Home > Islamic Management > Manajemen Style

Manajemen Style


Dari Dustur Rabbani
“ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan “
(QS al-A’raaf 31)

Muqaddimah
Manajemen style adalah bagian dari sebuah inovasi (baca: tathawwur,-peny) yang teraplikasikan dalam seni berda’wah (baca: fiqh da’wah,-peny). Penyusun ingin mengutip sebuah pernyataan yang sangat bagus dari sebuah tulisan Akh Afwan Riyadi, ” Strategi dakwah ini dalam kaidah syar’i masih berupa sesuatu yang normatif, sehingga diperlukan pengayaan-pengayaan sebagai manifestasi aplikatif untuk merealisasikannya ”1.
Masyarakat Islam saat ini tengah menunggu kiprah para kader dakwah dalam membawa mereka (masyarakat) ke arah kebaikan dan perbaikan. Masyarakat tersebut terbagi ke dalam beberapa golongan. Ada golongan2 simpati, ragu-ragu, penentang, masyarakat kota, desa, kolot, moderat, pengusaha, birokrat, pedagang, pengamen, pengemis, bahkan-maaf- pelacur dan preman. Yang sudah tentu dalam setiap bagiannya, diperlukan strategi yang beda untuk ’menaklukkannya’ plus tangan-tangan terampil, kepala-kepala bijak dan hati-hati yang lembut untuk mendukungnya.
Oleh karenanya, kecerdasan seorang da’i yang bijak dalam menyampaikan kebenaran sangatlah dibutuhkan, seorang da’i yang menurut Ustadz Arifin Ilham adalah3 pribadi yang selalu berbaik sangka, tidak sinis, tidak pesimis dan suka memvonis. Semua itu agar seruan yang disampaikan mampu menghujam ke dalam relung hati dan tidak sekedar mampir di permukaannya.

Bingkai pemikiran
Sebelum penyusun membahas topik sebenarnya, penyusun ingin sekedar memaparkan sekelumit kaidah yang dijadikan sebagai pijakan dalam pembahasan ini. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, umat kontemporer (baca: Ikhwah,-peny) haruslah memiliki pemahaman yang benar akan agamanya. Pemahaman yang tidak sekedar catatan di atas kertas atau hapalan di dalam kepala tapi justru lemah di tataran operasional. Pemahaman akan perlunya pengembangan yang berdasar pada keaslian yang ada pada dakwah ini. Sehingga mereka tidak salah kaprah dalam memperjuangkannya.
Maka dari itulah, Imam Asy-Syahid menjelaskan ada dua hal yang menjadi bagian dari manhaj dakwah ini, yakni Tsawabit (sesuatu yang tetap) dan Mutaghayyirat (sesuatu yang senantiasa berubah). Adapun Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim Lc. mengatakan bahwa ” Orisinalitas (ashalah) sebenarnya membutuhkan pengembangan (tathawwur) agar mampu mengikuti perkembangan jaman, dan tathawwur tidak boleh ngawur, akan tetapi harus berangkat dari ashalah agar tetap berada pada ash-shiraatal mustaqiim ” 4.
Tarbiyah, sebagaimana salah satu maknanya yang berarti berkembang atau bertambah5, tentunya juga menghendaki adanya penyesuaian-penyesuaian dalam penyampaiannya kepada masyarakat. Seperti penegasan Rasulullah dalam sabdanya yang mulia,” Berdakwahlah dengan bahasa umatmu ”. Alloh pun menurunkan Al-Qur’an kepada bangsa ’Arab, dengan bahasa arab, dan perumpamaan-perumpamaan syurgawi (misalnya) seperti yang mereka pahami akan syurga6. Jadi, sebuah pertanyaan yang harus dijawab adalah, ” Sudahkah pemahaman itu kita miliki ? ”

Ekspansi, antara realita dan konsekuensi
Sebagaimana kita ketahui bersama, dakwah ini telah melalui fase ta’rif (pengenalan) dengan berbagai dinamikanya. Setelah fase ini dilakukan, terjadi pelebaran ruang bagi para simpatisannya yang sangat signifikan untuk dapat melihat dakwah ini lebih dekat. Momen inilah yang harus dimanfaatkan oleh para kader dakwah dan memperkenalkan fikrohnya dengan bahasa yang lebih bisa diterima oleh pendukungnya.
Ekspansi dakwah ini menempatkan posisi kita pada tempat yang strategis di masyakat. Bahkan bukan tidak mungkin, hal-hal sepelepun akan menjadi penilaian di masyarakat awam yang cenderung sebagai pengamat,-seperti baju koko, jilbab, cara shalat, kerapihan, dan lain-lain. Jadi, strategi yang cerdas sangat dibutuhkan dalam menghadapi hal-hal semacam ini. Karena apabila tidak ditanggapi dengan bijak, akan menjadikan imej dakwah menjadi turun. Meski sungguh janji Alloh tetaplah yang pasti akan menjadi jaminannya, QS 61:9.

Adaptasi gaya dalam pergaulan yang terbuka
Seperti yang telah penyusun jelaskan di atas, melebarnya ruang interaksi du’at dengan para objek dakwahnya, ‘memaksa’ para da’i tersebut untuk mau dan mampu beradaptasi dengan konstituennya secara proporsional dan profesional. Inilah yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah paska Liqo-at awal mereka di kediaman Arqam dan Abil Arqam . Ungkapan-ungkapan yang sering terdengar,- seperti salah satunya, “ Hari gini belum kenal ikhwan akhwat ? ”-, seharusnya menyadarkan kita akan daya adaptasi yang jauh lebih berat, tanpa penghilangan keaslian dan kekhasan yang sudah ada dari jama’ah ini.
Alloh dengan firman-Nya, “ Sesungguhnya Kami Yang Menurunkan Al-Qur’an dan Kami pulalah Yang akan Menjaganya “, menyuratkan sebuah awal akan karakter yang ada dan yang telah dihasilkan haruslah dikedepankan dan dijadikan sebuah misi yang harus dimenangkan dalam memahami Islam yang integral ini.

Pakaian
Al-Qur’an telah memberi pedoman kepada manusia untuk mendayagunakan pakaian yang telah Alloh anugerahkan kepada hamba-Nya. Yaitu menutup aurat, dan untuk perhiasan khususnya jika hendak pergi ke masjid atau bertemu dengan sesama manusia. Pada dasarnya Islam memberikan kebebasan kepada umatnya dalam cara berpakaian, asal tidak menyalahi syari’at Islam7. Dalam hal ini, penyusun menganggap bahwa ikhwah sekalian sudah cukup paham dengannya, Insya Allah.
Alloh berfirman, “ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid,…” (QS Al-A’raaf 31).
Dalam ayat ini, Alloh memerintahkan kepada manusia untuk selalu mempergunakan pakaian yang bagus dan indah saat berinteraksi dengan Rabb-nya, atau dengan sesama manusia. Hal itu dilakukan semata-mata sebagai wujud rasa syukurnya kepada Alloh . ” Itu semua merupakan karunia dan nikmat Alloh kepada manusia kepada keta’atan kepada-Nya ”, (Tafsir Ibnu Katsir). Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “ Sesungguhnya bila kamu datang kepada saudara-saudaramu, maka patutkanlah kendaraan-kendaraanmu dan pakaian-pakaianmu sehingga kamu tampak seakan-akan bunga yang harum di antara manusia…” (HR Abu Daud dalam hadits Qais bin Basyir at-Taghlaby dari ayahnya tentang perkataan Abi Darda).

Style dan Produktivitas Tarbawy.
Saat ada seseorang yang menanyakan mengenai hal tersebut, maka yang terbersit dalam pikiran kita tentu saja adanya pemahaman seorang al-akh yang mendalam mengenai karakteristik dakwah8 itu sendiri. Dunia yang senantiasa berubah tentunya menuntut perubahan strategi pula dalam berda’wah, meski harus tetap menjaga orisinalitasnya. Sehingga, adalah sebuah hal yang lucu9, atau boleh dibilang kurang pas, bilamana dakwah telah menyentuh golongan seperti kaum pemusik misalnya, menggunakan,-dalam hal ini-, sorban, tasbih, jubah menjuntai, wajah yang sangar dan muatan seruannya bernada sinis dan langsung memvonis, walaupun itu bukanlah sesuatu yang salah, hanya saja kurang tepat mungkin. Bisa jadi, sebelum kita berbicara, objek tersebut sudah kabur duluan, Wallahu ‘alam.
Asy-Syahid Hasan al-Banna,-semoga Alloh merohmatinya-, mendatangi warung-warung kopi10, yang saat itu dianggap sebagai pusat kegiatan yang sia-sia. Walaupun di awal sambutan yang di dapat kurang hangat, namun dengan kegigihan Imam Al-Banna dan pertolongan Alloh , para tukang nongkrong itulah yang kelak menjadi pilar awal kebangkitan Islam di zaman kontemporer ini.
John T. Malloy dalam Dress for Success mengatakan11 bahwa penampilan (pakaian,-peny) adalah sebagai simbol penghargaan dan tanggung-jawab. Lebih lanjut, penampilan mampu mempengaruhi persepsi orang lain terhadap kita mengenai siapa diri kita. Meski itu bukanlah jaminan yang shahih.
Penyusun sendiri saat pernah bergabung dengan salah satu harakah islam12, pernah mengalami ‘penolakan’ yang halus dan berulang dari orang tua objek dakwah saat anaknya akan didakwahi oleh penyusun. Ini mungkin saja terjadi hanya karena penampilan penyusun yang,-mungkin-, kurang membaur, atau terlihat ‘berbeda’. Atau sebuah cerita dari seorang teman yang merasa ketakutan didakwahi oleh seorang ikhwan dari harakah yang lain karena belum-belum sudah melarang ini dan itu, menilai ini dan itu, dan sebagainya. Akibatnya adalah, teman penyusun tersebut menjadi antipati dan tidak simpati, dan cenderung menjauh saat ikhwan tersebut menjelaskan sebuah perkara. Wallahu ‘alam.

Batasan Berpakaian Menurut Islam
Dalam hal ini, penyusun percaya bahwa para pembaca yang budiman sudah mengerti dan paham mengenai batasan dan kriterianya. Namun tidak ada salahnya untuk dipaparkan disini, sekedar untuk pengingat. Adapun batasan atau kriteria itu antara lain13 :
1. Sebagai penutup aurat
2. Bagi laki-laki, diharamkan untuk memakai sutra
3. Diharamkan penampakan kebancian dan menyerupakan diri pakaian perempuan secara umum
4. Tawadhu’ dan tidak berlebihan
5. Kesucian dan kebersihan
6. Bentuknya yang bagus
7. Wangi alias parfuman donk. Karena Nabi dapat dikenali tidak lewat telapak kakinya, namun lewat aromanya.
8. Tidak menyamai pakaian orang kafir, misalkan:
• Terdapat tanda-tanda kebesaran musuh, salib misalnya.
• Mengandung gambar orang kafir.
• Mengandung tanda yang merusak dan ungkapan yang negatif.
9. Bagi wanita;
• menutup selain selain yang dikecualikan.
• Bukan berfungsi sebagai perhiasan.
• Kainnya tebal dan tidak tipis.
• Tidak diberi wewangian atau parfum.
• Bukan libas syuhrah (pakaian popularitas)
Mengenai poin nomor 4 di atas, Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata dalam sya’irnya14,

Baguskanlah pakaianmu semampumu
sesungguhnya hal itu adalah perhiasan bagi laki-laki yang membuatmu agung dan mulia
Jauhilah pakaian kasar hanya karena ingin disebut tawadhu’
Alloh Maha Tahu apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu simpan
baju barumu tak berbahaya bagimu, setelah kamu takut pada Ilahi dan menjauhi apa yang dilarang
pakaian hina takkan mengangkat kedudukanmu di sisi Alloh
bila kamu hamba yang berbuat dosa

Dandan ? Harus itu…
Nabi Muhammad sebagai manusia yang mulia telah mengajarkan kepada umatnya agar memiliki penampilan yang terbaik dalam kesehariannya. Kita tentu masih ingat akan apa yang Amirul Mukminin ’Umar bin Khaththab lakukan kepada seorang lelaki yang akan diminta cerai istrinya hanya karena penampilannya yang buruk15. Sehingga demi menengahinya, beliau menyuruh lelaki itu untuk berdandan dan merapikan penampilannya. Berikutnya? Wanita itu membatalkan tuntutannya.
Juga sebuah hadits yang menyuruh seorang sahabat untuk merapikan penampilannya saat akan tampil di muka umum. Kita juga ingat akan Abu Dujanah , sahabat mulia yang senantiasa memulai perangnya melawan musuh islam dengan merapikan sorbannya terlebih dahulu16, dan masih banyak lagi kisah yang lainnya.
Mari bersama kita ikuti penuturan dari Ustadz ‘Umar Tilmisani rahimahullah berikut ini17; ” Penampilan adalah refleksi keharmonisan antara warna-warna yang ada pada jas, kemeja, dasi, sapu tangan, kaos kaki dan warna sepatu…Kami, pemuda-pemuda ikhwan, seperti yang biasa dikatakan, adalah pendeta-pendeta di malam hari dan satria-satria gagah di siang hari. Malam harinya kami beribadah dan memperbaiki hubungan kami dengan Alloh. Siang harinya kami tampil berani, dandy, dan selalu berbuat sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin serta menempatkannya secara benar dalam masyarakat dimanapun kami berada “. Subhanalloh, bukankah penampilan itu adalah sesuatu yang tidak main-main ?
Kalaupun hujjah mereka adalah untuk tawadhu’, bisa jadi itu kurang tepat, bilamana yang dihadapinya adalah umat yang belum paham18. Atau malah, itu bisa terjebak dalam Riya’ agar dibilang tawadhu’. Adapun bila penampilan yang baik itu sebagai wujud syukur kita kepada Alloh , maka itulah sebaik-baik amalan. Rasulullah bersabda,” Apabila Alloh memberimu harta, hendaklah kamu memperlihatkan bukti nikmat Alloh atas kamu dan buktikan bahwa kamu memuliakan Alloh ”. (HR Abu Dawud).

Sebuah Otokritik
Ustadz Ahmad Karzun dalam Adab Berpakaian Pemuda Islam menekankan kepada seluruh mukmin akan pentingnya memilih pakaian dalam menjalani kesehariannya. Berikut kutipannya, “ Adalah sangat penting memilih pakaian yang sesuai bagi manusia untuk menutup auratnya dan untuk menampakkan perhiasannya di hadapan masyarakat. Pakaian merupakan ungkapan perasaan hati, pancaran tingkah laku, bahkan pola pikir pemakainya. Masyarakat umum akan dapat mengetahui kepribadian seseorang dengan mengamati kepribadian seseorang dengan mengamati pakaian yang dikenakannya. Kepribadian tersebut meliputi akhlaqnya, jabatannya maupun karakternya. Orang memang lebih mudah dan lebih cepat menyimpulkan kepribadian seseorang dengan melihat pakaiannya ”. 19
Oleh karenanya, seorang ikhwah yang paham, akan mementingkan penampilannya (salah satunya) bilamana ia akan bertemu dengan khalayaknya. Tentunya penampilan yang sesuai dengan urgensi dan kapasitas pertemuan itu. Bukanlah sebuah hal yang baik, bilamana ada seorang ikhwah yang memiliki kedudukan yang baik di masyarakat tapi melalaikan aspek jasadinya, dalam hal ini penampilan. Mari kita simak penuturan Ibnul Qayyim20 dalam Zaadul Ma’ad, “ Nabi untuk setiap tempat, mengenakan apa yang sesuai “.
Mengenai ketawadhu’an, Rasulullah juga menekankan akan pentingnya hal tersebut, sebagaimana sabdanya, ” Barangsiapa meninggalkan satu jenis pakaian karena tawadhu’ kepada Alloh, sedang di mampu untuk memiliki pakaian tersebut, maka Alloh akan memanggilnya nanti di hari kiamat di antara makhluk-makhluk. Bila ia memilih perhiasan yang diinginkannya, maka Alloh akan memberikannya ”. (HR Tirmidzi). Yang dimaksud dengan tawadhu’ ini adalah bukan berarti memakai pakaian yang jelek (hina) sehingga dihina manusia21. Subhanalloh.

Khatimah : Penyimpangan dari Tujuan
Penyimpangan dari tujuan adalah merupakan penyimpangan yang paling berbahaya dan paling dahsyat daya hadangnya terhadap tarbiyah. Oleh karenanya, setiap murabbi harus memahami bahwa tujuan yang harus dicapai di jalan dakwah adalah Alloh . Jauhnya atau menyimpangnya seorang ikhwah dari tujuan itu, walaupun ’kecil’, akan menghadapkan manhaj tarbiyah pada cacat yang berbahaya.
Riya’, ghurur, congkak, merasa tinggi, ambisi duniawi, dan sebagainya adalah merupakan penyakit hati yang dapat menyimpangkan penderitanya dari tujuan. Maka hancurlah amalnya dan gugurlah pahalanya karena rusaknya niat dan hilangnya keikhlasan.
Yang disebut penyimpangan dari tujuan tidak harus dalam bentuk orientasi terhadap kepentingan-kepentingan dunia secara utuh. Sekadar adanya penyimpangan kecil misalnya dalam persepsi atau dalam amal, maka itu sudah cukup untuk menghambat manhaj tarbiyah yang benar. Wallahu ’alam. 

Berikut ini adalah sebuah kisah yang patut kita renungkan22

Midun, sebut saja demikian. Ia sudah cukup lama mengikuti proses tarbiyah. Midun memiliki halaqah yang cukup sehat. Ini bisa dilihat dari frekuensi pertemuannya yang cukup rutin dan jarang terputus-putus. Begitu pula kehadirannya, Midun dikenal sebagai anggota yang paling jarang absen. Rekan-rekan halaqah-nya pun tergolong ikhwah-ikhwah kelas berat. Kebanyakan mereka adalah tokoh kampus atau masyarakat.
Namun akhir-akhir ini ada perangai Midun yang berubah sejak dia lulus dari kuliahnya. Kini Midun tampak lebih gaul dan trendy. Apalagi sejak ia diterima di salah satu perusahaan bonafid di Jakarta, penampilannya menjadi lebih ‘metroseksual’.
Bukan hanya itu, kegemarannya pun kini mulai bergeser. Kalau dulu lebih suka mengoleksi kaset nasyid atau murottal, kini ia lebih suka mendengarkan kaset-kaset yang lebih nge-pop atau nge-rock. Bahkan beberapa kaset tersebut sudah mampir di kamarnya. Bila dulu lebih sering mengisi waktu malamnya dengan mengaji atau ikut kajian, kini dia lebih sering nongkrong di kafe bersama rekan-rekan kerjanya. Atau bahkan sekali-kali ikut juga nge-dugem, yang dikenal sebagai tempat mengumbar maksiat.
Gaya Midun ini mampu ditutupinya di hadapan Murabbi dan rekan-rekan halaqah-nya. Midun, di hadapan mereka, tetaplah seorang Midun yang tidak pernah bermasalah dalam hal kehadiran.
Kok bisa! ”Bagaimanapun, ane gak mau dibilang ikhwan futuris (Ikhwan yang futur,-peny) ”, begitu mungkin batinnya. Yang pasti, Midun tidak berniat menghilangkan status ‘ikhwah’nya di kalangan ikhwan yang lain. Karena bagaimanapun juga, menurutnya, pangkat ‘ikhwah’ itu masih amat berguna baginya. “Ya, paling nggak, peluang untuk mendapatkan akhwat sebagai istri masih besar “, barangkali itu semboyannya dalam hati.
Yah…semoga saja dia tidak mendapatkan akhwat yang suka nge-dugem juga.

Catatan kaki
Silahkan lihat di Majalah Al-‘Izzah Edisi no.06/Th.4/1-31 Juli 2004.
2 Silahkan baca Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid I halaman 31-33, Imam Hasan Al-Banna
3 Taushiyah ini penyusun dapatkan dari Nasyid yang berjudul ’Tombo Ati’ dalam Album Taushiyah, Dzikir, Nasyid, Ustadz Arifin Ilham.
4 Penyusun mengusulkan untuk membaca buku Tarbiyah Menjawab Tantangan, halaman 38.
5 Ushulut Tarbiyah, Ustadz DR Abdurrahman an-Nahlawi halaman 12, Ibid.
6 Kembali penyusun menyarankan untuk membaca buku Berinteraksi Dengan Al-Qur’an, karya al-‘Allamah asy-Syaikh DR Yusuf Qaradhawy terbitan Gema Insani Press.
7 Tafsir Fi Zhilal, Sayyid Quthb. Lihat Adab Berpakaian Pemuda Islam, Ahmad Hasan Karzun, hal. 24.
8 Untuk lebih memperjelas mengenai masalah ini, penulis menyarankan para pembaca yang budiman untuk membaca buku yang berjudul Fikih Dakwah Jilid I karya Syaikh Musthafa Masyhur halaman 6-12, terbitan Al-I’tishom.
9 Maaf bila ungkapan ini dirasa kurang pantas dimunculkan. Hanya saja ini merupakan sebuah kritisi dari penyusun akan kondisi dakwah yang jumud , terkesan emosional dan kurang kontekstual. Ini dikarenakan ,-sungguh-, ilmu penyusun masih sangat dangkal. Wallahu ’alam.
10 Untuk yang kedua kalinya penyusun menyarankan kepada para pembaca yang budiman untuk membaca buku Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin dan juga Memoar Hasan al-Banna Untuk Da’wah dan Para Da’inya. Keduanya merupakan karya dari Imam Syahid Hasan al-Banna, dan sama-sama diterbitkan oleh ERA Intermedia.
11 John T. Malloy, Dress for Success. Lihat Perilaku Organisasi, Anies S.M. Basalamah, halaman 177.
12 Penyusun tidak berniat menjelekkan atau mengomentari secara sinis mengenai cara harakah tersebut berdakwah, hanya saja ini sebagai sebuah pelajaran,-bagi penyusun khususnya-, akan pentingnya sebuah penampilan saat berdakwah. Wallahu ’alam.
13 Silahkan lihat di buku yang berjudul Kudung Gaul Berjilbab Tapi Telanjang, karya Abu Al-Ghifari halaman 51-61, dan Adab Berpakaian Pemuda Islam, Ahmad Hasan Karzun dari awal sampai habis.
14 Silahkan lihat dalam buku Adab Berpakaian Pemuda Islam, halaman 126-127.
15 Kepada para pembaca yang budiman silahkan membaca kisahnya di buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan karya Salim A. Fillah, terbitan Pro U-Media.
16 Tak bosan-bosannya penyusun menyarankan untuk membaca sebuah buku yang sangat bagus yang berjudul Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur-rahman al-Mubarakfury. Cerita ini ada di dalam kitab tersebut.
17 Silahkan lihat dalam Bukan Sekadar Kenangan, ’Umar Tilmisani halaman 54-55.
18 Di beberapa daerah, ada masyarakat yang mementingkan penampilan dibandingkan kemampuan. Wallahu ‘alam.
9 Adab Berpakaian Pemuda Islam, hal 26-27.
20 Silahkan lihat dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim halaman 100.
21 Op.cit. hal 93. Lihat juga dalam Zaadul Ma’ad halaman 109.
22 Majalah Al-‘Izzah Edisi no. 06/Th. 4/ 2004/1-31 Juli 2004 halaman 19.

Sumber inspirasi penyusun dalam makalah ini

Alloh berfirman, ” Bacalah, dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan..” (QS al-‘Alaq ayat 1)

1. Al-Qur’an al-Kariim dan terjemahannya.
2. Adab Berpakaian Pemuda Islam, Ahmad Hasan Karzun, Darul Falah.
3. Tsawabit Dalam Manhaj Gerakan IKhwan, Jum’ah Amin ’Abdul ’Aziz, Asy-Syaamil Press.
4. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid I, Hasan al-Banna, ERA Intermedia.
5. Tarbiyah Menjawab Tantangan, Tim Penulis , Rabbani Press.
6. Fikih Dakwah Jilid I, Syaikh Musthafa Masyhur, I’tishom.
7. Memoar Hasan Al-Banna Untuk Dakwah dan Para Da’inya, Hasan al-Banna, ERA Intermedia.
8. Berinteraksi Dengan Al-Qur’an, DR. Yusuf Qaradhawy, Gema Insani Press.
9. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Salim A. Fillah, Pro U-Media.
10. Gue Never Die ! Kerenkan Diri Trus Nikah Dini, Salim A. Fillah, Pro U-Media
11. Perilaku Organisasi, Anies S.M. Basalamah, Usaha Kita.
12. Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayim al-Jauziyah, Rabbani Press.
13. Bukan Sekedar Kenangan, ‘Umar Tilmisani, Rabbani Press.
14. Shirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Rabbani Press.
15. Buletin Tafakur, Edisi 316 Th. VII/ Jumadil Awal 1426 H/ Mei 2005, IKADI
16. Majalah Al-‘Izzah Edisi No. 06/Th. 4/ 2004.
17. Majalah Al-‘Izzah Edisi No. 04/Th. 4/ 2004.
18. Sumber-sumber lain yang tidak terdokumentasikan.

Penyusun yang fakir ’ilmu,
Ibnu Sa’id

Biodata Penyusun

Ibnu Sa’id atau Wahid Nugroho adalah putra pertama dari pasangan Nursa’id dan Warsiti. Kakak dari Aldino Soeharto ini lahir di Jakarta pada Rabu, 6 Agustus 1985. Saat ini penyusun tengah menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Spesialisasi Diploma Tiga Perpajakan. Sebelumnya, penyusun menuntaskan studinya di SMU Negeri 90 Petukangan Selatan, SLTP Negeri 245 Petukangan Utara dan SD Negeri 01 Petukangan Utara. Di samping kuliah, ikhwan yang memiliki hobi membaca ini juga aktif dalam berorganisasi, baik organisasi di lingkungan tempat tinggalnya maupun di kampus. Di lingkungannya, penyusun aktif dalam Pengajian Malam Jum’at Al-Faruq, dan sempat menjadi ketua pada tahun 2003-2004 yang lalu. Di kampus, ikhwan yang juga senang dengan es kelapa dan sate kambing ini aktif di Badan Legislatif Mahasiswa (2004- sekarang) sebagai ketua II, Ukhuwah Mahasiswa Muslim Pajak sebagai BPH (2003-2004) dan staf Bidang Dakwah (sekarang), Pjs Kadept Kastrat KAMMI Komsat Pondok Aren (2003- sekarang), staf ZISWAF MBM (sekarang) dan staf Kaderisasi MBM (2004- sekarang). Selain itu, ikhwan bertubuh gemuk yang juga anggota Tim Nasyid AZZAM ini juga menjadi Ketua Forum Komunikasi Alumni Rohis Alumni 90 atau FKAR (2003- sekarang). Sekarang, ikhwan yang masih single ini tinggal di Jalan Cipadu Raya (K.H. Wahid Hasyim Raya) Gg. H. Gojali RT 01 RW 005, No. 58 Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang, Banten 15222, nomor telepon 0815 8434 5158.

Categories: Islamic Management
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: