Home > Uncategorized > PENGANTAR ILMU EKONOMI MAKRO

PENGANTAR ILMU EKONOMI MAKRO


Kebijakan Moneter dan Fiskal

(Modul 9)

Oleh : Ir. Sahibul Munir, SE, MEc.

FAKULTAS EKONOIM PROGRAM KELAS KARYAWAN

UNIVERSITAS MERCU BUANA

2007/2008

KEBIJAKAN MONETER (MONETARY POLICY)

Kebijakan Moneter (Monetary Policy)

Adalah kebijakan yang dilakukan oleh otoritas moneter (Bank Sentral) untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi melalui pengawasan jumlah uang beredar atau suku bunga atau kombinasi keduanya. Kebijakan moneter secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 :

1) Kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif

2) Kebijakan moneter yang bersifat kualitatif

Kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif adalah kebijakan moneter yang ditujukan untuk mempengaruhi jumlah uang beredar melalui tindakan-tindakan tertentu dalam rangka memperbaiki kinerja ekonomi.

Kebijakan moneter kuantitatif dapat dibedakan dalam 3 tindakan:

1) Operasi pasar terbuka

2) Mengubah ubah suku bunga dan tingkat diskonto

3) Mengubah cadangan minimal

1) Operasi Pasar Terbuka

Operasi pasar terbuka yang dilakukan oleh Bank sentral adalah tindakan untuk mempengaruhi jumlah uang beredar melalui jual beli surat-surat berharga. Jika Bank sentral menginginkan adanya penambahan jumlah uang beredar dimasyarakat maka Bank sentral akan membeli surat-surat berharga dari Bank-bank umum dan dari masyarakat. Jika bank sentral ingin mengurangi jumlah uang beredar yang ada dimasyarakat maka bank sentral akan menjual surat-surat berharga kepada bank umum dan masyarakat.

Sedangkan bentuk langkah yang hendak diambil oleh bank sentral tergantung pada kondisi perekonomian yang dihadapi oleh negara apakah perekonomian dalam kondisi resesi atau inflasi.

  • Operasi Pasar terbuka jika perekonomian dalam kondisi resesi (Under employment)

Kondisi resesi / kelesuhan ekonomi / under-employment adalah keadaan perekonomian dimana banyak pengangguran faktor produksi dan menurunnya permintaan masyarakat tentang barang dan jasa sebagai pendapatan nasional yang sebenarnya terjadi (aktual) lebih kecil dari pendapatan nasional yang seharusnya terjadi yaitu pendapatan nasional full employment (YFE).

  • Agar kegiatan perekonomian dapat meningkat, maka bank sentral perlu menaikan jumlah uang beredar melalui pembelian surat-surat berharga dari bank – bank umum dan masyarakat.
  • Jika jumlah uang beredar bertambah banyak, maka permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga ikut naik dan selanjutnya akan mendorong kegiatan produksi dalam perekonomian terjadi kenaikan penyerapan tenaga kerja dan kenaikan produksi / pendapatan nasional.Yaktual akan naik mendekati / sama dengan YFE resesi berkurang / hilang
  • Operasi pasar terbuka jika perekonomian dalam kondisi inflasi (over employment)

Kondisi inflasi/naiknya harga-harga umum dapat terjadi apabila kapasitas produksi perusahaan telah digunakan secara penuh tapi permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa terus meningkat, sehingga pendapatan nasional aktual lebih besar dari pendapatan nasional full employment. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan menurunkan / mengurangi jumlah uang beredar yang ada dimasyarakat melalui penjualan surat-surat berharga oleh bank sentral kepada bank-bank umum.

Dengan adanya penjualan surat-surat berhargaini maka tabungan giral masyarakat dan cadangan yang dimiliki oleh bank umum akan berkurang yang berarti jumlah uang beredar didalam perekonomian juga berkurang, pada gilirannya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga berkurang. Jika permintaan berkurang (ceteris paribus) maka hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan harga barang-barang dan jasa (inflasi berkurang).

2) Mengubah tingkat bunga dan diskonto

Terdapat 2 cara yang dapat  dilakukan oleh bank sentral didalam membantu bank-bank umum, yaitu dengan memberi pinjaman atau dengan membeli surat-surat berharga tertentu yang dimiliki oleh bank umum yang memerlukan bantuan.

Jika bank-bank umum menjual surat-surat berharga kepada bank sentral maka cara ini disebut mendiscontokan surat-surat berharga. Baik dalam memberikan pinjaman maupun dalam membeli surat-surat berharga dari bank-bank umum, maka bank sentral akan menetapkan tingkat disconto surat-surat berharga tersebut dan suku bunga pinjaman yang harus dibayar oleh bank-bank umum.

Peranan bank sentral sebagai sumber pinjaman atau tempat mendiscontokan surat-surat berharga dapat digunakan oleh bank sentral untuk mempengaruhi jumlah uang beredar dan tingkat kegiatan ekonomi.

Jika bank sentral menurunkan tingkat disconto dan suku bunga pinjaman yang diberikan kepada bank-bank umum, makabiaya / bunga yang harus dibayar oleh bank-bank umum menjadi lebih murah. Pada gilirannya bank-bank umum dapat memberikan pinjaman kepada nasabahnya dengan suku bunga yang rendah pula.Jika suku bunga kredit perbankan turun maka permintaan masyarakat terhadap kredit perbankan akan naik dan ini akan menyebabkan bertambahnya jumlah uang beredar yang ada dimasyarakat. Tindakan ini cocok diterapkan untuk perekonomian yang masih berada dalam kondisi resesi (under employment)

3) Mengubah tingkat cadangan minimal

Bank sentral dalam mempengaruhi jumlah uang beredar dapat juga dilakukan dengan mengubah-ubah ketetapan tingkat cadangan minimal (recerve requirement) yang harus dimiliki oleh bank-bank. Jika bank sentral ingin mengurani jumlah uang beredar maka bank sentral akan mewajibkan bank-bank umum untuk menaikan tingkat cadangan minimalnya, dan dengan meningkatnya cadangan minimal ini akan dapat mengurangi tabungan giral yang dapat diciptakan oleh bank-bank dengan sendirinya akan menurunkan jumlah uang beredar dan sebaliknya.

Kebijakan moneter kualitatif adalah kebijakan moneter melalui pengawasan pinjaman secara selektif dan pembujukan moral.

1)   Pengawasan pinjaman secara selektif dilakukan dengan menentukan jenis-jenis pinjaman mana yang harus dikurangi dan mana yang harus dikembangkan.

2)   Pembujukan moral yaitu bank sentral mengadakan pertemuan langsung dengan pimpinan bank-bank umum untuk meminta bank-bank umum melakukan langkah-langkah tertentu, yang dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi.

*    Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)

Adalah kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi perekonomian melalui pengeluaran (spending) dan perpajakan (taxation) atau kombinasi keduanya.

Fungsi Kebijakan Fskal :

1) Fungsi Alokasi

Yaitu untuk mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat terhadap public goods dapat terpenuhi.

2) Fungsi Distribusi

Yaitu untuk terselenggaranya pembagian pendapatan nasional yang adil.

3) Fungsi Stabilisasi

Yaitu bertujuan untuk terpeliharanya tingkat kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga-harga yang relatif stabil dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup memadai.

Pengeluaran pemerintah (spending) dapat dibedakan menjadi :

1) Pengeluaran Belanja Pemerintah

Yaitu semua pengeluaran pemerintah dimana pemerintah secara langsung menerima balas jasa atas pengeluaran tersebut

Contoh : pembayaran gaji pegawai negeri, pembelian barang-barang dan jasa,

dll.

2) Transfer Pemerintah

Yaitu pengeluaran pemerintah dimana pemerintah tidak menerima balas jasa secara langsung atas pengeluaran tersebut.

Contoh : sumbangan bencana alam, pembayaran pensiun, pemberian beasiswa, dll.

Dalam kebijakan fiskal ini penerimaan pemerintah diasumsikan berasal dari pajak yang dipungutnya. Pajak adalah uang atau daya beli yang diserahkan oleh masyarakat kepada pemerintah dan dengan penyerahan tersebut masyarakat tidak menerima balas jasa langsung dari pemerintah.

Kebijakan fiskal secara garis besar dapat dibedakan menjadi :

1) Kebijakan Fiskal Defisit

Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah melebihi penerimaannya.

2) Kebijakan Fiskal Surplus

Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah lebih kecil dari penerimaannya.

3) Kebijakan Fiskal Berimbang

Adalah kebijakan fiskal dimana pengeluaran pemerintah sama dengan penerimaannya.

  • Tingkat Kegiatan Ekonomi dan Kebijakan Fiskal

1. Perekonomian dalam kondisi under employment (resesi)

Jika perekonomian dalam kondisi under employment (resesi) yang berarti dalam perekonomian banyak faktor produksi yang menganggur, permintaan masyarakat terhadap barang-barang dan jasa mengalami kelesuan sehingga pendapatan nasional yang sebenarnya terjadi (Yaktual) lebih kecil dari pendapatan nasional yang seharusnya terjadi (pengerjaan tenaga kerja penuh / YFE)

Jika perekonomian dalam kondisi under employement (resesi) yang  berarti didalam perekonomian banyak faktor produksi yang mengangur, permintaan masyarakat terhadap barang-barang dan jasa mengalami kelesuan sehingga pendapatan nasional yang sebenarnya terjadi (Yaktual) lebih kecil dari pendapatan nasional yang seharusnya terjadi (pengerjaan tenaga penuh/YFE).

Adanya deflationary gap (celah deflasi) menunjukan bahwa kegiatan ekonomi belum mencapai potensinya yang maksimal dan masih banyak terjadi pengangguran. Untuk menghilangkan/mengatasi deflationary gap dan pengangguran tersebut. Pemerintah dapat mengambil kebijakan fiskal defisit melalui kenaikan anggaran belanja pemerintah atau pengangguran pajak atau kombinasi keduanya.

Jika anggaran belanja pemerintah (G) dinaikan maka pendapatan nasional (Y) yang ada juga akan ikut mengalami kenaikan, sebab Y = C + l + G + (X – M). Penambahan pengeluaran belanja pemerintah ini harus dilanjutkan hingga Yaktual menjadi/mendekati YFE ® deflationary akan hilang / berkurang ® ekonomi mengalami penyehatan (recovery).

Bila yang dilakukan pemerintah adalah pengurangan pajak maka dengan adanya pengurangan pajak ini pendapatan disposable masyarakat akan naik. Kenaikan pendapatan tersebut akan mendorong naiknya pengeluaran konsumsi yang selanjutnya akan menaikan tingkat pendapatan nasional. Sehingga Yaktual akan meningkat menjadi/mendekati YFE dan selanjutnya akan terjadi penyehatan ekonomi.

2. Perekonomian dalam kondisi over-employment (inflasi)

Kondisi perekonomian yang overemployment menunjukan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa terus meningkat meskipun perusahaan sudah beroperasi pada kapasitas penuh dan para pekerja / buruh telah bekerja lembur. Adanya kelebihan permintaan yang melampaui kapasitas perekonomian untuk melayaninya akan mengakibatkan terjadinya inflasi dalam perekonomian. Untuk mengatasi masalah tersebut kebijakan fiskal yang dapat digunakan oleh pemerintah adalah kebijakan fiskal surplus sbb:

Kebijakan fiskal surplus G (belanja pemerintah) diturukan ® AD akan turun di ADaktual menjadi ADFE dan Yaktual menjadi YFE ® celah inflasi akan hilang ® inflasi berkurang ® harga-harga stabil kembali.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: