Home > Akuntansi Islam > MERDI BAN, METODE AKUNTANSI TIMUR TENGAH

MERDI BAN, METODE AKUNTANSI TIMUR TENGAH


Timur Tengah merupakan kawasan tempat lahir atau perkembangan agama-agama
berdasarkan wahyu, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Wilayah itu dari masa prasejarah
hingga dunia modern sekarang tercatat sebagai tempat terjadinya peristiwaperistiwa
penting, baik dalam urusan keagamaan, ekonomi, politik, sosial maupun
kebudayaan. Dari urusan kelahiran para Nabi, tempat timbunan hampir 50 persen
cadangan minyak dunia di bawah perut buminya, hingga konflik paling in dewasa ini: Perang
Irak. Di sana telah diperkenalkan sistem akuntansi regional sejak ratusan tahun silam. Sistem
ini dikenal dengan sebutan Merdiban yang berlandasan Syariah.

Sistem akuntansi Merdiban tersebut telah
ditelaah secara ilmiah oleh dua akademisi dari
Universitas Marmara, Turki, Prof. O ktay
Guvemli dan Dr. Batuhan Guvemli.
Sebutan Merdiban sendiri berarti “tangga.”
Menurut mereka, sistem Merdiban
diterapkan di tiga negara sangat penting masa
silam di kawasan Timur Tengah, Kekaisaran
Abbasiyah, Negara Ilhans dan Kekaisaran
Ottoman. Kelahiran sistem Merdiban
terdorong oleh adanya hubungan ekonomi di
antara ketiga negara itu yang masing-masing
berpenduduk dari kebangsaan berbeda.
Ada Arab, Persia dan Turki, bahkan
ada pula yang dari latar belakang
kebangsaan Mongolia.
Hubungan politik dan
ekonomi di antara
negara-negara
t e r s e b u t
berujung pada terbentuknya metode
akuntansi yang timbal balik mereka kirimkan.
Kaum Mongolia, yang berperadaban
lebih rendah, menghancurkan Kekaisaran
Abbasiyah pada tahun 1258, namun mewarisi
banyak elemen kulturnya yang berbeda.
Sejalan dengan terbentuknya Negara
Ilhans, warga Arab dan Turki mengabdi
sebagai pegawai-pegawai negeri level tinggi,
karena Genghis Khan dan putra-putranya
tidak bisa menerapkan konsep administrasi
pemerintahan dari tanah asal mereka di Asia
Tengah. Karenanya, urusan ini diserahkan
kepada orang-orang lokal itu yang membawa
pengetahuan soal struktur fiskal dan
metode akuntansi berpatokan pada tradisi
Islam. Dengan begitu, Merdiban diciptakan
pada masa kekuasaan Abbasiyah(750-
1258), dikembangkan saat kaum Ilhans
berkuasa (1251-1353) dan memasuki
masa kematangannya pada era Kekaisaran
Otttoman (299-1922).
Kekaisaran Ottoman didirikan di Anatolia
barat-daya dan terus berkembang ke arah
barat dan pengaruhnya mencapai kawasan
sejauh Balkan di Eropa pada abad ke-14.
Guna mengamankan perbatasannya di
wilayah Timur, Ottoman membayar upeti
ke Negara Ilhans. Pada masa terjadinya
hubungan fiskal inilah metode Merdiban
dipelajari dan diterapkan oleh Ottoman.
Juga, ada kemungkinan para pejabat Ilhans
dari keturunan Turki yang dipekerjakan di
bagian akuntansi, dan belakangan pindah
ke Anatolia, membantu transmisi metode
akuntansi itu.
Metode akuntansi ini diketahui telah
digunakan selama berabad-abad tidak hanya
dalam urusan administrasi pemerintahan
Ottoman, namun pula dalam perusahaanperusahaan
milik negara. Merdiban telah
dikembangkan selama berabad-abad dan
terus disesuaikan dengan kebutuhankebutuhan
baru. Sistem ini bisa mencukupi
MERDI BAN, METODE
AKUNTANSI
TIMUR TENGAH
Timur Tengah merupakan kawasan tempat lahir atau perkembangan agama-agama
berdasarkan wahyu, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Wilayah itu dari masa prasejarah
hingga dunia modern sekarang tercatat sebagai tempat terjadinya peristiwaperistiwa
penting, baik dalam urusan keagamaan, ekonomi, politik, sosial maupun
kebudayaan. Dari urusan kelahiran para Nabi, tempat timbunan hampir 50 persen
cadangan minyak dunia di bawah perut buminya, hingga konflik paling in dewasa ini: Perang
Irak. Di sana telah diperkenalkan sistem akuntansi regional sejak ratusan tahun silam. Sistem
ini dikenal dengan sebutan Merdiban yang berlandasan Syariah.
edisi ke2 new size.indd 48 5/6/2008 3:09:29 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
49 ai
International
seluruh kebutuhan akuntansi negara. Sama
dengan metode akuntansi sekarang, meski
tidak perlu disebutkan pula sebagai tata buku
double-entry, istilah Merdiban tidak digunakan
selama masa Kekaisaran Ottoman. Orangorang
Ottoman hanya menyebutkannya
sebagai metode akuntansi. Sistem ini
dipakai di Ottoman hingga 1879 dan
kemudian ditinggalkan setelah dikeluarkan
penggantian sistemnya dengan tata buku
double-entry melalui sebuah Dekrit Kerajaan
pada tahun itu. Dengan demikian Merdiban
pernah digunakan selama 1.100 tahun
jika perhitungannya dimulai ketika contoh
pertamanya diperkenalkan masa periode
Abbasiyah pada abad ke-8, tepatnya ketika
Harun al-Rasyid berkuasa (766-809).
Fakta menunjukkan bahwa ada juga negaranegara
lain ketika itu di seputar kawasan
Timur Tengah menjelang akhir abad ke-8
yang berhubungan erat satu dengan lainnya.
Negara-negara itu berpola Turki seperti
Karahan (840-1211) yang didirikan di
Turkistan timur (kini wilayah China baratdaya),
Ghaznaviyah (963-1187) di wilayah
yang sekarang Afghanistan dan India utara,
Samaniyah (875-1005) di Horosan dan Seljuk
(1040-1308) di Anatolia serta Altinordu di
kawasan Krimea sekarang. Ghaznaviyah dan
Samaniyah memiliki hubungan erat bidang
fiskal dan hal-hal lainnya dengan Abbasiyah,
sebagaimana Seljuk yang diketahui
berhubungan erat dengan kaum Mongol
yang membangun Negara Ilhans.
Aspek menarik dari kenyataan ini ialah
adanya kesamaan struktur dan bentukbentuk
organisasi yang bertanggung jawab
dalam urusan keuangan negara. Tak kalah
menariknya ialah adanya kesamaan dalam
bentuk-bentuk pajak dan pembelanjaan
negara. Dengan demikian bisa disimpulkan
bahwa sistem Merdaban digunakan juga di
negara-negara tersebut. Hanya saja buktibukti
catatan akuntansinya tak dilestarikan,
tak seperti yang terdapat di Kekaisaran
Abbasiyah, Negara Ilhans dan Kekaisaran
Ottoman.
Di antara negara-negara tersebut, Seljuk
(1040-1308) tercatat menonjol dan
pernah membina hubungan baik dengan
Abbasiyah (Irak sekarang) maupun dengan
Ilhans. Hubungannya dengan Abbasiyah
berkembang atas dasar kebudayaan Islam,
sedangkan hubungan dengan orang-orang
Mongol berkembang di sepanjang garis
kepentingan politik dan keuangan. Dengan
demikian, negara ini telah pula menerapkan
sistem Merdiban.
Wajah dominan ketiga negara Timur Tengah,
di mana Merdiban dulu dikembangkan,
berlatar belakang budaya Islam yang
kuat. Benar pendiri Negara Ilhans adalah
kaum Mongol, keturunan Genghis Khan,
dan bukan Muslim. Namun para pejabat
pemerintahannya yang diberi tanggung
jawab administrasi publik adalah orangorang
Arab, Persia dan Turki yang beragama
Islam. Atas dasar ini, bisa disimpulkan bahwa
pengelolaan pemerintahan di ketiga negara
itu dilaksanakan oleh orang-orang yang
berkultur keagamaan sama, yakni Islam.
Lembaga-lembaga keuangannya serupa,
perpajakan didasarkan pada aturan-aturan
Islam. Faktor-faktor sama berlaku pula dalam
bidang pembelanjaan.
Pengorganisasian akuntansi negara di
Abbasiyah, Ilhans and Ottoman pada
umumnya sama, sesuatu yang didorong
oleh pengaruh negara-negara tersebut satu
terhadap struktur politik dan keuangan yang
lainnya. Metode ini diberi nama dalam bukubuku
pelatihan akuntansi era Ilhans, sesuatu
yang tidak ada pada masa Abbasiyah.
Ottoman bahkan tak memiliki buku pelatihan
akuntansi, sehingga pelatihan diberikan lewat
hubungan magang. Metode Merdiban banyak
membantu Kekaisaran Ottoman dalam
berbagai proyek dan pekerjaan, khususnya
dalam abad ke-19. Metode akuntansi
Sejarah negara-negara Islam di Timur Tengah bermula dari Nabi
Muhammad SAW yang mulai menyebarkan Islam antara tahun 622
hingga saat Nabi wafat tahun 632 (tahun 1 hingga 10 Hijriyah).
edisi ke2 new size.indd 49 5/6/2008 3:09:29 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n ai 50
International
ini digunakan untuk mengawasi proyekproyek
investasi selama masa percobaan
industrialisasi pada 1840-1850. Merdiban
digunakan untuk cost accounting bangunanbangunan
pada abad ke-16 dan ke-17.
Faktor penting yang memungkinkan
penerapan metode akuntansi sama di
kawasan itu ialah adanya alfabet dan angkaangka
yang digunakan oleh negara-negara
itu. Karena Abbasiyah merupakan sebuah
dinasti Arab, maka secara alamiah mereka
menggunakan alfabet Arab dan angkaangka
Arab. Kaum Ilhans menggunakan
alfabet Persia, yang
sebagaimana pula halnya
dengan alfabet Arab,
dituliskan dari kanan
ke kiri. Sedangkan di
Kekaisaran Ottoman
jelas-jelas digunakan
alfabet Arab.
Sebagaimana tata
buku double-entry yang
p e n g emb a n g a n n y a
disesuaikan dengan
aturan penulisan dari kiri
ke kanan, yakni alfabet Latin, maka metode
Merdiban dikembangkan sesuai dengan
alfabet Arab dan Persia. Karena akhir kata
sebuah kalimat dalam alfabet Arab bisa
diperpanjang, maka cara ini dipakai untuk
memisahkan entry dalam lajur harian. Juga,
karena naskah tertulis di tiga negara itu
sama satu dengan yang lainnya, maka itu
bisa membantu mempermudah penerapan
metode akuntansi sama yang mereka
terapkan.
Sejarah negara-negara Islam di Timur
Tengah bermula dari Nabi Muhammad
SAW yang mulai menyebarkan Islam antara
tahun 622 hingga saat Nabi wafat tahun 632
(tahun 1 hingga 10 Hijriyah). Kepemimpinan
Islam dilanjutkan oleh para Kalifah, yang
berlangsung dari 632 sampai 661 (11-40
Hijriyah), yakni berturut-turut pemimpinnya
adalah Abu-Bakar, Umar, Usman dan Ali.
Setelah Ali wafat pada tahun 661, mulailah
Dinasti Umayah yang berkuasa antara 661-
750 (41-132 Hijriyah), era yang tercatat
perluasan besar-besaran wilayah Islam di
Timur Tengah.
Dinasti Umayah digantikan oleh Dinasti
Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad,
antara 750-1258 (132-656 Hijriyah). Setelah
kedatangan dan berkuasanya bangsa Mongol
di kawasan Timur Tengah, Kekalifahan tetap
berada di Arabia, namun kemudian banyak
negara-negara kecil bermunculan, sempalan
dari Abbasiyah. Kekalifahan berpindah ke
tangan Kaisar Ottoman, Grim Sultan Yavuz,
pada tahun 1517 yang berlangsung hingga
tahun 1922 ketika tokoh pembaharuan Turki,
Kemal Ataturk, menghapuskannya. Pada era
Kekalifahan inilah pengaruh agama merasuki
administrasi pemerintahan dalam sejarah
Islam.
Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab hidup
di bawah bayang-bayang pengaruh bangsabangsa
Persia dan Bynzantium. Dengan
demikian, bilamana wilayah kedaulatan telah
mencapai ukuran tertentu, maka seorang
pemimpin Arab pun akan pula memerlukan
para pembantu yang diorganisasikan dalam
suatu hirarki untuk mengatur jalannya
kekuasaan di wilayah tersebut. Dalam
kaitan ini, pada masa Abbasiyah dimulailah
lembaga kementerian, di mana para menteri
sementara menggunakan wewenangnya
atas nama seorang penguasa, mereka harus
pula bertanggung jawab kepada pemimpin
tersebut. Dari sini terisyaratkan
bahwa ada kebutuhan akan
profesionalisme dalam
pengurusan negara. Dengan
begitu, akuntabilitas menuntut
faktor kehati-hatian dalam
pencatatan pendapatan
(revenue) dan perbelanjaan
(expenditure) negara.
Lebih ke bawah, setelah para
menteri semakin sibuk karena
beban kerja semakin banyak
sejalan dengan meluasnya
wilayah, mereka mulai memerlukan bawahan
untuk melaksanakan tugas-tugas khusus. Para
pejabat dalam kategori ini termasuk yang
menyusun surat-surat perintah Kalifah dan
mengirimkannya ke tempat-tempat tertentu
di seluruh penjuru negeri. Lainnya, para
pejabat yang ditugasi menangani urusanurusan
keuangan dan mengepalai lembagalembaga
pengumpul pajak serta kinerja
perbelanjaan. Mereka ini juga bertanggung
jawab mencatat neraca keuangan negara.
Para akuntan, yang bekerja di bawah wewenang gubernur,
mencatat pengurusan keuangan pusat. Para pejabat
keagamaan juga berperan penting karena merekalah yang
mengetahui tata aturan soal perpajakan berdasarkan
ketentuan Syariah, seperti pajak bagi warga bukan Islam
(dengan kompensasi kaum bukan Islam bisa bebas tugas
militer dan mendapat perlindungan negara), dan berbagai
macam jenis pajak serta pemasukan negara lainnya, mulai dari
bea impor hingga pajak bumi dan bangunan.
edisi ke2 new size.indd 50 5/6/2008 3:09:29 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
51 ai
International
Kekaisaran Abbasiyah yang ibukotanya
berkedudukan di Baghdad terbagi atas 12
vilaya (wilayah), yang terpenting Kufa, Seva,
Basra dan Tigris di kawasan yang bernama
Irak. Kemudian, Yaman, Horosan serta
Cezira (Armenia and Azerbaijan) serta
Damaskus dan Mesir. Ini menunjukkan luas
wilayah Kekaisaran Abbasiyah terbentang dari
Afrika Utara ke Kaukasia di Asia Tengah serta
Persia, selain Semenanjung Arab. Dengan
demikian, pembentukan struktur organisasi
keuangan yang disesusaikan dengan struktur
pemerintahan tak bisa terhindari.
Para akuntan, yang bekerja di bawah
wewenang gubernur, mencatat pengurusan
keuangan pusat. Para pejabat keagamaan
juga berperan penting karena merekalah
yang mengetahui tata aturan soal perpajakan
berdasarkan ketentuan Syariah, seperti pajak
bagi warga bukan Islam (dengan kompensasi
kaum bukan Islam bisa bebas tugas militer
dan mendapat perlindungan negara), dan
berbagai macam jenis pajak serta pemasukan
negara lainnya, mulai dari bea impor hingga
pajak bumi dan bangunan. Semua proses ini
membutuhkan ketelitian, sesuatu yang bisa
dilakukan oleh para akuntan agar negara selalu
punya catatan handal tentang pendapatan
dan perbelanjaannya. Faktor akuntansi
berperan penting dalam kaitan ini karena
akan selalu ada neraca yang jelas, mengingat
negara selalu memerlukan anggaran guna
ekspansi wilayah maupun penyelenggaraan
pemerintahannya.** (Pratama Hadi)
CONTOH PERTAMA METODE MERDI BAN
Contoh pertama metode akuntansi Merdiban diketahui dari buku berjudul Uber Da
Budget der Einnahmen unter der Regierung des Harun Alrasid yang ditulis
oleh A. Freihernn von Kramer dan dipublikasikan di Wina, Austria, tahun 1876 oleh
Alfreed Hölder (Hof-under Universitats Buchhandler).
Contoh-contoh catatan ini berasal dari masa Harun al-Rasyid yang berkuasa antara
tahun 766-809 (149-194 Hijriyah).
Judul entry, menunjukkan arti keseluruhan entry, diberikan dengan cara memperpanjang
huruf akhir dari kalimat pertama dalam sebuah garis lurus. Bentuk ini dilestarikan
penggunaannya sepanjang masa ketika metode Merdiban diterapkan dan digunakan untuk
memisahkan entry.
Unit-unit moneter yang digunakan ialah Dirham dan Dinar. Namun karena
penjumlahannya dalam bentuk Dirham, maka dipastikan bahwa pencatatan pada kedua
pemasukan itu dalam bentuk Dirham. Nilai tukar Dirham-Dinar ditetapkan pada tingkat
22 Dirham per Dinar. Dari sini bisa disimpulkan bahwa dalam metode Merdiban, nilai kurs
selalu disertakan.
Pencatatan entry untuk pajak pada bagian awal hanya diberi judul umum, untuk
kemudian diikuti jenis-jenis pajaknya secara lebih rinci. Judul besar itu yang dituliskan
sebagai pajak untuk menunjukkan bagian tersebut menyangkut perpajakan. Huruf judul
besarnya dibuat panjang, diikuti oleh garis-garis horisontal dan vertikal dalam lajur.
Pajak yang masuk dicatat tersendiri dari kiri ke kanan. Ada 22 item dalam catatan ini, per
item merujuk kepada jenis-jenis barang yang pajaknya dipungut. Item pertama tentang
madu. Pertama nama barangnya dituliskan, diikuti oleh berapa banyak jumlah yang
diperoleh dan dari wilayah mana dikumpulkan. Tergantung pada jenis barangnya, jumlah
dituliskan sesuai dengan ukuran beratnya. Sejalan dengan membesarnya volume barang,
praktek pencatatan pajak barang digantikan dengan penulisan nilai uangnya.
Menyusul terjadinya kebakaran di Baghdad pada tahun 823 (204 Hijriyah), yang
menyebabkan banyak arsip rusak, ketentuan pencatatan akuntansi diubah. Akuntansi negara
yang semula terpusat kemudian diorganisasikan berdasarkan provinsi. Dengan cara
ini pendapatan dan belanja setiap provinsi bisa dipantau oleh pemerintah pusat dan lajurlajur
sama dipertahankan untuk setiap provinsi.
Pendapatan dan belanja negara dapat ditentukan melalui informasi yang tercatat di
setiap departemen dari organisasi akuntansi pusat yang pelaksanaannya berdasarkan
empat buku instruksi berbeda dituliskan antara 1309 dan 1363. Penerapan akuntansi ini
memungkinkan analisis realisasi pendapatan dan belanja, dan perencanaan pendapatan
dan belanja mendatang.
Catatan tentang pendapatan disertai informasi tentang siapa orang yang ditugasi
mengumpulkan pendapatan tersebut serta informasi mengenai dokumen mana yang
menjadi dasar pendapatan dan belanja. Prinsip ini menjadi bagian dari akuntansi Negara
Ottoman.
Prinsip penulisan tentang jenis catatan atau alasan bagi transaksinya digunakan dalam
pencatatan pendapatan dan belanja.
Pernyataan “ditambahkan” atau “dikurangi” disertakan untuk item-item berikut guna
memudahkan penjelasan mengenai hubungannya dengan pencatatan berikutnya. Ini
merupakan inovasi bagi metode Merdiban, namun kemudian dihentikan dalam praktek
Ottoman.**

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: