Archive

Archive for the ‘Akuntansi Islam’ Category

STRATEGI BARU STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN: MEMBANGUN SINERGI ANTARA STANDAR AKUNTANSI SYARIAH DAN STANDAR AKUNTANSI UKM

July 29, 2010 Leave a comment

Oieh : Sri Yanto dan Jan Hoesada

Pendahuluan
Dua tahun yang lalu Dewan Standar
Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI bersama
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
membentuk Komite Akuntansi Syariah
(KAS). Salah satu pertimbangan pembentukan
KAS adalah adanya potensi ekonomispiritual
yang terkandung pada Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) Syariah. Pada
pertengahan tahun 2007, KAS telah berhasil
membangun sebuah perangkat nyaris lengkap
tentang akuntansi syariah. Posisi Indonesia
dalam struktur standar akuntansi syariah
relatif lebih lengkap dibandingkan dengan negara-
negara lain. DSAK telah menghasilkan
tiga macam produk pengaturan terkait dengan
akuntansi syariah. Pertama, Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk
transaksi-transaksi syariah. Kedua, Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Syariah (KDPPLKS). Ketiga, Prinsip-
prinsip Akuntansi Syariah yang Berlaku
Umum. Pencapaian ini patut disyukuri sebagai
rahmat dan nikmat yang dilimpahkan
Allah kepada bangsa kita.
Dilain pihak, ekonomi syariah umumnya,
bisnis berbasis syariah khususnya mempunyai
ciri unik intelegensi spiritual persaudaraan
(ukuwah) seperti membangun
hubungan tolong-menolong bukan saling
menghisap, hubungan kepercayaan bukan
hubungan saling curiga atau saling memperdayai
menyebabkan hubungan pembiayaan
dalam ekonomi syariah tak menggunakan
basis agunan dan riba, yang disubstitusi oleh
azas kepercayaan dan semacam ”bagi hasil”.
Hubungan niragunan dan ”bagi hasil” tersebut
niscaya amat bergantung pada Laporan
Keuangan nasabah mitra bank syariah.
Nasabah mitra perbankan syariah sangat
bervariasi mulai dari yang besar hingga
menengah dan kecil. Namun dari data statistik
yang ada pada umumnya adalah pengusaha
kecil dan menengah, dewasa ini sebagian
besar tak mampu melakukan akuntansi dan
menyajikan LK, sehingga dibutuhkan suatu
kondisi yang menunjang. Kondisi yang menunjang
tersebut antara lain adalah eksistensi
suatu Standar Akuntansi Keuangan Usaha
Kecil Menengah (SAK UKM) yang secara
praktis dapat diterapkan oleh para pebisnis
UKM. Oleh karena itu, agar pelaksanaan
SAK syariah berjalan dengan baik, misalnya
penentuan bagi hasil dapat dilakukan dengan
andal, maka penyediaan suatu SAK UKM
bagi nasabah mitra bank syariah merupakan
hal yang sangat penting.
International Accounting Standard Board
(IASB) mungkin sudah hampir 10 tahun terakhir
ini berupaya membentuk suatu ”IFRS for
Small and Medium-sized Entities”. Beberapa
tahun terakhir ini mulai memproduksi kertas
kerja dan tepatnya bulan Februari 2007 exposure
draft IFRS for SME diterbitkan untuk
dikomentari oleh seluruh negara anggota
IASB, termasuk Indonesia. Exposure draft
tersebut memberi bahan baku yang cukup
walau tidak ideal, bagi Indonesia untuk
membangun suatu SAK UKM. Oleh karena
itu, DSAK segera membangun suatu kelompok
kerja pakar untuk menerjemahkan
karya IFRS tersebut, menganalisis perbedaan
SAK UKM dan SAK yang saat ini berlaku di
Indonesia (SAK besar—istilah penulis) dan
menyusun suatu draft SAK UKM yang akan
disajikan kepada DSAK.
Pembangunan ekonomi kapitalismekerakyatan
atau kapitalisme spiritual berbasis
UKM adalah suatu cita-cita pemerataan
pembangunan dan kesejahteraan bagi orang
banyak sesuai amanat UUD kita. Suatu basis
ekonomi yang berciri spiritual, pada negara
yang berumat Islam terbesar (bersama
Pakistan dan India) di dunia memang harus
difasilitasi dengan sepasang standar, yaitu
SAK Syariah (bagi pihak pendana) dan SAK
UKM (mitra usaha). Sehingga dengan itulah
cita-cita Indonesia baru yang sejahtera dapat
terwujud.
Kondisi Kaum Dhuafa dan UKM di
Indonesia
Sekitar 110 juta penduduk paling
miskin Indonesia berpenghasilan US $2,
pengangguran mencapai 9,9 juta jiwa.
Tahun 2005 adalah Tahun Program Aksi
Penanggulangan Kemiskinan melalui
Pemberdayaan UMKM (usaha mikro kecil
menengah), adalah Tahun Keuangan Mikro
Indonesia sebagai tindak lanjut Tahun Kredit
Mikro Internasional PBB. Kementerian
Negara Koperasi dan UKM mencanangkan
rencana stratejik 2005-2009 dengan target
6 juta wirausaha baru. Pertengahan 2005
jumlah UKM mencapai 42,5 juta unit,
menyerap 79 juta TK dari 92 juta pekerja.
Kredit yang tersalur dari perbankan pada
awal 2005 mencapai Rp500 triliun, termasuk
sekitar Rp200 triliun dialirkan kepada UKM,
padahal kebutuhan dana 42,5 juta UKM
tersebut sekitar Rp600 triliun.

AKUNTANSI ZAKAT SEBUAH KEHARUSAN

July 29, 2010 Leave a comment

Sejarah akuntansi syariah (baca akuntansi zakat), sebenarnya
sudah lama lahir. Jika diruntut, sejak ada perintah untuk
membayar zakat itu. Adanya perintah membayar zakat
itulah mendorong pemerintah untuk membuat laporan
keuangan secara periodik Baitul Maal, sementara para
pedagang muslim atau produsen muslim wajib menghitung hartanya
(assetnya) apakah sudah sesuai dengan nishabnya (batas harta yang
harus dibayarkan).
Penghitungan dengan sistem akuntan syariah itu di Indonesia belum
terbiasa. Maklum, Bank Mualamat saja, sebagai Bank Syariah Islam
pertama di Indonesia baru berdiri pada awal Nopember 1991. Itu
artinya akuntan syariah baru akan lahir setelah puluhan tahun bank itu
berdiri. Tetapi fenomena munculnya transaksi syariah, usaha syariah
di kalangan pebisnis Indonesia, kini telah mendorong lahirnya para
akuntan syariah untuk lebih mendalami masalah audit di bidang zakat
dan bentuk perdagangan lainnya secara syariah Islam.
Itu sebabnya, penyusunan dan penyempurnaan akuntansi zakat
oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merupakan sebuah keharusan.
Mengapa? ”Karena ini sebuah keniscayaan sejarah untuk pelaksanaan
dan pengelolaan zakat sesuai dengan kaedah syariah Islam dan sejalan
dengan adanya konsep GCG/ good governance,” ujar Dr. Setiawan
Budi Utomo, Ketua Tim Kerja Akuntansi Zakat IAI, kepada Muh.
Yusuf, wartawan Akuntan Indonesia, di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Setiawan, posisi amilin (pengelola zakat) yang diformalkan
dalam bentuk LAZ maupun BAZ merupakan lembaga kepercayaan
publik yang sensitif pada isu public trust (kepercayaan publik) dalam
penghimpunan dan penyaluran dana zakat.
Berikut petikan wawancara itu.
Apa latar belakang penyusunan Standar
Akuntansi Syariah dan Zakat?
UU Zakat mewajibkan kepada Lembaga Amil Zakat (LAZ) maupun
Badan Amil Zakat (BAZ) untuk diaudit secara independen atas laporan
keuangannya. Sayangnya, sampai kini, di Indonesia, belum ada standar
akuntansi untuk zakat yang dikeluarkan oleh standard setter akuntansi
syariah, IAI. Yang ada, baru pedoman akuntansi yang dibuat secara
mandiri oleh masing-masing institusi dan lembaga.
Akibatnya, banyak ditemukan kesulitan dan dispute oleh para auditor
dari Kantor Akuntan Publik (KAP) dalam melaksanakan tugasnya di
lapangan mengingat ketiadaan standar akuntasi zakat itu, disamping
adanya beragam interpretasi, pedoman akuntansi yang digunakan
serta beragamnya pendapat fikih (ketentuan hukum syariah) seputar
pelaksanaan dan pengelolaan zakat.
Hal itu, sama persoalannya dengan Lembaga Keuangan Syariah (LKS),
baik bank maupun nonbank serta Lembaga Bisnis Syariah (LBS). Usaha
ini memerlukan standar akuntasi untuk setiap transaksinya, sebab LKS
dan LBS memilki akuntabilitas dan komitmen untuk melaksanakan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang pada utamanya
adalah transaksinya secara syariah.
Konteksnya dengan zakat?
Zakat merupakan salah satu bentuk transaksi syariah dalam domain
sosial sehingga perlu pengaturan sendiri perlakuan akuntansinya yang
bersifat standar sebagaiamana dalam transaksi komersial dikenal
mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, salam, istishna’, dsb.
Dengan demikian, penyusunan akuntansi zakat oleh IAI merupakan
sebuah kaharusan syariah zakat sekaligus sebuah meniscayaan sejarah
untuk pelaksanaan dan pengelolaan zakat yang sesuai dengan kaedah
syariah. Ini juga sekaligus untuk memenuhi tuntutan dan ketentuan
good governance yang meliputi transparency, responsibility, accountability,
fairness, dan independency.
Posisi amilin (pengelola zakat) yang diformalkan dalam bentuk LAZ
maupun BAZ merupakan lembaga kepercayaan publik yang sensitif
pada isu public trust (kepercayaan publik) dalam penghimpunan dan
penyaluran dana-dana zakat. Jadi, Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 109 yaitu mengenai Akuntansi Zakat, Infak dan
Sedekah ini untuk mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan transaksi zakat, infak, dan sedekah.
Lalu, apa saja cakupan pengaturan dalam
standar Akuntansi zakat itu?
Ruang lingkup dan cakupan pengaturan standar akuntansi zakat
pada akhirnya akan diperuntukkan bagi entitas yang menerima dan
menyalurkan zakat, infak dan sedekah (amil); Entitas yang membayar
zakat (muzakki); dan Entitas yang menerima zakat (mustahiq).
Srandar ini tidak berlaku untuk entitas yang melakukan aktivitas
penerimaan dan penyaluran zakat tetapi bukan sebagai kegiatan
utamanya. Entitas itu harus mengikuti ketentuan dalam PSAK 101
mengenai Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
Standar ini juga menegaskan, entitas yang menerima dan menyalurkan
zakat, infak, dan sedekah yang disebut entitas pengelola zakat, infak,
dan sedekah diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan, baik
yang dimiliki oleh pemerintah maupun nonpemerintah.
Dr. Setiawan Budi Utomo
Ketua Tim Kerja Akuntansi Zakat
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Akuntansi Zakat
Sebua h Keharusan
edisi ke2 new size.indd 14 5/6/2008 3:08:36 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
15 ai
Laporan Utama
Standar akuntasi ini tidak hanya mengatur transaksi zakat saja
melainkan infak/sedekah, maka akan diatur juga dalam penjelasannya
mengenai Zakat yaitu sebagian dari harta yang wajib dikeluarkan
oleh wajib zakat (muzakki) untuk diserahkan kepada penerima zakat
(mustahiq). Di samping itu juga dijelaskan mengenai infak/sedekah
yaitu sebagian harta yang tidak wajib dikeluarkan oleh pemiliknya,
yang diserahkan yang peruntukannya dapat tertentu (muqayyadah)
atau tidak tertentu (mutlaqah).
Agar memenuhi syarat dan rukun zakat, diatur pula ketentuan
mengenai nisab yaitu batas minimum atas kepemilikan sejumlah harta
yang wajib dikeluarkan zakatnya dalam satu tahun. Juga penerima zakat
(mustahiq) adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat.
Demikian pula menangani wajib zakat (muzakki) adalah orang atau
badan yang dimiliki oleh orang muslim yang berkewajiban menunaikan
zakat.
Kini lembaga amil zakat sudah
berkembang sejauh mana?
Pengelolaan zakat di Indonesia sebelum tahun 90-an memiliki beberapa
ciri khas, seperti, diberikan langsung oleh muzakki. Jika melalui amil
zakat hanya terbatas pada zakat fitrah dan zakat yang diberikan pada
umumnya hanya bersifat konsumtif untuk keperluan sesaat. Jenis
zakat hanya terbatas pada harta-harta yang secara eksplisit (manthuq)
dikemukakan secara rinci dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi, yaitu
emas dan perak, pertanian (terbatas pada tanaman yang menghasilkan
makanan pokok), peternakan (terbatas pada sapi, kambing/domba),
perdagangan (terbatas pada komoditas yang berbentuk barang), dan
rikaz (harta temuan).
Kondisi itu diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain, belum
tumbuhnya lembaga pemungut zakat, rendahnya kepercayaan
masyarakat pada amil zakat dan profesi amil zakat masih dianggap
profesi sambilan.
Sedangkan perkembangan zakat setelah tahun 90-an sampai kini
terutama, pengelolaan zakat telah diatur melalui UU No. 38/1999
tentang Pengelolaan Zakat dengan Keputusan Menteri Agama (KMA)
No. 581/ 1999 dan Keputusan Dirjend Bimbingan
Masyarakat Islam dan Urusan Haji No. D/291 tahun
2000 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.
Tujuan pengelolaan zakat, antara lain, meningkatkan
pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat,
meningkatkan fungsi dan peranan pranata keagamaan
dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat
dan keadilan sosial, serta Meningkatkan hasil guna
dan daya guna zakat.
UU itu juga mengatur keorganisasian pengelola
zakat yang terdiri atas dua jenis, yaitu Badan Amil
Zakat dan Lembaga Amil Zakat.
Setiap pengelola yang karena kelalaiannya tidak
mencatat atau mencatat dengan tidak benar tentang
zakat, infaq, dan hibah, diancam dengan hukuman
kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau denda sebanyakbanyaknya
Rp. 30 juta. Sanksi ini agar BAZ dan LAZ lebih baik dalam
melakukan pengelola zakat.
Pengumpulan zakat, meski masih jauh dengan potensinya, bagi
kalangan potensi zakat di Indonesia lebih dari Rp 7 triliun setiap
tahun. Dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan yang cukup berarti.
Bulan Ramadhan 1425 H, BAZ dan LAZ Nasional menghimpun zakat
sebesar Rp 35 miliar, tahun berikiutnya sebesar Rp 47,2 miliar.
Demikian pula pendayagunaan zakat sudah didasarkan pada
program-program yang disusun oleh BAZ dan LAZ maupun oleh
program sinergi seperti Perbankan Syariah Peduli Umat (PSPU) yang
dikoordinasikan oleh bank Indonesia bekerjasama dengan BAZNAS
dan perbankan syariah dengan memperhatikan kondisi mustahiq dan
skala prioritas, seperti pemberian beasiswa dari tingkat SD sampai
perguruan tinggi, pemanfaatan dana zakat bersifat produktif, dan
mendirikan rumah sakit gratis untuk kaum dhu’afa.
Sejak tahun 90-an kalangan pers banyak
andil dalam pengelolaan zakat, begitu juga
kalangan ormas Islam.
Bagaimana perkembangannya?
Ya. Pengelolaan zakat nasional memasuki sejarah baru pada tahun
1993, dengan berdirinya Dompet Dhuafa Republika. Lembaga ini
merupakan lembaga pengelola zakat yang didirikan para jurnalis dan
didukung oleh koran berbasis Islam, kemudian menjadi organisasi
pengelola zakat yang independen dan mandiri.
Dompet Dhuafa Republika dikenal oleh publik sebagai lembaga
zakat yang mempelopori model pengelolaan zakat secara profesional.
Kepercayaan masyarakat ditunjukkan dengan terus meningkatnya
dana sosial yang dihimpun dalam bentuk zakat, infak/sedekah, wakaf,
dana kemanusiaan dan dana kurban.
Pada periode ini kemunculan organisasi pengelola zakat yang
dibentuk masyarakat semakin banyak, baik dalam lingkup organisasi
keislaman, maupun perusahaan. Banyaknya organisasi pengelola
zakat mendorong interaksi dan komunikasi antar
pengelola zakat. Salah satu peran yang dimainkan
Dompet Dhuafa Republika pada kondisi ini,
berinsiatif untuk membentuk Asosiasi organisasi
pengelola Zakat “Forum Zakat” (disingkat FOZ)
pada 7 Juli 1997. FOZ dideklarasikan 11 lembaga,
seperti Dompet Dhuafa Republika, Bank Bumi
Daya, dan Pertamina Fungsi Forum itu sebagai
forum konsultatif dan kordinatif antar pengelola
zakat, dan mensinergikan kekuatan antar pengelola
zakat, baik yang dibentuk pemerintah, maupun
masyarakat.
Seiring dengan kiprah lembaga-lembaga pengelola
zakat, khususnya melalui Forum Zakat, pemerintah
juga semakin menyadari, sudah saatnya dibuat
edisi ke2 new size.indd 15 5/6/2008 3:08:38 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n ai 16
Laporan Utama
instrumen regulasi zakat di Indonesia. Melalui komitmen bersama
berbagai pihak di Indonesia termasuk legislatif, maka pada akhir
pemerintahan Presiden BJ. Habibie disahkan UU tentang Pengelolaan
Zakat pada 23 September 1999.
Dampak dari itu, berdirinya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)
sebagai lembaga pengelola zakat tingkat nasional yang dinisbahkan
dapat melakukan peran kordinatif di antara lembaga pengelola zakat.
Sayangnya, fungsi BAZNAS tampaknya
belum berjalan secara optimal.
Fungsi kordinatif BAZNAS sesungguhnya diperlukan dan menentukan
kerjasama pelaku zakat di Indonesia. Namun dalam perkembangannya
peran ini masih memerlukan berbagai prasyarat pendukung sehingga
bisa mencapai kondisi yang optimal.
Kepengurusan BAZNAS dilahirkan melalui Surat Keputusan Presiden,
akan tetapi perannya masih terbatas. Kondisi ini masih terjadi karena
masih belum jelasnya posisi dan kedudukan BAZNAS; apakah
BAZNAS merupakan badan negara non-departemen setingkat
kementerian negara ataukah BAZNAS lembaga dalam naungan dan
di bawah pembinaan Departemen Agama.
Juga karena BAZNAS yang diharapkan memiliki peran besar dalam
pengelolaan zakat secara nasional, akan tetapi belum mendapatkan
dukungan dana dari APBN yang memadai. Pada masa depan hal ini
harus semakin diperjelas dan ditegaskan.
Pada Oktober 2006 sudah berdiri satu BAZ tingkat Nasional
(BAZNAS), 32 BAZ tingkat provinsi dan tidak kurang dari 330 BAZ
Kabupaten/Kota. Sedangkan LAZ yang sudah dikukuhkan berjumlah
18 LAZNAS.
Semakin banyaknya organisasi pengelola zakat di Indonesia
menciptakan suasana pengamalan zakat yang bergairah dan semarak.
Bagaimana hubungan zakat dan pajak?
UU Pengelolaan Zakat menegaskan berlakunya pembayaran zakat
sebagai pengurang penghasilan kena pajak. Meskipun belum memenuhi
harapan utama umat Islam, yaitu zakat sebagai pengurang pajak, akan
tetapi akomodasi pembayaran zakat sebagai pengurang penghasilan
kena pajak merupakan bentuk motivasi dan pengakuan sehingga umat
diharapkan lebih terdorong untuk membayarkan zakatnya melalui
lembaga pengelola zakat formal.
Hanya saja, pelaksanaan zakat sebagai pengurang penghasilan
kena pajak, masih menghadapi kendala, antara lain, masih banyak
masyarakat muslim selaku wajib pajak belum mengetahui tentang
adanya peraturan perundang-undangan ini, sebagian aparat pajak
yang juga belum mengetahui bagaimanakah prosedur pelaksanaan
zakat sebagai pengurang pajak dan penggunaan Bukti Setor Zakat dan
pengaturan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWZ) yang belum merata.
Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Bahasa dan Budaya UIN Jakarta
tahun 2003 – 2004 yang meneliti potensi dan sosial umat Islam.
Dalam riset terhadap 1500 keluarga muslim yang dipilih secara acak
(probability sampling) dan 300 organisasi filantropi (LAZIS, BAZIS dan
kepanitiaan masjid) yang seluruh sampelnya dipilih dengan metoda
purposif (non probability sampling).
Riset mencatat, potensi dana umat dari sektor zakat, infak dan sedekah
yang mungkin dapat digali mencapai Rp19.3 triliun per tahun. Angka
ini diperoleh dari rata-rata sumbangan keluarga muslim per tahun
sebesar Rp 409.267 dalam bentuk tunai (cash) dan Rp 148.200 dalam
bentuk barang (in kind). Jika jumlah rata-rata sumbangan dikalikan
dengan jumlah keluarga muslim, sebesar 34,5 juta (data BPS tahun
2000), maka total dana yang dapat dikumpulkan Rp 14,2 triliun.
Sementara total sumbangan dalam bentuk barang sebesar Rp 5,1
triliun.
Kembali ke soal pembahasan aturan
akuntansi zakat.
Apa yang menjadi pro kontra?
Dalam perjalanan pembahasan akuntansi zakat banyak persoalan
yang menjadi fokus perdebatan di kalangan anggota tim kerja, yang
memerlukan diskusi lebih lanjut diantaranya, zakat atas perkumpulan
harta (entitas), Cara perhitungan zakat untuk wajib zakat entitas
(perusahaan).
Dari perspektif akuntansi, zakat yang dihitung berdasarkan dua
pendekatan itu mempunyai beberapa aspek yang harus dipertimbangkan
yakni berdasarkan asset neto. Di sini akan menimbulkan kesulitan
dalam menghitung asset neto, dengan semakin banyaknya intangible
asset yang tidak tercatat di dalam neraca. Misalnya, perusahaan yang
bergerak di bidang computer software, zakat yang dikenakan akan
lebih kecil dibandingkan perusahaan tekstil, walaupun kemungkinan
besar keuntungan yang dihasilkan perusahaan computer software akan
lebih besar daripada perusahaan tekstil dan berdasarkan keuntungan
neto; dinilai lebih cocok, karena perusahaan yang menghasilkan
keuntungan yang besar akan dikenakan zakat yang lebih besar, tanpa
memperhatikan besaran aset neto yang dimiliki perusahaan tersebut.
***(MY)
Daftar Lembaga Amil Zakat Nasional (Oktober 2006)
1 Dompet Dhuafa Republika
2 Pos Keadilan Peduli Umat,
3 Yayasan Dana Sosial Al-Falah Surabaya,
4 Baitul Mal Hidayatullah
5 Baitul Mal Muamalat
6 BSM Peduli Umat
7 Baitul Mal BRI
8 BAMUIS BNI
9 LAZIS Dewan Dakwah Islam Indonesia
10 LAZIS Muhammadiyah
11 BAZMA Pertamina
12 Rumah Zakat Indonesia
13 LAZ Persis
14 LAZ ICMI
15 DPU Daarut Tauhid
16 LAZ Amanah Takaful
17 LAZ Nahdhatul Ulama
18 LAZ IPHI
Sumber : Forum Zakat, 2006

AKUNTANSI SYARIAH VS BARAT

July 29, 2010 Leave a comment

Bangkitnya akuntansi syariah di
Indonesia tidak hanya karena
terpicu terjadinya skandal
akuntansi sebuah perusahaan
telekomunikasi yang berbasis
di Amerika Serikat, WorldCom beberapa
tahun silam. Tetapi akuntan syariah
muncul sejalan dengan adanya kesadaran
untuk bekerja lebih jujur, adil dan tidak
bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan
Al-Hadist.
Amin Musa menjelaskan, bangkitnya sistem
akuntansi syariah itu dilatar-belakangi
banyaknya transaksi dengan dasar syariah,
baik yang dilakukan lembaga bisnis syariah
maupun non syariah. “Dengan animo itu,
perlu adanya pengaturan atau standar
untuk pencatatan, pengukuran, maupun
penyajian sehingga para praktisi dan
pengguna keuangan mempunyai standar
yang sama dalam akuntansinya,” kata salah
satu angota Komite Akuntansi Syariah
(KAS) kepada Akuntan Indonesia di Jakarta,
belum lama ini.
Sebelumnya, banyak orang bertanya-tanya,
bagaimana mengaudit dengan sistem syariah,
sementara sistemnya belum dibangun
secara permanen, mengingat cakupan
standar umumnya mencakup atas ruang
lingkup penerapan, karekteristik transaksi,
pengukuran dan penyajian transaksi secara
syariah.
Karena cakupannya luas, sampai kini
para anggota KAS masih sering melakukan
pembahasan masalah itu, meski sering
terjadi perbedaan antara anggota yang
berlatar-belakang syariah dengan praktisi
dan akademisi tentang suatu hal tertentu.
“Akan tetapi ada beberapa hal bisa
diselesaikan,” katanya.
Sebagaimana diketahui, dalam sistem
akuntansi konvensional yang berbasis pada
pembukuan mengakui adanya utang atau
pemasukan yang sifatnya belum riil, accrual
basis, ini lawan dari cash basis. Accrual basis
tersebut sudah terbukti banyak kegagalan,
utamanya dalam mendorong para akuntan
lebih jujur dan adil, sehinggga dianggap
melanggar syariah.
Pengamat ekonomi Dr. Syahrir, mengakui
para ahli hukum dan akuntan korporasi
AS memang sangat ahli dalam “bermain”
pada letter of the law, tetapi samasekali
meniadakan spirit of the law atau jiwa rasa
keadilan dalam lembaga hukum.
Perusahaan WorldCom yang mempunyai
klaim asset US$107 miliar, setara dengan
Rp 963 triliun itu, kini gulung tikar alias
bangkrut karena harga sahamnya yang
semula mencapai US$ 80 per lembar tinggal
US$ cent 9. Inilah dongeng kebangkrutan
terbesar sepanjang sejarah perusahaan
Amerika yang selalu mengagung-agungkan
sistem akuntansi berbasis kapitalisme itu.
Sebelum itu juga pernah terdengar cerita,
terjadi skandal akuntansi pada tiga
perusahaan yakni bidang energi (Enron),
obat-obatan (Merck), dan mesin cetak
(Xerox). Ketiga perusahaan itu sempat
“sempoyongan” karena diguncang skandal
manipulasi keuangan. Enron membukukan
keuntungan anak perusahaan dimasukkan
dalam laba pembukuan perusahaan
induknya untuk mengangkat harga saham
di pasar. Itu cerita dari belahan dunia sana
(baca negara maju).
Perbedaan Itu
Sampai sejauh ini, masalah sistem accrual
basis yang konvensional dan cash basis
yang syariah menjadi perdebatan seru
dalam KAS. Secara ekstrem kubu syariah
bahkan mengingatkan apa yang terjadi
pada perusahaan di benua lain itu juga
bakal terjadi di Indonesia, termasuk pada
perusahaan berbasis akuntansi syariah.
Mantan Dirut Bank Muamalat, Zainulbahar
Noor, setidaknya meyakini akan hal itu.
“Tinggal tunggu waktu saja, karena sistem
akuntansinya sama saja. Tak ada perbedaan
sistem akuntansi yang dipakai di AS maupun
di Indonesia,” kata Zainul. “Karena induknya
sama, maka dampaknya pun akan sama.”
Mantan perintis Bank Muamalat yang juga
dosen pada Universitas Assafi’iyah itu juga
memperkirakan, kejadian serupa bukan
hanya dapat terjadi pada perusahaan lokal
yang auditnya berbasis pada akuntansi
konvensional, tetapi juga dapat menerpa
pada perusahaan yang auditnya berbasis
syariah. Mengapa?
Akuntansi
Syar iah
vs Barat
Tak mudah menerapkan akuntansi syariah, sementara sistem Barat terbukti
“gagal”. Sayangnya, masih banyak perdebatan dalam banyak aspek dalam
menerapkan sistem yang Islami tersebut. Mengapa ?
edisi ke2 new size.indd 12 5/6/2008 3:08:35 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
13 ai
Laporan Utama
Karena itu tadi; sistem accrual basis juga
diterapkan pada akuntansi syariah. “Ini jelas
melanggar syariah Islam,” tandas Zainulbahar
Noor.
Sistem accrual basis itu, katanya, telah
mengakui adanya pendapatan yang terjadi
di masa yang akan datang, karena syariah
Islam melarang untuk mengakui suatu
pendapatan yang sifatnya belum pasti. Hal
ini disebabkan karena masa yang akan datang
adalah kekuasaan dan wewenang Allah
sepenuhnya untuk mengetahuinya (Baca QS
Al-Baqarah:255).
Dengan kata lain, tegas Zainul, penerapan
metode accrual basis dalam pengakuan
pendapatan akan menyebabkan bank,
asuransi atau usaha yang berbasiskan pada
syari’ah melanggar syariat Islam. “Bahkan,
saya dapat menyimpulkan penerapan
metode accrual basis merupakan loop hole
bagi terjadinya korupsi,” katanya, seraya
mengatakan, dari dulu saya tidak setuju
dengan usulan teman-teman dari Ikatan
Akuntan Indonesia yang menyarankan
Bank-bank syariah juga menggunakan sistem
accrual basis.
Sistem tersebut tidak cocok dalam syariah,
karena memberikan banyak pintu untuk
memungkinkan terjadi penyimpangan loop
hole yang mengarah terjadinya korupsi. Ia
mencontohkan, pada tahap awal dimulailah
dalam bentuk pempublikasian neraca dan
laba rugi akhir tahun yang bersifat window
dressing. “Kita mengetahui betapa banyaknya
bank-bank yang menggelembungkan angka
total pendapatan akhir tahun dengan
maksud untuk menggelembungkan angka
tingkat laba melalui perlipatgandaan angka
pendapatan, laba, dengan mengkredit pos
pendapatan dari pendebetan pendapatan
yang akan diterima (Interest Earned Not
Collected/IENC). Cara ini dilakukan dalam
upaya meyakinkan masyarakat bahwa bank
bersangkutan menguntungkan untuk menarik
dana masyarakat lebih banyak dan maksudmaksud
lainnya, antara lain mengarah pada
tindakan kriminal dalam keuangan bank.”
Bahkan, metoda accrual basis juga dapat
disalahterapkan untuk menyulap bank yang
tadinya merugi menjadi bank yang untung.
Korupsi apa yang terjadi dalam hal ini? Pada
peringkat awal adalah tindakan korupsi dalam
pengertian universal yaitu cacat moral dengan
‘’memalsukan’’ angka dalam jumlah yang
tidak sebenarnya, melaksanakan perbuatan
yang tidak wajar, sebuah perusakan integritas
dan kebajikan umat.
Pada peringkat berikutnya, akan
terjadi pengkorupsian dalam arti
pemalsuan angka-angka neraca dan
laba rugi yang semakin melebar
dan membengkak sehingga
membangkrutkan bank atau
perusahaan terkait. Kejadian yang
menyimpang ini kerap baru diketahui
secara mendadak sementara publik
telah terninabobokan oleh prestasi
finansial yang semu tersebut.
“Itulah sebabnya, saya sejak awal kurang
setuju dengan metode itu.Meskipun
pendapat saya itu tidak populer saya tetap
yakin sistem cash basis pada usaha syariah
masih yang terbaik,” kata Zainul.
Kenyataan saat ini, katanya, bank-bank
syariah atau usaha yang berbasis syariah wajib
memasukkan pendapatan yang akan ditagih
menjadi pendapatan riil di dalam laporan
pendapatan rugi labanya, sesuai dengan
aturan yang ditetapkan pada Pedoman
Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia/
PAPSI tahun 2003.
Pendapat Zainul ini mendapatkan perlawanan
sejumlah anggota Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI). Ellya Noorlisyati, praktisi akuntan yang
juga wakil ketua IAI Cabang Jakarta adalah
salah satu tokoh yang tidak sependapat
dengan Zainulbahar. Ia mengingatkan bahwa
suatu janji itu berdasarkan syariah juga wajib
dipenuhi.
Ellya mengilustrasikan,
seseorang yang
m e n y e w a k a n
rumahnya. Jika si A
m e n g o n t r a k k a n
sebuah rumah,
Rp 500 ribu per bulan, maka dia akan
membukukan pendapatan selama satu
tahun dari sewa rumah sebesar Rp 6 juta.
Metode pembukuan seperti itu tidak akan
bertentangan dengan kaidah Islam, karena
sudah terjadi kesepakatan kontrak sewa,
pemilik rumah dengan penyewa dengan
harga Rp 500.000 per bulannya.
Accrual basis atau dasar akrual, kata
Ellya, adalah suatu proses akuntansi untuk
mengakui terjadinya peristiwa
atau keadaan nonkas. Accrual
basis mengakui pendapatan dan
adanya peningkatan yang terkait
dengan asset (aktiva) dan beban
(expenses) serta peningkatan
yang terkait dengan utang
(liabilities) dalam jumlah tertentu
yang akan diterima atau dibayar
(biasanya) dalam bentuk kas di
masa yang akan datang.
Sistem itu juga sudah diadopsi lewat
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No. 59 dan juga Pedoman Akuntansi
Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI)
yang mengharuskan bank syariah untuk
menerapkan metode accrual basis dalam
pengakuan pendapatan dan beban mereka.
Dalam sistem accrual basis, kata Ellya,
dasar akrual digunakan untuk mengakui
adanya pendapatan dan atau peningkatan
aktiva yang akan diterima di masa yang akan
datang pada saat transaksi tersebut terjadi.
Misalnya, sebuah perusahaan melakukan
penjualan secara kredit, maka perusahaan
tersebut akan mencatat adanya piutang (hak
perusahaan tersebut terhadap pembeli yang
akan diterima di masa yang akan datang).
“Model ini tampaknya tidak bertentangan
dengan kaidah di dalam Islam,” katanya
meyakini.
Nah, perdebatan soal ini masih berlangsung.
Dan tampaknya diperlukan adanya titik temu
agar persoalan syariah tidak hanya sekadar
perdebatan belaka, melainkan menjadi
solusi bersama untuk mencapai nilai Islami.
Semoga.(MY)

AKUNTANSI SYARIAH: BAGAIMANA TEORI DAN KONSEPNYA?

July 29, 2010 Leave a comment

Dalam perekonomian Syariah seharusnya  tercakup pula sistem akuntansinya. Artikel ini – yang disarikan dari suatu telaah ilmiah, berusaha mengantarkan kepada pemahanan tentang bagaimana teori dan konsepkonsep akuntansi Syariah bisa diperoleh.
Bagaimana teori akuntansi Islam bisa dikembangkan? Dari pelajaran tentang konstruksi teori-teori akuntansi konvesional
ada sejumlah approach yang bisa ditempuh, seperti yang dikategorikan oleh Belkaoui (1992). Belkaoui memilah-milah cara pendekatannya dengan mengkategorikannya menjadi “tradisional,” “regulatory” dan yang “lain-lainnya.”
Kategori terakhir ini termasuk cara-cara pendekatan peristiwa (event), perilaku (behavioral), sistem informasi manusia dan
prediktif-positif, meski di sana-sini ada ketidakjelasan pokok pikiran akibat tumpang tindihnya kategori-kategori tersebut.
Namun pula ada pendekatan induktif-empiris yang diperkenalkan Whittington (1986) yang merupakan upaya untuk mengembangkan suatu teori akuntansi berdasarkan generalisasi fenomena empiris. Pendekatan ini pula yang ditempuh oleh badan-badan akuntansi
profesional di Amerika dan Inggris, seperti AICPA dan CCAB, di mana ada berbagai standar yang ditetapkan guna bisa mengatur
praktek-praktek akuntansi.

Dalam kurun dua dekade terakhir, teori induktif-empiris telah masuk ke dalam teori akunting positif (PAT), di mana para
penganjurnya, Watts & Zimmerman (1986), berargumentasi bahwa teori akuntansi haruslah positif. Itu untuk menjelaskan apa, dan membantu memprediksi, peristiwaperistiwa masa mendatang. Bukan berusaha

AKUNTANSI SYARIAH: BAGAIMANA TEORI DAN KONSEPNYA?
And We created not the heavens, the earth and all between them, merely in (idle) sport. We created them not except for just ends. But most of them do not understand(Al-Qur’an, 44:38-39). edisi ke2 new size.indd 8 5/6/2008 3:08:32 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
ai
Laporan Utama
berkhotbah tentang apa yang seharusnya
dilakukan. Inilah yang telah mendorong riset
pasar modal menjadi mainstream dalam
akunting. Namun kemudian pendekatan
regulatory mengikuti pula penerapan
paradigma keputusan-kegunaan. Kritik tajam
terhadap PAT lalu bermunculan (antara lain
Christenson, 1983;Tinker & Puxty, 1995).
Dari titik pandang Islam, meski tetap harus
pula dipertimbangkan cara pengambilan
keputusan-keputusan strategisnya, hal
tersebut, pertama, tak bisa menjadi pengganti
bagi teori normatif-deduktif karena antara
lain suatu situasi positif bisa jadi merupakan
penyimpangan dari pemahaman normatif
tentang Islam, sehingga tak bisa dijadikan
landasan bagi pengembangan suatu teori.
Lain dari itu, kedua, Islam telah memiliki
prinsip-prinsip etika dan perilaku secara
abadi, dan dengan demikian approach yang
tak mengindahkan prinsip-prinsip tersebut
tak akan bisa mewujudkan suatu masyarakat
Islam. Point pertama tersebut khususnya
benar jika dilihat bukti bahwa sekularitas
dipisahkan dari hal-hal keimanan dalam
kehidupan Barat, yang dampaknya juga
kembali mengenai lingkungan Islam.
Prinsip dan kebiasaan-kebiasaan akunting
konvesional yang berasal dari approach
empiris-deduktif tampak bertentangan
dengan prinsip-prinsip Islam (Gambling &
Karim, 1991;Khan, 1994a; Adnan & Gaffikin,
1998). Meski begitu, dengan kecenderungan
tetap dipraktekkan dan dapat diterima secara
umum sekarang, mengakibatkan adanya
salah analis sehingga konsep akuntansi
konvensional dipandang cocok untuk Islam.
Hal sama dapat terjadi jika teori akuntansi
Islam dikembangkan melalui pendekatan
empiris-deduktif.
Dari perspektif Islam, salah satu penggunaan
yang mungkin untuk pendekatan positif
ialah dalam menentukan konsesus dan
kesepakatan atas berbagai tafsir prinsipprinsip
Syariah. Dalam Islam, di mana
prinsip tak dinyatakan secara eksplisit
dalam Al-Qur’an dan Sunnah dan
lebih didasarkan pada
penafsiran, berbagai
aturan untuk suatu isu
bisa sampai ke tujuannya
secara bersamaan.
Oleh karenanya Muslim
biasanya akan mengambil
opini mayoritas orang yang
berpengetahuan untuk
itu (Jumhur) sebagai yang
paling otentik. Dengan begitu, riset positif
yang bertujuan menemukan persepsi kaum
ulama, sarjana dan mereka yang berilmu
lainnya (termasuk para akuntan?) akan sangat
berguna dalam membentuk opini mayoritas
untuk suatu isu.
Dalam pendekatan deduktif, prinsip-prinsip
teoritis akuntansi secara logis diperoleh
lewat deduksi berbagai asumsi dari aksioma
atau prinsip-prinsip awalnya (Whittington,
1986). Pendekatan “true income” dalam teori
akunting merupakan bentuk paling awal
approach deduktif. Pendekatan ini berusaha
menyelaraskan antara laba akuntansi dengan
laba ekonomi yang menjadi pegangan para
ekonom, dan dengan begitu sangat bergantung
pada teori ekonomi. Namun Gambling dan
Karim (1991) berargumentasi bahwa konsep
income ekonomi tak bisa diterima dalam
perspektif Islam karena hal-hal yang tak bisa
diterima itu begitu fundamental bagi teori
deduktif Barat. Misalnya, model tingkat
ekonomi pengembalian modal (economic rate
of return on capital) yang membentuk basis
bagi kalkulasi pendapatan di muka dengan
asumsi bahwa uang punya nilai waktu, yang
dinyatakan Gambling dan Karim sebagai
hal yang tak ada dalam Islam. Atas dasar
ini, bagian dari teori akunting deduktif yang
berlandasan teori ekonomi konvensional
tampak bukan sebagai model yang cocok
untuk menciptakan teori akuntansi Islam.
Gambling dan Karim (1991) menyarankan
approach normatif deduktif dalam penetapan
standar-standar akunting karena Muslim
harus mematuhi Syariah baik dalam aspek
sosial maupun ekonomi kehidupan mereka.
Pendekatan ini menurut mereka mencakup
bagaimana memahami tujuan-tujuan laporan
keuangan, rumus-rumus akuntansi dan
definisi konsep-konsep prinsip Syariah.
Ini akan membentuk dasar bagi kerangka
struktural yang akan menjadi rujukan
pengembangan prinsip-prinsip akuntansi.
Ini adalah metodologi terbaik untuk sampai
pada sebuah teori akuntansi Islami, karena
prinsip atau aturan manapun yang didapat
akan sejalan dengan pandangan serta nilainilai
Islam.
Lebih jauh, akuntansi teristimewa sangat
penting bagi para investor Muslim, katakan
misalnya dalam aturan bisnis Mudharabah
atau Musharakah, karena larangan
riba dalam Islam membuat mereka tak
bisa mengharapkan pendapatan pasti
dari modal yang telah dikeluarkan, tak
pandang bagaimanapun kinerja perusahaan
investasinya. Oleh karenanya evaluasi atas
hasil investasi mereka tergantung pada
konsep akuntansi di luar Islam, karena tak
adanya sumber informasi lain.
edisi ke2 new size.indd 9 5/6/2008 3:08:32 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n ai 10
Karim (1995) menawarkan dua metode di
mana akuntansi Islami akan bisa tercapai.
Pertama, tetapkan sasaran-sasaran
berlandasan pada prinsip-prinsip Islam
dan ajaran-ajaran Islam. Pertimbangkan
sasaran-sasaran tersebut dan bandingkan
dengan pemikiran-pemikiran akuntansi
kontemporer yang ada. Kedua, mulai dengan
sasaran-sasaran yang ada dalam pemikiran
akuntansi kontemporer, kemudian
bandingkan dengan Syariah, lalu terima yang
sejalan dengan Syariah dan tinggalkan yang
tidak sejalan. Lalu, kembangkan hasil-hasil
unik yang menjadi temuannya.
AAOIFI (Accounting and Auditing
Organization of Islamic Financial Institutions)
sejak 1996 menerapkan cara pendekatan
yang kedua tersebut. Lembaga ini
berpendapat bahwa cara itu konsisten
dengan prinsip-prinsip Islam lebih luas
bahwa suatu pandangan tak selalu
memerlukan konsep yang mesti diambil
dari Syariah. Ditegaskan, cara pendekatan
tersebut sejalan dengan prinsip hukum
Islam tentang hal-hal yang diperbolehkan
(ibaha, permissibility) bahwa segala sesuatu
diizinkan kecuali untuk hal-hal yang jelas
dilarang Syariah. Dengan demikian, konsep
informasi akuntansi berguna, seperti
relevansi dan reliabilitas, bisa begitu saja
dimasukkan dalam praktek akuntansi Islami
oleh AAOIFI.
Salah satu faktor kunci yang membedakan
institusi-institusi keuangan Islam ialah
perlunya mereka memperlihatkan
kepatuhan (compliance) terhadap Syariah
dalam segala aktivitas mereka. Di sini
kurang adanya konsensus mengenai
apakah transaksi-transaksi atau aktivitasaktivitas
tertentu telah dipatuhi. Hal ini
bisa menyebabkan kebingungan di antara
para praktisi dan customer, selain akan
membatasi penerimaan dan pengakuan
lebih luas akan konsep tentang keuangan
Islam. Industri keuangan Islam pun dengan
demikian hanya “dikendalikan” oleh sedikit
pakar terkemuka Syariah yang kerap bekerja
untuk bank-bank berbeda atas penugasan
komite Syariah. Kondisi ini juga akan bisa
membatasi inovasi produk pengetahuan
tentang Syariah. Ujung-ujungnya ialah
menunjukkan diri patuh terhadap Syariah
akan sulit karena institusi-institusi yang
berbeda punya model-model governance
mereka sendiri. Mereka menggunakan itu
untuk menetapkan dan menguji kepatuhan
mereka.
Hasil riset ini menawarkan hal-hal berikut
yang bisa dijadikan pegangan:
1. Identifikasi prinsip-prinsip etika
dan akuntansi Syariah dalam kaitannya
dengan bisnis serta berbagai akitvitas
lain yang mencakup fidusiari. Kemudian
pertimbangkan dampak-dampaknya bagi
akuntasi. Bandingkan itu dengan prinsipprinsip
di mana bisnis gaya Barat dan
organisasi-organisasi lainnya beroperasi di
bawah kapitalisme.
2. Identifikasi sasaran-sasaran utama
dan pengganti bagi akuntansi Islam
berdasarkan prinsip-prinsip etika Islam
tersebut, dan pertimbangkan sasaransasaran
itu dengan pemikiran akuntansi
kontemporer. Langkah ini jangan terbatas
pada pemikiran akuntansi arus besar
(mainstream) saja, karena “pengembangan
dari pelaporan narratif dan non-traditional
telah sedemikian meningkatnya sehingga
para akuntan modern tak bisa lagi untuk
tak mengindahkannya (Mathews & Perera,
1991). Perbandingan dengan pemikiran
akuntansi modern bisa membuka jalan
bagi dua maksud: pertama, identifikasi
alternatif bagi teknik-teknik akuntansi
Laporan Utama
edisi ke2 new size.indd 10 5/6/2008 3:08:33 PM
A K U N T A N I N D O N E S I A
m i t r a d a l a m p e r u b a h a n
11 ai
Laporan Utama
yang dikembangkan di Barat dan yang bisa
diterapkan ke dalam akuntansi Islami, dan,
kenali prinsip-prinsip akuntansi konvensional
yang tak berbenturan dengan akuntansi
Islami.
3. Identifikasi landasan teoritis dari
akuntansi Islami, seperti misalnya apakah
itu accountability, stewardship atau decisionusefulness.
Ini terpaut erat dengan sasaransasarannya
dan kemungkinan tak akan bisa
terpisahkan.
4. Identifikasi para pengguna informasi
akuntansi Islami, dan periksa untuk apa
informasi itu mereka gunakan. Sampai
pada suatu batas tertentu, pengunaanpenggunaanya
akan bisa diidentifikasi lewat
cara mempertimbangkan atuaran-aturan
etika bisnis Islami.
5. Kembangkan ciri-ciri akuntansi Islami,
misalnya informasi yang diperlukan serta
prinsip-prinsi valuasi dan pengungkapan
(disclosure) yang akan memasukkan prinsipprinsip
etika bisnis Islami. Juga, ini akan
mencapai sasaran-sasaran akuntansi Islami
sampai sejauh yang belum pernah diberikan
definisinya oleh Syariah.

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN

July 29, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
Oleh :
Nama : Renita Verdiyana
No Mahasiswa : 01 312 223
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2006

VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN
SKRIPSI
Disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Sarjana Strata-1 jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi UII
Oleh :
Nama : Renita Verdiyana
No. Mahasiswa : 01312223
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2006
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
“Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman / sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”
Yogyakarta,Januari 2006
Penyusun,
( Renita Verdiyana )
ii
VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN
Hasil Penelitian
diajukan oleh
Nama : Renita Verdiyana
Nomor Mahasiswa : 01 312 223
Jurusan : Akuntansi
Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing
Pada tanggal : 20 Januari 2006
Dosen Pembimbing,
( Drs. Syamsul Hadi, M.S, Ak )
iii
Telah dipertahankan/diujikan dan disyahkan untuk memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana jenjang Strata I
Nama : Renita Verdiyana
No. Mahasiswa : 01312223
Yogyakarta, 2006
Disyahkan oleh :
Dekan / Ketua Panitia Pembantu Dekan I / Sekretaris Panitia
Drs. Suwarsono, MA Drs. A. Sobirin, MBA, Ak, P.hD
Dewan Dosen Penguji
1. (Ketua/anggota)
2. (anggota)
iv
Persembahan
Karya manis ini kupersembahkan kepada :
Ibu dan Babe tercinta.
(Yang senantiasa mendoakan, Terimakasih atas kasih sayangnya yang tiada terhingga, terimakasih atas bantuan serta dukungan moril, sprituil dan financialnya).
Untuk Maz Rio dan D’Nisa tersayang.
(Terimakasih ya …. telah membantu dalam menyelesaikan karya manis ini hingga selesai).
Untuk Temen dan Sahabatku
(Terimakasih ya…support dan waktunya) v
Pacuan Hati
Sungguh bersama kesukaran pasti ada kemudahan dan bersama kesukaran pasti ada kemudahan Karena itu bila selesai suatu tugas mulailah dengan yang lain dengan sungguh-sungguh.
( QS. Alam Nasyrah : 5-7 )
Tak ada kesalahan yang lebih besar daripada banyak keinginan, tak ada bencana yang lebih besar daripada ingin mendapat, tak ada bahaya yang lebih besar daripada tak kenal cukup.
Ingatlah bahwa Allah menurunkan pertolongan kepada mereka yang mau membantu diri sendiri, berbuatlah seakan semuanya bergantung padamu dan berdoalah seakan semuanya bergantung pada Allah….
Sebuah sukses lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata, sebuah sukses terwujud karena ikhtiar melalui perencanaan yang matang, keyakinan, keuletan, ketabahan dan karena niat baik kepada Allah SWT.
( Prof. Dr. Kuswadi Harjo Sumantri, SH.)
Sosok pribadi yang unggul pantang berbuat sia-sia. Dia akan sangat menjaga waktu sebab semua yang diperbuat itu membutuhkan waktu.
(Aa’ Gym)
Doa memberikan kekuatan yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan….
Jika engkau kesulitan dalam pekerjaanmu, jangan putus asa, jangan gelisah dan jangan ragu. Percayalah, jalan keluar akan segera datang.
vi
Kata Pengantar
Assalammu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Variabel-variabel yang mempengaruhi luas pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan”.
Skripsi ini disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Sarjana Strata-1 Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ( FE UII ). Dalam penyelesaian penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Drs. H.Suwarsono, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang telah memberikan izin dalam penyusuan skripsi ini.
2. Bapak Drs. Syamsul Hadi, M.S, Ak, selaku Dosen Pembimbing yang telah dengan penuh kesabaran dalam memberikan saran, nasehat, bimbingan, kritikan serta bantuan yang begitu besar.
3. Ibu Dra. Neni Meidawati, M.Si, Ak, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan saran-saran untuk majunya akademik penulis.
4. Ibu (Astuti) dan Babe (Suharno), yang senantiasa selalu mendoakan, terimakasih atas kasih sayangnya yang tiada terhingga, bimbingan dan dukungan saat proses penulisan dan untuk selamanya.
vii
5. Maz Rio (maaf ya ade’mu duluan) D’Nisa, terimakasih atas dukungan dan bantuannya selama ini, kalian kakak dan ade’ juga sahabatku…
6. Sepupuku Inonk, Maz Sulis, Yoyox makasih support dan saran-sarannya.
7. Sahabatku satu perjuangan dalam menyelesaikan skripsi, Lina, Dewi, Iis, Neni, Lita, Rian, Erlina tetep semangat ya….!
8. Maz Willy terimakasih waktu dan saran-sarannya.
9. Sahabat-sahabatku Galih, Bowo, Melia, Lisa, Yuni, Roy, Novan terimakasih atas dukungan dan keceriaannya…
10. Temen-temenku Vika, Mbak titik, Neneng, Mbak Sri, Maz iye’, Maz boy, Maz Eko, Maz Danang, Sigit…terimakasih !!! kalo’ ga ada kalian stress euy…
11. Rekan-rekan KKN SL-109 angkatan 29 (Maz Agunk, Didi, D.pri, Eko, Wahyu, Ipunk Keating, Nina, Q Q, dan Yani) kenangan manis bersama kalian itu tidak akan terlupakan.
12. Pihak-pihak lain yang tidak tersebutkan, terimakasih atas terselesaikannya skripsi ini.
Akhirnya penulis hanya dapat mengharapkan semoga amal baik tersebut akan mendapat Rahmat serta Karunia dari Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak sebagaimana mestinya.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, Januari 2006
( Penulis )
viii
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul …………………………………………………………………………………
i
Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme…………………………… ……….
ii
Halaman Pengesahan……………………………………………………….
iii
Halaman Berita Acara Ujian……………………………………………………………….
iv
Halaman Persembahan………………………………………………………………………
v
Pacuan Hati………………………………………………………………………………………
vi
Kata Pengantar………………………………………………………………
vii
Daftar Isi…………………………………………………………………….
ix
Daftar Tabel…………………………………………………………………
xii
Daftar Lampiran…………………………………………………………….
xiii
Abstrak……………………………………………………………………..
xiv
BAB I.PENDAHULUAN…………………………………………………
1
1.1.Latar Belakang Masalah………………………………………
1
1.2.Perumusan Masalah…………………………………………………………
3
1.3.Tujuan Penelitian…………………………………………………………….
4
1.4.Manfaat Penelitian…………………………………………………………..
4
1.5.Sistematika Penulisan………………………………………………………
6
ix
BAB II.KAJIAN PUSTAKA……………………………………………………………..
7
2.1. Disclosure dalam Laporan Keuangan………………………………..
7
2.2.Pengaruh Cost of Debt terhadap Disclosure. ………………………
10
2.3.Pengaruh Cost of Equity Terhadap Disclosure…………………….
11
2.4.Pengaruh Prosentase Kepemilikan Manajerial terhadap
Disclosure………………………………………………………………………
12
2.5.Pengaruh Laba & Prosentase Perubahan Laba terhadap
Disclosure……………………………………………………………………….
13
2.6.Pengaruh Shareholders’equity terhadap Disclosure……………..
15
BAB III.METODOLOGI PENELITIAN……………………………………………..
16
3.1.Obyek Penelitian……………………………………………………………..
17
3.2.Jenis dan Sumber Data……………………………………………………..
16
3.3.Variabel Penelitian…………………………………………………………..
16
3.3.1.Variabel Dependen……………………………………………….
17
3.3.2.Variabel Independen……………………………………………..
18
3.3.2.1 Biaya Pinjaman (Kd)………………………………….
18
3.3.2.2 Biaya Ekuitas (Ke)… ………………………………….
18
3.3.2.3 Prosentase Kepemilikan Manajerial (OWNSP)
18
3.3.2.4 Laba (EARN)…………………………………………….
19
3.3.2.5 Prosentase Perubahan Laba (ΔEARN)………….
19
3.3.2.6 Dummy Shareholders’ Equity ……………………..
19
x
3.4.Perumusan Model…………………………………………………………………….
20
3.5.Uji Normalitas Data………………………………………………………………….
21
3.6.Uji Asumsi klasik……………………………………………………………………..
21
3.7.Pengujian Hipotesa…………………………………………………………………..
22
BAB IV.ANALISIS DAN PEMBAHASAN…………………………………………….
23
4.1.Statistik Deskriptif……………………………………………………………………
23
4.2.Model Regresi………………………………………………………………………….
27
4.2.1.Uji Autokorelasi……………………………………………………………..
28
4.2.2.Uji Regresi…………………………………………………………………….
29
4.2.2.1 Biaya Pinjaman (Cost of Debt)……………………………….
31
4.2.2.2 Biaya Ekuitas (Cost of Equity)……………………………….
32
4.2.2.3.Prosentase Kepemilikan Manajerial………………………..
33
4.2.2.4.Laba……………………………………………………………………
35
4.2.2.5.Prosentase Perubahan Laba……………………………………
36
4.2.2.6.Shareholders’equity………………………………………………
37
BAB V.PENUTUP………………………………………………………………………………..
39
5.1.Kesimpulan……………………………………………………………………………..
39
5.2.Keterbatasan…………………………………………………………………………….
40
5.3.Implikasi………………………………………………………………………………….
40
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………….
42
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………
45
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
4.1.1. Statistik Deskriptif dengan Nilai Ekstrim……..………………………24
4.1.2. Statistik Deskriptif Tanpa Nilai Ekstrim………………………………24
4.2.1. Pengujian Autokorelasi……………………………………………….28
4.2.2. Uji Regresi……………………………………………………………29
4.2.3. Uji Hipotesa…………………………………………………………..30
4.2.4. Uji Regresi melewati titik (0,0)………………………………………30
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Hal
1. Daftar Indeks Pengungkapan…………………………………………………..45
2. Daftar Nama Perusahaan Manufaktur……………………………………….50
3. Daftar Perhitungan Biaya Pinjaman…………………………………………53
4. Daftar Perhitungan Biaya Ekuitas……………………………………………56
5. Data dengan Nilai Ekstrim………………………………………………………59
6. Data tanpa Nilai Ekstrim…………………………………………………………62
7. Uji Normalitas Data……………………………………………………………….64
8. Uji Autokorelasi…………………………………………………………………….64
9. Uji Regresi Berganda Melewati Titik (0,0)……………………………….65
10. Uji Regresi Berganda……………………………………………………………..66
xiii
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar tingkat pengungkapan informasi dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ pada tahun 2002 sampai 2003, dan meneliti beberapa faktor yang sekiranya mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan tersebut. Faktor-faktor tersebut, yang merupakan variabel independen adalah Biaya pinjaman, Biaya ekuitas, Prosentase kepemilikan manajerial, Laba, Prosentase perubahan laba, dan Shareholder’s Equity. Sedangkan variabel dependennya diwakili oleh tingkat pengungkapan informasi laporan tahunan dengan pemberian skor atas pengungkapan item-item yang terdapat pada laporan tahunan.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ, dengan periode penelitian tahun 2002 sampai 2003. Pengolahan dan analisis data menggunakan regresi berganda (Multiple Regression) dengan alat bantu Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya modal pinjaman mempunyai pengaruh signifikan dan mempunyai dampak positif dengan pengungkapan, sedangkan variabel independen yang lain tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan perusahaan.
xiv
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (Mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela ( Voluntary disclosure ). Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan.
Disclosure dalam laporan tahunan merupakan sumber informasi untuk pengambilan keputusan investasi. Keputusan investasi sangat tergantung dari mutu dan luas pengungkapan yang disajikan dalam laporan tahunan. Mutu dan luas pengungkapan laporan tahunan masing-masing berbeda. Perbedaan ini terjadi karena karakteristik dan filosofi manajemen masing-masing perusahaan juga berbeda. Selain digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, disclosure dalam laporan tahunan juga digunakan sebagai sarana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Penelitian mengenai kelengkapan pengungkapan (disclosure) dalam laporan tahunan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Penelitian semacam ini akan memberikan gambaran mengenai kondisi suatu perusahaan, serta memberikan gambaran tentang sifat
2
perbedaan kelengkapan ungkapan antar perusahaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas publik, pengungkapan laporan keuangan menjadi faktor yang signifikan. Pengungkapan laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh, metode persediaan, jumlah saham yang beredar dan ukuran alternatif, misalnya pos-pos yang dicatat berdasar historical cost. (Ainun dan Fuad : 2000).
Penelitian-penelitian yang menghubungkan variabel-variabel tertentu dengan disclosure telah banyak dilakukan, beberapa penelitian yang telah dilakukan antara lain penelitian yang dilakukan Botosan (1997) yang menguji luas ungkapan sukarela dalam laporan tahunan, terhadap biaya ekuitas. Di Indonesia ada dua studi yang menguji hubungan luas pengungkapan sukarela dan biaya ekuitas yaitu Astuti (1999) dan Gulo (1999). Sengupta (1998) menguji dampak kualitas ungkapan terhadap biaya pinjaman (Cost of Debt).
Shangvi dan Desai (1971) dalam Subiyantoro (1996) mengutarakan bahwa rentabilitas ekonomi dan profit margin yang tinggi, akan mendorong para manajer untuk memberikan informasi yang lebih terperinci, sebab mereka ingin menyakinkan investor terhadap profitabilitas perusahaan dan mendorong kompensasi terhadap manajemen. Di bagian lain, secara terpisah beberapa peneliti kembali menguji kegunaan dan informasi yang jelas tentang data keuangan, khususnya informasi laba, dalam kurun waktu yang relatif panjang. Dengan menggunakan hubungan statistis antara data akuntansi (laba) dan data pasar
3
modal, peneliti tersebut ingin menguji apakah terdapat perubahan kegunaan informasi keuangan bagi investor.
Ainun dan Fuad (2000) melakukan penelitian tentang analisis hubungan antara kelengkapan pengungkapan laporan keuangan dengan struktur modal dan tipe kepemilikan perusahaan. Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa leverage keuangan mempunyai hubungan yang signifikan positif terhadap indeks kelengkapan pengungkapan. Di sisi lain tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara kepemilikan saham oleh publik dengan kelengkapan pengungkapan.
Banyaknya penelitian terdahulu yang meneliti pengaruh beberapa variabel keuangan tertentu terhadap pengungkapan dalam laporan keuangan, mendorong untuk melakukan pengujian lebih lanjut atas temuan-temuan empiris mengenai variabel-variabel yang mempengaruhi pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini mengambil judul
“VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN DALAM LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah biaya pinjaman, biaya ekuitas, prosentase kepemilikan manajerial, laba, prosentase perubahan laba, dan
4
shareholders’equity mempunyai pengaruh terhadap luas pengungkapan perusahaan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris apakah terdapat pengaruh faktor-faktor seperti biaya pinjaman, biaya ekuitas, prosentase kepemilikan manajerial, laba, prosentase perubahan laba, dan shareholders’equity terhadap luas pengungkapan laporan keuangan pada industri manufaktur.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan yaitu:
1. Memberikan kontribusi praktis bagi manajemen perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan, mengenai minimum disclosure agar informasi yang disajikan dapat bermanfaat untuk analisis dan pengambilan keputusan investasi.
2. Bagi BAPEPAM dan Penyusun SAK membantu untuk mengembangkan, mengubah, menambah dan menjelaskan standar akuntansi yang berlaku untuk menciptakan pasar modal yang efisien.
3. Bagi investor dan kreditor penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan investasi dan memberikan kredit pada suatu perusahaan.
5
4. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan teori terutama untuk penelitian yang sama di masa yang akan datang.
5. Menambah literatur mengenai aspek fundamental yang berkaitan dengan kegunaan laporan keuangan.
6
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini membahas mengenai teori-teori yang digunakan sebagai dasar penelitian dan pembahasan selanjutnya, penelitian- penelitian terdahulu dan pengembangan hipotesa penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Menguraikan tentang populasi dan sampel, jenis dan sumber data, variabel penelitian yang digunakan beserta pengukurannya, perumusan model penelitian, penjelasan uji normalitas data, uji asumsi klasik dan uji hipotesa.
BAB IV ANALISIS DATA
Membahas tentang gambaran hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis.
BAB V PENUTUP
Merupakan kesimpulan dari hasil analisa yang telah dilakukan, saran-saran yang mungkin dapat dipergunakan dalam pengembangan perusahaan dan keterbatasan penelitian.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Disclosure dalam Laporan Keuangan
Dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) Nomor 1, dinyatakan bahwa laporan keuangan harus menyajikan informasi yang berguna untuk investor dan calon investor, kreditur, dan pemakai lain dalam pengambilan keputusan investasi, kredit dan keputusan lain yang sejenis yang rasional. Informasi tersebut harus dapat dipahami oleh mereka yang mempunyai wawasan bisnis dan ekonomi. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan agar dapat dipahami dan tidak menjadikan salah intepretasi, maka penyajian laporan keuangan harus disertai dengan disclosure yang cukup (adequate disclosure) artinya informasi yang disajikan tidak berlebihan namun juga tidak kurang sehingga tidak menyesatkan orang yang membacanya.
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengungkapan wajib (Mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela ( Voluntary disclosure ). Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku, dalam hal ini adalah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan. Disclosure dalam laporan tahunan merupakan sumber informasi untuk pengambilan keputusan investasi. Keputusan investasi sangat tergantung dari mutu dan luas pengungkapan yang disajikan dalam laporan tahunan. Mutu dan luas
8
pengungkapan laporan tahunan masing-masing berbeda. Perbedaan ini terjadi karena karakteristik dan filosofi manajemen masing-masing perusahaan juga berbeda. Selain digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan disclosure dalam laporan tahunan juga digunakan sebagai sarana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Salah satu cara untuk mengukur kualitas pengungkapan yang digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya adalah berdasarkan daftar item pengungkapan yang terdapat dalam laporan tahunan. Pengukuran kualitas pengungkapan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yaitu memberi bobot kepada setiap item dan tanpa memberi bobot pada item pengungkapan tersebut. Pengukuran kualitas pengungkapan tanpa pembobotan telah dilakukan oleh beberapa peneliti misalnya Subiyantoro (1997), dan Suripto (1998). Pengukuran kualitas pengungkapan yang dilakukan dengan pemberian bobot pada setiap item akan didasarkan pada hasil wawancara atau kuesioner yang ditujukan kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan laporan tahunan. Cara pengukuran kualitas pengungkapan dengan pembobotan tersebut telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, misalnya, Botosan (1997), dan Shanghvi dan Desai (1971) dalam Gunawan dan Susanto (2004),. Beberapa penelitian mengenai pengungkapan menggunakan indeks pengungkapan (disclosure index) sebagai indikator empiris tingkat pengungkapan. Indeks pengungkapan merupakan rasio antara jumlah elemen informasi yang dipenuhi dengan jumlah elemen informasi yang diharapkan.
9
Suatu studi empiris membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan sebenarnya enggan untuk memperluas pengungkapan laporan keuangan tanpa tekanan dari profesi akuntansi atau pemerintah. Akan tetapi, pengungkapan merupakan hal yang vital bagi pengambilan keputusan optimal para investor dan untuk pasar modal yang stabil. Pengungkapan informasi yang relevan cenderung untuk mencegah kejutan yang mungkin dapat mengubah secara total masa depan perusahaan. Hal itu juga cenderung memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada para investor terhadap informasi keuangan yang disediakan bagi mereka (Hendriksen, 1997).
Alat analisis terakhir digunakan untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi pengungkapan laporan keuangan yang dibahas dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Regresi dalam pengertian modern adalah studi bagaimana variabel dependen dipengaruhi oleh satu atau lebih variabel independen dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi nilai rata-rata variabel dependen didasarkan pada nilai variabel independen yang diketahui (Widarjono, 2005). Penelitian ini menggunakan regresi berganda sebagai alat analisis, karena dalam analisis regresi dapat menjelaskan hubungan antara variabel independen dan variabel dependen yang menunjukkan hubungan satu arah, yaitu pengaruh variabel-variabel yang mempengaruhi pengungkapan. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Biaya pinjaman (Cost of Debt), Biaya ekuitas (Cost of Equity), Prosentase kepemilikan manajerial (Manajerial Ownership), Laba, Prosentase perubahan laba, dan Shareholders’Equity. Sedangkan untuk variabel dependennya adalah tingkat
10
pengungkapan laporan keuangan perusahaan karena disclosure merupakan sarana pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas publik yang signifikan.
2.2 Pengaruh Biaya Pinjaman (Cost of Debt) terhadap Disclosure
Biaya pinjaman adalah tingkat pengembalian yang diberikan kepada investor. Biaya pinjaman merupakan proksi hutang yang dimiliki perusahaan pada saat itu. Semakin besar biaya pinjaman yang ditanggung oleh perusahaan, berarti perusahaan tersebut memiliki hutang yang besar pula. Pada kondisi tersebut perusahaan berusaha menutupi keadaan perusahaan yang sebenarnya agar tidak terjadi penurunan harga saham. Di sisi lain investor memerlukan pengungkapan informasi laporan keuangan yang memadai untuk menjamin bahwa investasinya kepada perusahaan memiliki resiko sesuai dengan apa yang telah diperkirakan. Adanya tuntutan dari ivestor tersebut mendorong perusahaan untuk mengungkap laporan keuangannya secara lebih luas. Hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin tinggi biaya modal pinjaman maka semakin tinggi pula tingkat pengungkapan laporan keuangan perusahaan. Ainun dan Fuad (2000) menyatakan bahwa perusahaan dengan rasio hutang atas tinggi akan mengungkapkan lebih banyak informasi dalam laporan keuangan daripada perusahaan dengan rasio hutang yang rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut :
H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Cost of Debt terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
11
2.3 Pengaruh Biaya Ekuitas (Cost of Equity) terhadap Disclosure
Biaya ekuitas mencerminkan besar ekuitas yang dimiliki perusahaan. Semakin besar biaya ekuitas yang ditanggung perusahaan maka semakin tinggi pula ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Pada kondisi seperti ini biasanya perusahaan tidak akan menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya, perusahaan cenderung mengungkap laporan keuangannya tanpa ragu-ragu. Akan tetapi jika biaya ekuitas kecil perusahaan cenderung menutupi laporan keuangannya. Tetapi di lain pihak, investor ingin mengetahui kondisi perusahaan pada saat itu sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasinya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah biaya ekuitas yang ditanggung perusahaan maka perusahaan dituntut untuk mengungkapkan laporan keuangannya secara lebih luas.
Penelitian kualitas disclosure berkaitan dengan Cost of Equity telah banyak dilakukan salah satunya adalah penelitian Komalasari dan Baridwan (2002) yang menunjukkan bahwa penurunan Cost of Equity bagi perusahaan yang timbul dari menurunnya asimetri informasi di antara pelaku pasar (investor) dapat mendorong mereka untuk membuat kebijakan pengungkapan informasi akuntansi yang lebih baik. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut :
H2 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Cost of Equity terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
12
2.4 Pengaruh Prosentase Kepemilikan Manajerial terhadap Disclosure
Prosentase kepemilikan manajerial yaitu prosentase saham yang dimiliki oleh manajemen dalam hal ini dewan komisaris dan direksi yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan. Dalam kaitannya dengan kepemilikan manajerial, pengungkapan perusahaan biasanya dilakukan untuk mengendalikan konflik kepentingan antara pemegang saham, kreditur dan manajemen. Maka dapat disimpulkan bahwa pengungkapan erat kaitannya dengan hubungan keagenan antara manajemen dan pemilik serta antara pemilik (melalui manajemen) dengan kreditur. Dengan pengungkapan yang lebih luas, manajemen berusaha menurunkan potensi konflik yang akan menaikkan biaya pengawasan.
Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen sangat berperan penting dalam setiap keputusan-keputusan yang akan diambil demi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Manajemenlah yang menentukan kebijakan-kebijakan perusahaan agar tujuan perusahaan tercapai. Hasil kerja manajemen ini akan dipertanggungjawabkan dan pertanggungjawaban ini dapat diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan. Sehingga diperkirakan jumlah kepemilikan saham manajerial akan dapat memepengaruhi pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Khomsiyah (2003) menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan secara signifikan dengan pengungkapan adalah prosentase kepemilikan manajreial. Akan tetapi penelitian ini tidak dapat membuktikan perusahaan yang mempunyai prosentase kepemilikan manajerial besar atau kecil yang akan mempengaruhi manajer perusahaan dalam melakukan
13
pengungkapan informasi suatu perusahaan. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H3 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara prosentase kepemilikan manajerial terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
2.5 Pengaruh Laba dan Perubahan Laba terhadap Disclosure
Laba adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak bersal dari kontribusi penanam modal (Ghozali, 2003). Laba seringkali diklaim sebagai indikator dari kemampuan perusahaan untuk membayar deviden. Apabila manajemen memutuskan untuk mendasarkan deviden secara kaku pada bagian yang tetap dari laba bersih, maka laba bersih yang diproyeksikan merupakan satu-satunya yang diperlukan investor untuk mengestimasikan deviden di masa depan. Oleh karena itu informasi tentang laba yang diperoleh perusahaan sangat penting untuk diungkapkan dalam laporan keuangan perusahaan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan bagi investor.
Sedangkan prosentase perubahan laba merupakan laba per lembar saham pada tahun tertentu dan laba per tahun sebelumnya dibagi dengan harga saham. Prosentase perubahan laba merupakan ukuran tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Prosentase perubahan laba ini merupakan bahan pertimbangan pengambilan keputusan bagi investor dalam menentukan investasinya. Prosentase
14
perubahan laba ini sangat perlu untuk diungkapkan di dalam laporan keuangan perusahaan guna membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut.
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang menguji keterkaitan antara laba dengan pengungkapan laporan keuangan perusahaan diantaranya, penelitian Fitriani (2001) dalam Simanjuntak (2003) menunjukkan bahwa terdapat faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan perusahaan yang salah satunya adalah net profit margin. Penelitian lain dilakukan oleh Simanjuntak (2003) menyatakan bahwa variabel profitabilitas mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan keuangan perusahaan manufaktur. Penelitian Shanghvi dan Desai (1971) dalam Subiyantoro (1996) juga menunjukkan bahwa rentabilitas ekonomi dan profit margin yang tinggi akan mendorong para manajer untuk memberikan informasi yang terperinci, sebab mereka ingin meyakinkan investor terhadap profitabilitas perusahaan dan mendorong kompensasi terhadap manajemen. Dalam penelitiannya, Subiyantoro (1996) juga mengutarakan bahwa manajemen cenderung untuk mengungkap informasi secara terperinci ketika perusahaan mengalami tingkat perubahan laba tinggi. Tetapi, jika perusahaan mengalami tingkat perubahan laba yang rendah, manajemen cenderung untuk menyembunyikan alasan penurunan dengan mengungkap lebih sedikit informasi.
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut :
H4 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara laba terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
H5 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara prosentase perubahan laba terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
15
2.6 Pengaruh Shareholders’Equity terhadap Disclosure
Shareholders’Equity merupakan kepemilikan perusahaan oleh masyarakat publik. Pengertian publik disini adalah pihak individu yang berada diluar lingkar manajemen dan tidak memiliki hubungan istimewa dengannya. Sementara itu perusahaan perseroan (PT) yang memiliki saham tidak dikategorikan publik. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan pemilik PT tersebut adalah pihak yang memiliki hubungan istimewa. Skala dari variabel ini adalah prosentase saham yang dimiliki oleh publik.
Penelitian Ainun dan Fuad (2000) mengemukakan bahwa adanya perbedaan dalam proporsi saham yang dimiliki oleh investor luar dapat mempengaruhi kelengkapan pengungkapan oleh perusahaan. Hal ini karena semakin banyak pihak yang membutuhkan informasi tentang perusahaan, semakin banyak pula detail-detail yang dituntut untuk dibuka dan dengan demikian pengungkapan perusahaan semakin luas. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut :
H6 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara shareholders’equity terhadap pengungkapan laporan keuangan perusahaan.
16
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah laporan keuangan dan pengungkapan dalam laporan tahunan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Periode data yang digunakan dalam penelitian ini mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2003. Dalam penelitian ini terdapat 94 perusahaan manufaktur yang digunakan.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang tidak diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti, melainkan data diperoleh melalui Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Data yang diambil adalah data laporan keuangan dan pengungkapannya, laba per lembar saham (EPS), harga pasar per lembar saham sekarang, prosentase kepemilikan saham, laba, prosentase perubahan laba, dan shareholders’equity.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independen.
17
3.3.1 Variabel Dependen
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengungkapan dalam laporan keuangan (disclosure). Tingkat pengungkapan informasi pada laporan tahunan menggunakan instrumen indeks disclosure yang dikembangkan dari berbagai sumber literatur yang kemudian dipilih dan disesuaikan dengan keadaan perusahaan di Indonesia. Pengukuran tingkat pengungkapan informasi dalam laporan tahunan dengan memberikan skor pada item-item pengungkapan yang terdapat pada laporan tahunan perusahaan. Peraturan skoring tingkat pengungkapan adalah sebagai berikut :
1. Pemberian skor untuk setiap item pengungkapan dilakukan secara dikotomis, dimana item yang diungkapkan diberi nilai satu sementara jika item tersebut tidak diungkapkan diberi nilai nol. Dalam pemberian skor ini, tidak ada pembobotan atas item pengungkapan.
2. Skor yang diperoleh tiap perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor total.
3. Penghitungan indeks pengungkapan tiap perusahaan dilakukan dengan cara membagi skor total tiap perusahaan dengan skor total yang diharapkan.
18
3.3.2 Variabel Independen
Variabel independen atau penjelas dalam penelitian ini adalah variabel-variabel yang mempengaruhi pengungkapan diantaranya adalah Biaya pinjaman, Biaya Ekuitas, Prosentase kepemilikan manajerial, Laba, Prosentase perubahan laba, dan shareholders’equity.
3.3.2.1 Biaya Pinjaman (Kd)
Biaya pinjaman merupakan tingkat pengembalian yang diberikan kepada investor. Variabel ini diukur dengan mengalikan biaya bunga sebelum pajak dengan satu dikurangi tingkat pajak.
3.3.2.2 Biaya Ekuitas (Ke)
Biaya ekuitas merupakan tingkat pengembalian atas seluruh investasi yang meliputi seluruh tingkat pengembalian oleh pemegang saham. Biaya ekuitas dapat diukur menggunakan proyeksi laba per lembar saham yang dihubungkan dengan harga pasar saham sekarang.
3.3.2.3 Prosentase Kepemilikan Manajerial (OWNSP)
Prosentase kepemilikan manajerial merupakan prosentase saham yang dimiliki oleh manajemen (Dewan komisaris dan Direksi) yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan. Kepemilikan manajerial di ukur sesuai dengan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh manajerial.
19
3.3.2.4 Laba (EARN)
Laba adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak bersal dari kontribusi penanam modal (Ghozali, 2003). Laba dapat diukur berdasarkan mata uang negara yang bersangkutan.
3.3.2.5 Prosentase Perubahan Laba (ΔEARN)
Prosentase perubahan laba merupakan laba per lembar saham pada tahun tertentu dan laba per tahun sebelumnya dibagi dengan harga saham. Prosentase perubahan laba mempunyai indikator perubahan laba setelah dikurangi laba atau rugi kurs, yang diukur dengan satuan prosentase.
3.3.2.6 Shareholders’Equity (SE)
Shareholders’Equity merupakan kepemilikan perusahaan oleh masyarakat publik. Prosentase Shareholders’Equity menunjukkan besarnya investasi oleh para pemilik aset sebuah perusahaan. Shareholders’Equity dikontrol dengan menggunakan variabel dummy yang bersifat dikotomis. Variabel ini bernilai 1 jika bernilai positif dan jika nilainya negatif maka nilainya 0.
20
3.4 Perumusan Model
Model yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah model umum persamaan regresi linier berganda (Multipple Regression Analysis) dan pengolahannya menggunakan alat bantu statistik Microsoft EXCEL 2000. Analisa ini untuk menguji variabel-variabel yang memepengaruhi disclosure. Model dalam penelitian ini adalah :
DSCORE = α + β1Ke + β2Kd + β3OWNSP + β4EARN + β5 ΔEARN
+ D1 SE + e
Keterangan :
DSCORE = Skor disclosure
Ke = Biaya ekuitas
Kd = Biaya pinjaman
OWNSP = Prosentase kepemilikan saham oleh pihak manajemen
EARN = Laba
ΔEARN = Prosentase perubahan laba
SE = Dummy Shareholder’s Equity
e = Koefisien Error
Dalam melakukan analisa regresi dengan menggunakan data keuangan sering dijumpai adanya outliers berupa data yang nilainya ekstrim. Keberadaan outliers dalam penelitian ini ditandai dengan adanya nilai skewness yang tinggi lebih dari 3 (Djarwanto, 1996). Adanya nilai ekstrim pada data dapat menimbulkan terjadinya kebiasan dan mengganggu validitas data, untuk
21
menghindarinya maka data yang mempunyai nilai ekstrim akan dikeluarkan dari sampel.
3.5 Uji Normalitas Data
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi datanya normal atau mendekati normal. Dalam penelitian ini normalitas data ditunjukkan dengan besarnya nilai skewness dan kurtosis yang dijelaskan dalam deskriptif statistik.
3.6 Uji Asumsi Klasik
Model regresi di atas secara teoritis akan menghasilkan nilai parameter model penduga yang akurat bila memenuhi asumsi klasik regresi. Asumsi klasik yang harus dipenuhi tersebut diantaranya adalah uji autokorelasi.Uji autokorelasi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi merupakan masalah khusus dalam penggunaan sample runtun waktu, karena sample yang digunakan pooled time series cross-section dengan jumlah perusahaan lebih besar dibandingkan dengan jumlah periode sampel, maka permasalahan autokorelasi tidak menyebabkan terjadinya bias dalam estimasi (Triyono & Jogiyanto Hartono,2000). Model regresi yang baik adalah yang bebas
22
dari autokorelasi. Menurut Agus Endro Suwarno (2004) model regresi tidak terdapat masalah autokorelasi jika nilai korelasinya masih di bawah 90%.
3.7 Uji Hipotesa
pengujian hipotesa untuk mengetahui apakah Biaya Ekuitas, Biaya Pinjaman, prosentase kepemilikan manajerial, laba, prosentase perubahan laba, dan shareholders’equity mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan dalam laporan keuangan perusahaan.
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan bantuan program software Microsoft Excel dalam perhitungannya. Pengujian hipotesa tentang kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen di atas dapat menggunakan alat analisa statistik berupa P-value yang menunjukkan kemungkinan kesalahan prediksi suatu variabel berdasarkan model yang sudah dibuat. Kriteria P-value yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
1. P-value > 10 % = tidak signifikan
2. P-value 5 % sampai dengan 10 % = signifikan lemah
3. P-value 1 % sampai dengan 4,999 % = signifikan moderat
4. P-value < 1 % = signifikan kuat
23
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan disajikan hasil analisis mengenai pengaruh biaya pinjaman, biaya ekuitas, kepemilikan manajerial, laba, perubahan laba, dan shareholders’ equity terhadap disclosure. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan alat bantu statistik Microsoft EXCEL 2000.
4.1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk melihat tingkat normalitas data yang digunakan untuk penelitian. Tingkat normalitas data dapat dilihat berdasarkan pada besarnya skewness dan kurtosis. Skewness akan menunjukkan tingkat kemencengan data, jika jumlahnya semakin besar maka data tersebut semakin menceng, artinya data tidak tersebar dengan rata yang disebabkan oleh data yang ekstrim. Sedangkan kurtosis adalah tingkat kelancipan data, semakin besar kurtosis maka data akan semakin baik.
Deskripsi variabel menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan informasi dari 107 perusahaan manufaktur sebagai sampel dapat ditunjukkan pada tabel 4.1.1.
24
Tabel 4.1.1 Deskriptive Data
Kd
Ke
OWNSP
EARN
ΔEARN
DSCORE
Mean
78085977558
1068355,3
1,2819626
87966,85
-101,3075
67,537108
Std Dev
2,99148E+11
3626852,9
3,6344446
632432,01
414,588
7,1072239
Kurtosis
36,98824983
28,951409
18,154518
24,990709
24,025965
-0,6626511
Skewness
5,916427468
5,2040859
4,0494348
2,2283685
-4,522401
0,197492
Minimum
0
4555,5556
0
-2421170
-2866,6
53,921569
Maximum
2,15497E+12
25666667
23,08
4421583
418,6
84,313725
Dari hasil deskripsi statistik pada tabel 4.1.1 menunjukkan data ekstrim yang cukup besar pada beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya nilai skweness yang cukup besar pada beberapa variabel. Untuk memperoleh normalitas data yang lebih baik data ekstrim yang ada harus dihilangkan. Jumlah perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini semula berjumlah 107 perusahaan, setelah dilakukan eleminasi data ekstrim jumlah perusahaan menjadi 94 dengan data ekstrim yang dihilangkan berjumlah 13 perusahaan.
Tabel 4.1.2 Deskriptive Data
Kd
Ke
OWNSP
EARN
ΔEARN
DSCORE
Mean
9,664288664
5,2258792
1,3637234
66509,777
-99,393617
67,730496
Std Dev
1,227510536
0,6610008
3,8302823
648312,49
417,46175
7,2225197
Kurtosis
-0,14136011
1,5141981
16,314728
26,087144
25,972577
-0,6952923
Skewness
-0,26465528
0,7673794
3,8765303
2,3018247
-4,6938286
0,1878766
Minimum
6,333348065
3,6585413
0
-2421170
-2866,6
53,921569
Maximum
12,33344125
7,3159703
23,08
4421583
418,6
84,313725
Variabel biaya pinjaman (Kd) mempunyai nilai rata-rata sebesar 9,664288664 lebih besar daripada standar deviasinya yang besarnya adalah 1,227510536. Besarnya nilai standar deviasi ini menunjukkan bahwa data sangat
25
terkumpul, hal ini didukung oleh nilai kurtosisnya yang sebesar -0,14136011 menunjukkan data sangat terkumpul di sekitar rata-rata. Berdasarkan nilai rata-rata, standar deviasi dan kurtosis diatas dapat disimpulkan bahwa data bersifat homogen dan tidak bermasalah.
Variabel biaya ekuitas (Ke) mempunyai nilai rata-rata sebesar 5,2258792 dan standar deviasinya sebesar 0,6610008 nilai ini lebih kecil daripada nilai rata-ratanya. Perbandingan kedua nilai tersebut menunjukkan bahwa data terkumpul dan hal ini ditunjukkan dengan rentang nilai minimum 3,6585413 dan nilai maksimum 7,3159703, rentang nilai tersebut mendukung pernyataan bahwa data terkumpul. Hal ini didukung dengan nilai kurtosisnya yaitu sebesar 1,5141981 dan nilai skwenessnya sebesar 0,7673794, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data di atas tidak bermasalah.
Kepemilikan manajerial (OWNSP), variabel ini mempunyai rata-rata yang cukup kecil 1.36 % dan mempunyai standar deviasi sebesar 3.83 % nilai tersebut diatas nilai rata-ratanya. Kedua nilai tersebut tidak didukung dengan nilai kurtosisnya yang cukup tinggi yaitu sebesar 16.31 % dan nilai skwenessnya sebesar 3.87 %. Hal ini menunjukkan adanya data ekstrim dan kurva distribusi menceng kesebelah kanan.
Untuk memperoleh normalitas data yang lebih baik, data ekstrim yang ada harus dihilangkan atau dimanipulasi agar tidak mengganggu hasil analisa. Manipulasi data menggunakan LOG atau LN untuk menormalisasikan data agar menjadi lebih baik tidak mungkin digunakan karena data yang digunakan dalam penelitian sangat banyak yang bernilai 0 dan jika data ekstrim tersebut
26
dihilangkan maka data yang tersisa menjadi sangat sedikit sehingga tidak dapat diperoleh kesimpulan yang baik, dengan demikian untuk memperoleh hasil kesimpulan yang baik data yang bernilai 0 tetap digunakan.
Berbeda dengan variabel EARN (laba) perusahaan yang mempunyai nilai standar deviasi sebesar 648312,49 dengan nilai rata-rata sebesar 66509,777 menujukkan data tersebar. Nilai kurtosis yang cukup tinggi yaitu sebesar 26,087144 menunjukkan bahwa data terkumpul. Nilai kurtosis yang tinggi dan dengan nilai skewness sebesar 2,3018247 menunjukkan bahwa data yang digunakan terdapat data ekstrim. Untuk memperoleh normalitas data yang lebih baik data ekstrim yang ada harus dihilangkan atau dimanipulasi. Akan tetapi jika data ekstrim dihilangkan maka data yang tersisa menjadi sangat sedikit sedangkan jika menghitung dengan LOG atau LN tidak mungkin digunakan karena terdapat data yang negatif oleh karena itu penelitian ini tetap menggunakan data ekstrim yang ada.
Variabel ΔEARN yaitu prosentase perubahan laba mempunyai standar deviasi sebesar 417.46 % yang lebih besar dari rata-ratanya sebesar –99.39 % dengan perbedaan antara nilai minimum sebesar -2866,6 % dan nilai maximum sebesar 418,6 % yang cukup besar sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebar. Nilai kurtosis yang cukup tinggi yaitu sebesar 25,972577 dan nilai skweness yang sangat rendah yaitu sebesar -4,6938286 menunjukkan kurva distribusi menceng kekiri. Hal ini menunjukkan sebagian data tersebar tetapi tidak menggangu homogenitas data dan data ekstrim yang ada dapat diabaikan.
27
Variabel SE (Shareholders’ Equity) dikontrol dengan menggunakan variabel dummy. Variabel ini bernilai 1 jika SE bernilai positif dan jika nilainya negatif maka nilainya 0.
Variabel DSCORE (Skor Disclosure) mempunyai standar deviasi jauh lebih kecil dengan nilai rata-ratanya yaitu sebesar 7.22 % dan nilai rata-ratanya sebesar 67.73 %. Sedangkan nilai skewness yang sangat kecil dibawah 1 yaitu sebesar 0,1878766 dan nilai kurtosis sebesar -0,6952923 menunjukkan data normal dan tidak bermasalah.
4.2. Pengaruh Biaya Ekuitas, Biaya Pinjaman, Kepemilikan Manajerial, Laba, Perubahan Laba dan Shareholders’ Equity Terhadap Disclosure
Persamaan regresi linier yang digunakan untuk menguji pengaruh Pengaruh Biaya Pinjaman, Biaya Ekuitas, Kepemilikan Manajerial, Laba, Perubahan Laba dan Shareholder’s Equity Terhadap Disclosure adalah ;
DSCORE = α + β1Ke + β2Kd + β3OWNSP + β4EARN + β5 ΔEARN
+ D1 SE + e
Keterangan :
DSCORE = Skor disclosure
Ke = Biaya ekuitas
Kd = Biaya pinjaman
OWNSP = Prosentase kepemilikan saham oleh pihak manajemen
EARN = Laba
ΔEARN = Prosentase perubahan laba
28
SE = Dummy Shareholder’s Equity
e = Koefisien Error
Pengujian asumsi klasik yang dilakukan pada model regresi di atas adalah autokorelasi. Hal ini dilakukan karena model regresi yang baik diantaranya adalah bebas autokorelasi.
4.2.1 Uji Autokorelasi
Uji autokolerasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain.
Tabel 4.2.1 Pengujian Autokorelasi
kd
ke
OWNSP
EARN
ΔEARN
SE
DSCORE
kd
1
ke
0,1821671
1
OWNSP
-0,1510109
-0,129412159
1
EARN
0,165648
-0,132899245
-0,011007667
1
ΔEARN
-0,0103099
-0,266818384
0,086665781
0,0477197
1
SE
-0,0170426
-0,322151355
0,142996183
0,2514535
0,3758453
1
DSCORE
0,4508754
-0,061983258
-0,0026445
0,1258548
0,0294252
0,0889278
1
Hasil uji autokorelasi disajikan pada tabel 4.2.1. Berdasarkan uji korelasi yang telah dilakukan, nilai berada dalam kisaran batas tidak terdapat autokorelasi. Nilai korelasi berada dalam kisaran 0.0 sampai dengan 0.4, nilai ini menunjukkan bahwa tingkat korelasi rendah. Dengan demikian maka variabel-variabel independen saling tidak berkorelasi satu dengan yang lain sehingga dapat
29
disimpulkan model merupakan model regresi yang cukup baik karena bebas autokorelasi.
4.2.2 Uji Regresi
Tabel 4.2.2. Uji Regresi
Regression Statistics
Multiple R
0,479993814
R Square
0,230394062
Adjusted R Square
0,17731779
Standard Error
6,550957627
Observations
94
F
4,340810959
Significance F
0,000704448
Uji regresi menggunakan pooled data menggunakan variabel dummy sebagai variable pengontrol (tabel 4.2.2). Dari pengujian tersebut dapat diketahui bahwa model regresi ini merupakan sebuah model yang cukup baik. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai F yang cukup tinggi 4,340810959 dan nilai Significance F sebesar 0,000704448. Hal ini menunjukkan bahwa model yang dibangun adalah model yang cukup baik karena memiliki kemungkinan kesalahan yang rendah.
Nilai adjusted R square sebesar 0,17731779 menunjukkan bahwa 17.73% keseluruhan variabel independen mempunyai pengaruh dalam menentukan variabel dependen, sedangkan 82.27% dipengaruhi oleh variabel lain. Nilai adjusted R square ini cukup rendah akan tetapi model regresi ini cukup baik karena didukung dengan nilai significance F yang rendah pula yaitu sebesar 0,000704448. Nilai standar error sebesar 6,550957627 menunjukkan ketepatan
30
dalam memprediksi variabel dependen, makin besar nilai standar error maka makin lemah dalam memprediksi variabel dependen.
Tabel 4.2.3
Coefficients
t Stat
P-value
Intercept
47,16693448
6,1825086
1,98559E-08
kd
2,821951012
4,87251
4,90433E-06
ke
-1,425400355
-1,2625467
0,210125865
OWNSP
0,089856298
0,4944427
0,622239775
EARN
1,93464E-07
0,1746906
0,861728673
ΔEARN
-0,000441088
-0,246949
0,805529499
SE
0,824167264
0,4939067
0,622616724
Nilai intercept sebesar 47,16693448 dan nilai p-value sebesar 1,98559E-08 menunjukkan bahwa nilai intercept mempunyai tingkat signifikansi sangat kuat sedangkan keseluruhan variabel tidak ada yang signifikan kecuali Kd. Dengan variabel intercept yang mempunyai tingkat signifikansi yang sangat kuat tersebut maka model yang dibangun menjadi model yang tidak baik. Oleh karena itu garis regresi dilewatkan titik 0.0 agar menjadi model regresi yang baik.
Tabel 4.2.4 Uji regresi
Regression Statistics
Multiple R
65535
R Square
-0,107732
Adjusted R Square
-0,1820349
Standard Error
7,8145905
Observations
94
F
-1,4264001
Significance F
#NUM!
Hasil uji regresi dilewatkan titik 0,0 menunjukkan dampak yang tidak baik, hal ini ditunjukkan dengan nilai significance F-nya yang menunjukkan
31
bahwa garis regresi tidak dapat dilewatkan garis 0,0. Berdasarkan uji regresi yang kedua dapat disimpulkan bahwa model yang dibangun mungkin dapat diterapkan di Amerika seperti penelitian-penelitian sebelumnya tetapi tidak dapat diterapkan di Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa uji regresi tetap menggunakan pengujian yang pertama.
4.2.2.1 Biaya Pinjaman (Cost of Debt)
Biaya pinjaman (Kd) merupakan tingkat pengembalian yang diberikan kepada investor. Pengujian terhadap biaya pinjaman menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap disclosure. Variabel biaya pinjaman (Kd) mempunyai koefisien sebesar positif 2,821951012 dengan tingkat signifikansi sebesar 4,90433E-06. Nilai ini menunjukkan besarnya biaya pinjaman sangat dipengaruhi oleh luas pengungkapan perusahaan. Hal ini berarti semakin besar biaya pinjaman yang ditanggung perusahaan maka akan samakin tinggi pula tingkat pengungkapan yang dilakukan perusahaan. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa perusahaan dituntut untuk mengungkap laporan keuangannya secara lebih luas terutama pada laporan arus kas, karena arus kas mencerminkan bagaimana perusahaan dapat mengelola kas yang diterima dari sumber dana. Dengan kata lain investor memerlukan informasi yang memadai untuk menjamin bahwa dana yang diinvestasikan kepada perusahaan memiliki resiko sesuai yang telah diperkirakan. Hasil ini mendukung penelitian Ainun dan Fuad (2000) yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan rasio hutang atas modal tinggi akan
32
mengungkapkan informasi dalam laporan keuangannya secara lebih luas daripada perusahaan yang mempunyai rasio hutang yang rendah.
Dari analisa regresi di atas dapat disimpulkan bahwa Ho pada pengujian signifikansi biaya pinjaman diterima atau Ha ditolak. Dengan kata lain, meningkatnya biaya pinjaman yang ditanggung perusahaan maka tingkat pengungkapan yang harus diungkapkan oleh perusahaan semakin meningkat. Dalam penelitian ini terdapat perusahaan yang tidak mempunyai hutang yang berbunga yang mengakibatkan hasil perhitungan biaya pinjaman menjadi 0, sehingga harus dihilangkan karena akan mengganggu hasil analisa. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk lebih memperhatikan sampel perusahaan yang digunakan.
4.2.2.2 Biaya Ekuitas (Cost of Equity)
Biaya ekuitas (Ke) merupakan tingkat pengembalian atas seluruh investasi perusahaan yang meliputi seluruh tingkat pengembalian oleh pemegang saham. Hasil uji regresi menunjukkan besarnya koefisien antara variabel biaya sendiri (Ke) dengan pengungkapan menunjukkan nilai negatif sebesar -1,425400355 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,210125865. Hasil ini menunjukkan bahwa menurunnya biaya ekuitas perusahaan mempengaruhi meningkatnya luas pengungkapan perusahaan walaupun hasilnya tidak signifikan secara statistik. Atau dengan kata lain semakin rendah biaya ekuitas yang dibebankan kepada investor akan menyebabkan semakin tingginya tingkat pengungkapan perusahaan. Hal ini berarti perusahaan harus memberikan
33
informasi yang akurat secara lebih baik karena semakin banyak disclosure yang dilakukan maka informasi asimetri yang terjadi dipasar modal semakin kecil dan biaya ekuitas yang ditanggung perusahaan juga semakin kecil. Hasil ini mengimplikasikan bahwa penurunan biaya ekuitas yang timbul dari menurunnya asimetri informasi diantara pelaku pasar (investor) dapat mendorong mereka untuk membuat kebijakan pengungkapan informasi akuntansi yang lebih baik.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara biaya ekuitas terhadap pengungkapan walaupun hasilnya tidak signifikan. Hal ini menunjukkan menurunnya biaya modal ekuitas perusahaan dapat mendorong para investor untuk membuat kebijakan informasi akuntansi perusahaan yang lebih baik. Dalam penelitian ini, penghitungan biaya ekuitas menggunakan proyeksi laba per lembar saham yang dihubungkan dengan harga pasar saham sekarang. Ukuran ini tidak memperhitungkan efek laba yang diinvestasikan kembali yang menciptakan nilai lebih lanjut bagi pemegang saham, hasil ini bersifat statis karena pertumbuhan laba di masa depan diabaikan. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya memasukkan pertumbuhan deviden untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
4.2.2.3 Prosentase Kepemilikan Manajerial (Manajerial Ownership)
Kepemilikan manajerial (OWNSP) yaitu prosentase saham yang dimiliki oleh manajemen dalam hal ini dewan komisaris dan direksi yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan. Hasil analisis regresi menunjukkan koefisien OWNSP sebesar 0,089856298 dengan p-value sebesar
34
0,622239775 menunjukkan bahwa kenaikan prosentase kepemilikan manajerial tidak diikuti meningkatnya luas pengungkapan perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan dewan komisaris atau dalam hal ini dewan komisaris sebagai pemilik saham manajerial tidak mampu memberikan bukti dapat mempengaruhi luas pengungkapan perusahaan baik wajib maupun sukarela. Dalam hal ini penciptaan sistem pengawasan yang efektif yang dilakukan oleh dewan komisaris tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan baik wajib maupun sukarela yang diberikan oleh perusahaan, akan tetapi lembaga yang berwenanglah yang mempengaruhi tingkat pengungkapan dalam laporan tahunan suatu perusahaan agar menjadi lebih efisien.
Hasil ini juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ainun dan Fu’ad (2000) yang menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara prosentase kepemilikan saham dengan kelengkapan pengungkapan. Penelitian Healy, Hutton, dan Palepu (1999) juga menyatakan bahwa pengungkapan akan meningkat seiring meningkatnya prosentase kepemilikan manajerial perusahaan, dalam hal ini manajer dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui pengungkapan informasi dalam laporan keuangan perusahaan.
Dilihat dari uraian hasil regresi di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungannya antara kepemilikan manajerial terhadap tingkat pengungkapan perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa dewan komisaris sebagai badan pengawas tidak mampu memberikan bukti dapat mempengaruhi luas pengungkapan wajib maupun sukarela. Seperti halnya penelitian sebelumnya yang
35
menggunakan prosentase kepemilikan manajerial, secara keseluruhan variabel ini tidak dapat mewakili kepemilikan saham perusahaan karena variabel ini kebanyakan bernilai 0 sehingga hasil analisis menjadi bias. Untuk penelitian selanjutnya agar memperhatikan sampel yang akan digunakan dalam penelitian.
4.2.2.4 Laba
Laba (EARN) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak bersal dari kontribusi penanam modal. Variabel EARN mempunyai koefisien positif sebesar 1,93464E-07 dan p- value sebesar 0,861728673 nilai ini menunjukkan bahwa kenaikan laba tidak mempengaruhi meningkatnya luas pengungkapan perusahaan. Jika laba perusahaan meningkat maka pembuat laporan keuangan, dalam hal ini manajemen perusahaan tidak berniat untuk meningkatkan luas pengungkapan laporan keuangan perusahaan. Dengan kata lain jika laba perusahaan meningkat manajemen perusahaan tidak akan mengungkapkan laporannya secara lebih terperinci, begitu juga sebaliknya jika laba perusahaan menurun manajemen tidak akan menurunkan kualitas pengungkapan dengan menyembunyikan alasan penurunan laba tersebut. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan Suharyani (2000) yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungannya antara laba suatu perusahaan dengan pengungkapan informasi pada suatu perusahaan.
Dari hasil uji regresi di atas dapat disimpulkan bahwa meningkatnya laba perusahaan tidak akan meningkatkan luas pengungkapan yang dibuat oleh
36
perusahaan dalam laporan keuangan perusahaan. Dalam hal ini manajemen perusahaan tidak akan meningkatkan tingkat pengungkapan perusahaan seiring meningkatnya laba yang diperoleh perusahaan. Penelitian ini menggunakan laba positif dan laba negatif sehingga menyebabkan hasil analisis kurang relevan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik untuk penelitian lebih lanjut sebaiknya lebih memperhatikan laba positif atau laba negatif yang akan digunakan dalam penelitian.
4.2.2.5 Prosentase Perubahan Laba
Variabel perubahan laba (ΔEARN) tidak berbeda dengan variabel laba. Variabel ini mempunyai koefisien negatif sebesar -0,000441088 dan nilai p-value sebesar 0,805529499 hasil ini secara statistik tidak signifikan. Dengan demikian, hasil tersebut mengindikasikan bahwa prosentase perubahan laba berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin semakin rendah ketidakpastian prospek perusahaan dimasa mendatang maka semakin tinggi luas pengungkapan laporan keuangan yang harus diungkap oleh perusahaan. Logikanya adalah keberadaan pengungkapan dalam laporan keuangan memungkinkan investor mendapatkan informasi tambahan untuk menilai prospek laba perusahaan di masa mendatang secara lebih akurat, sehingga ketidakpastian tentang prospek perusahaan di masa mendatang menjadi berkurang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menurunnya informasi tentang pengumuman perubahan laba yang menyebabkan ketidakpastian tentang prospek perusahaan dimasa mendatang akan berpengaruh pada meningkatnya luas
37
pengungkapan perusahaan. Keinformatifan pengumuman perubahan laba sangat berguna bagi investor dan kreditor dalam mengambil keputusan investasi karena prosentase perubahan laba dapat dijadikan untuk mengukur prestasi perusahaan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara perubahan laba dengan pengungkapan walaupun hasilnya tidak signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa menurunnya informasi tentang pengumuman perubahan laba akan berpengaruh pada meningkatnya luas pengungkapan perusahaan. Penelitian ini menggunakan perubahan laba dengan bentuk prosentase sehingga mengakibatkan perbedaan hasil analisis dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi untuk penelitian lebih lanjut agar menggunakan data perubahan laba bukan dalam bentuk prosentase.
4.2.2.6 Shareholders’Equity
Variabel ini menunjukkan tingkat kepemilikan perusahaan oleh masyarakat publik. Pengertian publik disini adalah pihak individu yang berada diluar lingkar manajemen dan tidak memiliki hubungan istimewa dengannya. Skala dari variabel ini adalah prosentase saham yang dimiliki oleh publik. Variabel SE (Shareholders’ Equity) mempunyai koefisien sebesar 0,824167264 dan p-value sebesar 0,622616724 nilai ini menunjukkan bahwa meningkatnya SE (Shareholders’ Equity) tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan yang dilakukan perusahaan. Artinya shareholders’ equity yang kebanyakan merupakan investor kecil tidak memiliki kekuatan tawar yang seimbang dengan manajemen,
38
sehingga tidak ada perbedaan besarnya tuntutan informasi antara situasi jika mayoritas saham perusahaan dimiliki oleh publik dan jika sebaliknya. Seperti halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Suripto dalam Suharyani (2000), dalam penelitian ini dijelaskan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel shareholders’ Equity dengan luas pengungkapan. Hasil ini juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ainun dan Fuad (2000) yang menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara prosentase kepemilikan saham oleh publik dengan kelengkapan pengungkapan laporan keuangan. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Heavy, Hutton, dan Palepu (1999) yang menunjukkan bahwa shrehoders’equity akan meningkat seiring dengan peningkatan pengungkapannya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa besar kecilnya shareholders’equity yang dimiliki perusahaan tidak akan mempengaruhi luas pengungkapan yang diungkapkan oleh perusahaan. Dengan kata lain tingkat pengungkapan informasi dalam laporan keuangan suatu perusahaan akan tetap ada tanpa dipengaruhi oleh besar kecilnya shareholders’equity. Dalam penelitian ini, variabel shareholders’equity merupakan variabel dummy yang bersifat dikotomi, variabel ini digunakan untuk mengontrol variabel shareholders’equity yang mempunyai data ekstrim yang cukup banyak. Untuk penelitian selanjutnya agar memperhatikan sampel yang akan digunakan untuk memperoleh hasil analisis yang lebih baik.
39
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah:
1. Dari analisa regresi dalam penelitian ini yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Ho pada pengujian signifikansi biaya pinjaman (Kd), biaya ekuitas (Ke), prosentase kepemilikan manajerial (OWNSP), Laba (EARN), prosentase perubahan laba (ΔEARN), dan shareholders’equity (SE) secara keseluruhan diterima dan Ha ditolak. Dengan kata lain bahwa dari keenam variabel independen yang digunakan hanya variabel Kd yang terbukti berpengaruh terhadap disclosure.
2. Penelitian ini tidak berhasil menunjukkan hasil yang signifikan antara variabel biaya ekuitas, prosentase kepemilikan manajerial, laba, prosentase perubahan laba, dan shareholders’equity terhadap disclosure. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat variabel-variabel lain yang lebih berpengaruh terhadap luas pengungkapan, akan tetapi tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
40
5.2 Keterbatasan
1. Penelitian ini hanya menggunakan sampel perusahaan Manufaktur saja sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar generalisasi.
2. Penelitian ini menggunakan indeks pengungkapan, oleh karena itu keterbatasan utama penelitian ini adalah unsur subyektivitas dalam mengukur luas pengungkapan laporan keuangan perusahaan. Selain itu penilaian item informasi tidak memberi bobot penilaian yang berbeda terhadap tingkat kerincian informasi yang diungkapkan sehingga indeks ungkapan menjadi kasar.
3. Dalam penghitungan biaya ekuitas, pertumbuhan laba dimasa depan diabaikan sehingga hasilnya bersifat statis.
5.3 Implikasi
1. Untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih baik sebaiknya penelitian berikutnya memperluas sampel penelitian sehingga dapat menggambarkan kelompok sampel yang lebih baik.
2. Penelitian selanjutnya dapat menambah variabel independen yang sesuai dan mempengaruhi secara signifikan dengan luas pengungkapan pada perusahaan di Indonesia terutama yang terdaftar di Bursa Efek.
3. Dalam penghitungan biaya ekuitas sebaiknya memasukkan pertumbuhan deviden sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik.
4. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan perbaikan dalam penilaian luas pengungkapan dengan memberi bobot pada tingkat
41
kerincian suatu item informasi yang diungkapkan oleh perusahaan sehingga indeks pengungkapan menjadi lebih teliti. Selain itu juga perlu penelaahan lagi untuk mengetahui item pengungkapan yang sesuai dengan keadaan kondisi perekonomian dan perusahaan di Indonesia pada umumnya dan perusahaan yang listing di Bursa Efek.
5. Pengujian dengan pengamatan yang lebih lama mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik.
42
DAFTAR PUSTAKA
Aida Ainul Mardiyah, Pengaruh Informasi Asimetri dan Disclosure terhadap cost of Equity Capital, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 5, No.2, Hal 229-256, Mei 2002.
Agus Endro Suwarno, Manfaat Informasi Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba (Studi Empiris terhadap Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Jakarta), Jurnal Akuntansi dan Keuangan, vol. 03, No. 02, September 2004.
Ainun Nai’m dan Fuad Rakhman, Analisis Hubungan Antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal dan Tipe Kepemilikan Perusahaan, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15, No.1, Hal 70-82, 2000.
Arthur J. Keown, David F. Scott, Jr, John D. Martin, J. William Petty, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Salemba Empat, Jakarta, 2000.
Ani Sidarta dan Juniarti, Pengaruh Kualitas Disclosure Terhadap Biaya Hutang, Simposium Nasional Akuntansi VI, 2003.
Bachtiar, Yanivi S & Sylvia Veronica N.P.S, Hubungan antara Manajemen Laba dengan Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan, Simposium Nasional Akuntansi VI, 2003.
Botosan, Christine A., Disclosure Level and The Cost of Equity Capital, Accounting Review, Vol 72, No.3, Juli 1997.
Djarwanto, Mengenal Beberapa Uji Statistik Dalam Penelitian, Liberty, Yogyakarta, 1996.
Database, PPA, Pasar Modal, FE UGM.
_______, Pojok BEJ, FE UII.
_______, Pojok BEJ, FE Atmadjaya.
Ghozali, Imam dan Anis Chairiri, Teori Akuntansi, Edisi 1, UNDIP, Semarang, 2003.
43
Gulo, Y., Analisis Efek Luas Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan terhadap Cost of Equity Capital Perusahaan, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol 2, No.1, Hal 45-62, April 2000.
Helfert, Erich A., Analisis Laporan Keuangan (terjemahan Herman Wibowo), Edisi 7, Erlangga, Jakarta, 1995.
Gunawan, Inge dan Djoko Susanto, Pengaruh Kelompok Industri, Basis Perusahaan, Dan Tingkat Return Terhadap Kualitas Pengungkapan Dalam Laporan Tahunan: Studi Empiris Di Birsa Efek Jakarta, Jurnal Akuntansi Dan Manajemen, Hal 75-86, April 2004.
Harjanti Widiastuti, Pengaruh Ungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan terhadap Earning Response Coefficient (ERC), Simposium Nasional Akuntansi 5, Sesi 2/A, IAI Jakarta, Hal 74-86, 2002.
_______________, Manfaat Ungkapan Bagi Komunitas Investasi : Suatu Sintesis, Dian Ekonomi, Vol VI, No.2, Hal 215-230, September 2000.
Hendrikson, Eldon S, Teori Akuntansi, Edisi 4, Erlangga, Jakarta, 1997.
_________________, Teori Akuntansi, Edisi 5, Interaksara, Batam, 2000.
Healy, P.M., Amy p. Hutton, & Krishna G. Palepu, Stock Performance and Intermediation Changes Surrounding Substained Increases in Disclosure, Contemporary Accounting Research, Vol 16, No. 3, 1999.
Indonesian Capital Market Directory (ICMD), BEJ, Jakarta, 2003 dan 2004.
Kasmadi dan Djoko Susanto, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Luas Pegungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan Perusahaan-Perusahaan Indonesia, Jurnal Akuntansi Dan Manajemen, Hal 71-88, Desember 2004.
Komalasari, Puput Tri dan Zaki Baridwan, Asimetri Informasi dan Cost of Equity, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 4, No.1, Hal 64-81, Januari 2001.
Muhammad Firdaus, Ekonometrika suatu Pendekatan Aplikatif, Bumi Aksara, Jakarta, 2004.
Sengupta, Partha, Corporate Disclosure Quality and The Cost of Debt, Thesis University of Hawai, 1998.
44
Simanjuntak, Binsar H., Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 7, No 3, September 2004.
Subiyantoro, Edy, Hubungan antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Karakteristik Perusahaan Public di Indonesia, Tesis, S2 UGM, Yogyakarta, 1997.
Suripto, Bambang, Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan, Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Hal 31-44, Desember 2000.
Syamsul Hadi, Memanfaatkan Excel Untuk Analisis Statistik, Ekonisia, Yogyakarta, 2004.
Suharyani, Hubungan Antara Karateristik Perusahaan dengan Luas Pengungkapan Agregat dalam Laporan Keuangan Tahunan Perusahaan Publik di Indonesia, OPTIMUM, Vol 1, No 1, September 2000.
Triyono dan Jogiyanto Hartono, Hubungan Kandungan Informasi Arus Kas dan Laba Akuntansi dengan Harga atau Return Saham, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 3, No. 1, Hal 54-68, Januari 2000.
Widarjono, Agus, Ekonometrika Teori dan Aplikasinya, Edisi Pertama, Ekonisia, Yogyakarta, 2005.
Yuniati Gunawan, Analisis Tingkat Pengugnkapan Laporan Tahunan Pada Perusahaan yang terdaftar di BEJ, Media Riset Akuntansi, Auditing Dan Informasi, Vol 1, No.1, Hal 1-24, April 2001.
45
LAMPIRAN 1
INDEKS PENGUNGKAPAN
(JIKA INFORMASI YANG TERTERA PADA ITEM BERIKUT ADA PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN MAKA SKOR YANG DIBERI ADALAH 1, JIKA TIDAK ADA DIBERI NILAI 0)
KETERANGAN
A.UMUM
1. Pendirian Perusahaan
2. Informasi penawaran umum saham perusahaan
3. Informasi obligasi perusahaan
4. Informasi sumber daya manusia
B. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI
1. Dasar penyusunan laporan keuangan
2. Transaksi dan saldo dalam mata uang asing
3. Pengakuan pendapatan dan beban
4. Kas dan setara kas
5. Piutang usaha
6. Transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
7. Persediaan
8. Biaya dibayar dimuka
9. Aktiva tetap
10.Sewa guna usaha
11.Informasi segmen
12.Kesejahteraan karyawan
13.Perpajakan
14.Laba / rugi per saham dasar
46
C. KAS DAN SETARA KAS
1. Pengelompokkan informasi berdasarkan jenis kas dan setara kas
2. Penyajian jumlah kas dan setara kas dalam mata uang asing
3. Penyajian jumlah kas dan setara kas dalam mata uang rupiah
4. Informasi tambahan tentang kas dan setara kas
D. PIUTANG USAHA
1. Informasi piutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
2. Informasi piutang kepada pihak ketiga
3. Penyajian jumlah piutang dalam mata uang rupiah
4. Penyajian jumlah piutang dalam mata uang asing
5. Informasi umur piutang
F. PERSEDIAAN
1. Informasi perincian persediaan
2. Informasi penggunaan metode perhitungan persediaan
3. Informasi persediaan dalam tahun berjalan
G.AKTIVA TETAP
1. Daftar pengelompokkan aktiva tetap
2. Penambahan aktiva tetap selama periode berjalan
3. Pengurangan aktiva tetap selama periode berjalan
4. Informasi mengenai penaksiran aktiva tetap
5. Metode depresiasi yang digunakan
6. Daftar akumulasi penyusutan aktiva tetap
H. INVESTASI
1. Pengelompokkan investasi jangka pendek
2. Pengelompokkan investasi jangka panjang
3. Keterangan lebih rinci terhadap investasi jangka pendek
4. Keterangan lebih rinci terhadap investasi jangka panjang
47
I. HUTANG BANK
1. Informasi hutang bank kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
2. Informasi hutang bank kepada pihak ketiga
3. Informasi suku bunga bank
J. HUTANG USAHA
1. Informasi rincian umur hutang usaha
2. Informasi hutang usaha kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
3. Informasi hutang usaha kepada pihak ketiga
4. Penyajian jumlah hutang usaha dalam mata uang asing
5. Penyajian jumlah hutang usaha dalam mata uang rupiah
K. HUTANG OBLIGASI
1. Informasi tentang penerbitan obligasi
2. Informasi tingkat bunga obligasi
L. HUTANG WESEL
1. Pengelompokkan hutang wesel berdasarkan tingkat bunga
2. Informasi penerbitan wesel
3. Informasi tingkat bunga pada saat wesel diterbitkan
M. PERPAJAKAN
1. Informasi tentang pajak dibayar dimuka
2. Perincian hutang pajak berdasarkan jenisnya
3. Informasi tentang tagihan pajak
4. Informasi pajak dalam tahun berjalan
N. HUTANG JANGKA PANJANG
1. Informasi hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
2. Informasi hutang kepada pihak ketiga
3. Informasi tingkat suku bunga
4. Informasi hutang dalam tahun berjalan
48
O. AKTIVA DALAM MATA UANG ASING
1. Perincian aktiva dalam mata uang asing
2. Penyajian jumlah aktiva dalam mata uang asing
3. Penyajian jumlah aktiva dalam mata uang rupiah
P. KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING
1. Perincian kewajiban dalam mata uang asing
2. Penyajian jumlah kewajiban dalam mata uang asing
3. Penyajian jumlah kewajiban dalam mata uang rupiah
Q. DEVIDEN
1. Informasi jumlah deviden yang akan dibagikan
2. Jenis deviden yang akan dibagikan
3. Waktu pembagian deviden
4. Informasi pembagian deviden
R. PENJUALAN
1. Informasi rincian penjualan
2. Catatan penjualan kepada pihak ketiga
3. Catatan penjualan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
S. INFORMASI SEGMEN
1. Definisi mengenai segmen
2. Informasi berdasarkan bidang usaha
3. Informasi berdasarkan letak geografis
T. MODAL SAHAM
1. Jumlah saham tercatat
2. Nilai saham tercatat
3. Jumlah saham dikeluarkan
4. Nilai saham dikeluarkan
5. Informasi nama pemegang saham
49
6. Informasi jenis saham
7. Informasi prosentase kepemilikan saham
8. Informasi perubahan modal saham
U. LAIN-LAIN
1. Informasi mengenai kewajiban bersyarat
2. Informasi terhadap perjanjian penting yang dilakukan oleh perusahaan
3. Informasi tentang ikatan modal
4. Informasi mengenai pihak yang mempunyai hubungan istimewa
5. Informasi laba per saham
6. Informasi rugi per saham
7. Dana pensiun
8. Pos luar biasa
9. Informasi mengenai beban usaha
10.Informasi tentang beban bunga
11.Informasi terhadap beban pokok penjualan
12.Informasi tentang biaya di bayar dimuka
13.Peristiwa setelah tanggal neraca
14.Reklasifikasi akun
15.Restrukturisasi hutang
16.Kondisi ekonomi
17.Informasi tentang konsolidasi perusahaan
SKOR TOTAL :
SKOR YANG DIPEROLEH :
PROSENTASE PEMENUHAN :
50
LAMPIRAN 2
NAMA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
1.
ACAP
(Andhi Candra Automotive Products)
2.
ADES
(Ades Alfindo Putrasetia)
3.
ADMG
(GT Petrochem Industries)
4.
AKPI
(Argha Karya Prima Industri)
5.
ALMI
(Alumindo Light Metal Industry)
6.
AMFG
(Asahimas Flat Glass)
7.
APLI
(Asiaplast Industri)
8.
AQUA
(Aqua Golden)
9.
ARGO
(Argo pantes)
10.
ARWANA
(Arwana Citra Mulia)
11.
ASGR
(Astra Graphia)
12.
ASII
(Astra International)
13.
AUTO
(Astra Otoparts)
14.
BATA
(Sepatu BATA)
15.
BRAM
(Branta Mulia)
16.
BRPT
(Barito Pasific)
17.
CTBN
(Citra Tubindo)
18.
DNKS
(Dankos Laboratories)
19.
DSUC
(Daya Sakti Unggul)
20.
DVLA
(Darya Varia Laboratoria)
21.
DYNA
(Dynaplast)
22.
EKAD
(Eka Dharma Tape)
23.
ERTX
(Eratex Jaya)
24.
ESTI
(Evershine)
25.
FASW
(Fajar Surya Wisesa)
26.
GDWU
(Kasogi International)
27.
GDYR
(Good Year Indonesia)
28.
GGRM
(Gudang Garam)
29.
GJTL
(Gajah Tunggal)
30.
GT KI
(GT Kabel Indonesia)
31.
HDTX
(Panasia Indosyntec)
32.
HEXA
(Hexindo Adiperkasa)
33.
IIKP
(Inti Indah Karya Plasindo)
34.
IKAI
(Intikeramik Alamasari)
51
35.
IKBI
(Sumi Indo Kabel)
36.
INKP
(Inti Indah Kiat Pulp & Paper)
37.
IMAS
(Indomobil Sukses)
38.
INA
(Davomas Abadi)
39.
INAF
(Indofarma)
40.
INCI
(Intanwijaya International)
41.
INDF
(Indofood Sukses Makmur)
42.
INDR
(Indorama Syntetic)
43.
INDS
(Indospring)
44.
INTD
(Inter Delta)
45.
INTP
(Indocement)
46.
JPRS
(Jaya Pari Steel)
47.
KAEF
(Kimia farma)
48.
KARW
(Karwell Indonesia)
49.
KBLM
(Kabelindo Murni)
50.
KDSI
(Kedawung Setia)
51.
KLBF
(Kalbe Farma)
52.
KONI
(Perdana Bangun Pusaka)
53.
LION
(Lion Metal)
54.
LMPI
(Langgeng Makmur)
55.
LMSH
(Lionmesh Prima)
56.
LPIN
(Multi Prima Indonesia)
57.
LTLS
(Lautan Luas)
58.
MTDL
(Metrodata Electonik)
59.
MLBI
(Multi Bintang)
60.
MLPL
(Multi Polar)
61.
MP
(Modern Photo Film)
62.
MR
(Mustika Ratu)
63.
NIPS
(Nipress)
64.
PAFI
(Panasia Filament Inti)
65.
POLY
(Polysindo Eka Perkasa)
66.
PRAS
(Prima Alloy Steel)
67.
PSDN
(Prasidha Aneka Niaga)
68.
PYFA
(Prydam Farma)
69.
RDTX
(Roda Vivatex)
70.
SAIP
(Srby Agung Industri Pulp & Kertas)
71.
SCPI
(Schering Plough Indonesia)
52
72.
SIMA
(Siwani Makmur)
73.
SKLT
(Sekar Laut)
74.
SMCB
(Semen Cibinong)
75.
SMGR
(Semen Gresik)
76.
SMPL
(Summiplast)
77.
SOBI
(Sorini Corporation)
78.
SPMA
(Suparma)
79.
SRSN
(Sarasa Nugraha)
80.
SS
(Selamat Sempurna)
81.
SSTM
(Sunson Textile)
82.
STTP
(Siantar Top)
83.
SUDI
(Surya Dumai)
84.
TBLA
(Tunas Baru Lampung)
85.
TBMS
(Tembaga Mulia Semanan)
86.
TCID
(Mandom Indonesia)
87.
TEJA
(Texmaco Jaya)
88.
TFCO
(Tifico)
89.
TIRT
(Tirta Mahakam)
90.
TKIM
(Tjiwi Kimia)
91.
TOTO
(Surya Toto Indonesia)
92.
TURI
(Tunas Ridean)
93.
UNC
(Unggul Indah Cahaya)
94.
UNTR
(United Tractor)
53
LAMPIRAN 3 : DAFTAR PERHITUNGAN BIAYA PIMJAMAN (Kd)
No.
Nama
beban pajak
lsp
pjk
utang
biaya bunga
Kd
1
ACAP
4539564377
1.4008E+10
0.3240671
24515824724
176149358
119065149.9
2
ades
1907745325
1.7191E+10
0.1109739
1.01798E+11
2220387971
1973982829
3
admg
5.6985E+10
2.0492E+11
0.2780827
6.60115E+12
4.1954E+10
30287281423
4
akpi
4.6532E+10
1.139E+11
0.408526
7.43416E+11
1.1347E+10
6711576331
5
ALKA
898285000
2777205000
0.3234493
65936854000
0
0
6
ALMI
1.8382E+10
4.3326E+10
0.4242781
6.82578E+11
4.0571E+10
23357487753
7
AMFG
7.1746E+10
1.6309E+11
0.4399119
6.26771E+11
797067000
446427748.7
8
APLI
157107411
430749987
0.3647299
1.46515E+11
1.1082E+10
7040042867
9
AQUA
2.8703E+10
6.2946E+10
0.4559879
2.46457E+11
172913747
94067164.2
10
argo
7700415000
6.1477E+10
0.1252573
2.12475E+12
7.2985E+10
63843514747
11
ARWANA
8534331160
2.1053E+10
0.4053664
1.17864E+11
1.0868E+10
6462623144
12
ASGR
4426918926
2.1414E+10
0.2067285
3.72112E+11
1.3486E+10
10698176649
13
ASII
1.8916E+12
5.1477E+12
0.3674602
1.38983E+13
6.5606E+11
4.14982E+11
14
AUTO
6.37E+10
2.3222E+11
0.2743077
6.23945E+11
8546000000
6201766705
15
BATA
1.8393E+10
3.5931E+10
0.5119094
73832722000
4576641000
2233815430
16
BATI
1.8142E+10
4.9939E+10
0.3632832
2.24651E+11
0
0
17
BRAM
9171929000
1.0584E+11
0.0866609
7.7846E+11
25807008
23570548.48
18
BRPT
9.1728E+10
1.9653E+11
0.4667296
3.84449E+12
4.5466E+11
2.42455E+11
19
CTBN
3856510000
1.614E+10
0.2389414
1.80744E+11
523990000
398787076.9
20
DLTA
1.7249E+10
3.8227E+10
0.4512356
70658460000
0
0
21
DNKS
5.0596E+10
1.2608E+11
0.4012871
4.25842E+11
3.8348E+10
22959661833
22
DSUC
2967261081
2.5458E+10
0.1165546
3.28658E+11
1.6925E+10
14952662998
23
DVLA
2.4561E+10
4.6394E+10
0.5294006
1.0008E+11
6610821000
3111048182
24
DYNA
2.247E+10
5.3247E+10
0.4219898
3.42292E+11
1.922E+10
11109177269
25
EKAD
1053208710
4342120809
0.2425563
11037348299
57375581
43458772.99
26
ERTX
670815000
4.9248E+10
0.0136212
2.62717E+11
1.7704E+10
17462415597
27
ESTI
1.1693E+10
2.9684E+10
0.3939031
2.14371E+11
8174949194
4954811042
28
FASW
2.7349E+10
5.2902E+10
0.5169693
1.56038E+12
6.5866E+10
31815464641
29
GDWU
1.0305E+10
9.2157E+10
0.111816
8.46971E+11
5.58E+10
49560808574
30
GDYR
8779443000
1.4885E+10
0.5898368
1.10967E+11
617864000
253425049
31
GGRM
7.9074E+11
1.8387E+12
0.4300608
6.36802E+12
3.3874E+11
1.93063E+11
32
GJTL
2.1024E+11
4.0411E+11
0.5202588
1.09196E+13
6.6339E+10
31825749413
33
GT KI
1769701584
2.8688E+10
0.0616878
3.31154E+11
42802662
40162260.06
34
HDTX
4788943524
6.3604E+10
0.0752936
1.26863E+12
63732697
58934029.79
35
HEXA
2.0322E+10
4.2514E+10
0.4780173
3.777E+11
6595655354
3442818310
36
HMSP
7.6729E+11
1.4322E+12
0.5357385
4.19784E+12
0
0
37
IIKP
74443618
523766731
0.1421312
13912797566
988378734
847899233.2
38
IKAI
816459649
3951663587
0.2066116
6.48058E+11
8470061914
6720048628
39
IKBI
3338092904
9691099804
0.3444493
60442258374
281329469
184425719.9
40
INKP
4.9731E+11
2.8663E+12
0.1735004
3.81322E+13
2.6073E+12
2.15497E+12
41
IMAS
3.3957E+11
4.574E+10
7.4237885
2.44689E+12
3.0807E+11
-1.979E+12
42
INA
1.5044E+10
9.2016E+10
0.1634941
3.03427E+11
5971628542
4995302792
43
INAF
3.7663E+10
1.3004E+11
0.2896172
3.68015E+11
4.0945E+10
29086692724
44
INCI
3278605785
8007222391
0.4094561
24155676657
164913043
97388397.07
45
INDF
3.102E+11
7.2093E+11
0.4302813
1.05523E+13
9.9562E+11
5.67225E+11
54
46
INDR
2.2164E+10
4839330000
4.5800162
3.04639E+12
6.5038E+10
-2.3284E+11
47
INDS
2272101187
4467761110
0.5085548
2.01541E+11
5992320591
2944897420
48
INTD
508234932
286401701
1.7745528
68343313292
123260516
-95471774.2
49
INTP
2.6399E+11
5.5529E+11
0.475412
5.61061E+12
2.3397E+11
1.22737E+11
50
JKSW
1.65E+10
3.8219E+10
0.4317281
7.01558E+11
0
0
51
JPRS
5968194075
1.1422E+10
0.5225364
35707232266
4997711112
2386225026
52
KAEF
3.3607E+10
4.2929E+10
0.7828638
6.1231E+11
1.2316E+10
2674235760
53
KARW
3057000000
2.6562E+10
0.1150892
3.69948E+11
2.6076E+10
23074933363
54
KBLM
1.7887E+10
4.563E+10
0.392002
70039884847
6244552650
3796675440
55
KDSI
6207491988
2.8069E+10
0.221155
2.67236E+11
1.1624E+10
9052985206
56
KLBF
1.6114E+11
3.7281E+11
0.432215
1.4249E+12
6.6119E+10
37541199932
57
KOMI
1.7592E+10
4.2162E+10
0.4172383
83822879609
0
0
58
KONI
127945230
334020944
0.3830455
35242177860
478616833
295284793.9
59
LION
5865285376
1.255E+10
0.4673476
16450096785
28440086
15148678.85
60
LMPI
5587825337
4.0153E+10
0.139163
4.88601E+11
4.2616E+10
36685017250
61
LMSH
917633756
1709267724
0.5368578
21445371621
697266608
322933572
62
LPIN
95978729
594891376
0.1613382
45621245169
1758880030
1475105417
63
LTLS
4005258825
1.9971E+10
0.2005516
7.75833E+11
7.056E+10
56409297970
64
MTDL
1.2841E+10
8281208520
1.5506507
1.99144E+11
1.092E+10
-6013232217
65
MERCK
2.1553E+10
5.0584E+10
0.4260729
40818614000
0
0
66
MLBI
4.1626E+10
9.0222E+10
0.4613731
2.14707E+11
4000000
2154507.77
67
MLPL
1.364E+10
1.8997E+10
0.7180039
6.64869E+11
5.8524E+10
16503454073
68
MP
1.5812E+10
1.1053E+10
1.4304949
8.05551E+11
3.3683E+10
-1.45E+10
69
MR
4310111624
1.0766E+10
0.4003483
40770369375
1938153209
1162216845
70
NIPS
1611510999
2385331992
0.6755919
48002247909
8490186148
2754285063
71
pafi
1.1492E+10
5.3978E+10
0.2128945
6.33908E+11
5445499647
4286182822
72
PBRX
2452309853
5932282320
0.4133839
38170578493
0
0
73
PLAS
59456619
1362740996
0.0436302
22271888981
1807284418
1728432295
74
POLY
727250633
1.169E+12
0.0006221
1.60103E+13
8.7857E+11
8.78023E+11
75
PRAS
3708832479
1.0096E+10
0.3673747
2.54681E+11
1.2119E+10
7666989423
76
PSDN
4764711664
4.3399E+10
0.1097877
2.61877E+11
5.3937E+10
48015329123
77
PYFA
728693131
618707499
1.1777668
7556315752
748756851
-133104085
78
RDTX
1748666370
6679443668
0.2617982
50633957441
16020090
11826059.18
79
RYAN
219237854
7235636453
0.0302997
12493250140
0
0
80
SAIP
8831413608
5.4016E+11
0.0163497
3.7175E+12
1.0318E+11
1.0149E+11
81
SCPI
2910125069
2393347377
1.2159226
52172123337
5180552039
-1118598057
82
SHDA
9.26E+10
2.2064E+11
0.4196825
1.43781E+11
0
0
83
SIMA
1651590931
2.9444E+10
0.0560935
15745875967
706559552
666926126.8
84
SKLT
935547518
1.0862E+10
0.0861277
4.4659E+11
2888610137
2639820777
85
SMCB
0
1.8741E+12
0
4.99059E+12
4.702E+10
47020000000
86
SMGR
1.8183E+11
4.0836E+11
0.4452696
3.07936E+12
4.0302E+11
2.23569E+11
87
SMPL
961805024
473676533
2.0305102
74992528719
1443376752
-1487414442
88
SOBI
1.5085E+10
3.5449E+10
0.4255444
1.99841E+11
5917022000
3399066163
89
SPMA
1.1746E+10
1.1226E+10
1.0463627
8.1005E+11
3.4992E+10
-1622342930
90
SQBB
1.5356E+10
2.8169E+10
0.5451541
48945822000
0
0
91
SRSN
3.0742E+10
4.0862E+10
0.75232
80411791000
335924000
83201649.98
92
SS
2.4155E+10
4.7898E+10
0.5042924
2.11221E+11
1.767E+10
8758996578
93
SSTM
8900427796
1997839523
4.4550264
5.74359E+11
3.9157E+10
-1.3529E+11
55
94
STTP
1.4761E+10
3.1182E+10
0.473381
2.05009E+11
3733947953
1966367769
95
SUDI
5515722359
1.7047E+11
0.0323567
1.14168E+12
6.4248E+10
62169518029
96
SUGI
578090270
1296738307
0.4458033
19614985656
0
0
97
TBLA
2.1586E+10
2.5238E+10
0.8552836
6.4589E+11
4.5743E+10
6619786788
98
TBMS
3829657327
7960321790
0.4810933
4.42706E+11
4164846801
2161166989
99
TCID
2.8269E+10
6.2496E+10
0.4523331
43777147280
146578333
80276108.36
100
TEJA
5221809296
2.9109E+11
0.0179387
1.90971E+12
3.9266E+10
38561848647
101
TFCO
1.2683E+10
8.6012E+10
0.1474526
1.64071E+12
3.2169E+10
27425922122
102
TIRT
3053423909
5963807462
0.5119924
3.59875E+11
1.4268E+10
6962945588
103
TKIM
1.105E+11
3.027E+11
0.3650412
1.69945E+12
109736162
69677941.85
104
TOTO
2.0067E+10
3.1684E+10
0.6333698
4.25676E+11
6607339004
2422450000
105
TURI
3.7879E+10
8.2142E+10
0.4611405
1.01681E+12
3844000000
2071376056
106
UNC
4.2435E+10
7.4245E+10
0.5715497
1.63544E+12
6.054E+10
25938315213
107
UNTR
5.8007E+11
3.1049E+11
1.8682582
4.7536E+12
2.247E+11
-1.951E+11
108
UNVR
5.3401E+11
1.2858E+12
0.4153243
1.31185E+12
0
0
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68

EVALUASI ATAS PENGGUNAAN METODE PENGAKUAN PENDAPATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PADA PERSERO PT INDRA KARYA CABANG I MALANG

July 29, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : APRILIA USWATUN INSANI
NIM : 00.620.240
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESEMBER 2004
EVALUASI ATAS PENGGUNAAN METODE PENGAKUAN
PENDAPATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA PADA
PERSERO PT INDRA KARYA CABANG I MALANG
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu PersyaratanMencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Nama : APRILIA USWATUN INSANI
NIM : 00.620.240
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESEMBER 2004

KATA PENGANTAR
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat dan hidayah-
Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik atas limpahan karunia-Nya
dengan judul “Evaluasi Atas Penggunaan Metode Pengakuan Pendapatan dan
Pengaruhnya Terhadap Laba pada Persero PT Indra Karya Cabang I Malang”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk
memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan
tanpa bantuan, bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat:
1. Drs. Wahyu Hidayat R., MM, selaku Dekan FE UMM.
2. Drs. A. Waluyo Jati, MM, selaku Ketua Jurusan Akuntansi FE UMM sekaligus
selaku Dosen Pembimbing I yang telah berkenan membimbing dan mengarahkan
penulis dengan penuh kesabaran sampai terselesaikannya skripsi ini.
3. Drs. Adi Prasetyo, MSi, selaku Dosen Pembimbing II yang telah berkenan
membimbing dan memberikan banyak masukan yang berharga dalam penyusunan
skripsi ini.
4. Dra. Sri Wibawani W. A. Ak. MSi, selaku Dosen Wali yang telah banyak
memberikan bantuan moril bagi penulis.
5. Bapak dan Ibu Dosen, atas limpahan ilmunya.
6. Bapak Idris, selaku manajer keuangan yang telah memberikan ijin kepada penulis
untuk melakukan penelitian guna menunjang penyusunan skripsi ini.
7. Bapak Syaiful yang telah meluangkan waktunya untuk mendampingi selama
penelitian berlangsung.
8. Bapak, Ibu tercinta dan adik-adikku terima kasih atas support serta kasih
sayangnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman-teman senasib dalam menghadapi ujian kompre, terima kasih telah saling
memberikan dukungan.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Dalam hal ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna,
untuk kritik maupun saran sangat penulis harapkan guna kesempurnaan labih lanjut.
Akhir kata, tiada lain harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi
seluruh pihak yang membutuhkan.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Malang, Desember 2004
Penulis
RENUNGAN DIRI
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengajarkan amal shaleh
dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehatmenasehati
supaya menetapi kesabaran”
(Al’Ashr)
“Memuliakan orang tua adalah kunci utama untuk dapat membuka
selapang-lapangnya keridhoan ALLAH SWT”
“Sekecil apapun amalan yang kita perbuat, jagalah mutunya, baik mutu
syariat berupa kesempurnaan pengetahuan tentang hokum fiqihnya
maupun mutu hakikat berupa keikhlasan dan kekhusukannya”
“Karunia Iman dan Islam, itulah karunia terbesar yang tidak diberikan
kepada sembarang manusia”
“…..Niscaya ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat….”
(Al Mujaadilah)
“Orang-orang yang sudah sampai hatinya kepada suatu titik puncak
pengenalan terhadap ALLAH, dimana saja dia akan selalu merasakan
kelezatan bersama ALLAH”
(Pesan H. Aa Gym)
“Seseorang tidak menjadi bijak hanya karena ia pandai berbicara. Ia yang
sabar dan bebas dari rasa benci maupun takut sungguh bijak”
(Anand Krishna)
“Iman seseorang belum sempura, apabila ia tidak mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
(HR. Bukhari dan Muslim)
KASIH SAYANG
Kasih sayang itu titi
Kasih sayang penghubung hati
Kasih sayang itu tali
Kasih sayang pengikat diri
Dari kasih timbul simpati
Dengan sayang ada persaudaraan
Kerana kasih ingin berbakti
Saling sayang maaf-memaafkan
Kasih sayang itu baja
Kasih sayang penyubur jiwa
Kasih sayang itu penawar
Penguat cinta penghapus duka
Kasih manusia sering bermusim
Sayang manusia tiada abadi
Kasih TUHAN tiada bertepi
Sayang TUHAN janji-NYA pasti
Tanpa kasih sayang TUHAN
Tiada simpati tiada persaudaraan
Tanpa kasih sayang TUHAN
Tiada bakti tiada kemaafan
Kasih sayang pada semua
Kasih sayang sesama kita
Kasih sayang O… dunia
Moga selamat di akhirat sana
By: Raihan “Demi Masa”
PERSEMBAHAN
This little creation I present to:
· My parent, who always loves me and care
Of me, thanks a lot for the support,
leading and advices, and also for a
pray for me.
· My sisters (Ana & Tina), thanks for
giving me a good lesson.
Without all of you, I
wouldn’t be able to do
anything and being
nothing
WHEN THERE IS A WILL, THERE IS A WAY
SPECIAL THANK’S TO:
Ø ALLAH SWT, atas limpahan hidayah, rahmat serta karunia-Nya.
Ø All of my family, tanpa mereka aku tidak bisa menyelesaikan
semua ini.
Ø My Best Friend:
QQ alias Risky Afriana, sahabat sejatiku di saat suka dan susah.
Ya…maap kalo banyak susahnya, ta….u. Alhamdulillah akhirnya kita
bisa selese bareng. Thanks berat ya Q atas kebersamaannya selama
mengarungi dunia perkuliahan di kampus tercinta. Moga
persahabatan kita sejak awal kuliah akan tetap erat walau kita
sudah dengan jalannya masing-masing. OCHE…….!!!!!
Ø Een alias Endang Retnowati, teman karibku. Suwu…..n ingkang
kuathah, sepuntene bilih enten kelepatan amargi kulo kathah
klejingane he…Makasih juga, cozzz u buat aku jadi makin dewasa.
Ojo lali yo…karo cah Tegal iki, awas nek lali……!!!!!
Ø Seluruh penghuni Al- Paradise yang cantik-cantik, koyoto..Vita
thanks atas rentalnya 24 jam nonstop meski kadang komputernya
minta dimanjakan, EQ & Nova thanks atas suaranya yg merdu &
buat aq t’bangun dr tidur to ngerjakan skripsiku (jgn lupa
kaoskakinya dicuci dulu sebelum buat mainan), 2-tik & Ike ngomong
donk ngomong..u boleh kok ngomong…, Enggar msh inget kan jalan ke
kostan, Helen alias Nuning skr aq siap tempur kapan saja dgn music
rockmu..!!, Mba Kiyas met hidup baru dng sang arjunanya moga
cepet dikasih momongan, Acces thanks suaranya indah & lembut sbg
pengantar tidurku, si kecil Arul, Ali & Arung jng b’tengkar terus
yach…klo siang, biar mb Li bs istirahat dng tenang. HIDUP ALPARADISE..!!!
smoga tetep menjadi kost-kostan tercantik
diantara kost-kostan yang gagah.
Ø Seluruh alumni penghuni Al-Wonder yang cakep-cakep,
koyoto…Mas Heru ga’popo…a !!, Mas Ajik cepet gede ya…!!, Pak Lek
alias Mas Ipoeng Buli’e ndek mana..??, Mas Ikhwan yang tambah
endhut ae.., encret alias Mas Nur ojo nyangkruk ae ndek DPR (di
bawah pohon rindang), Mas Dar ndang muliyo jemputen si Pingkan,
and Haryy Potter alias Mas Ali ojo sampe’ muter-muter.
Ø Temen-temen seperjuangan KKN-T Kel.8 di PUJON kaya’ Shofie
si Bu Dokter and Tomy si Pasiennya, Tanzil, Lucky ama Restu mogamoga
tetep langgeng aja, Mughis yang doyan banget ama kue
DHONAT awas jangan kebanyakan lho ntar aq kaget klo liat muka
kamu kok ada kue donat kembarnya he…., Afif, si Ony LOHAN,
Gendhut alias Ilham, Juni yang naik Pick-Up, Ivon & Mamih yang
suka latah, Hanipeh, Lya, Ustadz Nanang gimana kabarnya si kecil?
Elok bersama kucing2nya, Kirun alias Fahmi, Faris yang suka maen
PS mbok yo.. leren po….oh, dsb. Ojo sampe lali rek karo sapine Pak
Wo yo…Oh iya adek kecilku Via yang manis yang selalu bikin aq
kangen ‘N pengen maen ke Pujon lagi.
Ø Temen2 campuz Accounting ’00 class E,kaya’ Mbak Titin SE, Tuty
SE, Eta SE, Ulum SE, Andri SE (cie….wis sarjana ni ye….), Wulan
jng nangis terus ya..ntar air matanya abis, Wardah, Fery, Septy
cepet selesai ya…, Indah, Sinchan alias Ratna, Yuli cs, Ely cs,
Yayoek dsb.
Ø Adek2 kosku Sumber Sari, kaya’ Menik…yang mau KKN, Ayu…jng
belajar terus sekali2 refreshing donk…!! & Dhony…ayo dah dapet
cowok belum…!!!
Ø Mas Andy SE, gimana kabarnya sekarang?masih tetep coling2 kan?
Ø Chimot….!!! makasih atas do’anya t’nyata manjur juga lho….!!!
Ø Sonic alias Roedy makasich atas bantuannya pinjemin aq computer
meski Cuma bentar cozzz komputernya aneh bin ajaib mintanya ama
yang punya trusss…!!!!!! Makasih juga buat less computer gratisnya
he….moga amal baikmu diterima di sisi-Nya ech..ada yang
membalasnya. Amien….1000X
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………. iii
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………… v
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………. vi
ABSTRAK……………………………………………………………………………………….. vii
ABSTRACTION……………………………………………………………………………….. viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………………. 1
B. Perumusan Masalah ………………………………………………………… 4
C. Pembatasan Masalah……………………………………………………….. 4
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………………….. 4
1. Tujuan Penelitian ………………………………………………………. 4
2. Manfaat Penelitian…………………………………………………….. 5
BAB II TINJAUAN TEORI dan STUDI PUSTAKA
A. Landasan Penelitian Terdahulu ………………………………………….. 6
B. Landasan Teori ………………………………………………………………. 7
1. Pengertian Pendapatan………………………………………………… 7
2. Sifat dan Karakteristik Pendapatan………………………………… 8
3. Sumber-sumber Pendapatan…………………………………………. 9
4. Pengukuran Pendapatan………………………………………………. 11
5. Pengakuan Pendapatan………………………………………………… 11
6. Pengertian Biaya………………………………………………………… 12
7. Pengukuran Biaya………………………………………………………. 14
8. Pengakuan Biaya ………………………………………………………… 16
9. Penyajian Laporan Laba Rugi……………………………………… 16
10. Pengertian Perusahaan Kontraktor …………………………………. 17
11. Pendapatan Kontrak……………………………………………………. 20
12. Biaya Kontrak …………………………………………………………… 20
13. Metode Pengakuan Pendapatan pada Perusahaan Kontraktor. 22
BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian ……………………………………………………………. 27
B. Jenis Penelitian ………………………………………………………………. 27
C. Data dan Sumber Data……………………………………………………… 27
D. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………….. 27
E. Teknik Analisis Data ……………………………………………………….. 28
BAB IV ANALISIS DATA
A. Gambaran Umum Perusahaan……………………………………………. 31
1. Sejarah Perusahaan ……………………………………………………. 31
2. Lokasi Perusahaan…………………………………………………….. 32
3. Struktur Organisasi Perusahaan ……………………………………. 33
B. Kegiatan Usaha Perusahaan………………………………………………. 35
C. Aktifitas Perusahaan……………………………………………………….. 38
1. Cara memperoleh kontrak……………………………………………. 38
2. Pengakuan dan perlakuan pendapatan pada PT Indra Karya.. 39
3. Penentuan jumlah piutang …………………………………………… 41
D. Analisis Data …………………………………………………………………. 43
1. Masalah yang dihadapi perusahaan ……………………………….. 43
2. Sebab dan Akibat Masalah ………………………………………….. 44
a. Sebab Masalah …………………………………………………….. 44
b. Akibat Masalah……………………………………………………. 45
3. Alternatif Pemecahan…………………………………………………. 52
4. Perbandingan Penggunaan Metode Persentase
Penyelesaian dengan Metode Kontrak Selesai…………………. 53
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 63
B. Saran …………………………………………………………………………… 64
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Kalkulasi Pendapatan dan Biaya Proyek Tahun 2002 ……………… 46
Tabel 2 : Laporan Laba-Rugi Tahun 2002 …………………………………………. 47
Tabel 3 : Neraca Tahun 2002 ………………………………………………………….. 48
Tabel 4 : Kalkulasi Pendapatan dan Biaya Proyek Tahun 2003 ……………… 49
Tabel 5 : Laporan Laba-Rugi Tahun 2003 …………………………………………. 50
Tabel 6 : Neraca Tahun 2003 ………………………………………………………….. 51
Tabel 7 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Pendapatan dan Biaya
Proyek Tahun 2002 ………………………………………………………….. 54
Tabel 8 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Pendapatan dan Biaya
Proyek Tahun 2003 ………………………………………………………….. 55
Tabel 9 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Laporan Laba-Rugi
Tahun 2002…………………………………………………………………….. 57
Tabel 10 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada
Neraca Tahun 2002 …………………………………………………………… 58
Tabel 11 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada Laporan
Laba-Rugi Tahun 2003……………………………………………………… 59
Tabel 12 : Perbandingan Penggunaan Metode Persentase Penyelesaian
dengan Metode Kontrak Selesai pada
Neraca Tahun 2003 …………………………………………………………… 60
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Struktur Organisasi Persero PT Indra Karya…………………….. 34
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Rincian Biaya Proyek SWS Benanain Per 31 Desember 2002
Lampiran 2 : Rincian Biaya Proyek SWS Benanain Per 31 Desember 2003
Daftar Pustaka
Baridwan, Zaki. 1996. Intermediate Accounting; edisi ketujuh, BPFE, Yogyakarta.
Chariri, Anis dan Imam Ghozali. 2003. Teori Akuntansi; edisi revisi, Undip,
Semarang.
Dyckman, Thomas R., Roland E. Dukes dan Charles J. Davis. 1996. Akuntansi
Intermediate; jilid 1, edisi ketiga,, Erlangga, Jakarta.
Fauzi. 1993. Prinsip Akuntansi Keuangan: Proses Penyusunan Laporan
Keuangan; edisi pertama, Indah Surabaya, Surabaya.
Hansen, Don R. dan Maryanne M. Mowen. 1999. Akuntansi Manajemen; jilid 1,
edisi keempat, Erlangga, Jakarta.
Harahap, Sofyan Syafri. 1999. Teori Akuntansi; edisi pertama, Rajagrafindo,
Jakarta.
Harnanto. 2003. Akuntansi Keuangan Menengah; buku dua, edisi pertama, BPFE,
Yogyakarta.
Hendriksen, Eldon S. dan Michael F. Van Breda. 2000. Teori Akuntansi; buku satu,
edisi kelima, Interaksara, Batam.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Standar Akuntansi Keuangan; Salemba Empat,
Jakarta.
Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt. 1995. Akuntansi Intermediate; jilid dua,
edisi ketujuh, Binarupa Aksara, Jakarta.
Munandar, M. 1983. Pokok-Pokok Intermediate Accounting; edisi kelima, Liberty,
Yogyakarta.
Permana, Budy. 1997. Prinsip Pengakuan Pendapatan dan Beban Perusahaan
Kontraktor. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.
Poerwanti, Endang. 2000. Dimensi-Dimensi Riset Ilmiah; edisi pertama, UMM
Press, Malang.
Rosjidi. 1999. Teori Akuntansi; edisi pertama, FE UI, Jakarta.
Smith, Jay M. dan K. Fred Skousen. 1995. Akuntansi Intermediate: Volume
Komprehensif; jilid dua, edisi kesembilan, Erlangga, Jakarta.
Suwardjono. 1986. Teori Akuntansi: No. 1 Pokok-pokok Pikiran Paton dan
Littleton tentang Prinsip Akuntansi untuk Perseroan; edisi pertama,
BPFE, Yogyakarta.
Swety, Syamsul B. 2000. Evaluasi terhadap Metode Pengakuan Pendapatan pada
Perusahaan. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.
Wijiarto, Teguh. 2000. Aplikasi Akuntansi Pengakuan Pendapatan dengan
Metode Persentase Penyelesaian Guna Menyajikan Kewajaran Laporan
Keuangan. Skripsi, FE-UMM, tidak dipublikasikan.

KONSEP AKTIVA DALAM PERSPEKTIF AKUNTANSI SYARI’AH

July 29, 2010 Leave a comment

SKRIPSI
OLEH:
NAMA : AHMAD MAGHFUR
NIM : 00620407
FAKULTAS EKONOMI/AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESMBER 2004
KONSEP AKTIVA DALAM PERSPEKTIF
AKUNTANSI SYARI’AH
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajat Gelar Sarjana Ekonomi
OLEH:
NAMA : AHMAD MAGHFUR
NIM : 00620407
FAKULTAS EKONOMI/AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
DESEMBER 2004
KONSEP AKTIVA DALAM PERSPEKTIF
AKUNTANSI SYARI’AH
SKRIPSI
OLEH:
NAMA : AHMAD MAGHFUR
NIM : 00620407
Diterima dan disahkan
Pada tanggal………………………..
Pembimbing I Pembimbing II
Iwan Triyuwono, SE, M.Ec, Ph.D Dra. Hj. St Zubaidah,MM.Ak
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi Ketua Jurusan Akuntansi
Drs. Wahyu Hidayat R, M.M Drs. A. Waluyojati, M.M

KATA PENGANTAR
Era kebangkitan Islam kini sudah mulai terlihat dimana-mana. Kajian-kajian
keislaman saat ini, tidak hanya dilakukan musholla, masjid, ataupun pesantren saja,
tetapi juga diberbagai kampus, perusahaan, bahkan dikantor-kantor. Yang lebih
menggembirakan lagi, kajian keislaman sudah merambah pada berbagai bidang ilmu
pengetahuan atau yang lebih sering didengar dengan istilah “Islamisasi Ilmu
Pengetahuan”
Khususnya akuntansi sebagai bagian dari ilmu ekonomi, juga tak dapat
menghindar dari proses peyesuaian kembali terhadap nilai-nilai islam. Oleh karena,
pemikiran-pemikiran Ekonomi Islam sudah berkembang, serta semakin
meningkatnya pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan dan perusahaan-perusahaan
yang menjalankan operasionalnya berdasarkan nilai islam (syari’ah). Dengan
penyesuaian tersebut, akuntansi akan mampu menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah, ia akan dapat menjadi sarana bagi manusia dalam melaksanakan tugasnya
sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Kita sadar, memang akuntansi “mainstream” sebagai produk kapitalis, namun
tidak semua teori dan prakteknya bertentangan dengan syari’ah. Kebenaran itu kekal
dan keburukan pasti hancur. Dengan demikian kita tidak harus membuang akuntansi
kapitalis seluruhnya, yang benar kita ambil, yang buruk dibuang, diganti dengan teori
atau praktek yang diterima syari’ah. Atas pemikiran tersebut, penulis mencoba
mensinergikan nilai-nilai syari’ah kedalam akuntansi sendiri. Tentunya dengan
kemampuan yang terbatas, karena penulis bukanlah seorang yang benar-benar ahli
dalam ilmu keislaman ataupun akuntansi. Hanya atas dasar semangat islam, serta
keinginan besar mempelajari akuntansi dan Islam, penulis memberanikan diri
mengangkat judul skripsinya “Konsep Aktiva dalam Perspektif Akuntansi Syari’ah”.
Akhirnya penulis sangat mengharapkan kritik dan saran, agar penulis dapat
memperbaiki pemikiran serta tugas-tugas selanjutnya.
Malang. 17 Desember 2004
Penulis,
Ahmad Maghfur
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu Ya Allah. Sungguh benar janjimu. Berkat
rahmat-Mu skripsi saya dapat terselesaikan. Segala puji bagi Allah SWT, Yang Maha
Membangkitkan, Sang Pemilik Kelembutan, Sang Pemberi Kekuatan. Atas nama-Mu
At Tawwab, ampunilah, maafkanlah saya Ya Allah. Atas namam-Mu As Syakuur,
terimakasih Ya Allah.
Sholawat dan salam semoga tercurahkan limpahkan kepada Nabi besar Muhammad
SAW, yang telah berjuang sepenuh hati dan jiwa menyampaikan risalah Al Qur’an
bagi segenap ummat manusia. “Ummati, ummati, ummati” kata-kata itu membuat
hati kami merinding Ya Nabiyullah, cintamu pada ummatmu yang tiada tara, sulit
terbalaskan. Mudah-mudahan usaha kecil ini dapat menjadi saksi menegakkan
perjuanganmu, Ya Rasulullah.
Kedua orang tua saya almarhum R.Muhammad Daoed Murad serta Hj. Kamarumi
yang telah mendidik, membimbing, dan membesarkan saya. Mereka yang selalu
memotivasi saya menjadi orang yang tegar, orang yang tidak mudah rendah diri.
Mereka yang sangat mencintai saya, meskipun hati mereka sering saya sakiti.
Maafkan saya Ibu, maafkan saya Ibu, maafkan saya Ibu, maafkan saya Bapak. Ya
Allah, ampunilah dosa-dosa mereka, dan cintailah mereka sebagaimana mereka
mencintaiku.
Untuk guru-guru, dan dosen-dosen saya, sewaktu saya tidak tahu apa-apa sampai
sekarang mudah-mudahan Allah SWT membalas keikhlasanmu ketika mengajar dan
mendidik saya, terimakasih guruku.
Khususnya kepada pembimbing saya, Iwan Triyuwono, SE, MEC, PhD, dan Dra. Hj.
St Zubaidah, MM,Ak terimakasih atas semua kebaikannya yang dengan penuh sabar
membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini. Untuk penguji saya, Dra Sriwibawani
W.A.MSi, Ak, dan Drs Waluyojati MM, saya ucapkan terimakasih. Tak lupa juga
untuk seluruh civitas akademika dibawah pimpinan Rektor Drs Muhajir Effendi
MAP, saya ucapkan terimakasih, terutama petugas perpustakaan (saya banyak belajar
dari buku-buku perpus..), Pak Budi T.U. (terimakasih pak..), Pak SATPAM (kampus
kita jadi aman, karena kesigapan bapak), buat teman-teman Cleaning Service
(terimakasih mas, tanpa pengabdianmu kampus in tak ‘kan berarti apa-apa).
Buat semua keluarga terdekat saya cacak, nyuk, ema’ (mator sakalangkong ma’),
keluarga saya di Sawo (khususnya Agung, besarlah dan jadilah yang terbaik buat
mamamu), keponakan saya (pakompak kabbih yeh..) .
Bagi orang yang telah mempengaruhi saya Al Ghazali, Jalaluddin Rumi, Ayatullah
Khomeini Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, semoga Allah SWT memasukkan
mereka pada golongan orang yang berjuang dijalanNya. Buat Gus Dur semoga Allah
SWT selalu menguatkanmu berjuang. AA Gym dan Ary Ginandjar karyamu
menyentuh hati dan pikiran saya, semoga Allah SWT membimbingmu bagi karyakarya
lainnya. Bagi ia yang memiliki kesederhanaan, ketegaran, keceriaan,
terimakasih kawan.
Buat teman-teman saya Mas Agus, Mominx (santai olle bos, keng jhe’ tai santai
gelluh, sukses bos!!!), RC (duliyen pentah cee, deggi’ ekala oreng..), Telah (guru,
digugu dan ditiru), Didit (life is not just for fun, but for struggle man!), Dedet and
Tansil (I am Salut ka bha’aan, u can reach what u want, success for u), Marxis (I hope
u get mature intelectuallity. how about yur socialism, still on your brain?) Mayor
(cepet pamareh skripsinah yor), Fahri (wait me jack..), Camel (change not just on
your lips, but on your action). Buat teman-teman saya G-2000, Chandra, Amin, Irpan,
Aris, Arep, Agus, Zul, Bayu, Anang, Baruna, Mada, Ana, Umu, Rina , Cipit, Mel,
Yuni, Ida, Siti & Lina, Etik & Tatik (sukses semuanya..), Ken (u can do wat u wan 2
do, get yor spirit…) dan semua teman-teman yang tak mungkin saya sebutkan satu
persatu, terimakasih kawanku.
Terakhir buat buku-buku dan sepeda saya, terimakasih kawan
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAKSI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
B. Perumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
D. Batasan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN PENELITIAN TERDAHULU
1. Beberapa Rumusan Tentang Definisi Aktiva . . . . . . . . . . . . . . .9
2. Penilaian Aktiva dalam Perspektif Akuntansi Syari’ah . . . . .12
B. LANDASAN TEORI
1. Tujuan Akuntansi Syari’ah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .13
2. Prinsip-Prinsip Akuntansi Syari’ah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
3. Harta dalam Islam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25
a) Makna Harta . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .25
b) Kaidah-Kaidah Ekonomi Sehubungan dengan Harta
dalam Islam . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
c) Pengklasifikasian Harta dalam Islam . . . . . . . . . . . . 33
d) Penilaian Harta dalam Zakat & Maurus . . . . . . . . . 34
BAB III. METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .42
B. SUMBER DATA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .43
C. TEKHNIK PENGUMPULAN DATA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
D. TEKHNIK ANALISA DATA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Wacana Akuntansi Syari’ah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 45
B. Aktiva dalam Perspektif Akuntansi Syari’ah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 48
1. Karakteristik-Karakteristik Aktiva . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 48
2. Definisi Aktiva dalam Perspektif Akuntansi Syari’ah . . . . . . 62
C. KONSEP PENILAIAN AKTIVA DALAM PERSPEKTIF
AKUNTANSI SYARI’AH . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 63
1. Tujuan Penelitian Aktiva . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .64
2. Dasar Penilitian Aktiva dalam Perspektif Akuntansi Syari’ah
3. Tinjauan Dasar Penilian Aktiva Terhadap Dua Harga
Pertukaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .73
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Qadir, Abdurrachman, (1998), Zakat : Dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial, PT
Raja Grafind Persada, Jakarta.
Afdol, (2003), Penerapan Hukum Waris Islam, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Parman, Ali, (1995), Kewarisan dalam Al Qur’an : Suatu Kajian Hukum dengan
Pendekatan Tafsir Tematik, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
An-Nabhani, Taqyuddin, (1996), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif :
Perspektif Islamm, Risalah Gusti, Surabaya.
Ash-Shabuni, Muhammad Ali, (1995), Pembagian Waris Menurut Islam, Gema
Insani Pers, Jakarta.
Belkaoi, Ahmed Riahi, (2000), Teori Akuntansi , Buku 1 (terj. Marwata, et al),
Salemba 4, Jakarta.
Chariri & Ghozali, (2003), Teori Akuntansi, Edisi Revisi, Penerbit UNDIP,
Semarang.
Chapra, Umer, (2001), The Future of Economics : An Islamic Perspective, SEBI,
Jakarta.
Prastowo, Dwi, (1995), Analisa Laporan Keuangan : Konsep dan Aplikasi, AMP
YKPN, Yogyakarta.
Hendricksen, Eldon S, (1997) Teori Akuntansi, jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Ibnu Khaldun, (2001), Mukaddimah, (terj. Ahmadie) Pustaka Firdaus, Jakarta
Triyuwono, Iwan & As’udi, M, (2001), Akuntansi Syari’ah : Memformulasikan
Konsep Laba dalam Konteks Metafora Zakat, Salemba 4, Jakarta.
Triyuwono, Iwan & Gaffikin, M, (2000), Shari’ate Accounting : An Ethical
Construction Of Accounting Knowledge, http:// http://www.islamic-finance.net.
Kieso, Donald E & Weygandt, Jerry J, (1995), Akuntansi Intermediate, ed 7,
Binarupa Aksara, Jakarta.
Muhammad, (2000), Prinsip-Prinsip Akuntansi dalam Al Qur’an, UII Press,
Yogyakarta.
, (2000), Pengantar Akuntansi Syari’ah, Salemba 4, Jakarta.
, (2000) Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam, BPFE, Yogyakarta.
Hasan, Muhammad Ali, (2003), Berbagai Macam Transaksi dalam Islam : Fiqih
Muamalat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Ali, Muhammad Daud, (1998) Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, UI-Press,
Jakarta.
Indriantoro, Nur & Supomo, B, (1999) Metode Penelitian Bisnis : Untuk
Akuntansi dan Manajemen, BPFE, Yogyakarta.
Rahman, Shadia, (2000) Islamic Accounting Standars, http:// http://www.islamicfinance.
net
Hidayat, Rochmad Nur, (2003) Prinsip-Prinsip Akuntansi dalam Islam, Skripsi,
Universitas Muhammadiyah Malang.
Setiabudi & Triyuwono, (2002), Akuntansi Ekuitas : Dalam Narasi Kapitalisme,
Sosialisme, dan Islam, Salemba 4, Jakarta.
Syahatah, Husein, (2001) Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam, Penerbit AKbar,
Jakarta.
, (1998), Ekonomi Rumah Tangga Muslim, Gema Insani Press,
Jakarta.
Harahap, Sofyan S, (2001) Akuntansi Islam, Bumi Aksara, Jakarta.
, (2001), Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, Pustaka
Quantum, Jakarta.
Taheri, Mohammad R, (2000), The Basic Principles Of Islamic Economy and
Their Effects on Accounting Standards-Setting, http:// http://www.islamicfinance.
net
Wolk, Harry I, (1997) Accounting Theory, 4th ed, South Western College
Publishing, Cincinati, Ohio.
Zaid, Omar Abdullah, (2004), Akuntansi Syari’ah : Kerangka Dasar & Sejarah
Keuangan dalam Masayarakat Islam, (terj. Syafe’I Antonio & Harahap),
LPFE, Jakarta.
Kusumawati, Zaidah, (2000), Penerapan AKuntansi Syari’ah Sebagai Konsep
Akuntansi Pembuka Ke Arah AKuntansi Pasca-Newton, Skripsi,
Universitas Muhammadiyah Malang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers