10.2884 .2412 .6911
B25 47.4432 9.9278 .3572 .6763
B26 47.4205 10.1545 .2994 .6837
B27 47.4773 10.1834 .3092 .6825
B28 47.5000 10.0920 .2727 .6876
R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S – S C A L E (A L P H A)
Reliability Coefficients
N of Cases = 88.0 N of Items = 15
Alpha = .6981
89
Regression
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Model Summaryb
.585a .343 .335 2.76
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
ANOVAb
340.552 1 340.552 44.821 .000a
653.436 86 7.598
993.989 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Coefficientsa
28.584 3.326 8.595 .000
.507 .076 .585 6.695 .000
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
90
Autocorrelation test :
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Model Summaryb
.585a .343 .335 2.76 1.503
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
Durbin-W
atson
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
ANOVAb
340.552 1 340.552 44.821 .000a
653.436 86 7.598
993.989 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
Coefficientsa
28.584 3.326 8.595 .000
.507 .076 .585 6.695 .000
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: Kinerja Karyawan
91
Normality test :
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
88
4.402616E-09
2.7405767
.106
.080
-.106
.995
.275
N
Mean
Std. Deviation
Normal Parametersa,b
Absolute
Positive
Negative
Most Extreme
Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz
ed Residual
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
92
Heteroskedasticity test :
Variables Entered/Removedb
Tunjangan
Kesejahter
aan
a . Enter
Model
1
Variables
Entered
Variables
Removed Method
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: ABSRES
Model Summary
.110a .012 .001 1.8497
Model
1
R R Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
ANOVAb
3.581 1 3.581 1.047 .309a
294.240 86 3.421
297.821 87
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
a. Predictors: (Constant), Tunjangan Kesejahteraan
b. Dependent Variable: ABSRES
Coefficientsa
-.264 2.232 -.118 .906
5.196E-02 .051 .110 1.023 .309
(Constant)
Tunjangan
Kesejahteraan
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardi
zed
Coefficien
ts
t Sig.
a. Dependent Variable: ABSRES
46
Tabel Nilai F0,05
Degrees of freedom for Nominator
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 15 20 24 30 40 60 120
1 161 200 216 225 230 234 237 239 241 242 244 246 248 249 250 251 252 253 254
2 18,5 19,0 19,2 19,2 19,3 19,3 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,4 19,5 19,5 19,5 19,5 19,5 19,5
3 10,1 9,55 9,28 9,12 9,01 8,94 8,89 8,85 8,81 8,79 8,74 8,70 8,66 8,64 8,62 8,59 8,57 8,55 8,53
4 7,71 6,94 6,59 6,39 6,26 6,16 6,09 6,04 6,00 5,96 5,91 5,86 5,80 5,77 5,75 5,72 5,69 5,66 5,63
5 6,61 5,79 5,41 5,19 5,05 4,95 4,88 4,82 4,77 4,74 4,68 4,62 4,56 4,53 4,50 4,46 4,43 4,40 4,37
6 5,99 5,14 4,76 4,53 4,39 4,28 4,21 4,15 4,10 4,06 4,00 3,94 3,87 3,84 3,81 3,77 3,74 3,70 3,67
7 5,59 4,74 4,35 4,12 3,97 3,87 3,79 3,73 3,68 3,64 3,57 3,51 3,44 3,41 3,38 3,34 3,30 3,27 3,23
8 5,32 4,46 4,07 3,84 4,69 3,58 3,50 3,44 3,39 3,35 3,28 3,22 3,15 3,12 3,08 3,04 3,01 2,97 2,93
9 5,12 4,26 3,86 3,63 3,48 3,37 3,29 3,23 3,18 3,14 3,07 3,01 2,94 2,90 2,86 2,83 2,79 2,75 2,71
10 4,96 4,10 3,71 3,48 3,33 3,22 3,14 3,07 3,02 2,98 2,91 2,85 2,77 2,74 2,70 2,66 2,62 2,58 2,54
11 4,84 3,98 3,59 3,36 3,20 3,09 3,01 2,95 2,90 2,85 2,79 2,72 2,65 2,61 2,57 2,53 2,49 2,45 2,40
12 4,75 3,89 3,49 3,26 3,11 3,00 2,91 2,85 2,80 2,75 2,69 2,62 2,54 2,51 2,47 2,43 2,38 2,34 2,30
13 4,67 3,81 3,41 3,13 3,03 2,92 2,83 2,77 2,71 2,67 2,60 2,53 2,46 2,42 2,38 2,34 2,30 2,25 2,21
14 4,60 3,74 3,34 3,11 2,96 2,85 2,76 2,70 2,65 2,60 2,53 2,46 2,39 2,35 2,31 2,27 2,22 2,18 2,13
15 4,54 3,68 3,29 3,06 2,90 2,79 2,71 2,64 6,59 2,54 2,48 2,40 2,33 2,29 2,25 2,20 2,16 2,11 2,07
16 4,49 3,63 3,24 3,01 2,85 2,74 2,66 2,59 2,54 2,49 2,42 2,35 2,28 2,24 2,19 2,15 2,11 2,06 2,01
17 4,45 3,59 3,20 2,96 2,81 2,70 2,61 2,55 2,49 2,45 2,38 2,31 2,23 2,19 2,15 2,10 2,06 2,01 1,96
18 4,41 3,55 3,16 2,93 2,77 2,66 2,58 2,51 2,46 2,41 2,34 2,27 2,19 2,15 2,11 2,06 2,02 1,97 1,92
19 4,38 3,52 3,13 2,90 2,74 2,63 2,54 2,48 2,42 2,38 2,31 2,23 2,16 2,11 2,07 2,03 1,98 1,93 1,88
20 4,35 3,49 3,10 2,87 2,71 2,60 2,51 2,45 2,39 2,35 2,28 2,20 2,12 2,08 2,04 1,99 1,95 1,90 1,84
21 4,32 3,47 3,07 2,84 2,68 2,57 2,49 2,42 2,37 2,32 2,25 2,18 2,10 2,05 2,01 1,96 1,92 1,87 1,81
22 4,30 3,44 3,05 2,82 2,66 2,55 2,46 2,40 2,34 2,30 2,23 2,15 2,07 2,03 1,98 1,94 1,89 1,84 1,78
23 4,28 3,42 3,03 2,80 2,64 2,53 2,44 2,37 2,32 2,27 2,20 2,13 2,05 2,01 1,96 1,91 1,86 1,81 1,76
24 4,26 3,40 3,01 2,78 2,62 2,51 2,42 2,36 2,30 2,25 2,18 2,11 2,03 1,98 1,94 1,89 1,84 1,79 1,73
25 4,24 3,39 2,99 2,76 2,60 2,49 2,40 2,34 2,28 2,24 2,16 2,09 2,01 1,96 1,92 1,87 1,82 1,77 1,71
30 4,17 3,32 2,92 2,69 2,53 2,42 2,33 2,27 2,21 2,16 2,09 2,01 1,93 1,89 1,84 1,79 1,74 1,68 1,62
40 4,08 3,23 2,84 2,61 2,45 2,34 2,25 2,18 2,12 2,08 2,00 1,92 1,84 1,79 1,74 1,69 1,64 1,58 1,51
60 4,00 3,15 2,76 2,53 2,37 2,25 2,17 2,10 2,04 1,99 1,92 1,84 1,75 1,70 1,65 1,59 1,53 1,47 1,39
120 3,92 3,07 2,68 2,45 2,29 2,18 2,09 2,02 1,96 1,91 1,83 1,75 1,66 1,61 1,55 1,50 1,43 1,35 1,22
Degrees of freedom for Denominator
3,84 3,00 2,60 2,37 2,21 2,10 2,01 1,94 1,88 1,83 1,75 1,67 1,57 1,52 1,46 1,39 1,32 1,22 1,00
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
46
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
1 3.078 6.314 12.706 31.821 63.657 1
2 1.886 2.920 4.303 6.965 9.925 2
3 1.638 2.353 3.182 4.541 5.841 3
4 1.533 2.132 2.776 3.747 4.604 4
5 1.476 2.015 2.571 3.365 4.032 5
6 1.440 1.943 2.447 3.143 3.707 6
7 1.415 1.895 2.365 2.998 3.499 7
8 1.397 1.860 2.306 2.896 3.355 8
9 1.383 1.833 2.262 2.821 3.250 9
10 1.372 1.812 2.228 2.764 3.169 10
11 1.363 1.796 2.201 2.718 3.106 11
12 1.356 1.782 2.179 2.681 3.055 12
13 1.350 1.771 2.160 2.650 3.012 13
14 1.345 1.761 2.145 2.624 2.977 14
15 1.341 1.753 2.131 2.602 2.947 15
16 1.337 1.746 2.120 2.583 2.921 16
17 1.333 1.740 2.110 2.567 2.898 17
18 1.330 1.734 2.101 2.552 2.878 18
19 1.328 1.729 2.093 2.539 2.861 19
20 1.325 1.725 2.086 2.528 2.845 20
21 1.323 1.721 2.080 2.518 2.831 21
22 1.321 1.717 2.074 2.508 2.819 22
23 1.319 1.714 2.069 2.500 2.807 23
24 1.318 1.711 2.064 2.492 2.797 24
25 1.316 1.708 2.060 2.485 2.787 25
26 1.315 1.706 2.056 2.479 2.779 26
27 1.314 1.703 2.052 2.473 2.771 27
28 1.313 1.701 2.048 2.467 2.763 28
29 1.311 1.699 2.045 2.462 2.756 29
30 1.310 1.697 2.042 2.457 2.750 30
31 1.309 1.696 2.040 2.453 2.744 31
32 1.309 1.694 2.037 2.449 2.738 32
33 1.308 1.692 2.035 2.445 2.733 33
34 1.307 1.691 2.032 2.441 2.728 34
35 1.306 1.690 2.030 2.438 2.724 35
36 1.306 1.688 2.028 2.434 2.719 36
37 1.305 1.687 2.026 2.431 2.715 37
38 1.304 1.686 2.024 2.429 2.712 38
39 1.304 1.685 2.023 2.426 2.708 39
40 1.303 1.684 2.021 2.423 2.704 40
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
47
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
41 1.303 1.683 2.020 2.421 2.701 41
42 1.302 1.682 2.018 2.418 2.698 42
43 1.302 1.681 2.017 2.416 2.695 43
44 1.301 1.680 2.015 2.414 2.692 44
45 1.301 1.679 2.014 2.412 2.690 45
46 1.300 1.679 2.013 2.410 2.687 46
47 1.300 1.678 2.012 2.408 2.685 47
48 1.299 1.677 2.011 2.407 2.682 48
49 1.299 1.677 2.010 2.405 2.680 49
50 1.299 1.676 2.009 2.403 2.678 50
51 1.298 1.675 2.008 2.402 2.676 51
52 1.298 1.675 2.007 2.400 2.674 52
53 1.298 1.674 2.006 2.399 2.672 53
54 1.297 1.674 2.005 2.397 2.670 54
55 1.297 1.673 2.004 2.396 2.668 55
56 1.297 1.673 2.003 2.395 2.667 56
57 1.297 1.672 2.002 2.394 2.665 57
58 1.296 1.672 2.002 2.392 2.663 58
59 1.296 1.671 2.001 2.391 2.662 59
60 1.296 1.671 2.000 2.390 2.660 60
61 1.296 1.670 2.000 2.389 2.659 61
62 1.295 1.670 1.999 2.388 2.657 62
63 1.295 1.669 1.998 2.387 2.656 63
64 1.295 1.669 1.998 2.386 2.655 64
65 1.295 1.669 1.997 2.385 2.654 65
66 1.295 1.668 1.997 2.384 2.652 66
67 1.294 1.668 1.996 2.383 2.651 67
68 1.294 1.668 1.995 2.382 2.650 68
69 1.294 1.667 1.995 2.382 2.649 69
70 1.294 1.667 1.994 2.381 2.648 70
71 1.294 1.667 1.994 2.380 2.647 71
72 1.293 1.666 1.993 2.379 2.646 72
73 1.293 1.666 1.993 2.379 2.645 73
74 1.293 1.666 1.993 2.378 2.644 74
75 1.293 1.665 1.992 2.377 2.643 75
76 1.293 1.665 1.992 2.376 2.642 76
77 1.293 1.665 1.991 2.376 2.641 77
78 1.292 1.665 1.991 2.375 2.640 78
79 1.292 1.664 1.990 2.374 2.640 79
80 1.292 1.664 1.990 2.374 2.639 80
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
48
Tabel Nilai t
d.f. t0.10 t0.05 t0.025 t0.01 t0.005 d.f.
81 1.292 1.664 1.990 2.373 2.638 81
82 1.292 1.664 1.989 2.373 2.637 82
83 1.292 1.663 1.989 2.372 2.636 83
84 1.292 1.663 1.989 2.372 2.636 84
85 1.292 1.663 1.988 2.371 2.635 85
86 1.291 1.663 1.988 2.370 2.634 86
87 1.291 1.663 1.988 2.370 2.634 87
88 1.291 1.662 1.987 2.369 2.633 88
89 1.291 1.662 1.987 2.369 2.632 89
90 1.291 1.662 1.987 2.368 2.632 90
91 1.291 1.662 1.986 2.368 2.631 91
92 1.291 1.662 1.986 2.368 2.630 92
93 1.291 1.661 1.986 2.367 2.630 93
94 1.291 1.661 1.986 2.367 2.629 94
95 1.291 1.661 1.985 2.366 2.629 95
96 1.290 1.661 1.985 2.366 2.628 96
97 1.290 1.661 1.985 2.365 2.627 97
98 1.290 1.661 1.984 2.365 2.627 98
99 1.290 1.660 1.984 2.365 2.626 99
Inf. 1.290 1.660 1.984 2.364 2.626 Inf.
Sumber: Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Dr. Imam Ghozali)
49
TABLE VALUES OF rproduct moment
N The5 %Le vel of Sign1if%ic ant N The5 %Le vel of Sign1if%ic ant
3 0.997 0.999 38 0.320 0.413
4 0.950 0.990 39 0.316 0.408
5 0.878 0.959 40 0.312 0.403
6 0.811 0.917 41 0.308 0.398
7 0.754 0.874 42 0.304 0.393
8 0.707 0.834 43 0.301 0.389
9 0.666 0.798 44 0.297 0.384
10 0.632 0.765 45 0.294 0.380
11 0.602 0.735 46 0.291 0.376
12 0.576 0.708 47 0.288 0.372
13 0.553 0.684 48 0.284 0.368
14 0.532 0.661 49 0.281 0.364
15 0.514 0.641 50 0.279 0.361
16 0.497 0.623 55 0.266 0.345
17 0.482 0.606 60 0.254 0.330
18 0.468 0.590 65 0.244 0.317
19 0.456 0.575 70 0.235 0.306
20 0.444 0.561 75 0.227 0.296
21 0.433 0.549 80 0.220 0.286
22 0.432 0.537 85 0.213 0.278
23 0.413 0.526 90 0.207 0.267
24 0.404 0.515 95 0.202 0.263
25 0.396 0.505 100 0.195 0.256
26 0.388 0.496 125 0.176 0.230
27 0.381 0.487 150 0.159 0.210
28 0.374 0.478 175 0.148 0.194
29 0.367 0.470 200 0.138 0.181
30 0.361 0.463 300 0.113 0.148
31 0.355 0.456 400 0.098 0.128
32 0.349 0.449 500 0.088 0.115
33 0.344 0.442 600 0.080 0.105
34 0.339 0.436 700 0.074 0.097
35 0.334 0.430 800 0.070 0.091
36 0.329 0.424 900 0.065 0.086
37 0.325 0.418 1000 0.062 0.081
Sumber: Prosedur Penelitian (Prof. Dr. Suharsimi Arikunto)

PERANAN AUDIT INTERNAL DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS PENGENDALIAN INTERNAL PEMBERIAN KREDIT

July 28, 2010 1 comment

ABSTRAK

(Studi Kasus pada PT. Bank Mega Cabang Bandung)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana peranan audit internal dalam menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit. Objek dari penelitian ini adalah PT. Bank Mega Cabang Bandung yang terletak di jalan Gatot Subroto Bandung. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data untuk kemudian diproses dan dianalisis lebih lanjut serta diambil suatu kesimpulan. Sedangkan untuk melakukan analisa data, penulis melakukan analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik yang menggunakan kriteria penilaian kuesioner menurut Champion.
Dalam memberikan kredit, bank berusaha menghindari risiko yang terjadi yaitu kredit macet. Oleh karena itu dilakukan pengendalian internal terhadap pemberian kredit. Namun pengendalian internal memiliki keterbatasan seperti kelemahan, manusia dalam melaksanakan prosedur, persekongkolan, pelanggaran terhadap prosedur. Sehingga pengendalian internal perlu diperiksa, dikaji, dan dinilai oleh bagian audit internal. Yang berfungsi untuk memberikan analisis, penilaian, saran, dan informasi mengenai kegiatan yang diperiksanya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa audit internal yang dilakukan secara memadai dapat berperan dalam menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit.
Dari hasil penelitian dan penilaian persentase hasil jawaban kuesioner tampak bahwa audit internal telah dilaksanaknan secara memadai, Pengendalian internal pemberian kredit telah efektif, dan audit internal dapat menunjang efektivitas pengendalian internal pemberian kredit. Namun sebaiknya PT Bank Mega Cabang Bandung meningkatkan kualitas auditor internal dengan keberadaan auditor internal yang bersertifikat Qualified Internal Auditor. Dan meningkatkan pengetahuan perbankan dan perkreditan kepada petugas perkreditan melalui pelatihan-pelatihan.
V
KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat, rahmat dan karunia-Nya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program studi S1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
Mengingat keterbatasan dan kemampuan serta keterbatasan penulis, disadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak-pihak yang memperhatikan penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan, bantuan, dan saran serta dukungan dalam proses penyusunan skripsi ini hingga dapat terselesaikan, terutama kepada :
1. Bapak H. Supriyanto Ilyas S.E., M.Si. Ak., selaku dosen pembimbing I yang telah menyediakan waktu, tenaga serta pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Rusmin S.E., Ak. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga serta pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Bachtiar Asikin, S.E., M.M., selaku Ketua Program Studi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
4. Bapak Prof., Dr. Hiro Tugiman S.E, Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
5. Ibu Prof. Dr. Hj. Koesbandijah, AK., S.E., M.S., Ak., selaku Ketua Pembina Yayasan Widyatama Bandung.
6. Bapak dan Ibu dosen pengajar, staf administrasi, staf umum dan staf perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
7. Keluargaku tercinta, Papa, Mama, Bang Iir, Teh Neng, Arin, dan Helmi, Bang Ricky, Teh Inne, Uni Venny, Bang Deddy, Eky, dan Caca, Uni Novy, A Asep, Naya, dan Naufal, Bang Very, dan Teh Ica, dan juga Bang Herry.
V
8. Seluruh staf PT. Bank Mega Cabang Bandung terutama kepada bapak Wicky Hernadi, bapak Ridwan Imadudin dan Ibu Rissa Dwi Antari yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian ini.
9. Sayangku Sisca Cynthya untuk perhatian, nasihat, bantuan, dorongan, bahkan paksaan dan untuk segala-galanya. Beserta keluarga bapak Siswadi, Ibu Siswadi, Mba Mirna, Mas Yudi, A Qiqi dan Azmi.
10. Sahabat-sahabatku Joz, Iwan, Salman, Ricky, Giribeo, Johny, Rezacau, Sofyan, Panji, Phindy, BM, Uci, Uli, Ita, Ai dan lain-lain.
11. Anak-anak Benteng Ruang 1.110 Albar, Fany, Fey, Dedy, Isty, Didi, Imong, Dinda, Ruby, Iqbal, Firman, Lea, Yaya, Harles, Feby, Dina, Rani, Butet, Yayang, Selly, Inu, Onos, Gia, Mbot, Boyke, Mamet, Chunil dan lain-lain.
12. Para manajer, pemain, ofisial dan senior Singa Lapar FC. Echi, Jessy, Novel, Maria, Irwan, Junjun, A Ade, A Dody, A Asepbola, dan lain-lain
13. Teman-teman Angkatan 2000, serta angkatan lain yang bersama-sama menuntut ilmu dan berjuang di Universitas Widyatama. Masyarakat dan pedagang di sekitar kampus. Serta teman-teman baruku, Aline, Deasy, Ina, Sari, Cocow dan teman Sisca lainnya.
14. Komunitas distro dan indie Bandung RudyDong, Acing, Fajar, Eky, Bu Rika, Harlan, Mas Ronald, Mba Myrna, Doddy, dan lain-lain yang secara langsung dan tak langsung telah banyak membantu penulis.
15. Adit, Acong, Yungky, Rio dan teman-teman V2K lainnya, keluarga baret Chevy, Harry, Dikky, Deva, keluarga Bali6, Rudy, Ajo dan lain-lain, keluarga Kalimantan11 Pa Erwin, Ilham, Yari, Anton, Pa Bowo, Pupung dan lain-lain.
16. Teman-teman Fakultas Hukum UNPAD 2002 Yudi, Zaky, Rully, Husin SH dan lain-lain. Dirrito FC. Ateng, Alex, Daniel, Lippi, Chandra, dan lain-lain.
17. Teman-teman alumni SMPN 4 Bandung ‘97 Eva, Rose, Echa, Bondan, Teguh dan lain-lain, alumni SD Nilem 1 ‘94, Rama, Riza, Jerry, Pamor, Eka, Arif, Pharov, Agus, Adit, Mona, Wida, Yadi, Wandi, Egy, Bigan dan lain-lain.
18. Terima kasih kepada Erwin SkyNet dan rekan atas bantuannya dalam pencetakan, dan pengeditan skripsi ini. Kepada semua buku-buku, komputer, printer yang telah penulis pergunakan. Juga mobil, motor, angkot dan lain-lain
V
yang telah mengantar penulis ke setiap tujuan. Kepada semua grup musik dan penyanyi yang telah menemani dan memberi inspirasi dalam penulisan skripsi ini, Weezer, King of Convinience, Interpol, Morrisey, The Smiths, The Beatles, New Order, Postal Service, Mandalay, Royskoop, Ash, RATM, Smahing Pumpkins, Divine Comedy, Ride, The Cure, The Killers, D C, The Arrogants, The Cardigans, Oasis, NOFX, Sex Pistols, Ramones, Rancid, The Clash, Pure Saturday, The Milo, The Adams, Seringai, Padi, Dewa, Gigi, Slank, Vina Panduwinata, Audi, Tere, dan lain-lain. Serta sumber-sumber inspirasiku Liverpool FC, PERSIB Bandung, Siput Turbo FC, Steven Gerrard, Alessandro Nesta, Laetitia Casta, Azumi Kawashima, Monica Belluci, Natalie Portman, Al Pacino, Robert De Niro, AA Gym, Kang Ibing dan lain-lain.
Sebelum penulis akhiri, penulis ingin meminta maaf kepada semua pihak atas segala kesalahan-kesalahan yang tidak berkenan selama ini. Dan harap maklum atas panjangnya kata pengantar ini, karena bagian ini lah yang paling menyenangkan bagi penulis. Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa berkenan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya untuk membalas kebaikan semua pihak yang telah banyak membantu penulis selama ini.
Bandung, Maret 2006
Rahmat Firdaus V

INTERNATIONAL SYAMPOSIUM ON GREENHOUSES, ENVIROMENTAL CONTROLS AND IN- HOUSE MECHANIZATION FOR CROP PRODUCTION IN THE TROPICS AND SUB-TROPICS

July 26, 2010 Leave a comment

INTERNATIONAL SYAMPOSIUM ON GREENHOUSES, ENVIROMENTAL CONTROLS AND

IN- HOUSE MECHANIZATION FOR CROP PRODUCTION IN THE TROPICS AND SUB-TROPICS

EQUATORIAL HILL RESORT, CAMERON HIGHLANDS, PAHANG, MALAYSA

15-17 JUNE 2004

LIST OF ABSTRACTS ACCEPTED

REFERENCE

TITLE

PRESENTER & ADDRESS

STATUS

DESIGN, CONSTRUCTION AND MAINTANANCE OF GREENHOUSE STRUCTURES

Keynote 1(1) Design, Construction and Maintenance of Greenhouse Structures by Ir. Dries Waaijenberg (Netherlands).

Ir. Dries Waaijenberg

Institute of Environmental and Agricultural Engineering IMAG b.v, P. O. Box 43,6700 AA Wageningen, The Netherlands

E-mail: dries.waaijenberg@wur.nl

Telephone: +31 317 476556

Fax: +31 317 425670

Invited Lecture 1
Paper 1(2) Performance and Selection of Greenhouse Coverings by G Connellan (Australia) G. Connellan

Burnley College, Institute of Land and Food Resources, University of Melbourne, 500 Yarra Boulevard Richmond Victoria 3121 Australia

E-mail: geoffc@unimelb.edu.au

Telephone: +61 3 9250 6800

Fax: +61 3 9250 6885

Oral Paper
Paper 1(3) Development of a Greenhouse System for Tropical Lowland in Indonesia by Silke Hemming, Dries Waaijenberg, Gerard Bot and Jouke Campen.  (Netherlands) Silke Hemming, Dries Waaijenberg, Gerard P.A. Bot and Jouka B. Campen

Agrotechnology & Food Innovations b.v. (A&F)(formerly known as IMAG) P.O. Box 43,6700 AA Wageningen, The Netherlands

E-mail: dries.waaijenberg@wur.nl

Telephone: +31 317 476556

Fax: +31 317 425670

Oral Paper
Paper 1(4) Design and Construction of Greenhouse for Commercial Cultivation of Flowers and Vegetables under Banglore Conditions in India by S.C. Mandhar, A. Carolin Rathinakumari, B.S. Prabhakar, and K.P. Singh. (India) S.C. Mandhar, A. Carolin Rathinakumari, B.S. Prabhakar, and K.P. Singh

Indian Institute of Horticultural Research, Hessaraghatta Lake, Bangalore – 560 089, India.

Tel: 0091-80-28466420 ext 234 (O)

0091-80-23633986 (R)

E-mail: mandhar@iihr.res.in

Oral Paper
Paper 1(5) Development of Naturally Ventilated Crop Protection Structure  in Malaysia.  Rezuwan Kamaruddin, (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster paper
Paper 1(6) A study of mechanical Properties Deterioration for Polyethylene Covering of Greenhouses in Saudi Arabia by Abdullah M. Alhamdan and Ibrahim M. Alhelal (Saudi Arabia). Abdulah M. Alhamdan and Ibrahim M. Alhelal

Agric. Eng. Department,

King Saud University,

Riyadh,

Saudi Arabia

Tel:/Fax: 966-1-4678458

Email: alhamdan@ksu.edu.sa

Oral paper
Paper 1(7) Green House production in Tropical Climate Conditions by Shaul Gilan (Australia). Shaul Gilan

Agro-Technical Dep.  Netafim  NAP.

Tel: 61-3-93698777

Fax: 61-419-675503

W-mail: sgilan@netafim.com.au

Oral paper
Paper 1(8) Design and Development of Fully Controlled Environment Greenhouse for the Production of Selected Temperate Crops in Lowland Tropics

by .Mat Sharif,  C.H. Mahamoud  and S.Abd Kahar ( Malaysia)

Mat Sharif Ismail, Mahamoud Che Hussein and Abd. Kahar Sandrang.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, P.O. Box 12301 General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437546

Fax: 603 89482961

E-mail: masharif@mardi.my

Oral  paper

NATURAL AND MECHANICAL MICRO CLIMATE  CONTROLS

Keynote 2(1) Natural and Mechanical Greenhouse Climate Control by Dr. Bernard Bailey. (United Kingdom) Dr. Bernard Bailey

Formerly at Research Institute, Wrest Park, Silsoe, Bedfordshire MK45 4HS,UK.

E-mail: bernad.bailey@whsmithnet.co.uk

Invited Lecture 2
Paper 2(2) Calculation of Wind Pressure Coefficients for Continuous Flap Vents in a Parral Greenhouse using Wind Tunnel Measurements and Computational Fluid Dynamics. By Parez-Parra,J.J,  Montero, J.J., and  Baeza ,E.J.  (Spain) Parez-Parra,J.J,  Montero, J.J., and  Baeza ,E.J.

Estacion Experimental de Cajamar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km.416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain.

E-mail: ejbr@cajamar.es

Fax: +34 950580450

Oral paper
Paper 2(3) Determination of Global Wind Coefficients for use in Mathematical models to Calculate Ventilation Rates in Parral Type Multi-Span Greenhouse by Parez-Parra,J.J,Montero,J.J, Baeza,E.J.:Lopez-Hernandez, J.C. and Anton, A,. (Spain) Parez-Parra,J.J,Montero,J.J, Baeza,E.J.:Lopez-Hernandez, J.C. and Anton,A

Estacion Experimental de Cajabar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km.416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain

E-mail: jpparra@cajamar.es

Fax: +34 950580450

Oral Paper
Paper 2(4) Air and Leaf Temperatures and Relative Humidity in a Naturally Ventilated Single-Span Greenhouse with a Fogging System for Cooling  by Handarto, Makio Hayashi, Toyiki Kozai.  (Japan) Handarto, Makio Hayashi, Toyiki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan.

School of High-Technology for Human Welfare, Tokai University, Numazu, Shizuoka 410-0395, Japan

E-mail: m01u8311@green.h.chiba-u.ac.jp

Telephone: +81-47-308-8846

Fax: +81-47-308-8841

Poster Paper
Paper 2(5) Applicability of Forced-Air and Ridge Ventilation for Cooling of Side Net-Covered Tropical Greenhouse by W.A.P Weerakkody , K.S.P. Amaratunge and P.A.S.K. Kumara. (Sri Lanka) W.A.P Weerakkody , K.S.P. Amaratunge and P.A.S.K. Kumara.

Department of Crop Science, Faculty of Agriculture, P.O Box 37, University Of Peradeniya,Peradeniya 20400, Sri Lanka

E-mail: palithaw@pdn.ac.lk

Telephone/fax: 94 8 388239

Oral Paper
Paper 2(6) Soil Solariza Studies using  Innovatory Plastic films by Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove, Cosimo Marano and Martino Basile. (Italy) Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove, Cosimo Marano and Martino Basile.

UNIVERSITY OF BASILICATA Technical-Economic Department

Crop Production Department

Plant Protection Institute- C.N.R. Bari, Nuovo Polo Universitario-C/da Macchia Romana 85100 Potenza (Italy)

E-mail: manera@unibas.it

Telephone: +39 0971/205405

Fax: +39 0971/205429

Oral Paper
Paper 2(7) Controlling Environment for  Tissue Cultured Plants in Desert Areas. By Nasser S. Al- Khalifah. (Saudi Arabia) Nasser S. Al-Khalifah

P.O.Box 6086 Riadh 11442, King Abdulaziz City for Science & Technology

E-mail: abujawad@kacst.edu.sa

Telephone: 96655418524

Fax: 966 1 4820278

Oral Paper
Paper 2(8) Natural Ventilation Rate Quantification in A Large-Scale Crop Protection Structure by Rezuwan Kamaruddin. (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster Paper
Paper 2(9) A Study of Evaporative Cooling Pad Performance for  Photovoltaic Powered Greenhouse by Ibrahim Al-Helal, Naif Al-Abbadi and Al-Ibrahim. (Saudi Arabia) Ibrahim Al-Helal, Naif Al-Abbadi and Al-Ibrahim

King Saud University, College of Agriculture, P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia.

King  Abdulaziz City for Science and Technology, Energy Research Institute, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

E-mail: imhelal@ksu.edu.sa

Oral Paper
Paper 2(10) Shading and Air Velocity Influence on Greenhouse Microclimate by Ibrahim Al-Arifi. (Saudi Arabia) Ibrahim Al-Arifi

King Abdul Aziz City for Science and Technology, Energy Research Institute, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia.

E-mail: ialarifi@kacst.edu.sa

Oral Paper
Paper 2(11) Velocity Fields and Ventilation Rates on A Crop Protection Structure for The Tropics by Means of CFD Simulations by Baeza E.J., Montero J.J. Perez Parra E.J and Kamaruddin R. (Spain) Baeza E.J., Montero J.J. Perez Parra E.J and Kamaruddin R.

Estacion Experimental de Cajamar “Las Palmerillas”, Autovia del Mediterraneo, km 416,7 04710 El Ejido, Almeria, Spain.

Irta. Centre de Cabrils.08348, Cabrils, Barcelona, Spain

Mardi Headquartes,43400 Serdang Selangor, Malaysia

E-mail: ejbr@cajamar.es

Oral Paper
Paper 2(12) Performance of an Energy-Conserving Greenhouse by Mathala J. Gupta and  Pitman Chandra. (India) Mathala J. Gupta and  Pitman Chandra

Scientist, Division of Agricultural Engineering, Indiana Agricultural Research Institute, New Delhi 110012, India

Assistant Director General (Process Engineering), Indian Council of Agricultural Research, New Delhi 110012

E-mail: neha_7759@yahoo.com

Oral Paper
Paper 2(13) SMART Environmental Control System for the Production of Strawberry in Lowland Tropics by

I.Mat Sharif, S.Abd Kahar and C.H. Mahamoud (Malaysia)

Mat Sharif Ismail, Mahamoud Che Hussein and Abd. Kahar Sandrang.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, P.O. Box 12301 General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437546

Fax: 603 89482961

E-mail: masharif@mardi.my

Poster Paper
Paper 2(14) Ventilation Rate from Naturally Ventilated Crop Protection Structures of Various Floor Areas

By Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd. Soom and Julia Jamaluddin (Malaysia)

Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd So0m and Julia Jamaluddin

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Biological and Agricultural Engineering Department

Faculty of Engineering, University Putra Malaysia

43400 Serdang, Selangor, Malaysia

Tel:   603  89466427      Fax:   603  89466425     Email: amin@eng.upm.edu.my

Poster Paper
Paper 2(15) Microclimate inside Tunnel-Roof and Jack-Roof Tropical Greenhouses Structures by Faisal Mohammed Seif Al-Shamiry, Abdul Rashid Mohamed Sharif, Rezuwan Kamaruddin, Desa Ahmad, Rimfiel Janius and Mohd Yusri Mohamad

(Yamen)

Faisal Mohammed Seif Al-Shamiry, Abdul Rashid Mohamed Sharif, Rezuwan Kamaruddin, Desa Ahmad, Rimfiel Janius and Mohd Yusri Mohamad

Faculty of Engineering, Universiti Putra Malaysia, 43400 Serdang, Selangor,  Malaysia.

Tel:   603 86567126    Fax: 603 89466425

E-mail: faisalupm@yahoo.com

Poster Paper

MECHANIZATION AND AUTOMATION

Keynote 3(1) Trends in Mechanization for Greenhouse Crop Production by Dr. Ir. E.J. van Henten. (Netherlands) Dr. Ir. E.J. van Henten.

Institute of Agricultural and Environmental Engineering (IMAG B.V.),P.O. Box 43,NL-6700 AA Wageningen, The Netherlands.

E-mail: eldert.vanhenten@wur.nl

Fax: +31 (0)317425670

Invited Lecture 3
Paper 3(2) An Embedded Controller for Greenhouse Shade Curtain by A.K Dogra, K. Parsad, Kapil Suri and Narendra Kumar. (India) A.K Dogra, K. Parsad, Kapil Suri and Narendra Kumar

Division of Agricultural Engineering, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110 012

E-mail: anildogra@yahoo.com

Oral Paper
Paper 3(3) Manually Operated Tomato Harvesting Tool for Greenhouse by D.V.K. Samuel. (India) D.V.K. Samuel

Division of Agricultural Engineering, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110012, India

E-mail: dvksamuel@yahoo.com

Oral Paper
Paper 3(4) Performance of 4- Wheel Tractor and Implements for Vegetable Production under Rain Shelter Structure by Rezuwan Kamaruddin. (Malaysia) Rezuwan Kamaruddin and Md. Akhir Hamid

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Poster Paper
Paper 3(5) PV Greenhouse System: System Description, Performance and Lesson Learned by  A.Al-Ibrahim,Naif Al-Abbadi, and Ibrahim Al-Helal. (Saudi Arabia) A.Al-Ibrahim,Naif Al-Abbadi, and Ibrahim Al-Helal

King Abdulaziz City for Science and Technology, Energy Research Institute P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

King Saud University, College of Agriculture, Department of Agricultural Engineering P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia

E-mail:   aibrahim@kacst.edu.sa

Oral Paper
Paper 3(6) Thermometry in Medium-scale Greenhouse using a Small Number of acoustic Sensors by Kousuke Kudo, Koichi Mitzutani, Riku Futamata, Kazuya Itoga, and Sadanori Sase. (Japan) Kousuke Kudo, Koichi Mitzutani, Riku Futamata, Kazuya Itoga, and Sadanori Sase

Graduate School of System and Information Engineering, University of Tsukuba, Tsukuba Science City, 305-8573 Japan.

E-mail: kudo@aclab.esys.tsukuba.ac.jp

Tel: +81-29-853-5468

Fax: + 81-29-853-5207

Oral Paper
Paper 3(7) Nondestructive Detection of Plant Water Stress Using Microwave Sensing by Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura. (Japan) Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura.

College of Environmental Studies, Nagasaki University, Nagasaki

852-8521 Japan

Fax: + 81-95-819-2716

E-mail: simomati@net.nagasaki-u.ac.jp

Oral Paper
Paper 3(8) Evaluation of Soft X-Ray Irradiated Pollen and CPPU for Diploid Seedless watermelon Production by Kwon, S.W., M.J. Jaskani, B.R.KO and Y.G. Choi. (South Korea) Kwon, S.W., M.J. Jaskani, B.R.KO and Y.G. Choi.

Gochang Watermelon Experiment Station, Chonbuk 585-863, south Korea

Tel: 82635612312

Fax: 82635613385

E-mail: sung5706@hanmail.net

Oral Paper
Paper 3(9) Application of Computer Vision System to Monitor Crops Growth and Weeds under Rain Shelter by A.R.M. Syaifudin, Teoh Chin Chuang and O. Muhamad Isa (Malaysia) Mohd Syaifudin Abdul Rahman, Teoh Chin Chuang, Muhamad Isa Othman

Mechanization and Automation Research Center

MARDI Headquarters, 43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Email: saifudin @Mardi.my

Tel: +603-89434453

Fax: +603-89482961

Poster Paper

IRRIGATION SYSTEM AND CULTURAL PRACTICES

Keynote 4 (1) Irrigation System and Cultural Practices by Prof. M.A. Nichols. (New Zealand) Prof. M.A. Nichols

Institute of Natural Resources, Massey University, Palmerston North, New Zealand

E-mail: m.Nichols@massey.ac.nz

Fax: +64 6 350 5679

Invited Lecture 4
Paper 4(2) The Effect of Calcium Chloride irrigation on Mushroom Yield and Quality by Hossein Riahi. (Republic of Iran) Hossein Riahi

Department of Biology, University of Shahid Behashti,  Evin, Tehran, Iran Malard Mushroom Research Center, Malard, Karaj.

E-mail: H-Riahi@cc.sbu.ac.ir

Oral Paper
Paper 4(3) Effect of Different Irrigation Schedules and Substrates on Some Quantitative and Qualitative Characteristics of Greenhouse Tomato (cv. Hamra) by H. Aroiee, K.Davary,  B. Ghahraman, G.A. Peyvast, H. Nematy  and P. Shahinrokhsar. (Republic of Iran) H. Aroiee, K.Davary,  B. Ghahraman, G.A. Peyvast, H. Nematy  and P. Shahinrokhsar

Horticultural Department, Agriculture Faculty, Ferdwosi University, Mashhad, Iran

E-mail: aroiee_h@yahoo.com

Oral Paper
Paper 4(4) Effects of Straw and Wood Shavings on Conserving of Soil Moisture Under Arid Condition by Khalid Mohamed Al-Barrak. (Saudi Arabia) Khalid Mohamed Al-Barrak

Soils and Water Department, College of Agriculture and Food Science, King Faisal Univrsity, Al-Hassa, 31982, Saudi Arabia

E-mail: kalbarrak@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000 /1436

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper
Paper 4(5) The Effect of Fertigating Different Levels of Nitrogen, Phosphorus, and Potassium on Greenhouse Cucumber Yield by A.A. Aljaloud, M.A. Errebhi, A.H. AbdelGadir, M.S. Baig and H.B. Sarhan. (Saudi Arabia) A.A. Aljaloud, M.A. Errebhi, A.H. Abdel Gadir, M.S. Baig and H.B. Sarhan

King Abdulaziz City for Science and Technology,NRERI, P.O. Box 6086 Riyadh 114442, K.S.A

E-mail: aljaloud@kacst.edu.sa

Fax: 96614813611

Oral Paper
Paper 4(6)

Fertigation as a Toll to Improve Nitrogen use Efficiency and Yield by Al-Wabel, M. I., A. A. Al-Jaloud, G. Hussain, and S. Karimula. (Saudi Arabia)

Al-Wabel, M. I., A. A. Al-Jaloud, G. Hussain, and S. Karimula. Saudi Arabia.

Soil Science Dept. College of agriculture, King Saud University P. O. Box 92274, Riyadh 11653, Saudi Arabia.

Natural Resources and Environmental Research Institute. Riyadh, KACST, P. O. Box 6086 Riyadh 11442, Riyadh Saudi Arabia.

E-mail: malwabel@ksu.edu.sa

Oral Paper

Paper 4(7) Effect of Different Irrigation Schedules and Substrates on some Quantitative and Qualitative Characteristics of Greenhouse Tomato (cv. Hamra) by H. Aroiee, K. Davary, B. Ghahraman, Gh. Peyvast, H. Nematy and P. Shahinrokhsar (Republic of Iran) H. Aroiee, K. Davary, B. Ghahraman, Gh. Peyvast, H. Nematy and P. Shahinrokhsar

Horticultural Department, Agriculture Faculty, Guilan University, Rasht, Iran.

Tel: +98 (0) 131-7725326

Fax: +98 (0) 131-7757261

Email: gpeyvast@yahoo.com

Oral Paper
Paper 4(8) Response of Fertigation on Capsicum Growth under Naturally Ventilated Tropical Greenhouse by

Rezuwan Kamaruddin, Mohd. Amin Mohd. Soom,

Mahamud Shahid and Fazlina Abdullah (Malaysia)

Rezuwan Kamaruddin and Mahamud Shahid

Mechanization and Automation, Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89437072

Fax; 603 89482961

E-mail: rezuwan@mardi.my

Mohd. Amin Mohd Soom and Fazlina Abdullah

Biological and Agricultural Engineering Department

Faculty of Engineering, University Putra Malaysia

43400 Serdang, Selangor, Malaysia

Tel:   603  89466427      Fax:   603  89466425     Email: amin@eng.upm.edu.my

Poster Paper
Paper 4(9)

Subsurface Irrigation System for Vegetable Under Rainshelter on Clay Soils in the Lowlands by

Mohammud, C.H ., Mahmad Nor, J ., Abd. Munir, J ., Salbiah, H. and Illias, K . (Malaysia)

Mohammud Che Husain

Strategic Research Centre

Malaysian Agricultural research and Development Institute, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor Malaysia.

Tel: 603 89487639

Fax; 603 89482961

E-mail: mch@mardi.my

Poster Paper
Paper 4(10)

Fertigation  in Green House Production by Shaul Gilan (Australia)

Shaul Gilan

Agro-Technical Dep.  Netafim  NAP.

Tel: 61-3-93698777

Fax: 61-419-675503

W-mail: sgilan@netafim.com.au

Oral Paper

PLANT PHYSIOLOGY AND PRODUCTION  PRACTICES

Keynote 5 (1)

Plant Physiological and Production Practices under Controlled Environment Greenhouse Systems by Prof. Dr.  Marry M. Peet. (United States of America)

Professor Dr. Mary M. Peet

Department of Horticultural Science

P.O.Box  7609, North Carolina State University,

Raleigh, North Carolina

27695-7609 USA

E-mail: mary_peet@ncsu.edu

Telephone: 919-515-5362

Fax: 919-515-2505

Invited Lecture 5
Paper 5(2)

Evaluation of Some Strawberry Varieties under Greenhouse Conditions in Kingdom of Saudi Arabia by A.A. Al-Khateeb (Saudi Arabia)

A.A. Al-Khateeb

Dept. of Horticulture, College of Agricultural and Food Sciences, King Faisal University, Alhassa 31982, Kingdom of Saudi Arabia

E-mail: akhateeb@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5816630

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper

Paper 5(3)

Growth Promotion and Root Colonization by Various Rhizobacteria Strains Applied in Cucumber Grown Soil by

Kim J. K., Lee. Y. H., Kim. Y. C., Kim. K. S. (South Korea)

Kim J. K., Lee. Y. H., Kim. Y. C., Kim. K. S.  Cucumber Exp. Station, Jeonnam, 542-821. Korea

Chonnam National Univ. Kwangju, 550-757. Korea

Tae Rim Pharm. Co., LTD. Seoul, 135-270. Korea

E-mail : oeoekim@jares.go.kr

Tel: 82617815230

Fax : 82617815231

Poster Paper

Paper 5(4)

Effect of Leaf Minor Liriomyza trifollii (Burgess) on Gas Exchange Capacity of Cucumber Cucumis Sativus L. Grown Under Greenhouse Conditions by Al-Khateeb, S. A. and A.M. Al-Jabr. (Saudi Arabia)

Al-Khateeb, S. A. and A.M. .Al-Jabr

Crops & Range Department, Plant Protection Department, College of Agricultural and Food Science, King Faisal University, P.O. Box 420, Al- Hassa 31982,KSA

E-mail: Skhateeb@KFU.EDU.SA and

AJABR@KFU.EDU.SA

Oral Paper

Paper 5(5)

Protected Agricultural Production in Kuwait by M.Abdal and M. Suleiman. (Kuwait)

M.Abdal and M. Suleiman

Aridland Agricultural Department, Kuwait Institute for Science Research. Kuwait

E-mail: mabdal@kisr.edu.kwt

Oral Paper

Paper 5(6)

Controlled-Environment Tulip Forcing in Malaysia by Thohirah Abdullah, Johari Endan and Flora Chin Lee Sa. (Malaysia)

Thohirah Abdullah, Johari Endan and Flora Chin Lee Sa. Department of Crop Science, Faculty of Engineering, University Putra Malaysia, 43400 UPM Serdang, Selangor Darul Ehsan

E-mail: thohirah@agri.upm.edu.my

Fax: +603 8943 5973

Oral Paper

Paper 5(7)

Standardization of Agro-Techniques for Production of Chrysanthemum under Low Cost Polyhouse by T.Janakiram. Mahantesh, I.Murgod and B.S.Prabhakar. (India)

T.Janakiram. Mahantesh, I.Murgod and B.S.Prabhakar.

Division of Ornamental Crops

Indian Institute of Horticultural research

Hessaraghatta Lake Post, Bangalore – 560089. India

E-mail: janaki62@yahoo.com

Oral Paper

Paper 5(8)

Mulching Studies in Greenhouse Using Innovatory Plastic Films by Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove. (Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiota, Vincenzo Candido, Donato Castranuove

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical- Economic Department

Crop Production Department

Nuovo Polo Universitario-C/da Macchia Romana 85100 Potenza (Italy)

E-mail: manera@unibas.it

Telephone: +39 0971/205405

Fax: +39 0971/205429

Oral Paper

Paper 5(9)

Growing Protential of Two Varieties of Sweet Basil (Ocimum Basilicum L.) in Deep Flow Technique for Leaf and Seed Production by Jaenaksorn,T., and Kongtragoul, P. (Thailand)

Jaenaksorn,T., and Kongtragoul, P.

Faculty of Agricultural Technology, King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang, Bangkok 10520, Thailand

E-mail: kjtanimn@kmitl.ac.th

Fax: +662-3267347

Oral Paper

Paper 5(10)

Observations on Growth Performance and Morphology of Costus Speciosus ‘Variegatus’ Variants by Shakinah Salleh, Shuhaimi Shamsudin, Zaiton Ahmad & Mohd. Nazir Basiran (Malaysia)

Shakinah Salleh, Shuhaimi Shamsudin, Zaiton Ahmad & Mohd. Nazir Basiran

Malaysian Institute for Nuclear Technology Research (MINT), Bangi 43000 Kajang, Selangor, Malaysia.

Email: Shakinah@mint.gov.my    Tel: +603-8925 0510   Fax: +603-8928 2956

Poster Paper

Paper 5(11)

Technical Efficiency of Phalaenopsis Production under Protected Facilities in Taiwan by Lee Chaur Shyan  and Evie  Yi Wei Lin. (Taiwan)

Lee Chaur Shyan   and Evie Yi Wei Lin

College of Management , The Overseas Chinese Institute of Technology, Taiwan

Email: cslee@ocit.edu.tw ; linyiwei@seed.net.tw

Fax: 886-4-24527583

Oral Paper

Paper 5(12)

Effect of Ammonium – and Nitrate Nitrogen – Ratio on Glucosinolate Content in Rocket by Kim, Sun-Ju, and Ishii, G. (Japan)

Kim, Sun-Ju, and Ishii, G.

Crop Quality Physiology Laboratory, National Agricultural Research Center for Hokkaido Region, Hitsujigaoka 1, Toyohira-ku, Sapporo, 062-8555, Japan

E-mail: kimsunju@rb4.so-net.ne.jp

Telephone: +81-11-857-9301

Fax:  +81-11-859-278

Oral Paper

Paper 5(13)

Production of Sweet potato Plug Transplants under Artificial Light at a Relatively High Planting Density by Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai. (Japan).

Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan

Department of Biotechnology, Faculty of Science, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand

E-mail: d00u5204@green.h.chiba-u.ac.jp

Tel. & Fax.:+81-47-308-8841

Oral Paper

Paper 5(14)

Acclimatization of Dracaena reflexa ‘Song of India’ for Simulated Shipping Conditions by Mahmud, T.M.M., Faridah, M.Y. and Awang, Y. (Malaysia)

Mahmud, T.M.M., Faridah, M.Y. and Awang, Y

Department of Crop Science, Universiti Putra Malaysia, 43400 UPM Serdang, Selangor, Malaysia.

Station Office, MARDI HQ, P.O. Box 12301, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

E-mail: mahmood@agri.upm.edu.my

Fax: +603 89424076

Poster Paper

Paper 5(15)

Evaluation of Cabbage Cultivars (Brassica oleracea var. capitata) under Plastic Rain-shelter on Mineral Soils in the Lowlands by  P.Y.Yau, M.K. Illias, K.Ganisan and S. Ahmad. (Malaysia)

P.Y.Yau, M.K. Illias, K.Ganisan and S. Ahmad

Horticulture Research Centre, MARDI Kluang, Locked Bag 525, 86009 Kluang, Johor, Malaysia.

Email: pyyau@mardi.my

Telephone: +607 7891311

Fax: +607 7891184

Oral Paper

Paper 5(16)

Production of Sweetpotato Plug Transplants under Artificial Light at a Relatively High Planting Density by Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai. (Japan)

Yee Hin Lok, Watcharra Chintakovid, Toyoki Kozai.

Faculty of Horticulture, Chiba University, Matsudo, Chiba 271-8510, Japan.

Department of Biotechnology, faculty of Science, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand

E-mail: d00u5204@green.h.chiba-u.ac.jp

Telephone & fax: +81-47-308-8841

Oral Paper

Paper 5(17)

Protected Cultivation: A Technology Alternative to Boost Indian Horticulture by B.S. Prabhakara. (India)

B.S. Prabhakara

Indian Institute of Horticultural Research, Hessaraghatta Lake, Bangalore – 560 089, India.

Tel: 0091-80-28466420 ext 234 (O)

0091-80-23633986 (R)

E-mail: mandhar@iihr.res.in

Oral Paper

Paper 5(18)

Effect of GA3 and IAA Sprays on Vegetative Growth, Total Yield and Photosynthetic Pigments in Strawberry (Fragaria ananassa) by A.A. Al-Khateeb. (Saudi Arabia)

A.A. Al-Khateeb.

Dept. of Horticulture, College of Agricultural and Food Sciences, King Faisal University, Alhassa 31982, Kingdom of Saudi Arabia

E-mail: akhateeb@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000/1431

Fax: ++966 3 5816630

Oral Paper

Paper 5(19)

Effect of Salinity  on the Growth Gas Exchange Rate and Ion Content of Faba Bean Cultivars (seedling stage to Flowering) by S.S. Al-Thabet. (Saudi Arabia)

S.S. Al-Thabet

Crops & Range Department, College of Agriculture and Food Sciences, King Faisal University, Al-Hassa, 31982, Saudi Arabia

E-mail: salthabet@kfu.edu.sa

Telephone: ++966 3 5800000/1857

Fax: ++966 3 5801778

Oral Paper

Paper 5(20)

Fatty Acid Composition and Fad 3 Gene Expression in Roots of Watermelon and Gourd under Low Temperature by Ko, Bok R, Sung W. Kwon and Jung S. Choi. (South Korea)

Ko, Bok R, Sung W. Kwon and Jung S. Choi

Gochang Watermelon Experimental Station, Chonbuk 585-863, South Korea

Tel: 82-63-561-2312

Fax: 82-63-561-3385

E-mail: sung5706@hanmail.net

Poster Paper

Paper 5(21) Effects of Nitrogen Forms on the Growth and Ionic Content of Lowland Cauliflower under Tropical Greenhouse by Asiah Ahmad, Mohd Razi Ismail, Mohd Khanif Yusop, Marziah Mahmood and Shaharuddin Mohd . (Malaysia)

Asiah Ahmad, Mohd Razi Ismail, Mohd Khanif Yusop, Marziah Mahmood and Shaharuddin Mohd

Agrotechnology and Biosciences Division,

Malaysian Institute For Nuclear Technology Research (MINT), Bangi 43000 Kajang Selangor, Malaysia.

E-mail : asiah@mint.gov.my

Tel. :  +603 8925 0510

Fax : +603 8920 2968

Poster Paper
Paper 5 (22) Performance of Sweet Pepper under Semi-Climate Controlled Greenhouse Conditions of Northen India by Balraj singh and Mahesh Kumar (India) Balraj Singh and Mahesh Kumar

Indi-Israel Project, Indian Agricultural Research Institute

New Delhi – 110012

Tel: +91-11-25841063

Telefax: +91-11-25842481

Email: drbsingh2000@yahoo.com

Poster Paper
Paper 5(23) Effect of Rates of Organic Fertilizer on Growth, Yield and Nutrient Content of Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) Grown Under Shelter by P. Vimala, M.K. Illias and H. Salbiah. (Malaysia) P. Vimala, M.K. Illias and H. Salbiah

Malaysian Agricultural Research and Development Institute, MARDI Headquarters,

43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Tel: 603 89437939

Fax: 603 89487639

Email: vimala@mardi.my

Poster Paper
Paper 5(24) Growth and Nutritional Quality of African Night Shade Accessions (Solanum Spp) at Different Developmental Stages by Agong S.G. And S.V. Muchiri (Kenya) Agong S.G. And S.V. Muchiri,                                                                                                              Department of Horticulture, Jomo Kenyatta University of Agriculture & Technology, P. O. Box 00200 – 62000, Nairobi, Kenya.

Tel:  002546752047   Fax: 002546752192                                                                                       E-mail: sgagong@nbnet.co.ke;sgagong@jkuat.ac.ke

Poster Paper
Paper 5(25) Carbon Dioxide Enrichment Technology for Improved Productivity under Controlled Environment System in the Tropics by Hawa Z.E. Jaafar (Malaysia) Hawa Z.E. Jaafar

Strategic Resources Research Centre

MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor

MALAYSIA

Tel: 603 89437390

Fax: 89487639

Email: hawazj@mardi.my

Oral Paper
Paper 5(26)

Performance of Kacip Fatimah Production Under Shade House by Mohd Noh bin Jalil and Rezuwan Kamaruddin (Malaysia)

Mohd Noh bin Jalil and Rezuwan Kamaruddin

Rice and Industrial Crop Research Center

MARDI, P.O. Box 12301

50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437140

Fax: 0689425786

Poster Paper

POST HARVEST HANDLING AND PACKAGING

Keynote 6 (1)

Post-harvest Handling and Packaging by Prof. Dr. Errol. W. Hewett. (New Zealand)

Prof. Dr. Errol W. Hewett

Professor of Horticultural Science

College of Sciences

Massey University, PBag 102904

North Shore Mail Ctr. – Auckland

New Zealand

Tel: (64)94439648

Fax (64)94439640

E-mail e.w.hewett@massey.ac.nz

Invited Lecture 6

Paper 6(2)

Effect of Plastic and Paper packaging on Hydroponically Grown Tomato Fruits Stored at Different temperatures and High Relative Humidity. I. Quality Attributes, Shelf Life and Chemical Properties by Abdullah A. Alsadon, Abdullah M. Alhamdan and Mahmoud A. Obied. (Saudi Arabia)

Abdullah A. Alsadon, Abdullah M. Alhamdan and Mahmoud A. Obied

Department of Plant Production and Department Of Agricultural Engineering, College of Agriculture, King Saud University, P.O Box 2460, Riyadh 11451, Saudi Arabia.

E-mail: Alsadon@ksu.edu.sa

Telephone: (966)1-4678466

Fax: (966)1-4678467

Oral Paper

Paper 6(3)

Handling of Chrysanthemum Flowers for Export by Sea Shipment by Latifah, M.N., Abdullah, H., Dhiauddin, M.N., Ab Kahar, S., Mohd Redzuan, M.S., Hamidah, S., Noor Auni, H. and Rahim, M. (Malaysia)

by Latifah, M.N., Dhiauddin, M.N., Ab Kahar, S., Mohd Redzuan, M.S., Hamidah, S., Noor Auni, H. and Rahim, M.

Horticulture Research Centre

MARDI Serdang, 43400 Selangor, Malaysia.

Tel: + 603 89437545

Fax: + 603 89422906

E-mail: lmn@mardi.my

Oral Paper

Paper 6(4)

Use of Image analysis for Grading Size of Manggo by Teoh Chin Chuang and Mohd Syaifuddin Abdul Rahman. (Malaysia)

Teoh Chin Chuang and Mohd Syaifuddin Abdul Rahman

Mechanization and Automation Research Center,

Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) Serdang 43400, Selangor, Malaysia

Email: cchin@mardi.my

Tel: 603-89431287

Fax: 603-89482961

Poster Paper

Paper 6(5)

Postharvest Handling, Packaging and Marketing of Hydroponically-Grown Greenhouse Tomatoes in Mauritius by Rohit Brizmohun and John L Griffis, Jr. (Mauritius)

Rohit Brizmohun

Brizcom International, Ltd., 10 Prosper D’Epinay St., Curepipe Road, Mauritius

E-mail: shriyan@intnet.mu

Tel: 230-212-5247

Fax: 230-212-5245

John L Griffis, Jr.

Tropical Plant and Soil Sciences, CTAHR, University of Hawaii-Manoa, Honolulu, Hawaii, USA

E-mail: jgriffis@hawaii.edu

Tel: 1-808-956-7902  Fax: 1-808-956-3894

Poster Paper

Paper 6(6)

Establishment of Harvest within the Year and Constant Yield of Strawberry (Fragaria x Ananassa Duch.) on Okinawa under Subtropical Climate by ARAKI Yoichi and Hirotaka YAMAGUCHI. (Japan)

ARAKI Yoichi and Hirotaka YAMAGUCHI.

National Agricultural Research Center for Kyusyu Okinawa Region, Kurume, Fukuoka 839-8503, Japan,

E-mail: yochan@affrc.go.jp

Fax:+81-942-43-7014

Poster Paper

Paper 6(7)

Methyl Bromide Fumigation of Cut Chrysanthemum for Export by M. Rahim. (Malaysia)

M. Rahim

Rice and Industrial Crop Research Center

MARDI, P.O. Box 12301

50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89437140

Fax: 0689425786

Email: mrahim@mardi.my

Poster Paper
Paper 6(8)

Methods of Disinfestation of Cut Flowers by

Hamidah, S, Mohd Shamsudin Osman, Zainon, O and Mohd Ridzuan,l (Malaysia).

Hamidah, S, Mohd Shamsudin Osman, Zainon, O and Mohd Ridzuan,l

Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI), P.O.Box 12301, General Post Office, Kuala Lumpur, Malaysia.

Poster Paper

PEST AND DISEASES MANAGEMENT

Keynote 7(1)

Pest and Diseases Management under Greenhouses Production System Syed Abdul Rahman Syed Abdul Rashid. (Malaysia)

Syed Abdul Rahman Syed Abdul Rashid

Principal Research Officer

MARDI Cameron Highlands,

39007 Tanah Rata, Cameron Highlands, Pahang, Malaysia.

Tel: 605 4911255/5945

Fax: 605 4912170

Email: dsar@mardi.my

Invited  Lecture 7
Paper 7(2)

Effect of Some Bio-Rational pesticides on the Whitefly, Bemisia Tabaci (Gennadius) by Mohammed Al-Doghairi, Suloiman Al-Rehiayani, Eltayeb Elhag and Khalid Osman. (Saudi Arabia)

Mohammed Al-Doghairi, Suloiman Al-Rehiayani, Eltayeb Elhag and Khalid Osman

Collage of Agriculture & Veterinary Medicine, Buriydah, P.O box 1482, Saudi Arabia

E-mail: mdoghair@hotmail.com

Fax:0096663800040 or 0096663801360

Oral Paper

Paper 7(3)

Scope of Low Cost House for Lac Crop Production by Niranjan Prasad, K.K Kumar and A. Bhattacharya. (India)

Niranjan Prasad, K.K Kumar and A. Bhattacharya

Indian Lac Research Institute, Namkun, Ranchi, India-834 010

E-mail: nprasad@vitalmail.com

Fax: +91 651 2260202

Oral Paper

Paper 7(4)

Trapping Efficiency of Various Colored Traps for Inserts in Cucumber Crop Under Greenhouse Conditions in Riyadh, Saudi Arabia by Al-Ayedh Hassan and Al-Doghairi Mohammed. (Saudi

Arabia)

Al-Ayedh Hassan and Al-Doghairi Mohammed

Natural Resources and Environment Research Institute (NRERI), King Abdulaziz City for Science3 and Technology (KACST), P.O. Box No.6068-Riyadh 11442-saudi Arabia

Department of plant protection, College of Agriculture, King Saud Univesity, Buradah P.O Box 1482, Saudi Arabia

E-mail: alayedh@kacst.edu.sa

Telephone: ++966-1-4813614

Fax: ++966-1-4813611

Poster Paper

Paper 7(5)

Environmentally Safe Method for Soil-Borne Pest Control in Greenhouse by Ahmed A. Almasoum, (United Arab Emirates)

Ahmed A. Almasoum

Dept. of Arid Land Agriculture, College of Food Systems, UAE University, Al-Ain, UAE

P.O.Box 1755 Al-Ain,UAE

E-mail: almasoum@uaeu.ac.ae

Tel +9713-7051451

Fax: +9713-7614430

E-mail: almasoum@uaeu.ac.ae

Web: http://www.geocities.com/capecanaveral/lab/7072

Oral paper
Paper 7(6)

Evaluation of Cucumber Insert Pests Under Greenhouse Condition in Riyadh, Saudi Arabia by Hassan Y. Al-Ayedh. (Saudi Arabia)

Hassan Y. Al-Ayedh,

Natural Resources and Environment Research Institute (NRERI), King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST), P. O Box 6086 Riyadh 11442, Saudi Arabia

E-mail: alayedh@kacst.edu.sa

Telephone: 001-966-1-481-3614

Fax: 001-966-1-481-3611

Oral Paper

Paper 7(7)

Effect of Essential Oils of Medicinal Plants on Control of Greenhouse Whitefly (Trialeurodes vaporariorum) by H. Aroiee, S. Mosapour, S.M. Hossani, M. Shakiby, H. karim Zadeh and E. Hoshmand. (Republic of Iran)

H. Aroiee, S. Mosapour, S.M. Hossani, M. Shakiby, H. karim Zadeh and E. Hoshmand.

Horticultural Department, Agricultural Faculty, Ferdwosi University, Mashland, Iran.

Aroiee_h@yahoo.com

Oral Paper

Paper 7(8) Spatial Pattern of Whitefly Infestation on Solanaceous Crops Under Protective Structures and Open Field Conditions by Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman. (Malaysia) Mohd. Norowi H., Mohamad Roff M.N. and Md. Touhidur Rahman.

Horticulture Research Centre

MARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala Lumpur

Malaysia.

Tel: 603 89437073

Fax: 603 89487639

Email: norowi@mardi.my

Oral Paper
Paper 7(9) Dynamics of aphis Gossypii Population and Spatial Distribution of Aphid Borne Virus Diseases on Bell Pepper Planted Under Protective Structures and Open Field by Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H. and Md. Touhidur Rahman. (Malaysia) Mohamad Roff M.N., Mohd. Norowi H., and Md. Touhidur Rahman.

Strategic Research Centre

MARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala Lumpur

Malaysia.

Tel: 603 89437453

Fax: 603 89437590

Email: roff@mardi.my

Poster Paper
Paper 7(10)

Dynamics of Aphis gossypii population and spatial distribution of aphid borne virus diseases on bell pepper planted under protective structures and open field by Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H., Md. Touhidur Rahman

and Green, S.K (Malaysia).

Mohamad Roff, M.N., Mohd Norowi, H., Md. Touhidur Rahman and Green, S.K

Horticulture Research Centre, MARDI Headquarters, P.O. Box 12301, GPO, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Poster Paper

Paper 7(11)

Spatial Pattern of Whitefly Counts in Tomato Field

and Its Relationship to the Spread of Whitefly Transmitted Virus by Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman (Malaysia)

Mohd. Norowi H., Mohamad Roff, M.N. and Md. Touhidur Rahman

Research CentreMARDI Headquarters,

P.O. Box 12301, General Post Office

50774 Kuala LumpurMalaysia.

Tel: 603 89437073

Fax: 603 89487639

Email: norowi@mardi.my

Poster Paper

Paper 7(12)

From Minor to Being a Major Pest of Carambola Under Netted Structure: A Case of the Flower Moth, Sphenaches caffer Zell. (Lepidoptera: Pterophoridae) by Mohd. Shamsudin Osman, Norsiah M.J., and Anthonysamy M (Malaysia)

Mohd. Shamsudin Osman, Norsiah M.J., and Anthonysamy M.

Horticulture Research Center, MARDI, Serdang, P.O. Box 12301, G.P.O. 50774  KUALA LUMPUR, MALAYSIA

shamos@mardi.my

Oral  paper

MARKETING TRENDS AND STRATEGIES

Keynote 8(1)

Marketing Trends and Strategies by Prof. David Hughes. (United Kingdom)

Professor David Hughes

Westfield, The Parade Monmounth

Monmouthshire NP25 3PA

United Kingdom

profdavidhughes@aol.com

Invited Lecture 8
Paper 8(2)

Financial Analysis of Greenhouse Vegetable Specialized  Projects in Saudi Arabia by Ahmed Mohammed Al-Abdulkader. (Saudi Arabia)

Ahmed Mohammed Al-Abdulkader

King Abdulaziz City for Science and Technology, P.O Box 6086, Riyadh 11442, Saudi Arabia

Email: akader@kacst.edu.sa

Telephone: 0096614813302

Fax: 0096614813878

Oral Paper

Paper 8(3) Techno-economic feasibility of Israeli and Indigenously Designed Naturally Ventilated Greenhouses for Year Round Cucumber Cultivation by Balraj singh and Mahesh Kumar (India) Balraj Singh and Mahesh Kumar

Indi-Israel Project, Indian Agricultural Research Institute

New Delhi – 110012

Tel: +91-11-25841063

Telefax: +91-11-25842481

Email: drbsingh2000@yahoo.com

Oral Paper
Paper 8(4)

Market Survey and the Prospect of the Anthurium Industry in Malaysia by H. Noor Auni and M. A. Khairol (Malaysia)

H. Noor Auni and M. A. Khairol

Economic and Technological Management Research Center, MARDI HQ, P.O. Box 12301, G.P.O., 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Oral Paper
Paper 8(5)

The prospect of Japanese Flower Market and the Potential of Exporting Malaysian Cut Chrysanthemums by Sea Shipment by

H. Noor Auni, M. N. Latifah, and M.A. Khairol (Malaysia)

H. Noor Auni, M. N. Latifah, and M.A. Khairol

MARDI Serdang, 43400 Serdang,

Selangor, Malaysia

Poster  Paper
Paper 8(6) The Prospect of Tomato Production under Rainshelter in Malaysia by M. A. Khairol , H. Noor Auni , A. Roslina  and M.S. Redzuan (Malaysia)

M. A. Khairol , H. Noor Auni , A. Roslina  and M.S. Redzuan

Business Development Unit, MARDI HQ, P.O. Box 12301, G.P.50774 Kuala Lumpur.

Malaysia.

Khairol@mardi.my

Tel: 603 89437190

Fax: 603 8943 5840

Poster Paper

EMERGING TECHNOLOGIES

Keynote 9(1)

Emerging Technologies in Control Environment Production Systems by  Prof. Dr. Tadashi Takakura. (Japan)

Prof. Dr. Tadashi Takakura

Fukuoka International University

Fukuoka Womens Junior College

Gojyo 4-16-1, Dazaifu, Fukuoka 818-0193, JAPAN

Tel and FAX: 092-922-6879

E-mail: takakura@net.nagasaki-u.ac.jp;

takakura@ag.arizona.edu

Invited Lecture 9
Paper 9(2)

Nondestructive Detection of Plant Water Stress by Microwave Sensing by Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura. (Japan)

Takashi Shimomachi, Takehiro Takemasa, Kenji Kurata and Tadashi Takakura.

Collage of Environmental Studies, Nagasaki 852-8521, Japan

Graduate School of Agricultural and Life science, The University of Tokyo, Bunkyo-ku, Tokyo 113-8657, Japan

College of Digital Media and Communication, Fukuoka International University, 4-16-1 Gojyo, Dazaifu, Fukuoka 818-0193, Japan

E-mail:  simomati@net.nagasaki-u.ac.jp

Fax: +81-95-819-2716

Poster Paper

Paper 9(3)

Protected Cultivation of Vegetables in India: Problem and Future Prospects by Balraj Singh and N.P.S. Sirohi. (India)

Balraj Singh and N.P.S. Sirohi

Indo-Israel, Indian Agricultural Research Institute, New Delhi-110012 (India)

E-mail: drbsingh2000@yahoo.com

Telephone/fax: 091-11-25824481

Oral Paper

Paper 9(4)

Integrated Production and Protection Management (IPPM) Program for Greenhouse Crops in The Arabian Peninsula by Ahmed T.Moustafa, Yousuf Al-Raeesy, Amal Abdul Kareem and Amin Al-Kirshi. (United Arab Emirates)

Ahmed T.Moustafa, Yousuf Al-Raeesy, Amal Abdul Kareem and Amin Al-Kirshi.

International Center for Agricultural Research in the Dry (ICRADA), Arabian Peninsula Regional Program (APRP), P.O Box 13979, Dubai, UAE.

E-mail: a.moustafa@cgiar.org

Fax: +971 4 2958216

Oral Paper

Paper 9(5)

Influence of Water Salinity on Growth, Water Relations and Mineral Contents of Distichlis Spicata by Saad Farhan Alshammary. (Saudi Arabia)

Saad Farhan Alshammary

Natural Resources and Environment Research Institute

King Abdulaziz City for Science and Technology

P.O.Box 6086 Riyadh 11442, Saudi Arabia, 2004

Phone: 96614813598

E-mail: sshammary@kacst.edu.sa

Oral Paper

Paper 9(6)

Soil Solarization Studies using Innovatory Plastics Films by  Carlo Manera, Vito Miccolis,  Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo, Cosimo Marono, Martino Basile. (Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis,  Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo, Cosimo Marono, Martino Basile

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical-Economic Department,

Crop Production Department ,

Plant Protection Institute – C.N.R. Bari

Nuovo Polo Universitario – C/da Macchia Romana  85100 Potenza (Italy)

Tel. + 39 0971/205405;

fax +39 0971/205429;

E-mail: manera@unibas.it

Oral Paper

Paper 9(7)

Mulching Studies in Greenhouses using Innovatory Plastic Films by

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo.(Italy)

Carlo Manera, Vito Miccolis, Salvatore Margiotta, Vincenzo Candido, Donato Castronuovo.

UNIVERSITY OF BASILICATA

Technical-Economic Department,

Crop Production Department,

Nuovo Polo Universitario – C/da Macchia Romana  85100 Potenza (Italy)

Tel. + 39 0971/205405; fax +39 0971/205429;

E-mail: manera@unibas.it

Oral Paper

Paper 9(8)

Determination of the Optical Properties of Plastics Films used as Cladding Materials in Novel Energy Efficient Greenhouse by B. Chunnasit, P. Hadley. (United Kingdom)

B. Chunnasit and P. Hadley,

Department of Horticulture & Landscape, School of Plant Science, The University of Reading, Whiteknights PO Box 221 Reading RG6 6AS, UK

E-mail: b.chunnasit@reading.ac.uk

Poster Paper

Paper 9(9)

Salinity Management of Media Grown Hydroponics Tomatoes by R.A.J.White. (New Zealand)

R.A.J.White.

Horticultural Consultants, P.O.Box 1014, Levin, New Zealand.

Email JWHortcons@xtra.co.nz

Fax: +64 6 3689694

Oral Paper

Paper 9(10)

Qualitative and Chemical Analysis of Different Cultivars of Cucumbers

By Kim H.W, J. K. Kim, I. T. Hwang, J. B. Seo and G.J. Choi. (Korea)

Kim H.W, J. K. Kim, I. T. Hwang, J. B. Seo and G.J. Choi.

Cucumber Exp. Station, Jeonnam 542-821, Korea

Jeonnam ARES, Naju City, Jeonnam 570-180, Korea

E-mail: hyunwoo@jares.go.kr

Fax: 82617815231

Poster Paper

Paper 9(11)

Effect of Different Propagating Structures on Rooting of Hardwood Cuttings in Grape Varieties by C. Ravindran, S. Jaganath and R. Krishnamanohar. (India)

C. Ravindran, S. Jaganath and R. Krishnamanohar.

Division of Horticulture, UAS, GKVK,

Bangalore-560 065, India.

E-mail: ravi_hort@yahoo.com

Oral Paper

Paper 9(12)

Heat Pipe as an Energy Saver in Aeroponic System by  N. Srihajong, S. Ruamrungsri, P. Terdtoon, P. Kamonpet,and T. Ohyama. (Japan)

N. Srihajong, S. Ruamrungsri, P. Terdtoon, P. Kamonpet,and T. Ohyama.

Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering, Chiang Mai University 50200, Thailand

Faculty of Horticulture, Niigata University, Japan

E-mail: narong­_sri@hotmail.com;

G4566427@cm.edu

Oral Paper

Paper 9(13)

Acoustical Measurement for Vertical Temperature Profile in Alley Between Rows of Tomato Plants by Koichi Mizutani, Riku Futamata, Kousuke Kudo, Yasuyuki Hirayama and Limi Okushima. (Japan)

Koichi Mizutani, Riku Futamata, Kousuke Kudo, Yasuyuki Hirayama and Limi Okushima

Graduate School of Systems and Information Engineering, University of Tsukuba

Tsukuba Science City, 305-8573, Japan.

E-mail : futamata@aclab.esys.tsukuba.ac.jp

Tel. +81-29-853-5468

Fax. +81-29-853-5207

Oral Paper

Paper 9(14) Application of  Precision Agriculture Technologies in the Tropical Greenhouse Environment by Chan Chee Wan. (Malaysia) Chan Chee Wan

Mechanization and Automation Research Center

MARDI,  P.O.Box 12301

General Post Office, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel: 603 89416851

Fax:603 89482961

Email: cwchan@mardi.my

Oral Paper
Paper 9(15) Design and Development of Kenaf Seed Thresher Machine for Kenaf Seed Production Under Rain Shelter by C.C. Wong and S.T. Ten (Malaysia)

C.C. Wong and S.T. Ten

Rice and Industrial Crops Research Centre, MARDI, P.O. Box 12301, GPO, 50774 Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel:603 89437740

Fax: 603 89425786

Email: ccwong@mardi.my

Poster Paper
Paper 9(16)

Application of Computer Vision System to Monitor Crops Growth and Weeds Under Rain Shelter by A.R. M Syaifudin, Teoh Chin Chuang, O.Muhamad Isa (Malaysia)

A.R. M Syaifudin, Teoh Chin Chuang, O.Muhamad Isa.

Mechanization and Automation Research Centre, MARDI Serdang, 43400 Serdang, Selangor, Malaysia.

Poster paper

Analisis Hubungan Perataan Laba (Income Smoothing) dengan Ekspektasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta.

July 26, 2010 1 comment

Syahril Djaddang

ABSTRACT

The purposes of this thesis are to analyze the relativity between income smoothing (net earnings, leverage, total asset, and discretionary accrual) and earning future expectation (expected earning) for manufactured companies in Indonesia, and also to prove whether income smoothing influences earning future expectation. This research use 36 manufactured companies data, listed in The Jakarta Stock Exchange, that been chosen by the purposive sampling method. Modified Jones model is use in this thesis as an income smoothing assumption. The data analysis method that been used are One Sample Kolmogorov-Smirnov, Multicollinearity Test, Durbin-Watson Test, Scatterplot, Pearson Correlation, Multiple Regression, F Test, and T-Test.

Based on the test done, it is shown that the net earnings, leverage, and total asset variables are significantly positive related to expected earning variable (earning future expectation), while discretionary accrual variable is not significantly positive related to expected earning variable. The relations between net earnings, leverage, and total asset to expected earning are weak positive correlation. Another result of the test done is that all independent variables (income smoothing), together, are significantly influencing their dependent variable, earning future expectation (expected earning).

Keywords: income smoothing, expected earning, Jones model

  1. I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

Pihak manajemen perusahaan sangat menyadari peranan informasi laba dalam income statement. Oleh karena itu, pihak manajemen cenderung memberikan kebijakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu yang biasanya bersifat jangka pendek (Kusuma & Sari, 2003). Pilihan kebijakan akuntansi yang dilakukan manajemen untuk tujuan spesifik itulah yang disebut dengan manajemen laba (Scott, 2000). Hal ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang timbul antara pihak manajemen dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholder) (Sugiarto, 2003). Berbagai penelitian lainnya untuk membuktikan bahwa manajemen laba dilakukan untuk mencapai tujuan spesifik dan bersifat jangka pendek, juga telah dilakukan oleh Rahman dan Bakar (2002); Burgsahler dan Dichev (1997); Dechow, et. al (1995); serta Perry dan William (1994). Tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Gumanti (2000) mengatakan bahwa fenomena manajemen laba tidak selamanya terbukti, walaupun secara teoritis memungkinkan atau ada peluang bagi manajemen untuk me-manage laba yang dilaporkan.

Para manajer melakukan tindakan ini karena biasanya laba yang stabil dan tidak banyak fluktuasi dari satu periode ke periode yang lain, dinilai sebagai prestasi yang baik. Akuntansi konvensional membatasi manajer untuk membuat “discretionary accounting” untuk meratakan laba yang dilaporkan (reported earnings). Tetapi tidak semua negara melarang dilakukannya perataan laba. Misalnya Swedia, yang membenarkan tindakan ini, sepanjang dilakukan dengan transparan. (Harahap, 2005).

Di Indonesia, beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan memperlihatkan hasil yang tidak konsisten. Ilmainir (1993) menemukan bukti bahwa perataan laba didorong oleh harga saham, perbedaan antara laba aktual dan laba normal dan pengaruh perubahan kebijakan akuntansi yang dipilih oleh manajemen. Zuhroh (1996) menemukan bukti bahwa faktor yang berpengaruh terhadap perataan laba adalah leverage operasi. Naim dan Hartono (1996) menemukan manajer yang menghadapi investigasi pelanggaran undang-undang antitrust akan menurunkan laba untuk menghindari pinalti pelanggaran antitrust. Wimbari (1998) mendapatkan hasil bahwa perataan laba disebabkan oleh faktor profitabilitas dan jenis industri. Jin (1998) menemukan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap praktek perataan laba adalah ukuran perusahaan, tingkat profitabilitas, sektor industri dan leverage-nya.

B.  Perumusan Masalah

Masalah yang dibahas penulis dalam penelitian ini, adalah:

  1. Apakah praktik perataan laba dan ekspektasi kinerja masa depan mempunyai hubungan yang positif (kuat)?
  2. Apakah praktik perataan laba mempunyai pengaruh signifikan terhadap ekspektasi kinerja masa depan perusahaan?

C.  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan penulis, ialah:

  1. Untuk mengetahui dan menganalisa hubungan antara perataan laba dan ekspektasi kinerja di masa depan.
  2. Untuk membuktikan ada atau tidaknya pengaruh perataan laba (variabel bebas) terhadap kinerja masa depan perusahaan (variabel terikat).

II.        Tinjauan Pustaka

2.1.      Laporan Keuangan

Menurut Pedoman Etika Akuntan IAI, laporan keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atau perubahan atas aktiva dan atau kewajiban selama suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

2.2. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut APB Statement digolongkan sebagai berikut (Harahap, 2001: 42) :

  1. Tujuan Khusus

Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principle).

  1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi, dan kewajiban perusahaan.
  2. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba.
  3. Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
  4. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
  5. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan.
  6. Tujuan Kualitatif

Tujuan kualitatif yang dirumuskan APB Statements No. 4 adalah sebagai berikut:

  1. Relevan.
  2. Dapat dimengerti
  3. Dapat dicek kebenarannya
  4. Netral
  5. Tepat waktu & Dapat diperbandingkan
  6. Lengkap

2.3. Jenis Laporan Keuangan

Sedangkan dalam definisi laporan keuangan menurut peraturan      Bapepam Nomor : VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan dijelaskan bahwa laporan keuangan terdiri dari:

  1. Neraca
  2. Laporan Rugi Laba
  3. Laporan Perubahan Ekuitas
  4. Laporan Arus Kas
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan

2.         Earning Management (Manajemen Laba)

Earning management adalah suatu konsep yang dilakukan perusahaan dalam mengelola laporan keuangan supaya laporan keuangan tampak terlihat memiliki kualitas (quality of financial reporting) (Suhendah, 2005). Laporan keuangan yang paling sering dimanipulasi oleh perusahaan adalah laporan rugi laba.

Menurut Jumingan (2003) seperti yang dikutip oleh Suhendah (2005), earning management merupakan suatu proses yang disengaja, menurut standar akuntansi keuangan untuk mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu. Yang termasuk dalam kategori earning management ialah:

  1. Discretionary accrual
  2. Income smoothing
  3. Manipulasi alokasi pendapatan/biaya.
  4. Perubahan metode akuntansi dan struktur modal.

Earning management (manajemen laba) memiliki cakupan yang lebih luas daripada income smoothing (perataan laba), karena manajemen percaya bahwa reaksi pasar didasarkan pada pengungkapan informasi akuntansi sehingga perilaku laba merupakan aspek penentuan resiko pasar entitas usaha.

Suhendah (2005) mengutip Ayres (1994) yang menyatakan bahwa ada 3 faktor yang dapat dikaitkan dengan munculnya praktik manajemen laba oleh manajer demi menunjukkan prestasinya, yaitu:

  1. Manajemen akrual (accruals management).
  2. Penerapan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib (adoption of mandatory accounting changes).
  3. Perubahan akuntansi secara sukarela (voluntary accounting changes).

Gambar 1

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Praktik Manajemen Laba

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

  1. Manajemen akrual
  2. Penerapan suatu kebijaksanaan                                                                                                                                                                                                                          Praktik

akuntansi yang wajib                                                                                                                                                                                                                                                                                   Manajemen Laba

  1. Perubahan metode akuntansi

secara sukarela

Sumber : Jurnal Akuntansi/Th.IX/02/Mei/2005, Earning Management

3.         Income Smoothing (Perataan Laba)

3.1. Definisi Perataan Laba

Pengertian awal mengenai income smoothing ialah moderates year-to-year fluctuations in income by shifting earnings from peak years to less successful periods (Riahi-Belkaoui, 2004). Sedangkan pengertian yang lebih modern adalah the process of manipulating the time profile of earnings or earning reports to make the reported income less variable, while not increasing reported earnings over the long run (Riahi-Belkaoui, 2004).

Income smoothing (perataan laba) adalah a form of earnings management in which revenues and expenses are shifted between periods to reduce fluctuations in earnings (Arens, et. al, 2005: 310). Selain itu, menurut Harahap (2005) perataan laba adalah upaya yang dilakukan oleh manajemen untuk menstabilkan laba.

Definisi lainnya tentang perataan laba menurut Beidleman adalah (Riahi-Belkaoui, 2004):

The intentional dampening or fluctuations about some level of earnings that is currently considered to be normal for a firm., atau an attempt on the part of the firm’s management to reduce abnormal variations in earnings to extent allowed under sound accounting and management principles.”

3.2. Jenis Perataan Laba

Ada dua jenis perataan laba, yaitu (Riahi-Belkaoui, 2004) :

  1. Intentional atau designed smoothing

Intentional atau designed smoothing ialah keputusan atau pilihan yang dibuat untuk mengatur fluktuasi earnings pada level yang diinginkan.

  1. Natural smoothing

Natural smoothing adalah income generating process yang natural, bukan hasil dari tindakan yang diambil oleh manajemen.

3.3. Faktor Pendorong Perataan Laba

Tidak semua negara melarang dilakukannya perataan laba (Harahap, 2005). Seperti Swedia misalnya, di negara ini perataan laba diperbolehkan, asalkan perataan laba ini dilakukan dengan transparan.

Beberapa faktor yang mendorong manajemen melakukan perataan laba adalah (Sugiarto, 2003):

  1. Kompensasi bonus

Pada penelitiannya, Healy menemukan bukti bahwa manajer yang tidak dapat memenuhi target laba yang ditentukan akan memanipulasi laba agar dapat mentransfer laba masa kini menjadi laba masa depan. Selain itu, menurut Harahap (2005), pentingnya laporan keuangan mengundang manajemen untuk meratakan laba demi mendapatkan bonus yang tinggi.

  1. Kontrak utang

Defond dan Jimbalvo (1994) dengan menggunakan model Jones, mengevaluasi tingkat akrual perusahaan yang tidak dapat memenuhi target laba. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang melanggar perjanjian utang telah merekayasa labanya, satu periode sebelum perjanjian utang itu dibuat.

  1. Faktor politik

Jones (1991) meneliti perusahaan yang sedang diinvestigasi oleh International Trade Commision (ITC). Ia menemukan bukti bahwa produsen domestik cenderung menurunkan laba dengan teknik discretionary accrual untuk mempengaruhi keputusan regulasi impor. Naim dan Hartono (1996) meneliti perusahaan yang diduga melakukan monopoli dan menemukan bahwa manajer perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari UU Anti-Trust.

  1. Pengurangan pajak

Perusahaan melakukan perataan laba untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah (Arens, Elder, Beasley, 2005).

  1. Perubahan CEO

Pourciao (1993) menemukan bukti bahwa perekayasaan laba dilakukan dengan meningkatkan unexpected accruals pada periode satu tahun sebelum penggantian eksekutif tak rutin.

  1. Penawaran saham perdana

Clarkson et al (1992) menyatakan ada reaksi positif dari pengumuman earnings forecast yang ada di prospektus dengan tingkat penjualan saham, karena publik hanya melihat laporan keuangan yang dilaporkan pada regulator. Banyak perusahaan yang melakukan perataan laba demi mendapatkan dan mempertahankan investor (Jones, 2005).

Faktor yang diasumsikan menyebabkan manajer melakukan perataan laba menurut buku Accounting Theory (Riahi-Belkaoui, 2004: 451), ialah:

  1. Mekanisme pasar kompetitif, yang mengurangi pilihan-pilihan yang tersedia untuk manajemen.
  2. Skema kompensasi manajemen, yang terkait langsung dengan kinerja perusahaan.
  3. Ancaman pergantian manajemen.

3.4. Teknik Perataan Laba

Berbagai teknik yang dilakukan dalam perataan laba, diantaranya ialah (Sugiarto, 2003) :

  1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi. Pihak manajemen dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi melalui kebijakan manajemen sendiri (accruals) misalnya: pengeluaran biaya riset dan pengembangan. Selain itu banyak juga perusahaan yang menggunakan kebijakan diskon dan kredit, sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada bulan terakhir tiap kuarter dan laba kelihatan stabil pada periode tertentu.
  2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer mempunyai wewenang untuk mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya: jika penjualan meningkat, maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan pengembangan serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk menstabilkan laba.
  3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam kategori yang berbeda. Misalnya: jika pendapatan non-operasi sulit untuk didefinisikan, maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non-operasi.

Keleluasaan untuk memakai teknik-teknik akuntansi dalam mencatat terbukti telah disalahgunakan oleh manajemen untuk melakukan perataan laba. Bahkan disinyalir bahwa perataan laba banyak dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik akuntansi yaitu dengan merubah kebijakan akuntansi (Koeh, 1981). Berdasarkan hal tersebut maka penelitian tentang perataan laba ini dilakukan dengan mengambil perubahan kebijakan akuntansi sebagai objek dihubungkan dengan antisipasi laba masa depan untuk menghindari pemecatan.

4.         Expected Earnings

Expected earnings ialah perkiraan dan ekspektasi laba yang ingin dicapai perusahaan di masa mendatang (Sugiarto, 2003). Expected earning diambil dari lembaran prospektus yang biasanya dikeluarkan perusahaan ketika ingin terdaftar di Bursa Efek Jakarta, selain itu juga terdapat di laporan keuangan tahunan perusahaan.

Tujuan laporan keuangan menurut SFAC No 1. Sesuai dengan UU no. 8 tahun 1995 BAB IX pasal 78 dan 79 dan dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan BAPEPAM NO. IX C.2, mengumumkan earnings projection dipandang perlu agar menjadi sinyal positif bagi investor tentang keterbukaan informasi perusahaan (Sugiarto, 2003).

Expected earnings yang tercantum di prospektus merupakan tantangan bagi manajer untuk mencapainya, karena jika manajer tidak bisa mencapainya atau kinerjanya atau kinerjanya di bawah rata-rata industri maka kemungkinan tindakan pemecatan akan semakin besar (Blackwell, 1994).

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang menganalisa perataan laba dan hubungannya dengan laba masa depan perusahaan, dilakukan oleh Sopa Sugiarto (2003). Penelitian ini mengambil indikator perataan laba (variabel bebas) berupa net earnings (sebelum pos luar biasa), leverage, total asset, total accrual, dan discretionary accrual. Variabel terikatnya adalah expected earning. Sampel yang digunakan adalah 41 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, yang dipilih dengan metode purposive sampling.

Hasil penelitian tersebut mengindikasikan (1) Tidak terdapat hubungan antara peningkatan discretionary accrual dengan kinerja masa kini yang buruk dan ekspektasi kinerja masa depan yang bagus; (2) Terdapat hubungan antara penurunan discretionary accrual dengan kinerja masa kini yang bagus dan ekspektasi kinerja masa depan yang buruk.

C.        Kerangka Pemikiran

Gambar 2

Hubungan dan Pengaruh antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat

Variabel Bebas                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Variabel Terikat

X                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 Y

X1

Net Earnings

X2

Leverage

Y

Expected Earning

X3

Total Asset

X4

Discretionary Accrual

X5

Perataan Laba

Sumber : Data diolah penulis, 2006

D.        Pengembangan Hipotesis

Sugiarto (2003) mengutip penelitian Fudenberg dan Tirole (1995) yang mengembangkan model teori yang mendorong manajer memperkirakan laba masa depan dengan berdasarkan pada pemakaian discretionary accounting.

2.         Hipotesis

Maka hipotesis penelitian yang dapat disimpulkan dari ketiga asumsi di atas adalah:

H1 :     Tingkat net earnings mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H2 :     Tingkat leverage mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H3 :   Tingkat total asset mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja  masa depan perusahaan.

H4 :     Tingkat discretionary accrual mempunyai hubungan positif dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

H5 :    Perataan laba mempunyai pengaruh signifikan terhadap ekspektasi kinerja masa depan perusahaan.

METODE PENELITIAN

A.        Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis adalah penelitian yang bersifat korelatif, yaitu mencari hubungan antara perataan laba (discretionary accruals) dengan kinerja masa kini dan ekspektasi kinerja masa depan.

B.        Variabel dan Pengukurannya

1.         Variabel

Variabel yang digunakan dibagi menjadi 2, yaitu variabel bebas (tidak terikat) dan variabel terikat.

1.1       Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang nilainya mempengaruhi perilaku dari variabel terikat (dependent variable). Dalam penelitian ini, variabel bebasnya ialah perataan laba (income smoothing) yang faktornya terdiri dari:

  1. Net Earnings
  2. Leverage (LEV)
  3. Total Aset (ASSET)
  4. Discretionary Accrual (DA)

1.2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi oleh perilaku variabel bebas (independent variable). Dalam penelitian ini, variabel terikat yang digunakan, ialah expected earnings.

C.        Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Net Earnings (X1)

Net earnings ialah laba bersih yang bisa dilihat di dalam income statement. Dalam penelitian ini net earnings yang digunakan adalah net earnings before extraordinary item.

  1. Leverage (X2)

Leverage adalah bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang. Leverage ini dapat dihitung dengan rumus:

LEV = Total Utang / Total Equity

  1. Total Asset (X3)

Total asset adalah seluruh harta perusahaan yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, yaitu dari current asset sampai dengan fixed asset dan juga tangible asset. Data total asset ini dapat dilihat di dalam balance sheet perusahaan.

  1. Discretionary Accrual (X4)

Discretionary accrual adalah komponen accrual yang berada dalam kebijakan manajemen, artinya manajemen memberikan intervensinya dalam proses pelaporan keuangan. Perhitungan untuk mendapatkan discretionary accrual, ialah:

Keterangan:

=                      total accrual

=                      total asset

=                      total revenue

=                      piutang

=                      perubahan revenue dengan basis kas

=                      jumlah kotor nilai bangunan dan peralatan

=                      tingkat kesalahan

Setelah konstantanya didapat, dimasukkan ke dalam rumus:

Kemudian dicari discretionary accrual (DA)-nya dengan rumus:

  1. Expected Earnings (Y)

Expected earning adalah ekspektasi laba yang ingin dicapai perusahaan di masa depan. Expected earning ini dianggap dapat menggambarkan kinerja suatu perusahaan. Expected earning dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan:

=                      expected earning

=                      current earning

=     growth

D.        Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dalam pengumpulan datanya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan tahunan dan prospektus yang didapat dari Bursa Efek Jakarta (BEJ).

E.        Metode Pemilihan Sample

Pemilihan sample dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sample dengan berbagai kriteria. Kriteria yang digunakan dalam penelitian adalah:

  1. Perusahaan yang telah go public sebelum 31 Desember 2005.
  2. Emiten yang telah menyertakan laporan keuangan audit per 31 Desember 2002–2005.
  3. Perusahaan yang transaksi sahamnya masih aktif diperdagangkan selama tahun 2002–2005.
  4. Perusahaan yang tahun bukunya 31 Desember untuk tahun 2002–2005.
  5. Perusahaan dengan data ekstrem yang berhubungan dengan discretionary accrual, arus kas dan non-discretionary accrual akan dikeluarkan dari sample.

F.         Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut: Statistik Deskriptif, Uji Normalitas, Uji Asumsi Klasik, Uji Hipotesis.

1.         Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan proses data penelitian dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diintepretasikan.

2.         Uji Normalitas

Dalam penelitian ini, uji normalitas data menggunakan Kolmogrov-Smirnov test. Tujuan pengujian tersebut adalah untuk menentukan apakah data-data dari masing-masing variabel terdistribusi normal atau tidak.

Perumusan hipotesa untuk uji normalitas, yaitu :

  1. H0 :           data normal
  2. Ha : data tidak normal

Dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas :

  1. Signifikansi >        0,05 (H0 diterima : data normal)
  2. Signifikansi <        0,05 (H0 ditolak : artinya data tidak normal)

3.  Uji Asumsi Klasik

Analisa mengenai hubungan dan pengaruh perataan laba dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan (expected earning) dapat dilakukan bila data yang diteliti memenuhi asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik yang dilakukan, yaitu:

3.1.      Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang berarti antara masing-masing variabel independen dalam model regresi. Metode untuk menguji adanya multikolinieritas dilihat pada tolerance value atau Variance Inflation Factor (VIF). Batas dari tolerance value adalah 0,10 dan batas VIF adalah 10. Jika Variance Inflation Factor (VIF) diatas 10 dan tolerance value dibawah 0,10 (Hair et, al, 1998).

Perumusan hipotesa untuk uji multikolinearitas adalah :

  1. Ho :                       tidak ada multikolinearitas
  2. Ha :                       terjadi multikolinearitas

Pengambilan keputusan :

  1. Jika  VIF > 0,10 (Ho ditolak: terjadi multikolinearitas)
  2. Jika  VIF < 0,10 (Ho diterima: tidak ada multikolinearitas)

3.2.      Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menunjukkan adanya korelasi antara error dengan error periode sebelumnya. Pada asumsi klasik, hal ini tidak boleh terjadi. Uji autokorelasi dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Durbin–Watson (DW). Jika nilai Durbin–Watson terletak diantara dU dan 4-dU maka disimpulkan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi. Data yang baik adalah data yang memiliki hasil uji tidak terdapat autokorelasi. Sebenarnya penelitian ini tidak memerlukan uji autokorelasi, karena data yang digunakan adalah data pooling.

Dasar pengambilan keputusan uji autokorelasi (DW) sebagai berikut :

  1. Jika 0 < DW < dL, maka terdapat positif autokorelasi
  2. Jika dL ≤ DW ≤ dU, maka tidak ada keputusan
  3. Jika dU < DW < 4-dU, maka tidak terdapat autokorelasi
  4. Jika 4-dU ≤ DW ≤ 4-dL, maka tidak ada keputusan
  5. Jika 4-dL < DW <4, maka terdapat negatif autokorelasi

3.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan mengandung variasi residual yang bersifat heteroskedastisitas (varians dari setiap error bersifat heterogen). Model regresi yang baik tidak terjadi heteroskedastisitas (bersifat homogen). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan uji dengan scatterplot.

4.         Uji Hipotesis

4.1. Uji Korelasi

Analisis korelasi berfungsi untuk menyatakan derajat keeratan hubungan dan arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya. Semakin tinggi nilai korelasi, semakin tinggi derajat keeratan hubungan kedua variabel tersebut. Nilai korelasi memiliki rentang antara 0 sampai 1 atau 0 sampai -1. Tanda positif dan negatif menunjukkan arah hubungan. Tanda positif menunjukkan hubungan searah. Jika 1 variabel naik, variabel yang lain naik. Tanda negatif menunjukkan hubungan berlawanan. Jika 1 variabel naik, variabel yang lain akan turun.

Dalam penelitian ini, analisis korelasional yang digunakan adalah analisis korelasi Pearson. Metode tersebut digunakan karena data yang diteliti adalah data dengan skala rasio.

Perhitungan koefisien korelasi adalah menggunakan formula:

Keterangan :

=                      variabel bebas

=                      variabel terikat

=                      banyaknya sampel

4.2.      Uji Regresi Berganda

Untuk menganalisa pengaruh variabel bebas, yaitu perataan laba, terhadap variabel terikat, yaitu ekspektasi kinerja masa depan perusahaan (expected earning), penulis menggunakan regresi berganda dengan model sebagai berikut:

Dimana Y adalah variabel terikat, yaitu expected earning, dan X adalah variabel bebas, yaitu net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual, yang diujikan dalam penelitian. Bila Y dan X diganti dengan nama masing-masing variabel, maka rumus regresi bergandanya akan menjadi:
Keterangan:

=                      expected earning perusahaan

=                      konstanta

=                      koefisien regresi

=                      net earnings perusahaan

=                      leverage perusahaan

=                      total asset perusahaan

=                      discretionary accrual perusahaan

=                      tingkat kesalahan (error)

Analisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat di penelitian ini menggunakan regresi berganda, karena baik variabel bebas maupun variabel terikat, keduanya berskala rasio.

4.2.1.   Uji F (Uji Serentak)

Uji F atau Uji Serentak merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan seluruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikatnya. Pengujian ini membandingkan antara nilai F hitung dengan nilai F tabel pada tingkat keyakinan tertentu, dengan ketentuan bahwa interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Uji F menggunakan rumus (untuk perhitungan manual):

Keterangan:

=                      rata-rata jumlah kuadrat (mean sum of square)

=                      jumlah kuadrat regresi (explain sum of square)

=                      jumlah kuadrat sisa (residual sum of square)

Perumusan hipotesa untuk Uji F adalah, sebagai berikut :

Ho :   Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (expected earning).

Ha :    Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan untuk Uji F adalah :

  1. Jika F hitung > F tabel (Ho ditolak : mempunyai pengaruh signifikan)
  2. Jika F hitung < F tabel (Ho diterima : tidak mempunyai pengaruh) atau
  3. Jika sig. F statistik < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  4. Jika sig. F statistik > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

4.2.2.   Uji T (Uji Individu)

Uji-t ini digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antara masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat. Uji-t membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel, dengan ketentuan interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Rumus yang digunakan dalam Uji-t (perhitungan secara manual), ialah:

Keterangan:

=                      koefisien regresi

=                      derajat kesalahan (standard error)

Perumusan hipotesa untuk Uji-t, adalah:

Ho :   Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Ha :    Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Dasar pengambilan keputusan pada Uji-t, yaitu:

  1. Jika t-hitung < t-tabel (Ho diterima : tidak ada pengaruh signifikan)
  2. Jika t-hitung > t-tabel (Ho ditolak : ada pengaruh signifikan)

atau

  1. Jika nilai Sig. < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  2. Jika nilai Sig, > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.        Deskripsi Objek Penelitian

Deskripsi data yang disajikan adalah deskripsi data variabel penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari satu variabel terikat (Y), yaitu  expected earning; dan 5 variabel bebas (X), yaitu net earnings (X1), leverage (X2), total asset (X3), discretionary accrual (X4), dan perataan laba (X5). Jumlah perusahaan yang digunakan sebagai sampel adalah 36 perusahaan, dengan periode laporan keuangan tahun 2002 sampai dengan 2005, yang secara lengkap dapat dilihat di lampiran 1.

B.        Analisis dan Pembahasan

1.         Statistik Deskriptif

Tabel 1

Statistik Deskriptif

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah data yang digunakan sebagai sampel berjumlah 36 perusahaan, dengan 6 variabel penelitian (total asset, net earnings, expected earning, discretionary accrual, dan leverage). Variabel total asset memiliki nilai minimum (terendah) sebesar Rp 38.926.037.291,- dan nilai maksimum (tertinggi) sebesar Rp 15.669.007.629.752,-. Nilai rata-ratanya (mean) sebesar Rp 2.130.275.595.505,- dengan standar deviasi sebesar                                Rp 3.291.406.897.483,8,-.

Variabel net earnings (sebelum pos luar biasa) memiliki nilai terendah sebesar Rp (792.946.330.000),- serta nilai terendah sebesar Rp 1.468.445.000.000,-. Nilai rata-rata dan standar deviasinya sebesar Rp 83.440.463.042,97,- dan                        Rp 328.560.969.219,054,-.

Ekspektasi kinerja masa depan, yang dipresentasikan dengan variabel expected earning, memiliki nilai terendah Rp (22.703.196.165.120,0),- dan nilai tertinggi      Rp 26.925.814.065.823,3,-. Nilai rata-ratanya adalah Rp 950.436.190.427,0,- dengan nilai standar deviasi Rp 5.937.224.225.678,1,-.

Variabel discretionary accrual memiliki nilai terendah                                      Rp (7.104.389.596.998,69),- serta nilai tertinggi Rp 1.241.805.000.000,05,-. Nilai rata-rata dan standar deviasinya adalah sebesar Rp (162.999.655.213) dan               Rp 889.335.989.040,23

Rasio pengukuran perusahaan, yang dipresentasikan dengan variabel leverage, memiliki nilai terendah sebesar -18,54 dan nilai tertinggi sebesar 53,28. Nilai rata-ratanya adalah sebesar 2,4446; sedangkan standar deviasinya adalah sebesar 8,08879.

2.         Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian yang digunakan, memiliki distribusi yang normal atau tidak. Analisis Kolmogorov–Smirnov merupakan suatu pengujian untuk menguji keselarasan data, dimana suatu sampel dikatakan berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal.

Perumusan hipotesa untuk uji normalitas ialah :

  1. Ho :           data normal
  2. Ha : data tidak normal

Dasar pengambilan keputusannya, yaitu :

  1. Signifikansi > 0,05 (Ho diterima : data normal)
  2. Signifikansi < 0,05 (Ho ditolak : data tidak normal)

Berikut ini adalah hasil pengolahan data statistik untuk uji normalitas Kolmogorov-Smirnov:

Tabel 2

Tabel Uji Normalitas Kolmogorov–Smirnov

Sumber : Data diolah, 2006

Tabel 3

Tabel Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov

Variabel Sig Kesimpulan
Total Asset 0.000 Ho ditolak
Net Earnings 0.000 Ho ditolak
Expected Earnings 0.000 Ho ditolak
Total Accrual 0.000 Ho ditolak
DA 0.000 Ho ditolak
Leverage 0.000 Ho ditolak

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa variabel total asset, net earnings, expected earning, total accrual, DA (discretionary accrual), dan leverage memiliki tingkat signifikansi yang lebih kecil dari 0,05. Maka seluruh variabel, baik bebas maupun terikat, memiliki kesimpulan bahwa Ho ditolak, yang berarti data berdistribusi tidak normal.

Gambar 3

Grafik Distribusi Data

Sumber : Data diolah, 2006

3.         Uji Asumsi Klasik

3.1.      Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas digunakan untuk menunjukkan ada atau tidaknya hubungan langsung (korelasi) antar variabel bebas. Multikolinearitas terjadi jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) lebih besar dari 10 atau nilai tolerance lebih kecil dari 0,10 (Hair et, al, 1998).

Perumusan hipotesa untuk uji multikolinearitas :

  1. Ho :  tidak ada multikolinearitas
  2. Ha :  ada multikolinearitas

Dasar pengambilan keputusan :

  1. VIF > 10 (Ho ditolak : ada multikolinearitas)
  2. VIF < 10 (Ho diterima : tidak ada multikolinearitas)

Tabel 4

Tabel Uji Multikolinieritas

Sumber: Data diolah, 2006

Tabel 5

Tabel  Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel VIF Keputusan
Total Asset 1.149 Tidak ada multikolinearitas
Net Earnings 1.067 Tidak ada multikolinearitas
DA 1.089 Tidak ada multikolinearitas
Leverage 1.008 Tidak ada multikolinearitas

Sumber : Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa seluruh variabel bebas memiliki VIF < 10. Oleh karena itu, Ho diterima, yang berarti tidak ada multikolinearitas. Maka dapat dikatakan bahwa di antara sesama variabel bebas tidak mempunyai hubungan langsung (tidak berkorelasi), sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

3.2.      Uji Autokorelasi

Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi antara error dengan error periode sebelumnya, dimana pada asumsi klasik hal ini tidak boleh terjadi. Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan Durbin–Watson. Jika nilai Durbin–Watson berkisar diantara nilai batas atas (dU) dan 4-dU maka diperkirakan tidak terjadi pelanggaran autokorelasi.

Dasar pengambilan keputusan uji autokorelasi :

Tabel 6

Keputusan Autokorelasi

Hipotesa Nol (Ho) Keputusan Kriteria
Tidak ada Positif Autokorelasi Ho ditolak 0 < DW < dL
Tidak ada Positif Autokorelasi Tidak ada keputusan dL ≤ DW ≤ dU
Tidak ada Autokorelasi Ho diterima dU < DW < 4-dU
Tidak ada Negatif Autokorelasi Tidak ada keputusan 4-dU ≤ DW ≤ 4-dL
Tidak ada Negatif Autokorelasi Ho ditolak 4-dL < DW < 4

Berikut ini adalah tabel dan gambar hasil pengujian autokorelasi :

Tabel 7

Tabel Hasil Durbin–Watson

Sumber: Data diolah, 2006

Gambar 4

Hasil Uji Autokorelasi

Sumber: Data diolah, 2006

Berdasarkan tabel di atas, diketahui nilai Durbin–Watson untuk hipotesa sebesar 2,154. Nilai Durbin–Watson tersebut berada pada daerah dU < DW < 4-dU, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi pelanggaran autokorelasi (model bebas dari autokorelasi). Sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa model hipotesis diatas terbebas dari permasalahan autokorelasi, sehingga penelitian dapat dilanjutkan.

Pada penelitian ini, sebenarnya, uji autokorelasi ini tidak diperlukan. Hal ini disebabkan karena, data penelitian yang digunakan adalah data pooling. Data pooling adalah data yang, misalnya, banyak perusahaan (lebih dari 1) dengan pengamatan beberapa tahun (lebih dari 1).

3.3.      Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan mengandung variasi residual yang bersifat heterogen. Model regresi yang baik tidak terjadi heteroskedastisitas (harus bersifat homogen).

Heteroskedastisitas dalam model regresi dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 5

Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Scatterplot

Sumber : Data diolah, 2006

Dari gambar grafik pada gambar 4, dapat dilihat bahwa sebaran titik terjadi secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan.

3.4.      Uji Fit Model (R²)

Hasil yang didapatkan dari uji normalitas adalah bahwa data berdistribusi tidak normal. Oleh karena itulah, penulis melakukan uji fit model, untuk melihat apakah model yang digunakan dalam regresi layak untuk dilanjutkan.

Tabel 8

Tabel Fit Model

Sumber : Data diolah, 2006

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa model yang digunakan layak untuk dilanjutkan. Hal tersebut dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi R²-nya adalah sebesar 0,246. Artinya, bahwa variasi dari variabel perataan laba (variabel bebas) mampu menjelaskan variasi dari variabel expected earning (variabel terikat) sebesar 24,6%. Sisanya (75,4%) adalah variasi dari variabel bebas lainnya yang tidak dimasukkan ke dalam model. Maka, model yang digunakan layak dilanjutkan penelitiannya.

4.         Uji Hipotesis

4.1.      Uji Korelasional

Analisis korelasi berfungsi untuk menyatakan derajat keeratan hubungan dan arah hubungan antara 2 variabel. Semakin tinggi nilai korelasi, semakin tinggi keeratan hubungan kedua variabel. Nilai korelasi memiliki rentang antara 0 sampai +1 atau 0 sampai -1. Tanda positif (+) dan negatif (-) menunjukkan arah hubungan kedua variabel tersebut.

Gambar 6

Hubungan Korelasi

(-)        kuat                                                                                         (-)            lemah                                                   (+)       lemah                                                               (+)       kuat

-1                                                                                                                                 -0,5                                                                                                                  0                                                                                                                                              0,5                                                                                                                               1

Berikut adalah tabel hasil pengujian korelasi masing-masing variabel bebas dengan variabel terikat:

Tabel 9

Tabel Korelasi

Sumber : Data diolah, 2006

4.1.1.   Analisis Net Earnings

Hipotesis pertama menguji adanya hubungan positif signifikan antara net earnings (variabel X1) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesis :

Ho1 :  Tidak adanya hubungan positif antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha1 :  Adanya hubungan positif antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan :

  1. Sig. (1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8. Dari tabel tersebut diketahui net earnings dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,000 < 0,05), dengan angka korelasi sebesar 0,354.

Dari hasil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Ho1 ditolak, yang berarti terdapat hubungan positif antara net earnings dengan expected earning (kinerja masa depan). Hubungannya dinamakan korelasi positif lemah karena angka korelasinya (0,354) menunjukkan nilai positif (+) yang mendekati 0,5.

4.1.2.   Analisis Leverage

Hipotesis kedua menguji adanya hubungan positif antara leverage (variabel X2) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesisnya, yaitu :

Ho2 :  Tidak adanya hubungan positif antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha2 :  Adanya hubungan positif antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig.(1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8. Leverage dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,001 < 0,05), dan angka korelasi positif 0,298.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa Ho2 ditolak, sehingga dapat disimpulkan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning) mempunyai hubungan signifikan yang positif. Hubungan tersebut dinamakan korelasi positif lemah, karena angka korelasinya positif dan mendekati 0,5 (angka korelasi : 0,298)

4.1.3.   Analisis Total Asset

Penyusunan hipotesisnya yaitu:

Ho3 :  Tidak adanya hubungan positif antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha3 :  Adanya hubungan positif antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig.(1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan koefisien korelatif positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat di dalam tabel 8 di atas. Total asset dengan expected earning mempunyai hubungan yang signifikan (0,002 < 0,05), serta angka koefisien korelasinya positif 0,283.

Dari hasil di atas, dapat diketahui bahwa Ho3 ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel bebas, total asset, mempunyai hubungan signifikan positif dengan variabel terikatnya, yaitu expected earning. Hubungannya adalah korelasi positif lemah, karena angka korelasinya (0,283) mendekati positif 0,5.

4.1.4.   Analisis Discretionary Accrual

Hipotesis keempat menguji adanya hubungan positif antara discretionary accrual (variabel X4) dengan expected earning (variabel Y).

Penyusunan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatifnya (Ha), yaitu:

Ho4 :  Tidak adanya hubungan positif antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Ha4 :  Adanya hubungan positif antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning).

Dasar pengambilan keputusannya, ialah :

  1. Sig. (1-tailed) > 0,05 (Ho diterima : tidak signifikan)
  2. Sig. (1-tailed) < 0,05 dan angka korelasi negatif (Ho diterima : ada hubungan negatif)
  3. Sig.(1-tailed) < 0,05 dan angka korelasi positif (Ho ditolak : ada hubungan positif)

Hasil uji korelasi antara discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning), dapat dilihat pada tabel 8 di atas. Discretionary accruals dengan expected earning mempunyai hubungan yang tidak signifikan (0,110 > 0,05).

Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ho4 diterima. Hasil tersebut berarti di antara variabel bebas, discretionary accrual, dengan variabel terikatnya, expected earning, tidak terdapat hubungan yang signifikan.

4.2.      Uji Regresi Berganda (Analisis H5)

Uji Regresi Berganda ini dilakukan untuk menganalisa pengaruh perataan laba (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual) terhadap ekspektasi kinerja masa depan (expected earning). Pengujian dilakukan dengan tingkat signikansi 5%.

4.2.1.   Uji F

Uji F merupakan pengujian yang dipakai untuk menganalisa pengaruh seluruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikatnya. Uji F ini membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel pada tingkat keyakinan tertentu, untuk melihat tingkat signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Perumusan hipotesa :

Ho5 :  Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual), secara bersama-sama, tidak mempunyai pengaruh signifikan dengan variabel terikat (expected earning).

Ha5 :  Seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual), secara bersama-sama, mempunyai pengaruh signifikan dengan variabel terikat (expected earning).

Dasar pengambilan keputusan :

  1. Jika F hitung > F tabel (Ho ditolak)
  2. Jika F hitung < F tabel (Ho diterima) atau
  3. Jika sig. F statistik < 0,05 (Ho ditolak : signifikan secara statistik)
  4. Jika sig. F statistik > 0,05 (Ho ditolak : tidak signifikan secara statistik)

Tabel 10

Tabel Hasil Uji F

Sumber : Data diolah, 2006

Dari tabel anova di atas, dapat diketahui bahwa nilai sig. F statistik (0,000) < 0,05. Selain itu, nilai F hitungnya (8,394) > nilai F tabel (2,45). Jadi dapat disimpulkan bahwa Ho5 ditolak, artinya seluruh variabel bebas (net earnings, leverage, total asset, discretionary accrual), secara bersama-sama, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya (expected earning).

4.2.3.   Uji T

Uji-t digunakan untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh antara masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji-t ini membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel, dengan ketentuan interval kepercayaan sebesar 95% dan tingkat signifikansi sebesar 5%.

Perumusan hipotesa untuk Uji-t, adalah :

Ho :   Tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Ha :    Terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Dasar pengambilan keputusan pada Uji-t, yaitu :

  1. Jika t-hitung < t-tabel (Ho diterima : tidak ada pengaruh signifikan)
  2. Jika t-hitung > t-tabel (Ho ditolak : ada pengaruh signifikan) atau
  3. Jika nilai Sig. < 0,05 (signifikan secara statistik : Ho ditolak)
  4. Jika nilai Sig. > 0,05 (tidak signifikan secara statistik : Ho diterima)

Tabel 11

Tabel Uji T

Sumber : Data diolah, 2006

Berdasarkan pada hasil uji-t pada tabel di atas, pengaruh variabel perataan laba, yang terdiri dari net earnings, leverage, total asset, dan discretionary accrual, terhadap expected earning, ialah:

  1. Variabel Net Earnings

Dari hasil uji-t, diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05. Kesimpulannya ialah Ho ditolak, yang berarti ada pengaruh yang signifikan antara net earnings terhadap expected earnings.

  1. Variabel Leverage

Dari hasil uji-t pada tabel 11, diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, yang artinya ada pengaruh yang signifikan antara leverage terhadap expected earning.

  1. Variabel Total Asset

Dari hasil uji-t, dapat diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05. Maka Ho ditolak, yaitu ada pengaruh yang signifikan antara total asset terhadap expected earning.

  1. Variabel Discretionary Accrual

Dari hasil uji-t, dapat diketahui bahwa nilai Sig. sebesar 0,495 lebih besar dari 0,05. Maka Ho diterima, yang artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara discretionary accrual terhadap expected earning.

4.3.      Interpretasi Hasil Penelitian

  1. Hubungan antara net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif (+) lemah yang nilainya mendekati 0,5. Hal ini terjadi karena ekspetasi kinerja masa depan (expected earning) didapatkan dengan memperhitungkan net earnings tahun ini dengan growth (tingkat pertumbuhan pendapatan). Jadi, ada faktor lain selain net earnings yang berhubungan dengan expected earning. Faktor lain tersebut adalah faktor ekonomi, faktor politik, dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi dan berhubungan dengan penerimaan pendapatan suatu perusahaan.
    1. Hubungan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif  (+) lemah, yang nilai korelasinya mendekati 0,5. Leverage merupakan salah satu pengukuran dalam keuangan, yang menghitung bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang. Ada kalanya perusahaan, dalam rangka mendapatkan hal-hal yang mendukung kegiatan operasional perusahaan, harus berhutang kepada pihak lain (pemasok, bank, dll). Pihak-pihak lain tersebut tidak akan memberikan hutang, bila perusahaan tidak mempunyai modal yang cukup agar hutang-hutang tersebut dapat terbayarkan. Bila pihak-pihak tersebut tidak mempercayai perusahaan sehingga pendukung kegiatan operasional terganggu, maka pengaruhnya akan terlihat pada ekspektasi pendapatan perusahaan (expected earning).
    2. Hubungan antara total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan adalah korelasi positif lemah. Hal ini disebabkan karena total asset mempunyai hubungan dengan kelangsungan kegiatan operasional perusahaan. Produksi barang maupun penjualannya tidak dapat terlaksana tanpa didukung oleh asset perusahaan, namun asset ini hanyalah sebagian kecil pendukung kegiatan operasional. Karena itulah, hubungannya adalah korelasi (+) lemah. Faktor yang lebih dominan hubungannya dengan expected earning adalah omzet penjualan perusahaan.
    3. Variabel discretionary accrual tidak mempunyai hubungan (korelasi) dengan ekspektasi kinerja masa depan. Hasil tersebut tidak konsisten dengan penelitian sebelumnya (Sugiarto, 2003), dalam penelitian itu disebutkan bahwa ada hubungan antara discretionary accrual dengan ekspektasi kinerja masa depan. Hal ini mungkin terjadi karena penulis tidak membedakan kinerja masa depan yang buruk dengan kinerja masa depan yang baik.
    4. Pengaruh variabel bebas, secara bersama-sama, terhadap variabel terikat dengan menggunakan Uji F adalah signifikan. Jika secara individu, yang berpengaruh hanya variabel net earnings, leverage, dan total asset. Sementara variabel discretionary accrual tidak berpengaruh signifikan terhadap expected earning. Hal ini terjadi karena efek dari discretionary accrual dapat terlihat jika ekspektasi kinerja (laba) perusahaan dibagi ke dalam kinerja yang baik dan kinerja yang buruk.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat net earnings dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earnings) perusahaan. Hubungannya disebut dengan korelasi positif lemah, karena angka korelasinya sebesar 0,354.
  2. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan. Hubungan antara leverage dengan ekspektasi kinerja masa depan adalah korelasi positif lemah, dengan angka korelasi 0,298..
  3. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat total asset dengan ekspektasi kinerja masa depan (expected earning) perusahaan. Hubungan yang terjadi adalah korelasi positif lemah, dengan angka korelasi sebesar 0,283.
  4. Hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat discretionary accruals dengan ekspektasi kinerja masa depan perusahaan. Hal ini disebabkan karena menurut hasil uji korelasi, angka signifikansinya sebesar 0,110 dan angka korelasinya negatif 0,119.
  5. Hasil analisis regresi berganda, dengan uji F, menyatakan bahwa variabel bebas perataan laba, secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikatnya. Hal tersebut disebabkan karena nilai F hitungnya (8,394) > nilai F tabel (2,45) dan nilai sig. F statistiknya (0,000) < 0,05.

B.        Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang apabila mampu diatasi akan dapat memperbaiki hasil penelitian selanjutnya. Keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kurang besarnya jumlah sampel, yaitu 36 perusahaan.
  2. Data pengamatan hanya 3 tahun (2002–2005), sehingga hasil penelitian yang dilakukan sebaran datanya terbatas.
  3. Variabel penelitian yang digunakan hanya variabel: (a) net earnings; (b) leverage; (c) total asset; dan (d) discretionary accrual..

C.        Saran

Beberapa saran yang disarankan oleh peneliti, ialah:

  1. Perlunya menambah jumlah sampel penelitian, yang mungkin akan meningkatkan hasil penelitian.
  2. Perlunya menambah periode pengamatan agar dapat meningkatkan kualitas penelitian selanjutnya.
  3. Perlunya menambah variabel penelitian, terutama dari segi size (ukuran) perusahaan dan lainnya, agar dapat meningkatkan hasil penelitian berikutnya.
  4. Mencoba melakukan pengujian per tahun data, bukan secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A., Randal J. Elder, Mark S. Beasley (2005). Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, Tenth Edition, Prentice Hall International.

Gitman, Lawrence J. (2003). Principles of Managerial Finance, Tenth Edition, Addison Wesley.

Harahap, Sofyan Syafri (2005). Teori Akuntansi, Jakarta: Rajawali Pers.

Harahap, Sofyan Syafri (2004). Akuntansi Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Harahap, Sofyan Syafri (2001). Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, Jakarta: Pustaka Quantum.

IAI (2005). Pedoman Etika Akuntan. (www document) http://www.iaiglobal.or.id (diakses 8 Agustus 2006).

Jakaria; Berlianti, Dita Oki dan Soeryaputri, Rossje V.M. (2005). Modul Laboratorium Alat Analisis, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.

Jones, Charles P. (2004). Investments Analysis & Management, Ninth Edition, Prentice Hall International.

Kusuma, Hadri dan Wigiya A. U. Sari (2003). Manajemen Laba Oleh Perusahaan Pengakuisisi Sebelum Merger dan Akuisisi di Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia Volume 7, No.1, Juni 2003, p. 21-36.

Riahi, Ahmed dan Belkaoui (2004). Accounting Theory, Fifth Edition, Thomson Learning.

Sucipto (2003). Analisis PSAK No.23 Tentang Pendapatan. (www document) http://www.google.com (diakses 8 Agustus 2006).

Tim Studi Analisis Laporan Keuangan Secara Elektronik (2005). Studi tentang Analisis Laporan Keuangan Secara Elektronik. (www document) http://www.bapepam.go.id (diakses 8 Agustus 2006).

Scott, William R (2000). Financial Accounting Theory, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Suhendah, Rousilita (2005). Earning Management, Jurnal Akuntansi/Th.IX/02/Mei/2005, p. 195-205.

Sugiarto, Sopa (2003). Perataan Laba Dalam Mengantisipasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Makalah dipresentasikan dalam Simposium Nasional Akuntansi VI.

Suryaputri, Rossje V. dan Christina Dwi A. (2003). Pengaruh Faktor Leverage, Devidend Payout, Size, Earning Growth and Country Risk Terhadap Price Earnings Ratio, Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi,Vol.3, No.1 April 2003, p. 1-23.

Trihendradi, Cornelius (2005). Step by Step SPSS 13 : Analisis Data Statistik, Yogyakarta: Penerbit Andi.

Faktor Pendukung Institusi Lembaga Keuangan Sari’ah

July 19, 2010 Leave a comment

Oleh : H. Jazuli Suryadhi *)

Abstrack :

Ada sejumlah alasan mengapa institusi keuangan konvensional yang ada sekarang ini mulai melirik sistem syariah, antara lain pasar yang potensial karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan kesadaran mereka untuk berperilaku bisnis secara Islami. Oleh karenanya perlu adanya lembaga yang mendampingi lembaga keuangan syari’ah tersebut seperti; Ulama yang menguasai ilmu syariat sehingga mampu menghasilkan fatwa-fatwa yang valid dan akurat.

Kehadiran fatwa-fatwa ini menjadi aspek organik dari bangunan ekonomi Islami yang tengah ditata/dikembangkan, sekaligus merupakan alat ukur bagi kemajuan ekonomi syari’ah di Indonesia. Fatwa merupakan salah satu institusi dalam hukum Islam untuk memberikan jawaban dan solusi terhadap problem yang dihadapi umat. Bahkan umat Islam pada umumnya menjadikan fatwa sebagai rujukan di dalam bersikap dan bertingkah laku.

Para ulama yang berkompeten terhadap hukum-hukum syariah memiliki fungsi dan peran yang amat besar dalam perbankan syariah, yaitu sebagai Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Dewan Syariah Nasional (DSN). Fungsi utama para ulama yang yang tergabung dalam Dewan Pengawas Syariah (DPS) Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam.

Pendahuluan

Perkembangan ekonomi syari’ah di Indonesia demikian cepat, khususnya perbankan, asuransi dan pasar modal. Jika pada tahun 1990-an jumlah kantor layanan perbankan syariah masih belasan, maka tahun 2000an, jumlah kantor pelayanan lembaga keuangan syariah itu melebihi enam ratusan yang tersebar di seluruh  Indonesia. Asset perbankan syari’ah ketika itu belum mencapai Rp 1 triliun, maka saat ini assetnya lebih dari Rp 22 triliun. Lembaga asuransi syariah pada tahun 1994 hanya dua buah yakni Asuransi Takaful Keluarga dan Takaful Umum, kini telah berjumlah 34 lembaga asuransi syariah (Data AASI 2006)[1]. Demikian pula obligasi syariah tumbuh pesat mengimbangi asuransi dan perbankan syariah.

1. Lembaga Pemberi Fatwa

Salah satu lembaga yang berwenang memberikan aturan/arahan selain lembaga yang dibentuk pemerintah adalah Majlis Ulama Indonesia dalam hal ini Dewan Syariah Nasional (DSN)

Para praktisi ekonomi syari’ah, masyarakat dan pemerintah (regulator) membutuhkan fatwa-fatwa syariah dari lembaga ulama (MUI) berkaitan dengan praktek dan produk di lembaga-lembaga keuangan syariah tersebut. Perkembangan lembaga keuangan syariah yang demikian cepat harus  diimbangi dengan fatwa-fatwa hukum syari’ah yang valid dan akurat, agar seluruh produknya memiliki landasan yang kuat secara syari’ah. Untuk itulah Dewan Syari’ah Nasional (DSN) dilahirkan pada tahun 1999 sebagai bagian dari Majlis Ulama Indonesia.[2]

2. Kedudukan Fatwa

Fatwa merupakan salah satu institusi dalam hukum Islam untuk memberikan jawaban dan solusi terhadap problem yang dihadapi umat. Bahkan umat Islam pada umumnya menjadikan fatwa sebagai rujukan di dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebab posisi fatwa di kalangan masyarakat umum, laksana dalil di kalangan para mujtahid (Al-Fatwa fi Haqqil ’Ami kal Adillah fi Haqqil Mujtahid). Artinya, Kedudukan fatwa bagi orang kebanyakan, seperti dalil bagi mujtahid.[3]

Kehadiran fatwa-fatwa ini menjadi aspek organik dari bangunan ekonomi Islami yang tengah ditata/dikembangkan, sekaligus merupakan alat ukur bagi kemajuan ekonomi syari’ah di Indonesia. Fatwa ekonomi syari’ah yang telah hadir itu  secara teknis menyuguhkan model pengembangan bahkan pembaharuan fiqh muamalah maliyah. (fiqh ekonomi) Secara fungsional, fatwa  memiliki fungsi Tabyin dan Tawjih. Tabyin artinya menjelaskan hukum yang merupakan regulasi praksis bagi lembaga keuangan, khususnya yang diminta praktisi ekonomi syariah ke DSN dan Taujih, yakni  memberikan guidance (petunjuk) serta pencerahan kepada masyarakat luas tentang norma ekonomi syari’ah. [4]

Memang dalam kajian ushul fiqh, kedudukan fatwa hanya mengikat bagi orang yang meminta fatwa dan yang memberi fatwa. Namun dalam konteks ini, teori itu tidak sepenuhnya bisa diterima, karena konteks, sifat, dan karakter fatwa  saat ini telah berkembang dan berbeda dengan fatwa klasik. Teori lama tentang fatwa harus direformasi dan diperpaharui sesuai dengan perkembangan dan proses terbentuknya fatwa. Maka teori fatwa hanya mengikat mustaft (orang yang minta fatwa) tidak relevan untuk fatwa DSN.  Fatwa ekonomi syariah DSN saat ini tidak hanya mengikat bagi praktisi lembaga ekonomi syariah, tetapi juga bagi masyarakat Islam Indonesia, apalagi fatwa-fatwa itu kini telah dipositivisasi melalui Peraturan  Bank Indonesia (PBI). Bahkan DPR baru-baru ini, telah mengamandemen UU No 7/1989 tentang Perdilan Agama yang secara tegas memasukkan masalah ekonomi syariah sebagai wewenang Peradilan Agama.

Fatwa-fatwa ekonomi syari’ah saat di Indonesia dikeluarkan melalui proses dan formula fatwa kolektif, koneksitas dan melembaga yang disebut ijtihad jama’iy (ijtihad ulama secara kolektif), bukan ijtihad fardi (individu), Validitas jama’iy dan fardi jelas sangat berbeda. Ijtihad jama’iy telah mendekati ijma’. Seandainya hanya negara Indonesia yang ada di dunia ini, pastilah kesepakatan para ahli dan ulama Indonesia itu disebut Ijma’.

Fatwa dalam definisi klasik bersifat opsional ”ikhtiyariah” (pilihan yang tidak mengikat secara legal, meskipun mengikat secara moral  bagi  mustafti (pihak yang meminta fatwa), sedang bagi selain mustafti bersifat ”i’lamiyah” atau informatif yang lebih dari sekedar wacana. Mereka terbuka untuk mengambil fatwa yang sama atau meminta fatwa kepada mufti/seorang ahli yang lain.

Jika ada lebih dari satu fatwa mengenai satu masalah yang sama maka ummat boleh memilih mana yang lebih memberikan qana’ah (penerimaan/kepuasan)  secara argumentatif  atau secara batin. Sifat fatwa yang demikian membedakannya dari suatu putusan peradilan (qadha) yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi para pihak yang berperkara.

Namun, keberadaan fatwa ekonomi syari’ah yang dikeluarkan DSN di zaman kontemporer ini, berbeda dengan proses fatwa di zaman klasik yang cendrung individual atau lembaga parsial.  Otoritas fatwa tentang ekonomi syari’ah di Indonesia, berada dibawah Dewan Syari’ah Nasional Majlis Ulama Indonesia. Komposisi anggota plenonya terdiri dari para ahli syari’ah dan ahli ekonomi/keuangan yang mempunyai wawasan syari’ah. Dalam membahas masalah-masalah yang hendak dikeluarkan fatwanya, Dewan Syari’ah Nasional (DSN) melibatkan pula lembaga mitra seperti Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia dan Biro Syari’ah dari Bank Indonesia.

Fatwa dengan definisi klasik  mengalami pengembangan dan penguatan posisi dalam fatwa kontemporer yang melembaga dan kolektif di Indonesia. Baik yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI untuk masalah keagamaan dan kemasyarakatan secara umum, maupun yang dikeluarkan oleh DSN MUI untuk fatwa tentang masalah ekonomi syari’ah khususnya Lembaga Ekonomi Syari’ah. Fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI menjadi  rujukan yang berlaku umum serta mengikat bagi ummat Islam di Indonesia, khususnya secara moral. Sedang fatwa DSN menjadi rujukan yang mengikat bagi lembaga-lembaga keuangan syari’ah  (LKS) yang ada di tanah air, demikian pula mengikat masyarakat yang berinteraksi dengan LKS.

3. Kaedah dan Prinsip

Fiqh muamalah klasik yang ada tidak sepenuhnya relevan lagi diterapkan, karena bentuk dan pola transaksi yang berkembang di era modern ini demikian cepat. Sosio-ekonomi dan bisnis masyarakat sudah jauh  berubah dibanding kondisi di masa lampau. Oleh karena itu, dalam konteks ini diterapkan dua kaedah.

Pertama,

Al-muhafazah bil qadim ash-sholih wal akhz bil jadid aslah, yaitu, memelihara warisan intelektual klasik yang masih relevan dan membiarkan terus praktek yang telah ada di zaman modern, selama tidak ada petunjuk yang mengharamkannya.

Kedua,

Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah hatta yadullad dalilu ’ala at-tahrim (Pada dasarnya semua praktek muamalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya).

Selain itu para ulama berpegang kepada prinsip-prinsip utama muamalah, seperti; prinsip bebas riba, bebas gharar (ketidak-jelasan atau ketidakpastian) dan tadlis, tidak maysir (spekulatif), bebas produk haram dan praktek akad fasid/batil. Prinsip ini tidak boleh dilanggar, karena telah menjadi aksioma dalam fiqh muamalah.Formulasi  fatwa juga berpegang pada prinsip maslahah atau ”ashlahiyah”  mana yang maslahat atau lebih maslahat untuk dijadikan opsi yang difatwakan. Konsep maslahah dalam muamalah menjadi prinsip yang paling penting. Dalam ushul fiqh telah populer kaedah, ”Di mana ada mashlalah, maka di situ ada syariah Allah”. Watak maslahat syar’iyah antara lain berpihak kepada semua pihak atau berlaku umum, baik maslahat bagi lembaga syariah, nasabah, pemerintah (regulator) maupun masyarakat luas.

Kemaslahatannya tidak hanya diakui secara tanzhiriyah (perhitungan teoritis) tetapi juga secara tajribiyah (pengalaman empirik di lapangan). Karena itu untuk menguji shalahiyah  (validitas) fatwa, harus diadakan muraja’ah maidaniyah (pencocokan di lapangan) setelah berjalan waktu yang cukup dalam  implementasi fatwa ekonomi. Apakah kemaslahatan dalam tataran teoritis mendapatkan pembenaran dalam penerapannya di lapangan.

4. Peran Strategis Ulama

Sejarah mengenal ulama bukan semata sebagai sosok berilmu, melainkan juga sebagai penggerak dan motivator masyarakat. Kualitas keilmuan para ulama telah mendorongmendorong mereka untuk aktif membimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Terumuskannya system ekonomi Islam secara konseptual, termasuk system perbankan syariah, adalah buah dari kerja keras para ulama.

Sebelum perbankan konvensional dikenal, masyarakat sebenarnya telah melaksanakan transaksi berdasarkan muamalah Islam. Dalam pertanian dan perkebunan dikenal adanya istilah maro,nelu, dan sebagainya yang merupakan istilah lain dari bagi hasil. Hal demikian dimungkinkan dengan arahan dari para ulama masa lampau yang mengerti tentang pembagian hasil menurut ajaran Islam. Dalam kehidupan modern, sekali lagi, para ulama berperan untuk mewujudkan bank Islam seperti yang sekarang dikenal.

Para ulama yang berkompeten terhadap hukum-hukum syariah memiliki fungsi dan peran yang amat besar dalam perbankan syariah, yaitu sebagai Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Dewan Syariah Nasional (DSN).

  1. 1. Dewan Pengawas Syariah (DPS)

Peran utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalannya operasional bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hal ini karena transaksi-transaksi yang berlaku dalam bank syariah sangat khusus jika dibandingkan bank konvensional. Karena itu, diperlukan garis panduan (guidelines) yang mengaturnya. Garis panduan ini disusun dan ditentukan oleh Dwan Syariah Nasional.[5]

  1. 2. Dewan Syariah Nasional (DSN)

Sejalan dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah di tanah air, berkembang pulalah jumlah DPS yang ada dan mengawasi masing-masing lembaga tersebut. Banyak dan beragamnya DPS di masing-masing lembaga keuangan syariah adalah suatu hal yang harus disyukuri, tetapi juga diwaspadai. Kewaspadaan itu berkaitan dengan adanya kemungkinan timbulnya fatwa yang berbeda dari masing-masing DPS dan hal itu tidak mustahil akan membingungkan umat dan nasabah. Oleh karena itu, MUI sebagai paying dari lembaga dan organisasi keislaman di tanah air, menganggap perlu dibentuknyasatu dewan syariah yang bersipat nasional dan membawahi seluruh lembaga keuangan, termasuk di dalamnya bank-bank syariah. Lembaga ini kelak kemudian dikenal dengan Dewan Syariah Nasional (DSN).

Dewan Syariah Nasional dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi  Lokakarya Reksadana Syariah pada bulan Juli tahun yang sama. Lembaga ini merupakan lembaga otonom di bawah Majelis Ulama Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Sekretaris (ex officio). Kegiatan sehari-hari Dewan Syariah Nasioanal dijalankan oleh Badan Pelaksana Harian dengan seorang ketua dan sekretaris serta beberapa anggota.

Fungsi utama Dewan Syariah Nasional adalah mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam. Dewan ini bukan hanya mengawasi bank syariah, tetapi juga lembaga-lembaga lain seperti asuransi, reksadana, modal ventura, dan sebagainya. Untuk keperluan pengawasan tersebut, Dewan Syariah Nasioanl membuat garis panduan produk syariah yang diambil dari sumber-sumber hukum Islam. Garis panduan ini menjadi dasar pengawasan bagi Dewan Pengawas Syariah pada lembaga-lembaga keuangan syariah dan menjadi dasar pengembangan produk-produknya.

Fungsi lain dari Dewan Syariah Nasional adalah meneliti dan memberi fatwa bagi produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga keuangan syariah. Produk-produk baru tersebut harus diajukan oleh manajemen setelah direkomendasikan oleh Dewan Pengawas syariah pada lembaga yang bersangkutan.

Selain itu, Dewan Syariah Nasional bertugas memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai Dewan Syariah Nasional pada suatu lembaga keuangan syariah

Dewan Syariah Nasional dapat memberi teguran kepada lembaga keuangan syariah jika lembaga yang bersangkutan menyimpang dari garis panduan yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan jika Dewan Syariah Nasioanl telah menerima laporan dari Dewan Pengawas Syariah pada lembaga yang bersangkutan mengenai hal tersebut.[6]

Jika lembaga keuangan syariah tersebut tidak mengindahkan teguran yang diberikan, Dewan Syariah Nasioanl dapat mengusulkan kepada otoritas yang berwenang, seperti Bank Indonesia dan departemen Keuangan, untuk memberikan sanksi agar perusahaan tersebut tidak mengembangkan lebih jauh tindakan-tindakannya yang tidak sesuai dengan syariah. Secara garis besar, tugas dan mekanisme kerja DSN.

5. Produk Fatwa DSN

Sejak berdirnya tahun 1999, Dewan Syariah Nasional, telah mengeluarkan sedikitnya 47 fatwa tentang ekonomi syariah, antara lain, fatwa tentang; giro, tabungan, murabahah, jual beli salam, istishna’, mudharabah, musyarakah, ijarah, wakalah, kafalah, hawalah, uang muka dalam murabahah, sistem distribusi hasil usaha dalam lembaga keuangan syari’ah, diskon dalam murabahah, sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran, pencadangan penghapusan aktiva produktiv dalam LKS, al-qaradh, investasi reksadana syariah, pedoman umum asuransi syariah, jual beli istisna’ paralel, potongan pelunasan dalam murabahah, safe deposit box, raha (gadai), rahn emas, ijarah muntahiyah bit tamlik, jual beli mata uang, pembiayaan pengurusan haji di LKS, pembiayaan rekening koran syariah, pengalihan hutang, obligasi syariah, obligasi syariah mudharabah, Letter of Credit (LC) impor syariah, LC untuk export, sertifikat wadiah Bank Indoensia, Pasar Uang antar Bank Syariah, sertifikat investasi mudharabah (IMA), asuransi haji, pedoman umum penerapan prinsip syariah di pasar modal, obligasi syariah  ijarah, kartu kredit, dsb.[7]

Kesimpulan :

Keberadaan sebuah dewan syariah tentu saja sangat penting bagi sebuah lembaga, baik profit atau pun non profit.

Sebab pada saat ini, ada sekian banyak permasalahan yang bersifat syubhat dan kompleks, sehingga kita semua ini membutuhkan advisor / concelor yang terkait dalam masalah halal dan haram. Sedangkan tsaqafah dan wawasan umat Islam di negeri ini umumnya sangat kurang.

Kalau menemukan sekedar orang-orang yang punya semangat ke-Islaman atau pandai berceramah sehingga menarik pendengar, barangkali tidak terlalu sulit. Tetapi kalau menemukan ulama yang mendalami detail-detail masalah dari sudut pandang hukum Islam / syariah, tentu bukan hal yang sederhana. Sebab jumlah ulama yang ahli di bidang itu sangat sedikit, sedangkan kebutuhan atas jasanya sedemikian banyak.

Di sisi lain, dinamika aktifitas sehari-hari yang semakin cepat, maka keberadaan sebuah badan khusus yang menangani masalah syariah menjadi penting. Badan atau dewan ini kerjanya adalah melakukan pengawasan dan pengkajian tentang segala hal yang terkait dengan hukum Islam.

Sebuah perusahaan yang ingin dikelola dengan cara-cara yang Islami, tentu saja mutlak membutuhkan sebuah dewan syariah. Sebuah hotel yang ingin menerapkan identitas hotel Islami, mutlak membutuhkannya. Sebuah partai yang mengangkat diri sebagai partai Islam, juga mutlak wajib memiliki dewan syariah.

Adapun hukum apakah yang dipakai ? Jawabnya tentu hukum Islam. Sebab keberadaan dewan syariah itu bukan sebagai penasehat hukum positif, melainkan sebagai penasehan hukum Islam.

*   Mahasiswa (S2) Magister Study Islam (Konsentrasi Ekonomi Islam) Universitas Islam

Indonesia Jogjakarta.

*    Stap Direktorat Kemahasiswaan Universitas Mercu Buana Jakarta

*    Ketua Yayasan Pendidikan Islam Syifa Fikriya Cikande Serang Banten

Prospek Ekonomi Syariah dan Kesejahteraan Umat

Ada sejumlah alasan mengapa institusi keuangan konvensional yang ada sekarang ini mulai melirik sistem syariah, antara lain pasar yang potensial karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan kesadaran mereka untuk berperilaku bisnis secara Islami. Potensi ini menjadi modal bagi perkembangan ekonomi umat di masa datang. Selain itu, terbukti bahwa institusi ekonomi yang menerapkan prinsip syariah, mampu bertahan di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Di sektor perbankan saja misalnya, sampai tahun 2010 nanti jumlah kantor cabang bank-bank syariah diperkirakan akan mencapai 586 cabang. Prospek perbankan syariah di masa depan diperkirakan juga akan semakin cerah. Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia, Burhadin Abdullah di sela-sela acara dialog ekonomi syariah di Jakarta pekan lalu. Burhanudin mengatakan bank-bank yang ada sekarang bisa memanfaatkan kebijakan dihilangkannya Batas Minimum Penyaluran Kredit (BMPK) untuk melakukan penyertaan pada bank lain.

”Ini satu kesempatan bagi bank untuk membuka unit-unit syariah. Misalnya bank A yang merupakan bank konvensional, dia bisa melakukan penyertaan di bank syariah tanpa dibatasi oleh BMPK. Di masa lalu batasnya 10 persen, sekarang tidak ada lagi,” jelas Burhanudin.

Selain perbankan, sektor ekonomi syariah lainnya yang juga mulai berkembang adalah asuransi syariah. Prinsip asuransi syariah pada intinya adalah kejelasan dana, tidak mengadung judi dan riba atau bunga. Sama halnya dengan perbankan syariah, melihat potensi umat Islam yang ada di Indonesia, prospek asuransi syariah sangat menjanjikan. Dalam sepuluh tahun ke depan diperkirakan Indonesia bisa menjadi negara yang pasar asuransinya paling besar di dunia. Seorang CEO perusahaan asuransi syariah asal Malaysia, Syed Moheeb memperkirakan, tahun 2008 mendatang asuransi syariah bisa mencapai 10 persen market share asuransi konvensional.

Data dari Asosiasi Asuransi Syariah di Indonesia menyebutkan, tingkat pertumbuhan ekonomi syariah selama 5 tahun terakhir mencapai 40 persen, sementara asuransi konvensional hanya 22,7 persen. Perbankan dan asuransi, hanya salah satu dari industri keuangan syariah yang kini sedang berkembang pesat. Pada akhirnya, sistem ekonomi syariah akan membawa dampak lahirnya pelaku-pelaku bisnis yang bukan hanya berjiwa wirausaha tapi juga berperilaku Islami, bersikap jujur, menetapkan upah yang adil dan menjaga keharmonisan hubungan antara atasan dan bawahan.

Bisa dibayangkan kesejahteraan yang bisa dinikmati umat jika penerapan ekonomi syariah ini sudah mencakup segala aktivitas ekonomi di Indonesia. Peluang penerapan ekonomi syariah masih terbuka luas. Persoalannya sekarang, mampukah kita memanfaatkan peluang yang terbuka lebar itu.

Dukungan Pemerintah Belum Memadai

Meski sudah menunjukkan eksistensinya, masih banyak kendala yang dihadapi bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Soal pemahaman masyarakat hanya salah satunya. Kendala lainnya yang cukup berpengaruh adalah dukungan penuh dari para pengambil kebijakan di negeri ini, terutama menteri-menteri dan lembaga pemerintahan yang memiliki wewenang dalam menentukan kebijakan ekonomi. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pada masa kampanye pemilu kemarin menyatakan mendukung ekonomi syariah, belum sepenuhnya mewujudkan dukungannya itu dalam bentuk program kerja tim ekonomi kabinetnya.

Berkaitan dengan hal itu, dalam di sela-sela sebuah acara dialog ekonomi syariah, praktisi perbankan syariah A. Riawan Amin mengatakan bahwa keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi syariah sangat penting, karena hal ini bukan semata-mata menyangkut mayoritas umat Islam di Indonesia tapi berkaitan dengan masalah stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, para ekonom yang ada di kabinet saat ini sebaiknya meninggalkan sistem ekonomi kapitalis dan mengikuti aturan main kapitalis, sehingga bisa keluar dari krisis. Riawan mengaku untuk saat ini para pelaku ekonomi syariah belum terlalu menuntut pemerintah untuk lebih berpihak pada sistem ekonomi syariah. ”Mereka mau mengerti saja, itu sudah bagus,” ujarnya. Meski demikian ada harapan dari sejumlah kementerian yang sudah menyatakan dukungannya terhadap sistem ekonomi syariah, antara lain dari Kementerian Pertanian dan Kementerian BUMN.

Kendala lainnya adalah masalah regulasi. Penerapan syariah yang makin meluas dari industri keuangan dan permodalan membutuhkan regulasi yang tidak saling bertentangan atau tumpang tindih dengan aturan sistem ekonomi konvensional. Para pelaku ekonomi syariah sangat mengharapkan regulasi untuk sistem ekonomi syariah ini bisa memudahkan mereka untuk berekspansi bukan malah membatasi. Saat ini, peraturan tentang permodalan masih menjadi kendala perbankan syariah untuk melakukan penetrasi dan ekpansi pasar.

Kenyataan di lapangan menunjukkan, bahwa para pelaku ekonomi syariah masih menghadapi tantangan berat untuk menanamkan prinsip syariah sehingga mengakar kuat dalam perekonomian nasional dan umat Islamnya itu sendiri. Berkaitan dengan hal tersebut, Sudarman Lc., anggota DPRD I Banten dalam sebuah dialog ekonomi syariah beberapa waktu lalu mengingatkan, penerapan ekonomi syariah harus dipahami sebagai bagian integral dari penerapan syariat Islam secara kaffah. Penerapan hukum syariah dalam perekonomian tidak akan berhasil tanpa didukung penerapan hukum syariah di bidang yang lain. Teori dan sistem ekonomi syariah yang baik, bukan jaminan bagi penegakan perekonomian Islam kalau kaum muslimin sebagai pelaku ekonominya belum terlembagakan dengan baik.

Salah satu institusi keuangan syariah yang saat ini tengah berkembang adalah pasar modal syariah. Hal ini tidak lepas dari semakin berkembangnya industri keuangan syariah yang pertumbuhannya sangat cepat, terutama dalam satu dekade terakhir.

Menurut riset Bank Negara Malaysia (bank sentral Malaysia) tahun 2005, dana yang dimiliki umat Islam atau pelaku pasar Muslim di bursa-bursa di seluruh dunia, mencapai angka sekitar 1,3 triliun dolar AS. Sedangkan dana yang terhimpun di pasar keuangan Islam di seluruh dunia diperkirakan 230 miliar dolar AS, dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 12-15 persen per tahun. Kemudian, jumlah institusi keuangan syariah saat ini mencapai lebih dari 250 buah, tersebar di 75 negara. Sementara jumlah fund manager syariah tercatat lebih dari 100 buah institusi dengan total aset yang dikelola mencapai 5 miliar dolar AS.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa potensi dana yang dimiliki umat Islam sangat besar. Tingginya pertumbuhan pasar keuangan syariah juga didorong pembentukan berbagai macam lembaga keuangan tingkat internasional. Misalnya the Islamic Financial Services Boards (IFSB) yang terdiri atas berbagai bank sentral negara-negara Islam terkait, the International Islamic Financial Market (IIFM), dan the Accounting and Auditing Organizations for Islamic Financial Institutions (AAOIFI). Organisasi terakhir berbasis di Bahrain, dan merupakan lembaga yang memiliki fokus pada pengembangan sistem akuntansi dan audit yang sesuai syariah dan dapat diterima secara internasional.

Kontribusi lembaga-lembaga tersebut sangat signifikan, sehingga diharapkan dapat menstimulasi institusi-institusi keuangan syariah lainnya, termasuk di Indonesia, untuk terus dapat mengembangkan dirinya.

Belajar dari Malaysia

Pepatah mengatakan ”pengalaman adalah guru terbaik”. Demikian pula dalam membangun dan mengembangkan sistem pasar keuangan syariah. Kita membutuhkan pengalaman negara lain sebagai cermin langkah dan strategi yang akan dikembangkan. Salah satu negara yang dikenal sebagai pioner pengembangan pasar keuangan syariah adalah Malaysia.

Sejak Kementerian Keuangan Malaysia mengeluarkan Capital Market Masterplan pada tahun 2001 yang memuat 13 rekomendasi untuk menjadikan Malaysia sebagai international centre bagi industri keuangan syariah, pertumbuhan pasar keuangan Islam Malaysia menunjukkan kinerja luar biasa. Sebagai contoh, jumlah saham yang tercatat di bursa syariah mencapai 816 buah pada tahun 2005, naik sebesar 4,9 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai angka 778 saham. Persentase saham syariah mencapai 82,5 persen dari total keseluruhan saham yang listed di bursa pada tahun 2005, atau meningkat 80,8 persen dari tahun sebelumnya, dengan kapitalisasi pasar yang mencapai 64 persen.

Prestasi lainnya, 36 persen dari total equity fund di seluruh dunia tercatat di bursa syariah Malaysia, dengan nilai 1,8 miliar dolar AS (dari total 5 miliar dolar AS). Hal tersebut mengindikasikan pasar modal syariah Malaysia telah mendapatkan kepercayaan yang kuat dari investor. Bahkan, Komisi Sekuritas Malaysia telah menggandeng Dow Jones dengan memperkenalkan Dow Jones-RHB Islamic Malaysia Index untuk mengintegrasikan pasar domestik dengan pasar internasional. Dengan performance seperti itu, wajarlah jika kemudian banyak negara Muslim mencoba mengikuti jejak Malaysia.


[1] http://www.media-indonesia.com

[2] Antonio Sjafi’I, Bank Sjariah dari teori ke praktek, Tazkia Cendekia-Gema Insani Pers, Jakarta, 2001, cetakan 1.

[3] Sakti, Ali, Analisis Teoritis Ekonomi Islam, Aqsa Publishing / Paradigma, tahun 2007 cetakan 1, hal 7

[4] Antonio Sjafi’I, Bank Sjariah dari teori ke praktek, Tazkia Cendekia-Gema Insani Pers, Jakarta, 2001, cetakan 1.

[5] Antonio Sjafi’I, Bank Sjariah dari teori ke praktek, Tazkia Cendekia-Gema Insani Pers, Jakarta, 2001, cetakan 1. hal, 233

[6] Antonio Sjafi’I, Bank Sjariah dari teori ke praktek, Tazkia Cendekia-Gema Insani Pers, Jakarta, 2001, cetakan 1. hal 234

[7] Remy Syahdeni, Sutan, DR. Prof. Perbankan Islam (dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia) Grafiti, cetakan 2, tahun 2005, halaman 27.

PENGERTIAN BMT

July 19, 2010 Leave a comment

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian BMT

Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu baitul mal dan baitut tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak dan shodaqoh. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dan dan penyaluran dana komersial (Prof. H A. Djazuli:2002).

B. Sejarah BMT

Di Indonesia sendiri setelah berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) timbul peluang untuk mendirikan bank-bank yang berprinsip syariah. Operasinalisasi BMI kurang menjangkau usaha masyakat kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan bank dan lembaga keuangan mikro, seperti BPR syariah dan BMT yang bertujuan untuk mengatasi hambatan operasioanal daerah.

Disamping itu di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang hidup serba berkecukupan muncul kekhawatiran akan timbulnya pengikisan akidah. Pengikisan akidah ini bukan hanya dipengaruhi oleh aspek syiar Islam tetapi juga dipengaruhi oleh lemahnya ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu peran BMT agar mampu lebih aktif dalam memperbaiki kondisi tersebut.

19

Propinsi Lampung BMT mulai ada dengan dirintisnya Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), maka pada Tahun 1996 Lahirlah BMT Swadaya dengan berdiri 30 BMT. Sedang pada tahun 1998 dengan bantuan Pemerintah propinsi ketika itu membantu berdirinya 17 BMT, berkembang kembali pada tahun 1999 dengan melahirkan 60 BMT serta diberi modal lima ratus ribu per BMT. Di tahun yang sama muncul 75 BMT dengan pemberian modal sebesar satu koma lima juta rupiah tiap BMT. Pada Tahun selanjutnya Pemerintah juga memberi bantuan modal terhadap 60 BMT yang baru berdiri dengan kisaran modal yang sama. Pada tahun 2002 lahir lagi 60 BMT di Propinsi Lampung dengan pemberian modal awal dua juta rupiah tiap BMT. Dengan berjalannya waktu lahirlah BMT-BMT baru dan berkembang dengan baik seperti BMT As Syifa di Metro, BMT Mentari di Kota Gajah, BMT Pringsewu, BMT Bagas di Lampung Timur, dan BMT Fajar di Metro.

Sedangkan di Kota Metro sendiri sejarah berdirinya BMT di mulai dengan berdirinya BMT Al Ihsan pada bulan Oktober 1994, Lalu berdiri BMT Bina Rahmat oleh Bapak Yulianto pada tahun 1995. Di tahun yang sama berdiri BMT Fajar. Lalu pada Desember 1998 berdiri BMT diantaranya adalah BMT At Taufik, BMT Al Hikmah, BMT Al Mukhsin yang mendapat modal melalui dana bergilir. Pada tahun 2000 berdiri BMT diantaranya Al Muttaqin, BMT Westra.

C. Pengertian Lembaga Keuangan Non Bank

Pengertian lembaga keuangan non bank yakni organisasi ekonomi yang berbentuk selain bank (Heri Sudarsono:2005)

.

20

D. Macam-Macam Lembaga Keuangan syariah Non Bank

Dibentuknya:

1. Baitul Maal Wattamwil dan koperasi Pondok Pesantren

Lembaga ini didirikan dengan maksud untuk memfasilitasi masyarakat bawah yang tidak terjangkau oleh pelayanan bank syariah atau BPR syariah. Prinsip operasinya didasarkan atas prinsip bagi hasil, jual-beli (itjarah) dan titipan (wadiah).

2. Asuransi Syariah (takaful)

Asuransi syariah menggantikan prinsip bunga dengan prinsip dana kebajikan (tabarru’), dimana sesame umat di tuntut untuk saling tolong menolong ketika saudara mengalami musibah.

3. Reksadana Syariah

Reksadana syariah mengganti system deviden dengan bagi hasil mudharabah dan hanya mempertimbangkan investasi-investasi yang halal sebagai portofolionya.

4. Pasar Modal Syariah

Sebagaimana reksadana syariah, pasar modal syariah juga menggunakan prinsip yang sama.

5. Pegadaian Syariah (Rahn)

Lembaga ini menggunakan system jasa administrasi dan bagi-hasil untuk menggantikan prinsip bunga.

6. Lembaga Zakat, Infak, Shadaqah dan Waqaf

Lembaga ini merupakan lembaga yang hanya ada dalam system keuangan Islam, karena Islam mendorong umatnya untuk menjadi sukatelawan dalam

21 beramal (volunteer). Dana ini hanya bisa di alokasikan untuk kepentingan social atau peruntukan yang telah digariskan menurut syariah Islam.

E. Pengertian Lembaga Keuangan syariah.

Menurut Heri Sudarsono (2006) Bank dan Lembaga Keuangan Syariah merupakan Organisasi ekonomi yang berdasar pada syari`ah Islam dan didirikan oleh umat Islam.

F. Peran Lembaga Keuangan syariah non Bank

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan efisien, maka setiap tipe dan lapisan masyarakat harus terwadahi, namun perbankan belum bisa menyentuh semua lapisan masyarakat, sehingga masih terdapat kelompok masyarakat yang tidak terfasilitasi yakni:

1. Masyarakat yang secara legal dan administrative tidak memenuhi kriteria perbankan. Prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh bank menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu terlayani. Mereka yang bermodal kecil dan penghindar resiko tersebut, jumlahnya cukup signifikan dalam Negara-negara muslim seperti Indonesia, yang sebenarnya secara agregat memegang dana yang cukup besar.

2. Masyarakat yang bermodal kecil namun memiliki keberanian dalam mengambil resiko usaha. Biasanya kelompok masyarakat ini akan memilih reksa dana atau mutual fund sebagai jalan investasinya.

3. Masyarakat yang memiliki modal besar dan keberanian dalam mengambil resiko usaha. Biasanya kelompok ini akan memilih pasar modal atau investasi langsung sebagai media investasinya.

22

4. Masyarakat yang menginginkan jasa keuangan non-investasi, misalnya pertanggungan terhadap resiko kekurangan likuiditas dalam kasus darurat, kebutuhan dana konsumtif jangka pendek, tabungan hari tua, dan sebagainya. Kesemua produk tersebut tidaklah ditawarkan oleh perbankan (karena regulasi perbankan yang juga membatasinya). Sebagai alternatifnya, kelompok masyarakat tersebut akan menggunakan jasa asuransi, pegadaian dan dana pension sebagai pilihan investasinya.

G. Beberapa Fungsi BMT

1. Penghimpun dan penyalur dana, dengan menyimpan uang di BMT, uang tersebut dapat ditingkatkan utilitasnya, sehingga timbul unit surplus (pihak yang memiliki dana berlebih) dan unit defisit (pihak yang kekurangan dana).

2. Pencipta dan pemberi likuiditas, dapat menciptakan alat pembayaran yang sah yang mampu memberikan kemampuan untuk memenuhi kewajiban suatu lembaga/perorangan.

3. Sumber pendapatan, BMT dapat menciptakan lapangan kerja dan memberi pendapatan kepada para pegawainya.

4. Pemberi informasi, memberi informasi kepada masyarakat mengenai risiko keuntungan dan peluang yang ada pada lembaga tersebut.

H. Teori Dana BMT

1. Pengertian Dana BMT

Dana BMT atau Financeable Fund adalah sejumlah uang yang dimiliki dan dikuasai suatu BMT dalam kegiatan operasionalnya. Dana BMT ini terdiri dari :

23

1. Dana Pihak Pertama

Yaitu dana yang berasal dari pemilik berupa modal dan hasil usaha BMT.

2. Dana Pihak Kedua

Yaitu dana yang berasal dari instrumen pasar uang dan instrumen pasar modal.

3. Dana Pihak Ketiga

Yaitu dana yang berasal dari penghimpunan dana BMT berupa giro (nasabah), tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito berjangka, kewajiban segera lainnya.

2. Fungsi Dana BMT

Dana BMT memiliki fungsi yakni:

1. Sebagai sumber dana biaya operasional BMT

2. Sumber dana untuk investasi primer dan sekunder BMT

3. Sebagai penyangga (cushion) dan penyerap kerugian BMT bersangkutan

4. Sebagai tolok ukur besar kecilnya suatu BMT

5. Untuk menarik masyarakat yang kelebihan dana agar menabungkan uangnya di BMT bersangkutan

6. Untuk memperbesar solidaritas masyarakat terhadap BMT bersangkutan

7. Untuk memperbesar daya saing BMT bersangkutan

8. Untuk mempermudah penarikan dan peningkatan sumber daya manusia

9. Untuk memperbanyak pembukaan kantor cabang

10. Sebagai tool of management bagi manajer BMT

24

I. Produk Penghimpunan Dana

Pada sistem operasional BMT syariah, pemilik dana menanamkan uangnya di BMT tidak dengan motif mendapatkan bunga, tetapi dalam rangka mendapatkan keuntungan bagi hasil. Produk penghimpunan dana lembaga keuangan syariah adalah (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003):

1. Giro Wadiah

Giro Wadiah adalah produk simpanan yang bisa ditarik kapan saja. Dana nasabah dititipkan di BMT dan boleh dikelola. Setiap saat nasabah berhak mengambilnya dan berhak mendapatkan bonus dari keuntungan pemanfaatan dana giro oleh BMT. Besarnya bonus tidak ditetapkan di muka tetapi benar-benar merupakan kebijaksanaan BMT. Sungguhpun demikian nominalnya diupayakan sedemikian rupa untuk senantiasa kompetitif (Fatwa DSN-MUI No. 01/DSN-MUI/IV/2000).

2. Tabungan Mudharabah

Dana yang disimpan nasabah akan dikelola BMT, untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diberikan kepada nasabah berdasarkan kesepakatan nasabah. Nasabah bertindak sebagai shahibul mal dan lembaga keuangan syariah bertindak sebagai mudharib (Fatwa DSN-MUI No. 02/DSN-MUI/IV/2000).

3. Deposito Mudharabah

BMT bebas melakukan berbagai usaha yang tidak bertentangan dengan syariah dan mengembangkannya. BMT bebas mengeola dana (Mudharabah Mutaqah). BMT berfungsi sebagai mudharib sedangkan nasabah juga shahibul maal. Ada juga dana nasabah yang dititipkan untuk usaha tertentu. Nasabah memberi batasan

25

penggunn dana untuk jenis dan tempat tertentu. Jenis ini disebut Mudharabah Muqayyadah.

J. Produk Pembiayaan

Dalam melaksanakan kegiatan pembiayaan, BMT syariah menempuh mekanisme bagi hasil sebagai pemenuhan kebutuhan permodalan (equity financing) dan investasi berdasarkan imbalan melalui mekanisme jual-beli (bai’) sebagai pemenuhan kebutuhan pembiayaan (debt financing) (Zainul arifin ,1999)

26

Gambar 2. Bagan Akad

1. Equity Financing

Ada dua macam dalam kategori ini, yaitu :

a) Pembiayaan Musyarakah (Join Venture Profit Sharing)

Pembiayaan Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 50).

27

Dari pengertian di atas, dapat dilihat ciri-ciri dari perjanjian/akad musyarakah, yaitu kontribusi dana berasal dari dua pihak (BMT dan nasabah) dan bagi hasil berdasarkan kontribusi modal. Dalam musyarakah, kepemilikan dua orang atau lebih terbagi dalam sebuah aset nyata. Dalam hal pengelolaan usaha, pihak BMT diikutsertakan atau dilibatkan dalam proses manajemen.

Aplikasi BMT untuk akad musyarakah adalah (M. Syafi’i Antonio, 1999:197):

1. Pembiayaan Proyek. Nasabah dan BMT sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek. Setelah proyek selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati bersama.

2. Modal Ventura. Pada BMT-BMT yang dibolehkan melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu, dan setelah itu BMT melakukan divestasi, baik secara singkat maupun bertahap.

b) Pembiayaan Mudharabah (Trustee Profit Sharing)

Pembiayaan Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola dan keuntungan usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 40).

28

Di dalam mudharabah hubungan kontrak bukan antara pemberi modal, melainkan antara penyedia dana (shahibul maal) dengan enterpreneur (mudharib)( Zainul Arifin, 1999 ).

Dari kedua pengertian diatas dapat dilihat bahwa BMT menanggung seluruh modal sedangkan nasabah hanya memiliki modal keahlian (tetapi tidak mempunyai dana). Keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan sedangkan kerugian seluruhnya ditanggung oleh pemilik modal (BMT) selam bukan akibat kelalaian si pengelola.

Aplikasi dalam BMT untuk mudharabah dari sisi pembiayaan adalah:

1. Pembiayaan Modal Kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa.

2. Investasi khusus (mudharabah muqayyadah), dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang tetapkan oleh shahibul mal.

2. Debt Financing

Debt Financing dilakukan dengan teknik jual-beli. Pengertian bai’ meliputi berbagai kontrak pertukaran barang dan jasa dalam jumlah tetentu atas barang dan jasa bersangkutan (Zainul arifin, 1999 ).

Penyerahan jumlah barang atau jasa dapat dilakukan dengan segera (cash) atau dengan tangguh (deferred).

Bentuk dari Debt Financing adalah sebagi berikut :

a) Murabahah

BMT membeli barang kemudian menjualnya kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. BMT harus memberi

29

tahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati dalam jangka waktu tertentu (Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000).

Dalam hal ini BMT bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Dalam murabahah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.

Sistem ini diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barang-barang investasi, baik domestik maupun luar negeri, seperti melalui letter of credit (L/C). Skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing bagi yang sudah biasa bertransaksi dengan dunia BMT pada umumnya.

b) Bai’ as-salam

Bai’ as-salam jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu. Pembayaran hrus dilakukan pada saat kontrak disepakati. Waktu penyerahan barang ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati pula (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 30).

Dalam aplikasi BMT, transaksi ini biasanya dipergunakan untuk pembiayaan pertanian jangka pendek seperti padi, jagung, dan cabai serta untuk pembiayaan barang industri seperti produk garmen (pakaian jadi).

30

c) Bai’ al-istishna’

Bai’ al-istishna merupakan akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani)(Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 36).

Transaksi Bai’ al-istishna biasanya dipakai untuk pembiayaan konstruksi dan barang-barang manufaktur jangka pendek. Kontrak Bai’ al-istishna walaupun kelihatan sama dengan bai’ as-salam tetapi berbeda.

e) Al Ijarah

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran upah atau sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 58).

Dalam transaksi ijarah , BMT menyewakan suatu aset yang sebelumnya telah dibeli oleh BMT kepada nasabahnya untuk jangka waktu tertentu dengan jumlah sewa yang telah disetujui di muka.

Aplikasi dalam BMT untuk sistem ini adalah Leasing, baik dalam bentuk operating lease maupun financial finance.

31

Pemberian suatu fasilitas Pembiayaan mempunyai tujuan tertentu. Tujuan pemberian Pembiayaan tersebut tidak akan terlepas dari misi BMT tersebut didirikan. Adapun tujuan utama pemberian suatu Pembiayaan antara lain :

1. Mencari keuntungan

Yaitu bertujuan untuk meperoleh hasil dari pemberian Pembiayaan tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh BMT sebagai balas jasa dan biaya administrasi Pembiayaan yang dibeBMTan kepada nasabah.

2. Membantu usaha nasabah

Yaitu untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut, maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluaskan usahanya.

3. Membantu pemerintah

Bagi pemerintah semakin banyak pembiayaan yang disalurkan oleh pihak BMT, maka semakin baik, mengingat semakin banyak Pembiayaan berarti adanya peningkatan pembangunan di berbagai sektor. Disamping tujuan di atas, suatu fasilitas Pembiayaan memiliki fungsi sebagai berikut :

a. Untuk meningkatkan daya guna uang.

Dengan adanya Pembiayaan dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna.

32

b. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang

Dalam hal ini uang diberikan atau disalurkan akan beredar dari suatu wilayah ke wilayah lainnya sehingga, suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh Pembiayaan maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.

c. Untuk meningkatkan daya guna barang.

Pembiayaan yang diberikan oleh BMT akan dapat digunakan oleh debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi barang berguna atau bermanfaat.

d. Meningkatkan peredaran barang.

Pembiayaan dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lain bertambah atau Pembiayaan dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.

e. Sebagai alat stabilitas ekonomi.

Dengan memberikan Pembiayaan dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena dengan adanya Pembiayaan yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat.

f. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha.

Bagi penerima Pembiayaan tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi si nasabah yang memang modalnya pas-pasan.

g. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan.

Semakin banyak Pembiayaan yang disalurkan maka akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan.

33

h. Untuk meningkatkan hubungan internasional.

Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling membutuhkan antara si penerima pembiayaan dengan si pemberi Pembiayaan.

K. Produk Jasa

Di samping produk pembiayaan, BMT syariah juga mempunyai produk-produk jasa atau pelayanan. Produk ini juga merupakan penerapan dari akad-akad syariah. Produk jasa yang lazim diterapkan BMT syariah diantaranya adalah (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003) :

a) Wakalah

Wakalah berarti pelimpahan kekuasan dari satu pihak ke pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 66). Prinsip perwakilan diterapkan dalam BMT syariah dimana BMT bertindak sebagai wakil dan nasabah sebagai pemberi wakil (muwakil).(M. Syafi’i Antonio, 1999:252).

Prinsip ini diterapkan untuk pengiriman uang atau transfer, penagihan (collection/inkasso), dan letter of credit (L/C). Sebagai imbalan, BMT mengenakan fee atau biaya atas jasanya terhadap nasabah.

b) Kafalah

Kafalah berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin (M. Syafi’i Antonio, 1999:231).

34

Dalam pengertian lain, kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung.

Prinsip penjaminan yang diterapkan oleh BMT syariah di mana BMT bertindak sebagai penjamin sedangkan nasabah sebagai pihak yang dijamin. Seperti halnya dalam wakalah, untuk jasa al kafalah BMT syariah pun mendapat bayaran dari nasabahnya.

c) Hawalah

Hawalah adalah pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya(M. Syafi’i Antonio, 1999:201).

Prinsip ini diterapkan oleh BMT syariah di mana BMT bertindak sebagai penerima pengalihan piutang dan nasabah bertindak sebagai pengalih piutang. Untuk jasa ini BMT syariah mendapatkan upah pengalihan dari nasabah.

Aplikasi dalam BMT untuk jasa ini adalah factoring atau anjak piutang, post-date check, bill discounting.

d) Rahn

Rahn adalah menahan harta milik si peminjam sebagi jaminan atas pinjama yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis (M. Syafi’i Antonio, 1999:213 ).

Dalam jasa ini pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa rahn adalah semacam jaminan hutang atau gadai.

35

e) Qardh

Qardh adalah pinjamam yang diberikan kepada nasabah yang memerlukan. Nasabah wajib mengembalikan jumlah pokok yang diterima pada waktu yang telah disepakati bersama (Himpunan Fatwa DSN-MUI, 2003 : 111).

Penerapannya produk ini adalah :

1. Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang relatif pendek. Nasabah tersebut akan mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamkannya itu

2. Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat sedangkan ia tidak bisa menarik dananya karena, misalnya tersimpan dalam bentuk deposito.

3. Sebagai produk untuk menyumbang usaha sangat kecil atau membantu sektor sosial. Guna pemenuhan skema khusus ini telah dikenal suatu produk khusus yaitu qardhu hasan.

f) Sharf

Sharf adalah transaksi pertukaran antara emas dan perak atau pertukaran valuta asing, dimana mata uang asing dipertukarkan dengan mata uang domestik atau dengan mata uang asing lainnya.

L. Teori Non-Performing Finance

1. Pengertian Non-Performing Finance

Non-Performing Finance atau Pembiayaan macet secara umum adalah Pembiayaan yang tidak lancar atau Pembiayaan dimana debiturnya tidak

36

memenuhi persyaratan yang diperjanjikan, misalnya persyaratan mengenai pengembalian pokok pinjaman, peningkatan margin deposit, pengikatan dan peningkatan agunan dan sebagainya. Dalam pengertian khusus atau menurut BMT, BMT yang konservatif melihat Pembiayaan atau pinjamanan yang diberikannya sebagai aset yang berisiko (risk asset) dan karenanya BMT harus mengelola risiko yang melekat pada proses pemberian pinjaman. BMT semacam ini mengganggap bahwa laporan keuangan yang seharusnya dihasilkan oleh debitur untuk disampaikan kepada BMTnya, sebagai salah satu pengelola berisiko. Sarana untuk risk management ini tidak ada, maka Pembiayaannya menjadi bermasalah.

2. Faktor-faktor penyebab Non-Performing Finance (NPF)

Dalam menjalankan fungsinya sebagai penyalur dana kepada masyarakat, maka BMT sebagai lembaga perPembiayaanan, harus melakukan analisis melalui prinsip 5 C, guna meminimalkan risiko bermasalahnya atau tidak kembalinya Pembiayaan. Kelima prinsip tersebut meliputi :

1. Character

Keyakinan pihak BMT bahwa si peminjam mempunyai moral, watak, ataupun sifat-sifat pribadi yang positip dan koperatip dan juga mempunyai rasa tanggung jawab baik dari kehidupan pribadi sebagai manusia, kehidupan sebagai anggota masyarakat ataupun dalam menjalankan kegiatan usahanya.

37

2. Capacity

Suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi kewajiban-kewajibannya dari kegiatan usaha yang dilakukannya atau kegiatan usaha yang akan dilakukannya yang akan dibiayai dengan Pembiayaan dari BMT. Jadi jelaslah maksud dari penilaian terhadap capacity ini untuk menilai sampai dimana hasil usaha yang akan diperolehnya tersebut, akan mampu untuk melunasinya tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya.

3. Capital

Penilaian terhadap jumlah dana atau modal sendiri yang dimiliki oleh calon debitur. Hal ini kelihatannya kontradiktip dengan tujuan Pembiayaan yang berfungsi sebagai penyedia dana. Namun memang demikianlah halnya dalam kaitan bisnis murni, semakin kaya seseorang ia akan dipercaya untuk memperoleh Pembiayaan.

4. Collateral

Suatu penilaian terhadap barang-barang jaminan yang diserahkan oleh peminjam atau debitur sebagai jaminan atas Pembiayaan yang diterimanya. Manfaat collateral yaitu sebagai alat pengamanan apabila uasaha yang dibiayai dengan Pembiayaan tersebut gagal atau sebab lain dimana debitur tidak mampu melunasi Pembiayaannya dari hasil usahanya yang normal.

5. Condition of economy

Condition of economy yaitu adalah situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain yang mempengaruhi kondisi perekonomian pada suatu saat

38

maupun untuk suatu kurun waktu tertentu yang kemungkinannya akan dapat mempengaruhi kelancaran usaha dari perusahaan yang memperoleh Pembiayaan.

Banyak faktor yang menyebabkan Pembiayaan tersebut menjadi bermasalah. Faktor-faktor penyebab terjadinya Pembiayaan bermasalah, yaitu :

a. Faktor internal BMT

b. Faktor internal nasabah

c. Faktor eksternal

d. Faktor kegagalan bisnis

e. Faktor ketidakmampuan manajemen

M. Pengertian Financing to Deposit Ratio (FDR)

Secara umum BMT dipahami sebagai financial intermediary institution atau lembaga perantara keuangan dari dua pihak yaitu pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana.

Setelah mengetahui pengertian dari sisi penggumpulan dana dan sisi penyaluran Pembiayaan, maka dapat diukur kinerja BMT sebagai lembaga intermediasi. Salah satu tolak ukur dalam rangka mengukur kinerja BMT khususnya yang berkenaan dengan pelaksanaan fungsi intermediasi adalah dengan menggunakan Finance to Deposit Ratio (FDR), yaitu perbandingan atau ratio antara Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh BMT (pelaksanaan fungsi intermediasi penghimpunan dana) terhadap penyaluran dana dalam bentuk Pembiayaan (pelaksanaan fungsi penyaluran dana).

39

N. Intermediasi BMT

Alat ukur utama yang selama ini digunakan untuk mengukur kinerja BMT khususnya berkenaan dengan pelaksanaan fungsi intermediasi BMT adalah Finance to deposit ratio (FDR), yaitu perbandingan atau rasio antara dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh BMT (pelaksanaan fungsi intermediasi penghimpunan dana) terhadap penyaluran dana dalam bentuk Pembiayaan (pelaksanaan fungsi penyaluran dana). Dilihat dari komponen pembentuknya FDR merupakan suatu ukuran ideal yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja BMT sebagai lembaga intermediasi (Abdullah, 2003 : 16).

Finance to deposit Ratio (FDR) adalah suatu pengukuran tradisional yang menunjukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman nasabahnya. Rasio ini menggambarkan sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman. Rasio ini juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas.. Definisi ini masih bersifat umum karena lebih lanjut dijelaskan bahwa setiap pemberian Pembiayaan disertai dengan klausa perjanjian.

Fungsi intermediasi BMT bertolak ukur kepada Finance to Deposit Ratio (FDR). FDR adalah suatu pengukuran tradisional yang menunujukkan deposito berjangka, giro, tabungan, dan lain-lain yang digunakan dalam memenuhi permohonan pinjaman (Finance requests) nasabahnya. Rasio ini menggambarkan sejauh mana simpanan digunakan untuk pemberian pinjaman. Rasio ini juga dapat mengukur tingkat likuiditas.

40

Rasio yang tinggi menunjukkan bahwa suatu BMT meminjamkan seluruh dananya (Finance-up) atau relatif tidak likuid (illiquid). Sebaliknya rasio yang rendah menunjukkan BMT yang likuid dengan kelebuhan kapasitas dana yang siap untuk dipinjamkan. Oleh karena itu, rasio ini juga dapat memberi isyarat apakah suatu pinjaman masih dapat mengalami ekspansi atau sebaliknya harus dibatasi.

Secara umum, BMT yang besar cenderung mempunyai FDR yang lebih besar dibanding BMT yang kecil. Meskipun tidak demikian tidak berlaku untuk BMT kecil yang terletak di daerah pertanian, karena BMT itu mempunyai FDR sangat tinggi, bahkan kadang bisa lebih dari 100%.

Dalam pengertian sehari-hari seperti sering diucapkan oleh banyak kalangan bahwa akhir-akhir ini yang dapat dilihat pada indikator FDR umumnya hanya isi komponen yang sangat sederhana. Sebagai indikator pinjaman adalah jumlah atau posisi pinjmanan yang diberikan, sebagaiman tercantum pada sisi aktiva. Sebagai indikator pada simpanan adalah giro, deposito, tabungan yang masing-masing tercantum pada sisi passiva neraca BMT. Kedua komponen tersebut dalam bentuk rupiah.

Tujuan perhitungan FDR adalah untuk mengetahui serta menilai sampai berapa besar jauh suatu BMT memiliki kondisi sehat dalam menjalankan operasi atau kegiatan usahanya. Dengan kata lain FDR digunakan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat kerawanan suatu BMT.

41

O. Keunggulan dan Kelemahan antara BMT dengan Perbankan Konvensional

BMT sebagai alternatif Bank-bank konvensional, memiliki keunggulan-keunggulan yang juga merupakan perbedaan dan perbandingan jika dengan perbankan konvensional. Disamping hal tersebut muncul juga kelemahan-kelemahan karena sebagai pemain baru dalam dunia lembaga keuangan.

Keunggulan BMT adalah:

1. BMT Islam memiliki dasar hukum operasional yakni Al Qur’an dan Al Hadist. Sehingga dalam operasionalnya sesuai dengan prinsip-prinsip dasar seperti diperintahkan oleh Allah SWT, juga nilai dasar seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

2. BMT Islam mendasarkan semua produk dan operasinya pada prinsip-prinsip efisiensi, keadilan, dan kebersamaan.

3. Adanya kesamaan ikatan emosional keagamaan yang kuat antara pemegang saham, pengelola, dan nasabah, sehingga dapat dikembangkan kebersamaan dalam menghadapi resiko usaha dan membagi keuntungan secara jujur dan adil.

4. Adanya keterikatan secara religi, maka semua pihak yang terlibat dalam BMT Islam akan berusaha sebaik-baiknya sebagai pengalaman ajaran agamanya sehingga berapa pun hasil yang diperoleh diyakini membawa berkah.

5. Adanya fasilitas pembiayaan (Al Mudharabah dan Al Musyarakah) yang tidak membebani nasabah sejak awal dengan kewajiban membayar biaya secara

42

tetap, hal ini memberikan kelonggaran physichologis yang diperlukan nasabah untuk dapat berusaha secara tenang dan bersungguh-sungguh.

6. Adanya fasilitas pembiayaan (Al Murabahah dan Al Ba’i Bitsaman Ajil) yang lebih mengutamakan kelayakan usaha dari pada jaminan (kolateral) sehingga siapa pun baik pengusaha ataupun bukan mempunyai jaminan kesempatan yang luas untuk berusaha.

7. Tersedia pembiayaan (Qardu Hasan) yang tidak membebani nasabah dengan biaya apapun, kecuali biaya yang dipergunakan sendiri:seperti bea materai, biaya notaris, dan sebagainya. Dana fasilitas ini diperoleh dari pengumpulan zakat, infak dan sadaqah, para amil zakat yang masih mengendap.

8. Dengan diterapkannya sistem bagi hasil sebagai pengganti bunga, maka tidak ada diskriminasi terhadap nasabah yang didasarkan atas kemampuan ekonominya sehingga akseptabilitas BMT Islam menjadi luas.

9. Dengan adanya sistem bagi hasil, maka untuk kesehatan BMT yang bisa diketahui dari naik turunnya jumlah bagi hasil yang diterima.

10. Dengan diterapkannya sistem bagi hasil, maka persaingan antar BMT Islam berlaku wajar yang diperuntukkan oleh keberhasilan dalam membina nasabah dengan profesionalisme dan pelayanan yang baik.

43

Kelemahan-kelemahan serta permasalahan-permasalahan yang ada dalam BMT Islam (Warkum Sumitro, 1996) adalah:

1. Dalam operasional BMT Islam, pihak-pihak yang terlibat didasarkan pada ikatan emosional keagamaan yang sama, sehingga antara pihak-pihak khususnya pengelola BMT dan BMT harus saling percaya, bahwa mereka sama-sama beritikad baik dan jujur dalam bekerjasama. BMT dengan sistem ini terlalu berprasangka baik kepada semua nasabah dan berasumsi bahwa semua orang yang terlibat adalah jujur. Dengan demikian, BMT Islam rawan terhadap mereka yang beritikad tidak baik sehingga diperlukan usaha tambahan untuk mengawasi nasabah yang menerima pembiayaan dari BMT Islam karena tidak dikenal bunga, denda keterlambatan dan sebagainya.

2. Sistem bagi hasil yang adil memerlukan tingkat profesionalisme yang tinggi bagi pengelola BMT untuk membuat penghitungan yang cermat dan terus-menerus.

3. Motivasi masyarakat muslim untuk terlibat dalam aktivitas BMT Islam adalah emosi keagamaan, ini berarti tingkat efektifitas keterlibatan masyarakat muslim dalam BMT Islam tergantung pada pola pikir dan sikap masyarakat itus sendiri.

4. Semakin banyak umat Islam memanfaatkan fasilitas yang disediakn BMT Islam, sementara belum tersedia proyek-proyek yang bisa di biayai sebagai akibat kurangnya tenaga-tenaga profesional yang siap pakai, maka BMT Islam akan menghadapi ”kelebihan likuiditas”.

5. Salah satu misi BMT Islam yakni mengentaskan kemiskinan yang sebagian besar kantong-kantong kemiskinan terdapat di pedesaan.

44

P. Perbedaan Sistem Bagi Hasil dengan Sistem Bunga

Menurut kamus, bunga adalah uang balas jasa atau ganti rugi yang diberikan kepada orang yang telah meminjamkan uang atau modal (W. J. S. Poerwadarmita, 1991:165).

Menurut Warkum Sumitro, 1996:12 Bunga dalam pengertian lain adalah:

”Bunga adalah biaya yang dikenakan pada peminjam uang atau imbalan yang diberikan kepada penyimpan yang besarnya telah ditetapkan dimuka, biasanya ditentukan dalam bentuk persentase (%) dan terus dikenakan selama masih ada sisa simpanan atau pinjaman sehingga tidak hanya terbatas pada jingka waktu kontrak”.

Q. Penilaian Resiko

Penilaian risiko yang dihadapi pada pembiayaan Mudharabah/Musyarakah

dapat dibagi menjadi 3 yakni:

1. Faktor yg mempengaruhi Business Risk pada pembiayaan mudharabah maupun musyarakah pada business risk yakni:

1. Industry Risk, yaitu resiko yg terjadi pd jenis usaha yg ditentukan oleh :

a. karakteristik masing-masing jenis usaha

b. kinerja keuangan jenis usaha

2. Faktor negatif yg mempengaruhi perusahaan misalnya:keadaan force majeure, permasalahan hukum, pemogokan, market risk (forex risk, interset risk, security risk)

2. Sedangkan pada shrinkin risk yakni:

1. Unusual Business Risk yaitu resiko bisnis yg luar biasa yg ditentukan oleh:

a. Penurunan drastis tingkat penjualan bisnis yg dibiayai

45

b. Penurunan drastis harga jual barang/jasa dari bisnis yg dibiayai

c. Penurunan drastis harga barang/jasa dari bisnis yang di biayai

2. Jenis bagi hasil yg ditentukan (profit and loss sharing atau revenue sharing)

a. Profit & loss sharing ; shrinking risk muncul bila terjadi loss sharing yg harus ditanggung oleh bank

b. Revenue sharing, shrinking risk terjadi bila nasabah tidak mampu menanggung biaya (nafaqah) yg seharusnya ditanggung nasabah, sehingga nasabah tidak mampu melanjutkan usahanya

3. Faktor yg mempengaruhi Character Risk yaitu:

1. Kelalaian nasabah dalam menjalankan bisnis yg dibiayai bank

2. Pelanggaran ketentuan yg telah disepakati

3. Pengelolaan internal perusahaan yg tdk dilakukan secara profesional sesuai standar pengelolaan yg disepakati antara bank dan nasabah

Sedangkan Analisi terhadap pembiayaan terhadap suatu perusahaan bila dilihat terhadap sales cost, profits, assets & liabilities serta cash flow yakni:

1. Resiko yang Timbul dari Perubahan Kondisi Bisnis Nasabah Setelah Pencairan Pembiayaan

1. Kebanyakan hal yang terjadi setelah pembiayaan telah cair yakni Over Trading dengan kata lain too much business wuth too little capital sehingga krisis cash flow (Uang kas)

2. Adverse Trading yakni mengembangkan bisnis dengan fixed cost yg besar serta bermain di pasar tidak stabil sehingga menimbulkan high risk.

46

3. Liquidity Run yaitu kesulitan likuiditas karena kehilangan sumber pendapatan dan dan peningkatan pengeluaran karena alasan yg tidak terduga

2. Resiko yang Timbul dari Komitmen Kapital yang Berlebihan

Terjadi apabila perusahaan mengambil komitmen kapital yg berlebihan dan menandatangani kontrak untuk pengeluaran berskala besar.

3. Resiko yang Timbul dari Lemahnya Analisis BMT

Analisis Pembiayaan yang Keliru yakni Keputusan pembiayaan yang tidak valid karena sumber informasi yang keliru.

Creative Accounting adalah penggunakan kebijakan akuntansi perusahaan yang keterangan menyesatkan tentang suatu laporan keuangan perusahaan.

Karakter Nasabah yaitu pembiayaan macet yang disengaja oleh nasabah dengan memperdaya petugas bank.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers