Archive

Posts Tagged ‘FENOMENA EKONOMI MONETER DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA’

FENOMENA EKONOMI MONETER DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

January 16, 2010 Leave a comment

2. PERUMUSAN MASALAH
Beranjak dari deskripsi singkat diatas maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dianalisis yaitu sebagai berikut:
a. Bagaimanakah fenomena ekonomi moneter Indonesia pasca krisis ?
b. Implikasi kebijakan moneter yang bagaimanakah yang bersifat kondusif dalam menunjang pembangunan ekonomi Indonesia pasca krisis ?

3. TUJUAN PENGANALISISAN
Adapun tujuan dari penganalisisan yang akan dilakukan ini adalah:
a. Untuk mendapatkan deskripsi mengenai kondisi beberapa variabel ekonomi moneter Indonesia pasca krisis .
b. Untuk dapat memberikan alternatif kebijakan moneter dalam rangka perbaikan kondisi perekonomian secara makro.

4. KERANGKA TEORITIS

E. INTEREST PARITY
Pasar valuta asing berada dalam kondisi keseimbangan bila semua simpanan dalam berbagai valuta asing menawarkan perkiraan imbalan yang sama. Adapun kondisi dimana perkiraan imbalan yang ditawarkan semua simpanan dalam berbagai valuta asing sama ( bila dihitung dengan satuan mata uang yang sama ) disebut dengan kondisi Paritas Suku Bunga ( Interest Parity).

F. PURCHASING POWER PARITY THEORY (Teori Paritas Daya Beli)
Purchasing Power Parity (PPP) mejelaskan bahwa pergerakan kurs antara mata uang dua negara bersumber dari tingkat harga msing-masing negara.
ERp/$ = PIND / PUSA atau
PIND = (ERp/$) x PUSA

PPP relatif antara Indonesia dan Amerika adalah :
(ERp/$t – ERp/$t-1)/ ERp/$t-1 = IND,t – USA,t
dimana t = ( Pt – Pt-1 )/ Pt-1
Bila tingkat harg (P) dinyatakan dalam permintaan dan penawaran uang maka :
PIND = MSIND / L ( RRp, YIND )
Dengan menggabungkan persamaan di atas maka nilai kurs tukar untuk pendekatan moneter adalah sebagai berikut :

ERp/$ = PIND/PUSA = ( MSIND / MSUSA ) x [ L ( R$, YUSA ) / L (RRp, YIND )]
atau
ERp/$ = ( MSIND / MSUSA ) x  ( RRp – R$, YUSA / YIND )
Dimana dalam konsep paritas suku bunga R adalah :
RRp = R$ + ( EeRp/$ – ERp/$ ) / ERp/$

G. MODEL UMUM KURS JANGKA PANJANG
Untuk itu dengan mempelajari berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kurs riel dalam jangka panjang maka akan diperoleh kurs nominal jangka panjang sebagai berikut :
ERp/$ = [qRp/$ x (MsIND / MsUSA) x  / + (IND - USA), YIND/ YUSA]

Tabel 1. Beberapa Indikator Moneter Sebagai Model Analisis
KONDISI INDIKATOR
Perbaikan Kondisi Moneter  Rasio uang kartal terhadap dana pihak ketiga ( currency to deposite ratio) menurun
 Rasio reserve bank (simpanan bank pada Bank Indonesia dan posisi kas bank) terhadap dana pihak ketiga (reserve to deposit ratio) meningkat
Kelebihan Likuiditas Perbankan  Rasio SBI terhadap kredit perbankan meningkat
 Total kredit perbankan terhadap Total M2
Stabilitas Nilai Tukar Rupiah  Peningkatan cadangan devisa
 REER (Real Effective Exchange Rate)
Kinerja Restrukturisasi Perbankan  Net Interest Margin (NIM) : positif
 Dana Pihak Ketiga (DPK) : Meningkat
 Negatif Net Worth : Mengecil
 Non Performing Loans (NPLs) : Rendah
Potensi Penerimaan Pemerintah  Rasio Pajak terhadap PDRB (Tax Ratio), meningkat
 Rasio Penerimaan Pembangunan terhadap Total Penerimaan
Leading Indikator Ekonomi  M 2 Riel
 Suku Bunga Kredit Investasi
 Inflasi Aneka Barang dan Jasa
 IHSG
Keragaan Ekonomi  Pertumbuhan Ekonomi, tinggi
 Inflasi, rendah
 Neraca Pembayaran, surplus
 Kurs Tukar, menguat
Pendalaman Finansial  M2/ GDP
Kemampuan Menyalurkan Kredit  Tabungan Nasional/GDP
Kuantitas Investasi
Kualitas Investasi (ICOR)  Investasi / GDP
  GDP /  Investasi
Sumber : diolah dari berbagai sumber

Tabel 2. Indikator Makroekonomi

RINCIAN 1997 1998 1999
Pertumbuhan Tahunan (%)

P D R B 4,7 -13,2 0,2

Konsumsi 7,0 -4,6 1,4
Pembentukan Modal Tetap 8,6 -35,5 -20,8
Ekpor 7,8 11,2 -32,1
Impor 14,7 -5,3 -40,9

IHK 11,1 77,6 2,0
Inflasi Inti 9,3 67,6 8,3

Pengangguran (%) 4,7 5,5 6,3

Uang Primer 34,3 60,9 18,2
M2 23,2 62,4 11,9
M1 22,2 29,2 23,1
Dana Perbankan
-Rupiah
-Dollar 26,9
9,4
97,2 60,4
74,4
29,2 13,6
14,5
10,7
Kredit
-Rupiah
-Dollar 29,1
15,0
107,2 28,9
19,7
49,5 -53,8
-55,1
-51,5
Suku Bunga (%) 27,8 62,7 23,5

Neraca Pembayaran
Transaksi Berjalan/PDB (%) -2,3 4,3 4,0
DSR (%) 44,6 58,7 51,9
Cadangan Devisa setara impor non migas (bulan) 4,5 8,9 10,9
Kurs Tukar rata-rata (Rp/$) 4.650 10.100 7.500
Sumber : Bank Indonesia,1999

Tabel 3. Perubahan Jumlah Uang Beredar Tahun 1997-1999
RINCIAN 1997 1998 1999
Perubahan (Triliun)
M 1 14.3 22.1 24.1
Uang Kartal 5.9 13.0 17.0
Uang Giral 8.3 9.2 7.2
Uang Kuasi 52.8 192.7 51.6
Deposito/Tabungan Dlm
Rupiah 11.3 169.1 53.2
Simpanan Dlm Valas 41.4 23.6 -1.6

M 2 67.0 214.9 75.7
Sumber : Bank Indonesia,1999

Tabel 4. Realisasi Operasi Pasar Terbuka

REALISASI 1997 1998 1999
Milyar Rupiah
SBI 7.034 42.765 62.999
Intervensi Rupiah 3.517 9.243 23.806
Kontraksi 3.517 9.243 23.806
Ekspansi 0 0 0
Net kontraksi 10.551 52.008 86.805
Sumber : Bank Indonesia

Tabel 5. Kebijakan Terhadap Permasalahan Ekonomi Moneter
MASALAH PENYEBAB KEBIJAKAN

INFLASI  Peningkatan permintaan masyarakat (Hari Besar)
 Kenaikan harga kebutuhan pokok
 Terbatasnya produksi
 Melemahnya nilai tukar Rupiah
 Kenaikan harga komoditi dunia
 Penyesuaian harga akibat adminstered price
 Kebijakan perdagangan luar negeri (larangan impor)
 Output gap  Pengendalian harga pada kelompok barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices)
 Penyediaan pasokan barang / impor.
 Penurunan harga bahan baku impor /menurunnya volatilitas nilai tukar rupiah
 Pengendalian uang primer
 Pemulihan fungsi intermediasi perbankan melalui program restrukturisasi perbankan, lebih khusus lagi restrukturisasi kredit
 Ekspansi fiskal (peningkatan investasi melalui pembiayaan proyek emerintah)
PENINGKATAN KONSUMSI  Peningkatan pendapatan dari peningkatan suku bunga sebelumnya
 Peningkatan permintaan masyarakat (Hari Besar)
 Pengendalian tingkat bunga
 Pengendalian ekpansi moneter
 Pengendalian pengeluaran pemerintah
 Peningkatan produksi
EKSPANSI UANG PRIMER  Peningkatan permintaan masyarakat atas uang kartal
 Pembayaran bunga obligasi dalam rangka rekapitulasi perbankan / Bank Mandiri
 Pembayaran suku bunga SBI  Pengendalian suku bunga melalui penurunan suku bunga SBI
 Pengembalian kepercayaan terhada perbankan.
BEBAN PENGENDALIAN MONETER  Ekspansi uang primer untuk pembayaran bunga obligasi dalam rangka rekapitulasi perbankan (Operasi Pasar Terbuka)  Pemulihan fungsi intermediasi perbankan
 Restrukturisasi sektor perbankan dan riil
PENGENDALIAN SUKU BUNGA  Penurunan suku bunga SBI
 Longgarnya likuiditas pasar uang
 Pengendalian ekonomi makro :laju inflasi yang menurun

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.