Home > Islamic Economy, Islamic Management, Uncategorized > MANAJEMEN STRATEGI PEMBUMIAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA

MANAJEMEN STRATEGI PEMBUMIAN EKONOMI ISLAM DI INDONESIA


ABSTRAKSI
Strategi adalah faktor penting dalam pengorganisasian .yang merupakan sebuah proses dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Ekonomi Islam akan berkembang dengan pesat apabila ada sebuah grand design atau blue print sebagai acuan bagi semua stake holder. Hal tersebut akan berjalan secara sistematis dan komprehensif apabila ada sinergitas diantara semua pihak sehingga tujuan dari ekonmi Islam yang sebenarnya akan tercapai.
key word: Strategi, blue print, sinergitas.
PENDAHULUAN
Ekonomi merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan manusia, karena ini menyangkut perilaku manusia dalam mengaktualisasikan diri untuk mencapai tujuan hidupnya. Islam merupakan fitrah manusia, karena itu ia bersifat holistik (syumul). Dalam Islam, ekonomi dibahas pada bagian tersendiri, fiqh mu’amalah. Jadi jelaslah sudah bahwa islam memilki ‘aturan main’ tersendiri untuk masalah ekonomi.
Kalau kita perhatikan prestasi ekonomi Indonesia sungguh tidaklah menggembirakan. Kemiskinan dibarengi pengangguran yang tertimpa pada Indonesia seolah-olah menjadi sebuah karakteristik yang melekat pada negara-negara berpenduduk muslim. Berikut tabel Pertumbuhan ekonomi dan
Pengangguran Terbuka.

Hal yang pararelpun terjadi pada tingkat internasional, dimana Indonesia mendapatkan peringkat yang jauh dan rendah dibanding negara tetangga. Termasuk studi yang dilakukan oleh IMD Swiss yang menempatkan Indonesia pada nomor 45 dari 47 bangsa di dunia sebelum krisis terjadi. Dan setelah krisis menempatkan kualitas SDM nomor 107 dibawah Vietnam.
Posisi Indonesia di Tingkat Internasional
Kualitas SDM No. 46
Kemampuan IPTEK No. 42
Kemampuan Manajemen No. 44
Keadaan Sarana dan Prasarana No. 46
Lobby & Hubungan Internasional No. 43
Kekuatan Ekonomi Domestik No. 45
Kualitas Pemerintahan No. 36
Akses terhadap Permodalan No. 43

Kemiskinan dan pengangguran serta masalah turunan tersebut perlu sebuah solusi yang tidak hanya bersifat analgetic melalui problem sympton yang
dihadapi, tetapi perlu sebuah alternatif, solusi tepat mengeliminir masalah tersebut.
Kesalahan umat dan bangsa ini tidak mau berpikir, walaupun berpikir, tidak bertindak. Sedikit orang-orang yang berpikir sesuatu tetapi tidak atau lebih sedikit orang yang melakukannya. “you see, in life, lots of people know what to do, but few people actually do what they know”.
Apabila kita lihat dalam piramida penguasaan ekonomi di Indonesia, jumlah umat Muslim terbesar, yakni mencapai 87,9 persen. Namun, umat non-Muslim, khususnya Kristen, yang jumlahnya tak lebih dari 12 persen menguasai mayoritas perekonomian nasional. Sekitar 58 persen ekonomi Indonesia dipegang oleh sekitar 300 group konglomerat besar, yang mayoritas merupakan non-Muslim. Sebanyak 24 persen dikuasai oleh 201 BUMN, sisanya dipegang oleh koperasi dan UKM.
¨ Sebagaian besar bangsa ini menilai bahwa Islam sebatas sebuah addien, sebuah kepercayaan dan keyakinan yang hanya dijalankan melalui ritual-ritual an sich. Padahal pada addien inilah yang dapat menuntun kehidupan manusia kepada kebahagian dunia dan akhirat. Islam dipandang sebagai ritual bukan sebagai solusi. Dan inilah yang terjadi, ketika di depan mata kemiskinan, kriminalitas dan hidup yang sempit malah banyak meninggalkan ajaran addien.
Ekonomi Islam salah satu jawaban dari permasalahaan ekonomi Indonesia ketika pasca krisis moneter terjadi bank syariah malah menjadi jamur yang tidak terbendung. Belum lagi sektor lainnya seperti keuangan publik ( Zakat, Infak Shadaqah ), sektor riil Syariah ( Hotel Syariah, Baju Islami dll ) mulai merayap menghiasi peradaban bangsa ini. Namun sayang konsep ekonomi Islam yang sebenarnya banyak yang tidak tahu, sehingga kadang menjadi salah kaprah bahkan menjadi bumerang bagi umat islam itu sendiri. Oleh sebab itu diperlukan staretegi jitu yang sistematis dan menyeluruh dalam sosialisasi dan pembumian ekonomi islam di negeri tercinta ini.
PEMBAHASAN
“ Manajemen strategi adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan (implementing), dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategis antar fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang “
Dari definisi di atas terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu bahwa:
1. manajemen strategik terdiri dari tiga proses:
a. pembuatan strategi (formulating)
b. penerapan strategi (implementing)
c. evaluasi/control strategi (controling)
2. manajemen strategik, memfokuskan pada penyatuan atau penggabungan aspek-aspek sosialisasi, riset dan pengembangan, keuangan dan opersional dari sebuah bisnis/organisasi.
Definisi pembumian sendiri, dapat diartikan sebagai suatu tindakan dan proses penanaman, pengakaran dan pengkafahan yang dapat ditempuh dengan sosialisasi sehingga ekonomi Islam tertanam pada jiwa “masyarakat” dan dapat direalisasikan dalam kehidupan perekonomian sehari-hari.

Ekonomi Islam
Secara sederahana Sistem ekonomi Islam merupakan penerapan aktivitas ekonomi yang berdasarkan syariah untuk mewujudkan suatu kemakmuran yang berkeadilan. .Oleh karena itu sistem ekonomi Islam dalam penerapannya harus berdasarkan nash-nash Al-Quran (bagian-bagian yang tetap), dan ijtihad hasil karya para mujtahid (bagian-bagian yang berubah-ubah) dan ulil amri.
Persepsi sebagian orang tentang ekonomi Islam yang terlalu ideal mengakibatkan terhambatnya perkembangan ekonomi syariah itu sendiri. Teori Ibnu Kholdun atau yang dinamakan siklus chapra dapat menjawab pertanyaan mengenai ekonomi Islam yang sebenarnya.Siklus tersebut dapat digambarkan seperti di bawah ini:

TANTANGAN EKONOMI ISLAM
Menurut M. Syakir Sula, perkembangan misi Ekonomi Islam menghadapi tantangan-tantangan sebagai berikut :
– Tantangan Internal :
– Bagaimana meningkatkan silaturahmi dan kerjasama konkrit antar praktisi, LKS dan akademisi.
– Begitu besar potensi masing-masing yang belum disinergikan
– Diperlukan ketulusan hati, kebersihan qalbu dan kelurusan niat
– Empat kebiasaan buruk yang merusak hubungan : su’udzan, ghibah, tajassus (memata-matai), namimah (mengadu-domba).
Khusus tentang Perbankan Syari’ah, Karnaen Perwataatmaja merumuskan tantangan internal atau kelemahan kita adalah :
• Masih terdapat berbagai kontroversi terhadap keberadaan dan sistem operasional bank syariah.
• Rendahnya pemahaman masyarakat
• Masih terbatasnya jaringan pelayanan
• Moral hazard
• Tantangan Eksternal
• Pihak-pihak yang tidak senang dengan berkembangnya ekonomi syari’ah bersatu untuk menghambat perkembangannya : menghambat UU, PP, sosialisasi dan implementasi di masyarakat
• Ekonomi Islam dikait-kaitkan dengan fanatisme agama
• Kompetisi teknologi, pelayanan dan perkembangan produk dari sistem keuangan konvensional (sekuler).
Menurut sumber lain, ada beberapa tantangan yang perlu mendapatkan perhatian umat Islam. Pertama, dampak globalisasi, misalnya pesaing dari LKS asing. Kedua, persaingan di bidang layanan (servis), termasuk di bidang teknologi informasi (TI). Ketiga, dukungan setengah hati dari pemerintah. Keempat, masih terbatasnya SDM yang andal. Kelima, pemahaman masyarakat tentang LKS dan bunga bank haram. Masih ada masyarakat yang masih kurang peduli terhadap hal tersebut.
Tantangan terbesar umat Islam adalah bagaimana mewujudkan umat Islam itu kuat, progressif, dinamis, dan maju. Untuk itu, perlu tiga hal, yakni iman yang kuat, ilmu dan teknologi yang mantap, serta ekonomi yang kokoh,
‘Semakin lemah umat Islam dari segi ekonomi, maka semakin lemah pula dakwah, pendidikan maupun hal-hal lainnya yang seharusnya merupakan pilar penyokong kekuatan dan wibawa umat,. Agama lain melakukan pemurtadan dengan menyerang dari empat sisi kelemahan umat Islam, yakni lemah ekonomi, lemah pendidikan, lemah di bidang kesehatan, dan lemah di bidang tauhid

PELUANG EKONOMI ISLAM
Umat Islam harus menjadikan berbagai tantangan di bidang ekonomi menjadi peluang. ”Dengan jumlah penduduk Muslim mencapai sekitar 88 persen, idealnya pangsa pasar bank syariah di Indonesia mencapai sekitar 80 persen, dan bank konvensional 20 persen. Minimal, 50 banding 50.
Salah seorang praktisi ekonomi syariah, menyebutkan ekonomi syariah di Indonesia memiliki prospek sangat bagus untuk dikembangkan. Namun, upaya untuk mengembangkan ekonomi syariah masih menemui berbagai kendala dan tantangan. Meskipun demikian, umat Muslim tidak boleh gampang menyerah. ”Justru kita harus menjadikan tantangan dan kendala sebagai peluang. Masa-masa menjadikan isu ekonomi syariah sebagai wacana sudah lewat. Yang harus dilakukan sekarang adalah gerak nyata. Juga ditanamkan kemauan keras untuk mewujudkan ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari,
Bicara mengenai prospek ekonomi syariah di Indonesia, ada lima faktor yang mendukung. Pertama, fatwa bunga bank riba dan haram. Kedua, tren kesadaran masyarakat Muslim, Ketiga, sistem ekonomi syariah berhasil menunjukkan keunggulannya, khususnya saat terjadi krisis ekonomi. Ketika bank-bank konvensional tumbang dan butuh suntikan dana pemerintah hingga ratusan triliun, Bank Muamalat, sebagai bank syariah pertama di Indonesia, mampu melewati krisis dengan selamat tanpa bantuan dana pemerintah sepeserpun. Keempat, UU Perbankan Syariah yang kini terus digodok, dan akan menjadi payung hukum bagi perbankan syariah di Indonesia. Kelima, tuntutan integrasi Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Bank syariah harus menggunakan asuransi syariah untuk menutup pembiayaan terhadap nasabahnya. Sebaliknya, asuransi syariah harus menyimpan dananya di bank syariah, pasar modal syariah, maupun reksadana syariah.
Prospek ekonomi syaiah makin menjanjikan, seiring dengan eksistensi Dewan Syariah Nasional (DSN) yang makin bergigi. Lembaga pendidikan ekonomi syariah juga makin banyak.
Tantangan sekaligus dapat menjadi peluang bagi yang mampu memanfaatkan dan menggerakkannya. Umat Islam memerlukan orang-orang Muslim yang menguasai Fiqih Muamalat dan ilmu-ilmu umum sekaligus. Menurut data Bank Indonesia, diperkirakan bahwa dalam jangka waktu sepuluh tahun kedepan, dibutuhkan tidak kurang dari 10 ribu SDM yang memiliki basis skill ekonomi syariah yang memadai. Ini merupakan peluang yang sangat prospektif, sekaligus merupakan tantangan bagi kalangan akademisi dan dunia pendidikan kita. Tingginya kebutuhan SDM ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi syariah semakin dapat diterima oleh masyarakat. Walaupun harus diakui bahwa ketika berbagai pemikiran dan konsep ekonomi syariah ini pertama kali diperkenalkan, kemudian diimplementasikan dalam berbagai institusi ekonomi, sebagian dari kaum muslimin banyak yang ragu dan tidak percaya.
Munculnya sikap semacam ini sebagai refleksi dari pemahaman bahwa ajaran agama Islam hanya mengatur pola hubungan yang bersifat individual antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur aspek-aspek lain yang berkaitan dengan mu`amalah yang berhubungan dengan interaksi dan pola kehidupan antar sesama manusia. Padahal ajaran Islam adalah ajaran yang bersifat komprehensif dan universal, dimana tidak ada satu bidang pun yang luput dari perhatian Islam, termasuk bidang ekonomi tentunya.

PERAN BERBAGAI SEKTOR DALAM PEMBUMIAN EKONOMI ISLAM
Meskipun perkembangan ekonomi islam khususnya BPRS, BMT dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya cukup mengesankan dari segi kuantitas, namun ekonomi ummat “ belum ada” tanda-tanda terangkat dari bawah oleh perangkat-perangkat kasar ini. Masih diperlukan perjalanan panjang untuk meningkatkan kualitas perekonomian umat. Penyebab keterbelakangan umat terutama di bidang ekonomi ini sebenarnya memiliki banyak faktor. Dengan kata lain fenomena keterbelakngan ini memiliki faktor multidimensional. Karena itu untuk mengatasinya diperlukan pendekatan multidimensional juga. Namun dengan perkembangan lembaga keuangan syariah yang ada seharusnya dapat dimanfatkan secara optimal untuk mengurangi keterbelakangan itu.
Sinergitas dari semua kalangan masyarakat baik itu regulasi, akademisi maupun praktisi harus terwujud agar tidak ada ketimpangan di dalam membumikan ekonomi Islam di Indonesia. Peran aktif dari masyarakat umum merupakan faktor penting dalam pembumian ekonomi Islam.
Peran Akademisi dalam Perkembangan Ekonomi Syariah
1. Mengupayakan adanya ‘paradigm shift’, menjadikan nilai-nilai universal yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah sebagai ‘world view’ melalui pendekatan riset, pengembangan konsep-konsep.
2. Mengembangkan filsafat ilmu berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
3. .Mengembangkan Metodologi Ilmiah berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
4. Bagaimana ‘menangkap’ pengalaman-pengalaman praktisi di lapangan ke dalam kajian teoritis/akademis.
5. Di sisi lain, bagaimana ‘mendaratkan’ teori-teori yang ada di ‘awan’ ke tingkat implementasi di lapangan.
6. Teoretisasi dan positivisasi fatwa-fatwa baik lokal/regional maupun global sekaligus secara berkala melakukan purifikasi
7. Advokasi kebijakan : merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi dan pembangunan yang mengandung nilai-nilai universal berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah.
8. Mengembangkan strategi pengajaran Ekonomi Islam di semua tingkat pendidikan (SD, MI, SMP, MTs, SMA, MA, PT, pesantren)
9. Menyiapkan dan mempertinggi kualitas SDI untuk terjun di kancah ekonomi secara Islami
10. Go Global :
i. Sertifikasi keahlian/profesi : Islamic Financial Analyst, Insurance Specialist, Insurance Agent, Community Development Specialist, Zakat/Waqf Specialist, Islamic Financial Planner.
ii. Menyusun buku-buku teks/modul-modul
iii. Menulis artikel-artikel ilmiah
Peran Regulator
Ekonomi islam dalam pembumiannya tidak dapat berjalan tanpa adanya regulasi-regulasi sebagai payung hukum praktik ekonomi syariah di Indonesia. Jelas sekali peran regulator yang bersinergi dengan masyarakat, akademisi, maupun praktisi, contoh lahirnya fatwa MUI 16 Desember 2003 yang mengharamkan bunga bank konvensional, dampaknya cukup besar terbukti antara lain sejumlah bank syariah mengalami kelebihan likuiditas. Dana masuk sangat cepat, sementara poses pembiayaan tak secepat penerimaan dana.
Peran negara dalam ekonomi selalu penting dalam pemikiran politik muslim sejak dulu hingga sekarang, yamg telah di bahas dalam sejumlah subjek, termasuk dia ntaranya adalah: al-ahkam as-sulthaniyyah’ regulasi pemerintah’, maqasid asy-syari’ah,as-siyasah as-syariah ‘ kebijakan syariah’ dan al-hisbah.
Namun, peran negara dalam ekonomi islam todak seperti “intervensi” pemerintah yang tetap komitmen kepada kapitalisme laissez paire. Ia juga tidak seperti kolektivitasi dan regimen tasi yang mencekik kebebasan dan iniiatif in dividu serta keinginan berusaha. Ia juga tidak seperti negra kesejahteraan yang sekularis yang karena penghindarannya dari penilaiaan, makin memperkuat klaim-klaim pada sumber daya dan menimbulkan ketidakseimbangan ekonomi. Ia adalah sebuah peran positif suatu kewajiban moral untuk membantu mewujudkan kesejahteraan semua orang dengan menjamin keseimbangan antara kepentingan privat dan sosial, memelihara roda perekonomian pada rel yang benar, dan men cegah pengalihan arahnya leh kelompok berkuasa yang berkepentingan. Makin besar motivasi orang utuk menerapkan nilai-nilai Islam, makin efektif lembaga-lembaga sosio ekonomi dalam menciptakan keseimbangan yag adil antara sumber-sumber daya dan klaim-klaim, juga dalam meralisasikan maqasid syariah , makin kecil peran negara dalam perekonomian. Namun apapun peran pemerintah, ia tidak boleh dimainkan secara acak, ia harus dimainkan dalam batas-batas syariah dan melalui saluran demokratis serta “konsultasi” (syura).

Peran Praktisi
para praktisi memegang peranan penting dalam pembumian ekonomi Islam karena di sektor inilah aplikasi riil ekonomi islam benar-benar terjadi. Baik buruknya ekonomi Islam barometer atau tolok ukurnya adalah praktisi sehingga kesalahan sekecil apapun “praktek” ekonomi syariah akan menjadi image ekonomi syariah itu sendiri secara menyeluruh. Oleh karena itu, para praktisi diharapkan sangat berhati-hati juga tetap melakukan introspeksi dan komunikasi dengan pihak lain dalam mengaplikasikan “produk-produk” ekonomi syariah.
Apalagi kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia yang terlalu ideal pandangannya terhadap ekonomi syariah, misalnya praktek sebuah BMT yang diklaim tidak Islami menjadi kesimpulan umum atau generalisasi bahwa ekonomi syariah itu tidak baik.
Peran Masyarakat
Masyarakat diharapkan bisa ikut andil dalam proses pembentukan sistem ekonomi Islam . seperti melakukan transaksi di Institusi-Institusi Ekonomi Syariah dengan melakukan proses controlling terhadap praktek dan intitusi syariah sehingga terciptanya dinamika sistem ekonomi Islam yang kondusif.
KESIMPULAN
Sinergitas merupakan salah satu kata kunci dari pembumian ekonmi Islam disamping kita menyiapkan konsep,sosialisasi , regulasi dan advokasi bagi masyarakat Kemajuan ekonomi Islam akan lebih efektif dan efisien ketika semua bekerja sama dengan koordinasi yang sistematis sehingga menjadi kekuatan yang luar biasa. Tahapan-tahapan perkembangan ekonomi Islam akan sistematis ketika ada master plan atau grand design dalam pencapaian target dan tujuan dari ekonomi Islam itu sendiri . Maka diperlukan sebuah Blue Print yang dijadikan
semacam panduan atau guidance bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian syariah di Indonesia.
Agustinus Sri wahyudi, manajemen strategi, Binarupa Aksara, 1996 Jakarta
Aris Mufti ekonomi Islam sebagai solusi permasalahan ekonomi di Indonesia, makalah yang disampaikan pada MUNAS III FoSSEI 2003 Kalimantan Selatan
Aries Mufti, Repleksi dan Proyeksi Ekonomi Islam, Munas IV FoSSEI 2004: UNPAD Bandung
Bey Utama Sapta, Peran Akademisi dalam Pengembangan Ekonomi Syariah, makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional dan Rakernas FOSSEI Pesantren TAZKIA, 2004 Bogor
Ekonomi Syariah Butuh Gerak Nyata, http://www.republika.co.id/ , Senin, 02 Mei 2005
Umer Chapra. islam dan tantangan ekonom, Gema Insani Press, 2000 Jakarta

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: