Home > Islamic Banking, Islamic Economy, Islamic Management > PERBANDINGAN KINERJA BANK ISLAM TERHADAP BANK PERSERO, BANK ASING DAN BANK UMUM DI INDONESIA PADA 2000 – 2004

PERBANDINGAN KINERJA BANK ISLAM TERHADAP BANK PERSERO, BANK ASING DAN BANK UMUM DI INDONESIA PADA 2000 – 2004


M.Suyanto

The study evaluates interbank performance of Islamic Banks in Indonesia on profitability, liquidity, risk and solvency; and community involvement for the period 2000 – 2004. Financial ratios are applied in measuring these performances. F-test are used in determining their significance. The study found that Islamic Banks are relatively more commitment to community development, but less liquid compared to the Government Banks, Foreign Banks, and Commercial Banks. Islamic Banks do not show (statistically) any difference in performance and managerial performance with the Government Banks and Commercial Banks, but Islamic Banks are less performance and managerial performance with the Foreign Banks. Islamic Banks are relatively more cost efficient compared to the Government Banks and Commercial Banks; more profit (NIM) compared to the Commercial Banks; and relatively less risky compared to the Foreign Banks.

Keyword : Kinerja, Bank Islam, Bank Umum

1. Pendahuluan

Bank dan Keuangan Islam pada sepuluh tahun terakhir tumbuh 15 % setiap tahun yang melebih pertumbuhan Bank maupun institusi keuangan yang ada di pasar modal global, berada di lebih dari 75 negara dengan asset sekitar 200 milyar dolar Amerika (Yawer, 2002). Beberapa institusi keuangan Islam bahkan beroperasi di tiga belas lokasi lain, diantaranya Australia, Bahama, Kanada, Cayman Islands, Denmark, Guernsey, Jersey, Irlandia, Luxemburgh, Switzerland, Inggris, Amerika Serikat dan Virgin Islands. Ekspansi bank Islam ke seluruh dunia, baik dalam jumlah maupun dana yang diluasai, disertai operasi-operasi yang dikaji di mesir, Malaysia, Bangladesh, Jordania, Australia, Sudan, Iran dan Pakistan menunjukkan bahwa perbankan Islam sangat layak dan bank Islam benar-benar dapat beroperasi di negara manapun, memenuhi banyak sekali fungsi dan menggunakan instrumen-instrumen yang berbeda. Meskipun banyak bank telah mendapat dukungan modal yang banyak sekali dan mendapat perlindungan dari pemerintahan-pemerintahan dan keluarga-keluarga muslim terkemuka, tetapi bank Islam telah mempercayakan diri jauh lebih banyak pada lingkungan pasar kompetitif pada sistem perbankan campuran-konvensional (Algaoud dan Lewis, 2001). Selanjutnya Algoud dan Lewis menambahkan bahwa perbankan Islam merupakan sebuah pasar yang berkembang dan ada perbedaan dalam penerapan prinsip-prinsip dasarnya di lokasi-lokasi yang berbeda. Misalnya pada sisi deposito, rekening lancar (current account) dijalankan terutama berdasarkan prinsip al-wadiah. Deposito tabungan juga diterima berdasarkan prinsip al-wadiah, tetapi “hadiah” kepada para deposan diberikan menurut kebijakan Bank Islam atas saldo minimum, sehingga para deposan juga sama-sama mendapat bagian laba. Di Malaysia, keuntungan dari rekening tabungan islami secara langsung bersaing dengan rekening tabungan Bank konvensional. Deposito investasi didasarkan pada prinsip mudharabah, tetapi terdapat banyak variasi. Dengan demikian, Islamic Bank of Bangladesh, mislanya menawarkan rekening deposito profit-loss sharing (PLS), rekening pemberitahuan khusus PLS dan rekening deposito berjangka PLS, sedangkan Bank Islam Malaysia mengoperasikan dua jenis deposito investasi, satu untuk masyarakat umum dan satu lagi untuk nasabah kelembagaan. Juga terdapat variasi-variasi yang menarik dalam pola penggunaan sumberdaya oleh Bank Islam. Misalnya, musyarakah telah menjadi cara investasi yang penting di Mesir dan sudan, sedangkan di Malaysia cara ini nyaris tidak menonjol. Musyarakah yang berkurang (diminishing musyarakah) telah dipakai untuk permodalan kemitraan pembangunan perumahan di Australia. Jordan Islamic Bank telah melakukan investasi langsung dalam perumahan dan skema-skema investasi lainnya. Pada saat-saat sekarang, Bank Islam dalam berbagai bentuk bermunculan di banyak negara muslim mapupun non-muslim. Deposito, dana-dana yang disalurkan, serta modal para pemegang saham di Bank tersebut meningkat tajam (Saeed, 1996). Maka Bank Islam menarik untuk diteliti.
Bank Islam merupakan gabungan antara bank komersial dan bank investasi, dan akan menawarkan serangkaian produk pelayanan bagi para pelanggan yang mempunyai hubungan jangka panjang. Sebagian dari dana pembiayaannya akan digunakan untuk proyek-proyek tertentu atau ventura, sedangkan mayoritspembiayaan yang bersifat jangka pendek akan tersedia dalam kerangka persetujuan ini. Investasi yang berorientasi kepada penyertaan modalnya, tidak mengijinkannya untuk meminjam jangka pendek dan memberikan pinjaman jangka panjang. Hal ini menyebakan kecenderungan tidak mudah terkena krisis dibandingkan dengan bank konvensional (Chapra, 2000).
Bank Islam yang mengedepankan model equity finance menjadi lebih menarik setelah model debt financing oleh bank konvesional di Amerika Serikat mengalami krisis baik 1930-an atau 1980-an. Jepang menggunakan kombinasi struktur debt financing dan equity finance sehingga pertumbuhan ekonominya setelah perang tinggi (Akacem dan Gillian, 2002). Sebaliknya bank konvensional mudah terkena krisis. Krisis perbankan terbesar terjadi di Amerika Serikat pada 1930-an, yaitu 9.106 ditutup / dibantu (Federal Deposit Insurance Corp.,2004).
Keunggulan konsep perbankan Islam atas perbankan konvensional terletak dalam kenyataan bahwa Islam telah melenyapkan kezaliman bunga. Islam melarang bunga, karena tidak berpengaruh pada volume tabungan, dan bunga dapat menyebabkan depresi kronis juga memperlambat proses pemulihan, karena ia memperburuk masalah pengangguran dan akhirnya mendorong pembagian kekayaan yang tidak merata (Mannan, 1970). Bank Islam dengan menggunakan sistem non bunga akan meringankan beban negara dari hutang. Setiap tahun Amerika Serikat membayar jutaan dolar bunga atas hutang nasionalnya. Demikian juga, negara-negara yang dianggap kaya harus membayar bunga besar sekali atas hutang nasionalnya. Keberadaan hutang ini seharusnya tidak terjadi. Karena itu pembayaran bunga atasnya tidaklah seharusnya dilakukan (Diwany, 2003). Dengan demikian Bank tanpa bunga (Bank Islam) menjadi lebih menarik lagi untuk diteliti.
Meskipun demikian, masih ada masalah yang harus diselesaikan untuk kemajuan bank Islam. Masalah-masalah tersebut berkait dengan masalah hukum, daya tarik deposito yang terus bertahan dan pola operasi pendanaan yang dilaksanakan. Undang-undang perbankan di sebagian besar negara tidak mengijinkan bank untuk terlibat langsung dalam bisnis yang menggunakan dana para deposan, atau paling tidak secara tegas membatasi investasi-investasi semacam itu hanya pada dana yang dipasok oleh para pemegang saham. Di negara-negara nonmuslim, mendirikan bank Islam harus sesuai dengan undang-undang yang ada di negara yang bersangkutan yang pada umumnya tidak kondusif untuk jenis pendanaan PLS dalam sektor pebankan. Pasar sudah tidak lagi dalam masa pertumbuhannya, dan bank Islam tidak dapat menerima nasabah apa adanya. Terdapat banyak institusi, termasuk Bank Barat, yang bersaing dengan Bank Islam murni melalui jendela-jendela islami, dan pelajaran umum yang dapat dipetik dari pasar-pasar modal, sebagaimana dalam pasar-pasar lainnya adalah bahwa penyebaran laba dan margin laba mengalami penurunan begitu institusi-institusi keuangan baru masuk pasar. Tidak adanya instrumen jangka pendek juga menyulitkan bank Islam (Algoud dan Lewis, 2001). Dengan demikian studi tentang bank Islam lebih mendalam perlu dilakukan.
Perkembangan Bank Umum Syariah (Islam), Unit Usha Syariah dan Bank perkreditan Rakyat Syariah dari 2000 sampai dengan 2004 dapat dilihat pada tabel 1.1.
TABEL 1.1
JARINGAN KANTOR PERBANKAN SYARIAH

Kelompok
Bank 2000 2001 2002 2003 2004
KPO/KC/
KCP KK KPO/KC/
KCP KK KPO/KC/
KCP KK KPO/KC/
KCP KK KPO/KC/KCP KK
Bank Umum Syariah 29 26 41 43 54 59 94 113 132 131
PT. Bank Muamalat Indonesia 16 26 18 37 20 46 41 80 49 78
PT. Bank Syariah Mandiri 13 0 23 6 34 13 53 33 81 53
PT. Bank Syariah Mega Indonesia 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0
Unit Usaha Syariah 7 0 12 0 25 0 48 0 48 0
PT. Bank IFI 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
PT. Bank Negara Indonesia 5 0 10 0 12 0 17 0 22 0
PT. Bank Jabar 1 0 1 0 3 0 4 0 4 0
PT. Bank Rakyat Indonesia 0 0 0 0 2 0 11 0 18 0
PT. Bank Danamon 0 0 0 0 5 0 10 0 10 0
PT. Bank Bukopin 0 0 0 0 2 0 2 0 3 0
PT. Bank Internasional Indonesia 0 0 0 0 0 0 2 0 3 0
HSBC, Ltd. 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0
PT Bank DKI 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
BPD Riau 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
BPD Kalsel 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
PT Bank Niaga 0 0 0 0 0 0 0 0 5 0
BPD Sumut 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
BPD Aceh 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Bank Permata 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Bank Perkreditan Rakyat Syariah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
TOTAL 115 26 134 43 162 59 142 113 206 131

KPO = Kantor Pusat Operasional
KC = Kantor Cabang
KCP = Kantor Cabang Pembantu
KK = Kantor Kas

Sumber : Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia, Maret 2004

Dari Tabel 1.2., Bank Umum Syariah dari 2000 sampai dengan 2004 mengalami peningkatan, dari 2 bank menjadi 3 bank, dan Kantor Pusat Operasional/Kantor Cabang/Kantor Cabang Pembantu mengalami peningkatan dari 29 buah pada 2000 menjadi 41 buah pada 2001, menjadi 54 buah pada 2002, menjadi 94 buah pada 2003 dan menjadi 132 buah pada 2004. Kantor Kasnya juga ningkat dari 26 buah pada 2000, menjadi 43 buah pada 2001, menjadi 59 buah pada 2002, menjadi 113 buah pada 2003 dan menjadi 131 pada 2004.
Unit Usaha Syariah dari 2000 sampai dengan 2004 mengalami peningkatan, dari 3 buah menjadi 15 buah, dan Kantor Pusat Operasional/Kantor Cabang/Kantor Cabang Pembantu juga mengalami peningkatan dari 7 buah pada 2000, menjadi 12 buah pada 2001, menjadi 25 buah pada 2002, menjadi 48 buah pada 2003 dan menjadi 66 buah pada 2004, tetapi Kantor Kasnya tidak mengalami peningkatan, tidak mempunyai Kantor Kas pada 2000 sampai dengan 2004.

2. Metodologi dan data

Kinerja merupakan sebuah konsep yang sulit, baik dalam bentuk definisi maupun dalam pengukuran. Kinerja didefinisikan sebagai hasil akhir dari aktivitas, dan ukuran tepat yang terpilih untuk menilai kinerja perusahaan yang dipertimbangkan bergantung pada jenis organisasi yang dievaluasi dan sasaran yang dicapai melalui evaluasi itu (Hunger dan Wheelen, 1997). Dengan demikian kinerja bank Islam dapat didefinisikan sebagai hasil akhir dari aktivitas bank Islam.
Untuk mengukur kinerja bank Islam, Haron (1996) menggunakan tiga indikator kinerja bank Islam, yaitu Total income yang diterima oleh bank (TITA), the bank’s portion of income after payment to depositors (BITA), dan net profit before tax (BTTA).
Sarker (1999), menggunakan Banking Efficiency Model untuk mengevaluasi kinerja bank Islam di Bangladesh. Banking Efficiency model menggunakan lima kriteria tes untuk mengukur efisiensi sistem perbankan Islam. Kelima kriteria tes tersebut antara lain Investment Opportunity Utilisation Test, Profit Maximisation Test, Project Efficacy Test, Loan Recovery test dan Test of Elasticity in Loan Financing.
Samad dan Hassan (1999) melakukan pengukuran kinerja perbankan Islam Malaysia antara 1984 – 1997. Indikator yang dipakai untuk melakukan pengukuran kinerja bank Islam adalah profitability, liquidity, risk and solvency dan commitment to community.
Studi ini membuat perbandingan kinerja Bank Islam (Bank Syariah) dengan Bank Konvensional (Bank Umum atau Bank Komersial) di Indonesia. Pertama, Bank Islam dibandingkan dengan Bank Persero (Bank Pemerintah). Kedua, kinerja Bank Islam dibandingkan dengan Bank Asing. Ketiga, kinerja dibandingkan dengan Bank Konvensional yang terdiri dari 145 bank (Industri Bank). Analisis mengenai kinerja antar-bank ini, pertamakali dilakukan Sabi (1996). Dalam pasar keuangan yang sangat kompetitif, kinerja suatu bank dapat lebih baik difahami dengan menggunakan analisis antar bank (Samad dan Hassan, 2000).
Studi ini menggunakan 9 rasio keuangan untuk kinerja bank. Rasio-rasio ini dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu: a. profitability ; b. liquidity; c. risk and solvency; d. commitment to community.

a. Profitability Ratios :

Profitability dapat diukur menggunakan empat kriteria :
1. Return on asset (ROA) = Laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir / Rata-rata Aktiva dalam periode yang sama (sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/2/UPPB tanggal 30 April 1997)
2. Return of equity (ROE) = Laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir / Rata-rata Modal dalam periode yang sama (sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/2/UPPB tanggal 30 April 1997).
ROA dan ROE merupakan indicator pengukuran efisiensi of manajerial (Ross (1994), Sabi (1996), Hassan (1999) and Samad (1998). ROA merupakan pendapatan bersih per unit suatu aset, yang menunjukkan bagaimana sebuah bank dapat melakukan konversi aset menjadi pendapatan bersih. Semakin tinggi rasio ROA semakin baik kinerja bank tersebut. Demikian halnya, ROE merupakan net earnings per unit equity capital. Semakin tinggi rasion ROE semakin baik kinerja manajerial bank tersebut.
3. Income expense ratio (IER) = Pendapatan Operasional dalam 12 bulan terakhir / Biaya operasional dalam periode yang sama (sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/2/UPPB tanggal 30 April 1997).
IER merupakan indikator efisiensi biaya dalam menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi IER semakin tinggi efisiensi biaya untuk mendapat pendapatan, yang berarti pula semakin tinggi kinerja bank tersebut (Samad dan Hassan, 2000).
4. Net Interest Margin (NIM) = Pendapatan Bunga Bersih / Rata-rata Aktiva
Produktif (untuk Bank Konvensional, sesuai Surat
Edaran Bank Indonesia No. 30/2/UPPB tanggal 30
April 1997)
Non Net Interest Margin (NIM) = Pendapatan Non Bunga Bersih / Rata-rata
Aktiva Produktif (untuk Bank Islam)
Semakin tinggi NIM suatu Bank, semakin tinggi margin pendapatan bank
tersebut.

b. Liquidity Ratios.

Bank dan lembaga keuangan berbagi resiko likuiditas, karena transaksi deposito dan tabungan dapat dilakukan setiap saat. Dengan demikian, pendeknya waktu dapat menyebabkan masalah pada likuiditas (Samad dan Hassan, 2000).
Likuiditas dapat diukur menggunakan criteria sebagai berikut :
1. Loan deposit ratio (LDR) = Kredit / Dana yang diterima. (Untuk bank konvensional, (sesuai Surat Edaran Bank Indonesia No. 30/2/UPPB tanggal 19 Maret 1997).
Financing deposit ratio (FDR) = Financing / Dana yang diterima (Untuk bank
Islam).
Semakin tinggi LDR/FDR mengindikasikan bahwa sebuah bank membuat lebih
menekankan keuangannya pada pembuatan hutang/pembiayaan yang telalu
banyak. Semakin kecil LDR/FDR semakin baik likuiditas bank tersebut.
CAR yang tinggi mengindikasikan bahwa bank mempunyai asset yang likuid jangka panjang. Bank Indonesia memberikan ketentuan minimal CAR 8 %.

c. Risk and Solvency Ratios

Sebuah bank dikatakan mampu membayar hutangnya (solvent) jika total nilai asetnya lebih besar dari liabilitasnya. Bank menjadi beresiko jika tidak solvent. Berikut ini yang umum digunakan untuk risk and insolvency.

1. Capital adequacy ratio (CAR) = (Modal Inti + Modal Pelengkap) / Aktiva tertimbang Menurut Resiko (ATMR).
Modal Inti terdiri dari Modal disetor dan Cadangan tambahan modal, sedangkan modal pelengkap terdiri dari revaluasi aktiva tetap, cadangan umum PPAP maksimal 1,25 % dari ATMR, modal pinjaman, pinjaman sub ordinasi maksimal 50 % dari modal inti dan peningkatan nilai penyertaan pada portofolio yang tersedia untuk dijual setinggi-tingginya sebesar 45 %.

2. Debt to total asset ratio (DTAR) = Hutang (Dana Pihak Ketiga) / total asset. DTAR mengindikasikan kemampuan keuangan sebuah bank untuk membayar kepada pemberi hutang. Semakin tinggi DTAR semakin tinggi suatu bank melibatkan diri dalam resiko bisnis.
3. Non Performing Financing (Loan) (NPF) = Collectibility / Total Credit (financing). Collectibility meliputi kualitas kredit (pembiayaan) kurang lancar, diragukan dan macet. Semakin tinggi nilai NPF mengindikasikan sebuah bank mepunyai resiko lebih tinggi.

d. Commitment to Community

1. Credit (Financing) to Total Asset Ratio (CTA) = (FTA) =
Kredit (pembiayaan) yang diberikan / Total Asset.
Semakin besar prosentase FTA semakin besar pula komitmen bank terhadap
pengembangan masyarakat. (commitment to community development). Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan Samad dan Hassan (2000).

Kinerja Bank Islam (Syariah) di Indonesia diukur dalam dua tahap. Tahap pertama membandingkan kinerja Bank Islam dengan Bank Persero dan membandingkan kinerja Bank Islam dengan Bank Asing yang beroperasi di Indonesia. Tahap kedua, membandingkan kinerja Bank Islam dengan seluruh Bank Umum atau Bank Konvensional yang ada di Indonesia (145 bank).
SPSS 11.5 for Windows digunakan dalam analisis. Dalam membadingkan antar kelompok Bank tersebut, digunakan Analisis Varian Satu jalan (One Way ANOVA) untuk menguji hipotesis nul (H0), yaitu kinerja bank Islam dengan Bank yang lain itu sama (tidak ada perbedaan yang berarti).
MSB / MSW digunakan untuk mengestimasi nilai F. Jika nilai F ini (F hitung) lebih besar dari nilai F kritis (F tabel), maka dikatakan Ho ditolak atau Ha yang diterima, artinya kinerja antara dua kelompok bank tersebut secara statististik tidak sama atau berbeda. Sebaliknya jika nilai F ini (F hitung) lebih kecil dari nilai F kritis (F tabel), maka dikatakan Ho diterima Ha ditolak, artinya kinerja antara dua kelompok bank tersebut secara statististik sama atau tidak berbeda.

3. Analisis data dan Hasil Empiris

Pada kategori profitabilitas, ANOVA menyarankan untuk menerima Ho untuk ROA dan ROE antara Bank Islam dengan Bank Persero, artinya ROA dan ROE Bank Islam tidak ada beda secara statistik dengan Bank Persero (Tabel 1). Dengan demikian kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam dengan Bank Persero tidak berbeda secara signifikan. Sedangkan perbandingan Bank Islam dengan Bank Asing, yaitu rata-rata ROA and ROE untuk Bank Islam masing-masing 1,884 % and 16,428 % sedangkan ROA and ROE untuk Bank Asing pada periode yang sama masing-masing 3,882 % dan 124,230 % (Tabel 2). ANOVA menyarankan untuk menolak Ho, atau menerima Ha dengan signifikansi secara statistik masing-masing pada tingkat 5 % dan 1 %, artinya kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam berbeda secara statistik dengan Bank Asing. Maka kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam kurang baik dibandingkan dengan Bank Asing. Perbandingan antara Bank Islam dengan Bank Umum untuk ROA dan ROE, ANOVA menyarankan untuk menerima Ho untuk ROA dan ROE antara Bank Islam dengan Bank Umum, artinya ROA dan ROE Bank Islam tidak ada beda secara statistik dengan Bank Umum (Tabel 3).. Dengan demikian kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam dengan Bank Umum tidak berbeda secara signifikan. Hasil ini sesuai dengan studi yang dilakukan Samad dan Hassan (2000) yang membandingkan kinerja antara Bank Islam dan Bank Konvensional di Malaysia.
Perbandingan Income Expense Ratio (IER) antara Bank Islam dengan Bank Persero dan Bank Umum, ANOVA menyarankan untuk menolak Ho, atau menerima Ha, artinya IER Bank Islam berbeda secara statistik dengan Bank Persero dan Bank Umum. Rata-rata IER untuk Bank Islam 1,220 sedangkan IER untuk Bank Persero dan Bank Umum pada periode yang sama masing-masing 1,002 dan 1,098. Perbedaan ini signifikan secara statistik masing-masing pada tingkat 1 % dan 5 % (Tabel 1 dan Tabel 3).. Maka Bank Islam lebih efisien biaya untuk memperoleh pendapatan dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Umum. Meskipun demikian IER Bank Islam dibandingkan dengan Bank Asing, hasil dari ANOVA, menerima Ho, artinya tidak berbeda secara signifikan (Tabel 3) atau Bank Islam tidak lebih efisien biaya untuk memperoleh pendapatan dibandingkan dengan Bank Asing.
Perbandingan Net Non Interest Margin (NIM) Bank Islam dengan Net Interest Margin (NIM) Bank Persero dan Bank Asing, ANOVA menyarankan untuk menerima Ho, maka Net Non Interest Margin (NIM) Bank Islam dengan Net Interest Margin (NIM) Bank Persero dan Bank Asing tidak berbeda secara signifikan (Tabel 1 dan Tabel 2).. Bank Islam lebih baik daripada Net Interest Margin (NIM) Bank Umum. Maka margin pendapatan Bank Islam dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Asing tidak berbeda secara signifikan. Namun demikian, NIM Bank Islam dibandingkan dengan NIM Bank Umum, ANOVA menyarankan untuk menolak Ho, menerima Ha yang berarti NIM Bank Islam dan NIM Bank Umum berbeda secara signifikan. Rata-rata NIM untuk Bank Islam 5,774 % sedangkan NIM untuk Bank Umum pada periode yang sama masing-masing 3,772%. Perbedaan ini signifikan secara statistik pada tingkat 5 % (Tabel 3). Maka margin pendapatan Bank Islam lebih baik dibandingkan dengan Bank Umum.
Pada kategori likuiditas, Loan / Financing Deposit Ratio (LDR/FDR) Bank Islam dibandingkan dengan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum berbeda secara signifikan (menolak Ho). Rata-rata FDR untuk Bank Islam 98.126 % sedangkan LDR untuk Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum pada periode yang sama masing-masing 34.738 %, 53.248 % dan 41.288 %. Perbedaan ini signifikan secara statistik masing-masing pada tingkat 1 % ((Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3). Dengan demikian Bank Islam kurang likuid dibandingkan dengan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum. Hal ini justru berbeda dengan studi yang dilakukan Samad dan Hassan (2000) yang membandingkan kinerja likuiditas antara Bank Islam dan Bank Konvensional di Malaysia, bahwa likuditas Bank Islam lebih baik dibandingkan dengan Bank Konvensional, karena Bank Islam memelihara likuditas lebih baik dibandingkan dengan Bank Konvensional. Sebaliknya di Indonesia, Bank Islam memelihara likuiditas kurang baik dibandingkan dengan Bank Konvensional (Bank Umum) atau berarti pula Bank Islam mempunyai kemampuan menyalurkan dana lebih baik dibandingkan dengan Bank Konvensional.
Sedangkan Capital Adequacy ratio (CAR) Bank Islam Islam berbeda dari Bank Asing (menolak Ho). Rata-rata CAR untuk Bank Islam 26.314 % sedangkan CAR untuk Bank Bank Asing 17.490 %, berbeda secara signifikat pada tingkat 10 %, artinya Bank Islam Islam mempunyai kecukupan modal lebih baik daripada Bank Asing (Tabel 2), tetapi CAR Bank Islam tidak berbeda secara signifikan dengan CAR Bank Persero dan Bank Umum (Tabel 2 dan Tabel 3). atau Bank Islam mempunyai kecukupan modal yang tidak berbeda atau mempunyai likuiditas jangka panjang tidak berbeda dengan Bank Persero dan Bank Umum.
Pada kategori Risk and Solvency, Debt to total asset ratio (DTAR) Bank Islam tidak berbeda dengan DTAR Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum (menerima Ho), dapat dilihat pada Tabel (Tabel 1, Tabel 2 dan Tabel 3). Dengan demikian kemampuan keuangan Bank Islam untuk membayar kepada pemberi hutang atau melibatkan diri dalam resiko bisnis dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum tidak berbeda.
NPL Bank Islam juga tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan NPL Bank Persero dan Bank Umum (menerima Ho) atau berarti pula resiko Bank Islam tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Umum (Tabel 1 dan Tabel 3)., tetapi berbeda (menolak Ho) dengan Bank Asing pada tingkat sinifikansi 1%. Rata-rata NPL untuk Bank Islam 5.110 % sedangkan NPL untuk Bank Asing 11.193 % (Tabel 2). Maka Bank Asing mempunyai resiko lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Islam.
Pada kategori commitment to community, Financing Total Asset Ratio (FTA) Bank Islam lebih baik dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum. Rata-rata FTA untuk Bank Islam 75.762 % sedangkan FTA untuk Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum pada periode yang sama masing-masing 29.460 %, 45.508 % dan 37.964 %, berbeda secara signifikan masing-masing pada tingkat 1 % (Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3).. Hal ini berbeda dengan yang ditemukan Samad dan Hassan (2000) pada studi perbandingan kinerja Bank Islam dengan Bank Umum di Malaysia, yang menyatakan bahwa komitmen antara Bank Islam dan Bank Konvensional adalah sama. Hal ini berarti Bank Islam di Indonesia lebih berkomitment terhadap pengembangan masyarakat dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum.

4. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam dengan Bank Persero dan Bank Umum tidak berbeda secara signifikan. Sedangkan perbandingan kinerja dan kinerja manajerial Bank Islam kurang baik dibandingkan dengan Bank Asing.
Bank Islam lebih efisien biaya untuk memperoleh pendapatan dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Umum. Meskipun demikian Bank Islam tidak lebih efisien biaya untuk memperoleh pendapatan dibandingkan dengan Bank Asing.
Margin pendapatan Bank Islam dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Asing tidak berbeda secara signifikan. Namun demikian, margin pendapatan Bank Islam lebih baik dibandingkan dengan Bank Umum.
Pada kategori likuiditas, Bank Islam kurang likuid dibandingkan dengan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum Bank Islam Islam mempunyai kecukupan modal lebih baik daripada Bank Asing, tetapi CAR Bank Islam tidak berbeda secara signifikan dengan CAR Bank Persero dan Bank Umum atau Bank Islam mempunyai kecukupan modal yang tidak berbeda dengan Bank Persero dan Bank Umum.
Pada kategori Risk and Solvency, kemampuan keuangan Bank Islam untuk membayar kepada pemberi hutang atau melibatkan diri dalam resiko bisnis dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum tidak berbeda. Bank Islam tidak berbeda secara signifikan dalam resiko kemacetan hutang dibandingkan dengan Bank Persero dan Bank Umum., tetapi Bank Islam mempunyai resiko kemacetan lebih kecil dibandingkan dengan Bank Asing.
Pada kategori commitment to community, Bank Islam lebih berkomitment terhadap pengembangan masyarakat dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum.
Dengan terbuktinya Bank Islam lebih berkomitment terhadap pengembangan masyarakat dibandingkan Bank Persero, Bank Asing dan Bank Umum, maka Pemerintah untuk terus mendukung perkembangan Bank Islam di Indonesia dengan membuat kebijakan yang memberikan peluang lebih besar untuk Bank Islam.
Studi lebih lanjut dari ini pelu dilakukan, misalkan studi tentang pengaruh kinerja Bank Islam terhadap kesejahteraan masyarakat. Studi teantang pengaruh Kebijakan Pemerintah terhadap kinerja Bank Islam.

Table 1

Performance Measure Bank Islam Bank Persero F-value
I. Profitability
1. ROA 1,824 % 1,872 % 0,008
2. ROE 16,428 % 21,336 % 0,572
3. IER 1,220 1,002 22,567***
4. NIM 5,774 % 4,042 % 0,162
II. Liquidity
6. LDR 98,126 % 34,738 % 52,964***
III.Risk and Solvency
7. CAR 26,314 % 17,372 % 2,846
8. DTAR 66,304 % 67,690 % 0,077
9. NPL 5,110 % 8,990 % 2,501
IV. Commitment to
Community
10.FTA 75,762 % 29,460 % 95,681***

* Difference in means : Significant at 10 %
** Difference in means : Significant at 5 %
***Difference in means : Significant at 1 %

Table 2

Performance Measure Bank Islam Bank Asing F-value
I. Profitability
1. ROA 1,824 % 3,882 % 9,738**
2. ROE 16,428 % 124,230 % 21,153***
3. IER 1,220 1,174 0,656
4. NIM 5,774 % 4,144 % 0,127
II. Liquidity
5. LDR 98,126 % 53,248 % 27,816***
III.Risk and Solvency
6. CAR 26,314 % 17,490 % 4,311*
7. DTAR 66,304 % 73,830 % 2,631
8. NPL 5,110 % 11,193 % 11,193***
IV. Commitment to Community
9. FTA 75,762 % 45,508 % 47,866***

* Difference in means : Significant at 10 %
** Difference in means : Significant at 5 %
***Difference in means : Significant at 1 %

Table 3

Performance Measure Bank Islam Bank Umum F-value
I. Profitability
1. ROA 1,824 % 1,834 % 0,000
2. ROE 16,428 % 27,966 % 2,505
3. IER 1,220 1,098 6,460**
4. NIM 5,774 % 3,722 % 3,837*
II. Liquidity
5. LDR 98,126 % 41,288 % 38,597***
III.Risk and Solvency
6. CAR 26,314 % 19,328 % 2,321
7. DTAR 66,304 % 73,822 % 2,514
8. NPL 5,110 % 10,880 % 5,396**
IV. Commitment to Community
9. FTA 75,762 % 37,964 % 85,797***

* Difference in means : Significant at 10 %
** Difference in means : Significant at 5 %
***Difference in means : Significant at 1 %

REFERENSI

Akkas, Ali, (1996), “Relative Efficiency of the Conventional and Islamic Banking System in Financing Invenstment,” Unpublished PH,d, Dissertation, Dhaka University,

Algaoud, Latifa M and Lewis, Mervyn K, (2001), “Islamic Banking”, Edward Elgar, Massachusetts,

Arif, Mohammad, (1989), “Islamic Banking in Malaysia:Framework, performance and lesson”, Journal of Islamic Economics, vol,2, No,2

Dewany, Tarek El, (2003), “The Problem With Interest”, London,

Dirrar, E,Elbeid, (1996), “Economics and Financial Evaluation of Islamic Bankking Operations:A case of Bank Islam Malaysia 1983-1995”,Unpublished paper,UIA,

Haron, Sudin (1996), “The Effects of Management Policy on The Performance of Islamic Banks”, Asia Pacific Journal of Management, Vol 13, No, 2: 63-76

Hassan, M,Kabir (1999),”Islamic Banking in Theory and Practice: The Experience of Bangladesh,”Managerial Finance, Vol,25,Vol,5:60-113,

Hassan, M, Kabir and Samad, Abdus (2000) “The Performance of Malaysian Islamic Bank During 1984-1997: An Exploratory Study ” International Journal of Islamic Financial Services Vol,1,No,3,

Saeed, A,(1996), “Islamic Banking and Interest”, Leiden, EJ, Brill,

Sum, Wong Choo,(1995),”Bank Islam Malaysia:Performance Evaluation”,Al-Harran Saad Abdul Satter(ed, :eading Issues in Bnaking and Finance,PJ,Pendaduk Publication,

Tan,M,Koh,Cand Low C,(1997),”Stability in Financial ratios:A study of listed companies in Singapore”,Asia Review of Accounting,vol,5,No,1,

Sabi,Manijeh,(1996),”Comparative Analaysis of Foreign and Domestic Bank Operation in Hungary”, Journal of Comparative Economics,vol,22,pages (179-188)

Samad,Abdus,(1999,”Comparative Efficiency of the Islamic Bank Malaysia vis-à-vis conventional banks”,Journal of Economics and Management,vol,7,No,1,

Meinster,David amd Elyasian, Elyas (1994) “An Empirical test of Test of Association between Production and Financial Performance: The case of Commercial banking industry”, Apllied Financial Economics, vol,4,pages 55-59,

Putnam, B,H, (1983),”Concept of Financial Monetary”, Federal Reserve Bank of Atlanta Economics Review, pages 6-13,

Spindler, Andrew et,Al (1991),”The Performance of Ibternationally Active Banks and Securities Firms based on conventional measure of competitiveness, In Federal Reserve Bank,NY,

Yawer, Nick (2002), “Islamic Banking & Finance Conference”, Washinton DC, The Islamic Free Market Intitution,

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: